P O L I C Y B R I E F

dokumen-dokumen yang mirip
P O L I C Y B R I E F

PEMANFAATAN DAN PENGELOLAAN GAMBUT DI INDONESIA

T E C H N I C A L R E V I E W

T e c h n i c a l r e v i e w

I. PENDAHULUAN. melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang.

I.PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. yang keduanya tidak bisa dilepaskan, bahkan yang saling melengkapi.

T E C H N I C A L R E V I E W

P O L I C Y B R I E F

ULASAN KEBIJAKAN PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM GAMBUT

Pengembangan Wilayah Sentra Produksi tanaman, menyebabkan pemadatan lahan, serta menimbulkan serangan hama dan penyakit. Di beberapa lokasi perkebunan

ALIH TEKNOLOGI BUDIDAYA PERTANIAN TERPADU PADA LAHAN SUB-OPTIMAL BASAH DAERAH PASANG SURUT DAN LEBAK MELALUI PARTISIPASI LANGSUNG PETANI LOKAL

T E C H N I C A L R E V I E W

Pemanfaatan canal blocking untuk konservasi lahan gambut

PENGENALAN TEKNIK USAHATANI TERPADU DI KAWASAN EKONOMI MASYARAKAT DESA PUDAK

Geografi KEARIFAN DALAM PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM I. K e l a s. Kurikulum 2013

PENGEMBANGAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT: PERSPEKTIF LINGKUNGAN. Mukti Sardjono, Saf Ahli Menteri Pertanian Bidang Lingkungan,

Setitik Harapan dari Ajamu

Perkembangan Potensi Lahan Kering Masam

AGRIBISNIS TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Rehabilitasi dan Pengelolaan Lahan Gambut Bekelanjutan

PENGEMBANGAN SISTEM INTEGRASI SAPI PERKEBUNAN SEBAGAI UPAYA PEMBANGUNAN PETERNAKAN SAPI MENUJU SWASEMBADA DAGING 2010

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Penataan Wilayah Pengembangan FAKULTAS PETERNAKAN

BAB I PENDAHULUAN. Ternak ruminansia seperti kerbau, sapi, kambing dan domba sebagian besar bahan

OPTIMALISASI USAHA PENGGEMUKAN SAPI DI KAWASAN PERKEBUNAN KOPI

Fahmuddin Agus dan Achmad Rachman Peneliti Balitbangtan di Balai Penelitian Tanah

disinyalir disebabkan oleh aktivitas manusia dalam kegiatan penyiapan lahan untuk pertanian, perkebunan, maupun hutan tanaman dan hutan tanaman

I. PENDAHULUAN. terpadu dan melanggar kaidah pelestarian lahan dan lingkungan. Eksploitasi lahan

Johanis A. Jermias; Vinni D. Tome dan Tri A. Y. Foenay. ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. kesempatan kerja, dan peningkatan pendapatan masyarakat. Sektor pertanian

I. PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya/Papua. Dari 168 juta hektar lahan

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Pada saat ini Indonesia telah memasuki tahap pembangunan

II. TINJAUAN PUSTAKA. mestinya sudah mengarah pada pertanian yang mempertahankan keseimbangan

I. PENDAHULUAN. Permintaan pangan hewani terutama daging sapi meningkat cukup besar

Hesti Lestari Tata Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi, KLHK

TEKNIK REHABILITASI (REVEGETASI) LAHAN GAMBUT TERDEGRADASI Sumbangsih Pengalaman dan Pembelajaran Restorasi Gambut dari Sumatera Selatan dan Jambi

Pembelajaran Pada Portofolio Pertanian Berkelanjutan (Community-Based Sustainable Agriculture)

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian masih sangat penting bagi perekonomian nasional. Hal

SAMPAH POTENSI PAKAN TERNAK YANG MELIMPAH. Oleh: Dwi Lestari Ningrum, SPt

I. PENDAHULUAN. yang cocok untuk kegiatan pertanian. Disamping itu pertanian merupakan mata

KAJIAN PERBAIKAN USAHA TANI LAHAN LEBAK DANGKAL DI SP1 DESA BUNTUT BALI KECAMATAN PULAU MALAN KABUPATEN KATINGAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH ABSTRAK

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

Konsep Usahatani Terpadu : Tanaman Pangan dan Ternak FAKULTAS PETERNAKAN

ASSALAMU ALAIKUM WR. WB.

PENGANTAR. Latar Belakang. Tujuan pembangunan sub sektor peternakan Jawa Tengah adalah untuk

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. setengah dari penduduk Indonesia bekerja di sektor ini. Sebagai salah satu

Geografi KEARIFAN DALAM PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM II. K e l a s. C. Pertanian Organik

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

I. PENDAHULUAN. yang memiliki potensi hijauan hasil limbah pertanian seperti padi, singkong, dan

Restorasi Gambut Harus Berpihak Kepada Ajas Manfaat

PENDAHULUAN. kadang-kadang tidak mencukupi (Ekstensia, 2003). Peran sektor pertanian di Indonesia terlebih di Sumatera Utara

Oleh : Sri Wilarso Budi R

SILASE TONGKOL JAGUNG UNTUK PAKAN TERNAK RUMINANSIA

RUMUSAN SEMINAR NASIONAL BENIH UNGGUL UNTUK HUTAN TANAMAN, RESTORASI EKOSISTEM DAN ANTISIPASI PERUBAHAN IKLIM YOGYAKARTA, NOPEMBER 2014

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Luas tanam, produksi, dan produktivitas tanaman padi dan jagung per Kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan, Tahun 2008.

POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN TERNAK SAPI DI LAHAN PERKEBUNAN SUMATERA SELATAN

Strategi dan Rencana Aksi Pengurangan Emisi GRK dan REDD di Provinsi Kalimantan Timur Menuju Pembangunan Ekonomi Hijau. Daddy Ruhiyat.

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK DI KABUPATEN JEMBRANA

I. PENDAHULUAN. Nenas adalah komoditas hortikultura yang sangat potensial dan penting di dunia.

IMPLEMENTASI PP 57/2016

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Wawasan Lingkungan Hidup Dan Sustainable Agroecosystem FAKULTAS PETERNAKAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

I. PENDAHULUAN. merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan merupakan kunci keberhasilan

Latar Belakang. Gambar 1. Lahan gambut yang terbakar. pada lanskap lahan gambut. Di lahan gambut, ini berarti bahwa semua drainase

KEBERLANGSUNGAN FUNGSI EKONOMI, SOSIAL, DAN LINGKUNGAN MELALUI PENANAMAN KELAPA SAWIT/ HTI BERKELANJUTAN DI LAHAN GAMBUT

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Inovasi Pertanian 2015

Prosiding Pekan Serealia Nasional, 2010 ISBN :

BAB I PENDAHULUAN. Pertanian merupakan suatu proses produksi untuk menghasilkan barang

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Sistem Usahatani Terpadu Jagung dan Sapi di Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan

I. PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian di Indonesia merupakan sektor yang terus. dikembangkan dan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris dengan sektor pertanian sebagai sumber. penduduknya menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian di Indonesia memegang peranan penting dari keseluruhan

POLITIK KETAHANAN PANGAN MENUJU KEMANDIRIAN PERTANIAN

APP melaporkan perkembangan implementasi pengelolaan lahan gambut

II. TINJAUAN PUSTAKA. berinteraksi dalam satu sistem (pohon, tanaman dan atau ternak) membuat

I. PENDAHULUAN. peranan penting dalam meningkatkan perekonomian Indonesia melalui. perannya dalam pembentukan Produk Domestic Bruto (PDB), penyerapan

Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi, Material, dan Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

SISTEM INTEGRASI SAPI DI PERKEBUNAN SAWIT PELUANG DAN TANTANGANNYA

BAB II KERANGKA PENDEKATAN TEORI

LAPORAN KINERJA INVESTASI. KEM.PERTAMINAFLip DESA DESA KECAMATAN SINTOGA KABUPATEN PADANG PARIAMAN. (Sabtu, Tanggal 10 Mei 2015)

LAPORAN PERKEMBANGAN BROP KEBUN ENERGI

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG BADAN RESTORASI GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

LAPORAN KINERJA INVESTASI. KEM.PERTAMINAFLip DESA ASINUA JAYA KECAMATAN ASINUA KABUPATEN KONAWE. (Senin, Tanggal 9 Mei 2015)

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Transkripsi:

Konsorsium PETUAH (PerguruanTinggi untuk Indonesia Hijau) Pengetahuan Hijau Berbasis Kebutuhan dan Kearifan Lokal untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan (Green Knowledge with Basis of Local Needs and Wisdom to Support Sustainable Development) P O L I C Y B R I E F CoE PLACE PB (Revised) No. 4 February 2017 MENGURANGI RESIKO KEBAKARAN DI LAHAN GAMBUT MELALUI APLIKASI SISTEM PERTANIAN TERPADU - BIO- CYCLO-FARMING (BCF) Kebakaran hutan dan lahan yang sangat masif pada tahun 2015 lalu menyadarkan semua pihak untuk mencari solusi terhadap permasalahan ini. Lahan yang mengalami kebakaran sebagian besar merupakan lahan gambut. Terkait dengan ini, Pemerintah Indonesia berinisiatif membentuk Badan Restorasi Gambut (BRG) yang bertugas melakukan pemulihan lahan dan hutan gambut yang rusakakibat kebakaran atau kesalahan pengelolaan. Sampai dengan tahun 2016 diperkirakan sebanyak 6 juta hektar lahan gambut di Indonesia telah terbakar dan sebanyak 2-3 juta hektar lahan gambut rencananya akan direstorasi. Pada tahun 2016, ditargetkan seluas 600.000 hektar lahan gambut di Indonesia akan direstorasi dan Sumatera Selatan menjadi salah satu propinsi yang jadi target untuk direstorasi. Upaya untuk restorasi lahan gambut selain dengan menjadikannya sebagai kawasan konservasi, lahan gambut juga sudah dan dapat dimanfaatkan bagi kepentingan ekonomi. Penerapan teknik budidaya pertanian terpadu melalui sistem budidaya yang dikenal dengan Bio- Cyclo-Farming (BCF) adalah salah satu upaya untuk memanfaatkan lahan gambut bagi kepentingan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di lahan tersebut. Penerapan BCF ini diharapkan dapat mengurangi resiko kebakaran lahan karena lahan selalu terjaga dan selalu ada komiditas yang dikelola untuk pendapatan masyarakat sepanjang tahun. KONSEP BIO-CYCLO-FARMING Sistem pertanian terpadu melalui konsep BCF merupakan sistem pertanian yang memadukan unsur tanaman, ternak dan ikan sedemikian rupa sehingga bersinergi satu dengan yang lainnya dan terjadi daur ulang secara biologis (Gambar 1.) KONSORSIUM PETUAH PERGURUAN TINGGI UNTUK INDONESIA HIJAU MCA INDONESIA Page 1

Policy Recommendations 1. Kebakaran lahan dan hutan dapat ditekan seminimal mungkin jika lahan/hutan itu dijaga dan dimanfaatkan sepanjang tahun. Aplikasi pertanian terpadu dengan sistem BCF merupakan salah satu solusinya. 2. Aplikasi BCF di lahan gambut memerlukan modifikasi terhadap beberapa komponennya. Tanaman menggunakan tanaman yang relatif toleran kebakaran (seperti tanaman lidah buaya, buah naga) dan tanaman tahan air tergenang (seperti nenas, sagu, kayu jelutung dan hijauan rumput pakan). Ternak menggunakan ternak ruminansia (Sapi, kerbau, kambing), dan Ikan dari jenis ikan lokal rawa (gabus, betok, sepat). 3. Jika lahan gambut sudah dibudidayakan dengan tanaman tahunan (Kelapa Sawit, HTI), maka penanaman berbagai tanaman sukulen tersebut diatur dalam pola tanam campuran. 4. Pemanfaatan kanal-kanal, parit dan saluran air, untuk budidaya ikan dengan memasang tanggul,yang akan berfungsi sebagai sekat bakar. 5. Diseminasi teknologi BCF di Lahan Gambut dalam skala ekonomis sekaligus peningkatan capacity building tentang pentingnya restorasi gambut dan teknologi dan sistem BCF terhadap seluruh stakeholder lahan gambut perlu dilakukan. 6. Perlu pemetaan dan zonifikasi lahan gambut untuk memilah antara lokasi lahan gambut untuk konservasi dan lokasi untuk lahan produktif. Sistem daur ulang yang bersinergis secara biologi dan merupakan proses zero waste tanpa limbah. Konsep zero waste production system ini secara optimal memanfaatkan kembali seluruh by-product berupa limbah tanaman dan ternak kedalam proses siklus produksi guna menghasilkan produk yang bernilai ekonomis. Dalam sistem ini juga memasukkan aspek pengolahan hasil secara sederhana dan juga organisasi pengelolaannya (management system). Proses produksi pada sistem ini mencakup usahatani yang berdasarkan waktu panen dapat dibedakan atas siklus usahatani jangka panjang (kerbau, sapi, domba), usahatani jangka menengah (jagung, padi, nenas, dan Ikan, dll.), dan usahatani harian yang diwakili ternak unggas dan sayuran dll. Berdasarkan pengalaman dalam penerapan sistem ini di beberapa lahan pertanian (lahan kering, rawa lebak, dan rawa pasang surut) di Sumatera Selatan menunjukan bahwa sistem ini mampu mengatasi kendala kecilnya lahan pertanian;mampu mengatasi permasalahan konversi lahan pertanian; lebih tahan terhadap dampak negatif perubahan iklim; dapat mengatasi risiko kegagalan usaha tani; lebih menguntungkan keluarga petani;memperbaiki ekologi dan karagaman hayati; menunjang penyediaan pupuk organik;meningkatkan efisiensi pengunaan pupuk kimia; dan menunjang produktivitas lahan pertanian dan program swasembada pangan nasional. Sistem Pertanian BCF merupakan sistem yang menjamin keberlanjutan secara ekologi, ekonomi dan sosial, dan menjadi alternatif untuk mitigasi persoalan kebakaran dan dampak perubahan iklim lainnya. Gambar 1. Konsep Pertanian Terpadu sistem Bio-Cyclo-Farming (BCF) Sistem BCF ini selaras juga dengan konsep Agrosilvofishery yang diterapkan oleh Balai Litbang KONSORSIUM PETUAH PERGURUAN TINGGI UNTUK INDONESIA HIJAU MCA INDONESIA Page 2

LHK Palembang (Bustoni dan Tim Peneliti Balai Litbang LHK Palembang, 2017). Hanya dalam sistem BCF dimasukkan unsur ternak. MASALAH KEBAKARAN LAHAN GAMBUT Beberapa masalah terkait kerentanan kawasan budidaya lahan gambut terhadap kebakaran selama musim kemarau ditinjau dari aspek pemanfaatan untuk budidaya pertanian adalah: lahan mengering, lahan dibiarkan bera sehingga ditumbuhi gulma dan semak belukar, lahan ditanami secara monokultur (tanaman pangan semusim, tanaman sawit, atau tanaman akasia), rendahnya pengawasan lahan gambut tersebut. juga dilakukan dalam kolam Beje. Beje adalah kolam berukuran lebar 2-4 m, panjang 10-20 m, dalam 1-2 m di lahan gambut yang dibuat dekat sungai untuk menjebak dan sekaligus untuk memelihara ikan. Pada musim hujan kolam beje akan terluap air dari sungai sekitarnya, pada musim kemarau beje masih tetap berair dan dapat berfungsi sebagai sekat bakar. Jenis ikan yag dipelihara lele, sepat,gabus, betok, dan ikan lain yang adaptif dengan ekosistem gambut (Gambar 2). APLIKASI BCF DI LAHAN GAMBUT Kondisi ekologi lahan gambut yang terbakar secara umum sudah rusak sehingga perlu waktu untuk merestorasi dan memulihkannya kembali. Orientasi restorasi dan pengelolaan lahan gambut kedepan diarahkan untuk mencegah terjadinya kebakaran. Kunci keberhasilan tatakelola lahan gambut agar tidak mengalami kebakaran adalah dengan menjaga lahan gambut tersebut tetap dalam kondisi basah/lembabdan lahan selalu terutupi oleh tanaman dan tidak diberakan, serta selalu dalam pegawasan yang intensif oleh masyarakat (petani). Penerapan sistem pertanian terpadu BCF oleh masyarakat, secara tidak langsung menyebabkan masyarakat mengawasi hutan/lahan gambut yang mereka manfaatkan karena lahan itu juga sumber mata pencahariannya Secara umum aplikasi BCF di lahan gambut meliputi beberapa aktivitas yaitu: 1. Budidaya Ikan Ikan dapat dipelihara di lahan rawa gambut yang mempunyai suplai air minimal 4 bulan/tahun. Sepanjang saluran air yang banyak terbengkalai di lahan gambut dapat dipasang tanggul untuk menyekat parit/saluran sehingga terbentuk kolam yang memanjang. Budidaya ikan di lahan gambut Gambar 2. Skema penempatan kolam beje dan sekat parit sebagai media budidaya ikan dan sekat bakar di kawasan budidaya lahan gambut(najiati et. al., 2005) 2. Budidaya Tanaman Pemilihan jenis tanaman yang cocok di lahan gambut akan dapat mengurangi terjadinya kebakaran. Pemanfaatan lahan gambut dengan tanaman sukulen merupakan salah satu cara karena tanaman jenis ini mampu menyimpan persediaan air dalam bagian batang/daunnya.beberapa tanaman sukulen yang dapat dicobakan di lahan gambut tersebut adalah tanaman nenas, buah naga, lidah buaya, dan juga tanaman hijauan pakan rumput kumpay, serta tanaman lokal (indigenous species) lainnyaseperti Sagu, Ramin, Jelutung, Meranti, dll (Bustoni dan Tim Peneliti Litbang KLH Palembang, 2017). Tanaman industri tersebut memiliki nilai tambah yang jauh lebih tinggi karena aktivitas budidayanya tidak seintensif memelihara tanaman semusim dan tidak ada periode bera. Integrasi tanaman tersebut dengan budidaya ikan pada kanal-kanal, saluran air, parit dan kolam beje serta ternak yang memanfaatkan limbah pertanian dan rumput pakan diharapkan selain akan KONSORSIUM PETUAH PERGURUAN TINGGI UNTUK INDONESIA HIJAU MCA INDONESIA Page 3

mengurangi kebakaran juga akan dapat meningkatkan pendapatan petani, dan mempertahankan kesuburan tanah. 3. Budidaya Ternak Pemanfaatan lahan gambut dengan tanaman sukulen yang tidak rentan kebakaran dan hijauan pakan ternak menyediakan biomasa yang melimpah. Potensi hijauan dan limbah pertanian diolah menjadi silase yang dapat diawetkan dan menunjang pengembangan peternakan ruminansia (sapi, kerbau dan kambing).pemanfaatan sisa tanaman dengan diolah menjadi kompos dan diberikan ke ternak, dan selanjutnya limbah kotoran ternak diolah menjadi pupuk organik dan pupuk cair yang dikembalikan ke lahan, sehingga dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia dan penggunaan sarana produksi pertanian menjadi lebih efisien. Kotoran ternak untuk menghasilkan biogas untuk energy dan juga kompos untuk tanaman. 4. Pembentukan organisasi (kelembagaan) petani BCF lahan gambut Pembentukan organisasi (kelembagaan) pada sistem BCF ini sangat penting. Adanya organisasi memudahkan dalam upaya meningkatan kemampuan SDM pengelola BCF dan pengetahuan mereka terkait dengan pengelolaan lahan gambut yang benar dan berkelanjutan, serta sosialisasi program terkait pencegahan kebakaran. Berbagai topik sosialisasi dan pelatihan praktis yang penting adalah cara restorasi lahan dan hutan gambut melalui aplikasi BCF, cara mengelola sistem pertanian terpadu sistem BCF, teknik pengelolaan dan budidaya berbagai tanaman yang tidak rentan kebakaran, teknik pengelolaan tataair kolam/parit dan saluran air untuk budidaya ikan, teknik pengelolaan ternak dan pakan ternak, teknik pemanfaatan limbah, cara memadamkan api dan pengendalian kebakaran dll. Dengan aplikasi sistem pertanian terpadu BCF diharapkan adanya perubahan sikap dan pola pikir petani di daerah kawasan budidaya lahan gambut, tentang lahan gambut dan sistem pengelolaan lahan yang rentan kebakaran. Usahatani secara monokultur dapat diganti menjadi usahatani polikultur dengan banyak ragam usahatani integrasi berbagai jenis tanaman, ikan dan ternak. Sistem buka lahan yang selama ini sering dengan sistem bakar dapat dirubah dengan sistem yang lebih ramah lingkungan. ACKNOWLEDGEMENT This Policy Brief produced by Konsorsium PETUAH Perguruan Tinggi untuk Indonesia Hijau and funded by the Millenium Challenge Account (MCA) Indonesia REFERENSI Bastoni dan Tim Peneliti Balai Litbang LHK Palembang, 2017. Tanaman dan Teknik Revegetasi untuk Restorasi Ekosistem Gambut. Bahan Paparan Round Table Discussion (RTD) Konsorsium PETUAH-CoE PLACE, Swarna Dwipa, 2 Februari 2017. Munandar. 2011. Penerapan Model Sistem Pertanian Terpadu Bio-Cyclo Farming (BCF) Guna Meningkatkan Kesuburan Tanah, Pendapat Usaha Tani, Efisiensi Energi Dan Eberlanjutan Pertanian Di Lahan Marginal Pasang Surut. Laporan Akhir Insentif Riset: Percepatan Difusi Dan Pemanfaatan Iptek. Universitas Sriwijaya. Munandar, Fitra Gustiar, Yakup, Renih Hayati, Asep Indra Munawar. 2015. Crop-Cattle Integrated Farming System: An Alternative of Climatic Change Mitigation. Journal of Animal Science and Technology. Media Peternakan 38(2):95-103. Najiyati, S., Lili Muslihat dan I Nyoman N. Suyadiputra.2005, Panduan pengelolaan lahan gambut untuk pertanian berkelanjutan. Proyek Climate Change, Forest band Peatland in Idonesia. Wetlands International Indonesia Programme and Wildife Habitat Canada. Bogor, Indonesia. Sodikin, E., 2012. Alih Teknologi Budidaya Pertanian Terpadu Pada Lahan Sub-Optimal Basah Daerah KONSORSIUM PETUAH PERGURUAN TINGGI UNTUK INDONESIA HIJAU MCA INDONESIA Page 4

Pasang Surut dan Lebak Melalui Partisipasi Langsung Petani Lokal Laporan Akhir Insentif Riset Sinas. Pusat Unggulan Riset Pengembangan Lahan Suboptimal Universitas Sriwijaya. Authors Munandar dan Erizal Sodikin Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya The Konsorsium PETUAH Perguruan Tinggi untuk Indonesia Hijau MCA Indonesia policy briefs present research-based information in a brief and concise format targeted policy makers and researchers. Readers are encouraged to make reference to the briefs or the underlying research publications in their own publications. ISSN XXXX-XXXX Title: Mengurangi resiko kebakaran di lahan gambut melalui aplikasi sistem pertanian terpadu - bio-cyclo-farming Konsorsium PETUAH Perguruan Tinggi untuk Indonesia Hijau MCA Indonesia KONSORSIUM PETUAH PERGURUAN TINGGI UNTUK INDONESIA HIJAU MCA INDONESIA Page 5