RISK BASED UNDERWATER INSPECTION

dokumen-dokumen yang mirip
PENENTUAN WAKTU DAN LINGKUP PEMERIKSAAN BERKALA ANJUNGAN LEPAS PANTAI DI PT XYZ MENGGUNAKAN INTEGRASI METODE AHP DAN RISK BASED INSPECTION

PENDAHULUAN. Bab Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I. 1 LATAR BELAKANG

SIDANG P3 JULI 2010 ANALISA RESIKO PADA ELBOW PIPE AKIBAT INTERNAL CORROSION DENGAN METODE RBI. Arif Rahman H ( )

Tugas Akhir (MO )

BAB 3 DESKRIPSI KASUS

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-6 1

BAB 4 STUDI KASUS 4.1 UMUM

1 BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

5 Pemodelan Struktur

Penilaian Risiko Dan Perencanaan Inspeksi Pipa Transmisi Gas Alam Cepu-Semarang Menggunakan Metode Risk Based Inspection Semi-Kuantitatif Api 581

Manual SACS - Properti

6 Analisis Fatigue BAB Parameter Analisis Fatigue Kurva S-N

SIDANG P3 TUGAS AKHIR JURUSAN TEKNIK KELAUTAN 28 JANUARI 2010

BAB I PENDAHULUAN. kini, misalnya industri gas dan pengilangan minyak. Salah satu cara untuk

Analisis Remaining Life dan Penjadwalan Program Inspeksi pada Pressure Vessel dengan Menggunakan Metode Risk Based Inspection (RBI)

Penilaian Risiko dan Penjadwalan Inspeksi pada Pressure Vessel Gas Separation Unit dengan Metode Risk Based Inspection pada CPPG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

STUDI ANALISIS RESIKO PADA PIPELINE OIL DAN GAS DENGAN METODE RISK ASSESMENT KENT MUHLBAUER DAN RISK BASED INSPECTION API REKOMENDASI 581

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Tugas Akhir KL 40Z0 Penilaian Resiko Terhadap Pipa Bawah Laut Dengan Sistem Skoring BAB V PENUTUP

Oleh : Achmad Sebastian Ristianto

PERENCANAAN FIXED TRIPOD STEEL STRUCTURE JACKET PADA LINGKUNGAN MONSOON EKSTRIM

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV SIMULASI RESERVOIR REKAH ALAM DENGAN APLIKASI MULTILATERAL WELL

Bab 3 Data Operasi Sistem Perpipaan pada Topside Platform

Bab 2 Tinjauan Pustaka

Sensitivity Analysis Struktur Anjungan Lepas Pantai Terhadap Penurunan Dasar Laut BAB 1 PENDAHULUAN

Oleh Fortries Aurelia Samahi

BAB VII METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN BELT TRUSS. Belt truss merupakan salah satu alternative struktur bangunan bertingkat tinggi.

Analisa Kekuatan Ultimate Struktur Jacket Wellhead Tripod Platform akibat Penambahan Conductor dan Deck Extension

ANALISIS NON-LINIER PERKUATAN ANJUNGAN LEPAS PANTAI DENGAN METODE GROUTING PADA JOINT LEG YANG KOROSI

1.1 LATAR BELAKANG BAB

Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

Analisa Riser Protection pada Fixed Jacket Platform Akibat Beban Tubrukan Kapal

Perawatan Anjungan Lepas Pantai di Sanghata Area

4.1 INDENTIFIKASI SISTEM

BANGUNAN LEPAS PANTAI

I. AKTUARIA (A.1) MANAJEMEN RESIKO DALAM STRATEGI PERAWATAN ASET. Erni D. Sumaryatie Fakultas Sains, Institut Teknologi Telkom Bandung

IMADUDDIN ABIL FADA JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2010

Muhammad

ANALISA KEKUATAN ULTIMATE STRUKTUR JACKET WELL TRIPOD PLATFORM BERBASIS RESIKO

BAB 1 PENDAHULUAN. Offshore north west java (ONWJ) merupakan salah satu operator minyak

Bab III Penilaian Struktur Eksisting

BAB. 1.1 Umum ANALISIS FREE SPAN PIPA BAWAH LAUT 1-1 BAB 1 PENDAHULUAN

BAB IV Pengaruh Parameter Desain, Kondisi Operasi dan Pihak Ketiga

2 Anjungan Lepas Pantai

SKRIPSI PURBADI PUTRANTO DEPARTEMEN METALURGI DAN MATERIAL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA GENAP 2007/2008 OLEH

Universitas Indonesia Optimasi desain casing..., Muhammad Anugrah, FT UI, 2008

WELL HEAD SEBAGAI SALAH SATU FASILITAS PRODUKSI PERMUKAAN ABSTRAK

Analisis Dampak Scouring Pada Integritas Jacket Structure dengan Pendekatan Statis Berbasis Keandalan

1. Project Management Awareness

Gambar 3.1. Diagram Alir Penelitian

Dosen Pembimbing: Dr.Ir. Wisnu Wardhana, SE, M.Sc. Prof.Ir.Soegiono

Analisa Risiko dan Langkah Mitigasi pada Offshore Pipeline

STUDI SENSOR PNEUMATIK PADA SISTEM PENGENDALIAN WELLHEAD

2 Pengenalan Bangunan Lepas Pantai

ARINA ALFI FAUZIA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ANALISA RESIKO PADA REDUCER PIPELINE AKIBAT INTERNAL CORROSION DENGAN METODE RBI (RISK BASED INSPECTION)

Bab 4 Pemodelan Sistem Perpipaan dan Analisis Tegangan

Gambar 4.1. Diagram Alir Proses Stasiun Pengolahan Gas (PFD)

CONTRACTOR HSE MANAGEMENT SYSTEM HEALTH, SAFETY AND ENVIRONMENTAL MANAGEMENT PLAN REQUIREMENT AND STANDARD

Susunan Lengkap Laporan Perancangan

PENDAHULUAN PERUMUSAN MASALAH. Bagaimana pengaruh interaksi antar korosi terhadap tegangan pada pipa?

1 Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang. Bab 1

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ANALISA PERAWATAN BERBASIS RESIKO PADA SISTEM PELUMAS KM. LAMBELU

BAB III METODOLOGI DAN DATA PERANCANGAN. Mulai. Penentuan jalur pipa

QUANTITATIVE RISK ASSESSMENT UNTUK EQUIPMENT DALAM GAS PROCESSING UNIT DI TOPSIDE OFFSHORE PLATFORM

BAB 2 DASAR TEORI 2.1. Pengertian Dan Sejarah ROV

Analisa Konsekuensi. Pada kasus ini tergolong dalam C6-H8 (Gasoline, Naphta, Light Straight, Heptane), memiliki sifat :

Perancangan Struktur Jacket dantopside Anjungan Lepas Pantai Ditinjau dari Analisis Inplace

Gambar 1.1 Wellhead pada Oil Well yang Diproduksi (petroleumstudies.wordpress.com)

APLIKASI FORMAL SAFETY ASSESSMENT (FSA) UNTUK PENILAIAN RISIKO KECELAKAAN PADA HELIPAD FSO: STUDI KASUS FSO KAKAP NATUNA

PERENCANAAN GEDUNG PERKANTORAN DENGAN STRUKTUR BAJA 4 LANTAI PADA DAERAH GEMPA RESIKO TINGGI DENGAN METODE LRFD (LOAD RESISTANCE AND FACTOR DESIGN)

Analisa Ultimate Strenght Fixed Platform Pasca Subsidence

Jurnal Teknik Perkapalan - Vol. 4, No. 3 Juli

PROSEDUR KEAMANAN JARINGAN SPMI - UBD

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Undang-undang No. 1 Tahun 1970 pasal 1 ayat (1) yang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

(Badan Geologi Kementrian ESDM, 2010)

Wellhead Posted by hasan

Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

BAB IV DATA DAN ANALISIS

Kajian Buoyancy Tank Untuk Stabilitas Fixed Offshore Structure Sebagai Antisipasi Penambahan Beban Akibat Deck Extension

HIRA DAN JSA HAZARD IDENTIFICATION, RISK ASSESSMENT AND DITERMINATION CONTROL (HIRAC) DAN JOB SAFETY ANALYSIS (JSA)

ANALISA DESAIN SISTEM SS IMPRESSED CURRENT CATHODIC PROTECTION (ICCP) PADA OFFSHORE PIPELINE MILIK JOB PERTAMINA PETROCHINA EAST JAVA

BAB III DATA DESAIN DAN HASIL INSPEKSI

(STUDI KASUS PT. IPMOMI PLTU PAITON)

Pemodelan Near Field Scouring Pada Jalur Pipa Bawah Laut SSWJ PT. PGN

PROJECT RISK MANAGEMENT (MANAJEMEN RESIKO PROYEK) (MATA KULIAH MANAJEMEN PROYEK PERANGKAT LUNAK)

ANALISIS PENILAIAN RISIKO PADA FLOWLINE JALUR PIPA GAS DARI WELLHEAD MENUJU CENTRAL PROCESSING PLANT. (Studi Kasus : Industri Pengolahan Gas Alam)

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR KEAMANAN JARINGAN

PANDUAN MANAJEMEN RESIKO KLINIS

ANALISA STOKASTIK BEBAN-BEBAN ULTIMATE PADA SISTEM TAMBAT FPSO SEVAN STABILIZED PLATFORM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Transkripsi:

Bab 4 RISK BASED UNDERWATER INSPECTION 4.1 Pendahuluan Dalam laporan tugas akhir ini area platform yang ditinjau berada di daerah laut jawa dimana pada area ini memiliki 211 platform yang diantaranya terdapat 173 platform yang aktif memproduksi minyak dan gas. Platform-platform pada area ini telah didirikan sejak tahun 1970 an, biaya yang dikeluarkan untuk melakukan inspeksi bawah air (underwater inspection) sangatlah besar sedangkan inspeksi ini sangat dibutuhkan dan inspeksi ini harus dilakukan dengan seksama sehingga uang yang dikeluarkan tidak terbuang percuma dengan kata lain. Agar uang yang akan dikeluarkan tidak terbuang percuma/efisien maka diperlukan mencari sumber-sumber inspeksi yang penting dengan kata lain sumber-sumber inspeksi ini difokuskan pada aset yang memiliki kecenderungan resiko terbesar terhadap safety, lingkungan dan bisnis. 4.1.1 Peraturan Inspeksi Migas Jadwal inspeksi untuk seluruh offshore platforms yang berada di lokasi perairan Indonesia ditentukan oleh Migas. Ketentuan inspeksi Migas dimulai dengan melakukan Minor inspections (sama dengan API level I), lalu diikuti dengan Major inspections dilanjutkan Laporan Tugas Akhir Risk Based Underwater Inspection Untuk Area Platform 4-1

dengan Minor inspection lainnya dan siklus inspeksi 4 tahun. terakhir Complete inspection untuk menyelesaikan KETENTUAN INSPEKSI MIGAS MINOR INSPECTION COMPLETE INSPECTION MAJOR INSPECTION MINOR INSPECTION Bagan 4. 1 Ketentuan Migas 4.1.2 Petunjuk inspeksi berdasarkan API RP2A API RP2A Section 14 (21 st Edition) memuat rekomendasi mengenai frekuensi survei berdasarkan exposure categories. Survei bawah air direkomendasikan dilakukan berdasarkan level platform tersebut, petunjuk inspeksi berdasarkan API RP2A ditunjukan padaa tabel 4.1 dibawah ini: Tabel 4.1 Petunjuk Inspeksi API RP2A Exposure Category L-1 L-2 L-3 I 1 year 1 year 1 year Survey Level II III IV 3-5 years 6-10 years * 5-10 years 11-15 years * 5-10 years * * * Dilakukan apabila terjadi kerusakan struktur pada saat level II atau III Petunjuk inspeksi ini diambil dari Mineral Management Service untuk inspeksi platform didalam teritorial perairan U.S. Dalam API RP2A tidak dijelaskan secara eksplisit mengenai definisi tentang exposure category tetapi exposure category ini telah dimodifikasi oleh perusahaan yang membuat RBUI ini berdasarkan data-data yang dimiliki oleh perusahaan. Exposure category yang telah dimodifikasi ini didapatkan dengan cara mempertimbangkan 2 aspek yaitu Life Safety Exposure dan Environment Exposure. Definisi Exposure category berdasarkan Life Safety Exposure adalahsebagai berikut: Laporan Tugas Akhir Risk Based Underwaterr Inspection Untuk Area Platform 4-2

L-1 adalah untuk manned platform L-2 adalah untuk manned-evacuated platform L-3 adalah untuk unmanned platform Sedangkan definisi Exposure category berdasarkan Environment Exposure adalah seperti yang ditunjukan dalam tabel 4.2 berikut Tabel 4.2 Environment Factor Environment Factor Environment Volume of Main Oil Volume of 3-Phase Oil Inflow Volume x Exposure Pipeline Pipeline Near Shore Factor Category (Barrels) (Barrels) (BPOD*) L 1 >5000 >8000 >5000 L 2 2000 to 5000 3000 to 8000 2000 to 5000 L 3 <2000 <3000 <2000 Definisi tentang deskripsi pekerjaan pada masing-masing survey level adalah sebagai berikut: 1. Level I (equal as ON SURFACE INSPECTION ) Pemeriksaan Kecil as per Kep. Dirjen MIGAS No. 21K/38/DJM/1999 Pemeriksaan visual kondisi struktur di atas air terhadap korosi, kerusakan, perubahan tata letak struktur atau sesuatu yang mempengaruhi integritas struktur, seperti member-member jaket dari mulai splash zone sampai elevasi paling atas Pemeriksaan tata letak akhir dengan mengacu ke gambar as built terakhir, untuk memverifikasi adanya perubahan atau tidak dari gambar as built terakhir. Pengukuran/pembacaan potensial dari system perlindungan korosi dengan cara menjatuhkan probe dari alat ukur tersebut pada masing-masing kaki jaket sampai kedalaman paling tidak (-) 25 ft Pemeriksaan ketebalan struktur di daerah splash zone Pemeriksaan sampah logam (metal debris) Laporan Tugas Akhir Risk Based Underwater Inspection Untuk Area Platform 4-3

2. Level II (Involve UNDERWATER WORK) Pemeriksaan Besar as per Kep. Dirjen MIGAS No. 21K/38/DJM/1999 Pemeriksaan visual kondisi struktur di atas air terhadap korosi, kerusakan, perubahan tata letak struktur atau sesuatu yang mempengaruhi integritas struktur, seperti member-member jaket dari mulai splash zone sampai elevasi paling atas Pemeriksaan tata letak akhir dengan mengacu ke gambar as built terakhir, untuk memverifikasi adanya perubahan atau tidak dari gambar as built terakhir. Pemeriksaan struktur bawah air dengan menggunakan video untuk memeriksa integrasi struktur, yang meliputi kaki jaket, batang horizontal/diagonal, riser clamp, riser bend, conductor dan anode Pemeriksaan, pencatatan dan pembuatan sketsa dari erosi dan sampah yang ada di platform dan sekitarnya sampai sekitar radius 20 ft Pengukuran/pembacaan potensial dari CP sistem pada seluruh bagian jaket dan splash zone Pemeriksaan dan pemotretan pertumbuhan tumbuhan laut (marine growth) Pemeriksaan baut-baut dari riser clamp dari top side sampai ke dasar laut Pengukuran ketebalan paling tidak pada 1 kaki setiap platform 3. Level III (Involve UNDERWATER WORK) Pengamatan visual bawah air pada daerah-daerah yang telah ditentukan pada hasil pengamatan level II Pengamatan level III ini digunakan sebagai basis untuk pengamatan level IV 4. Level IV (Involve UNDERWATER WORK) Pemeriksaan Lengkap as per Kep. Dirjen MIGAS No. 21K/38/DJM/1999: Pemeriksaan visual kondisi struktur di atas air dari platform Pemeriksaan tata letak peralatan dengan mengacu ke gambar as built terakhir. Pemeriksaan struktur di bawah air dari splash zone sampai dasar laut baik dengan menggunakan video maupun penyelam Pemeriksaan pertumbuhan tumbuhan laut dari mulai splash zone sampai dasar laut Laporan Tugas Akhir Risk Based Underwater Inspection Untuk Area Platform 4-4

Pengukuran ketebalan pada daerah splash zone Pemeriksaan baut-baut riser clamp Pemeriksaan/pencatatan & pembuatan sketsa pada erosi di sekitar jaket, batang horizontal/vertikal, dan lengkungan riser di dasar laut sampai radius 20 ft Pengukuran/pembacaan potensial dari sistem perlindungan korosi pada seluruh bagian kaki jaket di daerah splash zone sampai ke dasar laut. 4.1.3 Ketetapan ISO Standar ISO untuk desain dan operasi fixed steel structures sama seperti dengan yang ada di dalam API RP2A. Untuk melakukan inspeksi dibutuhkan suatu strategi inspeksi dimana strategi inspeksi ini harus berdasarkan ISO dimana strategi inspeksi tersebut harus memperhitungkan faktor-faktor seperti umur struktur, kondisi, fungsi dll. Risk Based Underwater Inspection memiliki 2 tahap, yaitu tahap qualitatif dan tahap quantitatif. Ada yang membedakan antara tahap qualitatif dan tahap quantitatif, perbedaan ini akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. 4.2 Tahap Qualitatif Suatu platform haruslah kuat menahan segala bentuk gaya yang akan menimpa platform tersebut. kekuatan platform dapat dihitung oleh engineer sehingga dapat diketahui berapa lama umur layan dari suatu platform tetapi umur layan platform tersebut dapat berkurang apabila tidak dilakukan perawatan. Beberapa bagian dari struktur akan mengalami kerusakan akibat gaya-gaya alam sehingga apabila bagian yang rusak ini tidak diatasi secepatnya maka kemungkinan besar akan menganggu bagian struktur lainnya karena struktur ini memiliki bentuk yang saling menunjang/menopong satu sama lain. Agar tidak terjadi hal yang seperti itu maka diperlukan suatu kontrol yang dapat menghindarkan platform dari kerusakan, salah satu kontrol tersebut adalah Risk Based Underwater Inspection (RBUI) Program. Pada tahap ini (qualitatif) RBUI program didapatkan berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan oleh para engineer. Dan data-data yang ada dalam tahap ini berbentuk nyata bukan hasil dari perhitungan struktur akibat beban-beban yang ada seperti data mengenai volume produksi dari suatu platform, biaya dan waktu untuk melakukan penggantian platform, laporan hasil inspeksi sebelumnya, data gambar platform dll. RBUI program ini juga telah dikalibrasikan menggunakan data spesifik pada area tersebut. Kalibrasi ini menjelaskan mengenai spesifik dari basis metodologi dan menghindari acuan terhadap external faktor atau pengaruh-pengaruh lain. Kalibrasi mengenai RBUI ini Laporan Tugas Akhir Risk Based Underwater Inspection Untuk Area Platform 4-5

tidak dapat dijelaskan secara rinci karena dirahasiakan oleh perusahaan. Selanjutnya akan dijelaskan mengenai RBUI program secara tahap qualitatif. RBUI telah dikembangkan dan dipakai pada beberapa area platform di selatan laut utara, Trinidad dan di teluk Mexico. Proyek-proyek yang terdahulu ini berhasil mendefinisikan kunci dari suatu platform yang mempengaruhi keseluruhan resiko dan menghasilkan suatu dasar mekanisme perhitungan secara kualitatif. Kunci tersebut dapat mempengaruhi kemungkinan kerusakan (likelihood of failure) dan konsekuensi dari kerusakan tersebut (consequence of that failure). Nilai suatu likelihood of failure dari RBUI dapat dianalogikan sebagai kemungkinan suatu platform untuk mengalami kegagalan struktur karena sesuatu hal. Kegagalan ini didefinisikan sebagai collapse dari platform yang disebabkan oleh adanya kerusakan, beban ekstrim ataupun kombinasi dari keduanya. Kegagalan akibat kebakaran, ledakan atau kecelakaan lainya tidak dipertimbangkan. Nilai dari likelihood ini didapatkan berdasarkan konfigurasi dari suatu struktur platform seperti umur dari platform tersebut, hasil dari inspeksi sebelumnya. Contoh, platform 6 kaki tipe K- braced yang dibuat pada tahun 1960-an memiliki likelihood of failure yang lebih besar daripada platform 8 kaki tipe X-braced yang dibuat pada tahun 1980-an. Platform yang lebih baru ini didesain dengan cara yang lebih modern sehingga memiliki ketahanan yang lebih kuat karena platform ini memiliki 8 kaki dan X-braced. Nilai dari consequence of failure didasarkan pada safety, lingkungan, dan faktor financial yang dapat meningkatkan kegagalan platform. Contoh platform produksi dan pengeboran yang berawak memiliki consequence of failure yang lebih besar daripada wellhead platform yang tidak berawak. Nilai faktor consequence berbentuk nilai uang yang abstrak. Nilai consequence ini tidak menghasilkan secara nyata uang yang hilang akibat kegagalan struktur. Nilai tersebut hanya dapat dilihat apabila dibandingkan dengan platform lain. Resiko dihasilkan akibat kombinasi dari kedua likelihood dan consequence. Nilai dari likelihood dan consequence ditentukan oleh RBUI berdasarkan perbandingan antara operasi, desain dan pengalaman dengan platform lain. Kombinasi dari likelihood dan consequence ini menghasilkan empat kategori resiko, 5x5 matriks resiko dibawah ini digunakan untuk mengategorisasikan resiko. Kategori resiko platform ditunjukan pada tabel 4.3 dibawah ini: Laporan Tugas Akhir Risk Based Underwater Inspection Untuk Area Platform 4-6

Tabel 4.3 Kategori Resiko LIKELIHOOD 5 4 3 2 1 A B C D E CONSEQUENCE Dari tabel diatas terlihat ada 5 buah jenis likelihood dan consequence, dimana (untuk likelihood) nilai 1 adalah nilai terendah dalam likelihood of failure sedangkan nilai 5 adalah nilai tertinggi dalam likelihood of failure. Dan (untuk consequence) nilai A adalah nilai terendah dalam consequence of failure sedangkan E adalah nilai tertinggi dalam consequence of failure. Seperti yang terlihat dalam tabel diatas platform yang memiliki likelihood = 1 dan consequence = A memiliki kategori resiko yang paling rendah hal ini ditunjukan pada warna yang terdapat dalam tabel tersebut. Kategori resiko dalam tabel diatas, yaitu: Warna putih = kategori resiko 1 Warna hijau = kategori resiko 2 Warna kuning = kategori resiko 3 Warna merah = kategori resiko 4 3.2.1 Sumber Data Yang Digunakan Jumlah platform dalam area platform yang ditinjau ini sebanyak 211 platform, untuk dapat mengumpulkan data dari keseluruhan platform ini, 211 platform akan dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu: Platform yang memiliki life extension yang telah dianalisis lebih lanjut selama 7 tahun terakhir. Dan juga termasuk kedalam re-qualifikasi platform. Kelompok ini memiliki 145 platform. Platform yang tidak memiliki dokument life extension. Data-data yang digunakan dalam RBUI adalah sebagai berikut: Laporan re-qualifikasi platform dan laporan desain asli Berisi informasi mengenai data struktur dari platform Laporan Tugas Akhir Risk Based Underwater Inspection Untuk Area Platform 4-7

Laporan inspeksi platform Laporan inspeksi berisi informasi mengenai kondisi dari platform seperti CP system, corrosion, marine growth, scour, atau kerusakan struktur. Faktor-faktor ini digunakan untuk mendapatkan nilai likelihood. Arsip gambar online Ketika desain report tidak ada, gambar konstruksi dicari melalui arsip gambar online. 4.2.2 Consequence Data Untuk mendapatkan data tentang consequence data dibutuh koordinasi dari berbagai departemen seperti departemen production, field engineer dan insurance. Consequence data yang dibutuhkan adalah sebagai berikut: Rata-rata produksi untuk minyak dan gas Estimasi cadangan untuk well platforms Biaya replacement platform Waktu replacement platfrom Rata-rata orang yang tinggal dalam platform Platform yang berhubungan dengan pipeline Dimensi dan panjang dari minyak bawah air dan 3-phase pipelines. Dibawah ini (tabel 4.4 table 4.6) akan diperlihatkan contoh untuk consequence data: Tabel 4.4 Average Occupancy Average Platform ID Occupancy A-well 12 B 100 C 1 D-service 1 E 2 F-process 2 G-service 65 H-process 1 I-service 44 J-well 12 K 1 L-process 1 Laporan Tugas Akhir Risk Based Underwater Inspection Untuk Area Platform 4-8

M-service 50 N 1 O-process 2 P-service 40 Q 4 R 1 S 1 T 104 U 1 V 30 W-process 16 X 1 Y 20 Tabel 4.5 Waktu replacement platform Laporan Tugas Akhir Risk Based Underwater Inspection Untuk Area Platform 4-9

Tabel 4.6 Biaya replacement platform 4.2.3 Likelihood dan consequence bins Setelah data-data mengenai likelihood dan consequence didapatkan maka selanjutnya platform tersebut dihitung nilai likelihood dan consequence-nya. Karena dalam tahap ini adalah tahap qualitatif maka penilaian kategori resikonya berdasarkan nilai-nilai yang telah disebutkan diatas, yaitu berdasarkan biaya, waktu, safety, lingkungan, dll. Dalam Laporan Tugas Akhir Risk Based Underwater Inspection Untuk Area Platform 4-10

pengelompokan nilai likelihood dan consequence menjadi kategori resiko tertentu terdapat sebuah range untuk nilai tersebut sehingga nilai likelihood dan consequence dapat dimasukan kedalam kategori resiko yang sesuai. Tabel 4.7 berikut ini adalah range untuk nilai likelihood dan consequence bins: Tabel 4.7 Likelihood dan consequence bins Seperti terlihat pada tabel 2.6. diatas, nilai untuk consequence berbentuk nilai biaya sedangkan nilai untuk likelihood berbentuk angka karena ini didapat dari nilai-nilai yang tidak ditentukan dari biaya. Setelah nilai likelihood dan consequence didapatkan maka suatu platform dapat diketahui termasuk kedalam kategori resiko berdasarkan pada tabel 4.3 kategori resiko. Contoh untuk nilai likelihood dan consequence category dalam area platform ini ditunjukan dalam tabel 4.8 dan tabel 4.9 dibawah ini: Laporan Tugas Akhir Risk Based Underwater Inspection Untuk Area Platform 4-11

Tabel 4.8 Nilai Likelihood Category Laporan Tugas Akhir Risk Based Underwater Inspection Untuk Area Platform 4-12

Tabel 4.9 Consequence Category Dari contoh-contoh data likelihood dan consequence pada area platform diatas dapat disimpulkan mengenai risk category untuk masing-masing platform yang dapat dilihat pada tabel 4.10 dibawah: Laporan Tugas Akhir Risk Based Underwater Inspection Untuk Area Platform 4-13

Tabel 4. 10 High Risk Platforms Properties No Platforms Design Year Legs Water Depth (ft) Brace Risk Category 1 A-Process 1971 4 130 K 4 2 B-junction 1973 4 130 K 4 3 C-Process 1971 4 130 K 4 4 D-Process 1971 4 137 K 4 5 E-Service 1971 4 140 K 3 6 F 1970 4 121 /,K 3 7 G 1970 4 132 /,K 3 8 H-Process 1973 4 131 K 3 9 I-Service 1971 4 138 K 3 10 J-Process 1971 4 133 K 3 11 K 1992 3 140 / 3 12 L 1995 3 129 / 3 13 M-Quarters 1974 4 130 / 3 14 N-Junction 1985 4 125.6 K 3 15 O 1986 4 125 K 3 16 P 1984 8 145 /,K 3 17 Q 1975 8 145 / 3 18 R 1975 8 145 / 3 19 S 1975 8 145 /,K 3 20 T-Well 1984 6 145 / 3 4.3 Tahap Quantitatif Seperti yang telah dijelaskan diawal, Risk Based Underwater Inspection terdiri dari 2 tahap yaitu tahap qualitatif dan tahap quantitatif. Tahap pertama adalah tahap qualitatif dimana dalam tahap ini platform-platfrom akan dilihat berdasarkan struktur dan operasi yang selanjutnya akan dimasukan kedalam kategori resikonya masing-masing. Pada tahap ini akan dihasilkan platform-platform mana saja yang temasuk kedalam high risk platforms yang selanjutnya akan dilakukan analisis quantitatif. Risk Based Underwater Inspecton ini memerlukan biaya yang sangat besar sehingga tidak semua platform harus melewati tahap quantitatif. Platform-platform yang harus melewati tahap quantitatif adalah platform yang termasuk kedalam high risk platforms. High risk platforms adalah platform-platform yang termasuk kedalam kategori resiko 3 dan 4. Dalam tahap quantitatif ini platform akan dianalisis dengan menggunakan software SACS (Structure Laporan Tugas Akhir Risk Based Underwater Inspection Untuk Area Platform 4-14

Analysis Computer System) untuk mencari daerah/member yang failure. Member-member inilah yang selanjutnya akan diinspeksi. Dalam area platform ini terdapat banyak platform dan diantaranya terdapat beberapa platform yang masuk kedalam kategori high risk platforms, platform yang termasuk kedalam high risk platforms ini dikelompokan menjadi 3 kelompok berdasarkan kesamaan karakteristik platform (kedalaman perairan, framing, dll) dan berdasarkan kesamaan operasional. Tiga kelompok platform tersebut adalah: 1. Group A Well platforms 2. Group B Short Tender Platforms 3. Group C Tall Tender Platforms Dalam laporan ini akan dilakukan analisis mengenai Group A dan Group B saja karena keterbatasan data yang dimiliki. Laporan Tugas Akhir Risk Based Underwater Inspection Untuk Area Platform 4-15