2. PENGELOMPOKAN BERDASARKAN AKAR

dokumen-dokumen yang mirip
Ikhtisar Fungsi (Kiccasaṅgaha) Dhammavihārī Buddhist Studies

Ikhtisar Pintu (Dvārasaṅgaha) Dhammavihārī Buddhist Studies

Analisis Individu (Puggalabheda)

Citta adalah keadaan yang mengetahui objek atau keadaan yang menerima, mengingat, berfikir dan mengetahui objek.

Ikhtisar Objek (3) (Ālambaṇasaṅgaha) Dhammavihārī Buddhist Studies

Buddha Abhidhamma. Ultimate Science. Kata Pengantar.

Soal-soal Cetasika (2) Dhammavihārī Buddhist Studies

Abhidhammatthasaṅgaha

Kāmāvacarasobhana Cittaṃ (2)

TABEL 1.1. RINGKASAN 89 dan 121 CITTA

Jawaban Soal-soal untuk Proses Kognitif (2)

Proses Kognitif Pintu Batin (Manodvāravīthi)

4. Sebutkan apa yang termasuk dalam catuparamatthadhammā! Yang termasuk catuparamatthadhammā adalah : Citta, Cetasika, Rūpa dan Nibbāna.

Abhidhammatthasaṅgaha

Dasar-Dasar Abhidhamma. Bhikkhu Sikkhānanda

Kāmāvacarasobhana Cittaṃ (1)

Ikhtisar Perasaan (Vedanāsaṅgaha) Dhammavihārī Buddhist Studies

ABHIDHAMMATTHASAṄGAHA AKUSALACITTĀNI

Dāna. Sebuah Perhiasan dan Pendukung untuk Batin 2. Pariyatti Sāsana hp ; pin. Sunday, October 13, 13

1.Definisi Hukum. 2.Pembagian/jenis-jenis Hukum

Abhidhammatthasaṅgaha

KAMMA / KEWUJUDAN SEMULA

Saṅgahanaya (2) Metode Sintesis. Dhammavihārī Buddhist Studies

Sampul & Tata Letak: Jimmy Halim, Leonard Halim Tim Dana: Laura Perdana. Diterbitkan Oleh:

Sutta Mahavacchagotta (The Greater Discourse to Vacchagotta)

Proses Kognitif di Pintu Pancaindra (Pañcadvāravīthi)

MATERI PRESENTASI Abhidhammatthasaṅgaha Bab 1 Oleh Ashin Kheminda

MEDITASI KESADARAN ASHIN TEJANIYA TUNTUNAN UNTUK BERLATIH PUSAT MEDITASI SHWE OO MIN DHAMMA SUKHA TAWYA MARET 2010

UPAYA PENERAPAN PRINSIP SARANIYA DHAMMA DALAM MENGEMBANGKAN KECERDASAN INTERPERSONAL MAHASISWA. Santi STAB Negeri Sriwijaya

Sutta Kalama: Kepada Para Kalama (Kalama Sutta: To the Kalamas)

Sobhanacetasika (3) Dhammavihārī Buddhist Studies

TANYA JAWAB DI GROUP ABHIDHAMMA

Saṅgahanaya Metode Sintesis. Dhammavihārī Buddhist Studies

Abhidhammatthasaṅgaha. Dhammavihārī Buddhist Studies

TIGA KUSALAMULA TIGA AKAR KEBAIKAN

Akusalacetasika. Dhammavihārī Buddhist Studies

Sutta Devadaha: Di Devadaha (Devadaha Sutta: At Devadaha) [Majjhima Nikaya 101]

Mengapa berdana? Pariyatti Sāsana hp ; pin. Friday, April 12, 13

Fenomena Hidup dan Kehidupan Sebab-Musabab Yang Saling Bergantung

Prosedur Impuls (Javananiyama)

Abhidhammatthasaṅgaha

SUTTA SATIPATTHANA [JALAN LANGSUNG]

ABHIDHAMMATTHASAṄGAHA

BAB III PUNARBHAVA DALAM AGAMA BUDDHA

Buddhisme. Teori Kamma Dalam. Y. M. Mahasi Sayadaw. Marlin Bodhi Limas. Y.M. Bhikkhu Abhipañño THE THEORY OF KARMA IN BUDDHISM. Alih Bahasa.

16 Ajahn Sumedho. 55 Rumah Seribu Cermin. 26 Mandi, Bikin Segar dan Sehat! Hal 1

KARMA (KAMMA) ( KARMA DALAM TANYA JAWAB)

Ānāpāna ssati. Yang Mulia Pa Auk Tawya Sayadaw. dijelaskan oleh. ( Sadar Penuh pada Napas )

Dana. Penjelasan Disertai dengan Cerita. U Sikkhānanda

Kamma (6) IV. Berdasarkan Tempat Kematangan Kamma Lingkup Inderawi

BAB 1 PENDAHULUAN. mengenai makna yang dihubungkan dengan gagasan-gagasan yang diarahkan

Purpose of Practising Kammatthana Meditation Perbedaan Antara Samatha & Vipassana

Sobhanacetasika (2) Dhammavihārī Buddhist Studies

agenda special events regular events contents puja bhakti minggu olahraga pagi minggu latihan meditasi kamis

Abhidhammatthasaṅgaha

ALAT ALAT INDERA, ALAT PERNAPASAN MANUSIA, DAN JARINGAN TUMBUHAN

Kata Kunci : Spiritual, Delapan Jalan Mulia

Sampayoganaya Metode Asosiasi (2) Dhammavihārī Buddhist Studies

UNTAIAN KISAH KEHIDUPAN (JATAKAMALA) Kisah Ajastya

Dawai menerima kritik, saran, masukan, juga tulisan berupa artikel dari Anda.

ISSN: Hesti Sadtyadi. Refleksi Evaluatif Pemahaman dan Pemotivasian Siswa Dalam Mencapai Pendidikan Bermutu

62 PANDANGAN SALAH (3) Dhammavihārī Buddhist Studies

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

Sampayoganaya Metode Asosiasi. Dhammavihārī Buddhist Studies

Pengelolaan Mental agar Siap Menghadapi Masalah Kehidupan

Akar Biologi dalam Ilmu Psikologi. Dra. Rahayu Ginintasasi,M.Si

Pembabaran Dhamma yang Tidak Lengkap (Incomplete Teachings)

BUDDHIST PUBLICATION SOCIETY INC.

Sumberdaya perikanan global spesies tuna dan tetunaan

DASAR-DASAR MEDITASI VIPASSANĀ

Manfaatkan Waktu. Semaksimal Mungkin

Abhidhammatthasaṅgaha. Dhammavihārī Buddhist Studies

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pada kegiatan pelaksanaan penelitian, sampel diberi perlakuan (treatment)

PANDANGAN BENAR : Upa. Jayagandho Willy Yandi Wijaya Proof Reader : Upa. Sasanasanto Seng Hansun

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Undang-undang pasal 28 ayat 2 bahwa setiap anak berhak atas

BAB IV HASIL PENELITIAN. Peneliti melaksanakan penelitian sebanyak tiga kali pertemuan yaitu

Dāna-4. Berdana Kepada Bhikkhu Leher Kuning? Pariyatti Sāsana hp ; pin. Friday, April 12, 13

Skripsi Oleh: Dwi Susanti K

Kutipan Pasal 44, Ayat 1 dan 2, Undang-Undang Republik Indonesia tentang HAK CIPTA:

Dua Jenis Tangisan. oleh: Andi Kusnadi

Bab 2. Landasan Teori. Buddhisme dengan suatu citra tertentu, sedangkan dalam komunitas Buddhis tradisional

Sutta Cula- hatthipadopama: Perumpamaan Singkat Jejak Gajah (Cula- hatthipadopama Sutta: The Shorter Elephant Footprint Simile) [Majjhima Nikaya 27]

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Belajar merupakan istilah yang tidak asing lagi dalam kehidupan manusia

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Perkembangan Pandangan Terang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Neni Yuningsih, 2013

II. TINJAUAN PUSTAKA. penting yang dikembangkan oleh guru untuk siswa. Pemanfaatan bahan ajar

MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS MELALUI LEMBAR KERJA SISWA BERDASARKAN KBK PADA PEMBELAJARAN IPA SD. Bambang Gonggo Murcitro

dari redaksi Selamat Ulang Tahun ke-60 Republik Indonesia dan Selamat Ulang Tahun ke-50 MBI. Redaksi

SEKOLAH SENI SANGGAR ANAK AKAR DI JAKARTA

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

DAWAI 46

BAB VII. Fungsi Indera Pengecap

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Transkripsi:

2. PENGELOMPOKAN BERDASARKAN AKAR Akar (hetu) adalah 6 cetasika: 1. Lobha 2. Dosa 3. Moha 4. Alobha 5. Adosa 6. Amoha Menurut spesies / jenis (jāti), akar dibedakan menjadi 9: 1. Akar baik (kusala hetu) ada 3: alobha, adosa, amoha 2. Akar tidak-baik (akusala hetu) ada 3: lobha, dosa, moha 3. Akar yang-tidak-ditentukan (abyākata hetu pada saat muncul di kesadaran resultan dan fungsional) ada 3: alobha,, adosa, amoha. PENGELOMPOKAN CITTA KE DALAM AKAR TERKAITNYA Citta tanpa-akar 18 Sesuai dengan urutan di dalam proses-kognitif, mereka adalah: 1. Pañcadvārāvajjana citta 1 2. Dvipañcaviññāṇa 10 3. Sampaṭicchāna citta 2 4. Santīraṇa citta 3 5. Voṭṭhabbana 1 6. Hasituppāda citta 1 Citta dengan satu-akar (ekahetuka) 2 Mohamūla citta 2 Citta dengan dua-akar (dvihetuka) 22 1. Lobhamūla citta 8

2. Dosamūla citta 2 3. Sobhana ñāṇavippayutta citta 12 Citta dengan tiga-akar (tihetuka) 47 1. Kāmasobhana ñāṇasampayutta 12 2. Rūpāvacara 15 3. Arūpāvacara 12 4. Lokuttara 8 3. PENGELOMPOKAN BERDASARKAN FUNGSI Ada 14 fungsi dari citta: 1. Penyambung-kelahiran-kembali (paṭisandhi) 2. Faktor-kehidupan (bhavaṅga) 3. Yang-mengarahkan (āvajjana) 4. Melihat (dassana) 5. Mendengar (savana) 6. Membaui (ghāyana) 7. Mengecap (sāyana) 8. Menyentuh (phusana) 9. Menerima (sampaṭicchana) 10. Investigasi (santīraṇa) 11. Yang-menentukan (voṭṭhabbana) 12. Impuls (javana) 13. Yang-mempertahankan-objek (tadārammaṇa) 14. Kematian (cuti)

PENGELOMPOKAN BERDASARKAN TEMPAT Ada 10 tempat untuk citta di dalam proses kognitif: 1. Penyambung-kelahiran-kembali (paṭisandhi) 2. Faktor-kehidupan (bhavaṅga) 3. Yang-mengarahkan (āvajjana) 4. Kesadaran pancaindra (pañcaviññāṇa) 5. Yang menerima (sampaṭicchana) 6. Yang menginvestigasi (santīraṇa) 7. Yang-menentukan (voṭṭhabbana) 8. Impuls (javana) 9. Yang-mempertahankan-objek (tadārammaṇa) 10. Kematian (cuti) PENGELOMPOKAN CITTA BERDASARKAN FUNGSI Citta yang berfungsi sebagai penyambung-kelahiran-kembali (paṭisandhi citta) 19 1. Upekkhā santīraṇacitta 2 2. Mahāvipāka 8 3. Rūpāvacara vipākacitta 5 4. Arūpāvacara vipākacitta 4 Keterangan: bhavaṅga citta dan cuti citta juga ada 19, sama persis dengan paṭisandhi citta. Citta yang berfungsi sebagai yang mengarahkan (āvajjanacitta) 2 1. Pañcadvārāvajjana citta 1 2. Manodvārāvajjanacitta 1

Citta yang berfungsi sebagai yang melihat 2 Cakkhu viññāṇa 2 Citta yang berfungsi sebagai yang mendengar 2 Sotaviññāṇa 2 Citta yang berfungsi sebagai yang membaui 2 Ghānaviññāṇa 2 Citta yang berfungsi sebagai yang mengecap 2 Jivhāviññāṇa 2 Citta yang berfungsi sebagai yang menyentuh 2 Kāyaviññāṇa 2 Citta yang berfungsi sebagai yang menerima 2 Sampaṭicchānacitta 2 Citta yang berfungsi sebagai yang menginvestigasi 3 Santīraṇacitta 3 Citta yang berfungsi sebagai yang menentukan 1 Manodvārāvajjanacitta 1 Citta yang berfungsi sebagai impuls 55 1. Akusala citta 12 2. Kusala citta 21 3. Kiriya citta kecuali 2 yang mengarahkan 18 4. Phala citta 4 Citta yang berfungsi sebagai yang-mempertahankan-objek 11 1. Santīraṇa citta 3

2. Mahāvipāka 8 CITTA DENGAN BERBAGAI FUNGSI Citta dengan satu fungsi 68 1. Dvipañcaviññāṇa (sepasang kesadaran pancaindra) 10 2. Pañcadvārāvajjanacitta 1 3. Sampaṭicchānacitta 2 4. Javana citta 55 Keterangan: citta tersebut diatas hanya mempunyai satu fungsi, yakni masing-masing: melihat, mendengar, membaui, mengecap, menyentuh, menerima dan javana. Citta dengan dua fungsi 2 1. Somanassa santīraṇa 1 2. Manodvārāvajjana citta 1 Keterangan: Santīraṇa citta berfungsi sebagai yang menginvestigasi dan tadārammaṇa (yangmempertahankan-objek). Manodvārāvajjanacitta mempunyai dua fungsi sebagai yangmengarahkan (āvajjana) dan yang menentukan (voṭṭhabbana). Citta dengan tiga fungsi 9 1. Rūpāvacara vipāka citta 5 2. Arūpāvacara vipāka citta 4 Keterangan: Sebagai penyambung-kelahiran-kembali, faktor-kehidupan dan kematian. Citta dengan empat fungsi 8 Mahāvipāka 8 Keterangan: Sebagai penyambung-kelahiran-kembali, faktor-kehidupan, kematian dan yangmempertahankan-objek.

Citta dengan lima fungsi 2 Upekkhā santīraṇa 2 Keterangan: Sebagai penyambung-kelahiran-kembali, faktor-kehidupan, kematian, yangmempertahankan-objek dan yang menginvestigasi.