IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

PENDAHULUAN Latar Belakang

4. PERUBAHAN PENUTUP LAHAN

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

2014 KAJIAN KUALITAS AIR TANAH DI SEKITAR KAWASAN BUDIDAYA IKAN PADA KERAMBA JARING APUNG DI WADUK JATILUHUR KABUPATEN PURWAKARTA

BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH STUDI

2. TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2. Zonasi pada perairan tergenang (Sumber: Goldman dan Horne 1983)

BAB I PENDAHULUAN. dan binatang), yang berada di atas dan bawah wilayah tersebut. Lahan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

2016 ANALISIS NERACA AIR (WATER BALANCE) PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CIKAPUNDUNG

Analisis Program Rehabilitasi DTA Saguling

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan. Untuk melangsungkan kehidupannya itu, manusia banyak melakukan

Bab III Studi Kasus. Daerah Aliran Sungai Citarum

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemanfaatan sumber daya perairan umum untuk aktivitas budidaya ikan air tawar menjadi sangat penting seiring

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan satu kesatuan ekosistem yang unsur-unsur

BAB I PENDAHULUAN. Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Karakteristik Hidrologi Di SUB DAS CIRASEA

IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

3. METODOLOGI PENELITIAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS TUTUPAN LAHAN TERHADAP KUALITAS AIR SITU BURUNG, DESA CIKARAWANG, KABUPATEN BOGOR

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang

Lampiran 1. Curah Hujan DAS Citarum Hulu Tahun 2003

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Ekosistem merupakan suatu interaksi antara komponen abiotik dan biotik

TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN. Berdasarkan data Bappenas 2007, kota Jakarta dilanda banjir sejak tahun

BAB I PENDAHULUAN. hidrologi di suatu Daerah Aliran sungai. Menurut peraturan pemerintah No. 37

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI

BAB I PENDAHULUAN. 9 Tubuh Air Jumlah Sumber : Risdiyanto dkk. (2009, hlm.1)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dimilikinya selain faktor-faktor penentu lain yang berasal dari luar. Hal ini

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam siklus hidrologi, jatuhnya air hujan ke permukaan bumi merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Bab I Pendahuluan 1.1. LATAR BELAKANG

PENDAHULUAN Latar Belakang

RENCANA TINDAK PENGELOLAAN DAS CITARUM


BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

TINJAUAN PUSTAKA. yang merupakan kesatuan ekosistem dengan sungai dan anak-anak sungainya

BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Peta Lokasi Studi.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

ANALISA PENCEMARAN LIMBAH ORGANIK TERHADAP PENENTUAN TATA RUANG BUDIDAYA IKAN KERAMBA JARING APUNG DI PERAIRAN TELUK AMBON

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Bab V Hasil dan Pembahasan

- 1 - PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PROVINSI JAWA TIMUR

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

RENCANA PENGELOLAAN SDA DAN LH DAS BARITO

PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA. Bab II

Disajikan oleh: 1.Michael Ario, S.H. 2.Rizka Adellina, S.H. (Staf Bagian PUU II Subbagian Penataan Ruang, Biro Hukum, KemenPU)

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang

Sungai berdasarkan keberadaan airnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu (Reid, 1961):

kuantitas sungai sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan iklim komponen tersebut mengalami gangguan maka akan terjadi perubahan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan hasil analisis mengenai dampak perubahan penggunaan lahan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

sumber daya lahan dengan usaha konservasi tanah dan air. Namun, masih perlu ditingkatkan intensitasnya, terutama pada daerah aliran sungai hulu

I. PENDAHULUAN. satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungai, yang berfungsi menampung,

DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) WALANAE, SULAWESI SELATAN. Oleh Yudo Asmoro, Abstrak

BAB I PENDAHULUAN. banyak, bahkan oleh semua mahkluk hidup. Oleh karena itu, sumber daya air

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikeruh adalah merupakan Daerah Aliran

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perkotaan Yogyakarta mulai menunjukkan perkembangan yang sangat

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Pemodelan Penyebaran Polutan di DPS Waduk Sutami Dan Penyusunan Sistem Informasi Monitoring Kualitas Air (SIMKUA) Pendahuluan

DANAU TONDANO. Gambar 1. Peta lokasi Danau Tondano, Provinsi Sulawesi Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB IV PERUMUSAN KLHS DAN REKOMENDASI RPJMD

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 TINJAUAN UMUM SUB-DAS CITARIK

PENDAHULUAN. daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya jumlah populasi penduduk pada suatu daerah akan. memenuhi ketersediaan kebutuhan penduduk. Keterbatasan lahan dalam

2012, No.62 2 Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang K

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Penelitian

Makalah Baku Mutu Lingkungan

BAB I PENDAHULUAN. Sistem air terdiri dari laut, air permukaan maupun air tanah. Air merupakan hal


BAB I PENDAHULUAN. Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan ruang bagi sumberdaya alam,

BAB I PENDAHULUAN. Daerah Aliran Sungai merupakan suatu sistem alam yang menjadi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Air merupakan komponen lingkungan yang penting bagi kehidupan yang

Pendahuluan I-1 BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. komponen penting bagi semua bentuk kehidupan di bumi. Pengaturan air yang

2 sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b, perlu membangun bendungan; d. bahwa untuk membangun bendungan sebagaimana dimaksud pada huruf c, yang

KAJIAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN KAWASAN LINDUNG MENJADI KAWASAN BUDIDAYA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27/PRT/M/2015 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Transkripsi:

66 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum PLTA 4.1.1 PLTA Saguling dan Cirata di Propinsi Jawa Barat Guna memanfaatkan debit air yang dialirkan Sungai Citarum, sungai terpanjang dan terbesar di provinsi Jawa Barat luas 1.448.279,25 ha, pemerintah membuat tiga bendungan dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di sungai ini yaitu PLTA Saguling, PLTA Cirata, dan PLTA Ir. H. Djuanda (PLTA Jatiluhur). Pengoperation ketiga waduk ini diintegrasikan dalam satu pola operasi yang disebut Pola operasi waduk kaskade Citarum dengan pendekatan equal sharing yang dilakukan setiap bulan Oktober oleh ketiga pengelola waduk, yaitu Perum Jasa Tirta II (Waduk Jatiluhur), PT Pembangkit Jawa Bali (Waduk Cirata), dan PT Indonesia Power (Waduk Saguling). PLTA yang menjadi objek penelitian adalah PLTA Saguling dan PLTA Cirata. A. PLTA Saguling PLTA Saguling adalah salah satu unit bisnis pembangkitan di bawah PT. Indonesia Power. PLTA Saguling yang mulai beroperasi tahun 1986 memiliki visi menjadi perusahaan publik dengan kinerja kelas dunia dan bersahabat dengan lingkungan. Misi PLTA Saguling melakukan usaha dalam bidang ketenagalistrikan dan mengembangkan usaha-usaha lainnya yang berkaitan, berdasarkan kaidah industri dan niaga yang sehat, guna menjamin keberadaan dan pengembangan perusahaan dalam jangka panjang. UPB Saguling mengelola 29 mesin pembangkit yang tersebar di Jawa Barat dengan total kapasitas terpasang 797,36 MW. Keuntungan PLTA ini antara lain waktu pengoperasian relatif lebih cepat (15 menit), biaya produksi lebih murah karena menggunakan air, rotasi turbin rendah dan tidak mengeluarkan panas sehingga peralatan jarang mengalami kerusakan. PLTA juga ramah lingkungan, karena tidak adanya proses pembakaran sehingga tidak ada limbah bekas pembakaran yang ditimbulkan. Dam (waduk) bertindak cultivation multifungsi, seperti pengendalian banjir dan sistem irigasi sawah.

67 PLTA Saguling memanfaatkan air Sungai Citarum yang terbagi atas 11 sub DAS. Tujuh diantara Sub Das tersebut mempengaruhi pola aliran Sungai Citarum baik kuantitas maupun kualitasnya yaitu Sub DAS Citarik, Sub DAS Cirasea, Sub DAS Cihaur, Sub DAS Ciminyak, Sub DAS Cisangkuy, Sub DAS Ciwidey, dan Sub DAS Cikapundung. Sungai ini bermata air utama di Gunung Wayang, di selatan Bandung pada ketinggian 2.182 m, dan bermuara ke Laut Jawa di daerah Tanjung Karawang. Luas DAS sekitar 6.080 km 2 dan panjang sungai sekitar 270 km (Marganingrum 2007). Pengelolaan sumberdaya air secara berkelanjutan diintegrasikan ke dalam sistem manajemen perusahaan. Program penghijauan ditetapkan dalam road map tahun 2003-2016. PLTA Saguling melibatkan masyarakat sekitar lokasi pembangkitan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus sebagai bentuk partisipasi perusahaan membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat. PLTA bekerjasama dengan Kabupaten Bandung Barat menghimpun kepedulian 56 perusahaan untuk berpartisipasi pada program penghijauan Dinas Lingkungan Kabupaten dan melakukan kerjasama dengan Perhutani Kabupaten pada acara Tepung Lawung. Kerjasama juga dilakukan dengan masyarakat pendidikan lingkungan untuk memberikan pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat di Kabupaten Bandung mengenai kelestarian lingkungan DAS sebagai sumber kehidupan masyarakat sekitar DAS dan keberlangsungan operasional Waduk Saguling. B. PLTA Cirata PT. Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) adalah anak perusahaan PT. PLN (Persero) yang mengelola PLTA Cirata. PLTA Cirata beroperasi pada akhir September 1988. Visi PT.PJB adalah menjadi perusahaan pembangkit tenaga listrik Indonesia yang terkemuka dengan standar kelas dunia. Misi: (1) Memproduksi tenaga listrik yang handal dan berdaya saing. (2) Meningkatkan kinerja secara berkelanjutan melalui implementasi tata kelola pembangkitan dan sinergi business partner dengan metoda best practice dan ramah linngkungan, (3)

68 Mengembangkan kepasitas dan kapabilitas SDM yang mempunyai kompetensi teknik dan manjerial yang unggul serta berwawasan bisnis. Dalam menjalankan bisnisnya, PT. PJB menerapkan tiga pilar strategis yaitu pengelolaan aset (asset management), sistem manajemen SDM (human capital), dan teknologi informasi sebagai business enabler. Tiga pilar strategis dijabarkan ke dalam 10 sistem manajemen best practice yang antara lain: Manajemen aset, Manajemen Risiko, Manajemen Mutu ISO 9001, Manajemen Lingkungan ISO 14001, dan K3 OHSAS 18000, Good Corporate Governance (GCG), Manajemen Teknologi Informasi, Knowlegde Management, Manajemen SDM Berbasis Kompetensi, Manajemen Baldrige, dan Manajemen House Keeping 5S. Unit Pembangkitan Cirata berlokasi di Desa Cadas, Kecamatan Tegal Waru Plered Purwakarta. PLTA terbesar di Asia Tenggara dengan bangunan Power House 4 lantai di bawah tanah. Waduk Cirata memiliki luas 62 km 2 dengan elevasi muka air banjir 223 m, elevasi muka air normal 220 m dan elevasi muka air rendah 205 m. Volume air waduk sebesar 2.165 juta meter 3 dan efektif waduk 796 juta m 3. PLTA Cirata mengoperasikan 8 x 126 MW atau 1008 MW dan mampu memproduksi listrik rata-rata sebesar 1.428 juta kilowatt jam per tahun yang disalurkan melalui transmisi tegangan ekstra tinggi 500 KV ke sistem interkoneksi Jawa Bali. Kemampuan memproduksi listrik PLTA ini setara dengan kemampuan pembangkit termal yang menggunakan BBM 428 ton.untuk menghasilkan energi listrik sebesar 1.428 GWh, di operasikan 8 buah turbin dengan kapasitas masing masing 120.000 KW dengan putaran 187,5 RPM. Adapun tinggi air jatuh efektif untuk memutar turbin 112,5 meter dengan debit air maksimum 135 m3/detik. Penerapan sistem manajemen lingkungan di unit pembangkitan Cirata, merupakan bagian tak terpisahkan dari proses produksi yang diwujudkan dalam bentuk upaya pengelolaan lingkungan yang terencana, terintegrasi pada semua bidang kegiatan dengan melibatkan seluruh komponen dalam manajemen unit pembangkitan Cirata untuk kepentingan masyarakat, tuntutan pasar serta akrab lingkungan dan sejalan dengan visi perusahaan yang ingin menjadikan perusahaan ini peduli lingkungan.

69 4.1.2 PLTA Tanggari I dan II di Propinsi Sulawesi Utara Energi listrik di Sulawesi Utara bersumber dari sistem pembangkitan PLTA Tonsea Lama, PLTA Tanggari I, PLTA Tanggari II, PLTD Manado dan PLTD Bitung. PLTA yang menjadi objek penelitian adalah PLTA Tanggari I dan II. Kedua PLTA ini menggunakan sumber energi gravitasi air terjun Sungai Tondano yang bersumber dari Danau Tondano dengan hulunya Desa Tolour dan bermuara di Pantai Manado. Panjang Sungai Tondano hampir 40 km. Tahun 2006 Manajemen puncak PLTA Tanggari I dan Tanggari II memutuskan untuk menerapkan sistem manajemen lingkungan pada pengelolaan dan pengoperasian PLTA. PLTA Tanggari I berlokasi di Desa Tanggari termasuk Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara. Terletak pada 124º 56 11 BT dan 1º 21 26 LU. PLTA Tanggari I dibangun pada tahun 1984 dan beroperasi pada tahun 1987. PLTA Tanggari I memiliki dua unit mesin, dengan kapasitas daya terpasang sebesar 18 MW. PLTA Tanggari II berlokasi di Desa Tanggari Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara. Terletak pada 124º 56 49 BT dan 1º 22 16 LU. PLTA Tanggari II dibangun pada tahun 1995 dan mulai beroperasi pada tahun 1998. PLTA Tanggari II mampu membangkitkan tenaga listrik dengan kapasitas daya terpasang sebesar 19 MW dengan tegangan sebesar 13.2 KV. Tipe pambangkit run off river (aliran langsung), dengan headrace tunnel yang mempunyai panjang 800 meter, diameter 2.6 meter, tinggi jatuh 103 meter, dan debit maksimum sebesar 16,5 m 3 /detik. Apabila Sungai Tondano sudah tidak mampu menyalurkan debit air sebesar 16 m3/s pada saat permukaan Danau Tondano mencapai elevasi 629,27 (Low lower Level/LWL), maka pengoperasian PLTA menjadi terganggu. Pendangkalan dasar sungai sejak mulut danau hingga pintu pengambilan (intake) PLTA Tonsea lama baik yang ditimbulkan oleh bahan sedimen maupun tumbuhan ganggang yang tumbuh subur sepanjang 2-3 kilometer di hulu sungai mempengaruhi pengoperasian PLTA Tanggari. Debit air terus berkurang dapat menggangggu perputaran turbin.

70 Sungai Tondano mulai dari mulut danau hingga PLTA Tonsea lama melewati tengah kota Manado. Hampir di sepanjang tepi sungai telah dihuni oleh penduduk. Tidak mengherankan Sungai Tondano juga merupakan tempat pembuangan sampah baik oleh pemukim maupun oleh pasar kota. Sampah yang diperkirakan 5 6 ton per hari sangat terasa gangguannya dalam pengoperasian turbin. Danau Tondano sejak dahulu merupakan sumber ikan tawar bagi penduduk. Kini perkembangan nelayan meningkat dan penggunaan sistem keramba untuk meningkatkan volume tanggakan ikan. Sistem keramba menggunakan tepian danau untuk dijadikan tempat pemeliharaan ikan yang diberi makanan tertentu (pellet dsb). Kondisi ini menyebabkan kadar nitrogen dalam air yang mendorong pertumbuhan gulma air. PLTA Tanggari juga mengalami permasalahan pasokan air akibat waktu tempuh air dari Tonsea Lama sampai intake PLTA Tanggari. Lamanya waktu tempuh disebabkan oleh kondisi dasar sungai yang terlalu banyak hambatan berupa batuan dan sampah buangan disamping profil sungai yang tidak teratur. 4.2 Perubahan Penggunaan Lahan di Wilayah PLTA 4.2.1 Perubahan Penggunaan Lahan pada DAS Citarum Analisis perubahan penggunaan lahan (landuse change) DAS dari citra satelit 2001 dan 2007. Citra satelit yang digunakan adalah citra Landsat ETM 7. Secara umum hasil analisis perubahan penggunaan lahan memperlihatkan adanya perubahan tutupan dan peruntukan lahan pada DAS Citarum di Jawa Barat. Peta penutupan dan penggunaan lahan berdasarkan citra satelit dan hasil analisisnya pada wilayah DAS Citarum tersebut ditampilkan dalam Gambar 13 berikut.

71 (a) (b) Gambar 13 Citra satelit pada DAS Citarum: (a) tahun 2001 dan (b) tahun 2007. Gambar 13 menunjukkan penutupan lahan berdasarkan citra satelit pada tahun 2001 (a) dan 2007 (b) di wilayah DAS Citarum. DAS Citarum sendiri meliputi DAS Citarum hulu di mana terdapat DAS Waduk Saguling dan DAS Citarum hilir di mana DAS Waduk Cirata berada. Guna memudahkan pemahaman selanjutnya, dalam peta penggunaan lahan kedua DAS ini dipisahkan menjadi DAS Waduk Saguling (hulu) dan DAS Waduk Cirata (hilir), meskipun keduanya merupakan satu sistem DAS yang berhubungan secara langsung. DAS Waduk Saguling merupakan bagian dari DAS Waduk Cirata yang berada di bagian hulu. Gambar 14 menunjukkan peta penggunaan lahan di DAS Saguling pada tahun 2001 dan 2007 berdasarkan hasil interpretasi citra satelit. Sementara Gambar 15 menunjukkan peta penggunaan lahan di DAS Cirata pada tahun 2001 dan 2007. Perbedaan penggunaan lahan pada tahun 2001 dan 2007 menjadi dasar analisis perubahan lahan di DAS Citarum yang menjadi daerah tangkapan air Waduk Saguling dan Cirata. Penggunaan lahan yang ditampilkan dalam kedua peta tersebut terdiri dari berbagai kelas penutupan atau liputan lahan (land cover), antara lain tutupan hutan, permukiman, sawah, semak belukar, tanah terbuka, rawa, perkebunan, pertanian dan badan air (waduk), serta tutupan awan.

72 (a) (b) Gambar 14 Penggunaan lahan DAS Saguling: (a) tahun 2001 dan (b) tahun 2007.

73 (a) (b) Gambar 15 Penggunaan lahan DAS Cirata: (a) tahun 2001 dan (b) tahun 2007.

74 Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa luas DAS Waduk Saguling yang berada pada wilayah paling hulu Sungai Citarum kurang lebih meliputi wilayah seluas 222.830 ha. Sementara luas DAS Waduk Cirata meliputi wilayah sekitar 465.286 ha, di mana DAS Waduk Saguling tercakup di dalamnya. Hasil analisis terhadap perubahan penggunaan lahan pada DAS Waduk Saguling disajikan dalam Tabel 5. Tabel 5 Perubahan penggunaan lahan pada DAS Waduk Saguling Jenis Luas tahun 2001 Luas tahun 2007 Perubahan PL Penggunaan Lahan (ha) (%) (ha) (%) (ha) (ha/thn) (%/thn) Hutan 38.139,80 17,12 12.531,77 5,62 (25.608,03) (4.268,01) (11,19) Permukiman 39.782,58 17,85 41.458,90 18,61 1.676,32 279,39 0,70 Sawah 64.940,11 29,14 65.007,33 29,17 67,22 11,20 0,02 Semak belukar 1.060,72 0,48 30.604,91 13,73 29.544,19 4.924,03 464,22 Lahan terbuka 1.867,27 0,84 190,95 0,09 (1.676,32) (279,39) (14,96) Pertanian lahan kering 72.864,11 32,70 43.252,87 19,41 (29.611,24) (4.935,21) (6,77) Perkebunan 2.300,34 1,03 27.908,94 12,52 25.608,60 4.268,10 185,54 Rawa 521,49 0,23 520,81 0,23 (0,68) (0,11) (0,02) Badan air 1.353,58 0,61 1.353,52 0,61 (0,06) (0,01) (0,00) Total 222.830,00 100,00 222.830,00 100,00 Tabel 5 di atas menunjukkan terjadinya dinamika perubahan penggunaan lahan pada DAS Waduk Saguling selama kurun waktu 6 tahun dari tahun 2001 hingga tahun 2007. Luas hutan di bagian hulu waduk pada tahun 2001 sebesar 38.139,80 ha atau sebesar 17,12% dari luas DAS. Luasan hutan berubah menjadi hanya 5,62% atau sekitar 12.531 ha pada tahun 2007, sehingga diperkirakan terjadi pengurangan luas hutan 11,19% setiap tahunnya. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi berbagai penggunaan lahan lainnya, terutama menjadi perkebunan. Luas perkebunan meningkat pesat sekitar 185% setiap tahunnya, dari luas sekitar 2.300 ha pada tahun 2001 menjadi sekitar 25.608 ha yang hampir seluruhnya berasal dari konversi terhadap hutan. Sementara penggunaan lahan lainnya yang mengalami pengurangan adalah lahan terbuka yang berkisar seluas 1.867 ha pada tahun 2001 menjadi sekitar 190 ha saja

75 pada tahun 2007. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa hampir seluruh lahan terbuka pada tahun 2001 ini berubah menjadi lahan permukiman pada tahun 2007. Penggunaan lahan lainnya yang mengalami pertumbuhan cukup pesat adalah semak belukar yang tumbuh sekitar 462% setiap tahunnya, dari seluas 1.060 ha pada tahun 2001 menjadi sekitar 29.544 ha pada tahun 2007. Semak belukar ini sebagian besar berasal dari lahan pertanian kering yang berubah dari luas sekitar 72.864 ha pada tahun 2001 yang menyusut menjadi 43.252 ha pada tahun 2007. Sementara penggunaan lahan lainnya relatif berubah secara perlahan, seperti permukiman (0,7% per tahun), sawah dan rawa (0,02% per tahun), serta relatif tidak berubah, seperti badan air (0,0007% per tahun). Sementara Tabel 6 menunjukkan terjadinya dinamika perubahan penggunaan lahan pada DAS Waduk Cirata pada kurun waktu yang sama. Hampir sebagian luas DAS Waduk Cirata sebenarnya merupakan DAS Waduk Saguling, yang berada di hulu Waduk Cirata. Hal ini menunjukkan dinamika perubahan penggunaan lahan pada DAS Waduk Cirata, sebagian merupakan sumbangan dari perubahan yang terjadi pada DAS Waduk saguling. Tabel 6 Perubahan penggunaan lahan pada DAS Waduk Cirata Jenis Penutupan Luas tahun 2001 Luas tahun 2007 Perubahan PL Lahan (ha) (%) (ha) (%) (ha) (ha/thn) (%/thn) Hutan 87.817,72 18,87 23.392,37 5,03 (64.425,35) (10.737,56) (12,23) Permukiman 48.489,76 10,42 55.233,83 11,87 6.744,07 1.124,01 2,32 Sawah 135.217,40 29,06 135.348,93 29,09 131,53 21,92 0,02 Semak belukar 3.259,97 0,70 70.056,67 15,06 66.796,70 11.132,78 341,50 Lahan terbuka 6.935,02 1,49 190,95 0,04 (6.744,07) (1.124,01) (16,21) Pertanian lahan kering 135.677,20 29,16 68.749,14 14,78 (66.928,06) (11.154,68) (8,22) Perkebunan 34.523,69 7,42 98.949,60 21,27 64.425,91 10.737,65 31,10 Rawa 840,08 0,18 839,81 0,18 (0,27) (0,04) (0,01) Badan air 11.534,08 2,48 11.533,88 2,48 (0,20) (0,03) (0,00) Awan 991,08 0,21 990,82 0,21 (0,26) (0,04) (0,00) Total 465.286,00 100,00 465.286,00 100,00 - - - Hutan pada wilayah DAS Waduk Cirata memiliki luas sekitar 87.817 ha atau sebesar 18,87% dari luas DAS pada tahun 2001. Luasan hutan berubah menjadi hanya 5,03% atau sekitar 23.392 ha pada tahun 2007, sehingga

76 diperkirakan terjadi pengurangan luas hutan 12,23% setiap tahunnya. Seperti halnya pada DAS Waduk Saguling, perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi berbagai penggunaan lahan lainnya, terutama disebabkan konversi terhadap lahan perkebunan. Hal ini mendorong peningkatan luas lahan perkebunan dari luas sekitar 34.523 ha pada tahun 2001 menjadi sekitar 98.949 ha, atau meningkat sekitar 12,23% setiap tahunnya. Penggunaan lahan lainnya yang mengalami pengurangan adalah lahan terbuka yang berkisar seluas 6.935 ha pada tahun 2001 menjadi sekitar 190 ha saja pada tahun 2007. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa hampir seluruh lahan terbuka pada tahun 2001 ini berubah menjadi lahan permukiman pada tahun 2007. Seperti pada DAS Waduk saguling, semak belukar pada DAS Waduk Cirata mengalami pertumbuhan cukup pesat dari sekitar 3.259 ha pada tahun 2001 menjadi sekitar 66.796 ha pada tahun 2007, atau tumbuh sekitar 341% setiap tahunnya. Semak belukar ini sebagian besar berasal dari lahan pertanian kering yang berubah dari luas sekitar 135.677 ha pada tahun 2001 yang menyusut menjadi 68.749 ha pada tahun 2007. Penggunaan lahan lainnya relatif berubah secara perlahan, seperti sawah (0,02% per tahun) dan rawa (0,01% per tahun), serta relatif tidak berubah, seperti badan air (0,0007% per tahun). Sementara permukiman di bagian hilir memiliki tingkat pertumbuhan yang relatif lebih tinggi dibandingkan bagian hulu (DAS Waduk Saguling). Hal ini terlihat dari tingkat pertumbuhan permukiman secara keseluruhan di DAS Cirata sebesar 2,32% setiap tahun, atau lebih tinggi dari DAS Waduk Saguling (0,7% per tahun). Secara umum pengurangan luas hutan bisa meningkatkan laju degradasi lahan, karena tutupan hutan bisa mencegah terjadinya peningkatan laju erosi dan sedimentasi (Indriyanto 2008). Menurut PPSDAL UNPAD (2008), tingkat erosi di DAS Citarum Hulu pada tahun 2001 sekitar 2,20 mm/tahun dan sedimentasi 4.296.268 m 3 /tahun. Pada tahun 2007, tingkat erosi meningkat menjadi 2,23 mm/tahun dan laju sedimentasi meningkat menjadi 4.315.404 m 3 /tahun. Tingkat erosi dan laju sedimentasi yang tinggi dapat mengancam keberlanjutan Waduk Saguling dan Waduk Cirata yang memasok air ke PLTA. Sesuai perencanaan waduk, tingkat erosi dan laju sedimentasi yang diperbolehkan secara berturut yaitu 2,10 mm/tahun dan 4.000.000 m 3 /tahun. Berdasarkan

77 prediksi PPSDAL UNPAD (2008), peningkatan sedimentasi akan mengurangi kemampuan waduk untuk menampung air sebab sedimen akan terakumulasi baik di dead storage dan life storage waduk. Peningkatan sedimen ini akan mengurangi fungsi waduk sebagai penampung air. Hutan dapat mempertahankan debit air sungai sehingga tidak akan banjir pada musim hujan dan tidak akan kekeringan pada musim kemarau (Indriyanto 2008). Air dari Waduk Saguling berasal dari Sungai Cikapundung, Sungai Cikeruh, Sungai Citarik, Sungai Cisangkuy, Sungai Ciwidey dan Sungai Cisarea. Berdasarkan data tahun 1990-2010, debit air sungai sangat berfluktuasi. Debit air minimum dan maksimum sungai ke Waduk Saguling yaitu 4,08-66,92 m 3 /dtk dan 141,46-306,39 m 3 /dtk (PLTA Saguling 2011). Waduk Cirata memperoleh air dari Sungai Cisokan, Sungai Cibalagung, Sungai Cimeta, Sungai Cikundul dan Sungai Citarum. Debit minimum dan maksimum air sungai ke Waduk Cirata yaitu 31,18-103,02 m 3 /dtk dan 205,21-488,66 m 3 /dtk (PLTA Cirata 2011). 4.2.2 Perubahan Penggunaan Lahan pada DAS Tondano Gambar 16 menunjukkan penutupan lahan berdasarkan citra satelit pada tahun 2001 (a) dan 2007 (b) di wilayah DAS PLTA Tanggari dan II (DAS Tondano). Gambar 17 dan 18 menunjukkan peta penggunaan lahan di DAS Tondano pada tahun 2001 dan 2007 berdasarkan hasil interpretasi citra satelit. Perbedaan penggunaan lahan pada tahun 2001 dan 2007 menjadi dasar analisis perubahan lahan di DAS Tondano yang menjadi daerah tangkapan air PLTA Tanggari I dan II. Seperti pada peta penggunaan lahan DAS Citarum, penggunaan lahan yang ditampilkan dalam kedua peta penggunaan lahan DAS Tondano juga terdiri dari berbagai kelas penutupan lahan. Penggunaan lahan tersebut terdiri dari tutupan hutan, permukiman, sawah, semak belukar, tanah terbuka, rawa, perkebunan, pertanian dan badan air (waduk), serta tutupan awan. Penggunaan lahan berdasarkan analisis terhadap citra satelit tersebut ditampilkan dalam peta penggunaan lahan pada tahun 2001 dan tahun 2007. Perbedaan luas penggunaan lahan antara kedua tahun tersebut menjadi dasar dalam memperkirakan terjadinya perubahan penggunaan lahan di DAS Tondano setiap tahunnya.

78 (a) (b) Gambar 16 Citra satelit pada DAS Tondano: (a) tahun 2001 dan (b) tahun 2007. Gambar 17 Penggunaan lahan DAS Tondano pada tahun 2001.

79 Gambar 18 Penggunaan lahan DAS Tondano pada tahun 2007. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa luas DAS Tondano di mana PLTA Tanggari I dan II berada meliputi wilayah seluas 24.708 ha. Penampakan tutupan lahan melalui citra satelit menunjukkan bahwa sebagian besar wilayahnya tertutup oleh vegetasi (hijau). Sementara pemukiman (merah) tersebar di beberapa wilayah, terutama terkonsentrasi di wilayah pesisir pantai pada bagian utara lokasi studi dan di pesisir Danau Tondano yang ada di bagian selatan lokasi studi. Hasil analisis terhadap perubahan penggunaan lahan pada DAS Tondano yang mempengaruhi PLTA Tanggari I dan II disajikan dalam Tabel 7.

80 Jenis Penutupan Lahan Tabel 7 Perubahan penggunaan lahan pada DAS Tondano Luas tahun 2001 Luas tahun 2007 Perubahan PL (ha) (%) (ha) (%) (ha) (ha/thn) (%/thn) Hutan 18.323,83 74,16 18.098,12 73,25 (225,71) (37,62) (0,0021) Permukiman 2.000,39 8,10 2.198,62 8,90 198,23 33,04 0,0165 Sawah 1.739,37 7,04 1.739,38 7,04 0,01 0,00 0,000001 Semak belukar 794,91 3,22 796,41 3,22 1,50 0,25 0,0315 Lahan terbuka 789,03 3,19 551,05 2,23 (237,98) (39,66) (0,0503) Bayangan Awan 18,90 0,08 17,40 0,07 (1,50) (0,25) (1,3228) Badan air 15,85 0,06 15,56 0,06 (0,29) (0,05) (0,0030) Awan 1.026,59 4,15 1.292,33 5,23 265,74 44,29 0,0431 Total 24.708,87 100,00 24.708,87 100,00 Perubahan penggunaan lahan pada DAS Tondano selama kurun waktu 6 tahun dari tahun 2001 hingga tahun 2007 relatif tidak terlalu dinamis. Hal ini dilihat dari sedikitnya prosentase perubahan penggunaan lahan setiap tahunnya. Hasil analisis penggunaan lahan terhadap data citra satelit menunjukkan bahwa pada tahun 2001, sebagian besar wilayah DAS Tondano ditutupi oleh hutan seluas 74,16% dari luas DAS secara keseluruhan. Selain hutan, wilayah ini juga ditempati oleh permukiman (8,1%), sawah (7,04%), semak belukar (3,22%), lahan terbuka (3,19%), badan air (0,06%), serta selebihnya ditutupi awan dan bayangan awan. Penggunaan lahan pada tahun 2001 ini tidak berbeda jauh dengan penggunaan lahan pada tahun 2007, sehingga bisa disimpulkan perubahan penggunaan lahan yang terjadi di wilayah ini relatif kecil. Luas hutan di DAS Tondano pada tahun 2001 sebesar 18.323 ha berubah menjadi sekitar 18.098 ha pada tahun 2007, sehingga diperkirakan terjadi pengurangan luas hutan hanya sekitar 0,0021% setiap tahunnya. Luas permukiman relatif meningkat sekitar 0,0165% setiap tahunnya, dari luas sekitar 2.000 ha pada tahun 2001 menjadi sekitar 2.198 ha pada tahun 2007. Sementara penggunaan lahan lainnya relatif berubah secara perlahan, seperti sawah (0,000001% per tahun), semak belukar (0,0315 per tahun) dan lahan terbuka (- 0,0503% per tahun). Jenis tanah di perbukitan sekitar danau Tonado adalah latosol sehingga jumlah erosi diduga atas dasar curah hujan. Tingkat erosi di DAS Tondano pada tahun 1992 telah mencapai 0,213 ton/ha di lahan bervegetasi, serta sebesar 24,932

81 ton/ha di lahan terbuka tanpa vegetasi. Sementara erosi yang masih dapat ditoleransi sebesar 11,0 ton/ha. Jadi lahan harus tertutup vegetasi untuk menghindari bahaya erosi (DPE 1992). Sungai yang bermuara di Danau Tondano adalah Sungai Noogan, Sungai Panasen, Sungai Ema. Kondisi debit air minimum Sungai Tondano yang masuk ke PLTA saat ini berkisar 4,005 20,324 m 3 /dtk dan maksimum berkisar 53,351-181,225 m 3 /dtk. PLTA Tanggari I dan II hanya akan beroperasi jika debit air Sungai Tondano minimum 16 m 3 /dtk. Debit Sungai Tondano dipengaruhi musim. Wilayah Manado, Tondano, dan Airmadidi memiliki iklim dengan nisbah bulan kering (bulan dengan curah hujan < 60 mm) berkisar 0 % 14,30 %. Faktor lain yang mempengaruhi debit air adanya rumput air di tepian danau sampai sejauh 500 meter dari danau dan erosi dari wilayah sekitarnya. Hal ini merupakan sumber pendangkalan yang menghambat laju air (DPE 1992). 4.3 Kualitas Air Sungai di Wilayah PLTA Kualitas air suatu perairan mencerminkan kualitas lingkungan. Kualitas air waduk sangat dipengaruhi kualitas lingkungan catchment area di wilayah hulu, perubahan penutupan lahan dan penggunaannya. Kualitas air ini akan mempengaruhi dan menentukan kemampuan hidup jasad perairan tersebut dan proses teknis/produksi pembangkit listrik. Kelayakan suatu perairan sebagai lingkungan hidup dipengaruhi oleh sifat fisika kimia perairan tersebut (Krismono et al. 1987; Kartamihardja et al. 1987). Data-data yang berkaitan dengan karakteristik fisik dan kimia yang berpengaruh terhadap PLTA meliputi suhu, TDS, TSS, Fe, COD, DO, H 2 S, ph, NO -2 3, dan PO -3 4. Analisis kualitas air sungai pada empat PLTA menggunakan uji T berpasangan dan metode deksriptif dengan membandingkan kualitas air di wilayah PLTA dengan baku mutu kualitas air kelas 4 (PP No.82/2001). Uji T dilakukan untuk mengetahui apakah ada perbedaan kualitas air di inlet dan outlet PLTA. Bilamana nilai P < 0,05 maka H 0 ditolak (Siregar 2004). 4.3.1 Kualitas air PLTA Saguling dan Cirata

82 Hasil uji T terhadap kualitas air di inlet dan outlet PLTA dilihat pada Tabel 8. Hasil uji T kualitas air di wilayah PLTA Saguling menunjukkan bahwa secara umum kualitas air di outlet sama dengan kualitas air di inlet. Perbedaan secara nyata (α=0,05) pada kualitas air di inlet dan outlet berdasarkan hasil uji T hanya terlihat pada BOD pada tahun 2005, TSS pada tahun 2008, dan ph tahun 2008 dan tahun 2009. Tabel 8 Hasil uji T kualitas air di PLTA Saguling Parameter P-Value Saguling Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Suhu 0,560 0,396 0,426 0,787 0,166 0,076 TDS 0,288 0,117 0,220 0,058 0,102 0,079 TSS 0,620 0,409 0,365 0,031 0,112 0,191 ph 0,433 0,213 0,453 0,021 0,005 0,199 H 2 S 0,391 0,291 0,395 0,221 0,132 0,391-2 NO 3 0,517 0,600 0,850 0,224 0,155 0,672-3 PO 4 0,561 0,074 0,637 0,672 0,804 0,342 DO - - 0,103 0,885 0,240 0,184 COD 0,081 0,833 0,596 0,211 0,467 0,436 BOD 0,039* 0,621 0,951 0,146 0,871 0,714 Fe 0,275 0,155 0,078 0,473 0,537 0,116 Ket: nilai P < 0,05 maka H 0 ditolak (sumber : Siregar 2004) ; - : tidak ada data Konsentrasi nilai rata-rata median TSS (3 mg/l) dan ph (7,1) di oulet lebih rendah dibandingkan dengan TSS (4 mg/l) dan ph (7.9) di inlet pada tahun 2008. Konsentrasi BOD di outlet (7,85 mg/l) lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi rata-rata median BOD (8,75) di inlet pada tahun 2005 (Lampiran 1). Walaupun ada parameter pada tahun yang berbeda tersebut menunjukkan adanya perbedaan nyata (α=0,05) namun hal tersebut tidak menggambarkan hasil keseluruhan tentang kualitas air waduk. Dari Tabel 8 hanya sekitar 6,25 % data yang menunjukkan ada perbedaan nyata. Kualitas air yang tidak berbeda nyata secara statistik (α=0,05) sebelum dan sesudah dimanfaatkan oleh PLTA menunjukkan bahwa PLTA Saguling dalam kegiatan operasionalnya tidak menurunkan kualitas air. Hasil uji T terhadap kualitas air di inlet dan outlet PLTA Cirata secara umum menunjukkan kualitas air di PLTA Cirata di outlet sama dengan kualitas air di inlet. Perbedaan secara nyata (α=0,05) kualitas air di inlet dan outlet hanya terlihat pada konsentrasi TDS pada tahun 2010 dan phosfat pada tahun 2009.

83 Tabel 9 Hasil uji T kualitas air di PLTA Cirata Parameter P-Value Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Suhu 0,391 0,406 0,467 0,989 0,074 0,134 TDS 0,116 0,759 0,217 0,163 0,110 0,007 TSS 0,225 0,401 0,886 0,372 0,375 0,577 ph 0,532 0,118 0,623 0,139 0,097 0,059 H 2 S 0,391-0,227 0,333 0,459 0,193 - NO 3 0,381 0,198 0,759 0,310 0,627 0,284 PO4-3 _ 0,103 0,153 0,571 0,722 0,034 0,470 DO 0,861 0,779 0,373 0,192 0,018 0,832 COD 0,960 0,904 0,207 0,781 0,080 0,638 BOD 0,892 0,378 0,348 0,692 0,096 0,521 Fe 0,319 0,389 0,735 0,428 0,108 0,541 Ket: nilai P < 0,05 maka H 0 ditolak (sumber : Siregar 2004) ; - : tidak ada data Konsentrasi rata-rata median TDS (150 mg/l) di outlet Cirata pada tahun 2010 lebih tinggi dibandingkan konsentrasi TDS (112 mg/l) di inlet. Konsentrasi phosfat (0,26 mg/l) di outlet lebih tinggi dibandingkan di inlet (0,23 mg/l) pada 2009 sebagaimana tertera pada Lampiran 2. Walaupun terdapat dua parameter pada tahun yang berbeda menunjukkan adanya perbedaan nyata namun hal tersebut tidak menggambarkan hasil keseluruhan tentang kualitas air waduk atau hanya sekitar 3,08 % data yang menunjukkan ada perbedaan nyata. Dengan demikian kualitas air tidak berbeda nyata secara statistik (α=0,05) sebelum dan sesudah dimanfaatkan oleh PLTA Cirata. Hal ini menunjukkan bahwa PLTA Cirata dalam kegiatan operasionalnya tidak menurunkan kualitas air. Analisis hasil uji T memperlihatkan secara statistik kualitas air (kelas IV) di inlet dan outlet PLTA Saguling dan PLTA Cirata tidak berbeda nyata (α=0,05). Proses konversi energi potensial air sungai menjadi energi mekanik kemudian energi listrik di pembangkit tidak ada indikasi adanya tambahan material dalam kegiatan konversi energi tersebut. Sehingga air yang keluar dari turbin pembangkit listrik tenaga air tidak menambah beban lingkungan. Air yang keluar dari turbin PLTA bukan merupakan sisa kegiatan PLTA (Penjelasan pasal 38 ayat 1 dari PP Nomor 82/2001). Berdasarkan data sebaran kualitas air di Waduk Saguling dan Citara secara keseluruhan masih di bawah ambang batas dari baku mutu untuk Kelas 4 (PP No.82/2001), kecuali untuk parameter Biological Oxygen Demand (BOD).

84 Biological Oxygen Demand (BOD) atau kebutuhan oksigen biologis merupakan jumlah oksigen yang diperlukan agar bahan buangan yang ada di dalam air dapat diurai oleh mikroorganisma. Dinamika kualitas air inlet di Waduk Saguling untuk parameter BOD tahun 2005, tahun 2007 hingga tahun 2010 adalah kurang baik. Sebaran konsentrasi BOD telah melewati ambang batas dari baku mutu untuk Kelas 4 (Lampiran 5). Hal tersebut juga terjadi di waduk di PLTA Cirata. Dinamika kualitas air BOD di waduk di Cirata telah melewati ambang baku mutu Kelas 4 dari PP No. 82/2001 pada tahun 2005, 2006, dan 2008 (Lampiran 6). Perairan yang memiliki nilai BOD yang tinggi tidak cocok bagi kepentingan perikanan dan pertanian. PLTA harus memperhatikan dinamika kualitas air baik di inlet dan outlet, sebelum dan sesudah dimanfaatkan oleh PLTA. Sesuai dengan komitmen manajemen puncak untuk selalu memenuhi ketentuan yang berlaku dan mencegah terjadinya polusi dan kerusakan lingkungan yang diikuti dengan melakukan perbaikan secara berkelanjutan. Evaluasi kualitas air terhadap pemenuhan regulasi (audit internal maupun tinjauan manajemen) tidak hanya difokuskan dampak kualitas air terhadap operasional PLTA, PLTA sebagai pemanfaat sumberdaya perlu memperhatikan keseimbangan ekosistem antara wilayah hulu dan hilir baik dalam aspek ekonomi dan pelestarian lingkungan sehingga multifungsi air tetap dapat dipertahankan. Konsentrasi Fe meskipun tidak ditetapkan persyaratan baku mutunya dalam PP No. 82/2001, Fe yang teroksidasi di dalam air berwarna kecoklatan dan tidak dapat larut dapat mengakibatkan penggunaan air menjadi terbatas untuk keperluan fungsi lainnya. Selain itu diketahui bahwa air yang terdapat pada waduk di PLTA Saguling dan Cirata digunakan juga untuk aktivitas lain seperti untuk kegiatan budidaya keramba jaring apung (KJA). Aktivitas KJA merupakan salah satu bentuk untuk mengurangi dampak sosial ekonomi saat pendirian PLTA dan pembangunan waduk dengan jumlah maksimum yang ditetapkan. Sisa limbah pakan ikan dari kegiatan KJA akan menurunkan kualitas air waduk. Peningkatan kontentrasi nitrat dan phosfat dapat terjadi karena masuknya bahan pencemar yang mengandung unsur N dan P seperti dari pakan ikan. Limbah yang berasal dari KJA (tahun 1996-2000) di Waduk Saguling mengandung 1.359.028 kg N dan

85 214.059 kg P, dan di Waduk Cirata mengandung 6.611.787 kg N dan 1.041.417 kg P (Garno 2002). Sementara peningkatan jumlah KJA terus meningkat hingga berjumlah 7209 petak unit pada tahun 2010 di Waduk Saguling dan sebanyak 51418 unit di Waduk Cirata. Jumlah ini telah melewati kapasitas daya dukung waduk. Daya dukung Waduk Saguling hanya dapat menampung 4514 unit petak KJA (Maulana 2010), sedangkan daya dukung Waduk Cirata dapat menampung sebanyak 24000 unit petak KJA (Hapsari 2010). Hal penting lainnya adalah keberlangsungan fungsi waduk juga tergantung pada kondisi keadaan lahan di sekitar daerah tangkapan air (DTA). Berbagai penggunaan lahan sebagaimana diuraikan dalam analisis perubahan penutupan lahan lahan dapat menghasilan berbagai bahan pencemar atau limbah yang akan mengalir ke perairan waduk. Hal ini dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan perairan waduk. Adanya dinamika kualitas air di kedua waduk tersebut menunjukkan bahwa PLTA tidak bisa berhenti melakukan pengendalian terhadap kualitas air yang akan dimanfaatkannya meskipun secara statistik kualitas air waduk di wilayah PLTA Saguling dan Cirata masih sesuai untuk keperluan operasional PLTA. Pendekatan sukarela untuk perlindungan lingkungan dan sumberdaya air perlu ditunjukkan dengan adanya konsistensi untuk mempertahankan kualitas air dan melebihi (beyond) ketentuan dan persyaratan yang berlaku atau yang ditetapkan pihak yang berwenang. Selain itu, keberlanjutan sumberdaya air juga berarti keberlanjutan operasional PLTA itu sendiri. Walaupun pelestarian kualitas air inlet PLTA, terutama di bagian hulu, di luar kendali manajemen PLTA, manajemen PLTA harus mengkomunikasikan kepada stakeholder terkait yang memanfaatkan dan/atau berkepentingan terhadap sumberdaya air waduk. 4.3.2 Kualitas Air PLTA Tanggari I dan II Hasil uji T terhadap kualitas air di inlet dan outlet PLTA Tanggari I dapat dilihat pada Tabel 10. Hasil uji T menunjukkan bahwa secara umum kualitas air di outlet sama dengan kualitas air di inlet. Perbedaan secara nyata (α=0,05) pada kualitas air di inlet dan outlet berdasarkan hasil uji T hanya terlihat pada konsentrasi BOD pada tahun 2006 dan COD pada tahun 2009.

86 Tabel 10 Hasil uji T kualitas air di wilayah PLTA Tanggari I Parameter P-Value Tanggari I 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Suhu 0,500 0,252 0,224-0,151 0,675 TDS 0,500 1,000 0,055 0,143 0,116 0,779 TSS 0,305 0,642 0,295 0,062 0,387 0,170 ph - 0,391 0,090 0,238 0,209 0,570 H 2 S - - 0,393-0,541 - -2 NO 3 0,063 0,391 0,483 0,236 0,478 0,313-3 PO 4-0,391 - - - 0,807 DO - - - - - - COD 0,514 0,206 0,248 0,134 0,013* - BOD 0,823 0,048* 0,340 0,204 0,379 - Fe - 0,100 0,346-0,232 0,604 Ket: nilai P < 0,05 maka H 0 ditolak (sumber : Siregar 2004) ; - : tidak ada data Pada tahun 2005, konsentrasi rata-rata median BOD ( 5,93 mg/l) di oulet lebih rendah dibandingkan dengan BOD (6,01 mg/l) di inlet. Sedangkan konsentrasi rata-rata median COD (11,35 mg/l) di outlet lebih tinggi dibandingkan dengan COD (10,40 mg/l) di inlet pada tahun 2009 sebagaimana tertera pada Lampiran 3. Walaupun dua parameter yang pada tahun yang berbeda tersebut menunjukkan adanya perbedaan nyata namun hal tersebut tidak menggambarkan hasil keseluruhan tentang kualitas air waduk atau hanya sekitar 4,35 % data di wilayah PLTA Tanggari I yang menunjukkan ada perbedaan nyata (α=0,05). Kualitas air di Tanggari I tidak berbeda nyata secara statistik (α=0,05) sebelum dan sesudah dimanfaatkan oleh PLTA, menunjukkan bahwa PLTATanggari I dalam kegiatan operasionalnya tidak menurunkan kualitas air sungat yang dimanfaatkannya. Hasil uji T terhadap kualitas air di inlet dan outlet PLTA Tanggari II dapat dilihat pada Tabel 11. Hasil uji T menunjukkan bahwa secara umum kualitas air di PLTA Tanggari II di outlet sama dengan kualitas air di inlet. Berdasarkan hasil uji T perbedaan secara nyata (α=0,05) kualitas air di inlet dan outlet hanya terlihat pada suhu dan COD pada tahun 2006, dan ph, BOD, NO -2 3 pada tahun 2008. Tabel 11 Hasil uji T kualitas air di wilayah PLTA Tanggari II Parameter P-Value 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Suhu 0,156 0,036 0,346 0,706 0,443 0,878 TDS 0,070 0,008 0,241 0,202 0,456 0,626

87 TSS - 0,071 0,387-0,313 0,082 ph 0,500 0,474-0,005 0,092 0,339 H 2 S - - - - 0,421 - -2 NO 3 0,698 0,718-0,002 0,171 0,949-3 PO 4 - - - - - 0,252 DO - - - - - - COD 0,358 0,121 0,123 0,237 0,391 - BOD 0,218 0,383 0,689 0,036 0,391 - Fe - 0,252 0,929-0,656 0,064 Ket: nilai P < 0,05 maka H 0 ditolak (sumber : Siregar 2004) ; - : tidak ada data Konsentrasi rata-rata median pada tahun 2006 COD (25,85 mg/l) di oulet Tanggari II adalah lebih tinggi dibandingkan COD (22,5 mg/l) di inlet. Sementara pada tahun 2008, konsentrasi rata-rata median di outlet Tanggari II untuk NO -2 3, BOD dan ph lebih rendah dibandingkan di inlet sebagaimana terlihat pada Lampiran 4. Dengan demikian Kualitas air di Tanggari II secara umum tidak berbeda nyata secara statistik (α=0,05) sebelum dan sesudah dimanfaatkan oleh PLTA. Hal ini menunjukkan bahwa PLTA dalam kegiatan operasionalnya tidak menurunkan kualitas air sungai yang dimanfaatkannya. Secara keseluruhan kualitas air di inlet PLTA Tanggari I dan Tanggari II masih di bawah ambang batas dari baku mutu untuk Kelas 4 dari PP No.82/2001 sebagaimana ditunjukkan pada Lampiran 7 dan 8. Namun demikian dinamika kualitas air parameter COD dan Fe di PLTA Tanggari I dan Tanggari II cenderung lebih tinggi di wilayah outlet dibandingkan di wilayah inlet meskipun tetap masih di bawah baku mutu untuk Kelas 4 (PP No.82/2001). Adanya kecenderungan konsentrasi COD dan Fe yang selalu lebih tinggi di wilayah outlet dibandingkan dengan di inlet perlu di evaluasi lebih lanjut oleh manajemen PLTA. Dinamika konsentrasi COD di outlet Tanggari I dan II (Gambar 19 dan 20) juga cenderung lebih tinggi dibandingkan di wilayah inlet mungkin disebabkan adanya aktivitas pemakaian bahan pelumas dalam pemeliharaan peralatan pembangkit yang relatif tua (tahun 1984 dan tahun 1987). Kenaikan konsentrasi besi kemungkinan terjadi karena adanya korosi pada mesin yang sudah relatif lama (berumur kurang lebih 26 tahun). Konsentrasi Fe yang melebihi 0,3 ppm dapat menyebabkan air bersifat toksik (Krismono et al. 1987, Kartamihardjo et al. 1987).

88 25 20 COD (mg/l) 15 10 5 COD_in COD_out 0 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun Gambar 19 Nilai median konsentrasi COD inlet-outlet di PLTA Tanggari I 30 tahun 2005-2010. 25 COD (mg/l) 20 15 10 5 COD_in COD_out 0 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun Gambar 20 Nilai median konsentrasi COD inlet-outlet di PLTA Tanggari II tahun 2005-2010. Selain itu air sungai Tondano juga digunakan untuk aktivitas lainnya. Oleh karena itu PLTA tetap harus memperhatikan kelestarian sumberdaya air tersebut sehingga multifungsi sumberdaya air tetap terpelihara. Keberlanjutan sumberdaya air juga berarti keberlanjutan operasional PLTA. 4.4 Institusi dan Regulasi Terkait Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA Mengacu pada kebijakan dan perencanaan pengelolaan sumberdaya air, PLTA melakukan serangkaian program lingkungan dengan melakukan perlindungan terhadap sumberdaya air secara berkelanjutan. Titik fokus kegiatan

89 konservasi sumberdaya air yang dilakukan PLTA yaitu pertama untuk menahan aliran permukaan (run-off) yang sebesar-besarnya dan memberi kesempatan selama-lamanya air untuk masuk ke dalam tanah (infiltrasi) atau tertahan di muka tanah di daerah aliran sungai bagian hulu. Serangkian program lingkungan untuk melindungi sumberdaya air secara berkelanjutan dilakukan melalui program penghijauan di wilayah Green Belt Waduk PLTA hingga daerah batas konstruksi. Pengelolaan vegetasi ini mempengaruhi waktu dan penyebaran aliran air, sehingga wilayah yang ditanami dapat menyimpan air selama musin hujan dan melepaskannya pada musim kemarau (Asdak, 2010). Kemampuan vegetasi menangkap butir air hujan sehingga energi kinetik terserap dalam tanaman dan tidak langsung ke tanah juga akan untuk memperkecil laju erosi (Suripin, 2001). PLTA Saguling menanam 963.175 pohon di areal seluas 1.403 ha sebagaimana ditetapkan Roadmad Program Penghijauan tahun 2003-2016. Jenis pohon yang ditanam adalah pohon buah-buahan, kopi, aren dan jarak. PLTA Cirata mulai tahun 2003 hingga 2011 (dikelola oleh BPWC) telah menanam sebanyak 210.120 pohon dengan jenis tanaman buah-buhan, aren dan kayuan seperti mahoni, mindi, angsana, karet dan trambesi. PLTA Tanggari I dan II memiliki program 10.000 pohon per tahun. Penghijauan di wilayah DAS (Green Belt) Waduk PLTA belum menunjukkan pencapaian tujuan konservasi sumberdaya air secara signifikan dibandingkan dengan penurunan daya dukung lingkungan akibat tingginya perubahan tutupan di wilayah hulu PLTA. Untuk mencapai tujuan perlindungan sumberdaya alam dan lingkungan, pendekatan voluntari memberi fleksibilitas untuk mengembangkan cara untuk mencapai perlindungan lingkungan yang tentu saja memperhitungan aspek ekonomi dan sosial dan secara teknis dapat dilakukan. Pengendalian kualitas maupun kuantitas air sungai (waduk) tidak bisa dikendalikan sendiri. Pemanfaataan sumberdaya air yang notabene sebagai barang publik meminta PLTA perlu memahami perspektif dan concern stakeholder yang memiliki kepentingan terhadap ekosistem dan sumberdaya air. Selain itu, strategi dan teknik operasional pelaksanaannya harus mengacu pada regulasi yang telah ditetapkan. Pemetaan tingkat pengaruh dan kepentingan stakeholder dijadikan sebagai dasar membangun kelembagaan terkait pengelolaan sumberdaya air

PLTA. Sementara tinjauan regulasi (legal review) dijadikan dasar pelaksanaan pengelolaan sumberdaya air PLTA yang taat aturan. 90 4.4.1 Stakeholder dalam Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA Stakeholder yang teridentifikasi terkait dengan pengelolaan sumberdaya air PLTA meliputi Kementerian Kehutanan, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian ESDM, Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Perhutani/HTI, PLN, Dinas Kehutanan, Dinas Pekerjaan Umum, Perusahaan Pengguna, Masyarakat, Pemerintah Daerah, Investor, P3B dan LSM. Hasil justifikasi pakar mengenai tingkat kepentingan dan pengaruh stakeholder terhadap pencapaian program pengelolaan sumberdaya air di PLTA ditunjukkan pada Tabel 12. Tabel 12 Matrik analisis stakeholder perlindungan sumberdaya air di PLTA Pemangku kepentingan Tingkat Tingkat Kepentingan Pengaruh Kementerian Kehutanan Tinggi Tinggi Kementerian Pekerjaan Umum Tinggi Tinggi Perhutani/HTI Tinggi Tinggi Kementerian ESDM Tinggi Tinggi Kementerian Kelautan dan Perikanan PLN Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) PLTA Dinas Kehutanan Dinas Pekerjaan Umum Kementerian Pertanian DPRD Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Rendah Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Rendah Rendah Rendah Tinggi Perusahaan pengguna Tinggi Rendah Masyarakat Tinggi Rendah Pemerintah Daerah Rendah Tinggi Investor Rendah Tinggi LSM P3B Sumber : data primer dari justifikasi pakar Rendah Rendah Rendah Rendah Hasil pendapat pakar mengenai besarnya tingkat kepentingan dan pengaruh masing-masing stakeholder dipetakan dalam empat kuadaran yaitu kuadaran I, II, III, dan IV yang menunjukan posisi kepentingan dan pengaruh masing-masing stakeholder. Melalui pemetaan ini, dapat diketahui peran masing-masing

91 stakeholder. Adapun posisi setiap stakeholder berdasarkan hasil pemetaan digambarkan seperti pada Gambar 21. 5.00 4.00 Stakeholders Primer PLTA PLN (Persero) Perusahaan Pengguna Dinas LH Perhutani Dishut Dinas PU Kemenhut Kementerian PU Kementerian ESDM Kepentingan 3.00 2.00 Masyarakat Stakeholders Sekunder Kementan Kementerian KP KLH DPRD Investor LSM Pemda P3B 1.00 Stakeholders Eksternal 0.00 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Pengaruh Gambar 21 Pemetaan para pemangku kepentingan PLTA berdasarkan tingkat kepentingan dan pengaruhnya. Gambar 21 menunjukkan bahwa terdapat 3 kelompok pemangku kepentingan (stakeholder) terkait pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela. Ketiga kelompok pemangku kepentingan tersebut adalah stakeholder primer, stakeholder sekunder dan stakeholder eksternal. Stakeholder primer (primary stakeholders) atau stakeholder kunci memiliki tingkat kepentingan tinggi dengan pengaruh yang relatif lebih rendah dalam proses penentuan kebijakan. Stakeholder sekunder (secondary stakeholders) memiliki tingkat kepentingann dan pengaruh dalam proses penentuan kebijakan dengan proporsi relatif sama. Sementara stakeholder ekternal (external stakeholders) memiliki tingkat

92 kepentingan relatif lebih rendah dengan pengaruh yang tinggi dalam proses penentuan kebijakan. Stakeholder kunci terdiri dari Kementerian Kehutanan, PLN (Persero), PLTA, Perhutani/HTI, Dinas LH, Dinas Kehutanan, Dinas PU, Perusahaan Pengguna dan masyarakat. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menjadi pihak yang memiliki pengaruh dan tingkat kepentingan tertinggi. Hal ini diterkait mungkinkan karena aspek pengelolaan sumberdaya air sangat dekat dengan wilayah hulu DAS yang sebagian besar merupakan kawasan hutan yang menjadi tupoksi Kemenhut. Kemenhut menjadi pihak yang paling berpengaruh dalam proses penyusunan kebijakan strategis terkait pengelolaan sumberdaya air PLTA, karena output kebijakan Kemenhut mampu menjangkau semua pihak terkait. Pada kelompok tengah stakeholder primer (kunci), PLTA menjadi pihak yang paling berkepentingan, sehingga harus menjadi pihak yang proaktif pada tataran operasional. PLTA perlu melakukan komunikasi eksternal dan kerjasama dengan stakeholder kunci lain agar program perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air PLTA tercapai. Stakeholder yang memenuhi kriteria tersebut yaitu Kemenhut, PLN dan Perhutani di tataran pusat, serta Dinas LH, Dinas Kehutanan, Dinas PU, perusahaan pengguna, dan masyarakat pada tataran daerah. Sementara masyarakat menjadi pihak kunci yang berkepentingan, tetapi memiliki pengaruh yang relatif rendah. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat merupakan pihak kunci yang lebih banyak menerima dampak kebijakan pengelolaan sumberdaya air. Oleh karena itu, setiap proses penyusunan dan pengambilan kebijakan tetap harus melibatkan masyarakat yang akan menjadi objek penerima dampak di tataran hilir pelaksanaan kebijakan. PLTA harus melibatkan masyarakat agar dapat berpartisipasi secara aktif dalam pelaksanaan kebijakan pada tataran operasional. Program lingkungan yang tidak melibatkan masyarakat tidak akan berhasil. Mereka banyak bergantung pada sumberdaya alam di wilayah ini untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Kepentingan masyarakat lebih dipengaruhi oleh kebutuhan mereka akan kelestarian sumberdaya untuk menopang hidup mereka. Masyarakat sebagian besar bersedia lahannya dijadikan lahan untuk rehabilitasi (Sundawati & Sanudin 2009).

93 Kementerian PU, Kementerian ESDM, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Lingkungan Hidup menjadi institusi pusat yang bisa mendukung program pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela. Hal ini disebabkan, semua institusi pusat ini berada pada kuadran stakeholder sekunder. Pada kuadran ini juga terdapat DPRD dan Pemda sebagai lembaga daerah yang bisa mendukung keberhasilan program. Sementara pihak swasta yang berada pada kuadran ini adalah pihak investor. Kelompok ini penting untuk mendukung program konservasi SDA namum perlu pemberdayaan dalam tataran operasional. PLTA harus mengajak dan meminta dukungan pihakpihak tersebut. Pemda dan investor patut diajak kerjasama dalam tataran operasional. Pemda berperan sebagai fasilitator dan pemberian izin yang terkait dengan program lingkungan. Investor meskipun memiliki tingkat kepentingan yang rendah namun penting diperhatikan karena memiliki tingkat pengaruh dalam pembentukan opini green product PLTA di pasar internasional. LSM dan Pusat Penyaluran dan pengatur Beban (P3B) memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh yang relatif rendah dalam konservasi sumberdaya air. PLTA perlu memperhatikan kebutuhan P3B terkait dengan kebutuhan energi listrik yang dibuutuhkan. LSM dapat diajak untuk membantu memberikan advokasi dan pelatihan kepada masyarakat. PLTA perlu mengembangkan upaya untuk membangun potensi kolaborasi yang dapat dikembangkan dari stakeholder ini. Upaya konservasi sumberdaya air tidak dapat dikerjakan sendiri, tetapi membutuhkan upaya bersama dari berbagai pihak. Sebagai pihak yang memanfaatkan sumberdaya air, PLTA perlu mengetahui tipikal dan concern masing-masing stakeholder guna menetapkan kunci keberhasihan. Secara umum stakeholder memiliki perhatian lebih pada kredibilitas dan kemudahan aksesibilitas data, dan ingin mengetahui apakah tujuan pengelolaan sumberdaya air PLTA sesuai dengan strategi lingkungan mereka. Komunikasi eksternal perlu dilakukan lebih intensif dengan pemangku kepentingan guna keberhasilan program lingkungan PLTA dan memperoleh akseptasi mereka. 4.4.2 Tinjauan Regulasi dalam Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA

94 Peraturan perundang-undangan yang diacu oleh ke-empat PLTA dalam melakukan perlindungan sumberdaya air pada tahap operasional adalah Undangundang (UU) Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumberdaya Air, PP Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, dan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor KEP-02/MENKLH/I/1988 tentang Penetapan Baku Mutu Lingkungan. Selain itu, terkait pengelolaan dan perlindungan kawasan yang lebih luas (DAS hulu PLTA), PLTA juga harus megacu pada UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Secara umum UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air terdiri dari 3 komponen utama yaitu konservasi, pemanfaatan dan pengendalian daya rusak air. Hal ini menunjukkan bahwa untuk melakukan pengelolaan waduk dengan melakukan konservasi, pemanfaatan, pengendalian daya rusak air. Berdasarkan UU ini, penetapan kebijakan pengelolaan sumberdaya air berada pada pemerintah sesuai dengan wilayah penyebarannya. Wilayah sungai yang melintasi provinsi menjadi kewenangan Pemerintah Pusat, wilayah sungai yang melintasi kabupaten/kota menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi, dan wilayah sungai yang hanya ada di kabupaten/kota menjadi kewenangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan. Sementara PP Nomor 42 Tahun 2008, memberikan kewenangan kepada Dinas pada tingkat provinsi untuk membantu wadah koordinasi pengelolaan sumberdaya air pada wilayah sungai-sungai lintas kabupaten/kota dalam penyusunan rancangan pola pengelolaan sumberdaya air. Hal ini sejalan dengan arahan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan PP 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemda Provinsi, dan Pemda Kabupaten/Kota yang mengatur kewenangan otonomi daerah. Pengelolaan DAS Citarum di mana PLTA Saguling dan Cirata berada yang melintasi dua kabupaten, menurut UU 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah merupakan tanggung jawab pemerintah

95 provinsi. Sementara DAS Tondano di mana PLTA Tanggari I dan II berada dalam satu kabupaten yang sama. Sebagai langkah antisipasi, UU Nomor 7 Tahun 2009 ini juga melarang berbagai pihak untuk melakukan kegiatan yang bisa mengakibatkan daya rusak air. Selain itu, UU ini juga memberi peluang kepada masyarakat untuk terlibat dalam proses penentuan kebijakan terkait pengelolaan sumberdaya air sekaligus memperoleh manfaat dari pengelolaannya. Berbagai peran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan juga diatur dalam UU Nomor 32 Tahun 2009 yang tentu saja terkait dengan pengelolaan sumberdaya air sebagai salah satu aspek dari lingkungan. Kebijakan lain terkait pengelolaan sumber daya air adalah pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran yang diatur dalam PP Nomor 82 Tahun 2001 dan PP No 42 Tahun 2008. Pengelolaan kualitas air tersebut dilakukan dengan cara memperbaiki kualitas air pada sumber air dan prasarana sumberdaya air. Perbaikan kualitas air pada sumber air dan prasarana sumberdaya air sendiri diatur untuk dilakukan Pemerintah atau Pemerintah Daerah sesuai wewenang dan tanggung jawabnya. Sementara itu, penerapan konsep daya dukung dan daya tampung lingkungan perlu diimplementasikan dalam pengelolaan sumberdaya air, karena merupakan bagian dari aspek lingkungan. Hal ini ditegaskan dalam UU Nomor 32 Tahun 2009. Pengelolaan yang terkait kawasan lindung dan budidaya yang berada pada wilayah PLTA diatur dalam UU 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. UU ini mengatur juga tentang pembangunan berkelanjutan dengan mendefinisikan keberlanjutan dalam konteks penataan ruang adalah diselenggarakan dengan menjamin kelestarian dan kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan dengan memperhatikan kepentingan generasi mendatang. Selain itu, kondisi kualitas lingkungan fisik dapat dipertahankan bahkan dapat ditingkatkan, termasuk pula antisipasi untuk mengembangkan orientasi ekonomi kawasan setelah habisnya sumber daya alam tak terbarukan. Terkait dengan pemenuhan peraturan perundang-undangan yang berlaku, PLTA berkomitmen untuk melakukan konservasi sumberdaya air sesuai dengan konsepsi yang terdapat dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang

96 Sumberdaya Air, Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumberdaya Air, Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, dan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor KEP- 02/MENKLH/I/1988 tentang Penetapan Baku Mutu Lingkungan. Konservasi air ditujukan untuk meningkatkan volume air, meningkatkan efisiensi penggunaannya, memperbaiki kualitas sesuai dengan peruntukkannya, dan menjaga keberlanjutan kemampuan sumberdaya air untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Gambaran berbagai hal tentang perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air dari aspek regulasi tersebut harus menjadi acuan dalam melakukan implementasi kebijakan. Kondisi saat ini pada empat PLTA yang diteliti, masih terjadi penurunan kualitas air akibat pemanfaatannya sebagai pembangkit tenaga listrik. Hal ini terlihat dari hasil analisis deskriptif kualitas air pada inlet dan outlet PLTA yang masih menunjukkan adanya penurunan kualitas air setelah dimanfaatkan. Hal ini bertentangan dengan ketentuan regulasi yang melarang kegiatan yang bisa menyebabkan daya rusak air, termasuk penurunan kualitasnya. Selain itu, pada sisi pengelolaan masih terjadi konflik kepentingan dan lemahnya koordinasi antar berbagai stakeholder terkait sumberdaya air. Hal ini bisa menghambat pencapaian pengelolaan sumberdaya air secara berkelanjutan. Masyarakat dan pihak swasta lainnya yang diberi peluang untuk mendapat manfaat dari sumberdaya air juga masih melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku. Salah satunya pemanfaatan badan air waduk/genangan untuk kegiatan budidaya ikan KJA. Saat ini, sudah terjadi pemanfaatan Waduk Cirata dam Saguling untuk budidaya ikan KJA yang melampaui batas daya dukung dan daya tampung lingkungannya. Selain itu, ada juga pemanfaatan waduk untuk budidaya ikan KJA yang tidak sesuai zonasi peruntukannya. Berbagai kesenjangan antara regulasi yang harus ditaati dengan kondisi saat ini di lapangan menjadi gap yang harus dikurangi hingga dihilangkan. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan penaatan terhadap berbagai peraturan yang

97 telah ditetapkan, serta inisiatif sukarela dari stakeholder guna mengimplementasikan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air. 4.5 Nilai Jasa Lingkungan Sumberdaya Air PLTA Perusahaan akan mengembangkan suatu program, bila benefit yang diperoleh lebih besar dari biaya yang dikeluarkan. Benefit akibat perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air diperoleh dari jasa yang diberikan ekosistem air yang terlindungi. Jasa ekosistem memberikan use value dan non -use value. Use value terdiri atas direct use value, indirect use value dan option value. Non-use value terkait dengan existence value. Nilai ekonomi dari akibat perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air mempertimbangkan seluruh value yang dikandung dari program tersebut jarang sekali dihitung. Berkaitan dengan program pelestaraian sumberdaya air di PLTA, dilakukan analisis valuasi ekonomi akibat program lingkungan dengan mengambil kasus di PLTA Saguling. Analisis data menggunakan pendekatan Total Economic Value (TEV) yaitu analisis kebijakan untuk menilai manfaat lingkungan secara ekonomis dengan menggabungkan unsur dari berbagai disiplin ilmu yang bersifat deskriptif, valuatif dan normatif. Nilai lingkungan tidak hanya bergantung pada nilai pemanfaatan langsung, namun juga pada seluruh fungsi sumberdaya lain yang memberi nilai (ekonomis dan non ekonomis) yang setinggi-tingginya. Model ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pemanfaataan sumberdaya yang dapat diukur secara nyata berdasarkan tolok ukur nilai moneter. Potensi benefit use value dihitung dari market output yang langsung terkait dengan PLTA yaitu nilai produksi listrik, market output tidak langsung dengan PLTA akibat dampak positif dari program lingkungan yang dilakukan PLTA, yaitu nilai produksi ikan, unprices benefit dihitung dari nilai ekowisata, serta ecological function value dihitung dari potensi nilai karbon dari program penghijauan, cadangan air tanah, dan cadangan air waduk. Sedangkan non-use terdiri atas option value, bequest value dan existence value yang dinilai melalui nilai pasar.

4.5.1 Nilai Ekonomi Total Jasa Lingkungan Sumberdaya Air PLTA Saguling dan Cirata di Provinsi Jawa Barat Nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air PLTA di Provinsi Jawa Barat terdiri dari nilai guna langsung (direct use value), nilai guna tidak langsung (indirect use value), dan nilai bukan guna (non-use value). Nilai guna langsung terdiri dari nilai produksi listrik, nilai produksi ikan, dan nilai ekowisata. Sementara nilai guna tidak langsung yang juga merupakan nilai fungsi ekologis (ecological function value) terdiri dari nilai serapan karbon, nilai cadangan air tanah, dan nilai cadangan air waduk. Sementara nilai bukan guna terdiri dari nilai pilihan dan nilai kelestarian. 98 A. PLTA Saguling Nilai Guna Langsung Nilai Produksi Listrik Nilai produksi listrik merupakan keuntungan yang bisa diperoleh dari penjualan energi listrik yang diproduksi oleh PLTA. Nilai keuntungan ini ditentukan oleh jumlah produksi listrik yang bisa dijual dikurangi biaya produksinya. Produksi listrik PLTA Saguling setiap tahunnya sebesar 2.158 GWh. Berdasarkan statistik listrik PLN, harga jual rata-rata per kwh sebesar Rp 591,11 dengan biaya produksi Rp 463, maka bisa diperoleh keuntungan sebesar Rp 276.008.200.000 atau Rp 276 milyar setiap tahunnya. Nilai Ekonomi Produksi Ikan Usaha KJA Nilai ekonomi produksi ikan yang berasal dari usaha keramba jaring apung (KJA) merupakan keuntungan yang bisa diperoleh dari penjualan ikan hasil budidaya setiap tahunnya. Nilai keuntungan ini ditentukan oleh jumlah KJA, jumlah produksi ikan, harga jual ikan, dan biaya usaha budidaya yang dikeluarkan. Berdasarkan data pada Waduk Saguling terdapat 4.514 unit KJA (Maulana 2010) dengan rata-rata produksi 2 ton per tahun ikan mas dan ikan nila setiap unitnya. Harga jual ikan mas berkisar sebesar Rp 14.000 per kg dan harga jual ikan nila sebesar Rp 15.000 per kg. Jika biaya produksi yang dikeluarkan Rp 28.731.610.000 per unit KJA setiap

99 tahunnya, maka bisa diperoleh keuntungan sebesar Rp 233.080.390.000 atau Rp 233,08 milyar setiap tahunnya. Nilai Ekonomi Kegiatan Ekowisata Nilai ekonomi ekowisata di Waduk Saguling dihitung dari besarnya biaya perjalanan wisata yang dikeluarkan oleh setiap pengunjung yang datang setiap tahunnya. Pengunjung yang datang umumnya wisatawan transit ke wilayah ini dan rata rata hanya berkunjung 1 kali dalam setahun. Biaya Pengeluaran terdiri atas biaya transportasi dan biaya akomodasi dan konsumsi. Dari hasil kuesioner diperoleh bahwa biaya rata rata transportasi sebesar Rp 116.000,- dan biaya akomodasi dan konsumsi sebesar Rp 33.000,-. Jadi biaya Pengeluaran sebesar Rp. 149.000,-/orang. Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan diperoleh data bahwa ratarata pengunjung yang datang ke waduk Saguling pada hari-hari biasa (Senin-Jumat) berkisar 10 orang, sedangkan pada hari libur seperti hari Sabtu dan Minggu dapat mencapai 20 orang pengunjung. Dari data tersebut diketahui jumlah pengunjung rata-rata 4 orang per hari atau 1.460 pengunjung per tahun. Nilai ekonomi wisata di sekitar Waduk Saguling yaitu sebesar Rp. 149.000 x 1.460 pengunjung = Rp 217, 54 juta = Rp. 0,217 milyar setiap tahunnya. Nilai Guna Tidak Langsung Nilai Ekonomi Penghijaun (Serapan Karbon) Nilai ekonomi penyerapan karbon dapat dihitung berdasarkan besarnya kandungan karbon yang tersimpan di dalam vegetasi hutan yang dikonversikan dalam nilai finansial. Menurut Brown dan Peaece (1994) dalam Widada (2004), hutan alam primer, hutan sekunder, dan hutan terbuka memiliki kemampuan menyimpan masing-masing karbon sebesar 283 ton per hektar, 194 ton per hektar, dan 115 ton per hektar. Setiap 1 ton karbon dapat dihargai dengan nilai finansial yang berkisar antara $1 US sampai $28 US (Soemarwoto, 2001). Berdasarkan data ini, maka nilai ekonomi penyerapan karbon di kawasan hutan sekitar Waduk Saguling dapat dihitung. Untuk menghindari penilaian yang terlalu tinggi atau terlalu

100 rendah, maka nilai finansial yang diambil adalah nilai tengah dari yang ditetapkan oleh Soemarwoto yaitu sebesar $19 US per ton. Nilai ekonomi penyerapan karbon di sekitar Waduk Saguling, dapat dihitung dengan asumsi sebagai berikut 1. Luas kawasan hutan di sekitar Waduk Saguling 1.403 hektar dimana keseluruhan merupakan hutan sekunder. 2. Satu hektar hutan sekunder di kawasan hutan sekitar Waduk Saguling menyimpan karbon sebesar menyimpan karbon sebesar 194,00 ton karbon. 3. Nilai karbon sebesar $US 19 per ton dimana untuk $US 1 = Rp 9.425,85 Adapun nilai ekonomi serapan karbon di kawasan Waduk Saguling adalah = 1403 ha x 194,00 ton x $US 19 x Rp. 9425,85 = Rp 35,57 milyar setiap tahunnya. Nilai Cadangan Air Tanah Jumlah cadangan air tanah di DAS Saguling pada dasarnya merupakan sumber utama bagi air permukaan yang mengalir di Sungai Citarum hulu. Secara tidak langsung air ini juga menjadi pemasok utama pembangkit listrik PLTA Saguling. Sehingga cadangan air tanah ini memiliki potensi ekonomi setara dengan jumlah pembangkitan energi listrik yang bisa dihasilkannya. Besarnya potensi tersebut bisa dihitung dari volume air input yang berasal dari curah hujan di seluruh DAS, dikurangi yang mengalir di air permukaan (run off) dan penguapan yang terjadi di seluruh permukaan DAS. Berdasarkan data diketahui bahwa luas DAS Waduk Saguling adalah 222.830 ha, dengan rata-rata curah hujan sebesar 3.378 mm/tahun dan ratarata penguapan sebesar 1.116 mm/tahun, serta debit air permukaan sebesar 108 m 3 /detik. Volume cadangan air tanah dihitung dari volume input curah hujan dikali luas DAS, dikurangi volume output penguapan dikali luas DAS dan aliran permukaan. Setiap m 3 cadangan air tanah ini berpotensi menghasilkan energi listrik senilai Rp 202. Hasil perhitungan menunjukkan volume cadangan air tanah tersebut bernilai sebesar Rp 330.174.373.200 atau Rp 330,17 milyar setiap tahunnya.

101 Nilai Cadangan Air Waduk Seperti hanya cadangan air tanah, air yang tergenang dalam waduk juga berpotensi untuk dikonversi menjadi energi listrik senilai Rp 202/m 3. Potensi ini bisa hilang jika volume air di waduk mengalami pengurangan akibat sedimentasi. Sehingga volume sedimentasi yang masuk ke dalam waduk berpotensi menghilangkan nilai ekonomi cadangan air waduk. Besarnya nilai ekonomi cadangan air waduk sebanding dengan banyaknya sedimen yang masuk ke waduk setiap tahunnya. Berdasarkan data PT Indonesia Power (2010) diketahui rata-rata volume sedimen yang masuk ke dalam Waduk Saguling sebesar 4,2 juta m 3 setiap tahunnya. Sehingga nilai cadangan air waduk yang hilang sebesar Rp 848,4 juta setiap tahunnya. Nilai Bukan Guna Nilai Pilihan Nilai pilihan waduk adalah nilai pemanfaatan sumberdaya waduk untuk pemanfaatan dimasa yang akan datang. Nilai pilihan waduk dihitung sama dengan dengan nilai keberadaan di atas yaitu menggunakan metode Contingent Valuation Method (CVM) yang didasarkan pada seberapa besar seseorang atau masyarakat mau membayar (willingness to pay) untuk melindungi sumberdaya waduk. Nilai pilihan ini dihitung berdasarkan bagaimana manfaat sumberdaya alam yang terkandung dalam waduk dapat dipertahankan sehingga dapat dimanfaatkan untuk masa yang akan datang. Untuk mengumpulkan data berkaitan dengan nilai pilihan ini, disebarkan kuisioner kepada responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua responden menyatakan bahwa Waduk perlu dipertahankan manfaat yang terkandung di dalamnya terutama untuk pemanfaatan dimasa yang akan datang. Terkait dengan kesediaan membayar agar manfaat SDA dalam hutan sekitar waduk tetap dipertahankan, sekitar 50% menyatakan bersedia membayar dan sisanya (50%) menyatakan tidak bersedia membayar. Adapun besar biaya yang bersedia dibayarkan untuk mempertahankan manfaat Waduk Saguling adalah sekitar 75 % bersedia membayar sebesar Rp. 5.000,- dan hanya sekitar 25 % bersedia membayar sebesar Rp. 10.000,-.

102 Dari kisaran kesediaan membayar tersebut, jika dirata-ratakan maka dapat diketahui besaran kesediaan membayar setiap responden yaitu sebesar Rp. 12.500,00/orang Berdasarkan data di atas, dihitung nilai pilihan waduk yaitu nilai manfaat (WTP) dikalikan dengan jumlah penduduk di wilayah penelitian. Berdasarkan data statistik, jumlah penduduk di sekitar waduk sebanyak 618.479 jiwa, sehingga nilai pilihan Waduk Saguling = Rp 12.500 x 618.479 jiwa = Rp 7.730.987.500 atau Rp 7,73 milyar. Nilai Kelestarian Waduk Nilai kelestarian waduk juga dihitung dengan metode Contingent Valuation Method (CVM). Nilai kelestarian waduk dihitung berdasarkan pentingnya dilestarikan kawasan waduk terutama untuk mempertahankan fungsinya sebagai kawasan konservasi air untuk operasional PLTA dan kebutuhan air bagi masyarakat sekitar. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuisioner untuk 120 responden. Informasi yang ingin digali dalam kuisioner dituangkan dalam bentuk pertanyaan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa semua responden menyatakan bahwa waduk perlu dilestarikan untuk mempertahankan fungsinya sebagai kawasan konservasi air dan pemenuhan kebutuhan air bagi masyarakat. Berkaitan dengan kesediaan membayar untuk melestarikan fungsi Waduk, sekitar 62,5 % menyatakan bersedia membayar dan 37,2 % menyatakan tidak bersedia membayar. Adapun besar biaya yang bersedia dibayarkan untuk melestarikan Waduk adalah sekitar 37,5 % bersedia membayar sebesar Rp. 5.000, sekitar 12,5 % bersedia membayar sebesar Rp. 10.000 dan sekitar 12,5 % bersedia membayar sebesar Rp. 15.000 serta sisanya yaitu sekitar 37,3 % tidak bersedia membayar. Dari kisaran kesediaan membayar tersebut, jika dirataratakan maka dapat diketahui besaran kesediaan membayar setiap responden yaitu sebesar Rp. 15.000,00/orang. Berdasarkan data di atas, dapat dihitung nilai kelestarian waduk yaitu nilai kelestarian (WTP) dikalikan dengan jumlah kepala keluarga di wilayah penelitian. Jumlah kepala keluarga sebanyak diasumsikan ¼ dari jumlah

103 penduduk atau setiap keluarga rata-rata terdiri dari 4 orang. Nilai Pelestarian Waduk = Rp 15.000,00 x (35.638 jiwa/4) = Rp 2.319.296.250 2,31 milyar setiap tahunnya. Nilai Ekonomi Total Nilai ekonomi total perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air di PLTA Saguling merupakan jumlah dari keseluruhan nilai guna langsung, nilai guna tidak langsung, dan nilai bukan guna disajikan dalam Tabel 13. Berdasarkan hasil penelitian seperti diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa perlindungan dan pengeloaan sumberdaya air di PLTA dengan studi kasus di PLTA Saguling memiliki nilai ekonomi yang cukup besar terkait pemanfaatan jasa lingkungan waduk. Nilai ekonomi ini dihitung dari perbaikan sistem perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air PLTA dan perbaikan hubungan antara perusahaan (PLTA) dengan masyarakat sekitar sebagai manfaat utama yang diperoleh PLTA Saguling. Tabel 13 Nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air PLTA Saguling No Parameter Jumlah (Rp) 1 Nilai Benefit Listrik 276.008.200.000 2 Nilai Keuntungan Ikan 233.080.390.000 3 Nilai Ekowisata 217.540.000 Nilai Guna Langsung 509.306.130.000 4 Nilai Serapan Karbon 35.577.531.494 5 Nilai Potensi Cadangan Air 330.174.373.200 6 Nilai Potensi Kelestarian Air 848.400.000 Nilai Guna Tidak Langsung 366.600.304.694 7 Option Value 7.730.987.500 8 Preservation Value 2.319.296.250 Nilai Bukan Guna 10.050.283.750 Nilai Ekonomi Total 885.956.718.444 Besar nilai ekonomi total (Total Economic Value) dari pengelolaan sumberdaya air di PLTA Saguling mencapai Rp. 885.956.718.444 atau sekitar Rp. 0,885 triliyun. B. PLTA Cirata

104 Nilai Guna Langsung Nilai Produksi Listrik Berdasarkan perhitungan yang sama, maka potensi nilai ekonomi produksi listrik PLTA Cirata yang bisa diperoleh sebesar Rp 182.385.400.000 atau Rp 182,38 milyar setiap tahunnya. Nilai ini diperoleh karena PLTA Cirata memproduksi rata-rata energi listrik sebesar 1.426 GWh setiap tahunnya. Nilai Ekonomi Produksi Ikan Usaha KJA Sementara potensi nilai ekonomi produksi ikan PLTA Cirata dipengaruhi oleh daya dukung waduk terhadap jumlah KJA maksimum yang bisa diusahakan, yaitu sejumlah 24.000 unit (Hapsari 2010). Jumlah ini memungkinkan diperolehnya nilai ekonomi produksi budidaya perikanan sebesar Rp 1.239.240.000.000 atau Rp 1,23 triliun setiap tahunnya. Nilai Ekonomi Kegiatan Ekowisata Jmlah kunjungan wisatawan sebanyak 17.516 setiap tahun ke lokasi sekitar PLTA Cirata berkontribusi terhadap nilai ekonomi kegiatan ekowista. Berdasarkan jumlah wisatawan tersebut, maka potensi nilai ekonomi yang bisa diperoleh dari kegiatan ekowisata di sekitar PLTA Cirata sebesar Rp 2.627.400.000 atau Rp 2,62 milyar setiap tahunnya. Nilai Guna Tidak Langsung Nilai Ekonomi Penghijaun (Serapan Karbon) Luasan lahan yang telah direboisasi seluas 525 ha di sekitar PLTA Cirata menghasilkan potensi nilai ekonomi penyerapan sebesar Rp 18.250.856.732 atau Rp 18,25 milyar setiap tahunnya. Nilai Cadangan Air Tanah DAS Waduk Cirata yang merupakan perluasan dari DAS Waduk Saguling memiliki cadangan air tanah yang lebih banyak. DAS Cirata mencakup wilayah seluas 465.286 ha dengan curah hujan rata-rata 2.557 mm/tahun dan penguapan rata-rata 1.116 mm/tahun. Berdasarkan kondisi tersebut, diperoleh potensi nilai ekonomi cadangan air tanah PLTA Cirata sebesar Rp 222.230.744.400 atau Rp 222,23 milyar setiap tahunnya. Nilai Cadangan Air Waduk

105 Waduk Cirata yang berada di hilir Waduk Saguling tentu saja menerima erosi dan sedimentasi yang lebih besar. Hal ini disebabkan luas DAS yang lebih besar, sehingga perhitungan potensi nilai ekonomi cadangan air waduk PLTA Cirata menghasilkan nilai sebesar Rp 961.520.000 atau Rp 0,96 milyar setiap tahunnya. Nilai Bukan Guna Nilai Pilihan Jumlah penduduk di sekitar Waduk Cirata yang berjumlah sebesar 234.322 jiwa berpengaruh terhadap besarnya nilai pilihan. Berdasarkan perhitungan potensi nilai pilihan PLTA Cirata sebesar Rp 2.929.025.000 atau Rp 2,92 milyar setiap tahunnya. Nilai Kelestarian Waduk Jumlah penduduk tersebut berkontribusi juga terhadap banyaknya kepala keluarga (KK) yang bermukim di sekitar Waduk Cirata. Hal ini menghasilkan perhitungan potensi nilai ekonomi kelestarian waduk PLTA Cirata sebesar Rp 878.707.500 atau Rp 0,87 milyar setiap tahunnya. Nilai Ekonomi Total Nilai ekonomi total perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air di PLTA Cirata merupakan jumlah dari keseluruhan nilai guna langsung, nilai guna tidak langsung, dan nilai bukan guna disajikan dalam Tabel 14. Hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa perlindungan dan pengeloaan sumberdaya air di PLTA dengan studi kasus di PLTA Cirata juga memiliki nilai ekonomi yang cukup besar terkait pemanfaatan jasa lingkungan waduk. Nilai ekonomi ini dihitung dari perbaikan sistem perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air PLTA dan perbaikan hubungan antara perusahaan (PLTA) dengan masyarakat sekitar sebagai manfaat utama yang diperoleh PLTA Cirata. Besar nilai ekonomi total dari pengelolaan sumberdaya air di PLTA Cirata mencapai Rp. 1.669.503.653.632 atau sekitar Rp. 1,66 triliyun. Tabel 14 Nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air PLTA Cirata No Parameter Jumlah (Rp) 1 Nilai Benefit Listrik 182.385.400.000

106 2 Nilai Keuntungan Ikan 1.239.240.000.000 3 Nilai Ekowisata 2.627.400.000 Nilai Guna Langsung 1.424.252.800.000 4 Nilai Serapan Karbon 18.250.856.732 5 Nilai Potensi Cadangan Air 222.230.744.400 6 Nilai Potensi Kelestarian Air 961.520.000 Nilai Guna Tidak Langsung 241.443.121.132 7 Option Value 2.929.025.000 8 Preservation Value 878.707.500 Nilai Bukan Guna 3.807.732.500 Nilai Ekonomi Total 1.669.503.653.632 4.5.2 Nilai Ekonomi Total Jasa Lingkungan Sumberdaya Air PLTA Tanggari I dan Tanggari II di Provinsi Sulawesi Utara Nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air PLTA di Provinsi Sulawesi Utara terdiri dari nilai NET PLTA Tanggari I dan II. Berbeda dengan PLTA di Provinsi Jawa Barat, PLTA di Provinsi Sulawesi Utara hampir seluruh parameternya memiliki fungsi ekonomi secara bersama. Fungsi ekonomi jasa lingkungan yang dihitung terpisah hanya nilai produksi listrik masing-masing PLTA. Sehingga nilai ekonomi total PLTA Tanggari I dan II merupakan jumlah nilai ekonomi produksi listrik masing-masing PLTA ditambah nilai ekonomi parameter lainnya secara bersama-sama. Persamaan dan teknik perhitungan yang digunakan sama dengan yang dilakukan pada PLTA di Provinsi Jawa Barat. Nilai Guna Langsung Nilai Produksi Listrik Berdasarkan perhitungan, potensi nilai ekonomi produksi listrik PLTA Tanggari I yang bisa diperoleh sebesar Rp 1.164.350.440 atau Rp 1,16 milyar setiap tahunnya. Sementara potensi nilai ekonomi produksi listrik PLTA Tanggari II adalah sebesar Rp 1.391.374.859 atau Rp 1,39 milyar setiap tahunnya. Sehingga total nilai produksi listrik untuk PLTA Tanggari I dan II adalah sebesar Rp 2.555.725.299 atau Rp 2,55 milyar per tahunnya. Nilai Ekonomi Produksi Ikan Usaha KJA Potensi nilai ekonomi produksi ikan PLTA Tanggari I dan II dengan keberadaan KJA sebanyak 6000 unit. Hal ini menghasilkan potensi nilai

107 ekonomi produksi ikan sebesar Rp 235.350.000.000 atau Rp 0,23 triliun setiap tahunnya. Nilai Ekonomi Kegiatan Ekowisata Potensi nilai ekonomi yang bisa diperoleh dari kegiatan ekowisata di sekitar PLTA Tanggari I dan II sebesar Rp 9.317.430.000 atau Rp 9,31 milyar setiap tahunnya. Hal ini diperoleh berdasarkan rata-rata jumlah wisatawan yang berkunjung sebanyak 34.509 orang setiap tahunnya. Selain itu, hal ini diperoleh dari besarnya pengeluaran wisatawan yang berupa biaya transportasi dan biaya akomodasi selama melakukan kunjungan wisata. Nilai Guna Tidak Langsung Nilai Ekonomi Penghijaun (Serapan Karbon) Saat ini di sekitar PLTA Tanggari I dan II telah dilakukan penghijauan seluas 125 ha. Luas areal penghijauan tersebut menghasilkan potensi nilai ekonomi penyerapan karbon di sekitar PLTA Tanggari I dan II sebesar Rp 4.342.960.388 atau Rp 4,34 milyar setiap tahunnya. Nilai Cadangan Air Tanah Potensi nilai ekonomi cadangan air tanah PLTA Tanggari I dan II berada pada DAS Tondano seluas 24.708 ha. DAS seluas ini dengan tingkat curah hujan tahunan rata-rata sebesar 1.936 mm menghasilkan potensi ekonomi cadangan air tanah senilai Rp 481.745.760 atau Rp 0,48 milyar setiap tahunnya. Nilai Cadangan Air Sungai Sementara cadangan air sungai yang menjadi potensi ekonomi PLTA Tanggari I dan II senilai Rp 404.000.000 atau Rp 0,40 milyar setiap tahunnya. Nilai Bukan Guna Nilai Pilihan Nilai pilihan pada PLTA Tanggari I dan II dihitung dari rata-rata WTP sebesar Rp 12.500 dikalikan dengan jumlah penduduk di sekitar PLTA. Hasil perhitungan menunjukkan potensi nilai pilihan sebesar Rp 331.975.000 atau Rp 0,33 milyar setiap tahunnya.

108 Nilai Kelestarian Waduk Berdasarkan perhitungan yang sama dengan nilai pilihan, tetapi terhadap jumlah KK di sekitar PLTA Tanggari I dan II diperoleh nilai ekonomi kelestarian menurut penduduk diperoleh sebesar Rp 99.592.500 atau Rp 0,09 milyar setiap tahunnya. Nilai Ekonomi Total Nilai ekonomi total perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air di PLTA Tanggari I dan II disajikan dalam Tabel 15. Tabel 15 Nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air PLTA Tanggari I dan II No Parameter Jumlah (Rp) 1 Nilai Benefit Listrik 2.555.725.299 2 Nilai Keuntungan Ikan 235.350.000.000 3 Nilai Ekowisata 9.317.430.000 Nilai Guna Langsung 247.223.155.299 4 Nilai Serapan Karbon 4.342.960.388 5 Nilai Potensi Cadangan Air 481.745.760 6 Nilai Potensi Kelestarian Air 404.000.000 Nilai Guna Tidak Langsung 5.228.706.148 7 Option Value 331.975.000 8 Preservation Value 99.592.500 Nilai Bukan Guna 431.567.500 Nilai Ekonomi Total 251.492.054.088 Hasil perhitungan menunjukkan bahwa perlindungan dan pengeloaan sumberdaya air di PLTA dengan studi kasus di PLTA Tanggari I dan II juga memiliki nilai ekonomi yang relatif besar terkait pemanfaatan jasa lingkungan sumberdaya air, meskipun tidak sebesar PLTA di Provinsi Jawa Barat. Hal ini disebabkan kapasitas produksi listrik dan potensi ekonomi lainnya yang memiliki skala lebih kecil. Nilai ekonomi total dari pengelolaan sumberdaya air di PLTA Tanggari I dan II mencapai Rp. 251.492.054.088 atau sekitar Rp. 0,25 triliyun.

109 4.6 Prioritas Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA Upaya penyelamatan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama, sebab fenomena ini menyentuh semua lapisan masyarakat dan institusi dan kehidupan selanjutnya. Kesadaran akan pentingnya kualitas lingkungan juga merupakan tanggungjawab global, sehingga berbagai kesepakatan dunia dilakukan untuk meningkatkan kinerja lingkungan. Tekanan konsumen, tekanan pemerintah dan kekuatan pasar dan kepentingan individu organisasi terhadap perlindungan lingkungan memotivasi penerapan sistem manajemen lingkungan (Uchida 2004). Perlindungan lingkungan berbasis pendekatan sukarela semakin diminati oleh pengambil keputusan sebagai tool untuk mengajak pencemar berpartisipasi dalam perlindungan lingkungan (Segerson & Thomas, 1998). Kehadiran kebijakan sukarela untuk mengurangi ketidakfleksibelan kebijakan mandatori dapat menjadi salah satu alternatif yang bersinergi dalam mempercepat perlindungan lingkungan. Kebijakan perlindungan berbasis sukarela perlu dirumuskan untuk implementasi ke depan, mengingat dalam penerapannya banyak pihak yang terkait. Untuk merumuskan desain kebijakan ini menggunakan teknik analisis hirarki proses (AHP). Teknik AHP umumnya dikembangkan untuk memecahkan persoalan yang tidak terstruktur dan komplek dalam kerangka berfikir yang terorganisir sehingga pengambilan keputusan yang efektif dan menyeluruh dapat dilakukan. 4.6.1 Struktur AHP dan Nilai Eigen Dalam merumuskan desain kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA, terlebih dahulu disusun hierarki kebijakan untuk mendukung pengambilan keputusan desain kebijakan tersebut. Hierarki kebijakan tersebut disusun berdasarkan justifikasi pakar dimana pakar menetapkan lima level hierarki yaitu : Level pertama merupakan fokus kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. Level kedua merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi/memotivasi perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA yang

110 terdiri atas tekanan pemerintah, tekanan global, tekanan masyarakat, tekanan pembeli dan kepentingan PLTA. Level ketiga adalah aktor yang berperan dalam pengembangan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA antara lain pemerintah, masyarakat, pembeli, investor, dan industri Level keempat adalah tujuan yang ingin dicapai dalam pengembangan kebijakan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA terdiri atas perlindungan lingkungan, kontinuitas PLTA, pengakuan publik, dan liabilitas lingkungan. Level kelima adalah alternatif kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA yang meliputi penguatan infrastruktur kelembagaan dan institusional, pemberian insentif dan disinsentif, peningkatan nilai lingkungan internal. Setiap elemen pada setiap level selanjutnya diboboti oleh pakar dengan menggunakan nilai bobot seperti yang telah ditetapkan oleh Saaty (1993). Pengolahan data untuk menentukan elemen prioritas dalam pengambilan keputusan kebijakan perlindungan lingkungan berbasis sukarela menggunakan software Criterium Decision Plus (CDP) versi 3,0. Hasil sintesis menghasilkan nilai eigen (bobot) untuk setiap pilihan yang ada di dalam struktur AHP. Untuk memudahkan dalam interpretasi hasil terhadap nilei eigen maka nilai tersebut dimasukkan dalam struktur AHP secara kumulatif sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 22. Hasil sistesis AHP atas pendapat pakar menunjukkan bahwa faktor yang berperan memotivasi pengembangan dan implementasi kebijakan sukarela (voluntari) di PLTA adalah tekanan pemerintah dengan nilai eigen 0,462. Kemudian tekanan global dengan bobot 0,198. Sedangkan tekanan masyarakat, kepentingan PLTA dan tekanan pembeli memiliki nilai eigen masing sebesar 0.143; 0,111 dan 0,087.

111 Gambar 22 Struktur AHP dan nilai eigen pada hirarki model disain kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA.

112 4.6.2 Konstribusi Peran Setiap Level Konstribusi peran dari masing masing level yaitu level faktor, level aktor dan level tujuan kemudian dianalisis terhadap pengembangan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA sebagai berikut: Pertama, konstribusi peran faktor dalam disain insentif dan disinsentif kebijakan Perlindungan lingkungan berbasis sukarela, pakar melihat bahwa faktor yang paling berpengaruh adalah tekanan pemerintah (0,201), tekanan global (0,087), tekanan masyarakat (0,063), kepentingan PLTA (0,048) dan tekanan pembeli (0,038). Nilai konstribusi faktor dalam menetapkan alternatif kebijakan perlindungan lingkungan berbasis sukarela ditunjukkan pada Tabel 16 dan Gambar 23. Tabel 16 Nilai kontribusi faktor dalam menetapkan pilihan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela Alternatif kebijakan Tekanan Pemerintah Tekanan Global Nilai Konstribusi Faktor Tekanan Masyarakat Kepentin gan PLTA Tekanan Pembeli Insentif & Disinsentif 0,201 0,087 0,063 0,048 0,038 Penguatan Infrastruktur kelembagaan 0,172 0,073 0,053 0,042 0,032 Peningkatan Nilai 0,088 0,038 0,028 0,021 0,017 Lingkungan Internal sumber : hasil analisis, 2011 0.45 0.40 0.35 ributions to Perlindungan Lingk Berbasis Sukarela Level:Faktor 0.45 0.40 0.35 0.30 0.25 0.20 0.15 0.10 0.05 0.30 0.25 0.20 0.15 0.10 0.05 T. Pemerin T. Global T. Masyara K. PLTA T. Pembeli 0.00 Insentif & Disinsentif Penguatan Inf kelembagaan Peningkatan Nilai Ling Internal 0.00 Gambar 23 Kontribusi faktor terhadap alternatif kebijakan.

113 Kedua, kontribusi peran aktor dalam disain kebijakan perlindungan lingkungan berbasis sukarela bahwa pemerintah, pembeli, perusahaan lain dan PLTA lebih mengutamakan alternatif insentif dan disinsentif dengan nilai masing masing sebesar 0,188; 0,057; 0,037 dan 0,021. Sedangkan masyarakat dan investor lebih cenderung menginginkan penguatan infrastruktur kelembagaan dan institusional dengan nilai masing-masing 0,102 dan 0,051. Adapun nilai konstribusi peran aktor hasil analisis pendapat pakar secara rinci disajikan pada Tabel 17 dan Gambar 24. Tabel 17 Nilai kontribusi aktor dalam menetapkan pilihan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela Alternatif kebijakan Insentif & Disinsentif Penguatan Infrastruktur kelembagaan Peningkatan Nilai Lingkungan Internal sumber : hasil analisis, 2011 Nilai Kontribusi Aktor Pemerintah Masyarakat Pembeli Investor Perusahaan lainnya PLTA 0,188 0,087 0,057 0.048 0,037 0,021 0,139 0,102 0,045 0,051 0,021 0,014 0,082 0,038 0,025 0,021 0,016 0,008.45.40.35 butions to Perlindungan Lingk Berbasis Sukare Level:Aktor 0.4 0.4 0.3.30.25.20.15.10.05 0.3 0.2 0.2 0.1 0.1 0.0 Pemerintah Masyaraka Pembeli Investor Perusahaa PLTA.00 Insentif & Disinsentif Penguatan Inf kelembagaan Peningkatan Nilai Ling Internal 0.0 Gambar 24 Kontribusi aktor terhadap alternatif kebijakan.

114 Ketiga, berbagai tujuan yang diharapkan dalam mendisain kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumber daya air adalah perlindungan lingkungan, liabilitas lingkungan, kontinuitas PLTA, dan pengakuan publik. Hasil analisis atas justifikasi pakar menunjukkan bahwa untuk mencapai tujuan perlindungan lingkungan memerlukan kebijakan insentif dan disintentif. Sedangkan untuk mencapai tujuan kuntinuitas PLTA, pengakuan publik dan liabilitas lingkungan yang paling diperlukan adalah penguatan infrastruktur kelembagaan. Adapun hasil analisis secara rinci seperti pada Tabel 18 dan Gambar 25. Tabel 18 Nilai kontribusi tujuan dalam menetapkan pilihan kebijakan perlindungan sumberdaya air berbasis sukarela Alternatif Kebijakan Perlindungan Lingkungan Nilai Kontribusi Tujuan Pengakuan Publik Kontinuitas PLTA Liabilitas Lingkungan Insentif & Disinsentif 0,317 0,052 0,041 0,026 Penguatan Infrastruktur kelembagaan Peningkatan Nilai Lingkungan Internal Sumber : hasil analisis, 2011 0,033 0,116 0,122 0,102 0,145 0,017 0,018 0,011 Perlindungan Lingk Berbasis Sukarela f 45 40 35 30 25 20 15 10 05 0.4 0.4 0.3 0.3 0.2 0.2 0.1 0.1 0.0 Perlind. Lin Kuntinuitas Pengakuan Liabilitas Li 00 Insentif & Disinsentif 0.0 Penguatan Inf kelembagaan Peningkatan Nilai Ling Internal Gambar 25 Kontribusi tujuan terhadap alternatif kebijakan.

115 4.6.3 Pengembangan Keputusan Alternatif Kebijakan Hasil sintesis AHP menetapkan bahwa alternatif kebijakan yang paling tinggi untuk dipilih adalah kebijakan insentif dan disinsentif. Hal ini terlihat dari nilai bobot yang lebih besar dibandingkan dengan alternatif lainnya yaitu sebesar 0,436. Alternatif selanjutnya adalah penguatan infrastruktur kelembagaan dan institusional dengan nilai bobot 0,372 dan iikuti dengan peningkatan nilai lingkungan internal dengan bobot 0,080. Nilai dan ranking alternatif kebijakan ditunjukkan pada Tabel 19. Sedangkan gambaran secara menyeluruh antar pilihan kebijakan yang ada ditunjukkan pada grafis histogram. Nilai skor keputusan tertinggi ditunjukkan dengan diagram batang terpanjang yaitu insentif dan disinsentif. Gambaran menyeluruh antar pilihan kebijakan dalam bentuk grafis histogram ditunjukkan pada Gambar 26, sedangkan dalam bentuk scatter plot pada Gambar 27. Tabel 19 Nilai alternatif kebijakan perlindungan lingkungan sukarela Level Alternatif Bobot Ranking Insentif & disinsentif 0,436 I Penguatan infrastruktur kelembagaan 0,372 II Peningkatan nilai lingkungan internal 0,192 III Konsistensi ratio = 0,080 Sumber : hasil analisis, 2011 Gambar 26 Pengambilan keputusan dengan cara histogram dalam penetapan kebijakan perlindungan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA.

116 1 0.8 0.6 0.4 Insentif & Disinsentif Penguatan Inf kelembagaan 0.2 Peningkatan Nilai Ling Internal 0 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 Decision Score Gambar 27 Pengambilan keputusan dengan cara scatter plot dalam penetapan kebijakan perlindungan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. Analisa di atas memperlihatkan bahwa kebijakan terbaik dalam desain pengembangan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA adalah dengan menerapkan kebijakan memberikan insentif dan disinsentif dibandingkan dengan kebijakan pengembangan infrastuktur kelembangaan dan institusional, dan penguatan valuasi lingkungan internal. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan sebagaimana diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa alternatif desain kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela pada kasus PLTA adalah insentif dan disinsentif (0,436), diikuti penguatan infrastruktur kelembagaan dan institusional (0,372) dan Penguatan nilai lingkungan internal (0,192). Untuk memperkuat instensif dan disintentif, maka faktor yang paling berpengaruh adalah tekanan pemerintah (0,462) dibandingkan dengan tekanan global (0,198), tekanan masyarakat (0,143), kepentingan PLTA (0,111) dan tekanan pembeli (0,087). Pemerintah, pembeli, perusahaan dan PLTA lebih mengutamakan alternatif insentif dan disinsentif dalam desain kebijakan, sedangkan masyarakat dan investor cenderung menginginkan penguatan infrastruktur kelembagaan dan institusional. Kebijakan insentif dan disinsentif merupakan tool regulasi yang fundamental untuk mencapai perlindungan lingkungan berbasis sukarela.

117 Penguatan infrastruktur kelembagaan dan isntitusional diperlukan untuk mencapai tujuan kuntinuitas PLTA, pengakuan publik dan liabilitas lingkungan. Hasil di atas memperlihatkan faktor yang paling mempengaruhi PLTA untuk melakukan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air secara sukarela adalah tekanan pemerintah. Daya tekan masyarakat dan pembeli belum banyak mempengaruhi organisasi (PLTA) untuk melaksanakan program perlindungan sukarela. Hal ini dimungkinkan tekanan pemerintah telah terdiskripsikan dalam suatu tata aturan legislasi secara jelas dan dapat menjadi acuan organisasi (PLTA) untuk melaksanakan suatu tindakan. Hal ini juga sejalan dengan hasil penelitian Uchida (2004) yang menyebutkan bahwa tekanan pemerintah memotivasi perusahaan di Jepang untuk mengembangkan perlindungan lingkungan. Tekanan pemerintah dalam bentuk regulasi dan penyelenggaraannya merupakan dorongan utama praktek perlindungan lingkungan sumberdaya alam (Delmas et al. 2004). Pemerintah juga masih menjadi aktor utama untuk mendukung pencapaian tujuan perlindungan lingkungan sumberdaya air. Sektor swasta masih belum menjadi aktor utama untuk menggulirkan program perlindungan berbasis sukarela. Konsepsi pendekatan sukarela yang menekankan upaya proaktif perusahaan untuk merespon ketentuan regulasi, kebutuhan masyarakat dan pasar yang kemudian diterjemahkan dalam perencanaan strategisnya belum sepenuhnya dipahami. Keputusan penerapan inisiatif sukarela sangat penting untuk dipahami oleh pengambil keputusan dalam organisasi. Benefit inisiatif sukarela belum diterjemahkan secara luas oleh perusahaan dalam kontek sosial ekonomi yang lebih luas. Sehingga keuntungan tidak hanya terkait dengan peningkatan efisiensi penggunaan sumberdaya dan proses produksi, serta corporate image. Perbaikan sumberdaya air yang dilakukan juga berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat dan dapat meningkatkan keterlibatan perusahaan untuk memberikan input terhadap penyempurnaan regulasi saat ini untuk pelaksanaan yang lebih baik (Lyon et al. 1998). Peran pemerintah dan tekanan regulasi yang tinggi dalam pengembangan kebijakan sukarela saat ini, bisa digunakan untuk penyusunan program bersama antara pemerintah dan perusahaan dalam bentuk perjanjian negosiasi. Regulasi menjadi landasan untuk pengembangan kebijakan sukarela dan sebagai target

118 lingkungan yang harus disetujui oleh perusahaan dalam periode waktu tertentu. Perjanjian ini juga dapat digunakan sebagai acuan untuk mempromosikan program insentif dan disinsentif untuk mencapai tujuan perlindungan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. 4.7 Model Dinamik Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA Secara umum dari aspek lingkungan, PLTA sangat bergantung dengan kualitas dan kuantitas sumberdaya air yang menjadi pasokan bagi pembangkitan energi listriknya. Sementara kuantitas air sangat bergantung dari sumbernya di bagian hulu PLTA. Keberadaan dan kontinuitas kuantitas air ini sangat dipengaruhi kondisi penutupan dan penggunaan lahan di hulu PLTA. Perubahan penggunaan lahan akan sangat berpengaruh terhadap karakteristik air permukaan dan air bawah permukaan yang bisa diserap lahan. Hal ini akan berpengaruh secara langsung terhadap kuantitas dan kontinuitas air pasokan bagi PLTA. Selain itu, kinerja PLTA juga masih dipengaruhi oleh kualitas air yang akan dialirkan ke dalam turbin pembangkit listrik. Kualitas air akan sangat berpengaruh terhadap mesin pembangkitan yang dialiri air. Sifat kimia yang korosif dan cemaran sedimen bisa mempengaruhi kinerja dan usia teknis mesin pembangkit listrik. Aspek sosial yang terkait pengelolaan sumberdaya air PLTA adalah hubungan antara pengelola PLTA dengan semua stakeholder terkait. Hubungan ini terkait komunikasi yang terjalin antar stakeholder serta kolaborasi dalam melakukan pengelolaan yang berbasis sukarela. Selain aspek sosial, terdapat juga aspek ekonomi baik dari pengelolaan PLTA, maupun dari jasa lingkungan sumberdaya air yang bisa dimanfaatkan oleh semua stakeholder. Pengelola PLTA bisa mendapatkan manfaat ekonomi dengan mengkonversi tenaga air menjadi tenaga listrik yang bisa dijual kepada lembaga penyalur tenaga listrik kepada konsumen. Selisih antara biaya yang dikeluarkan untuk pembangkitan dengan nilai energi listrik yang dihasilkan bisa menjadi keuntungan pengelola PLTA. Sementara jasa lingkungan sumberdaya air bisa bersifat langsung maupun tidak langsung. Manfaat jasa lingkungan air, antara lain sebagai sarana ekowisata, budidaya perikanan, dan manfaat ekologis lainnya.

119 Ketiga aspek terkait pengelolaan PLTA dan interaksinya tersebut disimplifikasi menjadi model dinamik pengelolaan sumberdaya air PLTA. Model dinamik ini mencakup sub-model sosial terkait aspek stakeholder, sub-model lingkungan terkait kualitas air dan perubahan penggunaan lahan, dan sub-model nilai ekonomi jasa lingkungannya. Untuk memahami sistem tersebut dilakukan simplifikasi awal melalui diagram lingkar sebab-akibat (causal loop), seperti disajikan pada Gambar 28. Gambar tersebut menunjukkan setiap sub-model memiliki keterkaitan sebab-akibat. Gambar 28 Diagram simpul-kausal (causal loop) model pengelolaan sumberdaya air PLTA. Semua sub-model tersebut ditransformasi menjadi stock flow diagram (SFD) sebagai penjabaran causal loop di atas disajikan dalam Gambar 29. Perilaku submodel dijabarkan dalam aliran energi dan informasi dalam SFD dengan pendekatan matematis. Penyusunan SFD dan pendekatan matematisnya dilakukan dengan bantuan perangkat lunak Powesim Studio 2005E. Model dirancang berdasarkan hasil pembahasan berbagai aspek pada babbab sebelumnya. Aspek yang mendasari rancang bangun model adalah basis data dan basis knowledge (pengetahuan pakar dan stakeholder) yang telah dibahas sebelumnya.

120 Gambar 29 Stock flow diagram model pengelolaan sumberdaya air PLTA berbasis sukarela. Basis data terutama diterapkan pada elemen-elemen yang menyangkut kondisi fisik lingkungan dan nilai ekonomi langsung terkait pengelolaan PLTA. Elemen tersebut terdiri dari perubahan penggunaan lahan dan kuantitas sumberdaya air, serta nilai guna jasa lingkungan sumberdaya air. Sementara basis knowledge diterapkan pada nilai bukan guna jasa lingkungan sumberdaya air dan sistem keterkaitan berbagai elemen pengelolaan dari berbagai aspek berdasarkan persepsi pakar dan stakeholder. Model terbagi atas beberapa sub-model, yaitu sub-model sosial, sub-model lingkungan dan sub-model ekonomi. Berbagai asumsi diterapkan untuk memenuhi kelengkapan model secara keseluruhan, sehingga bisa dilakukan simulasi terhadap model tersebut. Model ini dibangun berdasarkan data dan knowledge di sekitar PLTA Saguling, karena memiliki basis data terlengkap untuk semua sub-model yang dibangun. Simulasi model dilakukan terhadap data aktual sejak tahun 2001 dan proyeksinya antara tahun 2010 hingga tahun 2021.

121 Tampilan menu model pengelolaan sumber daya air PLTA berbasis sukarela dibuat guna memudahkan alur simulasi yang akan dilakukan. Menu model tersebut menampilkan judul dengan hyperlink pada setiap sub-menu yang akan ditampilkan dalam simulasi. 4.7.1 Sub-model Sosial Sub-model sosial dibangun berdasarkan pertumbuhan penduduk yang terjadi di sekitar PLTA. Selain itu sub-model ini terkait dengan sub-model ekonomi, khususnya penyisihan dana CSR oleh perusahaan yang ditujukan untuk pemberdayaan masyarakat. Dinamika pendanaan CSR tersebut diprediksi akan mempengaruhi indeks pemberdayaan masyarakat. Hasil simulasi model terhadap komponen sosial menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jumlah penduduk. Penduduk sekitar PLTA berjumlah sekitar 717.770 jiwa pada tahun 2011 dan akan meningkat terus hingga mencapai jumlah sekitar 833.001 jiwa pada tahun 2021 (Gambar 30). Peningkatan jumlah penduduk tersebut akan memberikan tekanan terhadap penggunaan sumberdaya alam yang ada di sekitar PLTA. Salah satunya adalah meningkatnya kebutuhan lahan untuk pemenuhan kehidupan penduduk. Kebutuhan tersebut antara lain lahan untuk permukiman yang terus meningkat seiiring meningkatnya jumlah penduduk. Penggunaan lahan untuk permukiman ini akan mempengaruhi perubahan penggunaan lahan di sekitar PLTA. 600,000 Penduduk 300,000 0 Jan 01, 2001 Jan 01, 2006 Jan 01, 2011 Jan 01, 2016 Jan 01, 2021 Tahun Gambar 30 Hasil simulasi jumlah penduduk.

122 Hasil simulasi dinamika pendanaan CSR (corporate social responsibility) dan indeks pemberdayaan masyarakat menunjukkan kaitan yang sangat signifikan. Penurunan nilai CSR secara langsung akan menekan indeks pemberdayaan masyarakat. 4.7.2 Sub-model Lingkungan Sub-model lingkungan terutama direpresentasikan oleh aspek penggunaan lahan pada DAS hulu PLTA. Hasil simulasi penggunaan lahan menunjukkan luas lahan semak belukar meningkat secara pesat dari 1.060 ha pada tahun 2001 menjadi seluas 108.141 ha pada tahun 2011, tetapi akan melambat pertumbuhannya hingga mencapai luas sekitar 110.989 ha pada tahun 2021. Hal ini merupakan konversi terhadap berbagai penggunaan lahan lainnya, terutama lahan terbuka dan pertanian lahan kering. Peningkatan luas perkebunan juga berkembang pesat dari 2.300 ha pada tahun 2001 menjadi seluas 31.007 ha pada tahun 2021. Peningkatan luas perkebunan ini terutama menurunkan luasan hutan secara signifikan. Semula lahan terbuka meningkat pada tahun 2001 hingga tahun 2006, tetapi menurun drastis hingga diperkirakan habis menjadi lahan terbangun pada tahun 2011. Penggunaan lahan yang relatif kecil perubahannya adalah sawah dan permukiman. Hasil simulasi perubahan penggunaan lahan secara lengkap disajikan pada Gambar 31 dan Tabel 20. 100,000 Luas (ha) 50,000 Hutan Permukiman Pertanian Lahan Kering Sawah Lahan Terbuka Se mak Perkebunan 0 Jan 01, 2001 Jan 01, 2006 Jan 01, 2011 Jan 01, 2016 Jan 01, 2021 Tahun Gambar 31 Hasil simulasi perubahan penggunaan lahan.

123 Tabel 20 Hasil simulasi perubahan penggunaan lahan. Time Hutan Permukiman Sawah Semak Lahan Terbuka Pertanian Lahan Kering Perkebunan Jan 01, 2001 Jan 01, 2006 Jan 01, 2011 Jan 01, 2016 Jan 01, 2021 38,139.80 15,114.14 5,989.47 2,373.52 940.59 39,782.58 40,762.82 41,767.22 42,796.36 43,850.86 64,940.11 64,998.58 65,057.10 65,115.67 65,174.29 Sumber : hasil analisis, 2011 1,060.72 17,409.69 108,141.82 110,670.05 110,989.86 8,452.20 14,993.78 0.00 0.00 0.00 66,280.20 49,240.84 40,694.02 37,307.06 35,964.87 2,300.00 18,435.76 26,529.34 29,736.68 31,007.70 Hasil simulasi penggunaan lahan tersebut juga akan mempengaruhi kondisi sumberdaya air yang terkonservasi pada lahan tersebut. Perubahan penggunaan lahan akan mengubah karakteristik air permukaan dan bawah permukaan. Perubahan karakteristik sumberdaya air juga akan mempengaruhi nilai jasa lingkungan yang dihasilkannya. Hal ini disebabkan jasa lingkungan sumberdaya air dipengaruhi kualitas, kuantitas dan kontinuitas air yang dimanfaatkan. 4.7.3 Sub-model Ekonomi Sub model ekonomi direpresentasikan oleh nilai ekonomi jasa lingkungan sumber daya air PLTA berbasis sukarela. Nilai total jasa lingkungan terbagi atas nilai guna langsung (direct use value), nilai guna tidak langsung (indirect use value) dan nilai bukan guna (non-use value). Nilai guna langsung jasa lingkungan terdiri dari nilai keuntungan produksi listrik dan budidaya ikan, dan nilai ekowisata. Nilai guna tidak langsung terdiri dari nilai serapan karbon, nilai cadangan air tanah, dan nilai cadangan air waduk/sungai. Sementara nilai bukan guna jasa lingkungan terdiri dari nilai pilihan dan nilai kelestarian. Hasil simulasi nilai guna jasa lingkungan sumberdaya air disajikan pada Gambar 32. Nilai keuntungan dari produksi listrik, produksi budidaya ikan dan ekowisata diperkirakan cenderung menurun dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan terjadinya degradasi sumberdaya alam yang berakibat pada kerusakan sumberdaya air secara langsung. Menurunnya kuantitas, kualitas, dan kontinuitas sumberdaya air akan menurunkan nilai produksi listrik dan budidaya ikan secara langsung. Selain itu, kerusakan sumberdaya alam secara keseluruhan juga akan mengurangi nilai ekowisata di sekitar kawasan PLTA. Secara ekonomis, hal ini akan menurunkan nilai guna langsung dari jasa lingkungan sumberdaya air dari Rp 511 miliar pada tahun 2011 menjadi Rp 505 miliar pada tahun 2021.

124 500,000,000,000 Nilai Ekonomi (Rp) 400,000,000,000 300,000,000,000 200,000,000,000 100,000,000,000 Benefit Listrik Benefit Ikan Nilai Ekowisata Nilai Guna Langsung Nilai Serapan Karbon Nilai Air Tanah Nilai Air Waduk Nilai Guna Tak-Langsung 0 Jan 01, 2001 Jan 01, 2006 Jan 01, 2011 Jan 01, 2016 Jan 01, 2021 Tahun Gambar 32 Hasil simulasi nilai guna jasa lingkungan sumberdaya air. Sementara nilai guna tak langsung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun meskipun pada kisaran pertumbuhan yang relatif kecil. Hal ini disebabkan nilai cadangan air tanah dan cadangan air waduk dihitung secara rata-rata per tahun, sehingga tidak mengalami peningkatan nilai dari tahun ke tahun. Hal yang mendorong pertumbuhan hanya berasal dari peningkatan nilai serapan karbon yang bergantung dari peningkatan harga karbon dari tahun ke tahun. Secara keseluruhan. Nilai guna setiap jasa lingkungan disajikan secara lengkap pada dan Tabel 21. Tabel 21 Hasil simulasi nilai guna langsung (a) dan tidak langsung (b) jasa lingkungan sumberdaya air Time Benefit Listrik Benefit Ikan Nilai Ekowisata Nilai Guna Langsung Jan 01, 2001 Jan 01, 2006 Jan 01, 2011 Jan 01, 2016 Jan 01, 2021 280,948,440,280.44 279,763,437,467.97 278,583,432,838.31 277,408,405,309.80 276,238,333,889.69 233,080,390,000.00 231,976,102,124.16 230,876,471,986.35 229,781,479,940.88 228,691,106,424.89 217,540,000.00 228,636,726.30 240,299,497.16 252,557,186.55 265,440,141.29 514,246,370,280.44 511,968,176,318.42 509,700,204,321.82 507,442,442,437.23 505,194,880,455.87 Sumber: hasil analisis, 2011 (a) Time Nilai Serapan Karbon Nilai Air Tanah Nilai Air Waduk Nilai Guna Tak-Langsung Jan 01, 2001 Jan 01, 2006 Jan 01, 2011 Jan 01, 2016 Jan 01, 2021 35,577,531,494.40 37,392,343,158.36 39,299,728,456.23 41,304,409,573.70 43,411,349,575.40 330,174,373,200.00 330,174,373,200.00 330,174,373,200.00 330,174,373,200.00 330,174,373,200.00 848,400,000.00 848,400,000.00 848,400,000.00 848,400,000.00 848,400,000.00 366,600,304,694.40 368,415,116,358.36 370,322,501,656.23 372,327,182,773.70 374,434,122,775.40 (b) Hasil simulasi nilai bukan guna jasa lingkungan sumberdaya air disajikan

125 pada Gambar 33. Nilai bukan guna jasa lingkungan cenderung akan terus meningkat dari Rp 11 miliar pada tahun 2011 menjadi Rp 13 miliar pada tahun 2021. Hal ini disebabkan nilai jasa lingkungan pilihan dan kelestarian juga cenderung meningkat terus. Nilai bukan guna setiap jasa lingkungan disajikan secara lengkap pada dan Tabel 22. Nilai Ekonomi (Rp) 10,000,000,000 5,000,000,000 Nilai Pilihan Nilai Kelestarian Nilai Bukan Guna 0 Jan 01, 2001 Jan 01, 2006 Jan 01, 2011 Jan 01, 2016 Jan 01, 2021 Tahun Gambar 33 Hasil simulasi nilai bukan guna jasa lingkungan sumberdaya air. Tabel 22 Hasil simulasi nilai bukan guna jasa lingkungan sumberdaya air Time Nilai Pilihan Nilai Kelestarian Nilai Bukan Guna Jan 01, 2001 Jan 01, 2006 Jan 01, 2011 Jan 01, 2016 Jan 01, 2021 7,730,987,500.00 8,328,469,167.98 8,972,126,611.51 9,665,528,479.40 10,412,519,219.95 2,319,296,250.00 2,498,540,750.39 2,691,637,983.45 2,899,658,543.82 3,123,755,765.99 Sumber : hasil analisis, 2011 10,050,283,750.00 10,827,009,918.37 11,663,764,594.96 12,565,187,023.23 13,536,274,985.94 Secara keseluruhan nilai total ekonomi (total economic value TEV) tetap meningkat karena adanya peningkatan nilai guna dan nilai bukan guna. TEV diperkirakan akan meningkat dari Rp 894 miliar pada tahun 2011 menjadi Rp 895 miliar pada tahun 2021. Hal ini menunjukkan bahwa nilai ekonomi total sebagian besar disumbang oleh nilai guna jasa lingkungan sumberdaya air. Hasil simulasi nilai guna, nilai bukan guna, dan nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air disajikan pada Tabel 23. Hasil simulasi nilai jasa lingkungan sumberdaya air menunjukkan bahwa air

126 bisa sangat bernilai ekonomis tinggi dari aspek lingkungan, meskipun tidak seluruhnya secara langsung dalam bentuk uang tunai. Meskipun demikian penggunaan langsung jasa lingkungan air, seperti pembangkit produksi listrik, produksi budidaya ikan, dan pemanfaatan oleh industri bisa mendukung perlindungan dan pengelolaannya. Adanya penyisihan keuntungan produksi listrik dan budidaya ikan secara sukarela dalam bentuk CSR diharapkan mampu mendukung program perlindungan sumberdaya air. Oleh karena itu, nilai ekonomi jasa lingkungan sumberdaya air ini harus disosialisasikan dan didiseminasikan kepada seluruh stakeholder untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya nilai ekonomi sumberdaya air. Tabel 23 Hasil simulasi nilai total jasa lingkungan sumberdaya air Time Nilai Guna Langsung Nilai Guna Tak-Langsung Nilai Bukan Guna TEV Jan 01, 2001 Jan 01, 2006 Jan 01, 2011 Jan 01, 2016 Jan 01, 2021 514,246,370,280 511,968,176,318 509,700,204,322 507,442,442,437 505,194,880,456 368,767,413,200 370,692,769,177 372,716,337,660 374,843,128,472 377,078,406,989 10,050,283,750 10,827,009,918 11,663,764,595 12,565,187,023 13,536,274,986 893,064,067,230 893,487,955,414 894,080,306,576 894,850,757,932 895,809,562,431 Sumber : hasil analisis, 2011 Sesuai dengan asumsi penyisihan dana perusahaan sebesar 2% dari dana keuntungan bersih, maka dari produksi listrik dan budidaya ikan diperkirakan dapat menghasilkan dana CSR sebesar Rp 15 milyar per tahunnya. Dana ini bisa digunakan untuk mendukung pengelolaan dan perlindungan sumberdaya air dalam berbagai program aksi. Program-program tersebut antara lain untuk konservasi wilayah DAS hulu PLTA melalui penghijauan, sosialisasi konservasi, pemberdayaan masyarakat, penurunan beban pencemar dan lain sebagainya. 4.7.4 Skenario Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA Degradasi lahan akan terus berlangsung jika dibiarkan seperti kondisi yang ada saat ini. Jika program perlindungan dan pengelolaan lingkungan bisa diimplementasikan, maka akan ada perbaikan lingkungan. Skenario disusun terhadap perbaikan penggunaan lahan sebagai hulu masalah dalam pengelolaan sumberdaya air. Skenario dibuat terdiri dari skenario saat ini (existing), skenario moderat, dan skenario optimis.

127 Skenario existing merupakan proyeksi kondisi aktual jika tidak dilakukan intervensi. Skenario moderat merupakan proyeksi existing dengan pencapaian perbaikan kondisi lingkungan pada tingkat sedang. Sementara skenario optimis dibangun dengan asumsi bisa terjadi pencapaian perbaikan lingkungan yang cukup baik. Skenario disimulasikan terhadap sub-model lingkungan terutama pada aspek perubahan penggunaan lahan. Kondisi eksisting menunjukkan adanya penurunan luas hutan sebesar 16,9% per tahun dan peningkatan luas lahan perkebunan sebesar 51,5% per tahunnya. Jika program reboisasi yang dapat menahan laju penggundulan hutan sebesar 10% pada skenario moderat dan sebesar 15% pada skenario optimis, maka akan terjadi perbaikan kondisi lingkungan. Hasil simulasi dengan asumsi tersebut disajikan pada Gambar 34 dan Tabel 24. Skenario dilakukan terutama terhadap perubahan penggunaan lahan hutan dan perkebunan yang berdasarkan interpretasi spasial saling mempengaruhi. Hasil simulasi dengan beberapa skenario tersebut menunjukkan bahwa masih terjadi laju pengurangan luas hutan, tetapi terjadi pengurangan secara signifikan pada skenario moderat dan lebih besar lagi pada skenario optimis. Hal ini juga berimplikasi pada pengurangan laju pertumbuhan lahan perkebunan yang dibangun dari konversi lahan hutan. 30,000 Luas (ha) 20,000 10,000 Hutan Mod_Hutan Opt_Hutan Perkebunan Mod_Perkebunan Opt_ Perkebunan 0 Jan 01, 2001 Jan 01, 2006 Jan 01, 2011 Jan 01, 2016 Jan 01, 2021 Tahun Gambar 34 Hasil simulasi skenario penggunaan lahan.

128 Jika bisa dilakukan pengurangan laju konversi hutan menjadi lahan perkebunan sebesar 10% setiap tahunnya, maka laju pengurangan hutan akan berkurang menjadi sekitar 6,9% dari kondisi awal sebesar 16,9% setiap tahunnya. Hal ini akan berimplikasi pada pengurangan laju pertumbuhan lahan perkebunan dari hasil konversi hutan. Tabel 24 Hasil simulasi skenario perubahan penggunaan lahan Time Hutan Mod_Hutan Opt_Hutan Perkebunan Mod_Perkebunan Opt_ Perkebunan Jan 01, 2001 Jan 01, 2006 Jan 01, 2011 Jan 01, 2016 Jan 01, 2021 38,139.80 15,114.14 5,989.47 2,373.52 940.59 38,139.80 15,114.14 5,989.47 3,739.28 2,615.39 38,139.80 15,114.14 5,989.47 4,977.25 4,977.25 2,300.00 18,435.76 26,529.34 29,736.68 31,007.70 2,300.00 18,435.76 26,529.34 28,525.26 29,522.15 2,300.00 18,435.76 26,529.34 27,427.18 27,427.18 Kondisi eksisting saat ini diperkirakan akan mengurangi luas hutan dari 5.989 ha pada tahun 2011 menjadi hanya 940 ha pada tahun 2021. Skenario moderat diprediksikan mampu mempertahankan hutan menjadi 2.615 ha hingga tahun 2021. Sementara skenario optimis diperkirakan mampu mempertahankan hutan hingga 4.977 ha pada tahun 2021. Hal ini berimplikasi pada berkurangnya pertumbuhan luas perkebunan yang seharusnya mencapai 31.007 pada tahun 2021, diprediksikan akan menjadi 29.522 ha pada skenario moderat dan menjadi 27.427 ha pada skenario optimis. 4.7.5 Validasi Model Simulasi model sebelumnya diuji dengan melakukan validasi terhadap struktur dan kinerja outputnya. Validasi dilakukan untuk mendapatkan hasil kesimpulan yang benar berdasarkan persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan (Hartrisari 2007) terhadap model pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela. Menurut Muhammadi et al. (2001), validasi dilakukan melalui perbandingan validasi kinerja model dengan data empiris untuk melihat sejauh mana perilaku kinerja model sesuai dengan data empiris. Validasi perilaku model dilakukan dengan membandingkan antara besar dan sifat kesalahan dapat digunakan: 1) absolute mean error (AME) adalah penyimpangan (selisih) antara nilai rata-rata (mean) hasil simulasi terhadap nilai

129 actual, 2) absolute variation error (AVE) adalah penyimpangan nilai variasi (variance) simuasi terhadap aktual. Batas penyimpangan yang dapat diterima adalah antara 1-10%. Validasi yang digunakan dalam simulasi model pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA adalah AME. Validasi ini dilakukan dengan memakai persamaan seperti di bawah ini. S A AME = x100% ; A S Si N A Ai N S, A dan N berturut-turut adalah nilai simulasi, nilai aktual, dan interval waktu pengamatan. Validasi dilakukan terhadap dengan membandingkan besarnya jumlah penduduk hasil simulasi model dengan data jumlah penduduk aktual. Validasi berupa perbandingan jumlah pendududuk aktual dan simulasi disajikan pada Gambar 35. Jumlah Penduduk (jiwa) 650,000 600,000 Penduduk Simulasi Penduduk Aktual 550,000 Gambar 35 01 02 03 04 05 06 Tahun Perbandingan jumlah penduduk aktual dan simulasi. Berdasarkan hasil perbandingan tersebut terlihat bahwa perilaku model pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA memenuhi batas toleransi yang ditentukan. Hasil uji validasi berdasarkan jumlah penduduk (Gambar 36) menunjukkan bahwa, AME menyimpang setiap tahunnya sebesar antara 0,1%

130 hingga 3,1% atau rata-rata sebesar 1,83% untuk pertambahan penduduk dari data aktual. Batas penyimpangan variabel pada parameter AME adalah <10%, yang menunjukkan bahwa model ini mampu mensimulasikan perubahan-perubahan yang terjadi secara aktual pada sistem yang dimodelkan. 10 AME (%) 5 AME Penduduk Batas AME 0 Gambar 36 01 02 03 04 05 06 Tahun AME dari hasil validasi jumlah penduduk aktual dan simulasi. 4.8 Model Konseptual Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA Pengelolaan sumberdaya air PLTA perlu didukung adanya institusi pengelola atau lembaga pengelolanya (manager), kebijakan atau tata cara pengelolaannya (management), serta anggaran yang menunjang kelancaran pengelolaanya (money). Secara institusional telah dilakukan analisis stakeholder untuk mendukung sistem kelembagaan terkait pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela. Sistem pengelolaan diadaptasi dari hasil analisis kinerja sumberdaya air dan penggunaan lahan sekitar PLTA. Selain itu, sistem pengelolaan akan dilandasi regulasi yang sudah ada, yaitu regulasi pemerintah (UU sumberdaya air) pada tataran strategis dan tren pengelolaan lingkungan global yang menekankan kesukarelaan (voluntary). Mekanisme ini akan tercapai secara optimal jika bisa dikomunikasikan kepada semua stakeholder oleh PLTA (komunikasi eksternal). Sementara pendanaan bisa dikembangkan dari nilai jasa lingkungan sumberdaya air. Pendanaan bisa dikelola terkait dengan keuntungan

131 penggunaan sumberdaya air secara langsung oleh PLTA, melalui skema biaya pengelolaan lingkungan dan sosial secara sukarela (CSR). Sumberdaya ekonomi lain yang bisa diberdayakan adalah penggunaan langsung dan tidak langsung. Berdasarkan hasil analisis stakeholder diketahui bahwa secara strategis Kementerian Kehutanan diharapkan mampu menjadi pendorong perumusan dan penetapan kebijakan formal yang bisa melindungi DAS hulu sebagai wilayah yang menjadi sumber dari air yang memasok PLTA. Sementara PLTA diharapkan mampu menjadi leading sector pada tataran operasional dengan berperan aktif dalam mendorong dan bekerja sama dengan stakeholder lain untuk mencapai keberhasilan pengelolaan sumberdaya air. Kebijakan pengelolaan akan dituangkan dalam bentuk model konseptual pengelolaan yang terdiri dari penentuan pengelola kawasan dan penyusunan sistem pengelolaannya yang memenuhi prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Berdasarkan sistem manajemen lingkungan (SML) dalam pengelolaan sumberdaya air terdapat beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh masing-masing aspek. Aspek-aspek tersebut terdiri dari kepentingan lingkungan hidup, kepentingan ekonomi, dan kepentingan sosial. Selain itu diperlukan aspek operasional sebagai langkah awal dalam mendorong kebijakan pada ketiga aspek lainnya. Aspek lingkungan hidup menginginkan terciptanya pelestarian lingkungan dan tercapainnya upaya peningkatan kualitas dan kuantitas, serta kontinuitas sumberdaya air. Aspek ekonomi mengharapkan adanya pemanfaatan sumberdaya air yang menguntungkan, serta tercapainya efisiensi dan efektivitas kerja institusi pengelola. Sementara aspek sosial bertujuan terwujudnya partisipasi dan pemberdayaan masyarakat, serta terciptanya komunikasi dan kolaborasi berbagai pihak terkait. Setiap kepentingan sektor tersebut bisa dielaborasi menjadi sebuah sistem pengelolaan yang menjaga kesetimbangan setiap kepentingan, sehingga tercipta sebuah optimalisasi pengelolaan yang bisa mewadahi semua tujuan tanpa saling meniadakan antar sektor. Hal ini bisa diwujudkan secara operasional dalam bentuk strategi kebijakan yang terintegrasi untuk mendorong semua pencapaian tersebut. Kebijakan operasional ini diwujudkan dalam berbagai bentuk program yang merupakan bagian dari empat aspek (Gambar 37).

132 Gambar 37 Model konseptual pengelolaan sumberdaya air PLTA berbasis sukarela. Kebijakan dalam aspek operasional terdiri dari: (1) program pemenuhan regulasi; (2) program penataan kelembagaan; serta (3) program implementasi insentif dan disinsentif. Kebijakan dalam aspek sosial terdiri dari: (1) program peningkatan komunikasi eksternal; dan (2) program pemberdayaan masyarakat. Kebijakan dalam aspek ekonomi terdiri dari: (1) program peningkatan nilai jasa lingkungan sumberdaya air. Kebijakan dalam aspek lingkungan terdiri dari: (1) program perbaikan penggunaan lahan; dan (2) program peningkatan kualitas dan kuantitas sumberdaya air. Setiap program saling terkait satu sama lain, sehingga pencapaian masing-masing program akan berpengaruh terhadap efektivitas

133 pencapaian tujuan pengelolaan secara keseluruhan. Tekanan pemerintah memiliki pengaruh besar untuk pengembangan kebijakan perlindungan lingkungan sukarela. Pemerintah dapat memiliki daya tawar tinggi untuk mendorong perusahaan menerapkan sistem manajemen lingkungan. Kebijakan insentif seperti penurunan pajak atau subsidi penguatan kapasitas bagi perusahaan yang memiliki kinerja lingkungan yang baik. Disinsentif dapat dikembangkan melalui mekanisme pengaturan liabilitas lingkungan. Tentu saja kebijakan insentif dan disinsentif diperkuat dengan perjanjian voluntary sebagaimana dilakukan di banyak negara seperti Negara Uni Eropa. Pengembangan infrastruktur kelembagaan dan institusional pendekatan sukarela kelihatannya dapat meningkatkan pengakuan masyarakat termasuk investor. Independensi lembaga dan transparansi pelaksanaan perlu dikembangkan dalam infrastuktur termasuk memberi ruang bagi stakeholder dalam pengembangan infrastuktur ini. Sementara dari sisi pendanaan, pengelola PLTA berperan aktif sebagai leading sektor secara operasional menyisihkan sebagain keuntungannya untuk pengelolaan secara berkelanjutan. Mekanisme yang digunakan melalui biaya sukarela (Corporate Sosial Responsibility CSR) maupun skema pengelolaan nilai jasa lingkungan lainnya berdasarkan kesadaran dan partisipasi semua pihak. 4.9 Implikasi Kebijakan Hasil analisis statistik dan analisis spasial menunjukkan bahwa terjadi dinamika kualitas air dan penggunaan lahan di lokasi dan sekitar PLTA. Implementasi kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela bisa diterapkan guna mencapai keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya air di PLTA tersebut. Berdasarkan analisis stakeholder, terdapat berbagai pihak (stakeholder) yang berkepentingan dengan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. Kondisi penggunaan lahan dan kualitas air menjadi dasar penyusunan kebijakan perlindungan dan pengelolaan yang akan dijalankan oleh stakeholder terkait di lapangan. Selain itu, kebijakan dan pengelola yang akan terlibat harus memenuhi regulasi yang sesuai dengan

134 hasil legal review terhadap regulasi terkait perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela. Kebijakan tersebut dilengkapi dengan berbagai prioritas kebijakan berdasarkan pandangan para pakar (knowledge based) yang diperoleh dari hasil proses hirarki analitik (AHP). Hasil berbagai analisis tersebut dijadikan sintesa untuk menyusun kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela. Implementasi kebijakan ini akan berimplikasi terhadap berbagai aspek yang perlu dikaji secara cermat dan komprehensif. Implikasi penerapan kebijakan tersebut mendorong perlunya penyusunan strategi untuk memperkuat sistem yang telah dirancang guna meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan. Manajemen konsensus perlu dilakukan secara implementatif dalam menentukan keputusan bersama berdasarkan kesepakatan antar pihak guna mencapai tujuan bersama. Hal ini untuk mengeliminasi ketidaksetaraan, ego sektoral dan konflik kepentingan di antara para pihak yang terkait pengelolaan sumberdaya air PLTA. Pemberdayaan masyarakat guna meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar PLTA menjadi fokus utama dalam menjalankan kebijakan pengelolaan sumberdaya air. Penyusunan tahapan program dan penanggung jawabnya secara jelas dan transparan berdasarkan kesepakatan akan menghasilkan implementasi yang optimal saat pelaksanaannya. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah arti penting sumberdaya air sebagai bagian dari ekosistem yang menyeluruh di wilayah PLTA. Meskipun visi dan misi utama pengelola PLTA adalah memproduksi listrik sesuai target yang telah dicanangkan, tetapi perlu diingat dampak dari eksploitasi sumberdaya air tersebut. Pemahaman tentang dampak lingkungan bisa membawa pengelolaan ke arah yang lebih berkelanjutan dengan memperhatikan aspek-aspek lainnya yang terkait. Produksi yang berlimpah untuk meningkatkan nilai ekonomi juga harus memperhatikan aspek lainnya, seperti aspek sosial dan lingkungan. Keuntungan pada aspek ekonomi harus bisa mendorong perbaikan aspek lainnya, seperti pemberdayaan masyarakat pada aspek sosial dan perbaikan kondisi penggunaan lahan pada aspek lingkungan. Selain implikasi strategis yang bersifat umum tersebut, perlu juga dilakukan perumusan implikasi kebijakan operasional yang sesuai dengan karakteristik masing-masing lokasi PLTA. Meskipun secara umum terjadi degradasi lahan dan

135 kelemahan pengelolaan pada semua lokasi PLTA, tetapi karakteristik besaran kerusakan dan sistem pengelolaan yang ada pada setiap lokasi berbeda satu sama lain. Hal ini akan menjadi landasan implikasi kebijakan secara lebih operasional dan teknis untuk setiap lokasi PLTA. Perubahan penggunaan lahan yang masif pada lokasi PLTA di Jawa Barat (Saguling dan Cirata) memberikan implikasi kebijakan yang lebih mengarah pada teknis rehabilitasi lahan terutama pada DAS hulu PLTA. Program-program yang mengarah pada perbaikan kondisi lahan harus didorong secara aktif baik oleh aktor kunci di pemerintahan pusat (Kemenhut), maupun aktor kunci di tataran operasional (PLTA). Penggalakan rehabilitasi lahan melalui kegiatan reboisasi guna menambah luasan lahan bervegetasi, terutama hutan akan sangat mendukung perbaikan lahan dan mengurangi ancaman erosi dan sedimentasi ke dalam Waduk Saguling dan Cirata. Pengurangan ancaman erosi dan sedimentasi akan meningkatkan umur teknis waduk dan efektifitas pembangkitan listrik. Selain itu, hal ini akan meningkatkan kualitas, kuantitas dan kontinuitas sumberdaya air yang menjadi pasokan air bagi PLTA Saguling dan Cirata. Sementara perubahan penggunaan lahan pada DAS hulu PLTA Tanggari I dan II juga terjadi seperti di Jawa Barat. Namun besaran perubahan lahannya masih dalam tahap perkembangan dan belum semasif yang terjadi di Jawa Barat. Oleh karena itu diperlukan kebijakan yang bisa mendorong pencegahan perubahan penggunaan lahan dari lahan bervegetasi menjadi lahan terbangun. Penegakan aturan dan pengetatan ijin pembangunan pada kawasan lindung yang menjadi daerah resapan air pada DAS hulu PLTA perlu terus digalakan. Selain itu, komunikasi eksternal dengan masyarakat pada bagian DAS hulu perlu diintensifkan untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya konservasi lahan terhadap keberadaan sumberdaya air. Hal lain yang bisa dilakukan adalah mendorong kegiatan reboisasi lahan sebagai langkah perbaikan terhadap kondisi yang ada. Perbaikan kualitas sumberdaya air juga bisa dilakukan secara internal oleh jajaran PLTA, melalui peningkatan kinerja operasional PLTA secara keseluruhan. Untuk PLTA Saguling dan Cirata bisa dilakukan dengan meningkatkan sistem operasional pembangkitan listrik, baik dengan mengoptimalkan teknologi dari

136 peralatan yang ada, maupun dengan meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia sebagai pengelolanya. Hal ini diharapkan akan memperbaiki tingkat kualitas air yang masuk ke dalam sistem PLTA dan dialirkan lagi pada badan air alaminya. Indikator perbaikan bisa dimonitor pada perbandingan parameter-parameter kualitas air yang masuk ke dalam inlet dan yang keluar dari outlet PLTA. Sementara kondisi pada PLTA Tanggari I dan II yang menggunakan peralatan yang relatif lebih tua, diperlukan berbagai peremajaan guna meningkatkan kinerja peralatan PLTA. Peningkatan kapasitas sumberdaya manusia secara mendasar perlu dilakukan terhadap pengelola PLTA. Hal ini disebabkan sumberdaya pengelola PLTA relatif belum secara optimal memahami arti penting perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela terkait kepentingannya sebagai pengelola PLTA. Berdasarkan hasil analisis nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air diperoleh karakteristik setiap PLTA yang berbeda secara signifikan. Pada PLTA Saguling nilai ekonomi hasil budidaya perikanan dan ekowisata relatif kecil dibandingkan nilai ekonomi lainnya. Sementara pada PLTA Cirata, serta PLTA Tanggari I dan II, nilai ekonomi hasil budidaya perikanan dan ekowisata relatif lebih menonjol dibandingkan nilai ekonomi lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa PLTA Saguling belum menjadi lokasi budidaya ikan dan tujuan wisata yang relatif besar. Kondisi ini disebabkan karena letak dan akses ke PLTA Saguling relatif tidak mudah untuk kegiatan budidaya ikan dan wisata. Selain itu luas genangan Waduk Saguling relatif kecil karena berada pada daerah genangan dataran tinggi dengan karakteristik jurang sempit sebagai daerah genangannya. Kebalikannya dengan PLTA Saguling, PLTA Cirata serta Tanggari I dan II memiliki karakteristik genangan dan akses yang mendukung kegiatan budidaya perikanan dan ekowisata. Implikasinya KJA pada Waduk Cirata serta genangan Tanggari I dan II berkembang secara masif dengan jumlah relatif besar. Selain itu kedua lokasi PLTA ini banyak dikunjungi wisatawan dan bersinergi dengan aktifitas budidaya ikan KJA. Oleh karena itu, kebijakan yang harus didorong adalah pengelolaan aktifitas KJA dan ekowisata yang sesuai dengan daya dukung dan daya tampung Waduk Cirata serta genangan Tanggari I dan II. Mengingat jumlah KJA yang

137 relatif besar, pada Waduk Cirata serta genangan Tanggari I dan II perlu pemantauan dan pemberian ijin usaha KJA yang sesuai daya dukung dan daya tampung, serta sesuai dengan zonasi pengelolaan waduk.