BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III DINAMIKA PROSES

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Tujuan Pengendalian 1. Keamanan (safety) 2. Batasan Operasional (Operability) 3. Ekonomi Pengendalian keamanan (safety) reaktor eksotermis isu-isu lin

BAB II LANDASAN TEORI. berefisiensi tinggi agar menghasilkan produk dengan kualitas baik dalam jumlah

PENGENDALIAN PROSES I IR. M. YUSUF RITONGA PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

SISTEM KENDALI DIGITAL

pengendali Konvensional Time invariant P Proportional Kp

Tabel 1. Parameter yang digunakan pada proses Heat Exchanger [1]

PENGENDALIAN PROSES EVAPORASI PADA PABRIK UREA MENGGUNAKAN KENDALI JARINGAN SARAF TIRUAN

VIII Sistem Kendali Proses 7.1

UJI ALAT DINAMIKA PROSES ORDE DUA INTERACTING CAPACITIES BUKAAN VALVE 1/3 (33,33%), 1/6 (16,67%) DAN 1/9 (11,11%)

MODUL KULIAH SISTEM KENDALI TERDISTRIBUSI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penelitian sebelumnya berjudul Feedforward Feedback Kontrol Sebagai

Pertemuan-1: Pengenalan Dasar Sistem Kontrol

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA HASIL SIMULASI. III, aspek keseluruhan dimulai dari Bab I hingga Bab III, maka dapat ditarik

X Sistem Pengendalian Advance

BAB II TINJAUAN TEORITIS

Strategi Pengendalian

IX Strategi Kendali Proses

ISTILAH-ISTILAH DALAM SISTEM PENGATURAN

SISTEM KENDALI SISTEM KENDALI. control signal KENDALIAN (PLANT) Isyarat kendali. Feedback signal. Isyarat umpan-balik

MODUL KULIAH SISTEM KENDALI TERDISTRIBUSI

ISTILAH ISTILAH DALAM SISTEM PENGENDALIAN

Tujuan Pembelajaran. Saat kuselesaikan bab ini, kuingin dapat melakukan hal-hal berikut.

Instrumentasi dan Pengendalian Proses

Rancang Bangun Sistem Pengendalian Level pada Knock Out Gas Drum Menggunakan Pengendali PID di Plant LNG

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA HASIL SIMULASI


Laporan Tugas Akhir Pembuatan Modul Praktikum Penentuan Karakterisasi Rangkaian Pompa BAB II LANDASAN TEORI

STUDI PERFORMANSI SISTEM PENGENDALIAN TEMPERATUR, RELIABILITY DAN SAFETY PADA HEAT EXCHANGER PT. PETROWIDADA GRESIK

Studi Pemodelan Bond Graph dan Perancangan Pengontrol Proportional + Integral untuk Level Boiler dan Temperatur Penukar Kalor pada Sistem Miniplant

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Definisi Fluida

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. Sistem kontrol adalah proses pengaturan ataupun pengendalian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Instrument adalah alat-alat atau perkakas. Instrumentation adalah suatu sistem peralatan yang digunakan dalam suatu sistem aplikasi proses.

5/12/2014. Plant PLANT

BAB II PNEUMATIK. - sekitar 78 % dari volum adalah Nitrogen. - sekitar 21 % dari volum adalah Oksigen

PENERAPAN FUZZY LOGIC CONTROLLER UNTUK MEMPERTAHANKAN KESETABILAN SISTEM AKIBAT PERUBAHAN DEADTIME PADA SISTEM KONTROL PROSES DENGAN DEADTIME

BAB 1 FILOSOFI DASAR SISTEM KONTROL

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

PERANCANGAN SISTEM PENGENDALIAN LEVEL DAN INTERLOCK STEAM DRUM DENGAN DUA ELEMEN KONTROL DI PT. INDONESIA POWER UBP SUB UNIT PERAK.

MODUL KULIAH SISTEM KENDALI TERDISTRIBUSI

UJI ALAT DINAMIKA PROSES ORDE DUA INTERACTING CAPACITIES DENGAN BUKAAN VALVE 25%, 12,5%, dan 6,25%

BAB II DASAR SISTEM KONTROL. satu atau beberapa besaran (variabel, parameter) sehingga berada pada suatu

BAB II DASAR TEORI. m (2.1) V. Keterangan : ρ = massa jenis, kg/m 3 m = massa, kg V = volume, m 3

BAB II TEORI. 2.1 Pengertian Sistem Pengaturan

BAB II DASAR TEORI. kontrol, diantaranya yaitu aksi kontrol proporsional, aksi kontrol integral dan aksi

PENGENDALI TEMPERATUR FLUIDA PADA HEAT EXCHANGER DENGAN MENGGUNAKAN JARINGAN SARAF TIRUAN PREDIKTIF

Perancangan Sistem Pengendalian Tekanan dan Laju Aliran Untuk Kebutuhan Refueling System Pada DPPU Juanda-Surabaya

BAB I PENDAHULUAN PENGENALAN SISTEM KONTROL. Apakah yang dimaksud dengan sistem kendali?

SISTEM KENDALI OTOMATIS Analisa Respon Sistem

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN SIMULASI

Desain Kendali pada Sistem Steam Drum Boiler dengan Memperhitungkan Control Valve

Sistem pengukuran Sistem pengukuran merupakan bagian pertama dalam suatu sistem pengendalian Jika input sistem pengendalian salah, maka output salah

Institut Teknologi Sepuluh Nopember PERANCANGAN SISTEM PENGENDALIAN TEKANAN DAN FLOW UNTUK KEBUTUHAN REFUELING SYSTEM PADA DPPU JUANDA SURABAYA

Makalah Seminar Kerja Praktek KONTROL TEMPERATUR PADA RICH SOLUTION HEATER (101-E) DI CO 2 REMOVAL PLANT SUBANG

Makalah Seminar Kerja Praktek ANALISIS LEVEL CONTROL DAN TUNING PROPORSIONAL INTEGRAL PADA COLUMN 220C102 LOC III

Studi Aplikasi Decoupling Control untuk Pengendalian Komposisi Kolom Distilasi

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Pengenalan Alat Ukur Permukaan Cairan / Level

DINAMIKA PROSES PENGUKURAN TEMPERATUR (Siti Diyar Kholisoh)

Konsep Umum Sistem Kontrol

Makalah Seminar Tugas Akhir

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK KIMIA IV DINAMIKA PROSES PADA SISTEM PENGOSONGAN TANGKI. Disusun Oleh : Zeffa Aprilasani NIM :

External Permanent Magnets (EPMs) yang ditempatkan pada kulit perut. Dalam. proses pembedahan dibutuhkan bantuan alat instrumentasi yang memiliki

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pengukuran level adalah yang berkaitan dengan keterpasangan terhadap

BAB 5 KOMPONEN DASAR SISTEM KONTROL

BAB 3 SISTEM DINAMIK ORDE SATU

Aplikasi Kendali PID Menggunakan Skema Gain Scheduling Untuk Pengendalian Suhu Cairan pada Plant Electric Water Heater

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Mahasiswa dapat mengetahui blok diagram sistem. 2. Mahasiswa dapat memodelkan sistem kendali analog

BAB 2 LANDASAN TEORI

Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Model Dinamika Sistem Fluida

TUGAS AKHIR RESUME PID. Oleh: Nanda Perdana Putra MN / 2010 Teknik Elektro Industri Teknik Elektro. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Padang

BAB II TEORI. Proses pengaturan atau pengendalian suatu atau beberapa besaran

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

MEKANIKA FLUIDA DI SUSUN OLEH : ADE IRMA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menunjukkan tinggi dari permukaan cairan disebut sebagai alat ukur level.

BAB II TEORI ALIRAN PANAS 7 BAB II TEORI ALIRAN PANAS. benda. Panas akan mengalir dari benda yang bertemperatur tinggi ke benda yang

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Definisi fluida

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL BAB 1 PENDAHULUAN 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERANCANGAN SISTEM KONTROL ph PADA SEMIBATCH REACTOR DENGAN MENGGUNAKANFUZZY LOGIC CONTROL UNTUK STUDI KASUS PENETRALAN CH3COOH DAN NaOH

PERANCANGAN TEMPERATURE CONTROL SYSTEM PADA INTERNAL FLOW FLUIDA VISCOUS (STUDI KASUS DI PERUSAHAAN KECAP DAN SAUS PT. LOMBOK GANDARIA) Skripsi

BAB II LANDASAN TEORI

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 1, (2013) ISSN: ( Print) 1

Perancangan dan Simulasi MRAC PID Control untuk Proses Pengendalian Temperatur pada Continuous Stirred Tank Reactor (CSTR)

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING... ii. LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PENGUJI... iii. HALAMAN PERSEMBAHAN...

WATER TO WATER HEAT EXCHANGER BENCH BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Tujuan Pengujian

Makalah Seminar Kerja Praktek ANALISA SISTEM FLOW CONTROL amdea DI CO 2 REMOVAL PLANT SUBANG

Rancang Bangun Sistem Kontrol Level dan Pressure Steam Generator pada Simulator Mixing Process di Workshop Instrumentasi

Teknik Sistem Pengaturan Teknik Elektro - Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Sadra Prattama NRP Dosen Pembimbing: Dr. Bambang Lelono Widjiantoro, ST, MT NIP

BAB V KALIBRASI DAN PENGUJIAN SISTEM 72 BAB V KALIBRASI DAN PENGUJIAN SISTEM

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Laju ALir Fluida Fluida adalah suatu zat yang bisa mengalami perubahan-perubahan bentuknya secara continue/terus-menerus bila terkena tekanan/gaya geser walaupun relatif kecil atau bisa juga dikatakan suatu zat yang mengalir, kata fluida mencakup zat cair, gas, air, dan udara karena zat-zat ini dapat mengalir. Sebaliknya batu dan benda-benda keras (seluruh zat-zat padat tidak dapat dikategorikan sebagai fluida karena zat-zat tersebut tidak bisa mengalir secara continue). (Irma Suryani, 2013) Laju alir adalah banyaknya zat yang mengalir dengan kecepatan tertentu persatuan waktu. Laju alir suatu fluida dapat dibedakan ke dalam 3 macam pola aliran, yaitu aliran laminer, aliran turbulen dan aliran dari campuran keduanya (transisi). 1. Aliran Laminer Aliran laminer terjadi ketika kecepatan fluida dalam pipa rendah dan partikel fluida bergerak lancar. Kecepatan dari partikel diseluruh fluida mengambil bentuk parabola. 2. Aliran Turbulen Aliran turbulen terjadi ketika kecepatan aliran fluida tinggi dan partikel fluida tidak lagi bergerak lancar dan turbulensi atau efek berguling. 3. Aliran Transisi Aliran transisi adalah salah satu aliran peralihan dari aliran laminer ke aliran turbulen. 3

4 Gambar 1. Pola Liran Fluida (Ilham Khoir, 2014) 2.2 Hukum Bernoulli Hukum Bernoulli menyatakan bahwa tekanan dari fluida yang bergerak seperti udara berkurang ketika fluida tersebut bergerak lebih cepat. Hukum Bernoulli ditemukan oleh Daniel Bernoulli, seorang matematikawan Swiss yang menemukannya pada 1700-an. Persamaan bernoulli memiliki hubungan antara tekanan, kecepatan fluida, dan elevasi dalam sistem aliran. Secara umum hukum Bernoulli menyatakan bahwa tekanan suatu fluida di tempat yang kecepatannya tinggi lebih kecil dibandingkan dengan fluida yang kecepatannya rendah. Jadi semakin besar keceptan fluida dalam suatu pipa maka tekanan yang dihasilkan akan semakin kecil, dan sebaliknya semakin kecil kecepatan fluida dalam suatu fluida maka tekanan yang dihasilkan akan semakin besar. 2.3 Sistem Pengendalian Proses System pengendalian atau sistem kontrol adalah susunan beberapa komponen yang terangkai membentuk aksi pengendalian. System pengendalian yang diterapkan dalam teknologi proses disebut sistem pengendalian proses. Dalam bidang ini, pengendalian proses diterapkan pada reaktor, penukar panas

5 (heat exchanger), kolom pemisahan (misalnya distilasi, absorpsi, ekstraksi), tangki penampung cairan, aliran fluida, dan masih banyak lagi. (Arfy Sasmita, 2010) Ada parameter yang harus dikendalikan di dalam suatu proses. Di antaranya, yang paling umum, adalah tekanan (pressure) di dalam sebuah vassel atau pipa, aliran (flow) di dalam pipa, suhu (temperature) di unit proses seperti heat exchanger, atau permukaan zat cair (level) di sebuah tangki. Ada beberapa parameter di luar keempat paramter tersebut yang cukup penting dan juga perlu dikendalikan karena kebutuhan spesifik proses, diantaranya: ph di industri Petrokimia, warna produk di suatu fasilitas pencairan gas (NGL), dan sebagainya. Gabungan serta kerja alat-alat pengendalian otomatis itulah yang dinamai sistem pengendalian proses (process control system), sedangkan semua peralatan yang membentuk sistem pengendalian disebut instrumen pengendalian proses (process control instrumentation). 2.4 Prinsip-prinsip Pengendalian Proses Perhatikan gambar berikut, pertama operator harus mengamati ketinggian level, kemudian mengevaluasi apakah level yang ada sudah seperti yang dikehendaki. Jika level tidak sama dengan yang dikehendakinya, maka operator harus memperkirakan seberapa banyak valve perlu ditutup atau perlu dibuka. Selanjutnya, operator harus benar-benar mengubah bukaan valve sesuai dengan yang diperkirakan tadi.

6 Gambar 2. Pengendalian Level Di Dalam Tangki Oleh Manusia Prinsip pengendalian proses, jika dikaji lebih jauh lagi, dalam mengendalikan proses operator mengerjakan empat langkah berikut: Mengukur Membandingkan Menghitung Mengoreksi Saat operator mengamati ketinggian level, yang ia kerjakan sebenarnya adalah langkah mengukur proses variabel. Istilah process variable pertama kali diperkenalkan sebagai besaran parameter proses yang dikendalikan. Kemudain operator membandingkan apakah hasil pengukuran tadi sesuai dengan apa yang dikendalikan. Besar process variable yang dikehendaki tadi disebut set point. Pada contoh ini, jika level di tangki dikehendaki selalu 50%, set point di dalam sistem pengendalian ini besarnya 50%. Perbedaan antara process variable dan set point disebut error. Error = set point process variable Process variable bisa lebih besar atau bisa juga lebih kecil daripada set point. Oleh karena itu, error bisa negatif bisa juga positif. Berdasarkan besarnya error itulah, operator menentukan ke arah mana dan seberapa besar koreksi bukaan valve perlu dilakukan. Bila error bernilai negatif (berati process variable lebih besar dari set point atau level lebih tinggi dari 50%) operator harus mengurangi flow dengan lebih menutup valve. Sebaliknya, bila error positif (berati process variable lebih kecil dari set point atau level di bawah 50%) operator

7 harus menambah flow dengan lebih membuka valve. Seorang operator yang berpengalaman tidak akan sembarang membuka atua menutup valve. Ia juga akan memperkirakan seberapa banyak valve perlu lebih dibuka atau lebih ditutup. Pada tahapan itu, operator sebenarnya sedang melakukan langkah menghitung. Langkah berikutnya yang perlu dikerjakan oleh operator adalah mengubah bukaan valve sesuai dengan hasil pembandingan dan perhitungan tadi. Langkah terakhir inilah yang disebut dengan langkah mengoreksi. Keempat langkah tersebut yang dilakukan oleh operator yaitu; mengukur, membandingkan, menghitung dan mengoreksi, seluruhnya dapat dikerjakan oleh instrumentasi. Manusia, kemudian sama sekali tidak menentukan keempat langkah tadi. Operator hanya perlu menentukan besarnya set point, dan semuanya akan dikerjakan secara otomatis oleh instrumen. Sistem semacam itulah yang disebut sistem pengendalian otomatis (outomatic control system). 2.5 Sistem Pengukuran Sistem pengukuran adalah bagian yang paling utama dan pertama dari suatu sistem pengendalian. Ingat bahwa langkah mengukur adalah langkah pertama yang harus dilakukan sebelum melakukan tiga langkah pengendalian yang lainnya. Bagian pengukuran adalah salah satu bagian yang menentukan hasil akhir dari kerja sistem. Bagaimana tidak, kalau hasil pengukuran tidak cocok dengan besarnya process variable mencapai titik seperti yang kita kehendaki (set point).

8 2.6 Pengertian Dinamika Proses Dinamika Proses adalah suatu hal yang terjadi di dalam suatu sistem, dengan adanya process variable yang cepat berubah dengan berubahnya manipulated variable (bukaan control valve), ada pula yang lambat berubah. Ada proses yang sifatnya lamban, ada yang reaktif, ada yang mudah stabil, dan ada pula yang mudah menjadi tidak stabil. Sehingga, pengendalian proses akan berbeda-beda. Dalam dinamika proses sering dikaitkan dengan unsur kapasitas (capacity) dan kelambatan (lag). Dalam bahasa ilmu sistem pengendalian, dikatakan kapasitas proses tergantung pada sumber energi yang bekerja pada proses. Kalau sumber energi kecil dan kapasitas prosesnya besar, proses akan menjadi lambat. Kalau sumber energinya besar dan kapasitas prosesnya kecil, proses akan menjadi cepat. Kata kapasitas dan kelambatan itulah yang kemudian dipakai sebagai standar (ukuran) untuk menyatakan dinamika proses secara kualitatif. Dalam bentuk kualitatif, proses dibedakan menjadi proses cepat dan proses lambat, atau kapasitas besar dan kapasitas kecil. Selain bentuk kualitatif, dinamika proses juga dinyatakan secara kuantitatif dalm bentuk transfer function. Secara umum, transfer function suatu elemen proses ditandai dengan huruf G, dan gambar dalam bentuk diagram kotak seperti pada gambar berikut. Input G Output Output = G x input Gambar 3. Diagram Kotak Sebuah Proses

9 Transfer function (G) mempunyai dua unsur gain, yaitu steady state gain yang sifatnya statik, dan dynamic gain yang sifatnya dinamik. Unsur dynamic gain muncul karena elemen proses mengandung unsur kelamabatan. Oleh karena itu, bentuk transfer function elemen proses hampir pasti berbentuk persamaan matematika fungsi waktu yang ada dalam wujud persamaan differensial. Persamaan differensial adalah persamaan yang menyatakan adanya kelambatan antara input-output suatu elemen proses. Semakin banyak pangkat persamaan differensial, semakin lambat dinamika proses. Sebuah elemen proses kemudian dinamai orde satu (first order process) karena persamaan differensialnya berpangkat satu. Dinamai proses orde dua (second order process) karena differensialnya berpangkat dua. Dinamai proses orde banyak (higher order process) karena differensialnya berode banyak. Pangkat persamaan dalam differensial juga mencerminkan jumlah kapasitas yang ada di elemen proses. Suatu orde satu juga disebut one capacity process atau single capacity process, proses orde dua juga disebut two capacity process, dan proses orde banyak juga disebut multicapcity process. 2.7 Proses Orde Satu Self-Regulation Di dalam ilmu sistem pengendalian, dikenal sebuah elemen proses yang mampu mengendalikan dirinya sendiri, walaupun padanya tidak dipasang instrumentasi pengendalian otomatis. Elemen proses yang mempunyai sifat seperti itu disebut elemen proses self regulation. Contoh elemen proses self regulation dapat dilihat pada gambar berikut:

10 f i f i Proses h Sinyal output L Kapasitas = C h R f O Gambar 4. Proses Orde Satu Self Regulation Input proses adalah flow tangki (Fi) dan output proses adalah level (h) pada tangki, yang dapat dibaca sebagai sinyal output dari LT (level transmitter). Pada keadaan awal, diandaikan level di 50% tangki dan Fi serta Fo juga sama 50% skala flow. Pada Keadaan awal itu semua parameter seimbang, sehingga level tetap di 50% sampai terjadi perubahan pada Fi sebesar fi. Andaikan keadaan seimbang terganggu karena Fi naik secara mendadak sebesar fi 10%. Dengan bertambahnya Fi, level (h) juga akan berubah dan cenderung naik. Namun, kenaikan level sebesar h akan secara alami diikuti oleh kenaikan Fo sebesar fo sehingga akan dicapai keseimbangan yang baru dimana Fi sama dengan Fo. Level akan terhenti dikesetimbangan yang baru itu selama tidak terjadi perubahan Fi maupun Fo. Keseimbangan baru ini pasti ada diatas 50%, dan Fi maupun Fo juga ada di atas 50% skala flow. keadaan mencapai keseimbangan sendiri inilah yang disebut self regulation. Andaikan keseimbangan baru terjadi pada level 70%, steady state gain dari proses itu dikatakan sama dengan dua (Gp = 2). Mengapa demikian, karena untuk 10% pertambahan input (fi) akhirnya dihasilkan 20% pertambahan output (h). tentu saja keadaan self regulation ini hanya terjadi untuk batas-batas tertentu. Yang jelas, kalau diandaikan Gp = 2, Fi tidak pernah boleh ditambah lebih dari 25%, air akan tumpah keluar dari tangki. Lalu apakah keadaan proses diatas bisa disebut self regulation?. Keadaan

11 tumpahnya air memang bisa terjadi, bahkan juga pada sistem yang sudah dilengkapi pengendalian otomatis sekalipun. Hal itu disebabkan karena sistem pengendalian hanya mampu mengatasi load atau disturbance sampai batasbatas tertentu saja. Input Gp = output Gambar 5. Diagram Kotak Proses Orde Satu Self Regulation Proses self regulation memerlukan waktu untuk mencapai keseimbangan yang baru. Sehingga, transfer function proses itu pasti merupakan persamaan fungsi waktu. Bentuk transfer function seperti pada gambar 3 itulah yang disebut bentuk persamaan differensial pangkat satu. Simbol s di persamaan itu adalah bentuk transformasi laplace. Asal usul proses self regulation dapat memiliki transfer function dapat dilihat pada persamaan matematika berikut: g Transfer function adalah temperatur, yang disebut sebagai lag time atau time constant. Jika, kapasitas tangki ditandai dengan C, dan hambatan yang ditimbulkan oleh bukaan control valve ditandai dengan R, maka besar adalah R/C.

12 Input fi Waktu output fi 2 3 4 Waktu Gambar 6. Kurva Waktu Proses Orde Satu Self Regulation 2.8 Hasil Kerja System Pengendalian Otomatis Suatu sistem pengendalain dikatakan stabil, apabila nilai process variable berhasil mendekati set point (besarnya process variabel yang dikehendaki), walaupun diperlukan waktu untuk itu. Keadaan stabil itu dapat dicapai dengan respon yang overdumped ataupun underdumped. kedua respon itu mempunya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pada respon underdumped, jelas bahwa koreksi sistem berjalan lebih cepat dari respon overdumped. Tetapi, tidak berarti bahwa underdumped lebih bagus dari overdumped. Ada proses yang membutuhkan respon yang lambat (overdumped) dan ada yang membutuhkan respon yang cepat (underdumped). Kebutuhan tersebut ditentukan oleh sifat proses dan kualitas produk yang dikehendaki. Operator yang berpengalaman tentu dapat menunjukkan di bagian mana proses memerlukan respon yang overdumped dan di bagian mana diperlukan yang underdumped. Yang pasti, sistem pengendalian tidak pernah

13 menghendaki sistem yang tidak stabil. Tidak yang sustain oscillation, apalagi yang undamped. Pada respon sustain oscillation, proses variabel tidak pernah sama dengan set point, proses variabel naik turun di sekitar set point seolah-olah seperti roda sepeda yang sedang berputar. Oleh karena sifat ilmiah, sustain oscillation juga disebut cycling. Pada respon undamped, proses variabel berosilasi dengan amplitudo semakin membesar. Proses variabel semakin lama semakin menjauhi set point, dan pada keadaan itu control valve akan terbuka-tertutup secara bergantian. Akibatnya, tercapailah keadaan yang sangat berbahaya seperti yang terjadi pada feedback positif. Kelak akan diketahui bahwa keadaan sustain oscillation dengan amplitudo yang kecil di sebagian proses dapat ditolerir sebentar, demi untuk penyetelan control unit (tuning). Namun, keadaan undamped (osilasi dengan amplitudo membesar) tidak pernah dapat ditolerir dalam keadaan bagaimana pun. Kedua keadaan tidak stabil di atas adalah keadaan yang paling tidak dikehendaki di dalam sistem pengendalian. Gambar 7. Respon sistem pengendalian otomatis