PENINGKATAN KEMAMPUAN MATERI PENJUMLAHAN BILANGAN BULAT MELALUI METODE DEMONSTRASI DAN MEDIA MANIK-MANIK PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 05 BANTARBOLANG TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Yuli Rahmawati Yuliyura1982@gmail.com Abstrak: Rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana proses pembelajaran, seberapa banyak peningkatan kemampuan penjumlahan bilangan bulat, dan perubahan perilaku peserta didik menggunakan media manik-manik pada peserta didik kelas IV SDN 05 Bantarbolang. Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan dua siklus. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran meningkat. Nilai karakter kerjasama, tanggung jawab, semangat, kesungguhan, dan rasa percaya diri terlihat baik. Hasil siklus I, 20 (66,67%) siswa tuntas. Siklus II, 27 (90%) siswa tuntas. Rata-rata Siklus II, 79,33. Kata kunci: kemampuan, penjumlahan bilangan bulat, metode demonstrasi, media manik-manik. PENDAHULUAN Matematika sebagai ilmu yang mempunyai objek dasar abstrak yang berupa fakta, konsep, operasi dan prinsip dengan pola pikir deduktif asosiatif. Karena sifat Matematika yang demikian ini menyebabkan timbulnya anggapan/pendapat bahwa matematika itu ilmu yang sukar dipelajari dan tidak sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Pendapat ini telah mempengaruhi sebagian siswa sehingga minat siswa terhadap mata pelajaran matematika relatif rendah. Sebagian dari mereka ada yang dihinggapi rasa takut bahkan rasa benci terhadap pelajaran matematika. Akibatnya prestasi belajar mereka rendah, seperti yang di alami siswa kelas IV SD Negeri 05 Bantarbolang. Dalam ulangan Matematika dengan kompetensi dasar penjumlahan bilangan bulat terbukti hanya 10 dari 30 3
siswa (33,33%) yang nilainya > KKM, sedangkan 20 siswa (66,67%) nilainya masih di bawah KKM. Beberapa hal yang menjadi sebab kurangnya siswa memahami konsep penjumlahan bilanagan bulat tersebut,diantaranya adalah: 1) Materi bilangan bulat terutama bilangan negatif merupakan konsep yang baru dikenal oleh siswa kelas IV, 2) Bilangan bulat negatif merupakan hal yang abstrak bagi siswa,sehingga siswa masih kesulitan dalam menangkap materi pelajaran, 3).Belum digunakanya media pembalajaran secara konkrit,yang dapat membantu siswa dalam memahami konsep bilangan bulat negatif. Di tinjau dari tahap perkembangan kognitif, siswa SD (7-11 tahun) termasuk dalam tahap operasional konkret (Concrete Operation) yaitu berkembang dan berpikir logis untu memecahkan masalah-masalah konkrit (Piaget dalam Nabisi Lapono 2008:19). Sebagai contoh jika akan menghitung jumlah sapi, siswa kita ajak ke kandang sapi.peran berhitung khususnya penjumlahan sangatlah besar dalam mempelajari bagianbagian Matematika yang lain. Oleh karena itu penguasaan konsep penjumlahan akan menjadi landasan atau kemampuan prasyarat untuk menguasai ilmu matematika, yang pada akhirnya akan sangat menentukan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi pada umumnya. Sebaliknya kelemahan dalam menjumlahkan akan berdampak lemahnya penguasaan matematika, yang pada akhirnya lemah pula penguasaan pengetahuan dan teknologi. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) bagaimana proses pembelajaran penjumlahan bilangan bulat menggunakan media manikmanik dapat meningkatkan kemampuan menjumlah bilangan bulat pada peserta didik kelas IV SDN 05 Bantarbolang; 2) seberapa banyak peningkatan kemampuan penjumlahan bilangan bulat peserta didik kelas IV SDN 05 Bantarbolang; dan 3) bagaimana perubahan perilaku belajar peserta didik kelas IV SDN 05 Bantarbolang Pemalang dalam pembelajaran penjumlahan bilangan bulat menggunakan media manikmanik. 4
Tujuan penelitian ini adalah: 1) mendeskripsikan proses pembelajaran penjumlahan bilangan bulat menggunakan media manikmanik dapat meningkatkan kemampuan penjumlahan bilangan bulat pada peserta didik kelas IV SDN 05 Bantarbolang, 2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan penjumlahan bilangan bulat pada peserta didik kelas IV SDN 05 Bantarbolang dengan menggunakan media manik-manik, dan 3) mendeskripsikan perubahan perilaku belajar peserta didik kelas IV SDN 05 Bantarbolang Pemalang dalam pembelajaran penjumlahan bilangan bulat menggunakan media manik-manik. Penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan menjadi panduan guru sebagai usaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas pada mata pelajaran matematika, Sebagai masukan bagi siswa dalam meningkatkan kemampuan memahami konsep penjumlahan bilangan bulat. LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN Hakikat Kemampuan Kemampuan dalam kamus besar bahasa indonesia berasal dari kata dasar mampu yang berarti kuasa (bisa, sanggup) melakukan. Selanjutnya dijelaskan kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, kekuatan kita berusahan dengan diri sendiri (Depdiknas,2002). Istilah kemampuan siswa biasa dikenal dengan kompetensi. Menurut Poerwadarminta dalam kamus umum Bahasa Indonesia, kompetensi adalah kewenangan (kekuasaan) untuk memutuskan atau menentukan suatu hal. Menurut Della Summers, (200:311) dan Radolf Quirk (2005:88) Kompetensi adalah sebagai kemampuan mengerjakan sesuatu dengan benar (competency is ability to do something well). Sedangkan Sally Wechmeire-Michael Abhy (2009:246) berpendapat bahwa kompetensi adalah kemampuan untuk mengerjakan sesuatu dengan baik atau suatu ketrampilan yang di perlukan untuk suatu pekerjaan atau tugas tertentu (competency is the ability to do something well or a skill that you need in 5
particular job or for a partikular task). (http://www.blogger.com/profile/10668998072673499063) Berpijak dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud kemampuan siswa adalah pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang dikuasai siswa untuk memperagakan atau mengerjakan sesuatu dengan benar. Pengertian Penjumlahan bilangan Bulat Dari wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, pengertian penjumlahan adalah bentuk operasi bilangan yang ditandai dengan simbol/tanda (+/U). Sedangkan bilangan bulat adalah bilangan yang terdiri dari bilangan 0, bilangan negatif dan bilangan asli/bilangan positif atau jika di tulis dalam bentuk himpunan bilangan bulat adalah (..-3;-2;- 1;0;1;2;3;.). Berdasarkan uraian diatas dapat di simpulkan bahwa pengertian kemampuan memahami konsep penjumlahan bilangan bulat adalah kecakapan mengerti dalam menjumlahkan bilangan bulat dengan benar. Pengertian Metode Demonstrasi Secara umum demonstrasi dapat diartikan sebagai salah satu cara penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan pada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik dalam bentuk sebenarnya maupun dalam bentuk tiruan yang dipertunjukkan oleh guru atau sumber belajar lain yang ahli dalam topik bahasan yang harus didemonstrasikan. Metode Demonstrasi biasanya berkenaan dengan tindakan-tndakan atau prosedur yang dilakukan, misalnya: proses menggunakan sesuatu, proses mengerjakan sesuatu, membandingkan suatu cara dengan cara yang lain, atau untuk mengetahui/melihat kebenaran sesuatu. Menurut Udin S. Winata Putra, dkk ( 2004 : 424 ) Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan mempertunjukkan secara langsung objek atau cara melakukan sesuatu untuk memperunjukkan proses tertentu. Sedangkan menurut Syaiful Bahri 6
Djamarah ( 2000 : 54 ) : Metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan suatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran. Dari beberapa pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa metode demonstrasi menurut penulis adalah cara penyajian pelajaran dengan memperagakan secara langsung proses terjadinya sesuatu yang disertai dengan penjelasan lisan. Pengertian Media Manik-manik Pengertian Media Yang dimaksud media di sini adalah media pembelajaran.media pembelajaran merupakan alat bantu yang dapat mempermudah proses penerimaan materi yang disampaikan oleh guru sehingga akan mempermudah siswa mencapai tujuan pembelajaran. Dengan media pembelajaran maka siswa lebih termotivasi dalam menerima dan mempelajari materi pembelajaran. Pengertian Manik-Manik Yang dimaksud manik-manik berupa butiran-butiran benda yang kecil-kecil seperti batu, kancing baju, tasbih dan sejenisnya.media manikmanik dapat digunakan untuk memvisualisasikanatau menggambarkan secara konkrit proses perhitungan bilangan bulat. Cara penerapannya adalah sebagai berikut: 1) Dengan menggunakan pendekatan konsep himpunan, 2) Bentuknya dapat berupa butiran setengah lingkaran atau lingkaran penuh, 3) Untuk menggambarkan bilangan bulat positif dan negatif,manik-manik diberi warna yang berbeda, 4) Jika ada manik-manik berwarna berbeda berpasangan sama dengan netral (nol). Gb. 1 : Simbol bilangan bulat positif Gb. 2 : Simbol bilangan bulat negatif 7
1 pasang=0 2 pasang=0 3 pasang=0 Gb. 3 : Positif dan negative yang berpasangan, Sama dengan netral atau nol (0) Contoh penggunaan dalam operasi penjumlahan bilangan bulat adalah sebagai berikut. 1) 3 + ( 2) = 1 ( 2 manik kuning dan 2 manik merah berpasangan sama dengan netral atau nol. Jadi tinggal 1 manik kuning/1 positif = 1 2) 3 + 2 = 1 ( 2 manik kuning dan 2 manik merah berpasangan sama dengan netral atau nol. Jadi tinggal 1 manik merah/1 negatif = 1 ) Gb. 4 : Peragaan penjumlahan Kerangka Berpikir berikut Kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagi 8
Kondisi Guru belum menggunakan media manik-manik dan metode demonstrasi untuk menjelaskan konsep penjumlahan bilangan bulat,pemahaman penjumlahan penjumlahan bulat rendah Tindakan Menggunakan media manikmanik dan metode demontrasi untuk menjelaskan konsep penjumlahan bilangan bulat dan mengaktifkan siswa Kondisi Akhir Gb.5 :Skema kerangka berfikir Pemahaman konsep penjumlahan bilangan bulat meningkat Kerangka sebagaimana digambarkan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Kondisi awal Guru belum menggunakan media manik-manik dan metode demonstrasi 9
Untuk menjelaskan konsep penjumlahan bilangan bulat, pemahaman penjumlahan bilangan bulat rendah. 2. Tindakan Guru melaksanakan pembelajaran inovatif yang mampu mengaktifkan siswa dengan menggunakan media manik-manik dan metode demonstrasi. 3. Kondisi Akhir Kondisi akhir yang diharapkan siswa mampu memahami konsep bilangan bulat dengan maksimal. Hipotesis Tindakan Hipotesis Penelitian Tindakan kelas ini dapat di uraikan sebagai berikut Dengan menggunakan metode Demonstrasi dan media Manikmanik dalam pembelajaran matematika pada bilangan bulat, maka diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar penjumlahan bilangan bulat pada siswa kelas IV SD Negeri 05 Bantarbolang Tahun Pelajaran 2013-2014. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan januari sampai dengan bulan mei 2014. Jenis penelitiannya adalah PTK, Penelitian Tindakan Kelas ialah suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis reflektif terhadap berbagai tindakan yang dilakukan oleh guru sekaligus sebagai peneliti, sejak disusunnya suatu perencanaan sampai penilaian terhadap tindakan nyata di dalam kelas, yang berupa kegiatan belajar mengajar, untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan (Subyantoro 2012:12). Siklus I dilaksanaka pada tanggal 12 Februari 2014. Pelaksanaan siklus II satu kali pertemuan hari Rabu tanggal 5 Maret 2014. Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah kemampuan penjumlahan bilangan bulat peserta didik kelas IV SDN 05 Bantarbolang Pemalang. Siswa kelas IV berjumlah 30 siswa, terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan. Variabel penelitian tindakan kelas ini ada dua, 10
yaitu kemampuan penjumlahan bilangan bulat dan penggunaan media manik-manik. Instrumen pengumpul data yang digunakan adalah instrumen tes untuk penilaian kemampuan penjumlahan bilangan bulat. Instrumen tes berisi aspek-aspek, rentang skor, bobot penilaian, dan nilai maksimal yang diperoleh siswa. Instrumen nontes digunakan untuk mengetahui perubahan perilaku siswa dalam proses pembelajaran, dan juga tanggapan siswa terhadap pembelajaran penjumlahan bilangan bulat menggunakan media manik-manik. Penelitian ini menggunakan dua teknik pengumpulan data, yaitu teknik tes dan nontes. Teknik tes yang digunakan dalam penelitian ini berupa kegiatan siswa dalam mengerjakan soal isian sebanyak 10 nomor. Tes ini dilakukan dua kali yaitu pada siklus I dan siklus II. Teknik nontes untuk mengetahui keadaan siswa selama proses pembelajaran dan perubahan perilaku selama proses pembelajaran. Data yang terkumpul dalam penelitian ini menggunakan teknik nontes berupa teknik wawancara,dan observasi. Analisis data yang digunakan pada proses pembelajaran penjumlahan bilangan bulat menggunakan media manik-manik adalah analisis kuantitatif dan kualitatif. Data yang dianalisis adalah data tes dan nontes. Indikator kinerja penelitian ini adalah: 1) ketercapaian ketuntasan minimal 65 dengan jumlah siswa tuntas minimal 85% dari seluruh siswa di kelas, 2) peningkatan kemampuan penjumlahan bilangan bulat secara klasikal dari rata-rata kurang menjadi baik, dan 3) perubahan perilaku siswa ke arah positif. Prosedur penelitian pada siklus I meliputi, apersepsi, penyampaian tujuan pembelajaran, dan penjelasan kegiatan. Kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan proses pembelajaran penjumlahan bilangan bulat menggunakan media manik-manik, 1) siswa masuk pada kelompok belajar masing-masing terdiri 4-5 orang; 2) guru menjelaskan dan mendemonstrasikan penggunaan manik-manik dalam penjumlahan bilangan bulat; 3) membagi kertas kerja pada tiap kelompok; 4) siswa 11
memperagakan penjumlahan bilangan bulat dengan menggunakan manikmanik; 5) siswa mengerjakan lembar kerja siswa secara berkelompok; 6) siswa melaporkan hasil kerja di depan kelas; 7) siswa mengerjakan soal; 8) membahas secara klasikal hasil pembuatan puisi bebas dari kelompok; 9) bertanya jawab kesulitan yang dialami siswa selama proses pembelajaran; 10) guru memberikan penguatan kepada siswa terhadap materi yang telah diterima yang menekankan nilai-nilai karakter bangsa; dan 11) mengadakan refleksi pembelajaran. Prosedur penelitian pada siklus II meliputi, apersepsi, penyampaian tujuan pembelajaran, dan penjelasan kegiatan. Kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan proses pembelajaran penjumlahan bilangan bulat menggunakan media manik-manik, 1) siswa masuk pada kelompok belajar masing-masing terdiri 4-5 orang; 2) guru menjelaskan dan mendemonstrasikan penggunaan manik-manik dalam penjumlahan bilangan bulat; 3) membagi kertas kerja pada tiap kelompok; 4) siswa memperagakan penjumlahan bilangan bulat dengan menggunakan manikmanik; 5) siswa mengerjakan lembar kerja siswa secara berkelompok; 6) siswa melaporkan hasil kerja di depan kelas; 7) siswa mengerjakan soal; 8) membahas secara klasikal hasil pembuatan puisi bebas dari kelompok; 9) bertanya jawab kesulitan yang dialami siswa selama proses pembelajaran; 10) guru memberikan penguatan kepada siswa terhadap materi yang telah diterima yang menekankan nilai-nilai karakter bangsa; dan 11) mengadakan refleksi pembelajaran. Observasi selama pembelajaran dilakukan untuk mengetahui segala hal yang berhubungan dengan pembelajaran maupun respon terhadap media manik-ma yang digunakan oleh guru. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA Hasil penelitian kelas ini diperoleh dari tindakan prasiklus, siklus I, dan siklus II. 12
Pra siklus Pembahasan ini kita mulai dari melihat hasil nilai Matematika siswa kelas IV SD Negeri 05 Bantarbolang sebelum tindakan seperti terlihat pada tabel frekuensi nilai matematika siswa kelas IV Tabel 1. Nilai Matematika Siswa Kelas IV NO INTERVAL NILAI FREKUENSI PROSENTASE KATEGORI 1 60-100 10 33,33% Tuntas 2 <65 20 66,67% Belum Tuntas Jumlah 30 100% Sumber : Daftar Nilai Harian Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa sebelum dilaksanakan tindakan, siswa yang memperoleh nilai dengan kategori tuntas hanya sebanyak 10 siswa atau 33,33 %, sedangkan siswa yang memperoleh nilai dengan kategori belum tuntas sebanyak 20 siswa atau 66,67 %. Bila ditunjukkan dalam bentuk grafik akan terlihat seperti gambar di bawah ini: 80,00% 70,00% 60,00% 50,00% 40,00% 30,00% 66,67% 20,00% 10,00% 0,00% 33,33% 10 20 13
Gb,1 : Grafik Nilai Matematika Siswa Kelas IV SD Negeri 05 Bantarbolang Sebelum Tindakan Siklus I Proses Pembelajaran Berdasarkan identifikasi masalah yang telah ditentukan, selanjutnya menyusun rencana pembelajaran. Rencana pembelajaran yang ditetapkan adalah menggunakan metode diskusi dan media manik-manik.proses pembelajaran dapat dilihat pada dokumen foto berikut ini: Dari dokumen foto di atas terlihat aktivitas pembelajaran siklus I. Pengamat sedang memperhatikan guru dalam menjelaskan penggunaan alat peraga, guru menjelaskan cara menggunakan manik-manik dalam penjumlahan bilangan bulat. Sementara peserta didik lain memperhatikan, Peserta didik memperagakan di depan kelas dengan bimbingan guru. Peningkatan Hasil Belajar Setelah dilaksanakan tindakan pada siklus I dengan pembelajaran menggunakan media manik-manik, diperoleh data hasil penilaian prestasi belajar Matematika siswa kelas IV SD Negeri 05 Bantarbolang meningkat seperti yang terlihat pada grafik di bawah ini: 14
12 10 8 6 4 2 0 40 50 60 70 80 90 100 Gb.2 Grafik Nilai Matematika Siswa Kelas IV SD Negeri 05 Bantarbolang Setelah Tindakan Siklus 1 Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa setelah dilaksanakan tindakan siklus I,siswa yang memperoleh nilai dengan kategori tuntas mengalami kenaikan yaitu yang semula 10 siswa atau 33,33 % menjadi sebanyak 20 siswa atau 66,67 %, sedangkan siswa yang memperoleh nilai dengan kategori belum tuntas mengalami penurunan yaitu yang semula 20 siswa atau 66,67 % menjadi 10 siswa atau 33,33 %. Berdasarkan indikator keberhasilan pembelajaran dinyatakan bahwa pembelajaran dikatakan berhasil apabila nilai prestasi siswa 65,0 lebih dari 85 % atau 26 siswa dari 30 siswa. Dengan demikian, walaupun siswa yang tuntas meningkat, tetapi karena siswa yang tuntas belum berjumlah 26 siswa, maka pembelajaran siklus I belum berhasil. Perubahan Perilaku Peserta Didik Perubahan perilaku peserta didik selama dalam proses pembelajaran dengan media manik-manik dapat digambarkan sebagai berikut 15
Tabel 2. Hasil Observasi Perilaku Peserta Didik Siklus I No Perilaku yang Diobservasi Jumlah Peserta Didik % 1. Disiplin 30 100 2. Percaya diri 9 30 3. Kerja sama 15 50 4. Tanggung jawab 12 40 Rata-rata 16 55 Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa kedisiplinan seluruh peserta didik sangat baik (100%). Indikator yang digunakan untuk mengetahi kedisiplinan peserta didik adalah seberapa besar peserta didik yang mengikuti langkah-langkah pembelajaran mulai dari pembenukan kelompok, mengerjakan tugas, dan mengerjakan kuis. Perilaku percaya diri peserta didik pada siklus I baru mencapai 30%.Sikap kerja sama peserta didik pada siklus mencapai 50%. Sikap kerja sama ini ditujukkan dengan interaksi peserta didik dalam kegiatan diskusi kelompok. Sikap tanggung jawab peserta didik mencapai 40%, Sikap tanggung jawab peserta didik dapat diamati ketika peserta didik mengerjakan tugas sesuai dengan pembagian tugasnya pada masing-masing kelompok. Refleksi Siklus I Hasil refleksi pada siklus 1 ini menunjukan bahwa siswa cukup aktif memperhatikan penjelasan guru dan menjawab pertanyaan guru.pemahaman konsep penjumlahan bilangan bulat sudah mulai meningkat,terbukti dari hasil nilai ulangan menunjukan bahwa siswa yang memperoleh nilai > 65 sebanyak 20 siswa dari 30 siswa atau 66,67% dengan rata-rata kelas mencapai 69,67. Siklus II Proses Pembelajaran Berdasarkan identifikasi masalah yang telah ditentukan, selanjutnya menyusun rencana pembelajaran. Rencana pembelajaran yang ditetapkan 16
adalah menggunakan metode diskusi dan media manik-manik.proses pembelajaran dapat dilihat pada dokumen foto berikut ini: Dari dokumen foto di atas terlihat aktivitas pembelajaran siklus II. Pengamat sedang memperhatikan peserta didik yang sedang memperagakan di depan kelas serta memperhatikan peserta didik yang sedang aktif mengerjakan tugas dalam kelompoknya. Peningkatan Hasil Belajar Untuk data hasil penilaian prestasi belajar Matematika siswa kelas IV SD Negeri 05 Bantarbolang pada siklus II dapat di lihat pada grafik berikut: 12 10 8 6 4 2 0 60 70 80 90 100 Gb,9 : Grafik Nilai Matematika Siswa Kelas IV SD Negeri 05 Bantarbolang Setelah Tindakan Siklus II 17
Tabel 3: Frekuensi Nilai Matematika Siswa Kelas IV SD Negeri 05 Bantarbolang Setelah Tindakan Siklus II NO INTERVAL NILAI FREKUENSI PROSENTASE KATEGORI 1 60-100 27 90% Tuntas 2 <65 3 10% Belum Tuntas Jumlah 30 100% Sumber : Daftar Nilai Harian Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa setelah dilaksanakan tindakan siklus II,siswa yang memperoleh nilai dengan kategori tuntas mengalami kenaikan yang signifikan yaitu yang semula 20 siswa atau 66,67% pada siklus I menjadi sebanyak 27 siswa atau 90% sedangkan siswa yang memperoleh nilai dengan kategori belum tuntas mengalami penurunan yang semula 10 siswa atau 33,33% menjadi 3 siswa atau 10%. Berdasarkan indikator keberhasilan pembelajaran dinyatakan bahwa pembelajaran dikatakan berhasil apabila nilai prestasi siswa 65,0 lebih dari 85% atau 27 siswa dari 30 siswa. Dengan demikian, pembelajaran pada siklus II berhasil. Perubahan Perilaku Peserta Didik Perubahan perilaku peserta didik selama dalam proses pembelajaran dengan media manik-manik dapat digambarkan sebagai berikut Tabel 2. Hasil Observasi Perilaku Peserta Didik Siklus II No Perilaku yang Diobservasi Jumlah Peserta Didik % 1. Disiplin 30 100 2. Percaya diri 15 50 3. Kerja sama 24 80 4. Tanggung jawab 24 80 Rata-rata 23 77,5 18
Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa kedisiplinan seluruh peserta didik sangat baik (100%). Indikator yang digunakan untuk mengetahi kedisiplinan peserta didik adalah seberapa besar peserta didik yang mengikuti langkah-langkah pembelajaran mulai dari pembenukan kelompok, mengerjakan tugas, dan mengerjakan kuis. Perilaku percaya diri peserta didik pada siklus II mencapai 30%.Sikap kerja sama peserta didik pada siklus II mencapai 80%. Sikap kerja sama ini ditujukkan dengan interaksi peserta didik dalam kegiatan diskusi kelompok. Sikap tangung jawab peserta didik mencapai 80%. Sikap tanggung jawab peserta didik dapat diamati ketika peserta didik mengerjakan tugas sesuai dengan pembagian tugasnya pada masing-masing kelompok. Refleksi Siklus II Data-data yang di peroleh melalui observasi dikumpulkan untuk di analisis.berdasarkan hasil observasi yang dilaksanakan selama proses pelaksanaan pembalajaran,diketahui bahwa sudah menunjukan keberhasilan dalam pembelajaran. Hasil refleksi pada siklus II ini menunjukan bahwa siswa lebih aktif memperhatikan penjelasan guru dan menjawab pertanyaan guru. Pemahaman konsep penjumlahan bilangan bulat meningkat, terbukti dari hasil nilai ulangan menunjukan bahwa siswa yang memperoleh nilai 65 sebanyak 27 siswa dari 30 siswa atau 90% dengan rata-rata kelas mencapai 79,33, sehingga penelitian sudah dianggap berhasil dan tidak perlu dilanjutkan ke siklus 3 Pembahasan Antar Siklus Secara lebih rinci peningkatan prestasi belajar Matematika siswa kelas IV SD Negeri 05 Bantarbolang selama dua siklusdapat disajikan seperti tabel dibawah ini. 19
No 1 2 3 Tabel 4 : rekapitulasi Nilai Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas IV SD Negeri 05 Bantarbolang. Uraian Sebelum Tindakan Siklus I Siklus II Ket Nilai rata-rata Kelas 58,33 69,67 79,33 Meningkat Jumlah Siswa 10 siswa 20 siswa 27 siswa Yang Tuntas (33,33%) (66,67%) (90%) Meningkat Jumlah Siswa 20 siswa 10 siswa 3 siswa Yang belum (66,67%) (33,33%) (10%) tuntas Menurun Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa nilai rata-rata kelas yang semula 58,33% pada waktu sebelum tindakan meningkat menjadi 69,67% pada siklus 1 dan meningkat lagi menjadi 79,33% pada siklus II. Demikian juga jumlah siswa yang tuntas semula 10 siswa pada waktu sebelum tindakan, meningkat menjadi 20 siswa pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 27 siswa pada siklus II. Sedangkan jumlah siswa yang belum tuntas semula 20 siswa menurun menjadi 10 siswa pada siklus 1 dan menurun lagi menjadi 3 siswa pada siklus II. Grafik rekapitulasi nilai prestasi belajar Matematika siswa kelas IV SD Negeri 05 Bantarbolang dapat terlihat seperti gambar dibawah ini. 20
90 80 70 60 50 40 30 58,33 69,67 79,33 20 10 0 Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2 Gb. 11 : Grafik Rekapitulasi nilai prestasi belajar Matematika siswakelas IV SD Negeri 05 Bantarbolang. Berdasarkan uraian diatas terlihat bahwa pembelajaran sudah berhasil. Pemahaman konsep penjumlahan bilangan bulat meningkat. Hal ini ditandai dengan meningkatnya aktivitas dan prestasi siswa dalam penilaian. Dengan demikian dapat diajukan suatu rekomendasi bahwa penggunaan media manik-manik efektif dapat meningkatkan pemahaman konsep penjumlahan bilangan bulat pada siswa kelas IV SD Negeri 05 Bantarbolang Kecamatan Bantarbolang Kabupaten Pemalang khususnya dan siswa-siswa kelas IV sekolah dasar lain pada umumnya. PENUTUP Simpulan Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan: 1) proses pembelajaran menggunakan metode demonstrasi dan media manik-manik dapat meningkatkan aktifitas belajar peserta didik pada pembelajara matematika materi penjumlahan bilangan bulat kelas IV SD Negeri 05 Bantarbolang tahun pelajaran 2013/2014, 2) pembelajaran menggunakan 21
metode diskusi dan media manik-manik dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada pembelajaran matematika materi penjumlahan bilangan bulat kelas IV SD Negeri 05 Bantarbolang tahun pelajaran 2013/2014, yaitu ketuntasan belajar meningkat dari 69,67% dengan rata-rata nilai 69,67 pada siklus 1 menjadi 90% dengan rata-rata nilai 79,33 pada siklus 2, dan 3) perilaku peserta didik dapat berubah ke arah yang lebih positif. Saran Sesuai dengan kesimpulan hasil penelitian dan dalam rangka ikut menyumbangkan pemikiran bagi guru dalam meningkatkan prestasi belajar, khususnya mata pelajaran Matematika, maka saran yang dapat diberikan : 1). Sekolah hendaknya mengupayakan pengadaan berbagai alat peraga Matematika khususnya dan alat peraga lain pada umumnya agar pembelajaran lebih bermakna melalui metode-metode pembelajaran, 2). Guru hendaknya mempersiapkan secara cermat perangkat pendukung dalam pembelajaran karena hal itu sangat mempengaruhi efektivitas dan efiesiensi pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA Arsyad,Azhar.2002.Media pambelajaran,jakarta PT Grasindo Persada. Depdikbud,2002. Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar. Jakarta:Dikdasmen. Herusaoping.blog.com/2009/12/pengertian-kompetensi.html. (http://www.bloger.com/profile/10668998072673499063). Hopkins,David 1993.A.rhecher s Guide to classroom Research second Edition,Philadelphia:Universitas Terbuka. Miles,M.B & Huberman,A.m.1994 qualitative data analysis : An eypanded source book.new York: SAGE Publication. Nabisi Lapono, dkk.2008.belajar dan Pembelajaran SD. Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas S.Hamid Hasan,1995..pendidikan sosial.departeman Pendidikan dan Kebudayaan.Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.Bandung. Skeel,Dorothy J.1995.Elementari social studies:knowing,doing,caring New York:Macmilan Publising Co.Ltd. 22
Syaiful Bahri Djamara,2000.Strategi Belajar Mengajar.Jakarta:PT.Rineka Cipta. Udin,dkk.2004.Strategi belajar mengajar.jakarta.universitas Terbuka. Wiliam D.Powel,1997.Linguist Versionl,o,PT.Arlantis Program Prima. 23