BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. TATARAN LINGKUNGAN/ KOMUNITAS Produk sepatu ini dirancang mencakup tataran non fisik, karena lebih menampilkan gaya hidup, fashion dan sosial budaya. Untuk tataran lingkungan, sepatu ini akan banyak ditemukan didaerah perkotaan dimana mayoritas penduduknya pekerja kantoran atau yang banyak menghabiskan waktu didalam ruangan. B. TATARAN SISTEM Penyebaran dan pemanfaatan produk dalam tataran sistem diaplikasikan dilingkungan wanita yang bekerja diperkantoran dan aktif didalam ruangan. System sepatu modular ini harus menggunakan obeng untuk mengganti haknya. Cara nya hanya dengan memutar baut pada bagian bawah sepatu (untuk wedges) hingga terlepas dan pengguna bisa langsung mengganti ketinggian sepatu tersebut. Untuk yang heels menggantinya dengan cara memutar baut yang ada dibagian bawa insole sepatu, setengah bagian insole sepatu sengaja tidak direkatkan karna untuk memudahkan pengguna untuk mengganti ketinggian heels. 27
Cara Kerja Produk a. Heels No Gambar Keterangan 1 Insole dibuka sebagian hingga telihat baut yang terdapat dibawah insole Gambar Insole Sepatu 2 Ketika insole sudah dibuka maka akan terlihat 2 buah baut Gambar Insole sepatu yang dibuka 3 Kedua baut tersebut dibuka menggunakan obeng Gambar baut yang dibuka dengan obeng 4 Kemudian baut dan hak bisa dilepas dari sepatunya 28
Gambar hak dan baut terpisah 5 Dan hak sepatu bisa diganti menjadi lebih pendek atau lebih tinggi Gambar sepatu baut obeng dan hak b. Wedges Tabel 4.1 Cara Kerja Sepatu Heels No Gambar Keterangan 1 Untuk mengganti ketinggian sepatu yaitu dengan cara membuka baut yang terdapat dibagian bawah sepatu menggunakan obeng Gambar bawah sepatu yang terdapat obeng 2 Hingga bagian bawah sepatu terlihat seperti ini 29
Gambar sol sepatu yang sudah dilepas bautnya 3 Sehingga sepatu dengan sol terpisah, kemudian bisa diganti dengan yang lebih tinggi atau lebih rendah Gambar sepatu yang terlepas dengan sol Tabel 4.2 Cara Kerja Sepatu Wedges C. TATARAN PRODUK 1. Konsep perancangan Latar belakang perancangan sepatu modular ini karena wanita cenderung membawa satu pasang sepatu atau lebih ketika sedang berpergian. Seperti ketika pergi kekantor dengan menggunakan sepeda motor, tentunya akan sulit menggunakan sepatu hak tinggi, sehingga mereka cenderung membawa sepatu flat yang mereka gunakan untuk mengendarai motor saat pergi ke kantor dan ketika sudah sampai dikantor, mereka mengganti sepatu dengan hak yang lebih tinggi. Tentunya akan menambah beban berat karena harus membawa dua pasang sepatu. 30
Maka dari itu untuk meminimalisir bawaan saat berpergian, dirancang sepatu modular dengan hak yang bisa dilepas pasang, sehingga wanita tidak harus membawa dua pasang sepatu. Dan melengkapi kebutuhan wanita yang banyak beraktifitas diluar rumah serta memenuhi kebutuhan wanita diberbagai kesempatan. a. Sketsa Teknik Gambar 4.1 sketsa teknik pertama Gambar 4.2 sketsa teknik kedua (Sumber : Ike, 2017) (Sumber : Ike, 2017) Awal perancangan yaitu menggunakan teknik seperti yang tertera pada gambar, tetapi teknik tersebut tidak berhasil dan membuat sepatu tidak kuat pada saat digunakan. Kemudian dirancang sepatu menggunakan teknik seperti pada gambar, yaitu menggunakan teknik baut. 31
b. Sketsa Perancangan Gambar 4.3 Ketinggian hak Gambar 4.4 Ketinggian hak ketika diaplikasikan kesepatu Gambar 4.5 Sepatu wedges dengan hak Untuk bagian bawah sepatu wedges dibuat ketinggian 1cm patent dengan bagian badan sepatu, berfungsi untuk menghubungkan wedges dengan menggunakan baut, karena apabila pada bagian bawah sepatu tidak dibuat ketinggian 1cm 32
maka baut akan menembus kebagian dalam sepatu, sehingga pada saat sepatu digunakan akan menusuk bagian telapak kaki penggunanya. 2. Proses perancangan a. Desain awal No Gambar Keterangan 1 Mengganti haknya hanya dengan menarik setengah bagian hak 2 Hingga hak dan sepatu terlepas 3 Dibagian hak dan dibagian bawah sepatu terdapat Velcro yang dapat menghubungkan keduanya Tabel 4.3 Desain Awal 33
Pada teknik pertama, hak dan sepatu dibuka dengan menggunakan teknik yang mudah, yaitu hanya dengan menarik hak hingga terlepas dengan sepatu. Tetapi teknik ini tidak bekerja dengan baik, karena pada saat sepatu digunakan tidak bisa menopang beban badan sehingga sepatu dan haknya menjadi mudah terlepas, itu akan membahayakan pengguna pada saat menggunakan sepatu tersebut. b. Desain Kedua Gambar4.6 sepatu wedges (Sumber : Ike, 2017) Seperti pada gambar, desain wedges dengan 3 tumpuk ketinggian mengakibatkan sepatu tidak nyaman pada saat digunakan. Desain seperti diatas, tidak bisa diubah ketinggiannya, karna pada saat sol paling bawah dilepas maka sepatu tidak terdapat karet seperti yang tertera pada sol paling bawah. 34
3. Desain Akhir Gambar 4.7 sepatu heel dengan hak yang bisa diganti (Sumber : Ike, 2017) Gambar 4.8 sepatu wedges dengan hak yang bisa diganti (Sumber : Ike, 2017) Gambar diatas adalah desain akhir dari sepatu, yaitu dengan menggunakan teknik baut sepatu dapat diganti ketinggiannya. 35
D. TATARAN ELEMEN 1. Material Gambar 4.9 kulit sepatu (Sumber : Ike, 2017) Bahan yang digunakan adalah kulit sintetis. Bahan ini merupakan bahan yang lentur dan tidak mudah terkelupas. Jika terkena noda, bahan ini mudah dibersihkan, seperti dengan menggunakan tissue basah atau sejenisnya. 2. Warna Gambar 4.10 Warna (Sumber : Ike, 2017) Warna adalah hal yang penting untuk memberikan nilai estetika pada sepatu yang akan dibuat. Dan setiap warna juga memberikan kesan dan karakter tersendiri. Perancangan sepatu modular ini menggunakan warna putih, hitam dan cokelat karena biasanya wanita cenderung menggunakan sepatu sesuai dengan warna baju yang mereka gunakan, warna putih, hitam dan cokelat 36
merupakan warna yang netral sehingga bisa dipakai pada saat mereka menggunakan baju dengan warna apapun. Dan untuk warna merah, menggambarkan kesan yang berani, sehingga sepatu dengan warna merah bisa digunakan pada mereka yang suka berpenampilan nyentrik. 37