DOSIS SERAP DI SEKITAR BATAS DISTRIBUSI BORON

dokumen-dokumen yang mirip
BORON NEUTRON CAPTURE THERAPY (BNCT)

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

1BAB I PENDAHULUAN. sekaligus merupakan pembunuh nomor 2 setelah penyakit kardiovaskular. World

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TEORI DASAR RADIOTERAPI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

CROSS SECTION REAKSI INTI. Sulistyani, M.Si.

DOSIS BORON NEUTRON CAPTURE THERAPY

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Spesifikasi Teknis Teras Reaktor Nuklir Kartini dan Eksperimental Setup Fasilitas Uji In-vitro dan In-vivo Metode BNCT

FISIKA ATOM & RADIASI

adukan beton, semen dan airmembentuk pasta yang akan mengikat agregat, yang

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang

FISIKA INTI DI BIDANG KEDOKTERAN, KESEHATAN, DAN BIOLOGI

MODEL ATOM. Atom : bagian terkecil suatu elemen yg merupakan suatu partikel netral, dimana jumlah muatan listrik positif dan negatif sama.

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

BAB I Jenis Radiasi dan Interaksinya dengan Materi

Xpedia Fisika. Soal Fismod 2

BAB I PENDAHULUAN. Beberapa radiasi berbahaya karena dapat mengionisasi bahan yang dilaluinya,

BAB III BESARAN DOSIS RADIASI

PEMBUATAN NANOPARTIKEL EMAS RADIOAKTIF DENGAN AKTIVASI NEUTRON

VII. PELURUHAN GAMMA. Sub-pokok Bahasan Meliputi: Peluruhan Gamma Absorbsi Sinar Gamma Interaksi Sinar Gamma dengan Materi

BAB 1 PENDAHULUAN. radionuklida, pembedahan (surgery) maupun kemoterapi. Penggunaan radiasi

KARTINI SKRIPSII. Oleh

2. Dari reaksi : akan dihasilkan netron dan unsur dengan nomor massa... A. 6

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. utama kematian akibat keganasan di dunia, kira-kira sepertiga dari seluruh kematian akibat

BAB II Besaran dan Satuan Radiasi

PELURUHAN GAMMA ( ) dengan memancarkan foton (gelombang elektromagnetik) yang dikenal dengan sinar gamma ( ).

KOMPUTASI DOSIMETRI RADIASI DENGAN METODE MONTE CARLO

BAB I PENDAHULUAN. digunakan di Indonesia dalam berbagai bidang, diantaranya untuk pembangkit

HALAMAN PENGESAHAN. Dr. Fahru Nurosyid, S.Si., M.Si

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA F A K U L T A S M I P A

BAB II RADIASI PENGION

BAB 2 RADIOTERAPI KARSINOMA TIROID. termasuk untuk penyakit kanker kepala dan leher seperti karsinoma tiroid.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Geometri Aqueous Homogeneous Reactor (AHR) Geometri AHR dibuat dengan menggunakan software Visual Editor (vised).

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME... ii. HALAMAN PENGESAHAN... iii. HALAMAN TUGAS... iv. KATA PENGANTAR...

GANENDRA, Vol. V, No. 1 ISSN ANALISIS DAN PENENTUAN DISTRIBUSI FLUKS NEUTRON SALURAN TEMBUS RADIAL UNTUK PENDAYAGUNAAN REAKTOR KARTINI

5. KIMIA INTI. Kekosongan elektron diisi elektron pada kulit luar dengan memancarkan sinar-x.

PERHITUNGAN INTEGRAL RESONANSI PADA BAHAN BAKAR REAKTOR HTGR BERBENTUK BOLA DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM VSOP

kanker yang berkembang dari sel-sel yang berada pada kelenjar payudara. Dalam

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

INTERAKSI RADIASI DENGAN MATERI NANIK DWI NURHAYATI,S.SI,M.SI

Jumlah Proton = Z Jumlah Neutron = A Z Jumlah elektron = Z ( untuk atom netral)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP 01 )

INTERAKSI RADIASI DENGAN MATERI

REAKSI NUKLIR NANIK DWI NURHAYATI,S.SI, M.SI

Penentuan Fluks Neutron Termal di Fasilitas Kalibrasi Neutron dengan Menggunakan Keping Indium

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD 01) FISIKA INTI

KIMIA INTI DAN RADIOKIMIA. Stabilitas Nuklir dan Peluruhan Radioaktif

5. Diagnosis dengan Radioisotop

PAKET SOAL 1.c LATIHAN SOAL UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2011/2012

EVALUASI FLUKS NEUTRON THERMAL DAN EPITHERMAL DI FASILITAS SISTEM RABBIT RSG GAS TERAS 89. Elisabeth Ratnawati, Jaka Iman, Hanapi Ali

Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka ISSN Journal of Radioisotope and Radiopharmaceuticals Vol 10, Oktober 2007

PELURUHAN RADIOAKTIF. NANIK DWI NURHAYATI,S.Si,M.Si nanikdn.staff.uns.ac.id

TARGET BERILIUM SEBAGAI SUMBER NEUTRON PADA BORON NEUTRON CAPTURE THERAPY

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA F A K U L T A S M I P A SILABI

Perkembangan Model Atom. Semester 1

LATIHAN UJIAN NASIONAL

BAB III Efek Radiasi Terhadap Manusia

Bab 2 Interaksi Neutron

R and D Project Comissioning fasilitas Uji In vitro dan In Vivo BNCT di Beamport tembus Reaktor Kartini

Analisis Pengaruh Sudut Penyinaran terhadap Dosis Permukaan Fantom Berkas Radiasi Gamma Co-60 pada Pesawat Radioterapi

PENDAHULUAN RADIOAKTIVITAS TUJUAN

SIFAT BINTANG. Astronomi. Ilmu paling tua. Zodiac of Denderah

OPTIMASI SHIELDING NEUTRON PADA THERMALIZING COLUMN REAKTOR KARTINI

MAKALAH APLIKASI NUKLIR DI INDUSTRI

PELURUHAN RADIOAKTIF

Intensitas spesifik Fluks energi Luminositas Bintang sebagai benda hitam (black body) Kompetensi Dasar: Memahami konsep pancaran benda hitam

C17 FISIKA SMA/MA IPA

BAB I PENDAHULUAN. yaitu radiasi UV-A ( nm), radiasi UV-B ( nm), dan radiasi UV-C

FISIKA MODERN UNIT. Radiasi Benda Hitam. Hamburan Compton & Efek Fotolistrik. Kumpulan Soal Latihan UN

BAB FISIKA INTI DAN RADIOAKTIVITAS

RENCANA PERKULIAHAN FISIKA INTI Pertemuan Ke: 1

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi

KEAMANAN Beberapa pertimbangan keamanan diperlukan dalam low-level laser. Namun, berbagai macam jenis laser telah berkembang dan kegunaannyapun

REAKSI NUKLIR NANIK DWI NURHAYATI,S.SI, M.SI. nanikdn.staff.uns.ac.id nanikdn.staff.fkip.uns.ac.id / (0271)

BAB I PENDAHULUAN. Kanker kepala dan leher adalah penyebab kematian akibat kanker tersering

Kunci dan pembahasan soal ini bisa dilihat di dengan memasukkan kode 5976 ke menu search. Copyright 2017 Zenius Education

RADIOAKTIF 8/7/2017 IR. STEVANUS ARIANTO 1. Oleh : STEVANUS ARIANTO TRANSMUTASI PENDAHULUAN DOSIS PENYERAPAN SIFAT-SIFAT UNSUR RADIOAKTIF REAKSI INTI

PENGUKURAN FLUKS NEUTRON SALURAN BEAMPORT TIDAK TEMBUS RADIAL SEBAGAI PENGEMBANGAN SUBCRITICAL ASSEMBLY FOR MOLYBDENUM (SAMOP) REAKTOR KARTINI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Copyright all right reserved

SMA / MA IPA Mata Pelajaran : Fisika

RADIOKIMIA Tipe peluruhan inti

ENERGETIKA KESTABILAN INTI. Sulistyani, M.Si.

BAB II PROSES-PROSES PELURUHAN RADIOAKTIF

Penentuan Kadar Besi dalam Pasir Bekas Penambangan di Kecamatan Cempaka dengan Metode Analisis Aktivasi Neutron (AAN)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

BAB I PENDAHULUAN. tubuh manusia karena terpapari sinar-x dan gamma segera teramati. beberapa saat setelah penemuan kedua jenis radiasi tersebut.

Sistem Telekomunikasi

PENENTUAN KARAKTERISASI CERROBEND SEBAGAI WEDGE FILTER PADA PESAWAT TELETERAPI 60 Co

Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin

Transkripsi:

BAB 4 DOSIS SERAP DI SEKITAR BATAS DISTRIBUSI BORON Metode perhitungan dosis serap pada bab 3 dapat digunakan untuk melihat sebaran energi serap di sekitar batas daerah yang mengandung boron dan daerah bebas boron. Neutron termal adalah neutron energi rendah (< 0.4 ev) dengan fluks neutron berkisar antara 10 12 10 13 neutron termal/cm 2 s. Dalam beberapa protokol klinik BNCT, dosis maksimum yang dibolehkan untuk otak berhubungan dengan fluks neutron sekitar 2.5 10 12 neutron termal/cm 2 [11]. Cross section (probabilitas) penangkapan neutron termal oleh boron sekitar 3835 barn (1 barn = 10-24 cm 2 ). Contoh perhitungan energi serap pada tugas akhir ini dilakukan untuk kasus Glioblastoma Multiforme. Glioblastoma Multiforme merupakan tumor yang berkembang di otak, dengan tingkat pertumbuhan yang cepat dan bisa menjadi sangat besar sebelum menimbulkan rasa sakit. Rata-rata tumor ini megandung 10 11 sel [12]. Pengobatan optimal dengan terapi radiasi membutuhkan dosis 60-65 Gy [13] pada kasus ini. Dalam percobaan klinik fase I/II BNCT untuk 18 pasein pada kasus Glioblastoma Multiforme dengan menggunakan BPA sebagai agen pembawa boron dan menggunakan sumber neutron epitermal dari Brookhaven Medical Research Reactor [7], diperoleh perbandingan konsentrasi boron dalam darah : otak : tumor : kulit kepala adalah 1:1:3-3.5:1.5, dan dari hasil pengambilan sampel darah setelah 2 jam penginfusan BPA diperoleh data sebagai berikut : 23

Tabel 4.1. Konsentrasi rata-rata maksimum boron dalam darah setelah 2 jam penginfusan [7]. Pemasukan (mg BPA/kg BB) Konsentrasi dalam darah (µg B/g darah) 130 13.1 170 14.2 210 17.3 250 22.1 Dengan menggunakan data di atas penulis menghitung sebaran dosis serap untuk masing-masing pemasukan BPA pada sel tumor, otak dan kulit kepala menggunakan data geometri sebaran boron permukaan bola yang telah di interpolasi untuk titik-titik perhitungan yang lebih rapat. 4.1 Perhitungan Sebaran Energi pada Tumor Dengan Menggunakan Faktor Geometri Bola Perhitungan diawali dengan melakukan interpolasi data faktor geometri sebaran boron untuk permukaan bola (lampiran 3). Hasil interpolasi digunakan untuk menghitung sebaran dosis serap pada sel tumor, otak dan kulit kepala. Dalam darah, untuk setiap penginfusan BPA 250 mg BPA/kg berat badan selama 2 jam, ditemukan konsentrasi rata-rata maksumum oron boron sekitar 22.1 µg 10 B/g [8]. Dengan melakukan penyinaran neutron thermal di bawah standar maksimum protokol BNCT, 1 10 12 neutron termal/cm 2 [11], maka dapat diperkirakan jumlah reaksi yang terjadi persatuan volume dengan menggunakan persamaan: Dengan menggunakan data di bawah ini C = 3.5 22.1 µg = 66.3 µg N 0 = 0.6025 x 10 24 mol -1 A = 10 g mol -1 σ = 3835 barn, 1 barn = 10-24 cm 2 nvt = 10 12 neutron termal/cm 2 s 24

maka dari persamaan (4.1) dapat dihitung jumlah reaksi yang terjadi, yaitu Dengan menggunakan persamaan (3.6) dan faktor geometri untuk permukaan bola yang telah diinterpolasi, didapat sebaran dosis serap untuk pemasukan boron 250 mg BPA/kg berat badan pasien seperti terlihat pada Tabel 4.2 di bawah ini. Tabel 4.2. sebaran dosis serap disekitar sel tumor yang mengandung boron. Perhitungan dosis serap tumor disekitar daerah yang mengandung boron (mgy) jari-jari jarak perhitungan µm sebaran 0 0.89 1.78 2.67 3.56 4.45 5.34 6.23 7.12 8.01 8.9 boron 26.7 0.059345 0.089194 0.103182 0.111904 0.116316 0.12123 0.123492 0.124786 0.125415 0.125641 0.125679 62.3 0.061163 0.090896 0.104587 0.112983 0.118337 0.12172 0.123773 0.124912 0.125463 0.125654 0.125679 97.9 0.061831 0.0915 0.10508 0.113356 0.11859 0.121879 0.123861 0.124951 0.125478 0.125654 0.125679 133.5 0.06197 0.091626 0.10518 0.113431 0.118641 0.121912 0.123879 0.124959 0.12548 0.125654 0.125679 169.1 0.062108 0.091752 0.105281 0.113507 0.118691 0.121944 0.123897 0.124966 0.125484 0.125654 0.125679 204.7 0.062245 0.091877 0.105382 0.113582 0.118741 0.121976 0.123913 0.124974 0.125486 0.125654 0.125679 240.3 0.062384 0.092003 0.105482 0.113658 0.118791 0.122009 0.12393 0.124981 0.125489 0.125654 0.125679 275.9 0.062494 0.092104 0.105563 0.113718 0.118832 0.122035 0.123944 0.124989 0.12549 0.125654 0.125679 311.5 0.062523 0.092129 0.105583 0.11373 0.118842 0.12204 0.123947 0.124991 0.12549 0.125654 0.125679 347.1 0.06255 0.092154 0.105603 0.113743 0.118852 0.122045 0.123951 0.124994 0.12549 0.125654 0.125679 382.7 0.062578 0.092179 0.105623 0.113756 0.118862 0.12205 0.123952 0.124996 0.12549 0.125654 0.125679 418.3 0.062604 0.092204 0.105643 0.113768 0.118872 0.122055 0.123954 0.124999 0.12549 0.125654 0.125679 453.9 0.062628 0.092224 0.105659 0.113778 0.118881 0.122059 0.123957 0.125 0.12549 0.125654 0.125679 489.5 0.062637 0.092232 0.105666 0.113783 0.118883 0.122062 0.123958 0.125 0.12549 0.125654 0.125679 525.1 0.062646 0.092239 0.105672 0.113788 0.118886 0.122064 0.123959 0.125 0.12549 0.125654 0.125679 560.7 0.062655 0.092246 0.105678 0.113793 0.11889 0.122065 0.123961 0.125 0.12549 0.125654 0.125679 596.3 0.062665 0.092253 0.105683 0.113798 0.118892 0.122068 0.123961 0.125 0.12549 0.125654 0.125679 631.9 0.062673 0.092259 0.105689 0.113803 0.118896 0.122069 0.123962 0.125 0.12549 0.125654 0.125679 667.5 0.062682 0.092267 0.105696 0.113808 0.118898 0.122072 0.123963 0.125 0.12549 0.125654 0.125679 703.1 0.062691 0.092275 0.105702 0.113813 0.118901 0.122074 0.123964 0.125 0.12549 0.125654 0.125679 738.7 0.0627 0.092281 0.105708 0.113818 0.118905 0.122075 0.123966 0.125 0.12549 0.125654 0.125679 774.3 0.06271 0.092288 0.105713 0.113823 0.118907 0.122078 0.123966 0.125 0.12549 0.125654 0.125679 809.9 0.062719 0.092295 0.10572 0.113828 0.118911 0.122079 0.123967 0.125 0.12549 0.125654 0.125679 845.5 0.062727 0.092302 0.105726 0.113833 0.118913 0.122082 0.123968 0.125 0.12549 0.125654 0.125679 881.1 0.062736 0.09231 0.105732 0.113838 0.118916 0.122084 0.123969 0.125 0.12549 0.125654 0.125679 Dengan cara yang sama, sebaran dosis serap juga dihitung pada sel tumor, otak, dan kulit kepala untuk pemasukan 130, 170, 210 dan 250 mgbpa/kg berat badan pasien. Hasil perhitungan dapat dilihat pada lampiran 4 sampai lampiran 6. 25

Dosis (mgy) 4.2 Perhitungan Dosis Serap Optimum pada Glioblastoma Multiforme Dari hasil sebaran energi serap sel tumor untuk pemasukan 130, 170, 210 dan 250 mgbpa/kg berat badan pasien, dosis serap optimal sebesar 60 Gy yang dicapai berbeda-beda untuk masing-masing pemasukan. Sebaran dosis serap untuk 4 macam pemasukan BPA pada sel tumor dapat dilihat pada grafik 4.1. 0.14 0.12 0.1 Sebaran Dosis pada tumor 0.08 0.06 0.04 0.02 130 170 210 250 0 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 5.5 6 6.5 7 7.5 8 8.5 d (mikron) Grafik 4.1 Sebaran dosis pada tumor. Dari data pada grafik diatas, pencapaian dosis serap optimal dapat dilihat pada Tabel 4.2. Tabel 4.3. Pencapaian dosis optimum. Pengifusan (mg BPA/kg BB) Jarak * (µm) 130 3.56 170 2.225 210 0.89 250 0 * jarak diukur dari batas sebaran yang ada boron. 26

4.3 Analisa Data dan Hasil Perhitungan Perhitungan energi serap dengan memperhitungkan sebaran boron berguna untuk memperkirakan dosis serap pada tingkat sel. Pada metode ini dapat diperkirakan dosis serap di sekitar batas daerah yang mengandung boron dan daerah bebas boron. Perhitungan energi serap berdasarkan pada hasil reaksi fisi inti yang terjadi dalam proses BNCT. Reaksi menghasilkan pemancaran partikel alfa, partikel litium dan radiasi gamma. Dalam perhitungan, yang melibatkan LET ini, radiasi gamma tidak dimasukkan kedalam perhitungan karena kurang berpengaruh pada dosis di tingkat sel jika dibandingkan dengan energi partikel alfa dan litium yang mencapai 2.3MeV. Hasil perhitungan sebaran dosis serap berubah menurut jarak titik perhitungan, yang mengambil referensi pada batas sebaran daerah yang mengandung boron dan daerah bebas boron. Pada daerah yang mengandung boron, dosis serapnya akan sebanding dengan jarak titik perhitungan yang diambil. Semakin besar jarak, maka dosis serap akan semakin tinggi. Hal ini disebabkan karena jumlah boron yang terlibat dalam perhitungan semakin banyak. Jika jari-jari diperbesar (volume bertambah), dosis serap juga semakin besar. Berbeda dengan daerah yang mengandung boron, pada daerah bebas boron, dosis serap akan berbanding terbalik dengan jarak titik perhitungan yang diambil. Hal ini disebabkan karena semakin jauh titik perhitungan, kontribusi boron yang menghasilkan partikel bermuatan untuk mengantarkan energi semakin sedikit. Energi akan habis ketika jarak titik perhitungan sama dengan jangkauan partikel bermuatan, karena jarak tersebut adalah jarak maksimum partikel bermuatan bergerak. Dari hasil perhitungan untuk ketiga bagian yang ditinjau yaitu tumor, otak, dan kulit kepala, energi serap dihitung untuk 30 sekon penyinaran neutron termal. Pada perhitungan dosis di tumor (grafik 4.1) dengan pemasukan 130 mg BPA/kg berat tubuh pasien, didapat bahwa dosis optimum (60 Gy) terjadi hingga jarak 3.56 µm dari batas sebaran daerah yang ada boron. Daerah yang berjarak 3.56 µm dari batas sebaran boron, mempunyai dosis serap di bawah 60 Gy. Dosis serap turun hingga 27

30-32 Gy sampai batas daerah yang mengandung boron. Pada pemasukan 170 mg BPA/kg berat tubuh pasien, dosis optimum terjadi hingga jarak 2.225 µm dari batas sebaran daerah yang ada boron. Dosis serap turun hingga 32-34 Gy sampai batas daerah yang mengandung boron. Pada pemasukan 210 mg BPA/kg berat tubuh pasien, dosis optimum terjadi hingga jarak 0.89 µm dari batas sebaran daerah yang mengandung boron. Dosis serap turun hingga 39-42 Gy. Pada pemasukan 250 mg BPA/kg berat tubuh pasien, dosis sudah optimum sampai pada batas daerah yang mengandung boron. Artinya, tumor yang telah mengandung boron telah terlingkupi oleh dosis optimum. Perhitungan juga ditinjau pada tingkat keberbahayaan yang mungkin terjadi pada kulit kepala akibat efek radiasi. Efek radiasi dapat menyebabkan kerontokan rambut (epilasi), timbulnya bercak merah (eritema), terkelupasnya kulit (deskuamasi), hingga kematian jaringan (nekrosis). Dosis sekitar 24-25 Gy pada kulit dalam paparan tunggal dapat langsung mengakibatkan efek nekrosis jaringan [14]. Hasil perhitungan dosis serap pada kulit kepala untuk ke empat jenis pemasukan senyawa BPA pada tubuh pasien, dapat dilihat pada grafik 4.2. 28

Dosis(mGy) Sebaran Dosis Pada Kulit Kepala 0.06 0.055 0.05 0.045 0.04 0.035 0.03 0.025 0.02 0.015 130 170 210 250 0.01 0.005 0 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 5.5 6 6.5 7 7.5 8 8.5 d (mikron) Grafik 4.2 Sebaran dosis pada kulit kepala. Grafik diatas menunjukkan bahwa keempat pemasukan BPA dapat menyebabkan kerusakan nekrosis. Pada pemasukan 250 mg BPA/kg berat tubuh pasien, efek nekrosis dapat terjadi pada 100% bagian kulit kepala yang mengandung boron dan memperoleh paparan dari sumber neutron. 29