BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 4 DISAIN MODEL. Pengguna. Citra. Ekstraksi Ciri x. Antar muka (Interface) Data Hasil Ekstraksi Ciri. Testing dan Identifikasi.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 PENGUJIAN DAN ANALISIS SISTEM

IDENTIFIKASI CITRA KARANG MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN: KASUS FAMILY POCILLOPORIDAE RONI SALAMBUE

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 4.1 Kebutuhan Perangkat Keras. Perangkat Keras Spesifikasi Processor Intel Core i3. Sistem Operasi Windows 7

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. titiktitik penyusun citra itu sendiri. Titik-titik tersebut disebut dengan pixel. Banyaknya

LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR...

BAB IV IMPLEMENTASI DAN HASIL PENGUJIAN

BAB III PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Rancangan antarmuka (interface) program terdiri dari form cover, form

BAB 2 KONSEP DASAR PENGENAL OBJEK

Implementasi Jaringan Syaraf Tiruan dan Pengolahan Citra untuk Identifikasi Jenis Karang

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

Mahasiswa: Muhimmatul Khoiro Dosen Pembimbing: M. Arief Bustomi, S.Si, M.Si.

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN. Warna merupakan ciri dominan yang bisa dibedakan secara visual untuk

PEMANFAATAAN BIOMETRIKA WAJAH PADA SISTEM PRESENSI MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 1 PENDAHULUAN Latar belakang masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

KLASIFIKASI POLA HURUF VOKAL DENGAN MENGGUNAKAN JARINGAN SARAF TIRUAN BACKPROPAGATION. Dhita Azzahra Pancorowati

Klasifikasi Pola Huruf Vokal dengan Menggunakan Jaringan Saraf Tiruan

IMAGE COLOR FEATURE. Achmad Basuki Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. perangkat. Alat dan bahan yang digunakan sebelum pengujian:

lalu menghitung sinyal keluarannya menggunakan fungsi aktivasi,

PERBANDINGAN TINGKAT AKURASI JENIS CITRA KEABUAN, HSV, DAN L*a*b* PADA IDENTIFIKASI JENIS BUAH PIR

BAB III METODE PENELITIAN. ada beberapa cara yang telah dilakukan, antara lain : akan digunakan untuk melakukan pengolahan citra.

APLIKASI IDENTIFIKASI CIRI TEKSTUR KAYU JATI MENGGUNAKAN METODA GRAY LEVEL CO OCCURRENCE MATRIX

BAB IV IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGEMBANGAN SISTEM PEROLEHAN CITRA BERBASIS ISI PADA CITRA BATIK MENGGUNAKAN METODE INTEGRATED COLOR AND INTENSITY CO-OCCURRENCE MATRIX (ICICM)

BAB III METODE PENELITIAN

3. METODE PENELITIAN

Latar Belakang. Perlunya inventarisasi data dari tiap motif batik dari seluruh daerah di Indonesia

BAB IV PEMBAHASAN. Bab IV berisi pembahasan yang meliputi proses penelitian yakni hasil

BAB III PERANCANGAN SISTEM

IMPLEMENTASI PENGOLAHAN CITRA UNTUK MENGHITUNG RESISTANSI RESISTOR MENGGUNAKAN METODE BACK PROPAGATION

Architecture Net, Simple Neural Net

EKSTRAKSI FITUR TEKSTUR CITRA TEMPE MENGGUNAKAN METODE GRAY LEVEL CO-OCCURENCE MATRIX

ANALYSIS PERFORMANCE FITUR BENTUK, WARNA DAN TEKSTUR CITRA PADA PENELUSURAN INFORMASI ASET BERBASIS CBIR

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

2.Landasan Teori. 2.1 Konsep Pemetaan Gambar dan Pengambilan Data.

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS

ABSTRAK. Kata kunci : CBIR, GLCM, Histogram, Kuantisasi, Euclidean distance, Normalisasi. v Universitas Kristen Maranatha

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM

BAB IV PERANCANGAN & IMPLEMENTASI SISTEM

BAB 4 ANALISA DAN BAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Implementasi antar muka dalam tugas akhir ini terdiri dari form halaman

BAB III METODE PENELITIAN. Pemotong an Suara. Convert. .mp3 to.wav Audacity. Audacity. Gambar 3.1 Blok Diagram Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG. Tekstur adalah salah satu elemen dasar citra. Elemen dasar ini berupa ciriciri

BAB 2 HEMISPHERIC STRUCTURE OF HIDDEN LAYER NEURAL NETWORK, PCA, DAN JENIS NOISE Hemispheric structure of hidden layer neural network

APLIKASI EKSTRAKSI CIRI TEKSTUR MENGGUNAKAN METODA GRAY LEVEL CO OCCURRENCE MATRIX

KLASIFIKASI CITRA PARU MENGGUNAKAN MODEL SELF-ORGANIZING MAPS RADIAL BASIS FUNCTION NEURAL NETWORKS (SOM-RBFNN) SKRIPSI

HASIL DAN PEMBAHASAN. Data

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengembangan Sistem Pengenalan Wajah 2D

PENGENALAN POLA TANDA TANGAN MENGGUNAKAN METODE MOMEN INVARIAN DAN RADIAL BASIS FUNCTION (RBF)

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 3 Contoh data Shorea hasil kodefikasi

BAB 3 PROSEDUR DAN METODOLOGI. menawarkan pencarian citra dengan menggunakan fitur low level yang terdapat

Bab III ANALISIS&PERANCANGAN

HASIL DAN PEMBAHASAN


ANALISIS VARIASI PARAMETER LEARNING VECTOR QUANTIZATION ARTIFICIAL NEURAL NETWORK TERHADAP PENGENALAN POLA DATA ODOR

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

... BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Citra

PERANCANGAN SISTEM PENGENALAN DAN PENYORTIRAN KARTU POS BERDASARKAN KODE POS DENGAN MENGGUNAKAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN ANALISA

BAB 2 LANDASAN TEORI

PENGENALAN POLA SIDIK JARI BERBASIS TRANSFORMASI WAVELET DAN JARINGAN SYARAF TIRUAN BACKPROPAGATION

Bab 5 Penerapan Neural Network Dalam Klasifikasi Citra Penginderaan Jauh

KLASIFIKASI KAYU DENGAN MENGGUNAKAN NAÏVE BAYES-CLASSIFIER

1BAB I. 2PENDAHULUAN

BAB II LANDASAN TEORI

DAFTAR ISI. BAB II... Error! Bookmark not defined.

Aplikasi yang dibuat adalah aplikasi untuk menghitung. prediksi jumlah dalam hal ini diambil studi kasus data balita

PERANCANGAN SISTEM IDENTIFIKASI KUALITAS KAYU UNTUK QUALITY KONTROL BERBASIS PENGOLAHAN CITRA DIGITAL

ABSTRACT. Keyword : Reef Fish, HSL, GLCM, PNN.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

Gambar 3.1 Contoh Citra yang digunakan

BAB III METODE PENELITIAN. tracking obyek. Pada penelitian tugas akhir ini, terdapat obyek berupa bola. Gambar 3.1. Blok Diagram Penelitian

PENGENALAN POLA TANDA TANGAN MENGGUNAKAN METODE MOMENT INVARIANT DAN JARINGAN SYARAF RADIAL BASIS FUNCTION (RBF)

Transkripsi:

4 BAB HASIL DAN PEMBAHASAN Ada tiga tahap utama yang dilakukan pada percobaan ini yaitu ektraksi ciri, pelatihan dan pengujian JST. Percobaan dilakukan dengan mengkombinasikan data hasil ekstraksi ciri yaitu: warna dan tekstur, warna dan bentuk, tekstur dan bentuk dan kombinasi gabungan ketiganya warna, tekstur dan bentuk. Dari percobaan ini akan dilihat ciri mana yang lebih dominan dan signifikan dalam mengidentifikasi citra. Total citra yang digunakan berjumlah 7 dan jumlah karang yang diidentifikasi terdiri dari genus. Citra dibagi dalam dua bagian dimana 0 citra digunakan untuk data pelatihan dan 2 citra untuk pengujian. 4.6 Ekstraksi Ciri Citra yang digunakan direduksi dimensinya untuk mengurangi waktu komputasi pada sistem. Dimensi citra yang digunakan adalah 2 x 300 pixel untuk citra potrait dan 300 x 2 pixel untuk citra landscape. Setiap citra dirotasi 0º, 4º, 60º, 90º, 13º,180º, 0º, 22º, 270º dan 31º agar sistem dapat mengenali obyek citra karang dari sudut manapun. Untuk memenuhi kriteria tersebut maka citra diolah secara manual dengan perangkat lunak manipulasi citra. Pada bagian ekstraksi ciri, citra yang digunakan adalah citra RGB untuk warna dan citra grayscale untuk tekstur dan bentuk. Untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai tahapan ektraksi ciri berikut ini disajikan citra karang dari masing-masing genus (Gambar 24). (a) madracis (b) palauastrea (c) pocillopora

46 (d) seriatopora (e) stylophora Gambar 24 Citra warna karang. Dari citra diatas dihitung nilai warna merah, hijau dan biru (RGB) dan nilai warna hue, saturation dan value (HSV). Nilai warna yang dihasilkan dari dari citra warna (Gambar 24) dapat dilihat pada Tabel 6 dibawah ini. Tabel 6 Nilai warna RGB dan HSV dari citra karang madracis palauastrea pocillopora seriatopora stylophora R.02 137.3 9.372 131.0 144.46 G 86.489 12.4 98.018 88.027 11.86 B 98.422 127.9 79.167 89.89 173.33 H 0.6633 0.4773 0.30629 0.4882 0.62461 S 0.2417 0.18704 0.238 0.0606 0.1912 V 0.43028 0.904 0.39971 0.61 0.67971 Setelah nilai warna selesai dihitung, tahap selanjutnya adalah menghitung nilai tekstur dan bentuk citra karang. Untuk itu maka citra karang yang berwarna (Gambar 24) dikonversi kedalam bentuk citra grayscale (Gambar 2). (a) madracis (b) palauastrea (c) pocillopora

47 (d) seriatopora (e) stylophora Gambar 2 Citra grayscale karang. Ada tiga metode analisa tekstur yang digunakan yaitu statistical moment, GLCM dan LBP8riu1. Pada metode statistical moment nilai yang dihitung adalah mean, standard deviation, smoothness, third moment, uniformity dan entropy yang merupakan momen statistik intensitas histogram citra. Nilai tekstur yang dihasilkan dari dari citra (Gambar 2) dapat dilihat pada Tabel 7 dibawah ini. Tabel 7 Nilai tekstur citra karang dengan metode statistical moment madracis palauastrea pocillopora seriatopora stylophora Mean 93.397 129.3 9.078 1.08 12.11 Std Deviation 0.981 6.999 47.338 69.083 69.409 Smoothness 0.038434 0.04786 0.033314 0.068377 0.068979 Third moment 1.2986-0.412 0.48993 2.2 0.4046 Uniformity 0.00926 0.001936 0.009329 0.0046922 0.084749 Entropy 7.699 7.7083 7.343 7.862 6.1682 Pada metode GLCM nilai yang dihitung adalah level, standar deviasi, energy, contrast, homogeneity dan entropy dari matrik co-occurrence. Nilai yang dihasilkan oleh metode ini dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8 Nilai tekstur citra karang dengan metode GLCM madracis palauastrea pocillopora seriatopora stylophora Level 0.40392 0.3333 0.38431 0.449 0.64706 Std Deviation 0.981 6.999 47.338 69.084 69.41 Contrast 0.39304 0.436 0.76772 0.618 0.4432 Homogeneity 0.111 0.096836 0.0839 0.081831 0.1324 Energy 0.84091 0.83849 0.7029 0.81443 0.83409 Entropy 7.699 7.7083 7.343 7.862 6.1682

48 Selanjutnya pada metode LBP8riu1 nilai yang dihasilkan adalah sepuluh vektor kolom yang berisi informasi tekstur citra karang (Tabel 9). Tabel 9 Nilai tekstur citra karang dengan metode LBP8riu1 madracis palauastrea pocillopora seriatopora stylophora 1 3694 1 960 1611 917 2 4736 4944 6719 2382 882 3 4990 333 6774 244 2818 4 8467 632 14 7027 3146 780 768 9933 12896 4116 6 8339 14 8078 7190 3698 7 32 96 6 3269 376 8 180 6161 7770 274 934 9 218 6838 7461 2401 2471 8028 918 12221 3738 11122 Untuk menghasilkan nilai ciri bentuk dilakukan dengan menghitung tujuh vektor momen invarian (Tabel ). Tabel Nilai bentuk citra karang dengan metode momen invarian madracis palauastrea pocillopora seriatopora stylophora ϕ 1 1.966 x -3 1.331 x -3 1.734 x -3 1.626 x -3 1.338 x -3 ϕ.993 x -7 2.7 x -7 3.08 x -8 3.427 x -7 6.036 x -8 2 ϕ 1.464 x - 4.113 x -13 3.06 x -11 1.137 x - 1.767 x -12 3 ϕ 1.609 x - 8.921 x -12 3.893 x -11 1.671 x -11 4.449 x -12 4 ϕ 1.929 x - -.29 x -26-1.336 x -21-2.834 x -22-1.247 x -23 ϕ 1.197 x -13-4.281 x -1-3.78 x -1-9.724 x -1.74 x -16 6 ϕ 1.39 x - -1.709 x -23-1.327 x -22-6.711 x -22-3.627 x -2 7 4.7 Waktu Komputasi (Elapsed time) Ekstraksi Ciri A. Warna Ekstraksi ciri tiap satu citra pada bagian ini menghasilkan koefisien sebanyak 6 elemen, dimana 3 elemen pertama merupakan representasi dari nilai RGB dan 3 elemen berikutnya adalah nilai HSV dengan. Elapsed time (waktu komputasi) yang dibutuhkan untuk proses ekstraksi ciri terhadap 7 citra adalah 4.636 detik.

49 B. Tekstur Pada bagian ini koefisien ciri tekstur dengan metode statistical moment adalah 6 elemen dengan elapsed time 0.21 detik. Pada metode GLCM koofisien yang dihasilkan sebnyak 6 elemen dengan elapsed time 6.81 detik dan pada metode LBP8riu1 menghasilkan elemen koofisien dengan elapsed time.898 detik. Hasil koofisisen ini sesuai dengan persamaan dari masing-masing metode analisa tekstur yang digunakan. C. Bentuk Untuk ciri bentuk koefisien yang dihasilkan adalah 7 elemen. Hal ini dikarenakan metode momen invarian yang digunakan menghasilkan 7 vektor ciri sesuai dengan persamaan yang dimilikinya dan elapsed time yang diperlukan untuk proses ini adalah 6.004 detik. Data elapsed time keseluruhan proses ektraksi ciri ini dapat dilihat di Tabel 11 dan hasil ekstraksi ciri yang digunakan sebagai data pelatihan dan data pengujian dapat dilihat di Lampiran 2 s/d 11. Tabel 11 Waktu proses ektraksi ciri Ektraksi Ciri Metode Jumlah Elapsed Time Jumlah Citra Koofisien (detik) Warna RGB 3 HSV 3 7 6.027 Tekstur Analisa tekstur 6 7 0.21 Tekstur GLCM 6 7 6.81 Tekstur LBP8riu1 7.898 Bentuk Momen invarian 7 7 6.004 4.8 Pelatihan dan Pengujian Pada proses pelatihan, JST dilatih untuk menyesuaikan tiap bobot yang ada untuk mencapai konvergensi, sehingga akan terbentuk model referensi bagi pola lainnya. Waktu yang dibutuhkan untuk pelatihan tergantung pada jumlah input JST, semakin besar jumlah input semakin lama waktu yang diperlukan jaringan untuk konvergen.

0 Dengan dimensi yang tereduksi pada proses sebelumnya, diharapkan waktu yang dibutuhkan JST untuk pelatihan akan semakin singkat. Pada penelitian ini, akan dilihat perilaku JST dalam mencapai konvergensi dengan mengubah-ubah parameter yang berpengaruh terhadap hal tersebut seperti toleransi galat dan pengaruh jumlah hidden neuron terhadap konvergensi dan generalisasi. Hal lain yang diperhatikan dalam pelatihan JST adalah jumlah epoch untuk mencapai kekonvergenan, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai jumlah epoch tersebut dan nilai generalisasi yang didapat dari pelatihan yang telah dilakukan. Pelatihan dan pengujian pada masing-masing kombinasi ciri dilakukan dalam sepuluh kali percobaan pada masing-masing hidden neuron dan toleransi galat. Dari sepuluh kali percobaan tersebut diamati dan diambil tingkat pengenalan tertinggi yang dihasilkan. Selanjutnya setiap nilai tertinggi tersebut dibandingkan sehingga diperoleh tingkat pengenalan terbaik yang dihasilkan oleh kombinasi ciri yang digunakan. Parameter JST yang digunakan adalah toleransi galat -3 dan -4, laju pembelajaran 0.1, epoch maksimum 3000 dan jumlah hidden neuron,, 1 dan. A. Warna dan Tekstur (WT) Percobaan pertama dilakukan terhadap dua kombinasi ciri yaitu ciri warna dan tekstur, terlihat pelatihan konvergen pada epoch ke-291 dengan waktu pelatihan 16.899 detik dan waktu pengujian 0.032, seperti diperlihatkan pada Tabel 12. Tabel 12 Pelatihan dan pengujian pada ciri warna dan tekstur Pelatihan Pengujian Hidden Waktu Generalisasi Waktu galat epoch Dikenal neuron (%) -3 477 3.311 19/24 76 0.047-4 3000 22.148 17/2 68 0.031-3 3000.312 21/2 84 0.032-4 291 16.899 22/2 88 0.032-3 224 1.722 21/2 84 0.031 1-4 1331 9.23 21/2 84 0.046-3 971 7.139 21/2 84 0.046-4 1719 12.606 21/2 84 0.01

1 Generalisasi yang dihasilkan terhadap data uji sebesar 88% (22 citra dari 2 data citra dikenali). Secara keseluruhan, terlihat bahwa toleransi galat -3 dan -4 memberikan tingkat generalisasi yang hampir sama. Dengan metode trial and error dalam menentukan besarnya hidden neuron, maka diperoleh hasil terbaik pada hidden neuron. B. Warna dan Bentuk (WB) Percobaan kedua dilakukan pada ciri warna dan bentuk, mencapai kekonvergenan pada epoch ke-2612 dengan waktu pelatihan 17.6 detik dan waktu pegujian 0.033, seperti diperlihatkan pada Tabel 13. Tabel 13 Pelatihan dan pengujian pada ciri warna dan bentuk Pelatihan Pengujian Hidden Waktu Generalisasi Waktu galat epoch Dikenal neuron (%) -3 1917 12.30 /2 80 0.033-4 12 7.434 18/2 72 0.03-3 976 6.621 /2 80 0.032-4 489 3.602 18/2 72 0.034-3 2612 17.6 23/2 92 0.033 1-4 2611 18.916 21/2 84 0.034-3 3000 21.321 22/2 88 0.042-4 3000 21.786 /2 80 0.033 Generalisasi yang dihasilkan terhadap data testing sebesar 92% (23 citra dari 2 data citra dikenali). Disini terlihat bahwa secara keseluruhan toleransi galat - 3 memiliki tingkat generalisasi lebih baik daripada -4 dan jumlah hidden neuron terbaik diperoleh pada hidden neuron 1. C. Tekstur dan Bentuk (TB) Percobaan ketiga dilakukan pada ciri tekstur dan bentuk, mencapai kekonvergenan pada epoch ke-2913 dengan waktu pelatihan.6 detik dan waktu pengujian 0.033, seperti diperlihatkan pada Tabel 14.

2 Tabel 14 Pelatihan dan pengujian pada ciri tekstur dan bentuk Hidden neuron 1 Pelatihan Pengujian galat epoch Waktu Generalisasi Waktu Dikenal (%) -3 736 4.978 14/2 6 0.033-4 319 2.196 16/2 64 0.032-3 236 17.093 22/2 88 0.033-4 2346 16.147 /2 80 0.034-3 3000 21.87 22/2 88 0.034-4 2913.6 24/2 96 0.033-3 3000 21.419 22/2 88 0.031-4 3000 21.4 22/2 88 0.03 Generalisasi yang dihasilkan terhadap data testing sebesar 96% (24 citra dari 2 data citra dikenali). Disini terlihat bahwa toleransi galat -4 memiliki tingkat generalisasi lebih baik daripada -3 dan jumlah hidden neuron terbaik diperoleh pada hidden neuron 1. D. Warna, Tekstur (Statistical Moment) dan Bentuk (WTB) Setelah dilakukan percobaan dengan dua kombinasi ciri, maka selanjutnya pada percobaan keempat dilakukan terhadap tiga kombinasi ciri yaitu ciri warna, tekstur dan bentuk, terlihat pelatihan konvergen pada epoch ke-162 dengan waktu pelatihan.94 detik dan waktu pengujian 0.03 (Tabel 1). Tabel 1 Pelatihan dan pengujian pada ciri warna, tekstur dan bentuk Pelatihan Pengujian Hidden Waktu Generalisasi Waktu galat epoch Dikenal neuron (%) -3 4 0.111 23/2 92 0.032-4 4 0.19 23/2 92 0.034-3 1 3.36 23/2 92 0.031-4 1 3.466 23/2 92 0.03-3 162.94 24/2 96 0.03 1-4 2478 42.2 24/2 96 0.033-3 224 17.89 24/2 96 0.033-4 3000 21.32 24/2 96 0.033

3 Generalisasi yang dihasilkan terhadap data testing sebesar 96% (24 citra dari 2 data citra dikenali). Disini terlihat bahwa hampir pada semua hidden neuron mencapai tingkat generalisasi yang sama dengan hidden neuron terbaik diperoleh pada hidden neuron 1, perbedaannya terdapat pada waktu pelatihan toleransi galat -3 yang lebih cepat dibandingkan -4. Pada percobaan keempat ini terlihat bahwa kombinasi dari tiga ciri memiliki generalisasi yang lebih baik dari dua kombinasi ciri. Berdasarkan hal tersebut untuk percobaan selanjutnya dilakukan dengan tiga kombinasi ciri sekaligus melakukan perbandingan antara metode analisa tekstur yang lain. E. Warna, Tekstur (GLCM) dan Bentuk (WGB) Percobaan kelima dilakukan pada ciri warna, tekstur dengan metode GLCM dan bentuk. Kekonvergenan tercapai pada epoch ke-3000 dengan waktu pelatihan.849 detik dan waktu pengujian 0.033, seperti diperlihatkan pada Tabel 16. Tabel 16 Pelatihan dan pengujian pada ciri warna, tekstur (GLCM) dan bentuk Hidden neuron 1 Pelatihan Pengujian galat epoch Waktu Generalisasi Waktu Dikenal (%) -3 42 7.127 19/2 76 0.033-4 908.926 21/2 84 0.033-3 21 7.234 21/2 84 0.034-4 43 13.94 23/2 92 0.034-3 3000.849 24/2 96 0.033-4 1414.223 /2 80 0.037-3 3000 23.649 22/2 88 0.037-4 3000 22.347 24/2 96 0.034 Generalisasi yang dihasilkan terhadap data testing sebesar 96% (24 citra dari 2 data citra dikenali). Disini terlihat secara keseluruhan toleransi galat -3 dan -4 mencapai tingkat generalisasi yang bervariasi dan hampir sama, perbedaan terdapat pencapaian generalisasi pada hidden neuron yang digunakan, dimana toleransi galat -3 menghasilkan generalisasi terbaik pada hidden neuron ke-1,

4 ke-1, sementara itu toleransi galat -4 menghasilkan generalisasi terbaik pada hidden neuron ke-. F. Warna, Tekstur (LBP8riu1) dan Bentuk (WLB) Percobaan keenam dilakukan pada ciri warna, tekstur dengan metode LBP8riu1 dan bentuk. Disini telihat bahwa jaringan telah lebih cepat konvergen dibandingkan kombinasi ciri yang lain namun generalisasi tertinggi yang dihasilkan adalah 68% pada hidden neuron ke-1 di toleransi galat -4, seperti diperlihatkan pada Tabel 17. Tabel 17 Pelatihan dan pengujian pada ciri warna, tekstur (LBP8riu1) dan bentuk Hidden neuron 1 Pelatihan Pengujian galat epoch Waktu Generalisasi Waktu Dikenal (%) -3 127 1.063 8/2 32 0.036-4 2 0.149 /2 0.03-3 9 0.184 9/2 36 0.037-4 2 0.23 /2 0.033-3 14 0.219 /2 40 0.03-4 43 0.46 17/2 68 0.03-3 8 0.193 9/2 36 0.03-4 0.162 /2 40 0.038 Dari semua hasil percobaan dengan kombinasi ciri yang diubah-ubah, terlihat bahwa setiap dilakukan pengulangan terhadap pelatihan, nilai yang selalu berubah adalah waktu. Hal ini disebabkan karena nilai inisialisasi bobot yang digunakan pada jaringan adalah nilai random sehingga diperlukan waktu komputasi yang berbeda pada setiap hidden neuron dan toleransi galat.

Hubungan antara hidden neuron terhadap konvergensi pada toleransi galat pelatihan ditunjukkan pada Gambar 26 dan Gambar 27. Dari grafik terlihat bahwa semakin besar hidden neuron maka epoch yang dihasilkan oleh masing-masing kombinasi ciri juga relatif semakin besar. 300 Epoch 3000 200 00 100 00 00 WT WB TB WTB WGB WLB 0 1 Hidden Neuron Gambar 26 Grafik hidden neuron terhadap konvergensi pada toleransi galat -3. 300 Epoch 3000 200 00 100 00 00 WT WB TB WTB WGB WLB 0 1 Hidden Neuron Gambar 27 Grafik hidden neuron terhadap konvergensi pada toleransi galat -4.

6 Hubungan antara hidden neuron terhadap generalisasi pada toleransi galat pelatihan ditunjukkan pada Gambar 28 dan Gambar 29. Dari grafik terlihat bahwa rata-rata nilai generalisasi terbaik yang dihasilkan diperoleh pada hidden neuron ke-1. Generalisasi (%) 0 90 80 70 60 0 40 30 0 1 Hidden Neuron WT WB TB WTB WGB WLB Gambar 28 Grafik hidden neuron terhadap generalisasi pada toleransi galat -3. Generalisasi (%) 0 90 80 70 60 0 40 30 0 1 Hidden Neuron WT WB TB WTB WGB WLB Gambar 29 Grafik hidden neuron terhadap generalisasi pada toleransi galat -4.