BAB VII ANTESEDEN BERPERILAKU ESB

dokumen-dokumen yang mirip
BAB VI ECO-SPATIAL BEHAVIOR PENGHUNIAN RUMAH SUSUN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB V EVALUASI PASCAHUNI

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. diperkenalkan oleh Fred D. Davis. Davis et al. (1989) menyebutkan bahwa TAM

--~ -=- Orasi llmiah. Perilaku Spasial yang Ekologis Masyarakat Perkotaan. Dr. lr. Bambang Deliyanto, M.Si. Wisuda Periode Ill Tahun 2013 ' ) -~

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDEKATAN ECO-SPATIAL BEHAVIOR PENGHUNIAN RUMAH SUSUN KOTA BARU BANDAR KEMAYORAN BAMBANG DELIYANTO

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Theory of Planned Behavior Fishbein dan Ajzen

BAB I PENDAHULUAN. sosial dan budaya. Perubahan-perubahan ini turut mempengaruhi proses

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Theory of Planned Behavior (TPB) tampaknya sangat cocok untuk menjelaskan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ajzen yang merupakan penyempurnaan dari reason action theory yang

BAB IV KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. sudah beberapa kali mengalami perubahan. Pada tanggal 1 Maret 2005, BBM jenis Premium dan Solar kembali dinaikkan.

III KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II LANDASAN TEORI. memperkirakan perilaku dari pengukuran sikap. Teori ini dinamakan reason action karena

Kesimpulannya, intensi seseorang terhadap perilaku tertentu dipengaruhi oleh tiga variabel yaitu sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku (Ajzen

BAB I PENDAHULUAN. biasa disebut academic dishonesty sudah tidak dapat terelakkan lagi di kalangan

Bab 2. Landasan Teori

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Skripsi merupakan karya tulis ilmiah dari hasil penelitian yang dilakukan

ABSTRAK. iii Universitas Kristen Maranatha

BAB II LANDASAN TEORI. Llabel adalah bagian dari sebuah barang yang berupa keterangan (kata-kata) tentang

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TAX COMPLIANCE PENYETORAN SPT MASA (Survei pada Pengusaha Kena Pajak yang terdaftar di KPP Pratama Boyolali)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II KAJIAN PUSTAKA

II KERANGKA TEORITIS DAN HIPOTESIS

Abstrak. Kata kunci : intensi berwirausaha. Fak. Psikologi - Universitas Kristen Maranatha

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN Teori Perilaku Terencana (Theory Of Planned Behavior)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil pengujian dan pembahasan dalam penelitian ini, dapat

BAB II LANDASAN TEORI

KEPPRES 49/2001, PENATAAN LEMBAGA KETAHANAN MASYARAKAT DESA ATAU SEBUTAN LAIN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pembahasan dalam penelitian ini didasarkan pada penelitian-penelitian

PEMERINTAH KABUPATEN SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 11 TAHUN 2007

BAB I PENDAHULUAN. manual (kertas). Pengumpulan data secara manual dapat mengurangi

BAB VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI PENELITIAN. berupa kontribusi dalam keilmuan dan implikasi kebijakan. Masing-masing

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bab tinjauan pustaka ini terdiri dari dua Sub Bab yaitu Sub Bab 2.1 Landasan

BAB 1 PENDAHULUAN. negara. Tugas Direktorat Jendral Pajak (Ditjen Pajak) adalah senatiasa. untuk melakukan peningkatan jumlah penerimaan pajak.

BAB I PENDAHULUAN. dikaji. Sejauh ini Negara memiliki dua sumber pendapatan yaitu pendapatan

Karakteristik Keluarga : Besar Keluarga Pendidikan Suami Pekerjaan Suami Pendapatan Keluarga Pengeluaran Keluarga. Persepsi Contoh terhadap LPG

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR TAHUN TENTANG

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BUPATI BANYUMAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUMAS NOMOR 13 TAHUN 2000 TENTANG PEMBENTUKAN LEMBAGA ADAT DAN/ATAU KEMASYARAKATAN DI DESA

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2001 TENTANG PENATAAN LEMBAGA KETAHANAN MASYARAKAT DESA ATAU SEBUTAN LAIN

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN PAJAK USAHA KECIL MENENGAH (UKM)

BAB II LANDASAN TEORI. 1. Teori Perilaku Beralasan ( Theory Of Reasoned Action)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 6 HASIL PENELITIAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB II LANDASAN TEORI. Setiap masyarakat selalu mengembangkan suatu sistem dalam

BAB 4 METODE PENELITIAN. Kerangka operasional kerja; 9) Etika penelitian. di SDN Dukuh Kupang II 489 Kecamatan Dukuh Pakis Kelurahan Dukuh

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN LEMBAGA KEMASYARAKATAN DI KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Daftar Isi. Halaman Judul... i. Lembar Persetujuan Ujian Skripsi... ii Lembar Persetujuan Skripsi... iii Halaman Pernyataan Orisinalitas Skripsi...

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BUPATI LUWU UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. memecahkan permasalahan dalam penelitian Teori Perilaku Terencana (Theory Of Planned Behaviour)

LEMBARAN DAERAH KOTA TANGERANG

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2 Model Theory of Reason Action (TRA) (Sumber : Fishbein dan Ajzen 1975)

BAB I PENDAHULUAN. berkembang pesat dibandingkan dengan waktu waktu sebelumnya, misalnya

BAB I PENDAHULUAN. Kehamilan adalah masa yang unik dalam hidup seorang wanita, yaitu keadaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Intensi Berwirausaha. tindakan dan merupakan unsur yang penting dalam sejumlah tindakan, yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Intensi Merokok

Studi Mengenai Intensi Membuang Sampah di Sungai Cikapundung pada Ibu-Ibu RW 15 Kelurahan Tamansari Bandung. ¹Raisha Ghassani, ²Umar Yusuf

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PEMERINTAH KABUPATEN PONOROGO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PONOROGO NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN KELURAHAN

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN NIAT MAHASISWA KOS UNTUK BERPERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI TEMBALANG SEMARANG ABSTRACT

KEPALA DESA NITA KABUPATEN SIKKA PERATURAN DESA NITA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA NITA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Kajian Mengenai Penerimaan Teknologi dan Informasi Menggunakan Technology Accaptance Model (TAM)

Faktor penentu : Internal : persepsi, sikap, nilai, motivasi, proses belajar, gaya hidup Eksternal : budaya/norma, nilai sosial, kelompok 3/3/2011 2

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan manusia yang berjiwa kreatif, inovatif, sportif, dan wirausaha.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. organisasi tersebut seharusnya kongruen dengan nilai-nilai yang ada

Sikap adalah sekelompok keyakinan dan perasaan yang melekat tentang. objek tertentu dan kecenderungan untuk bertindak terhadap objek tersebut

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Indeks Pembangunan Manusia (IPM), sedangkan ukuran kesejahteraan masyarakat. sasaran yang membutuhkan layanan (Depkes RI, 2006).

PERATURAN WALIKOTA PRABUMULIH NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN RUKUN WARGA DAN RUKUN TETANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN BUPATI BEKASI NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN RUKUN TETANGGA (RT) DAN RUKUN WARGA (RW) DI KABUPATEN BEKASI

WALIKOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. keputusan yang tepat bagi para penggunanya. Akuntansi (SIA). SIA adalah sebuah sistem informasi yang menangani segala

Transkripsi:

Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 161 BAB VII ANTESEDEN BERPERILAKU ESB Anteseden adalah suatu kondisi yang mendahului seseorang berperilaku, termasuk perilaku spasial yang ekologis (ESB). Anteseden dilihat dari perilaku vosional (perilaku yang dilakukan atas kemauan sendiri) terhadap ESB, maka dapat diprediksikan intensi seseorang untuk berperilaku ESB. Dasar teori perilaku vosional seseorang menurut Ajzen (1988) adalah tindakan dengan dasar teori tindakan beralasan dan tindakan dengan dasar teori tindakan terencana Azjen (1988), teori tindakan beralasan (theory of reasoned action) didasarkan pada asumsi-asumsi: a) bahwa manusia umumnya melakukan sesuatu dengan cara-cara yang masuk akal, b) bahwa manusia mempertimbangkan semua informasi yang ada, dan c) bahwa secara eksplisit maupun implisit, manusia berperilaku memperhitungkan implikasi dari tindakan mereka. Oleh karena itu intensi seseorang menurut teori tindakan beralasan adalah dipengaruhi oleh sikap individu terhadap perilaku dan norma-norma subyektif berupa persepsi individu terhadap tekanan sosial untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Teori tindakan terencana (theory of planned behavior), intensi seseorang selain dipengaruhi oleh sikap individu terhadap perilaku dan persepsi seperti yang disebut dalam teori tindakan beralasan, juga dipengaruhi adanya kontrol tindakan yang dihayati (perceived behavior control), seperti seting spasial lingkungan hunian, tata aturan penghunian rumah susun, kemudahan dan adanya kesempatan melakukan. Bila merujuk pendapat Kurt Lewin (1951) yang dikutip Brigham (1991) bahwa perilaku (B) adalah fungsi karakteristik individu (P) dan lingkungan (E) atau B=f (P,E), maka anteseden dapat dikategorikan ke dalam dua kategori tersebut yaitu faktor eksternal berupa kondisi lingkungan dan faktor internal berupa karakteristik individu. Kontrol tindakan atau perilaku dan norma-norma yang ada dikategorikan sebagai faktor eksternal, sedangkan yang terkait dengan sikap baik keyakinan akan hasil perilaku maupun sikap yang spesifik individu dikategorikan sebagai faktor internal. Secara skematik dasar teori tindakan dan kategori anteseden ESB dapat ditunjukkan seperti gambar berikut:

162 Bambang Deliyanto Gambar 7.1 Skema anteseden penghuni berperilaku ESB Dari uraian dan skema tersebut di atas disusun atribut anteseden penghuni berperilaku ESB, dan untuk mengetahui atribut mana yang menjadi anteseden seseorang dalam berperilaku ESB dapat dilakukan melalui analisis Biplot. Secara rinci atribut anteseden berperilaku ESB dapat dilihat pada Tabel 7.1.

Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 163 Tabel 7.1. Atribut dan Komponen Berperilaku ESB Atribut dan Komponen Berperilaku ESB Atribut anteseden penghuni berperilaku ESB A. Kesadaran/komitmen terhadap Lingkungan (Community Consensus) Dasar Teori Teori tindakan beralasan (sikap spesifik) B. Kemampuan adaptasi penghunian Teori tindakan beralasan (sikap spesifik) C. Seting spasial lingkungan hunian yang mendukung Teori tindakan terencana (kontrol tindakan) D. Tata aturan penghunian Teori tindakan terencana (kontrol tindakan) E. Pengalaman orang lain Teori tindakan terencana dan Teori tindakan beralasan (keyakinan akan hasil tindakan) F. Manfaat hasil Teori tindakan terencana (keyakinan akan hasil tindakan) G. Norma yang mewajibkan (tekanan sosial) akan pemeliharaan lingkungan Teori tindakan terencana (norma-norma subyektif) H. Kemudahan melakukan Teori tindakan terencana dan Teori tindakan beralasan (keyakinan akan hasil tindakan) J. Ada/tidaknya kesempatan untuk melakukan Komponen ESB ESB 1 = Pelestarian Lingkungan ESB 2 = Coping Lingkungan ESB 3 = Motivasi untuk sejatera ESB 4 = Aktif Berorganisasi Teori tindakan terencana (kontrol tindakan) Data yang diperoleh dari responden berupa data persepsi penghuni terhadap atribut anteseden dan persepsi terhadap komponen ESB. Kedua data tersebut dicari nilai Mean nya kemudian ditabulasi-silangkan (cross tab) dengan program SPSS, kemudian data tersebut dianalisis Biplot. Adapun data tersebut adalah sebagai berikut: Tabel 7.2. Data Anteseden Penghuni Berperilaku ESB Anteseden A B C D E F G H J ESB 1 4.02 3.61 3.28 3.52 3.74 3.78 3.73 3.24 3.5 ESB 2 4.05 3.61 3.33 3.54 4.09 4.19 4.32 3.95 3.6 ESB 3 4.01 3.61 3.3 3.51 4.18 4.5 3.85 2.83 1.75 ESB 4 4.11 3.63 3.31 3.55 2.54 2.57 2.53 2.51 1.28 Catatan: A s/d J lihat atribut anteseden pada Tabel 7.1 Data diolah dengan skala 5

164 Bambang Deliyanto Analisis Biplot yang terlihat pada Gambar 7.2 dapat diketahui bahwa komponen ESB dipengaruhi oleh atribut-atribut anteseden yang vektornya mempunyai sudut yang tajam. Semakin runcing sudut yang terbentuk semakin kuat hubungan positifnya, semakin tumpul sudut yang Gambar 7.2 Biplot anteseden berperilaku ESB terbentuk mempunyai hubungan yang negatif, dan jika sudut yang terbentuk 90 0 (siku-siku) mengindikasikan tidak adanya hubungan, jadi dari Gambar 7.2 tersebut dapat menunjukkan bahwa upaya coping lingkungan (ESB 2) dan perilaku melestarikan lingkungan (ESB 1) mempunyai hubungan positif Gambar 7.3 Biplot anteseden ABCD terhadap ESB dengan atribut ada tidaknya kesempatan untuk melakukan ESB 1 dan ESB 2 (atribut J), kemudahan melakukan ESB 1 dan ESB 2 (atribut H), dan adanya norma yang mewajibkan (tekanan sosial) akan pemeliharaan lingkungan (G). Temuan ini dapat diartikan bahwa atribut J, H, dan G merupakan kondisi awal (anteseden) yang menstimulus seseorang berperilaku ESB 1 dan ESB 2. Anteseden yang mendahului adanya motivasi penghuni meningkatkan kesejahteraan (ESB 3) adalah keyakinan akan keberhasilan melakukan perilaku (atribut E) seperti tindakan meningkatkan kualitas rumah, penghasilan, kesehatan, kesenangan dan pengetahuan penghunian rumah susun. ESB 3 juga distimulus oleh manfaat yang dirasakan dari hasil seseorang berperilaku ESB (atribut F) seperti manfaat dari tindakan meningkatkan kualitas rumah, penghasilan, kesehatan, kesenangan dan pengetahuan penghunian rumah susun. ESB 4 atau keaktifan dalam berorganisasi, tidak satupun atribut anteseden yang mempengaruhi, jawaban penghuni berada di kuadran yang berseberangan untuk atribut E, F, G, H, dan J. Atribut anteseden A, B, C, dan D

Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 165 relatif seragam atau mempunyai keberagaman yang relatif sama terhadap seluruh komponen ESB 1, ESB 2, ESB 3, maupun ESB 4, karena atribut ABCD relatif berada mendekati titik pusat. Namun bila analis Biplot dilakukan khusus atribut ABCD terhadap keempat komponen ESB didapat hasil bahwa keaktifan berorganisasi (ESB 4) distimulus atau didahului dengan kondisi kesadaran akan lingkungan (atribut A), kemampuan adaptasi penghuni (atribut B), dan tata aturan penghunian (atribut D). Perilaku ESB 2 (coping lingkungan) sangat dipengaruhi atribut C yaitu seting spasial lingkungan hunian, untuk ESB 1 (pelestarian lingkungan) dan ESB 3 (motivasi untuk sejahtera) tidak ada satupun atribut A, B, C, dan D yang dekat, dengan kata lain bahwa penghuni rumah susun berperilaku ESB 1 dan ESB 3 tidak didahului dengan kondisi atribut A, B, C, dan D (lihat Gambar 7.3). Uraian tersebut di atas menggambarkan bahwa masing-masing komponen ESB mempunyai lebih dari satu atribut anteseden yang menjadi kondisi awal yang menstimulus masing-masing komponen ESB. Secara skematis atribut anteseden yang mempunyai hubungan dengan komponen ESB dapat dilihat pada Gambar 7.4. Pelestarian Lingkungan (ESB 1) Coping Lingkungan (ESB 2) A B C D E F G H J Motivasi Sejahtera (ESB 3) Berkelembagaan (ESB 4) A. Kesadaran/komitmen terhadap Lingkungan (Community Consensus) B. Kemampuan adaptasi penghunian C. Seting spasial lingkungan hunian yang mendukung D. Tata aturan penghunian E. Pengalaman orang lain F. Manfaat hasil G. Norma yang mewajibkan (tekanan sosial) akan pemeliharaan lingkungan H. Kemudahan melakukan J. Ada/tidaknya kesempatan untuk melakukan Gambar 7.4 Hubungan komponen ESB terhadap atribut anteseden

166 Bambang Deliyanto Tindakan pelestarian lingkungan (ESB 1) lebih distimulus oleh atribut anteseden norma-norma subyektif seperti adanya norma sosial yang mewajibkan warga harus bergotong-royong memelihara lingkungan dan atribut anteseden kemudahan melakukan dibandingkan dengan kesadarannya terhadap lingkungan, ataupun adanya seting spasial maupun aturan hunian. Penghuni atau warga lebih takut terhadap sanksi sosial (seperti digunjingkan, didiamkan tetangga) dalam tindakan memelihara lingkungan dibandingkan dengan melakukan pemeliharaan lingkungan karena ketaatannya terhadap aturan penghunian, hal ini dapat dilihat Gambar 6.10 (Sikap dan tindakan penghuni rumah susun dalam berperilaku ESB) yang telah dibahas pada bab sebelumnya dan Tabel 7.3 dapat memberikan gambaran bahwa nilai sikap pelestarian (3.75) lebih rendah dibandingkan dengan tindakannya dalam pelestarian lingkungan (4.4). Begitu pula terhadap seting spasial, warga masih senang membuang sampah tidak pada tempatnya walaupun seting spasial telah menyediakan tempat pembuangan sampah, tetapi melalui aturan yang ada tindakan mereka tetap mau bergotong-royong membersihkan lingkungan. Perilaku coping lingkungan (ESB 2) baik dalam bentuk adjustment atau adaptasi, coping mental maupun coping fisik, perilaku ini justru tidak dikondisikan oleh kemampuan atau kesiapan individu dalam beradaptasi melainkan dikondisikan atau distimulus karena adanya seting spasial yang tidak sesuai dengan keinginan penghuni, aturan boleh tidaknya bagian bangunan yang dibongkar, pengalaman tetangga dalam menata unit hunian rumah susun, serta manfaatnya setelah ditata ulang, kemudahan penataan rumah susun dalam melaksanakan, dan kesempatan dari sisi keuangan. Tabel 7.3. Perbandingan antara sikap dan tindakan berperilaku ESB KOMPONEN ESB E S B Sikap Tindakan Pelestarian Lingkungan 3.75 4.4 Adaptasi Lingkungan 4.09 3.62 Peningk. Kua. Lingk 4.18 2.95 Berorganisasi 2.54 1.27 Gambaran kondisi ESB 2 tersebut di atas juga didukung temuan pada Gambar 6.10 (Sikap dan tindakan penghuni rumah susun dalam berperilaku ESB) dan Tabel 7.3 yang memberikan gambaran bahwa tindakan baik adaptasi

Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 167 lingkungan maupun peningkatan kualitas lingkungan masih lebih rendah dari sikap adaptasi lingkungan dan sikap peningkatan kualitas lingkungan. Normanorma subyektif lebih menstimulus coping mental penghuni rumah susun, seperti kerukunan penghuni rumah susun. Motivasi sejahtera (ESB 3) penghuni lebih distimulus oleh atribut anteseden pengalaman orang lain dan manfaat yang diperoleh dalam memenuhi kesejahteraan dan norma subyektif tentang kesejahteraan dibandingkan dengan atribut anteseden lainnya seperti kepedulian lingkungan, seting spasial, dan lainnya. Perilaku dalam berkelembagaan penghuni (ESB 4) lebih distimulus oleh atribut anteseden kesadaran lingkungan, kemampuan adaptasi dan tata aturan penghunian dibandingkan dengan atribut anteseden lainnya. Tata aturan tinggal di rumah susun mewajibkan warganya berhimpun dalam perhimpunan penghuni, masing-masing Blok rumah susun (Apron, Boing, Conver dan Dakota) mempunyai perhimpunan penghuni. Untuk efisiensi kelembagaan, warga rumah susun Kemayoran sepakat bahwa Ketua RW merangkap menjadi Ketua perhimpunan penghuni, hal ini yang menghambat kinerja perhimpunan penghuni karena Ketua perhimpunan penghuni harus juga menjalankan tugas-tugas pokok administrasi kependudukan diluar tugas pokoknya sebagai pengelola property. Berdasarkan analisis Biplot tersebut di atas, maka dapat dianalisis pula keterkaitan antar komponen ESB adalah bahwa interaksi sosial yang dikoordinasi oleh kelembagaan perhimpunan penghuni seperti melakukan perawatan lingkungan hunian rumah susun maupun kegiatan lainnya dapat mendorong penghuni berperilaku melestarikan lingkungan. Adanya interaksi sosial dalam suatu kelembagaan juga dapat mendorong motivasi penghuni untuk mencapai kesejahteraan yang lebih baik, serta dapat mendorong penghuni lebih mudah dalam melakukan coping lingkungan. Coping lingkungan baik dalam bentuk adjustment maupun adaptasi dapat lebih mudah dilakukan (atribut anteseden H) atas dorongan motivasi dan lingkungan yang lestari akibat perilaku penghuni dalam melestarikan lingkungan. Dari analisis terdahulu dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan penghuni berperilaku melestarikan lingkungan adalah melalui interaksi sosial yang dilembagakan baik secara formal maupun non formal dengan memperhatikan atribut-atribut anteseden penghuni berperilaku ESB, seperti yang terlihat pada Gambar 7.5.

168 Bambang Deliyanto H Coping Lingkungan (ESB 2) J E C D F Interaksi sosial/ Berkelembagaan (ESB 4) Pelestarian Lingkungan (ESB 1) G A B Motivasi Sejahtera (ESB 3) Gambar 7.5 Keterkaitan antar komponen ESB dan atributnya