BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODE PENELITIAN

ANALISIS TITIK IMPAS DALAM PERENCANAAN LABA PADA USAHA JASA PERSEWAAN KENDARAAN ABBAD TAHUN 2013

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

ANALISIS COST VOLUME PROFIT SEBAGAI ALAT PERENCAAN LABA DAN PENJUALAN PADA TOKO BAKPIA SUAN. : Stephanie Lauwrentina : 2A214454

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pengendalian. Proses ini memerlukan sejumlah teknik dan prosedur pemecahan

DAFTAR ISI 1.1 LATAR BELAKANG PENELITIAN IDENTIFIKASI MASALAH MAKSUD DAN TUJUAN PENELITIAN KEGUNAAN PENELITIAN 4

ANALISIS BREAK EVEN POINT DALAM PERENCANAAN LABA PADA CV. ANJAS FAMILY

ANALISIS BREAK EVEN POINT (BEP) SEBAGAI DASAR DALAM PERENCANAAN LABA CV. BARAKA OUTSTANDING WORKSHOP

Analisis Cost-Volume- Profit Sebagai Alat Perencanaan Laba Jangka Pendek Pada Pabrik Roti Lestari. Ryzmelinda EB10

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Tingkat Penjualan Pabrik Kemplang Matahari 222 Palembang Tahun Jenis Produksi

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Klasifikasi Biaya dan Perhitungan Harga Jual Produk pada PT. JCO Donuts

ANALISIS COST VOLUME PROFIT (CVP) SEBAGAI ALAT PERENCANAAN UNTUK MENCAPAI TARGET LABA PADA USAHA KONVEKSI RIRI COLLECTION

ANALISIS BREAK EVEN POINT SEBAGAI ALAT PERENCANAAN LABA PADA PT INDRICIPTA ADITAMA. Nama : Muhammad Farris A Nasution NPM :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. datang. Pada umumnya tujuan perusahaan adalah untuk memperoleh laba yang

Analisis Break Even Point Sebagai Alat Perencanaan Laba Jangka Pendek Pada Perusahaan Kerupuk Idaman. Nia Nopita Suryani

PERENCANAAN PENETAPAN LABA MELALUI PENDEKATAN ANALISIS BREAK EVEN POINT (BEP) PERUSAHAAN WINGKO UD. TUJUH TUJUH ELOK BABAT LAMONGAN

Analisis Biaya, Volume Penjualan dan Laba Sebagai Alat Perencanaan Laba Jangka Pendek pada Toko Pempek SAUDARA. Oleh : Meta Bina Sabila

ANALISIS BREAK EVEN POINT SEBAGAI ALAT PERENCANAAN LABA PADA UNIT USAHA KONVEKSI KERUDUNG (NADIA COLLECTION)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS BIAYA, VOLUME PENJUALAN, DAN LABA SEBAGAI ALAT UNTUK MENYUSUN PERENCANAAN LABA JANGKA PENDEK PADA KEDAI MANG DEDE

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

ABSTRAK. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membantu PT X dalam. perencanaan dan pencapaian laba melalui pendekatan analisis Break Even pada

ANALISA BREAK EVENT POINT

ANALISA BREAK EVENT POINT SEBAGAI PERENCANAAN LABA JANGKA PENDEK SERTA PENENTUAN KEBIJAKAN HARGA DIMASA YANG AKAN DATANG TENSHOUSE

ANALISIS BREAK EVEN POINT PADA WARUNG BAKSO MANTAP DALAM PERENCANAAN LABA. Andika Hari Saputro

COST VOLUME PROFIT (CVP) SEBAGAI ALAT PERENCANAAN LABA PADA PT INDO TAMBANGRAYA MEGAH, Tbk DAN ENTITAS ANAK

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan dari suatu perusahaan adalah untuk memperoleh laba yang

66 Media Bina Ilmiah ISSN No

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Akibat dari krisis sektor ekonomi yang berkelanjutan dan keadaan politik

BAB 5 PROYEKSI KEUANGAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. datang, baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Agar dapat

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN, UNIVERSITAS ANDALAS BAHAN AJAR

ANALISIS BREAK EVEN POINT DALAM PERENCANAAN LABA JANGKA PENDEK KONVEKSI RIZKI PELITA

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Dampak perdagangan bebas dan persaingan dari perusahaan sejenis

BAB III METODE PENELITIAN

ANALISIS BREAK EVEN POINT SEBAGAI ALAT PERENCANAAN LABA JANGKA PENDEK PADA DEPOT AIR MINUM ISI ULANG AN-NUR

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

ANALISIS BREAK EVENT POINT SERTA KEBIJAKAN MARK-UP PADA TUNAS G & A TOYS

BAB II KAJIAN PUSTAKA. adalah spesifikasi (perumusan) dari tujuan perusahaan yang ingin dicapai serta

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Maret 2015 dan berlokasi di Jalan Kyai Maja No.7 Jakarta Selatan.

BAB II LANDASAN TEORI. memenuhi kebutuhan hidupnya.begitupun pula dengan perusahaan yang dalam

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BREAK EVEN POINT. introduction

BREAK EVEN POINT. Prof. Dr. Deden Mulyana, SE., M.Si.

BAB II KERANGKA TEORI

Department of Business Adminstration Brawijaya University

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 1.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

MATERI PRAKTIKUM MINGGU KE 5 ANALISIS CPV

ANALISIS BREAK EVEN POINT (BEP) SEBAGAI DASAR DALAM PERENCANAAN LABA CV. SERANGKAI SETIA KAWAN

Analisis Perencanaan Laba Pada PT Permata Dwitunggal Abadi Di Balikpapan

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan

VARIABLE COSTING. Penentuan Harga Pokok Variabel

TITIK PULANG POKOK SEBAGAI ALAT PERENCANAAN LABA JANGKA PENDEK PERUSAHAAN

ANALISIS BIAYA VOLUME - LABA PADA HOME INDUSTRY KONVEKSI JESSLYN TANAH ABANG JAKARTA PUSAT

BAB I PENDAHULUAN. memperoleh laba, namun tetap memperhatikan pelayanan yang lebih baik

BAB I PENDAHULUAN. dalam negeri telah memperketat persaingan. Dalam persaingan yang ketat,

ANALISIS BREAK EVENT POINT DALAM KEBIJAKAN PERENCANAAN PENJUALAN DAN LABA (Studi Pada PT Wonojati Wijoyo Kediri)

ANALISIS BREAK EVEN POINT

BAB III METODE PENELITIAN

Biaya, volume dan laba merupakan tiga elemen pokok dalam menyusun laporan laba-rugi sebuah perusahaan.

ANALISIS BREAK-EVEN POINT SEBAGAI SALAH SATU ALAT UNTUK MEMBANTU DALAM PENENTUAN TARIF PERAWATAN PADA RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA SKRIPSI

ANALISIS BREAK EVENT POINT (TITIK IMPAS) SEBAGAI ALAT PERENCANAAN LABA PADA PABRIK TAHU SUMEDANG

BAB II LANDASAN TEORI

ANALISIS BREAK EVEN POINT SEBAGAI PENENTU LABA PADA RUMAH TAKOYAKI. Disusun Oleh: Gilang Hardi Maulana EB34

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dengan semakin berkembangnya sebuah perusahaan, maka masalah yang dihadapi

Bahan Kuliah. Manajemen Keuangan Bisnis I Pertemuan VII. Analisis Break Even. Dosen : Suryanto, SE., M.Si

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

Analisis Biaya Volume Laba

PERENCANAAN PRODUKSI BERDASARKAN ANALISIS BREAK EVEN POINT UNTUK MENCAPAI EFISIENSI PADA PD JUMBO MEKAR LESTARI

ANALISIS BIAYA VOLUME LABA DALAM PERENCANAAN LABA JANGKA PENDEK PADA BAKMIE AYAM GAJAH MUNGKUR. Sarah Listiarakhma Tjaja

DAFTAR ISI... KATA PENGANTAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... I. PENDAHULUAN... 1 II. TINJAUAN PUSTAKA... 15

ANALISIS BREAK EVEN PADA PERUSAHAAN PABRIK MINUMAN UD. USAHA BARU MAKASSAR ZAINAL ABIDIN STIE YPUP MAKASSAR

BAB III METODE PENELITIAN

ABSTRACT. Keywords : sales volume, profit, break even point, margin of safety, fixed costs, variabel cost, mixed cost. Universitas Kristen Maranatha

BAB VIII Analisis BEP (Break Even Point)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Seiring dengan semakin ketatnya persaingan pada bidang bisnis di

BAB 5 MANAJEMEN DAN STRUKTUR ORGANISASI

BAB I PENDAHULUAN. Dengan berkembangnya dunia usaha dewasa ini, sejalan dengan kebijakan

ANALISIS PERENCANAAN LABA PERUSAHAAN DENGAN PENERAPAN BREAK EVEN POINT PADA PT. KHARISMA SENTOSA MANADO

Analisa Perilaku Biaya

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pada umumnya tujuan utama suatu perusahaan adalah untuk mencapai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Hansen & Mowen (2005:274) Analisis biaya-volume-laba (costvolume-profit

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. sejak tahun 2011 yang memproduksi pupuk. UMKM Pupuk PAZ s Bio

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Pada saat ini perkembangan usaha di Indonesia semakin tumbuh pesat. Hal

Nama : Theresa Ludwig NPM : Jurusan : Akuntansi Pembingbing : Feny Fidyah, SE., MMSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS GUNADARMA JAKARTA 2015

ABSTRAK. Perencanaan laba diperlukan oleh perusahaan agar perusahaan dapat

ANALISIS BREAK EVEN POINT SEBAGAI SALAH SATU ALAT PERENCANAAN PENJUALAN DAN LABA

: Reza Muslim Ansori NPM : Jenjang/Jurusan : S1/Akuntansi

Analisis Kelayakan Finansial Produk Pakan Ternak Sapi Perah di Koperasi Susu Kota Batu

Transkripsi:

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dalam bab ini akan dibahas tentang analisis data yang telah diperoleh sekaligus pembahasannya. Hasil dari penelitian ini akan menjawab masalah penelitian pada Bab 1 yaitu berapakah jumlah minimum penjualan sewa kendaraan yang harus dicapai Rental ABBAD agar tidak menderita kerugiaan atau mencapai titik BEP dan seberapa tinggi tingkat pendapatan yang diperoleh usaha persewaan ABBAD agar dapat dikatakan melebihi atau berada pada titik BEP. 2.1 Gambaran Obyek Penelitian Penelitian ini dilakukan di usaha rental ABBAD yang beralamat di Jl. RW Monginsidi no.23 Salatiga. ABBAD merupakan suatu usaha yang bergerak dibidang jasa khususnya dalam jasa persewaan kendaraan dikota Salatiga. Usaha ini mulai dibangun sejak tahun 2010 yang secara keseluruhan dikelola oleh pemilik sendiri yaitu bapak Gawik dan dibuka dirumah pribadi pemilik. Nama ABBAD sendiri diambil dari nama anak pertama pemilik yaitu Maulana Abbad. Jam buka usaha persewaan kendaraan ini mulai dari pukul 08.00 sampai pukul 23.00 dengan biaya perjam sewa untuk kendaraan roda dua sebesar 10.000/jam atau 60.000/hari.(table 1.1 halaman 44) Obyek dalam penelitian ini adalah data kendaraan yang disewa setiap hari usaha Rental ABBAD. Data yang menjadi obyek penelitian ini terdiri dari data pada tahun 2013. Isi dari data tersebut berupa biaya biaya yang dikeluarkan oleh usaha rental ABBAD itu yang dibagi menjadi biaya tetap dan biaya variable. 2.2 Klasifikasi Biaya Agar suatu usaha dapat berhasil dalam merencanakan laba perlu adanya suatu pengendalian biaya.biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis. Sumber ekonomis yang dimaksudkan adalah suatu sumber yang memiliki adanya sifat kelangkaan (scarcity). Biaya berdasarkan sifatnya terdiri dari 33

biaya tetap, biaya variabel dan biaya semi variabel. 1 Di dalam usaha rental ABBAD ini klasifikasi biaya terdiri dari biaya tetap dan biaya variable 2.2.1 Biaya Tetap Biaya tetap yang dikeluarkan oleh usaha rental ABBAD adalah sebagai berikut: 1. Pembelian kendaraan Pada table 1.3 halaman 47dapat dilihat jumlah dan jenis kendaraan yang dimiliki oleh usaha rental ABBAD. Jenis kendaraan yang dimiliki oleh rental ABBAD merupakan kendaraan roda dua dengan jumlah kendaraan sebanyak 23 unit. Dari total 23 unit kendaraan itu ada 3 kendaraan yang dibeli dengan second yaitu kendaraan Mio H4887TT yang dibeli dengan harga 7.300.000, Revo AB6496HU yang dibeli dengan harga 6.500.000, Mio H2816RV yang dibeli dengan harga 8.300.000. 2. Biaya gaji Usaha ini dikelola oleh pemilik itu sendiri sehingga disini tidak ada patokan secara pasti berapa biaya gaji yang dikeluarkan tiap bulannya, sehinnga biaya gaji usaha rental ABBAD ini disamakan dengan tarif UMK kota Salatiga 2 yaitu sebesar Rp. 1.170.000 perbulan atau sama dengan Rp. 14.040.000 pertahun.(table 1.2halaman 46) Secara keseluruhan biaya tetap yang dimiliki oleh usaha ini adalah sebesar Rp. 111.205.000,00 ditambah dengan biaya gaji pertahun sebesar Rp.14.040.000,00 menjadi Rp. 125.245.000,00 (table 1.4 halaman 47) 1 Agus Sartono,2005, Manajemen Keuangan, Teori dan Aplikasinya, Edisi Kedua, BPFE UGM, Yogyakarta, hal. 270 2 34

2.2.2 Biaya Variabel Biaya variabel yang dikeluarkan dalam kegiatan operasional usaha rental ABBAD adalah sebagai berikut: 1. Service motor Biaya service motor yang dikeluarkan oleh rental ABBAD pada awal tahun sampai akhir tahun 2013 mengalami kenaikan dan mengalami penurunan. Pada bulan January biaya service motor sebesar Rp. 120.000 kemudian naik pada bulan Februari sebesar Rp. 40.000 menjadi Rp. 160.000 dan tetap pada bulan Maret sebesar Rp. 160.000 selanjutnya pada bulan April terjadi penurunan biaya service motor sebesar Rp. 40.000 menjadi Rp. 120.000. Pada bulan Mei Biaya Service Motor naik menjadi Rp.180.000 dan turun cukup tinggi pada bulan Juni sebesar Rp. 100.000 menjadi Rp. 80.000. Kenaikan dari bulan Juni ke bulan Juli merupakan kenaikan yang paling tinggi yaitu naik sebesar Rp.100.000 menjadi Rp.180.000. pada bulan agustus terjadi penurunan sebesar Rp. 60.000 menjadi Rp.120.000 dan naik pada bulan September sebesar Rp. 160.000 kemudian turun pada bulan oktober dan bulan novembermenjadi sebesar Rp. 100.000 dan turun lagi pada bulan desember menjadi sebesar Rp. 80.000.(lihattable 1.17 halaman 60) 2. Biaya sparepart kendaraan Biaya sparepart kendaraan yang dikeluarkan oleh rental ABBAD pada awal tahun sampai akhir tahun 2013 mengalami kenaikan dan mengalami penurunan. Pada bulan January biaya sparepart kendaraan sebesar Rp. 195.000 kemudian naik pada bulan Februari sebesar Rp. 100.000 menjadi Rp. 295.000 dan naik pada bulan Maret menjadi sebesar Rp. 305.000 selanjutnya pada bulan April 35

naik lagi sebesar Rp. 30.000 menjadi Rp. 335.000. Pada bulan Mei terjadi penurunan menjadi sebesar Rp.215.000 dan turun pada bulan Juni sebesar Rp. 40.000 menjadi Rp. 175.000 selanjutnya naik pada bulan Juli menjadi sebesar Rp. 110.000. Kenaikan dari bulan Juli ke bulan Agustus merupakan kenaikan yang paling tinggi yaitu naik sebesar Rp.280.000 menjadi Rp.390.000. pada bulan September terjadi penurunan sebesar Rp. 30.000 menjadi Rp.360.000 dan turun lagi pada bulan oktober sebesar Rp. 282.000 kemudian naik pada bulan november menjadi sebesar Rp. 336.000 dan turun lagi pada bulan desember menjadi sebesar Rp. 210.000. (lihat table 1.17 halaman 60) 3. Biaya oli Biaya oli yang dikeluarkan oleh rental ABBAD pada awal tahun sampai akhir tahun 2013 mengalami kenaikan dan mengalami penurunan. Pada bulan January biaya oli sebesar Rp. 210.000 kemudian turun pada bulan Februari sebesar Rp. 30.000 menjadi Rp. 180.000 dan juga turun pada bulan Maret sebesar Rp. 90.000 selanjutnya pada bulan April sampai dengan bulan juli terjadi kenaikan biaya oli sebesar Rp. 60.000 menjadi Rp. 150.000. Pada bulan agustus terjadi kenaikan sebesar Rp. 60.000 menjadi Rp.210.000 dan turun pada bulan September menjadi sebesar Rp. 180.000 kemudian turun pada bulan oktober menjadi sebesar Rp. 153.000 dan turun lagi pada bulan November menjadi sebesar Rp. 90.000 sedangkan pada bulan desember terjadi kenaikan menjadi sebesar Rp. 120.000. (lihat table 1.17 halaman 60) 4. Biaya cuci kendaraan Biaya cuci kendaraan yang dikeluarkan oleh rental ABBAD pada awal tahun sampai akhir tahun 2013 36

mengalami kenaikan dan mengalami penurunan. Pada bulan January dan bulan februari biaya cuci kendaraan sebesar Rp. 88.000 kemudian naik pada bulan Maret sebesar Rp. 64.000 menjadi Rp. 152.000 selanjutnya pada bulan April terjadi penurunan biaya cuci kendaraan sebesar Rp. 72.000 menjadi Rp. 80.000. Pada bulan Mei Biaya cuci kendaraan naik menjadi Rp.112.000 dan turun cukup tinggi pada bulan Juni sebesar Rp. 32.000 menjadi Rp. 80.000. Pada bulan Juli turun menjadi sebesar Rp. 72.000 dan naik pada bulan agustus sebesar Rp.80.000 dan naik pada bulan September sebesar Rp. 112.000 kemudian naik cukup tinggi pada bulan oktober yaitu sebesar Rp. 224.000 dan bulan november turun menjadi sebesar Rp. 256.000 dan turun lagi pada bulan desember menjadi sebesar Rp. 248.000. (lihat table 1.17 halaman 60) Selanjutnya jika direkap secara keseluruhan biaya variable yang dikelurkan oleh usaha rental ABBAD pada tahun 2013 adalah sebagai berikut yaitu jumlah biaya service motor sebesar Rp.1.560.000,00 biaya sparepart kendaraan sebesar Rp.3.208.000,00 biaya oli kendaraan sebesar Rp.1.833.000,00 kemudian biaya cuci kendaraan sebesar Rp.1.704.000,00 sehingga pada tahun 2013 total biaya variable yang dikeluarkan oleh usaha rental ABBAD adalah sebesar Rp.8.305.000,00 2.3 Pendapatan Pendapatan adalah sesuatu yang sangat penting dalam setiap perusahaan. Tanpa ada pendapatan mustahil akan didapat penghasilan. Pendapatan adalah penghasilan yang timbul dari aktivitas perusahaan yang biasa dikenal atau disebut penjualan, penghasilan jasa, bunga, dividen, royalti dan sewa. Besar kecilnya pendapatan usaha sangat ditentukan bagaimana seorang manajer menjalankan usahanya. Pendapatan dalam usaha rental ABBAD ini adalah pendapatan selama tahun 2013. Berdasarkan table 1.22 halaman 65 dapat 37

terlihat adanya kenaikan jumlah pendapatan dan lama pemakaian selama tahun 2013. Pada bulan January jumlah pendapatan yang diperoleh sebesar Rp. 18.395.000 dengan banyaknya jam pemakaian sebesar 5.810 kemudian naik pada bulan Februari sebesar Rp. 1.770.000 menjadi Rp. 20.165.000 dan juga pada banyaknya jam pemakaian naik sebesar 6.275 pada bulan Maret naik lagi menjadi sebesar Rp. 21.851.000 dan jam pemakaian kendaraan juga naik sebesar 7.587 selanjutnya pada bulan April terjadi penurunan pendapatan dan jam pemakaian kendaraan yaitu untuk pendapatan turun menjadi sebesar Rp. 19.437.000 sedangkan jam pemakaian sebesar 5.648 selanjutnya pada bulan mei naik lagi menjadi Rp. 18.280.000 dan jam pemakaian sebesar 7.093. Pada bulan juni besarnya pendapatan naik menjadi Rp.19.277.000 tetapi tidak diikuti oleh kenaikan jam pemakaian yang malah turun yaitu sebesar 6.642 pada bulan julipendapatan juga mengalami penurunan yaitu sebesar Rp. 11.320.000 juga jam pemakaian turun sebesar 4.499 selanjutnya terjadi kenaikan pada bulan agustus sebesar Rp. 18.255.000 jam pemakaian naik sebesar 5.533. dan naik lagi pada bulan septembermenjadi sebesar Rp. 18.915.000 dan jam pemakaian sebesar 5.969 pada bulan oktober terjadi penurunan pendapatan yaitu menjadi sebesar Rp.16.613.000 dan jam pemakaian sebesar 5.613 naik lagi pada bulan November menjadi sebesar Rp. 19.610.000 serta jam pemakaian naik sebesar 6.553 kemudian turun lagi pada bulan desember menjadi sebesar Rp. 13.403.000 dan jam pemakaian turun menjadi 4.830 Pendapatan usaha rental ABBAD cenderung mengalami kenaikan hal ini dikarenakan pada tahun 2013 dari 23 armada kendaraan yang dimilki oleh rental ABBAD sudah berjalan secara maksimal sehingga pendapatan yang diperoleh juga cukup tinggi. 2.4 Analisis contribution Margin Analisis Contribution Margin merupakan suatu analisis untuk melihat penjualan (pendapatan) yang diperoleh agar dapat menutupi biaya tetap yang harus dilakukan, dimana data yang dibutuhkan adalah data penjualan (pendapatan), biaya variable. 38

Contribution margin pada tahun 2013 sebesar Rp 207.216.000 sedangkan contribution margin rasio-nya sebesar 96,14% berarti bahwa penghasilan pendapatan akan menyebabkan kontribusi untuk biaya tetap sebesar 96,14%, atau bagian dari hasil pendapatan yang digunakan untuk menutupi biaya tetap yakni 96,14% (lampiran 1 A.1 halaman 66) 2.5 Analisis Break Even Point Analisis break even akan memberikan informasi mengenai hubungan antara volume penjualan (pendapatan) dan keuntungan yang diperoleh perusahaan berdasarkan tingkat penjualan (pendapatan) yang dilakukan pada periode tertentu. Selain itu, dapat kita ketahui pula pada posisi bagaimana perusahaan tidak mengalami kerugian maupun keuntungan, dalam hal ini total biaya yang dikeluarkan perusahaan baik itu biaya variabel maupun biaya tetap sama dengan total penjualan perusahaan. Analisis break even dapat dilakukan dengan dua pendekatan matematis, yakni pendekatan berdasarkan unit dan rupiah. Informasi atau data yang dibutuhkan adalah data pendapatan (harga per unit), biaya variabel (biaya variabel per unit), dan biaya tetap. 2.5.1 Pendekatan Unit Dari analisis titik impas (lampiran 1 A.2 halaman 67) dapat dijelaskan bahwa pada tahun 2013 usaha rental ABBAD mencapai titik impas dalam unit sebesar 2.190 untuk semua unit kendaraan yang dimiliki oleh rental ABBAD dalam satu tahun. 2.5.2 Pendekatan Rupiah Dari perhitungan titik impas (lampiran 1 A.2 halaman 67) dapat dijelaskan bahwa pada tahun 2013 usaha rental ABBAD mencapai titik impas dalam rupiah pada tingkat pendapatan Rp 134.396.918 untuk semua unit kendaraan yang dimiliki oleh rental ABBAD dalam waktu satu tahun 2.6 Analisis Perencanaan Laba Perencanaan laba merupakan rencana kerja yang telah diperhitungkan dengan cermat dimana implikasi keuangannya dinyatakan dalam bentuk 39

proyeksi perhitungan rugi-laba, neraca, kas dan modal kerja untuk jangka panjang dan jangka pendek. Anggaran (budget) hanyalah merupakan suatu rencana yang dinyatakan dalam nilai uang atau satuan kuantitatif lainnya. Perencanaan laba ditujukan kepada sasaran akhir organisasi dan bermanfaat sebagai pedoman untuk, mempertahankan arah kegiatan yang pasti. Berdasarkan hasil analisis A.3 lampiran 1 halaman 68, pada tahun 2013 untuk mencapai target laba yang direncanakan sebesar 20%, maka usaha rental ABBAD harus mampu mencapai pendapatan sebesar Rp. 164.255.738 2.7 Pembahasan Analisis Break Even Point Pada Usaha Persewaan ABBAD Dari perhitungan A.2 ( lampiran 1 halaman ) pada tahun 2013 titik break even dalam hari adalah 3.7 unitangka tersebut diperoleh dari jumlah bep unit tahun 2013yaitu 2.190/23 unit kendaraan dan hasilnya menjadi95yang artinya setiap unit kendaraan yang dimilki oleh rental ABBAD harus mampu disewa sebanyak 95 kali dalam satu tahun, kemudian hasil tersebut dibagi dalam hari yaitu 360/95 mendapat hasil sebesar 3,7 hari Angka 37 (3,7 x 10) secara lebih luas dapat diartikan bahwa setiap unit kendaraan yang dimilki oleh rental ABBAD dalam 37 harinya harus mampu di sewa sebanyak 10hari. Hal ini juga dapat dijelaskan dengan perolehan titik break even dalam rupiah yaitu sebesar Rp. 134.396.918 dalam kurun waktu satu tahun untuk 23 unit kendaraan, kemudian untuk mengetahui titik impas dalam setiap unitnya maka Rp.134.396.918/23 unit menjadi Rp. 5.843.344 perunit dalam setahun. Untuk mengetahui berapa titik break even perunit dalam satu hari maka Rp.5.843.344/360 didapat hasil sebesar Rp. 16.232. Arti dari angka Rp. 16.232 adalah dalam satu hari perunit kendaraan harus menutup titik impas sebesar Rp.16.232 Di dalam analisis break even point yang telah dilakukan pada usaha rental ABBAD dapat di ketahui bahwa titik impas pada tahun 2013 cukup tinggi yaitu dalam rupiah sebesar Rp. 134.396.918 (lampiran1 A.2 halaman ) dan dalam unit sebesar 2.190 hal ini dikarenakan pada tahun 2013 biaya variabel yang dikeluarkan usaha rental ABBAD tinggi yaitu sebesar Rp. 8.305.000 40

(lampiran 1 A.2 halaman), salah satu sebabnya adalah kondisi kendaraan sewa yang tidak lagi bagus sehingga pengeluaran untuk biaya variable terus bertambah setiap bulannya. 2.8 Pembahasan Perencanaan Laba Usaha Persewaan ABBAD Berdasarkan hasil analisis A.3 lampiran 1 halaman 68, target laba pada tahun 2013 merupakan target laba yang tinggi yaitu sebesar Rp. 169.711.059. Hal ini dapat diartikan bahwa untuk mencapai target laba yang diharapkan yaitu 20% maka usaha rental ABBAD harus mampu memperoleh pendapatan sebesar Rp.169.711.059. Sedangkan sisa pendapatan diatas titik impas pada tahun 2013 adalah sebesar Rp. 81.124.082 (lampiran 1 A.4 halaman 68) sehingga usaha rental ABBAD ini perlu meningkatkan sisa pendapatan yang tinggi yaitu sebesar Rp. 88.586.977agar tercapai target laba yang diharapkan. 2.9 Hasil Penelitian Dari hasil perhitungan bahwa penjualan minimal yang harus dicapai usaha rental ABBAD dalam setiap harinya untuk setiap unitnya adalah sebesar Rp. 16.232 atau dalam 37 hari usaha rental ABBAD harus terjual minimal 10 hari untuk setiap unit kendaraan yang dimilki. Pada tahun 2013 terdapat sisa pendapatan yang telah digunakan untuk menutupi biaya tetap atau diatas titik impas yang merupakan keuntungan yaitu sebesar Rp. 81.124.082. Hal ini berarti usaha rental ABBAD merupakan usaha yang layak untuk dilanjutkan jika dilihat dari segi sisa keuntungan yang sudah didapat. 41