BAB III METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE A. Jenis Penelitian B. Populasi dan Sampel C. Waktu dan Lokasi Penelitian D. Alat dan Bahan Rizki Indah Permata Sari,2014

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan 7 sampel dari 7

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus-Desember 2015 di Laboratorium

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian yang dilakukan dengan metode

BAB III METODE PENELITIAN

LAMPIRAN. Lampiran 1. Deskripsi Pembuatan Larutan Stok dan Buffer

FAKULTAS BIOLOGI LABORATORIUM GENETIKA & PEMULIAAN INSTRUKSI KERJA UJI

DAFTAR LAMPIRAN. Lampiran 1. Alur Kerja Subkultur Bakteri Penghasil Biosurfaktan dari Laut dalam Mendegradasi Glifosat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang , 2014 Isolasi DNA Genom Bakteri Termofilik Sumber Air Panas Ciengang, Kawah Darajat dan Hydrothermal Vent Kawio

METODE PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu

3. METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Secara garis besar langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini

III. Bahan dan Metode

BAB III METODE PENELITIAN Bagan Alir Penelitian ini secara umum dapat digambarkan pada skema berikut:

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini dilakukan lima tahap utama yang meliputi tahap

LAMPIRAN. Lampiran 1. Pembuatan Larutan Stok dan Buffer

Asam Asetat Glacial = 5,7 ml EDTA 0,5 M ph 8.0 = 10 ml Aquades ditambahkan hingga volume larutan 100 ml

BAB III METODE PENELITIAN. Biologi dan Laboratorium Biokimia, Departemen Kimia Fakultas Sains dan

BAB III METODE PENELITIAN

LAMPIRAN Lampiran 1: Komposisi dan Penyiapan Media Skim Milk Agar, Komposisi Media Feather Meal Agar, Komposisi Media Garam Cair.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian akan diawali dengan preparasi alat dan bahan untuk sampling

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dari empat primer yang

BAB III METODE PENELITIAN

bio.unsoed.ac.id METODE PENELITIAN A. Materi, Lokasi, dan Waktu Penelitian 1. Materi Penelitian

3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Bahan dan Alat

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. terdiri atas 5 perlakuan dengan 3 ulangan yang terdiri dari:

LAMPIRAN. Lampiran 1. Foto Lokasi Pengambilan Sampel Air Panas Pacet Mojokerto

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi

LAMPIRAN. Lampiran A: Alur Kerja Isolasi Bakteri Penghasil Biosurfaktan

LAMPIRAN. Lampiran 1. Komposisi Media MGMK Padat dan Cara Pembuatannya Bahan: Koloidal kitin 12,5% (b/v) 72,7 ml. Agar 20 g.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pada penelitian ini terdapat lima tahapan penelitian yang dilakukan yaitu

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2012 sampai dengan bulan Juni 2012 di

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN. Pengambilan sampel. Penyiapan templat mtdna dengan metode lisis sel

BAB III METODE PENELITIAN. lengkap (RAL) pola faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama adalah variasi

FAKULTAS BIOLOGI LABORATORIUM GENETIKA & PEMULIAAN INSTRUKSI KERJA UJI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rizki Indah Permata Sari,2014

Air Panas. Isolat Murni Bakteri. Isolat Bakteri Selulolitik. Isolat Terpilih Bakteri Selulolitik. Kuantitatif

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian dasar dengan metode

BAB III METODE PENELITIAN A.

LAMPIRAN. Lampiran 1. Komposisi Media Bushnell-Haas, Larutan Standar Mc. Farland, Larutan Orsinol

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian dasar dengan metode

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Termasuk

III. METODE KERJA. Penelitian ini telah dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas

BAB III METODE PENELITIAN. mengekstraksi DNA dari dari beberapa spesimen herbarium Rafflesia arnoldii

BAB III METODE PENELITIAN. variasi suhu yang terdiri dari tiga taraf yaitu 40 C, 50 C, dan 60 C. Faktor kedua

BAB III METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-November 2012 di

BAB III METODE PENELITIAN

II. MATERI DAN METODE. Tempat pengambilan sampel daun jati (Tectona grandis Linn. f.) dilakukan di

Deteksi DNA Seara Visual Dengan Teknik Elektroforesis

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2012 sampai bulan Desember 2012 di

II. METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai September 2014 di Green

III. METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Departemen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga,

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang dilakukan termasuk dalam penelitian dasar yang. dilakukan dengan metode deskriptif (Nazir, 1998).

Pengambilan sampel tanah dari lahan tambang timah di Belitung. Isolasi bakteri pengoksidasi besi dan sulfur. Pemurnian isolat bakteri

BAB III METODE PENELITIAN. amplifikasi daerah HVI mtdna sampel dengan menggunakan teknik PCR;

VISUALISASI HASIL PCR DENGAN METODE PCR LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG PADA SAMPEL BAKTERI Pseudomonas fluorescens dan Ralstonia solanacearum

Pembuatan Media Kultur Bakteri Pemanenan sel bakteri. Isolasi DNA kromosom bakteri. Kloning DNA

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni-November Penelitian ini

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada Desember 2014 Mei 2015 di. Laboratorium Mikrobiologi FMIPA Universitas Lampung.

dimana a = bobot sampel awal (g); dan b = bobot abu (g)

BAB III METODE PENELITIAN. A. Rancangan Penelitian. Pada metode difusi, digunakan 5 perlakuan dengan masing-masing 3

BAB III MATERI DAN METODE. pada suhu 70 C terhadap total bakteri, ph dan Intensitas Pencoklatan susu telah

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Oktober sampai Februari 2014, dengan

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biokimia dan Laboratorium Instrumentasi

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif.

METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Januari-Mei 2015 di Laboratorium

METODE PENELITIAN. Penelitian ini di laksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitianini dilaksanakandaribulanagustus - Desember 2015 di

BAB III METODE PENELITIAN. adalah Bacillus subtilis dan Bacillus cereus yang diperoleh di Laboratorium

II. BAHAN DAN METODE. Betina BEST BB NB RB. Nirwana BN NN RN. Red NIFI BR NR RR

TATA CARA PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur In Vitro Fakultas

BAB III METODE PENELITIAN. bersifat eksperimen karena pada penelitian menggunakan kontrol yaitu

BAB III METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. sampai Maret Pengambilan sampel tanah rizosfer Zea mays di Kecamatan

DEPARTEMEN BIOLOGI FMIPA USU LAMPIRAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini sudah dilaksanakan dari bulan Februari sampai bulan Juli 2013 di

1 0,53 0,59 2 0,3 0,2 3 0,02 0,02 4 0,04 0,04 5 0,3 0,3 Ilustrasi rangkaian isolasi DNA tersebut dapat dilihat pada Gambar 1 berikut.

3 Metodologi Penelitian

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai bulan Agustus 2013 di

BAB III METODE PENELITIAN

MATERI DAN METODE PENELITIAN

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Hewan coba Metode Penelitian 1 Isolasi dan Produksi Antigen E/S Fasciola gigantica

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Juli sampai September 2012,

Lampiran 1 Ekstraksi dan isolasi DNA dengan metode GeneAid

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada Oktober 2014 sampai dengan Februari

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juli sampai bulan September 2010 di

III. MATERI DAN METODE. Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim

Transkripsi:

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian dasar dengan metode deskriptif, yaitu metode penelitian yang dibuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir, 1988). B. Populasi dan sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bakteri termofilik asal perairan Ciengang, Kawah Darajat Garut dan populasi bakteri termofilik asal Hydrothermal vent, Kawio. Sampel yang digunakan diambil sebanyak 15 liter dari sumber air panas Ciengang dengan temperatur air 50 o C ph 7 dan 15 liter dari Kawah Darajat Garut dengan temperatur air 90 o C kondisi ph 3. Sedangkan sampel yang berasal dari kawasan hydrothermal vent memiliki temperatur air berkisar 250 300 o C dan keadaan ph 6,5. Jenis sampelnya merupakan campuran dari air panas dengan sedikit sediemen. Bakteri termofil asal kawasan hydrothermal vent Kepulauan Kawio di enrichment pada medium Buhsnell Haas Mineral Salt (BHMS) dengan penambahan sumber karbon (glukosa dan gliserol) dengan volume medium masing-masing mencapai 500 ml pada suhu 60 ºC. C. Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah DNA dari bakteri termofilik sumber air panas Ciengang, Kawah Darajat Garut dan Asal hydrothermal vent Kawio yang di enrichment pada medium Buhsnell Haas Mineral Salt (BHMS). D. Waktu dan Lokasi Penelitian Waktu penelitian ini dimulai dari bulan September 2014 sampai bulan Januari 2015. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Rekayasa Genetika gedung

39 Pusat Antar Universitas (PAU), Sekolah Ilmu Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, dan Laboratorium Mikrobiologi FPMIPA UPI. Sedangakan Waktu pelaksaanaan pengambilan sampel pada bulan Desember 2014 di sumber mata air Ciengang, Garut dan Januari 2015 pengambilan sampel air panas di Kawah Darajat, Garut. E. Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdapat di Laboratorium Rekayasa Genetika gedung Pusat Antar Universitas Institut Teknologi Bandung. Daftar alat dan bahan yang digunakan tercantum dalam Lampiran I. F. Prosedur Penelitian 1. Tahap Persiapan Persiapan penelitian meliputi sterilisasi alat dan bahan, pembuatan medium untuk pengkayaan bakteri, isolasi genom dan elektroforesis. Medium tumbuh yang digunakan adalah medium Buhsnell Haas Mineral Salt (BHMS). Alat-alat yang digunakan dicuci terlebih dahulu dan dikeringkan kemudian dibungkus dengan plastik tahan panas yang selanjutnya disterilisasi panas lembab pada autoklaf dengan suhu 121 C tekanan 1,5 atm selama 10-15 menit. a. Pengambilan sampel Sampel diambil pada daerah Ciengang yang termasuk kedalam kecamatan Tarogong Kaler dan Kawah Darajat, Garut. Sampel diambil sekitar 5-15 liter sampel air. Parameter yang diukur pada saat pengambilan sampel yaitu suhu air dengan menggunakan thermometer alkohol yang dicelupkan selama 3 menit pada titik pengambilan sampel setelah suu air mencapai batas maksimal maka hasil pengukuran suhu tersebut dicatat. Selain pengukuran suhu, parameter yang kedua yatu pengukuran ph dengan menggunakan ph universal (Merk) yang dicelupkan ke permukaan air kemudian bandingkan hasil dengan menyesuaikan standar pengukuran p sesuai warna ph yang tertera. Sampel air sebanyak 5-15 liter

40 dimasukkan kedalam termos atau botol steril dan ditutup dengan rapat bisa menggunakan alumunium foil dan plastik yang diikat rapat menggunakan karet yang selanjutnya sampel air tersebut dibawa ke Laboratorium untuk di isolasi. b. Pembuatan Medium Campuran BHMS dan sumber karbon Gliserol dan Glukosa Bushnell Haas Mineral salts (BHMS) digunakan sebagai medium pertumbuhan bakteri dari sampel air hydrothermal vent Kawio dibuat masingmasing terlebih dahulu secara terpisah. Medium BHMS cair disiapkan dengan komposisi 1 g/l KH 2 PO 4, 0,2 g/l K 2 HPO 4, 0,2 g MgSO 4.7H 2 O, 0,02 g CaCl 2, 1 g NH 4 NO 3 dan 2 tetes FeCl 3 60% kemudian ditambahkan aquades sampai 1 liter (Cappello et al., 2012). Selanjutnya ditambahkan 30 mm gliserol ke dalam larutan medium BHMS setelah itu, adjust ph sampai 7,0 ± 0,2. Setelah medium selesai dibuat secara terpisah, kemudian langkah selanjutnya adalah membuat medium campuran Buhsnell Haas Mineral Salt (BHMS) disterilisasi dengan cara dimasukan ke dalam autoclave selama 15 menit pada suhu 121ºC. 2. Tahap Penelitian a. Enrichment Sampel air laut dalam telah diambil dari kawasan hydrothermal vent Kawio. Sampel yang dikumpulkan berupa air laut dan jumlahnya terbatas. Maka untuk memperkaya sampel dan menghindari terjadinya degradasi jumlah bakteri, dilakukan metode pengayaan (enrichment). Pengayaan dilakukan dengan menggunakan medium Buhsnell Haas Mineral Salt (BHMS). Sebanyak 10% sampel air laut dalam Kawio ditambahkan ke dalam 10 ml medium Buhsnell Haas Mineral Salt (BHMS). Penambahan ini dilakukan secara steril di dalam laminar air flow untuk mencegah adanya kontaminasi. Kemudian diinkubasi dalam suhu 60 o C. Setelah inkubasi overnight atau hingga sampel terlihat keruh, sebanyak 10% sampel hasil inkubasi diinokulasikan kembali ke dalam 100 ml medium Buhsnell Haas Mineral Salt (BHMS) dengan inkubasi pada keadaan yang sama. Baru setelah itu sampel hasil inkubasi diperbanyak dengan menginokulasikan 10%

41 sampel sampai diperoleh volume sampel dengan hasil yang maksimal, kemudian dapat digunakan untuk pengamatan dengan inkubasi pada keadaan yang sama. b. Pengukuran Optical Density (OD) Pengukuran Optical Density (OD) dilakukan dengan metode langsung berdasarkan turbiditas. Alat yang digunakan yaitu spektrofotometer. Pengecekan OD dilakukan setiap 1-2 jam sekali dengan cara 1 ml sampel dimasukkan ke dalam kuvet. Panjang gelombang yang digunakan yaitu 600 nm. c. Isolasi Genom 1. Preparasi CTAB: Dalam tahap preparasi CTAB langkah awal adalah dengan mempersiapkan Buffer CTAB, Buffer TE, isopropanol, etanol 70% dan etanol 95%. Simpan Isopropanol, etanol dan ammonium acetat pada lemari es -20 o C. Campurkan 5 ml buffer CTAB, 0,2 gram polivinylphyrrolidone (PVP) dan 25 µl beta mercaptoetanol. Kemudian, campuran buffer CTAB dan kertas saring dimasukan kedalam waterbath shaker dengan suhu 60 o C inkubasi selama 1 jam. Selama proses inkubasi aduk buffer per 30 menit dan akan terbentuk gelembung jika terjadi guncangan yang cepat (Hidayat et al., 2012) 2. Isolasi dengan metode CTAB Metode isolasi CTAB berdasarkan metode Marshall (2011) dengan sedikit modifikasi oleh Hidayat et al., (2012). Langkah awal Sebelum sampel diisolasi, Saring sampel air yang mengandung bakteri asal hydrothermal vent, Ciengang dan Kawah Darajat Garut. Saring sampel dengan menggunakan kertas saring microfiber ukuran pori 0,2 µm. Setelah sampel disaring, kemudian ambil masingmasing kertas penyaring sampel asal hydrothermal vent Kawio, Ciengang dan Kawah Darajat Garut setelah itu masukan kertas saring kedalam 15 ml buffer CTAB, homogenkan dengan cara di bolak-balik tabung 2-3 kali, setelah itu

42 inkubasi dalam waterbath 55 o C selama 1 jam. Lakukan pengadukan per 30 menit. Isolasi dilakukan dengan mengambil 3 ml kultur dari buffer CTAB masukkan kedalam tabung mikro kemudian sentrifugasi 14.000 rpm selama 1 menit. Supernatan yang terbentuk dibuang sehingga hanya pellet yang tersisa. Pellet hasil sentrifugasi ditambahkan dengan 1 ml kloroform: isoamil alkohol v/v (24:1) sentrifugasi selama 7 menit dengan kecepatan 13.200 rpm, ambil fasa atas pindahkan pada tabung yang baru hitung fasa air dan masukkan 0.08 µl ammonium acetat : isopropanol sebanyak 0,54 µl. Homogenkan campuran fasa tersebut dengan membolak-balik tabung sebanyak 30x atau diresuspensi menggunakan tips hingga tercampur rata. Setelah tercampur rata, kemudian disimpan dalam freezer -20 o C selama 40 menit. Sentrifugasi kembali dengan kecepatan 13.200 rpm, buang supernatan masukkan 700 µl etanol 70%, invert hingga homogen, sentrifuge sampel selama 1 menit dengan kecepatan 13.200rpm. Buang supernatan masukkan 700 µl etanol 75%, invert hingga homogen, sentrifuge sampel selama 1 menit dengan kecepatan 13.200 rpm. Supernatan yang terbentuk dibuang hingga tersisa pelletnya kemudian pelletnya dikeringkan pada suhu ruang. Setelah itu dilarutkan dengan menambahkan 25 µl TE buffer ph 8,0. Flick hingga homogen. Disimpan pada suhu -20 o C. d. Uji Kemurnian dengan Spektrofotometer Cara kerja pengujian kuantitatif DNA genom hasil isolasi diukur melalui spektrofotometri sinar ultra violet dengan alat spektrofotometer UV Genesis, Thermocientific. Sampel DNA genom hasil isolasi diambil sebanyak 2 µl dan diencerkan dengan deion sampai 50x pengenceran. Sampel DNA genom yang sudah diencerkan kemudian dimasukkan ke dalam tabung kuvet khusus selanjutnya dimasukkan ke dalam alat spektrofotometer. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan nilai absorbansi pada panjang gelombang 260 nm dan 280 nm. Uji. Kemurnian genom DNA dapat diukur dengan menghitung nilai absorbansi 260 nm dibagi dengan nilai absorbansi 280 nm (Å 260 / Å 280), sedangkan untuk mengukur konsentrasi DNA digunakan rumus sebagai berikut:

43 Keterangan: [DNA] = Å 260 x 50 x faktor pengenceran Å 260 = Nilai absorbansi pada 260 nm 50 = Larutan dengan nilai absorbansi 1,0 sebanding dengan 50 µg untai ganda DNA per ml Nilai purity DNA ditentukan oleh tingkat kontaminasi protein dan fenol dalam larutan. Molekul DNA dikatakan murni jika Å 260 / Å 280 tersebut berkisar antara 1,8 2,0. Jika nilai rasio Å 260 / Å 280 lebih kecil dari 1,8 maka masih ada kontaminasi protein, sedangkan apabila nilai rasio Å 260 / Å 280 lebih besar dari 2,0 maka masih ada kontaminasi fenol di dalam larutan DNA (Sulandari and M. Zein, 2003). e. Elektroforesis Gel Agarose Tahap elektroforesis dimulai dengan menyiapkan gel agarosa 0,7% untuk dicetak pada cetakan gel yang telah dipasang sisir sebagai sumur. Panaskan gel agrose yang baru dibuat diamkan hingga hangat kuku dan tuangkan kedalam cetakan setelah gel agarose dingin atau membeku kemudian ambil dan letakkan pada kolom elektroforesis. Tuangkan buffer TAE 1x kedalam kolom elektroforesis hingga gel agarose terendam. Line pertama pada sumur dimasukkan 8 µl marker (ladder 1 kb DNA), line berikutnya diisi dengan 3 µl sampel hasil isolasi genom yang dicampurkan dengan 2 µl loading dye. Setelah itu tegangan dipasang 100 volt dengan waktu elektroforesis selama 25 menit. DNA hasil running di elektroforesis kemudian diambil dan diberi pewarnaan dengan cara direndam dalam larutan Ethidium Bromide (EtBr) selama 3 menit, setelah itu bilas dengan aquadest untuk membuang kelebihan EtBr. Setelah diberi pewarnaan maka potongan pita dapat diamati pada UV transilluminator. Fragmen DNA yang muncul didokumentasikan dengan menggunakan kamera digital. Penggunaan etidium bromida yaitu untuk mengikat DNA yang akan berfluoresensi di bawah sinar UV dan dapat memungkinkan visualisasi DNA pada sebuah Gel. Etidium bromida adalah mutagen yang kuat dan cukup beracun. Sarung tangan harus

44 dipakai setiap saat. (Wibowo. 2008). Hasil elektroforesis akan didapatkan pitapita protein yang terpisahkan berdasarkan berat molekulnya. Tebal tipisnya pita yang terbentuk dari pita protein menunjukkan kandungan atau banyaknya protein yang mempunyai berat molekul yang sama yang berada pada posisi pita yang sama. Hal ini sejalan dengan prinsip pergerakan molekul bermuatan, yakni molekul bermuatan dapat bergerak bebas di bawah pengaruh medan listrik, molekul dengan muatan dan ukuran yang sama akan terakumulasi pada zona atau pita yang sama atau berdekatan (Retnoningrum, 2007). Hasil positif elektroforesis gel agarosa adalah munculnya pita yang berpendar jika gel dilihat di bawah sinar UV. Hasil negatif elektroforesis gel agarosa adalah tidak adanya pita yang berpendar jika gel agarosa dilihat di bawah sinar UV. f. Analisis Data Analisis data pada penelitian dengan pengujian DNA genom hasil isolasi dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif dilakukan menggunakan elektroforesis pada gel agarosa dan secara kuantitatif dilakukan dengan melihat rasio A260/A280 pada alat spektrofotometer UV. Data yang diperoleh kemudian dibahas sesuai dengan acuan teori yang ada.

45 G. Alur Penelitian Penjelasan mengenai prosedur penelitian dapat dilihat dalam bentuk diagram, yaitu sebagai berikut: Preparasi alat dan bahan penelitian Preparasi medium BHMS+sumber karbon Pengambilan sampel dari air panas Ciengang, Garut Pengambilan sampel dari air panas Kawah Darajat Garut Enrichment bakteri dalam BHMS Pengukuran OD bakteri Pengukuran suhu dan ph sampel Pengukuran suhu dan ph sampel Sampel hasil Enrichment bakteri asal Hydrothermal vent, Kawio 5-15 Liter sampel air panas dari Ciengang, Garut 5-15 Liter sampel air panas diambil dari Kawah Darajat, Isolasi DNA dengan metode CTAB Elektroforesis hasil isolasi DNA metagenomik Uji kemurnian DNA Analisis hasil Kesimpulan Penyusunan Laporan Skripsi Gambar 3.1. Diagram Alur Penelitian