1.1. Manajemen Strategis

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II KAJIAN TEORI. 2.1 Rencana Strategis

BAB II LANDASAN TEORITIS

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

ANALISIS SWOT. Matriks SWOT Kearns EKSTERNAL INTERNAL. Comparative Advantage. Mobilization STRENGTH WEAKNESS. Sumber: Hisyam, 1998

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. kualitas sumber daya manusia yang bermanfaat bagi lingkungan masyarakat,

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan di sekolah yakni: input, proses, dan out put (Rivai dan Murni, 2009).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

Analisis Strategi Bisnis (SWOT) Kelompok 4: Opissen Yudisius Murdiono Muhammad Syamsul Wa Ode Mellyawanty Kurniawan Yuda

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

Gambar 3.1 Denah Lokasi Alam Wisata Cimahi

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN DAN ANALISIS DATA

STRATEGI PENINGKATAN MUTU SEKOLAH BERDASARKAN ANALISIS SWOT DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah:

BAB III METODE PENELITIAN. atau Sagela Pengucapaan yang sering di pakai masyarakat Gorontalo ini, terletak

BAB II KAJIAN TEORI. bagi suatu perusahaan untuk tetap survive di dalam pasar persaingan untuk jangka panjang. Daya

Bab III Metode Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Analisis SWOT (strengths-weaknessesopportunities-threats)

BAB III METODE PENELITIAN

Penerapan Analisis SWOT dalam Penyusunan Rencana Stratejik (Renstra) pada Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat III Badan Pusat Statistik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

III. METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini berlokasi di Kampung Baru, Kota Tua, Jakarta Barat. Kota

Distinctive Strategic Management

Gambar 2.5 Diagram Analisis SWOT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Perubahan adalah suatu keadaan yang sangat sulit untuk diramalkan,

III. METODE PENELITIAN. survei. Menurut Masri Singarimbun (1989:4), penelitian survei dapat digunakan

BAB I PENDAHULUAN. inovasi yang berdampak pada meningkatnya kinerja sekolah. seseorang tidaklah cukup efektif untuk mengerjakan sesuatu tanpa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 3 METODE PENELITIAN

Kata kunci: mutu nonakademik, analisis swot, ban pt, renstra

III. METODE PENELITIAN. tujuan penelitian. Wilayah yang akan dibandingkan dalam penelitian ini

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

METODE Lokasi dan Waktu Teknik Sampling

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II GAMBARAN UMUM SEKOLAH. School, yaitu Kelompok Bermain, Taman Kanak-kanak, dan juga Sekolah Dasar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan batasan operasional ini meliputi pengertian yang digunakan

BAB III METODOLOGI. 3.1 Lokasi dan Waktu Magang Kegiatan magang ini berlokasi di permukiman Telaga Golf Sawangan, yang terletak di Depok.

III. METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI. (BPS) dan instansi terkait lainnya. Data yang digunakan adalah PDRB atas dasar

III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Mamuju, mengambil fokus peningkatan kualitas SDM. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2016.

BAB V P E N U T U P. Berdasarkan analisis dan pembahasan yang dilakukan maka kesimpulan yang dapat diambil yaitu:

BAB IV ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN ASNAF FAKIR DAN MISKIN MELALUI BANTUAN MODAL ZAKAT YAYASAN DANA SOSIAL AL-FALAH (YDSF) SURABAYA

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini berlokasi di Kawasan Wisata Pantai Tanjung Pasir,

BAB IV STRATEGI PENGELOLAAN MAJALAH "AL MIHRAB" DALAM PENGEMBANGAN DAKWAH DENGAN ANALISIS SWOT

BAB II KERANGKA TEORI. dunia bisnis. Tujaun tersebut hanya dapat dicapai memalui usaha mempertahankan dan

FORMAT 1. PENILAIAN BORANG INSTITUSI PERGURUAN TINGGI. Penilaian Dokumen Perorangan. Nama Perguruan Tinggi :... Nama Asesor :... Kode Panel :...

BAB I PENDAHULUAN. Setiap unit usaha atau organisasi merupakan sebuah sistem, yang

BAB I PENDAHULUAN. dilakukan oleh banyak pihak, baik dilakukan oleh pemerintah maupun

ANALISIS STRATEGI PENINGKATAN KINERJA BAGIAN SEKRETARIAT PADA DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA KABUPATEN BANGGAI

III. METODE PENELITIAN

BAB IV VISI MISI SASARAN DAN TUJUAN

METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. dan globalisasi yang semakin terbuka. Sejalan tantangan kehidupan global,

MATERI KULIAH MANAGEMEN BERBASIS SEKOLAH. By: Estuhono, S.Pd, M.Pd

BAB I PENDAHULUAN. baik dalam penguasaan materi maupun metode pembelajaran selalu

BAB III 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. reformasi diindikasikan dengan adanya perombakan di segala bidang kehidupan,

BAB III METODE PENELITIAN. diskriptif yaitu suatu metode penelitian yang berusaha mendeskripsikan atau

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di PT. Amani Mastra yang kantornya terletak di

BAB I PENDAHULUAN. Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang merupakan tempat dimana

III. KERANGKA PEMIKIRAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang Masalah dan Penegasan Judul. berlangsung sepanjang sejarah dan berkembang sejalan dengan perkembangan

III. METODOLOGI KAJIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN

MATERI 3 ANALISIS PEMECAHAN MASALAH DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN

III. METODE PENELITIAN

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Strategi Pengembangan Usaha Dalam Pemberdayaan Ekonomi Pegawai Negeri Sipil Di Koperasi Pegawai Republik Indonesia Warga Winaya

PENGUKURAN KINERJA ORGANISASI

Keberadaan ED dalam AIPT

BAB II LANDASAN TEORI. semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan fungsi-fungsi lain

PUBLICITAS Publikasi Ilmiah Civitas Akademika Universitas Majalengka

III. METODE KAJIAN. B. Pengolahan dan Analisis Data

Seminar Nasional IENACO 2016 ISSN: STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI ROTI (STUDI KASUS DI CV MANDIRI)

: 1 (satu) kali tatap muka pelatihan selama 100 menit. : Untuk menanamkan pemahaman praja mengenai. Konsep Rencana Strategis Daerah.

BAB IV STRATEGI PEMBANGUNAN DAERAH

PENDIDIKAN MANAJEMEN OUT PUT MENINGKATKAN MUTU SEKOLAH. Oleh, Fauziah Zainuddin,S.Ag.,M.Ag.

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan nasional yang diatur secara sistematis. Pendidikan nasional berfungsi

BAB III METODE KAJIAN

URGENSI PENGGUNAAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENDIDIKAN (E-LEARNING) OLEH: LOVI TRIONO

Transkripsi:

BAB II TELAAH PUSTAKA 1.1. Manajemen Strategis Manajemen Strategis semakin penting arti dan manfaatnya apabila diingat bahwa lingkungan organisasi mengalami perubahan yang semakin cepat dan komplek, sehingga keberhasilan manajemen strategis ditentukan oleh para menejer atau pimpinannya. menurut Rindaningsih (2009) pengertian manajemen strategis adalah proses atau rangkaian kegiatan pengambilan keputusan yang bersifat mendasar dan menyeluruh, disertai penetapan cara pelaksanaannya, yang dibuat oleh manajemen puncak dan diimplementasikan oleh seluruh jajaran di dalam suatu organisasi, untuk mencapai tujuannya. Lebih lanjut menurut Akdon (dalam Ridaningsih Ida, 2009) menuturkan manajemen strategik berkaitan dengan upaya memutuskan persoalan strategi dan perencanaan, dan bagaimana strategik tersebut dilaksanakan dalam praktiknya. Manajemen strategik dapat dipandang sebagai hal yang mencakup tiga macam elemen utama. Pertama, terdapat adanya analisis strategik dimana penyusunan strategi yang bersangkutan berupaya untuk memahami posisi strategik organisasi yang bersangkutan.

Kedua, terdapat pula adanya pilihan strategik yang berhubungan dengan perumusan aneka macam arah tindakan, evaluasinya, dan pilihan antara mereka. Ketiga, terdapat pula implementasi strategi yang berhubungan dengan merencanakan bagaimana pilihan strategi dapat dilaksanakan. 1.2. Rencana Strategis Rencana strategis merupakan bagian yang penting dalam Total Quality Managenen (TQM). Tanpa adanya perencanaan baik itu jangka panjang maupun jangka pendek yang jelas dan terukur, maka institusi atau lembaga tidak akan bisa merencanakan peningkatan mutu. Rencana strategis adalah rencana yang dilakukan oleh para manager paling atas dan menengah untuk mencapai tujuan organisasi yang lebih luas (Edward dalam Umar, 2002). Untuk itu dalam penerapannya di sekolah, kepala sekolah perlu membuat suatu rencana strategis yang mana dikoordinasikan dengan para guru dan komite untuk dijalankan bersama demi mencapai tujuan yang diharapkan. Sementara itu menurut Tjokroamidjojo (2000) rencana strategis adalah suatu cara bagaimana mencapai tujuan sebaik-baiknya dengan menggunakan sumbersumber yang ada supaya lebih efisien dan efektif, dengan

menetukan tujuan apa yang akan dicapai atau yang akan dilakukan, bagaimana, bilamana dan oleh siapa. Rencana strategis suatu lembaga pendidikan menerapkan prinsip-prinsip sebagai berikut: mampu memperbaiki hasil pendidikan, membawa perubahan yang lebih baik, prioritas kebutuhan, partisipasi, keterwakilan, realitas sesuai dengan hasil analisis SWOT, mendasarkan pada hasil review dan evaluasi, keterpaduan menyeluruh, transparan, dan keterkaitan serta kesepadanan secara vertikal dan horizontal dengan rencana-rencana lain (Tilaar, 2000). Dari beberapa pendapat diatas maka rencana strategis pendidikan dalam penelitian ini adalah rencana yang dilakukan oleh stakeholder sekolah dengan memperhatikan prinsip perbaikan hasil pendidikan, membawa perubahan yang lebih baik, prioritas kebutuhan, partisipasi, keterwakilan, realitas sesuai dengan hasil analisis SWOT, mendasarkan pada hasil review dan evaluasi, keterpaduan menyeluruh, transparan, dan keterkaitan serta kesepadanan secara vertikal dan horizontal dengan rencana-rencana lain. 2.3. Mutu Mutu pendidikan tidak hanya ditentukan oleh sekolah sebagai lembaga pengajaran tetapi juga disesuaikan dengan apa yang menjadi harapan dan

pandangan masyarakat yang cenderung berkembang seiring dengan kemajuan jaman. Bertitik tolak pada kecenderungan ini penilaian masyarakat tentang mutu lulusan sekolahpun terus berkembang. Karena itu sekolah harus terus-menerus meningkatkan mutu lulusannya dengan menyesuaikan dengan perkembangan tuntutan masyarakat menuju pada mutu pendidikan yang dilandasi tolok ukur norma ideal (Sumarni, 2011). Sagala (2010) berpendapat bahwa mutu pendidikan adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh jasa pelayanan pendidikan secara internal ataupun eksternal yang menunjukkan kemampuannya memuaskan kebutuhan yang diharapkan. Untuk meningkatkan mutu pendidikan, sekolah perlu melakukan perbaikan secara berkesinambungan. Lewis dan Smith (dalam Tjiptono & Diana, 2003) mengatakan bahwa pendekatan sistem terbuka menekankan kebutuhan kualitas pada ketiga tahap utama, yaitu akreditasi, proses transformasi, dan assessment. Akreditasi berkaitan dengan input, sedangkan assessment berkaitan dengan output. Input meliputi kemampuan dasar peserta didik, sumber daya financial, fasilitas, dan program. Proses meliputi desain pembelajaran, metode pembelajaran, dan sistem analisis data. Sedangkan output adalah prestasi peserta didik dan

pasca kelulusan. Berikut adalah bagan penyempurnaan secara berkesinambungan. Gambar 2.1. Penyempurnaan Kualitas Berkesinambungan Penyempurnaan kualitas berkesinambungan Akreditasi Proses Transformasi Assessment Input Output Sumber: Lewis & Smith (dalam Tjiptono & Diana 2003) Proses penyempurnaan kualitas dalam sistem pembelajaran ditentukan oleh: a. Input Input adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses pendidikan. Input pendidikan meliputi kemampuan dasar peserta didik, sumber daya finansial, fasilitas, program, dan jasa pendukung. Kesiapan input sangat diperlukan agar proses dapat berlangsung dengan baik. Oleh sebab itu, baik atau tidaknya mutu input dapat

diukur dari tingkat kesiapan input. Semakin tinggi tingkat kesiapan input, maka semakin tinggi pula mutu input tersebut (Sumarni, 2011). Scheerens (2003) menyatakan salah satu input dalam sistem sekolah adalah murid dengan berbagai karakteristik tertentu yang ada pada mereka. Kesiapan input sangat diperlukan agar proses dapat berlangsung dengan baik. Masyarakat secara umum berasumsi bahwa input yang berkemampuan tinggi akan menghasilkan lulusan yang berkemampuan tinggi juga dan sebaliknya. Akan tetapi hal tersebut tidak sepenuhnya benar karena sekolah yang berkualitas harus mampu mengelola input yang rendah atau sedang untuk menjadikan lulusan yang berkemampuan tinggi. Dari beberapa pendapat diatas input khususnya dalam pendidikan adalah semua hal yang tersedia dan dibutuhkan dalam proses pendidikan. Input yang paling mendapatkan perhatian khusus dari masyarakat adalah peserta didik. Jika sebuah sekolah memiliki input peserta didik dengan nilai atau kemampuan yang tinggi maka mutu lulusan yang baik atau sebaliknya. Namun dalam kenyataanya itu tidak sepenuhnya benar. Ada sekolah yang memiliki input peserta didik dengan kemampuan atau nilai bagus namun

outputnya tidak bagus, atau dengan kata lain tidak selalu berbanding lurus. b. Proses Proses untuk meningkatkan mutu sekolah merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Proses meliputi kemampuan guru, desain pembelajaran, fasilitas belajar, kurikulum, media, dan evaluasi. Sanjaya (2006) mengemukakan 4 hal penting dalam proses pendidikan. Pertama, proses pendidikan adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh guru dan peserta didik untuk mencapai tujuan. Kedua, proses pendidikan yang terencana diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Ketiga, suasana belajar dan pembelajaran diarahkan agar peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya. Keempat, akhir dari proses pendidikan adalah kemampuan anak memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahklak mulia, serta keterampilan yang diperlukan. Proses pendidikan yang bermutu harus didukung oleh personalia seperti guru, konselor, dan tata usaha dan administrasi yang bermutu dan prosfesional. Hal tersebut didukung oleh sarana dan prasarana

pendidikan, fasilitas, media dan sumber belajar yang memadahi baik mutu maupun jumlahnya serta managemen strategi dan lingkungan yang mendukung (Mulyasa, 2006). Proses dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian dan penyerasian serta pemaduan input dan proses yang dilakukan secara harmonis, sehingga menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan, juga mendorong motivasi dan minat belajar peserta didik sehingga mampu mengembangkan dirinya (Rozari, 2011). Dari beberapa pengertian di atas maka proses pendidikan dalam penelitian ini adalah proses berubahnya sesuatu menjadi sesuatu lain dalam bidang pendidikan dengan mempertimbangkan ketercapaian tujuan, mengembangkan potensi peserta didik dalam berbagai bidang yang didukung oleh sarana dan prasarana, fasilitas, media, serta sumber daya pendukung lainnya. c. Output Output merupakan kinerja sekolah. Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses atau perilaku sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya, efektivitasnya, produktivitasnya, efisiensinya, inovasinya, kualitas kehidupan kerjanya dan moral kerjanya. Khusus yang

berkaitan dengan mutu output sekolah, dapat dijelaskan bahwa output sekolah dikatakan berkualitas / bermutu tinggi jika prestasi sekolah, khususnya prestasi belajar peserta didik, menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam: (1) prestasi akademik, berupa nilai Ujian Semester, Ujian Nasional, karya ilmiah, lomba akademik, dan (2) prestasi nonakademik, seperti misalnya IMTAQ, kejujuran, kesopanan, olahraga, kesenian, keterampilan, dan kegiatan ektsrakurikuler lainnya. Mutu sekolah dipengaruhi oleh banyak tahapan kegiatan yang saling berhubungan (proses) seperti misalnya perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan. Pada umumnya, output dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu output berupa prestasi akademik (academic, achievement) dan output berupa prestasi non-akademik (non-academic achievement). Output prestasi akademi misanya, NEM, lomba karya ilmiah remaja, lomba mata pelajaran, cara-cara berfikir (kritis, kreatif/divergen, nalar, rasional, induktif, dedukatif, dan ilmiah). Output non-akademik, misalnya keingintahuan yang tinggi, harga diri kejujuran, kerjasama yang baik, rasa kasih sayang yang tinggi terhadap sesama, solidaritas yang tinggi, toleransi, kedipsiplinan, kerajinan prestasi oleh raga, kesenian, dan kepramukaan.

2.4 Perencanaan Strategis Peningkatan Mutu Sekolah Mutu tidak terjadi begitu saja, namun perlu suatu proses perencanaan. Mutu menjadi bagian penting dari strategi institusi dan harus didekati secara sistematis dengan menggunakan proses perencanaan strategis. Tanpa arahan jangka panjang yang jelas, sekolah sebagai sebuah institusi pendidikan tidak dapat merencanakan peningkatan mutu (Rozari, 2011). Oleh sebab itu rencana strategis peningkatan mutu mutlak dilakukan oleh institusi pendidikan untuk mempertahankan sekolah dari persaingan yang semakin ketat. Rencana strategis merupakan rencana komprehensif dengan melibatkan semua sumber dan kemampuan untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar, mencapai sasaran sekolah, dan juga memenangkan persaingan yang ada. Rencana strategis peningkatan mutu sekolah dalam implementasinya tidak lepas dari manajemen peningkatan mutu sekolah. Berkaitan dengan hal ini, Usman (2002) menyatakan bahwa manajemen peningkatan mutu memiliki prinsip (1) peningkatan mutu harus dijalankan di sekolah, (2) peningkatan mutu hanya dapat dilaksanakan dengan adanya kepemimpinan yang baik, (3) peningkatan mutu harus didasarkan pada data dan fakta baik bersifat kualitatif maupun kuantitatif, (4)

peningkatan mutu harus memberdayakan dan melibatkan semua unsur yang ada di sekolah, (5) peningkatan mutu memiliki tujuan bahwa sekolah dapat memberikan kepuasan kepada peserta didik, orang tua dan masyarakat. 2.5 Strategi Peningkatan Mutu Sekolah Berdasarkan Analisa SWOT SWOT adalah singkatan dari Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats. Rangkuti (2009) mejelaskan Strengths adalah beberapa hal yang merupakan kelebihan dari sekolah yang bersangkutan. Weaknesses adalah komponen-komponen yang kurang menunjang keberhasilan penyelenggaraan pendidikan yang ingin dicapai sekolah. Opportunity adalah kemungkinan-kemungkinan yang dapat dicapai apabila potensi-potensi yang ada di sekolah mampu dikembangkan secara optimal. Threats adalah kemungkinan yang mungkin terjadi atau pengaruh terhadap kesinambungan dan keberlanjutan kegiatan penyelenggaraan sekolah. Berikut ini adalah diagram analisis SWOT.

Gambar 2.2 Diagram Analisis SWOT BERBAGAI PELUANG (O) 2. Mengubah Strategi ( -, +) 1. Strategi Agresif (+, +) KUADRAN III KUADRAN I KELEMAHAN INTERNAL(W) KUADRAN IV KUADRAN II KEKUATAN INTERNAL(S) 3. Strategi bertahan (-, - ) 4. Strategi Diversifikasi (+, - ) Sumber: Rangkuti, 2009 BERBAGAI ANCAMAN (T) Dari diagram analisis SWOT diatas yang dimaksudkan dengan strategi agresif (SO) sebuah strategi yang digunakan dengan memanfaatkan seluruh kekuatan sekolah untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya. Strategi diversifikasi (ST) dilakukan dengan memanfaatkan seluruh kekuatan yang dimiliki sekolah untuk mengatasi masalah. Strategi defensif (TW) dilakukan dengan meminimalkan kelemahan yang ada di sekolah untuk menghindari ancaman. Sedangkan Strategi

turn around (WO) dilakukan dengan meminimalkan kelemahan yang ada di sekolah untuk menangkap peluang. Kuadran I (positif, positif). Posisi ini menandakan sebuah organisasi yang kuat dan berpeluang. Rekomendasi strategi yang diberikan adalah Progresif, artinya organisasi dalam kondisi prima dan mantap sehingga sangat dimungkinkan untuk terus melakukan ekspansi, memperbesar pertumbuhan dan meraih kemajuan secara maksimal. Kuadran II (positif, negatif). Posisi ini menandakan sebuah organisasi yang kuat namun menghadapi tantangan yang besar. Rekomendasi strategi yang diberikan adalah Diversifikasi Strategi, artinya organisasi dalam kondisi mantap namun menghadapi sejumlah tantangan berat sehingga diperkirakan roda organisasi akan mengalami kesulitan untuk terus berputar bila hanya bertumpu pada strategi sebelumnya. Oleh karenya, organisasi disarankan untuk segera memperbanyak ragam strategi taktisnya. Kuadran III (negatif, positif). Posisi ini menandakan sebuah organisasi yang lemah namun sangat berpeluang. Rekomendasi strategi yang diberikan adalah Ubah Strategi, artinya organisasi disarankan untuk mengubah strategi sebelumnya. Sebab, strategi yang lama

dikhawatirkan sulit untuk dapat menangkap peluang yang ada sekaligus memperbaiki kinerja organisasi. Kuadran IV (negatif, negatif). Posisi ini menandakan sebuah organisasi yang lemah dan menghadapi tantangan besar. Rekomendasi strategi yang diberikan adalah Strategi Bertahan, artinya kondisi internal organisasi berada pada pilihan dilematis. Oleh karenanya organisasi disarankan untuk menggunakan strategi bertahan, mengendalikan kinerja internal agar tidak semakin terperosok. Strategi ini dipertahankan sambil terus berupaya membenahi diri. Jika pihak stakeholder sekolah memahami dan terbuka dengan strategi tersebut di atas maka sekolah akan sangat tertolong dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang muncul, baik dari pihak internal ataupun dari eksternal. 2.6 Langkah-langkah Pengembangan Rencana Strategis Menurut Sugiyono (2012) langkah-langkah pengembangan yang digunakan untuk mengembangkan rencana strategis peningkatan mutu sekolah adalah sebagai berikut ini: 1. Potensi dan Masalah Sekolah memiliki potensi internal yang dapat dijadikan sebagai kekuatan, dan terdapat potensi eksternal yang dapat dijadikan sebagai peluang bagi sekolah untuk

mengembangkan mutu. Selain itu juga ada masalahmasalah yang muncul di sekolah yaitu masalah internal yang dianggap sebagai kelemahan sekolah, dan masalah-masalah eksternal yang dianggap sebagai ancaman bagi sekolah. Potensi dan masalah dalam penelitian ini berupa data-data empirik. 2. Mengumpulkan Informasi Selanjutnya setelah potensi dan masalah sekolah digali secara mendalam dan ditunjukkan secara faktual, selanjutnya dikumpulkan berbagai informasi yang dapat digunakan sebagai bahan untuk merencanakan suatu strategi yang diharapkan mampu mengatasi masalah-maslah yang muncul. Data yang dibutuhkan bisa berbagai cara seperti wawancara, observasi, studi dokumen dan Focus Group Discussions (FGD). 3. Desain Produk/ Rancangan Produk Rencana strategis merupakan produk penelitian ini yang selanjutnya dapat dijadikan sebagai dasar untuk meningkatkan mutu sekolah. Rencana strategis ini masih belum diketahui efektivitasnya, maka diperlukan suatu pengujian untuk mengetahui tingkat efektifitasnya. 4. Validasi Desain Validasi desain merupakan proses kegiatan untuk menilai apakah rancangan produk, dalam hal ini sistem kerja baru secara rasional akan lebih efektif dari yang lama atau tidak. Dikatakan rasional, karena validasi di sini masih bersifat penilaian berdasarkan pemikiran rasional, belum fakta lapangan. Validasi produk dapat dilakukan dengan cara menghadirkan beberapa pakar atau tenaga ahli yang menguasai bidang tersebut untuk menilai produk baru

yang dirancang tersebut. Pakar atau ahli diminta untuk menilai desain tersebut, sehingga selanjutnya dapat diketahui kelemahan dan kekuatannya. 5. Perbaikan Desain Setelah rencana strategis divalidasi, maka akan diketahui kelemahannya, selanjutnya akan desain akan diperbaiki oleh peneliti. Pada akhirnya maka akan dihasilkan suatu rencana strategis yang bisa diberikan kepada sekolah sebagai alternatif peningkatan mutu sekolah. Sesungguhnya langkah-langkah pengembangan rencana strategis yang dikemukakan oleh Sugiyono tidak berhenti pada perbaikan desain namun masih berlanjut yaitu; 6. Uji coba produk; 7. Revisi produk; 8. Uji coba pemakaian; 9. Revisi produk; dan 10. Pembuatan produk masal. Namun penulis akan memfokuskan sampai pada tahap yang kelima yaitu perbaikan desain karena beberapa keterbatasan yang ada. Sementara itu menurut Arikunto (2010) ada empat tahap untuk mengembangkan rencana strategis yaitu: 1. Menyusun Rancangan Pada tahap ini tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa dan bagaimana penelitian itu akan dilakukan. Selain itu peneliti perlu menentukan fokus peristiwa yang perlu mendapat perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat suatu instrumen pengamatan untuk

membantu peneliti merekam fakta yang terjadi selama penelitian berlangsung. 2. Pelaksanaan Pelaksanaa adalah implementasi dari isi rancangan penelitian. Peneliti harus taat pada apa yang sudah dirumuskan dalam rancangan, tetapi juga harus berlaku wajar. 3. Pengamatan Pengamatan dapat dilakukan secara bersama-sama dengan pelaksanaan. 4. Refleksi Refleksi merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah terjadi. Pada tahap ini, peneliti bersama-sama dengan orang-orang yang berkepentingan pada objek penelitian berdiskusi mengenai apa saja yang sudah terjadi selama penelitian. Tahap ini juga dapat disebut tahap evaluasi. Berdasarkan langkah-langkah rencana strategis dari dua pendapat tersebut di atas, peneliti lebih condong dengan langkah-langkah yang disampaikan oleh Sugiyono namun akan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi oleh peneliti. Selain itu peneliti akan fokus sampai dengan tahap yang kelima yaitu perbaikan desain. Meski demikian penulis juga mencoba untuk mempertimbangkan langkah-langkah atau pendapat Arikunto untuk dapat dijadikan formulasi. Berikut ini adalah rumusan peneliti dalam merumuskan langkahlangkah pengembangan rencana strategis yang akan dilakukan dalam penelitian berikut ini:

1. Menyusun rancangan penelitian Peneliti mempersiapkan instrumen penelitian berupa pedoman wawancara, lembar observasi, instrumen analisis SWOT dan panduan FGD; 2. Potensi dan masalah Peneliti kebetulan bekerja di tempat penilitian ini dilakukan, maka setidaknya sudah mengetahui apa yang menjadi potensi dan masalah disekolah meski masih perlu digali lebih mendalam lagi. 3. Pengumpulan data Pada tahap ini penelitian dapat dikatakan sampai pada tahap pelaksanaan dan pengamatan. Pengumpulan data ini dilakukan dengan FGD, selanjutnya akan diperoleh analisis SWOT yang menggambarkan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman sekolah, yang didasarkan pada bobot dan skor yang diberikan berdasarkan FGD. 4. Desain produk Penelitian akan menghasilkan rencana strategis yang belum teruji oleh pakar sehingga belum diketahui efektifitasnya. Maka pada tahap selanjutnya dibutuhkan pengujian oleh pakar atau ahli. 5. Validasi desain Data yang sudah diperoleh akan diuji oleh pakar untuk mengetahui kelemahan-kelemannya, yang

selanjutnya akan diperbaiki dengan mengurangi kelemahan-kelemahan tersebut. 6. Perbaikan desain Dari hasil perbaikan dari pakar maka akan didapatkan rencana strategis yang lebih bisa dipertanggung jawabkan. Selanjutnya rencana strategis tersebut akan diserahkan kepada sekolah sebagai alternatif peningkatan mutu. 2.7 Kerangka Pikir Berikut ini adalah kerangka pikir dari alternatif Strategi Peningkatan Mutu Sekolah Berdasarkan Analisis SWOT di SMPN 1 Bawen:

Gambar 2.3 Kerangka Pikir Analisis SWOT Identifikasi Visi, Misi dan Tujuan Analisis lingkungan Analisis lingkungan Identifikasi Kekuatan dan Kelemahan Rumusan Alternatif Strategi Peningkatan Mutu Identifikasi Peluang dan Ancaman Implementasi Strategi Evaluasi Strategi peningkatan mutu sekolah adalah suatu rencana yang komprehensif dengan melibatkan segala sumber kemampuan untuk meningkatakan kualitas proses belajar, mencapai target-target sekolah, memenangkan persaingan. Indentifikasi visi, misi dan tujuan sekolah adalah bagian yang sangat penting untuk mewujudkan alternatif strategi peningkatan mutu sekolah. Selanjutnya yang harus dilakukan adalah mengalisis lingkungan internal dan eksternalnya untuk

mengukur atau mengidentifikasi faktor kekuatan, kelemahan dan faktor peluang, ancaman. Dari faktorfaktor tersebut jika dianalisa secara komprehensif maka akan mengahasilkan informasi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menyusun alternatif strategi peningkatan mutu sekolah. Jika alternatif strategi tersebut dilaksanakan maka akan ada monitoring dan evaluasi yang berkelanjutan dengan tujuan untuk memperbaiki strategi dimasa yang akan datang. Dalam penelitian ini penulis tidak akan membahas sampai dengan monitoring dan evaluasi namun hanya sampai pada merumuskan rencana strategis.