Proses Kognitif Pintu Batin (Manodvāravīthi)

dokumen-dokumen yang mirip
Prosedur Impuls (Javananiyama)

Ikhtisar Pintu (Dvārasaṅgaha) Dhammavihārī Buddhist Studies

Ikhtisar Fungsi (Kiccasaṅgaha) Dhammavihārī Buddhist Studies

Ikhtisar Objek (3) (Ālambaṇasaṅgaha) Dhammavihārī Buddhist Studies

Jawaban Soal-soal untuk Proses Kognitif (2)

Proses Kognitif di Pintu Pancaindra (Pañcadvāravīthi)

TABEL 1.1. RINGKASAN 89 dan 121 CITTA

Analisis Individu (Puggalabheda)

Abhidhammatthasaṅgaha

2. PENGELOMPOKAN BERDASARKAN AKAR

Sampayoganaya Metode Asosiasi (2) Dhammavihārī Buddhist Studies

Abhidhammatthasaṅgaha

Ikhtisar Perasaan (Vedanāsaṅgaha) Dhammavihārī Buddhist Studies

Saṅgahanaya Metode Sintesis. Dhammavihārī Buddhist Studies

Kāmāvacarasobhana Cittaṃ (2)

Abhidhammatthasaṅgaha

4. Sebutkan apa yang termasuk dalam catuparamatthadhammā! Yang termasuk catuparamatthadhammā adalah : Citta, Cetasika, Rūpa dan Nibbāna.

Kāmāvacarasobhana Cittaṃ (1)

Abhidhammatthasaṅgaha

Citta adalah keadaan yang mengetahui objek atau keadaan yang menerima, mengingat, berfikir dan mengetahui objek.

Abhidhammatthasaṅgaha

Saṅgahanaya (2) Metode Sintesis. Dhammavihārī Buddhist Studies

Soal-soal Cetasika (2) Dhammavihārī Buddhist Studies

Sampayoganaya Metode Asosiasi. Dhammavihārī Buddhist Studies

Sobhanacetasika (3) Dhammavihārī Buddhist Studies

PERTAPA GOTAMA MEMILIH JALAN TENGAH & ARIYASĀVAKA TANPA JHĀNA. Pariyatti Sāsana Yunior 2 hp ; pin!

Abhidhammatthasaṅgaha

Perkembangan Pandangan Terang

62 PANDANGAN SALAH (3) Dhammavihārī Buddhist Studies

Buddha Abhidhamma. Ultimate Science. Kata Pengantar.

Cetasika (2) Abhidhammatthasaṅgaha. Dhammavihārī Buddhist Studies

Dasar-Dasar Abhidhamma. Bhikkhu Sikkhānanda

BRAHMAVIHĀRA (2) KEDIAMAN LUHUR

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Dhammavihārī Buddhist Studies LIMA RINTANGAN BATIN PAÑCA NĪVARAṆA

MENGHENTIKAN GAYA HIDUP AUTOPILOT

Abhidhammatthasaṅgaha. Dhammavihārī Buddhist Studies

Pembabaran Dhamma yang Tidak Lengkap (Incomplete Teachings)

1. Mengapa bermeditasi?

Parābhava (2) Khotbah tentang Keruntuhan

Sutta Mahavacchagotta (The Greater Discourse to Vacchagotta)

ABHIDHAMMATTHASAṄGAHA

Dua Jenis Tangisan. oleh: Andi Kusnadi

Dāna. Sebuah Perhiasan dan Pendukung untuk Batin 2. Pariyatti Sāsana hp ; pin. Sunday, October 13, 13

Abhidhammatthasaṅgaha. Dhammavihārī Buddhist Studies

Bab I: Pengetahuan-buku. Bagian i hingga v Gagasan-gagasan dan maknanya. Topik I. PENGETAHUAN Catatan Pendahuluan

1.Definisi Hukum. 2.Pembagian/jenis-jenis Hukum

KARMA (KAMMA) ( KARMA DALAM TANYA JAWAB)

Kamma (7) Kamma Baik Lingkup-Indra. Dhammavihārī Buddhist Studies

KAMMA / KEWUJUDAN SEMULA

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... i. DAFTAR ISI... iv. DAFTAR GAMBAR DAN TABEL... vii LANDASAN TEORITIS TENTANG PERANAN GURU BK

62 PANDANGAN SALAH (1)

IV. ANALISIS KARYA. di kota Surakarta. Penulis tertarik memvisualisasikan tradisi upacara minum teh

Brahmavihāra (3) Bagaimana Melatihnya. Pariyatti Sāsana Yunior 2 hp ; pin 7E9064DE

KUMPULAN 50 TANYA JAWAB (12) Di Website Buddhis Samaggi Phala Oleh Bhikkhu Uttamo Online sejak tanggal 08 Maret 2005 s.d. tanggal 26 April 2005

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,

Jadwal Kagyu Monlam ke December January, 2013

Dhammavihārī Buddhist Studies. DHAMMAVIHARI. Pāramī (3) Penolakan

KARAKTERISTIK TAHAPAN PERKEMBANGAN MASA BAYI (0 2 TAHUN)

145/PMK.07/2009 ALOKASI KURANG BAYAR DANA BAGI HASIL PAJAK TAHUN ANGGARAN 2006, 2007, DAN 2008 YANG

2017, No Peraturan Menteri Keuangan tentang Rincian Kurang Bayar Dana Bagi Hasil Menurut Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota yang Dialokasikan dala

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 160.2/PMK.07/2008 TENTANG

Abhidhammatthasaṅgaha

ABHIDHAMMATTHASAṄGAHA AKUSALACITTĀNI

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP 073/J.A/07/1999

-8- Posisi per 31 Desember Tahun 2016 Tahun 2015 a. Modal Saham b. Agio Saham c. Laba Ditahan

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 127/PMK.07/2006 TENTANG

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2005 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

21. BARISAN DAN DERET

PERATURAN DAERAH MALUKU TENGGARA TENTANG PERUBAHAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KABUPATEN MALUKU TENGGARA TAHUN ANGGARAN 2015

formal, non formal, dan informal. Taman kanak-kanak (TK) adalah pendidikan

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2006 TENTANG TIM KOORDINASI PERCEPATAN PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN DI KAWASAN PERKOTAAN

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2000 TENTANG TUNJANGAN JABATAN FUNGSIONAL PENGGERAK

BAB I PENDAHULUAN. merombak kehidupan perekonomian ke arah yang lebih maju. Hal ini dapat. terjual namun terlalu sedikit konsumen yang membeli.

Beberapa Kunci Penting Dalam Latihan

No. 109, 2007(Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4759)

BAB III AKSARA SUNDA

BAB V ANALISIS KOMPARATIF. daerah yang sama, yaitu India. Sehingga memiliki corak, budaya serta ritual

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 13/POJK.03/2015 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI BANK PERKREDITAN RAKYAT

WALIKOTA PAREPARE PERATURAN WALIKOTA PAREPARE NOMOR 10 TAHUN 2015 TENTANG

Hari Pertama Kerajaan Kristus Bagi Gereja-Nya Bagi Dunia Kita Hari Kedua Doakan Yang Menyatukan Bagi Gereja-Nya Bagi Dunia Kita Hari Ketiga

o Di dalam tradisi Theravāda, pāramī bukanlah untuk Buddha saja, tetapi sebagai prak/k yang juga harus dipenuhi oleh Paccekabuddha dan sāvakā.

Empat Kebenaran Mulia. Pariyatti Sāsana Yunior 2 hp ; pin 7E9064DE

62 Pandangan Salah (6)

KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 121/PMK.07/2010 TENTANG

Meditasi. Oleh : Taridi ( ) KTP. Standar Kompetensi Mengembangkan meditasi untuk belajar mengendalikan diri

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahasa yang digunakan terdiri atas bahasa lisan dan bahasa tulis. Oleh karena itu,

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2006 TENTANG TIM KOORDINASI PERCEPATAN PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN DI KAWASAN PERKOTAAN

(3) Nota Penagihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran II Peraturan ini.

Permintaan Untuk Membabarkan Dhamma. Pariyatti Sāsana Yunior 2 hp ; pin

BUPATI ALOR PERATURAN BUPATI ALOR NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG

Suluh Pada Jalan Penggugahan (The Lamp for the Path to Enlightenment) Skt: Bodhipathapradipam Tibet: Byang-chub lam-gyi sgron-ma

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 10/ 26 /PBI/2008 TENTANG FASILITAS PENDANAAN JANGKA PENDEK BAGI BANK UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Transkripsi:

Proses Kognitif Pintu Batin (Manodvāravīthi)

Abhidhammatthasaṅgaha: 17.Manodvāre pana yadi vibhūtamārammaṇaṃ āpāthamāgacchati, tato paraṃ bhavaṅgacalanamanodvārāvajjanajavanāvasāne tadārammaṇapākāni pavattanti, tato paraṃ bhavaṅgapāto. (Sementara itu, apabila objek yang terang telah tiba ke dalam jangkauan di pintu batin, setelah itu mengalirlah getaran faktor-kehidupan, yang memalingkan ke pintu batin, di akhir dari impuls resultan yang mempertahankan objek tersebut kemudian jatuh ke dalam faktor-kehidupan)

Penjelasan 17: Proses kognitif di pintu batin dibagi menjadi dua: (a) Fase impuls terbatas atau lingkup-indriawi (parittajavanavāra). (b)fase absorpsi impuls (appanājavanavāra). Fase impuls lingkup-indriawi juga dibagi dua: (a)yang mengikuti proses di lima pintu (pañcadvārānubandhakā); (b)proses tersendiri (visuṃsiddhā).

Fase Impuls Lingkup-Indriawi (a)materi yang berbentuk nyata saat ini (nipphanna rūpa): Ti Na Da M J J J J J J J Td Td B B B B (b)materi yang berbentuk nyata masa lampau, masa depan, citta dan cetasika di tiga waktu: Na Da M J J J J J J J Td Td B

Empat Proses Yang Mengikuti Proses di Empat Pintu (a) Proses mengambil objek lampau (atītaggahaṇa). (b) Proses mengambil objek secara keseluruhan (samūhaggahaṇa vīthi). (c) Proses mengambil bentuk atau makna dari objek (atthaggahaṇa vīthi). (d) Proses mengambil nama dari objek tersebut (nāmaggahaṇa vīthi).

Empat Proses Yang Mengikuti Proses di Pintu Telinga (a) Proses mengambil objek lampau (atītaggahaṇa). (b) Proses mengambil objek secara keseluruhan (samūhaggahaṇa vīthi). (c) Proses mengambil nama dari objek tersebut (nāmaggahaṇa vīthi). (d)proses mengambil bentuk atau makna dari objek (atthaggahaṇa vīthi).

Kāmajavana atau Parittajavana Manodvāra Vīthi (a)ativibhūtārammaṇa vīthi (Tadārammaṇavāra vīthi) Na Da Ma Ja Ja Ja Ja Ja Ja Ja Ta Ta Bha.. (b)vibhūtārammaṇa vīthi (Javanavāra vīthi) Na Da Ma Ja Ja Ja Ja Ja Ja Ja Bha..

Kāmajavana Manodvāra Vīthi (c)avibhūtārammaṇa vīthi (Voṭṭhapanavāra vīthi) Na Da Ma Ma Ma Bha (d)ati-avibhūtārammaṇa vīthi (Moghavāra vīthi) Na Na Bha Bha Bha

Vīthicitta dan Vīthimuttacitta Kesadaran-kesadaran yang termasuk di dalam proses kognitif disebut sebagai vīthicitta (proses kesadaran). Kesadaran-kesadaran yang tidak termasuk di dalam proses kognitif disebut sebagai vīthimutta (terbebas dari proses).

Selalu Vīthicitta Selalu Vīthimuttacitta Terkadang Vīthicitta dan Terkadang Vīthimuttacitta Akusalacitta 12 Rūpāvacara vipāka 5 Upekhhāsantīraṇa 2 Ahetukacitta 16 Arūpāvacara vīpāka 4 Mahāvipāka citta 8 Mahākusalacitta 8 Mahākiriyacitta 8 Rūpāvacara kusala 5 Rūpāvacara kiriya 5 Arūpāvacara kusala 4 Arūpāvacara kiriya 4 Lokuttara citta 8

Penjelasan 17: Objek untuk proses kognitif di pintu batin dinamakan berbeda dengan objek untuk proses kognitif di pintu pancaindra, yaitu terang (vibhūta) dan tidak terang (avibhūta).

Abhidhammatthasaṅgaha: 18.Avibhūte panārammaṇe javanāvasāne bhavaṅgapātova hoti, natthi tadārammaṇuppādoti. (Akan tetapi untuk objek yang tidak terang, di akhir dari impuls [arus kesadaran] jatuh ke dalam faktor-kehidupan. Tidak ada kemunculan yang mempertahankan objek sama sekali).

19.Vīthicittāni tīṇeva, cittuppādā daseritā. Vitthārena panettheka-cattālīsa vibhāvaye. (Tiga proses kesadaran dan sepuluh kemunculan kesadaran telah dinyatakan. Akan tetapi di sini empat-puluh satu hendaknya dijelaskan). Ayamettha parittajavanavāro. (Sampai di sini, inilah jalur impuls kecil)

Penjelasan 19: Di proses kognitif pintu batin dengan impuls kecil 41 kesadaran berproses; 13 kesadaran yang merupakan kesadaran khusus untuk lima pintu sepasang kesadaran pancaindra dan tiga manodhātu tidak muncul.

Abhidhammatthasaṅgaha: Fase impuls absorpsi (Appanājavanavāra) 20.Appanājavanavāre pana vibhūtāvibhūtabhedo natthi, tathā tadārammaṇuppādo ca. (Selanjutnya, di dalam impuls absorpsi tidak dibedakan menjadi terang dan tidak terang. Dengan demikian tidak ada kemunculan yang mempertahankan objek).

Abhidhammatthasaṅgaha: 21. Tattha hi ñāṇasampayuttakāmāvacarajavanānamaṭṭhannaṃ aññatarasmiṃ parikammopacārānulomagotrabhunāmena catukkhattuṃ tikkhattumeva vā yathākkamaṃ uppajjitvā niruddhānantarameva yathārahaṃ catutthaṃ, pañcamaṃ vā chabbīsatimahaggatalokuttarajavanesu yathābhinīhāravasena yaṃ kiñci javanaṃ appanāvīthimotarati, tato paraṃ appanāvasāne bhavaṅgapātova hoti.

21. (Sehubungan dengan hal tersebut, salah satu dari delapan impuls lingkup-indriawi yang terkait dengan pengetahuan muncul-lenyap empat kali atau tiga kali berturutturut dinamakan sebagai persiapan, jalan masuk, penyelarasan dan pergantian silsilah.

21. Seketika setelah kelenyapannya, di yang keempat atau kelima sesuai dengan yang semestinya, salah satu impuls di antara dua-puluh enam impuls yang lebih tinggi dan adiduniawi turun/memasuki proses kognitif absorpsi sesuai dengan aspirasinya. Setelah itu, di akhir dari impuls, [arus kesadaran] jatuh ke faktor-kehidupan).

Appanājavana Manodvāravīthi Rūpāvacara Jhāna 1. Proses pencapaian jhāna yang pertama/pemula (Ādikammika jhānavīthi) Manda puggala: Na Da Ma P U N G Jh B B Tikkha puggala: Upacārasamādhi javana Na Da Ma U N G Jh B B Upacārasamādhi javana

Appanājavana Manodvāravīthi Arūpāvacara Jhāna 1. Proses pencapaian jhāna yang pertama/pemula (Ādikammika jhānavīthi) Manda puggala: Na Da Ma P U N G Jh B B Tikkha puggala: Upacārasamādhi javana Na Da Ma U N G Jh B B Upacārasamādhi javana

Appanājavana Manodvāravīthi 1. Proses pencapaian jhāna (Jhānasamāpatti vīthi) Manda puggala: Na Da Ma P U N G Jh (banyak) B B Tikkha puggala: Na Da Ma U N G Jh (banyak) B B

Keterangan Istilah Manda puggala: Seseorang dengan tingkat kebijaksanaan rata-rata (lambat). Tikkha puggala: Seseorang dengan tingkat kebijaksanaan tajam. Na: Bhavaṅga calāna (Getaran bhavaṅga). Da: Bhavaṅgupaccheda (Penghentian bhavaṅga). Ma: Manodvārāvajjana (Yang mengarahkan ke pintu-batin).

Keterangan Istilah P: parikamma (Persiapan). U: Upacāra (Pintu masuk). N: Anuloma (Penyelarasan). G: Gotrabhū (Pergantian silsilah). Jh: Kesadaran jhāna. B: Bhavaṅga.

Penjelasan 21: Salah satu impuls di antara duapuluh enam impuls yang lebih tinggi dan adiduniawi turun/memasuki proses kognitif absorpsi: hal ini terjadi hanya ketika kesadaran yang dinamakan persiapan, jalan masuk, penyelarasan dan pergantian silsilah telah muncul dan lenyap berurutan.

Penjelasan 21: Persiapan (parikamma): kesadaran yang mempersiapkan tercapainya absorpsi. Pintu masuk (upacāra): Kesadaran yang menjadi teman dekat tidak terlalu dekat juga tidak terlalu jauh (Nāccāsannopi hi nātidūrappavatti samīpacārī nāma hoti); kesadaran yang berjalan menghampiri absorpsi (appanaṃ upecca caratīti).

Penyelarasan (anuloma): disebut demikian karena kesadaran ini menyenangkan kesadaran sebelumnya dan absorpsi yang akan segera datang (pubbabhāge parikammānaṃ, upariappanāya ca anukūlattā anulomaṃ).

Pergantian silsilah (gotrabhū): mengatasi silsilah / keluarga kecil dan silsilah / keluarga makhluk kebanyakan, serta menumbuhkan, mengembangkan keluarga yang lebih tinggi dan keluarga adiduniawi (parittagottassa, puthujjanagottassa ca abhibhavanato, mahaggatagottassa, lokuttaragottassa ca bhāvanato vaḍḍhanato gotrabhu).

Empat terminologi di atas hanya diterapkan pada saat absorpsi muncul di impuls yang kelima. Dalam hal absorpsi muncul di impuls yang keempat, maka kesadaran persiapan (parikamma) tidak muncul.

Sesuai dengan yang semestinya: sesuai dengan apakah pengetahuan yang lebih tinggi (abhiññā) tercapai cepat atau lambat (khippābhiññadandhābhiññānurūpa). Untuk mereka yang pengetahuan lebih tingginya tercapai dengan cepat: seketika setelah impuls lingkup-indriawi muncul untuk tiga kali, maka yang keempat muncul sebagai kesadaran absorpsi (appanācitta).

Untuk mereka yang pengetahuan lebih tingginya tercapai dengan lambat: seketika setelah impuls lingkupindriawi muncul untuk empat kali, maka yang kelima muncul sebagai kesadaran absorpsi (appanācitta).

Tidak ada absorpsi yang bisa muncul sebelum impuls yang keempat dan setelah impuls yang kelima. Supaya penyelarasan bisa menghasilkan pergantian silsilah maka ia harus mendapatkan repetisi (laddhāsevana). Impuls yang keenam atau ketujuh tidak mungkin untuk berdiri kokoh di absorpsi karena mereka dekat pada faktor-kehidupan seperti seseorang yang berdiri di pinggiran air terjun.

Sesuai dengan aspirasinya: sesuai dengan pengarahan kesadaran pada saat bermeditasi pandangan-terang atau ketenangan sebelum pencapaian materi-halus, nonmateri, Jalan dan Buah Adiduniawi (rūpārūpalokuttaramaggaphalānurū pasamathavipassanābhāvanācittābhi nīharaṇānurūpato).

Abhiññā Appanā Vīthi Untuk mereka yang telah menguasai semua rūpajjhāna dan arūpajjhāna. Lima abhiññā duniawi (lokiya abhiññā) Pengetahuan tertinggi yang terkait dengan rūpāvacara jhāna kelima.

Lima Lokiya Abhiññā 1. Iddhividha Abhiññāṇa (Pengetahuan yang Lebih Tinggi tentang Berbagai Jenis Kesaktian) 2.Dibbasota Abhiññāṇa (Pengetahuan yang Lebih Tinggi tentang Telinga Dewa) 3.Dibbacakkhu Abhiññāṇa (Pengetahuan yang Lebih Tinggi tentang Mata Dewa)

Lima Lokiya Abhiññā 4. Paracittavijānana Abhiññā atau Cetopariya ñāṇa (Pengetahuan yang Lebih Tinggi tentang Mengetahui Pikiran Makhluk Lain) 5.Pubbenivāsānussati Abhiññāṇa (Pengetahuan yang Lebih Tinggi tentang Ingatan Kehidupan Lampau)

Lokiya Abhiññā Appanā Vīthi (Proses Absorpsi untuk Pengetahuan yang Lebih Tinggi Duniawi) Manda Puggala: Na Da Ma P U N G (Abhiñ) B Tikkha Puggala: Na Da Ma U N G (Abhiñ) B

Abhidhammatthasaṅgaha: 22.Tattha somanassasahagatajavanānantaraṃ appanāpi somanassasahagatāva pāṭikaṅkhitabbā, upekkhāsahagatajavanānantaraṃ upekkhāsahagatāva, tatthāpi kusalajavanānantaraṃ kusalajavanañceva heṭṭhimañca phalattayamappeti, kiriyajavanānantaraṃ kiriyajavanaṃ arahattaphalañcāti. 23.Dvattiṃsa sukhapuññamhā, dvādasopekkhakā paraṃ, Sukhitakriyato aṭṭha, cha sambhonti upekkhakā.

22. (Sehubungan dengan hal tersebut, persis setelah impuls yang disertai dengan sukacita, hanya absorpsi yang disertai dengan sukacita yang bisa diharapkan. Sesaat setelah impuls yang disertai dengan ketenangan, hanya absorpsi yang disertai dengan ketenangan.

22. Sehubungan dengan hal tersebut juga, seketika setelah impuls yang baik, impuls yang baik dan tiga Buah yang lebih rendah berperan sebagai absorpsi. Seketika setelah impuls fungsional, impuls fungsional dan Buah Arahatta berperan sebagai absorpsi).

Abhidhammatthasaṅgaha: 23.Dvattiṃsa sukhapuññamhā, dvādasopekkhakā paraṃ, Sukhitakriyato aṭṭha, cha sambhonti upekkhakā. (Dari kesadaran baik yang disertai dengan sukacita, tiga-puluh dua [impuls absorpsi] muncul; setelah [kesadaran baik] yang disertai dengan ketenangan, dua belas muncul; setelah kesadaran fungsional yang disertai dengan sukacita, delapan muncul; dan setelah [kesadaran fungsional] yang disertai dengan ketenangan, enam muncul).

Penjelasan 23: Dari kesadaran baik yang disertai dengan sukacita: Mengikuti dua kesadaran tiga akar yang baik dan disertai dengan sukacita, 32 absorpsi muncul: Kesadaran baik rūpajjhāna 1 sd 4 4 Kesadaran Jalan jhāna 1 sd 4 16 Kesadaran Buah jhāna 1 sd 4 (kecuali Buah Arahatta) 12.

Setelah [kesadaran baik] yang disertai dengan ketenangan, dua belas muncul: setelah dua kesadaran tiga akar yang baik dan disertai dengan ketenangan, 12 absorpsi muncul, yaitu: Kesadaran Baik jhāna-5 yang lebih tinggi 5 Kesadaran Jalan jhāna-5 4 Kesadaran Buah jhāna-5 (kecuali Buah Arahatta) 3

Setelah kesadaran fungsional yang disertai dengan sukacita, delapan muncul: setelah dua kesadaran fungsional tiga akar yang disertai dengan sukacita, delapan absorpsi muncul, yaitu: Kesadaran fungsional jhāna 1 sd 4 4 Buah tertinggi jhāna 1 sd 4 4

Setelah [kesadaran fungsional] yang disertai dengan ketenangan, enam muncul: setelah dua kesadaran fungsional tiga akar yang disertai dengan ketenangan, enam absorpsi muncul, yaitu: Kesadaran fungsional yang lebih tinggi jhāna-5 5 Buah yang tertinggi jhāna-5 1

Abhdhammatthasaṅgaha 24.Puthujjanāna sekkhānaṃ, kāmapuññatihetuto. Tihetukāmakriyato, vītarāgānamappanā. (Untuk manusia biasa dan yang masih harus berlatih lagi, absorpsi muncul dari kebajikan lingkup-indriawi tiga akar; dari fungsional lingkup-indriawi, absorpsi muncul di mereka yang telah terbebaskan dari nafsu). Ayamettha manodvāre vīthicittappavattinayo (Sampai di sini, inilah metode kejadian proses kognitif di pintu batin)

Selesai