BAB III METODE PENELITIAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB III METODE PENELITIAN"

Transkripsi

1 Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 69 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Pemilihan Lokasi dan Waktu Penelitian Pemilihan Lokasi Penelitian dilakukan di KBBK yang terletak di Kecamatan Kemayoran Jakarta Pusat. Lahan di Kota Baru Bandar Kemayoran merupakan lahan kosong seluas 454 ha ex Bandara Internasional Kemayoran yang dipindahkan ke Cengkareng. Lahan kosong seluas 454 ha tersebut dijadikan momen untuk menata permukiman kumuh sebanyak Kepala Keluarga (pemilik, penyewa, dan penggarap) di sekitar wilayah tersebut. Lahan ini berada di Kelurahan Gunung Sahari selatan, Pademangan Timur dan Kebon Kosong (Gambar 3.1). Permukiman rumah susun Kota Baru Bandar Kemayoran dijadikan tempat penelitian, dengan alasan: a. Merupakan kawasan peremajaan lingkungan perkotaan yang cukup luas (454 ha) yang dijadikan momen untuk menata permukiman kumuh. Penataan ini didesain agar penduduk asli dapat menghuni kembali kawasan ini. b. Rumah susun sederhana yang dipilih mempunyai variasi tipe, dan merupakan salah satu kelas rumah susun KBBK yang terdiri dari kelas mewah (3.350 unit), menengah ( unit) dan sederhana ( unit) baik untuk dimiliki maupun disewa. c. Rumah susun KBBK merupakan rumah susun generasi kedua yang dibangun setelah rumah susun milik (rusunami) Klender dan Tanah Abang. Berbeda dengan rumah susun generasi satu, rumah susun gererasi dua ini sudah mempertimbangkan lantai dasar dimanfaatkan sebagai fasilitas umum, sama dengan kebijakan pemerintah yang akan membangun tower rusunami. Lokasi penelitian terpilih difokuskan pada kelompok masyarakat yang menghuni unit rumah susun sederhana 1 yang dibangun oleh Perum Perumnas (Gambar 3.1). 1 Rumah susun yang tidak mempunyai fasilitas lift (walk up Flat), maksimum 4 lantai atau 5 lantai dengan syarat lantai 1 untuk fasilitas umum

2 70 Bambang Deliyanto U Tanpa Skala DKI Jakarta Bandar Kemayoran Lokasi Penelitian Gambar 3.1 Lokasi penelitian Waktu Penelitian Januari 2010 Penelitian lapangan dilakukan mulai Oktober 2009 sampai dengan 3.2. Jenis Data Pendukung dan Karakteristik Responden Jenis data mencakup karakteristik responden, struktur lingkungan permukiman (seting fisik, kondisi sosial, ekonomi dan budaya), dan data pendukung lainnya (Tabel 3.1)

3 Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 71 Tabel 3.1 Jenis data pendukung dan karakteristik responden NO JENIS DATA UNIT SUMBER DATA KEGUNAAN/TUJUAN A KARAKTERISTIK RESPONDEN 1. Umur & jenis kelamin 2. Jenis pekerjaan 3. Jenjang pendidikan 4. Blok yang ditempati 5. Lama tinggal di rusun 6. Asal tinggal sebelumnya 7. Status penghunian 8. Kepemilikan unit sarusun Responden Mengetahui karakteristik responden B STRUKTUR LINGKUNGAN PERMUKIMAN 1. Seting spasial lingk. Permukiman (ekosistem permukiman) a. Rencana Tata Ruang /masterplan b. Jumlah dan tipe unit sarusun c. Koef. Dasar Bangunan d. Koef. Lantai Bangunan e. Koef. Ruang Terbuka Hijau f. Jumlah dan jenis fasum g. Batas administrasi RT/RW dan luas h. Kepadatan penduduk i. Penghijauan Tata Kota DKI, DP3KK + pengamatan lap. Mengetahui gambaran seting rinci penataan ruang di permukiman rumah susun 2. Sosial ekonomi a. Jumlah angg. Kel/penghuni b. Jumlah sumber penghasilan keluarga c. Biaya pengeluaran rata-rata per bulan Jiwa Responden Mengetahui gambaran sosial ekonomi di lingkungan permukiman rumah susun 3. Sosial budaya a. Perkumpulan & kelembagaan b. Suku bangsa c. Kehidupan bertetangga d. Partisipasi masyarakat Responden Mengetahui gambaran sosial budaya di lingkungan permukiman rumah susun C DATA PENDUKUNG LAIN a. Kondisi kependudukan Jiwa BPS DKI Jakarta b. Kondisi sosial ekonomi Jiwa/kpt BPS DKI Jakarta c. Kondisi fisik rumah susun DP3KK d. Peta penggunaan lahan Tata kota DKI, DP3KK e. Luas areal Ha DP3KK f. Kemayoran dalam angka Kecamatan Kemayoran g. Struktur kelembagaan DP3KK, perhimp. penghuni, perumnas h. Adat istiadat Tokoh masyarakat, pakar i. Histori penghunian Studi terdahulu

4 72 Bambang Deliyanto 3.3. Jenis Data dan Peubah yang Diamati Jenis data dan peubah yang diamati untuk performansi teknis, fungsi hunian dan perilaku (tujuan 1) Seperti telah diuraikan pada Bab II terdahulu bahwa Evaluasi Pascahuni dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu evaluasi teknis, evaluasi fungsional, dan evaluasi perilaku. Evaluasi teknis dilakukan untuk mengetahui performansi teknis, evaluasi fungsional dilakukan untuk mengetahui performansi fungsi hunian, dan evaluasi perilaku dilakukan melalui gejala persepsi lingkungan. Adapun definisi operasional masingmasing komponen evaluasi pascahuni adalah sebagai berikut : a) Performansi teknis adalah penilaian performa bangunan secara teknis yang mencakup sirkulasi dan aksesibilitas, keamanan dari bahaya kebakaran, terlindung dari bahaya petir dan kelistrikan, kesehatan bangunan gedung, dan kenyamanan bangunan b) Performansi fungsi hunian adalah penilaian performa dari fungsi bangunan hunian yang terdiri dari dimensi fisik, konfigurasi ruang, dan perabot yang memfasilitasi fungsi hunian, mencakup fungsi tempat hunian (shelter), fungsi perlindungan (security) dari gangguan fisik dan psikologis, fungsi pendidikan dalam mengasuh anak (child-rearing), fungsi yang dalam mengungkapkan identitas/jati diri penghuni (symbolic identification), fungsi dalam berinteraksi sosial (social interaction), fungsi dapat memberikan kesenangan (leisure), fungsi yang dapat memfasilitasi kemudahan aksesibilitas ke tempat-tempat fasilitas sosial ekonomi (accessibility), fungsi yang mempunyai nilai ekonomi (financial investment), dan fungsi benda bersama dalam mengefisienkan biaya-biaya utilitas (public efficiency) c) Persepsi lingkungan adalah adalah proses penerimaan sejumlah informasi seting lingkungan melalui bekerjanya sistem syaraf yang diintepretasikan melalui penarikan kesimpulan dari suatu kejadian, dalam rangka penyesuaian timbal balik antara individu, lingkungan sosial dan lingkungan fisik Jenis dan sumber data untuk evaluasi pascahuni dapat dilihat pada Tabel 3.2 berikut :

5 Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 73 Tabel 3.2 Jenis dan sumber data untuk evaluasi pascahuni NO JENIS DATA UNIT SUMBER DATA KEGUNAAN/TUJUAN A. TEKNIS 1. Sirkulasi & aksesibilitas (9 komponen penilaian) 2. Aman dari bahaya kebakaran (9 komponen penilaian) 3. Terlindung dari bahaya petir dan kelistrikan (3 komponen penilaian) 4. Kesehatan bangunan gedung (2 komponen penilaian) 5. Kenyamanan bangunan (13 komponen penilaian) 6. Sarana evakuasi (4 komponen penilaian) 7. Pengelolaan/perawatan & lingkungan (9 komponen penilaian) % Data lapangan desain rumah susun Bandar Kemayoran Mengetahui performansi keteknisan di lingkungan permukiman rumah susun B. FUNGSI HUNIAN 1. Sebagai tempat hunian (Shelter) (2 komponen penilaian) 2. Sebagai tempat yang aman (security) dari gangguan fisik dan psikologis (3 komponen penilaian) 3. Sebagai tempat mengasuh anak (Child-rearing) (3 komponen penilaian) 4. Sebagai tempat untuk mengungkapkan identitas/jati diri penghuni (Symbolic identification) (3 komponen penilaian) 5. Sebagai tempat terjadinya interaksi sosial (social interaction) (3 komponen penilaian) 6. Sebagai tempat yang dapat memberikan kesenangan (3 komponen penilaian) % Data lapangan desain rumah susun Bandar Kemayoran Mengetahui fungsi hunian bangunan permukiman rumah susun 7. Sebagi tempat yang memfasilitasi kemudahan aksesibilitas ke tempat-tempat fasilitas sosial ekonomi (accessibility) (4 komponen penilaian) 8. Sebagai benda bernilai ekonomi (financial investment) (2 komponen penilaian) 9. Sebagai benda bersama yang dapat mengefisienkan biaya-biaya utilitas (public efficiency) (2 komponen penilaian)

6 74 Bambang Deliyanto Lanjutan Tabel 3.2 NO JENIS DATA UNIT SUMBER DATA KEGUNAAN/TUJUAN C GEJALA PERSEPSI LINGKUNGAN 1. PERSEPSI TERHADAP EKONOMI a. Kesejahteraan b. Peningkatan Penghasilan tambahan % Responden Mengetahui gambaran persepsi penghuni terhadap kondisi sosial ekonomi di lingkungan permukiman rumah susun 2. PERSEPSI TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL a. pemenuhan kebutuhan b. Kebetahan c. Kekerabatan d. Partisipasi masy arakat e. Tingkat toleransi penghunian % Responden Mengetahui gambaran persepsi penghuni terhadap kondisi sosial di lingkungan permukiman rumah susun 3. PERSEPSI TERHADAP EKOSISTEM a. Estetika lingkungan b. Keberhasilan pengelolaan lingkungan % Responden 4. PERSEPSI TERHADAP SETING FISIK PERMUKIMAN a. Privasi b. Teritorialias c. Kesesakan d. Peta kognitif e. Sarana-prasarana % Responden Mengetahui gambaran persepsi penghuni terhadap estetika lingkungan dan keberhasilan pengelolaan lingkungan di lingkungan permukiman rumah susun Mengetahui gambaran persepsi penghuni terhadap seting fisik permukiman di permukiman rumah susun Jenis data dan peubah yang diamati untuk performansi ESB (tujuan 2) Untuk mengetahui performansi perilaku eco-spatial behavior individu baik yang tampak (overt) maupun yang tak tampak (covert) pada penghunian rumah susun dilakukan dengan mengukur sikap untuk perilaku yang tampak dan mengukur pernyataan yang mencerminkan tindakan yang tampak berdasarkan definisi operasional berikut ini: Performansi eco-spatial behavior adalah baik performansi tindakan yang tampak maupun performansi sikap yang tidak tampak dari individu dalam berperilaku eco-spatial behavior, yang mencakup pelestarian fungsi lingkungan, adaptasi/coping lingkungan, meningkatkan kesejahteraan, dan kesadaran berorganisasi.

7 Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 75 Adapun kisi-kisi komponen untuk menilai performansi eco-spatial behavior dapat dilihat pada Tabel 3.3. Tabel 3.3 Komponen eco-spatial behavior dan aspek yang diukur NO KOMPONEN/ DIMENSI 1 Pelestarian fungsi lingkungan 2 Adaptasi/coping lingkungan 3 Meningkatkan kesejahteraan 4 Kesadaran berorganisasi ASPEK ESB YANG DIUKUR PERILAKU TAK TAMPAK TINDAKAN TAMPAK Aspek ESB Skor Aspek ESB Skor Sikap peduli terhadap Tindakan dalam pelestarian lingkungan fungsi lingkungan Sikap adaptasi secara mental dalam coping lingkungan Motivasi meningkatkan kesejahteraan Kesadaran (kemauan ikut)bberorganisasi Tindakan dalam melakukan adaptasi/coping lingkungan Tindakan meningkatkan kesejahteraan Keikutsertaan dan keaktifan berorganisasi Total Skor Jml Skor ESB tak tampak Jumlah Skor ESB tampak Dari tabel tersebut di atas, selanjutnya disusun kisi-kisi seperti yang dilihat pada Tabel 3.4 sampai dengan Tabel 3.11 sebagai berikut. a. Perilaku tak nampak (sikap) Definisi operasional perilaku tak nampak adalah perilaku yang tidak dapat dilihat oleh indera (tak kasat indera) berupa sikap seseorang didasarkan atas (a) pernyataan pengetahuan yang dimiliki (kognisi), (b) pernyataan yang berkaitan dengan emosi (afeksi), dan (c) pernyataan kecenderungan bertindak (konasi) atas 4 komponen ESB. Adapun kisi-kisi jenis data 4 komponen ESB mencakup (a) sikap peduli lingkungan berupa unit rumah susun, benda bersama, dan kawasan rumah susun, (b) sikap adaptasi secara mental dalam coping lingkungan, (c) motivasi meningkatkan kesejahteraan, dan (d) kesadaran berorganisasi (Tabel 3.4 sampai dengan Tabel 3.7). 1) Peduli lingkungan Definisi operasional sikap peduli lingkungan: adalah kognisi, afeksi dan konasi kesediaan penghuni dalam menjaga dan memelihara unit rumah susun, benda bersama, dan kawasan rumah susun dengan kisi-kisi yang disajikan dalam Tabel 3.4.

8 76 Bambang Deliyanto Tabel 3.4 Kisi-kisi jenis data sikap peduli terhadap lingkungan (ESB 1) Aspek yang diukur Benda bersama Unit sarusun Dimensi/komponen dalam Bangunan Kawasan rusun a. Kognisi b. Afeksi c. Konasi Jumlah Skor (Min. Maks.) (3-5) (3-5) (3-5) Jawaban : (5) Sangat Setuju, (4) Setuju, (3) Agak Setuju, (2) Tidak Setuju, (1) Sangat Tidak Setuju 2) Coping Lingkungan Definisi operasional sikap coping lingkungan : adalah sikap penghuni melakukan tindak penyesuaian diri secara mental dalam beradaptasi terhadap kehidupan bermasyarakat dan kesediaan menerima seting rumah susun apa adanya. Tabel 3.5 Kisi-kisi jenis data sikap adaptasi secara mental dalam coping lingkungan (ESB 2) Aspek yang diukur Dimensi/komponen a. Kognisi b. Afeksi c. Konasi Jumlah Skor (Minimal Maksimal) Dalam Kehidupan Bermasyarakat Kesediaan Hidup Rukun dan Tolong Menolong dengan Tetangga Kesediaan Mentaati Peraturan Penghunian Kesediaan Menerima Unit Rusun Apa Adanya (3-15) (3-15) (3-15) Jawaban : (5) Sangat Setuju, (4) Setuju, (3) Agak Setuju, (2) Tidak Setuju, (1) Sangat Tidak Setuju 3) Motivasi kesejahteraan Definisi operasional motivasi kesejahteraan : adalah adanya keinginan untuk mencapai sejahtera, mempunyai sikap positif terhadap keinginan, dan melakukan upaya mencapai kesejahteraan, mencakup kualitas rumah susun, menambah penghasilan keluarga, meningkat pengetahuan, dan pleasure penghunian. Adapun kisi-kisi penilaian motivasi dapat dilihat pada Tabel 3.6 berikut :

9 Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 77 Tabel 3.6 Kisi-kisi jenis data motivasi meningkatkan kesejahteraan (ESB 3) Aspek yang diukur Dimensi/komponen a. Keinginan/Dorongan b. Sikap positif terhadap keinginan c. Upaya Jumlah Skor (Minimal Maksimal) Kualitas Unit Sarusun Penghasilan Keluarga Kesehatan Penghuni Pengetahuan Penghuni Kesenangan (Pleasure) Penghunian (3-15) (3-15) (3-15) (3-15) (3-15) Jawaban : (5) Sangat Setuju, (4) Setuju, (3) Agak Setuju, (2) Tidak Setuju, (1) Sangat Tidak Setuju 4) Kesadaran berorganisasi Definisi operasional kesadaran berorganisasi :adalah kognisi, afeksi dan konasi kesediaan mengikuti organisasi perhimpunan penghuni maupun perkumpulan minat baik yang berada di dalam maupun dari luar kawasan rumah susun. Adapun kisi-kisi penilaian kesadaran berorganisasi dapat dilihat pada Tabel 3.7 berikut : Tabel 3.7 Kisi-kisi jenis data kesadaran berorganisasi (ESB 4) Dimensi/komponen Aspek yang diukur a. Kognisi b. Afeksi c. Konasi Jumlah Skor (Minimal Maksimal) Perhimpunan Penghuni Rusun Perkumpulan Peminatan Di dalam Lingk. Rusun Perkumpulan Peminatan Di Luar Lingk. Rusun (3-15) (3-15) (3-15) Jawaban : (5) Sangat Setuju, (4) Setuju, (3) Agak Setuju, (2) Tidak Setuju, (1) Sangat Tidak Setuju b. Perilaku nampak Definisi operasional perilaku nampak adalah perilaku yang dapat dilihat oleh indera (kasat indera) berupa tindakan seseorang dalam berperilaku ESB, yang mencakup (a) tindakan peduli lingkungan terhadap unit rumah susun, benda bersama, dan kawasan rumah susun, (b) tindakan adaptasi dalam coping lingkungan, (c) tindakan meningkatkan kesejahteraan, dan (d) tindakan kesediaan berorganisasi (Tabel 3.8 sampai dengan Tabel 3.11).

10 78 Bambang Deliyanto 1) Tindakan peduli lingkungan Definisi operasional tindakan peduli lingkungan : adalah tindakan menjaga ketertiban, kerukunan, dan keamanan lingkungan, memanfaatkan dan memelihara fungsi sumberdaya permukiman rumah susun. Adapun kisi-kisi tindakan nampak pelestarian fungsi lingkungan seperti pada Tabel 3.8 berikut : Tabel 3.8 Kisi-kisi jenis data tindakan pelestarian fungsi lingkungan (ESB 1) Dimensi/komponen Aspek yang diukur Unit Sarusun Benda Bersama Dalam Bangunan Kawasan/Lingkungan Rusun a. Menjaga ketertiban lingkungan b. Menjaga keamanan lingkungan c. Menjaga kerukunan warga d. Pemanfaatan SD permukiman rusun secara efisien e. Memelihara dan merawat benda & ruang Jumlah Skor (Min Maksimal) (5-25) (5-25) (5-25) Jawaban : (5) Selalu, (4) Sering, (3) Kadang-kadang, (2) Pernah sekali, (1) Tidak pernah 2) Tindakan coping lingkungan Definisi operasional tindakan coping lingkungan : adalah tindakan nampak penghuni melakukan tindak penyesuaian diri penghuni, baik dalam tindakan adaptasi maupun adjustment seting rumah susun, benda bersama, dan kawasan rumah susun. Tabel 3.9 Kisi-kisi jenis data tindakan coping lingkungan (ESB 2) Aspek yang diukur Unit Sarusun Benda Bersama Dalam Bangunan Kawasan/Lingkungan Rusun Dimensi/komponen a. Adjustment b. Adaptasi Jumlah Skor (Min Maksimal) (2-10) (2-10) (2-10) Jawaban : (5) Selalu, (4) Sering, (3) Kadang-kadang, (2) Pernah sekali, (1) Tidak pernah

11 Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 79 3) Tindakan meningkatkan kesejahteraan Definisi operasional tindakan meningkatkan kesejahteraan : adalah adanya usaha meningkatkan kesejahteraan mencakup kualitas rumah susun, penghasilan keluarga, meningkat pengetahuan, dan pleasure penghunian. Adapun kisi-kisi penilaian tindakan meningkatkan kesejahteraan dapat dilihat pada Tabel 3.10 berikut : Tabel 3.10 Kisi-kisi tindakan meningkatkan kesejahteraan (ESB 3) Aspek yang diukur Kualitas Unit Sarusun Penghasilan Keluarga Kesehatan Penghuni Pengetahuan Penghuni Kesenangan (Pleasure) Penghunian Dimensi/komponen Usaha meningkatkan kesejahteraan Jumlah Skor (Min Maksimal) (1-5) (1-5) (1 5) (1 5) (1 5) Jawaban : (5) Selalu, (4) Sering, (3) Kadang-kadang, (2) Pernah sekali, (1) Tidak pernah 4) Tindakan kesediaan berorganisasi Definisi operasional tindakan kesediaan berorganisasi :adalah kesediaan penghuni mengikuti dan aktif berorganisasi dalam perhimpunan penghuni maupun perkumpulan minat baik yang berada di dalam maupun dari luar kawasan rumah susun. Adapun kisi-kisi penilaian tindakan kesediaan berorganisasi dapat dilihat pada Tabel 3.11 berikut : Tabel 3.11 Kisi-kisi tindakan berorganisasi (ESB 4) Aspek yang diukur Perhimpunan Penghuni Rusun Perkumpulan Peminatan Di dalam Lingk. Rusun Perkumpulan Peminatan Di Luar Lingk. Rusun Dimensi/komponen a. Keikutsertaan berorganisasi b. Keaktifan berorganisasi Jumlah Skor (Minimal Maksimal) (2-4) (2-4) (2-4) Jawaban : (2) Ya, (1) Tidak

12 80 Bambang Deliyanto Jenis data dan peubah yang diamati untuk menemukenali anteseden ESB penghunian rusun (tujuan 3). Edward Chase Tolman ( ) merumuskan bahwa behavior sangat bergantung dari situasi dan antecedent atau behavior = f (situasi, anteseden). Situasi, dimaksudkan sebagai suatu keadaan yang menggambarkan aktivitas pada suatu tempat, sementara yang dimaksud antecedent adalah hal-hal yang mendahului situasi. Dasar teori perilaku vosional seseorang menurut Ajzen (1988) adalah tindakan dengan dasar teori tindakan beralasan dan tindakan dengan dasar teori tindakan terencana. Tindakan beralasan (theory of reasoned action) didasarkan pada asumsi-asumsi a) bahwa manusia umumnya melakukan sesuatu dengan cara-cara yang masuk akal, b) bahwa manusia mempertimbangkan semua informasi yang ada, dan c) bahwa secara eksplisit maupun implisit, manusia berperilaku memperhitungkan implikasi dari tindakan mereka. Oleh karena itu intensi seseorang menurut teori tindakan beralasan adalah dipengaruhi oleh sikap individu terhadap perilaku dan norma-norma subyektif berupa persepsi individu terhadap tekanan sosial untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Ajzen (1988) menyatakan bahwa untuk teori tindakan terencana, intensi seseorang selain dipengaruhi oleh sikap individu terhadap perilaku dan persepsi seperti yang disebut dalam teori tindakan beralasan, tetapi juga dipengaruhi adanya kontrol tindakan yang dihayati (perceived behavior control), seperti seting spasial lingkungan hunian, tata aturan penghunian rusun, kemudahan dan adanya kesempatan melakukan. Kontrol tindakan atau perilaku dan norma-norma yang ada dikategorikan sebagai faktor eksternal, sedangkan yang terkait dengan sikap baik keyakinan akan hasil perilaku maupun sikap yang spesifik individu dikategorikan sebagai faktor internal. Berdasarkan uraian di atas disusun atribut anteseden penghuni berperilaku ESB (Tabel 3.12) dengan definisi operasional operasional sebagai berikut :

13 Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 81 Anteseden adalah hal-hal yang mendahului situasi seseorang dalam berperilaku atau bertindak baik itu tindakan beralasan maupun tindakan terencana karena adanya kontrol, keyakinan, atau adanya norma subyektif. Tabel 3.12 Atribut dan Komponen Berperilaku ESB Atribut dan Komponen Berperilaku ESB Dasar Teori Atribut Anteseden penghuni berperilaku ESB A. Kesadaran / komitmen terhadap Lingkungan Teori tindakan beralasan (sikap spesifik) (Community Consesus) B. Kemampuan Adaptasi Penghunian Teori tindakan beralasan (sikap spesifik) C. Setting Spasial Lingkungan Hunian yang Teori tindakan terencana (kontrol tindakan) mendukung D. Tata Aturan Penghunian Teori tindakan terencana (kontrol tindakan) E. Pengalaman orang lain Teori tindakan terencana dan Teori tindakan beralasan (keyakinan akan hasil tindakan) F. Manfaat hasil Teori tindakan terencana (keyakinan akan hasil tindakan) G. Norma yang mewajibkan (tekanan sosial) akan pemeliharaan lingkungan Teori tindakan terencana (norma-norma subyektif) H. Kemudahan melakukan Teori tindakan terencana dan Teori tindakan beralasan (keyakinan akan hasil tindakan) J. Ada / tidaknya kesempatan untuk melakukan Teori tindakan terencana (kontrol tindakan) Komponen ESB ESB 1 = Pelestarian Lingkungan ESB 2 = Coping Lingkungan ESB 3 = Motivasi untuk sejatera ESB 4 = Aktif Berorganisasi Data yang dibutuhkan berupa data persepsi penghuni terhadap atribut anteseden dan persepsi terhadap komponen ESB dengan skala 5, yaitu (5) Sangat Setuju, (4) Setuju, (3) Agak Setuju, (2) Tidak Setuju, (1) Sangat Tidak Setuju. Kemudian kedua persepsi tersebut di-crosstab-kan untuk mendapatkan nilai persepsi penghuni terhadap atribut anteseden untuk masing-masing ESB. Nilai persepsi tersebut adalah nilai rata-rata (mean) yang dicari dengan program SPSS, seperti yang ditunjukkan pada kisi-kisi Tabel 3.13.

14 82 Bambang Deliyanto Tabel 3.13 Kisi-kisi jenis data anteseden penghuni berperilaku ESB Atribut ESB A B C D E F G H J ESB 1 R 11 R 12 R 13 R 14 R 15 R 16 R 17 R 18 R 19 ESB 2 R 21 R 22 R 23 R 24 R 25 R 26 R 27 R 28 R 29 ESB 3 R 31 R 32 R 33 R 34 R 35 R 36 R 37 R 38 R 39 ESB 4 R 41 R 42 R 43 R 44 R 45 R 46 R 47 R 48 R Jenis data dan peubah yang diamati untuk menyusun model ESB penghunian rusun (tujuan 4) Berdasarkan studi pustaka pada bab di atas, maka definisi operasional operasional model ESB penghunian rumah susun sebagai berikut : Model ESB penghunian rumah susun adalah penggambaran abstrak dari suatu sistem dunia nyata atau kondisi yang sesungguhnya suatu penghunian rumah susun mencakup sub-model sosial, sub-model ekonomi dan sub-model lingkungan. Jenis data dan peubah yang diamati dikelompokkan berdasarkan: (1) kelompok peubah model sosial, (2) kelompok peubah model ekonomi, dan (3) kelompok peubah lingkungan, sebagai berikut. a. Data untuk Peubah Model Sosial Data untuk peubah model sosial mencakup parameter penghuni, tenaga kerja, unit rumah susun, fasilitas dan persepsi sosial, seperti yang diuraikan pada Tabel 3.14 Tabel 3.14 Data untuk peubah sosial No Parameter Peubah (level 1) Peubah (level 2) Satuan 1 Penghuni (P) -Jumlah Penghuni Jiwa -Menurut Jenis Kelamin (JK) Jiwa -Menurut Usia (U) Jiwa -Menurut Tingkat Pendidikan Jiwa -Kepadatan Jiwa/km -Laju pertumbuhan penduduk Jiwa/thn -Angka harapan hidup Tahun -Angka kematian (M) Tahun -Angka kelahiran (H) % -Jumlah penghuni masuk (MM) Jiwa -Jumlah penghuni keluar (MK) Jiwa -Partisipasi -PHBS (perilaku hidup bersih %

15 Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 83 Lanjutan Tabel 3.14 No Parameter Peubah (level 1) Peubah (level 2) Satuan dan sehat) -Kesehatan masyarakat -penyakit yang terjadi di masyarakat Kasus 2 Tenaga Kerja (TK) -Jumlah penghuni Jiwa -Jumlah tenaga kerja -Bukan Angkatan Kerja (BAK) Jiwa -Angkatan Kerja (AK) Jiwa 3 Unit Rumah Susun (R) 4 Fasilitas atau Infrastruktur (I) 5 Persepsi Sosial (PS) -Rasio TK lokal dan pendatang % -Tingkat kesempatan kerja % -Kebutuhan teknologi. -Investasi. -Jumlah R -Jumlah Rumah Layak Huni Unit (RLH) -Jumlah Rumah Tidak Layak Unit Huni (RTLH) -Jumlah Unit Fasilitas (F) Unit -ESDM (Listrik dan Bahan Bakar) -Kapasitas Listrik Kwh _Kapasitas Bahan Bakar Ton -Kebutuhan Listrik Kwh -Kebutuhan Bahan Bakar Ton - Air Bersih (AB) Ton -Ketersediaan Air Bersih Ton -Kebutuhan Air Bersih Ton -Sarana Kesehatan (Kes) Unit -Ketersediaan Sarana (Unit) Kesehatan -Kebutuhan Sarana Kesehatan (Unit) -Sarana Transportasi (Tr) Unit -Jumlah Sarana Transportasi Unit -Persentase Jumlah sarana Unit/Jiwa transportasi/jumlah Penduduk -Sarana Pendidikan (Pen) Unit -Jumlah Sarana Pendidikan Unit -Jumlah Usia Sekolah Jiwa -Kebutuhan Sarana Pendidikan Unit/Jiwa -Sarana pengelolaan lingkungan -TPA/TPS/Tempat Sampah Unit -Kebetahan -Persentase antara pemilik asli % dengan penyewa -Persentase hunian % -Tingkat Toleransi/Kekerabatan -Jumlah Gangguan Keamanan Kejadian -Jumlah Kelembagaan Kemasyarakatan Unit

16 84 Bambang Deliyanto b. Data untuk Peubah Model Ekonomi Tabel 3.15 Kebutuhan data untuk peubah model ekonomi No Parameter Peubah (level 1) Peubah (level 2) Satuan 1 Pemerintah -Jumlah Pendapatan PDRB permukiman -Pajak: PBB dan Penghasilan. -Pengeluaran Pemerintah -Subsidi -Pembangunan infrastruktur/ perkim (pendidikan, kesehatan, dll) -Investasi pemerintah di perkim 2 Rumah Tangga (RT) -Penerimaan rumah tangga -Pendapatan penghuni -Bantuan Pemerintah -Sumbangan -Konsumsi rumah tangga -Tingkat pendapatan -Pengeluaran RT - Pendidikan -Kesehatan -Barang dan Jasa -Konsumsi Pengelolaan Lingkungan -Pengelolaan rumah -Kebutuhan Unit -ESDM (Listrik, Bahan bakar) Unit -Konstruksi Unit -Pariwisata Unit -Transportasi Unit c. Data untuk Peubah Model Lingkungan Tabel 3.16 Kebutuhan data untuk peubah model lingkungan No Parameter Peubah (level 1) Peubah (level 2) Satuan 1 Pemerintah -Jumlah Pendapatan PDRB permukiman 2 Rumah Tangga (RT) -Pengeluaran Pemerintah -Penerimaan rumah tangga -Pajak: PBB dan -Subsidi -Pembangunan infrastruktur/ perkim (pendidikan, kesehatan, dll) -Investasi pemerintah di bidang perkim -Pendapatan penghuni -Bantuan Pemerintah -Sumbangan

17 Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 85 Lanjutan Tabel 3.16 No Parameter Peubah (level 1) Peubah (level 2) Satuan -Konsumsi rumah -Tingkat pendapatan -Pengeluaran RT - Pendidikan -Kesehatan -Barang dan Jasa -Kebutuhan -Konsumsi Pengelolaan Lingkungan -Pengelolaan rumah -ESDM (Listrik, Bahan baker) -Konstruksi -Pariwisata -Transportasi Unit Unit Unit Unit Unit 3.4. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik survey. Pengumpulan data digunakan instrumen berupa kuesioner model skala Likert yang telah melalui proses kalibrasi untuk mengukur performansi Evaluasi Pascahuni (teknis, fungsi dan perilaku) (Tujuan 1), Performansi ESB (tujuan 2), dan Anteseden ESB penghuni rumah Susun (tujuan 3). Selain itu diperkuat dengan mawancara mendalam dengan pakar mengacu pada Lembar Penilaian Cepat (Rapid Assesment) dengan masing-masing pemegang kepentingan. Juga dilakukan teknik pengamatan perilaku melalui walk-through interview yaitu teknik wawancara dengan menggunakan seting spasial, dilengkapi dengan peta behavior yang dituangkan dalam catatan foto. Secara rinci pengumpulan data untuk masing-masing tujuan penelitian adalah sebagai berikut Pengumpulan data untuk performansi teknis, fungsional bangunan hunian, dan perilaku (tujuan 1). Pengumpulan data untuk performansi teknis dan fungsi bangunan sebagai hunian dilakukan dengan teknik wawancara mendalam dengan pakar dan mengacu pada lembar kerja penilaian cepat (rapid assesment) performansi teknis, serta penilaian cepat fungsi bangunan hunian.

18 86 Bambang Deliyanto Pakar yang diundang adalah dari kalangan pemerintah, perguruan tinggi dan lembaga swasta yang relevan. Sedangkan data untuk evaluasi perilaku penghunian rumah susun didapat dari Kepala Keluarga sebagai responden dan pengamatan lapangan mengacu pada kuesioner yang terstruktur. Teknik pengamatan perilaku dilakukan dengan obeservasi aktivitas lingkungan. Pengamat dapat mengambil posisi sebagai pengamat rahasia, pengamat dikenal, atau partisipasi penuh. Pengamatan perilaku yang diaplikasikan pada penelitian ini adalah pengamat dikenal melalui walk-through interview, yaitu teknik wawancara dengan menggunakan seting spasial sebagai wahana untuk membantu responden mengartikulasikan reaksi mereka terhadap seting Pengumpulan data untuk performansi ESB (tujuan 2) Pengumpulan data untuk performansi ESB dilakukan dengan teknik wawancara mendalam kepada kepala keluarga dan mengacu pada kuesioner yang terstruktur. Pengamatan perilaku dilengkapi dengan walkthrough interview yaitu teknik wawancara dengan menggunakan seting spasial, dilengkapi dengan peta behavior yang dituangkan dalam catatan foto Pengumpulan data untuk menemukenali anteseden ESB penghunian rusun (tujuan 3) Pengumpulan data untuk performansi ESB dilakukan dengan teknik wawancara mendalam kepada kepala keluarga dan mengacu pada kuesioner yang terstruktur Pengumpulan data untuk menyusun model ESB penghunian rusun (tujuan 4) Pengumpulan data untuk mengembangkan model ESB dilakukan dengan teknik wawancara mendalam kepada kepala keluarga dan mengacu pada kuesioner yang terstruktur dan data sekunder yang relevan.

19 Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel a. Populasi Populasi adalah seluruh kepala keluarga penghuni rusun di KBBK. Subyek penelitian adalah kepala keluarga penghuni Blok bangunan yang ada di rusun (Apron, Boeing, Conver dan Dakota). yang berjumlah 2076 KK. Kriteria responden adalah kepala keluarga yang menghuni dan pemilik unit rumah susun (bukan penyewa) dan telah menghuni di atas 2 tahun secara berturut-turut. b. Jumlah Sampel Responden berjumlah 105 adalah kepala keluarga yang dipilih dari 2076 kepala keluarga yang menghuni 2076 unit hunian. Penentuan jumlah sampel (n) digunakan rumus yang disarankan oleh Notodiputro (2005) sebagai berikut: n = Nσ 2 /((n-1)d+σ 2 ) D = B 2 /4 Di mana: B = 2 σ 2 rataan X n = Jumlah sampel N = Populasi sampel B = Perkiraan kesalahan (tingkat ketelitian) sampel σ 2 = c. Teknik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel menggunakan cluster random sampling, yang diambil berdasarkan 4 Blok rusun (Apron, Boeing, Conver dan Dakota). Setiap Blok berdasarkan wilayah administratif berfungsi sebagai Rukun Warga (RW), diteruskan kepada 41 Rukun Tetangga (RT), kemudian diambil sejumlah N sampel secara acak Teknis Analisis Data Analisis yang digunakan untuk menjawab tujuan penelitian ini mencakup empat macam analisis, yaitu: 1) Analisis deskriptif, 2) Analisis biplot, 3) Analisis Hiraki Proses (AHP), dan 4) Permodelan Sistem Dinamik

20 88 Bambang Deliyanto eco- spatial behavior penghunian rusun. Adapun tujuan, jenis data, teknik analisis dan keluaran analisis disajikan pada Tabel 3.17 berikut ini. Tabel 3.17 Tujuan, jenis data, teknik analisis dan keluaran analisis Tujuan Penelitan 1. Mengetahui performansi pascahuni penghunian rusun sederhana di KBBK mencakup : a. performansi teknis b. performansi Fungsional c. Perilaku penghunian 2. Menentukan indikator dan mengetahui performansi ESB penghunian rusun di KBBK; 3. Mengetahui faktor utama yang menjadi penentu situasi (anteseden) agar penghuni berperilaku ESB dalam penghunian rusun di KBBK 4. Menyusun skenario pendekatan ESB pada penghunian rusun melalui penyusunan Model ESB penghunian Rumah Susun. Jenis & Sumber Data a. 49 Komponen penilaian performansi teknis (Permen PU no 05/PRT/M/2007) b. 25 Komponen penilaian fungsional hunian (Kaiser) c. 14 komponen gejala persepsi lingkungan & perilakunya (Bell, 1978) 4 indikator ESB (Penelusuran Sumber pustaka ) Pengambilan Data Rapid assessment list Rapid assessment list & pengamatan pemanfaatan seting spasial Kuesioner persepsi lingkungan & pengamatan perilakunya Kuesioner persepsi ESB & walk-through interview Performansi teknis, fungsional hunian dan persepsi penghunian Persepsi 9 atribut anteseden (Ajzen, 1988) Gambar seting spasial, komponen peubah sosial, ekonomi, dan lingkungan Kuesioner atribut anteseden Teknik Analisis Data Analisis POE dan stastitik deskriptif Analisis POE dan stastitik deskriptif, Analisis POE dan stastitik deskriptif Statistik deskriptif dan analisis Biplot Sintesis melalui Analisis Biplot Analisis Biplot Analisis sintesis dari hasil analisis sistem dinamik, POE, E-ESB, dan AHP Keluaran performansi teknis bangunan dan fasilitas rusun performansi fungsional hunian & pemanfaatan spasial Gejala persepsi lingkungan & perilaku Penghunian rusun Indikator dan performansi ESB Keterkaitan antar atribut ESB, performansi & spasial Atribut anteseden untuk masing2 ESB Keterkaitan antar atribut anteseden & perilaku ESB Hasil simulasi skenario pendekatan ESB penghunian rusun Secara skematis tahapan penelitian dan teknis analitis dapat dilihat pada Gambar 3.2 berikut ini.

21 Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 89 Gambar 3.2 Tahapan penelitian dan analisis yang digunakan Teknik analisis untuk performansi teknis, fungsi hunian dan perilaku (tujuan 1) Analisis evaluasi pascahuni mencakup: (a) analisis/evaluasi fungsional suatu bangunan hunian, (b) analisis/evaluasi performansi teknis seting spasial hunian rumah susun, dan (c) analisis perilaku penghuni. Analisis yang digunakan untuk ketiga analisis tersebut adalah analisis statistik deskriptif seperti distribusi frekuensi, dan penjelasan kelompok yang diobservasi secara kuantitatif (modus, median dan mean). Analisis ini menurut Soegiyono (2009) dapat mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap obyek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya tanpa membuat kesimpulan yang berlaku umum. Melalui data dikotomi (skor 1 untuk ada, dan skor 0 untuk tidak ada), (a) performansi teknis dan (b) performansi fungsi hunian rumah susun digabungkan/dijumlahkan dan diberi bobot. Bobot total performansi teknis sama dengan bobot total performansi fungsi hunian. Komponen total performansi teknis adalah 49 dan komponen total performansi fungsi hunian adalah 25. Maka untuk mencapai bobot mendekati sama maka

22 90 Bambang Deliyanto bobot performansi teknis dibandingkan bobot performansi fungsi hunian adalah 1 berbanding 2 (Tabel 3.18). Hasilnya kemudian diintepretasikan untuk performansi rendah (0 33), performansi sedang (34 66), dan performansi tinggi (67 99) Tabel 3.18 Jumlah komponen penilaian dan bobot performansi rusun No Unsur Jumlah Komponen Bobot Nilai 1 Performansi Teknis Performansi Fungsi Hunian Jumlah 99 Rincian kelompok komponen penilaian untuk performansi teknis dan fungsi bangunan hunian dapat disajikan sebagai berikut: A. Performansi teknis bangunan rusun mencakup: 1. Sirkulasi dan aksesibilitas 2. Aman dari bahaya kebakaran 3. Terlindung dari bahaya petir dan kelistrikan 4. Kesehatan bangunan gedung 5. Kenyamanan bangunan 6. Sarana evakuasi 7. Pengelolaan/perawatan & lingkungan B. Performansi fungsional bangunan rusun mencakup: 1. Sebagai tempat hunian (shelter) 2. Sebagai tempat yang aman (security) dari gangguan fisik dan psikologis 3. Sebagai tempat mengasuh anak (child-rearing) 4. Sebagai tempat untuk mengungkapkan identitas/jati diri penghuni (symbolic identification) 5. Sebagai tempat terjadinya interaksi sosial (social interaction) 6. Sebagai tempat yang dapat memberikan kesenangan (leisure) 7. Sebagai tempat yang memfasilitasi kemudahan aksesibilitas ke tempat-tempat fasilitas sosial ekonomi (accessibility) 8. Sebagai benda bernilai ekonomi (financial investment) 9. Sebagai benda bersama yang dapat mengefisienkan biayabiaya utilitas (public efficiency)

23 Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 91 Sedangkan untuk butir (c), yaitu analisis perilaku penghuni, data didapat dari data persepsi dengan skala pengukuran yang digunakan adalah Skala Likert untuk pernyataan positif. Skor 5 untuk pernyataan tinggi/sangat, skor 4 untuk pernyataan cukup tinggi, skor 3 untuk pernyataan cukup, skor 2 untuk pernyataan sedikit/kurang, dan skor 1 untuk pernyataan tidak, sedangkan untuk pernyataan negatif skor diisikan sebaliknya. Selanjutnya butir (c) ini dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif Teknik analisis untuk performansi ESB (tujuan 2) Data yang didapat dari tabel kebutuhan data performansi ESB (ecospatial behavior) baik yang nampak (overt) maupun yang tidak nampak (covert) tersebut di atas, dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif seperti distribusi frekuensi, dan penjelasan kelompok yang diobservasi secara kuantitatif (modus, median dan mean). Skala pengukuran yang digunakan adalah Skala Likert. Skor 5 untuk pernyataan sangat setuju (SS), skor 4 untuk pernyataan setuju (S), skor 3 untuk pernyataan agak setuju (AS), skor 2 untuk pernyataan tidak setuju (TS), dan skor 1 sangat tidak setuju (STS). Jumlah maksimal skor untuk perilaku ESB adalah 352, mencakup jumlah skor untuk perilaku ESB yang overt maupun untuk perilaku ESB covert. Adapun intepretasi dari skor tersebut adalah sebagai berikut: Jumlah skor: = rendah atau tidak berperilaku ESB Jumlah skor: = sedang atau sedikit berperilaku ESB Jumlah skor: = tinggi atau sangat berperilaku ESB Teknik analisis untuk menemukenali anteseden ESB penghunian rusun (tujuan 3) Teknik analisis yang digunakan untuk menemukenali anteseden ESB digunakan analisis Biplot. Untuk melakukan analisis anteseden tersebut, terlebih dahulu dibuat matrik data persepsi penghuni rusun terhadap atribut anteseden penghuni berperilaku ESB. Nilai persepsi penghuni berperilaku ESB-i atribut ke-j (Rij) adalah rata-rata (mean) atribut ke-j untuk penghuni berperilaku ESB-i yang dicari dengan program SPSS. Sehingga matrik data tersebut terlihat seperti Tabel 3.19.

24 92 Bambang Deliyanto Tabel 3.19 Struktur matrik data anteseden penghuni berperilaku ESB Atribut ESB A B C D E F G H J ESB 1 R 11 R 12 R 13 R 14 R 15 R 16 R 17 R 18 R 19 ESB 2 R 21 R 22 R 23 R 24 R 25 R 26 R 27 R 28 R 29 ESB 3 R 31 R 32 R 33 R 34 R 35 R 36 R 37 R 38 R 39 ESB 4 R 41 R 42 R 43 R 44 R 45 R 46 R 47 R 48 R 49 Kedua informasi tersebut melalui program Excel-Biplot dapat digambarkan ke dalam satu grafik. Berdasarkan gambar tersebut dapat dianalisis untuk mengetahui 1) kedekatan antar obyek, 2) keragaman peubah, 3) hubungan antar obyek, 4) hubungan antar peubah dan obyek, dengan cara intepretasi sebagai berikut : 1) Kedekatan antar obyek. Dua obyek dengan karakteristik sama akan digambarkan sebagai dua faktor yang posisinya berdekatan. 2) Keragaman peubah. Peubah dengan keragaman kecil digambarkan sebagai vektor yang pendek, begitu pula sebaliknya. 3) Hubungan antar peubah. Jika sudut dua peubah < 90 0 maka korelasi bersifat positif Jika sudut dua peubah > 90 0 maka korelasi bersifat negatif Semakin kecil sudutnya, maka semakin kuat korelasinya. 4) Hubungan antara obyek dengan peubah. Karakteristik suatu obyek bisa disimpulkan dari posisi relatifnya yang paling dekat dengan suatu peubah (dan relatif terhadap titik pusat) Teknik analisis untuk menyusun skenario pendekatan ESB penghunian rusun (tujuan 4) Analisis yang digunakan untuk menyusun skenario pendekatan ESB pada penghunian di permukiman rusun adalah (1) analisis hirarki proses (AHP) dan (2) sistem dinamik. AHP digunakan untuk mendapatkan peringkat faktor dominan yang berpengaruh terhadap pendekatan ESB terbaik, selanjutnya pendekatan ESB terbaik ini disimulasikan dengan menggunakan sistem dinamik berdasarkan skenario optimis, moderat dan

25 Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 93 pesimis. Pilihan terbaik dari skenario diimplikasikan sebagai kebijakan (Gambar 3.3). Gambar 3.3 Teknik analisis dan tahapan penyusunan skenario pendekatan ESB penghunian rusun Secara ringkas tahapan masing-masing analisis diuraikan sebagai berikut: a. Analisis Hirarki Proses (AHP) AHP digunakan untuk menentukan alternatif solusi terbaik dan peringkat faktor dominan pendekatan ESB penghunian rusun. Karena variabel yang dianalisis tidak lebih dari 20 variabel maka perangkat lunak yang digunakan adalah Criterium Decision Plus version Student. Penentuan prioritas, menggunakan teknik perbandingan berpasangan (pairwise comparisons) untuk setiap kriteria dari alternatif. Nilai-nilai perbandingan relatif tersebut diolah dengan menggunakan manipulasi matrik atau melaui penyelesaian persamaan matematik untuk menentukan peringkat relatif dari seluruh alternatif yang ada. Selanjutnya dilakukan perhitungan untuk melihat konsistensi penilaian dengan menggunakan CR (concistency ratio) sebesar 10 %.

26 94 Bambang Deliyanto Tahapan penyusunan AHP mengikuti langkah-langkah seperti yang telah diuraikan pada Bab 2 terdahulu, dengan mewawancarai pakar bidang permukiman, pakar kebijakan, serta pemangku kepentingan melalui Forum Group Discussion (FGD) agar dapat menguraikan persoalan menjadi unsur-unsur, dalam wujud kriteria dan alternatif, sehingga dapat disusun hirarki (Gambar 3.4) dengan uraian sebagai berikut: (1) Level 1 adalah membuat keputusan pendekatan ESB penghunian rusun terbaik dari berbagai alternatif pendekatan berdasarkan aspek pendekatan, kriteria aspek dan tujuan permukiman rusun (2) Level 2 adalah menyusun aspek yang harus diperhatikan dalam memutuskan level 1, yaitu aspek teknis spasial, aspek fungsional dan aspek perilaku. Ketiga aspek tersebut merujuk pada Snyder (1995) yang mengelompokan kegiatan POE menjadi 3 kelompok. (3) Level 3 adalah menyusun kriteria aspek-aspek yang telah disusun pada level 2, yaitu : aspek teknis spasial mencakup persyaratan teknis spasial, fasilitas umum, dan adaptifibiltas spasial agar penghuni dapat memanfaatkan unit rusun dalam jangka panjang; aspek fungsional mencakup aspek fungsional spasial rusun sebagai tempat tinggal, kenyamanan dan kesehatan spasial, serta estetika spasial; aspek penghuni berperilaku ESB mencakup kepedulian dalam melestarikan lingkungan, kemampuan coping lingkungan, interaksi sosial dan kegiatan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan. (4) Level 4 adalah menyusun kriteria tujuan permukiman rusun yang diharapkan yaitu: livable (permukiman yang dapat dan layak dihuni), habitable ( permukiman yang dihuni hendaknya sesuai dengan adat kebiasaan penghuni), suistanable (permukiman yang dihuni hendaknya dapat berkelanjutan secara sosial, ekonomi, dan lingkungan). (5) Level 5 adalah menyusun alternatif 3 pendekatan dengan kriteria seperti diuraikan pada Tabel 3.20.

27 Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 95 Susunan struktur hirarki AHP pemilihan alternatif pendekatan ESB penghunian rumah susun dapat dilihat pada Gambar 3.4. Gambar 3.4 Struktur hirarki pemilihan alternatif pendekatan ESB penghunian permukiman rumah susun Kriteria tiga alternatif pendekatan ESB pada level 5 disusun berdasarkan seting spasial dan komponen ESB seperti dijabarkan pada Tabel Tabel 3.20 Kriteria Alternatif Pendekatan ESB Alternatif Pendekatan Seting spasial Aspek teknis Fungsi bangunan Standard teknis Fungsi hunian tinggi minimal 81 % % 60 % - 70 % Standard teknis Fungsi hunian menengah menengah 61 % - 80 % 71 % - 85 % Standard teknis Fungsi hunian minimal optimal 45 % - 60 % 86 % % Peduli Lingk. ESB Kontrol Coping yg dibutuhkan Pasif Instruktif Rendah Aktif Partisipatif Sedang Aktif Partisipatif Tinggi

28 96 Bambang Deliyanto b. Penyusunan Skenario Setelah dibuat pengklasifikasian dari sub elemen dan desain kebijakan selanjutnya dilakukan analisis skenario kebijakan yang sesuai keadaan lapangan dan hasil analisis AHP, dengan memperhatikan beberapa hal dibawah ini: 1) Menentukan keadaan (state) suatu faktor - Keadaan harus memiliki peluang sangat besar untuk terjadi (bukan khayalan) dalam suatu waktu di masa datang. - Keadaan bukan suatu tingkatan atau ukuran suatu faktor (seperti besar/sedang/kecil atau baik/buruk) tetapi deskripsi situasi sebuah faktor. - Setiap keadaan harus diidentifikasikan dengan jelas. - Bila keadaan dari suatu faktor lebih dari satu makna keadaan maka keadaan-keadaan tersebut harus dibuat secara kontras. - Selanjutnya mengidentifikasi keadaan yang peluangnya sangat kecil untuk terjadi atau berjalan bersamaan (mutual incompatible). 2) Membangun skenario yang mungkin terjadi. Langkah-langkah dalam membangun skenario terhadap tahapan faktor-faktor yang mungkin terjadi adalah sebagai berikut: - Skenario yang mempunyai peluang besar untuk terjadi di masa datang disusun terlebih dahulu. - Skenario merupakan kombinasi dari faktor-faktor. Oleh sebab itu, sebuah skenario harus memuat seluruh faktor, tetapi untuk setiap faktor hanya memuat satu tahapan dan tidak memasukkan pasangan keadaan yang mutual incompatible (saling bertolak belakang). - Setiap skenario (mulai dari alternatif paling optimis sampai alternatif paling pesimis) diberi nama. - Langkah selanjutnya memilih skenario yang paling mungkin terjadi. 3) Implikasi Skenario Merupakan kegiatan terakhir yang meliputi:

29 Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 97 - Skenario yang terpilih pada tahap sebelumnya dibahas konstribusinya terhadap tujuan studi. - Skenario tersebut didiskusikan implikasinya. - Tahap selanjutnya menyusun rekomendasi kebijakan dari implikasi yang sudah disusun. c. Sistem Dinamik Analisis dengan pendekatan sistemik dinamik ini sudah dibahas pada Bab terdahulu. Analisis ini dipilih karena Sistem Dinamik secara rinci dapat digunakan dalam rancang bangun sistem yang mempunyai ciri (1) berubah sejalan dengan perubahan waktu (dinamis), (2) masalahnya kompleks, (3) non linear, dan (4) adanya umpan balik. Tahapan dalam melakukan analisis sistem dinamik adalah: (1) analisis kebutuhan, (2) formulasi masalah, (3) identifikasi sistem, (4) simulasi sistem, dan (5) validasi seperti penjelasan berikut. 1) Analisis Kebutuhan Pada tahap ini dinyatakan kebutuhan-kebutuhan yang ada, meliputi stakeholders yang terdiri dari pemerintah, swasta (developer & Arsitek), masyarakat/penghuni, perhimpunan penghuni, dan perguruan tinggi. Kemudian dideskripsikan daftar kebutuhannya. Analisis kebutuhan dilakukan pada semua pelaku yang terlibat dalam sistem, dilakukan untuk mengetahui gambaran awal terhadap perilaku sistem yang akan terjadi. 2) Formulasi Masalah Terjadinya konflik kepentingan antara para stakeholders, merupakan masalah yang membutuhkan solusi agar sistem dapat bekerja secara konstruktif dalam rangka mencapai tujuan dengan mengetahui permasalahan-permasalahan yang ada dari masing-masing stakeholder yang seringkali kontradiksi dengan stakeholder lain. Beberapa masalah yang ingin diketahui adalah : apakah kualitas lingkungan terjaga dengan baik (tidak ada pencemaran lingkungan)? Apakah ada konflik

30 98 Bambang Deliyanto sosial pada penghunian rumah susun? Apakah rumah yang dihuni layak dengan harga terjangkau? Apakah tersedia fasilitas sarana dan prasarana yang mendukung dan terletak pada lokasi yang strategis? merupakan kebutuhan masyarakat setempat yang acap kali kontradiktif dengan stakeholder lainnya. 3) Identifikasi Sistem Identifikasi sistem dilakukan dengan menyusun struktur yang dapat menggambarkan perilaku sistem dengan diagram sebab akibat (causal loop) dan diagram alir (flow chart). Diagram sebab akibat dibuat dengan cara menentukan peubah penyebab yang signifikan dalam sistem dan menghubungkannya dengan menggunakan garis panah ke variabel akibat, dan garis panah tersebut dapat berlaku dua arah jika kedua peubah saling mempengaruhi. Pada kasus penghunian rumah susun, diagram sebab akibat dikelompokkan berdasarkan sub model sosial, sub model ekonomi, dan sub model lingkungan. Sub model sosial meliputi ESB, respons spasial, kesejahteraan, anteseden, dan peubah lain yang relevan. Sub model ekonomi meliputi pendapatan dan pengeluaran penghuni serta biaya pengelolaan lingkungan. Sub model lingkungan meliputi seting spasial, kualitas lingkungan kecukupan infrastruktur, dan limbah yang dihasilkan akibat aktivitas penghunian rumah susun. Pada sistem dinamis, diagram sebab akibat ini akan digunakan sebagai dasar untuk membuat diagram alir. Pada diagram alir ini akan terlihat peubah atau elemen apa yang dianggap sebagai stock atau flow di setiap sub model sosial, ekonomi, mupun lingkungan. Model ini kemudian disimulasikan sehingga dapat memberikan gambaran tentang perilaku sistem apakah hubungan diagram menghasilkan grafik linear atau non linear. Selanjutnya hasil simulasi dapat digunakan untuk menentukan alternatif terbaik dari sistem yang dibangun. Setelah itu, dilakukan analisis untuk mendapatkan kesimpulan, dan

31 Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 99 kebijakan apa yang harus dilakukan untuk mengantisipasi/mengubah perilaku sistem yang terjadi. 4) Simulasi Model Model pengelolaan ESB pada penghunian permukiman rumah susun dibangun berdasarkan struktur model sebagaimana hubungan antar peubah yang disajikan dalam bentuk hubungan sebab-akibat. Hubungan antar peubah tersebut dirumuskan dalam bentuk persamaan matematis sesuai dengan hubungan masing-masing peubah dan jumlah variabel yang menyusun suatu fungsi tertentu. Selanjutnya model yang dihasilkan tersebut dianalisis mengunakan sistem dinamis. Simulasi dari hasil pemodelan sistemik digunakan untuk melihat pola kecenderungannya perilaku model. Hasil simulasi model dianalisis pola dan kecenderungannya, ditelusuri faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pola dan kecenderungan tersebut, dan dijelaskan bagaimana mekanisme kejadian tersebut berdasarkan analisis struktur model. Simulasi model dilakukan dengan menggunakan software komputer Powersim Constructor 2.5. Hasil simulasi model yang memunculkan peubah-peubah yang sensitif dianalisis sebagai dasar untuk merumuskan kebijakan yang diperlukan dalam perbaikan kinerja sistem. 5) Validasi Model Suatu model dikatakan valid jika struktur dasarnya dapat menggambarkan perilaku yang polanya dapat menggambarkan perilaku sistem nyata, atau dapat mewakili dengan cukup akurat, data yang dikumpulkan sehubungan dengan sistem nyata atau asumsi yang dibuat berdasarkan referensi sesuai cara sistem nyata bekerja. Membuktikan validasi sebenarnya suatu hal yang sulit untuk dilakukan. Dalam pengujian validasi suatu model, terdapat beberapa teknik. Pertama, teknik validasi yang mengacu pada anjuran

32 100 Bambang Deliyanto (Muhammadi, 2001). Uji validasi sederhana dapat dilakukan melalui cara-cara sebagai berikut: - Causal loop (influence) diagram harus berhubungan dengan permasalahan. - Persamaan harus disesuaikan dengan Causal loop (influence) diagram khususnya tanda + atau harus konsisten diantara persamaan dengan causal loop. - Dimensi dalam model harus valid. - Model tidak menghasilkan nilai yang tidak masuk akal, seperti stok negatif. - Perilaku model harus masuk akal, artinya apabila ada sesuatu yang seharusnya terjadi, maka harus sesuai dengan apa yang diharapkan dari model tersebut. - Massa model harus balance, artinya total kuantitas yang telah masuk dan keluar dari proses sistem tetap dapat dijelaskan. Validasi perilaku model dilakukan dengan membandingkan antara besar dan sifat kesalahan dapat digunakan: 1) Absolute Mean Error (AME) adalah penyimpangan (selisih) antara nilai rata-rata (mean) hasil simulasi terhadap nilai aktual, 2) Absolute Variation Error (AVE) adalah penyimpangan nilai variasi (variance) simulasi terhadap aktual. Batas penyimpangan yang dapat diterima adalah antara 1-10%. AME = [(Si Ai)/Ai]... (1) Si = Si N, dimana S = nilai simulasi Ai = Ai N, dimana A = nilai aktual N = interval waktu pengamatan AVE = [(Ss Sa)/Sa]... (2) Ss = ((Si Si) 2 N) = deviasi nilai simulasi Sa = ((Ai Ai) 2 N) = deviasi nilai aktual

BAB VII ANTESEDEN BERPERILAKU ESB

BAB VII ANTESEDEN BERPERILAKU ESB Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 161 BAB VII ANTESEDEN BERPERILAKU ESB Anteseden adalah suatu kondisi yang mendahului seseorang berperilaku, termasuk perilaku spasial yang ekologis

Lebih terperinci

BAB VI ECO-SPATIAL BEHAVIOR PENGHUNIAN RUMAH SUSUN

BAB VI ECO-SPATIAL BEHAVIOR PENGHUNIAN RUMAH SUSUN Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 145 BAB VI ECO-SPATIAL BEHAVIOR PENGHUNIAN RUMAH SUSUN Uraian bab-bab terdahulu, menyebutkan bahwa indikator ESB penghunian rumah susun, adalah: (1)

Lebih terperinci

BAB V EVALUASI PASCAHUNI

BAB V EVALUASI PASCAHUNI Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 123 BAB V EVALUASI PASCAHUNI Snyder (1995) dan Laurens (2005), membagi evaluasi pascahuni menjadi tiga bagian, yaitu: 1) evaluasi teknis melalui penilaian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bertambahnya jumlah penduduk dan sempitnya lahan untuk kegiatan pembangunan dan pertanian merupakan salah satu

Lebih terperinci

8 MODEL PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN KUPANG

8 MODEL PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN KUPANG 8 MODEL PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN KUPANG Abstrak Strategi peningkatan sektor perikanan yang dipandang relatif tepat untuk meningkatkan daya saing adalah melalui pendekatan klaster.

Lebih terperinci

Penataan Lingkungan Permukiman Kumuh Di Wilayah Kecamatan Semampir Kota Surabaya Melalui Pendekatan Partisipasi Masyarakat

Penataan Lingkungan Permukiman Kumuh Di Wilayah Kecamatan Semampir Kota Surabaya Melalui Pendekatan Partisipasi Masyarakat Penataan Lingkungan Permukiman Kumuh Di Wilayah Kecamatan Semampir Kota Surabaya Melalui Pendekatan Partisipasi Masyarakat PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN Penelitian pendahuluan telah dilakukan sejak tahun 2007 di pabrik gula baik yang konvensional maupun yang rafinasi serta tempat lain yang ada kaitannya dengan bidang penelitian.

Lebih terperinci

Tujuan, jenis dan cara pengumpulan data, metode analisis, dan output yang diharapkan. Jenis dan Cara Pengumpulan Data

Tujuan, jenis dan cara pengumpulan data, metode analisis, dan output yang diharapkan. Jenis dan Cara Pengumpulan Data III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian berada pada kawasan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV (Persero) Propinsi Sumatera Utara. PTPN IV bergerak di bidang usaha perkebunan dengan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Model

TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Model TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Model Pemodelan merupakan suatu aktivitas pembuatan model. Secara umum model memiliki pengertian sebagai suatu perwakilan atau abstraksi dari sebuah objek atau situasi aktual.

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. (Research and Development/R&D) melalui pendekatan sistem dinamis

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. (Research and Development/R&D) melalui pendekatan sistem dinamis BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (Research and Development/R&D) melalui pendekatan sistem dinamis (dynamics system). Metode

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN 56 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 PENDAHULUAN Pada bab ini akan dipaparkan mengenai perancangan penelitian yang digunakan untuk mencapai tujuan dalam penulisan ini. Penelitian ini memiliki 2 (dua) tujuan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan penduduk kota kota di Indonesia baik sebagai akibat pertumbuhan penduduk maupun akibat urbanisasi telah memberikan indikasi adanya masalah perkotaan yang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi, Populasi dan Sampel Penelitian 1. Lokasi Penelitian Lokasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Universitas Pendidikan Indonesia yang beralamat di Jl. Dr. Setiabudhi

Lebih terperinci

PENDEKATAN ECO-SPATIAL BEHAVIOR PENGHUNIAN RUMAH SUSUN KOTA BARU BANDAR KEMAYORAN BAMBANG DELIYANTO

PENDEKATAN ECO-SPATIAL BEHAVIOR PENGHUNIAN RUMAH SUSUN KOTA BARU BANDAR KEMAYORAN BAMBANG DELIYANTO PENDEKATAN ECO-SPATIAL BEHAVIOR PENGHUNIAN RUMAH SUSUN KOTA BARU BANDAR KEMAYORAN BAMBANG DELIYANTO SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011 PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER INFORMASI

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

BAB IV KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 101 BAB IV KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1. Gambaran Umum Kota Baru Bandar Kemayoran 4.1.1. Pembangunan Kota Baru Bandar Kemayoran Dengan dipindahkannya

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan mulai bulan Maret hingga bulan November 2009, bertempat di laboratorium dan di lapangan. Penelitian di lapangan ( pengecekan

Lebih terperinci

Tabel 1.1 Target RPJMN, RPJMD Provinsi dan kondisi Kota Depok. Jawa Barat. Cakupan pelayanan air limbah domestic pada tahun 2013 sebesar 67-72%

Tabel 1.1 Target RPJMN, RPJMD Provinsi dan kondisi Kota Depok. Jawa Barat. Cakupan pelayanan air limbah domestic pada tahun 2013 sebesar 67-72% BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sanitasi merupakan salah satu sektor yang memiliki keterkaitan sangat erat dengan kemiskinan tingkat pendidikan, kepadatan penduduk, daerah kumuh dan akhirnya pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Urbanisasi merupakan salah satu penyebab utama tumbuhnya kotakota di Indonesia. Salah satu kota yang memiliki populasi penduduk terbesar di dunia adalah Jakarta. Provinsi

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 50 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metodologi Penelitian Metodologi yang dipilih dalam penelitian ini adalah metodologi penelitian kuantitatif. Metode kuantitatif digunakan untuk menemukan hubungan modal

Lebih terperinci

III METODE PENELITIAN

III METODE PENELITIAN 31 III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Kawasan Minapolitan Kampung Lele Kabupaten Boyolali, tepatnya di Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali. Penelitian

Lebih terperinci

METODA PENELITIAN. Kerangka Pemikiran Konseptual Penelitian. Mulai

METODA PENELITIAN. Kerangka Pemikiran Konseptual Penelitian. Mulai 45 METODA PENELITIAN Kerangka Pemikiran Konseptual Penelitian Semakin ketatnya persaingan produk agroindustri pangan merupakan tantangan bagi industri dalam memenuhi harapan konsumen, oleh karena itu setiap

Lebih terperinci

Gambar 5 Peta administrasi kota Tangerang Selatan

Gambar 5 Peta administrasi kota Tangerang Selatan METODOLOGI PENELITIAN Lokasi Penelitian Lokasi penelitian adalah Kota Tangerang Selatan yang merupakan hasil pemekaran dari kabupaten Tangerang propinsi Banten. Kota Tangerang Selatan mempunyai luas wilayah

Lebih terperinci

TINGKAT KEPUASAN PENGHUNI RUSUNAWA TERHADAP FISIK DAN LINGKUNGAN RUSUNAWA DI SURAKARTA

TINGKAT KEPUASAN PENGHUNI RUSUNAWA TERHADAP FISIK DAN LINGKUNGAN RUSUNAWA DI SURAKARTA TINGKAT KEPUASAN PENGHUNI RUSUNAWA TERHADAP FISIK DAN LINGKUNGAN RUSUNAWA DI SURAKARTA Masturina Kusuma Hidayati Magister Perencanaan Kota dan Daerah Universitas Gadjah Mada (UGM) E-mail : [email protected]

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DATA 4.1. PENDAHULUAN

BAB IV ANALISA DATA 4.1. PENDAHULUAN BAB IV ANALISA DATA 4.1. PENDAHULUAN Pada Bab ini akan dijelaskan mengenai proses analisa data, termasuk gambaran umum data yang di analisa guna mendapatkan jawaban dari pertanyaan penelitian dan pengolahan

Lebih terperinci

PENGARUH METODE EVALUASI PENAWARAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH TERHADAP HASIL PEKERJAAN DENGAN PENDEKATAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS

PENGARUH METODE EVALUASI PENAWARAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH TERHADAP HASIL PEKERJAAN DENGAN PENDEKATAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS PENGARUH METODE EVALUASI PENAWARAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH TERHADAP HASIL PEKERJAAN DENGAN PENDEKATAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS ( Studi Kasus di Pemerintah Kabupaten Temanggung ) RINGKASAN

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR 118 PEREMAJAAN RUMAH SUSUN PEKUNDEN SEMARANG BAB I PENDAHULUAN

TUGAS AKHIR 118 PEREMAJAAN RUMAH SUSUN PEKUNDEN SEMARANG BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan, perumahan, dan pemukiman pada hakekatnya merupakan pemanfaatan lahan secara optimal, khususnya lahan di perkotaan agar berdaya guna dan berhasil guna sesuai

Lebih terperinci

EVALUASI PENYEDIAAN FASILITAS RUMAH SUSUN (Studi Kasus Rumah Susun Warugunung dan Rumah Susun Penjaringansari I di Kota Surabaya)

EVALUASI PENYEDIAAN FASILITAS RUMAH SUSUN (Studi Kasus Rumah Susun Warugunung dan Rumah Susun Penjaringansari I di Kota Surabaya) EVALUASI PENYEDIAAN FASILITAS RUMAH SUSUN (Studi Kasus Rumah Susun Warugunung dan Rumah Susun Penjaringansari I di Kota Surabaya) Widiastuti Hapsari dan Ria Asih Aryani Soemitro Bidang Keahlian Manajemen

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN 1 N

METODE PENELITIAN 1 N 32 METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian ini merupakan bagian dari data baseline pada kajian Studi Ketahanan Pangan dan Coping Mechanism Rumah Tangga di Daerah Kumuh yang dilakukan Departemen

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Istilah peran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti perangkat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Istilah peran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti perangkat 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Peran Istilah peran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di masyarakat (KBBI, 2005:854).

Lebih terperinci

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. Pada Restaurant Bumbu Desa Cabang Laswi Bandung, penulis melakukan

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. Pada Restaurant Bumbu Desa Cabang Laswi Bandung, penulis melakukan BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1. Objek Penelitian Untuk mengumpulkan data yang dijadikan bahan dalam penyusunan Tugas Akhir yang berjudul Analisis Penilaian Citra Perusahaan Oleh Konsumen Pada

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Kawasan Agropolitan Ciwidey yang meliputi Kecamatan Pasirjambu, Kecamatan Ciwidey dan Kecamatan Rancabali Kabupaten Bandung.

Lebih terperinci

BAB III METODE KAJIAN

BAB III METODE KAJIAN 47 BAB III METODE KAJIAN 3.1 Kerangka Pemikiran Meningkatnya aktivitas perkotaan seiring dengan laju pertumbuhan ekonomi masyarakat yang kemudian diikuti dengan tingginya laju pertumbuhan penduduk akan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jakarta yang mencakup Jabodetabek merupakan kota terpadat kedua di dunia dengan jumlah penduduk 26.746.000 jiwa (sumber: http://dunia.news.viva.co.id). Kawasan Jakarta

Lebih terperinci

III METODE PENELITIAN

III METODE PENELITIAN 55 III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian akan dilaksanakan di Wilayah DAS Citarum yang terletak di Propinsi Jawa Barat meliputi luas 6.541 Km 2. Secara administratif DAS Citarum

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif sesuai tujuannya. Desain

BAB III METODE PENELITIAN. dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif sesuai tujuannya. Desain BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Desain penelitian adalah suatu rencana tentang cara mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data secara sistematis dan terarah agar penelitian dapat dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. simulasi komputer yang diawali dengan membuat model operasional sistem sesuai dengan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. simulasi komputer yang diawali dengan membuat model operasional sistem sesuai dengan BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Penulisan ini dilakukan dengan menggunakan metoda System Dynamics yaitu sebuah simulasi komputer yang diawali dengan membuat model operasional sistem

Lebih terperinci

3. METODOLOGI PENELITIAN

3. METODOLOGI PENELITIAN 20 3. METODOLOGI PENELITIAN Kerangka Pemikiran Penelitian Pengembangan agroindustri udang merupakan hal yang sangat penting dalam siklus rantai komoditas udang. Pentingnya keberadaan agroindustri udang

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 55 III. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di lima bandara di Indonesia, yaitu bandara Juanda di Surabaya, bandara Hasanuddin di Makasar, bandara Pattimura di Ambon,

Lebih terperinci

PEMILIHAN LOKASI PERUMAHAN

PEMILIHAN LOKASI PERUMAHAN PEMILIHAN LOKASI PERUMAHAN Pemilihan lokasi perumahan oleh penghuni, pengembang, dan pemerintah dianalisis berdasarkan hasil kuesioner dengan teknik analisis komponen utama menggunakan sofware SPSS for

Lebih terperinci

PRASARANA DAN SARANA PERMUKIMAN

PRASARANA DAN SARANA PERMUKIMAN PRASARANA DAN SARANA PERMUKIMAN Kelayakan kawasan hunian salah satunya adalah tersedianya kebutuhan prasarana dan sarana permukiman yang mampu memenuhi kebutuhan penghuni didalamnya untuk melakukan aktivitas,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 70 BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis relevansi muatan lokal pengembangan potensi di. Analisis relevansi dilakukan terhadap relevansi eksternal antara tujuan muatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kota menawarkan berbagai ragam potensi untuk mengakumulasi aset

BAB I PENDAHULUAN. Kota menawarkan berbagai ragam potensi untuk mengakumulasi aset BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kota menawarkan berbagai ragam potensi untuk mengakumulasi aset sosial, ekonomi, dan fisik. Kota berpotensi memberikan kondisi kehidupan yang sehat dan aman, gaya hidup

Lebih terperinci

EFEKTIFITAS PENERAPAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) DALAM PEMILIHAN PERANGKAT LUNAK PENGOLAH CITRA DENGAN MENGGUNAKAN EXPERT CHOICE

EFEKTIFITAS PENERAPAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) DALAM PEMILIHAN PERANGKAT LUNAK PENGOLAH CITRA DENGAN MENGGUNAKAN EXPERT CHOICE 34 EFEKTIFITAS PENERAPAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) DALAM PEMILIHAN PERANGKAT LUNAK PENGOLAH CITRA DENGAN MENGGUNAKAN EXPERT CHOICE Faisal piliang 1,Sri marini 2 [email protected],

Lebih terperinci

PENJELASAN. A. Isilah keterangan dibawah ini atau beri tanda centang / check list (V) pada pertanyaan pilihan.

PENJELASAN. A. Isilah keterangan dibawah ini atau beri tanda centang / check list (V) pada pertanyaan pilihan. Lampiran 1 Kuesioner Penelitian PENJELASAN 1. Kuesioner ini adalah alat penggalian data untuk menyusun tesis penelitian program Magister Adminitrasi Publik Univeristas Esa Unggul Jakarta. 2. Tujuan survei

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR ISI PERNYATAAN... i KATA PENGANTAR... ii UCAPAN TERIMAKASIH... iii ABSTRAK... v DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR LAMPIRAN... xiii BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang...

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Desain Penelitian Teknik Penarikan Contoh

METODE PENELITIAN Desain Penelitian Teknik Penarikan Contoh METODE PENELITIAN Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional study. Cross sectional study dilakukan untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. A. Lokasi dan Subjek Populasi/Sampel Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. A. Lokasi dan Subjek Populasi/Sampel Penelitian BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Populasi/Sampel Penelitian 1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang terletak di Jl. DR. Setiabudhi

Lebih terperinci

PENENTUAN LOKASI PROGRAM PENGEMBANGAN KAWASAN PERDESAAN BERKELANJUTAN KABUPATEN BULUNGAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA

PENENTUAN LOKASI PROGRAM PENGEMBANGAN KAWASAN PERDESAAN BERKELANJUTAN KABUPATEN BULUNGAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA PENENTUAN LOKASI PROGRAM PENGEMBANGAN KAWASAN PERDESAAN BERKELANJUTAN KABUPATEN BULUNGAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA Virgeovani Hermawan 1 1 Mahasiswa Magister Teknik Sipil Konsentrasi Manajemen Proyek Konstruksi

Lebih terperinci

Berikut ini akan dijelaskan batasan variabel penelitian dan indikatornya, seperti dalam Tabel. 1, berikut ini:

Berikut ini akan dijelaskan batasan variabel penelitian dan indikatornya, seperti dalam Tabel. 1, berikut ini: METODA PENELITIAN Obyek Penelitian Penelitian ini dilakukan pada auditor internal IGE Timor Leste, alasannya bahwa IGE merupakan satu-satunya internal auditor pemerintah di Timor Leste. Desain Penelitian

Lebih terperinci

3 METODOLOGI PENELITIAN

3 METODOLOGI PENELITIAN 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian lapangan dilaksanakan di Desa Karang Song, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yaitu tempat yang ditetapkan pemerintah sebagai lahan pemukiman

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. evaluasi pelaksanaan pada Tahun yang menggunakan pendekatan

BAB III METODE PENELITIAN. evaluasi pelaksanaan pada Tahun yang menggunakan pendekatan BAB III METODE PENELITIAN A. Tipe Penelitian Studi ini merupakan kategori studi evaluatif program dengan tahapan evaluasi pelaksanaan pada Tahun 2010-2013 yang menggunakan pendekatan kualitatif. Subyek

Lebih terperinci

Penentuan Variabel Berpengaruh dalam Pengembangan Kawasan Strategis Ekonomi Pesisir Utara pada Bidang Perikanan di Kota Pasuruan

Penentuan Variabel Berpengaruh dalam Pengembangan Kawasan Strategis Ekonomi Pesisir Utara pada Bidang Perikanan di Kota Pasuruan C1 Penentuan Berpengaruh dalam Pengembangan Kawasan Strategis Ekonomi Pesisir Utara pada Bidang Perikanan di Kota Pasuruan Dwi Putri Heritasari dan Rulli Pratiwi Setiawan Perencanaan Wilayah dan Kota,

Lebih terperinci

BAB III METODE PERANCANGAN. kualitatif. Dimana dalam melakukan analisisnya, yaitu dengan menggunakan konteks

BAB III METODE PERANCANGAN. kualitatif. Dimana dalam melakukan analisisnya, yaitu dengan menggunakan konteks BAB III METODE PERANCANGAN Metode perancangan Rumah Susun pekerja ini menggunakan metode secara kualitatif. Dimana dalam melakukan analisisnya, yaitu dengan menggunakan konteks permasalahan yang ada secara

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor mulai Desember 2010 Maret 2011. 3.2 Bahan dan Alat Bahan dan alat yang digunakan

Lebih terperinci

KONSEP OPTIMALISASI BUILDING PERFORMANCE DALAM PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEDERHANA Lokasi Studi : Rumah Susun Sukaramai, Medan

KONSEP OPTIMALISASI BUILDING PERFORMANCE DALAM PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEDERHANA Lokasi Studi : Rumah Susun Sukaramai, Medan KONSEP OPTIMALISASI BUILDING PERFORMANCE DALAM PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEDERHANA Lokasi Studi : Rumah Susun Sukaramai, Medan By : ROBINHOT JEREMIA LUMBANTORUAN 3208201816 LATAR BELAKANG Rumah susun sebagai

Lebih terperinci

Gambar 7 Peta wilayah Kota Bandung

Gambar 7 Peta wilayah Kota Bandung III. METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian adalah di Kota Bandung, dengan luas wilayah 16.729,00 hektar, terdiri dari 26 kecamatan. Gambar 8 menunjukkan peta administratif

Lebih terperinci

3 METODE Rancangan Penelitian

3 METODE Rancangan Penelitian Peningkatan kesadaran perusahaan terhadap perlunya perilaku tanggung jawab sosial terjadi secara global. Para pengambil kebijakan di perusahaan semakin menyadari bahwa tujuan tanggung jawab sosial adalah

Lebih terperinci

KAJIAN PERSEBARAN RUMAH SUSUN SERTA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DI JAKARTA. Freddy Masito S. Su Ritohardoyo

KAJIAN PERSEBARAN RUMAH SUSUN SERTA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DI JAKARTA. Freddy Masito S. Su Ritohardoyo KAJIAN PERSEBARAN RUMAH SUSUN SERTA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DI JAKARTA Freddy Masito S. [email protected] Su Ritohardoyo [email protected] Abstract One of the problems happened in Indonesia is the

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini berlokasi di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Galuga dan sekitarnya, Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. juta jiwa. Sedangkan luasnya mencapai 662,33 km 2. Sehingga kepadatan

BAB 1 PENDAHULUAN. juta jiwa. Sedangkan luasnya mencapai 662,33 km 2. Sehingga kepadatan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jakarta merupakan ibu kota Indonesia yang termasuk dalam 14 kota terbesar di dunia. Berdasarkan data sensus penduduk dari Badan Pusat Statistik, pada tahun 2009 Jakarta

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. kuantitatif dengan metode eksperimen semu (quasi eksperimen). Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. kuantitatif dengan metode eksperimen semu (quasi eksperimen). Penelitian BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Pendekatan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen semu (quasi eksperimen). Penelitian eksperimen

Lebih terperinci

BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA 4.1 UMUM Bagian ini akan menjelaskan hasil pengolahan data yang didapat melalui survey kuisioner maupun survey wawancara, beserta analisis perbandingan hasil pengolahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penduduk tersebutlah yang menjadi salah satu masalah bagi suatu kota besar.

BAB I PENDAHULUAN. penduduk tersebutlah yang menjadi salah satu masalah bagi suatu kota besar. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sampai saat ini kota besar masih memiliki daya tarik bagi masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah kegiatan perekonomian dan pendidikan yang menyebabkan banyak

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara

METODE PENELITIAN. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di daerah sepanjang jalan Cicurug-Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang tujuannya untuk menyajikan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Indonesia memiliki potensi bahan baku industri agro, berupa buah buahan tropis yang cukup melimpah. Namun selama ini ekspor yang dilakukan masih banyak dalam bentuk buah segar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Objek Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Objek Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Objek Penelitian Perumahan dan permukiman merupakan hak dasar bagi setiap warga negara Indonesia sebagaimana yang diamanatkan dalam UUD tahun 1945 pasal 28 H ayat (I) bahwa: setiap

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Langkah-Langkah Penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Langkah-Langkah Penelitian BAB III METODOLOGI PENELITIAN III.1 Langkah-Langkah Penelitian Untuk mencapai maksud dan tujuan penelitian yang telah ditetapkan kemudian disusun metodologi penelitian yang terdiri dari langkah-langkah

Lebih terperinci

5 STRATEGI PENYEDIAAN AIR BERSIH KOTA TARAKAN

5 STRATEGI PENYEDIAAN AIR BERSIH KOTA TARAKAN 5 STRATEGI PENYEDIAAN AIR BERSIH KOTA TARAKAN Dalam bab ini akan membahas mengenai strategi yang akan digunakan dalam pengembangan penyediaan air bersih di pulau kecil, studi kasus Kota Tarakan. Strategi

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Kesiapan Kebijakan dalam Mendukung Terwujudnya Konsep Kawasan Strategis Cepat Tumbuh (KSCT)

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Kesiapan Kebijakan dalam Mendukung Terwujudnya Konsep Kawasan Strategis Cepat Tumbuh (KSCT) BAB V PEMBAHASAN Pembahasan ini berisi penjelasan mengenai hasil analisis yang dilihat posisinya berdasarkan teori dan perencanaan yang ada. Penelitian ini dibahas berdasarkan perkembangan wilayah Kecamatan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. informasi dari kalangan aparat pemerintah dan orang yang berhubungan erat

III. METODE PENELITIAN. informasi dari kalangan aparat pemerintah dan orang yang berhubungan erat III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Data-data yang digunakan untuk penelitian ini merupakan gabungan antara data primer dan data sekunder. Data primer mencakup hasil penggalian pendapat atau

Lebih terperinci

AR 40Z0 Laporan Tugas Akhir Rusunami Kelurahan Lebak Siliwangi Bandung BAB 1 PENDAHULUAN

AR 40Z0 Laporan Tugas Akhir Rusunami Kelurahan Lebak Siliwangi Bandung BAB 1 PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah susun ini dirancang di Kelurahan Lebak Siliwangi atau Jalan Tamansari (lihat Gambar 1 dan 2) karena menurut tahapan pengembangan prasarana perumahan dan permukiman

Lebih terperinci

RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) IBUKOTA KECAMATAN TALANG KELAPA DAN SEKITARNYA

RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) IBUKOTA KECAMATAN TALANG KELAPA DAN SEKITARNYA 1.1 LATAR BELAKANG Proses perkembangan suatu kota ataupun wilayah merupakan implikasi dari dinamika kegiatan sosial ekonomi penduduk setempat, serta adanya pengaruh dari luar (eksternal) dari daerah sekitar.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. merumuskan masalah sampai dengan menarik kesimpulan (Purwanto,

BAB III METODE PENELITIAN. merumuskan masalah sampai dengan menarik kesimpulan (Purwanto, BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian merupakan keseluruhan cara atau kegiatan yang dilakukan oleh peneliti dalam melaksanakan penelitian mulai dari merumuskan masalah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Bab ini berisikan pernyataan penelitian, hipotesis penelitian, variabel penelitian, responden penelitian, alat ukur penelitian, prosedur penelitian, dan metode analisis data.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kepadatan penduduk di Kabupaten Garut telah mencapai 2,4 juta jiwa

BAB I PENDAHULUAN. Kepadatan penduduk di Kabupaten Garut telah mencapai 2,4 juta jiwa 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kepadatan penduduk di Kabupaten Garut telah mencapai 2,4 juta jiwa pada tahun 2006 memberikan konsekuensi pada perlunya penyediaan perumahan yang layak huni

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI 3.1 Waktu Magang

BAB III METODOLOGI 3.1 Waktu Magang 12 BAB III METODOLOGI 3.1 Waktu Magang Kegiatan magang berlangsung sekitar tiga bulan (Tabel 1) dimulai pada bulan Februari dan berakhir pada bulan Mei Tabel 1 Kegiatan dan Alokasi Waktu Magang Jenis Kegiatan

Lebih terperinci

5.1 Kondisi dan Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan

5.1 Kondisi dan Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan V PEMBAHASAN UMUM Dalam Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, diamanatkan bahwa wilayah perbatasan negara sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN), maka program pengembangan wilayahnya

Lebih terperinci

BAB 3 Metode Penelitian

BAB 3 Metode Penelitian BAB 3 Metode Penelitian 3.1 Variabel penelitian & hipotesis 3.1.1 Definisi operasional variabel penelitian Variabel penelitian menurut Hatch dan Farhady (dalam Iskandar, 2013) adalah atribut dari objek

Lebih terperinci

EVALUASI PENCAPAIAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) PELAYANAN BIDANG SARANA DAN PRASARANA DASAR KABUPATEN KUTAI TIMUR. Arif Mudianto.

EVALUASI PENCAPAIAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) PELAYANAN BIDANG SARANA DAN PRASARANA DASAR KABUPATEN KUTAI TIMUR. Arif Mudianto. EVALUASI PENCAPAIAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) PELAYANAN BIDANG SARANA DAN PRASARANA DASAR KABUPATEN KUTAI TIMUR Oleh : Arif Mudianto Abstrak Standar Pelayanan Minimal (SPM) adalah ketentuan tentang

Lebih terperinci

DAFTAR PUSTAKA. BPS Monografi Kelurahan Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara. Semarang : Kelurahan Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara.

DAFTAR PUSTAKA. BPS Monografi Kelurahan Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara. Semarang : Kelurahan Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara. DAFTAR PUSTAKA BPS. 2011. Kecamatan Semarang Tengah Dalam Angka 2010. Semarang : BPS Semarang. BPS. 2011. Kecamatan Semarang Utara Dalam Angka 2010. Semarang : BPS Semarang. BPS. 2011. Kota Semarang Dalam

Lebih terperinci

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan penghunian perumahan sederhana di perumnas klender Bambang Deliyanto

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan penghunian perumahan sederhana di perumnas klender Bambang Deliyanto Perpustakaan Universitas Indonesia >> UI - Tesis (Membership) Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan penghunian perumahan sederhana di perumnas klender Bambang Deliyanto Deskripsi Dokumen: http://lib.ui.ac.id/opac/ui/detail.jsp?id=80209&lokasi=lokal

Lebih terperinci

6 MODEL PENGEMBANGAN PESISIR BERBASIS BUDIDAYA PERIKANAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

6 MODEL PENGEMBANGAN PESISIR BERBASIS BUDIDAYA PERIKANAN BERWAWASAN LINGKUNGAN 119 6 MODEL PENGEMBANGAN PESISIR BERBASIS BUDIDAYA PERIKANAN BERWAWASAN LINGKUNGAN Skenario pengembangan kawasan pesisir berbasis budidaya perikanan berwawasan lingkungan, dibangun melalui simulasi model

Lebih terperinci

PENGARUH LEMBAGA RUKUN TETANGGA (RT) TERHADAP KONDISI RUMAH SUSUN DINAS PEMADAM KEBAKARAN PEGADUNGAN DAN PONCOL JAKARTA

PENGARUH LEMBAGA RUKUN TETANGGA (RT) TERHADAP KONDISI RUMAH SUSUN DINAS PEMADAM KEBAKARAN PEGADUNGAN DAN PONCOL JAKARTA .OPEN ACCESS. PENGARUH LEMBAGA RUKUN TETANGGA (RT) TERHADAP KONDISI RUMAH SUSUN DINAS PEMADAM KEBAKARAN PEGADUNGAN DAN PONCOL JAKARTA Jurnal Pengembangan Kota (2015) Volume 3 No. 1 (1 10) Tersedia online

Lebih terperinci

III METODE PENELITIAN

III METODE PENELITIAN 42 III METODE PENELITIAN 3.1. Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di daerah Cilegon serta kawasan industri di Cilegon (Kawasan Industri Estate Cilegon, KIEC). Jenis industri di daerah tersebut adalah

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Desain Penelitian Lokasi dan Waktu Penelitian Populasi dan Sampel

METODE PENELITIAN Desain Penelitian Lokasi dan Waktu Penelitian Populasi dan Sampel METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian didesain sebagai penelitian survei yang bersifat deskriptif korelasional. Menurut Singarimbun dan Effendi (2006) desain penelitian survei adalah penelitian

Lebih terperinci

IV. METODOLOGI 4.1 Metode Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data 4.3 Populasi dan Contoh

IV. METODOLOGI 4.1 Metode Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data 4.3 Populasi dan Contoh IV. METODOLOGI 4.1 Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survai. Menurut Singarimbun (1995) survai adalah metode yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Pembangunan bidang sanitasi di berbagai daerah selama ini belum menjadi prioritas, sehingga perhatian dan alokasi pendanaan pun cenderung kurang memadai. Disamping

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia dengan kurang lebih 17.508 buah pulau dan mempunyai panjang garis pantai 81.791 km (Supriharyono, 2002).

Lebih terperinci