Gambar 3.1 Contoh Citra yang digunakan
|
|
|
- Devi Salim
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB III DATASET DAN RANCANGAN PENELITIAN Pada bab ini dijelaskan tentang dataset citra yang digunakan dalam penelitian ini serta rancangan untuk melakukan penelitian. 3.1 DATASET PENELITIAN Penelitian ini menggunakan dataset yang diunduh dari INRIA (Inria, 2009) dan Coblitz (Coblitz, 2009) yang merupakan basisdata citra dengan format JPG dalam jumlah besar dengan komponen warna yang beragam. Sebelum melalui tahapantahapan dalam proses image clustering, dilakukan cropping dan resizing citra agar mudah dikomputasi yaitu dengan ukuran rata-rata per citra adalah sekitar 80x80. Contoh citra yang digunakan dalam eksperimen dapat dilihat pada Gambar 3.1. Gambar 3.1 Contoh Citra yang digunakan
2 Citra yang dikoleksi adalah citra yang telah dipilih dengan 20 kategori berbeda, yaitu panda, padang pasir, laut, sunset, bunga matahari, mawar merah, bunga melati, buah anggur, kuda, dan sebagainya. Kategori ini dipilih berdasarkan komponen warna yang terkandung didalamnya karena tujuan penelitian ini adalah melakukan clustering berdasarkan komponen warna. Masing-masing kategori terdiri atas lebih kurang 80 citra, jadi total keseluruhan citra adalah 1600 citra. Tabel 3.1 menunjukkan kategori citra serta jumlah maksimum dari tiap kategori. Tabel 3.1: 20 Kategori Citra No Cluster Jumlah citra 1 Panda 80 2 Padang pasir 80 3 Laut 80 4 Sunset 80 5 Bunga matahari 80 6 Mawar merah 80 7 Bunga melati 80 8 Buah anggur 80 9 Kuda Ikan hias Pisang Bangunan Padang rumput Terompet Apel Harimau Pantai 80
3 18 Kembang api Pinguin Stroberi RANCANGAN PENELITIAN Penelitian yang dilakukan pada pengelompokan citra berdasarkan komposisi warna ini secara garis besar dapat dilihat pada Gambar 3.2. Gambar 3.2. Image Clustering Berdasarkan Komposisi Warna Pada Gambar 3.2 terlihat pengelompokan citra dengan hasil yang optimal, yaitu citra dengan kategori atau jenis yang sama berada pada satu kelompok yang sama. Akan tetapi, tidak jarang terjadi pengelompokan yang tidak optimal karena beberapa sebab dan dalam penelitian ini ingin diperlihatkan seberapa baik proses pengelompokan citra yang menggunakan komposisi warna. Proses pengelompokan citra ini terbagi atas 3 tahap, yaitu konversi ruang warna, representasi citra atau feature extraction, kemudian metode clustering. Pada Gambar 1.1 ditunjukan gambaran penelitian secara keseluruhan. Berikut ini adalah langkahlangkah pengelompokan citra.
4 1. Sekumpulan citra dikonversi ke ruang warna yang diinginkan Gambar 3.3 Contoh Hasil Konversi Citra dari RGB ke HSV Gambar 3.3 merupakan contoh beberapa citra RGB yang kemudian di konversi ke ruang warna HSV. Citra disebelah kiri tanda panah adalah citra RGB, sedangkan citra disebelah kanan tanda panah adalah citra hasil konversi ke HSV. Gambar 3.4 berikut adalah contoh konversi citra dari ruang warna RGB ke L*a*b*. Gambar 3.4 Contoh Hasil Konversi Citra dari RGB ke L*a*b* 2. Lakukan feature extraction pada tiap citra hasil konversi dengan menggunakan GMM atau histogram yang menghasilkan vektor yang merupakan ciri dari setiap citra asli. 3. Terapkan metode clustering (AHC atau K-Means) pada sekumpulan vektor hasil feature extraction.
5 4. Hasil clustering di salin ke dalam direktori yang berjumlah k direktori sesuai dengan jumlah kelompok citra yang diinginkan. 5. Pemberian label direktori yang merupakan label kelompok citra. Kategori citra yang paling banyak dalam direktori adalah label dari kelompok. Gambar 3.5 Contoh Pelabelan Direktori Citra Gambar 3.5 menunjukan contoh pemberian label pada direktori dimana label tersebut diberikan berdasarkan jumlah kategori citra dominan yang ada pada satu direktori. Misalnya direktori ang didominasi oleh citra anggur, pada direktori tr didominasi oleh citra trompet, dan seterusnya. 6. Hitung jumlah citra dalam suatu kategori sesuai dengan label direktori. Inilah yang merupakan citra yang benar yang masuk ke dalam pengelompokan yang tepat.
6 Gambar 3.6 Contoh Direktori Berlabel Pinguin Gambar 3.6 merupakan direktori citra pinguin yang kemudian dihitung jumlah citra pinguin yang ada pada direktori tersebut. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, awalnya citra dibaca kemudian dilakukan konversi dari ruang warna RGB ke ruang warna HSV dan L*a*b*. Mengenai proses konversi ruang warna dijelaskan pada bagian 3.3 KONVERSI RUANG WARNA. Setelah tahapan konversi ruang warna, dilakukan feature extraction yang didalam penelitian ini menggunakan metode Gaussian Mixture Model (GMM) dan histogram. Pada GMM, diterapkan distribusi Gaussian pada setiap kanal warna, misalnya merah, hijau, biru pada ruang warna RGB. Pada kanal warna merah dilakukan GMM dengan inisial kelompok piksel adalah 10, kemudian piksel berdekatan nilainya di kumpulkan menjadi satu ke dalam sebuah kelompok. Tiap piksel yang berdekatan nilainya berada pada kelompok yang berbeda dengan piksel yang memiliki nilai berbeda yang disebut sebagai homogenous region. Sebenarnya, setiap piksel tidak benar-benar dipindahkan untuk berkumpul pada suatu kelompok, tetapi hanya berupa probabilitas tiap piksel
7 untuk masuk ke dalam salah satu kelompok yang menggunakan GMM. Jadi, sifat GMM ini adalah fuzzy, dimana satu piksel tidak berada tepat pada satu cluster, tetapi berada pada beberapa cluster dengan probabilitas yang berbeda-beda pada tiap cluster-nya. Sedangkan dengan metode histogram, feature space diperoleh dengan menghitung distribusi warna dari setiap piksel pada citra dalam interval tertentu. Dalam hal ini, setiap warna dipengaruhi oleh ruang warna yang digunakan. Proses representasi citra dijelaskan pada 3.4 GAUSSIAN MIXTURE MODEL DAN HISTOGRAM. Sekumpulan homogenous region hasil GMM dan hasil dari histogram yang disebut sebagai feature space dari sebuah citra akan digunakan sebagai parameter untuk melakukan proses clustering yang menggunakan metode Agglomerative Hierarchical Clustering (AHC) dan K-Means. Proses clustering yang menggunakan AHC diawali dengan pengukuran jarak antara satu feature space dengan feature space yang lain dengan menggunakan metode Euclidean distance. Setelah itu, dilakukan clustering dengan menggunakan average link. Skema ini dianggap skema yang paling baik dalam AHC walaupun memerlukan waktu komputasi yang lebih tinggi dibanding dengan skema single, complete, ataupun centroid. Proses clustering dengan K-Means juga menggunakan pengukuran jarak Euclidean. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagian 3.5 PROSES CLUSTERING. Setelah proses clustering berakhir, dilakukan evaluasi hasil clustering yang dijelaskan pada bagian 3.6 EVALUASI HASIL CLUSTERING. 3.3 KONVERSI RUANG WARNA Pada umumnya, pengolahan citra menggunakan model ruang warna RGB (red, green, blue) dalam merepresentasikan sebuah citra. Red adalah kanal merah, green adalah
8 kanal hijau, dan blue adalah kanal biru. Masing-masing kanal memiliki rentang nilai antara Adakalanya kita ingin menggunakan model ruang warna lain dalam mengolah suatu citra. Pada penelitian ini diterapkan dua ruang warna lain selain RGB, yaitu HSV dan L*a*b* Konversi Ruang Warna RGB ke HSV Jika r, g, b [0,1] adalah koordinat merah, hijau, biru pada ruang warna RGB, dengan max adalah nilai terbesar dari r, g, b serta min adalah nilai terkecil dari r, g, b, maka untuk mencari derajat hue h [0,360], saturation, dan value digunakan Persamaan 3.1. (3.1) Pada Matlab, konversi ruang warna ini dilakukan dengan memanggil fungsi yang menggunakan potongan code berikut. a1=rgb2hsv(a1); %konversi ruang warna RGB ke HSV
9 1.3.2 Konversi Ruang Warna RGB ke L*a*b* Ruang warna L*a*b* berasal dari ruang warna XYZ dengan penambahan kanal pencahayaan (Wyszecki, 1982). Transformasi dari warna RGB ke XYZ dapat dilihat pada Persamaan 3.2. (3.2) Dan kemudian dari XYZ di transformasi menjadi L*a*b* dengan Persamaan 3.3. (3.3) Pada aplikasi MATLAB, melakukan konversi ruang warna RGB ke L*a*b* dilakukan dengan potongan code berikut: a=imread(d(i).name);%membaca nama citra %membuat fungsi transformasi dari ruang warna RGB ke Lab cform = makecform('srgb2lab'); %melakukan transformasi warna Lab terhadap setiap citra hasil_lab = applycform(a,cform); Pada akhir dari tahap ini dihasilkan sekumpulan piksel dalam bentuk matriks yang telah mengalami konversi ruang warna. Tahap selanjutnya adalah melakukan reduksi
10 matriks tersebut menjadi vektor (feature extraction) menggunakan Gaussian Mixture Model (GMM) dan histogram. 3.4 GAUSSIAN MIXTURE MODEL DAN HISTOGRAM GMM pada tahap ini, input (masukan) nya adalah piksel dari citra (matriks), serta inisialisasi jumlah parameter GMM (jumlah homogenous region suatu citra). Sementara itu, output (luaran) dari GMM adalah probabilitas tiap homogenous region terhadap satu citra. GMM dilakukan pada tiap kanal warna pada setiap ruang warna yang digunakan, misalkan pada ruang warna RGB diterapkan GMM pada kanal warna merah, hijau, kemudian biru secara terpisah. Setelah itu, hasil GMM dari masing-masing kanal warna digabungkan dan kemudian disebut sebagai representasi dari citra tersebut (feature space) yang akan digunakan untuk dikelompokan. Berikut ini potongan code iterasi Expectation Maximization (EM) untuk mendapatkan maximum likelihood yang merupakan parameter yang di butuhkan untuk menghasilkan feature space (hasil dari tahap feature extraction) yang berupa prior probability maksimal. while(1) % Expectation prb = distribution(mu,sigma,p,ima); scal = sum(prb,2)+eps; loglik=sum(log(scal));%menghitung loglikelihood %Maximization for j=1:k pp=prb(:,j)./scal; p(j) = sum(pp); mu(j) = sum(ima.*pp)/p(j); vr = (ima-mu(j)); sigma(j)=sum(vr.*vr.*pp)/p(j)+sml; end p = p + 1e-3; p = p/sum(p);
11 % Exit condition prb = distribution(mu,sigma,p,ima); scal = sum(prb,2)+eps; nloglik=sum(log(scal)); if((nloglik-loglik)<1000) break; end; end function y=distribution(m,v,g,x) x=x(:); m=m(:); v=v(:); g=g(:); for i=1:size(m,1) d = x-m(i); amp = g(i)/sqrt(2*pi*v(i)); y(:,i) = amp*exp(-0.5 * (d.*d)/v(i)); end %normalisasi terhadap NaN dan inf ind=find(isnan(y)==1); y(ind)=0; ind=find(isinf(y)==1); y(ind)=0; Inisialisasi mean, varians dan prior probability yang digunakan dalam GMM dapat dilihat dalam potongan code berikut. %inisialisasai parameter mu=(1:k)*m/(k+1); %mean sigma=ones(1,k)*m; %variance p=ones(1,k)*1/k; %prior probability Sementara itu, inisialisasi jumlah homogenous region pada setiap kanal warna adalah 10, sehingga total keseluruhannya ada 30 untuk masing-masing ruang warna yang digunakan (RGB, HSV, dan L*a*b*). Dengan demikian parameter yang ada pada sebuah citra yang berupa prior probability, mean, dan varians nya masing-masing berjumlah 30 untuk setiap ruang warna. Kemudian, iterasi EM berhenti pada saat mencapai threshold 1000, yaitu saat nilai selisih logaritma likelihood yang baru dengan logaritma likelihood sebelumnya lebih
12 kecil dari Threshold ini dipilih karena menghasilkan kinerja yang lebih baik pada penelitian ini. Prior probability dari setiap citra digunakan sebagai ciri dari citra hasil representasi menggunakan GMM. Parameter ini dipilih karena memiliki kinerja yang paling baik dibandingkan jika menggunakan mean atau varians nya. Jadi, luaran dari tiap citra setelah melalui tahap feature extraction adalah vektor yang terdiri atas 30 elemen yang merupakan ciri dari citra tersebut. Vektor ini digunakan sebagai masukan untuk melakukuan proses clustering. Metode berikutnya adalah histogram yang dilakukan dengan menghitung distribusi jumlah piksel yang ada pada 10 interval pada tiap kanal warna, yaitu merah, hijau, dan biru untuk RGB, hue, saturation, dan value untuk HSV, serta pencahayaan, hijau-merah, dan biru-kuning untuk L*a*b*. Berikut ini adalah potongan code Matlab yang memanggil fungsi histogram. a=rgb2hsv(a); %konversi ke hsv % representasi histogram pada tiap komponen ruang warna for itr=1:3 dlmwrite('hsv',a(:,:,itr)); a1=dlmread('hsv',','); c=hist(a1(:)); mtr=[mtr c]; end Fungsi hist menghitung jumlah elemen dari vektor a1 yang berada pada setiap interval (terdiri atas 10 interval). Karena ada 3 kanal dalam tiap ruang warna (RGB, HSV, L*a*b*), maka jumlah elemen dalam vektor pada sebuah citra adalah 30. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3.7.
13 a) b) c) d) Gambar 3.7 Plot Histogram Buah Anggur pada Ruang Warna RGB Gambar 3.7 a) adalah citra buah anggur, b) merupakan histogram kanal warna merah pada citra anggur, c) merupakan histogram kanal warna hijau, dan d) adalah histogram kanal warna biru. Masing-masing kanal warna menghasilkan 10 elemen vektor, sehingga ketika digabungkan ketiga kanal tersebut dihasilkan vektor dengan 30 elemen yang kemudian digunakan sebagai masukan untuk tahap clustering. 3.5 PROSES CLUSTERING Masing-masing vektor hasil dari histogram dan GMM citra di gabungkan ke dalam dua matriks berbeda yang siap di terapkan algoritma clustering. Penggabungan setiap vektor hasil representasi masing-masing citra dilakukan dengan cara penggabungan sebagai berikut: mtrks=[mtrks;pb]; %menyimpan prior probabilitas sebagai hasil representasi GMM ke dalam matriks Setelah itu, dilakukan clustering, yang pertama dengan Agglomerative Hierarchical Clustering. Potongan code yang memanggil fungsi AHC: idx=clusterdata(mtrks,5) %memanggil fungsi hierarchical clustering
14 Metode AHC yang digunakan pada penelitian ini menggunakan skema average link. Alasan menggunakan skema average link adalah karena telah melakukan percobaan sebelumnya dan skema ini memiliki kinerja yang lebih baik daripada skema single, complete, ataupun centroid link. Adapun dalam penelitian yang pernah dilakukan pada data clustering (Adi, 2007) dihasilkan skema average link memiliki kinerja terbaik dibanding skema lainnya. Hasil clustering yang menggunakan metode AHC tadi disalin ke dalam direktori yang sesuai dengan label indeks dari tiap clustering yang dihasilkan. Potongan code berikut adalah fungsi menyalin citra hasil clustering ke dalam direktori yang sesuai dengan label indeksnya. Misalnya, indeks hasil clustering berlabel 1 akan disalin ke dalam direktori berlabel 1. %copy hasil clustering citra ke dalam direktori yang sesuai dengan %index clustering for i=1:size(idx) f1=fullfile('c:/program Files/MATLAB71/work/TA/Lab/GMM/H/', int2str(idx(i))); if (exist(f1) == 0) mkdir (f1); end copyfile(nm(i,:),f1); end Berikut ini adalah potongan code yang memanggil fungsi K-Means yang ada pada Matlab. %memanggil fungsi K-Means clustering idx=kmeans(mtr,2,'emptyaction', 'singleton')
15 Pengukuran jarak yang digunakan dalam K-Means adalah euclidean distance. Sama halnya dengan hasil clustering AHC yang disalin ke direktori, hasil clustering K- Means juga disalin ke direktori sesuai dengan indeks hasil clustering. Setelah itu, dilakukan evaluasi hasil clustering yang akan dibahas pada bagian berikutnya. 3.6 EVALUASI HASIL CLUSTERING Setelah proses clustering berakhir, dilakukan evaluasi hasil clustering dengan mengevaluasi isi direktori yang menyimpan citra yang dikelompokan dan melakukan penghitungan jumlah citra yang berhasil masuk ke dalam kelompok yang tepat. Cara penghitungan jumlah citra tersebut adalah sebagai berikut. 1. Buka direktori yang berisi citra hasil clustering satu per satu. 2. Rename nama direktori sesuai dengan nama kategori dengan jumlah citra paling banyak (dominan) yang berada di direktori tersebut. Misalnya, untuk satu direktori yang didominasi oleh citra pinguin, maka ganti nama direktori tersebut menjadi pinguin. 3. Jika citra yang dominan pada satu direktori ternyata sudah menjadi nama dari direktori lain, maka pilih nama citra dominan kedua, dan seterusnya. 4. Lakukan langkah 1-3 sampai semua direktori telah diberi nama. 5. Hitung jumlah citra yang benar berada pada direktori yang sesuai dengan kategorinya. 6. Jumlah total dari citra yang masuk tepat pada direktori adalah jumlah citra yang dikatakan benar dalam proses clustering.
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI Bab ini berisi penjelasan mengenai image clustering, pengukuran kemiripan dan pengukuran jarak, representasi citra, ruang warna, algoritma clustering, dan penelitian yang berhubungan.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengembangan Sistem Pengenalan Wajah 2D
30 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengembangan Sistem Pengenalan Wajah 2D Penelitian ini mengembangkan model sistem pengenalan wajah dua dimensi pada citra wajah yang telah disiapkan dalam
Deteksi dan Klasifikasi Citra Berdasarkan Warna Kulit Menggunakan HSV
Jati Sasongko Wibowo Program Studi Teknik Informatika, Universitas Stikubank email : [email protected] Abstrak Dalam model HSV (Hue Saturation Value) ini digunakan untuk segmentasi warna kulit manusia dan
Histogram Warna Pada Image
Histogram Warna Pada Image Konsep Ruang Warna P(r,g,b) Setiap pixel mempunyai warna yang dinyatakan dalam RGB, sehingga merupakan gabungan nilai R, nilai G dan nilai B yang tidak bisa dipisahkan satu dengan
BAB III METODE PENELITIAN. Tujuan tugas akhir ini akan membangun suatu model sistem yang
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Model Pengembangan Tujuan tugas akhir ini akan membangun suatu model sistem yang melakukan proses data mulai dari pengolahan citra otak hingga menghasilkan output analisa
V. IMPLEMENTASI SISTEM. yang dibutuhkan oleh sistem dari media penyimpan program ke dalam media
V. IMPLEMENTASI SISTEM A. Instalasi Sistem Instalasi sistem temukembali citra adalah proses menggandakan seluruh file yang dibutuhkan oleh sistem dari media penyimpan program ke dalam media penyimpan komputer.
BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN
61 BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN 3.1 Analisis 3.1.1 Analisis Permasalahan Proses Segmentasi citra dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan metode konvensional secara statistik maupun
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dibahas teori yang berkaitan dengan pemrosesan data untuk sistem pengenalan gender pada skripsi ini, meliputi cropping dan resizing ukuran citra, konversi citra
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan studi (state of the art) Berikut penelitian yang telah dilakukan sebelumnya : 1. Penelitian dilakukan oleh Sigit Sugiyanto Feri Wibowo (2015), menjelaskan tentang klasifikasi
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Citra Digital Citra digital merupakan sebuah fungsi intensitas cahaya f(x,y), dimana harga x dan y merupakan koordinat spasial dan harga fungsi f tersebut pada setiap
Pengenalan Pola. K-Means Clustering
Pengenalan Pola K-Means Clustering PTIIK - 2014 Course Contents 1 Definisi k-means 2 Algoritma k-means 3 Studi Kasus 4 Latihan dan Diskusi K-Means Clustering K-Means merupakan salah satu metode pengelompokan
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Citra Digital Citra digital adalah citra yang bersifat diskrit yang dapat diolah oleh computer. Citra ini dapat dihasilkan melalui kamera digital dan scanner ataupun citra yang
BAB III. Metode Penelitian
BAB III Metode Penelitian 3.1 Diagram Alir Penelitian berikut: Diagram blok penelitian yang akan dilakukan dapat digambarkan sebagai Mulai Perancangan Pengumpulan Informasi Analisis Informasi Pembuatan
METODE PENELITIAN. Gambar 2 Metodologi penelitian.
4 penelitian i, kata diasosiasikan dengan anotasi citra (kata) dan dokumen diasosiasikan dengan citra. Matriks kata-citra tersebut didekomposisi meadi : A USV T dengan A adalah matriks kata-citra, matriks
PENERAPAN ALGORITMA K MEANS UNTUK PENENTUAN PENCOCOKAN PEWARNAAN CLUSTERING SECARA OTOMATIS PADA PRODUK FASHION
Konferensi Nasional Ilmu Sosial & Teknologi (KNiST) Maret 2016, pp. 590~595 PENERAPAN ALGORITMA K MEANS UNTUK PENENTUAN PENCOCOKAN PEWARNAAN CLUSTERING SECARA OTOMATIS PADA PRODUK FASHION 590 Indra Gunawan
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Citra Digital 2.1.1 Pengertian Citra Digital Secara umum, citra digital merupakan gambar 2 dimensi yang disusun oleh data digital dalam bentuk sebuah larik (array) yang berisi
BAB 4 HASIL DAN ANALISA
BAB 4 HASIL DAN ANALISA 4. Analisa Hasil Pengukuran Profil Permukaan Penelitian dilakukan terhadap (sepuluh) sampel uji berdiameter mm, panjang mm dan daerah yang dibubut sepanjang 5 mm. Parameter pemesinan
BAB 3 PROSEDUR DAN METODOLOGI. menawarkan pencarian citra dengan menggunakan fitur low level yang terdapat
BAB 3 PROSEDUR DAN METODOLOGI 3.1 Permasalahan CBIR ( Content Based Image Retrieval) akhir-akhir ini merupakan salah satu bidang riset yang sedang berkembang pesat (Carneiro, 2005, p1). CBIR ini menawarkan
KLASIFIKASI TINGKAT KEMATANGAN BUAH PEPAYA (CARICA PAPAYA L) CALIFORNIA (CALLINA-IPB 9) DALAM RUANG WARNA HSV DAN ALGORITMA K-NEAREST NEIGHBORS
KLASIFIKASI TINGKAT KEMATANGAN BUAH PEPAYA (CARICA PAPAYA L) CALIFORNIA (CALLINA-IPB 9) DALAM RUANG WARNA HSV DAN ALGORITMA K-NEAREST NEIGHBORS Sigit Sugiyanto*, Feri Wibowo Program Studi Teknik Informatika
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menggunakan PCA, kemudian penelitian yang menggunakan algoritma Fuzzy C-
8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Studi Pendahuluan Sebelumnya telah ada penelitian tentang sistem pengenalan wajah 2D menggunakan PCA, kemudian penelitian yang menggunakan algoritma Fuzzy C- Means dan jaringan
SEGMENTASI CITRA MENGGUNAKAN K-MEANS DAN FUZZY C- MEANS DENGAN BERBAGAI RUANG WARNA
SEGMENTASI CITRA MENGGUNAKAN K-MEANS DAN FUZZY C- MEANS DENGAN BERBAGAI RUANG WARNA Kamil Malik Jurusan Teknik Informatika STT Nurul Jadid Paiton [email protected] Andi Hutami Endang Jurusan Teknik Informatika
... BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Citra
6 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Citra Citra atau image adalah suatu matriks dimana indeks baris dan kolomnya menyatakan suatu titik pada citra tersebut dan elemen matriksnya (yang disebut sebagai elemen gambar
BAB 3 PENGENALAN KARAKTER DENGAN GABUNGAN METODE STATISTIK DAN FCM
BAB 3 PENGENALAN KARAKTER DENGAN GABUNGAN METODE STATISTIK DAN FCM 3.1 Gambaran Umum Gambar 3.1 Gambar Keseluruhan Proses Secara Umum 73 74 Secara garis besar, keseluruhan proses dapat dikelompokkan menjadi
KULIAH 2 TEKNIK PENGOLAHAN CITRA HISTOGRAM CITRA
KULIAH 2 TEKNIK PENGOLAHAN CITRA HISTOGRAM CITRA Informasi penting mengenai isi citra digital dapat diketahui dengan membuat histogram citra. Histogram citra adalah grafik yang menggambarkan penyebaran
II. TINJAUAN PUSTAKA
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Temu Kembali Citra Temu kembali citra adalah salah satu metodologi untuk penemuan kembali citra berdasarkan isi (content) citra. Citra memiliki informasi karakteristik visual berupa
Pengenalan Telur Berdasarkan Karakteristik Warna Citra Yustina Retno Wahyu Utami 2)
Pengenalan Telur Berdasarkan Karakteristik Warna Citra Yustina Retno Wahyu Utami 2) ISSN : 1693 1173 Abstrak Pengenalan obyek pada citra merupakan penelitian yang banyak dikembangkan. Salah satunya pengenalan
II TINJAUAN PUSTAKA. * adalah operasi konvolusi x dan y, adalah fungsi yang merepresentasikan citra output,
5 II INJAUAN PUSAKA.1 Fitur Scale Invariant Feature ransform (SIF) Fitur lokal ditentukan berdasarkan pada kemunculan sebuah objek pada lokasi tertentu di dalam frame. Fitur yang dimaksudkan haruslah bersifat
Clustering. Virginia Postrel
8 Clustering Most of us cluster somewhere in the middle of most statistical distributions. But there are lots of bell curves, and pretty much everyone is on a tail of at least one of them. We may collect
BAB IV ANALISIS DAN PERANCANGAN
BAB IV ANALISIS DAN PERANCANGAN 4.1. Analisa 4.1.1 Analisis Data Pada tahap analisa data ini akan dibahas mengenai citra CT Scan yang akan dilakukan proses segmentasi atau pengelompokan data. Data citra
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengumpulan dan Praproses Data Kegiatan pertama dalam penelitian tahap ini adalah melakukan pengumpulan data untuk bahan penelitian. Penelitian ini menggunakan data sekunder
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Fuzzy Local Binary Pattern (FLBP) Fuzzifikasi pada pendekatan LBP meliputi transformasi variabel input menjadi variabel fuzzy, berdasarkan pada sekumpulan fuzzy rule. Dalam
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI Pada bab landasan teori ini akan diuraikan mengenai teori-teori yang terkait dengan Content Based Image Retrieval, ekstraksi fitur, Operator Sobel, deteksi warna HSV, precision dan
III METODOLOGI PENELITIAN
13 III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Kerangka Penelitian Penelitian dilakukan dalam lima tahapan utama, yaitu ekstraksi frame video, ekstraksi fitur SIFT dari seluruh frame, pembentukan kantong kata visual
SAMPLING DAN KUANTISASI
SAMPLING DAN KUANTISASI Budi Setiyono 1 3/14/2013 Citra Suatu citra adalah fungsi intensitas 2 dimensi f(x, y), dimana x dan y adalahkoordinat spasial dan f pada titik (x, y) merupakan tingkat kecerahan
IMAGE COLOR FEATURE. Achmad Basuki Politeknik Elektronika Negeri Surabaya
IMAGE COLOR FEATURE Achmad Basuki Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Materi: 1. Image Color Feature 2. Application Using Image Color Feature 3. RGB-Cube 4. Histogram RGB Gabungan Layer Color Indeks
LANDASAN TEORI. 2.1 Citra Digital Pengertian Citra Digital
LANDASAN TEORI 2.1 Citra Digital 2.1.1 Pengertian Citra Digital Citra dapat didefinisikan sebagai sebuah fungsi dua dimensi, f(x,y) dimana x dan y merupakan koordinat bidang datar, dan harga fungsi f disetiap
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan metode penelitian sebagai berikut: 1) Pengumpulan Data Tahap ini dilakukan sebagai langkah awal dari suatu penelitian. Mencari
FUZZY-NEURO LEARNING VECTOR QUANTIZATION (FNLVQ)
BAB 2 FUZZY-NEURO LEARNING VECTOR QUANTIZATION (FNLVQ) Bab ini akan menjelaskan algoritma pembelajaran FNLVQ konvensional yang dipelajari dari berbagai sumber referensi. Pada bab ini dijelaskan pula eksperimen
PERBANDINGAN SEGMENTASI CITRA BERWARNA DENGAN FUZZY CMEANS CLUSTERING PADA BEBERAPA REPRESENTASI RUANG WARNA
PERBANDINGAN SEGMENTASI CITRA BERWARNA DENGAN FUZZY CMEANS CLUSTERING PADA BEBERAPA REPRESENTASI RUANG WARNA Naser Jawas Sistem Komputer STMIK STIKOM Bali Jl Raya Puputan No.86 Renon, Denpasar, Bali 80226
Deteksi Warna. Resty Wulanningrum,S.Kom Universitas Nusantara PGRI Kediri
Thresholding Resty Wulanningrum,S.Kom Universitas Nusantara PGRI Kediri Deteksi Warna Mendeteksi adanya warna-warna tertentu Menentukan posisi pixel dengan warna yang ditentukan Aplikasi: Deteksi rambu-rambu
SEGMENTASI CITRA MENGGUNAKAN PENGHAPUSAN TEKSTUR DAN K-MEANS DENGAN BATASAN RUANG
SEGMENTASI CITRA MENGGUNAKAN PENGHAPUSAN TEKSTUR DAN K-MEANS DENGAN BATASAN RUANG Gama Wisnu Fajarianto 1, Handayani Tjandrasa 2 Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi Institut Teknologi
TUGAS PENGENALAN POLA K-MEANS CLUSTERING. Disusun Oleh : Putrisia Hendra Ningrum Adiaty (06/195033/PA/11129)
TUGAS PENGENALAN POLA K-MEANS CLUSTERING Disusun Oleh : Putrisia Hendra Ningrum Adiaty (06/195033/PA/11129) ELEKTRONIKA DAN INSTRUMENTASI JURUSAN ILMU KOMPUTER DAN ELEKTRONIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
Sesi 3 Operasi Pixel dan Histogram. : M. Miftakul Amin, S. Kom., M. Eng.
Sesi 3 Operasi Pixel dan Histogram Materi Kuliah Dosen : Pengolahan Citra Digital : M. Miftakul Amin, S. Kom., M. Eng. Pokok Bahasan Konversi RGB ke Gray Scale Konversi Gray Scale ke Biner Konversi Gray
BAB IV PENGUJIAN SISTEM. koordinat pada tiap-tiap area, akses pixel, contrast streching, histogram. yang
BAB IV PENGUJIAN SISTEM Sistem yang di ujicoba merupakan dari hasil program yang telah selesai dibuat. Dimulai dari pengambilan citra dari WebCam, pengolahan citra yang dimulai dengan update citra kondisi
BAB 3 ALGORITMA PERENCANAAN SISTEM PENGENALAN PENYAKIT DARAH
29 BAB 3 ALGORITMA PERENCANAAN SISTEM PENGENALAN PENYAKIT DARAH Skripsi ini membahas tentang perencanaan suatu program untuk pengenalan penyakit darah dari sampel citra darah yang digunakan. Data yang
BAB 3 PERANCANGAN SISTEM
21 BAB 3 PERANCANGAN SISTEM Sebelum citra tanda tangan dikenali dengan menggunakan Hidden Markov Model (HMM) citra tanda tangan tersebut ditransmisikan dengan dikompresi menggunakan Run Length Encoding
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Prinsip Kerja Sistem Prinsip kerja sistem diawali dengan pembacaan citra rusak dan citra tidak rusak yang telah terpilih dan dikumpulkan pada folder tertentu.
PENERAPAN SEGMENTASI MULTI KANAL DALAM MENDETEKSI SEL PARASIT PLASMODIUM SP. I Made Agus Wirahadi Putra 1, I Made Satria Wibawa 2 ABSTRAK
Jurnal Dinamika, April 2017, halaman 18-29 P-ISSN: 2087-889 E-ISSN: 2503-4863 Vol. 08. No.1 PENERAPAN SEGMENTASI MULTI KANAL DALAM MENDETEKSI SEL PARASIT PLASMODIUM SP. I Made Agus Wirahadi Putra 1, I
Studi Digital Watermarking Citra Bitmap dalam Mode Warna Hue Saturation Lightness
Studi Digital Watermarking Citra Bitmap dalam Mode Warna Hue Saturation Lightness Evan 13506089 Program Studi Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10, Bandung E-mail : [email protected]
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengenalan ucapan (speech recognition) merupakan sistem yang dirancang untuk dapat mengenali sinyal suara, sehingga menghasilkan keluaran berupa tulisan. Input dari
ANALISIS CLUSTER PADA DOKUMEN TEKS
Text dan Web Mining - FTI UKDW - BUDI SUSANTO 1 ANALISIS CLUSTER PADA DOKUMEN TEKS Budi Susanto (versi 1.3) Text dan Web Mining - FTI UKDW - BUDI SUSANTO 2 Tujuan Memahami konsep analisis clustering Memahami
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN. Warna merupakan ciri dominan yang bisa dibedakan secara visual untuk
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Segmentasi Warna merupakan ciri dominan yang bisa dibedakan secara visual untuk mendapatkan informasi dari basisdata citra. Segmentasi warna adalah proses mengelompokkan citra
BAB III PROSEDUR DAN METODOLOGI. Pada bab ini kita akan melihat masalah apa yang masih menjadi kendala
52 BAB III PROSEDUR DAN METODOLOGI 3.1 ANALISA MASALAH Pada bab ini kita akan melihat masalah apa yang masih menjadi kendala melakukan proses retrival citra dan bagaimana solusi untuk memecahkan masalah
BAB 3 METODE PERANCANGAN
BAB 3 METODE PERANCANGAN 3.1 Konsep dan Pendekatan Tujuan utama yang ingin dicapai dalam pengenalan objek 3 dimensi adalah kemampuan untuk mengenali suatu objek dalam kondisi beragam. Salah satu faktor
HASIL DAN PEMBAHASAN. B fch a. d b
7 dengan nilai σ yang digunakan pada tahap pelatihan sebelumnya. Selanjutnya dilakukan perhitungan tingkat akurasi SVM terhadap citra yang telah diprediksi secara benar dan tidak benar oleh model klasifikasi.
oleh: M BAHARUDIN GHANIY NRP
oleh: M BAHARUDIN GHANIY NRP. 1202 109 022 Teknologi fotografi pada era sekarang ini berkembang sangat pesat. Hal ini terbukti dengan adanya kamera digital. Bentuk dari kamera digital pada umumnya kecil,
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tahapan Penelitian Tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini disajikan pada Gambar 14, terdiri dari tahap identifikasi masalah, pengumpulan dan praproses data, pemodelan
3. BAB III METODE PENELITIAN
3. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimen, dengan tahapan penelitian sebagai berikut: 1. Pengumpulan data Tahap ini dilakukan sebagai langkah
UKDW BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam dunia bisnis pada jaman sekarang, para pelaku bisnis senantiasa selalu berusaha mengembangkan cara-cara untuk dapat mengembangkan usaha mereka dan memperhatikan
DATA MINING DAN WAREHOUSE A N D R I
DATA MINING DAN WAREHOUSE A N D R I CLUSTERING Secara umum cluster didefinisikan sebagai sejumlah objek yang mirip yang dikelompokan secara bersama, Namun definisi dari cluster bisa beragam tergantung
Suatu proses untuk mengubah sebuah citra menjadi citra baru sesuai dengan kebutuhan melalui berbagai cara.
Image Enhancement Suatu proses untuk mengubah sebuah citra menjadi citra baru sesuai dengan kebutuhan melalui berbagai cara. Cara-cara yang bisa dilakukan misalnya dengan fungsi transformasi, operasi matematis,
BAB II TEORI DASAR PENGOLAHAN CITRA DIGITAL
BAB II TEORI DASAR PENGOLAHAN CITRA DIGITAL 2.1 Citra Secara harafiah, citra adalah representasi (gambaran), kemiripan, atau imitasi pada bidang dari suatu objek. Ditinjau dari sudut pandang matematis,
PERANCANGAN DAN PEMBUATAN APLIKASI UNTUK MENDESAIN KARTU UCAPAN
PERANCANGAN DAN PEMBUATAN APLIKASI UNTUK MENDESAIN KARTU UCAPAN Rudy Adipranata 1, Liliana 2, Gunawan Iteh Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Informatika, Universitas Kristen Petra Jl. Siwalankerto
BAB 3 PENGENALAN WAJAH
28 BAB 3 PENGENALAN WAJAH DENGAN PENGENALAN DIMENSION WAJAH BASED DENGAN FNLVQ DIMENSION BASED FNLVQ Bab ini menjelaskan tentang pemodelan data masukan yang diterapkan dalam sistem, algoritma FNLVQ secara
TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 4 Pengolahan Titik (2) Indah Susilawati, S.T., M.Eng.
TEKNIK PENGOLAHAN CITRA Kuliah 4 Pengolahan Titik (2) Indah Susilawati, S.T., M.Eng. Program Studi Teknik Informatika Program Studi Sistem Informasi Fakultas Teknologi Informasi Universitas Mercu Buana
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Citra Citra (image) sebagai salah satu komponen multimedia memegang peranan sangat penting sebagai bentuk informasi visual. Citra mempunyai karakteristik yang tidak dimiliki oleh
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dibahas teori yang berkaitan dengan pemrosesan data untuk sistem pendeteksi senyum pada skripsi ini, meliputi metode Viola Jones, konversi citra RGB ke grayscale,
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENEITIAN 3. Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data citra tenun yang berasal dari beberapa daerah yang ada di indonesia, yakni tenun dari daerah Bali, Sumatra,
BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM
BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM Bab ini menjelaskan tentang analisa data, rancangan sistem, dan skenario pengujian. Bagian analisa data meliputi data penelitian, analisis data, data preprocessing.
PEMANFAATAAN BIOMETRIKA WAJAH PADA SISTEM PRESENSI MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK
PEMANFAATAAN BIOMETRIKA WAJAH PADA SISTEM PRESENSI MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK Program Studi Matematika FMIPA Universitas Negeri Semarang Abstrak. Saat ini, banyak sekali alternatif dalam
BAB III PENGOLAHAN DATA
BAB III PENGOLAHAN DATA 3.1. Algoritma Pengolahan Data Algoritma pengolahan data ini merupakan tahapan-tahapan logis dari pengerjaan olah data penelitian yang hasilnya berupa angka-angka parameter yang
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
26 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengukuran Parameter Mutu Jeruk Pontianak Secara Langsung Dari Hasil Pemutuan Manual Pemutuan jeruk pontianak secara manual dilakukan oleh pedagang besar dengan melihat diameter
ANALISIS CLUSTER PADA DOKUMEN TEKS
Budi Susanto ANALISIS CLUSTER PADA DOKUMEN TEKS Text dan Web Mining - FTI UKDW - BUDI SUSANTO 1 Tujuan Memahami konsep analisis clustering Memahami tipe-tipe data dalam clustering Memahami beberapa algoritma
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN
4 BAB HASIL DAN PEMBAHASAN Ada tiga tahap utama yang dilakukan pada percobaan ini yaitu ektraksi ciri, pelatihan dan pengujian JST. Percobaan dilakukan dengan mengkombinasikan data hasil ekstraksi ciri
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN Pada bab pendahuluan ini akan diuraikan penjelasan mengenai latar belakang penelitian, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metodologi penelitian dan
Aplikasi Pengolahan Citra DETEKSI WARNA. Achmad Basuki PENS-ITS, 26 Des 2006
Aplikasi Pengolahan Citra DETEKSI WARNA PENS-ITS, 26 Des 2006 Materi Format Warna RGB r-gcolor Normalized RGB HSV YCrCb TSL Deteksi Warna Static Threshold Distance Threshold Dynamic Threshold Format Warna
Grafik Komputer dan Pengolahan Citra. Pengolahan Citra : Representasi Citra. Universitas Gunadarma Pengolahan Citra : Representasi Citra 1/16
Pengolahan Citra : Representasi Citra Universitas Gunadarma 006 Pengolahan Citra : Representasi Citra /6 Representasi Citra dalam File (/3) Pertama-tama seperti halnya jika kita ingin melukis sebuah gambar,
PERBANDINGAN RUANG WARNA PADA PENGOLAHAN INFORMASI WARNA UNTUK SEGMENTASI CITRA MENGGUNAKAN NEUTROSOPHIC SET
PERBANDINGAN RUANG WARNA PADA PENGOLAHAN INFORMASI WARNA UNTUK SEGMENTASI CITRA MENGGUNAKAN NEUTROSOPHIC SET Monica Widiasri Teknik Informatika, Fakultas Teknik, Universitas Surabaya [email protected]
BAB III METODE PENELITIAN. tracking obyek. Pada penelitian tugas akhir ini, terdapat obyek berupa bola. Gambar 3.1. Blok Diagram Penelitian
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam pengerjaan Tugas Akhir ini adalah studi literatur, pembuatan program serta melakukan deteksi dan tracking obyek. Pada
KLASIFIKASI KUALITAS TELUR ASIN BERDASARKAN CITRA RED GREEN BLUE MENGGUNAKAN ADAP TIVE NEURO FUZZY INFERENCE SYSTEM
KLASIFIKASI KUALITAS TELUR ASIN BERDASARKAN CITRA RED GREEN BLUE MENGGUNAKAN ADAP TIVE NEURO FUZZY INFERENCE SYSTEM Maimunah Program Studi Teknik Komputer Universitas Islam 45 Email: [email protected]
Drawing, Viewport, dan Transformasi. Pertemuan - 02
Drawing, Viewport, dan Transformasi Pertemuan - 02 Ruang Lingkup Definisi Drawing Viewport Transfomasi Definisi Bagian dari grafik komputer meliputi: 1. Citra (Imaging) : mempelajari cara pengambilan dan
METODE CLUSTERING DENGAN ALGORITMA K-MEANS. Oleh : Nengah Widya Utami
METODE CLUSTERING DENGAN ALGORITMA K-MEANS Oleh : Nengah Widya Utami 1629101002 PROGRAM STUDI S2 ILMU KOMPUTER PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA SINGARAJA 2017 1. Definisi Clustering
BAB III METODE PENELITIAN. ada beberapa cara yang telah dilakukan, antara lain : akan digunakan untuk melakukan pengolahan citra.
BAB III METODE PENELITIAN Untuk pengumpulan data yang diperlukan dalam melaksanakan tugas akhir, ada beberapa cara yang telah dilakukan, antara lain : 1. Studi Kepustakaan Studi kepustakaan berupa pencarian
Algoritma Kohonen dalam Mengubah Citra Graylevel Menjadi Citra Biner
Jurnal Ilmiah Teknologi dan Informasia ASIA (JITIKA) Vol.9, No.2, Agustus 2015 ISSN: 0852-730X Algoritma Kohonen dalam Mengubah Citra Graylevel Menjadi Citra Biner Nur Nafi'iyah Prodi Teknik Informatika
APLIKASI CONTENT BASED IMAGE RETRIEVAL DENGAN FITUR WARNA DAN BENTUK
APLIKASI CONTENT BASED IMAGE RETRIEVAL DENGAN FITUR WARNA DAN BENTUK Arwin Halim 1, Hardy 2, Alvin Yufandi 3, Fiana 4 Program Studi Teknik Informatika, STMIK Mikroskil Jl. Thamrin No. 122, 124, 140 Medan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Persiapan Tahap persiapan merupakan tahapan penting dalam penelitian tugas akhir ini. Proses ini sangat berpengaruh terhadap hasil akhir penellitan. Pada tahap ini dilakukan
BAB III PEMBAHASAN. harga minyak mentah di Indonesia dari bulan Januari 2007 sampai Juni 2017.
BAB III PEMBAHASAN Data yang digunakan dalam bab ini diasumsikan sebagai data perkiraan harga minyak mentah di Indonesia dari bulan Januari 2007 sampai Juni 2017. Dengan demikian dapat disusun model Fuzzy
KULIAH 1 TEKNIK PENGOLAHAN CITRA PENGANTAR MATRIKS
KULIAH TEKNIK PENGOLAHAN CITRA PENGANTAR MATRIKS Matriks merupakan sebuah susunan segiempat siku-siku dari bilanganbilangan, dalam baris dan kolom. Bilangan-bilangan tersebut disebut entri atau elemen
SEGMENTASI WARNA PADA BATIK MENGGUNAKAN PENDEKATAN HSV DENGAN TEKNIK LINKAGE
SEGMENTASI WARNA PADA BATIK MENGGUNAKAN PENDEKATAN HSV DENGAN TEKNIK LINKAGE Widi Hapsari 1,Nugroho Agus Haryono 2 1 Prodi Teknik Informatika, Universitas Kristen Duta Wacana, Indonesia 1 [email protected]
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Citra Citra menurut kamus Webster adalah suatu representasi atau gambaran, kemiripan, atau imitasi dari suatu objek atau benda, contohnya yaitu foto seseorang dari kamera yang
BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
84 BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI Pada bab ini akan dibahas mengenai implementasi sistem yaitu spesifikasi sistem dan cara menggunakan aplikasi segmentasi citra dengan menggunakan metode Fuzzy C- Means
BAB 3 IMPLEMENTASI SISTEM
BAB 3 IMPLEMENTASI SISTEM Bab ini akan membahas mengenai proses implementasi dari metode pendeteksian paranodus yang digunakan dalam penelitian ini. Bab ini terbagai menjadi empat bagian, bagian 3.1 menjelaskan
BAB III ANALISIS METODA
BAB III ANALISIS METODA Bab ini menjelaskan tahap analisis dan perancangan yang dilakukan dalam implementasi aplikasi dan metoda transformasi warna untuk buta warna. III.1 Analisis Transformasi Warna Saat
APLIKASI PENGENALAN DAUN UBI JALAR UNTUK JENIS UBI JALAR UNGU, MERAH, PUTIH DAN KUNING MENGGUNAKAN METODE PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS
APLIKASI PENGENALAN DAUN UBI JALAR UNTUK JENIS UBI JALAR UNGU, MERAH, PUTIH DAN KUNING MENGGUNAKAN METODE PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS SKRIPSI Diajukan Untuk Penulisan Skripsi Guna Memenuhi Salah Satu
Indarto 1, Murinto 2, I. PENDAHULUAN. Kampus III UAD Jl.Dr.Soepomo, Janturan, Yogyakarta
Deteksi Kematangan Buah Pisang Berdasarkan Fitur Warna Citra Kulit Pisang Menggunakan Metode Transformasi Ruang Warna HIS (Banana Fruit Detection Based on Banana Skin Image Features Using HSI Color Space
Review : Definisi Clustering. Metode untuk menemukan kelompok pada data berdasarkan kriteria tertentu.
Clustering Kmeans Review : Definisi Clustering Metode untuk menemukan kelompok pada data berdasarkan kriteria tertentu. K Means K Means clustering adalah metode untuk mengelompokkan item ke dalam k kelomopk
