SEBARAN DAN POTENSI PRODUSEN BENIH PADI UNGGUL MENDUKUNG PENYEDIAAN BENIH BERMUTU DI KALIMANTAN SELATAN

dokumen-dokumen yang mirip
STRATEGI PENCAPAIAN SWASEMBADA PADI BERKELANJUTAN DI KALIMANTAN SELATAN MELALUI PENDEKATAN SISTEM DINAMIK

PENGUATAN KELEMBAGAAN PENANGKAR BENIH UNTUK MENDUKUNG KEMANDIRIAN BENIH PADI DAN KEDELAI

PENCAPAIAN SURPLUS 10 JUTA TON BERAS PADA TAHUN 2014 DENGAN PENDEKATAN DINAMIKA SISTEM (SYSTEM DYNAMICS)

PERAN UNIT PENGELOLA BENIH SUMBER DALAM PENGUATAN SISTEM PERBENIHAN DI KALIMANTAN TENGAH

Kajian Produksi Benih Sumber Padi UPBS BPTP Kalimantan Tengah

PEMANTAUAN DAN EVALUASI CAPAIAN KINERJA KEGIATAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN BENIH TANAMAN PANGAN TRIWULAN I 2016

PEMANTAUAN DAN EVALUASI CAPAIAN KINERJA KEGIATAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN BENIH TANAMAN PANGAN TRIWULAN II 2016

PERBANYAKAN BENIH SUMBER PADI DAN KEDELAI DI SUMATERA UTARA MELALUI UPBS

Adopsi dan Dampak Penggunaan Benih Berlabel di Tingkat Petani.

PERBANYAKAN BENIH SUMBER PADI DI SUMATERA UTARA MELALUI UPBS 2015

KEBIJAKAN PENINGKATAN PRODUKSI PADI PADA LAHAN PERTANIAN BUKAN SAWAH

KEMITRAAN PEMASARAN BENIH PADI DI KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH KALIMANTAN SELATAN

Produksi Padi Tahun 2005 Mencapai Swasembada

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH

I PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam perekonomian

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2013

LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2006 ANALISIS SISTEM PERBENIHAN KOMODITAS PANGAN DAN PERKEBUNAN UTAMA

Program Peningkatan Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Mendukung Pertanian Berkelanjutan di Kalimantan Selatan

peningkatan produksi dan produktifitas melalui intensifikasi, ekstensifikasi,

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENGKAJIAN PEMETAAN KEBUTUHAN BENIH PADI UNGGUL DAN PENGEMBANGAN PENANGKAR BENIH YANG EFISIEN DI KALIMANTAN SELATAN

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Sektor pertanian dalam tatanan pembangunan nasional memegang peranan

I. PENDAHULUAN Latar Belakang. Hal ini seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk diiringi

KAJIAN PENGGUNAAN VARIETAS UNGGUL PADI BERLABEL DI KECAMATAN CURUP SELATAN KABUPATEN REJANG LEBONG PROVINSI BENGKULU

TEKNOLOGI SPESIFIK LOKASI PTT PADI DAN PENDAMPINGAN SL-PTT DI KALIMANTAN TENGAH

KAJIAN POLA PENDAMPINGAN PROGRAM SL-PTT DI KABUPATEN LUWU PROPINSI SULAWESI SELATAN

ADOPSI PETANI PADI SAWAH TERHADAP VARIETAS UNGGUL PADI DI KECAMATAN ARGAMAKMUR, KABUPATEN BENGKULU UTARA, PROVINSI BENGKULU

Wilayah Produksi dan Potensi Pengembangan Jagung

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI ACEH

BAB I PENDAHULUAN. Beras merupakan bahan pangan pokok bagi sebagian besar penduduk

I. PENDAHULUAN. Pangan merupakan kebutuhan yang mendasar (basic need) bagi setiap

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI ACEH

BAB I. PENDAHULUAN. Tahun. Pusat Statistik 2011.htpp:// [Diakses Tanggal 9 Juli 2011]

TUGAS POKOK DAN FUNGSI A.

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH

PENDAHULUAN Latar Belakang

POTENSI PENGEMBANGAN PRODUSEN/PENANGKAR BENIH KEDELAI BERSERTIFIKAT DI JAWA TENGAH ABSTRAK

BAB I. PENDAHULUAN. Kedelai merupakan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi dan banyak memberi

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. dan sumber devisa negara, pendorong pengembangan wilayah dan sekaligus

I. PENDAHULUAN. sektor-sektor yang berpotensi besar bagi kelangsungan perekonomian

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Produksi dan Konsumsi Beras Nasional, Tahun

PENGUATAN KELEMBAGAAN PENANGKAR BENIH UNTUK MENDUKUNG KEMANDIRIAN BENIH PADI DAN KEDELAI

PENINGKATAN PENDAPATAN USAHATANI PADI SAWAH MELALUI PENERAPAN KOMPONEN TEKNOLOGI PTT DI SULAWESI TENGGARA

DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN

I. PENDAHULUAN. bermatapencaharian petani. Meskipun Indonesia negara agraris namun Indonesia

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI PADI DI KALIMANTAN SELATAN MENDUKUNG SWASEMBADA BERKELANJUTAN PADI/BERAS NASIONAL. Fathurrahman.

I. PENDAHULUAN. sebagai dasar pembangunan sektor-sektor lainnya. Sektor pertanian memiliki

PERAN SEKOLAH LAPANG PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (SL- PTT) DALAM PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADI DI KABUPATEN PURBALINGGA

Sosialisasi Undang-Undang 41/2009 beserta Peraturan Perundangan Turunannya

PENGEMBANGAN PERBENIHAN (UPBS) PADI DI SUMATERA UTARA. Tim UPBS BPTP Sumatera Utara

Ringkasan Eksekutif Analisis Efektivitas Kebijakan Subsidi Pupuk dan Benih: Studi Kasus Tanaman Padi dan Jagung 1

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GRAFIK... DAFTAR LAMPIRAN... RINGKASAN EKSEKUTIF... I. PENDAHULUAN...

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI ACEH

Efektivitas Pupuk Organik Kotoran Sapi dan Ayam terhadap Hasil Jagung di Lahan Kering


MEKANISME PENYALURAN BENIH PADI BERSUBSIDI DI KABUPATEN PURBALINGGA ABSTRAK

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) telah memproyeksikan

X.82. Pengembangan tanaman jagung yang adaptif di lahan masam dengan potensi hasil 9,0 t/ha. Zubachtirodin

SAMBUTAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PADA ACARA PANEN RAYA PADI DI DESA SENAKIN KECAMATAN SENGAH TEMILA KABUPATEN LANDAK

Laporan Tahunan 2012

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Indonesia berhasil meningkatkan produksi padi secara terus-menerus. Selama

BAB IV TUGAS PEMBANTUAN

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TRIWULAN III TAHUN 2017

BUPATI TAPIN PERATURAN BUPATI TAPIN NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG

Peran dan Kontribusi Hand Tractor terhadap Efisiensi Usahatani di Banten

KE-2) Oleh: Supadi Valeriana Darwis

POLICY BRIEF MENDUKUNG GERAKAN PENERAPAN PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (GP-PTT) MELALUI TINJAUAN KRITIS SL-PTT

I. PENDAHULUAN. BPS (2016) menyatakan bahwa, selama periode waktu tahun jumlah

SKRIPSI MUTIARA VIANI SINAGA

KATA PENGANTAR. Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan

POLICY BRIEF DAYA SAING KOMODITAS PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI DALAM KONTEKS PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN. Dr. Adang Agustian

Abstrak

PRODUKSI PADI, JAGUNG DAN KEDELAI (ANGKA TETAP 2013 DAN ANGKA RAMALAN I 2014)

Seminar Nasional : Menggagas Kebangkitan Komoditas Unggulan Lokal Pertanian dan Kelautan Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura

PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA DEFINITIF KELOMPOKTANI DAN RENCANA DEFINITIF KEBUTUHAN KELOMPOKTANI BAB I PENDAHULUAN

BAB I. PENDAHULUAN. kegiatan pertanian yang mendominasi perekonomian masyarakat desa, dimana

LAPORAN HASIL JUDUL KEGIATAN PENDAMPINGAN PROGRAM SL-PTT DI KABUPATEN GOWA. Andi Ella, dkk

SOSIALISASI KALENDER TANAM MT II TIM GUGUS KATAM BPTP Kep. Bangka Belitung

PENDAHULUAN. Pedoman Umum Produksi Benih Sumber Kedelai 1

Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS PADI. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005

TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Kedelai

PROSPEK TANAMAN PANGAN

I. PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian, khususnya tanaman pangan bertujuan untuk meningkatkan

PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016

PENDAHULUAN. mengandung gizi dan penguat yang cukup bagi tubuh manusia, sebab didalamnya

- 1 - LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 04/Permentan/HK.140/2/2016 TANGGAL : 5 Pebruari 2016

I. PENDAHULUAN. kemampuan daerah tersebut dalam swasembada pangan atau paling tidak

BAB III TUJUAN, SASARAN, PROGRAM DAN KEGIATAN

POTENSI LEMBAGA PERBENIHAN DALAM PENYEDIAAN BENIH PADI DI PROVINSI BENGKULU PENDAHULUAN

PRODUKSI PADI, JAGUNG, KEDELAI, UBI KAYU DAN UBI JALAR (TAHUN 2014: ANGKA TETAP, 2015 : ARAM I)

Transkripsi:

SEBARAN DAN POTENSI PRODUSEN BENIH PADI UNGGUL MENDUKUNG PENYEDIAAN BENIH BERMUTU DI KALIMANTAN SELATAN Fakhrina dan Agus Hasbianto Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Selatan Jl. P. Batur Barat No. 4 Banjarbaru Kalimantan Selatan e-mail : fakhrina.johansyah@yahoo.co.id ABSTRAK Kalimantan Selatan merupakan salah satu sentra produksi padi nasional dengan produksi padi pada tahun 2012 mencapai 2,086 juta ton GKG atau setara dengan 1,309 juta ton beras. Kebutuhan beras masyarakat pada tahun 2012 sekitar 515.000 ton, sehingga ketersediaan beras di Provinsi Kalimantan Selatan mengalami surplus sekitar 794.000 ton. Pencapaian swasembada beras tersebut sangat didukung dengan penggunaan teknologi pertanian, terutama penerapan komponen PTT. Salah satu komponen yang mampu memberikan konstribusi besar terhadap peningkatan produksi padi adalah penggunaan benih bermutu varietas unggul baru yang penyediaannya dilakukan oleh produsen benih di daerah. Tujuan pengkajian ini adalah untuk mengetahui sebaran dan potensi produsen benih padi unggul dalam mendukung penyediaan benih bermutu di Kalimantan Selatan. Pengkajian dilakukan pada tahun 2013, menggunakan metode survey dan pengumpulan data menggunakan kuesioner (terstruktur). Hasil pengkajian menunjukkan bahwa produsen benih padi unggul terbagi atas produsen kelas benih sumber yang dikelola oleh instansi pemerintah dan produsen kelas benih sebar yang berafiliasi dengan produsen benih sumber serta berdiri sendiri. Produsen benih padi tersebut tersebar pada wilayah-wilayah produksi padi, sehingga memungkinkan memenuhi kaidah 6 (enam) tepat dalam penyediaan beih bermutu. Penggunaan benih bermutu varietas unggul padi oleh petani di Kalimantan Selatan diperkirakan mencapai 50 % dari keseluruhan luas tanam padi sawah dan luas tersebut memungkinkan untuk diperluas, sehingga membuka peluang peningkatan penyediaan benih oleh produsen. Produksi benih padi unggul bersertifikat oleh lembaga penyedia benih yang dikelola pemerintah (UPB dan UPTD) masih belum mampu memenuhi kebutuhan petani sehingga perlu didukung oleh peran petani penangkar. Namun demikian, potensi penyediaan benih unggul bermutu oleh petani penangkar perlu terus dilakukan pembinaan dan pengawalan sehingga luas penangkaran padi yang lulus uji lapangan akan meningkat serta jumlah calon benih yang lulus menjadi benih padi unggul bersertifikat juga akan meningkat setiap tahunnya. Oleh karena itu, produsen benih padi sangat potensial untuk mendukung upaya peningkatan produksi melalui penyediaan benih padi varietas unggul yang bermutu. Kata kunci : produsen benih, padi unggul, kalimantan selatan Banjarbaru 6-7 Agustus 2014 271

PENDAHULUAN Beras merupakan komoditas pangan yang sangat strategis karena merupakan makanan pokok utama bagi masyarakat Indonesia, sehingga harus tersedia sepanjang waktu. Strategi yang ditempuh pemerintah untuk meningkatkan ketersediaan beras melalui peningkatan produksi padi dalam negeri yaitu dengan meningkatkan produktivitas, perluasan areal, dan pengelolaan lahan (Ditjen Tanaman Pangan 2012). Kalimantan Selatan sebagai salah satu provinsi penyangga ketersediaan beras nasional, juga melakukan upaya peningkatan produksi padi agar mampu memberikan sumbangan yang cukup berarti terhadap upaya pemerintah mencapai surplus produksi beras 10 juta ton pada tahun 2014. Menurut data BPS (2012), produksi padi Kalimantan Selatan selama periode lima tahun terakhir meningkat dari 1,95 juta ton (tahun 2007) menjadi 2,04 juta ton (tahun 2011). Peningkatan produksi padi tersebut didukung oleh terjadinya peningkatan produktivitas dari 3,86 ton/ha menjadi 4,16 ton/ha. Berdasarkan data tersebut, maka usahatani padi di Kalimantan Selatan telah mulai menerapkan inovasi teknologi budidaya yang direkomendasikan oleh pemerintah yang didiseminasikan melalui berbagai program atau kegiatan diantaranya pendekatan model pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu (PTT). Model PTT merupakan sebuah terobosan yang dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas padi dan pendapatan serta kesejahteraan petani melalui pengelolaan lahan, air, tanaman dan organisme pengganggu (OPT) secara terpadu dan berkelanjutan (Sarlan 2007). Salah satu komponen penting PTT adalah penggunaan benih bermutu. Nurasa dan Sayaka (2009) mengemukakan bahwa produksi padi dapat meningkat sebesar 15 25 persen melalui penggunaan benih bersertifikat. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan telah mencanangkan pencapaian surplus beras sekitar 750 ribu ton pada tahun 2014. Jika diasumsikan luas lahan pertanaman padi (sawah dan ladang) pada tahun 2014 sama dengan tahun 2011 yaitu 507.328 ha dan tidak terjadi peningkatan produktivitas padi, sedangkan kebutuhan beras pada tahun 2014 diperkirakan sebanyak 529,1 ribu ton (dengan asumsi laju pertumbuhan penduduk 0,96% per tahun dan konsumsi per kapita 139,15 kg) maka sasaran surplus tersebut tidak akan tercapai. Untuk mencapai rencana surplus tersebut diperlukan peningkatan produktivitas padi menjadi sekitar 4,65 ton per hektar, sehingga dapat dicapai produksi sebanyak 2,275 juta ton. Dengan asumsi kebutuhan benih per ha sebanyak 30 kg, maka diperlukan benih bermutu sekitar 15.220 ton. Namun jika terjadi peningkatan luas lahan sawah, maka keperluan benih bermutu juga akan meningkat. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Selatan (2010) melaporkan realisasi penyaluran benih subsidi pada tahun 2009 sekitar 4.070,25 ton yang berasal dari program BLBU, CBN, APBN-P dan SL-PTT. Jumlah tersebut tentu belum mencukupi kebutuhan benih bermutu, yang memungkinkan dapat dipenuhi dari produksi para penangkar benih. Upaya pemerintah provinsi Kalimantan Selatan dan Pemerintah Pusat dalam pencapaian surplus produksi padi perlu didukung dengan data lembaga penyedia benih dan potensinya dalam penyediaan benih. Oleh karena itu, pengkajian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan informasi sebaran dan potensi produsen benih unggul padi di Kalimantan Selatan.

METODOLOGI Pengkajian dilaksanakan mulai bulan Februari Juli tahun 2013, di empat Kabupaten Sentra Utama Padi Kalimantan Selatan yaitu Barito Kuala, Banjar, Tapin dan Tanah Laut. Pengkajian dilakukan melalui kegiatan survey dan pengumpulan data menggunakan kuesioner (terstruktur). Survey dilakukan untuk mengidentifikasi dan melakukan dokumentasi lembaga penyedia benih. Hasil survey dilengkapi dengan kuesioner yang bertujuan untuk mengumpulkan data yang berhubungan dengan struktur atau kelembagaan penyediaan benih, potensi produksi dan letaknya berkenaan dengan aksesibilitas petani terhadap benih bermutu. Data, informasi dan hasil dokumentasi yang direkam akan menjadi masukan dan sumber informasi penting bagi pemetaan lembaga penyedia dan sekaligus pola distribusi benih unggul bermutu yang dihasilkan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil survey dan data/informasi yang direkam melalui kuesioner akan dibahas secara bersamaan, sesuai dengan sub bab pembahasan. Hal tersebut diharapkan akan mempermudah dalam penyampaian hasil yang diperoleh dan informasi yang disampaikan akan lebih mudah dipahami oleh pengguna. Luas Lahan Padi dan Kebutuhan Benih Luas tanam dan jumlah benih padi yang diproduksi oleh lembaga penyedia benih di Kalimantan Selatan tahun 2011-2012 disajikan pada Tabel berikut. Tabel 1. Luas tanam padi dan jumlah benih padi yang diproduksi, tahun 2011-2012 Tahun Luas Tanam Padi * Jumlah Benih Yang diproduksi Produsen Kalsel (ton)** 2011 507.328 2.560,94 2012 504.810 2.765,66 Sumber : * BPS Kalimantan Selatan, 2013 ** BPSB TPH Kalimantan Selatan, 2012 Tabel 1 menunjukkan bahwa jumlah benih yang dihasilkan oleh produsen benih di Kalimantan Selatan dan lulus pengujian benih oleh BPSB TPH pada tahun 2011 mencapai 2.560,94 ton dan meningkat menjadi 2.765,66 ton tahun 2012. Penggunaan benih padi per hektar oleh petai di Kalimantan Selatan umumnya masih belum sesuai dengan anjuran (25 kg/ha), akan tetapi petani cenderung menggunakan benih sekitar 30 kg untuk benih unggul dan 40 kg untuk benih lokal. Jika setiap hektar lahan memerlukan benih 30 kg, maka produksi benih tahun 2011 hanya mencukupi untuk keperluan lahan seluas 85.365 ha dan tahun 2012 untuk 92.189 ha. Dengan demikian, sangat diperlukan dukungan dari penangkar benih baik formal maupun informal untuk mencukupi keperluan benih padi Kalimantan Selatan. Banjarbaru 6-7 Agustus 2014 273

Sebaran Produsen Secara formal, Pemerintah Provinsi melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura membentuk Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) untuk melaksanakan peran khusus mendukung program pembangunan pertanian. UPTD yang terkait dengan perbenihan adalah (1) Balai Benih (BB) dan (2) Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSB). Selain kedua lembaga yang dikoordinasikan oleh Pemerintah Provinsi tersebut, di Kalimantan Selatan juga terdapat lembaga penyedia benih formal yang dikoordinasikan oleh Pemerintah Pusat yaitu Unit Produksi Benih Sumber (UPBS) Tanaman Pangan BPTP Kalimantan Selatan dan UPBS Balittra. Lembaga perbenihan formal di Kalimantan Selatan tercantum pada Tabel 2 berikut. Tabel 2. Lembaga atau institusi penyedia benih Nama Lembaga Balai Benih UPBS BPTP Kalsel Alamat Peran/Fungsi Pelaksana Produksi Benih Banjarbaru Sebagai UPTD produksi benih bina 1. UPB/BBU Padi Binuang 2. UPB/BBU Padi Sungai Tabuk Banjarbaru Produksi benih bina UPB Pelaihari UPBS Balittra Banjarbaru Produksi benih bina (khususnya padi rawa) UPB Banjarbaru Lembaga penyedia benih formal yang langsung ditangani oleh instansi pemerintah sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 2, berada di Kabupaten Banjar (UPB Sungai Tabuk), Tapin (UPB Binuang), Tanah Laut (UPB Pelaihari), dan Kota Banjarbaru (UPB Banjarbaru). Keempat lembaga penyedia benih padi tersebut umumnya menyediakan benih pada kelas benih bina (benih dasar-bd dan benih pokok-bp) dengan jumlah yang terbatas. Namun demikian, beberapa kelompoktani di daerah sentra produksi padi mulai menggunakan benih padi dengan kelas BP, sehingga beberapa lembaga tersebut juga meningkatkan produksi benih kelas tersebut. Dokumentasi lembaga penyedia benih disajikan pada Gambar 1 dan 2.

Gambar 1. UPB Padi Sungai Tabuk Gambar 2. UPB Padi Binuang Selain keempat lembaga tersebut, terdapat beberapa Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) yang menangani produksi benih yang dibentuk di tingkat Kabupaten/Kota yang secara struktural berada dibawah koordinasi Dinas yang menangani sektor pertanian di Kabupaten. UPTD tersebut sebelumnya dibentuk dan dikoordinasikan oleh Pemerintah Provinsi, dan telah diserahterimakan kepada Pemerintah Kabupaten. UPTD yang menangani produksi atau penyediaan benih di Kabupaten/Kota tercantum pada Tabel 3. Banjarbaru 6-7 Agustus 2014 275

Tabel 3. UPTD produksi benih padi di tingkat Kabupaten/Kota Se-Kalimantan Selatan No Kabupaten/ Kota Nama UPTD Komoditas Kapasitas Produksi L Lahan (Ha) Produksi per tahun (ton) 1 HST Balai Benih TPH Padi 6 >20 2 HSS UPB Tanaman Pangan Padi 0,1 >70 3 HSU Balai Benih Banjang Padi 4,5 >10 4 Tapin UPB Padi Tampunang Padi 3 > 4 5 Batola BBI Barambai Padi 26 >40 Sumber : UPTD Produksi benih Kabupaten 2013, diolah BPTP Kalsel Keempat lembaga penyedia benih ditambah dengan lima UPTD tersebut, tidak mampu memenuhi kebutuhan benih untuk wilayah Kalimantan Selatan. Menurut Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Selatan, prosentase luas sawah yang menggunakan benih unggul mencapai 50%. Jika pada tahun 2012, luas sawah mencapai 455.960 ha (BPS Kalsel, 2013), maka luas sawah yang menggunakan benih unggul mencapai 225.000 ha. Jika kebutuhan benih per hektar 30 kg maka diperlukan benih padi unggul sebanyak 7.650 ton. Menurut Prabowo et al. (2012) secara nasional jumlah petani yang menggunakan benih bersertifikat hanya sekitar 40% dan kebanyakn petani menggunakan benih dari hasil panennya sendiri. Benih yang diperoleh dari hasil panen sendiri tersebut umumnya akan menimbulkan variasi yang tinggi dalam pertanaman dan produktivitas rendah sehingga akan menurunkan hasil panen. Oleh karena itu, penyediaan benih perlu didukung oleh petani penangkar yang mendapat pembinaan dari Pemerintah. Petani penangkar padi saat ini telah tersebar di seluruh wilayah Kalimantan Selatan, dengan produksi padi kelas benih sebar (BR). Keberadaan penangkar benih yang umumnya di wilayah sentra produksi sangat membantu petani dalam memperoleh benih bermutu pada awal musim tanam. Menurut Auliaturridha et al. (2012) usaha penangkaran benih padi unggul di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan menguntungkan dengan nilai RCR > 1 (1,37). Selain itu, menurut Muis A (2010) keuntungan yang dihasilkan dari pengusahaan benih lebih besar jika dibandingkan dengan pengusahaan tanaman untuk konsumsi. Sementara itu kebutuhan modal untuk penangkaran tidak jauh berbeda dengan pengusahaan tanaman untuk keperluan konsumsi hanya biaya lebih besar untuk pengurusan sertifikasi dan menunggu pengolahan benih. Untuk itu Pemerintah disarankan dapat menetapkan harga jual benih padi bersertifikat untuk merangsang minat petani menjadi penangkar benih padi unggul bersertifikat. Permasalahan harga benih padi unggul bersertifikat tersebut memang perlu mendapat perhatian dari pemerintah. Namun demikian, perhatian yang diharapkan oleh petani penangkar tidak hanya berupa harga jual saja akan tetapi juga pembinaan yang dilakukan secara rutin sejak tahap persiapan produksi benih. Selain itu, kepastian bahwa benih yang diproduksi oleh setiap penangkar akan dibeli oleh petani ataupun oleh instansi pemerintah juga penting agar kegiatan penangkaran benih dapat terus berlanjut. Potensi Produsen dalam Penyediaan Benih Bermutu Lembaga penyedia benih formal yang dikelola oleh pemerintah (empat UPB dan lima UPTD) telah memanfaatkan lahan yang tersedia secara optimal. Demikian juga para petani

penangkar, terutama petani penangkar bersertifikat sebagian besar telah melaksanakan peran produksi benih sebar secara baik. Ketersediaan dan pemanfaatan lahan di lembaga produksi benih disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Potensi penyediaan benih oleh BBI dan BBU berdasarkan ketersediaan dan pemanfaatan lahan produksi UPB Komoditas Kelas Tersedia Luas Lahan Produksi (Ha) Dimanfaatkan pada MK Dimanfaatkan pada MH UPB Sungai Tabuk Padi BP, BR 10 7 2 UPB Binuang Padi BD, BP 12 8 10 Sumber : Balai Benih Prov. Kalimantan Selatan, 2012 Tabel 4 di atas menunjukkan adanya pengelolaan dan pemanfaatan lahan secara optimal oleh masiong-masing UPB. Kedua UPB di atas memiliki lahan dengan agroekosistem berbeda, yaitu UPB Sungai Tabuk pada agroekosistem rawa pasang surut dan UPB Binuang pada agroekosistem lahan irigasi, sehingga tingkat atau luas lahan yang dimanfaatkan juga berbeda pada musim yang berbeda. Luas penangkaran benih padi se- Kalimantan Selatan tahun 2011 2012 dicantumkan pada Tabel 5. Tabel 5. Luas penangkaran dan produksi benih padi di Kalimantan Selatan MT Luas Penangkaran (Ha) Lulus Lapangan (Ha) Calon Benih Uji Lab Produksi (ton) Jumlah Lulus Uji Lab % dari calon benih 2011/2012 1.719,76 1.429,15 5.635,05 2.693,04 2,560,94 45,44% 2012 1.876,04 1.500,67 4.795,24 3.015,63 2,765,66 57,67% Sumber : BPSB TPH Prov. Kalimantan Selatan, 2012 Luas penangkaran sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 5 di atas meliputi luas penangkaran benih padi yang dikelola oleh Pemerintah melalui UPB atau UPTD serta penangkaran yang dikelola oleh petani, dalam hal ini penangkar bersertifikat yang tersebar di seluruh wilayah Kalimantan Selatan. Tabel 5 di atas memperlihatkan cukup tingginya luasan tanaman padi penangkaran yang tidak lulus sejak di lapangan berdasarkan hasil pengujian/pendampingan BPSB TPH Provinsi Kalimantan Selatan. Luasan penangkaran padi yang tidak lulus tersebut merupakan potensi yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan volume produksi benih unggul padi. Demikian juga untuk tahap pengujian benih di laboratorium. Pada tahun 2011, hanya sekitar 45,44% calon benih padi yang berhasil lulus menjadi benih padi dan disertifikasi Banjarbaru 6-7 Agustus 2014 277

oleh BPSB TPH Provinsi Kalimantan Selatan. Pada tahun 2012, meskipun terjadi peningkatan jumlah calon benih yang lulus menjadi benih, namun masih terdapat sekitar 42% calon benih yang tidak lulus. Jika jumlah tersebut mampu diperkecil melalui kegiatan pengawalan atau pembinaan penangkar sejak awal, maka akan tersedia benih padi unggul bersertifikat yang setidaknya dua kali lipat dari kondisi saat ini. Hal ini menjadi tantangan bagi pihak terkait di Kabupaten hingga Provinsi untuk meningkatkan volume benih yang lulus dan dapat disertifikasi sebagai benih unggul bermutu. KESIMPULAN DAN SARAN Produsen benih padi unggul di Kalimantan Selatan secara umum terbagi atas lembaga yang langsung dikelola oleh instansi pemerintah yang terdiri dari Unit Produksi Benih (UPB) dan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) yang berada di Kabupaten Banjar, Batola, Tapin, dan Tanah Laut yang merupakan sentra utama padi. Selain itu, UPTD produsen benih juga terdapat di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Utara. Lahan-lahan produksi yang dimiliki oleh UPB dan UPTD umumnya telah dimanfaatkan secara optimal untuk produksi benih padi, terutama kelas BD dan BP dengan jumlah benih yang masih lebih rendah dibandingkan luas lahan usahatani padi. Untuk itu, keberadaan penangkar benih padi yang tersebar di seluruh wilayah Kalimantan Selatan merupakan potensi yang harus terus dibina oleh instansi terkait. Perlunya pembinaan tersebut semakin terlihat dengan masih luasnya lahan penangkaran yang tidak lulus uji lapangan serta rendahnya prosentase calon benih padi yang lulus menjadi benih padi unggul bersertifikat. DAFTAR PUSTAKA Auliaturridha W.S., Budiwati N., dan Andjardiani L. 2012. Analisis Finansial Penangkaran Benih Padi Unggul di Desa Penggalaman Kecamatan Martapura Barat Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan. Jurnal Agribisnis Perdesaan, volume 02 Nomor 01 Maret 2012. Badan Pusat Statistik [BPS]. 2012. Kalimantan Selatan Dalam Angka 2011. BPS Kalimantan Selatan Badan Pusat Statistik [BPS]. 2013. Kalimantan Selatan Dalam Angka 2012. BPS Kalimantan Selatan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura [Dis TPH]. 2010. Laporan Tahunan. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Selatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan [ditjen tanaman pangan]. 2013. Roadmap Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) Menuju Surplus Beras 10 Juta Ton pada Tahun 2014 http://www.tanamanpangan.deptan.go.id [4 Maret 2013] Muis A. 2010. Pengkajian Pemetaan Kebutuhan Benih Padi, Jagung, dan Kedelai (vub, Volume) dan Pengembangan Penangkar benih yang Efisien (>10%) di Sulawesi Tengah. Laporan Akhir Program Insentif Peningkatan Kemampuan peneliti dan Perekayasa (PIPKPP).

Prabowo A., Hendriadi A., Hermanto, Yudhistira N., Somantri A., Nurjaman., dan Zuziana S. 2012. Pencapaian Surplus 10 Juta Ton Beras Pada Tahun 2014 dengan Pendekatan Dinamika Sistem (system Dynamics) dalam Kebijakan Pencapaian Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan Lima Komoditas Utama Pertanian melelui Pendekatan Sistem Dinamik. Badan Litbang Pertanian. Jakarta Sarlan. 2007. Pengelolaan Tanaman Terpadu. Makalah disampaikan pada acara : Pertemuan Padu-Padan, Puslitbang Tanaman Pangan, Bogor 13-14 Des 2007 Banjarbaru 6-7 Agustus 2014 279