BAB II LANDASAN TEORI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II LANDASAN TEORI"

Transkripsi

1 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Dasar Sistem Komunikasi Radio Frekuensi Radio (RF) Penggunaan Radio Frequency (RF) tidak asing lagi bagi kita, contoh penggunaannya adalah pada stasiun radio, stasiun televisi, dan telepon cordless. RF selalu dihadapi oleh masalah spektrum yang terbatas, sehingga harus dipertimbangkan dalam memilih spektrum yang tersedia. Pemancar televisi menggunakan RF sebagai media transmisi karena cakupan wilayahnya luas, dapat menembus dinding, dan biaya untuk sistem penerimanya murah. Pada sistem pemancar televisi dipergunakan RF untuk transmisi sinyal informasi yang akan dikirim dari pemancar ke penerima. Alokasi frekuensi yang dipergunakan untuk sistem pemancar televisi adalah pada pita very high frequency (VHF) dan pita ultra high frequency (UHF) Propagasi Gelombang Radio Propagasi adalah proses merambatnya gelombang radio mulai dari pemancar sampai pada titik penerima. Dalam hal ini udara adalah media perambatannya. Dalam perjalanan gelombang radio mengalami beberapa sifat atau perlakuan yang disebabkan oleh kondisi alam yang dilaluinya. Gelombang radio yang dipancarkan antena pemancar bisa merambat ke segala arah. Sifat propagasi gelombang radio yang dipancarkan oleh antenna tersebut tergantung dari frekuensi gelombang radio yang merambat. Perambatan gelombang tersebut dikategorikan kedalam beberapa mode propagasi gelombang yaitu : 1. Ground wave (gelombang bumi) 2. Surface wave (gelombang permukaan tanah) 3. Sky wave (gelombang angkasa) 4. Space wave (gelombang ruang) Untuk klasifikasi frekuensi radio dan mode propagasi gelombang dapat dilihat pada Tabel 2.1. Terlihat bahwa mode propagasi gelombang radio pada sistem pemancar televisi adalah propagasi space wave. Tabel 2.1 Klasifikasi Pita Frekuensi menurut International Frequency Registered Board (IFRB) 17

2 Klasifikasi Batas Frekuensi Panjang Gelombang Mode Propagasi VLF 3-30 KHz > 10 Km Ground Wave dan Surface Wave LF KHz 1-10 Km Surface Wave MF MHz 1-10 Hm Surface Wave HF 3-30 MHz 1-10 Dam Sky Wave VHF MHz 1-10 m Space Wave UHF GHz 1-10 dm Space Wave SHF 3-30 GHz 1-10 cm Space Wave Pembagian Frekuensi Radio untuk Televisi Frekuensi dan lebar pita yang dialokasikan untuk sistem pemancar televisi telah ditentukan oleh suatu badan internasional yaitu ITU (International Telecommunication Union). Pembagian saluran frekuensi untuk sistem radio broadcast dapat dilihat pada Tabel 2.2 dimana didalamnya terdapat alokasi saluran televisi pada pita tiga, empat dan lima. Untuk pembagian saluran televisi pada pita UHF yang lebih detil dapat dilihat pada Tabel 2.3. Tabel 2.2 Pembagian Frekuensi untuk Saluran Radio Broadcast ITU Pita Range Frekuensi Saluran Lebar Pita ( MHz ) I II Radio FM - III ( VHF ) IV ( UHF ) V ( UHF )

3 Tabel 2.3 Pembagian Frekuensi UHF untuk Saluran Televisi Standar ITU Pita Nomor Saluran Frekuensi Video (MHz) Frekuensi Audio (Mhz) Range Frekuensi (MHz) ,25 476, ,25 484, ,25 492, ,25 500, ,25 508, ,25 516, IV ,25 524, ,25 532, ,25 540, ,25 548, ,25 556, ,25 564, ,25 572, ,25 580, ,25 588, ,25 596, ,25 604, ,25 612, ,25 620, V ,25 628, ,25 636, ,25 644, ,25 652, ,25 660, ,25 668, Tabel 2.3 Pembagian Frekuensi UHF untuk Saluran Televisi Standar ITU (lanjutan) 19

4 Pita Nomor Saluran Frekuensi Video (MHz) Frekuensi Audio (Mhz) Range Frekuensi (MHz) ,25 676, ,25 684, ,25 692, ,25 700, ,25 708, ,25 716, V ,25 724, ,25 732, ,25 740, ,25 748, ,25 756, ,25 764, ,25 772, ,25 780, ,25 788, Sifat Frekuensi Radio Saat terjadi proses transmisi dari pemancar ke penerima, frekuensi radio yang dipancarkan ke udara oleh antena di ubah menjadi gelombang elektromagnetik. Selama proses propagasi di udara, gelombang elektromagnetik mengalami beberapa sifat atau perlakuan karena pengaruh lintasan yang akan dilaluinya. Berikut adalah beberapa sifat frekuensi radio : a. Pantulan/Reflection Pantulan terjadi ketika propagasi gelombang elektromagnetik terkena suatu objek yang berdimensi sangat besar dibanding dengan panjang gelombang dari gelombang yang berpropagasi. Pantulan muncul dari permukaan bumi, gedung, 20

5 dinding, dan hambatan lainnya. Jika permukaan halus, pantulan sinyal dapat tetap utuh, walaupun terdapat loss karena penyebaran dan penyerapan sinyal. Pantulan sinyal RF dapat menyebabkan masalah yang serius pada system pemancar VHF/UHF. Pantulan sinyal utama yang menyebar dari suatu objek pada suatu area transmisi dinamakan multipath. Multipath dapat menyebabkan kerugian yang berefek negatif, seperti menurunkan kualitas sinyal utama. Permukaan danau, permukaan tanah, atap dari logam, logam yang menimbulkan cahaya yang silau, pintu logam, dan lainnya yang menyebabkan pantulan, membuat terjadinya multipath. b. Refraksi/Refraction Refraksi merupakan membeloknya gelombang radio ketika melewati suatu medium yang berbeda kepadatannya. Ketika gelombang RF melewati medium yang lebih padat (seperti kolam air dingin yang ada pada lembah), gelombang akan membelok sedemikian rupa sehingga arahnya berubah. Ketika melewati medium tersebut, sebagian gelombang akan terpantul dari jalur sinyal awal, dan sebagian lagi akan dibelokkan memasuki medium tadi dengan arah yang berubah. c. Difraksi/Difraction Difraksi muncul ketika jalur transmisi gelombang radio antara pemancar dan penerima terhalang oleh permukaan yang tidak rata atau kasar. Terkadang sulit membedakan apakah itu difraksi atau refraksi. Difraksi berarti gelombang berbelok disekitar objek penghalang dan refraksi berarti gelombang berbelok melalui suatu medium. d. Penyebaran/Scattering Penyebaran terjadi ketika medium yang dilewati gelombang terdiri dari objek yang memiliki dimensi yang kecil dibandingkan panjang gelombang dari sinyal dan jumlah objek hambatannya besar. Gelombang yang menyebar dihasilkan oleh permukaan yang tajam, objek yang kecil ataupun ketidakrataan pada jalur tempat sinyal itu bergerak. 21

6 e. Penyerapan/Absorbtion Penyerapan muncul ketika sinyal RF terkena suatu objek dan terserap ke dalam material dari objek dengan kata lain sinyal tidak melewati, ter-refleksi ataupun berbelok mengelilingi objek Line of Sight (LOS) Dalam bidang frekuensi VHF dan UHF, sinyal dirambatkan oleh gelombanggelombang radio yang dekat ke permukaan bumi. Dengan demikian jarak transmisi adalah terbatas pada lintasan garis lurus ke horizon. Karakteristik ini disebut dengan transmisi garis pandangan atau disebut dengan istilah Line Of Sight (LOS). Pada frekuensi radio, LOS dapat terganggu oleh Zona Fresnell. Gambar 2.1 Line Of Sight Zona Fresnell Zona Fresnell merupakan suatu area berbentuk ellipsoida yang mengelilingi jalur LOS. Zona Fresnell mempunyai beberapa daerah batas yang dapat menjadi syarat untuk suatu lintasan sinyal komunikasi LOS sehingga dapat menjadi acuan bilamana sinyal RF berinterferensi atau terhalang sesuatu. Jari-jari Zona Fresnell dinotasikan dengan Rn dengan persamaan berikut :...( 2.1 ) 22

7 Keterangan : Rn = Jari jari Zona Fresnell (m) d1 = Jarak dari pemancar ke penghalang (Km) d2 = Jarak dari penghalang ke penerima (Km) f = Frekuensi Operasi (GHz) n = Zona Fresnell ke 1,2,.. Ukuran minimum daerah bersih yang bebas halangan untuk menghasilkan sinyal yang bagus (clearence) didapat dari 0,6 Zona Fresnell pertama (0,6 Rn). Gambar 2.2 Zona Fresnell Kelengkungan Bumi Efek kelengkungan bumi juga berpengaruh terhadap propagasi sinyal diatas permukaan bumi. Faktor kelengkungan bumi mempunyai nilai yang berbeda-beda di setiap tempatnya tetapi faktor kelengkungan bumi yang paling efektif adalah k = 4/3 = (1,333). Dengan faktor k = 4/3, maka persamaan efek kelengkungan bumi adalah : ( 2.2 ) Keterangan : Ec = Efek Kelengkungan Bumi ( m ) d1 = Jarak penghalang dengan pengirim ( Km ) d2 = Jarak penghalang dengan penerima ( Km ) 23

8 2.1.8 Satuan Daya dan Redaman pada RF Daya RF baik pada pemancar maupun penerima biasanya dinyatakan dalam Watt. Akan tetapi dapat juga dinyatakan dalam db atau dbm. Satuan ini juga dipergunakan untuk satuan redaman. Korelasi antara db dan Watt adalah sebagai berikut : P (db) = 10 log P (W)...(2.3) Dengan P adalah daya dalam satuan Watt yang dikonversikan ke satuan db. P (dbm) = 10 log P (mw)...(2.4) Dengan P adalah daya dalam satuan miliwatt yang dikonversikan ke satuan dbm Feeder Loss dan Redaman Konektor Besarnya redaman feeder ditentukan oleh jenis dan panjang feeder. Tiap-tiap feeder mempunyai redaman tertentu dalam db/m yang ditentukan oleh pabrik pembuatnya. Salah satu yang harus diperhatikan dalam pemilihan feeder dan konektor adalah Voltage Standing Wave Ratio (VSWR). VSWR merupakan suatu perbandingan nilai yang disebabkan oleh pantulan amplitudo tegangan pada titik dimana terdapat ketidakseimbangan impedansi (missmatch impedance) yang ada pada jalur sinyal sehingga dapat menyebabkan return loss Redaman Ruang Bebas Akibat penyebaran energi, daya yang diterima oleh antena penerima akan lebih kecil dari pada daya pancar. Kehilangan daya akibat penyebaran energy disebut redaman ruang bebas (Lf). Persamaannya adalah: Lf = log f + 20 log d (2.5) Keterangan : Lf = redaman ruang bebas (db) f = frekuensi operasi (MHz) d = jarak antar pengirim dan penerima (Km) 24

9 Fading Fading didefinisikan sebagai variasi sinyal yang diterima setiap saat sebagai fungsi dari fasa, polarisasi atau level sinyal terima. Fading terjadi akibat proses propagasi gelombang radio meliputi pembiasan, pantulan, difraksi, hamburan dan redaman. Pada Tabel 2.4 dapat dilihat besarnya redaman yang disebabkan oleh fading pada daerah frekuensi 30 MHz sampai dengan 3000 MHz. Terdapat 2 (dua) macam fading yaitu : 1. Flat fading, disebabkan oleh terjadinya ducting dan redaman hujan. 2. Frequency Selective Fading, disebabkan oleh multipath reception (karena proses pantulan). Tabel 2.4 Redaman yang disebabkan oleh Fading 2.2 Antena Antena merupakan perangkat yang berfungsi untuk mengubah energi listrik menjadi gelombang RF (elektromagnetik) pada antena pemancar dan mengubah gelombang RF menjadi energi listrik pada antena penerima. Cakupan antenna adalah salah satu faktor yang penting dalam sistem transmisi gelombang radio karena dalam daerah cakupan tersebut sistem dapat berlangsung. Antena dapat diklasifikasikan kedalam antena-antena resonansi, dimana terdapat distribusi arus dalam pola gelombang berdiri, dan antena-antena bukan resonansi (non resonant antena), dimana arus terdapat sebagai gelombang berjalan (traveling wave). Antena televisi adalah suatu contoh dari antena resonansi, yang panjang antenanya adalah setengah dari panjang gelombang, oleh karena itu mempunyai sifat-sifat resonansi Polarisasi Antena 25

10 Polarisasi gelombang dapat diartikan sebagai arah dari vektor medan listrik terhadap arah rambatan. Polarisasi linier ialah jika vektor medan listrik tetap berada pada bidang sama, seperti ditunjukkan pada gambar 2.3. Gelombang yang dipolarisasi linier yang dipancarkan diatas permukaan bumi dengan vektor medan listrik tegak disebut polarisasi vertikal, sedangkan jika vektor medan listrik sejajar dengan permukaan bumi maka disebut polarisasi horisontal. Sebagai contoh di Amerika Utara transmisi televisi adalah dalam polarisasi horisontal, dan terlihat antena-antena penerimanya juga terpasang mendatar (horisontal) sama seperti yang diterapkan di Indonesia. Sementara di Inggris dipergunakan polarisasi vertikal, dan terlihat antena-antena penerimanya terpasang tegak (vertikal). Agar dapat menerima sinyal yang maksimum, polarisasi antena penerima Gambar 2.3 Polarisa si Linier harus sama dengan polarisasi antena pemancar. Seperti terlihat pada gambar 2.4(a), sebuah dipole memancarkan gelombang dengan polarisasi linier vertikal, maka antena penerima sejajar listrik dipole harus diarahkan dengan vektor untuk memperoleh penerimaan yang maksimum. Jika diarahkan dengan sudut tertentu ψ, seperti terlihat pada gambar 2.4(b), maka hanya komponen medan listtrik yang sejajar dengan antena penerima saja yang akan mengimbas sinyal kedalamnya. 26

11 (a) (b) Gambar 2.4 (a) Dua Antena dipole yang dipasang dengan polarisasi yang sama, (b) dipole penerima dalam bidang yang sama tetapi polarisasinya salah arah Linier Antena Isotropis Isotropis berarti sama baiknya ke semua arah. Sehingga antena isotropis adalah antena yang memancarkan gelombang sama baiknya ke semua arah. Pada praktisnya antena akan memancar lebih baik ke beberapa arah tertentu dan tifak mungkin isotropis. Meskipun demikian, konsep antena isotropis sangat berguna sebagai standar pembanding bagi antena-antena praktis. Daya per unit sudut ruang dinyatakan dengan dalam satuan W/sr, dengan Ps adalah daya masukan ke antenna Penguatan Antena dan Keterarahan Penguatan antena dapat didefinisikan sebagai perbandingan daya per unit sudut ruang P(θ,φ), fungsi dari kordinat-kordinat sudut θ dan φ, terhadap daya per unit sudut ruang yang dipancarkan oleh antena isotropis tanpa rugi. Fungsi penguatan dinyatakan dengan. Penguatan dalam antena berarti bahwa antena tersebut memusatkan atau memfokuskan daya pada arah maksimum, ini tidak meningkatkan daya total yang dipancarkan. Penguatan antena erat hubungannya dengan directive gain D(θ,φ), yang merupakan perbandingan dari P(θ,φ) terhadap daya rata-rata per unit sudut ruang yang dipancarkan oleh antena sebenarnya. Daya rata-rata per unit sudut ruang adalah, dimana ηa adalah efisiensi antena dan Ps adalah daya masukan. Nilai maksimum dari D(θ,φ) disebut sebagai directivity (keterarahan) Pola Radiasi Antena 27

12 Pola radiasi antena merupakan grafik representasi dari sifat antena dalam koordinat ruang. Pola radiasi menggambarkan sifat radiasi antena pada medan terjauh. Pola radiasi antena berbentuk lobe-lobe yang terdiri dari major lobe dan minor lobe. Secara umum terdapat 2 (dua) pola radiasi antena, yaitu: a. Antena Omni-directional Antena pemancar yang umum digunakan adalah antena dipole. Dipole adalah sebuah antena omni-directional, karena meradiasikan energi sama besar ke segala arah dalam azimuth. Antena ini biasanya digunakan untuk perancangan point-tomultipoint. Gambar 2.5 adalah contoh cakupan area sebuah antenna omnidirectional. G agambar 2.5 Cakupan area antenna omni-directional b. Antena Directional Antena directional meradiasikan dan menerima sinyal pada arah tertentu. Antena directional mempunyai bentuk yang berbeda-beda. Tipe antenna directional yang digunakan pada pemancar televisi adalah antena Panel. Antena panel merupakan rangkaian beberapa antena dipole setengah gelombang yang disusun secara paralel dan terdapat reflektor dibagian belakangnya. Gambar 2.6 adalah contoh cakupan area antena directional. 28

13 Gambar 2.6 Cakupan Area antenna directional dibanding dengan isotropis Antena Dipole Setengah Gelombang Antena dipole setengah gelombang merupakan antena resonan yang panjang total nominalnya adalah setengahnya panjang gelombang dari frekuensi kerjanya. Gambar 2.7 memperlihatkan sebuah antena dipole setengah gelombang beserta distribusi arusnya. Gambar 2.7 Dipole dengan distibusi Setengah gelombang arusnya EIRP (Effective Isotropic Radiated Power) 29

14 EIRP merupakan bentuk daya yang dipancarkan oleh antena. EIRP tergantung dari besarnya daya pemancar, redaman saluran transmisi, dan penguatan antena. Persamaan EIRP adalah sebagai berikut : EIRP = Pt Ltx + Gtx.... (2.6) Sedangkan sinyal yang diterima oleh penerima adalah sebagai berikut : Pr = EIRP Lf + Grx - Lrx....(2.7) Keterangan : Pt = Daya dari pemancar (db) Pr = Daya yang diterima oleh penerima (db) Lf = Redaman ruang bebas (db) Ltx = Redaman pada saluran pemancar (db) Lrx = Redaman pada saluran penerima (db) Gtx = Penguatan antena pemancar (db) Grx = Penguatan antena penerima (db) Intensitas Medan Pada sistem transmisi radio analog, kinerja sistem akan diukur dengan kuat medan. Persamaan yang dipergunakan untuk menghitung kinerja sistem adalah sebagai berikut : ( 2.8 ) Sedangkan kuat medan dengan efek pantulan : ( 2.9 ) Keterangan : Eo = kuat medan langsung (db) Er = kuat medan dengan pemantulan (db) G = penguatan antena pemancar (kali) P = daya pemancar (Watt) d = jarak antara pemancar dan penerima (m) ht = tinggi antena pemancar (m) 30

15 hr = tinggi antena penerima (m) λ = panjang gelombang (m) Kerapatan Daya Rapat daya radiasi adalah berbanding terbalik dengan kuadrat jarak sumber radiasi antena isotropis yang menyebar kesegala arah, persamaannya dapat dituliskan sebagai berikut :.( 2.10 ) dengan P dalam satuan (W/m2) dan Pt adalah daya pancar serta d adalah jarak. Hubungan antara kuat medan Eo dengan rapat daya adalah : ( 2.11 ) dengan Z impedansi karakteristik ruang adalah µ/c, dan µo = 1, H/m dan co = 8, F/m (µo permiabilitas magnet pada ruang bebas dan co permitivitas pada ruang bebas). Maka Z (ruang bebas) = 0, W/m Sistem Komunikasi Satelit Satelit komunikasi adalah sebuah pesawat ruang angkasa yang ditempatkan pada orbit disekeliling bumi yang didalamnya terdapat peralatan-peralatan penerima dan pemancar gelombang mikro yang mampu menerima dan memancarkan kembali gelombang-gelombang mikro dari satu titik ke titik lainnya di bumi. Pelayanan-pelayanan komunikasi satelit yang diberikan meliputi rangkaian telekomunikasi dari titik ke titik, wilayah cakupan televisi dalam daerah yang luas, dan pelayanan-pelayanan navigasi seperti GPS (Global Positioning System) serta komunikasi bagi kapal laut dan pesawat. Pada sistem pemancar televisi, sistem komunikasi satelit dipergunakan untuk merelay atau mendistribusikan sinyal gambar dan suara yang berasal dari stasiun pusat (Jakarta) ke stasiun relay (stasiun pemancar daerah). Oleh karena itu, diperlukan pemahaman tentang dasar-dasar sistem komunikasi satelit dalam perencanaan sistem pemancar televisi yang akan dirancang. 31

16 2.3.1 Sub Sistem dalam Komunikasi Satelit Secara garis besar komunikasi dengan sistem satelit terbagi menjadi dua segmen yaitu space segment dan ground segment. Sub sistem dalam segmen pada satelit yang terkait dengan sistem distribusi sinyal untuk stasiun pemancar televise adalah transponder pada space segment dan antena parabola pada ground segment Alokasi Frekuensi pada Transponder Merupakan seluruh perangkat elektronika yang berfungsi untuk memperkuat sinyal yang diterima, menggeser frekuensinya, dan memperkuat sinyal yang telah digeser tersebut untuk dipancarkan kembali. Pada umumnya satelit memiliki transponder dengan dua jenis polarisasi yaitu horisontal dan vertikal. Masingmasing polarisasi terdiri dari 12 transponder. Alokasi frekuensi masing-masing transponder untuk downlink dan uplink tampak pada gambar 2.8 dan gambar 2.9. Frekuensi downlink untuk polarisasi horisontal dimulai dari 3700 MHz sampai dengan 4180 MHz sedangkan untuk polarisasi vertikal dimulai dari frekuensi 3720 MHz sampai dengan 4200 MHz. Frekuensi uplink untuk polarisasi vertical dimulai dari 5925 MHz sampai dengan 6405 MHz sedangkan untuk polarisasi horisontal dimulai dari 5945 MHz sampai dengan 6425 MHz. Gambar 2.8 Alokasi frekuensi transponder downlink pada pita C-band 32

17 Gambar 2.9 Alokasi frekuensi transponder uplink pada pita C-band Tabel 2.5 Alokasi frekuensi satelit komunikasi Frekuensi Peruntukan (MHz) Fixed Service Komersial (C-Band) Militer (X-Band) Komersial (K-Band) Domestik Internasional Downlink Frekuensi Uplink (MHz) Maritim Aeronautical Mobile Service ,5 1543,5 1558, Broadcast Service Telemetry, Tracking, and Command 33

18 ; ; Antena Parabola Antena parabola berfungsi untuk memancarkan sinyal ke satelit dan menerima sinyal dari satelit. Dari segi penerima, reflektor berfungsi untuk memantulkan sinyal yang datang untuk diarahkan ke satu titik sehingga diperoleh gain yang cukup besar. Sebaliknya dalam hal memancarkan sinyal, reflector berfungsi untuk memantulkan sinyal yang dipancarkan dari titik api untuk diarahkan ke satu arah. Penguatan dari suatu antena parabola sebanding dengan diameternya, semaikn besar diameter antena maka semakin besar penguatannya. Selain diameter antena juga ditentukan oleh frekuensi kerja antena. Semakin tinggi frekuensi kerja, semakin tinggi pula penguatannya. Faktor lain yang menentukan penguatan adalah efisiensi antena. Efisiensi ini ditentukan oleh bentuk fisik antenna seperti : ketidak rataan permukaan reflektor, perbedaan kelengkungan parabola dan kehomogenan bahan yang digunakan. Penguatan antena parabola dapat ditentukan dengan Persamaan ( 2.12 ) Keterangan : G = Gain antena parabola (db) f = Frekuensi kerja (GHz) D = Diameter antena (m) η = Efisiensi antenna Parameter-parameter Penting dalam Komunikasi Satelit Pada hakekatnya sistem komunikasi bertujuan untuk mengirimkan sinyal 34

19 untuk menghasilkan perbandingan antara sinyal informasi dengan noise yang sebesar mungkin yaitu memaksimalkan S/N (signal to noise ratio) dengan daya sekecil mungkin. Dalam kaitannya dengan perhitungan S/N dalam pemakaian satelit, berikut ini diuraikan parameter-parameter yang biasa dipakai : a. EIRP (Effective Isotropic Radiated Power) EIRP merupakan bentuk daya yang dipancarkan oleh antena, EIRP tergantung dari besarnya daya pemancar, redaman saluran transmisi, dan penguatan antena. Persamaan EIRP adalah sebagai berikut : 1 EIRP = Pt Ltx + Gtx. (persamaan 2.6) Sedangkan sinyal yang diterima oleh penerima adalah sebagai berikut : Pr = EIRP Lf + Grx - Lrx..(persamaan 2.7) Keterangan : Pt = Daya dari pemancar (db) Pr = Daya yang diterima oleh penerima (db) Lf = Redaman ruang bebas (db) Ltx = Redaman pada saluran pemancar (db) Lrx = Redaman pada saluran penerima (db) Gtx = Penguatan antena pemancar (db) Grx = Penguatan antena penerima (db) b. Redaman Ruang Bebas (Path Loss) Redaman ruang bebas merupakan daya yang hilang akibat proses propagasi energi elektromagnetik melalui ruang. Daya sinyal yang dikeluarkan oleh suatu sumber terbatas, dengan semakin jauhnya jarak maka besarnya daya persatuan luas yang diterima di suatu tempat akan semakin mengecil. Besarnya penurunan ini 35

20 biasanya dianggap sebagai suatu rugi-rugi yang umum dikenal sebagai pathloss atau free sace loss. Persamaan mengenai path loss ini adalah: Lf = log f + 20 log d.(persamaan 2.5) Keterangan : Lf = redaman ruang bebas (db) d = jarak antar pengirim dan penerima (Km) f = frekuensi operasi (MHz) c. G/T G/T adalah perbandingan antara penguatan dengan noise temperatur antena. Parameter ini sangat berpengaruh pada penerimaan sinyal yang berasal dari satelit. Gambar 2.10 Diagram Blok Stasiun Bumi Penerima Persamaan G/T pada stasiun bumi penerima dianalisa pada input LNA sebagaimana pada Gambar Adapun persamaan G/T tersebut adalah : G/T = G R - 10 log T s db/k...(2.13) Keterangan : G R = G ant L IFL T s = T In + T LNA T In = [T ant (L IFL 1)]/L IFL d. Eb/No 36

21 Eb/No adalah perbandingan tiap bit yang diterima (watt.detik) dengan daya spektral noise (watt/hertz). Parameter Eb/No berkaitan langsung dengan parameter C/N dengan hubungan sebagai berikut : Eb/No=C/N - 10 log (TR/B)...(2.14) Keterangan : B = Bandwidth Occupied (Hz) = (1 + a) x (Tr / n) = (1 + a) x R / (n x FEC) Tr = Transmission rate (bps) R = Data rate (bps) = Info rate + Over Head a = Roll of factor dari filter = 0.2 (typical) n = indeks modulasi; n = 1 (BPSK), n = 2 (QPSK) FEC = Forward Error Correction = 1/2, 3/4, 7/8 e. BER (Bit Error Rate) BER adalah perbandingan antara jumlah bit informasi yang diterima secara tidak benar dengan jumlah bit informasi yang ditransmisikan pada selang waktu tertentu. Semakin rendah nilai dari parameter BER yang dihasilkan maka semakin baik performansi suatu sistem transmisi Persamaan persamaan dalam Link Budget Pengkalkulasian link satelit terdiri atas kalkulasi C/N Uplink dan kalkulasi C/N Downlink, serta C/N total. Adapun persamaan-persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut : Kalkulasi Uplink : C/N uplink = EIRP sb - Loss propagasi uplink + G/T satelit - k - B..(2.15) Di mana: EIRP sb = P tx + G tx = P tx - Loss IFL + G tx..(2.16) Loss propagasi uplink = Free Space Loss uplink + Rain Attenuation uplink + Atmosp. Att. uplink + Tx Pointing Loss uplink...(2.17) k = konstanta Boltzmann = 1,38 x J/K B = Bandwidth Occupied (Hz) Kalkulasi Downlink : C/N downlink = EIRPsat sat. - Loss prop. downlink + G/T sb - k - B..(2.18) 37

22 Di mana: k = konstanta Boltzmann = 1,38 x J/K B = Bandwidth Occupied (Hz) OBO i = OBO per carrier OBO agg = OBO aggregate Kalkulasi C/N Total : C/N (total) = [(C/N) -1 (uplink) + (C/N) -1 (downlink)] -1...(2.19) GPS (Global Positioning System) GPS adalah suatu sistem penentuan posisi di permukaan bumi dengan menggunakan beberapa satelit referensi. Penggunaan dari GPS antara lain sebagai alat penentuan posisi, pengarah sasaran rudal, dan sistem navigasi (mobil, pesawat terbang, kapal laut). Adapun Prinsip kerja dari GPS adalah sebagai berikut : - Menghitung jarak antara penerima GPS dan satelit dengan mengukur waktu tiba sinyal yang dikirimkan. - Satelit memberikan informasi akurat kepada penerima GPS posisi satelit tersebut pada orbitnya. - Penerima GPS mengolah data yang dikirimkan dari sedikitnya 3 (tiga) satelit referensi. Sedangkan fungsi dasar dari satelit GPS adalah sebagai berikut : - Menerima dan menyimpan informasi yang ditransmisikan oleh segmen pengendali. - Melakukan pemrosesan data yang terbatas dengan bantuan mikroprosessor yang dimiliki. 38

23 - Menjaga waktu yang sangat akurat dengan menggunakan beberapa osilator yang dibawanya. - Memancarkan informasi ke pemakai dengan bantuan berbagai sinyal. - Melakukan gerakan dengan bantuan pendorong yang dikendalikan operator sistem. 39

Radio dan Medan Elektromagnetik

Radio dan Medan Elektromagnetik Radio dan Medan Elektromagnetik Gelombang Elektromagnetik Gelombang Elektromagnetik adalah gelombang yang dapat merambat, Energi elektromagnetik merambat dalam gelombang dengan beberapa karakter yang bisa

Lebih terperinci

BAB II GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK. walaupun tidak ada medium dan terdiri dari medan listrik dan medan magnetik

BAB II GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK. walaupun tidak ada medium dan terdiri dari medan listrik dan medan magnetik BAB II GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK 2.1 Umum elektromagnetik adalah gelombang yang dapat merambat walaupun tidak ada medium dan terdiri dari medan listrik dan medan magnetik seperti yang diilustrasikan pada

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR. Propagasi gelombang adalah suatu proses perambatan gelombang. elektromagnetik dengan media ruang hampa. Antenna pemancar memang

BAB II TEORI DASAR. Propagasi gelombang adalah suatu proses perambatan gelombang. elektromagnetik dengan media ruang hampa. Antenna pemancar memang BAB II TEORI DASAR 2.1. PROPAGASI GELOMBANG Propagasi gelombang adalah suatu proses perambatan gelombang elektromagnetik dengan media ruang hampa. Antenna pemancar memang didesain untuk memancarkan sinyal

Lebih terperinci

Materi II TEORI DASAR ANTENNA

Materi II TEORI DASAR ANTENNA Materi II TEORI DASAR ANTENNA 2.1 Radiasi Gelombang Elektromagnetik Antena (antenna atau areal) adalah perangkat yang berfungsi untuk memindahkan energi gelombang elektromagnetik dari media kabel ke udara

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Komunikasi Point to Point Komunikasi point to point (titik ke titik ) adalah suatu sistem komunikasi antara dua perangkat untuk membentuk sebuah jaringan. Sehingga dalam

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR ANTENA DAN PROPAGASI GELOMBANG RADIO

BAB II TEORI DASAR ANTENA DAN PROPAGASI GELOMBANG RADIO BAB II TEORI DASAR ANTENA DAN PROPAGASI GELOMBANG RADIO 2.1 Umum Salah satu teknologi pengamatan vertikal atmosfer dari permukaan adalah peluncuran balon sonde atau radiosonde. Radiosonde adalah sebuah

Lebih terperinci

BAB 8 HIGH FREQUENCY ANTENNA. Mahasiswa mampu menjelaskan secara lisan/tertulis mengenai jenis-jenis frekuensi untuk

BAB 8 HIGH FREQUENCY ANTENNA. Mahasiswa mampu menjelaskan secara lisan/tertulis mengenai jenis-jenis frekuensi untuk BAB 8 HIGH FREQUENCY ANTENNA Kompetensi: Mahasiswa mampu menjelaskan secara lisan/tertulis mengenai jenis-jenis frekuensi untuk komunikasi, salah satunya pada rentang band High Frequency (HF). Mahasiswa

Lebih terperinci

LINK BUDGET. Ref : Freeman FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO

LINK BUDGET. Ref : Freeman FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO LINK BUDGET Ref : Freeman 1 LINK BUDGET Yang mempengaruhi perhitungan Link Budget adalah Frekuensi operasi (operating frequency) Spektrum yang dialokasikan Keandalan (link reliability) Komponen-komponen

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR. tracking untuk mengarahkan antena. Sistem tracking adalah suatu sistem yang

BAB II TEORI DASAR. tracking untuk mengarahkan antena. Sistem tracking adalah suatu sistem yang BAB II TEORI DASAR 2.1 Umum Kualitas suatu sistem komunikasi sangat ditentukan oleh kuat sinyal yang diterima. Salah satu cara agar sinyal dapat diterima secara maksimal adalah dengan mengarahkan antena

Lebih terperinci

BAB IV LINK BUDGET ANALYSIS PADA JARINGAN KOMUNIKASI

BAB IV LINK BUDGET ANALYSIS PADA JARINGAN KOMUNIKASI BAB IV LINK BUDGET ANALYSIS PADA JARINGAN KOMUNIKASI 4.1. Tujuan Link Budget Analysis Tujuan dari perencanaan link budget analysis adalah untuk memperoleh unjuk kerja transmisi yang baik dan efisien terhadap

Lebih terperinci

Dasar- dasar Penyiaran

Dasar- dasar Penyiaran Modul ke: Fakultas FIKOM Dasar- dasar Penyiaran AMPLITUDO MODULATON FREQUENCY MODULATON SHORT WAVE (SW) CARA KERJA PEMANCAR RADIO Drs.H.Syafei Sikumbang,M.IKom Program Studi BROAD CASTING Judul Sub Bahasan

Lebih terperinci

BAB IV KOMUNIKASI RADIO DALAM SISTEM TRANSMISI DATA DENGAN MENGGUNAKAN KABEL PILOT

BAB IV KOMUNIKASI RADIO DALAM SISTEM TRANSMISI DATA DENGAN MENGGUNAKAN KABEL PILOT BAB IV KOMUNIKASI RADIO DALAM SISTEM TRANSMISI DATA DENGAN MENGGUNAKAN KABEL PILOT 4.1 Komunikasi Radio Komunikasi radio merupakan hubungan komunikasi yang mempergunakan media udara dan menggunakan gelombang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pendahuluan Perkembangan antenna saat ini semakin berkembang terutama untuk system komunikasi. Antenna adalah salah satu dari beberapa komponen yang paling kritis. Perancangan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 PERENCANAAN LINK MICROWAVE Tujuan utama dari perencanaan link microwave adalah untuk memastikan bahwa jaringan microwave dapat beroperasi dengan kinerja yang tinggi pada segala

Lebih terperinci

Sistem Transmisi Telekomunikasi. Kuliah 6 Jalur Gelombang Mikro

Sistem Transmisi Telekomunikasi. Kuliah 6 Jalur Gelombang Mikro TKE 8329W Sistem Transmisi Telekomunikasi Kuliah 6 Jalur Gelombang Mikro Indah Susilawati, S.T., M.Eng. Program Studi Teknik Elektro Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas

Lebih terperinci

BAB II PEMODELAN PROPAGASI. Kondisi komunikasi seluler sulit diprediksi, karena bergerak dari satu sel

BAB II PEMODELAN PROPAGASI. Kondisi komunikasi seluler sulit diprediksi, karena bergerak dari satu sel BAB II PEMODELAN PROPAGASI 2.1 Umum Kondisi komunikasi seluler sulit diprediksi, karena bergerak dari satu sel ke sel yang lain. Secara umum terdapat 3 komponen propagasi yang menggambarkan kondisi dari

Lebih terperinci

ELECTROMAGNETIC WAVE AND ITS CHARACTERISTICS

ELECTROMAGNETIC WAVE AND ITS CHARACTERISTICS WIRELESS COMMUNICATION Oleh: Eko Marpanaji INTRODUCTION Seperti dijelaskan pada Chapter 1, bahwa komunikasi tanpa kabel menjadi pilihan utama dalam membangun sistem komunikasi dimasa datang. Ada beberapa

Lebih terperinci

TEKNIK TELEKOMUNIKASI DASAR. Kuliah 9 Komunikasi Radio

TEKNIK TELEKOMUNIKASI DASAR. Kuliah 9 Komunikasi Radio TKE 2102 TEKNIK TELEKOMUNIKASI DASAR Kuliah 9 Komunikasi Radio Indah Susilawati, S.T., M.Eng. Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Mercu Buana Yogyakarta 2009 B A

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA EVALUASI SISTEM TRANSMISI STASIUN RELAY TRANS 7 CAKUPAN WILAYAH JABODETABEK

UNIVERSITAS INDONESIA EVALUASI SISTEM TRANSMISI STASIUN RELAY TRANS 7 CAKUPAN WILAYAH JABODETABEK i UNIVERSITAS INDONESIA EVALUASI SISTEM TRANSMISI STASIUN RELAY TRANS 7 CAKUPAN WILAYAH JABODETABEK SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik Elektro RONNYKO J SITUMEANG

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR ANTENA. Dilihat dari latar belakang telekomunikasi berupa komunikasi wireless,

BAB II TEORI DASAR ANTENA. Dilihat dari latar belakang telekomunikasi berupa komunikasi wireless, BAB II TEORI DASAR ANTENA 2.1 Umum Dilihat dari latar belakang telekomunikasi berupa komunikasi wireless, antena radio pertama dibuat oleh Heinrich Hertz yang tujuannya untuk membuktikan keberadaan gelombang

Lebih terperinci

Telekomunikasi Radio. Syah Alam, M.T Teknik Elektro STTI Jakarta

Telekomunikasi Radio. Syah Alam, M.T Teknik Elektro STTI Jakarta Telekomunikasi Radio Syah Alam, M.T Teknik Elektro STTI Jakarta Telekomunikasi Radio Merupakan suatu bentuk komunikasi modern yang memanfaatkan gelombang radio sebagai sarana untuk membawa suatu pesan

Lebih terperinci

Mengetahui peranan antena pada sistem telekomunikasi. Memahami macam dan bentuk antena yang digunakan dalam sistem telekomunikasi.

Mengetahui peranan antena pada sistem telekomunikasi. Memahami macam dan bentuk antena yang digunakan dalam sistem telekomunikasi. Mengetahui peranan antena pada sistem telekomunikasi. Memahami macam dan bentuk antena yang digunakan dalam sistem telekomunikasi. Mengetahui bagian-bagian antena yang digunakan dalam sistem telekomunikasi.

Lebih terperinci

DASAR TEKNIK TELEKOMUNIKASI

DASAR TEKNIK TELEKOMUNIKASI DTG1E3 DASAR TEKNIK TELEKOMUNIKASI Klasifikasi Sistem Telekomunikasi By : Dwi Andi Nurmantris Dimana Kita? Dimana Kita? BLOK SISTEM TELEKOMUNIKASI Message Input Sinyal Input Sinyal Kirim Message Output

Lebih terperinci

BAB III INTERFERENSI RADIO FM DAN SISTEM INTERMEDIATE DATA RATE (IDR)

BAB III INTERFERENSI RADIO FM DAN SISTEM INTERMEDIATE DATA RATE (IDR) BAB III INTERFERENSI RADIO FM DAN SISTEM INTERMEDIATE DATA RATE (IDR) 3.1 Interferensi Radio FM Pada komunikasi satelit banyak ditemui gangguan-gangguan (interferensi) yang disebabkan oleh banyak faktor,

Lebih terperinci

Kata Kunci : Radio Link, Pathloss, Received Signal Level (RSL)

Kata Kunci : Radio Link, Pathloss, Received Signal Level (RSL) Makalah Seminar Kerja Praktek ANALISIS KEKUATAN DAYA RECEIVE SIGNAL LEVEL(RSL) MENGGUNAKAN PIRANTI SAGEM LINK TERMINAL DI PT PERTAMINA EP REGION JAWA Oleh : Hanief Tegar Pambudhi L2F006045 Jurusan Teknik

Lebih terperinci

CARA KERJA SATELIT. Dalam hal perencanaan frekuensi ini (frequency planning), dunia dibagi menjadi 3, yaitu:

CARA KERJA SATELIT. Dalam hal perencanaan frekuensi ini (frequency planning), dunia dibagi menjadi 3, yaitu: CARA KERJA SATELIT Primo riveral [email protected] Abstrak Satelit Komunikasi adalah sebuah satelit buatan yang di tempatkan di angkasa dengan tujuan telekomunikasi. Satelit komunikasi modern menggunakan

Lebih terperinci

SISTEM KOMUNIKASI SATELIT PERBANDINGAN PERHITUNGAN LINK BUDGET SATELIT DENGAN SIMULASI SOFTWARE DAN MANUAL

SISTEM KOMUNIKASI SATELIT PERBANDINGAN PERHITUNGAN LINK BUDGET SATELIT DENGAN SIMULASI SOFTWARE DAN MANUAL T U G A S SISTEM KOMUNIKASI SATELIT PERBANDINGAN PERHITUNGAN LINK BUDGET SATELIT DENGAN SIMULASI SOFTWARE DAN MANUAL Oleh: Aulya Rahman 11221708 Irfan Irawan 11221718 STRATA - 1 / FTI TEKNIK ELEKTRO TELEKOMUNIKASI

Lebih terperinci

Pertemuan 9 SISTEM ANTENA. DAHLAN ABDULLAH

Pertemuan 9 SISTEM ANTENA. DAHLAN ABDULLAH Pertemuan 9 SISTEM ANTENA DAHLAN ABDULLAH [email protected] http://www.dahlan.web.id PENDAHULUAN Dalam sejarah komunikasi, perkembangan teknik informasi tanpa menggunakan kabel ditetapkan dengan

Lebih terperinci

1. PENGERTIAN PEMANCAR RADIO

1. PENGERTIAN PEMANCAR RADIO 1. PENGERTIAN PEMANCAR RADIO 2. SISTEM MODULASI DALAM PEMANCAR GELOMBANG RADIO Modulasi merupakan metode untuk menumpangkan sinyal suara pada sinyal radio. Maksudnya, informasi yang akan disampaikan kepada

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI.1 Dasar Komunikasi Radio.1.1 Frekuensi Frekuensi adalah jumlah siklus per detik dari sebuah arus bolak balik. Satuan frekuensi adalah Hertz disingkat Hz. Satu (1) Hz adalah frekuensi

Lebih terperinci

BAB III PERHITUNGAN LINK BUDGET SATELIT

BAB III PERHITUNGAN LINK BUDGET SATELIT BAB III PERHITUNGAN LINK BUDGET SATELIT 3.1 Link Budget Satelit Link budget satelit adalah suatu metode perhitungan link dalam perencanaan dan pengoperasian jaringan komunikasi menggunakan satelit. Dengan

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK FREKUENSI TINGGI DAN GELOMBANG MIKRO

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK FREKUENSI TINGGI DAN GELOMBANG MIKRO LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK FREKUENSI TINGGI DAN GELOMBANG MIKRO No Percobaan : 01 Judul Percobaan Nama Praktikan : Perambatan Gelombang Mikro : Arien Maharani NIM : TEKNIK TELEKOMUNIKASI D3 JURUSAN TEKNIK

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pendahuluan Pengertian sistem jaringan komunikasi Radio Gelombang Mikro yang paling sederhana adalah saling berkomunikasinya antara titik A dan titik B dengan menggunakan perangkat

Lebih terperinci

BAB III PERENCANAN STASIUN RELAY SIARAN TELEVISI SWASTA NASIONAL (TRANSTV) UNTUK COVERAGE AREA PALEMBANG DAN SEKITARNYA

BAB III PERENCANAN STASIUN RELAY SIARAN TELEVISI SWASTA NASIONAL (TRANSTV) UNTUK COVERAGE AREA PALEMBANG DAN SEKITARNYA BAB III PERENCANAN STASIUN RELAY SIARAN TELEVISI SWASTA NASIONAL (TRANSTV) UNTUK COVERAGE AREA PALEMBANG DAN SEKITARNYA 3.1 Penentuan Lokasi Stasiun Pemancar Penentuan lokasi stasiun pemancar televisi

Lebih terperinci

BAB II KANAL WIRELESS DAN DIVERSITAS

BAB II KANAL WIRELESS DAN DIVERSITAS BAB II KANAL WIRELESS DAN DIVERSITAS.1 Karakteristik Kanal Nirkabel Perambatan sinyal pada kanal yang dipakai dalam komunikasi terjadi di atmosfer dan dekat dengan permukaan tanah, sehingga model perambatan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORITIS

BAB II TINJAUAN TEORITIS BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1 TINJAUAN PUSTAKA Sistem Televisi pada dasarnya terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu, sisi penghasil sinyal yang disebut sebagai sisi studio, dan sisi penyaluran yang disebut

Lebih terperinci

Dasar Sistem Transmisi

Dasar Sistem Transmisi Dasar Sistem Transmisi Dasar Sistem Transmisi Sistem transmisi merupakan usaha untuk mengirimkan suatu bentuk informasi dari suatu tempat yang merupakan sumber ke tempat lain yang menjadi tujuan. Pada

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR. Studi Hasil Perencanaan dan Analisa Daya Pemancar Stasiun Relay PT. Televisi Transformasi Indonesia Madiun

TUGAS AKHIR. Studi Hasil Perencanaan dan Analisa Daya Pemancar Stasiun Relay PT. Televisi Transformasi Indonesia Madiun TUGAS AKHIR Studi Hasil Perencanaan dan Analisa Daya Pemancar Stasiun Relay PT. Televisi Transformasi Indonesia Madiun Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat Dalam mencapai gelar Sarjana Strata Satu

Lebih terperinci

BAB II ANTENA MIKROSTRIP. dalam sistem komunikasi tanpa kabel atau wireless. Perancangan antena yang baik

BAB II ANTENA MIKROSTRIP. dalam sistem komunikasi tanpa kabel atau wireless. Perancangan antena yang baik BAB II ANTENA MIKROSTRIP 2.1 Pengertian Antena Antena merupakan salah satu dari beberapa komponen yang paling kritis dalam sistem komunikasi tanpa kabel atau wireless. Perancangan antena yang baik akan

Lebih terperinci

BAB III PERENCANAAN MINILINK ERICSSON

BAB III PERENCANAAN MINILINK ERICSSON BAB III PERENCANAAN MINILINK ERICSSON Tujuan utama dari perancangan Minilink Ericsson ini khususnya pada BTS Micro Cell adalah merencanakan jaringan Microwave untuk mengaktifkan BTS BTS Micro baru agar

Lebih terperinci

BAB II PROPAGASI GELOMBANG MENENGAH

BAB II PROPAGASI GELOMBANG MENENGAH BAB II PROPAGASI GELOMBANG MENENGAH. GELOMBANG MENENGAH Berdasarkan spektrum frekuensi radio, pita frekuensi menengah adalah gelombang dengan rentang frekuensi yang terletak antara 300 khz sampai 3 MHz

Lebih terperinci

ANALISIS LINK BUDGET PADA PEMBANGUNAN BTS ROOFTOP CEMARA IV SISTEM TELEKOMUNIKASI SELULER BERBASIS GSM

ANALISIS LINK BUDGET PADA PEMBANGUNAN BTS ROOFTOP CEMARA IV SISTEM TELEKOMUNIKASI SELULER BERBASIS GSM ANALISIS LINK BUDGET PADA PEMBANGUNAN BTS ROOFTOP CEMARA IV SISTEM TELEKOMUNIKASI SELULER BERBASIS GSM Kevin Kristian Pinem, Naemah Mubarakah Konsentrasi Teknik Telekomunikasi, Departement Teknik Elektro

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ke lokasi B data bisa dikirim dan diterima melalui media wireless, atau dari suatu

BAB I PENDAHULUAN. ke lokasi B data bisa dikirim dan diterima melalui media wireless, atau dari suatu 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Transmisi merupakan suatu pergerakan informasi melalui sebuah media jaringan telekomunikasi. Transmisi memperhatikan pembuatan saluran yang dipakai untuk mengirim

Lebih terperinci

PEMANCAR&PENERIMA RADIO

PEMANCAR&PENERIMA RADIO PEMANCAR&PENERIMA RADIO Gelombang elektromagnetik gelombang yang dapat membawa pesan berupa sinyal gambar dan suara yang memiliki sifat, dapat mengarungi udara dengan kecepatan sangat tinggi sehingga gelombang

Lebih terperinci

ANALISA INTERFERENSI FM TERHADAP LINK TRANSMISI SATELIT INTERMEDIATE DATA RATE

ANALISA INTERFERENSI FM TERHADAP LINK TRANSMISI SATELIT INTERMEDIATE DATA RATE TUGAS AKHIR ANALISA INTERFERENSI FM TERHADAP LINK TRANSMISI SATELIT INTERMEDIATE DATA RATE Tugas Akhir Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana Teknik Disusun Oleh : Nama : Meiza Andina

Lebih terperinci

DASAR TELEKOMUNIKASI. Kholistianingsih, S.T., M.Eng

DASAR TELEKOMUNIKASI. Kholistianingsih, S.T., M.Eng DASAR TELEKOMUNIKASI Kholistianingsih, S.T., M.Eng KONTRAK PEMBELAJARAN UAS : 35% UTS : 35% TUGAS : 20% KEHADIRAN : 10% KEHADIRAN 0 SEMUA KOMPONEN HARUS ADA jika ada satu komponen yang kosong NILAI = E

Lebih terperinci

Pemancar&Penerima Televisi

Pemancar&Penerima Televisi Pemancar&Penerima Televisi Pemancar Bagian yg sangat vital bagi stasiun penyiaran radio&tv agar tetap mengudara Pemancar TV dibagi 2 bagian utama: sistem suara&sistem gambar Diubah menjadi gelombang elektromagnetik

Lebih terperinci

Perencanaan Transmisi. Pengajar Muhammad Febrianto

Perencanaan Transmisi. Pengajar Muhammad Febrianto Perencanaan Transmisi Pengajar Muhammad Febrianto Agenda : PATH LOSS (attenuation & propagation model) FADING NOISE & INTERFERENCE G Tx REDAMAN PROPAGASI (komunikasi point to point) SKEMA DASAR PENGARUH

Lebih terperinci

PERBANDINGAN KINERJA JARINGAN VERY SMALL APERTURE TERMINAL BERDASARKAN DIAMETER ANTENA PELANGGAN DI PASIFIK SATELIT NUSANTARA MEDAN

PERBANDINGAN KINERJA JARINGAN VERY SMALL APERTURE TERMINAL BERDASARKAN DIAMETER ANTENA PELANGGAN DI PASIFIK SATELIT NUSANTARA MEDAN PERBANDINGAN KINERJA JARINGAN VERY SMALL APERTURE TERMINAL BERDASARKAN DIAMETER ANTENA PELANGGAN DI PASIFIK SATELIT NUSANTARA MEDAN Akbar Parlin, Ali Hanafiah Rambe Konsentrasi Teknik Telekomunikasi, Departemen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memperoleh informasi baik dari manusia maupun dunia maya semakin

BAB I PENDAHULUAN. memperoleh informasi baik dari manusia maupun dunia maya semakin BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Komunikasi merupakan kebutuhan manusia yang sangat penting. untuk memperoleh informasi baik dari manusia maupun dunia maya semakin meningkat, sehingga manusia

Lebih terperinci

Propagasi gelombang radio atau gelombang elektromagnetik dipengaruhi oleh banyak faktor dalam bentuk yang sangat kompleks kondisi yang sangat

Propagasi gelombang radio atau gelombang elektromagnetik dipengaruhi oleh banyak faktor dalam bentuk yang sangat kompleks kondisi yang sangat Propagasi gelombang radio atau gelombang elektromagnetik dipengaruhi oleh banyak faktor dalam bentuk yang sangat kompleks kondisi yang sangat bergantung pada keadaan cuaca dan fenomena luar angkasa yang

Lebih terperinci

LABORATORIUM SWTICHING &TRANSMISI MODUL PRAKTIKUM KOMUNIKASI SATELIT DISUSUN OLEH: WAHYU PAMUNGKAS, ST

LABORATORIUM SWTICHING &TRANSMISI MODUL PRAKTIKUM KOMUNIKASI SATELIT DISUSUN OLEH: WAHYU PAMUNGKAS, ST LABORATORIUM SWTICHING &TRANSMISI MODUL PRAKTIKUM KOMUNIKASI SATELIT DISUSUN OLEH: WAHYU PAMUNGKAS, ST AKADEMI TEKNIK TELEKOMUNIKASI SANDHY PUTRA PURWOKERTO 2005 MODUL PRAKTIKUM KOMUNIKASI SATELIT LAB

Lebih terperinci

BAB 10 ULTRA HIGH FREQUENCY ANTENNA. Mahasiswa mampu menjelaskan secara lisan/tertulis mengenai jenis-jenis frekuensi untuk

BAB 10 ULTRA HIGH FREQUENCY ANTENNA. Mahasiswa mampu menjelaskan secara lisan/tertulis mengenai jenis-jenis frekuensi untuk BAB 10 ULTRA HIGH FREQUENCY ANTENNA Kompetensi: Mahasiswa mampu menjelaskan secara lisan/tertulis mengenai jenis-jenis frekuensi untuk komunikasi, salah satunya pada rentang band Ultra High Frequency (HF).

Lebih terperinci

BAB IV PERENCANAAN JARINGAN TRANSMISI GELOMBANG MIKRO PADA LINK SITE MRANGGEN 2 DENGAN SITE PUCANG GADING

BAB IV PERENCANAAN JARINGAN TRANSMISI GELOMBANG MIKRO PADA LINK SITE MRANGGEN 2 DENGAN SITE PUCANG GADING BAB IV PERENCANAAN JARINGAN TRANSMISI GELOMBANG MIKRO PADA LINK SITE MRANGGEN 2 DENGAN SITE PUCANG GADING 4.1 Analisa Profil Lintasan Transmisi Yang di Rencanakan Jaringan Transmisi Gelombang mikro yang

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR. antena. Selanjutnya akan dijelaskan pula mengenai pengenalan wireless LAN.

BAB II TEORI DASAR. antena. Selanjutnya akan dijelaskan pula mengenai pengenalan wireless LAN. BAB II TEORI DASAR 2.1 Umum Pada bab ini akan dijelaskan tentang teori-teori yang mendasari permasalahan dan penyelesaian tugas akhir ini. Diantaranya adalah pengenalan antena, besaran - besaran pada antena,

Lebih terperinci

BAB IV DATA DAN ANALISA

BAB IV DATA DAN ANALISA BAB IV DATA DAN ANALISA 4.1 Umum Setelah menjalani proses perancangan, pembuatan, dan pengukuran parameter - parameter antena mikrostrip patch sirkular, maka proses selanjutnya yaitu mengetahui hasil pengukuran

Lebih terperinci

BAB II SALURAN TRANSMISI

BAB II SALURAN TRANSMISI BAB II SALURAN TRANSMISI 2.1 Umum Penyampaian informasi dari suatu sumber informasi kepada penerima informasi dapat terlaksana bila ada suatu sistem atau media penyampaian di antara keduanya. Jika jarak

Lebih terperinci

PERENCANAAN JARINGAN VSAT TDMA DI WILAYAH AREA JAYAPURA TUGAS AKHIR

PERENCANAAN JARINGAN VSAT TDMA DI WILAYAH AREA JAYAPURA TUGAS AKHIR PERENCANAAN JARINGAN VSAT TDMA DI WILAYAH AREA JAYAPURA TUGAS AKHIR Oleh ARI PRABOWO 06 06 04 229 2 DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA GENAP 2007/2008 PERENCANAAN JARINGAN

Lebih terperinci

BAB IV EVALUASI KINERJA SISTEM KOMUNIKASI SATELIT

BAB IV EVALUASI KINERJA SISTEM KOMUNIKASI SATELIT BAB IV EVALUASI KINERJA SISTEM KOMUNIKASI SATELIT 4.1 Konstelasi Satelit Konstelasi satelit teledesic terdiri dari 288 satelit pada ketinggian 1375 km atas permukaan bumi dengan coverage global. Satelit

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. PENELITIAN TERDAHULU Sebelumnya penelitian ini di kembangkan oleh mustofa, dkk. (2010). Penelitian terdahulu dilakukan untuk mencoba membuat alat komunikasi bawah air dengan

Lebih terperinci

BAB 2 PERENCANAAN CAKUPAN

BAB 2 PERENCANAAN CAKUPAN BAB 2 PERENCANAAN CAKUPAN 2.1 Perencanaan Cakupan. Perencanaan cakupan adalah kegiatan dalam mendesain jaringan mobile WiMAX. Faktor utama yang dipertimbangkan dalam menentukan perencanaan jaringan berdasarkan

Lebih terperinci

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR: 96/DIRJEN/2008 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR: 96/DIRJEN/2008 TENTANG PERATURAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR: 96/DIRJEN/2008 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI ANTENA BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) NOMADIC PADA PITA FREKUENSI

Lebih terperinci

Pengukuran Coverage Outdoor Wireless LAN dengan Metode Visualisasi Di. Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Pengukuran Coverage Outdoor Wireless LAN dengan Metode Visualisasi Di. Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung Pengukuran Coverage Outdoor Wireless LAN dengan Metode Visualisasi Di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung Eki Ahmad Zaki Hamidi, Nanang Ismail, Ramadhan Syahyadin Jurusan Teknik Elektro

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Antena Antena (antenna atau areal) didefinisikan sebagai suatu struktur yang berfungsi sebagai media transisi antara saluran transmisi atau pemandu gelombang dengan udara, atau

Lebih terperinci

BAB III PROPAGASI GELOMBANG RADIO GSM. Saluran transmisi antara pemancar ( Transmitter / Tx ) dan penerima

BAB III PROPAGASI GELOMBANG RADIO GSM. Saluran transmisi antara pemancar ( Transmitter / Tx ) dan penerima BAB III PROPAGASI GELOMBANG RADIO GSM Saluran transmisi antara pemancar ( Transmitter / Tx ) dan penerima (Receiver / Rx ) pada komunikasi radio bergerak adalah merupakan line of sight dan dalam beberapa

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR. Jika target yang dituju dapat bergerak, maka diperlukan suatu sistem tracking

BAB II TEORI DASAR. Jika target yang dituju dapat bergerak, maka diperlukan suatu sistem tracking BAB II TEORI DASAR 2.1 Umum Kualitas suatu sistem komunikasi sangat ditentukan oleh kuat sinyal yang diterima. Salah satu cara agar sinyal dapat diterima secara maksimal adalah dengan mengarahkan antena

Lebih terperinci

BAB III IMPLEMENTASI VSAT PADA BANK MANDIRI tbk

BAB III IMPLEMENTASI VSAT PADA BANK MANDIRI tbk BAB III IMPLEMENTASI VSAT PADA BANK MANDIRI tbk 3.1. Perencanaan Ruas Bumi Ruas bumi adalah semua perangkat stasiun bumi konsentrator Cipete (hub) termasuk semua terminal di lokasi pelanggan (remote).

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN 54 LAMPIRAN 1 Pengukuran VSWR Gambar 1 Pengukuran VSWR Adapun langkah-langkah pengukuran VSWR menggunakan Networ Analyzer Anritsu MS2034B adalah 1. Hubungkan antena ke salah satu port, pada Networ

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SFN

BAB III PERANCANGAN SFN BAB III PERANCANGAN SFN 3.1 KARAKTERISTIK DASAR SFN Kemampuan dari COFDM untuk mengatasi interferensi multipath, memungkinkan teknologi DVB-T untuk mendistribusikan program ke seluruh transmitter dalam

Lebih terperinci

SATELLITE LINK Review parameter antena, thermal noise, etc Anatomi link satelit Rugi-rugi

SATELLITE LINK Review parameter antena, thermal noise, etc Anatomi link satelit Rugi-rugi SATELLITE LINK 1. Review parameter antena, thermal noise, etc 2. Anatomi link satelit 3. Rugi-rugi 4. Analisa link budget dasar untuk kondisi clear sky dan hujan Obyektif Perkuliahan Dapat memahami antena

Lebih terperinci

Jenis-jenis Antena pada Wireless

Jenis-jenis Antena pada Wireless Jenis-jenis Antena pada Wireless Pengertian Antena Antena adalah alat untuk mengirim dan menerima gelombang elektromagnetik, bergantung kepada pemakaian dan penggunaan frekuensinya, antena bisa berwujud

Lebih terperinci

KARAKTERISASI KANAL PROPAGASI VHF BERGERAK DI ATAS PERMUKAAN LAUT

KARAKTERISASI KANAL PROPAGASI VHF BERGERAK DI ATAS PERMUKAAN LAUT KARAKTERISASI KANAL PROPAGASI VHF BERGERAK DI ATAS PERMUKAAN LAUT Putri Kusuma Ningtyas 2206100144 1) 1) Jurusan Teknik Elektro-FTI, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Kampus ITS, Keputih-Sukolilo, Surabaya-6011

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. (transmitting antenna) adalah sebuah transduser (pengubah) elektromagnetis,

BAB II DASAR TEORI. (transmitting antenna) adalah sebuah transduser (pengubah) elektromagnetis, BAB II DASAR TEORI 2.1 Umum Antena adalah elemen penting yang ada pada sistem telekomunikasi tanpa kabel (nirkabel/wireless), tidak ada sistem telekomunikasi wireless yang tidak memiliki antena. Pemilihan

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR ANTENA

BAB II TEORI DASAR ANTENA BAB II TEORI DASAR ANTENA 2.1 Antena Dipole Antena dipole tunggal adalah suatu antena resonan yang mempunyai panjang total nominal ½ λ pada frekuensi pembawa, biasanya disebut antena dipole setengah gelombang

Lebih terperinci

BAB III TEORI DASAR UHF (Ultra high Frekuensi) UHF adalah merupakan gelombang elektromagnetik yang berada

BAB III TEORI DASAR UHF (Ultra high Frekuensi) UHF adalah merupakan gelombang elektromagnetik yang berada BAB III TEORI DASAR 3.1 UHF (Ultra high Frekuensi) UHF adalah merupakan gelombang elektromagnetik yang berada pada frekuensi antara 300 MHz sampai dengan 3 GHz (3.000 MHz). Panjang gelombang berkisar dari

Lebih terperinci

PERENCANAAN ANALISIS UNJUK KERJA WIDEBAND CODE DIVISION MULTIPLE ACCESS (WCDMA)PADA KANAL MULTIPATH FADING

PERENCANAAN ANALISIS UNJUK KERJA WIDEBAND CODE DIVISION MULTIPLE ACCESS (WCDMA)PADA KANAL MULTIPATH FADING Widya Teknika Vol.19 No. 1 Maret 2011 ISSN 1411 0660 : 34 39 PERENCANAAN ANALISIS UNJUK KERJA WIDEBAND CODE DIVISION MULTIPLE ACCESS (WCDMA)PADA KANAL MULTIPATH FADING Dedi Usman Effendy 1) Abstrak Dalam

Lebih terperinci

Konsep Propagasi Gelombang EM dan Link Budget

Konsep Propagasi Gelombang EM dan Link Budget TTG3D3 Antena Modul#7 Antena dan Propagasi Konsep Propagasi Gelombang EM dan Link Budget Oleh : driansyah, ST, MT 1 Outline Pendahuluan Model Sistem Komunikasi & Channel Modeling Karakteristik Dan Fenomena

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Global Positioning System (GPS) Global Positioning System (GPS) merupakan sebuah sistem navigasi satelit yang digunakan untuk menentukan lokasi yang tepat pada permukaan bumi.

Lebih terperinci

BAB III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 18 BAB III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 3.1 Konsep Perencanaan Sistem Seluler Implementasi suatu jaringan telekomunikasi di suatu wilayah disamping berhadapan dengan

Lebih terperinci

KEGIATAN BELAJAR 2. FREKUENSI GELOMBANG RADIO PADA APLIKASI SISTEM TELEKOMUNIKASI

KEGIATAN BELAJAR 2. FREKUENSI GELOMBANG RADIO PADA APLIKASI SISTEM TELEKOMUNIKASI KEGIATAN BELAJAR. FREKUENSI GELOMBANG RADIO PADA APLIKASI SISTEM TELEKOMUNIKASI A. Pendahuluan Kegiatan belajar ini akan mengajak peserta untuk menganalisis frekuensi gelombang radio pada aplikasi sistem

Lebih terperinci

ANALISIS UNJUK KERJA RADIO IP DALAM PENANGANAN JARINGAN AKSES MENGGUNAKAN PERANGKAT HARDWARE ALCATEL-LUCENT 9500 MICROWAVE PACKET RADIO (MPR)

ANALISIS UNJUK KERJA RADIO IP DALAM PENANGANAN JARINGAN AKSES MENGGUNAKAN PERANGKAT HARDWARE ALCATEL-LUCENT 9500 MICROWAVE PACKET RADIO (MPR) ANALISIS UNJUK KERJA RADIO IP DALAM PENANGANAN JARINGAN AKSES MENGGUNAKAN PERANGKAT HARDWARE ALCATEL-LUCENT 9500 MICROWAVE PACKET RADIO (MPR) Syarifah Riny Rahmaniah 1), Fitri Imansyah 2), Dasril 3) Program

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Terdahulu Pada penelitian terdahulu, rangkaian receiver dan transmitter dibuat dengan prinsip kerjanya menggunakan pantulan gelombang. Penggunaannya, rangkaian transmitter

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Antena adalah sebuah komponen yang dirancang untuk bisa memancarkan

BAB II DASAR TEORI. Antena adalah sebuah komponen yang dirancang untuk bisa memancarkan BAB II DASAR TEORI 2.1 Antena Antena merupakan elemen penting yang terdapat dalam sistem telekomunikasi tanpa kabel (wireless). Pemilihan antena yang tepat, perancangan yang baik dan pemasangan yang benar

Lebih terperinci

PROPAGASI UMUM PEMBAGIAN BAND FREKUENSI RADIO

PROPAGASI UMUM PEMBAGIAN BAND FREKUENSI RADIO PROPAGASI UMUM Apabila kita berbicara tentang propagasi maka kita menyentuh pengetahuan yang berhubungan dengan pancaran gelombang radio. Seperti kita ketahui bahwa apabila kita transmit, pesawat kita

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2. 1 Umum Antena adalah perangkat yang berfungsi untuk memindahkan energi gelombang elektromagnetik dari media kabel ke udara atau sebaliknya dari udara ke media kabel. Sistem Telekomunikasi

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. suatu media transmisi (Forouzan, 2007). transmitter, transmission system, receiver, dan media

BAB 2 LANDASAN TEORI. suatu media transmisi (Forouzan, 2007). transmitter, transmission system, receiver, dan media BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Komunikasi Data Komunikasi data merupakan pertukaran data antara dua devicemelalui suatu media transmisi (Forouzan, 2007). 2.1.1. Komponen Komunikasi Data Komunikasi data terdiri

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORITIS

BAB II TINJAUAN TEORITIS BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1 Tinjauan Pustaka Perangkat elektronik atau perangkat komunikasi dapat saling berhubungan diperlukan antena yang menggunakan frekuensi baik sebagai pemancar ataupun penerima.

Lebih terperinci

BAB III SISTEM JARINGAN TRANSMISI RADIO GELOMBANG MIKRO PADA KOMUNIKASI SELULER

BAB III SISTEM JARINGAN TRANSMISI RADIO GELOMBANG MIKRO PADA KOMUNIKASI SELULER BAB III SISTEM JARINGAN TRANSMISI RADIO GELOMBANG MIKRO PADA KOMUNIKASI SELULER 3.1 Struktur Jaringan Transmisi pada Seluler 3.1.1 Base Station Subsystem (BSS) Base Station Subsystem (BSS) terdiri dari

Lebih terperinci

PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT PERANGKAT

PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT PERANGKAT 2014, No.69 4 LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TROPOSCATTER PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT PERANGKAT TROPOSCATTER

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini akan dijelaskan tentang teori-teori yang mendasari permasalahan dan penyelesaian tugas akhir ini. Bab ini menjelaskan mengenai Antena RLSA, karakteristik antena RLSA,

Lebih terperinci

MEDIA TRANSMISI. Sumber: Bab 4 Data & Computer Communications William Stallings. Program Studi Teknik Telekomunikasi Sekolah Tinggi Teknologi Telkom

MEDIA TRANSMISI. Sumber: Bab 4 Data & Computer Communications William Stallings. Program Studi Teknik Telekomunikasi Sekolah Tinggi Teknologi Telkom Jaringan Komputer I 1 MEDIA TRANSMISI Sumber: Bab 4 Data & Computer Communications William Stallings Program Studi Teknik Telekomunikasi Sekolah Tinggi Teknologi Telkom Spektrum Elektromagnetik Jaringan

Lebih terperinci

SINYAL & MODULASI. Ir. Roedi Goernida, MT. Program Studi Sistem Informasi Fakultas Rekayasa Industri Institut Teknologi Telkom Bandung

SINYAL & MODULASI. Ir. Roedi Goernida, MT. Program Studi Sistem Informasi Fakultas Rekayasa Industri Institut Teknologi Telkom Bandung SINYAL & MODULASI Ir. Roedi Goernida, MT Program Studi Sistem Informasi Fakultas Rekayasa Industri Institut Teknologi Telkom Bandung 2012 1 Pengertian Sinyal Merupakan suatu perubahan amplitudo dari tegangan,

Lebih terperinci

Unjuk Kerja Antena UWB Egg Berdasarkan Dimensinya

Unjuk Kerja Antena UWB Egg Berdasarkan Dimensinya 1 Unjuk Kerja Antena UWB Egg Berdasarkan Dimensinya Rudy Yuwono Abstrak -Televisi-televisi swasta di Indonesia bekerja menggunakan frekuensi yang berbeda-beda. Dilakukan analisa menggunakan antena UWB

Lebih terperinci

PENGUKURAN MEDAN ELEKTROMAGNETIK BEBAS PADA AREA URBAN DAN RURAL

PENGUKURAN MEDAN ELEKTROMAGNETIK BEBAS PADA AREA URBAN DAN RURAL PENGUKURAN MEDAN ELEKTROMAGNETIK BEBAS PADA AREA URBAN DAN RURAL MANA HILUL IRFAN 2207100051 Dosen Pembimbing : Eko Setijadi, ST., MT., Ph.D Dr. Ir. Wirawan, DEA Latar Belakang 2 Green Telecommunication

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN ANTENA MIKROSTRIP DIPOLE UNTUK FREKUENSI 2,4 GHz

RANCANG BANGUN ANTENA MIKROSTRIP DIPOLE UNTUK FREKUENSI 2,4 GHz RANCANG BANGUN ANTENA MIKROSTRIP DIPOLE UNTUK FREKUENSI 2,4 GHz Iswandi, Ali Hanafiah Rambe Konsentrasi Teknik Telekomunikasi, Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara Jl.

Lebih terperinci

Makalah Peserta Pemakalah

Makalah Peserta Pemakalah Makalah Peserta Pemakalah ISBN : 978-979-17763-3-2 PERANCANGAN ANTENNA YAGI FREKUENSI 400-405 MHZDIGUNAKAN PADA TRACKING OBSERVASI METEO VERTIKAL DARI PAYLOAD RADIOSONDE RS II-80 VAISALA Lalu Husnan Wijaya

Lebih terperinci

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Pengertian Modulasi Modulasi adalah proses pencampuran dua sinyal menjadi satu sinyal. Biasanya sinyal yang dicampur adalah

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Pengertian Modulasi Modulasi adalah proses pencampuran dua sinyal menjadi satu sinyal. Biasanya sinyal yang dicampur adalah BAB II PEMBAHASAN.1. Pengertian Modulasi Modulasi adalah proses pencampuran dua sinyal menjadi satu sinyal. Biasanya sinyal yang dicampur adalah sinyal berfrekuensi tinggi dan sinyal berfrekuensi rendah.

Lebih terperinci

BAB II SISTEM KOMUNIKASI VSAT. Sistem komunikasi VSAT adalah salah satu aplikasi dari sistem

BAB II SISTEM KOMUNIKASI VSAT. Sistem komunikasi VSAT adalah salah satu aplikasi dari sistem BAB II SISTEM KOMUNIKASI VSAT 21 Umum Sistem komunikasi VSAT adalah salah satu aplikasi dari sistem komunikasi satelit, yaitu sistem komunikasi yang menggunakan satelit sebagai repeater nya VSAT adalah

Lebih terperinci

BAB IV PENGUKURAN ANTENA

BAB IV PENGUKURAN ANTENA BAB IV PENGUKURAN ANTENA 4.1 METODOLOGI PENGUKURAN PARAMETER ANTENA Parameter antena yang diukur pada skripsi ini adalah return loss, VSWR, diagram pola radiasi, dan gain. Ke-empat parameter antena yang

Lebih terperinci

BAB IV PENGUKURAN DAN ANALISIS

BAB IV PENGUKURAN DAN ANALISIS BAB IV PENGUKURAN DAN ANALISIS 4.1 Syarat Pengukuran Pengukuran suatu antena yang ideal adalah dilakukan di suatu ruangan yang bebas pantulan atau ruang tanpa gema (Anechoic Chamber). Pengukuran antena

Lebih terperinci