HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Bahan dan alat uji coliform yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Tofa Waluyo*, Ellin Harlia**, Wowon Juanda** Universitas Padjadjaran

I PENDAHULUAN. Hal tersebut menjadi masalah yang perlu diupayakan melalui. terurai menjadi bahan anorganik yang siap diserap oleh tanaman.

Macam macam mikroba pada biogas

PENDAHULUAN. padat (feses) dan limbah cair (urine). Feses sebagian besar terdiri atas bahan organik

PROSES PEMBENTUKAN BIOGAS

HASIL DAN PEMBAHASAN

II KAJIAN KEPUSTAKAAN. tersebut serta tidak memiliki atau sedikit sekali nilai ekonominya (Sudiarto,

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. unit perinatologi di Rumah Sakit Abdoel Moeloek dengan melakukan uji coliform pada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. hewani yang sangat dibutuhkan untuk tubuh. Hasil dari usaha peternakan terdiri

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. masyarakat, karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. peternakan tidak akan jadi masalah jika jumlah yang dihasilkan sedikit. Bahaya

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pemanfaatan Limbah Cair Industri Tahu sebagai Energi Terbarukan. Limbah Cair Industri Tahu COD. Digester Anaerobik

TINJAUAN PUSTAKA. (a) (b) (c) (d) Gambar 1. Lactobacillus plantarum 1A5 (a), 1B1 (b), 2B2 (c), dan 2C12 (d) Sumber : Firmansyah (2009)

3. HASIL PENELITIAN Fermentasi Asinan Rebung

HASIL DAN PEMBAHASAN. ph 5,12 Total Volatile Solids (TVS) 0,425%

SEMINAR TUGAS AKHIR KAJIAN PEMAKAIAN SAMPAH ORGANIK RUMAH TANGGA UNTUK MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN BIOGAS

BAB IV PENGUMPULAN DAN PERHITUNGAN DATA

HASIL DA PEMBAHASA. Tabel 5. Analisis komposisi bahan baku kompos Bahan Baku Analisis

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengaruh Penambahan Kotoran Sapi Perah Terhadap Nilai ph

Pertumbuhan Total Bakteri Anaerob

Dr. Dwi Suryanto Prof. Dr. Erman Munir Nunuk Priyani, M.Sc.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tiap tingkatan kehidupan atau untuk tiap bangsa dan negara (Salim, 1986).

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BIOGAS. Sejarah Biogas. Apa itu Biogas? Bagaimana Biogas Dihasilkan? 5/22/2013

II. TINJAUAN PUSTAKA. Bakteri asam laktat (BAL) adalah kelompok bakteri yang bersifat Gram

BAB II HASIL PRAKTIKUM. Pengenceran Fanta Aqua Bakso Bakwan

Energi Alternatif. Digester anaerob. Penambahan Bahan Aditif. Tetes Tebu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bahan-bahan lain seperti garam, bawang merah, bawang putih. Sambal

EVALUASI JUMLAH BAKTERI KELOMPOK KOLIFORM PADA SUSU SAPI PERAH DI TPS CIMANGGUNG TANDANGSARI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Coliform adalah bakteri gram negatif berbentuk batang bersifat anaerob

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kota Gorontalo merupakan salah satu wilayah dari provinsi Gorontalo yang

bio.unsoed.ac.id I. PENDAHULUAN

KAJIAN KEPUSTAKAAN. ciri-ciri sapi pedaging adalah tubuh besar, berbentuk persegi empat atau balok,

III. METODOLOGI PENELITIAN. Pengambilan sampel dilakukan di pasar di sekitar kota Bandar Lampung,

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Biogas

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Selain dilakukan uji bakteriologis dilakukan juga beberapa uji fisika dan

III. METODE PENELITIAN. Desain penelitian pada penelitian ini adalah Deskriptif Laboratorik.

Bakteri Untuk Biogas ( Bag.2 ) Proses Biogas

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil penelitian pengaruh nisbah C/N campuran feses sapi perah dan jerami

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dikarenakan agar mudah mengambil air untuk keperluan sehari-hari. Seiring

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di Green House Jurusan Biologi Fakultas

Bab IV Data dan Hasil Pembahasan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mineral. Susu adalah suatu cairan yang merupakan hasil pemerahan dari sapi atau

1. Limbah Cair Tahu. Bahan baku (input) Teknologi Energi Hasil/output. Kedelai 60 Kg Air 2700 Kg. Tahu 80 kg. manusia. Proses. Ampas tahu 70 kg Ternak

3. HASIL PENELITIAN Acar Kubis Putih (Brassica oleracea)

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 5. Jumlah Bakteri Asam Laktat pada Media Susu Skim.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. digunakan untuk meningkatkan aktivitas proses komposting. Bioaktivator

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Analis Kesehatan

BAB V PEMBAHASAN. olahan Teh Poci dilakukan pengulangan pengujian sebanyak 4 kali, dengan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (zat padat, air, atmosfer). Bumi dilingkupi air sebanyak 70% sedangkan sisanya

1. PENDAHULUAN Latar Belakang

KAJIAN KEPUSTAKAAN. peternakan sapi potong. Limbah tersebut meliputi limbah padat dan limbah cair

ANALISIS PERAN LIMBAH SAYURAN DAN LIMBAH CAIR TAHU PADA PRODUKSI BIOGAS BERBASIS KOTORAN SAPI

4. PEMBAHASAN Fermentasi Acar Kubis Putih

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. yang berada di Kecamatan Dungingi Kota Gorontalo. Kelurahan ini memiliki luas

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2010 sampai dengan

PERTUMBUHAN MIKROORGANISME

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. suatu gas yang sebagian besar berupa metan (yang memiliki sifat mudah terbakar)

PERANAN MIKROORGANISME DALAM SIKLUS UNSUR DI LINGKUNGAN AKUATIK

HASIL DAN PEMBAHASAN

Adelia Zelika ( ) Lulu Mahmuda ( )

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Umum Penelitian. Tabel 3. Pertumbuhan Aspergillus niger pada substrat wheat bran selama fermentasi Hari Fermentasi

ANALISIS PERAN LIMBAH CAIR TAHU DALAM PRODUKSI BIOGAS

TINJAUAN PUSTAKA. Syarat mutu susu segar menurut SNI tentang Susu Segar

TINJAUAN PUSTAKA Bakteri Asam Laktat

BAB III METODA PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif.

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI PERMEN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tidak membutuhkan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 65-75% dari berat

UJI COLIFORM FECAL PADA IKAN LELE (Clarias batracus) DAN IKAN KAKAP. (Lates calcarifer) DI WARUNG TENDA SEA FOOD SEKITAR KAMPUS

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 5. Rataan Nilai Warna (L, a, b dan HUE) Dendeng Sapi dengan Metode Perlakuan Curing yang Berbeda

III. METODE PENELITIAN. Desain penelitian pada penelitian ini adalah Eksperimental Laboratorik.

KAJIAN KEPUSTAKAAN. diduga tidak memiliki atau sedikit sekali nilai ekonominya (Merkel, 1981). Limbah

Prosiding Seminar Nasional Kefarmasian Ke-1

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. perah dan limbah kubis (Brassica oleracea) pada pembuatan pupuk organik cair

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Escherichia coli Escherichia coli, yaitu bakteri anaerob fakultatif gram negatif berbentuk

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PEMBUATAN BIOGAS DARI LIMBAH CAIR INDUSTRI BIOETANOL MELALUI PROSES ANAEROB (FERMENTASI)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dalam negeri sehingga untuk menutupinya pemerintah mengimpor BBM

Alat dan Bahan : Cara Kerja :

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

PEMBUATAN KOMPOS DARI LIMBAH PADAT ORGANIK YANG TIDAK TERPAKAI ( LIMBAH SAYURAN KANGKUNG, KOL, DAN KULIT PISANG )

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Biogas merupakan gas yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan

TINJAUAN LITERATUR. Biogas adalah dekomposisi bahan organik secara anaerob (tertutup dari

METODE PENELITIAN. selesai. Tempat penelitian dilakukan di Laboratorium FIKKES Universitas. Muhammadyah Semarang, Jl. Wonodri Sendang No. 2A Semarang.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Bel akang

TINJAUAN PUSTAKA Daging Sapi Daging Ayam

BAB I PENDAHULUAN. Susu merupakan bahan makanan yang bergizi tinggi karena mengandung

Bab IV Hasil Dan Pembahasan

Transkripsi:

39 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Rata-Rata Jumlah Bakteri yang Terdapat pada Feses Sapi Potong Sebelum (inlet) dan Sesudah (outlet) Proses Pembentukan Biogas dalam Reaktor Tipe Fixed-Dome Hasil perhitungan rata-rata jumlah bakteri coliform yang terdapat pada feses sapi potong sebelum (inlet) dan sesudah (outlet) proses pembuatan biogas dalam reaktor tipe fixed-dome tercantum pada Tabel 2., sedangkan, hasil identifikasi jumlah coliform (MPN) dapat dilihat pada Lampiran 1. Berikut adalah hasil penurunan rata-rata jumlah bakteri coliform sebelum (inlet) dan sesudah (outlet) proses pembentukan biogas: Tabel 2. Rata-Rata Jumlah Bakteri Sebelum (inlet) dan Sesudah (outlet) Pembentukan Biogas (duplo) pada Reaktor Tipe Fixed-Dome. Ulangan 1 2 3 Jumlah Rata-rata Rata-Rata Jumlah Bakteri Sebelum Sesudah (Inlet) (Outlet) (MPN/ml) (MPN/ml) 18 0,14 18 0,08 18 0,17 54 0,39 18 0,13 Persentase Penurunan (%) 99,22% 99,55% 99,05% 297,82% 99,27%

40 Tabel 2., menunjukan bahwa jumlah bakteri pada sampel 1, 2, dan 3 mengalami penurunan jumlah pada sebelum (inlet) proses pembentukan biogas sampai sesudah (outlet) proses pembentukan biogas. Pada tabel terlihat jelas persentase penurunan jumlah bakteri pada sampel 1 mencapai 99,22%, pada sampel 2 meningkat dari sampel sebelumnya hingga mencapai 99,55%, dan pada sampel 3 mengalami penurunan dari sampel sebelumnya pada angka 99,05%. Sampel 3 adalah sampel yang penurunannya paling rendah daripada sampel lainnya, sedangkan sampel 2 adalah sampel yang paling besar mengalami penurunan daripada sampel lainnya. Penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu mencakup nisbah C/N bahan organik yang akan diolah, kandungan mikroorganisme, temperatur, ph dan kadar air (Merkel,J.A.1981) Rata-rata jumlah bakteri pada sampel sebelum (Inlet) dan sesudah (outlet) proses pembentukan biogas mengalami penurunan dari 18 MPN/ml menjadi 0,13 MPN/ml. Hal tersebut dipengaruhi oleh adanya persaingan hidup dengan bakteribakteri metanogenik yang berkembang selama proses pencernaan. Dalam kondisi anaerob, bakteri metanogenik akan tumbuh dengan baik sehingga pertumbuhan coliform dan Escherichia coli menjadi terhambat. Hal ini sejalan dengan pendapat Kornacki dan Johnson (2001) dan Francis dkk. (2002) yang menyatakan bahwa bakteri coliform tidak dapat bersaing dengan bakteri lain dalam kondisi tidak mendukung. Persaingan dalam memperoleh nutrisi untuk bertahan hidup salah satu faktor yang meyebabkan coliform terdesak oleh bakteri metanogenik. Demikian juga, metabolit-metabolit yang dihasilkan oleh mikroba dalam metabolismenya akan meracuni kehidupan bakteri coliform dan Escherichia coli. Alur proses pencernaan/digesting limbah organik sampai menjadi biogas dimulai dengan pencernaan limbah organik yang disebut juga dengan

41 fermentation/digestion anaerob. Pencernaan tergantung pada kondisi reaksi dan interaksi antara bakteri metanogen, non-metanogen dan limbah organik yang dimasukkan sebagai bahan input/feedstock kedalam digester. Suatu proses fermentasi yang terkendali, suhu akan meningkat secara bertahap mulai dari suhu mesofilik atau suhu awal yaitu < 40 o C kemudian meningkat sampai suhu termofilik (40-70 o C) dan kemudian turun kembali menjadi <40 o C. Peningkatan suhu tersebut menyebabkan proses fermentasi mampu membunuh bakteri yang bersifat termofilik dan patogen seperti bakteri kelompok coliform yaitu Salmonella, Shigellae, dan Escherichia coli. (Rusdi dan Kurnani, 1994). Bakteri anaerobik membutuhkan nutrisi sebagai sumber energi untuk proses reaksi anaerob seperti mineral-mineral yang mengandung Nitrogen, Fosfor, Magnesium, Sodium, Mangan, Kalsium, Kobalt. Nutrisi ini dapat bersifat toxic (racun) apabila konsentrasi kandungan di dalam bahan bakar terlalu banyak (National Academy of Sciences, 1977) Penurunan jumlah bakteri ini juga dapat disebabkan oleh konsentrasi derajat keasaman (ph) yang tidak stabil. Derajat keasaman (ph) ini mempunyai efek terhadap aktivasi mikroorganisme. Pada tahap pengasaman, hanya bakteri anaerob yang dapat tumbuh pada keadaan asam yang mampu bertahan hidup (Marlina, 2009). Dalam pertumbuhannya Escherichia coli memerlukan kondisi ph netral (Robert dkk., 1996, Buckle dkk.,1987). Konsentrasi derajat keasaman (ph) yang ideal antara 6,6 dan 7,6. Bila ph lebih kecil atau lebih besar maka akan mempunyai sifat toksit (racun) terhadap bakteri metanogenik. Bila proses anaerob sudah berjalan menuju pembentukan biogas, ph berkisar 7-7,8 (Merkel, J.A. 1981). Tingkat kematian bakteri hidup telah dilaporkan tergantung pada suhu, waktu retensi, ph, asam volatil, spesies bakteri, dan nutrisi yang tersedia (Farrah

42 dan Bitton, 1983; Kearney dkk., 1993). Hal ini juga diperkuat dengan pernyataan Dumontet dkk., (1999) yang menyatakan bahwa temperatur adalah faktor yang terpenting dalam bertahan atau tidaknya bakteri patogen ketika proses fermentasi anaerob. 4.2 Jenis Bakteri yang Terdapat pada Feses Sapi Potong Sebelum (inlet) dan Sesudah (outlet) Proses Pembentukan Biogas dalam Reaktor Tipe Fixed-Dome Hasil isolasi dan identifikasi bakteri yang terdapat pada feses sapi potong sebelum (inlet) dan sesudah (outlet) proses pembentukan biogas dalam reaktor tipe fixed-dome tercantum pada Tabel 3. Berikut ini merupakan hasil identifikasi bakteri sebelum (inlet) dan sesudah (outlet) pembentukan biogas: Tabel 3. Identifikasi Jenis Bakteri Coliform yang Terdapat pada Feses Sapi Potong Sebelum (inlet) dan Sesudah (outlet) Proses Pembentukan Biogas dalam Reaktor Tipe Fixed-Dome. Ulangan Duplo Sebelum (Inlet) Sesudah (Outlet) Sampel 1 I Fekal & Non Fekal Fekal & Non Fekal II Fekal & Non Fekal Fekal & Non Fekal Sampel 2 I Fekal Non Fekal II Fekal & Non Fekal Non Fekal Sampel 3 I Fekal & Non Fekal Non Fekal II Non Fekal Non Fekal Hasil Identifikasi Bakteri : Fekal : Escherichia coli Non fekal: Klebsiella sp. Pada Tabel 3., menunjukkan bahwa sampel sebelum (inlet) ke sampel sesudah (outlet) mengalami degradasi jenis bakteri coliform yang terdapat pada

43 feses sapi potong sebelum (inlet) dan sesudah (outlet) proses pembentukan biogas dalam reaktor tipe fixed-dome. Pada Tabel 3., terlihat jelas bahwa jenis bakteri fekal lebih banyak pada sampel sebelum (inlet) daripada sampel setelah (outlet), sedangkan jenis bakteri non fekal banyak terdapat pada sampel setelah (outlet) daripada sampel sebelum (inlet). Pada sampel 1 terdapat jenis bakteri fekal dan non fekal pada sampel sebelum (inlet), sedangkan untuk sampel sesudah (outlet) terdapat juga jenis bakteri fekal maupun non fekal. Pada sampel 2 terdapat jenis bakteri fekal untuk uji ke I dan fekal serta non fekal untuk uji ke II pada sampel sebelum (inlet), sedangkan untuk sampel sesudah (outlet) terdapat jenis bakteri non fekal saja. Pada sampel 3 terdapat jenis bakteri fekal dan non fekal untuk uji ke I serta fekal saja untuk uji ke II pada sampel sebelum (inlet), sedangkan untuk sampel sesudah (outlet) terdapat jenis bakteri non fekal saja. Identifikasi jenis bakteri coliform yang terdapat pada feses sapi potong sebelum (inlet) dan sesudah (outlet) proses pembentukan biogas dalam reaktor tipe fixed-dome ini menggunakan uji penguat (uji confirmed). Uji penguat merupakan kelanjutan dari uji penduga (uji presumtived) pada hari berikutnya. Hasil reaksi dari uji ini ditandai oleh terbentuknya warna hijau metalik dan merah jambu (pink) pada sampel yang diuji. Warna hijau metalik menunjukkan terdapatnya bakteri fekal pada sampel, sedangkan warna merah jambu (pink) menunjukkan terdapatnya bakteri non fekal pada sampel. Bakteri fekal adalah bakteri yang tidak diinginkan keberadaanya pada proses pembentukan biogas karena bakteri ini akan menghambat proses pembentukan biogas dan menjadi indikator dari sanitasi lingkungan. Salah satu contoh mikroba jenis bakteri fekal adalah Escherichia coli. Oleh karena itu, semakin sedikit jumlah bakteri fekal, terutama pada sampel sesudah (outlet) artinya menunjukkan bahwa proses pembentukan biogas pada

44 reaktor tipe fixed-dome dapat mereduksi jumlah bakteri fekal dan pada Tabel 3., data telah menunjukkan bahwa bakteri jenis fekal tidak terdapat banyak pada sampel sesudah (outlet). Diketahui bahwa bakteri coliform fekal maupun non fekal relatif tahan pada suhu dingin dibandingkan dengan suhu panas. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang menyebutkan bahwa Escherichia coli (bakteri coliform fekal) dapat bertahan pada suhu pendinginan dibandingkan suhu panas (Lund, B.M., 2000). Menurut Supardi dan Sukamto (1999), Escherichia coli tumbuh pada suhu antara 10-40 o C, dengan suhu optimum 37 o C. Media yang digunakan pada uji penguat ini adalah EMBA (Eosin Metylen Blue Agar) yang merupakan medium diferensial, yaitu medium yang dapat memisahkan antar koloni bakteri yang berbeda dan digunakan sebagai media isolasi dan identifikasi. Media ini digunakan untuk bakteri coliform (bakteri yang sebagian besar terdiri dari bakteri Escherichia coli) yang salah satunya dapat menfermentasi laktosa, dari koloni yang bewarna biru kehitaman menjadi koloni yang berwarna hijau metalik (Marietta, 2008). Identifikasi jenis bakteri kualitatif yang terdapat pada feses sapi potong sebelum (inlet) dan sesudah (outlet) proses pembentukan biogas dalam reaktor tipe fixed-dome adalah Escherichia coli untuk jenis bakteri fekal dan Klebsiella sp. untuk jenis bakteri non fekal. Identifikasi jenis bakteri kualitatif ini menggunakan uji biokimia tiga tabung dengan masing-masing untuk satu sampel terdiri dari satu deret tabung yang berisi media Kligler, MIU, dan Citrat. Kligler iron agar adalah tes mikrobiologi untuk menguji kemampuan mikroorganisme dalam memfermentasi gula, gas, dan menghasilkan hidrogen sulfida. MIU (Motility, Indole, dan Urea) adalah tes mikrobiologi untuk mengetahui kemampuan bergerak

45 (motil), kemampuan bakteri dalam memproduksi indol dan asam amino (triptofan), dan kemampuan bakteri dalam mendegradasi molekul urea menjadi ammonia dan CO2, sedangkan Citrat adalah tes mikrobiologi untuk mengetahui kemampuan bakteri dalam menggunakan citrat sebagai sumber karbohidrat tunggal. Perubahan warna dan bentuk dari ketiga media tersebut (Kligler, MIU, dan Citrat) dapat mengidentifikasi jenis bakteri apa yang terdapat pada sampel. Pada uji ini terdapat dua jenis bakteri kualitatif, yaitu: Escherichia coli dan Klebsiella sp.. Identifikasi bakteri Escherichia coli didapat karena media kligler tidak berubah warna (-), MIU disekitar bekas tusukan osse pada agar MIU terdapat kekeruhan yang menyebar (+), dan tidak terjadi perubahan warna (tetap hijau) (-). Pada identifikasi bakteri Klebsiella sp. semua media terjadi reaksi perubahan. Kligler berubah warna dari merah menjadi kuning (+), MIU disekitar bekas tusukan osse pada agar MIU terdapat kekeruhan yang menyebar (+), dan pada Citrat media berubah warna dari hijau menjadi biru (+). Escherichia coli merupakan bakteri gram negatif yang tahan hidup dalam media yang kekurangan oksigen. Susunan dinding sel bakteri gram negatif memiliki struktur dinding sel yang lebih kompleks daripada sel bakteri gram positif. Bakteri gram negatif mengandung sejumlah besar lipoprotein, lipopolisakarida, dan lemak (Schlegel, 1993). Adanya lapisan-lapisan tersebut mempengaruhi aktivitas kerja dari zat antibakteri. Bakteri Escherichia coli merupakan organisme yang normal terdapat dalam usus manusia sehingga keberadaannya bukan merupakan masalah. Namun, beberapa strain tertentu dari bakteri ini dapat menimbulkan penyakit seperti diare, muntaber, dan gangguan pencernaan lainnya. Hal ini berkaitan dengan kemampuan strain ini dalam membentuk enterotoksin yang berperan dalam mengeluarkan cairan

46 dan elektrolit. Bedasarkan kebutuhan akan oksigen, Escherichia coli merupakan bakteri fakultatif anaerob, yaitu bakteri yang menggunakan respirasi aerobik, jika tanpa oksigen maka beberapa diantaranya berfermentasi, dan beberapa lagi menggunakan respirasi anaerobik. Temperatur optimal untuk Escherichia coli adalah 37 O C. Dalam proses fermentasi di dalam reaktor yang terkendali, suhu akan meningkat secara bertahap mulai dari suhu mesofilik atau suhu awal yaitu < 40 o C kemudian meningkat sampai suhu termofilik (40-70 o C) dan kemudian turun kembali menjadi <40 o C. Peningkatan suhu tersebut menyebabkan proses fermentasi mampu membunuh bakteri yang bersifat patogen seperti bakteri kelompok coliform yaitu Salmonella, Shigellae, dan Escherichia coli. (Rusdi dan Kurnani, 1994). Bakteri anaerobik membutuhkan nutrisi sebagai sumber energi untuk proses reaksi anaerob seperti mineral-mineral yang mengandung Nitrogen, Fosfor, Magnesium, Sodium, Mangan, Kalsium, Kobalt. Nutrisi ini dapat bersifat toxic (racun) apabila konsentrasi kandungan di dalam bahan bakar terlalu banyak (National Academy of Sciences, 1977) Dalam pertumbuhannya Escherichia coli memerlukan kondisi ph netral (Robert dkk., 1996, Buckle dkk.,1987). Konsentrasi derajat keasaman (ph) yang ideal antara 6,6 dan 7,6. Bila ph lebih kecil atau lebih besar maka akan mempunyai sifat toksit (racun) terhadap bakteri metanogenik. Bila proses anaerob sudah berjalan menuju pembentukan biogas, ph berkisar 7-7,8 (Merkel, J.A. 1981). Penelitian ini membuktikan bahwa dalam kondisi anaerobik pada fase temperatur termofilik dapat mereduksi jumlah bakteri Eschericia coli yang

47 merupakan bakteri coliform fekal dan tidak diinginkan keberadaannya. Hal ini sejalan dengan pendapat Bendixen (1994) yang menyatakan bahwa diindikasikan temperatur termofilik pada tahap hidrolisis dapat mereduksi/menghilangkan bakteri patogen ketika pada saat temperatur mesofilik tidak mempunyai efek terhadap bakteri patogen, sehingga bakteri Eschericia coli jumlahnya berkurang. Selain itu, diketahui faktor yang mempengaruhi penurunan jumlah bakteri coliform selain temperatur adalah kebutuhan akan nutrisi dari bakteri tersebut, dan tingkat derajat keasaman (ph) pada reaktor biogas.