BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Pemberian Kotoran Kambing Terhadap Sifat Tanah. Tabel 4.1. Karakteristik Tanah Awal Penelitian

I. PENDAHULUAN. Tanah disebut padat apabila porositas totalnya, terutama porositas yang terisi

BAB III METODE PENELITIAN. Kapasitas Tukar Kation (cmol/kg) ph H 2 O 5.2 ph KCl 4.6 Kadar Pasir (%) 31 Kadar Debu (%) 58 Kadar Liat (%) 11

I. PENDAHULUAN. jagung juga digunakan sebagai bahan baku industri, pakan ternak dan industri

I. PENDAHULUAN. Tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan tanaman perkebunan yang penting

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 2. Bobot isi tanah pada berbagai dosis pemberian mulsa.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hantaran Hidrolik

PENGARUH OLAH TANAH DAN MULSA JERAMI PADI TERHADAP AGREGAT TANAH DAN PERTUMBUHAN SERTA HASIL JAGUNG

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Tinggi tanaman padi akibat penambahan jenis dan dosis amelioran.

PENDAHULUAN. Buah melon (Cucumis melo L.) adalah tanaman buah yang mempunyai nilai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Stabilitas Agregat, Permeabilitas, dan Bobot Isi. Polimer hidroksi alumunium (PHA) yang bermuatan positif berperan

PENGARUH BAHAN ORGANIK TERHADAP SIFAT BIOLOGI TANAH. Oleh: Arif Nugroho ( )

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. Limbah Pabrik Kelapa Sawit. Kandungan hara pada 1m3 limbah cair setara dengan 1,5 kg urea, 0,3 kg SP-36,

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

DISTRIBUSI PORI DAN PERMEABILITAS ULTISOL PADA BEBERAPA UMUR PERTANAMAN

PENDAHULUAN. Ultisol merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai sebaran luas,

TINJAUAN PUSTAKA. Pupuk organik cair (effluent sapi) ialah cairan hasil pemisahan oleh separator pada

BAB I PENDAHULUAN. tahun 2009 sekitar ton dan tahun 2010 sekitar ton (BPS, 2011).

I. PENDAHULUAN. Di Indonesia produksi nanas setiap tahun mengalami peningkatan seiring

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Perkebunan karet rakyat di Desa Penumanganbaru, Kabupaten Tulangbawang

I. PENDAHULUAN. Nanas merupakan salah satu tanaman hortikultura, yang sangat cocok

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

PENDAHULUAN. Melon (Cucumis melo L.) merupakan salah satu buah yang dikonsumsi segar.

II. TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. Tanaman kacang hijau (Vigna radiata L.) sampai saat ini masih merupakan

I. PENDAHULUAN. Melon ( Cucumis melo L) merupakan salah satu jenis sayuran buah yang memiliki

PENGARUH KOMPOS AMPAS TEBU DENGAN PEMBERIAN BERBAGAI KEDALAMAN TERHADAP SIFAT FISIK TANAH PADA LAHAN TEMBAKAU DELI.

II TINJAUAN PUSTAKA. induknya (Hardjowigeno, 1993). Tanah Inceptisols yang terdapat di dataran rendah, solum

Latar Belakang. Produktivitas padi nasional Indonesia dalam skala regional cukup tinggi

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sifat Umum Latosol

II. TINJAUAN PUSTAKA. menerus menyebabkan kerusakaan sifat fisik tanah dan selanjutnya akan

PEMANFAATAN KOMPOS KOTORAN SAPI DAN ARA SUNGSANG UNTUK MENURUNKAN KEPADATAN ULTISOL. Heri Junedi, Itang Ahmad Mahbub, Zurhalena

PENGARUH PEMBERIAN TIGA JENIS PUPUK KANDANG TERHADAP BEBERAPA SIFAT FISIKA TANAH DAN HASIL JAGUNG MANIS ( Zea Mays Saccharata Sturt ) PADA ENTISOL

II. TINJAUAN PUSTAKA. sekitar 29,7% dari 190 juta hektar luas daratan Indonesia. Kelemahan-kelemahan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Suhu min. Suhu rata-rata

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Ultisols merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai sebaran

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 1. Lahan pertanian intensif

I. PENDAHULUAN. Cabai (Capsicum annuum) merupakan komoditas sayuran yang memiliki nilai

I. TINJAUAN PUSTAKA. produk tanaman yang diinginkan pada lingkungan tempat tanah itu berada.

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman nanas dapat tumbuh pada dataran rendah sampai dataran tinggi lebih

PENGARUH DOSIS PUPUK KANDANG TERHADAP AGREGAT TANAH PADA SISTEM PERTANIAN ORGANIK

I. PENDAHULUAN. pupuk tersebut, maka pencarian pupuk alternatif lain seperti penggunaan pupuk

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kopi merupakan tanaman yang dapat mudah tumbuh di Indonesia. Kopi

I. PENDAHULUAN. Jagung manis (Zea mays saccharata) merupakan salah satu komoditas pertanian

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita akibat

TINJAUAN PUSTAKA. Sifat dan Ciri Tanah Ultisol. Ultisol di Indonesia merupakan bagian terluas dari lahan kering yang

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 3 KIMIA TANAH. Kompetensi Dasar: Menjelaskan komponen penyusun, sifat fisika dan sifat kimia di tanah

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan tanaman perkebunan yang

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Teknologi revolusi hijau di Indonesia digulirkan sejak tahun 1960 dan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. ini. Beras mampu mencukupi 63% total kecukupan energi dan 37% protein.

I. PENDAHULUAN. menyebabkan kerusakan dan kerugian bagi masyarakat di sekitar

Modul ini mencakup bahasan tentang sifat fisik tanah yaitu: 1.tekstur, 2. bulk density, 3. porositas, 4. struktur 5. agregat 6. warna tanah 7.

P e r u n j u k T e k n i s PENDAHULUAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. penting di Indonesia termasuk salah satu jenis tanaman palawija/ kacang-kacangan yang sangat

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA. legend of soil yang disusun oleh FAO, ultisol mencakup sebagian tanah Laterik

Pengertian Bahan Organik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA. Survei Tanah. Untuk dapat melakukan perencanaan secara menyeluruh dalam hal

Arsyad AR, Yulfita Farni dan Ermadani 1

Hasil dari tabel sidik ragam parameter tinggi tanaman menunjukkan beda. nyata berdasarkan DMRT pada taraf 5 % (lampiran 8) Hasil rerata tinggi tanaman

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2013 musim ke-44 sampai

HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan Pupuk Konvensional dan kombinasi POC 3 l/ha dan Pupuk Konvensional

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Tanah terdiri atas bahan padat dan ruang pori di antara bahan padat,

II. TINJAUAN PUSTAKA. menunjang pertumbuhan suatu jenis tanaman pada lingkungan dengan faktor

I. PENDAHULUAN. Tomat (Lycopersicum esculentum Miil.) termasuk tanaman sayuran yang sudah

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ultisol merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai

Soal Jawab DIT (dibuat oleh mahasiswa)

IV. SIFAT - SIFAT KIMIA TANAH

Transkripsi:

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Pupuk kandang merupakan pupuk yang berasal dari kotoran ternak baik padat maupun cair yang bercampur dengan sisa-sisa makanan. Pupuk kandang tersebut selain dapat menambah unsur hara dalam tanah, juga dapat memperbaiki struktur tanah (Hakim dkk., 1986). Struktur tanah merupakan sifat fisik tanah yang sangat penting di dalam mendukung pertumbuhan tanaman. Struktur tanah yang baik dapat menyebabkan ruang pori di dalam dan di antara agregat yang dapat diisi air dan udara sekaligus mantap keadaannya. Agregat tanah yang mantap dapat menghambat tertutupnya pori-pori tanah dari partikel-partikel tanah yang halus (Sarief, 1989). Dari hasil penelitian, pupuk kandang dapat meningkatkan kestabilan tanah seperti yang dilaporkan Yatno (2011). Pemberian bahan organik berupa pupuk kandang, kompos dari sisa ampas tebu, dan mulsa sisa tanaman sebesar 5 sampai 15 ton ha -1 berpengaruh nyata dalam meningkatkan stabilitas agregat tanah. Kemantapan agregat tanah dipengaruhi oleh adanya kandungan C-organik tanah, KTK, kandungan liat dalam tanah, ruang pori total dan air tersedia. Dengan meningkatnya kandungan C-organik tanah, KTK, serta semakin tinggi kandungan liat dalam tanah biasanya akan memiliki stabilitas agregat yang mantap. Selain itu tanah juga akan memiliki ruang pori yang tinggi serta mempunyai daya menyimpan air yang tinggi pula. Informasi lebih lanjut mengenai pengaruh pupuk kandang terhadap sifat fisik tanah dapat dilihat dalam uraian berikut ini. Tabel 4.1. Pengaruh Pupuk Kandang terhadap C-organik, KTK, dan BI Dosis Pupuk Kandang C-organik (%) KTK (cmol kg -1 ) BI (g cc -1 ) (ton ha -1 ) 0 4.68 17.77 0.74 5 4.76 18.80 0.73 10 4.81 19.22 0.72 15 4.84 19.26 0.71 20 4.87 20.47 0.70 25 4.88 21.53 0.68 Keterangan : - KTK = Kapasitas Tukar Kation - BI = Bobot Isi

C-organik (bahan organik) adalah bagian dari tanah yang bersifat dinamis dan komplek yang merupakan penimbunan dari sisa-sisa tumbuhan dan binatang yang telah mengalami pelapukan dan terus menerus berubah bentuk. Tabel 4.1. menunjukkan bahwa penambahan pupuk kandang mampu meningkatkan kandungan C-organik pada tanah. Pada perlakuan 0 ton ha -1 memiliki nilai terkecil dari semua perlakuan, sedangkan pada perlakuan 25 ton ha -1 memiliki nilai paling besar dari semua perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa selama penelitian telah terjadi peningkatan kandungan C-organik pada penambahan pupuk kandang dengan dosis yang semakin tinggi, yang disebabkan karena penambahan pupuk kandang dapat meningkatkan kandungan C-organik di dalam tanah. Menurut Soembroek (1993, lihat Yasin, Oktalida, dan Gusnidar., 2010), pada umumnya lebih dari 90% jaringan bahan organik mengandung unsur C, dan apabila ditambahkan ke dalam tanah maka akan meningkatkan kandungan unsur C-organik tanah. Kapasitas tukar kation (KTK) merupakan faktor penting dalam menentukan kesuburan tanah karena menjadikan tanah memiliki kemampuan menjerap unsurunsur hara yang dibutuhkan tanaman. Berdasarkan Tabel 4.1. penambahan bahan organik yang semakin tinggi memberikan nilai KTK yang semakin tinggi pula. Pada perlakuan yang diberi pupuk kandang mempunyai nilai KTK yang lebih besar dari pada perlakuan tanpa pupuk kandang seperti dapat dilihat pada perlakuan 0 ton ha -1 mempunyai nilai KTK sebesar 17.77 cmol kg -1 sedangkan pada perlakuan 5-25 ton ha -1 nilai KTKnya semakin tinggi atau bertambah seperti yang tertera pada Tabel 4.1. Hal ini terjadi karena bahan organik yang terdekomposisi dapat menghasilkam asam organik yang meningkatkan gugus karboksil COOH dan fenolik OH sehingga muatan negatif ikut meningkat pula. Dengan adanya peningkatan muatan negatif pada koloid tanah maka dapat menyebabkan peningkatan KTK pada tanah (Herviyanti dkk., 2012). Menurut Hardjowigeno (2007), tanah dengan kandungan bahan organik yang tinggi mempunyai KTK yang tinggi bila dibandingkan dengan tanah yang mempunyai bahan organik rendah. BI atau bobot isi merupakan nilai yang menunjukkan kepadatan suatu tanah. Semakin tinggi bobot isi suatu tanah, maka tanah tersebut akan semakin padat. 16

Berdasarkan Tabel 4.1. pemberian bahan organik yang semakin tinggi atau meningkat dapat menurunkan nilai bobot isi. Hal ini dikarenakan bahan organik yang terdekomposisi dapat mengikat butir-butir tanah yang dapat menyebabkan tanah menjadi gembur, keadaannya longgar dan bergranulasi yang mengakibatkan penurunan bobot isi (Arsyad dkk., 2011). Hal ini sesuai dengan yang diutarakan Hakim dkk. (1986), bahwa tanah dengan bahan organik tinggi dapat mengakibatkan penurunan bobot isi. Tabel 4.2. Pengaruh Pupuk Kandang terhadap Ruang Pori Total dan Air Tersedia Dosis Pupuk Kandang ( ton ha -1 ) RPT (%) Air Tersedia (%) 0 63.8 a 11.83 a 5 63.9 ab 12.70 a 10 66.3 ab 15.22 a 15 66.6 b 15.84 a 20 67.7 b 16.67 a 25 67.9 b 17.55 a Keterangan : - Angka-angka yang diikuti dengan huruf yang sama menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata antar perlakuan, sedangkan angka-angka yang diikuti dengan huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata antar perlakuan menurut Uji DMRT pada taraf 5%. - RPT = Ruang Pori Total Ruang pori tanah merupakan persentase pori-pori dari tanah utuh yang terisi oleh udara dan air. Ruang pori yang terisi udara biasanya disebut juga dengan pori makro sedangkan pori yang terisi air disebut juga dengan pori mikro. Ruang pori tanah sangat penting dalam membantu perkembangan akar tanaman. Tanah dengan porositas yang tinggi akan memudahkan dalam pergerakan akar tanaman, karena tanah tersebut mempunyai struktur yang remah dan tidak padat. Tetapi, bila tanah tersebut berstruktur padat maka porositasnya berkurang atau menjadi lebih kecil. Pemberian pupuk kandang berpengaruh nyata terhadap ruang pori total (lampiran 2). Dari tabel 4.2. dapat dilihat bahwa dari dosis 15 ton ha -1 pemberian pupuk kandang secara nyata dapat meningkatkan ruang pori total dibandingkan dengan kontrol. Pada dosis 25 ton ha -1 memberikan nilai tertinggi terhadap ruang pori total walaupun tidak berbeda nyata dengan perlakuan 5 ton ha -1, 10 ton ha -1, 15 ton ha -1, dan 20 ton ha -1. Dengan bahan organik yang tinggi maka akan mampu 17

menciptakan ruang pori tanah yang tinggi pula. Hal ini disebabkan karena bahan organik yang diberikan ke dalam tanah dapat meningkatkan terbentuknya struktur tanah yang remah dan membuat pori-pori dalam tanah menjadi lebih banyak dan gembur (Refliaty dkk., 2011). Selain itu bahan organik yang terdekomposisi seperti polisakarida dapat berperan sebagai agen yang dapat mengikat butir-butir primer menjadi butir-butir sekunder sehingga dapat menciptakan ruang pori yang lebih besar (Bradi and Weil, 2000 dalam Yatno, 2011). Menurut Hardjowigeno (2007), tanah yang mempunyai bahan organik tinggi akan mempunyai porositas yang tinggi pula. Hakim dkk. (1986) menyatakan bahwa tanah dengan bahan organik tinggi dapat menurunkan bobot isi dan selanjutnya dapat meningkatkan porositas tanah. Selain itu menurut penelitian dari Junedi dan Arsyad (2010) pemberian bahan organik berupa kompos jerami padi 20 ton ha -1 mampu meningkatkan total ruang pori tanah. Penelitian dari Arsyad dkk. (2011), pemberian pupuk hijau yang berupa Calopogonium mucunoides dan Pueraria javanica sebanyak 5 dan 10 ton ha -1 mampu meningkatkan total ruang pori tanah. Penelitian Yatno (2011), pemberian bahan organik berupa pupuk kandang, kompos dari sisa ampas tebu, dan mulsa sisa tanaman sebesar 5 sampai 15 ton ha -1 berpengaruh nyata dalam meningkatkan porositas total. Air tersedia merupakan selisih antara kadar air pada kapasitas lapang (lampiran 3) dikurangi dengan kadar air pada titik layu permanen (lampiran 3). Air tersedia merupakan faktor yang penting dalam membantu pertumbuhan tanaman karena pada kondisi ini tanaman dapat mengambil atau menyerap air dari tanah. Pemberian atau perlakuan pupuk kandang hingga 25 ton ha -1 dalam penelitian ini tidak berpengaruh nyata terhadap air tersedia (lampiran 4). Tetapi terdapat kecenderungan bahwa semakin tinggi dosis pupuk kandang yang diberikan semakin tinggi pula air tersedia dalam tanah. Berdasarkan pada Tabel 4.2. pemberian pupuk kandang pada perlakuan 0 ton ha -1 mempunyai persentase air tersedia yang paling sedikit yaitu 11.83% jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Pemberian pupuk kandang dengan dosis 25 ton ha -1 memberikan persentase air tersedia yang paling tinggi yaitu sebesar 17.55%. Hal ini terjadi karena bahan organik yang tinggi di dalam tanah akan memiliki 18

kemampuan yang besar dalam memegang air tanah sehingga air tersebut masih tetap tersimpan di dalam tanah. Sejalan dengan pernyataan dari Sarief (1989) yang menyatakan bahwa bahan organik mempunyai kemampuan untuk menghisap air dan meningkatkan daya menahan air dalam tanah. Selain itu Buckman dan Brady (1982, terjemahan Soegiman) juga menyatakan bahwa bahan organik dapat mendorong dan meningkatkan daya menahan air tanah sehingga mempertinggi jumlah air yang tersedia. Ruang pori total berkorelasi positif dengan air tersedia, dengan r = 0.725 (lampiran 5). Hal ini menandakan bahwa peningkatan ruang pori total juga diikuti dengan peningkatan air tersedia karena biasanya pada tanah dengan ruang pori total yang tinggi, tanah akan menjadi gembur, porous dan remah sehingga memudahkan pergerakan air yang masuk ke dalam tanah. Tabel 4.3. Pengaruh Pupuk Kandang terhadap MWD dan ISA Dosis Pupuk Kandang (ton ha -1 ) MWD ISA 0 2.90 a 52 a 5 3.38 b 73 b 10 3.42 b 74 b 15 3.59 b 72 b 20 3.61 b 87 b 25 3.45 b 86 b Keterangan : - Angka-angka yang diikuti dengan huruf yang sama menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata antar perlakuan, sedangkan angka-angka yang diikuti dengan huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata antar perlakuan menurut Uji DMRT pada taraf 5%. - MWD = Mean Weight Diameter - ISA = Indek Stabilitas Agregat Stabilitas agregat merupakan indikator kestabilan atau ketahanan suatu tanah terhadap pengaruh dari luar. Kestabilan agregat tanah sangatlah berperan penting dalam menjaga kualitas suatu tanah. Untuk mengetahui kestabilan suatu agregat tanah dapat dilakukan dengan menentukan MWD (Mean Weight Diameter) yaitu diameter rata-rata dari agregat tanah yang tertimbang dan ISA (Indek Stabilitas Agregat) yang merupakan indikator dari kualitas suatu agregat tanah. Semakin tinggi Indek Stabilitas Agregat tanah maka tanah tersebut semakin stabil atau mantap keadaannya. 19

Kondisi yang mantap tersebut menjaga tanah agar tidak mudah hancur atau mengalami erosi akibat adanya pengaruh dari luar. Pemberian pupuk kandang berpengaruh nyata terhadap MWD (lampiran 6). Pada Tabel 4.3. menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang 5 ton ha -1 secara nyata mampu meningkatkan MWD (Mean Weight Diameter) dibandingkan dengan kontrol. Pada perlakuan pupuk kandang 20 ton ha -1 memberikan nilai MWD (Mean Weight Diameter) tertinggi walaupun tidak berbeda nyata dengan perlakuan 5 ton ha - 1, 10 ton ha -1, 15 ton ha -1, dan 25 ton ha -1. Hal ini terjadi karena bahan organik dapat merangsang terbentuknya granulasi-granulasi pada tanah. Menurut Hakim dkk. (1986), bahan organik berperan dalam merangsang granulasi agregat dan dapat memantapkannya. Seperti penelitian yang dilakukan Nurida dan Kurnia (2009), dengan pemberian bahan organik seperti Mucuna sp., sisa tanaman, dan Flemingia 19,50-21,32 ton ha -1 th -1 yang kontinu pada tanah yang telah kehilangan lapisan atas setebal 0,36-15,47 cm, mampu memelihara MWD dan agregat makro. Nilai MWD mempunyai hubungan yang kuat dengan ruang pori total (r = 0.648). Hal ini menunjukan bahwa perubahan MWD berpengaruh terhadap perubahan ruang pori total. Karena pada tanah dengan granulasi yang baik dapat meningkatkan ruang pori total dan dengan semakin meningkatnya agregat tanah maka ruang pori yang berdekatan akan semakin meningkat pula. Pemberian pupuk kandang berpengaruh nyata terhadap ISA (lampiran 7). Berdasarkan Tabel 4.3. pemberian pupuk kandang 5 ton ha -1 secara nyata mampu meningkatkan ISA (Indek Stabilitas Agregat) jika dibandingkan dengan kontrol. Sama halnya dengan MWD (Mean Weight Diameter), pemberian bahan organik dengan perlakuan 20 ton ha -1 mempunyai nilai ISA (Indek Stabilitas Agregat) tertinggi walaupun tidak berbeda nyata dengan perlakuan 5 ton ha -1, 10 ton ha -1, 15 ton ha -1 dan 25 ton ha -1. Bahan organik merupakan agen yang dapat merekatkan partikel-partikel tanah sehingga menjadi agregat yang mantap dan bahan organik tersebut dapat merangsang terbentuknya kembali flokulasi pada tanah. Sehingga dapat dikatakan bahwa bahan organik dapat memperbaiki agregat tanah seiring dengan bertambahnya bahan organik tersebut. Bahan organik mempunyai peranan 20

penting dalam menentukan kemantapan agregat tanah, hal ini disebabkan (1) bahan organik mempunyai kekuatan atau muatan lain yang dapat menyatukan butiran primer menjadi butiran sekunder, (2) hasil dekomposisi dari perekat organik yang terdapat pada sekitar butir sekunder dapat menyatukan satu sama lain sebagai penyemen atau pembungkus, (3) butiran sekunder selanjutnya disatukan dan diliputi benang-benang kapang sehingga terbentuk struktur tanah yang stabil dan remah (Junedi dan Arsyad, 2010). Seperti penelitian yang dilakukan Yatno (2011), pemberian bahan organik berupa pupuk kandang, kompos dari sisa ampas tebu, dan mulsa sisa tanaman sebesar 5 sampai 15 ton ha -1 berpengaruh nyata dalam meningkatkan stabilitas agregat. Nurida dan Kurnia (2009) menyatakan bahwa dengan pemberian bahan organik seperti Mucuna sp., sisa tanaman, dan Flemingia 19,50-21,32 ton ha -1 th -1 yang kontinu pada tanah yang telah kehilangan lapisan atas setebal 0,36-15,47 cm, mampu memelihara Indek Stabilitas Agregat tanah. Yulnafatmawita dkk. (2010) mengaplikasikan 3 jenis sumber bahan organik (Thitonia diversifolia, Chromolaena odorata, dan Gliricidia sepium) sebesar 20 ton ha -1 dan hal tersebut dapat meningkatkan Indek Stabilitas Agregat tanah antara 0.02-8.49 poin. MWD (Mean Weight Diameter) mempunyai hubungan yang positif dengan ISA (Indek Stabilitas Agregat) (r = 0,647). Hal ini menandakan bahwa semakin meningkatnya MWD (Mean Weight Diameter) tanah atau agregat-agregat tanah yang terbentuk berarti tanah tersebut akan mempunyai kemampuan untuk menahan tekanan yang dapat menghancurkan agregat, dengan kata lain tanah tersebut menjadi lebih mantap. 21