Farmaka Volume 4 Nomor 4 Suplemen 1 245

dokumen-dokumen yang mirip
Farmaka Suplemen Volume 14 Nomor 2 219

Cross sectional Case control Kohort

Pengantar causal inference 2 8 SEP TEM BER

1. Relatif cepat dan murah untuk mendeteksi adanya kejadian luar biasa.

BIAS DALAM STUDI EPIDEMIOLOGI. Oleh: Hartini Sri Utami

Studi epidemiologi deskriptif

EBM Overview: Beberapa Konsep Penting Evidence-Based Medicine

Studi Eksperimental membandingkan data dari sekelompok manusia/obyek yang dengan

Dietary iron intake and blood donations in relation to risk of type 2diabetes in men: a prospective cohort study Cohort Study ( Prospectively )

JENIS RISET. Saptawati Bardosono

Konfounding dan Interaksi. Departemen Biostatistika FKM UI, 2010

dr. Rina Amelia dr. Arlinda Sari Wahyuni, MKes Fakultas Kedokteran USU

DESAIN STUDI EPIDEMIOLOGI

STUDI EPIDEMIOLOGI ANALITIK (OBSERVASIONAL DAN EKSPERIMENTAL) Putri Handayani, M. KKK

Kata kunci : asap rokok, batuk kronik, anak, dokter praktek swasta

6/5/2010. Analytic. Descriptive Case report Case series Survey. Observational Cross sectional Case-control Cohort studies

Metodologi Penelitian Soal Ujian Akhir Semester 2014/ 2015 (100 soal)

Eksperimen. Prof. Bhisma Murti

Accuracy (Keakuratan)

Etih Sudarnika Laboratorium Epidemiologi, FKH IPB

PENGANTAR BIOSTATISIK SAPTAWATI BARDOSONO

HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DAN PENDAPATAN DENGAN TINGKAT KEKAMBUHAN HIPERTENSI DI WILAYAH PUSKESMAS GILINGAN SURAKARTA. Skripsi

Rancangan Penelitian Kuantitatif

Hand Out Epidemiologi : Prodi D III Kebidanan Jurusan Kebidanan Poltekkes Surakarta SMT IV Tahun 2008 Oleh : Ig. Dodiet Aditya Setyawan, SKM.

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan

HUBUNGAN PAPARAN ASAP ROKOK ORANG TUA DAN LINGKUNGAN RUMAH TERHADAP KEJADIAN LEUKEMIA PADA ANAK DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN KARYA TULIS ILMIAH.

Studi Kasus Kontrol Berpasangan. Materi Kuliah Perancangan Kajian Epidemiologi (IPH 616)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KATA PENGANTAR. Penyusun. Kelompok 1

PENELITIAN EX POST FACTO

Faktor Risiko dalam PTM PERTEMUAN 4 Ira Marti Ayu Kesmas/ Fikes

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan case control

Penelitian Ilmiah dalam Psikologi. Lia Aulia Fachrial, M.SI

PENELITIAN HUBUNGAN KAUSAL. Oleh : SURADI. Staf Pengajar FE UNSA. Abstrak

Studi Epidemiologi Analitik. DISUSUN OLEH KELOMPOK 1 Adelia Adi setya Rizky Maisar Putra Romayana Simanungkalit Rozika Amalia Siti Susanti Yusfika

ABSTRAK FAKTOR RISIKO YANG BERPENGARUH TERHADAP DERAJAT HIPERTENSI PADA PASIEN RAWAT INAP RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JUNI-AGUSTUS 2011

BAB I PENDAHULUAN. Di Indonesia penyakit jantung dan pembuluh darah terus meningkat dan

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN

PENELITIAN OBSERVASIONAL. DR. Titiek Sumarawati,MKes

Pengobatan herbal berbeda dengan pengobatan secara konvensional namun terdapat sisi penilaian efikasi yg sama dari uji secara klinis.

3 kegiatan / prosedur yang terkait :

Sejarah perkembangan konsep penilaian pemakaian obat dalam kedokteran

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian observasional analitik dan dengan pendekatan cross sectional. Sakit Umum Daerah Dr.Moewardi Kota Surakarta.

ABSTRAK. Pembimbing II : Penny S M., dr., Sp.PK., M.Kes

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan

FAKTOR RISIKO PENYAKIT

Vitamin D and diabetes

(Disarikan dari berbagai sumber)

ABSTRAK ANGKA KEJADIAN KANKER PARU DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 1 JANUARI DESEMBER 2010

ABSTRAK GAMBARAN PENYAKIT DIABETES MELITUS PADA ORANG DEWASA YANG DIRAWAT INAP DIRUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI DESEMBER 2014

PENGANTAR EPIDEMIOLOGI KLINIK

Kadar Kolesterol Tinggi Dan Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kadar Kolesterol Darah

ABSTRAK. GAMBARAN VALIDITAS INDEKS MENTZER DAN INDEKS SHINE & LAL PADA PENDERITA β-thallassemia MAYOR

ANALISIS FAKTOR RISIKO PENYAKIT JANTUNG KORONER DENGAN MENGGUNAKAN METODE REGRESI LOGISTIK DAN CHAID: KASUS DI RSUP DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR

FAKTOR RISIKO DALAM EPTM

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DALAM PEMENUHAN NUTRISI DENGAN TEKANAN DARAH LANSIA DI MANCINGAN XI PARANGTRITIS KRETEK BANTUL YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI

ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA PENYAKIT KANKER PARU PERIODE 1 JANUARI DESEMBER 2012 DI RS. IMMANUEL KOTA BANDUNG

Penyusunan Proposal - 2

BAB 1 : PENDAHULUAN. utama masalah kesehatan bagi umat manusia dewasa ini. Data Organisasi Kesehatan

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SKRIPSI

ANALISIS JALUR FAKTOR PENENTU PERKEMBANGAN ANAK USIA 1-3 TAHUN DI KOTA SALATIGA TESIS

Metode kuantitatif: Randomisasi 12 O K TO BER 2016

BAB I PENDAHULUAN. di negara maju maupun negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Data

Relation between Indoor Air Pollution with Acute Respiratory Infections in Children Aged Under 5 in Puskesmas Wirobrajan

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang. Asma adalah penyakit saluran nafas kronis yang penting

METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan rancangan

PENGARUH PENYULUHAN TENTANG PENYAKIT EPILEPSI ANAK TERHADAP PENGETAHUAN MASYARAKAT UMUM LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini, Indonesia menghadapi tantangan dalam meyelesaikan UKDW

PENELITIAN EKSPERIMEN

ABSTRAK HUBUNGAN FAKTOR RISIKO IBU DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI RUMAH SAKIT IMMANUEL TAHUN 2011

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

ANALISIS FAKTOR RISIKO HIPERTENSI DI PUSKESMAS KELAYAN TIMUR KOTA BANJARMASIN

Odds ratio = a/b = ad/bc c/d

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang meresahkan adalah penyakit

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Macam Desain Eksperimen

ABSTRAK PREVALENSI INFEKSI MALARIA DI LABORATORIUM RUMAH SAKIT UMUM PANGLIMA SEBAYA TANAH GROGOT KALIMANTAN TIMUR PERIODE

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN GOUTHY ARTHRITIS

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Desain Penelitian Desain yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode potong lintang (cross-sectional).

ABSTRAK FAAL PARU PADA PEROKOK DENGAN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK) DAN PEROKOK PASIF PASANGANNYA

Oleh: Esti Widiasari S

4. HASIL 4.1 Karakteristik pasien gagal jantung akut Universitas Indonesia

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan salah satu

Sri Marisya Setiarni, Adi Heru Sutomo, Widodo Hariyono Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta

Oleh: KHAIRUN NISA BINTI SALEH FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

ABSTRAK HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN MEROKOK TERHADAP TERJADINYA DRY MOUTH PADA PEROKOK FILTER DI KELURAHAN SUKAWARNA BANDUNG

Transkripsi:

Volume 4 Nomor 4 Suplemen 1 245 ARTIKEL REVIEW: KAUSALITAS DALAM FARMAKOEPIDEMIOLOGI Nujaimah R. Sholeh, Sofa D. Alfian Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran Jalan Raya Bandung Sumedang Km. 21 Jatinangor 45363 nujaimah13001@mail.unpad.ac.id ABSTRAK Studi epidemiologi memiliki tujuan untuk mencari penyebab dari suatu penyakit yang didasarkan pada asosiasi dengan berbagai macam faktor risiko. Untuk membuat kesimpulan mengenai penyebab penyakit, pertama-tama perlu mengklasifikasi arti kausalitas. Dalam hubungan kausal terdapat kriteria yang dapat menunjukkan hubungan antara paparan dengan hasil dalam suatu penelitian. Selain itu, dalam penelitian terdapat pula faktor-faktor yang dapat mengurangi validitas yang berasal dari bias dan kerancuan. Digunakan beberapa metode untuk mengatasi bias dan kerancuan dalam penelitian serta untuk mengontrol kerancuan tersebut. Metode pencarian pada artikel review ini melalui situs NCBI (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/) dengan berdasarkan kata kunci,identify causation andassociation in pharmacoepidemiology, criteria for determination of causation, biasin pharmacoepidemiology, dan methodology used to address potential bias. Berdasarkan hasil review, kriteria kausal dalam farmakoepidemiologi meliputi kekuatan, konsistensi, spesifisitas, temporalitas, gradien biologi, theoritical plausability, coherence, bukti eksperimental dan analogi. Selain itu terdapat tiga sumber bias, yaitu bias informasi, bias seleksi dan faktor perancu. Untuk mengendalikan kerancuan terdapat beberapa metode yang meliputi randomisasi (pengocokan), restriksi (pembatasan), matching (pencocokan), stratifikasi, dan multivariate models. Kata kunci: Kriteria kausal, bias, metode pengendalian bias, perancu ABSTRACT Epidemiology studies aim to find the cause of a disease based on association with a variety of risk factors. In order to make inferences about the causes of disease, it is necessary to classify the meaning of causality. In a causal relationship there are criteria that can show an association between exposure to the results in a study. Moreover, in the pharmacoepidemiology study there

Volume 4 Nomor 4 Suplemen 1 246 are also factors that can reduce the validity which comes from the bias and confounding. Several methods was used to overcome the bias and confounding in pharmacoepidemiology study as well as to control theconfounding. This review article used NCBI website as searching method (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/) based on keywords: identify causation andassociation in pharmacoepidemiology, criteria for determination of causation, bias in pharmacoepidemiology, dan methodology used to address potential bias. This review suggested that in Pharmacoepidemiology, causal criteria consist of strength, consistency, specificity, temporality, biological gradient, theoritical plausability, coherence, experimental evidence and analogy. In addition, there are three sources of bias such asinformation bias, selection bias, and confounding factors. To control theconfounding factor, there are several methods can be used like randomization, restriction, matching stratification, and multivariate models. Keywords: causal criteria, bias, bias control method, confounding PENDAHULUAN Epidemiologi adalah studi mengenai penyebaran dan faktor yang menentukan kondisi kesehatan suatu populasi yang diaplikasikan untuk mengontrol permasalahan kesehatan [1]. Tujuan utama dalam studi ini adalah untuk mencari penyebab dari suatu penyakit yang didasarkan pada asosiasi dengan berbagai macam faktor risiko. Selain itu, studi ini pun menggambarkan faktor-faktor lain yang berhubungan dengan paparan dan dapat memengaruhi risiko pengembangan penyakit dan melihat hubungan yang diamati antara penyakit dengan paparan yang diteliti [2]. Sir Austin Bradford Hill (1867-1991) merupakan salah satu pelopor dalam statistik kesehatan dan epidemiologi [3]. Tulisannya yang berjudul The environment and disease : Association or caution menjadikannya sebagai pelopor kriteria kausalyang dikenal dengan 9 kriteria kausal, meliputi: kekuatan, konsistensi, spesifisitas,temporalitas, gradient biologi, theoriticalplausability, coherence, bukti eksperimental dan analogi [3].

Volume 4 Nomor 4 Suplemen 1 247 Ancaman validitas penelitian dalam farmakoepidemiologi mengenai pengaruh paparan faktor penelitian terhadap penyakit pada prinsipnya berasal dari dua sumber, yaitu bias dan confounding (kerancuan). Terdapat tiga sumber bias yaitu bias informasi, bias seleksi dan faktor perancu [4].Strategi dalam pengendalian kerancuan dapat meliputi randomisasi (pengocokan), restriksi (pembatasan), matching (pencocokan), stratifikasi, dan multivariate models. ilmiah yang berkaitan dengan sumber data dalam farmakoepidemiologi. Melalui situs NCBI (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/) kata kunci terkait yang menunjukkan beberapa jurnal dan artikel ilmiah yang dapat digunakan dalam pembuatan artikel review ini. Dengan pencarian berdasarkan kata kunci,identify causation and association in pharmacoepidemiology, criteria for determination of causation, biasin pharmacoepidemiology, dan methodology used to address potential bias. Artikel riview ini berisi informasi mengenai kausalitas dalam farmakoepidemiologi yang digunakan untuk membuat kesimpulan tentang penyebab penyakit. METODE Pencarian sumber acuan artikel review ini dilakukan dengan mengambil dan menyadur referensi berupa jurnal ilmiah dan artikel Untuk kriteria inklusi digunakan artikel dan jurnal ilmiah yang merupakan naskah publikasi dalam 10 tahun terakhir (tahun 2006 2016) dan memuat informasi detail mengenai kata kunci yang digunakan. Digunakan 10 artikel dan jurnal ilmiah terkait dengan kausalitas dalam farmakoepidemiologi.

Volume 4 Nomor 4 Suplemen 1 248 HASIL Tabel 1 Kausalitas dalam Farmakoepidemiologi Penulis Tema Hasil Penelitian Mirtz et al (2009), Kriteria kausal Dalam jurnal tersebut menjelaskan mengenai Fedak et al(2015), kriteria kausal yang dipelopori oleh Sir Crockettet al(2009), Austin Bradford Hill, meliputi 9 kriteria Boffetta P (2010) yaitu ; Kekuatan Menggambarkan ukuran dari asosiasi yang telah diperhitungkan dengan tepat efeknya, meliputi (perbedaan resiko, resiko relative, rasio odds). Konsistensi Mengacu apakah asosiasi yang diamati memiliki keterulangan pengamatan pada subjek dan lingkungan yang berbeda. Spesifisitas Mengacu apakah paparan mengarah ke hasil tertentu. Temporalitas Untuk mengetahui sebuah faktor merupakan kausa penyakit, maka harus dipastikan paparan terhadap faktor itu berlangsung sebelum terjadinya penyakit Gradient biologi Perubahan intensitas paparan yang selalu diikuti oleh perubahan frekuensi penyakit meningkatkan kesimpulan hubungan kausal. Theoritical plausibility Perubahan intensitas paparan yang selalu diikuti oleh perubahan frekuensi penyakit meningkatkan kesimpulan hubungan kausal. coherence Berbagai bukti yang tersedia tentang riwayat alamiah, biologi dan epidemiologi penyakit harus koheren satu sama lain sehingga membentuk pemahaman yang serupa Bukti eksperimental

Volume 4 Nomor 4 Suplemen 1 249 Lambert J (2011), Hammer et al(2009), PannucciandWilkins (2010), Wettermark B (2013) Pourhoseingholi et al (2012), Starkset al (2009) Bias dalam farmakoepidemiol ogi Metodologi yang digunakan untuk mengatasi potensial bias Eksperimen terandomisasi dengan Multivariate Models pada subjek penelitian dan pemberi perlakuan agar tidak mengetahui status perlakuan memberikan bukti kuat hubungan kausa. Analogi Kriteria analogi kurang tepat karena tidak spesifik mengingat mampu mencetuskan banyak gagasan analogis, sehingga menyebabkan analogi tidak spesifik lagi Terdapat tiga sumber bias, yaitu : bias informasi, bias seleksi dan faktor perancu Bias Informasi Merupakanpenyimpangan dalam memperkirakan efek atau pengaruh karena kesalahanpengukuran atau kesalahan pengelompokan subjek penelitian menurut satuatau lebih variabel Bias Seleksi Bias seleksi terjadi jika populasi penelitian tidak mencerminkan sampel yang representatif dari populasi sasaran. Faktor Perancu Faktor perancu atau pengganggu muncul ketika efek dari dua paparan terkait belum dipisahkan, sehingga dalam interpretasi, efek yangdipengaruhi oleh suatu variabel dapat dipengaruhi juga dengan variabelvariabellain Strategi pengendalian kerancuan dapat meliputi randomisasi (pengocokan), restriksi (pembatasan), matching (pencocokan), Multivariate Models, dan stratifikasi Randomisasi Variable perancu terdistribusi secara merata antara kelompokkelompok studi. Restriksi Membatasi penelitian untuk hal-hal yang serupa dalam kaitannya dengan perancu tersebut Matching

Volume 4 Nomor 4 Suplemen 1 250 PEMBAHASAN Kriteria Kausal Dalam mengidentifikasi kausalitas dalam farmakoepidemiologi ada beberapa kriteria kausal, diantaranya: Kekuatan Menggambarkan ukuran dari asosiasi yang telah diperhitungkan dengan tepat efeknya, meliputi (perbedaan resiko, resiko relative, rasio odds). Semakin kuat asosiasi maka semakain besar pula kemungkinan hubungan kausalitasnya [5]. Contohnya resiko penderita kanker paru meningkat pada perokok dibanding yang tidak merokok. Konsistensi Memilih subjek pembanding sedemikian rupa sehingga memiliki tingkat kerancuan yang sempurna dengan subjek yang dibandingkan (index). Stratifikasi Memperbaiki pengaruh dari pembaur dan menghasilkan kelompok di mana perancu tidak bervariasi Multivariate Models Menangani sejumlah besar kovariat (dan juga pembaur) secara bersamaan Mengacu apakah asosiasi yang diamati memiliki keterulangan pengamatan pada subjek dan lingkungan yang berbeda. Semakin konsisten pengamatan pengamatan lain yang dilakukan pada populasi dan lingkungan yang berbeda semakin kuat pula hubungan kausal. Dan dari konsistensi ini dapat memberikan jaminan bahwa asosiasi bukan karena kebetulan atau bias sistematik [5]. Contohnya penelitian dengan metode yang berbeda (prospektif dan retrospektif) membuktikan hal yang sama, meskipun berbeda populasinya. Spesifisitas Mengacu apakah paparan mengarah ke hasil tertentu. Faktor kausal menghasilkan hanya sebuah penyakit dan bahwa penyakit

Volume 4 Nomor 4 Suplemen 1 251 tersebut dihasilkan dari sebuah kausa tunggal. Semakin spesifik efek paparan semakin kuat hubungan kausal [5]. Contohnya campuran kompleks bahan kimia (misalnya, asap tembakau) biasanya kurang spesifik ketika menggunakan desain studi epidemiologi klasik, karena beberapa penyakit mendapatkan hasil dari paparan. Namun, ada kemungkinan bahwa integrasi data dapat menjelaskan beberapa kekhususan mekanistis antara beberapa variasi penyakit yang terkait dengan campuran karsinogenik komplek [3]. Temporalitas Untuk mengetahui sebuah faktor merupakan kausa penyakit, maka harus dipastikan paparan terhadap faktor itu berlangsung sebelum terjadinya penyakit [6]. Contohnya pada kasus kanker paru paru sebagian besar didahului oleh merokok. Gradient Biologi meningkatkan kesimpulan hubungan kausal [3]. Contohnya acetaminophen menginduksi hepatotoksisitas dapat memenuhi kriteria ini, dengan dosis yang lebih tinggi sesuai dengan memburuk resiko dari kegagalan hati [5]. Theoritical Plausibility Keyakinan hubungan kausal semakin kuat apabila dapat dijelaskan dengan rasional dan berdasarkan teori atau konseptual [3]. Contohnya teori biologi menyatakan bahwa merokok dapat membuat jaringan tubuh rusak yang jika terus menerus dapat menyebabkan terjadinya kanker. Coherence Berbagai bukti yang tersedia tentang riwayat alamiah, biologi dan epidemiologi penyakit harus koheren satu sama lain sehingga membentuk pemahaman yang serupa [5]. Contohnya kesimpulan merokok dapat menyebabkan kanker paru paru berdasarkan teori biologi dan proses perjalanan penyakit. Perubahan intensitas paparan yang selalu diikuti oleh perubahan frekuensi penyakit

Volume 4 Nomor 4 Suplemen 1 252 Bukti eksperimental Eksperimen terandomisasi dengan Multivariate Models pada subjek penelitian dan pemberi perlakuan agar tidak mengetahui status perlakuan memberikan bukti kuat hubungan kausa. Kriteria ini mengacu apakah ada bukti pada manusia atau spesies lain untuk menguatkan koneksi [3,5]. Contohnya pada pengujian isotretinoin atau senyawa sejenis pada hewan uji, yang sebenarnya mekanisme dari isotretinoin ini sebagian tidak diketahui, sehingga dilakukan uji eksperimental dan didapatkan hasil bahwa tidak adanya obat penawar untuk kasus tersebut [5]. analisis inflammatory bowel disease (IBD) menyatakan bahwa tidak diketahui obat pemicu dari inflammatory bowel disease (IBD) yang menggambarkan analogi, dan tidak ada senyawa retinoid lainnya yang dapat dikaitkan dengan IBD [5]. Bias Dalam studi atau penelitian epidemiologi dapat terjadi bias. Bias didefinisikan sebagai segala kesalahan sistematisdalam studi epidemiologi yang menghasilkan perkiraan yang salah darihubungan antara paparan dan risiko penyakit [7].Hal ini sangat penting untuk dihindari. Oleh karena itu harus sangat berhati-hati dalam Analogi menafsirkan hasil studi dan juga harus Tidak semua situasi dapat menggunakan kriteria analogi sebagai pendukung hubungan kausal. Kriteria analogi kurang tepat karena tidak spesifik mengingat mampu mencetuskan banyak gagasan analogis, sehingga menyebabkan analogi tidak spesifik lagi [1]. Contohnya pada dapat mengenalipotensi kesalahan. Sehingga penting untuk kita dapat lebih memahami sifat bias, mengingatbahwa tujuan epidemiologi adalah untuk menetapkan bahwa paparan faktor risiko tertentu dapat menyebabkan masalah kesehatan. Apabila terjadi kesalahandalam

Volume 4 Nomor 4 Suplemen 1 253 penelitian, maka hasilnya pun tidak valid atau tidak dapat diterima.bias dapat terjadi pada setiap tahap penelitian, termasuk desain penelitian atau pengumpulan data, serta dalam proses analisis data dan publikasi [8]. Hasil studi epidemiologi seharusnya mencerminkan efek sebenarnya dari paparan terhadap hasil yang diselidiki, namun harus selalu diperhatikanbahwa temuan mungkin saja dipengaruhi oleh hal-hal lain yang dapatmenyebabkan kesalahan. Hal-hal tersebut mungkin karena pengaruh kebetulan(random error), bias atau pengganggu, yang dapat menghasilkan hasil yangpalsu yang dapat membuat kita menyimpulkan adanya hubungan statistik yangsebenarnya tidak valid [7]. Dalam studi farmakoepidemiologi terdapat tiga sumber bias; bias informasi, bias seleksi dan faktor perancu Bias seleksi Bias seleksi mungkin terjadi selama identifikasi populasi penelitian. Bias seleksi terjadi jika populasi penelitian tidak mencerminkan sampel yang representatif dari populasi sasaran.bias ini sering terjadi pada saat melakukan seleksi sampel penelitiankarena sampel terdiri dari dua populasi yang berbeda, contohnya yaitu satu yang menderita penyakit dan yang sehat (tidak menderita penyakit) sehingga sulit untukmemastikan bahwa kedua populasi ini betul-betul cocok dan bebas dari kesalahan memilih [7,8]. Bias Informasi Hasil bias informasi yang salah atau faktor individu yang tidak tepat, baik faktor risiko atau penyakit yang sedang dipelajari. Dengan variabel kontinu (seperti tekanan darah), disebut sebagai kesalahan pengukuran; dengan variabel kategori (seperti stadium tumor), ini dikenal sebagai kesalahan klasifikasi. Kesalahan pengukuran atau kesalahan klasifikasi diakibatkan dari kurangnya penanganan yang tepat dari peneliti atau dari buruknya kualitas

Volume 4 Nomor 4 Suplemen 1 254 pengukuran dan instrumen. Namun, lebih sering disebabkan oleh kesalahan dalam penanganan atau waktu klasifikasi [4]. Kesalahan klasifikasi non-diferensial terjadi jika ada kemungkinan yang sama untuk kesalahan klasifikasi untuk semua subyek penelitian dan dapat menyebabkan penafsiran yang terlalu rendahhubungan hipotesis antara paparan dan hasil. Kesalahan klasifikasi diferensial dapat terjadi ketika tingkat kesalahan atau kemungkinan yang berbeda untuk kesalahan klasifikasi antar kelompok subjek penelitian dan dapat menyebabkan kesimpulan yang salah [9]. Dalam sumber lain juga disebut sebagai bias kepastian. [7]. Ada dua macam yang termasuk dalam bias ini yaitu: Bias Diagnostik Terjadi bila cara mendiagnosis suatu penyakit misalnya, pada kelompokkasus dan kelompok kontrol tidak proporsional. Misalnya dalam penelitian yangmembandingkan kelompok kasus yang menderita kanker paru dan kelompokkontrol yang tidak menderita kanker paru. Diagnosis kanker paru harus dilakukansecara sama pada dua kelompok tersebut. Caranya, pengukuran gejalanya, ataupemeriksaan laboratoriumnya harus sama untuk kedua kelompok tersebut.sehingga akan diperoleh, kelompok yang positif menderita kanker paru Merupakanpenyimpangan dalam sebagaikelompok kasus, dan kelompok memperkirakan efek atau pengaruh karena kesalahanpengukuran atau kesalahan pengelompokan subjek penelitian menurut satuatau lebih variabel yang dinyatakan negatif dari hasil diagnosis sebagai kelompok kontrol [7]. Bias pemanggilan kembali (recall bias)

Volume 4 Nomor 4 Suplemen 1 255 Bias ini terjadi jika informasi mengenai variabel paparan tidak diketahui atau tidak akurat. Jika informasi pernah mengalami koroner. Namun merokok dapat menjadi variabel pengganggu antara alkohol dan penyakit jantung koroner. Misalnya merokok paparan atau tidak hanyaberdasar data secara independen terkait dengan penyakit sekunder saja, atau dengan mengingat kembali, akan banyak menimbulkan bias dalam jumlah maupun ketepatan [8]. Faktor Perancu Mempengaruhi hasil pengamatan hubungan secarakeseluruhan maupun sebagian yang dapat mempengaruhi hasil dari studi yangsedang dipelajari. Faktor perancu atau pengganggu muncul ketika efek dari dua paparan terkait belum dipisahkan, sehingga dalam interpretasi, efek yang dipengaruhi oleh suatu variabel dapat dipengaruhi juga dengan variabel-variabel lain. Dampak dari adanya pengaruh faktor perancu ini adalah bahwa estimasi hubungan tidak sama dengan efek jantung koroner dan juga berhubungan dengan konsumsi alkohol (perokok yang cenderung mengkonsumsi alkohol lebih banyak dibanding yang bukan perokok). Adanya efek pembaur dari merokok mungkin sebenarnya menunjukkan tidak ada hubungan antara konsumsi alkohol dengan penyakit jantung koroner Metodologi yang digunakan untuk mengatasi potensial bias Strategi pengendalian kerancuan dapat dibedakan menjadi dua kategori besar yaitu pengendalian pada tahap riset (sebelum data dikumpulkan) dan pengendalian pada tahap analisis data (setelah data dikumpulkan) [2]. Pengendalian pada tahap riset meliputi : sebenarnya [7-9]. Contohnya suatu studi menemukan hubungan antara konsumsi alkohol terhadap risiko penyakit jantung Randomisasi (pengocokan)

Volume 4 Nomor 4 Suplemen 1 256 Randomisasi adalah metode terbaik dalam mengontrol pembauran, karena membantu dalam memastikan bahwa variable tersebut dikenal (atau bahkan tidak dikenal) karena variable perancu terdistribusi secara merata antara kelompokkelompok studi. Namun metode ini hanya dapat digunakan dalam metode penelitian studi intervensi [2]. Restriksi (pembatasan) Restriksi adalah membatasi penelitian untuk hal-hal yang serupa dalam kaitannya dengan perancu tersebut. Sebagai contoh jika Jenis Kelamin merupakan suatu perancu, studi dapat dirancang hanya untuk pria saja atau wanita saja namun hansilnya juga hanya bisa diterapkan pada pria atau wanita. Restriksi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu Analisis berstrata dan analisis multivariate [2]. Pencocokan (Matching) Salah satu metode pengendalian kerancuan adalah memilih subjek pembanding sedemikian rupa sehingga memiliki tingkat kerancuan yang sempurna dengan subjek yang dibandingkan (index). Biasanya hanya bisa digunakan pada study case control dengan memastikan bahwa control yang dipilih mirip dengan kasus [2]. Pengendalian pada tahap analisis data meliputi : Stratification Tujuan dari stratifikasi adalah untuk memperbaiki pengaruh dari pembaur dan menghasilkan kelompok di mana perancu tidak bervariasi. Kemudian mengevaluasi hubungan paparan dengan hasil dalam setiap strata perancu tersebut. Jadi dalam setiap stratum, perancu tidak dapat mengacaukan karena tidak bervariasi. Multivariate Models Analisis bertingkat yang terbaik dengan cara yang tidak ada banyak strata dan jika hanya ada 1 atau 2 pembaur harus dikontrol. Jika jumlah pembaur potensial atau tingkat pengelompokan mereka besar, analisis

Volume 4 Nomor 4 Suplemen 1 257 multivariat menawarkan satu-satunya solusi [2]. Model multivariat dapat menangani sejumlah besar kovariat (dan juga pembaur) secara bersamaan. Misalnya dalam sebuah studi yang bertujuan untuk mengukur hubungan antara indeks massa tubuh dan Dispepsia, salah satu bisa mengontrol kovariat lain seperti usia, jenis kelamin, merokok, alkohol, etnis, dll dalam model yang sama [2]. SIMPULAN Dalam mengidentifikasi kausalitas dalam farmakoepidemiologi ada beberapa kriteria kausal, diantaranya kekuatan, konsistensi, spesifisitas, temporalitas, gradient biologi, theoritical plausability, coherence, bukti eksperimental dan analogi. Adapun terdapat ancaman validitas penelitian dalam farmakoepidemiologi mengenai pengaruh paparan faktor penelitian terhadap penyakit yang berasal dari dua sumber yaitu bias dan kerancuan. Terdapat tiga sumber bias; bias informasi, bias seleksi dan faktor perancu. Strategi pengendalian kerancuan dapat meliputi randomisasi (pengocokan), restriksi (pembatasan), matching (pencocokan), multivariate models dan stratifikasi. UCAPAN TERIMA KASIH Dalam menyelesaikan penyusunan artikel review ini tidak terlepas dari bimbingan, pengarahan dan bantuan serta dorongan dari berbagai pihak. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Ibu Sofa Dewi Alfian, M.KM., Apt selaku dosen pembimbing dan Bapak Rizky Abdulah, PhD., Apt, sebagai dosen pengampu atas segala bimbingan, dukungan, motivasi dan nasehat serta bantuan pemikirannya terhadap penyelesaian artikel review ini. KONFLIK KEPENTINGAN Seluruh penulis menyatakan tidak terdapat potensi konflik kepentingan dengan penelitian, kepenulisan (authorship), dan atau publikasi artikel ini.

Volume 4 Nomor 4 Suplemen 1 258 DAFTAR PUSTAKA [1] Mirtz T.A, Morgan L, Wyatt L.H, Greene L. An epidemiological examination of the subluxation construct using Hill s criteria of causation. Chiropractic & Osteopathy 2009, 17:3 [2] Pourhoseingholi M.A, Baghestani A.R, Vahedi M. How to control confounding effects by statistical analysis. Gastroenterol Hepatol Bed Bench 2012;5(2):79-83 [3] Fedak K.M, Bernal A, Capshaw Z.A, Gross S. Applying the Bradford Hill criteria in the 21st century: how data integration has changed causal inference in molecular epidemiology. Emerg Themes Epidemiol 2015 12:14 [4] Hammer G.P, Prel J.B.D, Blettner M. Avoiding Bias in Observational Studies. Dtsch Arztebl Int 2009; 106(41):664 8 [5] Crockett S.D, Gulati A, Sandler R.S, Kappelman M.D. A causal association between Accutane and IBD has yet to be established. Am J Gastroenterol. 2009 - ; 104(10): 2387 2393 [6] Boffetta P. Causation in the Presence of Weak Associations. Critical Reviews in Food Science and Nutrition, 2010; 50:13-16 [7] Lambert J. How to Assess Bias in Clinical Studies?.Clin Orthop Relat Res 2011 469:1794 1796 [8] Pannucci C.J, Wilkins E.G. Identifying and Avoiding Bias in Research. Plast Reconstr Surg 2010 ; 126(2): 619 625 [9] Wettermark B. The intriguing future of pharmacoepidemiology. Eur J Clin Pharmacol 2013 69 (Suppl 1):S43 S51 [10] Starks H, Diehr P, Curtis R. The Challenge of Selection Bias and Confounding in Palliative Care Research. Journal Of Palliative Medicine. 2009;12(2)