BAB II LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
Radio dan Medan Elektromagnetik

Materi II TEORI DASAR ANTENNA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III PERFORMANSI AKSES BWA

BAB IV ANALISA PERFORMANSI BWA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK. walaupun tidak ada medium dan terdiri dari medan listrik dan medan magnetik

ANALISIS LINK BUDGET PADA PEMBANGUNAN BTS ROOFTOP CEMARA IV SISTEM TELEKOMUNIKASI SELULER BERBASIS GSM

BAB II PEMODELAN PROPAGASI. Kondisi komunikasi seluler sulit diprediksi, karena bergerak dari satu sel

BAB III PROPAGASI GELOMBANG RADIO GSM. Saluran transmisi antara pemancar ( Transmitter / Tx ) dan penerima

Kata Kunci : Radio Link, Pathloss, Received Signal Level (RSL)

BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

BAB II DASAR TEORI. cara menitipkan -nya pada suatu gelombang pembawa (carrier). Proses ini

BAB II TEORI DASAR ANTENA DAN PROPAGASI GELOMBANG RADIO

Istilah istilah umum Radio Wireless (db, dbm, dbi,...) db (Decibel)

BAB 2 PERENCANAAN CAKUPAN

Pengukuran Coverage Outdoor Wireless LAN dengan Metode Visualisasi Di. Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

BAB IV KOMUNIKASI RADIO DALAM SISTEM TRANSMISI DATA DENGAN MENGGUNAKAN KABEL PILOT

Perencanaan Transmisi. Pengajar Muhammad Febrianto

ANALISIS COVERAGE AREA WIRELESS LOCAL AREA NETWORK (WLAN) b DENGAN MENGGUNAKAN SIMULATOR RADIO MOBILE

BAB II CODE DIVISION MULTIPLE ACCESS (CDMA) CDMA merupakan singkatan dari Code Division Multiple Access yaitu teknik

BAB II TEORI DASAR. Propagasi gelombang adalah suatu proses perambatan gelombang. elektromagnetik dengan media ruang hampa. Antenna pemancar memang

BAB IV PERENCANAAN JARINGAN TRANSMISI GELOMBANG MIKRO PADA LINK SITE MRANGGEN 2 DENGAN SITE PUCANG GADING

BAB III PERANCANGAN SISTEM

PEMANCAR&PENERIMA RADIO

Dasar- dasar Penyiaran

Antenna NYOMAN SURYADIPTA, ST, CCNP

BAB III SISTEM JARINGAN TRANSMISI RADIO GELOMBANG MIKRO PADA KOMUNIKASI SELULER

BAB II TEORI DASAR. tracking untuk mengarahkan antena. Sistem tracking adalah suatu sistem yang

ELECTROMAGNETIC WAVE AND ITS CHARACTERISTICS

BAB II LANDASAN TEORI. II. 1. Jenis dan Standar dari Wireless Local Area Network

Dasar Sistem Transmisi

SINGUDA ENSIKOM VOL. 7 NO. 2/Mei 2014

BAB I PENDAHULUAN. ke lokasi B data bisa dikirim dan diterima melalui media wireless, atau dari suatu

I. PENDAHULUAN TNI AU. LATAR BELAKANG Perkembangan Teknologi Komunikasi. Wireless : bandwidth lebih lebar. Kebutuhan Sarana Komunikasi VHF UHF SBM

DASAR TEKNIK TELEKOMUNIKASI

PERENCANAAN ANALISIS UNJUK KERJA WIDEBAND CODE DIVISION MULTIPLE ACCESS (WCDMA)PADA KANAL MULTIPATH FADING

BAB IV. Pada bab ini akan dibahas mengenai perhitungan parameter-parameter pada. dari buku-buku referensi dan dengan menggunakan aplikasi Java melalui

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 5. Hasil Perhitungan Link Budget

SIMULASI LINK BUDGET PADA KOMUNIKASI SELULAR DI DAERAH URBAN DENGAN METODE WALFISCH IKEGAMI

LINK BUDGET. Ref : Freeman FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO

2.1. KONSEP PENGUATAN DAYA (LOSS DAN DECIBELL)

TEKNOLOGI WiMAX untuk Komunikasi Digital Nirkabel Bidang

BAB III. IMPLEMENTASI WiFi OVER PICOCELL

BAB II PROPAGASI GELOMBANG RADIO DALAM PERENCANAAN JARINGAN SISTEM SELULAR

Universitas Kristen Maranatha

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III PERANCANGAN DAN SIMULASI LEVEL DAYATERIMA DAN SIGNAL INTERFERENSI RATIO (SIR) UE MENGGUNAKAN RPS 5.3

BAB III PERENCANAAN MINILINK ERICSSON

TEKNIK TELEKOMUNIKASI DASAR. Kuliah 9 Komunikasi Radio

BAB II JARINGAN MICROWAVE

BAB III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR: 96/DIRJEN/2008 TENTANG

BAB II DASAR TEORI 2.1 Posisi Teknologi WiMAX

2.2 FIXED WIRELESS ACCESS (FWA)

Pertemuan 9 SISTEM ANTENA. DAHLAN ABDULLAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

Bandwidth Transmisi Radio

BESAR DAN UKURAN KINERJA TELEKOMUNIKASI

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

Pengukuran Model Propagasi Outdoor dan Indoor Sistem WiMAX 2.3GHz di Lingkungan Kampus ITB

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III PRINSIP DASAR MODEL PROPAGASI

SEMINAR TUGAS AKHIR ANALISIS LINK BUDGET PADA PEMBANGUNAN BTS ROOFTOP CEMARA IV SISTEM TELEKOMUNIKASI SELULER BERBASIS GSM STUDI KASUS PT TELKOMSEL

BAB II KANAL WIRELESS DAN DIVERSITAS

ANALISA SINYAL WIRELESS DISTRIBUTION SYSTEM BERDASARKAN JARAK ANTAR ACCES POINT PADA PERPUSTAKAAN PROVINSI SUMATERA SELATAN

KARAKTERISASI KANAL PROPAGASI HIGH FREQUENCY BERGERAK DI ATAS PERMUKAAN LAUT

Konsep Propagasi Gelombang EM dan Link Budget

KOMUNIKASI DATA PROGRAM STUDI TEKNIK KOMPUTER DOSEN : SUSMINI I. LESTARININGATI, M.T

Analisa Perencanaan Power Link Budget untuk Radio Microwave Point to Point Frekuensi 7 GHz (Studi Kasus : Semarang)

PERENCANAAN KEBUTUHAN NODE B PADA SISTEM UNIVERSAL MOBILE TELECOMMUNICATION SYSTEM (UMTS) DI WILAYAH UBUD

2.1. KONSEP PENGUATAN DAYA (LOSS DAN DECIBELL)

Radio Propagation. 2

TEKNOLOGI WIMAX UNTUK LINGKUNGAN NON LINE OF SIGHT (Arni Litha)

KARAKTERISASI KANAL PROPAGASI VHF BERGERAK DI ATAS PERMUKAAN LAUT

PERANCANGAN JARINGAN TRANSMISI GELOMBANG MIKRO PADA LINK SITE MRANGGEN 2 DENGAN SITE PUCANG GADING

BAB III PERANCANGAN SFN

Modul 7 EE 4712 Sistem Komunikasi Bergerak Prediksi Redaman Propagasi Oleh : Nachwan Mufti A, ST 7. Prediksi Redaman Propagasi

Telekomunikasi Radio. Syah Alam, M.T Teknik Elektro STTI Jakarta

BAB I PENDAHULUAN. memperoleh informasi baik dari manusia maupun dunia maya semakin

Sistem Transmisi Telekomunikasi. Kuliah 6 Jalur Gelombang Mikro

ANALISIS PENERAPAN MODEL PROPAGASI ECC 33 PADA JARINGAN MOBILE WORLDWIDE INTEROPERABILITY FOR MICROWAVE ACCESS (WIMAX)

PERANCANGAN JARINGAN TRANSMISI GELOMBANG MIKRO PADA LINK SITE MRANGGEN 2 DENGAN SITE PUCANG GADING

Dukungan yang diberikan

Program Studi S1 - Teknik Telekomunikasi Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Telkom BANDUNG, 2012

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II PROPAGASI GELOMBANG RADIO. sistem komunikasi dengan kabel [2]. Gelombang radio adalah radiasi energi

Sistem Transmisi KONSEP PERENCANAAN LINK RADIO DIGITAL

PROPAGASI. REFF : Freeman FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO

PERHITUNGAN PATHLOSS TEKNOLOGI 4G

BAB III PERHITUNGAN LINK BUDGET SATELIT

PERANCANGAN DAN REALISASI ANTENA BIQUAD YAGI DAN ANTENA BIQUAD OMNIDIRECTIONAL SEBAGAI REPEATER PASIF UNTUK MENINGKATKAN DAYA TERIMA SINYAL WCDMA

TEKNIK DIVERSITAS. Sistem Transmisi

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 297 / DIRJEN / 2004 TENTANG

ANALISIS UNJUK KERJA RADIO IP DALAM PENANGANAN JARINGAN AKSES MENGGUNAKAN PERANGKAT HARDWARE ALCATEL-LUCENT 9500 MICROWAVE PACKET RADIO (MPR)

BERITA NEGARA. No.1013, 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA. Penggunaan Pita Frekuensi Radio 2.3GHz. Layanan Wireless Broadband. Prosedur.

Transmisi Signal Wireless. Pertemuan IV

KEGIATAN BELAJAR 2. FREKUENSI GELOMBANG RADIO PADA APLIKASI SISTEM TELEKOMUNIKASI

Transkripsi:

BAB II LANDASAN TEORI.1 Dasar Komunikasi Radio.1.1 Frekuensi Frekuensi adalah jumlah siklus per detik dari sebuah arus bolak balik. Satuan frekuensi adalah Hertz disingkat Hz. Satu (1) Hz adalah frekuensi dimana sebuah arus bolak balik menyelesaikan satu siklus dalam satu detik. Gambar.1. menunjukan subscriberan spectrum frekuensi. Gambar.1. Spektrum Frekuensi Untuk menghitung jumlah frekuensi (f) dalam satu periode (T) dapat dilihat dari persamaan berikut : dimana : f = frequency dalam Hertz (getaran/detik) T = periode dalam detik 4

.1. Panjang Gelombang Panjang Gelombang atau Wavelength adalah jarak antar dua titik identik dalam sebuah siklus. Dalam sistem komunikasi radio, biasanya diukur dalam satuan meter, centimeter atau milimeter. Gambar.. Panjang Gelombang Frekuensi dan panjang gelombang digambarkan dalam persamaan: dimana : λ = wavelength dalam meters f = frequency dalam Hertz (getaran/detik) c = kecepatan cahaya (3x10 8 meter/detik) 5

Tabel.1. Hubungan antara Spektrum dan Panjang gelombang Band Singkatan Frekwensi Panjang Gelombang Extremely Low Frequency ELF 30 Hz - 300 Hz 10 Mm - 1 Mm Very Low Frequency VLF 3 khz - 30 khz 100 km - 10 km Low Frequency LF 30 khz - 300 khz 10 km - 1 km Medium Frequency MF 300 khz - 3 MHz 1 km - 100 m High Frequency HF 3 MHz - 30 MHz 100 m - 10 m Very High Frequency VHF 30 MHz - 300 MHz 10 m - 1 m Ultra High Frequency UHF 300 MHz - 3 GHz 1 m - 100 mm Super High Frequency SHF 3 GHz - 30 GHz 100 mm - 10 mm Extremely High Frequency EHF 30 GHz - 300 GHz 10 mm - 1 mm.1.3 Daya Pancar / Transmit (Tx) Power Radio mempunyai daya untuk menyalurkan sinyal pada frekuensi tertentu, daya tersebut disebut transmit (Tx) Power dan dihitung dari besar energi yang disalurkan melalui satu lebar frekwensi (bandwidth). Daya pancar biasanya di ukur dengan salah satu satuan berikut : db = daya relative terhadap satu (1) milliwatt W = daya linier sebagai Watts.1.4 Received (Rx) Sensitivity / Sensitivitas Penerima Radio Semua radio memiliki point of no return, yaitu keadaan dimana radio menerima sinyal kurang dari Rx Sensitivity yang ditentukan, dan radio tidak mampu melihat data-nya. Rx Sensitivity yang sebetulnya dari radio akan bervariasi tergantung dari banyak faktor. Bagi sebagian besar radio, sensitifitas RX di definisikan sebagai level dari Bit Error Rate (BER). Standard Bit Error Rate (BER) yang digunakan yaitu 10-9 (99.999%) artinya dari pengiriman data sebanyak 10 9 bit hanya boleh ada satu bit yang error. 6

.1.5 Decible (db) Decibels (db) adalah Perbandingan daya dalam logaritmik dimana: P( mw ) P dbm = 10 log (.1) 1mW Contoh : 100 mw 10 log = 1 mw 0 dbm Sinyal 100 milli Watt jika dijadikan dbm akan menjadi : 0 dbw = 0 db + 30 dbm = 30 dbm.1.6 Penguatan Antena Dalam komunikasi radio, antena digunakan untuk merubah gelombang listrik menjadi gelombang elektromagnit yang akan merambat di udara. Penguatan antena adalah besarnya penguatan energi yang dapat dilakukan oleh antena pada saat memancarkan dan menerima sinyal. Penguatan antena diukur dalam : - dbi : relative terhadap antena isotropic (antenna titik) - dbd: relative terhadap sebuah antena dipole dimana 0 dbd =,15 dbi Pengaturan yang dilakukan oleh FCC harus memenuhi ketentuan dari besarnya daya yang keluar dari antena. Daya ini diukur berdasarkan dua cara : 1. Effective Isotropic Radiated Power (EIRP) EIRP( db) = P ( db) + G ( dbi) L ( db) (.) TX TX TX. Effective Radiated Power (ERP) ERP( db) = P ( db) + G ( dbd) L ( db) (.3) TX TX TX 7

.1.7 Kehilangan Daya (Losses) Pada komunikasi radio, ada banyak faktor yang menyebabkan kehilangan kekuatan sinyal, seperti kabel, konektor, penangkal petir dan lainnya yang akan menyebabkan turunnya unjuk kerja dari radio jika dipasang sembarangan. Pada radio yang daya-nya rendah, setiap db adalah sangat berarti, dan harus diingat 3 db Rule. Setiap kenaikan atau kehilangan 3 db, kita akan mendapatkan dua kali lipat daya (gain) atau kehilangan setengahnya (loss), contoh : -3 db = 1/ daya (kehilangan setengah daya) -6 db = 1/4 daya (kehilangan seperempat daya) +3 db = x daya (double daya) +6 db = 4x daya (naik daya empat kali) Sumber yang menyebabkan kehilangan daya dalam sistem komunikasi radio : free space, kabel, konektor, jumper dan hal-hal yang tidak terlihat..1.8 Antena Jenis antena yang akan dipasang harus sesuai dengan sistem yang akan kita bangun, juga disesuaikan dengan kebutuhan penyebaran sinyalnya. Ada dua jenis antena secara umum : 1. Directional Antena jenis ini merupakan jenis antena dengan narrow beamwidth, yaitu punya sudut pemancaran yang kecil dengan daya lebih terarah, jaraknya jauh dan tidak bisa menjangkau area yang luas, contohnya : antena Yagi, Panel, Sektoral dan antena Parabolik. Omni Directional Antena ini mempunyai sudut pancaran yang besar (wide beamwidth) yaitu 360º; dengan daya lebih meluas, jarak yang lebih pendek tetapi dapat melayani area yang luas. 8

. BWA (Broadband Wireless Access) BWA merupakan salah satu contoh media akses berbasis Radio Frekuensi. BWA mentransmisikan informasi dengan menggunakan gelombang radio antara pelanggan dengan perusahaan penyedia jasa layanan BWA. Kecepatannya di atas 64 Kbps. Konfigurasi jaringannya umumnya bersifat point to multipoint dengan teknologi multiplexing TDMA (Time Division Multiple Access). Cakupan areanya (coverage) antara s/d 6 Km. Teknologi BWA muncul disebabkan oleh : 1. Keterbatasan jaringan terrestrial. Kecepatan pemenuhan kebutuhan jaringan pelanggan 3. Kebutuhan perluasan coverage 4. Kebutuhan backup jaringan dengan media lain BWA merupakan salah satu produk Lintasarta yang berbasis wireless. Produk ini dipakai dalam rangka untuk mengatasi apabila dilokasi pelanggan sudah tidak memungkinkan lagi untuk memakai jasa terestrial. BWA Lintasarta menggunakan produk Netro type Air Star dan sudah mendapatkan lisensi dari Postel tanggal 17 Juni 00 yaitu : 1. Base Station : Sertifikat Nomor 01368/POSTEL/00. Subscriber Terminal : Sertifikat Nomor 01369/POSTEL/00 Alokasi Frekuensi 10 GHz yang telah diberikan oleh Postel kepada PT.Lintasarta berdasarkan : 1. Surat Ditjen Postel No. 34/IV.1./DITFREK/X/0 tgl. 5 Oktober 00, perihal Penetapan Alokasi Pita Frekuensi Radio. Surat Ditjen Postel No. 15/IV.1./DITFREK/II/003 tgl. 14 Februari 003, perihal Pemberitahuan Alokasi Pita Frekuensi Radio..3 PASSPORT Passport merupakan suatu konsep jaringan yang memanfaatkan jaringan umum untuk membentuk suatu jaringan khusus yang menggunakan perangkat passport untuk menyediakan layanan multimedia (Data, video, suara dan gambar). 9

Passport memanfaatkan teknologi DOV (Data Over Voice) yang merupakan salah satu metode penumpangan data dengan pada media line telepon, dengan telepon tetap dapat kita gunakan. To PSTN Telepon PC DOV DOV Server Gambar.3. Konfigurasi umum jaringan DOV.4 Propagasi Gelombang Radio.4.1 Dasar Propagasi Gelombang Sinyal yang meninggalkan antena, maka akan merambat dan menghilang di udara. Pemilihan antena akan menentukan bagaimana jenis rambatan yang akan terjadi. Pada komunikasi radio sangat penting jika kita memasang kedua perangkat pada jalur yang bebas dari halangan. Jika rambatan sinyal terganggu, maka penurunan kwalitas sinyal akan terjadi dan mengganggu komunikasinya. Pohon, gedung, tanki air, dan tower adalah perangkat yang sering mengganggu rambatan sinyal. Dalam mendisain sistem komunikasi radio, sangat penting untuk memahami karakteristik kondisi lintasan propagasi sinyal. Rugi-rugi lintasan dapat sangat besar dikarenakan adanya pengaruh dari tinggi antena terminal yang rendah, banyaknya halangan pada kondisi lingkungan sekitar yang banyak pepohonan atau bangunan-bangunan seperti di kota besar. Oleh karena itu kondisi Line of Sight (LOS) sangat kecil atau jarang sekali kemungkinannya untuk terjadi. 10

Pengaruh perambatan gelombang terhadap RSL (Receive Signal Level) ada dua macam, yaitu : 1. LOS (Line Of Sight) Gambar.4. Kondisi Line Of Sight (LOS) Pada kondisi LOS, akan menghasilkan signal yang bagus sehingga sehingga signal yang dihasilkan akan mencapai nilai maksimal.. NLOS (No LOS) Gambar.5. Kondisi No LOS (NLOS) Pada kondisi NLOS, terdapat penghalang pada daerah fresnel sehingga signal yang dihasilkan kurang maksimal 11

Macam propagasi gelombang yang dipilih dipengaruhi oleh frekuensi radio (RF) dan sistem komunikasi radio yang digunakan. Jika dilihat dari frekuensi radio yang digunakan, maka propagasi gelombang yang umum digunakan adalah sebagai berikut : 1. Gelombang permukaan, merambat relatif dekat dengan permukaan bumi jika dibandingkan terhadap panjang gelombangnya, contohnya pada band frekuensi LF ke bawah.. Gelombang ruang (merupakan resultante antara gelombang langsung dan gelombang pantul), merambat relatif jauh dengan permukaan bumi jika dibandingkan terhadap panjang gelombangnya, contohnya pada Frekuensi Radio > 1GHz, yang juga dikenal sebagai gelombang mikro. 3. Gelombang langit (merupakan gelombang ruang yang dipancarkan ke langit), contoh pada band frekuensi HF. Lintasan gelombang langsung merupakan lintasan bebas pandang (Line of Sight space propagation). Hubungan antara daya pancar dan daya terima telah diturunkan oleh Friis dalam suatu fomula Friis Free Space Propagation Formula, sebagai berikut : 4πd = λ L (.4) Sinyal informasi dipancarkan oleh antena pada stasiun radio. Pemancar ke udara berupa gelombang elektromagnetik, kemudian di stasiun radio penerima diterima oleh antena penerima. Pada pemodelan Friis semua kondisi di stasiun pemancar, stasiun penerima dan kanal radio di udara diasumsikan berada pada kondisi ideal. Pemodelan Friis ini digunakan untuk menentukan besarnya pengaruh ruang bebas terhadap propagasi gelombang. Mula-mula diasumsikan antena di stasiun pemancar dan stasiun penerima berupa antena model, antena isotropis, berupa antena titik, dimana pola radiasinya berupa bola. 1

Gambar.6. Sistem Transmisi Radio Ideal Pada model sistem transmisi radio ideal di atas, rapat daya yang diterima di antenna isotropis penerima : EIRP PTX P d = = (watt/m ) (.5) 4π d 4π d Jika antena di stasiun pemancar dan stasiun penerima diganti dengan antena real, misalnya antena dipole, antena yagi atau antena lainnya. Sedangkan saluran transmisi diasumsikan lossless, dengan : EIRP = P TX.G Tx (watt) (.6) maka rapat daya di antena penerima : P d EIRP = (watt/m ) (.7) 4 π d Sedangkan receiver signal level, RSL adalah : RSL = P d. A eff (.8) 13

Dimana A eff adalah luas efektif antena adalah : A eff = η. A Geometri (.9) Dimana A Geometri adalah luas geometri dari antena, sedangkan hubungan antara gain antena dan luas efektif antena A eff adalah sebagai berikut : 4π. A G r = λ eff (.10) λ A eff = G r. (.11) 4π Sehingga RSL dapat ditulis kembali sebagai berikut : P. G. G λ 1.. 4π 4π d = Tx Tx Rx (watt) (.1) = P Tx. λ.. 4 GTx GRx πd (watt) (.13) Sedangkan rasio antara RSL terhadap daya pancar P Tx, adalah : G Tx. λ. 4 GRx πd (.14) Dari persamaan di atas terlihat bahwa rasio tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh G Tx dan G Rx, tetapi juga oleh suatu parameter λ 4 πd yang merupakan 1/L fs. Jadi L fs merupakan rugi-rugi ruang bebas yang dialami oleh pancaran gelombang elektromagnetik, yaitu : 4π d L fs = (.15) λ 14

L fs _ db = 3.4 + 0 log d km + 0 log f MHz (.16) Gelombang radio yang merambat dari antena pengirim (transmitter) ke antena penerima (receiver) dipengaruhi oleh faktor-faktor propagasi..4. Model Propagasi Teknik pemodelan propagasi digunakan dengan tujuan untuk menentukan atenuasi gelombang radio selama menjalar dari antenna transmitter ke antenna receiver. Beberapa dari model propagasi yang terkenal adalah Hata model, COST 31 Walfisch/Ikegami Model, COST 31 Hata Model, Wideband PCS Microcell Model..4.3 Redaman Ruang Bebas (Free Space Loss) Redaman propagasi dianggap sebagai redaman ruang bebas (free space loss) jika clearance bebas dari penghalang dirumuskan sebagai berikut : L FS = 3,45 + 0.log( f MHz ) + 0.log( d km ) (.17) L FS = 36,6 + 0. log( f MHz ) + 0. log( d miles ) (.18) Daerah Fresnel Daerah Fresnel adalah tempat kedudukan titik-titik sinyal tak langsung dalam lintasan gelombang radio dimana daerah tersebut dibatasi oleh gelombang tak langsung yang lain dengan beda panjang lintasan kelipatan dari setengah panjang gelombang langsung. Jari-jari daerah fresnel ke-n dirumuskan pada persamaan berikut : R n. d1. d 17,3 n f. d = (.19) 15

Huygen Fresnel menyusun teori difraksi yang diakibatkan oleh obstacle, dengan asumsi difraksi terjadi pada medium yang homogen, dimana volume ruang obstacle sangat kecil sehingga efek gradien bisa diabaikan. Medan elektromagnetik yang diterima di penerima merupakan resultante/jumlahan dari medan langsung maupun medan tidak langsung yang diakibatkan reradiasi small meremental areas yang dekat dari pemancar. Medan magnet berada pada jarak konstan, misal r 1 yang membentuk spherical surface, akan memiliki kecepatan phasa yang konstan pada semua arah dalam ruang bebas. Permukaan phase yang konstan ini disebut sebagai wave front. Gambar.7. Fresnel Zone Dengan menggunakan asumsi tersebut di atas, Fresnel mendefinisikan Fresnel Zone sebagai spherical surface yang merupakan tempat kedudukan titiktitik sinyal tak langsung dalam lintasan gelombang radio, dimana daerah tersebut dibatasi oleh gelombang tak langsung (indirect signal) yang mempunyai beda panjang lintasan dengan sinyal langsung sebesar 1/λ atau n. 1/λ. Beberapa tipe fresnel Zone : 1. Fresnel Zone I 16

Jika beda panjang lintasan sinyal langsung dan sinyal tak langsung (pada batas zona) adalah 1/λ.. Fresnel Zone II Jika beda panjang lintasan sinyal langsung dan sinyal tak langsung (pada batas zona) adalah kali 1/λ. Dengan asumsi Fn >> λ maka : Dimana : n. λ. d. d d + d 1 R n = = 17. 3 R n n 1 n fghz = jari-jari Fresnel ke n (m) = Fresnel zone ke n d 1. d d 1 d + d 1 = jarak ujung lintasan (T x atau R x ) ke titik refleksi (km) d f (.0) = jarak ujung lintasan yang lain (T x atau R x ) ke titik refleksi (km) = frekuensi (GHz) Faktor Koreksi Kelengkungan Bumi Perambatan gelombang dalam analisis selalu dimanipulasi sebagai garis lurus, sehingga bumi digambarkan dengan radius yang lain yaitu radius efektif bumi. Perbandingan antara radius efektif bumi dengan radius bumi yang sebenarnya diberikan oleh suatu faktor skala yang disebut dengan faktor K. Berikut rumus dari faktor K : Re K = Ro (.1) Dimana : K = faktor skala (Umumnya digunakan 4/3) Re = radius efektif bumi Ro = radius bumi yang sebenarnya Fading 17

Fading adalah salah satu gangguan yang terjadi pada sistem komunikasi data. Fading adalah variasi/fluktuasi phase, polarisasi dan atau level daya terima/rsl sebagai fungsi waktu. Umumnya fading disebabkan oleh pengaruh mekanisme propagasi terhadap gelombang radio, berupa refleksi, refraksi, difraksi, hamburan, atenuasi, dan ducting. Dengan kata lain fading diakibatkan oleh kondisi geometri dan meteorologi lingkungan sistem tersebut. Fading terjadi disebabkan oleh dua faktor utama yaitu : 1. Multipath Fading Perjalanan sinyal dari pemancar ke penerima melalui lebih dari satu lintasan yang disebabkan pantulan gelombang oleh benda benda seperti gedung, rumah, pohon dan benda benda disekitarnya.. Fluktuasi Path Loss Variasi rata-rata sinyal local yang diterima selama mobile unit berubah posisi. Fluktuasi tersebut disebabkan variasi kontur daerah sepanjang lintasan propagasi antara base station dan mobile unit. Interferensi Ketika terjadi pengulangan frekuensi, terdapat resiko interferensi misal dari Perangkat radio lain yang menggunakan frekuensi yang sama (Co-channel Interference). Namun demikian dengan jarak yang cukup besar antar Perangkat terhadap radius memungkinkan interfernsi dapat dikendalikan atau dengan perencanaan pengulangan frekuensi dan sektorisasi sel dengan menggunakan antena berarah (Directional Antenna). Kemudian interferensi kanal bersebelahan (Adjacent Channel Interfernce) terjadi akibat penggunaan kanal yang bersebelahan dalam satu sel atau penggunaan kanal pada sel yang bersebelahan dengan frekuensi yang berdekatan. Interferensi lainnya yaitu interfernsi intersimbol (Intersymbol Interference) terjadi akibat yang ditimbulkan oleh efekmultipath sehingga menimbulkan delay spread khususnya daerah perkotaan (Urban). 18

Power Link Budget Link budget merupakan salah satu elemen penting dalam design sistem radio. Link budget memasukkan semua masalah yang berkaitan dengan propagasi antara Base Radio Unit (BRU) dan Subscriber Radio Unit (SRU). Link budget harus memperhitungkan semua gain dan loss serta margin untuk berbagai macam path impairment yang dialami oleh sinyal radio dari transmitter ke receiver. Link budget memiliki dua jalur up link dan down link. Jalur uplink merupakan jalur dari unit pengguna (SRU) ke base station (BRU). Sedangkan jalur downlink merupakan jalur dari base station (BRU) ke unit pengguna (SRU). Path loss didapat dengan menambahkan dan mengurangkan komponen komponen link budget. Path loss maksimum yang digunakan adalah path loss terkecil diantara jalur uplink atau jalur downlink. Jarak maksimum antara base station dengan mobile station diturunkan dari path loss maksimum tersebut, dengan menggunakan model propagasi yang sesuai untuk daerah tersebut dan frekuensi yang digunakan. Komponen komponen link budget adalah sebagai berikut : 1. Daya kirim (Transmit power), pada jalur uplink yang diperhitungkan adalah daya kirim SRU (Tx Power) dan jalur downlink yang diperhitungkan adalah daya kirim BRU (BS Tx Power). Gain Antena (Antena gain), ini merupakan ukuran dari kemampuan antena untuk menaikan daya sinyal. 3. Receiver sensitivity, Daya sinyal terendah yang masih dapat diterima oleh receiver dan masih dapat dimodulasi dengan baik pada tingkat kualitas yang masih dapat diterima. Pada jalur uplink yang diperhitungkan adalah BRU Receiver Sensitivity dan pada jalur downlink yang diperhitungkan adalah SRU Receiver Sensitivity. 19

4. Cable Loss, Loss yang berasal dari kabel yang menghubungkan antara base station dengan antena. 5. Propagation Loss, Loss yang berasal dari kabel atau noise yang terjadi pada waktu propagasi sinyal radio yang menghubungkan antara base station dengan Subcriber station. Fade margin, Margin yang dibutuhkan untuk mengatasi multipath fading yang disebabkan oleh lingkungan disekitar Radio. 0