BAB III PUNARBHAVA DALAM AGAMA BUDDHA
|
|
|
- Budi Tedja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 38 BAB III PUNARBHAVA DALAM AGAMA BUDDHA A. Hakekat Punarbhava Tumimbal Lahir, Patisandhi, Punabhava adalah istilah yang dikenal dalam agama Buddha sehubungan dengan kelahiran kembali suatu mahluk hidup dalam alam kehidupan yang sama atau berbeda serta tidak membawa kesadaran akan kehidupan dari alam sebelumnya. 1 Punarbhava adalah kelahiran kembali atau tumimbal lahir. Dalam agama Buddha dikenal juga dengan penerusan dari nama (patisandhi vinnana). Ketika seseorang akan meninggal dunia, kesadaran ajal (cuti citta) mendekati kepadaman dan didorong oleh kekuatan-kekuatan kamma. Kemudian kesadaran ajal padam dan langsung menimbulkan kesadaran penerusan (patisandhi vinnana ) untuk timbul pada salah satu dari tiga alam kehidupan sesuai dengan karmanya. Keinginan tak terpuaskan akan keberadaan dan kenikmatan inderawi adalah sebab tumimbal lahir. Dengan memadamkan nafsu keinginan maka kita dapat menghentikan tumimbal lahir. Nafsu keinginan ini merupakan salah satu sebab yang menimbulkan karma dan menimbulkan proses kelahiran kembali. 2 Ajaran agama Buddha tentang tumimbal lahir harus bedakan dari ajaran tentang 1 diakses tgl 20 Maret Sri Dhammananda, Keyakinan Umat Buddha, (Kuala Lumpur: Pustaka Karaniya, Cetakan ke- 5 agustus 2007), hlm. 146.
2 39 perpindahan dan reinkarnasi dari agama lain. Tumimbal lahir atau punarbhava yang disebut juga penerusan ( patisandhi) bukan perpindahan roh karena dalam agama Buddha tidak mengenal roh yang kekal dan berpindah. Dalam agama Buddha dikenal dengan penerusan dari nama (patisandhi vinnana). Secara umum ada empat cara tumimbal lahirnya mahluk-mahluk, yaitu Jalabuja-yoni (lahir melalui kandungan seperti manusia, sapi, dan kerbau), andaja-yoni (lahir melalui telur seperti ayam, bebek, dan burung), sansedaja-yoni (lahir melalui kelembaban seperti nyamuk dan ikan), dan opapatika-yoni (lahir secara spontan seperti mahluk-mahluk alam dewa dan peta). Ada dua pendapat tentang tumimbal lahir, yang pertama menurut Abhidhamma bahwa tumimbal lahir terjadi segera setelah kematian suatu mahluk tanpa keadaan antara apapun. Sedangkan yang kedua ada yang berpendapat bahwa suatu mahluk setelah mati maka kesadaran atau energi mental mahluk tersebut tetap ada dalam suatu tempat, didukung oleh energi mental akan nafsu dan kemelekatannya sendiri, menunggu hingga cepat atau lambat tumimbal lahir terjadi. Seorang Buddha atau arahat tidak akan terlahir kembali karena telah menghentikan karma. Dalam Dhammacakkapavatana sutta sang Buddha mengatakan bahwa inilah kelahiran-ku yang terakhir, tiada lagi tumimbal lahir bagi-ku. Hal tersebut membuktikan bahwa seorang Buddha tidak akan terlahir kembali.
3 40 Dengan adanya proses menjadi maka terjadilah kelahiran, dengan adanya kelahiran maka terjadilah kelapukan dan kematian. Kelapukan dan kematian menyebabkan kelahiran. Itu adalah mata rantai yang tidak dapat terputus, kelahiran terjadi setelah ada kematian dan kematian terjadi karena ada kelahiran. Makhluk hidup setelah mati akan langsung terlahir kembali ( patisandhi) tanpa menunggu jeda. B. Proses Punarbhava Dalam agama Buddha dipercayai adanya suatu proses kelahiran kembali (Punarbhava). Semua makhluk hidup yang ada di dalam semesta ini akan terus menerus mengalami punarbhava selama makhluk tersebut belum mencapai tingkat kesucian Arahat. Alam kelahiran ditentukan oleh karma makhluk tersebut. Bila ia baik maka dia akan terlahir di alam bahagia, bila ia jahat ia akan terlahir di alam yang menderitakan. Kelahiran kembali juga dipengaruhi oleh Garuka Kamma yang artinya karma pada detik kematiannya, bila pada saat ia meninggal dia berpikirran baik maka ia akan lahir di alam yang berbahagia, namun sebaliknya akan terlahir di alam yang menderitakan, sehingga segala sesuatu tergantung dari karma masing-masing. Di dalam proses kelahiran kembali sangat ditentukan oleh karma, karena setiap perbuatan yang dilandasi kehendak akan membuahkan hasil atau akibat. Perbuatan baik, akan berubah baik, dan perbuatan buruk akan berubah buruk. Karma adalah suatu hukum alam yang bekerja secara ketat sesuai dengan
4 41 tindakatan kita. 3 Kelahiran kembali terbentuk oleh suatu kebajikan dan kejahatan yang diperbuat dalam kehidupan saat ini dan sebelumnya karena proses kelahiran kembali dan kematian penuh dengan penderitaan, pembebasan dari lingkaran kelahiran dan kematian. Kelahiran kembali akan selalu terjadi selama nafsu akan keberadaan dan kesenangan melekat di dalam pikiran. Dalam mencapai suatu kelahiran kembali harus selalu berharap, berdoa dan melakukan usaha yang sungguh-sungguh untuk menghilangkan nafsu yang melekat dalam pikiran manusia Pengertian Kamma atau Karma Kamma berasal dari bahasa Pali, yang artinya tindakan atau perbuatan. 5 Dan Karma berasal dari bahasa Sanskerta, yang artinya perbuatan. Segala macam tindakan yang disengaja baik itu batin, ucapan maupun jasmani dipandang sebagai Karma. Di sebut sebagai Karma hanya perbuatan yang berkehendak, sedangkan perbuatan tanpa kehendak bukanlah Karma. Karma bukan saja sebuah keberuntungan, yang menunjukkan bahwa sesuatu terjadi tanpa suatu sebab. Karma sendiri adalah sebuah sebab dan karma akan membuahkan hasil yang setimpal. Tidak ada yang terjadi tanpa suatu sebab, karena seseorang yang beruntung atau tidak beruntung itu adalah 3 Ibid., hlm Sri Dhammananda, Tumimbal Lahir, (Kuala Lumpur: Pustaka Karaniya, September 2002), hlm Narada, Sang Buddha dan Ajaran-ajaran-Nya, (Jakarta: Yayasan Dhammadipa Arama),hlm. 61
5 42 sebagai hasil tindakan yang disertai kehendak yang dilakukan sebelumnya dalam kehidupan sekarang atau dalam kehidupan sebelumnya. Ketika seseorang memahami dengan benar prisip karma dan akibatakibatnya, seseorang akan mempunyai pengertian benar dan pandangan benar. Pandangan benar ( sammaditthi) mengarahkan pada pikiran benar, perkataan benar, tindakan benar, kehidupan benar dan moral yang baik. Jika seseorang tidak memperhatikan karma dan akibat-akibatnya, tidak memahaminya dan mengabaikannya menimbulkan pengertian salah dan pandangan salah. Pandangan yang salah (miccaditthi) mengarahkan pada pikiran salah, perkataan salah, tindakan salah, kehidupan salah, dan karakter yang buruk. Pandangan benar menyebabkan perbuatan baik yang belum muncul akan muncul, melipatgandakan perbuatan baik yang sudah muncul, dan akan mengkondisikan kelahiran kembali yang bahagia setelah meninggal atau mati. Pandangan benar tidak selamanya dalam pengondisikan kelahiran kembali yang bahagia di alam yang membahagiakan. Sedangkan pandangan salah menyebabkan perbuatan buruk yang belum muncul menjadi muncul, melipatgandakan perbuatan buruk yang sudah muncul, dan akan mengkondisikan kelahiran kembali yang sengsara setelah mati. Pandagan salah tidak selamanya dalam mengondisikan kelahiran kembali yang sengsara di alam yang menyedihkan.
6 43 Menurut ajaran Karma Buddhis, seseorang tidak selalu dipaksa oleh keharusan yang kuat, karna karma bukanlah nasib atau takdir yang diberikan untuk kita oleh kekuatan yang tidak dikenal, yang dengan tanpa daya kita harus menyerahkan diri kepadanya. Ia adalah perbuatan sendiri yang bereaksi pada siri sendiri, dan oleh karena itu seseorang mempunyai kekuatan untuk membelokkan jalannya Karma sampai batas-batas tententu. Sejauh mana seseorang membelokkannya, tergantung pada dirinya sendiri. 2. Sebab Terjadinya Karma Suatu perbuatan ( karma) yang dilakukan oleh seseorang karena adanya sebab yang mempengaruhinya. Karma bukan hanya sebagai sebab untuk menimbulkan akibat (vipāka), tetapi juga sebagai akibat dari suatu hal. Karma yang dilakukan seseorang diakibatkan oleh beberapa sebab yang mempengaruhi. Menurut Kalupahana, tingkah laku atau perbuatan (karma) seseorang ditentukan atau disebabkan oleh tiga faktor, yaitu rangsangan luar, motif yang disadari, dan motif yang tidak disadari. 6 Perbuatan (karma) yang dilakukan seseorang didasari oleh salah satu dari ketiga faktor tersebut. Perbuatan (karma) yang disebabkan oleh rangsangan luar dipengaruhi oleh kontak (phassa). Kontak yang dimaksud adalah enam landasan indera yaitu mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran mengalami kontak dengan 6 Kalupahana, David J, Filsafat Buddha (Sebuah Analisis Historis),(Jakarta: Penerbit Erlangga, 1986), hlm. 46.
7 44 objek. Indera mata (cakkhu) kontak dengan objek bentuk (rupa), telinga (sota) kontak dengan objek suara (sadda), hidung (ghana) kontak dengan objek bau (gandha), lidah (jivha) kontak dengan objek rasa (rasa), tubuh atau badan jasmani (kaya) kontak dengan objek sentuhan (phoṭṭabba), dan pikiran (mano) kontak dengan objek kesan-kesan batin (dhamma). Perbuatan yang dipengaruhi oleh rangsangan dari luar seperti gerak refleks. Contohnya seorang bayi yang menyentuh api dengan tangan maka dengan cepat akan menarik tangannya dari api tersebut. 7 Hal tersebut menunjukkan indera peraba dari tubuh mengalami kontak dengan api. Perbuatan yang dilakukan bayi tersebut disebabkan oleh rangsangan dari luar, yaitu api. Kalupahana, menjelaskan bahwa perbuatan yang dilakukan dengan motif yang disadari terdiri dari tiga akar penyebab karma buruk dan tiga akar penyebab karma baik. Tiga akar penyebab karma buruk, yaitu keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan kebodohan batin atau kegelapan batin (moha). Tiga akar penyebab karma baik, yaitu tanpa keserakahan (alobha), tanpa kebencian (adosa), dan tanpa kebodohan batin (amoha). Tiga akar penyebab karma tidak baik yang terdiri dari keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan kebodohan batin atau kegelapan batin (moha) merupakan akar dari perbuatan buruk yang dilakukan seseorang. Keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan batin (moha) membuat seseorang 7 Wawancara dengan bante supri, pada tgl 20 februari 2015
8 45 melakukan perbuatan tidak baik contohnya membunuh saudara sendiri untuk menguasai kekayaannya (lobha), membunuh seseorang karena sering direndahkan (dosa), dan membunuh karena tidak mengetahui bahwa membunuh adalah perbuatan yang tidak baik (moha). Segala bentuk perbuatan tidak baik akarnya adalah keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan batin (moha). Sebaliknya tanpa keserakahan (alobha), tanpa kebencian (adosa), dan tanpa kebodohan batin (amoha) membuat seseorang melakukan perbuatan baik, contohnya sering berdana di vihāra (alobha), menolong binatang yang sedang kesakitan (adosa), dan menolong teman yang sedang kesusahan dengan memiliki pengertian bahwa yang dilakukan adalah hal yang benar (amoha). Segala bentuk perbuatan baik akarnya adalah tanpa keserakahan (alobha), tanpa kebencian (adosa), dan tanpa kebodohan batin (amoha). 8 Perbuatan yang dilakukan dengan motif yang tidak disadari antara lain adalah keinginan untuk hidup kekal (jīvitukāma) dan keinginan untuk menghindar dari kematian (amaritukāma). Keinginan untuk hidup kekal dan tidak menginginkan kematian terdapat dalam diri seseorang. Hal tersebut dapat dibuktikan ketika seseorang terancam kehidupannya. Contohnya ketika seseorang akan dibunuh oleh orang lain, maka ia akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menghindar dari orang yang ingin membunuhnya. Selain itu, 8 Kalupahana, David J, Filsafat Buddha (Sebuah Analisis Historis), hlm. 47.
9 46 terdapat keinginan untuk menikmati kesenangan (sukhakama) dan penghindaran dari kesakitan (dukkhapaṭikkāla). Keinginan untuk menikmati kesenangan dan menghindar dari kesakitan terdapat dalam diri seseorang. Seseorang tidak akan mau mengalami kesakitan dan selalu menginginkan kesenangan dan kebahagiaan. Motif-motif tersebut meskipun tidak disadari, tetapi dihasilkan dari pandangan keliru terhadap keberadaan manusia. Oleh karena itu, seseorang akan menerima akibat dari perbuatan yang dilakukannya. Menurut Narada, 9 ketidak-tahuan (avijjā) atau tidak memahami segala sesuatu sebagaimana adanya merupakan sebab utama yang menyebabkan karma. Hal tersebut didasarkan pada penjelasan dalam paṭiccasamuppāda (hukum sebab musabab yang saling bergantungan). Dengan adanya ketidaktahuan maka timbullah bentuk-bentuk karma (avijjā paccaya saṅkhāra). Dengan adanya ketidak-tahuan dalam diri seseorang, maka akan melakukan perbuatan tidak baik (akusala-kamma). Selain ketidak-tahuan (avijjā), nafsu keinginan (taṇhā) juga merupakan sebab yang menimbulkan suatu perbuatan (karma). Ketidak-tahuan (avijjā) dan nafsu keinginan (taṇhā) merupakan akar dari perbuatan jahat atau tidak baik. Seseorang yang diliputi ketidak-tahuan dan nafsu keinginan maka akan melakukan perbuatan yang tidak baik yang akan menimbulkan penderitaan bagi dirinya sendiri. 9 Narada, Sang Buddha dan Ajaran-ajaran-Nya, hlm. 356.
10 47 Kaharuddin menjelaskan dua macam bhava, yaitu kammabhava (proses karma, yaitu bentuk-bentuk karma yang dapat menyebabkan kelahiran kembali) dan uppatibhava (proses kelahiran kembali akibat dari bentukbentuk karma yang dilakukan). Dalam hal ini, keinginan dan kemelekatan akan menimbulkan kammabhava, yaitu proses karma (bentuk-bentuk karma). Sebagai contoh, seseorang yang memiliki keinginan (taṇha), yaitu keinginan untuk memiliki perhiasan yang mewah, jika hal tersebut terus-menerus dilakukan maka akan menimbulkan kemelekatan (upadana). Keinginan dan kemelekatan terhadap perhiasan mewah membuat seseorang melakukan berbagai bentuk perbuatan. Misalnya, bila tidak memiliki uang untuk membeli perhiasan mewah, maka akan melakukan perbuatan buruk yaitu mencuri uang. Perbuatan yang menimbulkan perwujudan (bhava) atau lebih tepatnya kammabhava dalam paṭiccasamuppada disebut sebagai perbuatan sekarang. 10 Di dalam hukum karma dan kelahiran kembali menerangkan beberapa hal sebagai berikut: 11 a. Masalah penderitaan yang menjadi tanggung jawab kita sendiri. b. Ketidakadilan di antara sesama makhluk. c. Kehadiran para jenius dan bayi ajaib. 10 Kaharudin, Pandit J, Abhidhammatthasangaha (Jilid I), (Jakarta: CV Nitra Kencana Buana. 2004), hlm Ibid., hlm
11 48 d. Mengapa kembar identik yang secara fisik sangat mirip, menikmati kesempatan yang sama, dapat mempertunjukkan karakteristik, mental, moral, emosi, dan intelektual yang sangat berbeda. e. Perbedaan anak-anak dari satu keluarga, walaupun hukum keturunan dapat menerangkan tentang kesamaan. f. Kemampuan luar biasa dari orang-orang tertentu, yang dimilikinya sejak kelahiran. g. Bagaimana dalam diri kita ditemukan timbunan kejahatan dan simpanan kebaikan. h. Timbulnya luapan nafsu yang tak diharapkan pada yang berbudaya tinggi, dan kemungkinan terjadinya perubahan mendadak dari orang jahat menjadi orang suci. i. Bagaimana anak jahat terlahir dari orang tua yang saleh dan anak saleh terlahir dari orang tua yang jahat. j. Sebab-sebab kematian sebelum waktunya dan perubahan peruntungan yang tidak diharapkan. Penyebab datangnya kematian karena salah satu sebab sebagaai berikut: 1. Habisnya usia hidup 2. Habisnya kekuatan karma penghasil 3. Habisnya usia hidup dan kekuatan karma penghasil 4. Campur tangan suatu karma penghancur.
12 49 Empat sebab yang telah dijelaskan di atas, itulah sebab-sebab dari kematian. Di dalam agama Buddha juga dijelaskan ada empat cara kelahiran, yaitu: Jajabuja-Yoni : Makhluk yang lahir dari kandungan, seperti manusia, kuda, kerbau dan lain-lain 2. Andaja-Yoni : Makhluk yang lahir dari telur, seperti Burung, ayam, bebek dan lain-lain 3. Sansedaja-Yoni : Makhluk yang lahir dari kelembaban, seperti nyamuk, ikan dan lain-lain. 4. Opapatika-Yoni : Makhluk yang lahir secara spontan, langsung membesar, seperti para dewa, brahma, makhluk neraka, setan dan lain-lain. Bagi mereka yang diambang kematian, karma yang akan menentukan kelahiran kembali terwujudkan dalam salah satu dari empat cara sebagai berikut: Suatu karma yang akan menghasilkan kelahiran kembali di keberadaan kehidupan berikutnya. Contohnya: seseorang yang baik dengan kecenderungan spiritual mungkin mengingat perbuatannya memberikan sumbangan kepada orang miskin, sedangkan orang yang berdarah dingin 12 Ibid., hlm Bhikkhu Aggacitta, Mati di sini, Hidup di sana (Peranan Kamma dalam Kematian dan kelahiran Kembali), (Medan: Bodhi Buddhist Centre Indonesia,2008), hlm
13 50 mungkin mengingat bagaimana dia merencanakan pembunuhan seorang kerabat untuk mewarisi hartanya. 2. Suatu pertanda karma, yaitu suatu objek yang berhubungan dengan perbuatan baik ataupun buruk yang akan menentukan kelahiran kembali atau alat yang digunakan untuk melakukan perbuatan tersebut. Contohnya: seseorang yang taat mungkin melihat gambaran seorang bhikkhu. 3. Suatu pertanda tujuan, yaitu suatu lambang alam tempat akan terlahirnya orang yang akan mati. Contohnya: seseorang yang akan terlahir di alam surga mungkin mendengarkan musik surgawi, dan seseorang yang akan terlahir di alam neraka mungkin merasakan panasnya api yang sangat mengerikan. 4. Karma yang akan menghasilkan kelahiran kembali keberadaan berikutnya tidak tampil sebagai gambaran ingatan tentang sesuatu yang telah dilakukan sebelumnya, melainkan tampil pintu pikiran sehingga seakanakan perbuatan itu sedang dilakukan pada saat sebelum kematian tersebut. Contohnya: orang yang akan mati tersebut mungkin merasa seakan dia sedang melakukan perbuatan jahat, walaupun perbuatan tersebut telah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Ada tiga cara melakukan suatu perbuatan yang disebut sebagai karma: Dengan perbuatan badan yang disebut kayakamma. 14 Mehm Tsin Mon, Karma Pencipta Sesungguhnya, (Bogor: Yayasan Hadaya Vatthu, Cet ke V Oktober 2011), hlm. 107.
14 51 2. Dengan perbuatan ucapan yang disebut vacikamma. 3. Dengan perbuatan mental yang disebut manokamma. Badan, kepala, tangan dan bibir tidak bisa bergerak sendiri, mereka ini digerakkan oleh batin melalui kelompok materi yang dihasilkan oleh kesadaran (cittaja rupa). Maka, hanya batinlah yang sesungguhnya melakukan ketiga jenis tindakan tersebut. Cara yang dipakai untuk munculnya karma disebut pintu karma ( Kammadvara), terdapat tiga pintu yaitu: Pintu Jasmani atau Kayadvara, yaitu gerakan jasmani khusus yang disebut kayavinnatti dimana perbuatan jasmani terjadi. 2. Pintu Mulut atau Vacidvara, yaitu gerakan mulut yang menghasilkan ucapan yang disebut vacivinnatti. 3. Pintu Pikiran atau Manodvara, yaitu semua kesadaran mengacu pada perbuatan berpikir itu muncul. Ada tiga jenis karma berdasarkan pintu karma, yaitu: 16 a. Perbuatan dengan Jasmani atau Kayakamma, biasanya dilakukan oleh gerakan badan khusus atau isyarat badan. b. Perbuatan Berucap atau Vacikamma, biasanya dilakukan oleh isyarat ucapan. 15 Ibid., hlm Ibid.,
15 52 c. Perbuatan Berpikir atau Manokamma, biasanya dilakukan di dalam pikiran dan oleh pikiran. Ada tiga macam perbuatan buruk yang terdiri dari, tiga perbuatan dengan jasmani, empat perbuatan dengan ucapan, tiga perbuatan dengan pikiran. Masing-masing perbuatan itu dikenali dari kehendak yang mengawali suatu usaha untuk melaksanakan masing-masing perbuatan. Karakteristik sebuah perbuatan utuh adalah karma yang di-akibatkannya mempunyai kemampuan untuk muncul dalam peran kelahiran kembali, yaitu peran karma berdaya-hasil (janaka-kamma) sebagai berikut: 17 a. Tiga Perbuatan Dengan Jasmani Yang Buruk, yaitu: 1) Panatipata adalah membunuh makhluk hidup 2) Adinnadana adalah mencuri atau mengambil milik orang lain dengan melanggar hukum. 3) Kamesumicchacara adalah perbuatan asusila dan penyalahgunaan seksual. b. Empat Perbuatan Dengan Ucapan Yang Buruk, yaitu: 1) Musavada adalah berdusta atau berkata bohong. 2) Pisunavaca adalah memfitnah 3) Pharusavaca adalah berucap dengan kasar atau kata-kata kasar 4) Samphappalapa adalah berkata sia-sia dan tidak berguna. 17 Ibid.,
16 53 c. Tiga Perbuatan Dengan Pikiran Yang Buruk, yaitu: 1) Abhijjha adalah iri hati 2) Vyapada adalah keinginan jahat atau berharap untuk mencelakakan makhluk lain 3) Micchaditthi adalah pandangan salah, menganggap karma dan akibatnya tidak ada. 18 Ada tiga macam perbuatan baik yang terdiri dari, tiga perbuatan dengan jasmani, empat perbuatan dengan ucapan, tiga perbuatan dengan pikiran. Masing-masing perbuatan itu dikenali dari kehendak yang mengawali suatu usaha untuk melaksanakan masing-masing perbuatan sebagai berikut: 19 a. Tiga Perbuatan Baik Jasmani, yaitu: 1) Panatipata-virati adalah menghindari membunuh. 2) Adinnadana-virati adalah menghindari mencuri. 3) Kamesumicchacara-virati adalah menghindari perbuatan asusila b. Empat Perbuatan Baik Ucapan, yaitu: 1) Musavada-virati adalah menghindari berdusta. 2) Pisunavaca-virati adalah menghindari memfitnah 3) Pharusavaca-virati adalah menghindari berkata kasar. 4) Samphappalapa-vitari adalah menghindari berkata tidak berguna. 18 Ibid., 19 Ibid.,
17 54 c. Tiga Perbuatan Baik Pikiran, yaitu: 1) Abhijjha adalah tidak menginginkan milik orang lain. 2) Avyapada adalah keinginan baik atau tidak adanya niat jahat. 3) Sammaditthi adalah pandangan benar yang percaya akan karma dan akibatnya. 20 Sepuluh dasar perbuatan baik ( Punnakriya Vatthu) yang harus dilakukan karena akan membuahkan hasil yang sangat besar, yaitu: Dana yaitu bermurah hati 2. Sila yaitu moral yang baik atau melaksanakan lima sila, delapan sila, sepuluh sila 3. Bhavana yaitu meditasi ketenangan dan meditasi pandangan terang 4. Apacayana yaitu menghormati kepada yang lebih tua 5. Veyavacca yaitu melayani dalam perbuatan baik 6. Pattidana yaitu pelimpahan jasa 7. Pattanumodana yaitu bergembira atas kebaikan yang dilakukan orang lain 8. Dhammassavana yaitu mendengarkan Dhamma 9. Dhammadesana yaitu mengajarkan Dhamma 10. Ditthijjukamma yaitu meluruskan pandangan salah seseorang atau mempunyai pandangan benar. 20 Ibid., 21 Ibid.,
18 55 Kesepuluh dasar perbuatan baik diatas dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: a. Kelompok Dana : dana, pattidana, pattanumodanna. b. Kelompok Sila : sila, appacayana, veyavacca. c. Kelompok Bhavana : bhavana, dhammassavana, dhammadesana, ditthijjukamma. Dari berbagai jenis karma yang membuahkan hasil, Sang Buddha membagi karma menjadi empat kelompok masing-masing empat karma sebagai berikut: Empat jenis karma berkenaan dengan fungsi 2. Empat jenis karma menurut prioritas dalam membuahkan hasil 3. Empar jenis karma berkenaan dengan waktu membuahkan hasil 4. Empat jenis karma berkenaan dengan tempat dimana hasilnya muncul a. Empat Jenis Karma Berkenaan Dengan Fungsi 1) Janaka kamma (karma yang bisa menghasilkan kehidupan baru) Karma ini adalah karma yang kuat yang bisa menghasilkan sebuah kehidupan baru. Kesadaran atau pikiran muncul silih berganti terus menerus dalam satu rangkaian yang tidak putus. Kesadaran hasil yang pertama bertindak sebagai kesadaran kelahiran kembali, kesadaran yang berikutnya 22 Ibid.,
19 56 sebagai kesadaran kelangsungan kehidupan, dan kesadaran yang terakhir sebagai kesadaran kematian. 23 Kalau karma berdaya-hasilnya adalah kesadaran alam nafsu indera yang baik, kehidupan yang baru bisa muncul di alam manusia atau salah satu alam bahagia yang disebut alam dewa. Kalau karma berdaya-hasilnya adalah buruk, kehidupan barunya adalah disalah satu tempat alam sengsara, dan seterusnya. 2) Upatthambhaka kamma (karma pendukung) Untuk orang yang terlahir di alam bahagia dengan dukungan karma berdaya-hasil yang baik, semua karma baik itu akan muncul bersama di arus batinnya akan bertindak sebagai karma pendukung, sedangkan semua karma buruk di arus batinnya akan bertindak sebagai karma penghalang. 3) Upapilaka kamma (karma penghalang) Ketika seseorang melakukan perbuatan baik terus-menerus, kumpulan karma baiknya menjadi kuat dan mereka bisa menekan karma buruk untuk tidak berkesempatan membuahkan hasil. Tetapi, ketika orang itu menjadi lupa berbuat baik karena sibuk menikmati kemewahan hidup dari kelimpahannya dan karma buruknya meningkat karena tingkah lakunya yang tidak bijaksana, kumpulan karma buruknya menjadi cukup kuat untuk menekan karma baiknya dalam membuahkan hasil. 23 Ibid.,
20 57 4) Upaghataka kamma (karma penghancur dan membuahkan hasilnya sendiri) Karma penghacur bisa karma baik ataupun karma buruk yang menggantikan karma lainnya yang lebih lemah, menghalanginya dalam membuahkan hasil. Sebagai contoh, seseorang mungkin saja melalui karma berdaya hasilnya itu ditakdirkan berumur panjang, tetapi karma penghancurnya mungkin muncul dan membawa kematian waktu muda dengan cara kecelakaan dan lain-lain. b. Empat jenis karma menurut prioritas dalam membuahkan hasil Semua karma di arus batin dikategorikan sebagai empat jenis berdasarkan hak yang lebih tinggi dalam memerankan tugasnya yang menghasilkan kelahiran kembali kehidupan berikutnya. 24 1) Garuka Kamma (Karma Berat) Karma berat adalah dari kuatnya perbuatan yang tidak bisa dihentikan dengan karma lain sebagai penentu kelahiran berikutnya. Karma berat yang buruk adalah lima kejahatan yang keji (Pancanantriya kamma) dan pandangan salah yang permanen (Niyata-micchaditthi). Lima kejahatan yang keji adalah: 1. Pitughataka Kamma (membunuh ayah) 2. Matughataka Kamma (membunuh ibu) 24 Ibid.,
21 58 3. Arahantaghhataka Kamma (membunuh seorang arahat) 4. Lohituppadaka Kamma (melukai Sang Buddha) 5. Samghabhedaka Kamma (menyebabkan perpecahan di Sangha) Kejahatan menjadi lebih keji sesuai dengan urutan di atas. Siapa pun yang melakukan salah satu dari kejahatan ini pasti akan masuk ke neraka ketika mati. Kalau seseorang mencapai jhana dan kemudian melakukan salah satu dari lima kejahatan keji, maka karma baiknya akan dimusnahkan dengan tindakan jahatnya, dan tindakan jahat ini akan menyebabkan kelahiran kembali di neraka. 2) Asana Kamma (Karma Menjelang Kematian) Karma menjelang kematian adalah karma baik ataupun buruk yang kuat dilakukan. Kalau seseorang dengan karakter buruk melakukan perbuatan baik sesaat sebelum meninggal atau mengingat perbuatan baik yang dilakukannya pada saat-saat terakhirnya, dia akan menerima kelahiran kembali yang menguntungkan dan juga sebaliknya. Meskipun orang jahat bisa mendapatkan kelahiran kembali yang bahagia karena karma menjelang kematian yang baik, ini tidak berarti dia akan lolos dari hasil-hasil perbuatan buruk yang sudah dilakukan selama masa hidupnya. 3) Acinna Kamma (Karma Kebiasaan) Karma kebiasaan adalah perbuatan baik atau buruk yang dilakukan seseorang secara terus menerus. Kalau seseorang menjalankan ajaran moral
22 59 setiap hari dan merenungkan moralitasnya yang murni dengan teratur, pengamatannya pada moralitas menjadi karma kebiasaan baiknya. 4) Katatta Kamma (Karma Yang Tak- Tentu) Karma yang tak-tertentu adalah perbuatan apa saja, yang tidak termasuk dalam kategori-kategori yang sebelumnya, yang sudah dilakukan sebelumnya dan sudah dilupakan, tapi yang cukup kuat untuk menghasilkan kelahiran kembali. c. Empat jenis karma berkenaan dengan waktunya membuahkan hasil 25 1) Ditthadhamma vedaniya kamma (karma yang efektif seketika) Karma ini bisa menjadi matang dan membuahkan hasilnya di kehidupan sekarang. Sebagai contoh, seseorang melakukan perbuatan kriminal seperti mencuri, pemerkosa, pembunuh dihukum dan dimasukkan kepenjara. Mereka harus menderita akibat perbuatan buruk pada kehidupan ini. 2) Upapajjavedaniya kamma (karma yang efektif kemudian) Karma ini bisa menjadi matang dan membuahkan hasilnya dikehidupan berikutnya. 3) Aparapariyavedaniya kamma (karma yang efektief tak-tentu) Karma ini bisa matang kapan saja dari kehidupan kedua berikutnya sampai kehidupan terakhir ketika seseorang mencapai arahat, dan karma ini bisa membuahkan hasil kalau ada kesempatan untuk muncul. Karma 25 Ibid.,
23 60 ini tidak pernah mati selama lingkaran tumimbal-lahir masih tetap berlanjut. 4) Ahosi kamma (karma yang mati) Karma yang efektif seketika, karma yang efektif kemudian dan karma yang efektif tak-tentu, yang tidak mempunyai kesempatan untuk membuahkan hasil selama batas waktu tertentu maka akan menjadi mati atau tidak efektif lagi. d. Empat jenis karma berkenaan dengan kedudukannya 26 1) Akusala kamma (karma buruk) Karma ini berhubungan dengan kedua belas jenis pikiran buruk dan karma-karma yang masih ada di dalam arus batin disebut karma buruk. 2) Kamavacara kusala kamma (karma baik alam nafsu-indera) Karma ini berhubungan dengan kedelapan karma baik di alam nafsu-indera. 3) Rupavacara kusala kamma (karma baik alam materi-halus) Karma ini berhubungan dengan kelima kesadaran baik di alam materi-halus. 4) Arupavacara kusala kamma (karma baik alam tak-bermateri) Karma ini berhubungan dengan keempat kesadaran baik di alam takbermateri. Proses kelahiran kembali ini terdapat di dalam 31 alam kehidupan yaitu tempat berdiamnya makhluk-makhluk. Jika seseorang yang belum menjadi Arahat 26 Ibid.,
24 61 (orang suci) itu meninggal dunia, maka ia akan dilahirkan dalam salah satu alam dari tiga puluh alam kehidupan sesuai karmanya. Tiga puluh alam kehidupan terbagi atas tiga kelompok, yaitu: Kama-Bhumi sebelas : sebelas alam kehidupan yang makhluk-makhluknya masih senang dengan nafsu indera dan terikat dengan panca indera. 2. Rupa-Bhumi enam belas : enam belas alam kehidupan yang makhlukmakhluknya mempunyai Rupa-Jhana. 3. Arupa-Bhumi empat : empat alam kehidupan yang makhluk-makhluknya mempunyai Arupa-Jhana. Dengan demikian, kama-bhumi sebelas dikelompokkan menjadi beberapa bagian, yaitu: 1. Kama-Bhumi sebelas adalah : 28 a. Apaya-Bhumi empat (empat alam kehidupan yang menyedihkan yang dipandang sebagai keadaan batin dan sebagai tempat), yaitu: 1. Niraya-Bhumi (alam neraka), yaitu keadaan yang menyedihkan tempat para makhluk menebus karma buruk mereka. Ini bukan neraka yang kekal dimana para makhluk menderita tanpa akhir. Setelah habisnya karma buruk ada suatu kemungkinan bagi makhluk-makhluk yang lahir dalam keadaan seperti ini untuk 27 Pandi J. Kaharuddin, Abhidhammatthasangaha Jilid Satu, (Jakarta Pusat: CV. Nitra Kencana Buana, 1989), hlm Ibid., hlm
25 62 dilahirkan kembalikan dalam keadaan yang penuh kebahagian sebagai hasil dari perbuatan-perbuatan baik mereka yang lalu. Perbuatan yang dapat mengakibatkan kelahiran di alam neraka adalah: suka membunuh, suka korupsi, anti agama yaitu tidak percaya pada hukum karma, membunuh orang tua dan arahat (orang suci), menggugurkan kandungan, suka berzina. 2. Tiracchana-Bhumi (alam binatang), yaitu menurut umat Buddha, bahwa makhluk-makhluk dilahirkan sebagai binatang-binatang karena karma buruk. Ada kemungkinan binatang-binatang dilahirkan sebagai manusia akibat karma baik yang telah dilakukan dimasa lalu. Karma seseoranglah yang menentukan sifat dari bentuk wujud seseorang yang berbeda-beda menurut kebajikan atau ketidak bajikan tindakan seseorang. Makhluk-makhluk ini tidak memiliki tempat yang khusus. 3. Peta-Bhumi (alam setan), disebut alam setan karena makhluk yang diam di alam ini jauh dari kesenangan dan kebahagian. Makhluk setan ini terbagi dari beberapa kelompok-kelompok setan yang disebut Peta empat, Peta dua belas, Peta dua puluh satu sebagai berikut: a. Peta empat, yaitu:
26 63 1) Paradattupajivika-Peta : setan yang memelihara hidupnya dengan memakan yang disuguhkan orang dalam upacara sembahyang. 2) Khupapipasika-Peta: setan yang selalu lapar dan haus 3) Nijjhamatanhika-Peta: setan yang selalu kepanasan 4) Kalakancika-Peta: setan yang sejenis Asura b. Peta dua belas, yaitu: 1) Vantasa-Peta : setan yang memakan air ludah, dahak dan muntah 2) Kunapasa-Peta : setan yang memakan mayat manusia dan binatang 3) Guthakhadaka-Peta : setan yang memakan berbagai macam kotoran 4) Aggijalamukha-Peta : setan yang dimulutnya selalu ada api 5) Sucimuja-Peta : setan yang mulutnya sekecil lobang jarum 6) Tanhattita-Peta : setan yang dikendalikan tanha (nafsu) sehingga selalu lapar dan haus 7) Sunijjhamaka-Peta : setan yang bertubuh hitam seperti arang 8) Suttanga-Peta : setan yang mempunyai kuku, tangan dan kaki yang panjang dan setajam pisau 9) Pabbatannga-Peta : setan yang bertubuh setinggi gunung
27 64 10) Ajagaranga-Peta : setan yang bertubuh seperti ular 11) Vemanika-Peta : setang yang menderita diwaktu siang, dan senang diwaktu malam dalam kahyangan. 12) Mahidadhika-Peta : setan yang mempunyai kekuatan ilmu gaib. c. Peta dua puluh satu, yaitu : 1) Atthisankhasika-Peta : setan yang mempunyai tulang bersambung tetapi tidak mempunyai daging. 2) Mansapesika-Peta : setan yang mempunyai daging terpecahpecah tetapi tidak mempunyai tulang 3) Mansapinada-Peta : setang yang mempunyai daging berkeping-keping 4) Nicachaviparisa-Peta : setan yang tidak mempunyai kulit 5) Asiloma-Peta : setan yang berbulu hitam 6) Sattiloma-Peta : setan yang berbulu seperti tombak 7) Usuloma-Peta : setan yang berbulu panjang seperti anak panah 8) Suciloma-Peta : setan yang berbulu seperti jarum 9) Dutiyasuciloma-Peta : setan yang berbulu seperti jarus jenis kedua
28 65 10) Kumabhanda-Peta : setan yang mempunyai buah kemaluan yang sangat besar 11) Guthakupanimugga-Peta : setan yang bergelimangan dengan kotoran 12) Guthakhadaka-Peta : setan yang makan kotoran 13) Nicachavitaka-Peta : setan perempuan yang tidak mempunyai kulit 14) Dugagandha-Peta : setan yang berbau sangat busuk 15) Ogilini-Peta : setan yang badannya seperti bara api 16) Asisa-Peta : setan yang tidak mempunyai kepala 17) Bhikkhu-Peta : setan yang berbadan seperti Bhikkhu 18) Bhikkhuni-Peta : setan yang berbadan seperti Bhikkhuni 19) Sikkhamana-Peta : setan yang berbadan seperti pelajar wanita atau calon Bhikkhuni 20) Samanera-Peta : setan yang berbadan seperti Samanera 21) Samaneri-Peta : setan yang berbadan seperti Samaneri. 22) Asurakaya-Bhumi (alam Raksasa Asura) alam ini disebut alam raksasa asura karena makhluk yang diam di alam ini jauh dari kemuliaan, kebebasan, dan kesenangan. Makhluk yang disebut asura dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian sebagai berikut:
29 66 1. Dewa-Asura : kelompok Dewa yang disebut Asura 2. Peta-Asura : kelompok setan yang disebut Asura 3. Niraya-Asura : kelompok makhluk Neraka yang disebut Asura 4. Asurakaya-Bhumi : alam raksasa asura b. Kamasugati-Bhumi tujuh (alam kehidupan yang menyenangkan atau keadaan bahagia), yaitu: 29 1) Manussa-Bhumi : alam manusia Suatu alam disebut alam manusia karena manusia ini mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, yang berguna dan tidak berguna, dan lain-lain. Para Bodhisatta memilih alam manusia karena ala mini adalah tempat terbaik untuk mengabdi pada dunia dan memenuhi persyarata kebuddhaa. Para Buddha selalu dilahirkan sebagai manusia. 2) Catummaharajika-Bhumi : alam empat Dewa Raja Ini merupakan alam surga yang paling rendah tempat Dewadewa Pelindung dari cakrawala bertempat tinggal dengan para pengikutnya. Di alam ini terdapat empat Dewa Raja, yaitu 1. Davadhatarattha 2. Davavirulaka 3. Davavirupakkha 29 Ven. Narada Mahathera, Sang Buddha dan Ajaran-ajarannya, (Jakarta: Yayasan Dhammadipa Arama, 1997), hlm
30 67 4. Davakuvera Alam empat Raja Dewa terbagi menjadi tiga kelompok, sebagai berikut: 1. Bhumamattha-Devata : para Dewa yang bertempat tinggal di atas tanah. Seperti diam digunung, sungai laut, rumah dan lain-lain. 2. Rukakhattha-Devata : para Dewa yang bertempat tinggal di atas pohon. Dewa ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok Dewa yang mempunyai kayangan di atas pohon, dan kelompok Dewa yang tidak mempunyai kayangan di atas pohon. 3. Akasattha-Devata : para Dewa yang bertempat tinggal di Angkasa, seperti di bulan, di bintang, planet dan lain-lain. 4. Tavatimsa-Bhumi : alam tigah puluh tiga Dewa Ini adalah alam surga dari tiga puluh tiga Dewa dengan Dewa Sakka sebagai Rajanya. Disebut alam tiga puluh tiga Dewa karena dahulunya ada tiga puluh tiga orang yang selalu berbuat baik kepada orang, seperti bersama-sama membantu fakir miskin, bersama-sama membangun Vihara dan lain-lain. Karena mereka telah berbuat baik, maka mereka dilahirkan di alam surgawi ini, yaitu a. Yama-Bhumi : alam Dewa Yama Disebut alam Dewa Yama karena alam ini terbebas dari kesulitan, yang ada hanya kesenangan. b. Tusita-Bhumi : alam kenikmatan
31 68 Disebut alam kenikmatan karena para Dewa yang tinggal di ala mini terbebas dari kepanasan hati, yang ada hanya kesenangan dan kenikmatan. c. Nimmanarati-Bhumi : alam Dewa yang menikmati ciptaanya Disebut alam Dewa yang menikmati ciptaanya karena Para Dewa yang tinggal di alam ini menikmati kesenang di dalam Istana hasil ciptakannya. d. Paranimmita-vasavatti-Bhumi : alam Dewa yang membantu menyempurnakan ciptaan dari Dewa-dewa lainnya. Disebut alam ini karena para Dewa yang tinggal di ala mini tidak hanya menikmati hasil ciptaannya, melainkan mereka juga membantu Dewadewa lain menyempurnakan ciptaannya dan bermanfaat untuk tujuan-tujuan mereka. 2. Rupa-Bhumi enam belas (enam belas alam kehidupan yang makhlukmakhluknya mempunyai Rupa-Jhana, yaitu tempat tinggal Rupa-Brahma), yaitu : 30 a. Pathama Jhana Bhumi tiga (tiga Alam Kehidupan Jhana Pertama), yaitu: 1) Brahma Parisajja-Bhumi : alam dari pengikut-pengikut Brahma 2) Brahma Purohita-Bhumi : alam dari para menterinya Brahma 30 Pandi J. Kaharuddin, Abhidhammatthasangaha Jilid Satu, hlm
32 69 3) Maha Brahma-Bhumi : alam dari Para Brahma Yang Agung. Alam yang tertinggi dari ketiga yang diatas adalah Maha Brahma karena penghuni ala mini melebihi yang lain dalam kebahagiaan, keindahan, dan batas usia karena kebaikan hakiki dari perkembangan batin mereka. b. Dutiya Jhana Bhumi Tiga (Tiga Alam Kehidupan Jhana Kedua), yaitu : 1) Brahma Parittabha-Bhumi : alam para Brahma yang kurang cahayanya 2) Brahma Appamanabha-Bhumi : alam para Brahma yang cahayanya tak terbatas 3) Brahma Abhassara-Bhumi : alam para Brahma dengan cahaya yang bersinar c. Tatiya Jhana Bhumi Tiga (Tiga Alam Kehidupan Jhana Ketiga), yaitu : 1) Brahma Parittasubha-Bhumi : alam para Brahma yang kurang auranya 2) Brahma Appamanasubha-Bhumi : alam para Brahma yang tak terbatas auranya. 3) Brahma Subhakinha-Bhumi : alam para Brahma yang auranya penuh dan tetap. d. Catuttha Jhana Bhumi Tujuh (Tujuh Alam Kehidupan Jhana Ke Empat) 1) Brahma Vehapphala-Bhumi : alam para Brahma dengan pahala yang besar
33 70 2) Brahma Asannasatta-Bhumi : alam para Brahma yang tanpa pikiran atau kosong dari kesadaran 3) Suddhavasa-Bhumi : tempat kediaman sejati yang lebih lanjut. Dari alam Kehidupan Jhana ke empat ini, terdapat lima tempat kediaman sejati yang lebih tinggi, yaitu : a. Brahma Aviha-Bhumi : alam para Brahma yang bertahan lama b. Brahma atappa-bhumi : alam para Brahma yang tentram c. Brahma Sudassa-Bhumi : alam para Brahma yang indah d. Brahma Sudassi-Bhumi : alam para Brahma dengan pandangan yang terang. e. Brahma Akanittha-Bhumi : alam para Brahma yang Tinggi. Hanya mereka yang telah melatih Jhana atau Kegembiraan yang Luar Biasa dapat dilahirkan di Alam-alam yang lebih tinggi ini. Mereka yang telah mengembangkan Jhana pertama maka dilahirkan di Alam Pertama, mereka yang telah mengembangkan Jhana kedua maka dilahirkan di Alam Kedua, mereka yang telah mengembangkan Jhana ketiga maka dilahirkan di Alam Ketiga dan seterusnya. 3. Arupa Bhumi Empat (Empat kehidupan yang makhluknya mempunyai Arupa-Jhana), yaitu: 31 a. Akasanancayatana-Bhumi : keadaan dari konsep ruang yang tak terbatas 31 Ibid., hlm. 14
34 71 b. Vinnanacayatana-Bhumi : keadaan dari konsep kesadaran tanpa batas c. Akincannayatana-Bhumi : keadaan dari konsep kekosongan d. Nevasanna nasannayatana-bhumi : keadaan dari konsep tiada persepsi maupun tiadanya tidak persepsi. C. Tujuan Punarbhava Nibbana adalah kebahagiaan tertinggi, suatu keadaan kebahagiaan abadi yang luar biasa. Kebahagiaan Nibbana tidak dapat dialami dengan memanjakan indera, tetapi dengan memadamkannya. Nirwana dari bahasa Sanskerta, Nirvaṇa dari bahasa Pali dan Nibbana dari bahasa Tionghoa. Nirvana terdiri dari kata Ni dan Vana, Ni adalah suatu unsur negatif dan Vana adalah jalinan atau keinginan. Keinginan ini bertindak sebagai suatu tali yang menghubungkan satu kehidupan dengan kehidupan yang lain. 32 Dalam ajaran agama Buddha, Nirwana atau Nirvana sering disebut Nibbana karena ada suatu perpisahan dari suatu nafsu keinginan. Selama seseorang terikat dengan Keinginan, orang tersebut menambah perbuatan yang menghasilkan Karma baru yang pasti terwujud dalam bentuk seseorang atau bentuk yang lain dalam lingkaran kelahiran dan kematian yang terus menerus. Bila semua bentuk keinginan dihilangkan, daya kemampuan Karma berhenti, dan seseorang mencapai Nibbana akan terlepas dari lingkaran kelahiran dan kematian. 32 Ibid.,
35 72 Nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini jika Sang Pencari mempersiapkan dirinya untuk itu. Ajaran Buddha tidak menyatakan bahwa tujuan akhir itu hanya dapat dicapai dalam kehidupan sesudahnya. Ketika Nibbana disadari dalam hidup ini dengan tubuh masih ada, hal ini disebut Sopadisesa Nibbana. 33 Bila seorang Arahat mencapai Parinibbana setelah hancurnya tubuh tanpa suatu sisa dari kehidupan jasmani, maka disebut Anupadisesa Nibbana. Nibbana juga diterangkan sebagai pemadaman api nafsu keinginan (Lobha), kebencian (Dosa), dan khayalan (Moha). Saat keadaan tertinggi itu tercapai, seseorang akan memahami sepenuhnya hidup keduniawian yang sekarang ini dan dunia ini akan berhenti menjadi objek nafsu. Orang akan menyadari kesedihan, ketidak kekalan dan ketiadaan diri yang hidup dan yang tidak hidup. Semua kecemasan, kesengsaraan, gangguan, beban, penyakit fisik dan mental, dan emosi akan berakhir setelah mencapai keadaan kebahagiaan (Nibbana). Cara untuk mencapai Nibbana adalah dengan mempraktekkan sendiri Jalan Mulia Berunsur Delapan, yaitu: Pengertian Benar (Samma ditthi) 2. Pikiran Benar (Samma sankappa) 3. Ucapan Benar (Samma vaca) 4. Perbuatan Benar (Samma kammanta) 33 Sa artinya dengan, Upadi artinya kumpulan-pikiran dan jasmani, Sesa artinya sisa 34 Ibid.,
36 73 5. Penghidupan/Mata Pencaharian Benar (Samma ajiva) 6. Usaha/Daya Upaya Benar (Samma vayama) 7. Perhatian Benar (Samma sati) 8. Konsentrasi/Meditasi Benar (Samma samadhi) Dua yang pertama digolongkan sebagai kebijaksanaan ( Panna), tiga berikutnya sebagai Kesusilaan ( sila), dan tiga terakhir sebagai Konsentrasi (Samadhi).
1.Definisi Hukum. 2.Pembagian/jenis-jenis Hukum
1.Definisi Hukum Hukum adalah himpunan petunjuk hidup (perintah atau larangan) yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat yang seharusnya ditaati oleh anggota masyarakat dan jika dilanggar dapat
KAMMA / KEWUJUDAN SEMULA
BAHAGIAN 1 1. Apa itu kamma? KAMMA / KEWUJUDAN SEMULA Kamma dalam Bahasa Pali bermaksud perlakuan (action). Apa itu kewujudan semula atau punarjadi? Suatu keadaan yang mana makhluk (manusia, dewa, haiwan,
Kamma (6) IV. Berdasarkan Tempat Kematangan Kamma Lingkup Inderawi
Kamma (6) IV. Berdasarkan Tempat Kematangan Kamma Lingkup Inderawi Tiga Pintu Kamma 1. Pintu-kamma-tubuh (kāyakammadvāra) Isyarat-tubuh (kāyaviññatti). Manusia dan pekerjaan manusia adalah dua hal yang
Sutta Mahavacchagotta (The Greater Discourse to Vacchagotta)
1 Sutta Mahavacchagotta (The Greater Discourse to Vacchagotta) Demikianlah telah saya dengar. Suatu ketika Bhagavan sedang berada di Kalantakanivapa, Hutan Bambu, di Rajagaha. Kemudian Samana Vacchagotta
Agama dan Tujuan Hidup Umat Buddha Pengertian Agama
Agama dan Tujuan Hidup Umat Buddha Pengertian Agama Kata agama berasal dari kata dalam bahasa Pali atau bisa juga dari kata dalam bahasa Sansekerta, yaitu dari akar kata gacc, yang artinya adalah pergi
Dhamma Inside. Kematian Yang Indah. Orang-orang. Akhir dari Keragu-raguan. Vol September 2015
Dhamma Inside Vol. 22 - September 2015 Kematian Yang Indah Akhir dari Keragu-raguan Orang-orang Kematian Yang Indah Oleh : Bhikkhu Santacitto Kematian adalah peristiwa yang tidak dapat dihindari oleh siapapun,
KARMA (KAMMA) ( KARMA DALAM TANYA JAWAB)
KARMA (KAMMA) ( KARMA DALAM TANYA JAWAB) 1) P: Apakah artinya karma? J: Karma berarti perbuatan yang dilakukan oleh jasmani, perkataan dan pikiran yang baik maupun yang tidak baik. Keadaan yang menghasilkan
LEMBAR SOAL ULANGAN AKHIR SEMESTER GASAL SMA EHIPASSIKO SCHOOL BSD T. P. 2016/2017
LEMBAR SOAL ULANGAN AKHIR SEMESTER GASAL SMA EHIPASSIKO SCHOOL BSD T. P. 2016/2017 Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Hari, Tanggal : Rabu 8 Maret 2017 Kelas/Semester : XI/IV Alokasi Waktu : 120 menit Guru
62 Pandangan Salah (6)
62 Pandangan Salah (6) Dari Brahmajāla Sutta dan Kitab Komentarnya Dhammavihārī Buddhist Studies www.dhammavihari.or.id PAHAM SPEKULATIF TENTANG MASA DEPAN (44) (APARANTAKAPPIKA) I. Paham tentang Pemusnahan
PANDANGAN BENAR : Upa. Jayagandho Willy Yandi Wijaya Proof Reader : Upa. Sasanasanto Seng Hansun
PANDANGAN BENAR Penulis : Upa. Jayagandho Willy Yandi Wijaya Proof Reader : Upa. Sasanasanto Seng Hansun Ukuran Buku : 80 x 120 mm Kertas sampul : Art Cartoon 210 gsm Kertas isi : HVS 70 gsm Jumlah Halaman
Mengapa berdana? Pariyatti Sāsana hp ; pin. Friday, April 12, 13
Dāna-3 Mengapa berdana? Pariyatti Sāsana www.pjbi.org; hp.0813 1691 3166; pin 2965F5FD 1 Pandangan Tentang Dāna Kaum materialis: Dāna tidak ada buah karena tidak ada kehidupan setelah ini. Kaum Theis:
Kāmāvacarasobhana Cittaṃ (1)
Kāmāvacarasobhana Cittaṃ (1) Kesadaran Indah-Lingkup Inderawi Dhammavihārī Buddhist Studies www.dhammavihari.or.id Saṅgaha: Pāpāhetukamuttāni, sobhanānīti vuccare. Ekūnasaṭṭhi cittāni, athekanavutīpi vā.
Dāna. Sebuah Perhiasan dan Pendukung untuk Batin 2. Pariyatti Sāsana hp ; pin. Sunday, October 13, 13
Dāna Sebuah Perhiasan dan Pendukung untuk Batin 2 Pariyatti Sāsana www.pjbi.org; hp.0813 1691 3166; pin 2965F5FD Dāna Mahapphala Sutta Vaṇṇanā Cittālaṅkāracittaparikkhāranti samathavipassanācittassa alaṅkārabhūtañceva
Mengapa bhikkhu harus dipotong rambutnya? Mengapa bhikkhu itu tidak boleh beristeri? Mengapa anak perempuan tidak boleh dekat bhikkhu?
TENTANG SANG BUDDHA 1. Apa arti kata Buddha? Kata Buddha berarti "Yang telah Bangun" atau "Yang telah Sadar", yaitu seseorang yang dengan usahanya sendiri telah mencapai Penerangan Sempurna. 2. Apakah
TIGA KUSALAMULA TIGA AKAR KEBAIKAN
Hai Saudara-saudari Se-Dhamma Marilah kita melatih diri menjalankan Atthangasila di hari Uposatha-sila di bulan Oktober 2008 {06(8), 13(15), 21(23), 29(1)}. Selamat menjalankan Uposatha-sila (Pengamalan
SĪLA-2. Pariyatti Sāsana hp ; pin!
SĪLA-2 Pariyatti Sāsana www.pjbi.or.id; hp.0813 1691 3166; pin! 2965F5FD Murid-buangan (Upāsakacaṇḍāla) Vs Murid-permata (upāsakaratana) Murid buangan atau pengikut-yang-ternoda (upāsakamala) atau pengikut-kelas-bawah
MEDITASI VIPASSANĀ & EMPAT KESUNYATAAN MULIA
(edited version 15/8/06, Daung) (edited version 17/8/06, Andi Kusnadi) CERAMAH DI CAMBRIDGE MEDITASI VIPASSANĀ & EMPAT KESUNYATAAN MULIA OLEH : SAYADAW CHANMYAY Kata Pengantar Minggu sore 11 Juli 2004
Kompetensi Dasar: - Menumbuhkan kesadaran luhur dalam melaksanakan peringatan hari raya
Pendidikan Agama Buddha 2 Hari Raya Agama Buddha Petunjuk Belajar Sebelum belajar materi ini Anda diharapkan berdoa terlebih dahulu dan membaca materi dengan benar serta ketika mengerjakan latihan soal
Sutta Nipata menyebut keempat faktor sebagai berikut: Lebih lanjut, murid para
1 Ciri-ciri Seorang Sotapanna (The Character of a Stream-enterer) Pada umumnya Tipitaka menjelaskan seorang Sotapanna sehubungan dengan empat faktor. Tiga faktor pertama dari keempat faktor Sotapatti ini
62 PANDANGAN HIDUP YANG KELIRU Sumber: Sutta Pitaka, Digha Nikaya 1: Brahmajala Sutta
62 PANDANGAN HIDUP YANG KELIRU Sumber: Sutta Pitaka, Digha Nikaya 1: Brahmajala Sutta 18 Pandangan yang Berpedoman pada Hal-hal Lampau 4 Pandangan Eternalis (Jiwa dan Dunia adalah Kekal) 4 Pandangan Semi-Eternalis
Sutta Magandiya: Kepada Magandiya (Magandiya Sutta: To Magandiya) [Majjhima Nikaya 75]
1 Sutta Magandiya: Kepada Magandiya (Magandiya Sutta: To Magandiya) [Majjhima Nikaya 75] Magandiya, seandainya ada seorang penderita kusta yang dipenuhi luka- luka dan infeksi, dimakan oleh cacing, menggaruk
Sampul & Tata Letak: Jimmy Halim, Leonard Halim Tim Dana: Laura Perdana. Diterbitkan Oleh:
Sutta Paticca-samuppada-vibhanga: Analisis dari Kemunculan Bersama yang Dependen Judul Asli: Paticca-samuppada-vibhanga Sutta: Analysis of Dependent Co-arising Diterjemahkan dari bahasa Pali oleh : Bhikkhu
62 PANDANGAN SALAH (3) Dhammavihārī Buddhist Studies
62 PANDANGAN SALAH (3) D. PAHAM PENYANGKALAN TANPA AKHIR Amarāvikkhepavāda Para bhikkhu, beberapa pertapa dan Brahmana seperti belut yang menggeliat. Pada saat ditanya tentang sesuatu, mereka menjawab
Sobhanacetasika (3) Dhammavihārī Buddhist Studies
Sobhanacetasika (3) Dhammavihārī Buddhist Studies www.dhammavihari.or.id Abhidhammatthasaṅgaha: (1) Ucapan-benar; (2) Perbuatan-benar; (3) Penghidupan-benar. Ketiganya dinamakan pantangan. (Sammāvācā sammākammanto
6. Pattidāna. (Pelimpahan Kebajikan) hp , pin bb.2965f5fd
6. Pattidāna (Pelimpahan Kebajikan) Tirkuḍḍa sutta 1 (Khp. 6) Makanan dan minuman berlimpah, makanan keras maupun lunak dihidangkan, tetapi tidak ada serangpun yang mengingat mereka. Mahluk-mahluk terkndisi
UNTAIAN KISAH KEHIDUPAN (JATAKAMALA) Kisah Ajastya
1 UNTAIAN KISAH KEHIDUPAN (JATAKAMALA) Kisah Ajastya Kelahiran Bodhisattva berikut menunjukkan bagaimana sebagai seorang pertapa, beliau mempraktikkan kemurahan hati dan pemberian secara terusmenerus,
Renungan tentang kehidupan
Renungan tentang kehidupan Author : admin Seorang anak bertanya kepada ayahnya : "Ayah, akan jadi apa orang yang mati?". Sang ayah menjawab : "Akan menjadi tanah". anak : " Lantas untuk apa semua kekayaan
D. ucapan benar E. usaha benar
1. Keyakinan yang dituntut dalam agama Buddha adalah A. keyakinan tanpa dasar terhadap seluruh ajaran Buddha B. keyakinan yang muncul dari proses pembelajaran, pengalaman, dan perenungan C. keyakinan yang
Buddhisme. Teori Kamma Dalam. Y. M. Mahasi Sayadaw. Marlin Bodhi Limas. Y.M. Bhikkhu Abhipañño THE THEORY OF KARMA IN BUDDHISM. Alih Bahasa.
Y. M. Mahasi Sayadaw Teori Kamma Dalam Buddhisme Judul Asli THE THEORY OF KARMA IN BUDDHISM Alih Bahasa Marlin Bodhi Limas Editor Y.M. Bhikkhu Abhipañño Tata Letak Santos Teori Kamma Dalam Buddhisme Y.
Bab 2. Landasan Teori. Buddhisme dengan suatu citra tertentu, sedangkan dalam komunitas Buddhis tradisional
Bab 2 Landasan Teori 2.1 Konsep Budha Santina ( 2004 ) mengatakan bahwa di Barat, masyarakat umum memandang Buddhisme dengan suatu citra tertentu, sedangkan dalam komunitas Buddhis tradisional ( khususnya
Sutta Kalama: Kepada Para Kalama (Kalama Sutta: To the Kalamas)
1 Sutta Kalama: Kepada Para Kalama (Kalama Sutta: To the Kalamas) [Anguttara Nikaya 3.65] Demikianlah telah saya dengar. Bhagavan sedang melakukan perjalanan bersama orang-orang Kosala dengan sekumpulan
Meditasi. Oleh : Taridi ( ) KTP. Standar Kompetensi Mengembangkan meditasi untuk belajar mengendalikan diri
Meditasi Oleh : Taridi (0104510015) KTP Standar Kompetensi Mengembangkan meditasi untuk belajar mengendalikan diri Kompetensi Dasar Mendeskripsikan meditasi sebagai bagian dari jalan mulia berunsur delapan.
BAB IV ANALISIS A. Persamaan Dan Perbedaan Konsep Kehidupan Setelah Mati (Eskatologi) Dalam Agama Islam Dan Agama Budha
BAB IV ANALISIS A. Persamaan Dan Perbedaan Konsep Kehidupan Setelah Mati (Eskatologi) Dalam Agama Islam Dan Agama Budha Allah SWT memberikan motivasi kepada manusia agar selalu berusaha dan membuat program
Sang Buddha. Vegetarian&
Vegetarian& Sang Buddha T: Beberapa waktu lalu, saya mendengar seorang guru yang lain mengatakan, Sang Buddha makan sepotong kaki babi dan Ia menderita diare. Apakah ini benar? Apakah ini benar-benar tercatat
SUTRA 42 BAGIAN. B. Nyanabhadra
SUTRA 42 BAGIAN [ ] B. Nyanabhadra RAJA MING DINASTI HAN Tahun 28-75 Mimpi tentang makhluk memancarkan cahaya kuning KASYAPA MATANGA & DHARMARATNA Tahun 67 dari India ke Luoyang Menerjemahkan Sutra 42
PANDANGAN BENAR : Upa. Jayagandho Willy Yandi Wijaya Proof Reader : Upa. Sasanasanto Seng Hansun
PANDANGAN BENAR Penulis : Upa. Jayagandho Willy Yandi Wijaya Proof Reader : Upa. Sasanasanto Seng Hansun Ukuran Buku : 80 x 120 mm Kertas sampul : Art Cartoon 210 gsm Kertas isi : HVS 70 gsm Jumlah Halaman
Mahā Maṅgala Sutta (1)
Mahā Maṅgala Sutta (1) Azimat Buddhis Dhammavihārī Buddhist Studies www.dhammavihari.or.id Pseudo Sebab-Akibat Jangan memindah guci-abu-jenasah yang sudah disimpan di vihāra. Penempatan guci-abu. Ibu mengandung
Kata Kunci : Spiritual, Delapan Jalan Mulia
MENGENAL DASAR SPIRITUALITAS UMAT BUDDHA Muslimin* Abstrak Banyak cara ditempuh manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, namun pada puncaknya manusia berada pada titik jenuh sehingga ia membutuhkan tuntunan
Tidak Ada Ajahn Chan. Kelahiran dan Kematian
Tidak Ada Ajahn Chan Kelahiran dan Kematian Latihan yang baik adalah bertanya kepada diri Anda sendiri dengan sungguh-sungguh, "Mengapa saya dilahirkan?" Tanyakan diri Anda sendiri dengan pertanyaan ini
PERTAPA GOTAMA MEMILIH JALAN TENGAH & ARIYASĀVAKA TANPA JHĀNA. Pariyatti Sāsana Yunior 2 hp ; pin!
PERTAPA GOTAMA MEMILIH JALAN TENGAH & ARIYASĀVAKA TANPA JHĀNA Pariyatti Sāsana Yunior 2 www.pjbi.or.id; hp.0813 1691 3166; pin! 2965F5FD JALAN TENGAH PERUMPAMAAN TENTANG KECAPI Gb: Vīnā (kecapi India)
1. Mengapa bermeditasi?
CARA BERMEDITASI 1. Mengapa bermeditasi? Oleh: Venerable Piyananda Alih bahasa: Jinapiya Thera Dalam dunia ini, apakah yang dicari oleh kebanyakan orang dalam hidupnya? Sebenarnya, mereka ingin mencari
Bangunlah, Dunia! Judul asli : AWAKEN, OH WORLD!
Bangunlah, Dunia! Judul asli : AWAKEN, OH WORLD! Bhikkhu Revata Namo tassa bhagavato arahato Sammà sambuddhassa Bangunlah, Dunia! Diterjemahkan oleh: Henr y Kartono Lheman Disunting oleh: Agus Wiyono Buku
Kasih dan Terima Kasih Kasih dan Terima Kasih
Namo tassa bhagavato arahato sammā sambuddhassa. Pada kesempatan yang sangat baik ini saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran pengurus Dhammavihārī Buddhist Studies (DBS)
Manfaatkan Waktu. Semaksimal Mungkin
Manfaatkan Waktu Semaksimal Mungkin Oleh: U Sikkhānanda (Andi Kusnadi) Pernahkah anda merenungkan seberapa baik anda memanfaatkan waktu yang anda miliki? Dapat dipastikan jawabannya adalah TIDAK. Sebagian
Message of the Buddha PESAN SANG BUDDHA. Bhikkhu Dhammavuddho Maha Thera. Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa PENDAHULUAN
PESAN SANG BUDDHA Bhikkhu Dhammavuddho Maha Thera Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa PENDAHULUAN Para Buddha muncul di dunia sekali dalam kurun waktu yang sangat lama, pada saat dunia terjerumus
DEWAN PENGURUS DAERAH PEMUDA THERAVADA INDONESIA SUMATERA UTARA
www.patria.or.id Pesan Sang Buddha Bhikkhu Dhammavuddho Maha Thera DEWAN PENGURUS DAERAH PEMUDA THERAVADA INDONESIA SUMATERA UTARA www.patria.or.id 1 Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa PENDAHULUAN
Merenungkan/Membayangkan Penderitaan Neraka
Merenungkan/Membayangkan Penderitaan Neraka Oleh: U Sikkhānanda (Andi Kusnadi) Seseorang harus benar-benar mempertimbangkan dan merenungkan penderitaan yang akan dijalaninya di neraka. Sewaktu Sang Buddha
Revelation 11, Study No. 39 in Indonesian Language. Seri Kitab Wahyu pasal 11, Pembahasan No. 39, oleh Chris McCann
Revelation 11, Study No. 39 in Indonesian Language Seri Kitab Wahyu pasal 11, Pembahasan No. 39, oleh Chris McCann Selamat malam dan selamat datang di pemahaman Alkitab EBible Fellowship dalam Kitab Wahyu.
Sila-sila Zhen Fo Zong
Sila-sila Zhen Fo Zong Jumlah siswa Zhen Fo Zong sampai saat ini telah mencapai 4 juta siswa berdasarkan jumlah sertifikat sarana yang telah diterbitkan. Setiap hari banyak orang yang bercatur sarana dalam
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pergilah, bekerjalah untuk keselamatan orang banyak, untuk kebahagiaan orang banyak, karena belas kasihan pada dunia, untuk kesejahteraan, untuk keselamatan,
Pengembara yang Tersesat
Pengembara yang Tersesat Oleh: U Sikkhānanda (Andi Kusnadi) Dahulu kala ada seorang pengembara yang sering berpergian dari kota yang satu ke kota yang lainnya. Suatu ketika karena waktu yang sangat terbatas,
Dāna-4. Berdana Kepada Bhikkhu Leher Kuning? Pariyatti Sāsana hp ; pin. Friday, April 12, 13
Dāna-4 Berdana Kepada Bhikkhu Leher Kuning? Pariyatti Sāsana www.pjbi.org; hp.0813 1691 3166; pin 2965F5FD Definisi Bhikkhu Leher-Kuning Anggota-anggota dari silsilah Buddha Gotama yang berleherkuning,
2 Petrus. 1 1 Dari Simon Petrus, hamba dan
354 2 Petrus 1 1 Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus kepadamu semua yang telah menerima iman yang sama harganya dengan yang kami telah terima. Kamu menerima iman itu karena Allah dan Juruselamat
Seri Kitab Wahyu Pasal 14, Pembahasan #24 oleh Chris McCann
Seri Kitab Wahyu Pasal 14, Pembahasan #24 oleh Chris McCann Selamat malam dan selamat datang di pembahasan Alkitab EBible Fellowship dalam Kitab Wahyu. Malam ini adalah pembahasan #24 tentang Wahyu, pasal
Di Manakah Sang Buddha?
DhammaCitta Where is The Buddha? Di Manakah Sang Buddha? Where is The Buddha? Venerable Dr. K. Sri Dhammananda Nàyaka Maha Thera Orang-orang sering menanyakan pertanyaan ini, ke manakah Sang Buddha pergi
The Purpose of Practice. The Purpose of Practice. Sayalay Susīlā s Dhamma talk
The Purpose of Practice Sayalay Susīlā s Dhamma talk 1 terhadap potensi karma. Reaksi Kebiasaan ini : 1. Mengakibatkan efek karma terhadap kehidupan sekarang 2. Mengakibatkan efek karma terhadap kehidupan
Kematian Yahushua: Membatalkan Hukum?
Kematian Yahushua: Membatalkan Hukum? Setan disebut bapa segala dusta. Yahushua sendiri menyatakan bahwa Iblis adalah pembunuh manusia sejak semula, dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia
Kāmāvacarasobhana Cittaṃ (2)
Kāmāvacarasobhana Cittaṃ (2) Kesadaran Indah Lingkup Inderawi Dhammavihārī Buddhist Studies www.dhammavihari.or.id Saṅgaha: Somanassasahagataṃ ñāṇasampayuttaṃ asaṅkhārikamekaṃ, sasaṅkhārikamekaṃ, somanassasahagataṃ
Pembabaran Dhamma yang Tidak Lengkap (Incomplete Teachings)
Pembabaran Dhamma yang Tidak Lengkap (Incomplete Teachings) Oleh: U Sikkhānanda (Andi Kusnadi) Ada beberapa alasan dari tidak tercapainya Dhamma Mulia. Sebuah contoh dari tidak terealisasinya Dhamma Mulia
Amatilah citta kita. Jika kita benar-benar percaya
Amatilah citta kita. Jika kita benar-benar percaya bahwa semua kebahagiaan yang kita alami berasal dari objek materi dan kita mencurahkan seluruh hidup kita untuk mengejarnya, maka kita dikendalikan oleh
BAB V ANALISIS KOMPARATIF. daerah yang sama, yaitu India. Sehingga memiliki corak, budaya serta ritual
BAB V ANALISIS KOMPARATIF A. Persamaan Agama Hindu dan Budha merupakan satu rumpun agama dan berasal dari daerah yang sama, yaitu India. Sehingga memiliki corak, budaya serta ritual keagamaan yang terkandung
Fenomena Hidup dan Kehidupan Sebab-Musabab Yang Saling Bergantung
PATICCASAMUPPADA Fenomena Hidup dan Kehidupan Sebab-Musabab Yang Saling Bergantung (oleh Selamat Rodjali) Para pembaca yang baik... Paticcasamuppada (sebab-musabab yang saling bergantung) merupakan ajaran
Seri Kitab Wahyu Pasal 14, Pembahasan #19 oleh Chris McCann
Seri Kitab Wahyu Pasal 14, Pembahasan #19 oleh Chris McCann Selamat malam dan selamat datang di pembahasan Alkitab EBible Fellowship dalam Kitab Wahyu. Malam ini adalah pembahasan #19 tentang Wahyu, pasal
MANFAATKANLAH WAKTU ANDA
MANFAATKANLAH WAKTU ANDA Oleh : Lie Jan Tjong ( Aji ) 1. Waktu tidak terbatas. Berbicara tentang waktu, tentunya tidak terlepas dari putaran bumi yang mengelilingi matahari, yang disebut rotasi. Kita tidak
Abhidhammatthasaṅgaha
Abhidhammatthasaṅgaha Bhūmibhedacitta Dhammavihārī Buddhist Studies www.dhammavihari.or.id Klasifikasi Kesadaran Berdasarkan Tingkatannya Saṅgaha: Disana, pertama-tama, kesadaran dibagi menjadi empat,
Diciptakan untuk Menjadi Serupa dengan Kristus.
22 Diciptakan untuk Menjadi Serupa dengan Kristus. Allah mengetahui apa yang Dia kerjakan sejak semula. Dia memtuskan dari permulaan untuk membentuk kehidupan orang-orang yang mengasihi Dia serupa dengan
Bab I: Pengetahuan-buku. Bagian i hingga v Gagasan-gagasan dan maknanya. Topik I. PENGETAHUAN Catatan Pendahuluan
Topik I. PENGETAHUAN Catatan Pendahuluan Bab I: Pengetahuan-buku Bagian i hingga v Gagasan-gagasan dan maknanya Sepuluh pendahuluan yang terdapat pada judul sebagai bentuk 3, adalah sejenis judul yang
Oleh: D. Tiala CARA PANDANG KONSEP AGAMA (RELIGION) MENURUT SIGMUD FREUD DAN AJARAN (DOKTRIN) BUDDHISME
CARA PANDANG KONSEP AGAMA (RELIGION) MENURUT SIGMUD FREUD DAN AJARAN (DOKTRIN) BUDDHISME Oleh: D. Tiala I. Konsep Agama menurut Sigmund Freud dalam artikel Religion and Personality. 1 1. Freud dan Psikoanalisis
Bodhipakkhiyā Dhammā (2)
Bodhipakkhiyā Dhammā (2) Empat Fondasi Perhatian Penuh Dhammavihārī Buddhist Studies www.dhammavihari.or.id Cattāro Satipaṭṭhāna Terminologi satipaṭṭhāna: 1. Sati + paṭṭhāna = perhatian-penuh + fondasi/landasan/tumpuan/
BAB III NAFSU DALAM AGAMA BUDDHA
BAB III NAFSU DALAM AGAMA BUDDHA A. Pengertian Nafsu Dalam bahasa pali 151, nafsu dikenal dengan istilah tanha yang berarti keinginan. 152 Menurut Ajahn Brahm, nafsu berarti menginginkan sesuatu selain
o Di dalam tradisi Theravāda, pāramī bukanlah untuk Buddha saja, tetapi sebagai prak/k yang juga harus dipenuhi oleh Paccekabuddha dan sāvakā.
o Apakah yang dimaksud dengan pāramī? Pāramī adalah kualitas mulia seper/ memberi, dll., yang disertai oleh belas kasih dan cara- cara yang baik (upāya kosalla) serta /dak ternoda oleh nafsu- keinginan,
SEMUA ORANG BERDOSA. Sebab tidak ada perbedaan. Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.
Lesson 3 for October 21, 2017 SEMUA ORANG BERDOSA Seperti ada tertulis: Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua
MENJADI PEMENANG ARUS
MENJADI PEMENANG ARUS PENDAHULUAN Di dalam Agama Buddha kita mengenal adanya tingkat-tingkat kesucian yang dapat dicapai oleh seorang umat Buddha yang telah dapat mengerti melaksanakan dan menembus EMPAT
Buddhism And Duties Of A Lay Buddhist oleh: Ven. K. Sri Dhammananda
Buddhism And Duties Of A Lay Buddhist oleh: Ven. K. Sri Dhammananda AJARAN BUDDHA DAN KEWAJIBAN SEORANG UMAT BUDDHA Pendahuluan Agama Buddha bukanlah agama yang berdasarkan kepercayaan. Agama Buddha adalah
KEHIDUPAN TIDAK PASTI, NAMUN KEMATIAN ITU PASTI (LIFE IS UNCERTAIN, DEAD IS CERTAIN) Oleh: Ven. Dr. K. Sri Dhammananda
KEHIDUPAN TIDAK PASTI, NAMUN KEMATIAN ITU PASTI (LIFE IS UNCERTAIN, DEAD IS CERTAIN) Oleh: Ven. Dr. K. Sri Dhammananda Penerjemah : Tidak tercantum Sang Buddha bersabda: Kehidupan tidak pasti, namun kematian
Dharmayatra tempat suci Buddha
Dharmayatra tempat suci Buddha 1. Pengertian Dharmayatra Dharmayatra terdiri dari dua kata, yaitu : dhamma dan yatra. Dharmma (Pali) atau Dharma (Sanskerta) artinya kesunyataan, benar, kebenaran, hukum,
Abhidhammatthasaṅgaha. Dhammavihārī Buddhist Studies
Abhidhammatthasaṅgaha Aṭṭhakathā Atthasāliṇī oleh Ācariya Buddhaghosa Sammohavinodanī oleh Ācariya Buddhaghosa Pañcappakaraṇa Aṭṭh a k a t h ā o l e h Ā c a r i y a Buddhaghosa Abhidhammatthasaṅgaha oleh
Siapakah Yesus Kristus? (4/6)
Siapakah Yesus Kristus? (4/6) Nama Kursus : SIAPAKAH YESUS KRISTUS? Nama Pelajaran : Yesus adalah Juru Selamat dan Tuhan Kode Pelajaran : SYK-P04 Pelajaran 04 - YESUS ADALAH JURU SELAMAT DAN TUHAN DAFTAR
1 1-4 Kepada yang kekasih saudara saya seiman Titus yaitu anak rohani
Surat Paulus kepada Titus 1 1-4 Kepada yang kekasih saudara saya seiman Titus yaitu anak rohani saya yang sesungguhnya karena mempunyai keyakinan yang sama: Salam dari Paulus, hamba Allah dan rasul Kristus
KESABARAN. Bhante Sri Pannavaro Mahanayaka Thera. DhammaCitta
KESABARAN Bhante Sri Pannavaro Mahanayaka Thera DhammaCitta KESABARAN Bhante Sri Pannavaro Mahanayaka Thera Ditranskripkan oleh : Yuliana Lie Pannasiri, BBA, MBA Dipublikasikan ebook oleh DhammaCitta.org
CHARLES KUMAR. Fakir Sang Pencari
CHARLES KUMAR Fakir Sang Pencari My Love my Shakti, my Manura Laxmi, this novel is for you and our children Prisha Vajra Valli And Ganadhakshya Kabir Valli 2 Aku laksana seekor anjing yang menunggu tuan
4. Sebutkan apa yang termasuk dalam catuparamatthadhammā! Yang termasuk catuparamatthadhammā adalah : Citta, Cetasika, Rūpa dan Nibbāna.
Soal dan jawaban pendalaman materi kelas Murid Berbagi I. 1. Ada berapa agregat pada makhluk yang lahir di alam binatang? Sebutkan! Ada lima agregat, yaitu : A. Rūpakkhandha agregat materi B. Vedanākkhandha
Dhamma Inside. Bersikap Ramah. Standar. Berada di luar Kata-kata : Alamilah Sendiri. Vol Oktober 2015
Dhamma Inside Vol. 23 - Oktober 2015 Bersikap Ramah Standar Berada di luar Kata-kata : Alamilah Sendiri Bersikap Ramah Oleh : Bhikkhu Santacitto Pada umumnya, ramah dipahami sebagai sikap positif yang
"Jika saya begitu takut maka biarlah saya mati malam ini". Saya takut, tetapi saya tertantang. Bagaimanapun juga toh akhirnya kita harus mati.
Malam di Perkuburan Diposkan pada 03 Januari 2016 Sebelumnya saya tidak pernah tinggal di tanah perkuburan. Dan tak ingin tinggal di sana. Namun suatu saat saya mengajak seorang pa-kow. Ketika saya sampai
Meditasi Mettā (Meditasi Cinta Kasih)
Meditasi Mettā (Meditasi Cinta Kasih) oleh: U Sikkhānanda (Andi Kusnadi) Dari ceramah Dhamma Chanmyay Sayadaw pada retret meditasi vipassanā tanggal 2-3 Jan.2009 di Pusat Meditasi YASATI, Bacom, Cianjur,
BAB I PENDAHULUAN. terjadi terhadap semua ciptaan-nya baik dari segi yang terkecil hingga ciptaan-
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latarbelakang Alam semesta jagat raya dengan seisinya bergerak berputar tiada hentinya dengan perputaran yang teratur sesuai dengan hukumnya. Hukum perputaran terjadi terhadap semua
Dhammavihārī Buddhist Studies LIMA RINTANGAN BATIN PAÑCA NĪVARAṆA
Dhammavihārī Buddhist Studies www.dhammavihari.or.id LIMA RINTANGAN BATIN PAÑCA NĪVARAṆA ETIMOLOGI Nīvaraṇa (rintangan batin) = nis (kebawah) + VṚ (menutupi). Dipahami sebagai: āvaraṇa: layar, hambatan,
Permintaan Untuk Membabarkan Dhamma. Pariyatti Sāsana Yunior 2 hp ; pin
Permintaan Untuk Membabarkan Dhamma Pariyatti Sāsana Yunior 2 www.pjbi.or.id; hp.0813 1691 3166; pin 2965F5FD Aspirasi Superior (Abhinīhāra) Setelah Aku menyeberang lautan saṃsāra d e n g a n u s a h a
: Para Pengantin Yahushua
144.000: Para Pengantin Yahushua Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-nya dan
Seri Kitab Wahyu Pasal 14, Pembahasan #20 oleh Chris McCann
Seri Kitab Wahyu Pasal 14, Pembahasan #20 oleh Chris McCann Selamat malam dan selamat datang di pembahasan Alkitab EBible Fellowship dalam Kitab Wahyu. Malam ini adalah pembahasan #20 tentang Wahyu, pasal
DALAM AGAMA BUDDHA AGAMA DIKENAL DENGAN:
A. DEFINISI AGAMA 1. Mennurut KBBI : suatu sistem, prinsip kepercayaan kepada tuhan (dewa & sebagainya) dengan ajaran kebaktian dan kewajiba-kewajiban yang bertalian dengan ajaran itu 2. Atau seperangkat
Surat Petrus yang kedua
1 Surat Petrus yang kedua Kepada yang kekasih Saudara-saudari saya seiman yaitu kalian yang sudah diberkati Allah sehingga kalian percaya penuh kepada Kristus Yesus sama seperti kami. Dan oleh karena percaya
Menemukan Rasa Aman Sejati
Modul 11: Menemukan Rasa Aman Sejati Menemukan Rasa Aman Sejati Diterjemahkan dari Out of Darkness into Light Wholeness Prayer Basic Modules 2014, 2007, 2005, 2004 Freedom for the Captives Ministries Semua
Abhidhammatthasaṅgaha
Abhidhammatthasaṅgaha Lokuttaracittaṃ Dhammavihārī Buddhist Studies www.dhammavihari.or.id Saṅgaha: (1) Sotāpatti,magga,cittaṃ, (2) sakadāgāmi,magga,cittaṃ, (3) anāgāmi,magga,cittaṃ, (4) arahatta,magga,cittañceti
Dhammavihārī Buddhist Studies. DHAMMAVIHARI. Pāramī (3) Penolakan
Dhammavihārī Buddhist Studies DHAMMAVIHARI B U D D H I S T S T U D I E S www.dhammavihari.or.id Pāramī (3) Penolakan Penolakan (Nekkhamma) Meninggalkan kesenangan-kesenangan indriawi, inilah yang disebut
agenda special events regular events contents puja bhakti minggu olahraga pagi minggu latihan meditasi kamis
contents 43 sajian utama Kebijaksanaan Dhamma Samma Ditthi Fenomena Kehidupan news on Penyebaran Dhamma dengan Metode "PURE" orang bijak Dalai Lama jalan-jalan Bodh Gaya pandegiling news Ceramah Dhamma
Seri Kitab Wahyu Pasal 14, Pembahasan #7 oleh Chris McCann
Seri Kitab Wahyu Pasal 14, Pembahasan #7 oleh Chris McCann Selamat malam dan selamat datang di pembahasan Alkitab EBible Fellowship dalam Kitab Wahyu. Malam ini adalah pembahasan #7 tentang Wahyu, pasal
Nasib dan Takdir Manusia, Apa Bedanya?
Nasib dan Takdir Manusia, Apa Bedanya? Pernahkan anda bertanya pada diri sendiri, untuk apa kita diciptakan? Mengapa Tuhan menciptakan bumi dan semesta alam? Mungkin pertanyaan itu pernah terbersit dihati
PENERAPAN ISI KOTBAH DHAMMACAKAPAVATTANA SUTTA DAN MAHA SATIPATTHANA SUTTA UNTUK MEREALISAIKAN NIBBANA
PENERAPAN ISI KOTBAH DHAMMACAKAPAVATTANA SUTTA DAN MAHA SATIPATTHANA SUTTA UNTUK MEREALISAIKAN NIBBANA Boniran STAB Maha Prajna Jakarta [email protected] ABSTRACT Dhammacakkapavattana Sutta is the
Surat Paulus kepada jemaat Filipi
1 Surat Paulus kepada jemaat Filipi Kepada yang kekasih saudara-saudari saya seiman di Filipi yaitu semua yang sudah disucikan oleh Allah karena bersatu dengan Kristus Yesus, khususnya kepada semua penatua
