BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang"

Transkripsi

1 Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bertambahnya jumlah penduduk dan sempitnya lahan untuk kegiatan pembangunan dan pertanian merupakan salah satu masalah dunia yang dihadapi dewasa ini, baik di perdesaan maupun di perkotaan (Santun, 2006). Gejala ini dapat dilihat dari meningkatnya penduduk dunia yang tinggal di kota dari 1,983 milyar pada tahun 1985, 3 milyar pada tahun 2000 dan akan mencapai 5 milyar pada tahun 2025 (WCED, 1988; SKEPHI), Hal ini juga terjadi di Indonesia, jumlah penduduk perkotaan dalam beberapa dekade mengalami pertambahan yang sangat pesat. Pada tahun 2004 persentase penduduk perkotaan mencapai 48,3 persen. Kondisi ini terus meningkat seperti keadaan tahun 1971 yang hanya sebesar 17,4 persen menjadi sebesar 22,27 persen pada tahun 1980 dan pada tahun 1995 sebesar 35,9 persen. Diperkirakan pada tahun 2025 proporsi penduduk perkotaan akan mencapai 68,3 persen (Indrawati, 2005). Hal tersebut menunjukkan bahwa dunia semakin mengkota dan kota semakin mendunia, diikuti dengan sistem ekonomi yang semakin menuju pada sistem ekonomi perkotaan, dengan jaring-jaring komunikasi, produksi, dan perdagangan yang saling tumpang tindih (WCED, 1988). Pesatnya kegiatan perekonomian pada kota-kota besar tersebut umumnya diikuti dengan fenomena ekslusivisme permukiman kota dan kian meningkatnya kesenjangan sosial antar kelompok masyarakat kota. Sementara itu, di tingkat internal kota muncul tantangan meningkatnya permintaan terhadap pelayanan publik, seperti transportasi massal, air bersih dan sanitasi, enerji, pekerjaan yang layak, perumahan dan lingkungan yang aman, bersih serta sehat (Indrawati, 2005). Gejala masih lemahnya manajemen perkotaan di kota-kota besar Indonesia termasuk DKI Jakarta ditandai dengan meningkatnya kemacetan, polusi, kriminalitas, banjir, dan rendahnya mutu pelayanan publik. Oleh karena itu dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan publik, pemerintah kota harus

2 2 Bambang Deliyanto mampu meningkatkan 1 kapasitasnya untuk menghasilkan dan mengelola infra struktur, pelayanan, dan permukiman perkotaannya. Salah satu upaya yang pernah dicoba untuk mengatasi besarnya tantangan perkotaan di DKI Jakarta tersebut, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Inpres No. 13/1976 tentang Pengembangan Wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek) untuk meringankan tekanan penduduk DKI Jakarta. Kebijakan ini ternyata sampai dengan tahun 1997 telah mendorong dikeluarkannya Ijin Lokasi untuk pembangunan perumahan dan permukiman seluas ha oleh Pemda setempat. Dinyatakan Bappeda DKI (1997) dalam Properti Indonesia, Oktober 1997, bahwa pada tahun 1997 Kabupaten dan Kodya Bogor telah bertambah 130 permukiman baru; Kabupaten dan Kodya Bekasi bertambah 107 permukiman baru; dan Kabupaten dan Kodya Tangerang bertambah 152 permukiman baru. Jumlah tersebut baru merupakan realisasi sebagian dari Ijin Lokasi, dan baru mencapai ha dari ha. Kebijakan tersebut, di sisi lain ternyata berdampak negatif pada kualitas lingkungan di wilayah tersebut. Dari 193 situ yang ada di Jabotabek, 65% menjadi permukiman dalam kurun waktu 20 tahun terakhir; luas area DKI yang terkena banjir dari 21,36% tahun 1992 menjadi 79,71% pada tahun 2002 (Bappeda, 2002); alokasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) : 37% turun menjadi 25,85% pada RTRW , kini RTH yang dialokasikan RT/RW tinggal 13,94% (Yoga, 2006), ironisnya kini RTH di DKI Jaya tinggal 9%. Akibat ketidaksiapan Pemerintah Kota dalam mengelola lingkungan menyebabkan kualitas udara Jakarta menduduki peringkat terkotor ke 3 di dunia. Ketidaksiapan ini juga memberikan dampak sosial dalam bentuk kriminal seperti perampokan, penodongan, dan penggunaan narkoba yang menurut data adalah merupakan tiga kejahatan yang paling kerap terjadi (Kusumawijaya, 2006). Ketidak-sanggupan Pemerintah Kota dalam meningkatkan pelayanan infra struktur dan permukiman mengakibatkan menjamurnya permukiman kumuh dan liar 2 dengan kepadatan yang terus meningkat, diikuti dengan berjangkitnya 1 WCED (1988) menyebutkan diperlukan peningkatan fasilitas pelayanan hingga 65 % dalam kurun waktu 15 tahun hingga tahun 2000-an. 2 Gambaran rendahnya kualitas biofisik permukiman kota dapat dilihat dari adanya rumah liar dan kumuh yang mencapai 500 ribu KK di Jakarta, 40 ribu di Bandung, 90 ribu KK Semarang, dan 125 ribu KK di Surabaya pada tahun 1991 (Manuwoto, 1991).Kini di Jakarta menurun menjadi KK, Provinsi Jabar KK (BPS, 2010)

3 Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 3 penyakit menular yang berkaitan dengan lingkungan yang kurang sehat 3. Masalah permukiman kumuh dan permukiman liar tersebut apa bila tidak dibenahi akan terus meningkat. Agenda 21 yang dicanangkan di Rio de Janeiro tahun 1992 mengamanatkan pentingnya pembangunan yang berkelanjutan di sektor permukiman dan lingkungan hidup, maupun sektor lainnya seperti sektor pertambangan dan energi, serta transportasi yang telah diratifikasi oleh banyak negara termasuk Indonesia. Beberapa upaya dan kebijakan stratejik dilakukan oleh Pemerintah Pusat untuk mengurangi peningkatan dampak negatif dari kebijakan pembangunan permukiman dan memperbaiki kualitas lingkungan permukiman kumuh dan liar di perkotaan. Lima kebijakan pengelolaan lingkungan untuk memecahkan masalah lingkungan permukiman kumuh dan liar adalah (1) program pemindahan penduduk, (2) bantuan penataan lingkungan permukiman, (3) perbaikan kampung, (4) rehabilitasi kawasan kumuh, (5) peremajaan lingkungan 4 permukiman kumuh dan membangun permukiman susun (Komarudin, 1999). Membangun permukiman susun melalui kegiatan peremajaan lingkungan merupakan upaya yang menjadi prioritas Pemerintah Daerah dalam merehabilitasi kawasan kumuh di perkotaan. Di sisi lain, peralihan kebiasan atau budaya menghuni permukiman tidak susun (landed houses) ke permukiman susun akan memunculkan permasalahan penghunian bagi penghuni terutama dalam beradaptasi dengan lingkungan permukiman rumah susun. Ketidakmampuan beradaptasi ini dapat menimbulkan tekanan jiwa (stress) dan gangguan kesehatan pada penghuninya (Bell, 1978; Holahan, 1982; Wirawan 1992). Frick (2006) mengatakan, interaksi sosial antar manusia dalam rumah susun seringkali kurang akrab dibandingkan dengan kampung atau desa. Kehidupan sosial di rumah susun yang dikenal sebagai kehidupan masyarakat modern menuntut kesiapan sikap, perilaku, dan pola hidup tertentu. Pada umumnya dijumpai bahwa kondisi penghuni belum dibekali oleh sikap dan kesiapan mental maupun perilaku yang cocok untuk hidup di rumah susun. 3 Di Jakarta 25,82% rumah tidak mempunyai got atau mempunyai got tetapi alirannya lambat dan tergenang, 59,43% rumah tangga merasakan gangguan polusi (BPS, 2004). 4 Prinsip peremajaan lingkungan permukiman kumuh adalah memukimkan kembali penghuni permukiman kumuh (Jakarta bangunan) yang diremajakan ke dalam lingkungan permukiman (program 1000 tower) rumah susun yang baru, sehat, bersih, teratur dan tertib. Pembangunan Rumah susun ini dilakukan sebagai salah satu solusi kelangkaan dan mahalnya lahan maupun perkembangan kebutuhan masyarakat akan perumahan, serta kepadatan daerah yang tinggi di daerah perkotaan (60% - 75% luas lahan tertutup bangunan, kepadatan bangunan unit per Ha).

4 4 Bambang Deliyanto Mayoritas calon penghuni bertahun-tahun tinggal dan hidup di lingkungan permukiman kumuh yang serba tidak teratur dan tidak tertib harus menempatkan diri ke dalam pola hidup masyarakat rumah susun (bertingkat) yang serba teratur, tertib, tertata, terbatas teritorinya, dan dikendalikan oleh peraturan dan norma-norma sosial tertentu. Proses pengubahan sistem nilai seperti tersebut memerlukan waktu dan proses belajar yang cukup lama. Masyarakat yang bertahun-tahun terbiasa hidup dengan pola dan gaya hidup mereka sendiri, bertetangga yang sifatnya horizontal, harus menyesuaikan diri pada lingkungan permukiman baru yang sama sekali berbeda. Hidup yang biasa melekat dengan tanah, bercocok tanam, memelihara unggas/ binatang, dibiasakan untuk hidup bertetangga secara vertikal, keluar rumah harus naik-turun tangga, tidak gaduh, tenggang rasa antar tetangga dan antara etnik, toleransi menggunakan dan memelihara ruang dan benda bersama, menjaga kebersihan di ringkungan unit masing-masing, dan mentaati peraturan dan tata tertib yang berlaku. Beberapa perilaku yang sering terjadi di lingkungan permukiman rumah susun misalnya duduk-duduk di tangga, bersuara keras, menyetel radio/tape/televisi keras-keras, anak-anak berlarian di selasar dan berteriak-teriak, membuang sampah tidak pada tempatnya, meletakkan barang bekas di ruang bersama, menjemur pakaian di jendela/balkon, dan kurang peduli terhadap kehidupan tetangga dan kebersihan lingkungan. Hal ini terjadi karena adanya kesenjangan kultural (cultural gap) antara kehidupan di permukiman tidak susun dengan kehidupan di rumah susun, penghuni menjumpai suatu kondisi yang berbeda sama sekali dengan apa yang dialami sebelumnya di hunian tidak bertingkat atau susun, mereka mengalami kejutan yang dapat berpengaruh terhadap perilaku sosialnya. Kesenjangan kultural ini dimungkinkan karena menurut psikolog John S. Nimpuno bahwa tingkah laku manusia tidak bisa dilepaskan dari ketergantungannya pada tiga sistem, yaitu sistem lingkungan hidup biofisik, sistem sosial dan sistem konsep/orientasi budaya (Darmiwati, 2000). Masalah sosial juga dapat muncul akibat adanya penyeragaman bentuk bangunan yang direncanakan oleh Arsitek (Halim, 2005), seperti penyeragaman bentuk bangunan rumah susun untuk penghuni yang berasal dari berbagai daerah dengan karakteristik budaya yang berbeda-beda. Variasi unit rumah susun yang sangat beranekaragam (dari tipe 21 sampai 72, dari sederhana sampai mewah) menurut Frick (2006) dan Newman (1972) dapat memunculkan kekumuhan dan kriminalitas yang tinggi, seperti yang terjadi pada permukiman

5 Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 5 rumah susun di Pruitt-Igoe, St Louis, Missori AS, sehingga permukiman rumah susun tersebut dihancurkan pada tahun Kesenjangan kultural tersebut di atas dapat menimbulkan sikap negatif penghuni terhadap lingkungan permukiman rumah susun, sikap tersebut dapat mendorong pada kondisi permukiman yang tidak berkelanjutan atau fungsi lingkungan permukiman tidak lestari. Fungsi lingkungan permukiman akan terlaksana dengan optimal bila didukung oleh sikap positif penghuni terhadap lingkungan, baik secara kognisi, afeksi, maupun konasi, juga didukung adanya peningkatan motivasi hidup sehat, serta peningkatan status sosial ekonomi yang mencakup pendidikan, pendapatan, kualitas rumah, dan kualitas hidup (Harsiti, 2002, Gamal, 2009). Bila fungsi lingkungan permukiman ini bisa lestari dan berkelanjutan pada ujungnya dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai penghuninya, seperti yang dinyatakan oleh Kirmanto (2002), bahwa dalam kerangka hubungan ekologis antara manusia dan lingkungan permukimannya terlihat bahwa kualitas sumber daya manusia di masa yang akan datang sangat dipengaruhi oleh kualitas perumahan dan permukiman tempat masyarakat tinggal. Uraian tersebut di atas menunjukkan adanya transaksi antara individu (manusia) dengan seting fisiknya Gifford (1987), seperti juga yang dikemukakan Kurt Lewin dalam teori medan (field theory) bahwa perilaku adalah fungsi karakteristik individu dan lingkungannya. Adanya hubungan timbal balik 5 ini, maka diperlukan kegiatan penelitian yang mengevaluasi apakah performansi seting lingkungan buatan (rumah susun) yang dibangun untuk meremajakan lingkungan tidak menimbulkan permasalahan baik secara teknis, fungsional maupun perilaku bagi penghuninya, dan apakah performansi perilaku penghuni sudah berperilaku ekologis? Sehingga diharapkan dapat menjaga kualitas lingkungan secara berkelanjutan selama dihuni. Frick (2006), menyatakan bahwa di Indonesia masih sangat miskin akan penelitian tersebut, apalagi suatu penelitian yang menggabungkan kegiatan evaluasi pascahuni dan evaluasi perilaku ekologis ke dalam suatu model eco-spatial behavior (ESB) yang dapat memprediksikan kualitas lingkungan rumah susun dimasa mendatang berdasarkan berbagai skenario penghunian. 5 Seperti yang diungkapkan oleh Winston Churchill (mantan Perdana Menteri Inggris): Kita membentuk bangunan dan kemudian bangunan kitalah yang membentuk kita, (Halim, 2005)

6 6 Bambang Deliyanto Berdasarkan pertimbangan di atas, maka perlu dilakukan penelitian evaluasi performansi seting rumah susun dan performansi perilaku ekologis penghuni hasil peremajaan lingkungan, serta penyusunan model pendekatan ESB penghunian rumah susun. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi adanya interaksi antara perilaku penghuni dengan seting spasial huniannya kepada stakeholder yang terkait dengan permukiman, khususnya hunian rumah susun Perumusan Masalah Membangun rumah susun tidak sekedar membangun bangunan fisik rumah saja, tetapi juga mencakup aspek sosial budaya dan ekonomi masyarakat penghuni. Oleh karena itu rumah susun secara teknis dan fisik harus bisa dihuni (livable), secara sosial budaya harus sesuai kebiasaan budaya penghuni (habitable), dan bisa dihuni secara berkelanjutan (sustainable) baik secara sosial, ekonomi, dan lingkungan atau ekologis (Timmer and Seymoar, 2006; Fann, 2006; Munasinghe, 1993) Rumah susun KBBK ini dibangun dalam rangka peremajaan lingkungan kumuh di pusat kota. Pembangunan rumah susun ini dibangun untuk memenuhi salah satu kebutuhan fungsi kawasan yaitu fungsi hunian. Untuk memenuhi fungsi tersebut dilakukan perancangan seting perilaku (behavior setting) dari aktivitas penghunian rumah susun melalui perancangan seting spasial (disain arsitektural) rumah susun. Behavioral Setting menurut Roger Barker (1968) adalah kombinasi yang stabil antara perilaku dan milleu ruangnya (milleu adalah nilai ruang yang ditentukan oleh kondisi atau fungsi spatial tertentu akibat adanya sistem aktivitas di dalamnya). Penghunian kembali permukiman yang telah menjadi rumah susun ini, ada yang berhasil dan ada yang tidak, yang berhasil menunjukkan adanya toleransi penghuni terhadap behavior setting baru, sebaliknya yang tidak berhasil merupakan bentuk intoleran penghuni terhadap behavior setting baru karena adanya kesenjangan budaya (cultural gap) antara penghunian rumah tidak susun dan penghunian rumah susun. Menurut Bell (1978), diperlukan perilaku penyesuaian (coping) untuk mengatasi kesenjangan ini, bila tidak teratasi dapat memberikan efek lanjutan baik terhadap fisik, psikhis,

7 Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 7 maupun sosial budaya yang akhirnya dapat mempengaruhi kualitas lingkungan huniannya. Dikemukakan Kirmanto (2002), bahwa kualitas sumber daya manusia di masa datang sangat dipengaruhi oleh kualitas perumahan dan permukiman tempat masyarakat tinggal (rumah susun), karena manusia sangat bergantung pada sistem lingkungan hidup biofisik, dan dua sistem lainnya, yaitu sistem sosial, dan sistem konsep/orientasi budaya (Darmiwati, 2000). Untuk mengetahui kualitas lingkungan permukiman rumah susun perlu dilakukan penilaian (evaluasi) baik evaluasi kehidupan sosial budaya maupun evaluasi seting spasial. Penelitian ini lebih difokuskan pada evaluasi seting spasial, walaupun tetap memperhatikan aspek lainnya. Evaluasi seting spasial merupakan evaluasi pascahuni (POE) untuk mengetahui performansi dari behavior setting rumah susun yang mencakup performansi teknis, performansi fungsi, dan perilaku spasial (Snyder dan Catanese, 1979). Apakah performansi behavior setting tersebut dapat mendukung kualitas lingkungan rumah susun di masa mendatang atau tidak, bila tidak apakah diperlukan model pendekatan penghunian lain (ecospatial behavior) agar aktivitas penghunian pada behavior setting rumah susun dapat berkelanjutan. Berdasarkan uraian di atas, permasalahan dirumuskan sebagai berikut: 1. Apakah performansi penataan (behavior setting) rumah susun di KBBK telah memenuhi aspek teknis, fungsional, dan perilaku? 2. Apakah penghuni rumah susun di KBBK dalam memanfaatkan kemanfaatan lingkungan/ruang sudah berperilaku ESB? 3. Aspek-aspek utama apa saja yang mendahului situasi (anteseden) respons penghuni agar berperilaku ESB dalam penghunian di rumah susun KBBK? 4. Apakah diperlukan penyusunan skenario pendekatan penghunian ESB di rumah susun KBBK?. Secara skematis perumusan masalah tersebut disajikan pada Gambar 1.1 sebagai berikut :

8 8 Bambang Deliyanto Efek terhadap Fisik Psikologis Sosekbud Evaluasi Sosekbud Permasalahan adaptasi sosekbud Respons Sosekbud Peremajaan lingkungan melalui pembangunan rusun yang : Livable Habitable Sustainable Pemrograman Behavior Setting Penyusunan Model ESB Perancangan behavior Setting Evaluasi Spasial Teknis Fungsional Persepsi Perilaku ESB Pelaksanaan Pembangunan Permasalahan adaptasi spasial & spatial behavior Penghunian Respons Spasial Fokus penelitian Efek terhadap Fisik Psikologis Sosekbud Gambar 1.1 Skema Rumusan Masalah 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan Umum Mengkaji dan memberikan pemikiran tentang konsep pendekatan ESB dalam penghunian rumah susun, dilanjutkan dengan menyusun alternativ solusi melalui permodelan ESB yang kemudian diterapkan melalui kebijakan penghunian dalam mengelola kualitas lingkungan rumah susun di KBBK secara berkelanjutan Tujuan Khusus a. Mengevaluasi performansi pascahuni yang mencakup performansi teknis, fungsi hunian dan perilaku penghunian rumah susun di KBBK. b. Mengevaluasi performansi ESB aktivitas penghunian di rumah susun KBBK.

9 Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 9 c. Menemu-kenali aspek utama yang mendahului situasi (anteseden utama) respons penghuni agar berperilaku ESB dalam aktivitas penghunian di rumah susun KBBK. d. Menyusun skenario pendekatan ESB penghunian di rumah susun KBBK Kerangka Pikir Salah satu masalah yang mendapat perhatian masyarakat dunia dan telah dituangkan ke dalam Agenda 21 di Rio de Janeiro tahun 1992 adalah pentingnya pembangunan yang berkelanjutan di sektor permukiman dan lingkungan hidup. Peremajaan lingkungan perkotaan melalui pembangunan rumah susun adalah salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia di sektor tersebut. Berkaitan dengan hal peremajaan lingkungan permukiman di perkotaan khususnya DKI Jakarta, Pemerintah Pusat melalui Surat Menteri Sekretaris Negara No /M/SEKNEG/1987 menetapkan peruntukan sebagian tanah komplek Kemayoran 6 untuk pembangunan rumah susun, kemudian Menteri Negara Perumahan Rakyat melalui Perum Perumnas membangun rumah susun di kawasan tersebut sebanyak berbagai tipe unit satuan rumah susun dan berbagai tipe unit untuk usaha (Perumnas, 1990), yang sejak 1992 sudah dihuni kembali oleh penghuni sekitar peremajaan lingkungan permukiman. Agar penghunian kembali permukiman rumah susun ini dapat mendukung permukiman yang berkelanjutan 7 baik berkelanjutan secara ekonomi, sosial maupun ekologis, maka behavior setting 8 permukiman rumah susun seyogyanya juga merujuk pada ketiga indikator keberlanjutan tersebut, yaitu behavior setting untuk aktivitas individu & sosial, behavior setting untuk aktivitas ekonomi, dan behavior setting yang berkaitan pengelolaan lingkungan permukiman rumah susun. 6 Lahan seluas 454 ha ex Bandara Internasional Kemayoran (yang dikelola Setneg) yang kosong sejak Bandara tersebut dipindahkan ke Cengkareng. Lahan tersebut dimanfaatkan sebagai momen untuk menata permukiman kumuh yang dihuni oleh Kepala Keluarga (pemilik, penyewa, penggarap) di sekitar wilayah tersebut yaitu di Kelurahan Gunung Sahari Selatan, PademanganTimur, dan Kebon Kosong (Perumnas, Pembangunan berkelanjutan hendaknya mencakup tiga komponen yaitu keberlanjutan secara ekosistem, ekonomi, dan sosial (Munasinghe, 1992 dalam Bunasor, 2006). 8 Behavioral Setting didefinisikan sebagai pola perilaku kelompok, (bukan perilaku individu) yang terjadi sebagai akibat kondisi setting atau spatial tertentu yang disebut dengan physical milleu atau suatu nilai ruang yang ditentukan oleh sistem aktivitasnya (Roger Barker, 1968). Behavior Setting ini oleh David Haviland (1967) disebut dengan ruang aktivitas.

10 10 Bambang Deliyanto Penghunian kembali ini mengakibatkan terjadinya interaksi manusia dengan lingkungannya. Interaksi ini dapat menimbulkan berbagai dampak fisik maupun dampak psikologis, baik yang bersifat positif maupun negatif. Dampak positif merupakan sesuatu yang diharapkan oleh para perancang lingkungan buatan (arsitek) atau perancang behavior setting, namun menurut Holahan (1982) sebagian besar hasil rancangan arsitek ternyata telah gagal mempertemukan kebutuhan perilaku (behavioral need) pemakainya. Penyataan ini ternyata dirasakan pula oleh penghuni rumah susun Kota Baru Bandar Kemayoran (KBBK). Mereka merasakan bahwa Rumah Susun yang dihuni belum sesuai dengan yang diharapkan, karena adanya peralihan kebiasaan dari menghuni permukiman horisontal (landed houses) menuju kebiasaan baru tinggal di permukiman rumah susun. Peralihan kebiasaan ini akan memunculkan permasalahan penghunian bagi penghuni dalam beradaptasi dengan lingkungan permukiman rumah susun. Ketidakmampuan beradaptasi ini dapat menimbulkan tekanan jiwa (stress) dan gangguan kesehatan pada penghuninya (Bell, 1978; Holahan, 1982; Wirawan 1992), yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas permukiman yang dihuni itu sendiri. Oleh karena itu untuk mengetahui kesenjangan antara kebutuhan penghunian penghuni dan hasil rancangan behavior setting tersebut diperlukan suatu evaluasi yaitu evaluasi pascahuni atau Post Occupancy Evaluation 9 (POE) untuk mengetahui performansi teknis, fungsi spasial, dan perilaku spasial penghunian. Interaksi antara penghuni dan seting lingkungan buatan untuk aktivitas penghunian (behavior setting penghunian) rumah susun menghasilkan respons spatial behavior 10 (perilaku spasial) bagi penghuninya. Baik itu respons yang dapat merangsang penghuni berperilaku ekologis (eco-spatial behavior) 11 melalui evaluasi performansi ESB, maupun respons spatial behavior tanpa adanya pengaruh dari perilaku ekologis melalui POE. Edward Chase Tolman ( ), menyatakan bahwa respons penghuni terhadap behavior setting dipengaruhi oleh situasi dan hal-hal yang mendahului situasi tersebut atau antecedent. Oleh karena itu diperlukan suatu pengamatan 9 POE adalah pengujian efektivitas sebuah lingkungan binaan bagi kebutuhan manusia (Snyder dan Catanese, Diterjemahkan Sangkayo, 1984) 10 Spatial Behavior adalah cara bagaimana manusia menggunakan suatu setting lingkungan atau kemanfaatan (affordances) lingkungan (Laurens, 2005), atau sebaliknya yaitu spatial behavior merupakan perwujudan setting (tatanan) phisik ruang akibat dari perilaku manusia terhadap ruang dan fluktuasi dari unsur-unsur sistem nonsensate. (Golledge & Stimson, 1997 : 5-7). 11 Eco Spatial Behavior adalah spatial behavior yang memperhatikan prinsip-prinsip ekologis (keseimbangan, keanekaragaman, dan transformasi enerji) yang melestarikan lingkungan.

11 Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 11 yang dapat mengetahui anteseden utama apa yang dapat menstimulus penghuni agar berperilaku ESB. Agar dapat menjawab tujuan penelitian tersebut di atas, serta menghasilkan rekomendasi behavior setting yang mampu merangsang respons penghuni agar berperilaku keruangan yang ekologis diperlukan suatu model ESB penghunian rumah susun dengan tujuan bisa mendorong penghunian rumah susun menghasilkan permukiman rumah susun yang berkelanjutan di kawasan peremajaan lingkungan KBBK. Secara skematis kerangka pemikiran ini dapat dilihat pada Gambar 1.2 berikut ini: Gambar 1.2 Bagan Kerangka Berfikir

12 12 Bambang Deliyanto 1.5. Manfaat Penelitian Manfaat Teoretik a. Sebagai evaluasi ada tidaknya penerapan pendekatan ESB dan faktor lain dalam penghunian rumah susun yang mempengaruhi situasi di lokasi penelitian. b. Memberikan kontribusi terhadap pengetahuan lingkungan dalam hal adanya interaksi timbal balik antara perilaku penghuni dan penataan (setting) lingkungan buatan Manfaat Praktis a. Hasil evaluasi pascahuni suatu peremajaan lingkungan permukiman dapat digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan untuk peremajaan lingkungan yang akan datang. b. Memberikan masukan kepada pembuat kebijakan dan pengembang dalam perencanaan permukiman baru (peremajaan kota) yang berorientasi pada pelestarian fungsi lingkungan permukiman, kemampuan coping lingkungan penghunian rumah susun, peningkatan kesejahteraan, dan peningkatan kesadaran institusi sosial. c. memberikan masukan dalam menetapkan kebijakan yang berkaitan dengan penghunian permukiman baru (permukiman rumah susun) Novelty Novelty penelitian ini adalah menghasilkan model pendekatan ESB pada penghunian rumah susun di KBBK berdasarkan hasil evaluasi pascahuni (Post Occupancy Evaluation) yang lazim dilakukan untuk desain lingkungan buatan dan hasil evaluasi perilaku penghuni dalam menjangkau kemanfaatan setting behavior penghunian rumah susun agar penghuni berperilaku ESB. Model ini berkemampuan untuk: 1. Mengukur performansi ESB, teknis spasial, fungsi spasial, dan perilaku spasial penghuni 2. Memprediksi dan mengukur kualitas lingkungan, sosial, dan ekonomi permukiman rumah susun.

PENDEKATAN ECO-SPATIAL BEHAVIOR PENGHUNIAN RUMAH SUSUN KOTA BARU BANDAR KEMAYORAN BAMBANG DELIYANTO

PENDEKATAN ECO-SPATIAL BEHAVIOR PENGHUNIAN RUMAH SUSUN KOTA BARU BANDAR KEMAYORAN BAMBANG DELIYANTO PENDEKATAN ECO-SPATIAL BEHAVIOR PENGHUNIAN RUMAH SUSUN KOTA BARU BANDAR KEMAYORAN BAMBANG DELIYANTO SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011 PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER INFORMASI

Lebih terperinci

BAB VI ECO-SPATIAL BEHAVIOR PENGHUNIAN RUMAH SUSUN

BAB VI ECO-SPATIAL BEHAVIOR PENGHUNIAN RUMAH SUSUN Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 145 BAB VI ECO-SPATIAL BEHAVIOR PENGHUNIAN RUMAH SUSUN Uraian bab-bab terdahulu, menyebutkan bahwa indikator ESB penghunian rumah susun, adalah: (1)

Lebih terperinci

BAB VII ANTESEDEN BERPERILAKU ESB

BAB VII ANTESEDEN BERPERILAKU ESB Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 161 BAB VII ANTESEDEN BERPERILAKU ESB Anteseden adalah suatu kondisi yang mendahului seseorang berperilaku, termasuk perilaku spasial yang ekologis

Lebih terperinci

BAB V EVALUASI PASCAHUNI

BAB V EVALUASI PASCAHUNI Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 123 BAB V EVALUASI PASCAHUNI Snyder (1995) dan Laurens (2005), membagi evaluasi pascahuni menjadi tiga bagian, yaitu: 1) evaluasi teknis melalui penilaian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada saat ini kota-kota besar di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat. Antara lain disebabkan adanya peluang kerja dari sektor industri dan perdagangan.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. juta jiwa. Sedangkan luasnya mencapai 662,33 km 2. Sehingga kepadatan

BAB 1 PENDAHULUAN. juta jiwa. Sedangkan luasnya mencapai 662,33 km 2. Sehingga kepadatan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jakarta merupakan ibu kota Indonesia yang termasuk dalam 14 kota terbesar di dunia. Berdasarkan data sensus penduduk dari Badan Pusat Statistik, pada tahun 2009 Jakarta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PERUMAHAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PERUMAHAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PERUMAHAN 1.1.1 Pertumbuhan Sektor Perumahan Nasional Peta bisnis properti di Indonesia menunjukkan terjadinya kecenderungan penurunan kapitalisasi pada tahun 2007,

Lebih terperinci

2.4. Permasalahan Pembangunan Daerah

2.4. Permasalahan Pembangunan Daerah 2.4. Permasalahan Pembangunan Daerah Permasalahan pembangunan daerah merupakan gap expectation antara kinerja pembangunan yang dicapai saat inidengan yang direncanakan serta antara apa yang ingin dicapai

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP PEMANFAATAN RUANG PUBLIK DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PENGHUNI RUMAH SUSUN KOPASSUS DI CIJANTUNG

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP PEMANFAATAN RUANG PUBLIK DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PENGHUNI RUMAH SUSUN KOPASSUS DI CIJANTUNG HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP PEMANFAATAN RUANG PUBLIK DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PENGHUNI RUMAH SUSUN KOPASSUS DI CIJANTUNG S K RI P S I Untuk Memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat S-1

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di berbagai kota di Indonesia, baik kota besar maupun kota kecil dan sekitarnya pembangunan fisik berlangsung dengan pesat. Hal ini di dorong oleh adanya pertumbuhan penduduk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan penduduk yang berlangsung dengan pesat telah. menimbulkan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan bangsa terutama di

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan penduduk yang berlangsung dengan pesat telah. menimbulkan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan bangsa terutama di BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan penduduk yang berlangsung dengan pesat telah menimbulkan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan bangsa terutama di wilayah perkotaan. Salah satu aspek

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Istilah peran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti perangkat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Istilah peran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti perangkat 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Peran Istilah peran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di masyarakat (KBBI, 2005:854).

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jakarta yang mencakup Jabodetabek merupakan kota terpadat kedua di dunia dengan jumlah penduduk 26.746.000 jiwa (sumber: http://dunia.news.viva.co.id). Kawasan Jakarta

Lebih terperinci

EVALUASI STRATEGI PENGEMBANGAN KAWASAN PERUMAHAN MELALUI PENDEKATAN URBAN REDEVELOPMENT DI KAWASAN KEMAYORAN DKI JAKARTA TUGAS AKHIR

EVALUASI STRATEGI PENGEMBANGAN KAWASAN PERUMAHAN MELALUI PENDEKATAN URBAN REDEVELOPMENT DI KAWASAN KEMAYORAN DKI JAKARTA TUGAS AKHIR EVALUASI STRATEGI PENGEMBANGAN KAWASAN PERUMAHAN MELALUI PENDEKATAN URBAN REDEVELOPMENT DI KAWASAN KEMAYORAN DKI JAKARTA TUGAS AKHIR Oleh : MANDA MACHYUS L2D 002 419 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kota menawarkan berbagai ragam potensi untuk mengakumulasi aset

BAB I PENDAHULUAN. Kota menawarkan berbagai ragam potensi untuk mengakumulasi aset BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kota menawarkan berbagai ragam potensi untuk mengakumulasi aset sosial, ekonomi, dan fisik. Kota berpotensi memberikan kondisi kehidupan yang sehat dan aman, gaya hidup

Lebih terperinci

AR 40Z0 Laporan Tugas Akhir Rusunami Kelurahan Lebak Siliwangi Bandung BAB 1 PENDAHULUAN

AR 40Z0 Laporan Tugas Akhir Rusunami Kelurahan Lebak Siliwangi Bandung BAB 1 PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah susun ini dirancang di Kelurahan Lebak Siliwangi atau Jalan Tamansari (lihat Gambar 1 dan 2) karena menurut tahapan pengembangan prasarana perumahan dan permukiman

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 69 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Pemilihan Lokasi dan Waktu Penelitian 3.1.1. Pemilihan Lokasi Penelitian dilakukan di KBBK yang terletak di Kecamatan

Lebih terperinci

PERMUKIMAN UNTUK PENGEMBANGAN KUALITAS HIDUP SECARA BERKELANJUTAN. BAHAN SIDANG KABINET 13 Desember 2001

PERMUKIMAN UNTUK PENGEMBANGAN KUALITAS HIDUP SECARA BERKELANJUTAN. BAHAN SIDANG KABINET 13 Desember 2001 PERMUKIMAN UNTUK PENGEMBANGAN KUALITAS HIDUP SECARA BERKELANJUTAN BAHAN SIDANG KABINET 13 Desember 2001 PERMUKIMAN DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Agenda 21 yang dicanangkan di Rio de Janeiro tahun 1992

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut Sujarto (dalam Erick Sulestianson, 2014) peningkatan jumlah penduduk yang tinggi dan perpindahan penduduk ke daerah perkotaan, merupakan penyebab utama pesatnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan penduduk kota kota di Indonesia baik sebagai akibat pertumbuhan penduduk maupun akibat urbanisasi telah memberikan indikasi adanya masalah perkotaan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. negara untuk menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya sebagaimana. diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945).

BAB I PENDAHULUAN. negara untuk menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya sebagaimana. diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah merupakan kebutuhan dasar manusia dan mempunyai peran yang sangat strategis dalam membentuk watak serta kepribadian bangsa. Dalam rangka pemenuhan kebutuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi, sosial dan budaya dengan sendirinya juga mempunyai warna

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi, sosial dan budaya dengan sendirinya juga mempunyai warna BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kota merupakan daerah yang memiliki mobilitas yang tinggi. Daerah perkotaan menjadi pusat dalam setiap daerah. Ketersediaan akses sangat mudah didapatkan di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perlunya perumahan dan pemukiman telah diarahkan pula oleh Undang-undang Republik

BAB I PENDAHULUAN. perlunya perumahan dan pemukiman telah diarahkan pula oleh Undang-undang Republik BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG I.1.1. Latar Belakang Eksistensi Proyek Pemukiman dan perumahan adalah merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi oleh manusia. Perumahan dan pemukiman tidak hanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terhadap penduduk kota maupun penduduk dari wilayah yang menjadi wilayah

BAB I PENDAHULUAN. terhadap penduduk kota maupun penduduk dari wilayah yang menjadi wilayah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkotaan sebagai pusat permukiman dan sekaligus pusat pelayanan (jasa) terhadap penduduk kota maupun penduduk dari wilayah yang menjadi wilayah pengaruhnya (hinterland)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. laju pertumbuhan penduduk yang pesat sebagai akibat dari faktor-faktor

BAB I PENDAHULUAN. laju pertumbuhan penduduk yang pesat sebagai akibat dari faktor-faktor BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kota-kota besar di negara-negara berkembang umumnya mengalami laju pertumbuhan penduduk yang pesat sebagai akibat dari faktor-faktor alami yaitu kelahiran

Lebih terperinci

BAB I. Dewasa ini, tata ruang wilayah menjadi salah satu tantangan pada. penduduk yang cukup cepat juga. Pertumbuhan penduduk tersebut berimbas

BAB I. Dewasa ini, tata ruang wilayah menjadi salah satu tantangan pada. penduduk yang cukup cepat juga. Pertumbuhan penduduk tersebut berimbas BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini, tata ruang wilayah menjadi salah satu tantangan pada perkembangan sebuah kota. Perkembangan kota menunjukkan daerah terbangun makin bertambah luas sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam masyarakat terdapat berbagai golongan yang menciptakan perbedaan tingkatan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam masyarakat terdapat berbagai golongan yang menciptakan perbedaan tingkatan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam masyarakat terdapat berbagai golongan yang menciptakan perbedaan tingkatan antara golongan satu dengan golongan yang lain. Adanya golongan yang berlapis-lapis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pemakaian energi karena sumbernya telah menipis. Krisis lingkungan sangat mempengaruhi disiplin arsitektur di setiap

BAB I PENDAHULUAN. pemakaian energi karena sumbernya telah menipis. Krisis lingkungan sangat mempengaruhi disiplin arsitektur di setiap BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Arsitek pada jaman ini memiliki lebih banyak tantangan daripada arsitekarsitek di era sebelumnya. Populasi dunia semakin bertambah dan krisis lingkungan semakin menjadi.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1 Dalam rangka mengatasi masalah tersebut, Pemerintah melalui Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.

I. PENDAHULUAN. 1 Dalam rangka mengatasi masalah tersebut, Pemerintah melalui Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan penduduk merupakan fenomena yang menjadi potensi sekaligus permasalahan dalam pembangunan berkelanjutan. Hal tersebut terkait dengan kebutuhan ruang untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Judul

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Judul BAB I PENDAHULUAN 1.1 Judul Kampung Vertikal Kalianyar dengan Pendekatan Arsitektur Perilaku 1.2 Pengertian Judul Kampung vertikal merupakan konsep hunian yang bertransformasi dari menjadi kampung yang

Lebih terperinci

PEREMAJAAN PEMUKIMAN RW 05 KELURAHAN KARET TENGSIN JAKARTA PUSAT MENJADI RUMAH SUSUN

PEREMAJAAN PEMUKIMAN RW 05 KELURAHAN KARET TENGSIN JAKARTA PUSAT MENJADI RUMAH SUSUN LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR PEREMAJAAN PEMUKIMAN RW 05 KELURAHAN KARET TENGSIN JAKARTA PUSAT MENJADI RUMAH SUSUN Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kota-kota besar di negara-negara berkembang umumnya mengalami laju

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kota-kota besar di negara-negara berkembang umumnya mengalami laju BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kota-kota besar di negara-negara berkembang umumnya mengalami laju pertumbuhan penduduk yang pesat sebagai akibat dari faktor-faktor alami yaitu kelahiran dan terutama

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan penduduk di Indonesia disetiap tahun semakin meningkat. Hal ini

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan penduduk di Indonesia disetiap tahun semakin meningkat. Hal ini BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar. Pertumbuhan penduduk di Indonesia disetiap tahun semakin meningkat. Hal ini menyebabkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Kebutuhan Perumahan bagi Penduduk Jakarta

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Kebutuhan Perumahan bagi Penduduk Jakarta BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.1.1. Kebutuhan Perumahan bagi Penduduk Jakarta Sebagai sentral dari berbagai kepentingan, kota Jakarta memiliki banyak permasalahan. Salah satunya adalah lalu lintasnya

Lebih terperinci

IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN

IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN 92 IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN 4.1. Kota Bekasi dalam Kebijakan Tata Makro Analisis situasional daerah penelitian diperlukan untuk mengkaji perkembangan kebijakan tata ruang kota yang terjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pesatnya perkembangan perekonomian di kota-kota besar dan metropolitan seperti DKI Jakarta diikuti pula dengan berkembangnya kegiatan atau aktivitas masyarakat perkotaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan penduduk yang tinggi dan pesatnya perkembangan kota, membutuhkan sarana dan prasarana untuk menunjang berbagai aktivitas masyarakat kota. Meningkatnya aktivitas

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA PERENCANAAN

BAB IV ANALISA PERENCANAAN BAB IV ANALISA PERENCANAAN 4.1. Analisa Non Fisik Adalah kegiatan yang mewadahi pelaku pengguna dengan tujuan dan kegiatannya sehingga menghasilkan besaran ruang yang dibutuhkan untuk mewadahi kegiatannya.

Lebih terperinci

CONTOH KASUS PEREMAJAAN KOTA DI INDONESIA (GENTRIFIKASI)

CONTOH KASUS PEREMAJAAN KOTA DI INDONESIA (GENTRIFIKASI) Perancangan Kota CONTOH KASUS PEREMAJAAN KOTA DI INDONESIA (GENTRIFIKASI) OLEH: CUT NISSA AMALIA 1404104010037 DOSEN KOORDINATOR IRFANDI, ST., MT. 197812232002121003 PEREMAJAAN KOTA Saat ini, Perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan diuraikan latar belakang guna mencari tahu kenapa proyek ini dibutuhkan dan seberapa layak proyek ini diadakan, rumusan permasalahan permasalahan yang ada, tujuan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap pembangunan menimbulkan suatu dampak baik itu dampak terhadap ekonomi, kehidupan sosial, maupun lingkungan sekitar. DKI Jakarta sebagai kota dengan letak yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kepadatan penduduk di DKI Jakarta bertambah tiap tahunnya. Dari data yang didapat dari Badan Pusat Statistik (BPS) angka kepadatan penduduk DKI Jakarta pada tahun 2010

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pada hakekatnya pembangunan adalah upaya perubahan dari kondisi kurang baik menjadi lebih baik. Untuk itu pemanfaatan sumber daya alam dalam proses pembangunan perlu selalu dikaitkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Istilah kampung berasal dari bahasa Melayu, digunakan sebagai terminologi yang dipakai untuk menjelaskan sistem permukiman pedesaan. Istilah kampung sering dipakai

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Proyek

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Proyek BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Proyek Berdasarkan sensus, Jakarta merupakan salah satu kota dengan penduduk terpadat yaitu 8.509.170 jiwa (Dinas Kependudukan dan catatan Sipil 2008). Tingginya tingkat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak ketiga di dunia. Hal ini setara dengan kedudukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak ketiga di dunia. Hal ini setara dengan kedudukan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak ketiga di dunia. Hal ini setara dengan kedudukan Indonesia sebagai negara termiskin ketiga di dunia. Pertambahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pesatnya proses perkembangan kota-kota di Indonesia saat ini membawa dampak timbulnya berbagai masalah perkotaan. Adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi berakibat pada

Lebih terperinci

BAB I. Jakarta berbondong-bondong untuk tinggal, belajar, dan bekerja di ibukota. Hal ini

BAB I. Jakarta berbondong-bondong untuk tinggal, belajar, dan bekerja di ibukota. Hal ini BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Jakarta merupakan kota metropolitan yang sampai saat ini dijadikan tujuan utama masyarakat sebagai tempat untuk mengejar masa depan. Para pendatang dari daerah luar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kampung kota adalah suatu bentuk pemukiman di wilayah perkotaan yang khas Indonesia dengan ciri antara lain: penduduk masih membawa sifat dan prilaku kehidupan pedesaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perumahan dan pemukiman merupakan kebutuhan dasar manusia dan mempunyai peranan strategis dalam pembentukan watak serta kepribadian bangsa, dan perlu dibina dan dikembangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam pemenuhannya masih sulit dijangkau terutama bagi penduduk berpendapatan

BAB I PENDAHULUAN. dalam pemenuhannya masih sulit dijangkau terutama bagi penduduk berpendapatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Perumahan merupakan kebutuhan masyarakat yang paling mendasar, dan dalam pemenuhannya masih sulit dijangkau terutama bagi penduduk berpendapatan rendah

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR 118 PEREMAJAAN RUMAH SUSUN PEKUNDEN SEMARANG BAB I PENDAHULUAN

TUGAS AKHIR 118 PEREMAJAAN RUMAH SUSUN PEKUNDEN SEMARANG BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan, perumahan, dan pemukiman pada hakekatnya merupakan pemanfaatan lahan secara optimal, khususnya lahan di perkotaan agar berdaya guna dan berhasil guna sesuai

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBANGUNAN KAMPUNG PERKOTAAN TERHADAP KONDISI FISIK LINGKUNGAN PERMUKIMAN DAN KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT

PENGARUH PEMBANGUNAN KAMPUNG PERKOTAAN TERHADAP KONDISI FISIK LINGKUNGAN PERMUKIMAN DAN KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PENGARUH PEMBANGUNAN KAMPUNG PERKOTAAN TERHADAP KONDISI FISIK LINGKUNGAN PERMUKIMAN DAN KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT (Studi Kasus: Kampung Kanalsari Semarang) Tugas Akhir Oleh : Sari Widyastuti L2D

Lebih terperinci

PENGENAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PADA RUMAH SUSUN PEKUNDEN KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR

PENGENAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PADA RUMAH SUSUN PEKUNDEN KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR PENGENAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PADA RUMAH SUSUN PEKUNDEN KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR Oleh: BAIQ ELNY SUSANTI L2D 000 401 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perumahan dan pemukiman adalah salah satu masalah yang dihadapi oleh

BAB I PENDAHULUAN. Perumahan dan pemukiman adalah salah satu masalah yang dihadapi oleh BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perumahan dan pemukiman adalah salah satu masalah yang dihadapi oleh kota-kota besar pada negara yang sedang berkembang. Kota Medan sebagai kota terbesar ke tiga di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dilakukannya penelitian ini terkait dengan permasalahan-permasalahan

BAB I PENDAHULUAN. dilakukannya penelitian ini terkait dengan permasalahan-permasalahan BAB I PENDAHULUAN Pada bab pendahuluan akan dipaparkan mengenai latar belakang dilakukannya penelitian ini terkait dengan permasalahan-permasalahan infrastruktur permukiman kumuh di Kecamatan Denpasar

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. perkembangan kawasan kawasan permukiman kumuh. Pada kota kota yang

BAB 1 PENDAHULUAN. perkembangan kawasan kawasan permukiman kumuh. Pada kota kota yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan pembangunan perkotaan yang begitu cepat, memberikan dampak terhadap pemanfaatan ruang kota oleh masyarakat yang tidak mengacu pada tata ruang kota yang

Lebih terperinci

Rumah Susun Sewa Di Kawasan Tanah Mas Semarang Penekanan Desain Green Architecture

Rumah Susun Sewa Di Kawasan Tanah Mas Semarang Penekanan Desain Green Architecture LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR Rumah Susun Sewa Di Kawasan Tanah Mas Semarang Penekanan Desain Green Architecture Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Kota Surabaya sebagai ibu kota Propinsi Jawa Timur merupakan salah satu

BAB 1 PENDAHULUAN. Kota Surabaya sebagai ibu kota Propinsi Jawa Timur merupakan salah satu BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Surabaya sebagai ibu kota Propinsi Jawa Timur merupakan salah satu kota industri terbesar di Indonesia. Hal ini ditandai dengan meningkatnya kegiatan perdagangan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Pasar Oeba selain sebagai layanan jasa komersial juga sebagai kawasan permukiman penduduk. Kondisi pasar masih menghadapi beberapa permasalahan antara lain : sampah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. berpenghasilan rendah (MBR) dapat juga dikatakan sebagai masyarakat miskin atau

BAB 1 PENDAHULUAN. berpenghasilan rendah (MBR) dapat juga dikatakan sebagai masyarakat miskin atau BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Sampai dengan saat ini masalah kemiskinan masih menjadi persoalan yang belum tertuntaskan bagi negara berkembang seperti Indonesia. Masyarakat yang berpenghasilan

Lebih terperinci

KANTOR SEWA DENGAN TEMA PERKANTORAN TAMAN DI JAKARTA

KANTOR SEWA DENGAN TEMA PERKANTORAN TAMAN DI JAKARTA LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Teknik KANTOR SEWA DENGAN TEMA PERKANTORAN TAMAN DI JAKARTA Diajukan oleh

Lebih terperinci

PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK DI KELURAHAN WAWOMBALATA KOTA KENDARI TUGAS AKHIR

PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK DI KELURAHAN WAWOMBALATA KOTA KENDARI TUGAS AKHIR PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK DI KELURAHAN WAWOMBALATA KOTA KENDARI TUGAS AKHIR Oleh : RIAS ASRIATI ASIF L2D 005 394 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan kota seringkali menyebabkan terjadinya perubahan kondisi ekologis lingkungan perkotaan yang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan kota seringkali menyebabkan terjadinya perubahan kondisi ekologis lingkungan perkotaan yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan kota seringkali menyebabkan terjadinya perubahan kondisi ekologis lingkungan perkotaan yang mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan. Oleh karena itu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Pertumbuhan penduduk perkotaan yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun telah menimbulkan peningkatan permintaan terhadap kebutuhan akan tempat tinggal atau perumahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi untuk menjamin keberlangsungan hidup manusia. Seiring dengan rutinitas dan padatnya aktivitas yang dilakukan oleh

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

BAB IV KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 101 BAB IV KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1. Gambaran Umum Kota Baru Bandar Kemayoran 4.1.1. Pembangunan Kota Baru Bandar Kemayoran Dengan dipindahkannya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. 1.2 Pemahaman Judul dan Tema

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. 1.2 Pemahaman Judul dan Tema BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkotaan dengan kompleksitas permasalahan yang ada di tambah laju urbanisasi yang mencapai 4,4% per tahun membuat kebutuhan perumahan di perkotaan semakin meningkat,

Lebih terperinci

TINGKAT KEPUASAN PENGHUNI RUSUNAWA TERHADAP FISIK DAN LINGKUNGAN RUSUNAWA DI SURAKARTA

TINGKAT KEPUASAN PENGHUNI RUSUNAWA TERHADAP FISIK DAN LINGKUNGAN RUSUNAWA DI SURAKARTA TINGKAT KEPUASAN PENGHUNI RUSUNAWA TERHADAP FISIK DAN LINGKUNGAN RUSUNAWA DI SURAKARTA Masturina Kusuma Hidayati Magister Perencanaan Kota dan Daerah Universitas Gadjah Mada (UGM) E-mail : [email protected]

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kepadatan penduduk di Kabupaten Garut telah mencapai 2,4 juta jiwa

BAB I PENDAHULUAN. Kepadatan penduduk di Kabupaten Garut telah mencapai 2,4 juta jiwa 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kepadatan penduduk di Kabupaten Garut telah mencapai 2,4 juta jiwa pada tahun 2006 memberikan konsekuensi pada perlunya penyediaan perumahan yang layak huni

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kota Jakarta sebagai ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan kota megapolitan yang memiliki peran sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, bisnis, industri,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. (DIY) memiliki peran yang sangat strategis baik di bidang pemerintahan maupun

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. (DIY) memiliki peran yang sangat strategis baik di bidang pemerintahan maupun BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Kota Yogyakarta sebagai ibu kota Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki peran yang sangat strategis baik di bidang pemerintahan maupun perekonomian. Laju

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA 5 II. TINJAUAN PUSTAKA Permukiman Padat Kumuh Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992, permukiman merupakan bagian dari lingkungan hidup, di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang. mengembangkan otonomi daerah kepada pemerintah daerah.

I. PENDAHULUAN. Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang. mengembangkan otonomi daerah kepada pemerintah daerah. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, maka landasan administrasi dan keuangan diarahkan untuk mengembangkan otonomi

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. Setelah Jakarta kian sesak akibat maraknya pembangunan properti, apartemen pun merambah daerah di luar Ibu Kota Jakarta yaitu Bekasi,

BAB I PENGANTAR. Setelah Jakarta kian sesak akibat maraknya pembangunan properti, apartemen pun merambah daerah di luar Ibu Kota Jakarta yaitu Bekasi, BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Setelah Jakarta kian sesak akibat maraknya pembangunan properti, apartemen pun merambah daerah di luar Ibu Kota Jakarta yaitu Bekasi, Tangerang, Depok, dan Bogor menjadi

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI MASALAH PERMUKIMAN PADA KAMPUNG NELAYAN DI SURABAYA

IDENTIFIKASI MASALAH PERMUKIMAN PADA KAMPUNG NELAYAN DI SURABAYA IDENTIFIKASI MASALAH PERMUKIMAN PADA KAMPUNG NELAYAN DI SURABAYA Vippy Dharmawan 1, Zuraida 2 1+2 Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Surabaya Jl. Sutorejo Nomor 59 Surabaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tidak terpisahkan serta memberikan kontribusi terhadap pembangunan daerah dan

BAB I PENDAHULUAN. tidak terpisahkan serta memberikan kontribusi terhadap pembangunan daerah dan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan desa merupakan bagian integral dari pembangunan nasional, dengan demikian pembangunan desa mempunyai peranan yang penting dan bagian yang tidak terpisahkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah Pengalihan fungsi lahan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota semakin banyak terjadi pada saat sekarang. Hal ini seiring dengan permintaan pembangunan berbagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ditunjukkan oleh besarnya tingkat pemanfaatan lahan untuk kawasan permukiman,

BAB I PENDAHULUAN. ditunjukkan oleh besarnya tingkat pemanfaatan lahan untuk kawasan permukiman, BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perkembangan kota yang ditunjukkan oleh pertumbuhan penduduk dan aktivitas kota menuntut pula kebutuhan lahan yang semakin besar. Hal ini ditunjukkan oleh besarnya tingkat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Tujuan Penulisan Laporan

BAB I PENDAHULUAN Tujuan Penulisan Laporan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Tujuan Penulisan Laporan Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Lingkungan dan Pembangunan (the United Nations Conference on Environment and Development UNCED) di Rio

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 komposisi penduduk

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 komposisi penduduk BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kota Jakarta merupakan Ibu Kota Indonesia yang memiliki perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat diberbagai bidang dan sektor. Melihat pertumbuhan Kota Jakarta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan permukiman yang dihadapi kota kota besar di Indonesia semakin kompleks. Tingginya tingkat kelahiran dan migrasi penduduk yang tinggi terbentur pada kenyataan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Rumah sakit sebagai salah satu sarana kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat memiliki peran yang sangat strategis dalam mempercepat peningkatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi berdasarkan sumber Badan Pusat Statistik sebesar 1,49% pada tahun 2015 dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN Bab I merupakan pendahuluan yang merupakan framework dari penyusunan laporan ini. Pada bab ini berisikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan sasaran. Dibahas pula ruang lingkupnya

Lebih terperinci

5.1 Kondisi dan Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan

5.1 Kondisi dan Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan V PEMBAHASAN UMUM Dalam Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, diamanatkan bahwa wilayah perbatasan negara sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN), maka program pengembangan wilayahnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Surabaya merupakan salah satu kota di Indonesia yang menunjukkan bahwa terjadi peningkatan nilai kepadatan penduduk setiap tahunnya. Jumlah penduduk Surabaya mengalami

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini kebutuhan akan tempat tinggal semakin terasa mendesak dikarenakan

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini kebutuhan akan tempat tinggal semakin terasa mendesak dikarenakan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Dewasa ini kebutuhan akan tempat tinggal semakin terasa mendesak dikarenakan setiap tahunnya mengalami peningkatan sesuai dengan angka pertumbuhan jumlah penduduknya.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan derap laju pembangunan. Berbagai permasalahan tersebut antara lain

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan derap laju pembangunan. Berbagai permasalahan tersebut antara lain BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di abad 21 ini tidak bisa dipungkiri bahwa pembangunan dimana-mana sudah semakin cepat dan kompleks, guna memenuhi kebutuhan manusia yang juga semakin banyak. Namun

Lebih terperinci

`BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

`BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang `BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jakarta sebagai kota metropolitan dan ibukota negara menjumpai berbagai tantangan permasalahan. Salah satu tantangan tersebut adalah tantangan di bidang manajemen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang penelitian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang penelitian 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang penelitian Perwilayahan adalah usaha untuk membagi bagi permukaan bumi atau bagian permukaan bumi tertentu untuk tujuan yang tertentu pula (Hadi Sabari Yunus, 1977).

Lebih terperinci