BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

n = n = BAB 3 HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Sampel Dan Teknik Pengambilan sampel

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN

PENERAPAN ANALISIS KONJOIN PADA PREFERENSI MAHASISWA TERHADAP PEKERJAAN

Tahapan yang umumnya dilakukan dalam merancang dan melaksanakan analisis konjoin secara umum adalah sebagai berikut :

BAB 1 PENDAHULUAN. menjadi kebutuhan pangan, papan dan sandang. Kebutuhan tersebut tidak pernah

BAB III Riset Pemasaran

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB 2 LANDASAN TEORI

ANALISIS KONJOIN FULL-PROFILE UNTUK MENGETAHUI FEATURE TELEPON SELULAR YANG IDEAL DIPASARKAN DI KECAMATAN BANYUMANIK SEMARANG

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB III ANALISIS KONJOIN. Dalam upaya untuk memprediksi preferensi warga mengenai sistem

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

PERBAIKAN PROSES PERANCANGAN PRODUK INDUSTRIAL LATEX GLOVES DENGAN PENDEKATAN CONCURRENT ENGINEERING TOOLS

Perbandingan Tingkat Kemudahan Tiga Metode Konjoin pada Preferensi Mahasiswa terhadap Kualitas Dosen STIS

APLIKASI ANALISIS KONJOIN UNTUK MENGUKUR PREFERENSI MAHASISWA FMIPA USU DALAM MEMILIH PRODUK PASTA GIGI

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

KUESIONER PENELITIAN FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2013

3 METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang

Validitas dan Reliabilitas

STATISTIK NONPARAMETRIK (2)

BAB 2 LANDASAN TEORI

K O R E L A S I. Referensi :

BAB II LANDASAN TEORI. Teori teori yang digunakan sebagai landasan dalam desain dan. implementasi dari sistem ini adalah sebagai berikut :

BAB II LANDASAN TEORI

IV METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Tabel 3.1 Desain Penelitian. T-2 Survey & Analisis Deskriptif Individu -> konsumen Cross-sectional

Resume Regresi Linear dan Korelasi

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA. Penentuan Kansei Word ini berdasarkan persepsi atau andangan penguji atau

Statistik Deskriptif untuk Data Nominal dan Ordinal

Bab 1 Pendahuluan 1 7 BAB 1 PENDAHULUAN

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN. pada Lampiran 1. Pada survey awal, didapat jenis aplikasi yang dibutuhkan oleh

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

DAFTAR ISI. ABSTRAK. i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iv DAFTAR TABEL... vii DAFTAR GAMBAR...ix DAFTAR LAMPIRAN... x

MODUL V REGRESI, KORELASI, ANALISIS VARIAN, VALIDITAS DAN RELIABILITAS

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Desain penelitian mengenai jenis penelitian, metode penelitian, unit

ANALISIS PREFERENSI WISATAWAN TERHADAP DESTINASI EKOWISATA KEPULAUAN SERIBU DENGAN PENDEKATAN ANALISIS KONJOIN (STUDI KASUS PULAU PRAMUKA) SKRIPSI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Definisi operasional yang dimaksud yaitu untuk menghindari kesalahan

PENGENALAN APLIKASI STATISTICAL PRODUCT AND SERVICE SOLUTIONS (SPSS)

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

UJI VALIDITAS KUISIONER

BAB IV ANALISA DATA 4.1. PENDAHULUAN

BAB 3 METODE PENELITIAN. yang disesuaikan dengan tujuan penelitian sehingga dapat melakukan analisis. Berikut. Jenis dan Metode. pelanggan.

TIN305 - Perancangan dan Pengembangan Produk Materi #1 Genap 2014/2015. TIN305 - Perancangan dan Pengembangan Produk

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. dengan menggunakan jenis penelitian eksplanatif dan metode penelitian kuantitatif.

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ISSN : Uji Chi-Square pada Statistika dan SPSS Ari Wibowo 5)

MAKALAH UJI PERLUASAN MEDIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. perparkiran di Stikom Surabaya yang menggunakan teknologi RFID (Radio

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Gambaran Umum Amarta Multi Corporation. bagi industri. Berdiri di Yogyakarta sejak tahun 2004.

III. METODE PENELITIAN. Gaplek merupakan ubi kayu yang sudah melewati proses pengeringan yang. selanjutnya akan diolah menjadi beras siger

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

ANALISIS PREFERENSI KONSUMEN PENGGUNA JASA MASKAPAI PENERBANGAN UNTUK RUTE SEMARANG-JAKARTA DENGAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Nilai Brand Equity Sour Sally

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dengan semakin majunya teknologi pada masa sekarang ini, kebutuhan akan informasi yang cepat dan akurat sangat

BAB II LANDASAN TEORI. Antrian sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari contohnya dalam

MENGUBAH DATA ORDINAL KE DATA INTERVAL DENGAN METODE SUKSESIF INTERVAL (MSI) Oleh: Jonathan Sarwono

BAB III METODE PENELITIAN

Bagian I Jawablah Pertanyaan Di Bawah Ini Dengan Menyilang Pada Huruf a, b, c, d, atau e Pada Kertas Soal ini

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Kerangka Pemikiran Restoran fast food yang banyak bermunculan di kota Bogor saat ini memicu persaingan antar restoran fast food tersebut di kota

BAB I PENDAHULUAN. Rumusan dari permasalahan yang ditemukan adalah sebagai berikut.

BAB 1 PENDAHULUAN. makin banyaknya perusahaan yang menjalani proses produksi di Indonesia. Makin

EXECUTIVE SUMMARY MARKETING PLAN. Business Plan Salon Mobil ++ Kewirausahaan/Contoh Proposal Usaha/ BDS-Doc. Latar belakang. Tujuan dan Manfaat Bisnis

Pengantar Pengolahan Data Statistik Menggunakan SPSS 22. Isram Rasal ST, MMSI, MSc

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

Distribusi Frekuensi dan Statistik Deskriptif Lainnya

PREFERENSI WISATAWAN TERHADAP KUNJUNGAN WISATA PULAU SAMOSIR DENGAN ANALISIS KONJOIN. Sari C Kembaren Pengarapen Bangun, Rachmad Sitepu

STATISTIK NONPARAMETRIK (1)

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

PEMODELAN SISTEM 6.1. KONFIGURASI MODEL

STATISTIKA DESKRIPTIF

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Transkripsi:

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA 4.1 Pernyataan Misi Pada tahapan awal perancangan dan pengembangan produk dilakukan proses perencanaan produk yang berupa pernyataan misi proyek yang nantinya akan digunakan sebagai masukan dan petunjuk bagi tahapan selanjutnya. Pada pernyataan misi terdapat uraian mengenai poduk sepatu yang akan dikembangkan. Pasar utama dari sepatu ini adalah anak muda yang masih enerjik dan selalu ingin tampil beda. Sedangkan untuk pasar kedua diambil segmen pekerja yang memiliki mobilitas tinggi dan berjiwa muda. Untuk asumsi dan batasan, produk akan disesuaikan dengan kebutuhan konsumen, sehingga apa yang diinginkan oleh konsumen dapat direpresentasikan dengan baik. Produk yang ingin dibuat akan diproduksi di Indonesia, namun jalur pemasarannya akan dilakukan dengan skala internasional yang menyasar kepada e-bussines.

69 Tabel 4.1 Mission Statement Product Name By Uraian produk : Mission Statement : My Shoes : Nizar Susilo R Sepatu yang kreatif dan inovatif. Memiliki fitur yang berbeda dengan sepatu yang telah ada di pasaran saat ini. Sebuah sepatu dari konsumen dan untuk konsumen. Sasaran bisnis utama Pasar utama Pasar kedua Asumsi-asumsi dan batasan Stakeholder Memperoleh proporsi pasar 25% Membuat fungsi baru dari sebuah sepatu Disain yang berbeda dari semua sepatu yang ada Perkenalan produk yang pertama dilakukan pada kuartal pertama tahun 2009 Murid SMA Mahasiswa Pekerja yang berjiwa muda Produk disesuaikan dengan kebutuhan konsumen Produksi dilakukan di Indonesia Pemasaran dilakukan dengan skala internasional Pembeli dan pengguna Operasional manufaktur Distributor Pengecer

70 4.2 Pengumpulan Data Identifikasi Kebutuhan Konsumen Untuk pengumpulan data kebutuhan konsumen ( kuesioner pendahuluan ) dilakukan menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada 100 orang pengguna sepatu dengan teknik wawancara. Nama : Pewawancara : Umur : Tanggal : Apakah anda sering memakai sepatu saat bepergian keluar rumah? ( jika jawabannya adalah tidak, saya mengucapkan terima kasih, anda tidak perlu melanjutkan ke pertanyaan berikutnya ) Pertanyaan Pernyataan Pelanggan Interpretasi Kebutuhan Hal apa yang anda perhatikan saat akan membeli atau memilih sepatu? Apa yang anda tidak suka dari sepatu yang ada sekarang? Apakah ada usulan lain untuk sepatu yang baru? Gambar 4.1 Contoh Kuesioner Pendahuluan Dari data kuesioner yang telah diajukan kepada responden, didapatkan jawaban-jawaban yang dapat diinterpretasikan. Hasil dari interpretasi ini kemudian

71 dijadikan acuan dalam pembuatan atribut dan taraf atribut bagi tahapan analisis konjoin. 4.3 Pengolahan Data Analisis Konjoin ( Conjoint Analysis ) Conjoint analysis atau analisis konjoin adalah teknik multivariate yang digunakan untuk memahami bagaimana responden mengembangkan preferensi terhadap suatu produk atau jasa. Hal ini didasarkan pada premis bahwa konsumen menilai produk, jasa, atau ide dengan cara mengkombinasikan jumlah nilai dari masing-masing atribut yang terpisah. Utilitas sebagai ukuran nilai dalam analisis konjoin bersifat subjektif judgement preferensi unik dari setiap individu. Data conjoint analysis didapat dari urutan kartu profil dalam kuesioner. Dalam penelitian ini, metode presentasi yang digunakan adalah full profile dan metode yang digunakan adalah metode non metrik yang menggunakan skala ordinal, yaitu berupa ranking (Rank). Proses analisis konjoin dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Tahap pertama merupakan penetapan tujuan conjoint analysis, menetapkan atribut-atribut yang dipentingkan dalam sebuah sepatu yang diperoleh dari hasil interpretasi kebutuhan konsumen. 2. Tahap kedua berupa perancangan conjoint analysis dimulai dari merancang stimuli dengan menetapkan atribut yang akan dipakai, menetapkan atribut dan taraf atribut, menetapkan model dasar yaitu aditif untuk mendapatkan nilai total dari kombinasi atribut dengan menjumlahkan nilai masing-masing

72 atribut, metode pengumpulan data dengan full profile yang dapat mengurangi jumlah kombinasi dengan fractional factorial design, menciptakan stimuli dengan mengevaluasi stimuli satu per satu, memilih ukuran preferensi stimuli yaitu dengan ranking. 3. Tahap ketiga adalah membuat asumsi dalam analisis, dalam penelitian ini tidak ada asumsi yang digunakan 4. Tahap keempat, evaluasi hasil, dilakukan dengan menguji korelasi antara ranking disagregat dan agregat, yaitu ranking responden pertama dengan ranking seluruh responden dengan uji Kendall karena data ranking berupa data ordinal, namun pengujian dilakukan saat validasi hasil pada tahap enam karena harus menghitung rata-rata ranking dan pengurutan ulang. 5. Tahap kelima interprestasi hasil dengan melakukan perhitungan manual agregat dan disagregat, untuk menghitung nilai kegunaan taraf atribut dan tingkat kepentingan atribut. 6. Tahap keenam adalah validasi hasil untuk menjamin bahwa sampel dapat mewakili populasi. 7. Tahap ketujuh adalah dengan kegunaan hasil dengan menghitung nilai skor kombinasi dan menghitung probabilitas memilih profil. Maka hasil yang akan diperoleh adalah data preferensi atribut dan kombinasi atribut yang optimal. Untuk poin-poin penting pada tahap-tahap di atas, dijabarkan secara mendetail pada tahapan di bawah ini, seperti penetapan atribut dan taraf atribut, desain stimuli pada langkah kedua, perhitungan nilai kegunaan taraf atribut dan tingkat kepentingan

73 atribut disagaregat dan agregat pada tahap kelima, dan lain lain. Hal ini dilakukan karena mengikuti langkah penggerjaan manual. 4.3.1 Penetapan Atribut dan Taraf Atribut Berdasarkan hasil dari interpretasi kebutuhan konsumen didapatkan beberapa atribut dan taraf atribut yang dinilai penting dalam sebuah sepatu. Keenam atribut dan taraf-tarafnya dapat dilihat pada tabel 4.2. Tabel 4.2 Atribut dan Taraf Atribut Sepatu No. Atribut Taraf Atribut 1 Tipe Casual Athletic Work 2 Desain Simple Cheerful Limited 3 Bahan Canvas Kulit Karet 4 Opening Tali Straps Slip On 5 Harga < Rp 300.000 300.000 500.000 > Rp 500.000 6 Fitur Dapat menjadi sendal Anti air Atribut dan taraf-tarafnya ini kemudian diajukan kepada konsumen dalam bentuk kuesioner. Kuesioner disebarkan kepada 300 orang konsumen yang mengikuti teknik pengambilan sampel menggunakan rumus Taro Yamane atau Slovin yang terdapat pada metode pemecahan masalah. Hasilnya adalah sebagai berikut.

74 Tabel 4.3 Data Perangkingan Atribut dan Taraf Atribut Sepatu No. Atribut Mean Rangking 1 Tipe 925 3,08 3 2 Desain 551 1,84 1 3 Bahan 1266 4,22 4 4 Opening 1564 5,21 6 5 Harga 1353 4,51 5 6 Fitur 641 2,14 2 Dari hasil perangkingan yang terdapat pada tabel 4.3, didapatkan tiga atribut dan tarafnya yang dinilai paling penting bagi konsumen. Tabel 4.4 Hasil Perangkingan Atribut dan Taraf Atribut Sepatu No. Atribut Taraf Atribut 1 Desain Simple Cheerful Limited 2 Fitur Dapat menjadi sendal Anti air 3 Tipe Casual Athletic Work 4.3.2 Mendesain Stimuli Stimuli merupakan kombinasi antara atribut atau faktor pada produk dengan taraf. Kombinasi stimuli ini akan diurutkan oleh responden menurut tingkat preferensinya melalui kartu profil. Dari 3 atribut dan 8 taraf atribut tersebut,

75 didapatkan jumlah kombinasi yang mungkin untuk disusun sebanyak 18 kombinasi ( diperoleh dari hasil perkalian tiap taraf atribut = 3 x 2 x 3 ). Jika ke-18 kombinasi tersebut digunakan, dapat menyulitkan responden dalam mengurutkan kombinasi-kombinasi tersebut. Responden akan sulit memberi jawaban konsisten, membutuhkan waktu yang lama dan akhirnya responden menjawabnya dengan tidak sesuai dengan kenyataan sehingga hasil yang diperoleh tidak akurat. Untuk dapat mereduksi kombinasi tersebut, dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: 1. Membuat stimuli dengan prosedur syntax - Dari program SPSS, biarkan data editor dalam keadaan kosong - Pilih menu file, New, pilih syntax. - Ketik pada syntax editor: ORTHOPLAN /FACTORS= FAKTOR1 nama faktor1 ( taraf1 faktor1 taraf2 faktor2 ) FAKTOR2 nama faktor2 ( taraf1 faktor1 taraf2 faktor2 ) (diteruskan untuk semua faktor dan taraf yang ada) /HOLDOUT=0 SAVE OUTFILE= nama file untuk menyimpan.sav - Pilih Run, pilih All. Dapat terbentuk kombinasi pada data view

76 2. Membuat stimuli dengan prosedur orthogonal - Dari menu bar, pilih Data, Orthogonal Design, Generate - Masukan minimal 1 faktor. Masukan nama faktor pada kolom Factor Name dan Factor Label. Klik Add untuk menambahkan faktor tersebut dan dapat menghapusnya dengan cara memilih faktor tersebut pada list dan klik Remove. Untuk merubahnya, pilih dari list dan klik Change. - Definisikan value tiap faktor : Pilih faktor pada list dan klik Define Values, isi semua value, klik continue. Jika semua faktor selesai, klik OK - Untuk menampilkan stimuli, pilih Data, Orthogonal Design, Display. - Pindahkan semua faktor yang akan dikombinasikan ke Factors list. - Klik OK, maka akan didapat kombinasi faktor-faktor tadi pada output. Setelah menggunakan metode fractional factorial design dengan bantuan software SPSS versi 13 sehingga dihasilkan 12 kombinasi pada tabel 4.5. Setelah dievaluasi satu per satu, dapat dianggap bahwa semua kombinasi ini dapat digunakan untuk mengetahui preferensi konsumen dengan jelas.

77 Tabel 4.5 Profil-Profil Hasil Fractional Factorial Design No. Desain Fitur Tipe 1 Simple Dapat menjadi sendal Casual 2 Dapat menjadi sendal Athletic 3 Anti air Work 4 Anti air Casual 5 Cheerful Dapat menjadi sendal Casual 6 Dapat menjadi sendal Athletic 7 Anti air Work 8 Anti air Casual 9 Limited Dapat menjadi sendal Casual 10 Dapat menjadi sendal Athletic 11 Anti air Athletic 12 Anti air Work 4.3.3 Nilai Kegunaan Taraf Atribut dan Tingkat Kepentingan Atribut Disagregat Untuk mencari nilai kegunaan taraf faktor dan tingkat kepentingan faktor disagerat, dilakukan dengan dua cara seperti berikut ini : 1. Menggunakan Software SPSS 13 dengan program syntax a. Dari program SPSS, biarkan data editor dalam keadaan kosong b. Pilih menu file, New, pilih syntax. c. Ketik pada syntax editor: CONJOINT PLAN='ORTHO.SAV' /DATA='DATA.SAV' /RANK =PREF1 TO PREF12 /SUBJECT=ID

78 /FACTORS= nama faktor1 nama faktor2 (dst.) /PRINT=ALL /UTILITY='UTILITY.SAV' /PLOT=SUMMARY. d. Pilih Run. 2. Menggunakan Prosedur Conjoint Analysis ( Perhitungan Manual ) a. Perhitungan Nilai Kegunaan Taraf Atribut Untuk mengetahui nilai kegunaan taraf atribut membutuhkan data urutan stimuli dari 25 kombinasi yang telah diisi responden dengan tahapan : 1. Nilai rata-rata ranking keseluruhan (K) Nilai k diperoleh dengan rumus : Dengan n = jumlah kombinasi. K +1 = n 2 Dalam penelitian ini, jumlah kombinasi atribut (kartu) yang diperoleh melalui design orthogonal adalah 12 kartu. 12 + 1 K = = 6,5 2 Maka, diperoleh rata-rata ranking keseluruhan adalah 6,5. Langkah berikutnya adalah melakukan perhitungan untuk menduga ranking kombinasi atribut berdasarkan data dari responden. Maka, dilakukan perhitungan dengan menggunakan data responden pertama, dimana urutan rankingnya dapat dilihat pada tabel 4.6.

79 Tabel 4.6 Ranking Kartu Konsumen Untuk Responden Pertama No. Desain Fitur Tipe Rank 1 Simple Dapat menjadi sendal Casual 5 2 Dapat menjadi sendal Athletic 4 3 Anti air Work 10 4 Anti air Casual 6 5 Cheerful Dapat menjadi sendal Casual 7 6 Dapat menjadi sendal Athletic 3 7 Anti air Work 12 8 Anti air Casual 11 9 Limited Dapat menjadi sendal Casual 2 10 Dapat menjadi sendal Athletic 1 11 Anti air Athletic 9 12 Anti air Work 8 2. Nilai rata-rata ranking setiap taraf atribut Nilai rata-rata ranking setiap taraf atribut didapatkan dari penjumlahan semua taraf atribut yang kemudian dibagi dengan banyaknya taraf atribut itu sendiri. Sebagai contoh adalah nilai ranking taraf atribut desain simple diperoleh dari kombinasi taraf atribut no.1-4 dengan nilai ranking masing-masing 5, 4, 10, 6. Contoh rata-rata ranking desain simple : 5 + 4 + 10 + 6 Rata rata = = 6,25 4 3. Nilai deviasi Nilai deviasi dapat dihitung dari selisih antara nilai rata-rata ranking dengan nilai rata-rata ranking keseluruhan (K). Contoh nilai deviasi desain simple : Deviasi = 6,25 6,5 = -0,25 4. Nilai kegunaan ( Utilitas )

80 Nilai Kegunaan adalah penelitian preferensi subjektif oleh individu yang mewakili nilai keseluruhan dari suatu objek tertentu, dengan mengalikan nilai deviasi dengan -1 untuk menunjukkan bahwa utilitas terbesar merupakan taraf atribut yang disukai dari masing-masing atribut. Tabel 4.7 Utilitas Setiap Taraf Atribut Untuk Responden Pertama No. Atribut Taraf Rata-rata Deviasi Utilitas Atribut Ranking 1 Desain Simple 6,25-0,25 0,25 Cheerful 8,25 1,75-1,75 Limited 5-1,5 1,5 2 Fitur Dapat 3,67-2,83 2,83 menjadi sendal Anti air 9,33 2,83-2,83 3 Tipe Casual 6,2-0,3 0,3 Athletic 4,25-2,25 2,25 Work 10 3,5-3,5 Berdasarkan tabel 4.7, maka kita dapat mengetahui preferensi taraf untuk setiap atribut yang dipilih adalah taraf dengan nilai utilitas terbesar diantara taraf-taraf lainnya didalam atribut tersebut. Contohnya pada atribut desain, taraf atribut yang dipilih adalah limited dengan nilai utilitas 1,5 dimana merupakan yang paling besar diantara taraf atribut simple dan cheerful dengan nilai utilitas masing-masing 0,25 dan -1,75. Untuk atribut fitur, yang dipilih adalah taraf dapat menjadi sendal. Sedangkan tipe yang dipilih adalah athletic.

81 b. Perhitungan Tingkat Kepentingan Atribut 1. Jumlah Deviasi Kuadrat Nilai ini diperoleh dengan cara menjumlahkan semua nilai kuadrat dari nilai deviasi setiap taraf atribut pada tabel 4.7. JDK = 2 2 2 2 ( 0,25) + ( 1,75) + ( 1,5 ) +... + ( 3,5) = 38, 8 2. Nilai Baku Nilai baku adalah rasio antara jumlah taraf atribut dengan jumlah deviasi kuadrat (JDK). Jumlah taraf atribut adalah 8, maka nilai bakunya adalah NB = 8 = 0,21 38,8 3. Koefisien Taraf Atribut Nilai ini diperoleh dengan cara mengakarkan kuadrat nilai deviasi yang telah dikalikan dengan nilai baku. Sebagai contoh, untuk desain simple : KoefisienT arafatribut 2 = ( 0,25) x0,21 = 0,115 Tanda koefisien di atas adalah positif atau plus, dari kebalikan tanda deviasi yang menunjukkan semakin rendah rankingnya maka preferensi responden semakin tinggi. 4. Range Atribut Nilai Range setiap atribut diperoleh dengan mengurangkan nilai koefisien taraf atribut terbesar dari atribut ke-i dengan nilai koefisien taraf atribut terkecil untuk faktor ke-i. Contoh, range atribut desain = 0,69 (-0,8) = 1,49

82 5. Total Range Atribut Nilai ini didapatkan dengan cara menjumlahkan range semua atribut yang ada. Total range = range desain + range fitur + range tipe = 1,49 + 2,594 + 2,63 = 6,714 6. Tingkat Kepentingan Atribut Tingkat kepentingan atribut merupakan gambaran peran suatu atribut yang mempengaruhi responden dalam memilih suatu produk. Nilai ini diperoleh dengan membagi range atribut dengan total range atribut. Sebagai contoh, tingkat kepentingan atribut tipe adalah TingkatKep entinganatributdesain 1,49 = x100% = 22,2% 6,714 Hasil perhitungan lengkap dari dari seluruh tahapan dapat dilihat pada tabel 4.8. Dari tabel 4.8 dapat diketahui preferensi konsumen dalam pemilihan atribut sepatu berdasarkan urutan tingkat kepentingan atribut dari yang terbesar hingga yang terkecil adalah tipe dengan tingkat kepentingan atribut 39,2%, menyusul atribut fitur dengan tingkat kepentingan 38,6%, dan yang terakhir adalah atribut desain dengan tingkat kepentingan atribut sebesar 2,2%.

83 Tabel 4.8 Perhitungan Tingkat Kepentingan Atribut Untuk Responden Pertama No. Atribut Taraf Atribut Ratarata Ranking Deviasi Deviasi Kuadrat Koefisien Range Tingkat Kepentingan (%) 1 Desain Simple 6,25-0,25 0,0625 0,115 1,49 22,2 Cheerful 8,25 1,75 3,0625-0,8 Limited 5-1,5 2,25 0,69 2 Fitur Dapat menjadi sendal 3,67-2,83 8,0089 1,297 2,594 38,6 Anti air 9,33 2,83 9,0089-1,297 3 Tipe Casual 6,2-0,3 0,09 0,137 2,63 39,2 Athletic 4,25-2,25 5,0625 1,03 Work 10 3,5 12,25-1,6 Total 31,787 6,714 100,00 Preferensi pemilihan sepatu yang dinilai responden pertama sebagai kombinasi terbaik dapat dilihat pada tabel 4.9. Tabel 4.9 Preferensi Atribut dan Taraf Atribut Untuk Responden Pertama No. Atribut Taraf Atribut 1 Desain Limited 2 Fitur Dapat menjadi sendal 3 Tipe Athletic 4.3.4 Nilai Kegunaan Taraf Atribut dan Tingkat Kepentingan Atribut Agregat Untuk memperoleh nilai kegunaan taraf atribut dan tingkat kepentingan atribut agregat dapat digunakan salah salah satu dari alternatif berikut ini.

84 1. Menggunakan software SPSS dengan program syntax Sebagai data untuk dimasukan kedalam program syntax, harus mengurutkan kembali preferensi pemilihan sepatu dari semua responden. Langkah pertama adalah dengan menghitung rata-rata ranking untuk tiap kombinasi, kemudian mengurutkan kembali masing-masing profil untuk seluruh responden. Setelah memperoleh ranking agregat yang baru untuk masing-masing kombinasi, maka dapat dijalankan proses analisis konjoin dengan syntax conjoint analysis, kemudian akan didapatkan hasil nilai kegunaan taraf atribut dan tingkat kepentingan atribut agregat. 2. Menggunakan prosedur analisis konjoin A. Perhitungan Nilai Kegunaan Taraf Atribut Sebelum melakukan perhitungan nilai kegunaan taraf atribut harus diketahui terlebih dahulu urutan ranking dari masing-masing profil dari keseluruhan responden. Tabel 4.10 Ranking Kartu Profil Untuk Seluruh Responden No. Desain Fitur Tipe Rank 1 Simple Dapat menjadi sendal Casual 3 2 Dapat menjadi sendal Athletic 5 3 Anti air Work 11 4 Anti air Casual 7 5 Cheerful Dapat menjadi sendal Casual 4 6 Dapat menjadi sendal Athletic 6 7 Anti air Work 12 8 Anti air Casual 10 9 Limited Dapat menjadi sendal Casual 1 10 Dapat menjadi sendal Athletic 2 11 Anti air Athletic 8 12 Anti air Work 9

85 Setelah mengetahui ranking untuk masing-masing profil, maka perhitungan dilakukan kembali seperti pada tahap nilai kegunaan taraf atribut dan tingkat kepentingan atribut disagregat, mulai dari menghitung rata-rata ranking keseluruhan, hingga menghitung nilai kegunaan. Hasilnya dapat dilihat pada tabel 4.11. No. Tabel 4.11 Perhitungan Tingkat Kepentingan Atribut Untuk Seluruh Responden Atribu t 1 Desai n Taraf Atribut 2 Fitur Dapat menjadi sendal Ratarata Rankin g Devias i Devias i Kuadra t Koefisie n Rang e Tingkat Kepentinga n (%) Simple 6,5 0 0 0 1,284 20,46 Cheerfu 8 1,5 2,25-0,642 l Limited 5-1,5 2,25 0,642 3,5-3 9 1,283 2,566 40,88 Anti air 9,5 3 9-1,283 3 Tipe Casual 5-1,5 2,25 0,642 2,426 38,66 Athletic 5,25-1,25 1,5625 0,535 Work 10,67 4,17 17,389-1,784 Total 43,7 6,276 100,00 B. Nilai Taraf Atribut Untuk mengetahui preferensi taraf-taraf atribut dalam pemilihan sepatu, dapat dilakukan dengan cara melakukan perhitungan nilai taraf atribut yang merupakan nilai kegunaan taraf atribut yang telah dikonversikan pada skala yang sama sehingga semua atribut dapat dibandingkan. Berikut ini adalah langkah-langkahnya : 1. Nilai utilitas terendah dari setiap atribut dijadikan nol

86 2. Nilai utilitas setiap taraf atribut ke-i dijumlahkan dengan nilai pembuat nol atribut ke-i tersebut. Hasilnya dapat dilihat pada tabel 4.12. Tabel 4.12 Utilitas Penyesuaian No. Atribut Taraf Atribut Utilitas Utilitas Penyesuaian 1 Desain Simple 0 1,5 Cheerful -1,5 0 Limited 1,5 3 2 Fitur Dapat menjadi 3 6 sendal Anti air -3 0 3 Tipe Casual 1,5 5,67 Athletic 1,25 5,42 Work -4,17 0 3. Mencari nilai konstanta yang diperoleh dari nilai kegunaan taraf atribut penyesuaian tertinggi diubah menjadi 100 pada kolom nilai pada tabel 4.13. Nilai kegunaan taraf atribut penyesuaian tertinggi adalah fitur dapat menjadi sendal sebesar 6. Sehingga nilai konstantanya adalah sebagai berikut 100 NilaiKons tan ta = = 16,67 6 4. Menghitung nilai taraf atribut dengan cara mengalikan nilai utilitas penyesuaian setiap taraf atribut dengan nilai konstanta. Contohnya pada desain simple, nilai taraf atributnya adalah sebagai berikut Nilai Taraf Atribut Desain Simple = 1,5 x 16,67 = 25,01 Hasil perhitungan lengkap dapat dilihat pada tabel 4.13.

87 Tabel 4.13 Nilai Taraf Atribut Agregat No. Atribut Taraf Atribut Utilitas Utilitas Penyesuaian Nilai Taraf Atribut 1 Desain Simple 0 1,5 25,01 Cheerful -1,5 0 0 Limited 1,5 3 50,01 2 Fitur Dapat 3 6 100 menjadi sendal Anti air -3 0 0 3 Tipe Casual 1,5 5,67 94,52 Athletic 1,25 5,42 90,35 Work -4,17 0 0 4.3.5 Kombinasi Atribut Optimal Dari nilai taraf atribut yang telah ada, dapat diperoleh nilai preferensi untuk profil simulasi nyata. Produk yang diuji dapat dilihat pada tabel 4.14. Tabel 4.14 Profil Produk Yang Diuji Produk Desain Fitur Tipe 1 Limited Dapat menjadi Casual sendal 2 Simple Dapat menjadi Athletic sendal 3 Cheerful Anti air Work Skor kombinasi atau nilai skor agregat produk dihitung dengan menggunakan rumus P = K + U + U +... + U i 1 2 j Dimana P i = Nilai skor kombinasi ke-i

88 K = Nilai Rata-rata Ranking Keseluruhan / Konstanta U j = Nilai kegunaan taraf atribut ke-j Pada perhitungan nilai skor agregat produk, semua nilai kegunaan U j setiap taraf atribut dapat dilihat dari kolom utilitas pada tabel 4.13 yang disesuaikan dengan tabel 4.14. Hasil perhitungannya dapat dilihat pada tabel 4.15. Tabel 4.15 Perhitungan Nilai Skor Agregat Produk Produk Desain Fitur Tipe Konstanta Skor 1 1,5 3 1,5 6,5 12,5 2 0 3 1,25 6,5 10,75 3-1,5-3 -4,17 6,5-2,17 Setelah mendapatkan skor agregat untuk masing-masing produk, perhitungan kemudian dilanjutkan dengan menghitung probabilitas untuk memilih profil produk yang paling disukai dengan metode BTL ( Bradley-Terry-Luce ). Nilai probabilitas BTL diperoleh dengan cara membagi skor agregat tiap produk dengan total skor agregat seluruh produk, dikalikan dengan 100 %. Sebagai contoh, nilai probabilitas BTL untuk produk 1 adalah 12,5 BTL Produk 1 = x 100% = 59,3% 21,08 Untuk selanjutnya dapat dilihat pada tabel 4.16. Tabel 4.16 Probabilitas Pemilihan Profil Produk Produk Skor BTL 1 12,5 59,3 % 2 10,75 50,9 % 3-2,17-10,2 %

89 Total 21,08 100 % Dari tabel 4.16 dapat diketahui bahwa kombinasi yang paling disukai adalah kombinasi pada produk 1 dengan nilai BTL sebesar 59,3 %. Dapat diartikan bahwa konsumen menyukai kombinasi sepatu dengan desain limited, fitur dapat menjadi sendal, serta tipe casual. 4.3.6 Penghitungan Nilai Asosiasi Dalam menggunakan conjoint analysis, terdapat perhitungan untuk mengetahui tingkat kebaikan dalam menentukan tingkat preferensi kombinasi atribut yang dilakukan melalui perangkingan kartu, yakni dengan melakukan perhitungan korelasi Kendall. Koefisien korelasi Kendall dapat digunakan untuk mengukur tingkat kecocokan antara nilai dugaan dengan nilai sebenarnya. Besarnya nilai korelasi Kendall yang diperoleh dari analisis konjoin adalah 0,727 dengan tingkat signifikansi 0,01 yang berarti hubungannya searah, korelasi kuat, dan hubungannya signifikan. 4.4 Pengolahan Data TRIZ Setelah mengetahui kombinasi optimal dari proses analisis konjoin, tahapan perancangan dan pengembangan produk dilanjutkan pada tahap berikutnya, yaitu TRIZ. TRIZ merupakan metode yang dapat digunakan untuk mencari konsep solusi dalam proses perancangan produk. Solusi yang akan didapatkan hanya secara garis

90 besar saja, jadi diperlukan kekreatifitasan pengembang untuk mendapatkan konsep solusi yang terperinci. Proses pengembangan produk harus mempertimbangkan fungsi fungsi dari produk tersebut. Sebagai langkah lanjut untuk dapat mencegah masalah yang timbul pada produk tersebut, maka dengan metode TRIZ dapat dicari alternatif solusi yang sesuai. 4.4.1 Innovation Situation Questionnaire ( ISQ ) ISQ merupakan pemecahan masalah dengan cara mengamati obyek dan melakukan pemisahan obyek dari fungsi utamanya menjadi sub-sub fungsi bagian obyek. 1. Informasi Mengenai Produk A. Nama Produk : Sepatu B. Fungsi : Bepergian C. Struktur Sistem : - Terdiri dari bagian sol, sol dalam, sol tengah, sol luar, hak, dan bagian atas - Terbagi dalam tipe casual, athletic, dan work D. Lingkungan Sistem : - Digunakan untuk bepergian - Digunakan untuk melindungi kaki dari kotoran dan bahaya lain saat bepergian 2. Sumber Daya

91 Bahan yang digunakan biasanya terbuat dari kulit, kanvas, dan karet. Dari hasil identifikasi kebutuhan konsumen ditemukan bahwa sepatu yang ada di pasaran sekarang ini belum mampu menginterpretasikan kebutuhan konsumen. 3. Informasi Mengenai Situasi Masalah A. Pada kondisi saat ini, hampir keseluruhan kegiatan seperti bersekolah, kuliah, bekerja, bahkan untuk keperluan refreshing, mengharuskan penggunaan sepatu. Namun pada saat kegiatan tersebut telah selesai, banyak konsumen yang memilih untuk menggantinya dengan sendal agar dapat lebih santai dan leluasa. Namun untuk membawa sepatu dan sendal secara bersamaan dinilai terlalu merepotkan, terutama bagi mereka yang tidak memiliki tempat yang besar dan tidak bepergian dengan kendaraan pribadi. B. Anak-anak muda dikenal sangat enerjik dan selalu ingin tampil beda. Mereka ingin memakai produk yang membuat mereka tampak bagus, menarik, mengikuti gaya zaman sekarang, namun produk tersebut tidak pasaran atau tidak sama dengan milik orang lain 4.4.2 Problem Formulation Problem Formulation ( PF ) dimulai dengan menentukan Primary Useful Function ( PUF ), yaitu fungsi utama dari produk, dan Primary Harmful Function ( PHF ) yang merupakan bahaya utama yang timbul dari suatu produk, kemudian

92 dijabarkan fungsi ( UF ) dan bahaya lain ( HF ) yang berkaitan dengan produk tersebut. 1. Hubungan antara PUF dengan 3 UF Gambar 4.2 Hubungan Antara PUF dengan 3 UF 2. Hubungan antara PHF dengan 3 HF

93 Gambar 4.3 Hubungan Antara PHF dengan 3 HF 3. Hubungan antara PUF dan PHF

94 Gambar 4.4 Hubungan Antara PUF dengan PHF 4.4.3 Problem Statement

95 Berikut ini akan dijelaskan mengenai hubungan antara UF dengan HF pada produk sepatu yang akan dirancang dan dikembangkan. Membawa sepatu dan sendal Diperlukan untuk Bepergian Membawa sepatu dan sendal Menyebabkan Tempat terlalu besar Tempat terlalu besar Menyebabkan Tidak menarik Fashion Diperlukan untuk Bepergian Fashion Menyebabkan Desain pasaran Desain pasaran Menyebabkan Tidak menarik Melindungi kaki dari kotoran Diperlukan untuk Bepergian Melindungi kaki dari kotoran Menyebabkan Tipe rumit Tipe rumit menyebabkan Menyebabkan Tidak menarik 4.4.4 Elimination Function Dalam produk sepatu, terdapat beberapa fungsi yang dipakai untuk mengatasi harmful function, yaitu. Fitur dapat menjadi sendal Mengatasi Tempat terlalu besar Tipe casual Mengatasi Tipe rumit Desain limited Mengatasi Desain pasaran Namun dalam proses elimination function, masih terdapat HF yang ditimbulkan oleh UF, oleh karena itu dilakukan lagi eliminasi terhadap HF. Desain dapat dibuat konsumen Mengatasi Biaya produksi mahal

96 Dari hasil hubungan-hubungan sebelumnya, dapat ditambahkan pula mekanisme yang akan diambil beserta material yang akan dipakai. Hal ini dilakukan untuk mempermudah proses arsitektur produk dan design for manufacturing. Seluruh fungsi yang berguna dan fungsi yang berbahaya telah diutarakan, pada gambar 4.5 dapat dilihat interaksi antara fungsi yang berguna dan fungsi yang berbahaya. 4.4.5 Analisis Kontradiksi Gambar 4.5 Diagram Alir Hubungan Seluruh Fungsi

97 Metode ini menggunakan tabel kontradiksi untuk menentukan prinsip-prinsip yang akan dipakai dalam perancangan dan pengembangan produk melalui 39 parameter dan 40 prinsip dari TRIZ. Dilihat dari permasalahan yang ada, maka dapat diambil parameter yang dapat mewakili permasalahan, serta prinsip untuk mengatasi permasalahan, untuk dijadikan tabel kontradiksi Secara jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.17. Tabel 4.17 Tabel Kontradiksi Worsening Lenght of Area of Volume of Feature moving object moving object moving object Improving Feature Shape 29, 34, 5, 4 5, 34, 4, 10 14, 4, 15, 22 Stability of the object s 13, 15, 1, 28 2, 11, 13 28, 10, 19, 39 composition Reliability 15, 9, 14, 4 17, 10, 14, 16 3, 10, 14, 24 Ease of operation 1, 17, 13, 12 1, 17, 13, 16 1, 16, 35, 15 Adaptability or Versatility 35, 1, 29, 2 35, 30, 29, 7 15, 35, 29 Dari hasil tabel kontradiksi terpilih beberapa prinsip yang direkomendasikan untuk mengatasi permasalahan yang ada. Prinsip-prinsip yang direkomendasikan

98 adalah prinsip 1, 4, 10, 13, 14, 15, dan 35. Untuk mengetahui secara jelas mengenai prinsip-prinsip yang telah terpilih, dapat dilihat pada tabel 4.18. Tabel 4.18 Rekomendasi Prinsip No. No. Prinsip Nama Prinsip 1 1 Segmentation 2 4 Asymmetry 3 10 Preliminary Action 4 13 The Other Way Around 5 14 Spheroidality 6 15 Dynamics 7 35 Parameter Changes Berikut ini adalah keterangan dari masing-masing prinsip : 1. Segmentation : Membagi obyek menjadi bagian yang mampu berdiri sendiri 2. Asymmetry : Mengganti bentuk simetris dengan bentuk asimetris dari obyek 3. Preliminary Action : Susun obyek sehingga dapat digunakan tanpa ada waktu yang terbuang untuk menunggu tindakan 4. The Other Way Around : Lakukan tindakan sebaliknya / bertentangan untuk menyelesaikan masalah 5. Sphereoidality : Ganti bagian yang datar dengan bagian yang lengkung

99 6. Dynamics : Membagi obyek menjadi elemen-elemen yang mampu untuk mengubah posisi 7. Parameter Changes : Ganti jumlah keseluruhan dari obyek, besar massa, atau tingkat fleksibilitas. 4.5 Arsitektur Produk Dari hasil analisis konjoin didapatkan kombinasi optimal dari sepatu, yaitu desain limited, fitur dapat menjadi sendal, serta tipe casual. Hasil dari rekomendasi prinsip pada tahapan TRIZ yang telah didapatkan akan diimplementasikan kedalam arsitektur produk. Berikut ini adalah beberapa hasil dari implementasi prinsip tersebut. 1. Segmentation : Sepatu dapat dirubah menjadi sepatu sendal, dan sendal. Komponennya terdiri dari 3 komponen utama, dimana setiap bagian tidak saling berketergantungan. 2. Asymmetry : Bentuk dari sepatu dapat berubah sesuai dengan keadaan pemakai. 3. Preliminary Action : Bagian-bagian sepatu dapat dipasang dan dilepas dengan mudah dengan bantuan connector. 4. The Other Way Around : Sepatu dapat dirubah menjadi sepatu sendal dan sendal. Hal ini untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan tempat menyimpan yang terlalu besar. 5. Sphereoidality : Bagian-bagian sepatu menghindari bentuk datar atau kotak.

100 6. Dynamics : Komponen sepatu dibagi menjadi 3 komponen, sehingga pemakai dapat menyesuaikan keadaan dengan mudah. 7. Parameter Changes : Sepatu dibuat dengan sangat fleksibel, mudah untuk dipakai dan disimpan. Berikut ini adalah hasil terjemahan dari kombinasi optimal analisis konjoin beserta implementasi rekomendasi prinsip TRIZ yang telah terpilih, yang kemudian dijadikan suatu rancangan desain.

Gambar 4.6 Bagian Terpisah Sepatu 101

102 Sepatu terdiri dari tiga komponen utama, yaitu bagian sepatu, bagian sepatu sendal, dan bagian sendal, serta satu komponen pendukung, yaitu bagian koneksi. Bagian koneksi terdapat pada bagian sepatu dan bagian sepatu sendal. Bagian ini berfungsi sebagai pengait antara bagian sepatu dan bagian sepatu sendal, dengan bagian sendal. Cara memakainya adalah bagian koneksi dikaitkan kedalam lubang yang telah tersedia pada bagian sendal. Bagian sepatu berfungsi seperti casing, terbuat dari bahan yang elastis. Pada saat bagian sepatu sendal telah tersambung dengan bagian sendal, sarungkan bagian sepatu mulai dari depan, dan tarik hingga ke belakang, sehingga akan terbentuk sepatu seperti pada gambar dibawah ini. Gambar 4.7 Penggabungan Bagian Sepatu

103 Sepatu dapat didesain sesuai dengan keinginan konsumen. Pendesainan dilakukan dengan menggunakan cat acrylic dan tinner yang telah tersedia dalam paket penjualan. Apabila terjadi kesalahan pada proses pendesainan, cat acrylic dapat dihapus dengan menggunakan tinner. Pada keseluruhan bagian-bagian sepatu, dapat dilakukan proses pendesainan. Dengan demikian, konsumen dapat dengan bebas mendesain sepatunya dan membuatnya menjadi sepatu yang berbeda. Gambar 4.8 Contoh Sepatu Yang Telah Didesain

104 Hanya dengan melepas bagian sepatu dan bagian koneksi, sepatu dapat berubah menjadi sepatu sendal. Contohnya dapat dilihat pada gambar 4.9. Sedangkan untuk menjadikan sepatu menjadi sendal, yang harus dilakukan hanya melepaskan bagian sepatu sendal dan bagian koneksi. Contohnya dapat dilihat pada gambar 4.10. Gambar 4.9 Contoh Sepatu Menjadi Sepatu Sendal

105 Gambar 4.10 Contoh Sepatu Menjadi Sendal Tempat untuk menyimpan sepatu merupakan salah satu tools yang penting. Pada produk ini, kotak sepatu didesain secara khusus untuk menyesuaikan kelebihan dari produk. Kotak sepatu terlihat lebih ramping, karena dalam penyimpanan, bagianbagian My Shoes dapat dilepaskan, sehingga dapat menghemat tempat. My Shoes ditujukan untuk anak muda, sehingga kotak sepatu didesain secara menarik agar tidak menjadi tempat menyimpan yang sekedarnya, namun dapat menjadi salah satu bagian dari produk itu sendiri serta menjadi salah satu alat untuk promosi.

Gambar 4.11 Kotak Sepatu 106

107 4.6 Design For Manufacturing ( DFM ) Dari metode TRIZ didapatkan beberapa material utama untuk melakukan produksi, yaitu bahan karet, bahan plastik, cat acrylic, dan tinner. Dengan memperoleh informasi tersebut, ditambah dengan hasil dari arsitektur produk, maka dapat dilakukan perhitungan perkiraan biaya produksi. Untuk memperkirakan biaya produksi, digunakan asumsi-asumsi dibawah ini. 1. Perkiraan penjualan My Shoes per tahun adalah 12.000 unit, sehingga dalam satu bulan diperkirakan produksi sebanyak 1.000 unit. 2. Asumsi jumlah hari kerja adalah 20 hari dalam sebulan, dengan jam kerja 8 jam dalam sehari. Dengan asumsi ini diperkirakan produksi dalam sehari mencapai 50 unit. 3. Asumsi biaya material per unit dapat diperhitungkan seperti pada tabel 4.19.

108 Tabel 4.19 Perkiraan Biaya Material Per Unit No. Material Unit Jumlah Harga ( Rp ) 1 Karet m 1 100.000 2 Plastik Set 1 2.000 3 Cat Acrylic Buah 12 24.000 4 Tinner Liter 0,4 1.000 5 Packaging Set 1 5.000 Total 132.000 Sehingga biaya material dalam satu bulan adalah Rp. 132.000 x 1.000 unit = Rp. 132.000.000 Dan untuk satu tahun adalah Rp. 132.000 x 12.000 unit = Rp. 1.584.000.000

109 4. Jumlah sumber daya manusia yang digunakan adalah Tabel 4.20 Sumber Daya Manusia Divisi Sub Divisi Jabatan Jumlah Direksi - Director 1 Marketing - Manager 1 Sales Supervisor 1 Staff 3 Promotion Supervisor 1 Staff 3 Customer Relationship Management Supervisor 1 Staff 3 Development - Manager 1 Product Design & Development Supervisor 1 Staff 2 Bussines Development Supervisor 1 Staff 2 HRD - Manager 1 Recruitment Supervisor 1 Staff 1 Internal Activity Supervisor 1 Staff 2

110 Tabel 4.20 Sumber Daya Manusia ( Lanjutan ) Divisi Sub Divisi Jabatan Jumlah Production - Manager 1 Cutting Supervisor 1 Operator 4 Sewing Supervisor 1 Operator 4 Assembling Supervisor 1 Operator 6 PPIC Supervisor 1 Staff 2 General Affair - Manager 1 Cleaning Service Helper 10 Security Helper 4 Total 63 Untuk perkiraan biaya tenaga kerja secara lebih lengkap dapat dilihat pada tabel 4.21.

111 Tabel 4.21 Perkiraan Biaya Tenaga Kerja No. Jabatan Jumlah Biaya ( Rp ) Total Biaya ( Rp ) 1 Direktur 1 5.000.000 5.000.000 2 Manajer 5 3.000.000 15.000.000 3 Supervisor 11 2.000.000 22.000.000 4 Staff 18 1.500.000 27.000.000 5 Operator 14 1.000.000 14.000.000 6 Helper 14 750.000 10.500.000 Total 93.500.000 Biaya tenaga kerja dalam 1 tahun adalah Rp. 93.500.000 x 12 = Rp. 1.122.000.000 Biaya tenaga kerja per unit adalah Rp. 93.500.000 : 1000 unit = 93.500 5. Biaya oherhead dibebankan sebesar 10 % dari biaya material dan 80 % dari biaya tenaga kerja, sehingga Biaya overhead = (10% x Rp. 132.000.000) + (80% x Rp. 93.500.000) = Rp. 13.200.000 + Rp. 74.800.000 = Rp. 88.000.000 Dari asumsi-asumsi diatas didapatkan biaya produksi per unit adalah BP = TotalBiayaMaterial + TotalBiayaTenagaKerja + Biayaverhead 1000Unit

112 = Rp. 132.000.000 + Rp.93.500.000 + Rp.88.000.000 1000Unit = Rp. 313.500 / Unit 4.7 Analisis Ekonomi Tahapan ini dilakukan untuk memperkirakan gambaran prospek dari penjualan produk ini beberapa periode kedepan. Hasil dari analisis ini akan menentukan keputusan untuk terus menjalankan produksi atau tidak. Perhitungan dilakukan menggunakan Net Present Value ( NPV ). Berikut ini adalah data-data yang dibutuhkan dalam melakukan penghitungan dengan NPV. 1. Perhitungan dilakukan dengan periode 2 tahun, dimana dalam setahun dibagi menjadi 4 kuartal ( 3 bulanan ). Tujuannya adalah agar bentuk tabel menjadi lebih ringkas dan sederhana. 2. Biaya pengembangan diasumsikan sebesar Rp. 2.000.000 selama 6 bulan yang digunakan untuk keperluan riset, perancangan, pengembangan, dan pembuatan prototype. 3. Pembelian mesin-mesin diasumsikan sebesar Rp. 400.000.000 yang digunakan untuk pembelian mesin cutting dan mesin sewing. Sedangkan untuk biaya pembelian lahan dan pendirian bangunan sebesar Rp. 500.000.000.

113 4. Biaya pemasaran dan pendukung per kuartal diasumsikan sebesar Rp. 30.000.000 yang digunakan untuk keperluan iklan dalam berbagai media masa, kerjasama, sponsorship, pengelolaan website, serta distribusi. 5. Volume produksi per kuartal adalah 3000 unit dengan harga per unit sebesar Rp. 313.500. Biaya produksi per kuartal adalah Rp. 940.500.000 6. Keuntungan penjualan per unit adalah 50 %, sehingga didapatkan keuntungan sebesar Rp. 156.750. Harga penjualan adalah Rp. 470.250. Pendapatan penjualan per kuartal adalah Rp. 1.410.750.000 7. Asumsi bunga kredit pinjaman untuk modal usaha adalah 10% per tahun. Dengan data-data tersebut dapat dilakukan perhitungan menggunakan metode NPV.

114 Nilai Dalam Ribuan Biaya Pengemba ngan Tabel 4.22 Net Present Value Tahun 1 Tahun 2 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4-1.000-1.000 Fasilitas - 900.00 0 Biaya Pemasaran dan P enunjang Biaya P roduksi Volume P roduksi Biaya Per Unit Pendapata n P enjualan Volume P enjualan Harga Per Unit - 30.000-30.000-30.000-30.000-30.000-30.000-30.000-940.500-940.500-940.500-940.500-940.500-940.500 3000 3000 3000 3000 3000 3000-313,5-313,5-313,5-313,5-313,5-313,5 1.410.750 1.410.750 1.410.750 1.410.750 1.410.750 1.410.750 3000 3000 3000 3000 3000 3000 470,25 470,25 470,25 470,25 470,25 470,25 Aliran Kas Per Periode Nilai saat ini tahun 1, r + 10% Nilai Bersih Untuk Proyek Saat Ini -1.000-931.00 0-1.000-908.29 1.456.514, 315 2,7 440.250 440.250 440.250 440.250 440.250 440.250 419.036,2 879 408.815,8 907 398.844,7 714 389.116,8 501 379.626,1 952 370.367,0 197 Dari tabel 4.22 dapat dilihat bahwa nilai komulatif dari NPV pada kuartal ketiga telah bernilai positif, artinya bahwa break event point ( BEP ) berada pada kuartal tersebut. Modal akan kembali dalam waktu 7-9 bulan. Itu bukan merupakan

115 waktu yang lama, mengingat produk sepatu memiliki pangsa pasar yang besar. Siklus produk akan bertahan seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Nilai bersih saat ini adalah Rp. 1.456.514.315,-. Jumlah tersebut adalah jumlah yang cukup besar. Karena NPV bernilai positif, maka proyek layak untuk dijalankan.