BAB II PENGELOLAAN PELAYANAN KEPERAWATAN. (Manajemen Pelayanan Keperawatan Profesional). Sistem MPKP ini

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II PENGELOLAAN PELAYANAN KEPERAWATAN. pada pasien (Gillies, 1989). Rumah Sakit Jiwa Derah Provsu telah menerapkan

INSTRUMEN SUPERVISI ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN SECARA LANGSUNG PADA PERAWAT ASOSIET

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara

MAKALAH MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL JIWA (MPKP JIWA)

BAB 1 PENDAHULUAN. Standar tentang evaluasi dan pengendalian mutu menjelaskan bahwa pelayanan

BAB... METODE PENUGASAN DALAM PELAYANAN KEPERAWATAN

URAIAN TUGAS PERAWAT PELAKSANA DI RUANG RAWAT INAP

PEDOMAN PELAKSANAAN MENAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN METODE TIM

KUESIONER PENELITIAN. Hubungan Penerapan Fungsi Manajemen Kepala Ruangan dengan Kinerja Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Sayang Rakyat Makassar

URAIAN TUGAS KEPALA INSTALASI RAWAT INAP

URAIAN TUGAS KEPERAWATAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang

SKRIPSI HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PERAWAT TERHADAP PELAKSANAAN MODEL PRAKTIK KEPERAWATAN PROFESIONAL DI RUANG RAWAT INAP RS. JIWA PROF.

RUMAH SAKIT KHUSUS DUREN SAWIT PROVINSI DKI JAKARTA BIDANG KEPERAWATAN

MAKALAH TEORI, TIPE KEPEMIMPINAN, PERAN DAN FUNGSI MANAJEMEN KEPERAWATAN

RSUD KOTA DUMAI PELAYANAN GAWAT DARURAT

PEDOMAN ORGANISASI UNIT REKAM MEDIS DISUSUN OLEH : UNIT REKAM MEDIS RSUD KOTA DEPOK

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Tujuan

PEMBAGIAN TUGAS ( JOB DESCRIPTION ) RUANG VK BERSALIN

BAB II GAMBARAN UMUM RUMAH SAKIT. Sejarah rumah sakit dimulai dengan keluarnya Surat......

BAB 1 PENDAHULUAN. untuk meningkatkan kualitas, dengan memperbaiki sumber daya manusia,

BAB 1 PENDAHULUAN. yang profit maupun yang non profit, mempunyai tujuan yang ingin dicapai melalui

METODE PENUGASAN DALAM PELAYANAN KEPERAWATAN By setiadi

PROVINSI BANTEN PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

PERATURAN DIREKTUR UTAMA RS. xxx NOMOR : 17/PER/2013 TENTANG KEBIJAKAN PELAYANAN MEDIS. DIREKTUR UTAMA RS. xxx

BAB I PENDAHULUAN. Pada bab ini membahas tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan. penelitian dan manfaat penelitian.

BUKU PANDUAN PRAKTEK BELAJAR LAPANGAN M.A KEPERAWATAN JIWA PRODI D III KEPERAWATAN STIKES MUHAMMADIYAH KLATEN TAHUN 2014/ 2015

STANDAR PRAKTIK KEBIDANAN. IRMA NURIANTI, SKM. M.Kes

L A P O R A N P B L K

BAB 1 PENDAHULUAN. baik dalam proses penyembuhan maupun dalam mempertahankan derajat

BAB 1 PENDAHULUAN. fungsional berupa gangguan mental berulang yang ditandai dengan gejala-gejala

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Disampaikan Oleh: R. Siti Maryam, MKep, Ns.Sp.Kep.Kom 17 Feb 2014

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan penunjang. Rumah sakit dalam menjalankan fungsinya

BAB I PENDAHULUAN. penerima jasa pelayanan kesehatan. Keberadaan dan kualitas pelayanan

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

PERENCANAAN PASIEN PULANG (DISCHARGE PLANNING) Mira Asmirajanti, SKp, MKep

BAB 1 PENDAHULUAN. Undang-Undang No. 44 tahun 2009 menyatakan bahwa rumah sakit. merupakan pelayanan kesehatan yang paripurna (UU No.44, 2009).

BAB I PENDAHULUAN. Keperawatan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan di

15. komunikasi katim dan perawat pelaksana setelah selesai operan yang dipimpin oleh katim atau penanggung jawab tim disebut:

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 43 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN FASILITASI AKREDITASI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA

No. Dokumen : 005/KMD/ADMIN/II/2013. Tanggal terbit : 12 Februari 2013

BAB I PENDAHULUAN. faktor peningkatan permasalahan kesehatan fisik dan juga masalah kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. 24 jam, dimana dibutuhkan sistem kerja yang bergantian(shift) dalam

KERANGKA ACUAN PROGRAM ORIENTASI TENAGA BARU BIDAN BARU

PANDUAN SUB KOMITE MUTU PROFESI KEPERAWATAN RUMAH SAKIT SENTRA MEDIKA CISALAK

BAB II ADMINISTRASI DAN PENGELOLAAN

BUKU KEGIATAN PEMBELAJARAN MAHASISWA

BAB I PENDAHULUAN. pertanggungjawaban tenaga keperawatan profesional (Depkes RI, 2005).

BAB I PENDAHULUAN. penyakit disamping penyembuhan dan pemulihan. segenap lapisan masyrakat. Sasaran dari program tersebut yakni tersedianya

PERENCANAAN KEBUTUHAN TENAGA KEPERAWATAN DI UNIT KEPERAWATAN. Oleh : Windy Rakhmawati, S.Kp, M.Kep.

PEDOMAN PENGORGANISASIAN UNIT RAWAT JALAN RUMAH SAKIT ELIZABETH

BAB V PENUTUP. kinerja sumber daya manusia tepatnya pada staf medis fungsional di. Instalasi Gawat Darurat adalah berupa uraian pembagian tugas (job

BAB I PENDAHULUAN. rawat inap, rawat jalan, dan rawat darurat (Permenkes No. 147 tahun 2010).

PANDUAN PENYULUHAN PADA PASIEN UPTD PUSKESMAS RAWANG BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. tujuan penelitian, identifikasi konseptual pernyataan riset dan variabel riset dan

Oleh : Andan Firmansyah

BAB 1 PENDAHULUAN. merupakan suatu proses pekerjaan yang berlangsung untuk mencapai hasil kerja

BUKU KEGIATAN PEMBELAJARAN MAHASISWA

BAB I PENDAHULUAN. Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Medan sebagai organisasi yang bergerak

BAB 1 PENDAHULUAN. kompleks. Undang-undang Rumah Sakit Nomor 44 tahun 2009 rumah sakit

BAB I. PENDAHULUAN. Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang. menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna

BAB 1 : PENDAHULUAN. kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di

METODE PENUGASAN TIM DALAM ASUHAN KEPERAWATAN. Oleh : Windy Rakhmawati, S.Kp, M.Kep.

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT DAN INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT 2.1 Rumah Sakit

BAB 1 PENDAHULUAN. bergerak dalam bidang jasa pelayanan kesehatan mempunyai fungsi dan tugas

BAB II PENGELOLAAN PELAYANAN KEPERAWATAN. 1. Pengertian Manajemen dan Manajemen Keperawatan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. membimbing, mengajar, mengobservasi, mendorong dan memperbaiki,

PERAN PERAWAT HOME CARE. Disampaikan oleh Djati Santosa.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

ANALISIS PENGARUH PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG INDIKATOR KOLABORASI TERHADAP PRAKTEK KOLABORASI PERAWAT DOKTER DI UNIT RAWAT INAP RSJD

2). Fokus pada kesadaran pada proses pembelajaran dan tanggung jawab. 3). Peran dosen tidak mengajari tetapi menstimulasi proses yang aktif.

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. No.269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis bab III pasal 5 yang

BUKU PANDUAN MANAJEMEN KEPERAWATAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 SERI D NOMOR 9 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG

BAB II PENGELOLAAN PELAYANAN KEPERAWATAN. keperawatan melalui upaya staff keperawatan untuk memberikan Asuhan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Kepemimpinan organisasi rumah sakit memainkan peranan yang sangat

BAB 1 PENDAHULUAN. untuk meningkatkan kualitas, dengan memperbaiki sumber daya manusia

BAB I PENDAHULUAN. aktifitas pemberian jasa (pelayanan) yang dianggap berharga dan penting.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PERANAN KOMITE FARMASI SEBAGAI BADAN NORMATIF NONSTRUKTURAL DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO

tugas sehari-hari (Arwani, 2005).

INDIKATOR KINERJA UTAMA

BAB 1 : PENDAHULUAN. menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Selain itu,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Krisis multi dimensi yang melanda masyarakat saat. ini telah mengakibatkan tekanan yang berat pada sebagian

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Rumah sakit sebagai institusi penyedia jasa pelayanan kesehatan

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. SOETOMO SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2015

BUPATI BANYUWANGI PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 39 TAHUN 2015 TENTANG PERATURAN INTERNAL RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BLAMBANGAN KABUPATEN BANYUWANGI

BAB 1 PENDAHULUAN. (Permenkes RI, 2011). Institusi yang kompleks memiliki arti bahwa rumah sakit

PEDOMAN PENGORGANISASIAN KOMITE KEPERAWATAN

BAB II PROFIL RUMAH SAKIT ISLAM MALAHAYATI MEDAN. A. Sejarah Ringkas Rumah Sakit Islam Malahayati Medan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pelanggan terbagi menjadi dua jenis, yaitu: fungsi atau pemakaian suatu produk. atribut yang bersifat tidak berwujud.

BAB I PENDAHULUAN. penyimpangan dari fungsi psikologis seperti pembicaraan yang kacau, delusi,

Manajemen Asuhan Keperawatan. RAHMAD GURUSINGA, Ns., M.Kep.-

WALIKOTA TANGERANG SELATAN

Transkripsi:

BAB II PENGELOLAAN PELAYANAN KEPERAWATAN A. Konsep Dasar Manajemen keperawatan adalah suatu proses bekerja melalui anggota staf keperawatan untuk memberikan perawatan, pengobatan dan bantuan terhadap pada pasien (Gillies, 1989). Rumah Sakit Jiwa Derah Provsu telah menerapkan pengelolaan pelayanan keperawatan menggunakan sistem MPKP (Manajemen Pelayanan Keperawatan Profesional). Sistem MPKP ini diterapkan di dua ruangan yaitu Sipiso-piso dan Cempaka. MPKP adalah suatu model keperawatan profesional yang secara keilmuwannya bisa dipertanggungjawabkan sesuai kode etik keperawatan dan kaidah keperawatan yang meliputi biopsiko, sosial, dan spiritual. Beberapa modifikasi MPKP yang dilakukan meliputi 3 jenis yaitu: 1. MPKP Transisi MPKP dasar yang tenaga perawatnya masih ada yang berlatar belakang pendidikan SPK, namun kepala ruangan dan ketua timnya minimal dari D3 Keperawatan. 2. MPKP Pemula MPKP dasar yang semua tenaganya minimal D3 Keperawatan. 3. MPKP Profesional dibagi 3 tingkatan yaitu:

a. MPKP I MPKP dengan tenaga perawat pelaksana minimal D3 Keperawatan tetapi kepala ruangan dan ketua tim mempunyai pendidikan minimal S1 Keperawatan b. MPKP II MPKP Intermediate dengan tenaga perawat minimal D3 Keperawatan dan mayoritas Sarjana Ners Keperawatan, sudah memiliki tenaga spesialis keperawatan jiwa. c. MPKP III MPKP Advance yang semua tenaga perawat minimal Sarjana Ners Keperawatan, sudah memiliki tenaga spesialis keperawatan jiwa dan doktor keperawatan yang bekerja di area keperawatan jiwa. Dari hasil penelitian menunjukkan tujuan diadakannya ruang atau bangsal MPKP yaitu diharapkan keperawatan profesional bisa diterapkan sehingga pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai masalah keperawatan klien. Program-program MPKP yang telah dibuat dan direncanakan tersebut tentu saja terdapat didalam asuhan keperawatan yang akan dilakukan kepada klien agar asuhan keperawatan yang diberikan itu lebih fokus dan holistik. MPKP merupakan suatu praktek keperawatan yang sesuai dengan kaidah ilmu manajemen modern dimana kaidah yang dianut dalam pengelolaan pelayanan keperawatan di ruang MPKP adalah pendekatan yang dimulai dengan perencanaan. Perencanaan di ruang MPKP adalah kegiatan

perencanaan yang melibatkan seluruh personil (perawat) ruang MPKP mulai dari kepala ruangan, ketua tim dan anggota tim (perawat asosiet). Tugas dari karu MPKP yaitu membuat rencana bulanan, mingguan, harian; mengorganisasi tim dan anggotanya, memberi pengarahan pelaksanaan tugas pada staf keperawatan, pekarya, dan staf administrasi; memfasilitasi kolaborasi perawat primer dengan anggota tim kesehatan lainnya, melakukan pengawasan pelaksanaan tugas seluruh personil ruang MPKP, melakukan audit pelaksanaan asuhan dan pelayanan keperawatan di ruangan, mewakili ruang MPKP dalam koordinasi dengan unit kerja lainnya. Tugas dari perawat pelaksana di ruang MPKP yaitu membuat rencana harian yang menjadi tanggung jawabnya, melaksanakan tindakan keperawatan kepada klien, memberikan informasi, umpan balik kepada perawat pelaksana bila ada perubahan pada kliennya, memberikan pelayanan keperawatan yang profesional. Terdapat beberapa uraian tugas perawat di Ruang Cempaka RSJD Provsu, antara lain : 1. Uraian tugas kepala ruangan a) Mengatur pelaksanaan kegiatan asuhan keperawatan yang diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan pasien. b) Mengatur penempatan tenaga keperawatan di ruangan. c) Mengatur penggunaan dan pemeliharaan logistik keperawatan agar selalu siap pakai.

d) Memberi pengarahan dan motivasi kepada ketua tim/grup agar melaksanakan asuhan keperawatan sesuai standar, etis, dan profesional. e) Melaksanakan program orientasi pada : Tenaga baru Siswa/mahasiswa peserta didik Pasien baru f) Mendampingi dokter/supervisor selama kunjungan visite. g) Mengelompokkan pasien, mengatur penempatannya di ruangan menurut tingkat kegawatan untuk mempermudah asuhan keperawatan. h) Menciptakan, memelihara suasana kerja yang baik antara petugas, pasien/keluarga sehingga memberi ketenangan. i) Mengadakan pertemuan berkala tenaga keperawatan minimal dua kali perhari untuk membicarakan pelaksanaan kegiatan di ruangan. j) Memeriksa dan meneliti : Pengisian daftar permintaan makanan Pengisian sensus harian Pengisian buku register Pengisian rekam medis k) Mengawasi dan menilai pelaksanaan asuhan keperawatan 5 (lima) tahapan : Pengkajian keperawatan Prognosa keperawatan Perencanaan keperawatan

Pelaksanaan keperawatan Evaluasi keperawatan l) Pertemuan secara rutin dengan pelaksana keperawatan. m) Membuat laporan pelaksanaan kegiatan di ruangan. 2. Uraian tugas ketua tim a) Bersama anggota tim/grup melaksanakan asuhan keperawatan sesuai standar. b) Bersama anggota tim/grup mengadakan serah terima tugas dengan tim/grup lain (grup petugas ganti) mengenai : Kondisi pasien Logistik keperawatan Administrasi rekam medis Layanan pemeriksaan penunjang Kolaborasi program pengobatan c) Melanjutkan tugas-tugas yang belum dapat diselesaikan oleh grup sebelumnya. d) Merundingkan pembagian tugas dengan anggota grupnya. e) Menyediakan perlengkapan untuk pelayanan dan visite dokter. f) Mendampingi dokter visite, mencatat dan melaksanakan program pengobatan dokter. g) Membantu melaksanakan rujukan. h) Melakukan orientasi terhadap pasien/keluarga baru mengenai : Tata tertib ruangan/rumah sakit

Perawat yang bertugas i) Menyiapkan pasien pulang dan memberi penyuluhan kesehatan. j) Memelihara kebersihan ruangan dengan : Mengatur tugas cleaning service Mengatur tata tertib ruangan yang ditujukan kepada semua petugas, peserta didik, dan pengunjung ruangan k) Membantu kepala ruangan membimbing peserta didik keperawatan. l) Membantu kepala ruangan untuk menilai mutu pelayanan asuhan keperawatan serta tenaga keperawatan. m) Menulis laporan tim mengenai kondisi pasien dan lingkungannya. 3. Uraian tugas perawat pelaksana a) Melaksanakan asuhan keperawatan sesuai standar. b) Mengadakan serah terima tugas dengan tim/grup lain (grup petugas pengganti) mengenai : Kondisi pasien Logistik keperawatan Administrasi rekam medis Pelayanan pemeriksaan penunjang Kolaborasi program pengobatan c) Melanjutkan tugas-tugas yang belum dapat diselesaikan oleh grup sebelumnya. d) Merundingkan pembagian tugas dengan anggota grupnya. e) Menyediakan perlengkapan untuk pelayanan dan visite dokter.

f) Mendampingi dokter visite, mencatat dan melaksanakan program pengobatan dokter. g) Membantu melaksanakan rujukan. h) Melakukan orientasi terhadap pasien/keluarga baru mengenai : Tata tertib ruangan/rumah sakit Perawat yang bertugas i) Menyiapkan pasien pulang dan memberikan penyuluhan kesehatan. j) Memelihara kebersihan ruangan dengan : Mengatur tugas cleaning service Mengatur tata tertib ruangan yang ditujukan kepada semua petugas, peserta didik, dan pengunjung ruangan k) Membantu kepala ruangan membimbing peserta didik keperawatan. l) Membantu kepala ruangan untuk menilai mutu pelayanan asuhan keperawatan serta tenaga keperawatan. m) Menulis laporan tim mengenai kondisi pasien dan lingkungannya. n) Memberikan penyuluhan kesehatan pada pasien/keluarga. o) Menjelaskan tata tertib rumah sakit, hak dan kewajiban pasien. B. Analisa Ruang Rawat 1. Pengkajian Pengkajian kegiatan praktik keperawatan jiwa profesional di Ruang Cempaka RSJD Provsu berdasarkan pada pendekatan MPKP yang meliputi 4 (empat) pilar nilai profesional. Pendekatan manajemen (management

approach) sebagai pilar praktik profesional yang pertama, diterapkan dalam bentuk fungsi manajemen yang terdiri dari; perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (directing), dan pengendalian (controlling). Selanjutnya pilar compensatory reward sebagai pilar kedua terkait dengan manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) yang meliputi rekrutmen, seleksi, orientasi, evaluasi/penilaian kinerja, pengembangan staf. Pilar ketiga yaitu profesional relationship meliputi rapat tim kesehatan, rapat tim keperawatan, konferensi kasus, visit dokter. Pilar keempat yaitu patient care delivery meliputi asuhan keperawatan dengan menerapkan proses keperawatan berdasarkan survei masalah yang dilakukan. Pengkajian mahasiswa PBLK dilakukan pada tanggal 11 14 Juni 2012 pada pukul 10.00 12.30 WIB di Ruang Cempaka RSJD Provsu. Pengkajian dilakukan dengan menggunakan instrumen self evaluasi dan wawancara kepada kepala ruangan, ketua tim, dan perawat pelaksana didapatkan hasil sebagai berikut: Rumah Sakit Jiwa Daerah Provsu merupakan rumah sakit tipe A yang melayani seluruh lapisan masyarakat. Ruang Cempaka memiliki visi, misi, motto, dan falsafah yang sama dengan visi, misi, motto dan falsafah pelayanan keperawatan sebagai berikut : a. VISI : menjadikan pelayanan asuhan keperawatan jiwa optimal dan paripurna secara profesional untuk kepuasan masyarakat. b. MISI: melaksanakan pelayanan keperawatan jiwa yang paripurna dan profesional secara terpadu untuk kesembuhan pasien.

c. MOTTO: A S K E P = arif = sosial = komunikatif = efektif = profesional d. Falsafah dan Tujuan Keperawatan Rumah Sakit Jiwa Daerah Provsu, sebagai berikut: 1. Pelayanan keperawatan jiwa dilakukan secara profesional didasari pada ilmu perilaku dan keperawatan. 2. Pelayanan keperawatan jiwa diberikan sepanjang siklus kehidupan manusia dengan respon psikososial tanpa membedakan suku, agama, ras, dan golongan. 3. Perawat menggunakan proses keperawatan untuk membantu dalam meningkatkan, mencegah, mempertahankan, dan memulihkan masalah kesehatan jiwa klien. 4. Pelayanan keperawatan jiwa pada umumnya meliputi : perawatan fisik, mental dan sosial budaya yang pada prakteknya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. 5. Praktek keperawatan dilaksanakan berdasarkan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

6. Pendidikan keperawatan yang berkelanjutan harus dilaksanakan secara terus-menerus untuk pengembangan staf dalam pelayanan keperawatan. 7. Asuhan keperawatan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara mempunyai peran sentral dalam pengembangan misi keperawatan terhadap klien dengan masalah kejiwaan di Sumatera Utara. e. Ketenagaan Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan pada bulan Juni, ketenagaan di Ruang Cempaka RSJD Provsu antara lain: jumlah tenaga keperawatan ada 7 orang dengan latar belakang pendidikan 2 orang S1 Keperawatan, 1 orang S1 Kesehatan Masyarakat dan 4 orang D3 Keperawatan. f. Indikator Mutu Adapun perhitungan indikator mutu yang dilakukan di Ruang Cempaka RSJD Provsu yaitu pengukuran Bed Occupancy Rate (BOR) dan angka pasien lari. Namun berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan mahasiswa melalui kuesioner dan wawancara pada bulan Juni 2012 didapatkan sebagai berikut: Tabel 1. Perhitungan Indikator Mutu Ruang Cempaka RSJD Provsu. No. Aspek yang Dinilai Nilai (%) 1. BOR 96% 2. Angka Lari 0 % 3. Angka Skabies 8,3 % 4. Angka Pengekangan 0 % 5. Angka Cidera 0 %

g. Survei Masalah Keperawatan Berdasarkan hasil pengkajian mahasiswa melalui kuesioner dan wawancara, pada bulan Juni 2012 didapatkan ada 5 masalah keperawatan di Ruang Cempaka RSJD Provsu dengan perincian sebagai berikut: Tabel 2. Survei Masalah Keperawatan Ruang Cempaka RSJD Provsu No. Aspek yang Dinilai Jumlah (%) 1. Isolasi Sosial 7 2. Halusinasi Pendengaran 6 3. Harga diri Rendah 6 4. Prilaku Kekerasan 3 5. Waham 2 6. Kurang Perawatan Diri - 7. Risiko Bunuh Diri - h. Evaluasi Kinerja Perawat (Self Evaluation) Kinerja perawat di ruang MPKP dapat dinilai, salah satunya dengan menggunakan kuesioner self evaluation yang diberikan kepada kepala ruangan, ketua tim, dan perawat pelaksana. Adapun kriteria kelulusan perawat berdasarkan jumlah nilai yang dihasilkan perawat dari kuesioner tersebut. Jika nilai perawat 75 maka dinyatakan lulus, berikut ini dipaparkan hasil dari kuesioner self evaluation: Tabel 3. Self Evaluation Kinerja Ruang Cempaka RSJD Provsu. Jabatan Nilai Keterangan Kepala ruangan 89,67 Lulus Ketua Tim 1 78,5 Lulus Ketua Tim 2 95 Lulus Perawat Pelaksana 1 80,83 Lulus Perawat Pelaksana 2 81,67 Lulus Perawat Pelaksana 3 85,83 Lulus Perawat Pelaksana 4 85,83 Lulus

2. Analisa Situasi (SWOT) a. Kekuatan (Strenght) 1) Adanya visi, misi, dan motto bidang keperawatan di ruang Cempaka. 2) Adanya rencana tahunan kepala ruangan. 3) Adanya struktur organisasi yang jelas dengan metode penugasan tim. 4) Adanya daftar dinas perawat di ruangan. 5) Adanya uraian tugas yang jelas antara kepala ruangan, ketua tim, dan perawat pelaksana yang pelaksanaannya sudah optimal. 6) Adanya penilaian rencana harian perawat setiap tahun. 7) Adanya buku rawatan yang berisikan informasi tentang kondisi pasien. 8) Kepala ruangan mendelegasikan tugas kepada ketua tim jika berhalangan hadir. 9) Adanya data indikator mutu BOR. 10) Adanya pencatatan angka lari, scabies, pengekangan, cedera, serta pasien masuk dan pulang. 11) Perawat yang bekerja di ruangan melalui proses rekrutmen dan sesuai kriteria yang ditetapkan oleh RSJD Provsu. 12) Adanya program orientasi perawat. 13) Adanya jadwal penanggung jawab TAK dan TAK dilakukan seminggu sekali dengan kegiatan aktivitas sehari-hari.

14) Ketua tim sudah menyiapkan resume kasus untuk case conference. 15) Semua ketua tim dan perawat pelaksana mengikuti case conference. b. Kelemahan (Weakness) 1) Case conference sudah direncanakan, tetapi pelaksanaannya belum berjalan secara optimal. 2) Belum optimal supervisi terhadap perawat pelaksana. 3) Kurang optimalnya perawat dalam memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga pasien. 4) Operan lebih sering melalui buku rawatan tanpa ada tatap muka dengan pasien dan perawat saat pergantian shift. 5) Belum semua ketua tim mempunyai jadwal supervisi. 6) Belum adanya data tentang indikator mutu umum, khususnya TOI. 7) Belum optimalnya survei kepuasan pasien dan keluarga pasien. 8) Belum adanya pelatihan aspek khusus keperawatan. 9) Belum adanya pelatihan MPKP bagi perawat di ruangan Cempaka RSJD Provsu. c. Kesempatan (Opportunity) Adanya mahasiswa dari institusi-institusi kesehatan yang berdinas di RSJD Provsu. d. Ancaman (Threatened) 1) Adanya rumah sakit jiwa swasta memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik.

2) Adanya tuntutan masyarakat yang lebih untuk mendapatkan pelayanan yang profesional. 3. Rumusan Masalah Gambaran hasil analisa situasi ruang cempaka di RSJD Provsu dideskripsikan sebagai berikut: a. Pilar I (Management Approach) 1) Planning (Perencanaan) Standar Asuhan Keperawatan (SAK) sudah tersedia di ruangan, namun masih direvisi sesuai asuhan keperawatan yang baru. Adanya rencana kerja harian di ruangan tetapi formatnya belum ada. Berdasarkan hasil kuesioner didapatkan bahwa 50% ketua tim sering membuat rencana kerja harian dan 50% selalu membuat rencana kerja harian. Tindak lanjut : Membuat format kerja harian perawat. 2) Organization (Pengorganisasian) Perawat memiliki uraian tugas yang jelas dan jadwal dinas dibuat berdasarkan tim dengan proporsi jumlah perawat dinas pagi lebih besar dari dinas sore dan malam. Perawat dinas pagi ada 4 orang antara lain 1 kepala ruangan, 1 ketua tim, dan 2 perawat pelaksana, dinas sore 1 perawat pelaksana, dan dinas malam 1 perawat pelaksana, dan 1 perawat pelaksana libur. Belum tersedia daftar nama pasien dan perawat yang bertanggung jawab.

Tindak lanjut : Menganjurkan kepala ruangan dan ketua tim untuk membuat daftar nama pasien dan perawat yang bertanggung jawab. 3) Pengarahan Belum optimalnya operan yang dilakukan antar shift. Operan biasanya melalui buku rawatan yang dioperkan perawat saat pergantian shift. Di buku rawatan berisikan informasi pasien dengan perhatian khusus. Berdasarkan hasil kuesioner 50% ketua tim mengatakan tidak pernah memimpin pre/post conference dan 50% sering memimpin pre/post conference. Tindak lanjut : Mensosialisasikan dan melakukan roleplay pelaksanaan pergantian shift, menganjurkan kepala ruangan dan ketua tim untuk melaksanakan pre/post conference. 4) Pengawasan Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan didapatkan dokumentasi penilaian indikator mutu BOR 96%. Sedangkan indikator TOI tidak dinilai. Belum optimalnya survei kepuasan pasien dan keluarga pasien. Tindak lanjut : Menganjurkan kepala ruangan untuk mengukur indikator mutu selain BOR dan AvLOS juga TOI, serta membuat kuesioner kepuasan pasien dan

keluarga pasien terhadap pelayanan keperawatan yang diberikan. b. Pilar II (Compensatory Reward) Berdasarkan hasil kuesioner, didapatkan data bahwa perawat yang bekerja melalui proses rekrutmen berdasarkan kriteria yang tetapkan oleh RSJD Provsu. Hasil wawancara menunjukkan bahwa hanya ada pelatihan dasar keperawatan jiwa. Sedangkan, pelatihan-pelatihan lainnya yang dibutuhkan dalam keperawatan jiwa belum ada termasuk pelatihan MPKP untuk perawat di ruang Cempaka RSJD Provsu. Tindak lanjut : Menganjurkan kepada pihak rumah sakit untuk mengadakan pelatihan manajemen MPKP. c. Pilar III (Professional Relationship) Case conference sudah direncanakan, tetapi pelaksanaannya belum berjalan secara optimal. Tindak lanjut : Sosialisasi tentang case conference dan menganjurkan kepada kepala ruangan untuk melakukan case conference. d. Pilar IV (Patient Care Delivery) Belum optimalnya kegiatan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) di ruang Cempaka dan belum optimalnya pemberian pendidikan kesehatan pada keluarga pasien. Tindak lanjut : Membuat format TAK, melaksanakan kegiatan TAK sesuai dengan kasus, dan menganjurkan

perawat untuk menyusun jadwal perawat yang bertanggung jawab dalam kegiatan TAK, serta membuat leaflet sesuai dengan diagnosa pasien untuk keluarga di ruang Cempaka. 4. Rencana Penyelesaian Masalah a. Pilar I (Management Approach) 1) Sosialisasi penggunaan format kerja harian perawat. 2) Sosialisasi pelaksanaan pergantian shift. 3) Anjurkan kepala ruangan dan ketua tim untuk melaksanakan pre/post conference. 4) Anjurkan kepala ruangan dan ketua tim untuk membuat daftar nama pasien dan perawat yang bertanggung jawab 5) Anjurkan kepala ruangan untuk mengukur indikator mutu, khususnya TOI. 6) Buat kuesioner kepuasan pasien dan keluarga pasien terhadap pelayanan keperawatan yang diberikan b. Pilar II (Compensatory Reward) Anjurkan kepada pihak rumah sakit untuk mengadakan pelatihan manajemen MPKP. c. Pilar III (Professional Relationship) Sosialisasi tentang case conference dan menganjurkan kepada kepala ruangan untuk melakukan case conference.

d. Pilar IV Buat format TAK, melaksanakan kegiatan TAK seminggu minimal sekali sesuai dengan kasus, dan menyusun jadwal perawat yang bertanggung jawab dalam kegiatan TAK serta membuat leaflet sesuai dengan diagnosa pasien untuk keluarga di ruang Cempaka. 5. Implementasi Setelah disepakati prioritas masalah dan rencana penyelesaian masalah, mahasiswa PBLK melakukan implementasi kegiatan. Implementasi kegiatan dilakukan mulai tanggal 19-30 Juni 2012 di ruang Cempaka RSJD Provsu. Adapun implementasi kegiatan yang dilakukan mahasiswa PBLK menggunakan pendekatan empat pilar manajemen MPKP, sebagai berikut : a. Pilar I Dari segi pengelolan pelayanan keperawatan, mahasiswa telah membuat format rencana kerja harian, bulanan, yang dilakukan pada minggu kedua. Format rencana kerja yang telah dibuat mahasiswa dijilid dan diserahkan ke ruangan. b. Pilar II Pada pilar kedua, mahasiswa hanya dapat memberikan saran kepada kepala ruangan untuk mengusulkan diadakannya pelatihan manajemen MPKP dan asuhan keperawatan jiwa bagi perawat di ruangan.

c. Pilar III Pada pilar ketiga, mahasiswa PBLK melakukan sosialisasi case conference pada tanggal 29 Juni 2012 dengan mengangkat salah satu kasus kelolaan mahasiswa yaitu kasus halusinasi pendengaran di ruangan cempaka. Diharapkan setelah dilakukan sosialisasi case conference di ruang cempaka, kegiatan tersebut akan terus berlanjut dan terjadwal dengan baik. d. Pilar IV Pada pilar keempat, mahasiswa PBLK melakukan asuhan keperawatan pada semua pasien yang ada di ruangan. Untuk meningkatkan pemahaman pasien tentang strategi pertemuan yang telah diberikan sesuai dengan diagnosa keperawatan pasien. Mahasiswa PBLK melakukan TAK pada kelompok pasien dengan diagnosa yang sama yang merupakan diagnosa terbanyak di ruangan. Adapun TAK yang dilakukan adalah TAK halusinasi sesi 1-5, TAK harga diri rendah sesi 1-2, TAK isolasi sosial sesi 1-7. Selain itu, mahasiswa juga memberikan leaflet tentang semua diagnosa keperawatan gangguan jiwa. Diharapkan leaflet tersebut mempermudah perawat untuk memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga pasien. 6. Evaluasi Waktu pelaksanaan PBLK di ruangan cempaka RSJD Provsu dilaksanakan selama empat minggu yaitu tanggal 11 Juni 7 Juli 2012. Berdasarkan hasil kesepakatan dengan perawat ruang cempaka, maka terdapat empat

kegiatan dari 3 pilar MPKP yaitu management approach, professional relationship, patient care delivery. Kegiatan lain yang dilakukan oleh mahasiswa PBLK secara individu adalah memberikan asuhan keperawatan kepada pasien sesuai dengan kasus yang dikelola. Berdasarkan hasil dari penyelesaian masalah yang dilakukan di ruang cempaka dengan menggunakan pendekatan MPKP dapat dievaluasi sebagai berikut : a. Pilar I Selama proses implementasi, dapat dianalisa bahwa belum maksimalnya pembuatan rencana kerja harian. Sehingga perlu ditetapkan pembuatan rencana kerja harian sebagai penilaian kinerja perawat. Selain itu, perlunya penyegaran ulang tentang cara pembuatan rencana kerja harian yang efektif, yang mengacu pada tindakan keperawatan berdasarkan masalah keperawatan tiap pasien. b. Pilar II Hasil observasi menunjukkan bahwa penilaian kinerja dan pengembangan staf belum optimal dilakukan secara terjadwal oleh kepala ruangan terhadap ketua tim dan supervisi ketua tim terhadap perawat pelaksana. Selain itu, belum terlaksananya dengan optimal daftar perawat yang bertanggung jawab atas tiap pasien. c. Pilar III Hasil observasi menunjukkan bahwa case conference belum berjalan dengan optimal padahal kegiatan ini merupakan sarana yang tepat untuk

membagi pengetahuan. Oleh sebab itu, mahasiswa PBLK melakukan sosialisasi case conference pada perawat di ruangan cempaka dan menyarankan untuk dapat melakukannya secara rutin dan terjadwal. Sehingga kepala ruangan dapat membimbing ketua tim yang belum melakukan case conference, sedangkan ketua tim dapat membimbing perawat pelaksananya untuk membaca kasus yang sedang dibahas. Dengan demikian, semua perawat menjadi percaya diri dalam melakukan case conference. d. Pilar IV Pemberian asuhan keperawatan di ruang cempaka diharapkan berfokus pada tindakan keperawatan tanpa mengabaikan tindakan kolaborasi. Metode penugasan yang digunakan adalah metode tim, tetapi masih sebagian menggunakan metode fungsional. Hal ini menyebabkan perawat berinteraksi dengan klien jika hanya ada tindakan tertentu yang ingin dilakukan misalnya menyuntik dan memberikan obat. Strategi pertemuan dan terapi aktivitas kelompok belum terlaksana secara optimal. Hal tersebut terjadi karena struktur kegiatan perawat di ruangan belum berjalan dengan baik. Semua tindakan keperawatan sama untuk semua pasien, khususnya strategi pertemuan bagi pasien. Selain itu, untuk mengoptimalkan asuhan keperawatan, mahasiswa dan perawat ruang cempaka membuat TAK khususnya bagi tiga diagnosa terbesar yaitu isolasi sosial, HDR dan halusinasi. Berdasarkan observasi dan wawancara, pasien tampak lebih bersemangat dan memahami

masalah kesehatan jiwa yang sedang dihadapinya dan berusaha untuk mengatasinya. C. Pembahasan Adapun hasil dari penyelesaian masalah yang dilakukan di ruang cempaka dengan menggunakan pendekatan MPKP dapat dibahas sebagai berikut : a. Pilar I (Management Approach) Pada pilar I MPKP mahasiswa membuat rencana kerja harian yang dilakukan sebagai suatu penilaian kinerja perawat di ruang cempaka, selain itu dilakukan penyegaran tentang cara pembuatan rencana kerja harian yang efektif, yang mengacu pada tindakan keperawatan berdasarkan masalah keperawatan tiap pasien. Hal ini sesuai dengan fungsi manajemen perencanaan. Rencana harian adalah kegiatan yang akan dilakukan oleh kepala ruangan, ketua tim, dan perawat pelaksana sesuai dengan perannya masing-masing, yang dibuat untuk setiap shift (Keliat & Akemat, 2009). b. Pilar III (Professional Relationship) Mahasiswa PBLK melakukan sosialisasi case conference yang dikelola dan tindak lanjut dari kegiatan ini dapat dijadwalkan secara rutin. Mahasiswa PBLK juga melakukan case conference bersama perawat di ruangan cempaka yaitu salah satu kasus kelolaan mahasiswa PBLK. Menurut Keliat & Akemat (2009), konferensi kasus adalah diskusi kelompok tentang kasus asuhan keperawatan pasien atau keluarga yang dilakukan dua kali dalam sebulan, meliputi kasus pasien terbaru, pasien

yang tidak ada perkembangan, pasien pulang, pasien yang meninggal, dan pasien dengan masalah yang jarang ditemukan. c. Pilar IV (Patient Care Delivery) Pada pilar IV, mahasiswa PBLK melakukan asuhan keperawatan pada pasien kelolaan. Asuhan keperawatan adalah suatu pendekatan penyelesaian masalah yang sistematis dimulai dari pengkajian, diagnosa, rencana tindakan, implementasi, dan evaluasi keperawatan (Craven & Hirnle, 2000 dalam Keliat & Akemat, 2009). Mahasiswa juga melakukan TAK berdasarkan tiga diagnosa terbanyak yang ada di ruang cempaka. TAK adalah salah satu tindakan keperawatan untuk pasien gangguan jiwa. Terapi aktivitas kelompok sering dipakai sebagai terapi tambahan. Adapun tujuan TAK adalah untuk mengembangkan stimulasi kognitif, sensoris, orientasi realitas dan sosialisasi. Selain itu, mahasiswa juga membuat leaflet sebagai bahan untuk mempermudah pemberian pendidikan kesehatan kepada keluarga. Pendidikan kesehatan kepada individu keluarga adalah pendidikan kesehatan yang diberikan kepada keluarga seorang pasien. Pendidikan kesehatan keluarga jenis ini merupakan bagian dari asuhan keperawatan pasien (anggota keluarga yang sedang dirawat). Materinya adalah cara mengatasi masalah-masalah keperawatan yang dialami oleh pasien yang bisa dilakukan oleh keluarga baik di rumah sakit maupun di rumah. Pendidikan kesehatan kelompok keluarga adalah pendidikan kesehatan yang diberikan kepada sekelompok keluarga pasien yang dirawat di rumah

sakit. Tujuannya kegiatan ini adalah memberdayakan keluarga sebagai self help group. Dari kegiatan ini satu keluarga bisa sharing satu dengan lainnya tentang pengalamannya merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Kegiatan ini difasilitasi oleh perawat sebagai narasumber dan fasilitator sehingga keluarga-keluarga dapat saling menguatkan dan belajar cara merawat anggotanya yang mengalami gangguan jiwa.