BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Shopping mall atau biasa disebut juga dengan mal adalah salah satu pusat perbelanjaan yang cepat berkembang di kota-kota besar di Indonesia. Mal merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan modern. Bagi masyarakat perkotaan mal mencerminkan adanya kebutuhan nyata masyarakat atas ruang-ruang publik untuk kegiatan berbelanja sekaligus rekreatif sebagai bagian dari gaya hidup. Dari riset yang dilakukan oleh Consumer Survey Indonesia terhadap 512 responden di kota besar selama bulan Februari 2010, dari segi frekuensi atau waktu kunjungan, rata-rata wanita pergi ke mal setiap 6,2 hari sekali dan pria 7,2 hari sekali dengan rata-rata menghabiskan waktu mereka di mal selama 3,5 jam. Hal ini mengindikasikan bahwa ratarata sekali dalam seminggu masyarakat di kota besar mengunjungi mal terutama pada akhir pekan. Melihat dari hasil survey diatas, tidak mengherankan jika bisnis ini merupakan lahan yang menjanjikan bagi para investor, tidak terkecuali di kota Medan. Dapat kita lihat pembangunan mal yang berkembang dengan cepat, banyak berdiri mal di berbagai sudut kota dan perencanaan mal sepertinya akan terus dilaksanakan dalam beberapa tahun kedepan. Seperti yang dikutip dari medanbisnisdaily.com (2013): Sedikitnya enam mal baru akan berdiri di Medan dalam waktu dekat ini Pembangunan mal yang berkembang pesat menyebabkan persaingan yang semakin ketat, banyak faktor yang mempengaruhi berhasil atau tidaknya sebuah mal, nantinya tidak hanya pengelola saja yang akan merasakan imbas dari ketidakberhasilan sebuah mal tetapi juga para pelaku usaha yaitu pemilik dan penyewa ritel di dalam mal. Salah satu prinsip yang paling penting untuk dipatuhi dalam perencanaan sebuah mal adalah bagaimana mendorong sirkulasi pengunjung. Retail sangat tergantung pada arus lalu lintas pengunjung yang melewati toko mereka karena dengan dilaluinya banyak orang kemungkinan untuk terjadinya arus jual beli semakin besar dan retail tersebut akan tetap hidup. Fitzparick (2011) mengatakan : Pada akhirnya, anchoring dan sistem sirkulasilah yang mendefinisikan keberhasilan ritel. Arsitektur yang menarik, ruang publik, air mancur, bangku, semua membantu, tetapi itu saja lantas tidak membuat sebuah ritel menjadi sukses. Beberapa proyek ritel yang paling sukses di dunia beberapanya juga adalah yang paling tidak menarik!
Urban Land Institute juga menyatakan bahwa akses menuju shopping mall berperan dalam keberhasilan sebuah mal. Buruknya akses ke situs membatasi potensi pasar. Kami sangat percaya bahwa kesuksesan akan tergantung pada peningkatan akses ke site dari jalan bebas hambatan dan dari lingkungan sekitarnya. Akses pejalan kaki akan menjadi sama pentingnya dengan akses mobil. Kemudahan dan kenyamanan aksesibilitas ini menjadi perhatian yang sangat penting terutama pada bangunan umum atau bangunan yang diakses oleh banyak orang dengan berbagai kondisi. Penelitian ini untuk melihat apakah aksesibilitas mempengaruhi keputusan pengunjung dalam memilih mal yang akan dikunjungi dan seberapa penting aksesibilitas bagi menurut penilaian mereka. Pengaruh adalah suatu keadaan ada hubungan timbal balik, atau hubungan sebab akibat antara apa yang mempengaruhi dengan apa yang di pengaruhi. Di sisi lain pengaruh adalah berupa daya yang bisa memicu sesuatu, menjadikan sesuatu berubah.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum 2.1.1 Definisi Shopping Mall Menurut Harvey M Rubenstein dalam Aji Bangun (1994)...Traditionally the word Mall has mean an area usually lined with shade trees and used as a public walk or promenade......secara tadisional kata Mal dapat diartikan sebagai suatu daerah berbentuk memanjang yang dinaungi oleh pohon-pohon dan biasanya untuk berjalan-jalan... Jika dilihat dari sejarahnya istilah mal berangkat dari nama The Mall (1674) di Inggris. The Mall adalah jalanan yang menghubungkan Istana Buckingham pada ujung barat, Admiralty Arch dan Trafalgar Square pada ujung timur. Pada abad ke -20 The Mall merupakan jalan yang biasa digunakan dalam acara-acara seremonial nasional sebagai rute untuk melakukan parade. Kemudian istilah mall ini digunakan untuk menyebut tempat pusat perbelanjaan yang memanjang dimana pengunjung berjalan untuk berbelanja. Shopping mall atau disebut juga dengan mal adalah sebuah pusat perbelanjaan tertutup yang memiliki struktur besar yang dikelola oleh satu perusahaan di dalamnya terdapat berbagai toko-toko ritel dan jasa, dikelilingi oleh area parkir, dan lokasi terletak di daerah suburban; atau komplek pusat perbelanjaan besar; atau kompleks perbelanjaan mixed-use yang menggabungkan toko, layanan, kantor, restoran, rekreasi, dan fungsi lainnya (Shopping Mall and Shopping Center Studies: Eastern Connecticut State University, 2009). Menurut International Council of Shopping Centre (ICSC) - organisasi paling besar dan paling berpengaruh untuk pusat perbelanjaan dunia- mal adalah jenis dari pusat perbelanjaan yang merupakan ruangan besar dan tertutup dengan pengatur suhu dan memiliki jalur untuk pejalan yang berada diantara toko-toko kecil yang saling berhadapan. Mal tidak hanya terdiri dari toko-toko, tetapi didalamnya juga ada food court, bioskop, dan arena bermain untuk menarik pengunjung. Di dalam sebuah mal, penyewa besar (anchor tenant) lebih dari satu (Dewan Pusat Perbelanjaan Internasional, 1999). 2.1.2 Tipologi dan Pola Shopping Mall Menurut Maithland (1987) dalam Marlina (2008) ada tiga tipologi bentuk mal : a. Open Mall (Mal terbuka) Mal terbuka maksudnya adalah mal tanpa pelingkup, langsung terhadap cahaya matahari. Perlindungan terhadap cuaca hanya melalui pengunaan kanopi menerus
sepanjang muka toko. Mal ini terkesan luas dan perencanaan teknisnyapun mudah sehingga biaya lebih murah. Kerugian mal ini yaitu kenyamanan yang tergantung cuaca. b. Enclosed Mall (Mal Tertutup) Mal tertutup maksudnya adalah mal dengan pelingkup atau tertutup, terlindung dari sinar matahari. Mal ini memberikan kenyamanan dari pengaruh cuaca. Kerugiannya biaya akan lebih mahal karena menggunakan pengatur suhu dan kesan kurang luas. c. Integrated Mall (Mal Terpadu) Merupakan penggabungan antara mal tertutup dan terbuka, biasanya berupa mal tertutup dengan akhiran terbuka. Munculnya bentuk ini merupakan antisipasi dari keborosan energi dan climatic control. Pada dasarnya pola mal berprinsip linier, dengan tatanan yang umumnya banyak digunakan adalah mal berkoridor tunggal. Perletakan tenant pada mal biasanya terletak diujung karena tenant berfungsi sebagai magnet bagi pengunjung. Pada perancangan mal terdapat peran dan pola hubungan antara ritel dan mal. Mal berperan sebagai penghubung, pengontrol, pengorganisir unit ritel serta pengidentifikasi area (memberi kejelasan orientasi). Sedangkan unit retail berperan sebagai ruang internal pembentuk perimeter mal yang berfungsi sebagai wadah kegiatan belanja dan pengendali arus pengunjung. Untuk mencapai rancangan mal yang efektif perlu digagas rancangan zona kontrol yaitu zona yang terkontrol dari ruang internal yakni ruang sewa (ritel). Dalam arti zona tersebut dapat diperhatikan dan membawa dampak positif timbal balik dengan ruang-ruang sewa disekitarnya. Zona kontrol bertujuan untuk mencapai kontinuitas arus pengunjung melalui efek pingpong sehingga ruang mempunyai nilai strategis yang sama dan tidak terdapat daerah mati, sehingga efektivitas komersial dapat tercapai. Kontrol ini dicapai melalui pola mal, anchor, pembatasan panjang dan lebar mal. 2.1.3 Reinterpretasi Urban Fabric Pada Shopping Mall Urban fabric merupakan pola-pola tata ruang perkotaan. Menurut Rubenstein, (1978) dalam Marlina (2008), mal merupakan penggambaran dari kota yang terbentuk oleh elemenelemen : a. Anchor (magnet) Merupakan transformasi dari nodes dapat pula berfungsi sebagai landmark. Perwujudannya berupa plaza dalam shopping mall. b. Secondary Anchor (magnet sekunder)
Merupakan transformasi dari district, perwujudannya berupa retail store, supermarket, bioskop. c. Street mall Merupakan transformasi dari paths, perwujudannya berupa pedestrian atau koridor yang menghubungkan magnet-magnet. d. Landscaping (taman) Merupakan transformasi dari edges sebagai pembatas pusat pertokoan dari tempat luar.