dokumen-dokumen yang mirip


BAB IV. KONSEP PERANCANGAN

BAB III SURVEY LAPANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB II METODE PERANCANGAN

Keindahan Desain Kalung Padu Padan Busana. Yulia Ardiani (Staff Teknologi Komunikasi dan Informasi Institut Seni Indonesia Denpasar) Abstrak

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV. KONSEP RANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB II. METODE PERANCANGAN

BAB II METODE PERANCANGAN

III. METODE PENCIPTAAN TOPENG SEBAGAI TEMA DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI RUPA. A. Implementasi Teoritis

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN

@UKDW BAB 1 PENDAHULUAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN. kayu olahan berupa tripleks. Dengan menggunakan bahan baku yang sudah mengalami

BAB I PENDAHULUAN. anyaman rata, anyaman soumak, anyaman giordes, dan anyaman ikal. Anyaman

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG KUMIHIMO

BAB lv KONSEP PERANCANGAN


BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB II METODE PERANCANGAN

BAB III PERANCANGAN SISTEM ATAP LOUVRE OTOMATIS

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN

WADAH HANTARAN. Abstrak

Penerapan Ragam Hias pada Bahan Tekstil

BAB IV KAJIAN MOTIF BUNGA MAWAR PADA KELOM GEULIS SHENY TASIKMLAYA


BAB IV KONSEP PERANCANGAN

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... i. ABSTRAK... v. DAFTAR ISI... vi. DAFTAR TABEL... xiii. DAFTAR GAMBAR... xiv. A. Latar Belakang Masalah...

BAB IV KONSEP PERANCANGAN. 1. Denim/Jeans mempunyai ketebalan bahan yang kuat. 2. Bahan Denim/Jeans mampu menahan beban barang yang cukup kuat.

III. Kerajinan dari Daur Ulang A. Produk Kerajinan dari Kertas Daur Ulang Banyak hal yang dapat diciptakan dari kertas seni (handmade paper).

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB II METODE PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB III DATA ANALISA PERANCANGAN

BAB II METODE PERANCANGAN

SPESIFIKASI TEKNIS TENDA SERBAGUNA TYPE-1 Nomor : Kain filament polyester 100% double side coated.

BAB IV KONSEP DAN PENERAPAN PADA PRODUK TEKSTIL

BAB IV KONSEP PERANCANGAN


BAB IV KOSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

III. METODE PENCIPTAAN

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAERAH KEPULAUAN BANGKA BELITUNG BIRO SARANA DAN PRASARANA. Pengadaan Tutup Kepala TA. 2015


BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II METODE PERANCANGAN

4. Sampul (Cover) Cerita Bergambar PASOSORÉ

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

BAB III METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritik

Gambar: 5. 5a. Pasar Bali


DAFTAR PUSTAKA. Literatur

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada Mei hingga Juli 2012, dan Maret 2013 di

BAB IV KONSEP. 2. Tataran System a. Bagian Bagian Casing PC.

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN A. Bambu i. Bambu untuk produk Bambu Apus

ADENDUM / AMANDEMEN KESATU ATAS DOKUMEN PENGADAAN SEPATU DINAS PEGAWAI

Cara Membuat Kepiting dari Daun Kelapa (Janur) Mainan Tradisional Kepiting dari Janur (Daun Kelapa Muda)

Desain Kerajinan. Unsur unsur Desain. Titik 9/25/2014

BAB III DATA DAN ANALISIS PERANCANGAN A. KELOMPOK DATA BERKAITAN DENGAN ASPEK FUNGSI PRODUK

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB IV KONSEP PERANCANGAN


Pengembangan Jenis Tenun Polos dan Tenun Kepar ABSTRAK


BAB I PENDAHULUAN. Indonesia termasuk negara agraris yang berpotensi menghasilkan Sumber

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

BAB 1. PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha. Gambar 1.1

DINDING DINDING BATU BUATAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN


SOAL PENILAIAN AKHIR SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2017/2018. Mata Pelajaran : Prakarya dan KWU Kompetensi Keahlian : AP/TB/MM/KK/UPW

A. PENDAHULUAN B. Pengetahuan dan Teknik Corective Make Up 1. Pengertian rias wajah korektif

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

Pengadaan Tutup Kepala Biro Sarpras Polda Kep. Babel TA. 2015

BAB II METODE PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN

Tali Satin RANGKAIAN BUNGA OLGA JUSUF. dari

IV. KONSEP PERANCANGAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ANGKA UKUR. Angka ukur diletakan di tengah-tengah garis ukur. Angka ukur tidak boleh dipisahkan oleh garis gambar. Jadi boleh ditempatkan dipinggir.

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB III PROSES PEMBENTUKAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN

Kriya Hiasan Dinding Gorga Desa Naualu. Netty Juliana

Sambungan dan Hubungan Konstruksi Kayu

Transkripsi:

BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. Tataran Lingkungan/Komunitas 1. Lingkungan Fisik a. Penggunaan Tas Tas ini merupakan tas dalam kebutuhan sekunder, maksud dari tas dalam kebutuhan sekunder yakni tas ini merupakan tas diatas kebutuhan tas primer, yakni tas variasi, fungsinya lebih dari sekedar membawa barang, lebih dari itu ada nilai budaya/etnik yang dikandung dan penggunaan material yang tidak biasa. Tas ini dapat digunakan dalam situasi semi-formal dan santai, maksud semi-formal dan santai yakni situasi-situasi ketika pengguna tidak banyak membawa barang-barang. Salah satu contohnya yakni ketika menghadiri pesta dengan tema etnik, tas ini melengkapi kesan etnik yang akan pengguna pakai sebagai bagian dari penunjang penampilan. Tetapi perlu diperhatikan juga dengan padu padan dengan pakaian yang digunakan. Selain itu tas ini dapat digunakan ketika pergi berlibur, seperti liburan musim panas/summer seperti yang ada di luar negeri. Lingkungan-lingkungan yang mendukung penggunaan tas ini yakni seperti acara pernikahan, taman, pusat perbelanjaan, tempat wisata dan tempat hiburan lainnya. Gambar 4.1 Contoh Gaya/ Tampilan Pengguna Sumber: Google.com 42

b. Spesifikasi dasar dan Kapasitas Tas ini merupakan tas dengan jenis mini sling bag, mini dalam artian tas ini memiliki ukuran yang kecil, yakni 22 cm x 16 cm x 8 cm. Tas dibuat mini karena terpengaruh pada material. Dibuat sling bag karena salah satu bentuk tas favorit wanita adalah tas sling bag. Selain itu mudah dalam penggunaan dan lebih praktis. Sling bag merupakan tas dengan tali panjang menyelempang pada bahu. Ukuran panjang tali ini juga berpengaruh pada kenyamanan, panjang tali yang dibuat adalah 96,5 cm, dan masih dapat diatur kembali. Untuk kapasitas, barang-barang yang dapat dibawa dalam tas ini hanya barang-barang esensial, seperti Smartphone, headset dan dompet. Beberapa barang kecil lainnya seperti bedak dan lipstick sebagai kebutuhan make up dasar wanita juga dapat masuk ke tas ini. Gambar 4.2 Bag Essentials Sumber: Google.com 43

c. Sensasi Salah satu manfaat yang ingin dicapai kepada lingkungan adalah eksistensi material rotan sehingga dapat menaikkan nilai jual produk. Dengan mengeksplorasi rotan dalam dunia fashion dapat diartikan bahwa kita membuka jalan bagi material rotan untuk memiliki eksistensi yang lebih di masyarakat dengan segala potensi yang dimilikinya. Selain itu terhadap pengguna, menggunakan tas dengan material yang tidak biasa membawa dampak eksistensi pula, karena di Indonesia belum terdapat banyak tas wanita bermaterial rotan. Pengguna tas ini adalah orang-orang dengan minat yang unik dan berarti memiliki kepribadian yang dinilai unik pula. 2. Lingkungan Non Fisik Membuat teknik anyaman baru merupakan salah satu wujud lain untuk memperluas eksistensi rotan, terutama dengan aplikasi bahanbahan rotan yang masih jarang digabungkan. Dengan menggabungkan beberapa jenis material rotan tentunya akan memiliki kesan yang baru. Dengan membuat teknik baru membuat suatu ciri khas dari suatu produk, dan menambah nilai jual. Terutama dengan mengambil inspirasi dari kebudayaan Indonesia, hal tersebut akan lebih mengangkat rotan sebagai material yang juga berpotensi lebih. Bagi material rotan, inspirasi dari kebudayaan Indonesia akan menambah filosofi. Dan bagi kebudayaan Indonesia, akan memiliki media baru untuk makin mencintai dan menghargai dan membuktikan bahwa kebudayaan bisa diterapkan dimanapun. Kebudayaan adalah salah satu inspirasi untuk dapat maju dan berkembang. 44

B. Tataran Sistem 1. Sistem Pada Anyaman a. Eksplorasi Teknik Anyaman Berdasarkan analisis data mengenai jenis-jenis tenun dengan kesesuaian yang dibutuhkan, perancangan ini menggunakan tenun Boti dengan teknik sungkit sebagai acuan/inspirasi. Teknik ini dipilih karena teknik ini terfokus pada jalinan latar kain yang dibuat dengan merangkapkan 2 lungsi oleh pakan hingga corak tenunannya yang terlihat saling menghimpit dapat dilihat langsung dari dasar kain. Jadi teknik ini bukan merupakan permainan warna dengan teknik tenun polos ataupun tambahan benang-benang. Gambar 4.3 Tenun Boti Untuk dapat memudahkan pembaca dalam memahami maksud dari penjelasan yang saya lakukan, maka dari itu terdapat beberapa keterangan yang perlu dipahami. Dalam menjelaskan bagaimana teknik anyaman ini dibuat, terdapat istilah yaitu muncul-longkap. 45

1) Muncul Muncul adalah sebutan untuk benang atau rotan lungsi yang berada diatas benang atau rotan pakan. Disebut demikian karena memang keberadaannya yang muncul di permukaan latar. 2) Longkap Longkap adalah sebutan untuk benang atau rotan lungsi yang berada dibawah benang atau rotan pakan. Disebut demikian karena keberadaannya yang seperti dilongkapi. Gambar 4.4 Lungsi Muncul. Pada teknik ini menggunakan 3 buah benang lungsi yaitu 2 benang putih sebagai lungsi pendukung, 1 buah benang hitam sebagai lungsi utama. 1 benang putih digunakan untuk men- dukung jalinan dan benang hitam sebagai benang pembentuk ragam hias. Teknik sungkit ini prinsipnya terdapat dua buah benang lungsi pendukung (warna putih) yang saling menghimpit di bagian bawah benang pakan, kemudian himpitan tersebut membuka dan kemudian ditambahkan lagi satu buah benang lungsi utama yang muncul ke permukaan (benang hitam). Himpitan ini menghasilkan motif seperti huruf X. Himpitan 2 lungsi ini dapat dilakukan karena struktur benang yang tipis. Semua bagian-bagian ini menggunakan satu jenis benang yang sama. Gambar 4.5 Lungsi Longkap 46

Gambar 4.6 Detail Tenun Boti Himpitan yang terjadi pada dasarnya berdampak pada pola benang hitam yang memiliki jarak 1 baris pakan dari tiap-tiap kemunculannya. Tiap benang hitam dari satu kolom dengan kolom lain pun kumunculannya dibuat selang-seling. dan membuat longkap menjadi lebih jauh, longkap sekitar 3 benang pakan. Berbeda dengan tenunan tanpa himpitan ini, jarak antar kemunculan benang hitam akan lebih berdekatan. Dari gambar detail tenun boti diatas detail pada benang putih masih belum terlihat jelas, dan masih bercampur baur dengan ragam hiasnya. oleh sebab itu masih perlu dipisahkan antara teknik utama dengan ragam hiasnya. Gambar 4.7 Sketsa Detail Tenun Boti 47

Dalam analisis di Bab 3 juga dijelaskan pemilihan bahan rotan yakni rotan kubu berdiameter 3 mm dan tali rotan dengan lebar 2 mm. Tali rotan dipilih agar mampu menyesuaikan kedetailan anyaman seperti kedetailan pada jalinan tenun. Tali rotan memiliki sifat yang fleksibel, dapat dilengkungkan sesuai yang dibutuhan. Lebih fleksibel dibanding dengan rotan kubu, namun ketika sudah terlipat akan menimbulkan bekas seperti patahan. Karena pada akhirnya anyaman akan diaplikasikan pada tas sling bag, pemilihan bahan pun menyesuaikan luasan anyaman nantinya, jika keseluruhan anyaman menggunakan bahan rotan kubu yang bulat dan kaku akan mempengaruhi kedetailan anyaman. Anyaman akan membutuhkan ruang yang lebih luas, selain itu motif tidak akan tercapai karena besarnya ukuran rotan. Maka dari itu dibutuhkan bahan rotan yang berukuran kecil namun lebih fleksibel dan ukurannya lebih ke arah melebar, karena anyaman yang dibutuhkan adalah anyaman 2 dimensi. Gambar 4.8 Arah Gaya Berat Tas Rotan kubu dalam perancangan ini juga memiliki fungsi yang sentral. Yaitu berkaitan dengan aspek kekokohan. Kekokohan tas bergantung pada bahan yang digunakan pada sisi samping dan sisi 48

bawah tas, terutama sisi bawah yang bertanggung jawab untuk menahan beban. Bahan ini tidak dapat menggunakan tali rotan. Karena tali rotan dikhawatirkan tidak dapat menahan berat beban. Terdapat bahasan khusus mengenai bagaimana tali rotan yang dapat menahan beban, anyamannya pun tidak sembarangan. Namun hal itu semua diluar batasan dari perancangan ini. Motif anyaman pada bagian tas nantinya akan diletakkan di sisi depan dan belakang tas, oleh sebab itu, bagian depan dan belakang lah yang akan menggunakan tali rotan. Sementara bagian samping dan bawah menggunakan rotan kubu. Dari sini terdapat distraksi, bagaimana mungkin 2 bahan ini dapat menyatu menjadi satu tas yang utuh. Disinilah terdapat ide untuk menggabungkan dua jenis rotan dalam satu anyaman. Kedua jenis rotan digabungkan agar dapat saling terhubung antara bagian depan dengan bagian samping dan bawah. Penggabungan anyaman ini juga perlu disesuaikan. Gambar 4.9 Penentuan Jenis Rotan Inti dari perancangan ini adalah teknik anyaman baru yang akan dibuat menggunakan tali rotan. Bahan utama untuk bagian utama adalah tali rotan. Tali rotan akan menjadi bahan mayoritas di bagian depan dan belakang tas. Oleh sebab itu bahan rotan kubu dibagian depan dan belakang akan menjadi bahan minoritas. Untuk menentukan kedetailan motif, bisa bergantung pada lungsi maupun pakan. Dalam perancangan ini kedetailan akan bergantung pada satu sisi saja apakah 49

itu pada lungsi atau pada pakannya, tidak dapat diolah pada keduanya. Karena bentuk tas yang berupa persegi panjang, arah anyaman lebih baik dilihat memanjang kebawah/vertikal. Selain itu juga pada tenun bagian yang mendominasi sebagai pembentuk ragam hiasnya adalah bagian lungsinya. Oleh karena itu bagian lungsi-lungsilah yang lebih banyak bertanggung jawab untuk menentukan kedetailan. Sedangkan pakan bertugas menjadi penyambung antara lungsi-lungsi tersebut. Karena peran lungsi yang cukup sentral maka diputuskan bagian lungsilungsilah yang menggunakan bahan tali rotan, sedangkan bagian pakan menggunakan rotan kubu. Dalam hal ini pakan akan menjadi penghubung antara bagian depan dengan bagian samping. Gambar 4.10 Teknik Sungkit Pada Tenun Boti Dari Gambar 4.8 dapat dilihat bahwa lungsi yang muncul di permukaan (benang hitam) ini letaknya melongkap-longkap dari satu bujur benang hitam sebagai hasil dari himpitan kedua benang lungsi warna putih. Sedangkan pada kolom benang hitam sebelahnya, kemunculan benang hitam letaknya terdapat pada longkapan tersebut. sehingga dapat diamati benang hitam ini dari sisi kolom dan barisnya memiliki pola muncul-longkap-muncul-longkap. Namun teknik ini 50

menggunakan 3 buah rotan lungsi yaitu yaitu 2 rotan lungsi pendukung dan 1 buah lungsi utama. Dalam hal ini, semua lungsi berfungsi membentuk pola. Ketika teknik ini diaplikasikan ke material rotan, terdapat sedikit hambatan, yakni proses himpitan ini tidak dapat dilakukan, dikarenakan perbedaan material yang cukup signifikan, selain itu kedua benang putih dapat terhimpit dikarenakan adanya kemunculan benang hitam diantara kedua himpitannya. Sehingga diantara kedua himpitan tersebut akan membuka celah bagi benang hitam untuk muncul ke permukaan. Karena bahan tali rotan cenderung kaku. Penghimpitan ini hanya akan menghasilkan rotan yang saling berdekatan. Bisa dibayangkan bahwa ketika dua buah tali rotan disejajarkan dan diantaranya diselipkan sebuah rotan lagi, maka himpitan itu tidak dapat terjadi. Oleh karena itu diperlukan penyesuaian. Gambar 4.11 Proses Penyesuaian Pertama Untuk dapat mengambil kesan menghimpit, posisi kedua lungsi (yang berwarna putih) dibuat saling menyilang, karena posisi himpitan 51

di kain tenun letaknya dibawah benang pakan, maka kesan himpitan yang dibuat dengan saling menyilang di bawah rotan pakan ini akan terlihat sama seperti himpitan pada tenun. Di tiap kolom lungsi utama (benang hitam) yang muncul di permukaan menggunakan dua lungsi tersendiri. Dari sini sudah dapat terlihat sedikit kesan himpitan. Contohnya dapat dilihat pada Gambar 4.9. Dari proses diatas, masih diperlukan penyesuaian kembali. sebelumnya, kemunculan lungsi utama (benang hitam) masih memiliki longkapan yang terlalu jauh. Tiap lungsi utama harus melongkapi 3 rotan pakan. Sedangkan untuk bahan rotan tidak dapat demikian, longkapan 3 pakan ini terlalu jauh untuk diterapkan dan akan berdampak pada bidang anyaman yang akan semakin luas untuk dapat dinikmati dengan baik. Longkapan yang jauh ini juga membuat kesan himpitan tidak terlalu nyata karena banyaknya lungsi pendukung (benang putih) yang saling bertemu, membuat anyaman terkesan tidak beraturan. Oleh karena itu pada proses selanjutnya kemunculan lungsi utama dibuat melongkap 1 rotan pakan. Dengan melongkap satu rotan pakan, persilangan antara 2 lungsi pendukung (benang putih) sudah jelas terlihat. Dalam proses ini penyilangan 2 lungsi pendukung (benang putih) masih sama dengan prinsip pada tenun, dilakukan tepat dibawah lungsi utama (benang hitam). Dan kedua lungsi pendukung (benang putih) sebagai akibat dari penyilangan, di bagian permukaan mulai menghasilkan motif lonjong. 52

Gambar 4.12 Proses Penyesuaian Kedua Kemudian dari proses diatas motif yang dihasilkan masih belum sesuai dengan motif pattern tenun boti sehingga masih perlu disesuaikan kembali. Belum sesuai yakni, pada tenun, posisi lungsi utama (benang hitam) muncul di permukaan dengan posisi lungsi pendukung (benang putih) bentuknya seperti wajik. Sedangkan pada proses kedua diatas, posisi lungsi pendukung karena terpengaruh akan persilangan, menghasilkan motif seperti huruf X. Selain itu motif seperti pada proses diatas masih belum tampak, kedua lungsi pendukung (benang putih) yang muncul di permukaan masih terlihat seperti lungsilungsi yang lurus seperti pada lungsi utama, tidak membuat perbedaan. Maka dari itu saya memutuskan untuk membuat persilangannya berada diatas permukaan, sehingga didapatlah motif dengan kesan yang sama seperti pattern tenun boti. 53

Gambar 4.13 Proses Penyesuaian Ketiga Pada proses yang ketiga ini didapatlah penyesuaian dari teknik sungkit pada tenun Boti. Posisi lungsi utama (benang hitam) muncul di permukaan dengan 1 longkapan agar tidak terlalu jauh. Di setiap lungsi utama yang muncul di permukaan, bentuk lungsi pendukung menyerupai wajik dan letaknya di bawah rotan pakan. Untuk mendapatkan hasil anyaman yang optimal, jarak terbaik antara rotan pakan yakni sekitar 1 cm. Jika dibawah itu, anyaman terlalu sempit dan motif tidak tergambar dengan baik. Dan jika lebih dari itu, anyaman terlalu lebar dan akan lebih banyak celah-celah yang terbuka. 54

b. Teknik penganyaman (a) (b) (c) (d) (e) (f) (g) Penganyaman ini dilakukan perkolom. Pada gambar (a) proses yang dilakukan pertama kali adalah memasukkan lungsi utama yang ditandai dengan garis berwarna merah dengan pola muncul-longkap masing masing-masing 1 pakan. Kemudian 2 buah lungsi pendukung yang ditandai dengan warna hitam dimulai dari bagian atas pakan (karena lungsi utama dimulai dari bagian bawah pakan) kemudian posisi keduanya saling menyilang di bawah pakan dan dinaikkan lagi ke atas pakan seperti pada gambar (b). Pada gambar (c) lungsi pendukung sebelah kiri menyilang kebagian kanan lungsi utama dan dilanjutkan dengan bagian kanan lungsi pendukung yang menyilang ke bagian kiri lungsi utama dan keduanya turun ke bawah pakan. Seperti pada gambar (d). Hal yang sama dilakukan kembali pada gambar (e) hingga (g) sampai lungsi pendukung mencapai akhir dari pakan. Gambar 4.14 Ilustrasi penganyaman 55

(h) (i) (j) (k) (l) Gambar 4.15 Ilustrasi penganyaman lanjutan Untuk kolom sebelahnya, penganyaman dilakukan dengan memasukkan lungsi utama berseling dengan lungsi utama pada gambar (a). pada gambar (a) lungsi utama dimulai dengan berada di bawah. Pada kolom sebelahnya dimulai dengan berada dibagian atas, seperti pada gambar (h). Sebaliknya ketika lungsi utama dimulai pada bagian atas, kedua lungsi pendukung dimulai pada bagian bawah, perhatikan pada gambar (i). Kemudian setelah itu dilakukan penyilangan sama seperti yang telah dilakukan pada proses sebelumnya hingga akhir pakan. Hasilnya berselang-seling antara satu kolom dengan kolom lain. Pola selang-seling ini diulangi hingga anyaman selesai memenuhi satu bidang. Dan pada akhirnya akan membentuk anyaman seperti gambar dibawah ini.. Gambar 4.16 Hasil Eksplorasi Anyaman 56

c. Teknik Pengakhiran Anyaman (a) (b) (c) (d) Gambar 4.17 Ilustrasi Pengakhiran Anyaman Pada proses pengakhiran anyaman, dapat dilihat posisi lungsi utama dan lungsi pendukung seperti pada gambar (a), terdapat satu lungsi utama yang berakhir di bagian bawah pakan sedangkan lungsi pendukungnya berakhir di bagian atas, sebaliknya pada bujur sebelahnya, posisi lungsi utama berakhir di bagian atas dan lungsi pendukung di bagian bawah. Pada gambar (b), untuk lungsi utama yang berakhir di bagian bawah, dibuat menjadi diatas persilangan kedua lungsi pendukung, dan untuk kolom sebelahnya, posisi lungsi utama tetap di bagian atas pakan sedangkan lungsi pendukungnya dibuat menyilang. Kemudian seluruh lungsi-lungsi utama dilengkungkan ke bagian dalam anyaman seperti pada gambar (c) dan di selipkan ke bagian dalam antara lungsi utama dengan pakan, bagian ini bisa digunakan untuk menyelipkan akhiran lungsi utama. Terakhir lengkungan lungsi utama dikencangkan hingga benar-benar kuat. Cara ini dilakukan pada seluruh bagian akhir anyaman sesuai dengan keberadaan lungsi utama di bagian akhir. Agar bagian akhir anyaman ini terlihat lebih rapi, diselipkan lagi satu tali rotan dibagian atas diantara lungsi-lungsi utama yang dilengkungkan untuk menutup kekurangan-kekurangan yang terlihat. 57

d. Eksplorasi Model Anyaman Tabel 4.1 Eksplorasi Model Anyaman 58

2. Sistem Pada Tas Berdasarkan analisis pada Bab 3, model tas yang dibuat adalah model sling bag. Dengan poin utama model tas harus menampilkan secara utuh/jelas anyaman tanpa membuat fungsi tas yang menjadi daya tarik utama. Jadi model tas adalah pendukung model anyaman. Selain itu diperlukan model tas yang memiliki ruang/muka yang cukup lapang di bagian depan agar motif anyaman dapat dinikmati dengan baik. Pada model-model tas rotan yang sudah ada, tas sling bag ini memiliki prinsip seperti tas koper dengan engsel. Prinsip koper ini membuat tas lebih lebar ketika dibuka. Dan dengan menggunakan prinsip ini seluruh bagian tas tertutup rapat. Tas dengan model koper terbagi 2 bagian yang dijadikan 1 dengan bantuan engsel. Untuk dapat diaplikasikan dalam material rotan, langkah yang harus dilakukan pertama yakni membuat kerangka tas. Kerangka ini dibuat sebagai base dari anyaman. Dibuat pertama kali karena untuk lebih memudahkan pengerjaan, akan lebih mudah mengerjakan anyaman yang sudah memiliki kerangka dibanding sebaliknya. Gambar 4.18 Ilustrasi Kerangka Tas 59

Kerangka tas ini dibuat menyesuaikan bagaimana caranya rotan pakan yang berbahan rotan kubu ini dapat dijajarkan secara horizontal. Caranya adalah dengan melilitkan rotan pakan pada batang rotan yang memiliki diameter yang lebih besar dan menghasilkan sebuah frame. Dengan lilitan ini akan menghasilkan rotan pakan yang kuat dan tidak kendor. Jarak antar rotan pakan disini sedikit tidak beraturan karena bergantung pada jumlah lilitannya. Ada yang jaraknya 1 cm dan ada pula yang lebih. Hal ini disebabkan karena masih percobaan pertama. Frame dalam kerangka dibuat ganda karena frame bagian dalam berfungsi untuk membuat kedua kerangka saling bertemu tanpa adanya celah. Sistem penyatuan kedua kerangka menggunakan kabel ties. karena tidak memungkinkan jika menggunakan engsel. Engsel dirancang untuk menggabungkan dua bagian yang memiliki permukaan rata. Karena bagian frame yang bertemu bentuknya bulat mengikuti bentuk batang rotan tempat melilitnya rotan kubu, bentuk bulat ini jika dipakaikan engsel akan terasa kendor. Cara penggunaan kabel tis sebagai engsel adalah bagian frame dalam kedua kerangka dilubangi dengan menggunakan bor kemudian kabel tis dimasukkan dan direkatkan. Cara ini lebih kuat jika dibandingkan dengan menggunakan engsel. Kedua ujung frame Bagian Belakang Kabel Ties Gambar 4.19 Ilustrasi Penyatuan Kerangka 60

SIstem lainnya yang terdapat pada tas adalah sistem penggabungan bagian-bagian tas seperti interior dengan kerangka, dan tali selempang dengan kerangka. Untuk penggabungan bagian interior dan kerangka menggunakan lem, cara ini dilakukan karena tidak memungkinkan jika dilakukan dengan proses penjahitan. Bagian kulit juga memungkinkan untuk dilem dengan kerangka karena ketebalannya, hanya saja yang perlu diperhatikan adalah ukuran pola interior yang harus presisi dengan ukuran kerangka agar tidak ada lem-lem yang berceceran di bagian kerangka. Untuk bagian tali selempang dengan bagian kerangka, system penggabungannya adalah dengan menggunakan paku kakian tas, disebut kakian karena paku ini biasanya digunakan pada bagian kaki tas dan aksesoris pendukung tas. Paku kakian memiki 2 buah kaki datar yang dapat menembus bagian tali dan kerangka. Gambar 4.20 Paku Kakian Gambar 4.21 Ilustrasi Pemasangan Paku Kakian 3. Cara Penyebaran Produk Temuan baru pada perancangan ini terletak pada teknik anyaman. Teknik anyaman ini akan membuat kekhasan pada produk-produk rotan 61

yang saya kerjakan, kekhasan inilah yang menjadi kunci proteksi produk agar tidak dapat ditiru oleh pengerajin lain. Pemasaran produk ini dijual lewat website dan lewat media sosial seperti Instagram agar lebih banyak dikenal oleh masyarakat bahwa saat ini juga terdapat produk fashion berbahan dasar rotan di Indonesia. C. Tataran Produk 1. Konsep Perancangan Ide dasar perancangan ini adalah etnik modern. Kesan etnik sudah tertampil jelas pada teknik anyaman yang saya buat. Modern biasanya lebih identik kearah rancangan-rancangan yang simpel, simpel dalam artian yakni tidak banyak mengandung aksen dan ornament, simple juga dapat tergambar pada pemilihan bahan. Kesan simpel juga biasanya menggunakan bentuk-bentuk dasar (misalnya kotak atau lingkaran) dan tidak banyak menggunakan warna. Selain karena tas merupakan salah satu fashion item yang lekat dengan masyarakat, lebih dari itu, alasan khususnya yakni dari hasil perancangan anyaman ini model anyaman memiliki rupa yang berbeda di bagian dalam dan luar, berbeda dengan teknik anyaman yang sudah ada, model anyaman bagian dalam dan luar sama persis sehingga dapat digunakan untuk membuat berbagai model kerajinan 3 dimensi seperti keranjang contohnya, untuk anyaman ini lebih mengarah pada produkproduk yang mengandalkan satu sisi, yakni sisi depan. Maka dari itu pula dibutuhkan bantuan dari anyaman lain pada produk ini selain bertanggung jawab pada aspek kekokohan. Diluar hal tersebut, perbedaan motif anyaman ini sebenarnya bukan hal yang terlalu menimbulkan masalah, tetapi tetap setiap teknik anyaman berfungsi dengan maksimal berdasarkan kebutuhan tertentu. 62

Dengan teknik anyaman baru yang telah dibuat dengan inspirasi dari kain tenun akan menimbulkan kesan etnik. Tas ini dapat digolongkan menjadi tas etnik. Teknik anyaman ini akan diolah sedemikian rupa menghasilkan produk yang lebih modern. Desain tas yang akan dibuat akan menggunakan bentuk-bentuk dasar. Dalam hal ini bentuk yang paling memungkinkan adalah kotak. Karena bahan rotan akan lebih mudah untuk membuat bentuk-bentuk kotak. Dalam karya ini yang ingin ditonjolkan adalah bagaimana teknik anyaman ditampilkan utuh menjadi bagian utama dari tas. 2. Proses Perancangan Perancangan teknik anyaman sudah dijelaskan di bagian tataran sistem, pada bagian ini saya akan membahas bagian keseluruhan tas, terutama interior. Pada bagian interior tas menggunakan bahan kulit sintetis yang biasa digunakan pada luar tas. Bahan ini bernama Oskar. Bahan ini dipilih karena diperlukan bahan yang kuat, anti air, lentur dan fleksibel untuk menyeimbangkan bahan rotan. Selain itu bahan ini merupakan bahan yang paling sering digunakan dalam industri tas. Terdapat kantung dengan ritseleting tepat terletak di bagian tengah bukaan tas. Letak kantung yang berada di tengah bukan untuk mempersempit ruang pada tas, melainkan untuk memberikan kemudahan pada saat ingin meraih benda yang disimpan di dalam kantung tersebut. Untuk menahan bukaan tas agar tidak terlalu lebar pada bagian samping dibutuhkan penahan, bagian penahan ini juga masih menggunakan bahan yang sama. Lebarnya bukaan tas dipengaruhi oleh panjangnya pola bahan dibagian samping yang menahan bukaan agar tidak telalu lebar. Lebar bukaan tas ini kurang lebih 50 derajat. 63

Ragam pelengkap tas lainnya yakni gagang pegangan. Gagang ini fungsinya lebih sebagai fungsi estetis. Letaknya berada di salah satu kerangka sedikit ke tengah. Gagang ini sebenarnya dapat digunakan ketika tidak ingin menggunakan selempang, Namun sedikit kekurangannya adalah ketidakseimbangan (karena tidak berada di tengah-tengah potongan tas). Ketika menggunakan gagang ini, tas sedikit miring. Maka lebih dianjurkan untuk digunakan sebagai tas sling bag. Untuk tali selempang, peletakkannya terpisah. Satu mengait di kerangka depan dan satu lagi mengait di kerangka belakang. Hal ini untuk menjaga keseimbangan tas ketika dibawa maupun ketika sedang dibuka. Bahan tas yang berupa rotan memiliki kelemahan yakni tidak tahan lama terhadap air, jika terlalu sering terkena air bahan rotan akan rusak. Pemberian varnish tidak menjamin kuatnya bahan rotan. Maka dari itu tas ini tidak dianjurkan digunakan sehari-hari untuk menjaganya tetap awet dan tahan lama. a. Sketsa Produk Gambar 4.22 Sketsa Tas 64

b. Digitalisasi Produk Gambar 4.23 Digitalisasi dan Ilustrasi Penggunaan 65

c. Detail Perbagian TALI SELEMPANG PANJANG: 96,5 cm LEBAR: 2 cm TALI GAGANG PANJANG: 14,5 cm LEBAR: 2 cm LIDAH KUNCIAN TAS PANJANG: 18 cm LEBAR: 4 cm LAPISAN DALAM/INTERIOR PANJANG: 21,5 cm LEBAR: 7 cm TINGGI: 15 cm KERANGKA PANJANG: 22 cm LEBAR: 8 cm TINGGI: 16 cm Gambar 4.24 Detail Perbagian 66

d. Gambar Kerja Gambar 4.25 Gambar Kerja Tas 3. Proses Produksi a. Pembuatan Kerangka Tas Bagian kerangka ini dibuat oleh pengerajin langsung di Cirebon dan memakan waktu kurang lebih 1 minggu. Hasil dari pembuatan kerangka ini pun terbilang belum cukup rapi, dikarenakan pada Gambar 4.26 Hasil jadi Kerangka Tas proses pembuatannya tidak 67

menggunakan mal/cetakan karena pembuatan hanya sedikit, dan pengerajin masih dalam tahap percobaan, sehingga langsung berdasarkan feeling pengerajin. Jika menggunakan cetakan, akan diperoleh hasil yang lebih maksimal. Pada kerangka ini terdapat 11 buah rotan pakan. b. Proses Penganyaman Pada proses penganyaman bagian depan dan belakang dilakukan oleh saya sendiri. Hal ini karena saya yang membuat teknik anyaman ini sendiri tidak memungkinkan jika dilakukan oleh pengerajin. pada bagian depan menggunakan anyaman yang sudah diberikan hiasan, sedangkan pada bagian belakang anyaman dibuat penuh keseluruhan tanpa adanya pola/hiasan. Hal ini untuk membedakan mana bagian depan dan mana bagian belakang tas. Proses penganyaman ini dilakukan dalam waktu 2 hari untuk menganyam 2 buah tas. Pemilihan tali rotan untuk mendapatkan hasil yang terbaik juga tidak sembarangan, beberapa bagian hitam dibuang agar keseluruhan bagian. Gambar 4.27 Proses Penganyaman 68

c. Varnishing Setelah penganyaman selesai dilakukan, langkah selanjutnya adalah memberikan Varnish warna clear untuk lapisan akhir agar terlihat mengkilap. varnish yang digunakan adalah jenis varnish akrilik, untuk menjaga warna rotan berada pada rentang kuning keemasan. Pada varnish rotan warnanya terlalu gelap cenderung kuning kecoklatan. Gambar 4.28 Hasil Jadi Penganyaman Gambar 4.29 Varnish Warna Clear Sumber: google.com d. Proses Penyatuan Kerangka Penyatuan kedua kerangka menggunakan kabel ties berwarna putih clear dengan ukuran 0.5 cm. Cara penggunaan kabel tis sebagai engsel adalah bagian frame dalam kedua kerangka dilubangi dengan menggunakan bor kemudian kabel Gambar 4.30 Kabel Ties Sumber: rfbat.com ties dimasukkan dan direkatkan. 69

e. Proses Pemotongan dan Penjahitan Pola Tas Pola dan ukuran bahan pelapis didasarkan pada ukuran kerangka, cara mengukurnya menggunakan bagian kain yang dimasukkan ke dalam kerangka dan diukur seberapa lebar dan panjangnya setelah cukup bahan tersebut dipotong dan dijadikan pola. Kemudian, bagian lain yang dibuat adalah bagian tali gagang dan tali selempang. Setelah semua bagian dibuat polanya, terakhir adalah proses penjahitan. f. Proses Assembling Proses penggabungan bagian rotan dengan interior dilakukan dengan cara dilem. Lem yang digunakan adalah jenis lem aibon. Pemilihan bahan Oskar ini juga mendukung untuk penempelan. Dengan hanya dilem sudah cukup kuat karena berat beban benda bertumpu pada kerangka rotan. selain itu untuk dapat menyimpan barang-barang kecil. Gambar 4.31 Proses Assembling Sumber: pribadi 70

Beberapa aksesoris yang sebelumnya telah dibahas pada proses ini mulai dirakit. Kuncian ini digunakan karena dapat mendukung estetika tas. Dengan tambahan lidah untuk aplikasinya kuncian ini akan mempercantik bagian tas. Selain itu menggunakan 2 jenis ring, ring berbentuk kotak yang berjumlah 2 buah untuk di bagian gagang, dan ring berbentuk D yang juga berjumlah 2 buah di bagian selempang. Bagian aksesoris paling sentral fungsinya adalah kakian, yang berfungsi untuk menggabungkan bagian gagang dan selempang ke bagian badan tas dilakukan dengan cara memasukkan kakinya yang datar ke celah-celah rotan kemudian dipilin menggunakan tang. Jumlah kakian yang dibutuhkan antara lain 4 buah di bagian gagang dan 4 buah di bagian selempang. Bagian yang dipadang terlebih dahulu adalah bagian gagang dan ring D pada sisisisi tas, lalu terakhir bagian dalam dipasang. D. Tataran Elemen 1. Bentuk Bentuk tas secara keseluruhan adalah persegi panjang, bentuk ini merupakan bentuk tas pada umumnya, bentuk ini juga memberikan kesan sederhana, kesan-kesan lainnya dapat ditimbulkan dari penggunaan bagian-bagian pendukung tas. 2. Warna Terdapat 2 Pilihan warna bahan tas pada perancangan ini, yang pertama menggunakan warna merah sebagai warna material bahan pelapis. Warna ini dipilih karena sangat kontras dengan bahan rotan yang berwarna kecoklatan sehingga terlihat stand out/mencolok. Warna ini warna yang paling menarik perhatian, diasosiasikan sebagai agresifitas, 71

berani, kekuatan, cinta dan kebahagiaan. Sedangkan yang kedua menggunakan warna yang senada dengan warna rotan. Warna yang senada ini ada dalam rentang kuning-kecoklatan. Disini saya memilih warna Khaki. Semacam abu-abu. Warna ini melambangkan ketenangan, sopan dan sederhana. Warna ini juga dipilih karena warnanya memberi kesan lembut. Warna ini cocok bagi mereka yang menyukai warna-warna simpel/tidak berlebihan, sedangkan untuk pilihan warna merah, diperuntukkan bagi mereka yang menyukai tas dengan warna mencolok dan berani. Gambar 4.32 Pemilihan Warna Pemilihan warna aksesoris/hardware tas pun tidak sembarangan. Untuk dapat memperoleh kesan modern dan tetap berkesinambungan dengan bahan rotan saya memilih warna emas. Warna emas ini memiliki rentang warna yang sama dengan warna rotan yang telah di-varnish. Sehingga kedua bahan ini dapat menyatu dengan baik. Warna emas melambangkan sifat glamour dan menambah kesan mewah. 72

Gambar 4.33 Pemilihan Warna Aksesoris Penggunaan bahan ini juga merupakan upaya untuk membuat rotan layak/pantas untuk menjadi fashion item di mata masyarakat di luar fungsinya sesungguhnya. Upaya memperkuat elemen desain pada tas ini juga dapat dilakukan dengan mengkombinasi bahan atau motif pada bagian dalam tas. Misalnya dengan memberikan kain kanvas dengan motif bunga yang besar, karena anyaman yang sedikit terbuka di bagian depan, maka motif ini dapat terlihat. Bisa juga bereksplorasi dengan warna tali selempang dan tali pada gagang. 3. Pemilihan Model Anyaman Pemilihan anyaman terhadap warna kain dasar pun juga perlu diperhatikan. Untuk tas dengan warna dasar merah digunakan anyaman yang sedikit terbuka untuk bagian depan agar warna dalam tas terlihat sebagai aksen sorotan untuk anyaman yang dipilih. Warna merah yang terkesan genit juga membutuhkan anyaman yang memiliki kesan yang sama. Dibutuhkan anyaman yang mendukung kesan genit pula. Maka dari itu saya memilih model anyaman ketiga yang memiliki space yang sedikit terbuka. 73

Gambar 4.34 Model Anyaman Tas Berwarna Merah Pada pemilihan anyaman untuk tas dengan warna khaki, dibutuhkan anyaman yang tidak terlalu banyak celah (karena warna bagian dalam tidak terlalu mencolok) tetapi tetap memiliki irama. Maka dari itu saya memilh model anyaman keempat untuk diaplikasikan pada bagian depan tas dengan warna khaki. Gambar 4.35 Model Anyaman Tas berwarna Khaki 74

Hasil Perancangan Gambar 4.36 Model 1 Gambar 4.37 Model 2 75