BAB III METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Bab III Metode Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action

BAB III METODE PENELITIAN. No Uraian Kegiatan Bulan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III Metode Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN TINDAKAN KELAS. menawarkan cara dan prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. evaluasi dan refleksi (Aqip, 2006) seperti gambar berikut.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITTIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas istilah dalam

BAB III METODE PENELITIAN

PELAKSANAAN TINDAKAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITAN

METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. dilakukan di kelas dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I I PENELITIAN 3.1. Setting Penelitian 3.2. Karakteristik Subjek Penelitian

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Setting dan Karakteristik Subyek Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. terkait dan berkesinambungan yaitu (1) Perencanaan (planning), (2)

BAB III METODE PENELITIAN

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF STAD PADA SISWA KELAS IV SD INPRES 2 PARIGIMPUU

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. pembelajaran (Sanjaya: 2009: 59). Pada penelitian tindakan kelas ini

Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPA Melalui Model Kooperatif Learning Tipe STAD di Kelas 3 SD Inpres 1 Siney

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

Transkripsi:

32 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian 3.1.1 Setting Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 2 Kritig yang berlokasi di desa Kritig, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen. Desa Kritig merupakan wilayah dari kecamatan Petanahan yang terletak di bagian utara. Jarak dengan kecamatan sekitar 5 km dan jarak dengan kabupaten sekitar 13 km. Letak sekolah cukup strategis karena berada di tepi jalan utama desa sehingga mudah dijangkau dari mana saja. SD Negeri 2 Kritig merupakan SD Inpres yang didirikan pada tahun 1987. Sarana dan prasarana belajar yang tersedia cukup memadai. SD Negeri 2 Kritig merupakan SD imbas dari gugus Sadewa Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen. Jumlah pendidik dan tenaga kependidikan di SD Negeri 2 Kritig adalah 15 orang yang terdiri dari seorang kepala sekolah, 6 guru kelas, 4 guru bidang studi, 3 tenaga perpustakaan dan seorang penjaga sekolah. Kepala Sekolah selain bertugas menjadi pemimpin juga mengajar mata pelajaran PKn mulai dari kelas 4 sampai kelas 6. Setiap kelas mempunyai guru kelas masing-masing dari kelas 1 sampai 6. Sedangkan untuk guru bidang studi yaitu guru Penjaskes, guru Pendidikan Agama Islam, guru Bahasa Inggris, dan guru Seni Budaya dan Keterampilan. Guru yang sudah Sarjana berjumlah 8 orang, sedang menempuh S1 sebanyak 2 orang, dan yang masih D2 ada 1 orang. Jumlah siswa dari kelas 1 sampai kelas 6 sebanyak 121 siswa. 3.1.2 Karakteristik Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa Kelas 5 SD Negeri 2 Kritig semester 2 tahun pelajaran 2012/2013 dengan jumlah 25 siswa, yang terdiri atas 10 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Keadaan siswa tersebut memiliki kondisi sehat baik secara fisik, mental, sosial, serta perkembangan intelektualnya sehingga dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik. Siswa Kelas 5 SD Negeri 2 Kritig mempunyai tingkat kemampuan akademik yang beragam, ada yang tinggi, sedang, dan rendah. Siswa kelas 5 SD Negeri 2 Kritig tahun pelajaran 2012/2013 yang memiliki kemampuan akademik tinggi dapat diketahui dari nilai ulangan maupun nilai raport yang bagus. Selain itu, terbukti

33 dengan diraihnya beberapa kejuaraan lomba di tingkat kecamatan tahun 2012/2013. Kejuaraan tersebut antara lain Lomba Olimpiade MIPA bidang matematika Tahun 2013 dan Lomba Cerdas Cermat Pramuka Tahun 2012. Sedangkan siswa yang memiliki kemampuan akademik rendah dapat dilihat dari hasil nilai ulangan yang sering di bawah KKM maupun nilai raport yang rendah. Selain itu ada 2 siswa kelas 5 yang pernah tinggal kelas. Kondisi sosial ekonomi orang tua siswa sangat beragam, sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dan buruh, sebagian kecil pedagang dan PNS. Pendidikan orang tua siswa pada umumnya hanya sebatas Sekolah Dasar. Hal ini mengakibatkan orang tua menyerahkan sepenuhnya masalah pendidikan kepada guru atau sekolah. 3.2 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 3.2.1 Variabel Penelitian Ada dua jenis variabel dalam penelitian ini, yaitu variabel bebas atau independen dan variabel terikat atau dependen. 1. Variabel independen atau variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen.variabel independen pada penelitian ini adalah model Student Teams Achievement Divisions (X). 2. Variabel dependen atau terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel independen. Variabel terikat pada penelitian ini adalah hasil belajar matematika (Y). 3.2.2 Definisi Operasional Untuk memperjelas permasalahan yang akan diteliti, maka perlu dijelaskan definisi operasional sebagai berikut: 1. Model Student Teams Achievement Divisions Model Student Teams Achievement Divisions dalam penelitian ini adalah suatu model pembelajaran di mana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan empat sampai lima siswa yang memiliki tingkat kemampuan akademik dan jenis kelamin berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling

34 bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pelajaran. Akhirnya seluruh siswa menjalani kuis individual tentang materi tersebut, dan mereka tidak boleh saling membantu satu sama lain saat mengerjakan kuis. Nilai-nilai hasil kuis siswa diperbandingkan dengan nilai rata-rata mereka sendiri yang diperoleh sebelumnya, dan nilai-nilai itu diberi skor berdasarkan pada seberapa tinggi peningkatan yang bisa mereka capai, kemudian skor individual dijumlah dan dirata-rata untuk mendapat skor kelompok, dan kelompok yang dapat mencapai kriteria tertentu bisa mendapatkan sertifikat atau hadiah-hadiah yang lainnya. Langkah-langkah pembelajaran model Student Teams Achievement Divisions dalam penelitian ini adalah: a. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan memotivasi siswa untuk belajar b. Guru menyampaikan materi pelajaran 1) Mengawali kegiatan penyampaian materi dengan memberikan masalah dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan materi. 2) Menjelaskan materi secara garis besar dengan cara mendemonstrasikan konsep-konsep menggunakan alat peraga 3) Memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang sedang dijelaskan. 4) Memanggil siswa secara acak untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan latihan beberapa soal. c. Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa yang heterogen dalam kemapuan akademik dan jenis kelamin. d. Siswa bekerja dalam kelompok yang telah dibentuk dengan berpedoman pada LKS. e. Guru memberikan kuis atau evaluasi secara individual. f. Guru memberikan penghargaan atas prestasi kelompok dengan tahapan-tahapan sebagai berikut: 1) Menghitung skor kemajuan individu Skor kemajuan individu dihitung berdasarkan peningkatan dari skor dasar ke skor kuis individual. untuk menghitung perkembangan skor kemajuan individu dihitung sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 6 berikut ini:

35 Tabel 6 Penghitungan Skor Kemajuan Individu Siswa Kelas 5 SD Negeri 2 Kritig Semester 2 Tahun Pelajaran 2012/2013 Nilai Tes Lebih dari 10 poin dibawah skor dasar Skor Perkembangan 0 poin 10 sampai 1 poin di bawah skor dasar 10 poin Skor 0 sampai 10 poin diatas skor dasar Lebih dari 10 poin di atas skor dasar Pekerjaan sempurna (tanpa memperhatikan skor dasar) 20 poin 30 poin 30 poin 2) Menghitung skor kemajuan kelompok Skor kemajuan kelompok dihitung dengan membuat rata-rata skor kemajuan anggota kelompok, yaitu dengan menjumlahkan semua skor kemajuan individu anggota kelompok dan membagi sejumlah anggota kelompok tersebut. Apabila skor kemajuan kelompok ada yang berupa pecahan, maka dilakukan pembulatan. 3) Penghargaan kelompok Setelah masing-masing kelompok memperoleh predikat, guru memberikan hadiah atau penghargaan kepada masing-masing kelompok sesuai dengan prestasi atau kriteria tertentu yang ditetapkan guru. Kriteria penghargaan yang ditetapkan dalam penelitian ini dapat dilihat dalam Tabel 7 berikut: Tabel 7 Kriteria Penghargaan Kelompok Siswa Kelas 5 SD Negeri 2 Kritig Semester 2 Tahun Pelajaran 2012/2013 No. Rata-rata Skor Penghargaan 1. 16 N 20 Tim yang Baik (Good Team) 2. 21 N 25 Tim yang Baik Sekali (Great Team) 3. 26 N 30 Tim yang Istimewa (Super Team)

36 2. Hasil belajar Matematika Hasil belajar matematika dalam penelitian ini adalah hasil belajar aspek kognitif yang diukur dalam bentuk tes formatif pada akhir pembelajaran siklus 1 dan siklus 2. 3.3 Rencana Tindakan Rancangan penelitian tindakan yang digunakan dalam penelitiann ini adalah model spiral, yang dikemukakan oleh Stephen Kemmis dan Mc. Taggart, melalui dua siklus yang masing-masing siklus terdiri dari 3 tahap yakni rencana tindakan (planning), pelaksanaan tindakan dan observasi (action and observation), serta refleksi (reflection). Tahapan kegiatan tersebut ditunjukkan melalui Gambar 1 berikut ini. langkah dari masing-masing siklus adalah sebagai berikut: 2.3.1 Siklus 1 Gambar 1. PTK Model Spiral dari Stephen Kemmis dan Robin Mc.Taggart Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan sebanyak 2 siklus. Adapun langkah- Kegiatan penelitian dimulai dengan dilaksanakannya siklus 1. Siklus 1 dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan. adapun tahapan dalam siklus 1 ini adalah sebagai berikut:

37 3.3.1.1 Perencanaan Tindakan Sebelum dilaksanakan tindakan siklus 1, ada beberapa hal yang dilakukan oleh peneliti. Hal-hal yang dilakukan antara lain meminta ijin untuk mengadakan penelitian kepada kepala sekolah, meminta kesediaan teman sejawat untuk menjadi observer pada penelitian yang akan dilaksanakan, berdiskusi dengan observer tentang hal-hal apa saja yang akan diobservasi dan menjelaskan kepada observer tentang hal-hal yang harus dilakukan observer selama bertindak menjadi observer, menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran menggunakan model STAD, menyusun LKS, menyiapkan alat peraga, menyusun soal evaluasi, dan menyusun lembar observasi. 3.3.1.2 Pelaksanaan Tindakan dan Observasi Tahap implementasi tindakan didasarkan pada perencanaan yang telah disusun. Dalam kegiatan pembelajaran guru menggunakan model STAD. Siklus 1 dilaksanakan dalam 3 pertemuan. Adapun rencana pelaksanaan tindakan pada pertemuan pertama pada siklus 1 adalah sebagai berikut: 1. Kegiatan Awal a. Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran b. Melakukan apersepsi c. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai d. Menyampaikan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan menggunakan model STAD beserta langkah-langkah pembelajarannya. e. Memotivasi siswa untuk untuk aktif dalam proses pembelajaran 2. Kegiatan Inti a. Memberikan contoh masalah dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan penjumlahan pecahan b. Menjelaskan materi secara garis besar dengan mendemonstrasikan konsep menggunakan alat peraga. Materi yang disampaikan yaitu penjumlahan pecahan biasa dengan pecahan biasa dan penjumlahan pecahan campuran dengan pecahan campuran. c. Memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang sedang dijelaskan.

38 d. Memanggil siswa secara acak untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan latihan soal di papan tulis. e. Membagi siswa dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa yang heterogen kemampuan akademik dan jenis kelaminnya. Pembagian kelompok didasarkan pada peringkat perolehan skor 3 kali ulangan terakhir. f. Siswa berkumpul sesuai kelompoknya, kemudian memberi nama kelompok dan menyusun struktur organisasi kelompok. g. Guru membagi LKS dan Lembar Jawab. h. Guru menjelaskan aturan-aturan bekerja dalam kelompok menggunakan LKS. i. Siswa belajar dalam kelompok yang telah dibentuk dengan berpedoman pada LKS j. Siswa mengerjakan LKS secara individu, setelah selesai kemudian mencocokkan jawabannya dengan pasangan dalam satu kelompok, dan saling menjelaskan jawaban. k. Siswa secara berkelompok bekerja sama, saling membantu teman satu kelompok yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan LKS dan menguasai materi. l. Selama siswa belajar dalam kelompok, guru berkeliling kelas, mendekati setiap kelompok untuk mengetahui bagaimana kelompok bekerja, melakukan pengamatan, memberikan bimbingan, dorongan, dan bantuan kepada kelompok yang mengalami kesulitan menyelesaikan LKS. m. Guru memberikan pujian kepada kelompok yang bekerja dengan baik. n. Setiap kelompok melalui wakilnya mempresentasikan hasil kerja kelompok dan ditanggapi kelompok lain. o. Siswa bersama guru membahas hasil kerja kelompok. 3. Kegiatan Akhir a. Siswa dengan arahan guru menyimpulkan materi pelajaran. b. Guru menginformasikan materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya Rencana pelaksanaan tindakan pada pertemuan kedua hampir sama seperti pada pertemuan pertama. Namun pada pertemuan kedua tidak dilakukan pembentukan kelompok baru. Kelompok yang digunakan adalah kelompok yang dibentuk pada pertemuan pertama.

39 Rencana pelaksanaan tindakan pada pertemuan kedua siklus 1 adalah sebagai berikut: 1. Kegiatan Awal a. Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran b. Melakukan apersepsi c. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai d. Menyampaikan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan menggunakan model STAD beserta langkah-langkah pembelajarannya. e. Memotivasi siswa untuk untuk aktif dalam proses pembelajaran 2. Kegiatan Inti a. Memberikan contoh masalah dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan penjumlahan pecahan b. Menjelaskan materi secara garis besar dengan cara mendemonstrasikan konsepkonsep menggunakan alat peraga. Materi yang disampaikan yaitu penjumlahan penjumlahan pecahan biasa dengan pecahan campuran dan penjumlahan pecahan desimal. c. Memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang sedang dijelaskan. d. Memanggil siswa secara acak untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan latihan soal di papan tulis. e. Meminta siswa duduk berkelompok sesuai kelompok yang dibentuk pada pertemuan pertama. f. Membagi LKS dan Lembar Jawab. g. Menjelaskan aturan-aturan dalam bekerja dalam kelompok menggunakan LKS. h. Siswa belajar dalam kelompok yang telah dibentuk dengan berpedoman pada Lembar Kerja. i. Siswa mengerjakan LKS secara individu, kemudian mencocokkan jawabannya dengan pasangan dalam satu kelompok, dan saling menjelaskan jawaban. j. Siswa secara berkelompok bekerja sama, saling membantu teman satu kelompok yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan LKS dan menguasai materi.

40 k. Selama siswa belajar dalam kelompok, guru berkeliling kelas, mendekati setiap kelompok untuk mengetahui bagaimana kelompok bekerja. melakukan pengamatan, memberikan bimbingan, dorongan, dan bantuan kepada kelompok yang mengalami kesulitan menyelesaikan LKS. l. Memberikan pujian kepada kelompok yang bekerja dengan baik m. Setiap kelompok melalui wakilnya mempresentasikan hasil kerja kelompok dan ditanggapi kelompok lain. n. Siswa bersama guru membahas hasil kerja kelompok. 3. Kegiatan Akhir a. Siswa dengan arahan guru menyimpulkan materi pelajaran. b. Guru menginformasikan bahwa akan dilaksanakan kuis individualnpada pertemuan berikutnya. Rencana pelaksanaan tindakan pada pertemuan ketiga adalah pelaksanaan kuis individual atau evaluasi dan pemberian penghargaan bagi kelompok yang berprestasi. Rencana pelaksanaan tindakan pada pertemuan ketiga siklus 1 yang lebih rinci adalah sebagai berikut: 1. Kegiatan Awal a. Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran b. Melakukan apersepsi c. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai d. Menyampaikan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan menggunakan model STAD beserta langkah-langkah pembelajarannya. e. Memotivasi siswa untuk untuk aktif dalam proses pembelajaran 2. Kegiatann Inti a. Memberikan contoh masalah dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan penjumlahan pecahan b. Mengulang materi yang telah dipelajari pada pertemuan pertama dan kedua. c. Memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang sedang dijelaskan. d. Memanggil siswa secara acak untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan latihan soal di papan tulis.

41 e. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya apabila ada yang belum jelas tentang materi yang akan digunakan untuk evaluasi. f. Membagikan lembar kuis individual dan lemba jawab g. Pelaksanaan kuis individual h. Membahas penyelesaian kuis individual i. Menghitung skor kemajuan individu dan kelompok j. Memberikan pengharhaan kepada kelompok berprestasi berupa sertifikat berdasarkan kriteria yang dicapai. k. Memajang sertifikat Super Team dan Great Team di papan pajangan 3. Kegiatan Akhir c. Siswa dengan arahan guru menyimpulkan materi pelajaran. d. Guru menginformasikan materi pelajaran yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya. Kegiatan observasi dilakukan sebagai sarana pengumpulan data yang berkaitan dengan pelaksanaan tindakan penelitian. Observasi dilakukan selama pelaksanaan tindakan untuk mengetahui keterlaksanaan pembelajaran menggunakan model STAD dan aktivitas belajar siswa pada setiap pertemuan. Hasil observasi digunakan sebagai bahan pengadaan refleksi. Dalam melakukan observasi peneliti dibantu oleh seorang observer. 3.3.1.3 Refleksi Refleksi merupakan analisis dari hasil observasi pembelajaran siklus 1. Refleksi dilaksanakan segera setelah pelaksanaan pembelajaran selesai. Pada kegiatan refleksi meliputi: mengkaji pelaksanan pembelajaran siklus 1, mengevaluasi proses pembelajaran siklus 1, membuat daftar permasalahan yang terjadi pada siklus 1, dan merencanakan tindak lanjut untuk siklus kedua. Hasil refleksi siklus 1 digunakan sebagai dasar untuk perbaikan dan merencanakan tindakan pada siklus 2. 3.3.2 Siklus 2 Siklus 2 dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan. Tahapan dalam siklus 2 sama seperti pada siklus 1 yang meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan dan observasi, dan refleksi.

42 3.3.2.1 Perencanaan Tindakan Pada tahap ini, peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah diperbaiki berdasarkan hasil refleksi pembelajaran siklus 1, menyusun LKS, menyiapkan alat peraga, menyusun soal evaluasi, dan menyusun lembar observasi. Pada siklus 2 ini diharapkan tidak terjadi kendala-kendala seperti pada siklus 1 dan diperoleh hasil yang lebih baik. 3.3.2.2 Pelaksanaan Tindakan dan Observasi Tindakan yang dilaksanakan pada pembelajaran siklus 2 merupakan kelanjutan dan perbaikan dari pembelajaran siklus 1. Implementasi tindakan pada siklus 2 direncanakan akan dilaksanakan dalam 3 pertemuan. Rencana pelaksanaan tindakan pada pertemuan pertama pada siklus 2 adalah sebagai berikut: 1. Kegiatan Awal a. Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran b. Melakukan apersepsi c. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai d. Menyampaikan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan menggunakan model STAD beserta langkah-langkah pembelajarannya. e. Memotivasi siswa untuk untuk aktif dalam proses pembelajaran 2. Kegiatan Inti a. Memberikan contoh masalah dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan pengurangan pecahan dari bilangan asli. b. Menjelaskan materi secara garis besar dengan cara mendemonstrasikan konsepkonsep menggunakan alat peraga. Materi yang disampaikan yaitu pengurangan pecahan dari bilangan asli, pengurangan pecahan biasa dengan pecahan biasa, dan pengurangan pecahan campuran dengan pecahan campuran. c. Memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang sedang dijelaskan. d. Memanggil siswa secara acak untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan latihan soal di papan tulis.

43 e. Membagi siswa dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa yang heterogen kemampuan akademik dan jenis kelaminnya. Pembagian kelompok didasarkan pada peringkat pemerolehan skor kuis individual siklus 1. f. Siswa berkumpul sesuai kelompoknya, kemudian memberi nama kelompok dan menyusun struktur organisasi kelompok. g. Membagi LKS dan Lembar Jawab. h. Menjelaskan aturan-aturan dalam bekerja dalam kelompok menggunakan LKS. i. Siswa belajar dalam kelompok yang telah dibentuk dengan berpedoman pada Lembar Kerja. j. Siswa mengerjakan LKS secara individu, setelah selesai kemudian mencocokkan jawabannya dengan pasangan dalam satu kelompok, dan saling menjelaskan jawaban. k. Siswa secara berkelompok bekerja sama, saling membantu teman satu kelompok yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan LKS dan menguasai materi. l. Selama siswa belajar dalam kelompok, guru berkeliling kelas, mendekati setiap kelompok untuk mengetahui bagaimana kelompok bekerja. melakukan pengamatan, memberikan bimbingan, dorongan, dan bantuan kepada kelompok yang mengalami kesulitan menyelesaikan LKS. m. Memberikan pujian kepada kelompok yang bekerja dengan baik n. Setiap kelompok melalui wakilnya mempresentasikan hasil kerja kelompok dan ditanggapi kelompok lain. o. Siswa bersama guru membahas hasil kerja kelompok. 3. Kegiatan Akhir a. Siswa dengan arahan guru menyimpulkan materi pelajaran. b. Guru menginformasikan materi pelajaran yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya Rencana pelaksanaan tindakan pada pertemuan kedua hampir sama seperti pada pertemuan pertama. Namun pada pertemuan kedua tidak dilakukan pembentukan kelompok baru. Kelompok yang digunakan adalah kelompok yang dibentuk pada pertemuan pertama.

44 Rencana pelaksanaan tindakan pada pertemuan kedua siklus 2 adalah sebagai berikut: 1. Kegiatan Awal a. Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran b. Melakukan apersepsi c. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai d. Menyampaikan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan menggunakan model STAD beserta langkah-langkah pembelajarannya. e. Memotivasi siswa untuk untuk aktif dalam proses pembelajaran 2. Kegiatan Inti a. Memberikan contoh masalah dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan penjumlahan pecahan b. Menjelaskan materi secara garis besar dengan cara mendemonstrasikan konsepkonsep menggunakan alat peraga. Materi yang disampaikan yaitu penjumlahan pecahan biasa dengan pecahan campuran dan penjumlahan pecahan desimal. c. Memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang sedang dijelaskan. d. Memanggil siswa secara acak untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan latihan soal di papan tulis. e. Meminta siswa duduk secara berkelompok sesuai kelompok yang dibentuk pada pertemuan pertama. f. Membagi LKS dan Lembar Jawab. g. Menjelaskan aturan-aturan dalam bekerja dalam kelompok menggunakan LKS. h. Siswa belajar dalam kelompok yang telah dibentuk dengan berpedoman pada Lembar Kerja. i. Siswa mengerjakan LKS secara individu, setelah selesai kemudian mencocokkan jawabannya dengan pasangan dalam satu kelompok, dan saling menjelaskan jawaban. j. Siswa secara berkelompok bekerja sama, saling membantu teman satu kelompok yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan LKS dan menguasai materi.

45 k. Selama siswa belajar dalam kelompok, guru berkeliling kelas, mendekati setiap kelompok untuk mengetahui bagaimana kelompok bekerja, melakukan pengamatan, memberikan bimbingan, dorongan, dan bantuan kepada kelompok yang mengalami kesulitan menyelesaikan LKS. l. Memberikan pujian kepada kelompok yang bekerja dengan baik m. Setiap kelompok melalui wakilnya mempresentasikan hasil kerja kelompok dan ditanggapi kelompok lain. n. Siswa bersama guru membahas hasil kerja kelompok. 3. Kegiatan Akhir a. Siswa dengan arahan guru menyimpulkan materi pelajaran. b. Guru menginformasikan bahwa akan dilaksanakan kuis individual pada pertemuan berikutnya. Rencana pelaksanaan tindakan pada pertemuan ketiga adalah pelaksanaan kuis individual atau evaluasi dan pemberian penghargaan bagi kelompok yang berprestasi. Rencana pelaksanaan tindakan pada pertemuan ketiga siklus 2 yang lebih rinci adalah sebagai berikut: 1. Kegiatan Awal a. Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran b. Melakukan apersepsi c. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai d. Menyampaikan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan menggunakan model STAD beserta langkah-langkah pembelajarannya. e. Memotivasi siswa untuk untuk aktif dalam proses pembelajaran 2. Kegiatan Inti a. Memberikan contoh masalah dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan penjumlahan pecahan b. Mengulang materi yang telah dipelajari pada pertemuan pertama dan kedua. c. Memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang sedang dijelaskan. d. Memanggil siswa secara acak untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan latihan soal di papan tulis.

46 e. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya apabila ada yang belum jelas tentang materi yang akan digunakan untuk evaluasi. f. Membagikan lembar kuis individual dan lemba jawab. g. Pelaksanaan kuis individual. h. Membahas penyelesaian kuis individual. i. Menghitung skor kemajuan individu dan kelompok. j. Memberikan pengharhaan kepada kelompok berprestasi berupa sertifikat berdasarkan kriteria yang dicapai. k. Memajang sertifikat Super Team dan Great Team di papan pajangan. 3. Kegiatan Akhir a. Siswa dengan arahan guru menyimpulkan materi pelajaran. b. Guru menginformasikan materi pelajaran yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya. Seperti pada siklus 1, Observasi dilakukan selama pelaksanaan tindakan untuk mengetahui keterlaksanaan pembelajaran menggunakan model STAD dan aktivitas belajar siswa pada setiap pertemuan. Hasil observasi digunakan sebagai bahan pengadaan refleksi. 3.3.2.3 Refleksi Hasil observasi pada siklus 2 dianalisis. Berdasarkan hasil analisis ini, peneliti kembali melakukan refleksi untuk menentukan bagaimana tingkat keberhasilan dari penerapan model STAD dalam pembelajaran matematika siswa Kelas 5 SD Negeri 2 Kritig Semester 2 tahun pelajaran 2012/2013. 3.4 Teknik dan Alat Pengumpulan Data 3.4.1 Jenis Data Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berupa informasi tentang pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas ketika guru mengadakan pembelajaran menggunakan model STAD. Sedangkan data kuantitatif berupa skor hasil belajar.

47 3.4.2 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang dilaksanakan dalam penelitian ini yaitu dengan cara tes dan non tes. Teknik tes digunakan untuk mendapatkan data hasil belajar matematika menggunakan model STAD. Tes ini dilaksanakan secara tertulis pada akhir pembelajaran setiap siklus yang berupa soal pilihan ganda dan isian. Sedangkan teknik non tes berupa pengamatan atau observasi. Teknik ini digunakan untuk mengamati tentang kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan menggunakan model STAD. Kegiatan pengamatan dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung. 3.4.3 Alat Pengumpulan Data Alat pengumpulan data dalam teknis non tes berupa lembar observasi. Sedangkan alat pengumpul data dalam teknik tes berupa butir-butir soal tes. 3.4.3.1 Lembar Observasi Lembar observasi digunakan sebagai pedoman dalam mengamati pelaksanaan pembelajaran. Sebelum membuat lembar observasi, terlebih dahulu disusun kisi-kisi lembar observasi berdasarkan langkah-langkah model pembelajaran STAD yang digunakan dalam penelitian ini. Berikut ini adalah kisi-kisi mengajar tentang pembelajaran yang dilaksanakan guru. Tabel 8 Kisi-kisi Mengajar Guru dalam Pembelajaran Model STAD Aspek Indikator Item Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk 1 Kegiatan Awal mengikuti proses pembelajaran. Guru memberikan apersepsi 2 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai Guru menyampaikan rencana kegiatan pembelajaran menggunakan model STAD beserta langkah-langkahnya. Guru memberikan motivasi kepada siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran 3 4 5

48 Kegiatan Inti Kegiatan Akhir Guru menyampaikan materi pembelajaran 6, 7, 8, 9 Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok, setiap 10, 11 kelompok terdiri dari 4-5 siswa yang heterogen kemampuan akademik dan jenis kelaminnya. Guru membagikan LKS dan Lembar Jawab yang akan digunakan siswa dalam bekerja secara kelompok 12, 13 Guru membimbing jalannya kerja kelompok 14, 15, 16, 17, 18, 19 Guru meminta siswa untuk mempresentasikan dan 20, 21 menanggapi hasil kerja kelompok teman Guru bersama siswa membahas hasil kerja kelompok 22 Guru memberikan kuis individual 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29 Guru membimbing siswa menghitung skor individu dan 30, 31 skor kelompok Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang 32, 33 berprestasi Guru membimbing siswa menyimpulkan materi 34 pembelajaran. Guru menyampaikan rencana pembelajaran pada 35 pertemuan berikutnya. Di samping kisi-kisi mengajar, peneliti juga menyusun kisi-kisi keaktifan siswa dalam pembelajaran dengan menerapkan model STAD. Kisi-kisi keaktifan siswa dapat dilihat dalam Tabel 9 berikut ini: Tabel 9 Kisi-kisi Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran Model STAD Aspek Indikator Item Kegiatan Awal Siswa siap secara psikis dan fisik untuk mengikuti pembelajaran Siswa memperhatikan dengan baik apersepsi yang disampaikan guru Siswa memperhatikan dengan baik tujuan pembelajaran yang disampaikan guru Siswa memperhatikan dengan baik penjelasan guru tentang pembelajaran menggunakan STAD 1 2 3 4

49 Kegiatan Inti Kegiatan Akhir Siswa termotivasi untuk belajar 5 Siswa memperhatikan dengan baik penjelasan materi 6 yang disampaikan guru Siswa aktif menjawab pertanyaan dan mengerjakan 7, 8 latihan soal yang diberikan guru Siswa membentuk kelompok yang heterogen sesuai 9, 10 dengan perintah guru Siswa melaksanakan kegiatan kerja kelompok 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18 Siswa mempresentasikan hasil kerja kelompoknya dan 19, 20 menanggapi hasil kerja kelompok lain Siswa aktif membahas hasil kerja kelompok bersama 21 guru Siswa mengerjakan kuis individual 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28 Siswa menghitung skor kemajuan individual dan 29, 30 kelompok Siswa menerima penghargaan atas keberhasilan 31, 32 kelompok berdasarkan skor kemajuan kelompok Siswa dengan arahan guru menyimpulkan materi 33 pembelajaran yang telah dilaksanakan Siswa memperhatikan informasi yang disampaikan guru 34 tentang rencana pembelajaran yang akan dilaksanakan pada pertemuan berikutnya

50 3.4.3.2 Soal Tes Soal Tes yang akan digunakan untuk mendapatkan data hasil belajar pada siklus 1 disusun berdasarkan kisi-kisi tes hasil belajar pada Tabel 10 berikut ini. Standar Kompetensi Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah Tabel 10 Kisi-kisi Tes Hasil Belajar Siklus 1 Kompetensi Dasar Indikator Nomor Item Menjumlahkan dan mengurangkan berbagai bentuk pecahan 1. Menjumlahkan pecahan biasa dengan pecahan biasa berpenyebut berbeda 2. Menjumlahkan pecahan campuran dengan pecahan campuran berpenyebut berbeda 3. Menjumlahkan pecahan campuran dengan pecahan biasa berbeda penyebut 4. Menjumlahkan pecahan desimal 5. Memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan penjumlahan pecahan 1, 5, 9 3, 8, 10 4, 6, 2, 7, 10 11, 12, 13, 14, 15

51 Tes hasil belajar yang akan digunakan untuk mendapatkan data hasil belajar pada siklus 2 disusun berdasarkan kisi-kisi tes hasil belajar pada Tabel 11 berikut ini: Standar Kompetensi Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah Tabel 11 Kisi-kisi Tes Hasil Belajar Siklus 2 Kompetensi Dasar Indikator Nomor Item Menjumlahkan dan mengurangkan berbagai bentuk pecahan 1. Mengurangkan pecahan dari bilangan asli 2. Mengurangkan pecahan biasa dengan pecahan biasa berpenyebut berbeda 5, 10 1, 4, 6 3. Mengurangkan pecahan campuran dengan pecahan campuran berpenyebut berbeda 4. Mengurangkan pecahan desimal 5. Menjumlahkan dan mengurangkan berbagai bentuk pecahan 6. Memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan pengurangan pecahan 3, 7 2, 8 9, 11, 12 13, 14, 15 3.4.4 Validitas dan Reliabilitas Untuk mendapatkan instrumen penilaian hasil belajar yang baik perlu diadakan uji validitas dan reliabilitas. Validitas yaitu ketepatan mengukur yang dimiliki sebutir soal yang merupakan bagian tak terpisahkan dari tes, dalam mengukur apa yang seharusnya diukur lewat butir soal. Sedangkan reliabilitas adalah suatu tes yang pada hakikatnya menguji keajegan pertanyaan tes yang di dalamnya berupa seperangkat butir soal apabila

52 diberikan berulang kali pada objek yang sama. Suatu instrument mempunyai reliabilitas yang tinggi apabila memberikan hasil yang relatif konstan pada penggunaan ulang subjek yang berbeda. Soal yang diuji validitas dan reliabilitas yang akan digunakan untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar matematika pada siklus 1 berjumlah 30. Terdiri dari 20 soal pilihan ganda yaitu mulai dari nomor 1 sampai 20 dan terdiri dari 10 soal isian yaitu mulai dari nomor 21 sampai 30. Data hasil uji validitas soal tes yang akan digunakan untuk mengetahui ketuntasa hasil belajar pada siklus 1 disajikan dalam Tabel 12 berikut ini: Tabel 12 Hasil Uji Validitas Soal Evaluasi Siklus 1 Indikator Nomor Soal Soal Valid 1. Menjumlahkan pecahan biasa dengan pecahan biasa berpenyebut berbeda 2. Menjumlahkan pecahan campuran dengan pecahan campuran berpenyebut berbeda 3. Menjumlahkan pecahan campuran dengan pecahan biasa berbeda penyebut 1, 5, 9, 11, 15, 19 3, 6, 13, 16, 22, 24 4, 8, 14, 18, 21, 23 4. Menjumlahkan pecahan desimal 2, 7, 10, 12, 5. Memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan penjumlahan pecahan 17, 20 25, 26, 27, 28, 29, 30 5, 9, 11, 15, 19 3, 13, 16, 24 6, 22 4, 14, 18, 21, 23 Soal Tidak Valid 1 8 2, 7, 17, 20 10, 12 25, 27, 28, 30 26 Berdasarkan data pada Tabel 12 dapat dilihat bahwa dari 20 soal pilihan ganda yang valid 15 soal dan yang tidak valid 5 soal. Sedangkan soal yang berbentuk isian, dari 10 soal yang valid 8 soal dan tidak valid 2 soal. Sehingga secara keseluruhan dari 30 soal yang diujikan, soal yang valid berjumlah 22 dan yang tidak valid berjumlah 8 soal. Dari Hasil uji reliabilitas soal pilihan ganda memiliki reliabilitas tes sebesar 0,74. Sedangkan soal yang berbentuk isian memiliki reliabilitas tes sebesar 0,71.

53 Soal yang diuji validitas dan reliabilitas yang akan digunakan untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar pada siklus 2 juga berjumlah 30. Terdiri dari 20 soal pilihan ganda yaitu mulai dari nomor 1 sampai 20 dan terdiri dari 10 soal isian yaitu mulai dari nomor 21 sampai 30. Data hasil uji validitas soal tes yang akan digunakan untuk mengetahui ketuntasa hasil belajar pada siklus 2 disajikan dalam Tabel 13 berikut ini: Tabel 13 Hasil Uji Validitas Soal Evaluasi Siklus 2 Indikator Nomor Soal Soal Valid Soal Tidak Valid 1. Mengurangkan pecahan dari 4, 9, 14, 19 4, 9, 14, 19 0 bilangan asli 2. Mengurangkan pecahan biasa dengan pecahan biasa berpenyebut berbeda 3. Mengurangkan pecahan campuran dengan pecahan campuran berpenyebut berbeda 1, 5, 12, 15 1, 5, 15 12 3,6, 11, 17, 23 3, 6, 17 23 4. Mengurangkan pecahan desimal 2, 3, 8, 13, 16 2, 3, 16 8, 13 5. Menjumlahkan dan mengurangkan berbagai bentuk pecahan 6. Memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan pengurangan pecahan 10, 18, 20, 21, 22, 24 7, 25, 26, 27, 28, 29, 30 10, 18, 20, 21, 22 7, 11, 25, 26, 27, 28, 30 Berdasarkan data pada Tabel 13 dapat dilihat bahwa dari 20 soal pilihan ganda yang valid sebanyak 17 soal dan yang tidak valid 3 soal. Sedangkan soal yang berbentuk isian, dari 10 soal yang valid 7 soal dan tidak valid 3 soal. Sehingga secara keseluruhan dari 30 soal yang diujikan, soal yang valid berjumlah 24 dan yang tidak valid berjumlah 6 soal. Dari Hasil uji reliabilitas soal pilihan ganda memiliki reliabilitas tes sebesar 0,757. Sedangkan soal yang berbentuk isian memiliki reliabilitas tes sebesar 0,82. 24 29

54 3.5 Indikator Kinerja Untuk menentukan keberhasilan penelitian maka dirumuskan indikator kinerja yang terdiri atas indikator proses dan indikator hasil. Secara jelas dan rinci dapat diuraikan berikut ini. 1. Indikator Proses Kegiatan pembelajaran menggunakan model STAD dikatakan berhasil jika 85% dari jumlah keseluruhan kegiatan pembelajaran sesuai sintaks model STAD telah diterapkan oleh guru. 2. Indikator Hasil Indikator hasil penelitian tindakan kelas ini adalah keberhasilan pembelajaran yang ditandai dengan sekurang-kurangnya 80% siswa mendapat nilai 65 sebagai nilai ketuntasan minimal dalam penelitian ini. 3.6 Analisis Data Agar data yang dikumpulkan menjadi bermakna dan dapat digunakan sebagai dasar penentu keberhasilan penelitian, data perlu diolah dan dianalisis karena analisis data merupakan bagian yang penting dalam sebuah penelitian. Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti menggunakan dua macam teknik analisis data, yaitu analisis data kuantitatif dan analisis data kualitatif. Data kualitatif berupa informasi gambaran tentang pelaksanaan langkah-langkah pembelajaran. Data kualitatif diperoleh dari hasil observasi terhadap aktivitas siswa dan kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan model STAD. Analisis data kuantitatif dilakukan dalam dua tahapan yaitu analisis ketuntasan hasil belajar dan analisis komparatif ketuntasan hasil belajar. Analisis ketuntasan hasil belajar diolah dengan membandingkan data mentah dengan skor Kriteria Ketuntasan Minimal mata pelajaran matematika. Berrdasarkan hasil analisis ketuntasan hasil belajar kemudian dilakukan analisis komparatif ketuntasan hasil belajar antar siklus dan pra siklus. Analisis komparatif dilakukan dengan membandingkan antara data ketuntasan hasil belajar pra siklus, siklus 1, dan siklus 2 dengan indikator kinerja yang telah ditetapkan dalam penelitian.

55