Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

dokumen-dokumen yang mirip
Jl. Tamansari No.1 Bandung

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan pemasaran. Pada kegiatan usaha pertambangan, terdapat suatu kegiatan

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

BAB I PENDAHULUAN. besar berwarna gelap vesicular batuan vulkanik yang bisanya porfiritik (berisi

DAFTAR ISI. RINGKASAN... v ABSTRACT... vi KATA PENGANTAR... vii DAFTAR ISI... viii DAFTAR TABEL... x DAFTAR GAMBAR... xiii DAFTAR LAMPIRAN...

EVALUASI KINERJA ALAT CRUSHING PLANT DAN ALAT MUAT DALAM RANGKA PENINGKATAN TARGET PRODUKSI BATUBARA PADA PT MANDIRI CITRA BERSAMA

BAB V PEMBAHASAN. perkecil ukurannya sebesar ton per bulan. Sedangkan kemampuan

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

Prosiding TeknikPertambangan ISSN:

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

BAB II TINJAUAN UMUM

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

PENINGKATAN PRODUKSI PABRIK PEREMUK BATU ANDESIT PT. PERWITA KARYA DI DESA BEBER KECAMATAN SUMBER CIREBON JAWA BARAT SKRIPSI

EVALUASI CRUSHING PLANT DAN ALAT SUPPORT UNTUK PENGOPTIMALAN HASIL PRODUKSI DI PT BINUANG MITRA BERSAMA DESA PUALAM SARI, KECAMATAN BINUANG

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

EVALUASI KINERJAUNIT CRUSHING PLANT

BAB I PENDAHULUAN Maksud dantujuan Adapun maksud dan tujuan dari kegiatan pembuatan perencanaan peremuk andesit adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN. bahan galian tersebut dari mineral pengotor yang melekat bersamanya.

Analisis Kinerja Alat Crushing Plant dan Hubungannya dengan Produksi

Evaluasi Kinerja Crushing Plant untuk Meningkatkan Produksi Batu Andesit di PT Tarabatuh Manunggal Tbk. Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

BAB I PENDAHULUAN. Maka pada tingkat awal pengolahan batugamping terutama dalam peremukan harus

BAB III DASAR TEORI. sudah pasti melakukan proses reduksi ukuran butir (Comminution) sebagai bagian

BAB III LANDASAN TEORI

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

UPAYA PENINGKATAN TARGET PRODUKSI BATU KAPUR TON/HARI PADA PENGOLAHAN DAN PENGANGKUTAN AREA DEPAN DI PT.SEMEN PADANG SUMATERA BARAT (PERSERO)

BAB II. HAMMER MILL. 2.1 Landasan Teori

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

BAB II TAHAPAN UMUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN

Penentuan Energi Ball Mill dengan Menggunakan Metode Indeks Kerja Bond. Jl. Tamansari No. 1 Bandung

STUDI TEKNIS PENGEBORAN 3 STEEL DAN 4 STEEL UNTUK PENYEDIAAN LUBANG LEDAK DI PT SEMEN TONASA KABUPATEN PANGKEP PROVINSI SULAWESI SELATAN

PRODUKTIVITAS KINERJA MESIN BOR DALAM PEMBUATAN LUBANG LEDAK DI QUARRY BATUGAMPING B6 KABUPATEN PANGKEP PROPINSI SULAWESI SELATAN

BAB III LANDASAN TEORI

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

STUDI TARGET PEMBONGKARAN OVERBURDEN BERDASARKAN KAJIAN PEMBORAN UNTUK LUBANG LEDAK DI PT BUKIT MAKMUR MANDIRI UTAMA JOBSITE

EVALUASI CRUSHING PLANT UNTUK PENINGKATAN TARGET PRODUKSI PADA PT INDONESIAN MINERALS AND COAL MINING KECAMATAN KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Prabumulih Km.32 Inderalaya Kabupaten Ogan Ilir-Sumatera Selatan, 30662, Indonesia Telp/fax. (0711) ;

EVALUASI KINERJA EXCAVATOR BACKHOE

ANALISIS HUBUNGAN ANTARA NILAI KESEDIAAN ALAT DAN UKURAN FRAGMENTASI HASIL PELEDAKAN DENGAN BESARNYA PENGGUNAAN DAYA LISTRIK PADA HAMMER CRUSHER

BAB III LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tahap tahap pekerjaan pemecahan pada crusher dapat dilihat pada diagram alir sebagai berikut :

PROSES PENAMBANGAN BATUBARA

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

Kajian Biaya Produksi Pemindahan Material Batugamping dari Room of Material ke Crusher di PT Lafarge Cement Indonesia, Lhoknga, Aceh Besar

STONE PRODUCTION LINE

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

Metode Tambang Batubara

PERANCANGAN BALL MILL KAPASITAS 200 mg

BAB II TINJAUAN UMUM

Studi Kualitas Batubara Secara Umum

KAJIAN TEKNIS BELT CONVEYOR DAN BULLDOZER DALAM UPAYA MEMENUHI TARGET PRODUKSI BARGING PADA PT ARUTMIN INDONESIA SITE ASAM-ASAM

BAB II TINJAUAN UMUM

KAJIAN TEKNIS PRODUKTIVITAS ALAT GALI MUAT LIEBHERR 9400 DALAM KEGIATAN PEMINDAHAN OVERBURDEN DI PT RAHMAN ABDIJAYA JOB SITE PT ADARO INDONESIA

Serba-serbi Lengkap Mesin Pemecah atau Penghancur Batu/Stone Crusher Machine

Analisis OEE (Overall Equipment Effectiveness) pada Mesin Discmill di PT Tom Cococha Indonesia

Berikut ini sedikit informasi beberapa macam jenis mesin stone crusher dan fungsi/ kegunaannya :

BAB I PENDAHULUAN. Melalui kegiatan Pertambangan, sumber daya mineral ini dapat diambil dan

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES PERLAKUAN MEKANIK GRINDING & SIZING

PERINGATAN!!! Bismillaahirrahmaanirraahiim Assalamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

ANALISA PERHITUNGAN BIAYA PENGUPASAN OVERBURDEN PADA ALAT BULLDOZER DI PT. ALAM RAYA ABADI KABUPATEN HALMAHERA TIMUR

Analisis Persentase Fraksi Massa Lolos Ayakan Batu Granit Hasil Peremukan Jaw Crusher dan Double Roll Crusher

KAJIAN TEKNIS PENGOLAHAN ASPAL ALAM PADA LINE A DI PT. BUTON ASPAL NASIONAL KABUPATEN KONAWE SULAWESI TENGGARA MOCHAMMAD ZANNO

Analisis Overall Equipment Effectiveness dalam Meminimalisasi Six Big Losses pada Area Kiln di PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk.

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

Yogyakarta, Agustus 2013 Penulis, AJI DZULIANDA DAFTAR ISI. vii

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

TUGAS AKHIR ANALISIS PENGUKURAN PRODUKTIVITAS MESIN CNC DI PT. RAJA PRESISI SUKSES MAKMUR DENGAN METODE OVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENESS (OEE)

Muhammad Oktakusgara 1, Abuamat HAK 2, Maulana Yusuf 3

BAB IV METODE PENELITIAN

Perencanaan Penambangan dan Pengolahan Batu Andesit CV Jaya Baya Batu Persada Malingping Utara, Kecamatan Malingping Kabupaten Lebak, Provinsi Banten

PELATIHAN OPERATOR MESIN PEMECAH BATU NOMOR MODUL CPO - 04 JUDUL MODUL LAPORAN OPERASI DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM UMUM OHT 1

BAB V DASAR-DASAR PENGOLAHAN BAHAN GALIAN

BAB I PENDAHULUAN. PT Antam (Persero) Tbk. UBPE (Unit Bisnis Pertambangan Emas) Pongkor

Perencanaan Produksi dan Pentahapan Pengupasan Lapisan Penutup pada Bulan Maret - Desember 2015 di PT Cipta Kridatama Site Cakra Bumi Pertiwi

BAB III TEORI DASAR 3.1 Pengertian Coal Processing Plant 3.2 Run Of Mine (ROM ) Stockpile

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

PERALATAN INDUSTRI KIMIA

PENGOLAHAN BAHAN GALIAN

PENANGANAN BAHAN PADAT S1 TEKNIK KIMIA Sperisa Distantina

PROSEDUR DAN PERCOBAAN

BAB III METODOLOGI 3.1 Umum 3.2 Tahapan Penelitian

HASBER F. H. SITANGGANG

ANALISIS BIAYA PRODUKSI PENAMBANGAN BATU KAPUR PADA BULAN APRIL 2017 DI BUKIT KARANG PUTIH PT. SEMEN PADANG ELSA RAHMA AFRILA

KAJIAN TEKNIS ALAT GALI MUAT DAN ALAT ANGKUT DALAM UPAYA MEMENUHI SASARAN PRODUKSI PENGUPASAN LAPISAN TANAH PENUTUP PADA PENAMBANGAN BATUBARA DI PT

2 Dosen Jurusan Teknik Pertambangan, Sekolah Tinggi Teknologi Nasional.

ANALISIS HASIL PENGUJIAN PERFORMANCE MESIN PENCACAH RUMPUT LAUT SKALA UKM

PT. PP LONDON SUMATERA INDONESIA Tbk BAGERPANG POM SKRIPSI. Skripsi Yang Diajukan Untuk Melengkapi. Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

PT MULTI TEKNIK MANUNGGAL

Transkripsi:

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN: 2460-6499 Evaluasi Kinerja Crushing Plan Batuan Andesit dalam Upaya Meningkatkan Kapasitas Produksi di PT. Ansar Terang Crushindo Performance Analysis of Crushing Plant Andesite Stones in Attempt to Maximize Production Capacity in PT. Ansar Terang Crushindo 1 Danny P. Mahendri, 2 Linda Pulungan, 3 Dono Guntoro 1,2,3 Prodi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Islam Bandung, Jl. Tamansari No.1 Bandung 40116 email: 1 D.mahendri@yahoo.com, 2 Linda.lindahas@gmail.com, 3 guntoro_mining@yahoo.com Abstract. Crushing plant is one of the processing unit that consist of many tools which continue cycle and it aims to reduce small materials, that process is the beginning step and most important things of comminution process. Peformence Analysis of Crushing Plant with heavy equipment productivity which some actual fact are aims to know between work peformence of heavy equipment with production target. Productivity of crushing plant can be worse when some troble in crushing plant are happen at a time, the biggest impact of that trouble is The production does not according with target planned. For example, company set target production at 200 ton/hour but the actual fact just 174,346 ton/hour. The result calculation at Primary Crusher shift 1: Mechanical Avability (MA) = 98,61%, Phyisical Avability (PA) = 98,91%, Use of Avability (UA) = 77,95%, Effective of Utilization (EU) = 77,11%. Primary crusher shift 2 Mechanical Avability (MA) = 98,43%, Phyisical Avability (PA) = 98,63%, Use of Avability (UA) = 86,93%, Effective of Utilization (EU) = 85,74%. and Production rate index (PRI) = 88,91%. The result calculation at Secondary I Crusher shift1: Mechanical Avability (MA) = 98,65%, Phyisical Avability (PA) = 98,8%, Use of Avability (UA) = 98,55%, Effective of Utilization (EU) = 96,27%. Secondary I shift 2 Mechanical Avability (MA) = 98,91%, Phyisical Avability (PA) = 99,03%, Use of Avability (UA) = 88,24%, Effective of Utilization (EU) = 87,39% and Production rate index (PRI) = 61,56%. The result Calculation at secondary II Crusher shift 1: Mechanical Avability (MA) = 98,53%, Phyisical Avability (PA) = 98,71%, Use of Avability (UA) = 87,8%, Effective of Utilization (EU) = 86,67%, secondary II shift 2 Mechanical Avability (MA) = 98,68%, Phyisical Avability (PA) = 98,62%, Use of Avability (UA) = 85,91%, Effective of Utilization (EU) = 85,72% and Production rate index (PRI) = 76,11%. Keywords: Crushing Plan, Production, Productivity, Productin Rate Index Abstrak. Pabrik peremuk (Crushing Plant) adalah suatu unit pengolahan yang terdiri dari berbagai macam alat dimana terdapat beberapa rangkaian kegiatan yang bersifat kontinu dan bertujuan untuk mereduksi ukuran material. Proses penghancuran tersebut merupakan tahapan awal dan paling penting dalam proses kominusi. Analisis kinerja crushing plant terhadap produktivitas alat berdasarkan paramater paramater yang didapat di lapangan bertujuan untuk mengetahui pencapaian kinerja alat terhadap target yang ditentukan oleh perusahaan untuk nantinya akan dilakukan perbaikan-perbaikan sehingga target yang ditetapkan oleh perusahaan bisa dicapai. Beberapa masalah yang terjadi di crushing plant saat proses pengolahan berlangsung berdampak langsung terhadap produksi crushing plant tersebut, dampak yang sangat fatal yaitu target produksi yang tidak tercapai dimana produksi crushing plant saat ini sebesar 174,346 ton/jam sedangkan target produksi yang telah ditetapkan oleh perusahaan adalah 200 ton/jam. Pada tahap primary crusher shift 1 diperoleh hasil Mechanical Avability (MA) = 98,61%, Phyisical Avability (PA) = 98,91%, Use of Avability (UA) = 77,95%, Effective of Utilization (EU) = 77,11%. Primary crusher shift 2 Mechanical Avability (MA) = 98,43%, Phyisical Avability (PA) = 98,63%, Use of Avability (UA) = 86,93%, Effective of Utilization (EU) = 85,74%. dan Production rate index (PRI) = 88,91%. Pada tahap secondary I crusher shift 1 dihasilkan Mechanical Avability (MA) = 98,65%, Phyisical Avability (PA) = 98,8%, Use of Avability (UA) = 98,55%, Effective of Utilization (EU) = 96,27%. Secondary I crusher shift 2 Mechanical Avability (MA) = 98,91%, Phyisical Avability (PA) = 99,03%, Use of Avability (UA) = 88,24%, Effective of Utilization (EU) = 87,39% dan Production rate index (PRI) = 61,56%. Selanjutnya pada tahap secondary II crusher shift 1 diperoleh hasil Mechanical Avability (MA) = 98,53%, Phyisical Avability (PA) = 98,71%, Use of Avability (UA) = 87,8%, Effective of Utilization (EU) = 86,67%, secondary II shift 2 Mechanical Avability (MA) = 98,68%, Phyisical Avability (PA) = 98,62%, Use of Avability (UA) = 85,91%, Effective of Utilization (EU) = 85,72% dan Production rate index (PRI) = 76,11%. Kata Kunci: Crushing Plant, Produksi, Produktivitas, Production rate index 224

Evaluasi Kinerja Crushing Plan Batuan Andesit dalam Upaya... 225 A. Pendahuluan Kegiatan usaha pertambangan merupakan suatu rangkaian kegiatan usaha yang memiliki alur yang panjang, mulai dari kegiatan survei tinjau sampai dengan kegiatan pemasaran. Pada kegiatan usaha pertambangan, terdapat suatu kegiatan yang disebut dengan kegiatan penambangan. Kegiatan penambangan akan selalu beriringan dengan kegiatan pengolahan bahan galian yang dimana pada kegiatan pengolahan bahan galian ini akan dihasilkan produk akhir dari suatu kegiatan penambangan. Berdasarkan penelitian di lapangan, proses pengolahan batu andesit di PT. Ansar Terang Crushindo dilakukan di crushing plant. Produk dari pengolahan yang dilakukan menghasilkan sirtu, split A, split B, split undersize dan abu batu. Unit crushing plant yang digunakan terdiri dari hopper, feeder, jaw crusher I, jaw crusher II, cone crusher, screen I, screen II dan belt conveyor. Pada saat ini produksi batu split A, split B, split undersize dan abu batu menghasilkan sebanyak 174,35 ton/jam sedangkan target produksi yang diharapkan sebanyak 200 ton/jam, maka dari itu produksi yang diharapkan tidak tercapai. Permasalahan yang dialami PT. Ansar Terang Crushindo adalah produktivitas alat dan waktu hambatan crusher. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Target produksi yang ditetapkan perusahaan yang belum tercapai. 2. Sejauh mana kinerja alat pengolahan (jaw crusher dan cone crusher) pada crushing plant? 3. Apakah parameter parameter pada crushing plant yang berpengaruh terhadap nilai production rate index? B. Landasan Teori Pengolahan bahan galian, merupakan suatu proses pemisahan mineral berharga dari pengotornya yang tidak berharga dengan memanfaatkan perbedaan sifat fisik dari mineral mineral tersebut, tanpa mengubah identitas kimiawi dan fisiknya. Comminution Comminution adalah langkah pertama yang bisa dilakukan dalam operasi pengolahan bahan galian yang bertujuan untuk memecahkan bongkah-bongkah besar menjadi fragmen yang lebih kecil. Dilihat dari fragmen-fragmen yang dihasilkan maka kominusi dapat dibagi dalam dua tingkat: a. Crushing, kegiatan peremukan batuan dengan memanfaatkan efek tumbukan. b. Grinding, kegiatan peremukan batuan dengan memanfaatkan efek dari penggerusan. Proses peremukan atau pengecilan ukuran butir batuan harus dilakukan secara bertahap karena keterbatasan kemampuan alat untuk mereduksi batuan berukuran besar hasil peledakan sampai menjadi butiran-butiran kecil seperti yang dikehendaki. Gambaran Umum Pabrik Peremuk (Crushing Plant) Pabrik peremuk (Crushing Plant) adalah suatu areal pengolahan di mana terdapat beberapa rangkaian kegiatan yang bersifat kontinu dan bertujuan untuk mereduksi ukuran material. Proses pengolahan material di lapangan berlangsung dalam beberapa tahapan yaitu yaitu: 1. Primary Crushing Merupakan peremukan tahap pertama, alat peremuk yang biasanya digunakan Teknik Pertambangan, Gelombang 1, Tahun Akademik 2016-2017

226 Danny P. Mahendri, et al. pada tahap ini adalah jaw crusher dan gyratory crusher. Umpan yang digunakan biasanya berasal dari hasil peledakan dengan ukuran yang bisa diterima > 80 cm, dengan ukuran produk yang dihasilkan adalah 0-15 cm. 2. Secondary I Crushing Merupakan peremukan tahap kedua, alat peremuk yang digunakan adalah Cone Crusher. Umpan yang digunakan berkisar 5-15 cm. Ukuran produk yang dihasilkan adalah 0-6 cm. 3. Tertiary II Crushing Merupakan peremukan tahap lanjut dari secondary crushing, alat yang digunakan adalah cone crusher. Umpan yang digunakan berkisar 3-6 cm. Ukuran produk yang dihasilkan adalah 0-35 mm. 4. Sizing Sizing atau penyeragaman ukuran ialah proses untuk memisahkan material berdasarkan ukuran yang telah ditentukan. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melakukan sizing, misalnya screening, classfiying dan hydrocylone. C. Hasil Penelitian dan Pembahasan Berikut adalah penelitian mengenai analisis kinerja pabrik peremuk (crushing plant) batuan andesit dalam upaya memaksimalkan kapasitas produksi di PT. Lotus SG Lestari kampung pabuaran, desa cipinang, kecamatan rumpin, kabupaten bogor, provinsi jawa barat. Proses pengolahan pada crushing plant terdiri dari tiga tahapan pengolahan yaitu: Primary Crushing (Peremukan Tahap Awal) Proses pengumpanan merupakan proses memberikan material/umpan (feed) kepada jaw crusher secara kontinu dan teratur. Pada proses pengumpanan ini menggunakan feeder dengan type PE (600 x 900) dengan Feed Material. Maximum 500 mm dan dengan Capasity 154 ~ 278 ton/jam. Jaw crusher yang digunakan berjenis singel toggle ini adalah swing jaw-nya (bagian yang bergerak) dari as yang berputar. Proses pengolahan tahap awal menggunakan pengaturan nilai CSS (close set setting) 70 mm sehingga menghasilkan produk berupa batu belah sesuai ukuran CSS tersebut yaitu berukuran ±70 mm yang kemudian hasil pengolahan tahap awal tersebut dibawa oleh belt conveyor 1 ke screnn I, sebelum umpan masuk ke jaw crusher umpan tersebut dipisahkan terlebih dahulu antara batuan yang akan masuk ke jaw crusher dengan pengotor (sirtu) yang merupakan campuran batuan berukuran < 20 mm dan tanah proses pemisahan tersebut dipisahkan oleh pegson telsmith dengan nama pabrikan Adplus Grizzly Feeder. Screen I Pada screen I menggunakan alat vibrating screen PEGSON TELSMITH (1800 x 4800) mm terdiri dari dua tingkat (double deck), dengan ukuran lubang bukaan pada top deck 70 mm dan bottom deck 50 mm. Untuk batuan berukuran +70 mm akan masuk ke Jaw crusher. Produk yang dihasilkan sizing tahap pertama dapat diketahui melalui perhitungan beltcut pada belt conveyor yang membawa material dari proses sizing tersebut, belt conveyor pembawa material tersebut tersebut dibagi menjadi 3 line belt conveyor yaitu belt conveyor B3 (jaw crusher II), belt conveyor 05 (cone crusher) dan belt conveyor B2 (screen II). Secondary I Crushing (Peremukan Tahap Kedua) Pada jaw crusher II menggunakan type PE (600 x 900) degan produktivitas Volume 3, No.1, Tahun 2017

Evaluasi Kinerja Crushing Plan Batuan Andesit dalam Upaya... 227 pabrikan 88 130 ton/jam dan menggunakan nialai css 30 mm, dimana batuan yang masuk dalam proses ini merupakan batuan yang melalui proses screen I dengan ukuran + 70 mm menggunakan conveyor B3 sebesar 81,06. Setelah batuan telah melewati jaw crusher II batuan diangkut menggunakan conveyor B4 menuju screen II. Secondary II Crushing (Peremukan Tahap Akhir) Pada cone crusher menggunakan type cone crusher PYB 1200 dengan produktivitas pabrikan 170 210 ton/jam dengan css 30 mm. Proses ini merupakan lanjutan dari proses screen I dan screen II dimana batuan yang masuk pada proses ini menggunakan conveyor B5 dan B7 sebesar 159,85 mm, setelah melalui proses secondary II batuan diangkut menggunakan conveyor B6 menuju conveyor B2. Screen II Pada screen II menggunakan alat vibrating screen PEGSON TELSMITH (1800 x 4800) empat tingkat modifikasi dengan ukuran lubang bukaan 30 mm, 20 mm, 10 mm dan 5 mm. Batuan yang berukuran +30 mm akan masuk kembali ke dalam Cone Crusher PYB 1200 untuk dilakukan peremukan lagi dan 30 mm akan menjadi produk. Meterial yang masuk pada sizing tahap dua ini berasal dari B4, B2 dan B6 sebesar 245,11 ton/jam. Availability Terdapat 4 parameter dalam sub bab ini, berikut contoh perhitungan dari Availability alat pada crushing plant. Mechanical Availability Mechanical Availability digunakan untuk mengetahui ketersediaan alat dengan memperhitungkan waktu yang hilang karena kerusakan di bagian mekanikal seperti kerusakan mesin atau bisa juga perawatan unit atau alat. Phyisical Availability Phyisical Availability merupakan penghitungan catatan mengenai keadaan fisik dari alat yang sedang dipergunakan. Kesedian fisik pada umumnya selalu lebih besar dari pada kesedian mekanis. Use of Availability Use of Availability merupakan penghitungan waktu alat berat tersebut digunakan untuk beroperasi, pada saat unit tersebut bisa dipergunakan Effective of utilization Effective of utilization merupakan perhitungan untuk mengetahui ketersediaan alat dari keseluruhan jam kerja alat setelah dibagi dengan penjumlahan jam kerja, jam rusak, dan jam standby alat. Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan maka dapat diketahui nilai Availability masing-masing alat. Berikut tabel dari nilai Availability alat primary crushing, Secondary I crushing dan Secondary II crushing: Tabel 1. Avabiliity Crushing Plant Keterangan Shift MA (%) PA (%) UA (%) EU (%) 1 98,61 98,91 77,95 77,11 Primary crusher 2 98,43 98,63 86,93 85,74 Secondary I crusher Secondary II crusher 1 98,65 98,8 98,65 96,27 2 98,91 99,03 88,24 87,39 1 98,53 98,71 87,8 86,67 2 98,68 98,62 85,91 85,72 Teknik Pertambangan, Gelombang 1, Tahun Akademik 2016-2017

228 Danny P. Mahendri, et al. Berikut adalah tabel yang menyatakan produktivitas, efisiensi kerja dan PRI aktual dan target yang direncanakan oleh perusahaan: Volume 3, No.1, Tahun 2017 Tabel 2. Kinerja Crushing Plant A Dan Target Perusahaan Keterangan Target Aktual Primary Secondary Tertiary Produktivitas (ton/jam) 230 174,34 Efisiensi Kerja (%) 90 84,08 78,97 91,69 PRI (%) 80 88,91 61,56 76,11 Sumber: Pengolahan Data Lapangan Kinerja alat pada crushing plant sebagian besar belum memenuhi target perusahaan, terutama target produksi yang belum tercapai, hal ini perlu mendapatkan perhatian khusus dari perusahaan dengan mengkaji ulang hal-hal yang berhubungan langsung dengan target produksi tersebut sehingga diharapkan untuk kedepan target produksi tersebut bisa dicapai Pada hasil perhitungan target perusahaan terhadap hasil dilapangan didapatkan penyebab utama tidak tercapainya target produksi adalah banyaknya hambatan yang terjadi saat proses produksi berlangsung sehingga menyebabkan efisiensi kerja yang rendah dan berdampak langsung terhadap produksi crushing plant, hal ini perlu mendapatkan perhatian khusus dari perusahaan dikarenakan hal ini merupakan tujuan utama dari crushing plant tersebut sehingga diharapkan hambatan-hambatan yang ada bisa diminimalisir dan target produksi yang telah ditetapkan bisa tercapai atau setidaknya mendekati. Crushing plant sendiri merupakan serangkaian alat yang bekerja berkesinambungan yang dimana jika satu alat mengalami masalah maka rangkaian kegiatan selanjutnya pun akan terganggu sehingga hal ini akan mempengaruhi nilai Production rate index (PRI). Production rate index merupakan nilai yang menunjukkan persentase penggunaan suatu alat dari kemampuan maksimalnya. D. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dalam penelitian ini, peneliti menyimpulkan beberapa hasil penelitian sebagai berikut: 1. Kinerja crushing plant secara keseluruhan belum dapat memenuhi target yang diharapkan oleh pihak perusahaan, sedangkan target produksi yang direncanakan juga belum tercapai dimana perusahaan menetapkan target produksi 200 ton/jam dan produksi aktual saat ini sebesar 174,35 ton/jam, sehingga diperlukan perbaikan dan diharapkan target yang telah ditetapkan bisa tercapai. 2. Produktivitas tiap unit peremuk pada crushing plant A bisa dikatakan cukup baik, pada proses primary crushing produktivitasnya sebesar 246,586 ton/jam, pada proses secondary I crushing sebesar 80,031 ton/jam dan pada proses secondary II crushing sebesar 159,85 ton/jam, nilai kesiapan alat dapat dilihat dari perolehan production rate index yang didapat. 3. Kinerja dari crushing plant dilihat secara aktual ditemukan hubungan yang berbanding lurus dimana semakin besar produktivitas aktual alat terhadap produktivitas teoritis alat maka nilai production rate index pun akan semakin besar diamana didapatkan nilai production rate index pada primary crushing sebesar 88,91 %, pada proses secondary I crushing sebesar 61,56 %, dan pada

Evaluasi Kinerja Crushing Plan Batuan Andesit dalam Upaya... 229 Saran proses secondary II crushing sebesar 76,11 %. Untuk pendekatan secara empiris, pihak manajemen sebaiknya mempertibangkan tindakan seperti beberapa poin di bawah ini : 1. Perlu diperhatikan proses pemuatan material sehingga ukuran material yang masuk ke hooper tidak mengganggu kerja dari jaw crusher. 2. Perlu mengupayakan pengurangan waktu waktu hambatan yang terjadi saat proses produksi berlangsung dan meningkatkan disiplin kerja sehingga diharapkan waktu efektif untuk bekerja bisa dimaksimalkan karena hal ini berdampak sangat besar pada target produksi yang telah ditetapkan oleh perusahaan. 3. Diperlukan memaksimalkan kapasitas hopper yang ada sebagai tempat penampungan material sementara sehingga apabila terjadi hujan crushing plant tetap bisa melakukan produksi. 4. Diperlukan peningkatan efisiensi kerja pada proses primary crushing, hal ini diperlukan karena produktivitas jaw crusher yang tidak terlalu besar, sehingga diharapkan apabila proses primary crushing tidak banyak mengalami banyak hambatan maka proses pengolahan selanjutnya bisa berjalan dengan lancar. 5. Diperlukan pemantauan dan kajian mengenai kecepatan belt conveyor dalam upaya meningkatkan efektivitas crushing plant. Perlu pula dilakukan penambangan yang lebih selektif sehingga pengotor yang menyebabkan penurunan kualitas produkta yang terbawa ke crushing plant dapat dikurangi. Daftar Pustaka CEMA, 2007, Belt Conveyor For Bulk Material, Conveyor Equipment Manufacture Association., United State Of America. Currie, John M, 1973, Unit Operasi in Mineral Processing, CSM Press, Columbia. Gustav, Tarjan, 1981, Mineral Processing Technology, Akademia Kiado, Budapest. Toha, Juanda, 2002, Konveyor sabuk dan peralatan pendukung, PT JUNTO Engineering, Bandung, Indonesia. Prodjosumarto, Partanto, 1993, Pemindahan Tanah Mekanis, Jurusan Teknik Pertambangan, Institut Teknologi Bandung. Prodjosumarto, Partanto dan Zaenal., 2006, Tambang Terbuka, Jurusan Teknik Pertambangan, Universitas Islam Bandung. Tobing, 2005, Prinsip Dasar Pengolahan Bahan Galian (Mineral Dressing). Trimax Machinery Team, The Birth Of New Dawn (Product Catalog),Bekasi, Indonesia. Teknik Pertambangan, Gelombang 1, Tahun Akademik 2016-2017