Hana Liando Rina Kundre Yolanda Bataha

dokumen-dokumen yang mirip
Jurnal Keperawatan, Volume XI, No. 2, Oktober 2015 ISSN

Selfi Elisabeth Kansil Rina Kundre Yolanda Bataha

HUBUNGAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI SUNTIK DEPOMEDROKSI PROGESTERON ASETAT (DMPA) DENGAN TEKANAN DARAH PADA IBU DI PUSKESMAS RANOTANA WERU

HUBUNGAN LAMA PEMAKAIAN KONTRASEPSI SUNTIK DENGAN PENINGKATAN BERAT BADAN PADA AKSEPTOR SUNTIK DEPO MEDROKSI PROGESTERON ASETAT

HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN KONTRASEPSI SUNTIK DMPA DENGAN KENAIKAN BERAT BADAN DI PUSKESMAS KRATON YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI

e-journal Keperawatan (ekp) volume 3 Nomor 2 Oktober 2015

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang World Health Statistic 2013 menyatakan bahwa WUS Indonesia

HUBUNGAN PENGGUNAAN KB SUNTIK 3 BULAN (DMPA) DENGAN KENAIKAN BERAT BADAN DI PUSKESMAS CENDRAWASIH KOTA MAKASSAR

Volume 2 / Nomor 2 / November 2015 ISSN :

PERBEDAAN PENGARUH KB SUNTIK 1 BULAN DAN KB SUNTIK 3 BULAN TERHADAP PENINGKATAN BERAT BADAN DI BPS BIDAN S KECAMATAN TAWANGSARI KOTA TASIKMALAYA

ANALISIS FAKTOR PENGGUNAAN KONTRASEPSI SUNTIK DI PUSKESMAS CIMANDALA KABUPATEN BOGOR

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF AKSEPTOR AKTIF HORMONAL SUNTIK 1 BULAN PADA Ny E DENGAN PENINGKATAN BB DI PUSKESMAS LAMONGAN TAHUN 2015

HUBUNGAN PENGGUNAAN KONTRASEPSI PIL KB KOMBINASI DENGAN HIPERTENSI PADA AKSEPTOR PIL KB DI PUSKESMAS ENEMAWIRA KABUPATEN SANGIHE

Hubungan Lama Penggunaan Kontrasepsi Suntik 3 Bulan Dengan Kenaikan Berat Badan 1

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEIKUTSERTAAN SUAMI PADA PROGRAM KB VASEKTOMI DI WILAYAH KECAMATAN BANJARMASIN TIMUR

HUBUNGAN PENGGUNAAN KONTRASEPSI SUNTIK DMPA DENGAN KEJADIAN PENINGKATAN BERAT BADAN DAN UPAYA PENANGANANNYA NASKAH PUBLIKASI

e-journal Keperawatan (e-kp) Volume 6 Nomor 1, Februari 2018

Pengguna Kontrasepsi Hormonal Suntikan dengan Kenaikan I. PENDAHULUAN. kontrasepsi yang populer di Indonesia. adalah kontrasepsi suntik.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan berbagai

METODE PENELITIAN. wawancara terstruktur dengan panduan kuisioner. Waktu penelitian : Bulan Desember 2013

SURVEY PENAMBAHAN BERAT BADAN PADA AKSEPTOR KB SUNTIK 3 BULAN DI PUSKESMAS MAYONG I KECAMATAN MAYONG KABUPATEN JEPARA

32 Jurnal Kesehatan Samodra Ilmu Vol. 08 No. 01 Januari 2017

Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan Volume 14, Juli 2017

Jl. Ki Ageng Selo no. 15 Pati ABSTRAK

STUDI KOMPARASI KENAIKAN BERAT BADAN PADA AKSEPTOR KB SUNTIK 1 BULAN DAN 3 BULAN DI KLINIK GRIYA HUSADA KARANGANYAR

GAMBARAN KENAIKAN BERAT BADAN AKSEPTOR KONTRASEPSI SUNTIK PROGESTIN Aibah 1, Tyasning Yuni Astuti Anggraini 1

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PARTISIPASI PRIA DALAM KELUARGA BERENCANA DI LINGKUNGAN IV KELURAHAN TELING ATAS KOTA MANADO

Jurnal Keperawatan, Volume XI, No. 1, April 2015 ISSN HUBUNGAN LAMA PENGGUNAAN KONTRASEPSI SUNTIK DMPA DENGAN SIKLUS HAID

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI SUNTIK DI PUSKESMAS PAAL X KOTA

Hubungan Lama Pemakaian Kontrasepsi Implant dengan Kenaikan Berat Badan

BAB I PENDAHULUAN. cara operasional dan dampaknya terhadap pencegahan kelahiran.tahap

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMILIHAN ALAT KONTRASEPSI HORMONAL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MANYARAN SEMARANG

HUBUNGAN LAMA PEMAKAIAN LAMA KONTRASEPSI SUNTIK 3 BULAN DENGAN PERUBAHAN BERAT BADAN DI PUSKESMAS RANOMUUT MANADO

INTISARI PENGARUH PEMAKAIAN KONTRASEPSI ORAL DAN SUNTIK TERHADAP PENINGKATAN TEKANAN DARAH WANITA DI PUSKESMAS TAPIN UTARA KABUPATEN TAPIN

INTISARI. Kata Kunci : Kontrasepsi Suntik, Produksi ASI, 1,2 Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin, 3 Puskesmas Perawatan Kelua Kabupaten Tabalong

STIKES NGUDI WALUYO. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan

HUBUNGAN LAMA PEMAKAIAN KB SUNTIK 1 BULAN DENGAN PERUBAHAN BERAT BADAN AKSEPTOR KB DI BPS NY. YULIANA KABUPETEN LAMONGAN.

KAJIAN RESIKO PENGGUNAAN KONTRASEPSI SUNTIK DAN PIL TERHADAP TEKANAN DARAH WANITA DI PUSKESMAS KABUPATEN NGAWI NASKAH PUBLIKASI

Keywords: hormonal contraceptive pills, hypertension, women in reproductive age.

PENGETAHUAN IBU TENTANG PERAWATAN TALI PUSAT BERHUBUNGAN DENGAN WAKTU LEPAS TALI PUSAT

HUBUNGAN PENAMBAHAN BERAT BADAN PADA AKSEPTOR KONTRASEPSI HORMONAL DI BPM ZUNIAWATI PALEMBANG

BAB I PENDAHULUAN. menjadi BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) dengan. variabel yang mempengaruhi fertilitas (Wiknjosastro, 2009).

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG KONTRASEPSI SUNTIK DENGAN PEMILIHAN KONTRASEPSI SUNTIK

BAB III METODE PENELITIAN

Rika herawati : Hubungan Berat Badan Ibu Dengan Pemakaian KB Hormonal Di Desa Pekan Tebih Wilayah Kerja Puskesmas Kepenuhan Hulu

ANALISIS PERBEDAAN BERAT BADAN ASEPTOR KB MENGGUNAKAN KONTRASEPSI SUNTIK TIGA BULAN

Kustriyanti 1),Priharyanti Wulandari 2)

BAB I PENDAHULUAN. dan merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang banyak

HUBUNGAN ANTARA LAMA PEMAKAIAN KB SUNTIK DMPA DENGAN KEJADIAN AMENORHEA

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI PADA PASANGAN USIA SUBUR (PUS) DI DESA KARANGJATI KABUPATEN SEMARANG

Kata Kunci: Akseptor KB suntik 1 bulan, Akseptor KB suntik 3 bulan, pemenuhan kebutuhan seksual.

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

Sartika Zefanya Watugigir Esther Hutagaol Rina Kundre

PENGARUH PENGGUNAAN KONTRASEPSI HORMONAL TERHADAP PERUBAHAN BERAT BADAN AKSEPTOR KB DI BPM CHOIRUL MALA HUSIN PALEMBANG TAHUN 2015

HUBUNGAN ANTARA LAMA PENGGUNAAN METODE KONTRASEPSI HORMONAL DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI

BAB 1 PENDAHULUAN. dan kehamilan. Alat kontrasepsi non hormonal artinya tidak mengandung

BAB I PENDAHULUAN. A. LATAR BELAKANG Menurut Word Health Organisation (WHO) Expert Commite

Correlation Between Mother s Knowledge and Education On Use Of Contraceptive In Yukum Jaya Village Central Lampung In 2013

FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM (AKDR) DI PUSKESMAS PEKAUMAN BANJARMASIN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

IDENTIFIKASI SIKAP IBU USIA SUBUR TENTANG ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM DI RT 04 RW 07 KELURAHAN BALEARJOSARI KECAMATAN BLIMBING KOTA MALANG

Mitha Destyowati ABSTRAK

Associated Factors With Contraceptive Type Selection In Bidan Praktek Swasta Midwife Norma Gunung Sugih Village

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI PADA WANITA USIA SUBUR (WUS)DI KELURAHAN CAMPANG RAYA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2014

Jurnal Keperawatan, Volume XII, No. 2, Oktober 2016 ISSN

AKSEPTOR KB SUNTIK DENGAN PERUBAHAN BERAT BADAN DI KELURAHAN KARAMAT WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARANG TENGAH KOTA SUKABUMI

HUBUNGAN ANTARA EFEK SAMPING KONTRASEPSI DMPA DENGAN KEJADIAN DROP OUT

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado **Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado.

HUBUNGAN ANTARA PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI SUNTIK DENGAN TEKANAN DARAH PADA AKSEPTOR KB SUNTIK DI PUSKESMAS DELANGGU KLATEN

ANALISIS PERBEDAAN BERAT BADAN SEBELUM DAN SELAMA MENGGUNAKAN KB SUNTIK 3 BULAN DI BPS NY

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

MIKIA KEJADIAN AMENORE SEKUNDER PADA AKSEPTOR SUNTIK DMPA. Artikel Penelitian. Nurya Viandika 1 Nurfitria Dara Latuconsina 2

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitik ( menggambarkan

KARAKTERISTIK, STATUS GIZI DAN PRAKTIK MENYUSUI DENGAN POLA MENSTRUASI AKSEPTOR KONTRASEPSI SUNTIK DI DESA DOMBO KECAMATAN SAYUNG DEMAK ABSTRAK

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI IUD PADA AKSEPTOR KB DI DESA PULO ARA KECAMATAN KOTA JUANG KABUPATEN BIREUEN

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN MOTIVASI PASANGAN USIA SUBUR (PUS) TERHADAP PEMAKAIAN KONTRASEPSI KB

Jurnal Kesehatan STIKes Prima Nusantara Bukittinggi, Vol.4 No 1 Januari

HUBUNGAN KONTRASEPSI SUNTIK DENGAN PENINGKATAN BERAT BADAN AKSEPTOR (Studi Di BPS Dwenti K.R. Desa Sumberejo Kabupaten Lamongan 2015)

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

HUBUNGAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI HORMONAL DAN STATUS GIZI DENGAN SIKLUS MENSTRUASI DI PUSKESMAS PEKAUMAN BANJARMASIN ABSTRAK

HUBUNGAN ANTARA PERAN KELUARGA DENGAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI PADA ANAK USIA SEKOLAH (11-12 TAHUN) DI SDK NIMASI KABUPATEN TIMOR TENGAH

HUBUNGAN LAMA PEMAKAIAN KB SUNTIK 3 BULAN DENGAN PERUBAHAN BERAT BADAN DI BPM DEWI ANGGRIANI PALEMBANG TAHUN 2017

rumus : n = (P 1 -P Ket : Z 1- - P 1 Kebiasaan makan..., Evi Heryanti, FKM UI, )²

Nuke Devi Indrawati. Tlp : ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. jumlah remaja dan kaum muda berkembang sangat cepat. Menurut World

Hubungan Antara Penggunaan Kontrasepsi Hormonal Suntik DMPA dengan Peningkatan Berat Badan di Puskesmas Lapai Kota Padang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

HUBUNGAN PENGGUNAAN KONTRASEPSI PIL DENGAN BERAT BADAN PADA AKSEPTOR KB DI PUSKESMAS TELUK TIRAM BANJARMASIN

FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI INTRA UTERINE DEVICE

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. dimulai sejak tahun 1968 dengan mendirikan LKBN (Lembaga Keluarga Berencana

HUBUNGAN FAKTOR MAKANAN DENGAN KADAR GULA DARAH PRA LANSIA DI DESA PESUDUKUH KECAMATAN BAGOR KABUPATEN NGANJUK

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN, STATUS PENDIDIKAN, DAN STATUS PEKERJAAN IBU DENGAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE

Transkripsi:

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENINGKATAN BERAT BADAN IBU PENGGUNA ALAT KONTRASEPSI SUNTIK DMPA (DEPO MEDROKSI PROGESTERON ESETAT) DI PUSKESMAS KUMELEMBUAI KABUPATEN MINAHASA SELATAN Hana Liando Rina Kundre Yolanda Bataha Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Samratulagi Manado Email : hanaliandohana@gmail.com Abstract : Family planning ( KB ) program is one of the main health service of preventive for women. Increase of weight is one side effects that complained by Family Planning Injection acceptors. The Objective of this research is to analyzis the factors increased weight of mother who using DMPA injection (Depot Medroksi Progesterone Acetic) in Health Center In Kumelembuai, South Minahasa region. Methodology analysis survey with design cross sectional and statistical test by chi-square test. Samples the 33 mothers that are active acceptors using DMPA injectable contraceptive in Puskesmas (Healthy Center) in Kumelembuai, South Minahasa Region. The results indicate p value from usage period with increasing weight is α < 0,05 (p = 0,012), the p value of physical activity with increasing weight α < 0,05 (p = 0,012) and the p value of diets with increasing weight is α > 0,05 (p = 0,544 ). Conclusions there is relationship between DMPA period of time (timeline) and physical activity with increased weight. There is no relationship between diets and increased weight of mother who used DMPA contraceptive injection. Proposition give the socialization first about the factors of increased weight of using DMPA injection and then hoped the user can be comprehended and apply it. Keywords : Contraception, Weight Abstrak : Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan preventif utama bagi wanita. Penambahan berat badan merupakan salah satu efek samping yang sering dikeluhkan akseptor KB suntik. Tujuan penelitian ini menganalisa faktor-faktor yang berhubungan dengan peningkatan berat badan ibu pengguna alat kontrasepsi suntik DMPA (Depo Medroksi Progesteron Asetat) di Puskesmas Kumelembuai Kabupaten Minahasa Selatan. Metode penelitian survey analitik dengan design cross sectional dan uji statistik yang digunakan yaitu uji chi-square. Sampel yaitu akseptor yang aktif menggunakan kontrasepsi suntik DMPA yakni 33 ibu. Hasil penelitian ini menunjukan nilai p dari jangka waktu penggunaan dengan peningkatan berat badan adalah α < 0,05 (p = 0,021), nilai p dari aktivitas fisik dengan peningkatan berat badan adalah α < 0,05 (p = 0,042) dan nilai p pola makan dengan peningkatan berat badan adalah α > 0,05 (p = 0,072). Kesimpulan Terdapat hubungan antara jangka waktu penggunaan dan aktivitas fisik dengan peningkatan berat badan ibu pengguna alat kontrasepsi suntik DMPA. Tidak terdapat hubungan antara pola makan dengan peningkatan berat badan ibu pengguna alat kontrasepsi suntik DMPA. Saran memberikan sosialisasi terlebidahulu mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan peningkatan berat badan dalam penggunaan alat kontrasepsi suntik DMPA dan diharapkan akseptor dapat memahami dan menerapkannya. Kata Kunci : Kontrasepsi, Berat badan 1

PENDAHULUAN Program Keluarga Berencana (KB) nasional telah diawali dan dirancangkan oleh pemerintah pada tahun 1774. Tujuan dari pemerintah tersebut untuk mengurangi jumlah penduduk dan juga mengurangi tingkat kematian pada ibu hamil dan bayi yang dilahirkan. Pelayanan Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu usaha untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu yang sedemikian tinggi akibat kehamilan yang diawali oleh wanita (Herti, 2008). Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan preventif yang paling dasar dan utama bagi wanita, meskipun demikian tidak selalu diakui demikian. Dalam memilih suatu metode, wanita harus menimbang berbagai faktor, termasuk status kesehatan mereka, efek samping potensial suatu metode, konsekuensi terhadap kehamilan yang tidak diinginkan, kerja sama pasangan dan norma budaya mengenai kemampuan mempunyai anak (Maryani, 2008). Penambahan berat badan merupakan salah satu efek samping yang sering dikeluhkan oleh akseptor KB suntik. Efek samping suatu metode kontrasepsi merupakan suatu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan keputusan terhadap kelangsungan pemakaian metode kontrasepsi. Maka perlu di upayakan perlindungan dari efek samping sekaligus kelestariannya. (Hartanto, 2004). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya di kelurahan Tarok Dipo wilayah kerja Puskesmas Guguk Panjang Bukittinggi menunjukkan bahwa dari 62 responden terdapat 33 atau 53,2% akseptor KB suntik DMPA mengalami kenaikan berat badan (Nofria, 2013). Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian pada ibu pengguna alat kontrasepsi suntik DMPA (Depo Medroksi Progesteron Asetat) dengan judul : Faktor- 2 Faktor yang Berhubungan dengan Peningkatan Berat Badan pada Ibu Pengguna Alat Kontrasepsi Suntik DMPA (Depo Medroksi Progesteron Asetat) di Puskesmas Kumelembuai Kabupaten Minahasa Selatan. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian survey analitik dengan design cross sectional (Setiadi, 2013). Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 2 Maret 13 Maret 2015 di Puskesmas Kumelembuai Kecamatan Kumelembuai Kabupaten Minahasa Selatan. Populasi seluruh ibu pengguna alat kontrasepsi suntik DMPA yang ada di Puskesmas Kumelembuai Kabupaten Minahasa Selatan yakni sebanyak 33 orang dan sampel sebanyak 33 orang dengan menggunakan teknik total sampling dimana semua populasi diambil sebagai sampel. Instrument penelitian yang digunakan adalah berbentuk kuesioner food frequency, kuesioner aktivitas fisik, rekam medik kartu status peserta KB dan wawancara. Kuesioner food frequency bertujuan untuk melihat seberapa sering ibu mengkonsumsi jenisjenis makanan sumber karbohidrat, sumber protein, sumber serat dan makanan siap saji. Setiap pernyataan dijawab dengan pilihan kategori sering yaitu 4-7 kali per minggu dan kategori jarang yaitu 1-3 kali per minggu. Kuesioner aktivitas fisik terdiri dari 6 pertanyaan dan penentuan jawaban menurut skala Likert dimana jawaban Tidak Pernah diberi nilai 1, Jarang diberi nilai 2, Kadang-kadang diberi nilai 3, Sering diberi nilai 4 dan Sangat Sering diberi nilai 5. Untuk penetapan kategori dilakukan berdasarkan median, yaitu : a. Skore terendah x jumlah pertanyaan : 1 x 6 = 6 b. Skore tertinggi x jumlah pertanyaan : 5 x 6 = 30 c. Nilai median yang diperoleh adalah :

(6 + 30) : 2 = 18 dengan kategori ringan jika skore jawaban < 18 (nilai median) dan kategori berat jika skore jawaban 18. Rekam medik kartu status peserta KB suntik digunakan untuk melihat kenaikan berat badan yang dialami oleh akseptor. Disitu akan dilihat apakah akseptor mengalami peningkatan berat badan 1-5 kg, > 5 kg atau tidak mengalami peningkatan berat badan/berat badan tetap. Wawancara akan dilakukan apabila masih ada hal-hal yang perlu ditanyakan kepada responden atau data yang belum jelas terisi di lembar kuesioner atau di rekam medik kartu status peserta KB. Prosedur Pengumpulan Data Tahap persiapan : Kegiatan penelitian ini yang dilakukan meliputi survei pendahuluan, pengajuan judul dan pembuatan proposal. Setelah selesai pembuatan proposal dan konsultasi proposal kemudian dilakukan seminar ujian proposal dan dilanjutkan dengan pengesahan proposal. Setelah proposal telah disahkan maka pembuatan surat permohonan izin penelitian untuk diberikan di Puskesmas Kumelembuai Kabupaten Minahasa Selatan. Setelah surat izin diterima, peneliti melakukan sosialisasi judul, manfaat, tujuan dan proses penelitian yang akan dilakukan. Untuk pelaksanaan penelitian, peneliti menunggu responden yang memiliki jadwal suntik bulan maret di Puskesmas sedangkan untuk menemui responden yang lain peneliti melakukan kunjungan ke rumah masing-masing responden. Pada saat penelitian dilangsungkan, peneliti memberitahukan maksud penelitian kepada responden dan didahului dengan memperkenalkan diri kemudian memberikan lembar persetujuan kepada responden yang termasuk dalam kriteria yang sudah ditetapkan sebelumnya. Setelah responden menyetujui lembar persetujuan untuk siap menjadi responden, peneliti membagikan kuesioner yang terdiri dari beberapa pertanyaan yang harus di jawab atau diisi oleh responden. Setelah prosedur selesai dan data terkumpul, peneliti melakukan pemeriksaan kelengkapan dari data yang diperoleh dari responden. Apabila ada halhal yang peneliti perlu ditanyakan atau yang belum jelas terisi di lembar kuesioner maka peneliti berkomunikasi langsung dengan responden dengan cara wawancara. Kelengkapan data lainnya dilihat dari rekam medik kartu status peserta KB dari masing-masing responden kemudian di catat oleh peneliti. Hasil data yang diperoleh akan diolah oleh peneliti sendiri. Prosedur pengolaan data : Editing (Memeriksa), Coding (Memberi Tanda Kode), Processing, Pembersihan Data (Cleaning). Analisis univariat dalam penelitian ini adalah melihat gambaran karakteristik responden dan variabel dependen yang dianalisa adalah kebermaknaan hidup pada lansia. Analisa Bivariat dengan menggunakan uji chisquare dengan tingkat kepercayaan 95% (α 0,05) namun karena hasil yang didapatkan tidak memenuhi syarat maka digunakan uji alternatif yaitu uji kolmogorov-smirnov. HASIL dan PEMBAHASAN A. Analisa Univariat Analisis univariat dalam penelitian ini yaitu terdiri dari umur, jangka waktu penggunaan, pola makan, aktivitas fisik dan kenaikan berat badan yang akan dijelaskan pada uraian berikut ini : 1. Umur Tabel 1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur Responden Umur n % 21-25 Tahun 8 24,2 26-30 Tahun 13 39,4 31-35 Tahun 5 15,2 36-40 Tahun 4 12,1 40 3 9,1 Tahun 3

2. Jangka Waktu Penggunaan Tabel 2. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jangka Waktu Penggunaan Alat Kontrasepsi Suntik DMPA (Depo Medroksi Progesteron Asetat) Jangka Waktu n % Penggunaan Cukup Lama 16 48,5 Lama 17 51,5 3. Pola Makan Tabel 3. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pola Makan Responden Pola Makan n % Sering 2 6,1 Jarang 31 93,9 4. Aktivitas Fisik Tabel 4. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Aktivitas Fisik Responden Aktivitas Fisik n % Ringan 10 30,3 Berat 23 69,7 5. Kenaikan Berat Badan Tabel 5. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kenaikan Berat Badan Responden Kenaikan Berat Badan n % Tetap 1 3 1-5 kg 21 63,6 > 5 kg 11 33,3 B. Analisa Bivariat Table 6. Analisis hubungan jangka waktu penggunaan dengan peningkatan berat badan ibu pengguna alat kontrasepsi suntik DMPA (Depo Medroksi Progesteron Asetat) Jangka Waktu Penggunaan Kenaikan Berat Badan (kg) Tetap 1-5 kg > 5 kg n % n % n % Cukup Lama 1 12,5 14 75 1 12,5 0.021 Lama 0 0 7 41,2 10 58,8 Total 1 21 11 33 Tabel 7. Analisis hubungan pola makan dengan peningkatan berat badan ibu pengguna alat kontrasepsi suntik DMPA (Depo Medroksi Progesteron Asetat) Pola Makan Kenaikan Berat Badan (kg) Tetap 1-5 kg > 5 kg n % n % n % p value p value Sering 0 0 2 100 0 0 Jarang 1 3,2 19 61,3 11 35,5 0.972 Total 1 21 11 33 4

Tabel 8. Analisis hubungan aktivitas fisik dengan peningkatan berat badan ibu kenaikan berat badan 1-5 kg yakni 21 ibu (63,6%). pengguna alat kontrasepsi suntik DMPA Berdasarkan hasil analisis chisquare (Depo Medroksi Progesteron Asetat) (pearson chi-square) namun tidak Kenaikan Berat Badan (kg) memenuhi syarat maka digunakan uji Aktivita p alternatif yaitu uji kolmogorov-smirnov, Tetap 1-5 kg > 5 kg s Fisik value menunjukkan bahwa terdapat hubungan n % n % n % yang bermakna antara jangka waktu penggunaan dengan peningkatan berat Ringan 0 0 3 30 7 70 badan ibu pengguna alat kontrasepsi suntik DMPA (Depo Medroksi Berat 1 4,3 18 78,3 4 17,4 0.042 Progesteron Asetat). Hal ini didukung Total 1 21 11 33 oleh penelitian yang dilakukan Winarsih (2012), bahwa terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata berat badan sesudah C. PEMBAHASAN penggunaan alat kontrasepsi suntik Penelitian ini dilakukan selama DMPA yaitu dalam jangka waktu kurang lebih dua minggu dari tanggal 2 penggunaan lebih dari satu tahun. Pada Maret 13 Maret 2015 di Puskesmas pemakaian lebih dari dua tahun rata-rata Kumelembuai Minahasa Selatan. berat badan mengalami peningkatan. Pada beberapa kategori penilaian Penelitian selanjutnya dari Sriwahyuni Efi dalam penelitian ini didapati bahwa (2010), dimana penelitian ini sebagian besar ibu dengan umur 26-30 menunjukkan adanya hubungan antara tahun yakni sebanyak 13 ibu (39,4%) lama penggunaan alat kontrasepsi sesuai data jumlah akseptor KB suntik hormonal dengan peningkatan berat badan DMPA yang diperoleh di Puskesmas yaitu dalam jangka waktu penggunaan Kumelembuai bahwa sebagian besar ibu lebih dari satu tahun sebagian besar berusia di atas 25 tahun yakni sekitar responden mengalami peningkatan berat 65%. Dengan jangka waktu penggunaan badan dan hanya empat responden yang KB suntik DMPA yang lama yakni 17 ibu tidak mengalami peningkatan berat badan (51,5%) hal ini ditunjang dengan sedangkan jangka waktu penggunaan penelitian yang dilakukan oleh Diana kurang dari satu tahun sebagian besar (2009) dimana dari 30 responden terdapat mengalami peningkatan berat badan dan 15 ibu (50%) yang jangka waktu 17 responden yang tidak mengalami penggunaan KB suntik DMPA lebih dari 4 peningkatan berat badan. tahun atau termasuk dalam kategori Hal ini juga didukung oleh teori jangka waktu penggunaan yang lama. Pola Hartanto (2004) yang menyatakan makan responden dinilai dari seberapa umumnya penambahan berat badan tidak sering mengkonsumsi jeni-jenis makanan terlalu besar, bervariasi antara kurang dari sumber karbohidrat, serat, lemak, protein 1 kg sampai 5 kg dalam tahun pertama dan makanan siap saji dan didapati dan mengalami peningkatan lemak tubuh sebagian besar jenis-jenis makanan sebanyak 3,4% dalam waktu pemakaian tersebut jarang dikonsumsi oleh responden dua tahun keatas. yakni terdapat 31 ibu (93,9%). Dan Berdasarkan hasil analisis chisquare (pearson chi-square) namun tidak aktivitas fisik responden sebagian besar adalah responden dengan aktivitas fisik memenuhi syarat maka digunakan uji yang berat yakni terdapat 23 ibu (69,7%) alternatif yaitu uji kolmogorov-smirnov, sedangkan kenaikan berat badan menunjukkan bahwa tidak terdapat responden sebagian besar mengalami hubungan yang bermakna antara pola 5

makan dengan peningkatan berat badan ibu pengguna alat kontrasepsi suntik Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA). Menurut Nurahmah (2007) dalam Diana (2009) efek penambahan berat badan pada pemakaian KB suntik DMPA disebabkan karena pengaruh hormon progesteron yang mempermudah perubahan karbohidrat dan gula yang dikonsumsi dari makanan menjadi lemak. Namun demikian terdapat juga beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi berat badan antara lain olahraga, mengkonsumsi serat makanan, mengurangi konsumsi lemak, lebih banyak mengkonsumsi protein dan serat serta adanya perubahan perilaku. Menurut Narudin (2008) dalam Haryani Dwi (2010), faktor psikologis juga mempengaruhi kebiasaan makan, bahkan ada orang yang tiba-tiba ingin makan banyak saat sedang emosi. Selain itu, metabolisme yang lambat juga dapat meningkatkan berat badan karena perempuan mempunyai otot tubuh yang lebih kecil dari laki-laki, otot membakar kalori lebih banyak dari jaringan tubuh yang lain sehingga metabolisme pada perempuan jauh lebih lambat dari pada laki-laki. Hal ini akan menyebabkan perempuan akan lebih mudah gemuk jika dibanding dengan laki-laki. Faktor psikologis juga mempengaruhi kebiasaan makan, bahkan ada orang yang tiba-tiba ingin makan banyak saat sedang emosi. Hasil penelitian berbeda yang dilakukan oleh Andriardus (2011) di SMA 4 Semarang mengenai hubungan pola makan dan aktivitas fisik dengan kejadian berat badan lebih dengan menggunakan uji pearson chi-square dengan hasil p = 0,005 berarti pola makan merupakan faktor resiko dari kejadian overweight dan secara statistik terdapat hubungan bermakna antara pola makan dan berat badan lebih. Menurut Ardi (2007) dalam Haryani Dwi (2010) penyebab adanya keseimbangan berat badan dimungkinkan karena didalam usia yang masih reproduksi sehat atau usia produktif mereka masih mempunyai semangat untuk beraktivitas fisik, masih mempunyai keinginan kuat untuk menjaga berat badan agar tetap ideal dengan cara berdiit. Oleh karena itu sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti bahwa umur terbanyak responden yang memakai kontrasepsi suntik DMPA adalah antara umur 21-30 tahun yaitu sebanyak 21 responden, maka menurut peneliti hal ini dikarenakan usia antara 20-35 tahun dikategorikan tingkat kesuburan reproduksi lebih tinggi dibanding dalam usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun serta faktor jenis kelamin karena dalam penelitian ini responden semuanya berjenis kelamin perempuan sehubungan dengan judul penelitian ini lakukan pada akseptor alat kontrasepsi suntik DMPA yang digunakan khusus pada perempuan, dimana sesuai teori pendukung diatas bahwa perempuan akan lebih mudah gemuk jika dibanding dengan laki-laki oleh karena otot tubuh yang lebih kecil, otot membakar kalori lebih banyak dari jaringan tubuh yang lain sehingga metabolisme pada perempuan jauh lebih lambat dari pada laki-laki. Berdasarkan hasil analisis chisquare (pearson chi-square) namun tidak memenuhi syarat maka digunakan uji alternatif yaitu uji kolmogorov-smirnov, menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan peningkatan berat badan ibu pengguna alat kontrasepsi suntik Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA). Menurut Wijayanti (2006), bahwa aktivitas fisik dapat mempengaruhi peningkatkan berat badan seseorang. Hal ini disebabkan karena asupan energi yang melebihi kebutuhan tubuh yang biasanya dialami oleh orang yang kurang olah raga atau kurang aktivitas fisik sehingga energi yang masuk kedalam tubuh tidak dibakar atau digunakan yang kemudian disimpan dalam bentuk lemak sehingga 6

menyebabkan berat badan naik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Andriardus (2011) di SMA 4 Semarang mengenai hubungan pola makan dan aktivitas fisik dengan kejadian berat badan lebih dengan menggunakan uji pearson chi-square dengan hasil terdapat hubungan yang bermakna atau signifikan dan secara statistik terdapat hubungan bermakna antara aktivitas fisik dengan berat badan lebih. Menurut peneliti, meskipun aktivitas fisik seseorang dikatakan aktivitas fisik berat namun ada beberapa pertimbangan juga misalnya aktivitas hanya dilakukan di dalam rumah sebagai ibu rumah tangga. Karena aktivitas di rumah relatif sedikit karena ada sarana pembantu yang mengerjakan keperluan mereka, sehingga cenderung aktivitas yang dilakukan tidak begitu banyak mengeluarkan energi sehingga asupan nutrisi yang dimasukkan ke dalam tubuh tidak seimbang dengan energi yang dikeluarkan lewat aktivitas fisik yang dilakukan maupun yang dikeluarkan lewat keringat atau pembakaran lemak. Dan penelitian yang dilakukan peneliti sebagian besar pekerjaan responden adalah ibu rumah tangga. SIMPULAN Sebagian besar responden telah menggunakan alat kontrasepsi suntik dalam jangka waktu penggunaan yang lama yakni > 4 tahun (51,5%). Sebagian besar responden memiliki pola makan atau kebiasaan mengkonsumsi jenis makanan sumber karbohidrat, protein, lemak, serat dan makanan siap saji yang jarang (93,9%). Sebagian besar reponden menjalani aktivitas fisik yang berat (69,7). Sebagian besar responden mengalami peningkatan berat badan yakni 1-5 kg (63,6). Terdapat hubungan yang signifikan antara jangka waktu penggunaan alat kontrasepsi suntik DMPA dengan peningkatan berat badan. Terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan peningkatan berat badan ibu pengguna alat kontrasepsi suntik DMPA. Tidak adanya hubungan antara pola makan dengan peningkatan berat badan ibu pengguna alat kontrasepsi suntik DMPA. DAFTAR PUSTAKA Andriardus. (2011). Hubungan Pola Makan dan Aktivitas Fisik dengan Kejadian Berat Badan Lebih pada Remaja. Semarang. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. (2007). Pencapaian Peserta KB Baru Menurut Jenis Kontrasepsi. Sulawesi Utara. http://sulut.bkkbn.go.id/data/defaul t.aspx Diakses tanggal 25 November 2014 pukul 20:18 WITA. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. (2010). Kebijakan teknis KB dan Kesehatan Reproduksi. Jakarta. Dahlan Sopiyudin. (2011). Statistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta : Salemba Medika Depkes RI. (2008). Pedoman Penanggulangan Efek Samping Komplikasi Kontrasepsi. Jakarta : YBPSP. Diana. (2009). Hubungan Antara Lama Pemakaian Alat Kontrasepsi Suntik Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA) dengan Peningkatan Berat Badan. Surakarta : eprints.uns.ac.id/5734/1/10608221 0200908091.pdf Diakses tanggal 18 November 2014 pukul 13:31 WITA. Hartanto, Hanafi. (2004). Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan. 7

Haryani Dwi. (2010). Pengaruh Frekuensi Kontrasepsi Suntik DMPA Terhadap Kenaikan Berat Badan pada Akseptor Kontrasepsi Suntik DMPA. Semarang : Bidan Prada. Herti. (2008). Faktor yang Berhubungan dengan Pemakaian KB Suntik. Jakarta : http//www.scrib.com/doc/1404474 5 Diakses tanggal 18 November pukul 13:45 WITA. Icemi Sukarni K & Wahyu P. (2013). Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Yogyakarta : Nuha Medika Pustaka. Kusumaningrum, Radita. (2009). Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Jenis Kontrasepsi yang Digunakan pada Pasangan Usia Subur. http://eprints.undip.ac.id/19194/1/ Radita_Kusumaningrum.pdf Diakses tanggal 29 Oktober 2014. Maryani. (2008). Cara Tepat Untuk Memilih Alat Kontrasepsi Keluarga Berencana Bagi Wanita. http://www.scribd.com/doc/14404 4745. Diakses tanggal 3 November 2014. Misnadiarly. (2007). Obesitas Sebagai Faktor-Faktor Beberapa Benyakit, Jakarta : Pustaka Obor Populer. Nofria Sari. (2013). Hubungan Penggunaan KB Suntik Tiga Bulan dengan Kenaikan Berat Badan pada Akseptor KB di Kelurahan Tarok Dipo Wilayah Kerja Guguk Panjang Bukittinggi. Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Penerbit RINEKA. Pendit Brahm & Winny. (2006), Ragam Metode Kontrasepsi, Jakarta : Buku Kedokteran EGC. PSIK Universitas Sam Ratulangi (2014). Panduan Penulisan Tugas Akhir Proposal dan Skripsi. Manado. Saifuddin, Abdul Bari. (2006). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka. Setiadi. (2013). Konsep dan Praktik Penulisan Riset Keperawatan (2 nd ed). Yogyakarta : Graha Ilmu. Sri, Handayani. (2010). Buku Ajar Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta : Pustaka Rihama. Sriwahyuni Efi. (2010). Hubungan antara Jenis dan Lama Pemakaian Alat Kontrasepsi Hormonal dengan Peningkatan Berat Badan Akseptor. Surabaya. FKM UNA. Suyanto. (2011). Metodologi dan Aplikasi Penelitian Keperawatan. Yogyakarta : Nuha Medika. Wijayanti. (2006). Perbedaan Peningkatan Berat Badan Antara Akseptor Keluarga Berencana suntik Progesteron Tunggal Dan Kombinasi Progesteron Estrogen di Klinik Kebidanan Dan Reproduksi Bahagia Surakarta. Surakarta : UNS. Winarsih. (2012). Pengaruh Kontrasepsi Hormonal Terhadap Berat Badan dan Lapisan Lemak pada Akseptor Kontrasepsi Suntik DMPA. Surakarta. Wita, Rizki. (2009). Hubungan Antara Pola Makan Aktivitas Fisik dan Status Gizi dengan Lemak Tubuh pada Pramusaji Unit Pelayanan Gizi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Jakarta : UI. 8