FOLLOWERSHIP : SISI LAIN KEPEMIMPINAN YANG TERLUPAKAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Menurut Sutarto dalam buku Usman (2009:146) dalam buku Manajemen : Teori,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Organisasi yang berhasil mewujudkan perubahan memiliki ciri-ciri mampu

TEORI MANAJEMEN SUMBERDAYA MANUSIA MEMBANTU PEMIMPIN TRANSAKSIONAL MEMIMPIN SUMBERDAYA MANUSIA MELALUI PROSES PERTUKARAN

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

Kepemimpinan PRESENTED BY: M ANANG FIRMANSYAH

BAB I PENDAHULUAN. 10% - 20% dari keberhasilan organisasinya, sedangkan sisanya 80% - 90%

BAB I PENDAHULUAN. dalam perkembangan organisasi. Kualitas kinerja yang baik tidak dapat diperoleh

MAKALAH KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL

BAB I PENDAHULUAN. Di era globalisasi dewasa ini, sebuah perusahaan bertaraf nasional maupun

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP KOMITMEN ORGANISASIONAL DENGAN KOMUNIKASI VERTIKAL DAN PEMBERDAYAAN PSIKOLOGI

Modul ke: PSIKOLOGI SOSIAL 2. Kepemimpinan. Fakultas PSIKOLOGI. Filino Firmansyah M. Psi. Program Studi Psikologi.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut : atasan menerapkan gaya kepemimpinan Initianting Structure dan

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL Kebangkitan Kembali Studi Tentang Kepemimpinan

LEADERSHIP IN A DYNAMIC ENVIRONMENT

EVALUASI DOSEN SEBAGAI BENTUK PENILAIAN KINERJA. Liche Seniati Chairy

BAB 6. Kesimpulan dan Saran

KOMPETENSI KEPEMIMPINAN WIRAUSAHAWAN. (Studi kasus pada lulusan Akademi Pimpinan Perusahaan, Jakarta tahun 2013)

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan ataupun di dalam organisasi. Dibalik kemajuan jaman yang pesat saat

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

MODUL KELIMA KEPEMIMPINAN. Di Susun Oleh: Erna Multahada, M.Si

AI-Maktabah, Vol. 4, No.2, Oktober:

LEADERSHIP DI SUSUN OLEH : HARRY SATRIA PUTRA ERPEN JUANDA

DAFTAR PUSTAKA. Aamodt, M. G. (2010). Industrial/Organizational Psychology (6th ed.). US:

ANALISIS HUBUNGAN ANTARA GAYA KEPEMIMPINAN DIREKTUR DAN TINGKATAN PEKERJAAN KARYAWAN CV. HANANTA

HUBUNGAN GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN PERSEPSI DISIPLIN KERJA KARYAWAN KPP PRATAMA KOTA BOGOR

BAB X KEPEMIMPINAN TRANFORMASIONAL DAN TRANSAKSIONAL

SELAMAT MENGERJAKAN TERIMA KASIH ATAS PARTISIPASI ANDA

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. 20 karyawan divisi HC (Human Capital) yang mempersepsi budaya perusahaan di

BAB 7 SIMPULAN DAN SARAN. 1. Person Organizational Fit berpengaruh Signifikan terhadap Kepuasan

GAYA KEPEMIMPINAN SITUASIONAL PADA CV. SUMBER MAKMUR

KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN SUMBER DAYA MANUSIA DI SEKOLAH

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan/organisasi menjadi lebih kompleks. Perusahaan/organisasi harus

ANALISIS GAYA KEPEMIMPINAN PADA PERUSAHAAN KOSMETIK

Pengembangan Kepemimpinan

HP : Bisa diunduh di: teguhfp.wordpress.com

ANALISIS FOLLOWERSHIP STYLE PADA PT. X

SATUAN ACARA PERKULIAHAN FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS GUNADARMA MATA KULIAH : PSIKOLOGI KELOMPOK KODE MATAKULIAH /SKS = MKK / 2 SKS

Masih dari hasil penelitian Al-Ababneh (2010), tidak ada gaya kepemimpinan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) KEPEMIMPINAN. EKM 408 (3 sks) Semester VII. Pengampu mata kuliah

BAB II KERANGKA PEMIKIRAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian mengenai penerapan kepemimpinan dalam suatu organisasi

KONFLIK DAN NEGOSIASI

BAB I PENDAHAULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dipengaruhi banyak faktor diantaranya keterampilan atau keahlian yang dimiliki,

MATERI PERILAKU ORGANISASI

PERTEMUAN 13 dan 14: KEPEMIMPINAN. DIKTAT KULIAH: TEORI ORGANISASI UMUM 1 Dosen: Ati Harmoni 1

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. justru karena kepuasan kerja dipandang dapat mempengaruhi jalannya organisasi

BAB II TELAAH LITERATUR DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. Path-goal theory menjelaskan dampak gaya kepemimpinan pada motivasi

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASI : GAYA KEPEMIMPINAN MASA DEPAN. Oleh: Maryanto*

Oleh: Egrita Buntara Widyaiswara Muda Balai Diklat Kepemimpinan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. Kinerja merupakan salah satu alat ukur kerja karyawan dalam sebuah

GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN EFEKNYA KEPADA KEPERCAYAAN TERHADAP PEMIMPIN SERTA ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR (OCB)

ASPEK PENILAIAN MATA KULIAH ADAPTIF SOFTSKILL I. Tingkatan kemampuan kemampuan ranah kognitif. Indikator Penilaian

MANFAAT EMOTIONAL INTELLIGENCE BAGI PENGAJAR DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR

BAB I PENDAHULUAN. untuk memusatkan perhatian pada pengembangan SDM. soft skill yang di dalamnya terdapat unsur behavior dan attitude.

LEADERSHIP BASES POWER DAN IMPLEMENTASI INNOVATIVE MARKETING ABSTRAK

DAFTAR PUSTAKA. Azwar, S Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Sigma Alpha.

BAB 1 PENDAHULUAN. Hubungan gaya kepemimpinan..., Eka Prasetiawati, FISIP 1 UI, 2009 Universitas Indonesia

BAB V PENUTUP. bahwa faktor-faktor mempengaruhi Quality of Work Life karyawan PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk. Berdasarkan uji Anti-image Matrices

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Wexley dan Yukl mengartikan kepuasan kerja sebagai the way an

SEMANGAT KERJA DITINJAU DARI KOHESIVITAS KELOMPOK KERJA PADA MITRA PEMASARAN DI KSB REGIONAL V YOGYAKARTA

BAB II LANDASAN TEORI

HUBUNGAN GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP KEPUASAN KERJA SKRIPSI

KOMPARASI GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN GAYA KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL DI DALAM TEORI LEADER-MEMBER EXCHANGE (LMX)

OLEH: ARDI YULIANTO LEMBONO

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN TRANSAKSIONAL TERHADAP KINERJA MELALUI KEPUASAN KERJA KARYAWAN PT. TELKOM DIVRE VII MAKASSAR

KATA PENGANTAR Prof. Dr. Abd. Yuli Andi Gani, MS Guru Besar Kepemimpinan FIA UB

PENGARUH KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP MOTIVASI KERJA DOSEN PADA UNIVERSITAS YANG BERADA DI KOTA MADIUN

Pengaruh Kepemimpinan Keselamatan Pada Kepala Proyek Terhadap Angka Kecelakaan Kerja PT. X Dan PT. Y Di Kota Solo Jawa Tengah

DEVELOPING OTHERS: Tumbuh Kembang Bersama Membangun Organisasi

PENDEKATAN DALAM STUDI KEPEMIMPINAN

Disusun Oleh Lista Kuspriatni. Universitas Gunadarma 2014

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa kepemimpinan

Penggunaan Leadership Behavior Description Questionnaire (LBDQ) Untuk Mengukur Efektifitas Kepemimpinan Supervisor (Kasus CV. Citra Mandiri Sejati)

INTERPERSONAL SKILLS UNTUK MERAIH SUKSES Oleh: Maryanto Widyaiswara Utama Balai Diklat Kepemimpinan

Pentingnya gy kepemimpinan p bagi seorang wirausaha. Teori kepemimpinan awal Teori kepemimpinan kontemporer

Oleh. Arga Satria D, 1). Dra. Lily Hendrasti Novadjaja, MM. 2), Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya. Abstrak

BAB I PENDAHULUAN. Seperti yang kita ketahui bahwa pada saat ini persaingan antar perusahaan

PERKEMBANGAN TEORI KEPEMIMPINAN: SUATU TINJAUAN PUSTAKA

1 UNIVERSITAS ESA UNGGUL

Kbadan, organisasi bahkan. resensi. Judul Buku Kepemimpinan Transformasional dalam Birokrasi Pemerintahan. Penulis Eko Maulana Ali

Ciri dan Watak Wirausaha

Leadership Karakteristik, Kompetensi, Perilaku

HUBUNGAN ANTARA KEPEMIMPINAN TRANFORMASIONAL DENGAN KEPUASAN KERJA PADA KARYAWAN

Indah Dwi Purnama. Universitas Bina Nusantara, Jl. Kebon Jeruk Raya No. 27, Kebon Jeruk, Jakarta Barat

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan perusahaan industri yang selalu ingin survive dan berkembang.

BAB II LANDASAN TEORI. dengan referensi pada sejumlah standar seperti biaya-biaya masa lalu atau yang

Transkripsi:

FOLLOWERSHIP : SISI LAIN KEPEMIMPINAN YANG TERLUPAKAN Yohanes Budiarto Dosen Fakultas Psikologi Universitas INDONUSA Esa Unggul, Jakarta yohanesbudiarto@yahoo.com ABSTRAK Individu-individu dalam suatu organisasi memiliki peran masing-masing untuk dijalankan. Secara umum, individu berperan sebagai pemimpin (leader) dan juga sebagai pengikut (follower). Bahkan, banyak juga individu yang memiliki peran keduanya, sebagai pemimpin sekaligus pengikut pada saat yang bersamaan. Artinya, dalam suatu struktur jabatan, individu yang bersangkutan memiliki gaya kepemimpinan (leadership) dan kepengikutan (followership). Ironisnya, mayoritas studi kepemimpinan melupakan sisi lain kepemimpinan : kepengikutan (followership). Kajian studi ilmiah dalam perilaku keorganisasian lebih banyak menempatkan kualitas tunggal kepemimpinan tanpa memperhatikan kualitas kepengikutan. Selain itu, dampak praktis gaya kepemimpinan seorang pemimpin dalam interaksinya dengan bawahannya sangat jarang dikaji. Oleh karenanya, gaya kepengikutan (followership styles) memiliki literatur teoretis ilmiah yang lebih minim jika dibandingkan dengan gaya kepemimpinan (leadership styles). Kajian gaya kepengikutan (followership styles) terhadap para pemimpin dan pengikut, mengkategorikan gaya kepengikutan ke dalam dua dimensi, yaitu: (a) mandiri (independent), berpikiran kritis (critical thinking) serta tergantung (dependent), berpikiran tidak kritis (uncritical thinking); dan (b) aktif (active) dan pasif (passive). Dari perpaduan kedua dimensi tersebut terbentuklah lima gaya kepengikutan: alienated followership (kepengikutan terasing), conformist followership (kepengikutan konformis), pragmatist followership (kepengikutan pragmatis), passive followership (kepengikutan pasif), dan exemplary followership (kepengikutan teladan). Kata Kunci: Pemimpin (leader), pengikut (follower), gaya kepengikutan (followership styles), alienated followership (kepengikutan terasing), conformist followership (kepengikutan konformis), pragmatist followership (kepengikutan pragmatis), passive followership (kepengikutan pasif), dan exemplary followership (kepengikutan teladan). Pendahuluan Kajian terhadap gaya kepemimpinan dalam perilaku keorganisasian telah banyak dan umum sifatnya. Mayoritas studi yang telah dilaksanakan ditujukan untuk menguji keefektifan gaya kepemimpinan seorang pemimpin dilihat melalui persepsi para pengikutnya. Hal ini tentunya tidak menyingkap kualitas seorang pemimpin yang seutuhnya ketika kita menyadari bahwa seorang pemimpin, dalam waktu yang bersamaan, juga merupakan seorang pengikut. Individu-individu dalam suatu organisasi memiliki peran masing-masing untuk dijalankan. Ada yang berperan sebagai pemimpin (leader) dan ada juga yang berperan sebagai pengikut (follower), bahkan keduanya, sebagai pemimpin sekaligus pengikut. Seperti yang dikatakan oleh Yukl (1998), bahwa dalam organisasi seseorang mungkin memegang peran pemimpin dan pengikut pada saat yang bersamaan. Saat pertama kali kita mendengar kata pengikut, mungkin yang muncul dalam pikiran kita adalah individu yang melayani orang lain, atau yang mengikuti perintah orang lain, bahkan meniru orang lain. Begitu pula saat kita mendengar kata pemimpin, yang muncul dalam pikiran kita adalah individu yang memimpin orang lain, atau yang memberi perintah pada orang lain, mungkin juga seorang penguasa, Jurnal Psikologi Vol. 3 No. 1, Juni 2005 19

dan lainnya. Hal tersebut disebut juga sebagai pengharapan peran (role expectation). Role expectation adalah asumsi tentang seseorang yang memegang peran tertentu (Deaux et al., 1993). Peran yang lebih aktif, di era modern, harus sesuai dengan usaha dari kelompok atau tim, yaitu yang membutuhkan pengikut-pengikut yang aktif (Hollander, 1997). Selain itu, Warren Bennis, seorang ahli kepemimpinan, dalam artikel yang berjudul The End of Leadership, mengatakan bahwa kepemimpinan yang efektif tidak mungkin ada tanpa keterlibatan, inisiatif, dan kerja sama dari para pengikutnya (dikutip oleh Luthans, 2002). Pada dasarnya, setiap orang adalah pengikut, namun tidak setiap orang dapat menjadi pemimpin (Cadetstuff, n.d.). Bagaimanapun tingginya rantai komando tersebut, pasti masih ada yang lebih tinggi lagi kedudukannya. Dengan kata lain, seorang pemimpin juga mengikuti orang lain, apapun posisi dari pimpinan tersebut. Cadetstuff (n.d.) juga mengatakan bahwa semua pemimpin adalah pengikut, namun tidak semua pengikut adalah pemimpin. Sebuah contoh tentang peran pemimpin yang juga memiliki kualitas pengikut, diilustrasikan dalam suatu latihan militer untuk menerbangkan pesawat pertama kalinya. Pemimpinnya, dalam kasus ini adalah Sersan Udara, memberikan sebuah perintah kepada pengikutnya untuk melakukan hal sesuai dengan perkataannya. Bagaimanapun juga, para pengikut ada kalanya tidak mengetahui perintah tersebut dengan baik, sehingga mereka tidak dapat melaksanaakan perintah tersebut secara benar. Oleh karena kekurangan pengetahuan, pemimpin menunda latihan dan mengajari mereka bagaimana melakukannya. Pada saat itu, pemimpin tersebut telah menjadi pengikut, karena tindakannya merupakan reaksi dari tindakan para pengikutnya. Pada dasarnya, oleh karena para pengikutnya tidak tahu bagaimana melakukan perintah, maka mereka memimpin pemimpin mereka untuk mengajari mereka bagaimana menjalankan perintah tersebut. Di sisi lain, seorang pengikut tidak harus menjadi seorang pemimpin. Artinya adalah bahwa individu dapat mengikuti tanpa harus memimpin, khususnya jika individu tersebut terlalu takut berbicara saat ia membutuhkan pendampingan. Hal ini menyebabkan seorang pemimpin tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap pengikutnya, jika pengikutnya tidak memberikan dia masukan apapun. Bennis (1999) mengatakan bahwa dalam dunia yang berkembang kompleks ini, para pemimpin menjadi lebih tergantung pada bawahannya untuk informasi yang bagus, baik mereka menginginkannya atau tidak. Hughes, Ginnett, dan Curphy (1999), dengan mengutip Meindl dan Ehrlich, mengatakan bahwa kesuksesan dan kegagalan organisasi, terkadang secara tidak adil diatribusikan pada para pemimpin, walau para pengikutlah yang menjadi alasan sebenarnya bagi kesuksesan dan kegagalan suatu organisasi. Sangat disayangkan, tidak banyak penelitian yang mengkhususkan pada peran pengikut dalam organisasi. Padahal, sangat jelas terlihat, para pengikutlah yang secara nyata mengalami pendekatan pemimpin terhadap kepemimpinan (Hughes et al., 1999). Walaupun belum banyak penelitian tentang followership, namun ada beberapa ahli yang sudah melakukan penelitian tentang followership. Gaya Kepengikutan (Followership Styles) Kelley, dengan mewawancarai para pemimpin dan pengikut, mengkategorikan gaya kepengikutan menjadi dua dimensi, yaitu: (a) independent, critical thinking dan dependent, uncritical thinking (berpikir kritis dan mandiri, dan berpikir tidak kritis dan tergantung); dan (b) aktif dan pasif (Hughes et al., 1999; Montesino, 2003). Dimensi berpikir kritis dan mandiri meliputi individu yang berpikir dengan dirinya sendiri, memberi kritik yang membangun, menjadi diri sendiri, serta inovatif dan kreatif. Sedangkan untuk berpikir tidak kritis dan tergantung adalah kebalikan dari pemikiran kritis dan mandiri, yaitu harus diperintah terlebih dahulu untuk 20 Jurnal Psikologi Vol. 3 No. 1, Juni 2005

melakukan tugas, tidak dapat mengurus diri sendiri, dan tidak berpikir secara kritis. Dalam dimensi aktif dan pasif, pengikut yang baik adalah individu yang mengambil inisiatif, memiliki rasa kepemilikan terhadap kelompok atau tim kerja, berpartisipasi secara aktif, memulai semuanya dari diri sendiri, dan pekerja keras. Sebaliknya, pengikut yang tidak baik adalah individu yang malas, pasif, selalu membutuhkan dorongan, membutuhkan pengawasan terus-menerus, dan menghindari tanggung jawab. Berdasarkan taksonomi dua dimensi yang telah disebutkan di atas, kepengikutan (followership) dapat dikategorikan ke dalam lima gaya (Hughes et al., 1999; Montesino, 2003). Kelima gaya pengikut tersebut adalah alienated followers (pengikut yang mengasingkan diri), conformist followers (pengikut yang dapat menyesuaikan diri), pragmatist followers (pengikut yang pragmatis), passive followers (pengikut yang pasif), dan exemplary followers (pengikut yang patut dicontoh). Alienated followers merupakan luka yang bernanah dalam suatu organisasi, mereka lebih senang mengungkapkan seluruh aspek negatif dari tujuan, kebijakan, dan prosedur organisasi. Kelley mengatakan bahwa gaya ini terlihat dalam 15-25 % dari para pengikut (dikutip oleh Hughes et al., 1999). Pengikut yang tidak simpatik ini, umumnya, menggambarkan dirinya sebagai pemberontak yang berpikir untuk dirinya sendiri dan memiliki kecurigaan yang tidak sehat terhadap perusahaan dan individu di sekitarnya Conformist followers adalah orangorang yang mengikut dalam organisasi. Mereka pengikut aktif yang siap mengemban perintah tanpa mengkritik. Menurut Hughes et al. (1999) ada kemungkinan kasus yang meliputi 20-30 % pengikut yang berperilaku sesuai gaya ini, cenderung memiliki kepribadian pengabdi dan menghindari konflik. Sedangkan pengikut yang pragmatis (pragmatist followership) adalah para pengikut yang jarang berkomitmen pada tujuan kerja kelompok, namun telah Followership: Sisi Lain Kepemimpinan Yang Terlupakan belajar untuk tidak membuat gejolak. Hughes et al. (1999) menyebutkan bahwa dalam gaya tersebut, meliputi 25-35 % dari pengikut, tetap berada di tengah-tengah jalan. Dalam passive followers hanya 5-10 % dari seluruh pengikut yang masuk dalam gaya ini (Hughes et al., 1999). Pengikut yang pasif umumnya dipandang sebagai individu yang malas, tidak mampu, tidak termotivasi, atau bodoh. Kemudian yang terakhir, exemplary followers menunjukkan gambaran kualitas yang konsisten pada semua orang yang berhubungan dengan orang yang memiliki gaya kepengikutan tersebut. Pengikut yang patut dicontoh adalah mereka yang tahu bagaimana bekerja sama dengan teman sekerja dan pemimpin mereka dengan tujuan untuk menguntungkan organisasi. Seluruh dimensi dan gaya kepengikutan dari Kelley yang telah disebutkan di atas dapat disimpulkan ke dalam Gambar 1. Gambar 1 Gaya Kepengikutan Sumber: Hughes et al. (1999). Leadership (edisi ke-3). Boston: Irwin McGraw-Hill. Jurnal Psikologi Vol. 3 No. 1, Juni 2005 21

Hubungan Antara Gaya Kepemimpinan Dan Gaya Kepengikutan Banyak penelitian yang membuktikan bahwa gaya kepemimpinan tertentu akan menghasilkan gaya kepengikutan yang tertentu pula. Hollander (1997) mengungkapkan beberapa alasan yang memotivasi para pengikut untuk tetap perduli dengan pemimpinnya, terlebih dalam pembagian misi atau visi yang sama, peningkatan penghormatan diri (self respect), menyukai tugas dan atau teman sekerja, dan menjadi bagian dari awal sesuatu yang berharga. Sejauh ini penelitian terhadap kualitas gaya kepemimpinan transformasional dan transaksional seorang pemimpin yang juga pengikut, menunjukkan korelasi positif terhadap kualitas gaya kepengikutan individu yang efektif (exemplary followership). Hanya saja gaya kepemimpinan transformasional memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap gaya kepengikutan yang efektif dibandingkan gaya kepemimpinan transaksional. (Den Hartog, Van Muijen, & Koopman, 1997). Kesimpulan Dari salah satu kajian kualitas gaya kepemimpinan dan gaya kepengikutan yang dilakukan terhadap individu yang memiliki peran pemimpin dan bawahan sekaligus, ditemukan bahwa gaya kepemimpinan transformasional dan transaksional menunjukkan korelasi positif terhadap kualitas gaya kepengikutan individu yang efektif (exemplary followership). Hal ini tentunya akan merangsang penelitianpenelitian mengenai hubungan gaya kepemimpinan selain gaya transformasional dan transaksional dengan gaya-gaya kepengikutan yang teridentifikasi memiliki lima gaya tersebut. Daftar Pustaka Bennis, W. G., & Nanus, B., Leaders: The strategies for taking charge, Harper & Row, New York, 1995 leadership and change http://www.cio.com/research/execu tive/edit/chapter11.html?action=pri nt Retrieved April 7, 2005. Cadetstuff, Leadership vs. followership. http://www.cadetstuff.org/archives/ p000196.html. Retrieved April 6, 2005. Daft, R. L. Leadership: Theory and practice. TX: The Dryden Press, Harcourt Brace & Company, Texas, 1999. Deaux, K., Dane, F. C., & Wrightsman, L. S, Social psychology in the 90 s (edisi ke-6), Pacific Grove, Brooks/Cole Publishing Company, CA, 1993. Hartog, D. N. D., Muijen, J. J. V., & Koopman, P. L. Transactional versus transformational leadership: An analysis of the MLQ, Journal of Occupational and Organizational Psychology, 70(1), 19-34. Retrieved April 14, 2005, from: http://proquest.umi.com/pqdweb?in dex=5&did=11554202&srchmode =1&sid=2&Fmt=4&clientld=66326 &RQT=309&VName=PQD, 1997. Hollander, E. P., How and why active followers matter in leadership, Retrieved April 6, 2005, from Academy of Leadership Web site: http://www.academy.umd.edu/publi cations/klspdocs/eholl_p1.htm, 1997. Hughes, R. L., Ginnett, R. C., & Curphy, G. J, Leadership: Enhancing the lessons of experience (edisi ke-3), Irwin McGraw-Hill, Boston, 1999. Luthans, F., Organizational behavior (edisi ke-9), McGraw-Hill Irwin, Boston, 2002. Bennis, W. G. Followership-from an invented life. Reflections on 22 Jurnal Psikologi Vol. 3 No. 1, Juni 2005 Montesino, M., Leadership/followership similarities between people in a developed and a developing

country: The case of Dominicans in NYC and Dominicans on the island, Journal of Leadership and Organizational Studies, 10(1), 82-92. Retrieved April 13, 2005, from: http://proquest.umi.com/pqdweb?in dex=6&did=384061821&srchmod e=1&sid=1&fmt=4&clientld=6632 6&RQT=309&VName=PQD, 2003. Newstrom, J. W., & Davis, K., Organizational behavior: Human behavior at work, (edisi ke-10). McGraw-Hill Companies, Inc, New York, 1997. Pawar, B. S., & Eastman, K. K., The nature and implications of contextual influences on transformational leadership: A conceptual examination, Academy of Management Review, 22(1), h. 80-109, 1997. Yukl, G., Leadership in organization (edisi ke-4). Upper Saddle River, Prentice-Hall International, Inc, New York, 1998. Jurnal Psikologi Vol. 3 No. 1, Juni 2005 23