PAPER PSIKOLOGI DAN PERILAKU ARSITEKTUR

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III TINJAUAN WISATAWAN ELITE

GENDER DALAM TERITORI

KAJIAN AREA PARKIR SEPEDA MOTOR PLAZA SIMPANGLIMA SEMARANG DITINJUA DARI PERILAKU PENGUNJUNG

PEMAHAMAN TENTANG HUBUNGAN ANTARA LUAS LANTAI RUMAH DAN TATA SETTING

PENANDAAN TERITORI DAN INVASINYA TERHADAP RUANG PUBLIK

Penerapan Konsep Defensible Space Pada Hunian Vertikal

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL PENELITIAN

KARAKTERISTIK TERITORIALITAS RUANG PADA PERMUKIMAN PADAT DI PERKOTAAN

BAB I PENDAHULUAN. penting. Keputusan yang dibuat individu untuk menikah dan berada dalam

PRIVASI DALAM KEBEBASAN INFORMASI

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai mahluk sosial, manusia senantiasa hidup bersama dalam sebuah

Fasilitas Komersial (Area Makan Lantai 1) (2)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Seorang anak sejak lahir tentu sejatinya membutuhkan kasih sayang yang

PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP ATRIBUT SOSIALIBILITAS PADA SETING TANGGA DALAM HALL FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS WIJAYAKUSUMA - PURWOKERTO

THE DINAMYC OF CAUSES OF CHILD SEXUAL ABUSE BASED ON AVAILABILITY OF PERSONAL SPACE AND PRIVACY

BAB I PENDAHULUAN. saling mengasihi, saling mengenal, dan juga merupakan sebuah aktifitas sosial dimana dua

BAB II LANDASAN TEORI

ASPEK-ASPEK ARSITEKTUR BENTUK DAN RUANG.

HUBUNGAN ANTAR PRIBADI

BAB I PENDAHULUAN. individu dengan individu yang lain merupakan usaha manusia dalam

BAB I PENDAHULUAN. banyak pilihan ketika akan memilih sekolah bagi anak-anaknya. Orangtua rela untuk

BAB II KAJIAN TEORI. yang terlibat di dalamnya saling mempengaruhi (Sugiyo, 2005). Komunikasi antar

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Setiap manusia selama hidupnya pasti mengalami perubahan.

KAJIAN PERILAKU DAN TERITORI PADA SELASAR BIOSKOP EMPIRE XXI YOGYAKARTA

Minggu 5 ANALISA TAPAK CAKUPAN ISI

TERITORI RUANG PUBLIK PERKOTAAN STUDI KASUS KOTA SEMARANG, SURAKARTA DAN YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kesepian (loneliness)

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB I PENDAHULUAN. anak-anak terus bekerja, dan daya serap anak-anak tentang dunia makin meningkat.

Ruang Personal Pemustaka di Ruang Baca Perpustakaan Umum Kota Malang

KAJIAN POLA RUANG AKTIVITAS DEMONSTRASI DI KAWASAN SIMPANG LIMA SEMARANG TUGAS AKHIR

Proses Terbentuknya Teritori PKL di Makassar

PRILAKU SPASIAL (BEHAVIOUR ENVIRONMENT) PRILAKU SPASIAL PERASAAN TENTANG TEMPAT (SENSE OF PLACE) TERITORIALITAS (TERRITORIALITY)

Universitas Gadjah Mada 1

KOMUNIKASI NON VERBAL

BAB IV ANALISA. Kegiatan yang terjadi di dalam asrama dibagi berdasarkan pengelompokan jenis. kegiatan yang dilakukan oleh pengguna asrama, yaitu :

SEKOLAH TINGGI SENI TEATER JAKARTA

DIMENSI 1 KEBIJAKAN AKADEMIK

BAB I PENDAHULUAN. penduduk tersebutlah yang menjadi salah satu masalah bagi suatu kota besar.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Individu pada hakikatnya selalu mengalami proses pertumbuhan dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. memiliki arti tersendiri di dalam hidupnya dan tidak mengalami kesepian.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. pengganti barang tersebut. Akan tetapi, pada saat ini konsep belanja itu sebagai

BAB I PENDAHULUAN. Remaja atau Adolescene berasal dari bahasa latin, yaitu adolescere yang


pada Mahasiswa yang Tinggal di Pondok Pesantren

BAB II LANDASAN TEORI. tersebut mempelajari keadaan sekelilingnya. Perubahan fisik, kognitif dan peranan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dan berlangsung terus-menerus sepanjang kehidupan. Hal demikian

c. Pengalaman dan suasana hati.

Dr.Ir. Edi Purwanto, MT

3 & 4. Modul Perkuliahan III dan IV Sosiologi Komunikasi. Proses Komunikasi Dalam Masyarakat. Ponco Budi Sulistyo., S.Sos., M.Comm.

Prosiding Psikologi ISSN:

BAB IV PEMBAHASAN Pembahasan Data Hasil Observasi Dari data hasil observasi dapat dibahas sebagai berikut:

BAB II LANDASAN TEORI. perhatian penuh kasih sayang kepada anaknya (Soetjiningsih, 1995). Peran

Kecakapan Non Verbal. Tine A. Wulandari, S.I.Kom.

BAB V EVALUASI PASCAHUNI

BAB II KAJIAN TEORITIS. (interpersonal communication). Diambil dari terjemahan kata interpersonal, yang

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS

BAB I PENDAHULUAN. menjadi tanda bahwa bisnis kuliner berkembang pesat. Bisnis kuliner melalui subindustri

Kecakapan Antar Personal

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. adalah selalu ingin terjadi adanya perubahan yang lebih baik. Hal ini tentu

BAB IV PENGAMATAN PERILAKU

BAB 1 PENDAHULUAN. kompleksitas dan berbagai tekanan yang dihadapi perusahaan meningkat. Globalisasi

Keterikatan Pekarangan terhadap Ruang Dalam berdasarkan Atribut Privasi pada Kawasan Hunian Jeron Beteng Kraton Yogyakarta

MENENTUKAN TEKNIK EDITING DENGAN STORYBOARD MELALUI NASKAH FILM BELENGGU

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat mencari kegiatan yang bisa memulihkan vitalitas beraktifitas, antara

BAB I PENDAHULUAN. memiliki keinginan untuk mencintai dan dicintai oleh lawan jenis. menurut

I. PENDAHULUAN. Pada hakekatnya setiap manusia membutuhkan orang lain. Naluri untuk hidup bersama orang

Tipe-tipe komunikasi. Puri Kusuma D.P

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dengan lingkungannya yang baru.

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Perancangan Apartemen Sewa untuk Keluarga Baru (ASKB) ini

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB II URAIAN TEORITIS. Rianawati (2005) judul Analisis Pengaruh Faktor Dari Perilaku Konsumen

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Coakley (dalam Lerner dkk, 1998) kadang menimbulkan terjadinya benturan antara

BAB I PENDAHULUAN. hubungan sosial yaitu hubungan berpacaran atau hubungan romantis.

BAB I PENDAHULUAN. Manusia tidak dapat hidup seorang diri karena manusia merupakan

BAB III TINJAUAN KHUSUS

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi antar pribadi merupakan salah satu bentuk komunikasi. Komunikasi

BAB I PENDAHULUAN. Ketika zaman berubah dengan cepat, salah satu kelompok yang rentan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. membahas mengenai kualitas komunikasi yang dijabarkan dalam bentuk pengertian kualitas

BAB II LANDASAN TEORI

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2017

ABSTRAK. Kata kunci: stakeholder, pelanggan, proses komunikasi interpersonal, tahapan penetrasi sosial

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

Konsep Desain Partisi Dengan Sistem Modular Untuk Hunian Dengan Lahan Terbatas Di Surabaya

Hubungan Interpersonal Antara Petugas Pajak dan Wajib Pajak. Sumber: Djamaludin Ancok, Psikologi Terapan, Yogyakarta, Darussalam, 2004

Perkembangan Sepanjang Hayat

BAB I PENDAHULUAN. diasuh oleh orangtua dan orang-orang yang berada di lingkungannya hingga

PANDUAN PERLINDUNGAN HAK PASIEN DAN KELUARGA TERHADAP KEBUTUHAN PRIVASI PASIEN RS. CITRA HARAPAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Identity Achievement. (Kartono dan Gulo, 2003). Panuju dan Umami (2005) menjelaskan bahwa

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. laku spesifik yang bekerja secara individu dan bersama sama untuk mengasuh

BAB IV HASIL PENELITIAN

Transkripsi:

PAPER PSIKOLOGI DAN PERILAKU ARSITEKTUR Proses Sosial - Personal Space, Territory, dan Privacy Oleh Wulan Ratnaningsih I0212084 Prodi Arsitektur Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta 2014

Teori Proses Sosial - Personal Space, Territory, dan Privacy A. Proses Sosial 1. Pengertian Proses Sosial 1) Masyarakat bersifat statis dan Dinamis 2) Masyarakat yang dinamis cenderung lebih berproses dari masyarakat yang sifatnya statis 3) Proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dapat dilihat apa bila orang perorang atau kelompok sosial saling bertemu dan menentukan bentuk hubungan tersebut Berikut beberapa pengertian proses social : Proses Sosial adalah pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan orang perorang atau kelompok secara bersama. Proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dilihat apabila orang-perorangan dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentubentuk hubungan tersebut atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya pola-pola kehidupan yang terlah ada. Proses sosial dapat diartikan sebagai pengaruh timbale-balik antara pelbagai segi kehidupan bersama, misalnya pengaruh-mempengaruhi antara sosial dengan politik, politik dengan ekonomi, ekonomi dengan hukum, dst. B. Ruang Personal atau Personal Space 1. Pengertian a. Personal distance (jarak pribadi), yang memiliki jaraka ntara 1,5-4 kaki. Jarak ini adalah karakteristik kerenggangan yang biasadipakai individu satu sama lain. b. Social distance yang mempunyai jarak 4-25 kaki dan merupakan jarakjarak normal yang memungkinkan terjadinya kontak sosial yang umum serta hubungan bisnis c. Personal space itu seolah-olah merupakan sebuah balon atau tabung yang menyelubungidiri kita dan tabung itu membesar dan mengecil bergantung dengan siapa kita sedang berhadapan. Menurut Hall (1963), ada 4 macam jarak personal space, yaitu: 1) Jarak intim (0 18 inci / 0 0,5 m) jarak untuk saling merangkul sahabat, atau anggota keluarga, atau untuk melakukan olahraga kontak fisik seperti gulat dan tinju 2) Jarak personal (18 inci 4 kaki / 0,5 1,3 m), yaitu jarak untuk percakapan antara dua sahabat atau antar orang yang sudah saling akrab. 3) Jarak sosial (4 12 kaki / 1,3 4 m), yaitu untuk berhubungan yang bersifat formal seperti bisnis, dan sebagainya.

4) Jarak publik (12 25 kaki / 4 8,3 m), yaitu untuk hubungan yang lebih formal lagi seperti penceramah atau actor dengan hadirin/penontonnya 2. Hubungan Ruang Personal dengan Lingkungan Ruang personal sangat bergantung dengan lingkungan. Dengan jarak-jarak yang sudah disebutkan di atas, apabila ada yang melebihi atau tidak sesuai dengan ketentuan jarak itu akan menjadi sangat mengganggu. Terutama di lingkungan padat seperti angkutan umumdimana orang-orang berdesakan sehingga jarak ruang personal terganggu. Jadi hubungan antara privasi dengan ruang personal adalah seseorang membutuhkan ruang personal untuk memiliki privasi. 3. Privasi Keluarga Pada Budaya Masyarakat Jawa dan Bali Rumah-rumah jawa tidak terdapat dinding atau pagar disekeliling rumahnya, dinding dinding (bambu) rumahnya tipis dan dianyam secara longgar, dan bahkan tanpa pintu. Di dalam rumah, orang bebas berlalu lalang sepanjang hari. Berbeda dengan di bali yang hanya memperbolehkan keluarga dan sanak saudara serta teman dekat untuk masuk halaman/rumah. orang yang bukan sanak saudara hampir tidak pernah memasuki halaman rumah.dengan kata lain orang jawa lebih terbuka dan orang bali lebih memiliki sifat privasi yang tinggi. Contoh privasi pada Perilaku arsitektur a. Sri Paus, pimpinan tertinggi umat katholik sering kali berdiri di atas balkon gereja untuk menyampaikan pidatonya, umat dapat melihatnya, dapat mempunyai akses visual. Akan tetapi, tidak ada seorang pun umat yang dapat bertatap muka dan berbincang dengannya. Yang berarti bahwa Sri Paus mempunyai privasi yang tinggi meskipun banyak orang melihatnya. b. Seseorang dapat mencari privasi dengan mengunci diri dalam kamar kerja untuk bekerja, tetapi membiarkan diri diganggu oleh musik. c. Seseorang yang tertutup biasanya akan mengaplikasikan privasi pada desain rumahnya, seperti membuat pagar yang tinggi untuk menjaga privasi agar tidak terganggu oleh orang lain C. Teritoriality 1. Pengertian a. Teritori (territory) artinya wilayah atau daerah, dan teritorialitas (territoriality) adalah batasan tampak atas wilayah yang dimiliki oleh individu atau wilayah yang dianggap sudah menjadi hak seseorang. b. Holahan (dalam Iskandar, 1990), mengungkapkan bahwa teritorialitas adalah suatu tingkah laku yang diasosiasikan pemilikan atau tempat yang

ditempatinya atau area yang sering melibatkan ciri pemilikannya dan pertahanan dari serangan lain. Dengan demikian, menurut Altman (1975) penghuni tempat tersebut mengontrol daerahnya atau unitnya dengan benar atau merupakan suatu territorial primer. c. Perbedaan ruang personal dengan teritorialitas menurut Sommer dan de War (1963),yaitu bahwa ruang personal dibawa kemanapun seseorang pergi, sedangkan teritori memiliki implikasi tertentu yang secara geografis merupakan daerah yang tidak berubah-ubah. 2. Elemen Teritoriality Menurut Lang (1987), terdapat empat karakter dari teritorialitas. Yaitu: a. Kepemilikan atau hak dari suatu tempat b. Personalisasi atau penandaan dari suatu area tertentu c. Hak untuk mempertahankan diri dari gangguan luar d. Pengatur dari beberapa fungsi, mulai dari bertemunya kebutuhan dasar psikologis sampai kepada kepuasan kognitif dan kebutuhan kebuthan estetika. Porteus (dalam Lang, 1987) mengindentifikasikan 3 kumpulan tingkat spasial yang saling terkait satu sama lain: a. Personal Space, yang telah banyak dibahas dimuka. b. Home Base, ruang ruang yang dipertahankan secara aktif, misalnya rumah tinggal atau lingkungan rumah tinggal. c. Home Range, seting seting perilaku yang terbentuk dari bagian kehidupan seseorang. Selain itu, Lyman dan Scott (1967) juga membuat klasifikasi tipe teritorialitas yang sebanding dengan klasifikasi Altman. Namun, terdapat dua tipe yang berbeda, ytiu teritori interaksi (interactional territories) dan teritori badan (body territory). a. Teritori interaksi ditujukan pada suatu daerah yang secara temporer dikendalikan oleh sekelompok orang yang berinteraksi. Misalnya, sekelompok anak yang masuk ke dalam lapangan bola ketika sedang ada pertandingan bola oprang dewasa, atau seorang anak kecil masuk dalam ruang kuliah yang tidak peruntukkan baginya. b. Sementara itu, teritori badan dibatasi oleh badan manusia. Namun, batasannya bukanlah ruang maya, melainkan kulit manusia, artinya segala sesuatu mengenai kulit tanpa izin dianggap gangguan. Orang itu akan mempertahankan diri terhadap gangguan tersebut. Sementara itu Altman membagi teritorialitas menjadi tiga yaitu, territorial primer, territorial sekunder dan territorial umum. a. Teritori Primer Teritori primer adalah tempat-tempat yang sangat pribadi sifatnya, hanya boleh dimasuki orang-orang yang sudah sangat akrab atau yang sudah mendapat

ijin khusus. Teritori ini dimiliki oleh perseorangan atau sekelompok orang yang juga mengendalikan penggunaan teritori tersebut secara relatif tetap, berkenaan dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, ruang tidur atau ruang kantor. b. Teritori Sekunder Teritori sekunder adalah tempat-tempat yang dimiliki bersama oleh sejumlah orang yang sudah cukup saling mengenal. Kendali pada teritori ini tidaklah sepenting penggunaan dengan orang asing. Misalnya, ruang kelas, kantin kampus, ruang latihan olahraga, dll. c. Teritori Publik Teritori publik adalah tempat-tempat yang terbuka untuk umum. Pada prinsipnya, setiap orang diperkenankan untuk berada di tempat tersebut. Misalnya, pusat perbelanjaan, tempat rekreasi, lobi hotel, dan ruang sidang pengadilan yang dinyatakan terbuka untuk umum, Kadang-kadang teritori publik dikuasai oleh kelompok tertentu dan tertutup bagi kelompok yang lain, seperti bar yang hanya untuk orang dewasa atau tempat-tempat hiburan yang terbuka untuk dewasa umum, kecuali anggota ABRI, misalnya. 3. Pengaruh Teritori Beberapa factor yang mempengaruhi keanekaan teritori adalah sebagai berikut : a. Faktor Personal Karakteristik seseorang, seperti jenis kelamin, usia, dan kepribadian diyakini mempunyai pengaruh terhadap sikap teritorialitas. Penelitian Mercer dan Benyamin (1980) disebuah asrama mendapati bahwa pria menggambarkan teritori mereka lebih besar daripada wanita. Contohnya : dapur adalah teritori ibu atau wanita. b. Situasi Dua aspek situasi, yaitu tatanan fisik dan social buadaya dianggap mempunyai peran dalam menentukan sikap teritorialitas seseorang. c. Faktor Budaya Secara budaya terdapat perbedaan sikap teritorial. Contohnya orang Prancis mempunyai sikap territorial terendah. mereka menganggap pantai sebagai milik semua orang. sementara itu, orang Jerman lebih banyak member tanda-tanda kepemilikan dengan membuat istana pasir sebagai batas teritori mereka. 4. Territotiality dan Perilaku Teritorialitas berfungsi sebagai proses sentral dalam personalisasi, agresi, dominasi, memenangkan, koordinasi, dan kontrol. a. Personalisasi dan Penandaan Personalisasi dan Penandaan seperti memberi nama, tanda atau menempatkan di lokasi strategis, bisa terjadi tanpa kesadaran akan teritorialitas. Misalnya, membuat pagar atas, memberi papan nama yang

merupakan kepemilikan. Penandaan juga dipakai seseorang untuk mempertahankan haknya di teritori publik, seperti nomor kursi di pesawat atau bisokop. b. Stimulasi dan identitas pribadi Merupakan cerminan identitas si penghuni, sehingga pkomunitas / pihak lain di luar penghuni dapat merasakan batasan atau kontrol penghuni terhadap wilayah tersebut. Contoh : a) Rumah seorang seniman patung akan banyak dijumpai hasil karya seni patung, bahkan di bagian halaman dan bagian depan rumah, dimana identitas tersebut berfungsi sebagai penanda teritorial penghuni terhadap wilayah miliknya. 5. Hubungan Terriroriality dengan Privasi Teritorialitas merupakan perwujudan ego seseorang karena orang itu tidak ingin diganggu, atau dapat dikatakan sebagai perwujudan dari privasi seseorang. Teritorialitas dan privasi dapat membentuk atau mempengaruhi suatu tingkahlaku dan kepribadian manusia atau karakter individu dan mempengaruhi perilaku seseorang menjadi ke arah positif maupun negatif. Hal tersebut semakin terlihat jelas ketika manusia tersebut bertemu dengan manusia lainnya. Bagaimana seseorang membawakan diri ketika ia berada di sekitar orang lain dan lingkungannya. Pembentukan kawasan territorial merupakan mekanisme perilaku lain untuk mencapai privasi tertentu. Kalau mekanisme ruang personal tidak memperlihatkan dengan jelas kawasan yang menjadi pembatas antar dirinya dengan orang lain maka pada teritorialitas batas-batas tersebut nyata dengan tempat yang relative tetap. Privasi suatu lingkungan dapat dicapai melalui pengontrolan teritorial, karena di dalamnya tercakup pemenuhan kebutuhan dasar manusia yang meliputi : a. Kebutuhan akan identitas, berkaitan dengan kebutuhan akan kepemilikan, kebutuhan terhadap aktualisasi diri, yang pada prinsipnya adalah dapat menggambarkan kedudukan serta peran seseorang dalam masyarakat. b. Kebutuhan terhadap stimulasi yang berkaitan erat dengan aktualisasi dan pemenuhan diri. c. Kebutuhan akan rasa aman, dalam bentuk bebas dari kecaman, bebas dari serangan oleh pihak luar dan memilliki keyakinan diri. d. Kebutuhan yang berkaitan dengan pemeliharaan hubungan dengan pihak-pihak lain dan lingkungan sekitarnya (Lang dan Sharkway dalam Lang, 1987) 6. Contoh Territotiality

a. Pada saat di dalam bis, orang meletakkan tasnya disamping kursinya untuk menandakan bahwa kursi tersebut dimiliki oleh pemilik tas. b. Pada suatu pemukiman, suatu rumah tinggal yang memiliki pohon di halamannya dan berdekatan dengan rumah di sebelahnya, apabila daunnya berjatuhan di rumah tetangganya, maka daun-daun yang berasal dari rumah tinggal mengganggu teritori pada rumah di sebelahnya. c. Seseorang menaruh barang-barangnya di sebelah kursi tertentu ketika di dalam kelas, sebagai tanda teritorialitasnya. d. Apabila ada orang yang menempati tempat tersebut, kemudian ingin pergi sebentar untuk memesan makanan, atau pergi ke toilet, ia akan meninggalkan sesuatu seperti buku atau tas di atas meja, dengan harapan orang lain yang melihat ada buku atau tas disitu diharapkan tahu bahwa bangku tersebut sudah menjadi teritorinya sehingga tidak diduduki. e. Adanya pagar sebagai batas lahan rumah f. Adanya papan pengumuman yang menyatakan kepemilikan suatu lahan D. Privacy 1. Pengertian a. Kerahasiaan pribadi (bahasa inggris : privacy) adalah kemampuan satu atau sekelompok individu untuk mempertahankan kehidupan dan urusan personalnya dari publik, atau untuk mengontrol arus informasi mengenai diri mereka. Privasi kadang dihubungkan dengan anonimitas walaupun anonimitas terutama lebih dihargai oleh orang yang dikenal publik. Privasi dapat dianggap sebagai suatu aspek dari keamanan. b. Lang (1987), berpendapat bahwa tingkat dari privasi tergantung dari pola-pola perilaku dalam konteks budaya dan dalam kepribadian dan aspirasi dari keterlibatan individu c. Rapport (dalam Soesilo, 1988) mendefinisikan privasi sebagai suatu kemampuan untuk mengontrol interaksi, kemampuan untuk memperoleh pilihan-pilihan dan kemampuan untuk mencapai interaksi seperti yang diinginkan. d. Privasi merupakan tingkatan interaksi atau keterbukaan yang dikehendaki seseorang pada suatu kondisi atau situasi tertentu.tingkatan privasi yang diinginkan itu menyangkut keterbukaan atau ketertutupan, yaitu adanya keinginan untuk berinteraksi dengan orang lain, atau justru ingin menghindar atau berusaha supaya sukar dicapai oleh orang lain (Hartono, dalamprabowo 1998). e. Altman (1975), mendefinisikan privasi dalam bentuk yang lebih dinamis. Menurutnya privasi adalah proses pengontrolan yang selektif terhadap akses kepada diri sendiri dan akses kepada orang lain. Altman menjabarkan beberapa fungsi privasi :

a. Privasi adalah pengatur dan pengontrol interaksi interpersonal yang berarti sejauh mana hubungan dengan orang lain diinginkan, kapan waktunya menyendiri dan kapan waktunya bersama-sama dengan orang lain. Privasi dibagi menjadi dua macam, yaitu privasi rendah dan privasi tinggi. b. Privasi adalah merencanakan dan membuat strategi untuk berhubungan dengan orang lain. c. Privasi untuk memperjelas identitas diri Hak pelanggaran privasi oleh pemerintah, perusahaan, atau individual menjadi bagian di dalam hukum di banyak negara, dan kadang, konstitusi atau hukum privasi. Hampir semua negara memiliki hukum yang, dengan berbagai cara, membatasi privasi, sebagai contoh, aturan pajak umumnya mengharuskan pemberian informasi mengenai pendapatan. Privasi dapat secara sukarela dikorbankan, umumnya demi keuntungan tertentu, dengan risiko hanya menghasilkan sedikit keuntungan dan dapat disertai bahaya tertentu atau bahkan kerugian. Contohnya adalah pengorbanan privasi untuk mengikut suatu undian atau kompetisi; seseorang memberikan detil personalnya (sering untuk kepentingan periklanan) untuk mendapatkan kesempatan memenangkan suatu hadiah. Contoh lainnya adalah jika informasi yang secara sukarela diberikan tersebut dicuri atau disalahgunakan seperti pada pencurian identitas. 2. Jenis Privacy Jenis privasi dibagi menjadi 2 golongan, yaitu: a. Golongan pertama, adalah keinginan untuk tidak diganggu secara fisik. Golongan ini terwujud dalam tingkah lakumenarik diri (withdrawal) yang terdiri atas 3 jenis: 1) Keinginan untuk menyendiri (solitude). Misalnya ketika seseorang sedang dalam keadaan sedih dia tidak ingin di ganggu oleh siapapun. 2) Keinginan untuk menjauh dari pandangan dan gangguan suara tetangga atau kebisingan lalulintas (seclusion).misalnya saat seseorang ingin menenangkan pikirannya, ia pergi ke daerah pegunungan untuk menjauhkan diri dari keramaian kota. 3) Keinginan untuk intim (intimacy) dengan orang-orang (misalnya dengan keluarga) atau orang tertentu saja (misalnya dengan pacar), tetapi jauh dari semua orang lainnya. Misalnya orang yang pergi ke daerah puncak bersama orang-orang terdekat seperti keluarga. b. Golongan kedua, Golongan kedua adalah keinginan untuk menjaga kerahasiaan diri sendiri yang berwujud dalam tingkah laku hanya memberi informasi yang dianggap perlu (control of information).tiga jenis privacy golongan ini adalah: 1) Keinginan untuk merahasiakan jati diri (anonimity);

2) Keinginan untuk tidak mengungkapkan diri terlalu banyak kepada orang lain (reserve); dan 3) Keinginan untuk tidak terlibat dengan tetangga (not neighboring). Dalam hubungannya dengan orang lain, manusia memiliki referensi tingkat privasi yang diinginkannya, yaitu a. Privasi rendah : ada saat-saat dimana seseorang ingin berinteraksi dengan orang lain dan b. Privasi tunggu : ada saat- saat dimana ia ingin menyendiri dan terpisah dari orang lain. c. Untuk mencapai hal itu, ia akan mengkontrol dan mengatur melalui suatu mekanisme perilaku. 3. Mekanisme Perilaku Berdasarkan Tingkat Privasi Manusia a. Perilaku verbal Perilaku ini dilakukan dengan cara mengatakan kepada orang lain secara verbal, ssejauh mana orang lain boleh berhubungan dengannya. b. Perilaku non verbal Perilaku ini dilakukan dengan menunjukkan ekspresi wajah atau gerakan tubuh tertentu sebagai tanda senang atau tidaks senang. c. Mekanisme kultural Budaya mempunyai bermacam-macam adatistiadat, aturan atau norma, yang menggambarkan keterbukaan atau ketertutupan kepada orang lain dan hal ini sudah diketahui oleh banyak orang pada budaya tertentu. d. Ruang personal Ruang personal adalah salah satu mekanisme perilaku untuk mencapai tingkat privasi tertentu. Kebanyakan penelitian menunjukkan bahwa individu yang mempunyai kecenderungan berafiliasi tinggi, ekstrofert atau mempunyai sifat hangat dalam berhubungan interpersonal mempunyai ruang personal yang lebih kecil daripada individu yang introvert (Gifford, dalamprabowo 1998). e. Teritorialitas Pembentukan kawasan territorial adalah mekanisme perilaku lain untuk mencapai privasi tertentu. Kalau mekanisme ruang personal tidak memperlihatkan dengan jelas kawasan yang menjadi pembatas antara dirinya dengan orang lain maka pada teritorialitas batas-batas tersebut nyata dengan tempat yang relative tetap. 4. Factor yang Mempengaruhi Privacy 1) Faktor personal Marshall mengatakan bahwa perbedaan dalam latar belakang pribadi akan berhubungan dengan kebutuhan akan privasi. Dalam penelitiannya bahwa anak-anak yang tumbuh dalam suasana rumah yang sesak akan lebih

memilih keadaan yang anonym (tanpa identitas) dan reserve (kesendirian) saat ia dewasa. Sedangkan orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya di kota akan lebih memilih keadaan anonym (tanpa identitas) dan intimacy (keintiman). Sedangkan Walden dkk menemukan adanya perbedaan jenis kelamin dalam privasi. 2) Faktor Situasional Kepuasan terhadap kebutuhan akan privasi sangat berhubungan dengan seberapa besar lingkungan mengijinkan orang-orang di dalamnya untuk menyendiri. Penelitian Marshall tentang privasi dalam rumah tinggal, menemukan bahwa tinggi rendahnya privasi di dalam rumah antara lain disebabkan oleh seting rumah. 3) Faktor Budaya Setiap budaya tidak ditemukan adanya perbedaan dalam banyaknya privasi yang diinginkan, tetapi sangat berbeda dalam cara bagaimana mereka mendapatkan privasi. Tidak ada keraguan bahwa perbedaan masyarakat menunjukan variasi yang besar dalam jumlah privasi yang dimiliki anggotanya. 5. Pengaruh Privasi Terhadap Perilaku Terdapat beberapa pakar atau ahli yang mengemukakan pendapatnya seperti : a. Altman (21975) : Fungsi psikologis dari perilaku yang penting adalah mengatur interaksi antara seseorang atau kelompok dengan lingkungan sosial. Bila seseorang dapat mendapatkan privasi seperti yang diinginkannya maka ia akan dapat mengatur kapan harus berhubungan dengan orang lain dan kapan harus sendiri. b. Maxine Wolfe dkk : Pengelolaan hubungan interpersonal adalah pusat dari pengalaman tentang privasi dalam kehidupan sehari-hari. c. Westin (dalam Holahan, 1982) : Ketertutupan terhadap informasi personal yang selektif, memenuhi kebutuhan individu untuk membagi kepercayaan dengan orang lain. d. Schwatrz (dalam Holahan, 1982) : Kemampuan untuk menarik diri ke dalam privasi dapat membantu membuat hidup lebih mengenakkan saat harus berurusan dengan orang yang sulit. e. Westin (dalam Holahan, 1982) dengan privasi kita juga dapat melakukan evaluasi diri dan membantu kita mengembangkan dan mengelola perasaan otonomi diri. Otonomi ini meliputi perasaan bebas, kesadaran memilih dan kemerdekaan dari pengaruh orang lain. Dari beberapa pendapat di atas, dapat diambil suatu rangkuman bahwa fungsi psikologis dari privasi dapat dibagi menjadi dua yaitu,

a. Pertama privasi memainkan peran dalam mengelola interaksi sosial yang kompleks di dalam kelompok sosial. b. Kedua, privasi membantu kita memantapkan perasaan identitas pribadi. E. Kesimpulan Privasi dan teritorial keduanya saling berhubungan erat, suatu daerah teritorial merupakan suatu kawasan yang di dalamnya merupakan kawasan yang sifatnya privasi dan tidak boleh mendapatkan campur tangan dari pihak luar. Manusia memiliki kecenderungan untuk melindungi privasinya dari siapa pun biasanya dengan cara memberikan batasan-batasan pada sekitarnya yang menciptakan suatu teritorial tersendiri bagi manusia tersebut. F. Sumber http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/peng_psikologi_lingkungan/bab6- privasi.pdf http://winnerfirmansyah.wordpress.com/category/perilaku-arsitektur/ http://books.google.co.id/books? id=ltvj89g2ap4c&pg=pa160&lpg=pa160&dq=contoh+privasi+dalam+arsite ktur&source=bl&ots=_wwur_bjst&sig=2cmpq1eekozavvn6bq1yg6o7qi E&hl=en&sa=X&ei=K5onVPOQNpLbuQSc0oCwBA&ved=0CGYQ6AEwCQ #v=onepage&q=contoh%20privasi%20dalam%20arsitektur&f=false http://a62747.wordpress.com/2011/04/22/pengertian-privasi-teritorialitas-danruang-personal-serta-hubungannya-dengan-lingkungan-prilaku-dan-kepribadian/ https://4yu8.wordpress.com/category/artikel-ayub/psikologi-lingkungan/ruangpersonal-personal-space-privasi-privacy-teritorialitas-territoriality/ http://jurusankomunikasi.blogspot.com/2009/04/proses-sosial-dan-interaksisosial.html