UNIVERSITAS INDONESIA TUGAS MODEL EKONOMI Dosen : Dr. Djoni Hartono NAMA Sunaryo NPM 0906584134 I Made Ambara NPM 0906583825 Kiki Anggraeni NPM 090xxxxxxx Widarto Susilo NPM 0906584191 M. Indarto NPM 0906583913 FAKULTAS EKONOMI PROGRAM MAGISTER ILMU EKONOMI DEPOK MARET 2010 2
Analisis Input Output Perekonomian Indonesia Tahun 2008 I. Pendahuluan Dalam merumuskan suatu kebijakan pembangunan ekonomi, pengambil kebijakan haruslah memprioritaskan pembangunan pada sektor-sektor tertentu dalam perekonomian, mengingat keterbatasan sumber daya yang dimiliki dan tujuan yang ingin dicapai. Misalnya, apabila ingin mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, maka pembangunan ekonomi harus diutamakan pada sektor-sektor yang memiliki keterkaitan yang kuat dengan sektor-sektor di hulu dan hilirnya. Selanjutnya, keterkaitan antar-sektor yang kuat ini dapat berimplikasi pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Demikian pula, jika tingkat pengangguran yang rendah ingin terpenuhi, maka pembangunan ekonomi harus diprioritaskan pada sektor-sektor yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Pemilihan sektor-sektor prioritas tersebut dapat dilakukan dengan menganalisis tabel Input- Output (IO). Terdapat beberapa konsep untuk menganalisis tabel IO yang dapat digunakan untuk memenuhi tujuan tersebut, seperti konsep multiplier output, multiplier pendapatan rumah tangga dan multiplier kesempatan kerja, yang mengukur dampak perubahan permintaan akhir untuk output suatu sektor masing-masing terhadap output, income rumah tangga dan kesempatan kerja di seluruh sektor dalam perekonomian. Selain itu, terdapat konsep indeks keterkaitan ke belakang dan kedepan yang terkait erat dengan konsep Key Sektors, indeks kesempatan kerja dan indeks pendapatan masyarakat. Berkenan dengan pemilihan sektor prioritas tersebut, tulisan ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini : 1. Bagaimana struktur Pendapatan Domestik Bruto (PDB) per-sektor, struktur PDB berdasarkan pengeluaran, struktur output dan input perekonomian Indonesia di tahun 2008? 2. Sektor-sektor apa yang tinggi pengaruhnya terhadap peningkatan output seluruh sektor, memiliki keterkaitan tinggi dengan sektor lain di hulu/hilirnya dan yang termasuk kategori Key Sektors? 3. Sektor-sektor apa saja yang tinggi pengaruhnya terhadap peningkatan pendapatan seluruh pekerja dalam perekonomian? 4. Sektor-sektor apa saja yang banyak menyerap tenaga kerja? 5. Dengan simulasi, bagaimana pengaruh perubahan permintaan akhir akan output suatu sektor terhadap pendapatan masyarakat, kesempatan kerja dan output seluruh sektor dalam perekonomian? 3
II. Sumber Data Tabel IO yang digunakan dalam tulisan ini berasal dari buku hasil publikasi Badan Pusat Statistik (BPS), dimana dalam buku tersebut, perekonomian Indonesia diklasifikasikan kedalam 66 sektor. Selanjutnya, untuk menyederhanakan analisis, 66 sektor tersebut perlu dikelompokkan ulang menjadi 19 sektor, dengan mengacu pada petunjuk konversi yang diberikan oleh BPS. Adapun, kesembilan belas sektor tersebut ditunjukkan oleh tabel II.1. Tabel II.1 Kode dan Nama 19 Sektor Kode Nama Sektor 1 Padi 2 Tanaman Bahan Makanan lainnya 3 Tanaman Pertanian Lainnya 4 Peternakan dan hasil-hasilnya 5 Kehutanan 6 Perikanan 7 Pertambangan dan penggalian 8 Industri makanan, minuman, dan tembakau 9 Industri lainnya 10 Pengilangan minyak bumi 11 Listrik, gas dan air minum 12 Bangunan 13 Perdagangan 14 Hotel dan Restoran 15 Pengangkutan dan Komunikasi 16 Lembaga keuangan, usaha bangunan dan jasa perusahaan 17 Pemerintahan umum dan pertahanan 18 Jasa-jasa 19 Kegiatan yang tak jelas batasannya Sumber : BPS Selanjutnya, untuk penyederhanaan penyampaian hasil analisis, sektor dalam perekonomian tersebut hanya akan disebutkan sebagai sektor 1, sektor 2 dan seterusnya s.d. sektor 19. Walaupun demikian, sesekali nama sektor akan dicantumkan untuk memperjelas pemaparan hasil analisis. Tabel IO yang digunakan dalam tulisan ini adalah tabel IO transaksi domestik dengan harga produsen. Penggunaan jenis tabel IO tersebut bertujuan agar setiap kenaikan permintaan akhir dari output suatu sektor, dapat diukur langsung pengaruhnya terhadap kenaikan produksi dalam negeri tanpa dipengaruhi oleh komponen impor, margin perdagangan dan biaya transportasi. 4
III. Metodologi Metodologi yang digunakan dalam tulisan ini adalah metodologi yang sudah lazim digunakan di dalam analisis perekonomian suatu region berdasarkan tabel input-output yaitu dengan melakukan prosedur matematis yang sudah baku terhadap data-data yang tersedia. Pada saat penyusunan tulisan ini, yang tersedia adalah data aktual total pekerja posisi Agustus 2008 yang dibagi dalam 9 sektor. Oleh karena itu, untuk keperluan analisis digunakan data pekerja per sektor tahun 2005 yang di-update berdasarkan perbandingan total input per sektor tahun 2008 dengan tahun 2005. Kemudian data total pekerja aktual tahun 2008 tersebut dialokasikan secara proporsional ke setiap sektor menurut perbandingan hasil estimasi jumlah pekerja per sektor terhadap total estimasi jumlah pekerja tahun 2008. Data input-output yang digunakan dalam tulisan ini disajikan dalam Rp Juta rupiah sedangkan data pekerja dalam satuan orang. Hal ini akan berpengaruh terhadap hasil interpretasi dalam anilisis tenaga kerja dalam perekonomian. IV. Hasil Analisis IV.1 Analisis Deskriptif Data pada Tabel IO IV.1.1 Struktur PDB PDB dapat dihitung dengan 2 pendekatan. Pendekatan pertama adalah dengan menjumlahkan seluruh pengeluaran dalam perekonomian yang meliputi pengeluaran rumah tangga, pemerintah, pembentukan modal, perubahan stok modal dan ekspor netto. Pendekatan lainnya adalah dengan menjumlahkan seluruh input primer atau value added setiap sektor. Tentunya, kedua pendekatan perhitungan PDB tersebut menghasilkan nilai yang sama. Tabel IV.1 menunjukkan PDB Indonesia tahun 2008 yang dikelompokkan dalam 19 sektor dan ditampilkan berurutan berdasarkan sektor yang terbesar s.d. terkecil kontribusinya terhadap total PDB. Enam sektor pertama dari atas ke bawah kolom pertama tabel tersebut, yaitu sektor 9, 7, 13, 12, 16 dan 8 adalah penyumbang lebih dari 60 persen dari total PDB. Sedangkan kontributor terbesar PDB Indonesia tahun 2008 adalah sektor 9 (Industri Lainnya) dengan 16,15 persen. Tabel IV.1 juga menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia sangat tergantung dari industri (sektor 8 dan 9) yang menghasilkan PDB sekitar 20% dari total. Grafik IV.1 menunjukkan PDB berdasarkan pengeluaran yang dilakukan dalam perekonomian. Konsumsi rumah tangga sebesar Rp. 3.195 triliun merupakan komponen utama (sekitar 60 persen) dari PDB. Pengeluaran untuk pembentukan modal merupakan komponen terbesar kedua dari PBD dengan jumlah Rp. 1.405 triliun atau sekitar 26% dari total PDB. 5
Tabel IV.1 PDB Indonesia per Sektor Tahun 2008 SEKTOR PDB (Juta Rp) % thd total PDB (1) (2) (3) 9 849,877,317.71 16.15 7 578,995,389.71 11.01 13 539,870,286.94 10.26 12 459,515,661.65 8.73 16 388,573,988.91 7.39 8 345,224,609.50 6.56 15 340,109,201.48 6.46 18 326,855,126.72 6.21 2 256,607,318.14 4.88 10 240,269,338.14 4.57 17 159,469,310.56 3.03 14 154,196,162.57 2.93 6 136,510,675.79 2.59 4 133,780,452.66 2.54 3 132,328,271.29 2.52 1 127,589,532.23 2.43 11 46,822,934.78 0.89 5 42,246,989.73 0.80 19 2,141,039.48 0.04 Jumlah 5,260,983,608.00 100.00 Grafik IV.1 GDP Berdasarkan Pengeluaran Tahun 2008 6
IV.1.2 Struktur Input Grafik IV.2 Struktur Input Per Sektor Tahun 2008 Input suatu sektor dalam tabel I-O dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis berdasarkan asalnya, yaitu : 1) input antara yang berasal dari sektor lainnya, 2) input impor dan 3) input yang berasal dari pemilik modal atau pekerja (input primer / value added). Grafik IV.2 menunjukkan persentase penggunaan 3 jenis input terhadap total input suatu sektor. Terdapat 5 sektor yang menggunakan input primer sekitar 70-85 persen. Sektor pengguna input primer tertinggi adalah sektor 2 dan 7. Untuk input antara, sektor 8 menggunakan input antara terbesar dari total inputnya, yaitu sedikit diatas 60%. Selain sektor 8, sektor 9,12 dan 14 menggunakan input antara lebih besar dari 2 input lainnya. Sementara itu, 2 sektor yang paling banyak menggunakan input impor adalah sektor 10 (pengilangan minyak bumi) dan 9 (industry lainnya) Kedua sektor tersebut, masing-masing menggunakan 20% input impor dari total input masing-masing sektor. Sedangkan 17 sektor lainnya, menggunakan input impor berkisar antara 0-12 persen. 7
IV.1.3 Struktur Output Barang dan jasa yang dihasilkan suatu sektor sebagian akan langsung dikonsumsi (termasuk diekspor) dan sebagian lagi akan digunakan sebagai input bagi sektor itu sendiri atau sektor lainnya dalam perekonomian. Grafik IV.3 Struktur Output 2008 Grafik IV.3 menunjukkan perbandingan tujuan penggunaan output dari suatu sektor. Output sektor-sektor yang sebagian besar (lebih dari 60%) akan digunakan kembali sebagai input adalah sektor 1(padi), sektor 3(tanaman pertanian lainnya), sektor 5, sektor 11 dan sektor 16, yang terbesar adalah pada sektor 1 (Padi), dimana lebih dari 90% outputnya akan digunakan kembali sebagai input. Penggunaan output suatu sektor untuk konsumsi akhir (final demand) lebih dari 60 persen terjadi pada 7 sektor (sektor 2,6,8,12,14,17,dan 18), dimana yang terbesar terjadi di sektor 17 (Pemerintahan umum dan Pertahanan) 8
IV.2 Analisis Output Multiplier dan Key Sektors Output multiplier (OM) bertujuan untuk melihat pengaruh kenaikan permintaan akhir akan output suatu sektor terhadap peningkatan output perekonomian secara keseluruhan (semua sektor). Pada tabel IV.3 kolom kedua menunjukkan 19 OM, masing-masing adalah total output mutiplier setiap sektor yang merupakan dampak kenaikan permintaan akhir akan output suatu sektor terhadap peningkatan output perekonomian secara keseluruhan (penjumlah dari output mutiplier setiap kolom dari matrik kebalikan Liontief domestik (I-A d ) -1 berukuran 19 x 19). Nilai OM 19 sektor tersebut telah diurutkan dari yang tertinggi smapi dengan yang terendah. Tabel IV.3 Nilai Output Multiplier (OM), Indeks Keterkaitan Ke Belakang (IKB) dan Indeks Keterkaitan Ke Depan (IKD) 19 Sektor Sektor OM IKB IKD Ket (1) (2) (3) (4) 8 1.98 1.24 1.20 Key Sektor 14 1.96 1.22 0.72 Backward Oriented 4 1.90 1.19 1.00 Key Sektor 12 1.85 1.16 0.84 Backward Oriented 11 1.83 1.14 0.80 Backward Oriented 9 1.75 1.10 2.13 Key Sektor 19 1.74 1.09 0.63 Backward Oriented 18 1.68 1.05 0.92 Backward Oriented 13 1.68 1.05 1.26 Key Sektor 17 1.64 1.03 0.65 Backward Oriented 15 1.63 1.02 1.09 Key Sektor 3 1.52 0.95 1.03 Forward Oriented 16 1.45 0.91 1.24 Forward Oriented 6 1.38 0.86 0.78 Non Key Sektor 1 1.34 0.84 0.85 Non Key Sektor 5 1.34 0.83 0.67 Non Key Sektor 10 1.27 0.79 1.08 Forward Oriented 7 1.24 0.77 1.28 Forward Oriented 2 1.22 0.76 0.82 Non Key Sektor (5) Sektor 8 (Industri Makanan, Minuman dan Tembakau) memiliki nilai OM terbesar (1,98) dan sektor 2 (Tanaman Bahan Makanan Lainnya) memiliki nilai OM terkecil (1.22). Selain itu sektor yang memiliki OM terbesar kedua s.d. kelima adalah sektor 14, 4, 12, 11 dan 9. Contoh intepretasi dari nilai OM adalah sebagai berikut : setiap kenaikan permintaan output sektor 8 sebesar Rp. 1 Milyar, akan meningkatkan output perekonomian secara keseluruhan 9
sebesar Rp.1,98 Milyar. Dengan demikian, semakin besar nilai OM suatu sektor, semakin besar pula pengaruhnya dalam meningkatkan output seluruh sektor. Kolom kedua dan ketiga dari tabel IV.3, menunjukkan nilai Indeks Keterkaitan ke Belakang (IKB) dan Indeks Keterkaitan ke Depan (IKD) dari 19 sektor. Kedua indeks ini menunjukkan posisi nilai Keterkaitan Ke Belakang (KB) dan Keterkaitan ke Depan (KD) suatu sektor terhadap rata-ratanya. KB (KD) bertujuan untuk melihat kemampuan suatu sektor untuk meningkatkan pertumbuhan sektor di hulu (hilir) nya (hulu adalah sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor bersangkutan sedangkan hilir adalah sektor-sektor yang menggunakan output sektor yang bersangkutan). Selanjutnya, suatu sektor dikatakan mempunyai IKB/IKD yang tinggi apabila nilai IKB/IKD sektor yang bersangkutan lebih besar dari satu. IKB berhubungan erat dengan OM, karena IKB merupakan nilai OM suatu sektor dibagi dengan rata-rata nilai OM seluruh sektor. Hubungan yang erat tersebut menyebabkan urutan sektor dengan OM dan IKB terbesar s.d. terkecil adalah sama. Sesuai tabel IV.3 kolom ketiga, terdapat 11 sektor dengan IKB lebih besar dari 1 dan pada kolom keempat tabel III.3, terdapat 9 sektor dengan IKD lebih besar dari 1. Sektor kunci didefinisikan sebagai sektor yang memegang peranan penting dalam penggerakkan roda perekonomian dan ditentukan berdasarkan IKB dan IKD. Sektor kunci adalah sektor yang memiliki nilai IKB maupun IKD lebih besar dari satu. Tabel IV.3 menunjukkan 5 sektor kunci yaitu sektor 8 (industri makanan, minuman dan tembakau), sektor 4 (peternakan dan hasilhasilnya), sektor 9 (industri lainnya), sektor 13 (perdaganan) dan sektor 15 (pengangkutan dan komunikasi). Selain itu, pada kolom kelima terdapat 6 sektor yang Backward Oriented (nilai IKB >1 dan IKD <1), 4 sektor yang Forward Oriented (nilai IKB <1 dan IKD>1), dan 4 sektor dengan kategori Non Key Sektor (nilai IKB dan IKD <1). IV.3 Analisis Income Multiplier dan Indeks Pendapatan Masyarakat (IPM) Tabel IV.4 Simple Household Income Multiplier (SHIM), IPM, SHIM Type I dan Koefisien Upah Sektor SHIM IPM SHIM Type I Koef Upah (1) (2) (3) (4) (5) 17 0.83 2.91 1.64 0.50 18 0.51 1.79 1.68 0.30 11 0.46 1.63 1.83 0.25 14 0.31 1.09 1.96 0.16 3 0.31 1.08 1.52 0.20 4 0.31 1.08 1.90 0.16 15 0.26 0.93 1.63 0.16 13 0.25 0.89 1.68 0.15 12 0.25 0.88 1.85 0.13 10
19 0.24 0.84 1.74 0.14 16 0.22 0.77 1.45 0.15 5 0.22 0.77 1.34 0.16 6 0.20 0.70 1.38 0.14 9 0.20 0.69 1.75 0.11 10 0.19 0.67 1.27 0.15 2 0.17 0.61 1.22 0.14 1 0.17 0.60 1.34 0.13 8 0.17 0.58 1.98 0.08 7 0.14 0.50 1.24 0.12 Tabel IV. 4, kolom kedua menunjukkan nilai SHIM untuk 19 sektor dari yang terbesar sd yang terkecil. Semakin besar nilai SHIM menunjukkan pengaruh yang besar dari peningkatan permintaan akhir atas output suatu sektor terhadap income pekerja di seluruh sektor. Sebagai contoh, peningkatan permintaan akhir output sektor 17 (pemerintahan umum dan pertahanan) sebesar Rp. 1 milyar, akan meningkatkan income pekerja di seluruh sektor sebesar Rp.830 juta. Tabel IV.4 kolom 3 membandingkan nilai SHIM tiap sektor terhadap rata-ratanya (disebut Indeks Pendapatan Masyarakat). Terdapat 6 sektor dengan nilai SHIM diatas rata-rata (IPM bernilai diatas 1), yaitu sektor 17 (Pemerintahan Umum dan Pertahanan), 18 (Jasa-Jasa), 11 (Listrik, Gas dan Air Minum), 14 (Hotel dan Restoran), 3 (Tanaman Pertanian Lainnya) dan 4 (Peternakan dan Hasil-Hasilnya). Hal yang menarik dari nilai IPM disini adalah peningkatan permintaan atas output sektor 17 (melalui peningkatan belanja pemerintah) sangat efektif meningkatkan income pekerja di seluruh sektor. SHIM Type I (kolom 4), merupakan rasio antara nilai SHIM dan Koefisien Upah, menunjukkan pengaruh peningkatan pendapatan pekerja di suatu sektor terhadap pendapatan nasional. Sebagai contoh, kenaikan 1 rupiah pendapatan pekerja di sektor 17, akan menciptakan pendapatan nasional sebesar 1,64 rupiah. IV.4 Analisis Multiplier Tenaga Kerja dan Indeks Tenaga Kerja (ITK) Analisis SEM digunakan untuk melihat pengaruh perubahan permintaan output suatu sektor terhadap kesempatan kerja di seluruh sektor. Tabel IV.5 kolom 2 menunjukkan nilai SEM untuk 19 sektor berdasarkan urutan dari yang terbesar s.d. yang terkecil. Sektor yang terkait dengan pertanian menempati posisi tiga besar nilai SEM tertinggi yaitu sektor 2 (tanaman bahan makanan lainnya), sektor 1 (padi) dan sektor 3 (tanaman pertanian lainnya). Dengan contoh sektor 2, nilai SEM berarti setiap peningkatan permintaan output sektor 2 sebesar Rp. 1 Milyar akan meningkatkan kesempatan kerja di seluruh sektor sebanyak 71 orang. 11
Tabel IV.5 kolom 3 menunjukkan nilai koefisien tenaga kerja yang merupakan jumlah pekerja di suatu sektor dibagi total input sektor yang bersangkutan, yang mengukur perubahan permintaan output suatu sektor terhadap perubahan kesempatan kerja di seluruh sektor tanpa adanya mekanisme keterkaitan antar-sektor (multiplier effect). Contohnya Jika permintaan output sektor 2 naik Rp. 1 Milyar, maka tenga kerja yang akan diserap seluruh perekonomian adalah sebanyak 66 orang. Selanjutnya, Tabel IV.5 kolom 4 menunjukkan nilai multiplier kesempatan kerja untuk 19 sektor. Artinya adalah jika terjadi peningkatan kesempatan kerja di sektor 2 sebanyak 1 orang, maka akan meningkatkan kesempatan kerja di seluruh sektor sebanyak 1,067 orang. Dan sektor 8 (Industri Makanan, Minuman dan Tembakau) memiliki MKK tertinggi yaitu 9,7. Tabel IV.5 Simple Employment Matrix (SEM), Multiplier Kesempatan Kerja (MKK) dan ITK Sektor SEM Koef TK MKK ITK (1) (2) (3) (4) (5) 2 0,071 0,066 1,067 3,168 1 0,068 0,063 1,091 3,069 19 0,042 0,034 1,253 1,884 3 0,032 0,027 1,182 1,427 8 0,027 0,003 9,736 1,216 4 0,023 0,011 2,234 1,053 13 0,023 0,019 1,215 1,045 17 0,022 0,017 1,296 0,986 14 0,021 0,006 3,484 0,953 18 0,021 0,013 1,585 0,950 6 0,014 0,010 1,385 0,640 15 0,014 0,009 1,493 0,627 5 0,012 0,009 1,366 0,526 12 0,010 0,004 2,210 0,433 9 0,009 0,004 2,295 0,416 16 0,006 0,003 2,168 0,250 11 0,004 0,002 2,778 0,201 7 0,003 0,001 1,725 0,115 10 0,001 0,000 3,722 0,038 Nilai Indek Tenaga Kerja (ITK) seperti yang ditunjukkan dalam Tabel IV.5 kolom 5 adalah nilai SEM suatu sektor dibagi nilai rata-rata SEM untuk seluruh sektor. Analisis ITK ini digunakan untuk melihat peran suatu sektor dalam hal meningkatkan besarnya jumlah tenaga kerja yang terserap oleh perekonomian. Jika indeks tenaga kerja disuatu sektor lebih besar dari satu 12
menunjukkan daya serap tenaga kerja di sektor yang bersangkutan sangat tinggi. Berdasarkan nilai ITK tiap sektor dalam tabel di atas, terdapat 7 sektor dengan nilai ITK lebih besar dari satu, dimana sektor-sektor yang erat kaitannya dengan pertanian berada pada peringkat teratas nilai ITK sebagaimana telah disebutkan. IV.5 Simulasi Tabel IV.6 menunjukkan hasil simulasi yang menggambarkan dampak adanya shock di dalam suatu sektor terhadap perubahan output nasional, penciptaan kesempatan kerja dan income pekerja di seluruh sektor. Dalam tabel tersebut dimisalkan diberikan shock berupa peningkatan permintaan akhir sebesar Rp 1 milyar. Kolom 2 menunjukkan hasil peningkatan output nasional akibat adanya kenaikan pemintaan akhir pada masing-masing sektor. Kolom 3 menunjukkan peningkatan kesempatan kerja dan kolom 4 menunjukkan peningkatan income seluruh pekerja di seluruh sektor. Tabel IV.6 Dampak Peningkatan Permintaan Akhir Output Sebesar 1 Milyar Rupiah Terhadap Output Nasional, Peningkatan Kesempatan Tenaga Kerja dan Income Pekerja di Seluruh Sektor SEKTOR Output Nasional Tenaga Kerja Income Pekerja di Seluruh Sektor (1) (2) (3) (4) 1 1.338.239.209 68,44 172.286.778 2 1.220.598.588 70,65 172.458.212 3 1.521.642.358 31,84 308.554.692 4 1.896.431.603 23,50 307.770.307 5 1.335.184.478 11,74 218.761.955 6 1.380.390.725 14,28 198.691.953 7 1.236.388.393 2,57 143.888.143 8 1.977.776.315 27,13 165.246.615 9 1.754.259.495 9,29 196.943.577 10 1.271.388.605 0,85 190.839.292 11 1.827.021.799 4,49 463.330.780 12 1.850.921.322 9,66 249.754.164 13 1.679.032.849 23,30 254.325.618 14 1.956.811.857 21,26 311.326.704 15 1.626.722.758 13,98 264.122.385 16 1.454.859.463 5,59 219.036.998 17 1.640.558.982 21,98 828.258.137 13
18 1.679.805.101 21,19 509.840.398 19 1.744.082.673 42,02 238.439.482 Dari tabel tersebut terlihat bahwa peningkatan output nasional akibat adanya peningkatan permintaan akhir sebesar Rp 1 milyar tertinggi pada sektor 8 (Industri makanan, minuman, dan tembakau) sebesar Rp1.977.776.315,00. Akan tetapi peningkatan output nasional yang tinggi tersebut tidak disertai dengan peningkatan kesempatan kerja yang hanya sebesar 27 orang saja. Peningkatan income seluruh pekerja pada seluruh sektor untuk sektor 8 juga hanya sebesar Rp165.246.615,00 Dilihat dari peningkatan kesempatan kerja, sektor 2 (Tanaman Bahan Makanan lainnya) menempati peringkat pertama yaitu peningkatan permintaan akhir sebesar Rp 1 milyar pada sektor 2 mampu menciptakan kesempatan kerja sebanyak 71 orang. Seperti halnya yang terjadi pada sektor 8 di atas, peningkatan kesempatan kerja yang tinggi akibat adanya peningkatan permintaan akhir sebesar Rp 1 milyar pada sektor 2 tidak disertai dengan peningkatan output nasional dan peningkatan income pekerja seluruh sektor yang tinggi pula. Peningkatan output nasional hanya sebesar Rp1.220.598.588,00 sedangkan peningkatan income pekerja seluruh sektor hanya sebesar Rp172.458.212,00. Dampak peningkatan permintaan akhir sebesar Rp 1 milyar terhadap peningkatan income pekerja seluruh sektor paling besar pengaruhnya pada sektor 17 (Pemerintahan umum dan Pertahanan). Peningkatan permintaan akhir sebesar Rp 1 milyar pada sektor 17 mampu meningkatkan income pekerja seluruh sektor sebesar Rp828.258.137,00. Peningkatan income pekerja seluruh sektor yang tinggi inipun juga tidak disertai dengan peningkatan output nasional dan peningkatan kesempatan kerja yang besar pula. Peningkatan permintaan akhir sebesar Rp 1 milyar pada sektor 17 hanya mampu meningkatkan output nasional sebesar Rp1.640.558.982,00 dan meningkatkan kesempatan kerja sebanyak 22 orang. Dari hasil simulasi di atas terlihat bahwa pembuat kebijakan tidak dapat hanya mengandalkan satu sektor saja untuk menghasilkan kebijakan yang mampu memberikan pengaruh yang baik untuk output nasional, peciptaan kesempatan kerja dan income pekerja pada seluruh sektor secara besama-sama. Kebijakan harus diterapkan pada beberapa sektor disesuaikan dengan tujuan dari pengambil kebijakan. IV. Kesimpulan Dengan menggunakan analisis I/O dapat diketahui titik berat pembangunan ekonomi Indonesia seharusnya dilakukan untuk mencapai tujuan makroekonomi seperti : 1. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat dicapai jika pembangunan diprioritaskan pada sektor-sektor kunci dalam perekonomian Indonesia yaitu sektor 8 (industry makanan, 14
minuman dan tembakau), 4 (peternakan dan hasil hasilnya), 9 (Indutri lainnya), 13 (perdagangan) dan 15 (pengangkutan dan komunikasi). 2. Pengeluaran pemerintah yang akan memicu kenaikan permintaan akhir output sektor 17 (pemerintahan umum dan pertahanan), sangat efektif untuk meningkatkan pendapatan seluruh pekerja dalam perekonomian. 3. Tingkat pengangguran di Indonesia dapat efektif dikurangi dengan mengupayakan pembangunan sektor-sektor yang terkait dengan pertanian yaitu sektor 2 (tanaman bahan makanan lainnya), 1 (padi) dan 3 (tanaman pertanian lainnya). DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik, Tabel Input Output Updating 2008, Jakarta, 2009. Badan Pusat Statistik, Tabel Input Output Updating 2005, Jakarta. Hartono, Djoni, Peran Sektor Jasa Terhadap Perekonomian Jakarta : Analisis Input Output, Jurnal Ekonomi Pembangunan Indonesia, Vol IV No.1, hal 39-57, Jakarta, 2003. Resosudarmo, Budy P., Djoni Hartono dan Ditya A. Nurdianto, Inter-Island Economic Linkages and Connections in Indonesia, Economics and Finance in Indonesia Vol. 56 (3), Page 297 327, LPEM UI, Jakarta, 2008. 15