Terapi Kombinasi pada Serangan Asma Akut Anak

dokumen-dokumen yang mirip
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS/ RS Dr M DJAMIL PADANG

PENATALAKSANAAN ASMA EKSASERBASI AKUT

2006 Global Initiative for Asthma (GINA) tuntunan baru dalam penatalaksanaan asma yaitu kontrol asma

dr Finny Fitry Yani SpA(K)

PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA DALAM PENATALAKSANAAN TERKINI SERANGAN ASMA PADA ANAK

BAB I PENDAHULUAN. dengan kisaran usia 5-14 tahun (Gerald dkk, 2004). Prevalens asma di Indonesia belum

Prevalens Nasional : 5,0% 5 Kabupaten/Kota dengan prevalens tertinggi: 1.Aceh Barat 13,6% 2.Buol 13,5% 3.Pahwanto 13,0% 4.Sumba Barat 11,5% 5.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Suradi, Dian Utami W, Jatu Aviani

BAB I PENDAHULUAN. keterbatasan aliran udara yang menetap pada saluran napas dan bersifat progresif.

Dr. Masrul Basyar Sp.P (K)

M.D. : Faculty of Medicine, University of Indonesia, Pulmonologist: Faculty of Medicine, Univ. of Indonesia, 2007.

FARMAKOTERAPI ASMA. H M. Bakhriansyah Bagian Farmakologi FK UNLAM

CURRICULUM VITAE. Nama : DR. Dr. Nur Ahmad Tabri, SpPD, K-P, SpP(K) Tempat, tanggal lahir : Ujung Pandang, 12 April 1959 Agama: Islam

PENATALAKSANAAN ASMA MASA KINI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Asma sering diartikan sebagai alergi, idiopatik, nonalergi atau gabungan.

BAB I PENDAHULUAN. memburuk menyebabkan terjadinya perubahan iklim yang sering berubahubah. yang merugikan kesehatan, kususnya pada penderita asma.

BAB 1 PENDAHULUAN. udara ekspirasi yang bervariasi (GINA, 2016). Proses inflamasi kronis yang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Serangan Asma Berat pada Asma Episodik Sering

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. patofisiologi, imunologi, dan genetik asma. Akan tetapi mekanisme yang mendasari

PATOGENESIS PENYAKIT ASMA

BAB I PENDAHULUAN. Paru-paru merupakan organ utama yang sangat penting bagi kelangsungan

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. progressif nonreversibel atau reversibel parsial. PPOK terdiri dari

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. reversible di mana trakea dan bronkus berespon secara hiperaktif terhadap stimuli

BAB I PENDAHULUAN. termasuk kelompok gangguan saluran pernapasan kronik ini. Dalam beberapa

BAB 1 PENDAHULUAN. Asma adalah suatu inflamasi kronik dari saluran nafas yang menyebabkan. aktivitas respirasi terbatas dan serangan tiba- tiba

Bab I. Pendahuluan. yang ditandai oleh progresivitas obstruksi jalan nafas yang tidak sepenuhnya

BAB I PENDAHULUAN. Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) akan mengalami peningkatan

BAB I PENDAHULUAN. batuk, mengi dan sesak nafas (Somatri, 2009). Sampai saat ini asma masih

BAB I PENDAHULUAN. berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat, batuk-batuk terutama pada malam

BAB I PENDAHULUAN. dunia, diantaranya adalah COPD (Chonic Obstructive Pulmonary Disease)

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dan paling banyak ditemui menyerang anak-anak maupun dewasa. Asma sendiri

BAB I PENDAHULUAN. penyakit saluran napas dan paru seperti infeksi saluran napas akut,

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I A. LATAR BELAKANG. morbiditas kronik dan mortalitas di seluruh dunia, sehingga banyak orang yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. negara di seluruh dunia (Mangunugoro, 2004 dalam Ibnu Firdaus, 2011).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Asma merupakan salah satu penyakit kronis yang banyak ditemui dan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini kita telah hidup di zaman yang semakin berkembang, banyaknya inovasi yang telah bermunculan, hal ini

ANALISIS JURNAL PENGARUH LATIHAN NAFAS DIAFRAGMA TERHADAP FUNGSI PERNAFASAN PADA PASIEN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Asma masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di. dunia dan merupakan penyakit kronis pada sistem

BAB I PENDAHULUAN. negara maju tetapi juga di negara berkembang. Menurut data laporan dari Global

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BALAKANG. sedang berkembang. Asma merupakan salah satu penyakit kronis yang paling sering

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit paru-paru merupakan suatu masalah kesehatan di Indonesia, salah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. saluran napas terhadap berbagai rangsangan (hiperreaktif). 15

Laporan kasus berbasis bukti Pengaruh Obesitas terhadap Respon Terapi Serangan Asma

2. PERFUSI PARU - PARU

Asma adalah inflamasi pada saluran nafas, dimana melibatkan banyak elemen sel dan selular seperti, sel mast, eosinofil, limfositt, makrofag,

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

ATROPIN OLEH: KELOMPOK V

BAB I PENDAHULUAN. memperkirakan bahwa sekitar satu juta orang keracunan insektisida secara

BAB I PENDAHULUAN. Pada bab ini akan dibahas tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan. penelitian, manfaat penelitian sebagai berikut.

DIAGNOSIS DAN PENATALAKSAAN ASMA

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Rinitis Alergi adalah peradangan mukosa saluran hidung yang disebabkan

BAB 1 PENDAHULUAN. didominasi oleh penyakit menular bergeser ke penyakit tidak menular (noncommunicable

Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: X

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Asma merupakan penyakit kronis saluran pernapasan yang sering dijumpai

BAB I PENDAHULUAN. umumnya. Seseorang bisa kehilangan nyawanya hanya karena serangan

Asma Bronkial pada Anak. Asthma Bronchial in Childhood

HUBUNGAN ANTARA LAMA SENAM ASMA DENGAN FREKUENSI SERANGAN ASMA DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT (BBKPM) SURAKARTA

KORELASI SATURASI OKSIGEN PERKUTAN DENGAN PARAMETER DERAJAT KEPARAHAN (SEVERITY)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Asma adalah suatu kelainan berupa inflamasi (peradangan) kronik saluran

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA PENDERITA ASMA EKSASERBASI AKUT DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU-PARU MASYARAKAT (BBKPM) SURAKARTA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. bronkus. 3 Global Initiative for Asthma (GINA) membagi asma menjadi asma

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Diagnosis and Classifica.on of Asthma in Children

ABSTRAK PREVALENSI INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT SEBAGAI PENYEBAB ASMA EKSASERBASI AKUT DI POLI PARU RSUP SANGLAH, DENPASAR, BALI TAHUN 2013

BAB II TINJAUAN TEORI. disebabkan oleh virus, dan merupakan suatu peradangan yang menyebabkan. lumen pada bronkiolus (Suriadi & Rita, 2006).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HUBUNGAN ANTARA KONTROL ASMA dengan KUALITAS HIDUP ANGGOTA KLUB ASMA di BALAI KESEHATAN PARU MASYARAKAT SEMARANG

RINGAN SEDANG BERAT Jalan terbatas, Sukar lebih suka duduk

ASIDOSIS RESPIRATORIK

PEDOMAN PENGENDALIAN PENYAKIT ASMA

BAB 1 PENDAHULUAN. banyak terjadi di masyarakat adalah penyakit asma (Medlinux, (2008).

PETIDIN, PROPOFOL, SULFAS ATROPIN, MIDAZOLAM

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN ASMA BRONCHIALE

KERACUNAN OKSIGEN. Oleh Diah Puspita Rifasanti I1A Pembimbing: dr. Dwi Setyohadi

BAB I PENDAHULUAN. peringkat kelima di seluruh dunia dalam beban penyakit dan peringkat

BAB I PENDAHULUAN. Amerika dan mengakibatkan kematian jiwa pertahun, peringkat ke-empat

Peran Asthma Control Test (ACT) dalam Tata laksana Mutakhir Asma Anak

Anatomi dan Fisiologi saluran pernafasan. 1/9/2009 Zullies Ikawati's Lecture Notes 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. banyak sel dan komponennya (The National Asthma Education and Prevention

Indikasi Pemeriksaan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Asma merupakan salah satu penyakit saluran nafas yang banyak dijumpai,

PENATALAKSANAAN ASMA JANGKA PANJANG

Transkripsi:

Tinjauan Pustaka Terapi Kombinasi pada Serangan Asma Akut Anak Bambang Supriyatno Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Abstrak: Asma merupakan penyakit respiratorik yang sering dijumpai. Tatalaksana asma dibagi menjadi dua kelompok yaitu saat serangan asma dan di luar serangan asma. Tujuan tatalaksana serangan asma adalah menghilangkan hipoksemia dan gejala sesegera mungkin tergantung derajat serangannya yaitu serangan ringan, sedang, dan berat. Pemberian kombinasi agonis beta-2 dan ipratropium bromida mempunyai peran pada serangan asma sedang dan serangan asma berat sedangkan pada serangan asma ringan tidak berbeda dengan pemberian agonis beta-2 saja. Efek samping pemberian kombinasi beta -2 agonis dan ipratropium bromida dibandingkan agonis beta-2 sendiri tidak ada perbedaan yang bermakna. Kata kunci: Kombinasi terapi, serangan asma, anak Combination therapy in Acute Asthma Attack in Children Bambang Supriyatno Department of Child Health Faculty of Medicine University of Indonesia, Dr.Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta Abstract: Asthma is a respiratory illness which is often encountered. Management of asthma is divided into two groups during an asthma attack and non asthma attack. The objective of managing an asthma attack is to relieve hypoxemia and other symptoms as soon as possible. It also depends on the degree of attack which are mild, moderate, and severe attacks. The combination of beta-2 agonist and ipratropium bromide has a role in asthma attacks both moderate and severe attack; while in mild asthma attacks there are no different from giving a beta-2 agonist alone. There is no significant difference in side effects between combination of beta-2 agonist and ipratropium bromide compared to the beta-2 agonist alone. Keywords: combination therapy, asthma attack, children. 232

Pendahuluan Asma merupakan penyakit respiratorik kronik yang paling sering dijumpai pada anak. Kejadian asma meningkat dari tahun ke tahun baik di negara maju maupun negara berkembang. Peningkatan tersebut diduga karena pola hidup dan faktor polusi lingkungan. 1 Di Indonesia, diperkirakan 10% anak usia 6-12 tahun menderita asma yang kemudian menurun menjadi 6,5 % pada usia 13-14 tahun. 2 Asma dikelompokkan menjadi dua aspek yaitu aspek akut (biasa dikenal sebagai serangan asma) dan aspek kronik (dikenal sebagai asma di luar serangan). Serangan asma dibagi menjadi 3 yaitu asma serangan ringan, serangan sedang, dan serangan berat sedangkan aspek kronik dibagi dalam tiga kelompok juga yaitu asma episodik jarang, asma episodik sering, dan asma persisten. 2 Tujuan tatalaksana serangan asma adalah menghilangkan gejala sesegera mungkin dan mengatasi hiperkarbia serta hipoksemia yang mungkin terjadi sedangkan pada tatalaksana di luar serangan lebih mengutamakan pada kualitas hidup yang tetap optimal. 1-3 Tatalaksana serangan asma akut berkembang pesat dengan penggunaan terapi inhalasi sebagai penanganan awal, yang sebelumnya menggunakan obat sistemik baik oral maupun injeksi. 4,5 Definisi UKK Respirologi PP IDAI membuat batasan asma sebagai berikut: 2 diduga asma apabila anak menunjukkan gejala batuk dan/atau mengi yang timbul secara episodik, cenderung pada malam hari/dini hari (nokturnal), musiman, setelah aktivitas fisik, serta adanya riwayat asma Tabel 1. Klasifikasi Serangan Asma 1,2 Parameter klinis, fungsi paru, Ringan Sedang Berat Ancamanhenti napas Laboratorium Sesak timbul-pada saat (breathless) Berjalan Berbicara Istirahat Bayi: menangis Bayi: - tangis pendek Bayi: berhenti makan keras dan lemah - kesulitan makan Bicara Kalimat Penggal kalimat Kata-kata Posisi Bisa berbaring Lebih suka duduk Duduk bertopang lengan Kesadaran Mungkin iritable Biasanya iritable Biasanya iritable Kebingungan Sianosis Tidak ada Tidak ada Ada Nyata Mengi Sedang, sering ha- Nyaring, sepanjang ekspir. Sangat nyaring, terdengar Sulit/tidak terdengar nya pada akhir + inspirasi tanpa stetoskop ekspirasi Sesak napas Minimal Sedang Berat Otot bantu napas Biasanya tidak Biasanya ya Ya Gerakan paradoks torako abdominal Retraksi Dangkal, retraksi Sedang, ditambah retraksi Dalam, ditambah napas Dangkal/hilang interkostal suprasternal cuping hidung Laju napas Meningkat Meningkat Meningkat Menurun Laju nadi Normal Takikardi Takikardi Bradikardi Pulsus paradok-sus Tidak ada Ada 10-20 mmhg Ada >20 mmhg Tidak ada, tanda kelela- (pemeriksaannya tidak praktis) <10 mmhg lahan otot napas PEFR atau FEV - pra bronkodilator (% nilai dugaan/ % nilai terbaik) - pasca bronko dilator >60% 40-60% <40% > 80% 60-80% <60%, respon <2 jam SaO 2 % > 95% 91-95% <90% PaO 2 Normal (biasanya >60 mmhg <60 mmhg tidak perlu diperiksa) PaCO 2 <45 mmhg <45 mmhg >45 mmhg Pedoman nilai baku laju napas pada anak sadar: Usia Laju napas normal <2 bulan <60/menit 2-12 bulan <50/menit 1-5 tahun <40/menit 6-8 tahun <30/menit Pedoman nilai baku laju nadi pada anak: Usia Laju nadi normal 2-12 bulan <160/menit 1-2 tahun <120/menit 3-8 tahun <110/menit 233

dan alergi pada pasien atau keluarganya. Serangan asma didefinisikan sebagai episode peningkatan yang progresif (perburukan) dari gejala-gejala batuk, sesak napas, mengi, rasa dada tertekan atau berbagai kombinasi dari gejala tersebut. 1,2 Klasifikasi Serangan asma dibagi dalam 3 kelompok yaitu serangana asma ringan, serangan asma sedang, dan serangan asma berat. 1,2,6 Pembagian itu diperlukan untuk menentukan tatalaksana selanjutnya. Untuk menentukan klasifikasi tersebut diperlukan beberapa parameter seperti kemampuan mengucapkan kalimat atau kata, posisi duduk atau berbaring, adanya peningkatan usaha napas, sianosis, dan pemeriksaan penunjang seperti analisis gas darah dan uji fungsi paru (lihat tabel 1). 1,2 Parameter tersebut tidak selalu tepat sehingga sering b sulit menentukan derajat serangan asma. Sebagai pedoman, apabila sulit menentukan derajat serangan maka ditentukan derajat yang lebih tinggi. Apabila terdapat kesulitan membedakan serangan asma ringan atau sedang maka dilakukan penanganan sebagai serangan sedang demikian pula pada saat kesulitan menentukan serangan sedang atau berat maka dianggap sebagai serangan berat. Patofisiologi Serangan Asma Serangan asma terjadi apabila terpajan alergen sebagai pencetus. Pajanan alergen tersebut menyebabkan terjadinya bronkokonstriksi, edema dan hipersekresi saluran napas dengan hasil akhir berupa obstruksi saluran napas bawah sehingga terjadi gangguan ventilasi berupa kesulitan napas pada saat ekspirasi (air trapping). 1 Terperangkapnya udara saat ekspirasi mengakibatkan peningkatan tekanan CO 2 dan pada akhirnya menyebabkan penurunan tekanan O 2 dengan akibat penimbunan asam laktat atau asidosis metabolik. Adanya obstruksi juga akan menyebabkan terjadinya hiperinflasi paru yang mengakibatkan tahanan paru meningkat sehingga usaha napas meningkat. Usaha napas terlihat nyata pada saat ekspirasi sehingga dapat terlihat ekspirasi yang memanjang atau wheezing. Adanya peningkatan tekanan CO 2 dan penurunan tekanan O 2 serta asidosis dapat menyebabkan vasokonstriksi pulmonar yang berakibat pada penurunan surfaktan. Penurunan surfaktan tersebut dapat menyebabkan keadaan atelektasis. Selain itu, hipersekresi akan menyebabkan terjadinya sumbatan akibat sekret yang banyak (mucous plug) dengan akibat atelektasis. 1 Tatalaksana Tatalaksana serangan asma bertujuan untuk menghilangkan gejala dan hipoksemia sesegera mungkin. 1,7,8 Untuk mengatasi hal tersebut maka yang paling tepat adalah pemberian obat secara inhalasi. Keuntungan terapi inhalasi adalah obat langsung menuju sasaran, awitannya cepat, dosis minimal, dan efek samping minimal. 2 Pada serangan asma terjadi keadaan bronkokonstriksi sehingga penanganan awal adalah pemberian bronkodilator, selain pemberian oksigen bila terjadi hipoksemia. Bronkodilator yang digunakan adalah agonis beta-2 seperti salbutamol, terbutalin, prokaterol, dan lain lain. Bronkodilator tersebut harus segera diberikan untuk menghindari dampak hipoksemia lama yang akan mengakibatkan sekuele di kemudian hari. 9 Pada keadaan tertentu pemberian bronkodilator jenis agonis beta-2 saja kurang efektif sehingga perlu ditambahkan jenis bronkodilator lain seperti ipratropium bromida atau golongan xanthine. 1 Ipratropium bromida adalah suatu antikolinergik yang merupakan antagonis kompetitif asetilkolin yang bekerja dengan cara berikatan di reseptor kolinergik sehingga menghambat efek asetilkolin. 10-12 Reseptor kolinergik yang dihambat adalah reseptor di otot polos dan kelenjar submukosa sehingga mencegah peningkatan konsentrasi cyclic guanosine monophosphate (cyclic GMP) intraselular yang terjadi akibat interaksi asetilkolin dengan reseptor muskarinik pada otot polos bronkus. Dengan demikian dapat menghambat kontraksi otot polos dan mengurangi sekresi kelenjar submukosa saluran napas. 13,14 Ipratropium bromida merupakan derivat atropin yang dikenal sebagai kuartener amonium sintetik (lihat gambar 1). Secara makroskopik ipratropium bromida adalah zat kristal putih, sangat larut dalam air dan sedikit larut dalam alkohol, tapi tidak larut dalam pelarut lipofilik seperti eter, kloroform, dan flurokarbon. 8,15 Gambar 1. Struktur Kimia Ipratropium Bromida. 8 Ipratropium bromida tidak menembus sawar darah otak dan mukosa gastrointestinal sehingga efek sistemiknya minimal, yaitu di bawah 1%. Meskipun ipratropium bromida mempunyai efek bronkodilator, tetapi efek bronkodilatasinya lebih lemah dan awitan kerjanya lebih lambat bila dibandingkan dengan agonis beta-2. Ipratropium bromida mempunyai waktu paruh yang cukup panjang dibandingkan dengan agonis beta-2 sehingga penambahan ipratropium 234

bromida memperpanjang masa kerja obat bronkodilator secara keseluruhan. Ipratropium bromida sangat jarang digunakan sebagai bronkodilator secara tunggal. 16,17 Dengan penambahan kedua obat tersebut didapatkan awitan kerja yang cepat dan masa kerja yang lama. Seperti umumnya obat bronkodilator, ipratropium bromida mempunyai efek samping mulut kering, mual, tremor, dan iritasi mata. Keluhan palpitasi dijumpai pada sebagian kecil pengguna ipratropium bromida. Meskipun ipratropium bromida termasuk derivat atropin tetapi tidak dijumpai efek samping retensi urin, gangguan penglihatan dan agitasi seperti pada atropin. 18-20 Aplikasi Pemberian Agonis beta-2 dan Ipratropium Bromida pada Serangan Asma Beberapa peneliti menggunakan kombinasi agonis beta- 2 dan ipratropium bromida pada serangan asma baik ringan, sedang, maupun berat. Dosis agonis beta-2 yang digunakan adalah 2,5 mg sedangkan dosis ipratropium adalah 250 mikrogram. Serangan Asma Ringan Dalam Pedoman Nasional Penanganan Asma Anak (PNAA), pemberian bronkodilator cukup dengan agonis beta- 2 saja karena penambahan obat lain tidak menimbulkan perbedaan yang bermakna. 2 Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dikemukakan Storr dan Lenny, 13 yang menyatakan bahwa efektivitas penggunaan terapi kombinasi agonis beta-2 dan ipratropium bromida tidak berbeda dalam hal penurunan skor gejala, perbaikan uji fungsi paru, dan angka perawatan di rawat inap dibandingkan dengan pemberian beta-agonis sendiri saja pada serangan ringan. Dengan dasar tersebut direkomendasikan bahwa pada serangan asma ringan tidak diperlukan penambahan ipratropium bromida. 2 Serangan Asma Sedang Pada serangan asma sedang diberikan inhalasi agonis beta-2, steroid sistemik, dan oksigen serta penggantian cairan bila diperlukan. Inhalasi yang diberikan cukup agonis beta-2 saja dan tidak diperlukan penambahan ipratropium bromida. 1,2 Namun pada penelitian-penelitian terakhir, disebutkan adanya keuntungan yang didapat pada penggunaan kombinasi agonis beta-2 dengan ipratropium bromida pada serangan asma sedang. 9,18,20,21 Beberapa penelitian mengenai penggunaan terapi kombinasi pada serangan asma sedang mendapatkan hasil yang baik namun ada juga yang tidak bermakna. Penelitian yang dilakukan oleh Schuch, 6 mendapatkan hasil yang tidak berbeda bermakna antara pemberian agonis beta-2 saja dengan penambahan ipratropium bromida, baik dalam hal penurunan skor gejala, uji fungsi paru, maupun angka kejadian perawatan. Penelitian lain oleh Kartiningsih et al., 21 mendapatkan bahwa penambahan ipratropium bromida dibandingkan agonis beta-2 sendiri memberikan hasil yang lebih baik dalam hal penurunan skor gejala, penurunan uji fungsi paru, dan rerata saturasi oksigen. Hasil metaanalisis yang dilakukan Rodrigo et al, 9 mendapatkan bahwa pemberian ipratropium bersama agonis beta-2 dibandingkan agonis beta- 2 sendiri mempunyai hasil yang bermakna dalam hal peningkatan uji fungsi paru: (FEV 1 ) yaitu sebesar 16,3% (IK 95% 8,2 sampai 24,5%) dan peningkatan PEFR sebesar 15% (IK 95% 5 sampai 24%) serta penurunan angka perawatan di rumah sakit dengan RR 0,73 (IK 95% 0,63 sampai 0,85). Dengan demikian terlihat bahwa terdapat kecenderungan keberhasilan penggunaan kombinasi agonis beta-2 dan ipratropium bromida dibandingkan agonis beta-2 sendiri pada serangan asma sedang. Serangan Asma Berat Pada tatalaksana serangan asma berat penggunaan agonis beta-2 bersama ipratropium bromida menjadi keharusan karena mempunyai beberapa keuntungan. 1,2,6,7,17 Dengan penambahan ipratropium bromida pada inhalasi dengan agonis beta-2 mempunyai perbedaan yang cukup bermakna dalam hal peningkatan uji fungsi paru, yaitu PEFR (peak expiratory flow rate) dan FEV 1 (forced expiratory volume in 1 second). Pada tahap awal (kurang dari 30 menit pasca inhalasi) terlihat tidak ada perbedaan bermakna antara pemberian agonis beta-2 sendiri dengan penambahan ipratropium bromida, tetapi setelah lebih dari 60 menit (1 jam) terlihat adanya peningkatan uji fungsi paru secara bermakna baik PEFR maupun FEV 1. 6,9,17 Selain itu penambahan ipratropium bromida dapat memperbaiki obstruksi saluran napas kecil yang dibuktikan dengan peningkatan FEF 25-75 (forced expiratory flow pada 25-75% vital capacity) setelah 60 menit pasca pemberian inhalasi. Pada awal inhalasi tidak terdapat perbedaan uji fungsi paru FEF 25-75 antara agonis beta-2 sendiri dengan penambahan ipratropium bromida tetapi setelah lebih dari 60 menit terlihat perbedaan secara bermakna. 17 Penelitian meta-analisis mendapatkan bahwa penggunaan agonis beta-2 bersama ipratropium bromida dibandingkan agonis beta-2 sendiri meningkatkan uji fungsi paru (FEV1) sebesar 9,8% (IK 95% 6,5 sampai 13,1%) dan menurunkan angka perawatan di rumah sakit dengan OR 0,62 (IK 95% 0,38 sampai 0,99). Tidak didapatkan perbedaan efek samping antara keduanya baik tremor, nausea dan muntah. 8 Penatalaksanaan serangan asma berat sesuai standar harus dilakukan bukan hanya pemberian kombinasi agonis beta-2 dan ipratropium bromida saja. Penambahan terapi yang lain seperti pemberian oksigen, kortikosteroid sistemik, aminofilin, dan suportif seperti penggantian cairan, koreksi asam basa dan elektrolit harus diperhatikan. 1,2 Kesimpulan Berdasarkan kajian di atas dapat disimpulkan bahwa pemberian kombinasi agonis beta-2 dan ipratropium bromida 235

mempunyai peran pada serangan asma sedang dan asma berat sedangkan pada serangan asma ringan menghasilkan efek yang tidak berbeda dengan pemberian agonis beta-2 saja. Efek samping pemberian kombinasi agonis beta-2 dan ipratropium bromida dibandingkan agonis beta-2 sendiri tidak berbeda bermakna. Daftar Pustaka 1. Lenfant C, Khaltaev N. Global Initiative for Asthma. NHLBI/ WHO Workshop Report 2006. 2. Rahajoe N, Supriyatno B, Setyanto DB. Pedoman nasional asma anak. Jakarta: UKK Respirologi PP Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2004. 3. O Byrne P. Pathogenesis. Dalam: O Byrne PM, Thomson NC, editor. Manual of asthma management. Edisi ke-2. London: WB. Saunders; 2001.hal.27-40. 4. Martinez G. Round table: severe asthma in pediatrics: treatment of acute crises. Allergol Immunopathol.1999;27:53-62. 5. Gibbs MA, Camargo CA, Rowe BH, Silverman RA. State of the Art: Therapeutic controversies in severe acute asthma. Acad Emerg Med.2000;7:800-15. 6. Schuh S, Johnson DW, Callahan S, Canny G, Levison H. Efficacy of frequent nebulized ipratropium bromide added to frequent high-dose albuterol therapy in severe childhood asthma. J Pediatr.1995;126:639-45. 7. Qureshi F, Pestian J, Davis P, Zatisky A. Effect of nebulized ipratropium on the hospitalization rates of children with asthma. N Engl J Med. 1998;339:1030-5. 8. Aaron SD. The use of ipratropium bromide for the management of acute asthma exacerbation in adults and children: A systematic review. J Asthma 2001;38:521-30. 9. Rodrigo GJ, Castro-Rodriguez JA. Anticholinergics in the treatment of children and adults with acute asthma: a systematic review with meta-analysis. Thorax. 2005;60:740-46. 10. Rodrigo GJ, Rodrigo C. The role of anticholinergics in acute asthma treatment. An evidence-based evaluation. Chest. 2002; 121:1977-87. 11. Zorc JJ, Pusic MV, Ogborn CJ, Lebet R, Duggan AK. Ipratropium bromide added to asthma treatment in the pediatric emergency department. Pediatrics. 1999;103:748-52. 12. Lanes SF, Garrett JE, Wentworth CE, Fitzgeralc JM, Karpel JP. The effect of adding ipratropium bromide to salbutamol in the treatment of acute asthma. A pooled analysis of three trials. Chest. 1998;114:365-72. 13. Storr J, Lenney W. Nebulised ipratropium and salbutamol in asthma. Arch Dis Child. 1986;61:602-3. 14. Plotnick LH, Ducharme FM. Acute asthma in children and adolescents. Should inhaled anticholinergics be added to beta2- agonist?. Am J Respir Med. 2003;2:109-15. 15. Sharma A, Madaan A. Nebulized salbutamol Vs salbutamol and ipratropium combination in asthma. Indian J Pediat. 2004; 71:121-4. 16. Potnick LH, Ducharme FM. Should inhaled anticholinergics be added to beta2-agonist for treating acute childhood and adolescent asthma? A systematic review. Br Med J. 1998;317:971-7. 17. DeStefano G, Bonetti S, Bonizzato C, Valletta EA, Piacentini GL, Boner AL. Additive effect of albuterol and ipratropium bromide in the treatment of bronchospasm in children. Ann Allergy. 1990;65:260-2. 18. Watanasomsiri A, Phipatanakul W. Comparison of nebulized ipratropium bromide with salbutamol vs salbutamol alone in acute asthma exacerbation in children. Ann Allergy Asthma Immunol. 2006;96:701-6. 19. Anthracopoulos MB, Karatza AA, Davlouros PA, Chiladakis JA, Manolis AS, Beratis NG. Effects of two nebulization regimens on heart rate variability during acute asthma exacerbations in children. J Asthma. 2005;42:273-9. 20. Qureshi F, Zaritsky A, Lakkis H. Efficacy of nebulized ipratropium in severely asthmatic children. Ann Emerg Med. 1997;29:205-11. 21. Kartiningsih L, Setiawati L, Makmuri MS.Comparison of clinical efficacy and safety between salbutamol-ipratropium bromide nebulization and salbutamol alone in children with asthmatic attack. Pediatr Indones. 2006;46:241-5. ZD 236