Pert 12. Team Teaching Universitas Islam Malang 2016

dokumen-dokumen yang mirip
COST ACCOUNTING MATERI-9 BIAYA BAHAN BAKU. Universitas Esa Unggul Jakarta

AKUNTANSI BIAYA BAHAN BAKU. Akuntansi Biaya TIP FTP UB Mas ud Effendi

METODE HARGA POKOK PESANAN

Akuntansi Biaya. Bahan Baku: Pengendalian, Perhitungan Biaya, dan Perencanaan. Yulis Diana Alfia, SE., MSA., Ak., CPAI. Modul ke:

AKUNTANSI BIAYA. Bahan Baku : Pengendalian, Perhitungan Biaya, dan Perencanaan. VENY, SE.MM. Modul ke: Fakultas EKONOMI. Program Studi AKUNTANSI

B I A YA B A H AN A. Perencanaan Bahan Tujuan perencanaan bahan Masalah yang timbul dalam perencanaan bahan

BAB II LANDASAN TEORI

Akuntansi Biaya. Materials : Controlling, Costing, and Planning. Wahyu Anggraini, SE., M.Si. Modul ke: Fakultas FEB. Program Studi Manajemen S1

Analisis Estimasi Biaya. Hanna Lestari, M.Eng Teknik Industri-UDINUS-2014

AKUNTANSI BIAYA BAHAN BAKU

BIAYA BAHAN. Endang Sri Utami, SE., M.Si., Ak, CA

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

METODE HARGA POKOK PESANAN (FULL COSTING) A K U N T A N S I B I A Y A T I P F T P UB

BAB II LANDASAN TEORI. penanganan secara seragam transaksi perusahaan yang terjadi berulang-ulang

LAMPIRAN. Lampiran 1. - Internal Control Questionaire (ICQ) Pertanyaan dalam kuesioner dapat dijawab dengan :

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Audit operasional atas fungsi pembelian dan hutang usaha pada PT Prima Auto

PDF created with pdffactory Pro trial version

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II LANDASAN TEORI

MODUL I AKUNTANSI BIAYA BAHAN BAKU

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI. maka penulis melakukan studi pustaka yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti

Akuntansi Biaya. Bahan Baku : Pengendalian, Perhitungan Biaya, dan Perencanaan (Materials : Controlling, Costing and Planning)

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1. Tahap Penelitian. Tahapan penelitian dibagi menjadi beberapa bagian yaitu: a. Tahap Pendahuluan

COST ACCOUNTING. Material : Controlling, Costing, and Planning. Riaty Handayani, SE., M.Ak. Modul ke: Fakultas Ekonomi dan Bisnis

KUESIONER I UNTUK VARIABEL INDEPENDEN "SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMBELIAN BAHAN BAKU" No. Pertanyaan SS S R TS STS 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Mulyadi (2001:5) sistem adalah suatu jaringan prosedur yang dibuat menurut

METODE HARGA POKOK PESANAN (JOB ORDER COST METHOD) FULL COSTING - Oleh : Ani Hidayati

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II BAHAN RUJUKAN

Clara Susilawati, MSi

HARGA POKOK PESANAN. Kasus:

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 3 METODE PENELITIAN. Jenis dan metode yang digunakan peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini adalah

MODUL PRAKTIKUM AKUNTANSI BIAYA

METODE HARGA POKOK PESANAN FULL COSTING. AKUNTANSI BIAYA EKA DEWI NURJAYANTI, S.P., M.Si

Adalah bahan yang membentuk bagian menyeluruh produk jadi

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Akuntansi Persediaan (INVENTORY)

PERTEMUAN KEEMPAT PERSEDIAAN BARANG (1) Pengertian Persediaan

BAB II LANDASAN TEORI. mengenai definisi akuntansi terlebih dahulu. Penjelasan mengenai definisi

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA. pembahasan mengenai perbandingan dan perhitungan PPh pasal 21 Metode

METODE HARGA POKOK PESANAN FULL COSTING

BAB II LANDASAN TEORI

ANALISIS BIAYA PEMASARAN

MANAJEMEN PERSEDIAAN. ERLINA, SE. Fakultas Ekonomi Program Studi Akuntansi Universitas Sumatera Utara

BAB II KAJIAN TEORI. mengolah atau mengorganisir dokumen dokumen yang ada tujuannnya untuk

Evaluasi sistem dan prosedur pembelian bahan baku. pada perusahaan j rot galery. di Klaten. Oleh : Riasti F BAB I PENDAHULUAN

BAB II LANDASAN TEORI

Latihan Soal Akuntansi Biaya & Praktek (1)

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA. Pada bab empat ini akan dijelaskan mengenai sejarah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pada perusahaan dagang dan industri, persediaan merupakan aktiva lancar

Bab II Dasar Teori 2.1 Pengertian Sistem Akuntansi 2.2 Pengertian Penjualan Kredit 2.3 Pengertian Sistem Penjualan Kredit

BAB 4 PENILAIAN PERSEDIAAN DAN PERHITUNGAN HARGA POKOK PENJUALAN

langsung Biaya Tenaga kerja

Ada 2 metode yang umum digunakan dalam akumulasi biaya, yaitu : 1. Metode Akumulasi Biaya Pesanan. 2. Metode Akumulasi Biaya Proses.

BAB I PENDAHULUAN. optimal sesuai dengan pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang, sehingga

MANAJEMEN PERSEDIAAN. Heizer & Rander

BAB II BAHAN RUJUKAN. 2.1 Tinjauan Umum Atas Sistem Informasi Akuntansi. Sistem pada dasarnya adalah sekelompok unsur yang berhubungan erat

BAB II DASAR TEORI. diperlukan oleh berbagai macam pihak yang berkepentingan. Pihak pihak

BAB II BAHAN RUJUKAN. Akuntansi biaya melengkapi manajemen dengan perangkat akuntansi untuk

BAB II BAHAN RUJUKAN. Sistem pada dasarnya adalah suatu jaringan yang berhubungan dengan

BAB II LANDASAN TEORI. Pengertian sistem menurut Anastasia dan Lilis (2010:3), sistem merupakan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pencapaian tiga golongan tujuan berikut ini: a. Keandalan pelaporan keuangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 adalah sebagai berikut:

SIKLUS PENGELUARAN B Y : M R. H A L O H O

Sistem akuntansi penjualan, terdiri dari kegiatan-kegiatan transaksi penjualan: kredit dan tunai

Biaya persediaan = Rp ,-

. BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Prosedur dalam Sistem Penjualan Kredit. 1. Prosedur Penjualan Kredit dan Piutang Dagang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DISTRIBUTOR DISTRIBUTOR DISTRIBUTOR DISTRIBUTOR DISTRIBUTOR. Barang/ Jasa PERUSAHAAN. Kas / Utang

BAB IV AUDIT OPERASIONAL ATAS PENGELOLAAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU PADA PT NORITA MULTIPLASTINDO

BAB II LANDASAN TEORI. kegiatan, baik kegiatan dalam usaha maupun dalam pendidikan. Setiap

BAB I PENDAHULUAN. dikumpulkan, diproses menjadi informasi, dan didistribusikan kepada para

PENENTUAN BIAYA PROSES: AKUNTANSI KERUGIAN PRODUKSI

BAB II LANDASAN TEORI. untuk melaksanakan pokok perusahaan. (Mulyadi (2001:5))

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II BAHAN RUJUKAN

ABSTRAK. i Universitas Kristen Maranatha

SISTEM AKUNTANSI BIAYA. Endang Sri Utami, S.E., M.Si., Ak., CA

Ill. SIKLUS AKUNTANSI

BAB VIII SIKLUS PENGELUARAN: PEMBELIAN DAN PENGELUARAN KAS

BAB AKUNTANSI PERUSAHAAN DAGANG

MANAJEMEN PERSEDIAAN. a. Pengertian Persediaan. 2) Persediaan Barang Dalam Proses. 2) Persediaan Barang Jadi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pert 4. Team Teaching

Manajemen Produksi dan Operasi. Inventory M-4

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan perusahaan adalah untuk mendapat keuntungan dengan biaya

BAB V ANALISIS PEMECAHAN MASALAH

BAB V PENGELOLAAN PERSEDIAAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III PEMBAHASAN Tinjauan Teori Pengertian Sistem dan Prosedur

BAB IV AUDIT OPERASIONAL ATAS FUNGSI PEMBELIAN BAHAN BAKU PT KARYADINAMIKA GRAHA MANDIRI

BAB II BAHAN RUJUKAN. Setiap perusahaan, baik itu perusahaan jasa maupun perusahaan manufaktur,

BAB II BAHAN RUJUKAN. 2.1 Tinjauan Umum Atas Sistem Informasi Akuntansi. Sistem pada dasarnya adalah suatu jaringan yang berhubungan dengan

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Mulyadi ada empat unsur pokok dalam definisi biaya tersebut yaitu :

INVESTASI DALAM PERSEDIAAN

Transkripsi:

Pert 12 Team Teaching Universitas Islam Malang 2016

Bahan dibagi menjadi 2 golongan, yaitu: Bahan baku (bahan langsung) adalah bahan yang menjadi bagian produk jadi dan dapat diidentifikasi ke produk jadi. Contoh: kayu untuk perusahaan mebel. Bahan penolong pabrik (bahan tidak langsung) adalah bahan yang tidak dapat diidentifikasi ke produk atau bahan yang nilainya relatif tidak signifikan dibandingkan dengan nilai produk jadi. Contoh: paku, cat, kertas amplas pada perusahaan mebel.

No Kesalahan Risiko yang Ditimbulkan 1 Terlambat memesan bahan Perusahaan akan mengalami kekurangan bahan, proses produksi terganggu, pemenuhan pesanan kepada pemesan akan terganggu, dan kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendapatan. 2 Memesan bahan dalam jumlah (unit) terlalu banyak Biaya simpan terlalu besar dan laba berkurang. 3 Memesan bahan berkualitas rendah Proses produksi menjadi tidak efisien. 4 Terlalu tinggi mencatat harga bahan yang dipesan 5 Salah mencatat dan membukukan pembelian dan pembayaran 6 Memesan bahan kepada pemasok yang tidak tepat 7 Menyimpan bahan pada tempat yang tidak semestinya Perusahaan akan membayar bahan terlalu tinggi (kehilangan kas), catatan persediaan bahan tidak akurat, laporan keuangan tidak akurat. Laporan keuangan tidak akurat, pengambilan keputusan akan keliru. Bahan yang diterima tidak terjamin kualitasnya. Rawan terhadap pencurian dan penyalahgunaan bahan

Pengendalian Intern terhadap Bahan Pengendalian intern dimulai sejak disetujuinya anggaran penjualan dan produksi sampai dengan produk selesai diproses dan siap dikirim ke pemesan atau gudang. Pengendalian intern harus dirancang sesuai kebutuhan perusahaan, yaitu adanya pemisahan fungsi (tanggung jawab) untuk mencegah kemungkinan penyalahgunaan kekayaan perusahaan. Fungsi yang sebaiknya dipisah satu satu dengan yang lain adalah fungsi pelaksanaan transaksi, pencatatan transaksi, dan penyimpanan kekayaan perusahaan.

Prosedur pembelian bahan mencakup beberapa kegiatan, yaitu: Permintaan pembelian Pembelian bahan Penerimaan bahan sekaligus penyimpanan Persetujuan faktur dari pemasok Pembayaran kepada pemasok

per PERMINTAAN PEMBELIAN Bagian Pembelian Menerbitkan order pembelian untuk pemasok, B. Akuntansi, B. Penerimaan, B. Gudang dan pencatatan persediaan Pemasok Mengembalikan tembusan order pembelian ke bagian pembelian Mengirim bahan Mengirim faktur Bagian Penerimaan Menerima bahan dan menerbitkan laporan penerimaan untuk bagian pembelian, gudang, dan bagian akuntansi Bagian Akuntansi Memverifikasi faktur, laporan penerimaan, dan order pembelian untuk persetujuan faktur dari pemasok Menyiapkan kupon pembayaran dan mengirimkannya ke bagian pembayaran dan pencatatan persediaan Bagian Pembayaran Melakukan pembayaran Bagian Gudang Menyimpan bahan pada tempat yang semestinya Bagian Persediaan Mencatat kuantitas dan nilai rupiah yang dibeli

Bagian Produksi Mengisi formulir permintaan bahan dan menyerahkan ke bagian gudang Bagian Gudang Melengkapi formulir permintaan bahan dengan mengisi kuantitas bahan yang dikeluarkan dari gudang Mendistribusikan formulir permintaan ke bagian akuntansi dan pencatatan persediaan Bagian Akuntansi Mencatat penggunaan bahan ke dalam jurnal Bagian Akuntansi Mencatat kuantitas dan nilai rupiah bahan yang digunakan

Terdapat dua sistem untuk mencatat pembelian dan penggunaan bahan, yaitu: Sistem periodik (sistem fisik) dan Sistem perpetual. Sistem periodik pembelian bahan dicatat pada akun pembelian. Mutasi bahan tidak dicatat pada pembukuan perusahaan sehingga biaya bahan yang digunakan tidak dapat diketahui sewaktu-waktu. Biaya bahan yang digunakan untuk produksi dihitung setelah perusahaan melakukan perhitungan fisik terhadap bahan yang belum digunakan. Perhitungan fisik umumnya dilakukan pada akhir periode akuntansi.

Penentuan biaya bahan yang digunakan untuk produksi adalah: persediaan bahan awal periode xxx (+) Pembelian bahan satu periode xxx Bahan tersedia untuk digunakan xxx (-) Persediaan bahan akhir periode (fisik) (xxx) Biaya bahan yang digunakan xxx

Sistem Perpetual Mutasi bahan (pembelian dan penggunaan) secara terus menerus dicatat pada pembukuan perusahaan. Pembelian bahan dicatat dengan men debit akun bahan dan penggunaan bahan dikreditkan ke akun bahan. Untuk mencatat secara rinci setiap pembelian dan penggunaan bahan, dibuat kartu persediaan untuk setiap jenis bahan (sebagai akun kontrol persediaan).

Transaksi Debit Akun Kontrol Kredit Pembelian bahan baku untuk stok Bahan baku Utang dagang Pembelian bahan baku untuk pesanan atau departemen produksi tertentu Penggunaan bahan baku untuk pesanan atau departemen produksi tertentu dari stok Barang Dalam Proses Barang Dalam Proses Utang dagang Bahan baku Pembelian bahan penolong untuk stok Bahan penolong Utang dagang Pembelian bahan penolong untuk pesanan atau departemen produksi tertentu Penggunaan bahan penolong untuk pesanan atau departemen produksi tertentu Penggunaan bahan penolong untuk departemen pemasaran & admin BOP Sesungguhnya BOP Sesungguhnya Biaya Pemasaran Biaya Admn & umum Utang dagang Bahan penolong Bahan penolong

Harga perolehan bahan Harga perolehan bahan mencakup 2 kategori: 1. Harga beli yang tercantum dalam faktur dari pemasok. 2. Pengeluaran lain yang terjadi untuk membeli bahan sampai bahan siap untuk diproduksi.

Contoh: Perusahaan Omega membeli bahan baku dan bahan penolong masing-masing seharga Rp.1.000.000 dan Rp.500.000. Jika perusahaan menggunakan akun terpisah untuk bahan baku dan bahan penolong maka jurnal untuk mencatat transaksi tersebut adalah: Bahan baku 1.000.000 Bahan penolong 500.000 utang dagang/kas 1.500.000

Potongan Tunai Potongan tunai dapat diberikan oleh pemasok kepada pembeli yang membayar sesuai jangka waktu yang ditetapkan pemasok. Contoh: Tanggal 20 Januari 2011, perusahaan Omega membeli bahan seharga Rp.1.000.000 dengan termin 2/10, n/30. Tanggal 25 Januari 2011, perusahaan melakukan pelunasan. Jurnal untuk mencatat transaksi tersebut adalah:

Perusahaan menggunakan metode bruto 20/1/2011 Bahan 1.000.000 Utang dagang 1.000.000 25/1/2011 Utang dagang 1.000.0000 Pot. Pembelian 20.000 Kas 980.000 Perusahaan menggunakan metode neto 20/1/2011 Bahan 980.000 Utang dagang 980.000 25/1/2011 Utang dagang 980.0000 Kas 980.000

Biaya angkut pembelian Biaya angkut dibayar oleh pembeli, berarti pengorbanan ekonomis pembeli untuk memperoleh bahan menjadi bertambah (merupakan komponen harga perolehan bahan). Contoh: Tanggal 30 Januari 2011, PT Omega membeli bahan seharga Rp.500.000 secara tunai. Biaya angkut yang dibayar PT Omega untuk mengankut bahan sampai ke gudang adalah Rp.50.000.

Jika dibeli secara tunai Bahan 550.000 Kas 550.000 Jika dibeli secara kredit Bahan 550.000 Utang dagang 500.000 Kas 50.000

Contoh Alokasi Biaya Angkut Tahun 2011, PT Omega membeli bahan berupa kertas secara kredit dengan rincian sbb: Jenis Bahan Jumlah Rim Harga Per Rim Total Harga Kertas HVS 60 gram 500 rim Rp.7.000 Rp.3.500.000 Kertas HVS 70 gram 200 rim Rp.8.500 Rp.1.700.000 Kertas HVS 80 gram 300 rim Rp.10.000 Rp.3.000.000 Total 1.000 rim Rp.8.200.000 PT Omega mengeluarkan kas sebesar Rp.1.000.000 untuk mengangkut semua bahan yang dibeli.

Biaya angkut dialokasikan secara proporsional atas dasar unit dibeli Jenis Bahan Jumlah Rim Alokasi Biaya Angkut Hasil Alokasi Kertas HVS 60 g 500 rim 500/1.000 rim x Rp.1.000.000 Rp.500.000 Kertas HVS 70 g 200 rim 200/1.000 rim x Rp.1.000.000 Rp.200.000 Kertas HVS 80 g 300 rim 300/1.000 rim x Rp.1.000.000 Rp.300.000 Total 1.000 rim Rp.1.000.000

Biaya angkut dialokasikan secara proporsional atas dasar harga beli sesungguhnya Jenis Bahan Harga Beli Alokasi Biaya Angkut Hasil Alokasi Kertas HVS 60 g Rp.3.500.000 Rp.3.500.000/Rp.8.200.000 x Rp.1.000.000 Rp.426.829 Kertas HVS 70 g Rp.1.700.000 Rp.1.700.000/Rp.8.200.000 x Rp.1.000.000 Rp.207.317 Kertas HVS 80 g Rp.3.000.000 Rp.3.000.000/Rp.8.200.000 x Rp.1.000.000 Rp.365.854 Total Rp.8.200.000 Rp.1.000.000

Biaya angkut diperhitungkan atas dasar tarif yang ditentukan dimuka Tarif biaya angkut per unit = Anggaran biaya angkut/estimasi unit bahan diangkut

Biaya pembelian bahan Kegiatan Pembelian Penerimaan Penggudangan Pencatatan Tarif Pembebanan Anggaran biaya bagian pembelian selama satu periode/estimasi frekuensi atau rupiah pembelian selama satu periode = Tarif per pembelian atau tarif per rupiah pembelian Anggaran biaya bagian penerimaan selama satu periode/estimasi jumlah jenis bahan diterima selama satu periode = Tarif per jenis bahan Anggaran biaya bagian gudang selama satu periode/esimasi jumlah jenis, kuantitas atau nilai rupiah bahan digudangkan selama satu periode = Tarif per jenis, unit, atau rupiah Anggaran biaya bagian pencatatan selama satu periode/estimasi frekuensi pembelian selama satu periode = Tarif per frekuensi pembelian Jurnal untuk mencatat pembebanan biaya pembelian bahan ke harga perolehan bahan: Bahan xxx Biaya pembelian xxx Biaya penerimaan xxx Biaya gudang xxx Biaya pencatatan xxx

Contoh: Tahun 2011, PT Betha mempunyai rencana membeli bahan sebanyak 4.000 rim kertas. Anggaran biaya pada setiap bagian yang berkaitan dengan kegiatan pembelian bahan sebanyak 4.000 rim kertas adalah: bagian pembelian Rp..000 bagian penerimaan Rp.1.500.000 bagian gudang Rp..000 bagian pencatatan Rp.1.000.000 Jurnal Bahan Rp.6.500.000 bagian pembelian Rp..000 bagian penerimaan Rp.1.500.000 bagian gudang Rp..000 bagian pencatatan Rp.1.000.000

Terdapat beberapa metode untuk mengatasi masalah perubahan harga bahan dalam kaitannya dengan penentuan biaya bahan yang digunakan, yaitu: 1. Metode identifikasi khusus : biaya yang digunakan diidentifikasi sesuai dengan harga perolehannya pada saat dibeli. 2. Metode rata-rata : biaya bahan yang digunakan ditentukan berdasarkan harga perolehan rata-rata bahan tersebut. 3. Metode MPKP : biaya bahan yang digunakan diasumsikan berasal dari harga perolehan bahan yang lebih dahulu dibeli. 4. Metode MTKP : biaya bahan yang digunakan diasumsikan berasal dari harga perolehan bahan yang lebih terakhir dibeli.

Contoh : Penentuan biaya bahan yang digunakan Tgl 1: persediaan awal 8.000 unit @Rp.50 4: pembelian unit @Rp.60 10: pembelian unit @Rp.70 11: penggunaan 8.000 unit 12: pembelian 4.000 unit @Rp.80 20: penggunaan 5.000 unit 25: pengembalian dari pabrik ke gudang 1.000 unit 28: pembelian 6.000 unit @Rp.90

Jan Unit Dibeli Digunakan Persediaan Harga Per Unit Total Unit Harga Per Unit Total Unit Harga Per Unit 1 8.000 50 400.000 400.000 4 60 120.000 8.000 10 70 140.000 8.000 11 6.000 50 60 300.000 120.000 12 4.000 80 320.000 4.000 20 1.000 50 70 80 100.000 140.000 80.000 25 1.000 80 80.000-1.000-80.000 3.000 1.000 28 6.000 90 540.000 3.000 1.000 6.000 50 60 50 60 70 50 70 50 70 80 Total Total 400.000 120.000 520.000 400.000 120.000 140.000 660.000 100.000 140.000 240.000 100.000 140.000 320.000 560.000 3.000 80 240.000 240.000 80 80 80 80 90 240.000 80.000 320.000 240.000 80.000 540.000 860.000

Jurnal untuk mencatat transaksi bahan bulan Januari 2011 sbb: 4 Jan 2011 Bahan 120.000 Utang dagang/kas 120.000 10 Jan 2011 Bahan 140.000 Utang dagang/kas 140.000 11 Jan 2011 Barang dalam proses 420.000 Bahan 420.000 12 Jan 2011 Bahan 320.000 Utang dagang/kas 320.000 20 Jan 2011 Barang dalam proses 320.000 Bahan 320.000 25 Jan 2011 Bahan 80.000 Utang dagang/kas 80.000 28 Jan 2011 Bahan 540.000 Utang dagang/kas 540.000

Jan Unit Dibeli Digunakan Persediaan Harga Per Unit Total Unit Harga Per Unit Total Unit Harga Per Unit 1 8.000 50 400.000 400.000 4 60 120.000 8.000 10 70 140.000 8.000 11 8.000 50 400.000 12 4.000 80 320.000 4.000 20 1.000 25 1.000 80 80.000-1.000-80.000 3.000 1.000 28 6.000 90 540.000 3.000 1.000 6.000 60 70 80 50 60 50 60 70 60 70 60 70 80 Total Total 400.000 120.000 520.000 400.000 120.000 140.000 660.000 120.000 140.000 260.000 120.000 140.000 320.000 580.000 120.000 140.000 80.000 3.000 80 240.000 240.000 80 80 80 80 90 240.000 80.000 320.000 240.000 80.000 540.000 860.000

Jan Unit Dibeli Digunakan Persediaan Harga Per Unit Total Unit Harga Per Unit Total Unit Harga Per Unit 1 8.000 50 400.000 400.000 4 60 120.000 8.000 10 70 140.000 8.000 11 4.000 12 4.000 80 320.000 4.000 4.000 20 4.000 1.000 25 1.000 50 80.000-1.000-80.000 3.000 1.000 28 6.000 90 540.000 4.000 6.000 70 60 50 80 50 50 60 50 60 70 Total Total 400.000 120.000 520.000 400.000 120.000 140.000 660.000 170.000 120.000 200.000 4.000 50 200.000 200.000 50 80 200.000 320.000 520.000 320.000 80.000 3.000 50 150.000 150.000 50 50 50 90 150.000 50.000 200.000 200.000 540.000 740.000

Jan Unit Dibeli Digunakan Persediaan Harga Per Unit Total Unit Harga Per Unit Total Unit Harga Per Unit 1 8.000 50 400.000 400.000 4 60 120.000 10.000 52 520.000 520.000 10 70 140.000 1 55 660.000 660.000 11 8.000 55 440.000 4.000 55 220.000 220.000 12 4.000 80 320.000 8.000 67,5 540.000 540.000 20 5.000 67,5 337.500 3.000 67,5 202.500 202.500 25 1.000 67,5 67.500-1.000-67.500 4.000 67,5 270.000 270.000 28 6.000 90 540.000 10.000 81 810.000 810.000 Total Total

Perencanaan kebutuhan bahan berkaitan dengan 2 faktor, yaitu: 1. Kuantitas dipesan 2. Waktu (saat) pesan Kuantitas dipesan kuantitas pesanan ekonomis (economic order quantity (EOQ)) menunjukkan jumlah pesanan persediaan pada satu waktu yang meminimalkan biaya tahunan persediaan.

EOQ dihitung dengan formula sbb: EOQ = 2(kb)(Bp) (k)(bs) Keterangan: Kb : Kebutuhan tahunan bahan (unit) Bp : Biaya pesan per pesanan K : Harga bahan per unit Bs : Biaya simpan (%)

Contoh perhitungan EOQ perusahaan mempunyai kebutuhan tahunan bahan sebanyak 5.200 unit dengan harga Rp. per unit, biaya pesan Rp.10.000, dan biaya simpan 20% dari nilai persediaan pertahun. EOQ = 2(5.200 unit)(rp.10.000) = 510 unit (Rp.)(0,20)

Penentuan Waktu Pesan Ada 3 faktor, kapan harus membeli bahan: 1) Waktu tunggu (lead time) 2) Tingkat penggunaan persediaan 3) Persediaan pengaman (safety stock) Waktu tunggu adalah jangka waktu antara penempatan pesanan bahan dan bahan tersebut tiba di pabrik untuk produksi. Persediaan pengaman adalah jumlah minimum persediaan yang harus ada untuk menjaga kemungkinan keterlambatan datangnya bahan yang dipesan agar tidak mengganggu proses produksi.

Tujuan utama pengendalian bahan adalah agar perusahaan dapat melakukan pesanan bahan pada waktu yang tepat dengan sumber-sumber terbaik untuk memperoleh jumlah kuantitas yang tepat dan pada harga dan kualitas yang semestinya. Terdapat dua metode pengendalian bahan, yaitu metode siklus pesanan (order cycling) dan metode minimum maksimum (min-max). Metode siklus pesanan adalah metode pengendalian kuantitas persediaan melalui pemeriksaan secara periodik terhadap status kuantitas bahan. Metode min-max adalah metode pengendalian kuantitas persediaan dengan memantau jumlah maksimum dan minimum persediaan.