IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

3. METODE PENELITIAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai (Odum, 1996). dua cara yang berbeda dasar pembagiannya, yaitu :

3. METODE PENELITIAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

3. METODE PENELITIAN

5. PARAMETER-PARAMETER REPRODUKSI

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi dan Struktur Morfologis Klasifikasi

ASPEK REPRODUKSI IKAN LELAN (Osteochilus vittatus C.V) Di SUNGAI TALANG KECAMATAN LUBUK BASUNG KABUPATEN AGAM

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pulau Pramuka I II III

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi dan Ciri Morfologis Klasifikasi

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

statistik menggunakan T-test (α=5%), baik pada perlakuan taurin dan tanpa diberi Hubungan kematangan gonad jantan tanpa perlakuan berdasarkan indeks

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

II. TINJAUAN PUSTAKA

3 HASIL DAN PEMBAHASAN

2. TINJAUAN PUSTAKA Rajungan (Portunus pelagicus)

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

3. METODE PENELITIAN

oaj STUDI PERTUMBUHAN DAN BEBERAPA ASPEK REPRODUKSI

2.2. Morfologi Ikan Tambakan ( H. temminckii 2.3. Habitat dan Distribusi

3 METODE PENELITIAN. Waktu dan Lokasi Penelitian

3. METODE PENELITIAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

METODE PENELITIAN. Gambar 2. Peta lokasi penangkapan ikan kembung perempuan (R. brachysoma)

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL

BIOLOGI REPRODUKSI IKAN JUARO (Pangasius polyuranodon) DI DAERAH ALIRAN SUNGAI MUSI, SUMATERA SELATAN ABDUL MA SUF

Gambar 4. Peta lokasi pengambilan ikan contoh

TUGAS: RINGKASAN EKSEKUTIF Nama: Yuniar Ardianti

MENGAPA PRODUKSI TANGKAPAN IKAN SARDINE DI PERAIRAN SELAT BALI KADANG MELEBIHI KAPASITAS PABRIK YANG TERSEDIA KADANG KURANG Oleh.

3. METODE PENELITIAN. Gambar 3. Peta daerah penangkapan ikan kuniran di perairan Selat Sunda Sumber: Peta Hidro Oseanografi (2004)

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

PARAMETER POPULASI DAN ASPEK REPRODUKSI IKAN KUNIRAN (Upeneus sulphureus) DI PERAIRAN REMBANG, JAWA TENGAH

III. METODE PENELITIAN

KARAKTERISTIK FISIKA KIMIA PERAIRAN DAN KAITANNYA DENGAN DISTRIBUSI SERTA KELIMPAHAN LARVA IKAN DI TELUK PALABUHAN RATU NURMILA ANWAR

bio.unsoed.ac.id TELAAH PUSTAKA A. Morfologi dan Klasifikasi Ikan Brek

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

3 METODE PENELITIAN. Gambar 4 Peta lokasi penelitian.

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Derajat Pemijahan Fekunditas Pemijahan

Gambar 5 Peta daerah penangkapan ikan kurisi (Sumber: Dikutip dari Dinas Hidro Oseanografi 2004).

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

STUDI BIOLOGI REPRODUKSI IKAN LAYUR (Superfamili Trichiuroidea) DI PERAIRAN PALABUHANRATU, KABUPATEN SUKABUMI, JAWA BARAT DEVI VIANIKA SRI AMBARWATI

BAB III BAHAN DAN METODE

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

3. METODE PENELITIAN

Titin Herawati, Ayi Yustiati, Yuli Andriani

2. TINJAUAN PUSTAKA Ikan Terisi Menurut Richardson (1846) (2010) klasifikasi ikan terisi (Gambar 2) adalah sebagai berikut :

3.3. Pr 3.3. P os r ed e u d r u r Pe P n e e n l e iltiitan

METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan dimulai dari bulan Oktober 2013

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

2 TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2 Ikan kuniran (Upeneus moluccensis).

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 6 Sebaran daerah penangkapan ikan kuniran secara partisipatif.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL PENELITIAN. 4.1 Statistik Produksi Ikan dan Telur Ikan Terbang Produksi tahunan ikan dan telur ikan terbang

3.KUALITAS TELUR IKAN

Berk. Penel. Hayati: 15 (45 52), 2009

6 PEMBAHASAN 6.1 Produksi Hasil Tangkapan Yellowfin Tuna

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kata kunci: ikan nila merah, tepung ikan rucah, vitamin E, TKG, IKG

II. TINJAUAN PUSTAKA. : Octinopterygii. : Cypriniformes. Spesies : Osteochilus vittatus ( Valenciennes, 1842)

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

3. METODE PENELITIAN

JOURNAL OF MANAGEMENT OF AQUATIC RESOURCES. Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013, Halaman Online di :

Beberapa contoh air, plankton, makrozoobentos, substrat, tanaman air dan ikan yang perlu dianalisis dibawa ke laboratorium untuk dianalisis Dari

2. TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2. Ikan layur (Trichiurus lepturus) (Sumber :

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengaruh pencekokan ekstrak rimpang rumput teki terhadap diameter oosit

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai. Secara ekologis sungai

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. penting salah satunya adalah teripang yang dikenal dengan nama lain teat fish, sea

3. METODE PENELITIAN

LAJU EKSPLOITASI DAN VARIASI TEMPORAL KERAGAAN REPRODUKSI IKAN BANBAN Engraulis grayi (Bleeker, 1851) BETINA DI PANTAI UTARA JAWA (OKTOBER MARET)

TINGKAT KEMATANGAN GONAD IKAN TEMBANG (Clupea platygaster) DI PERAIRAN UJUNG PANGKAH, GRESIK, JAWA TIMUR 1

METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Metode dan Desain Penelitian

Aspek biologi reproduksi ikan layur, Trichiurus lepturus Linnaeus 1758 di Palabuhanratu

3. METODE PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA. sangat kuat terjadi dan terbentuk riak-riakan pasir besar (sand ripples) yang

2. METODOLOGI PENELITIAN

5 PEMBAHASAN 5.1 Sebaran SPL Secara Temporal dan Spasial

5 HASIL 5.1 Kandungan Klorofil-a di Perairan Sibolga

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 17. Kandang Pemeliharaan A. atlas

III. METODE PENELITIAN

3 METODE PENELITIAN. Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian

ASPEK REPRODUKSI IKAN KAPASAN (Gerres kapas Blkr, 1851, Fam. Gerreidae) DI PERAIRAN PANTAI MAYANGAN, JAWA BARAT

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi dan Struktur Morfologis Klasifikasi

ANALISIS HUBUNGAN PANJANG BERAT IKAN HIMMEN (Glossogobius sp) DI DANAU SENTANI KABUPATEN JAYAPURA ABSTRAK

Transkripsi:

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sebaran Frekuensi Ikan Tetet (Johnius belangerii) Ikan contoh ditangkap setiap hari selama 6 bulan pada musim barat (Oktober-Maret) dengan jumlah total 681 ikan dan semua sampel adalah ikan tetet betina, ikan ditangkap menggunakan jaring rampus dengan ukuran 1 inchi, 1.5 inchi, 1.75 inchi. Jumlah ikan contoh yang tertangkap tiap bulannya tidaklah sama, pada bulan November ikan contoh yang tertangkap hanya 90 ekor dan yang terbanyak pada bulan Maret sebanyak 150 ekor, sedangkan pada bulan Oktober 93 ekor, Desember 113 ekor, Januari 115 ekor dan Februari 120 ekor. Berikut adalah gambar 4 yang memperlihatkan frekuensi tangkapan ikan contoh setiap bulannya. Gambar 4. Frekuensi ikan contoh yang tertangkap setiap bulannya Dari Gambar diketahui bahwa jumlah ikan yang tertangkap setiap bulannya tidaklah sama. Menurut Pak Warid (Nelayan setempat) melalui hasil wawancara dinyatakan bahwa waktu terbanyak ikan tetet tertangkap adalah pada bulan Januari-Maret sedangkan jumlah tangkapan ikan tetet sedangkan yang terendah yang terendah pada bulan September-November. perbedaan hasil tangkapan diduga karena pengaruh kondisi perairan Cirebon yang berdampak pada intensitas upaya nelayan untuk menangkap ikan tetet. Bulan November

26 merupakan bagian dari musim penghujan yang menyebabkan ombak di perairan sangat besar sehingga jumlah ikan yang tertangkap lebih sedikit, sedang bulan Maret merupakan bulan yang termasuk bulan peralihan antara musim barat dengan musim timur dimana keadaan kondisi laut dengan ombak tenang sehingga intensitas penangkapan pun dapat berjalan dengan baik, sehingga jumlah ikan yang tertangkap menunjukan angka terbesar. Ikan yang tertangkap tiap bulannya menunjukan ukuran rata-rata panjang yang relatif sama pada setiap bulannya. Gambar s menunjukan panjang rata-rata ikan yang dapat tertangkap setiap bulannya. Gambar 5. Panjang rata-rata ikan yang tertangkap Dari Gambar 5 dapat dilihat bahwa ukuran panjang rata-rata pada bulan Maret dengan panjang 149.7 mm adalah yang terpanjang diantara bulan yang lainnya, sedang pada bulan Oktober 141.7 mm, November 137.2 mm, Januari 140.44 mm, Februari 144.3 mm, pada bulan Desember dengan ukuran 139.1 mm adalah ukuran terpendek diantara bulan lainnya.

27 Ikan contoh yang tertangkap jaring memiliki berat rata-rata yang berbeda pada setiap bulannya, gambar 7 memperlihatkan berat rata-rata ikan pada setiap bulannya yang berkisar antara antar 37,28-41.20 gram. Berat rata-rata ikan yang tertangkap setiap bulan penangkapan ditunjukan pada Gambar 6. Gambar 6. Berat rata-rata ikan yang tertangkap Berat rata-rata terbesar ditunjukan pada bulan Maret sebesar 41,20 gram dan berat rata-rata terkecil ditunjukan pada pada bulan Desember dengan ukuran 37,28 gram, sedang pada bulan oktober berat rata-rata sebesar 39.55 gram, bulan November sebesar 40.62 gram, bulan Januari sebesar 39.64 gram dan bulan Februari 37.59 gram. Perbedaan berat pada ikan contoh yang tertangkap setiap bulannya diduga akibat faktor lingkungan yang terbaik pada bulan Maret yang merupakan bulan yang masuk pada musim peralihan antara musim barat dengan musim timur. Menurut Moyle (1988), pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti temperatur air, tingkat oksigen terlarut dan ammonia, salinitas. Bulan Oktober merupakan awal dari musim hujan, yang mana intensitas curah hujannya cukup tinggi dan terdapat banyak angin (Slamet dan Berliana, 2008). Hal ini mengakibatkan banyak limpasan nutrien dari daratan yang terbawa ke daerah pesisir laut, sehingga daerah pesisir tersebut banyak terdapat makanan untuk ikan tetet. Namun justru pada bulan Oktober, ikan tetet memiliki variasi panjang dan berat yang rendah. Hal ini dikarenakan energi yang dihasilkan dari

28 makanan terlebih dahulu digunakan untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan sehingga pertumbuhan dari ikan tetet menjadi terhambat. 4.2. Sebaran Frekuensi Panjang Ikan Tetet (Johnius belangerii) Sebaran frekuensi panjang digunakan untuk melihat bagaimana pola pertumbuhan ikan. Jumlah keseluruhan ikan tetet selama enam bulan pengambilan data adalah sebanyak 681 ekor dimana seluruhnya adalah ikan betina. Berikut adalah gambar grafik sebaran frekuensi panjang dari ikan tetet. Sebaran frekuensi panjang ikan tetet ditunjukan pada Gambar 7. Gambar 7. Sebaran frekuensi panjang ikan tetet (Johnius belangerii) Dari gambar 7 terdapat dua belas selang kelas ukuran panjang dimana frekuensi terbesar terdapat pada selang kelas 135-141 mm dengan jumlah 183 ekor dan frekuensi terendah pada selang kelas 177-183 mm sebanyak 1 ekor. Sedangkan pada selang kelas 100-106 mm sebanyak 2 ekor, 107-113 mm sebanyak 3 ekor, 114-120 mm sebanyak 14 ekor, 121-127 mm sebanyak 24 ekor, 128-134 mm sebanyak 76 ekor, 142-148 mm sebanyak 155 ekor, 149-155 mm sebanyak 151 ekor, 156-162 sebanyak 45 ekor, 163-169 sebanyak 14 ekor, 170-176 sebanyak 10 ekor.. Frekuensi TKG ikan pada selang kelas ditunjukkan pada Gambar 8.

29 Jumlah TKG 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% TKG 4 TKG 3 TKG 2 TKG 1 Selang Kelas Panjang Gambar 8. Frekuensi TKG pada selang kelas panjang Dari Gambar 7 dan Gambar 8 yang terlihat bahwa data sebaran frekuensi mengikuti sebaran normal dimana selang kelas antara 135-141 mm merupakan kelompok selang kelas ikan tetet yang paling banyak tertangkap dan didominasi oleh ikan betina yang memiliki TKG IV sebanyak 77 ekor. Hal ini dapat diduga bahwa nelayan menangkap ikan pada daerah fishing ground sehingga ikan-ikan tersebut memiliki kesempatan untuk bereproduksi lebih baik. Berikut adalah grafik yang menunjukan frekuensi TKG pada selang kelas panjang. Effendi (2002) menyatakan bahwa pada suatu ukuran tertentu energi yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan sel somatik pada ikan akan digunakan sebagai pertumbuhan alat reproduksi. Berikut adalah grafik sebaran ukuran panjang ikan tetet untuk setiap pengambilan data. Pada Gambar 9 di bawah ini dapat terlihat kelas panjang dari bulan Oktober 2008 hingga November 2008 mengalami pergeseran modus ke arah kanan. Hal ini menunjukkan bahwa ikan tetet mengalami pertumbuhan. Faktorfaktor yang mempengarhi pertumbuhan adalah makanan, kualitas air, penyakit, umur, dan jenis kelamin (Effendie 2002). Sedangkan dari November 2008 hingga Februari 2009 mengalami pergeseran modus ke arah kiri yang diduga ikan tersebut mengalami rekruitmen. Lalu kembali modus bergeser ke arah kanan pada

30 Februari-Maret 2010 yang menunjukan bahwa sehabis rekruitmen ikan kembali tumbuh pada periode tersebut. Sebaran frekuensi panjang ikan setiap bulannya ditunjukkan pada Gambar 9. Sebaran Frekuensi Bulan Oktober Sebaran Frekuensi Bulan November 40 35 30 25 20 15 10 5 0 0 0 1 1 11 37 26 13 2 0 2 0 30 25 20 15 10 5 0 1 1 4 1 8 23 23 24 2 0 0 0 40 35 30 25 20 15 10 5 0 1 1 Sebaran Frekuensi Bulan Desember 38 27 17 15 7 3 4 0 0 0 35 30 25 20 15 10 5 0 0 0 4 Sebaran Frekuensi Bulan Januari 29 26 22 21 10 5 3 0 0 Sebaran Frekuensi Bulan Februari Sebaran Frekuensi Bulan Maret 35 30 25 20 15 10 5 0 0 0 2 5 13 30 24 20 14 5 2 0 70 60 50 40 30 20 10 0 0 1 0 0 5 26 29 58 18 6 6 1 Gambar 9. Sebaran ukuran panjang ikan tetet (Johnius belangerii) setiap bulan pengamatan 4.3. Laju Eksploitasi Ketersediaan stok sumberdaya ikan berkaitan erat dengan parameter pertumbuhan dan mortalitas. Parameter pertumbuhan merupakan nilai numerik dalam persamaan sehingga dapat memprediksi ukuran badan ikan setelah mencapai umur tertentu. Sedangkan parameter mortalitas adalah suatu laju kematian ikan per unit waktu. Parameter mortalitas terdiri atas mortalitas alami dan mortalitas penangkapan (Sparre dan Venema 1999). Pauly (1980) in Sparre dan Venema (1999) menyusun analisis regresi mortalitas alami (pertahun)

31 terhadap laju pertumbuhan (per tahun), Linf (cm) dan T (Celcius). Berikut adalah tabel 3 yang menunjukan hasil analisis parameter pertumbuhan dan mortalitas ikan tetet (Johnius belangerii). Analisis parameter pertumbuhan dan mortalitas ikan tetet ditunjukkan pada Tabel 3. Tabel 3. analisis parameter pertumbuhan dan mortalitas ikan tetet (Johnius. belangerii) Nilai Laju Eksploitasi Parameter Pertumbuhan Parameter Mortalitas L (mm) K M Z F E 192,15 0,72 1,65579 3,361 1,70521 0,507352 Keterangan : Linf = panjang yang tidak dapat dicapai ikan (mm); K = koefisien pertumbuhan (per tahun); M = koefisien mortalitas alami (per tahun); Z = koefisien mortalitas alami total (per tahun); F = koefisien mortalitas penangkapan; E = tingkat eksploitasi (%) Dari Tabel 3 diatas diketahui bahwa nilai laju pertumbuhan lebih besar dibandingkan mortalitas penangkapan dan mortalitas alami dengan laju eksploitasi yang mencapai 0,507. Nilai mortalitas alami yang besar dan hamper menyamai mortalitas penangkapan menunjukan bahwa ikan mati disebabkan oleh predator, penyakit. Stress pemijahan, usia tua, dan kelaparan (Sparre dan Venema 1999). 4.4. Aspek Pertumbuhan dan Reproduksi 4.4.1. Hubungan panjang-berat Pola pertumbuhan yang terjadi pada ikan tetet (Johnius belangerii) di perairan Gebang Cirebon dapat diketahui melalui analisis hubungan panjang berat. Berikut adalah grafik pola pertumbuhan ikan tetet. Hubungan panjang berat ikan ditunjukkan pada Gambar 10.

32 Gambar 10. Hubungan panjang-berat ikan tetet (Johnius belangerii) Berdasarkan analisis hubungan panjang berat model pertumbuhan ikan tetet yaitu W = 3,416 L 0,016, dengan koefisien korelasi (r) sebesar 0.707. Hal ini menunjukkan bahwa antara panjang dan berat ikan tetet memiliki hubungan yang sangat erat. Dari model pertumbuhan tersebut diperoleh nilai b sebesar 0.016. Dengan menggunakan uji-t, maka diketahui bahwa pola pertumbuhan ikan tetet adalah allometrik negatif yang artinya pertumbuhan panjang lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan berat tubuhnya (Effendie 1979). Selain itu pola pertumbuhan yang bersifat allometrik negatif ini menunjukkan bahwa makanan yang tersedia di perairan Gebang Cirebon berada dalam jumlah yang sedikit atau dapat dikatakan bahwa perairan Gebang Cirebon kurang subur. Model hubungan panjang berat ikan tetet pada setiap pengambilan data dapat dilihat pada Tabel 1. Nilai R 2 untuk semua waktu pengambilan data sebesar 50 %, hal ini menunjukkan bahwa pola pertumbuhan yang dihasilkan mewakili 50 % dari keadaan di alam. 4.4.2. Faktor kondisi Faktor kondisi menunjukkan keadaan ikan secara fisik untuk bertahan hidup dan bereproduksi. Faktor kondisi juga digunakan untuk mengetahui kemontokan ikan dalam bentuk angka dan faktor kondisi dihitung berdasarkan panjang dan

33 berat ikan (Effendie 2002). Pada Gambar 11 ditunjukan grafik faktor kondisi dari Faktor Kondisi 0.20 Faktor Kondisi 0.15 0.10 0.05 0.11 0.14 0.12 0.13 0.11 0.12 0.13 0.11 0.11 0.11 0.13 0.11 0.00 100-106 107-113 114-120 121-127 128-134 135-141 142-148 149-155 156-162 163-169 170-176 177-183 Selang Kelas (mm) ikan tetet betina : Gambar 11. Faktor kondisi ikan tetet (Jonius belangerii) berdasarkan selang kelas panjang Nilai rata-rata faktor kondisi ikan tetet berdasarkan selang kelas panjang adalah 1,18-1,53. Faktor kondisi terbesar pada ikan terletak pada selang kelas panjang 107-113 mm. Hal ini menunjukkan bahwa pada selang kelas tersebut ikan-ikan mempunyai kemampuan yang cukup baik dalam mempertahankan hidupnya dan memanfaatkan makanan di sekitarnya. Selain itu pada selang kelas 107-113, merupakan ukuran dimana ikan berada pada TKG II secara dominan sehingga tubuh dari ikan betina pada selang kelas tersebut lebih besar dibandingkan pada ukuran selang kelas panjang yang lain karena energi dari makanan digunakan sebagai pertumbuhan somatik. Sedangkan faktor kondisi yang terkecil pada ikan betina terdapat pada selang kelas 100-106 mm. Hal ini adalah ukuran ikan saat ikan-ikan tersebut telah selesai melakukan proses pemijahan sehingga faktor kondisi semakin kecil, dapat diduga ikan pada ukuran tersebut mengalami kekalahan dalam bersaing mendapatkan makanan dengan ikan yang lebih tua. Selanjutnya faktor kondisi ikan tetet berdasarkan waktu pengambilan data ditunjukkan pada gambar 12.

34 Gambar 12. Faktor kondisi ikan tetet (Johnius belangerii) berdasarkan bulan pengamatan Nilai faktor kondisi ikan tetet relatif sama untuk setiap pengambilan data. faktor kondisi terbesar pada bulan Januari 2009 sebesar 1,37 dan terendah Desember sebesar 1,29.Nilai faktor kondisi mengalami fluktuasi. Peningkatan faktor kondisi disebabkan oleh perkembangan gonad yang akan mencapai puncaknya sebelum memijah (Effendie 2002). Pada saat makanan berkurang jumlahnya, ikan akan menggunakan cadangan lemaknya sebagai energi selama proses pematangan gonad dan pemijahan sehingga faktor kondisi ikan akan menurun. 4.4.3. Tingkat kematangan gonad ikan tetet (johnius belangerii) Tingkat kematangan gonad dapat diamati secara morfologi dan histologi. Baik atau tidaknya proses pemijahan ditentukan oleh kondisi lingungan. Jika kondisi lingkungan baik maka pemijahan pun akan berlangsung dengan baik dan larva yang dihasilkan juga memiliki kualitas yang baik. Berikut adalah grafik Tingkat Kematangan Gonad (TKG) pada tiap bulan pengamatan dari ikan tetet:

35 Persentase 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% TKG 4 TKG 3 TKG 2 TKG 1 Bulan Gambar 13. Tingkat kematangan gonad ikan tetet (Johnius belangerii) pada tiap waktu pengambilan data Ikan tetet yang diperoleh selama penelitian memiliki tingkat kematangan gonad (TKG) I, II, III, dan IV. Persentase tingkat kematngan gonad ikan tetet pada setiap pengambilan waktu berbeda-beda. Namun untuk TKG IV dominan terdapat pada pengambilan data pada bulan Maret 2009. Hal ini menunjukkan bahwa pada waktu tersebut merupakan musim pemijahan bagi ikan tetet. Faktor-faktor yang mempengaruhi saat pertama kali ikan matang gonad adalah faktor internal (perbedaan spesies, umur, ukuran, serta sift-sifat fisiologis dari ikan tersebut) dan faktor eksternal (makanan, suhu, dan arus). Secara alamiah TKG akan berjalan menurut siklusnya sepanjang kondisi makanan dan faktor lingkungan tidak berubah (Handayani 2006). Selanjutnya adalah grafik tingkat kematangan gonad ikan tetet berdasarkan selang kelas panjang:

36 Gambar 14. Tingkat kematangan gonad ikan tetet (Johnius belangerii) berdasarkanselang kelas panjang total Umumnya semakin tinggi TKG suatu ikan, maka panjang dan berat tubuh pun semakin tinggi. Hal ini disebabkan oleh lingkungan dimana ikan tersebut hidup (Yustina dan Arnentis 2002). Kualitas lingkungannya baik dan makanan yang dtersedia cukup melimpah. Hal inilah yang menjadi faktor penentu dari keberhasilan proses pemijahan selain faktor fisiologis dari ikan tersebut. Pada gambar 14 terlihat bahwa TKG IV dominan terdapat pada selang 135-141 mm dan 142-148 mm, keadaan ini dikarenakan makanan yang dimakan oleh ikan lebih diutamakan untuk perkembangan gonadnya dibandingkan pertumbuhan panjang tubuhnya. terlihat bahwa data sebaran frekuensi mengikuti sebaran normal dimana selang kelas antara 135-141 mm merupakan kelompok selang kelas ikan tetet yang paling banyak tertangkap dan didominasi oleh ikan betina yang memiliki TKG IV sebanyak 77 ekor. Hal ini dapat diduga bahwa nelayan menangkap ikan pada daerah fishing ground sehingga ikan-ikan tersebut memiliki kesempatan untuk bereproduksi lebih baik. Berikut adalah grafik yang menunjukan frekuensi TKG pada selang kelas panjang.

37 Berikut adalah Gambar yang menunjukan tingkat kematangan gonad ikan tetet secara histologis betina ditunjukkan pada Gambar 15. TKG I TKG II si Og df Os N 100X N 100X Os Yg Ot Bk Bm Ov N Bk 100X Bm N Keterangan : N = Nukleus; Si = Sitoplasma; Og = Oogonium; Os = oosit; df = dinding folikel; Ot = Ootid; Ov = Ovum; Yg = granula kuning telur; Bm = Butir minyak; Bk = butir kuning telur Gambar 15. Tingkat kematangan gonad ikan tetet betina Proses perkembangan dan pematangan oosit pada ikan betina ini diawali dengan proliferasimitosis yang dialami oleh oosit primer ketika memasuki meiosis. Oosit primer mengalami fase pertumbuhan primer (pra-vitellogenesis), yang mana meliputi penampakan dari material pucat dalam sitoplasma dan pembentukan dua lapisan yang mengelilingi granulosa dan techa sel (yaitu dinding follicular). Fase pertumbuhan kedua (vitellogenesis) meliputi sintesis dan penggabungan ke dalam oosit vitellogenin (VTG), dan diasosiasikan dengan peningkatan yang drastis pada ukuran. Selama vitellogenesis, inklusi-inklusi baru muncul dalam sitoplasma, seperti cortical alveoli (lingkaran-lingkaran putih),

38 gumpalan-gumpalan lemak (lingkaran-lingkaran abu-abu muda) dan butiranbutiran kuning telur (lingkaran-lingkaran abu-abu tua) dan menebalnya dinding oosit (yaitu zona radiata) dan dinding follicular. Pada akhir vitellogenesis, sitoplasma terisi sempurna oleh gumpalangumpalan lemak dan butiran-butiran kuning telur pada permulaan penggabungan, nukleus (vesikel germinal, GV) (lingkaran hitam) diposisikan di tengah dan zona radiata yang tebal mengelilingi oosit. Pematangan oosit akhir (OFM) dicirikan dengan pemutusan membran GV (GV break down, GVBD) dan hidrasi oosit. Oosit akhirnya diovulasikan ke dalam ovarium atau rongga abdominal, dan dilepaskan ke dalam air selama pemijahan. Dalam diagram ini, ukuraan sel bersifat relatif. 4.4.4. Indeks kematangan gonad ikan tetet (Johnius belangerii) Indeks kematangan gonad merupakan cara untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada gonad pada setiap kematangan secara kuantitatif. Sejalan dengan pertumbuhan gonad, gonad akan semakin bertambah berat dan bertambah besar mencapai ukuran maksimum ketika ikan akan memijah. Indeks kemetangan gonad ikan tetet bervariasi pada setiap waktu pengambilan data. Berikut adalah grafik indeks kematangan gonad dari ikan tetet : Gambar 16. Indeks kematangan gonad ikan tetet (Johnius belangerii) setiap pengambilan data Indeks kematangan gonad ikan tetet bervariasi pada setiap waktu pengambilan data. kisaran IKG ikan tetet antara 3,41% - 9,55%. IKG tetinggi

39 terdapat pada bulan Februari 2009. Hal ini sesuai dengan waktu pemijahan ikan tetet dimana TKG IV dominan terdapat pada bulan Februari sebanyak 49 ekor dan bulan Maret 72 ekor. IKG mengalami penurunan dari Oktober-November 2009 dan Februari-Maret 2009. Hal ini disebabkan ikan-ikan tersebut melakukan proses pemijahan. Effendi (2002) menyatakan bahwa indeks kematangan gonad akan semakin meningkat nilainya dan mencapai batas maksimum pada saat akan terjadi pemijahan, kemudian menurun dengan cepat sampai selesai pemijahan. umumnya pertambahan berat gonad ikan betina berkisar 10 25% dari berat tubuhnya, sedangkan ikan jantan berkisar 10 15% dari berat tubuhnya. Selanjutnya adalah indeks kematangan gonad ikan tetet berdasarkan selang kelas panjang: Gambar 17. Indeks kematangan gonad ikan tetet (Johnius belangerii) berdasarkan selang panjang Nilai rata-rata indeks kematangan gonad ikan tetet pada setiap selang kelas panjang bervariasi. Nilai IKG rata-rata tertinggi terdapat pada selang kelas 114-120 mm sebesar 10,57 %. Berdasarkan grafik IKG ikan tetet pada selang kelas 114-120 mm mengalami kenaikan nilai IKG sebesar 6,97 %. Hal ini diduga pada selang kelas kelas tersebut merupakan selang kelas panjang bagi ikan-ikan yang memiliki TKG III dan IV atau ikan-ikan yang berada dalam fase perkembangan gonad maksimum sebelum pemijahan. Kemudian pada selang kelas selanjutnya terdapat nilai rata-rata IKG mengalami penurunan. Keadaan ini dikarenakan ikanikan pada kelompok ukuran tersebut telah melalui proses pemijahan, sehingga nilai IKG-nya menurun. IKG ikan tetet memiliki rata rata nilai IKG dibawah

40 20%. Hal ini menunjukkan kelompok ikan tetet dapat memijah lebih dari satu kali stiap tahunnya (Bagenal 1987 in Yustina dan Arnentis 2002). 4.4.5. Fekunditas ikan Tetet (Johnius belangerii) Fekunditas merupakan jumlah telur yang dihasilkan oleh ikan betina. Dari jumlah total ikan betina yang diamati, terdapat 262 ekor ikan betina yang memiliki TKG IV dimana hanya ikan betina TKG IV saja yang dihitung fekunditasnya. Jumlah telur yang diperoleh selama penelitian bervariasi, berkisar antara 18369-34851 butir. Fekunditas maksimum dijumpai pada ukuran panjang total 141 mm dengan berat gonad 42,87 gram. Sedangkan fekunditas minimum ditemukan pada ukuran panjang total 169 mm dengan berat gonad sebesar 12,87 gram. Rata-rata fekunditas ikan tetet sebesar 13822 butir telur. Hal ini menunjukan bahwa ikan tetet memiliki potensi reproduksi yang tinggi, dikarenakan semakin banyak telur yang dikeluarkan diduga akan menghasilkan jumlah individu baru yang melimpah. Nikolsky (1963) menyatakan bahwa fekunditas pada ikan disesuaikan dengan kondisi lingkungannya. Jika ikan hidup di habitat yang banyak ancaman predator maka jumlah telur yang dihasilkan akan besar atau fekunditas semakin tinggi, sedangkan ikan yang hidup di habitat dengan sedikit predator akan memiliki jumlah telur yang lebih sedikit. Beberapa faktor yang berperan terhadap jumlah telur yang dihasilkan oleh ikan betina yaitu fertilitas, frekuensi pemijahan, perlindungan induk, ukuran telur, ukuran ikan, kondisi lingkungan, makanan, dan kepadatan populasi (Moyle dan Cech 2004).

41 Gambar 18. Sebaran fekunditas ikan tetet berdasarkan bulan pengamatan Selama dilakukannya penelitian, fekunditas rata-rata tertinggi ditemukan pada bulan Desember 2009 sebanyak 5.720 butir dan fekunditas rata-rata terendah berada pada bulan Februari sebanyak 4.680 butir. Pada bulan Desember dan Januari ikan pada TKG IV hanya ada 32 ekor namun kembali naik pada bulan Februari hingga Maret. Hal ini memperlihatkan bahwa ikan mengalami pemijahan lebih dari satu kali selama satu tahun. 4.4.6. Diameter telur ikan tetet (Johnius belangerii) Analisa diameter telur yang diamati selama pengamatan adalah diameter telur pada gonad ikan tetet TKG IV. Diameter telur yang diamati sebanyak 9000 butir telur. Sebaran diameter telur yang diamati memiliki variasi yang rendah antara 0,025-0,525 mm. Berikut adalah sebaran diameter telur ikan tetet berdasarkan selang kelas ditunjukkan pada Gambar 19. Gambar 19. Sebaran diameter telur ikan tetet (Johnius belangerii) berdasarkan selang kelas diameter telur

42 Pada grafik sebaran diameter telur ikan tetet dapat dilihat diameter telur mencapai puncaknya pada selang kelas 0,347-0,383 mm. Selanjutnya terus mengalami penurunan hingga selang kelas 0,623-0,659 mm. Dari sebaran frekuensi tersebut, diperoleh modus penyebaran satu puncak yang artinya kelompok spesies ikan mengeluarkan telur secara total (Total spawner). Gambar 20. Sebaran diameter telur ikan tetet (Johnius belangerii) setiap waktu pengambilan data Sebaran diameter telur bervariasi setiap waktu pengambilan data. Puncak tertinggi terdapat pada bulan November, sedangkan puncak terendah pada bulan Desember. Hal tersebut dikarenakan pada waktu tersebut merupakan puncak pemijahan dari ikan tetet. Namun perlu dilakukan penelitian hingga satu tahun lamanya untuk mengetahui bulan-bulan pemijahan lainnya. 4.5. Alternatif Strategi Pengelolaan Sumberdaya Ikan Tetet Pengelolaan perikanan adalah semua upaya, termasuk proses yang terintegrasi dalam pengumpulan informasi, analisis, perencanaan, konsultasi, pembuatan keputusan, alokasi sumberdaya ikan, dan implementasi hukum dari peraturan perundang-undangan di bidang perikanan, yang dilakukan oleh pemerintah atau otoritas lain yang diarahkan untuk mencapai kelangsungan produktivitas sumberdaya hayati dan tujuan yang telah disepakati. Pengelolaan perikanan dalam wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia dilakukan

43 untuk tercapainya manfaat yang optimal dan berkelanjutan, serta terjaminnya kelestarian sumberdaya ikan. Pada umumnya pengelolaan perikanan dimaksudkan untuk (1) menjaga kelestarian produksi terutama melalui berbagai regulasi serta tindakan perbaikan, (2) meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial para nelayan, dan (3) memenuhi keperluan industri yang memanfaatkan produksi tersebut. Hasil tangkapan ikan tetet selama waktu pengambilan contoh didominasi oleh ikan-ikan yang berukuran 135-141 mm dengan jumlah 183 ekor dan 142-148 dengan jumlah 155 ekor serta kedua kelompok selang kelas tersebut didominasi oleh ikan-ikan yang mencapai TKG IV dengan jumlah 77 ekor. Sehingga perlu dilakukan tindakan pengelolaan beberapa tindakan pengelolaan (1) pengaturan mata jaring rampus agar memberi kesempatan ikan yang 135-148 mm tidak tertangkap untuk memberi kesempatan bagi ikan untuk memijah terlebih dahulu. Berdasarkan nilai ukuran numerik dari laju eksploitasi ikan tetet yang menunjukan 0,507. Hal ini menandakana bahwa mortalitas alami dan mortalitas penangkapan berada pada nilai yang hampir sama disertai laju pertumbuhan yang melebihi angka laju eksploitasi dengan nilai 0,72, sehingga diperlukan tindakan pengelolaan berupa (2) pengaturan upaya tangkap agar menjaga kondisi stok berada dalam kondisi baik di perairan. Berdasarkan hasil pengambilan contoh dapat diketahui bahwa ikan tetet paling bayak tertangkap pada bulan Maret sebanyak 150 ekor namun hasil tangkapan didominasi oleh ikan TKG IV yang berjumlah 72 ekor atau dapat diakatakan presentase TKG IV yang tertangkap pada bulan tersebut adaah 48 %, sehingga perlu tindakan pengelolaan berupa pembatasan (3) upaya penangkapan pada bulan Desember agar memberi kesempatan ikan tetet untuk memijah terlebih dahulu. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa nelayan sekitar dalam kunjungan 7 hari di PPI Gebang Cirebon diindikasikan adanya pelangaran hukum dalam kegiatan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan dengan menggunakan jaring apolo yang dioperasikan di 100 m dari garis pantai sehingga merusak ekosistem terumbu kareng, maka perlu adanya konsistensi dan komitmen dari semua pihak, baik pemerintah, masyarakat, dan lembaga-lembaga terkait lainnya dalam hal pengawasan, penegakan hukum dan pengelolaan.