Jurnal E-Journal Studia Manajemen

dokumen-dokumen yang mirip
Analisis Manajemen Persediaan Bahan Baku pada Perusahaan Base Camp Clothing dengan Menggunakan Metode Economic Order Quantity ( EOQ)

ANALISIS PENETAPAN HARGA POKOK PRODUKSI SEBAGAI DASAR PENENTUAN HARGA JUAL PADA PT VENEER PRODUCTS INDONESIA

PENGENDALIAN PERSEDIAAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE ECONOMIC ORDER QUANTITY DAN SILVER MEAL ALGORITHM (STUDI KASUS PT SAI)

Jurnal Studia Akuntansi dan Bisnis

Jurnal Studia Akuntansi dan Bisnis

Prosiding Manajemen ISSN:

Keywords: Information Systems Salaries and Wages, Salaries and Wages Accuracy

Jurnal E-Journal Studia Manajemen

BAB III LANDASAN TEORI

ANALISA PENERAPAN TEKNIK LOT SIZING DALAM UPAYA MENGENDALIKAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU DI PT. PAKINDO JAYA PERKASA

BAB I PENDAHULUAN. tujuan yang diinginkan perusahaan tidak akan dapat tercapai.

ANALISIS PENENTUAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU KEDELAI YANG OPTIMAL DENGAN MENGGUNAKAN METODE STOCKHASTIC PADA PT. LOMBOK GANDARIA

ANALISIS PENETAPAN HARGA POKOK PRODUKSI SEBAGAI DASAR PENENTUAN HARGA JUAL PADA PT VENEER PRODUCTS INDONESIA

PENENTUAN KUANTITAS PERSEDIAAN BAHAN BAKU GUNA MENUNJANG KELANCARAN PRODUKSI (Studi Kasus di Pt Indonesia Rubber Pandaan Pasuruan) Suharmiaty

MODEL PERSEDIAAN TERINTEGRASI PADA SISTEM SUPPLY CHAIN YANG MELIBATKAN PEMASOK, PEMANUFAKTUR DAN PEMBELI

Prosiding Manajemen ISSN:

BAB I PENDAHULUAN. dalam penelitian ini. Bagian ini menjelaskan tentang latar belakang, rumusan

BAB II LANDASAN TEORI

Analisis Jumlah Produksi Kerudung Pada RAR Azkia Bandung Dengan Metode Economic Production Quantity (EPQ)

Analisis Hubungan Fungsi Pemasaran.Rika Destriany

Jurnal E-Journal Studia Manajemen

ANALYSIS OF CEMENT AS RAW MATERIAL INVENTORY ON READY MIX PRODUCTION UNIT AT PT. PERDANA BETON IN SAMARINDA

Yehezkiel Alianto Topowijono Devi Farah Azizah Fakultas Ilmu Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya

BAB 2 LANDASAN TEORI

PERBANDINGAN SISTEM ECONOMIC ORDER QUANTITY DAN JUST IN TIME PADA PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU Mayora Hayundra Maharani, dan Mustafa Kamal 1

BAB I PENDAHULUAN. dengan pesat di indonesia, pengusaha dituntut untuk bekerja dengan lebih efisien

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dunia usaha yang begitu cepat di era Globalisai ini baik di

BAB I PENDAHULUAN. salah satunya dipengaruhi oleh pengendalian persediaan (inventory), karena hal

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

USULAN PERENCANAAN PRODUKSI DAN PERSEDIAAN TERINTEGRASI PT P&P LEMBAH KARET TUGAS AKHIR. Oleh FERDIAN REFTA AFRA YUDHA

PENERAPAN METODE FULL COSTING SEBAGAI DASAR PERHITUNGAN HPP DALAM MENENTUKAN HARGA JUAL PRODUK DUPA PADA UD GANESHA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. berkembang pesat. Setiap perusahaan berlomba-lomba untuk menemukan

ANALISIS PERSEDIAAN BAHAN BAKU KEDELAI PADA INDUSTRI TAHU AFIFAH DI KELURAHAN NUNU KECAMATAN TATANGA KOTA PALU

ERYANA PURNAWAN Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Siliwangi

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan perusahaan adalah untuk mendapat keuntungan dengan biaya

Model Persediaan Just In Time (JIT) Terintegrasi dengan Mengakomodasi Kebijakan Material

PENGARUH PENGENDALIAN KUALITAS TERHADAP JUMLAH PRODUK CACAT PADA PERUSAHAAN SURYA JAYA TASIKMALAYA. Agnes Sekarini

EFFECT OF ACCOUNTING PROGRAM DEVELOPMENT BANK STATEMENT OF FINANCIAL ACCOUNTING STANDARDS BASED ON THE FINANCIAL DISTRICT IN BMT TEGAL

PENGGUNAAN METODE EOQ DAN EPQ DALAM MEMINIMUMKAN BIAYA PERSEDIAAN MINYAK SAWIT MENTAH (CPO) (Studi Kasus : PT. XYZ)

DIPONEGORO JOURNAL OF SOCIAL AND POLITIC Tahun 2013, Hal

ABSTRACT. Keywords: EOQ (Economic Order Quantity), inventories of raw materials. vii Universitas Kristen Maranatha

ORDER QUAANTITY (EOQ).

PENGARUH VOLUME KARGO IMPOR TERHADAP TINGKAT IRREGULARITY BARANG IMPOR

PENGARUH BIAYA PEMASARAN TERHADAP LABA PADA PT. PRIMA KARYA MANUNGGAL KABUPATEN PANGKEP

Keywords: 240 ml Glass Raw Material, Control Analysis, Inventory of Raw Materials

BAB I PENDAHULUAN. Pada saat ini tidak sedikit industri konveksi/industri pakaian jadi

DAFTAR ISI. Halaman. 1.1 Latar Belakang Penelitian Identifikasi Masalah Maksud dan Tujuan Penelitian Kegunaan Penelitian.

NASKAH PUBLIKASI ANALISIS EFISIENSI PERSEDIAAN BAHAN BAKU INDUSTRI ABON LELE KARMINA DI KABUPATEN BOYOLALI. Program Studi Agribisnis

ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU KAIN KEMEJA POLOSHIRT MENGGUNAKAN METODE ECONOMIC ORDER QUANTITY (EOQ) DI PT BINA BUSANA INTERNUSA

BAB 2 LANDASAN TEORI

Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Tauco di Perusahaan Kecap Manalagi Kota Denpasar Provinsi Bali

MANAJEMEN KEUANGAN. Kemampuan Dalam Mengelola Persediaan Perusahaan. Dosen Pengampu : Mochammad Rosul, Ph.D., M.Ec.Dev., SE. Ekonomi dan Bisnis

ABSTRAK. Kata-kata kunci: kompensasi, dan motivasi karyawan. vi Universitas Kristen Maranatha

BAB IV PENUTUP. bermanfaat bagi perusahaan jika perusahaan menerapkan metode EOQ pada

PENGARUH BIAYA KUALITAS TERHADAP PENENTUAN HARGA POKOK PRODUKSI PADA PERUSAHAAN CAHAYA BARU PUTRA

ANALISIS MARKOV CHAIN TERHADAP PERSEDIAAN: STUDI KASUS PADA CV SINAR BAHAGIA GROUP

Bab 1. Pendahuluan. Persediaan bahan baku dalam perusahaan industri memegang peranan yang

HUBUNGAN ANTARA PENEMPATAN PEGAWAI DENGAN PRESTASI KERJA PADA BIRO KEPEGAWAIAN SEKRETARIAT JENDERAL KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA

PENGARUH JUMLAH PERSEDIAAN BAHAN BAKU, KAPASITAS MESIN DAN JUMLAH TENAGA KERJA TERHADAP VOLUME PRODUKSI PADA CV SANYU PAINT TROPODO SIDOARJO SKRIPSI

OLEH : IKA SUSANTI EFFENDY

ANALISIS MANAJEMEN PERSEDIAAN PADA PT. KALIMANTAN MANDIRI SAMARINDA. Oleh :

Prosiding Manajemen ISSN:

EFISIENSI PENGGUNAN MODAL KERJA PADA PERUSAHAAN MEUBEL SEYLA. Oleh : LCA Robin Jonathan Dosen Fakultas Ekonomi Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda

Agung Wahyu Prayogo Dwiatmanto Devi Farah Azizah Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang

Bab 2 LANDASAN TEORI

UNNES Journal of Mathematics

PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI DENGAN METODE HARGA POKOK PESANAN (Studi pada UD. GALIH JATI Semarang)

ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BERAS PADA UD BINTANG USAHA DI KECAMATAN MUAI KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Evaluasi Pengendalian Persediaan di PT XYZ

( : WETTY ANGGUN WERTI JURUSAN STATISTIKA FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

HUBUNGAN LOKASI USAHA DENGAN KEPUTUSAN PEMBELIAN KONSUMEN TOKO QINI MART CISAYONG KABUPATEN TASIKMALAYA Oleh, Fentri ; 1 Arnasik; 2

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. Kecenderungan semakin maju dan berkembangnya perekonomian kota Malang membuat

COST OF QUALITY. EMA503 Manajemen Kualitas. h t t p : / / t a u f i q u r r a c h m a n. w e b l o g. e s a u n g g u l. a c. i d

BAB II. organisasi mulai dari perencanaan sistim operasi, perancangan sistim operasi hingga

SISTEM INFORMASI MANUFAKTUR PADA CV. MEGA DESIGN PALEMBANG

EMA503 - Manajemen Kualitas Materi #5 Ganjil 2016/2017. EMA503 - Manajemen Kualitas

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dalam proses produksi selama satu periode (Soemarso, 1999:295). bahan baku menjadi produk selesai.

BAB III PEMBAHASAN. telah mengembangkan konsep biaya menurut kebutuhan mereka masing-masing. akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu.

PENGARUH KUALITAS PRODUK, HARGA, DAN PROMOSI TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN MOBIL DAIHATSU AYLA DI DAERAH SEBERANG ULU KOTA PALEMBANG

ANALISIS LABA PADA PT. EIRENE HUMINDO PERKASA SAMARINDA SETELAH PERUBAHAN SISTEM SAMPLER HARIAN MENJADI TENAGA BORONGAN

BAB I PENDAHULUAN. jumlahnya cukup besar dalam suatu perusahaan. Jenis sediaan yang ada dalam

BAB III PEMBAHASAN. ekonomi, dan pihak lainnya yang telah dikembangkan berdasarkan kebutuhan dan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam perkembangan perekonomian sekarang ini, perusahaan dituntut untuk

PENGARUH MOTIVASI, DISIPLIN KERJA, DAN KEPUASAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN BAGIAN PRODUKSI PT. PERTAMINA RU VI BALONGAN

Kata kunci : Efisiensi Biaya, Pendapatan, Biaya, Pelaku Budidaya Bibit Jamur Tiram

PENGARUH AUDIT OPERASIONAL DALAM MENINGKATKAN EFISIENSI DAN EFEKTIFITAS TERHADAP KINERJA PEMBELIAN PADA PT ENVIROLAB NUSANTARA

VII PERENCANAAN PENGADAAN PERSEDIAAN TUNA

Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Investasi Aktiva Tetap STUDI KASUS PADA PT UNILEVER INDONESIA TBK DAN PT MANDOM INDONESIA TBK

Transkripsi:

Jurnal E-Journal Studia Manajemen ISSN 2337-912X Vol.2 No.1 Analisis Biaya Pembelian Bahan Baku Terhadap Jumlah Produksi Pada CV. Shaniqua Marigold Bamboo Di Rangkasbitung Bambang P Purwoko*, Ratna Handayani**, Yumhi***, Jauhar Latifah**** * STIE La Tansa Mashiro, Rangkasbitung ** STIE La Tansa Mashiro, Rangkasbitung *** STIE La Tansa Mashiro, Rangkasbitung **** STIE La Tansa Mashiro, Rangkasbitung Article Info Keywords: Raw material, Production. Corresponding Author: Bambang.pp@gmail.com Abstract Purchasing is one of the important functions in the success of the company's production, because this function has the responsibility to obtain raw materials at the quantity and quality is good and according to need. The study population was all over raw material purchasing data since the founding of the company and the sample is a raw material purchasing data and the amount of production for 10 months ie from January to October 2010 using the research instrument Likert scale (1-5). Data analysis techniques used are (1) the correlation coefficient, (2) the coefficient of determination, and (3) testing the hypothesis by using t test. The results showed that there is a strong relationship between the cost of purchase of raw materials and production quantities. Pembelian (Purchasing) merupakan salah satu fungsi penting dalam menunjang keberhasilan produksi perusahaan, karena fungsi ini mempunyai tanggung jawab untuk mendapatkan bahan baku dengan kuantitas dan kualitas yang baik dan sesuai dengan kebutuhan. Populasi penelitian ini adalah seluruh data pembelian bahan baku sejak berdirinya perusahaan dan sampelnya adalah data pembelian bahan baku dan jumlah produksi selama 10 bulan yaitu dari bulan Januari

e-jurnal Management Volume 2 Nomor 1 Tahun 2013 ISSN 2337-912X LPPM STIE La Tansa Mashiro s.d Oktober 2010 dengan menggunakan instrument penelitian skala likert (1-5). Teknik analisis data yang digunakan adalah (1) koefisien korelasi, (2) koefisien determinasi, dan (3) pengujian hipotesis dengan menggunakan uji t hitung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara biaya pembelian bahan baku dan jumlah produksi. Pendahuluan Dalam perkembangan dewasa ini khususnya bagi perusahaan yang bergerak di bidang produksi, produksi merupakan suatu fungsi yang sangat penting yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Kegiatan produksi dilakukan oleh suatu perusahaan tentu mempunyai beberapa maksud tertentu, antara lain adalah mencapai jumlah produksi yang diharapkan dengan biaya yang sesuai. Besar kecilnya jumlah produksi sebenarnya relatif bagi tiap pengrajin bambu, karena bisa jadi secara kuantitas jumlah produksinya besar tetapi secara rupiah jumlah produksi tersebut menjadi kecil karena harga jual yang rendah. Ataupun secara kuantitas jumlah produksinya kecil tetapi secara rupiah menjadi besar karena perusahaan dapat memperoleh harga jual yang tinggi. Thompson (Arnold, Minner, dan Eidam, 2009) menganalisis masalah perdagangan gandum di mana spekulan membeli dan menjual komoditas dimana laba ditentukan oleh pendapatan dari penjualan komoditas, biaya pembelian bahan baku, dan biaya penyimpanan persediaan. Jumlah produksi yang besar secara kuantitas akan tidak ada artinya apabila perusahaan mengalami kerugian karena harga jual keseluruhan kerajinan bambunya tidak bisa menutup biaya produksi langsung (biaya pembelian bahan baku) yang telah dikeluarkan. Jumlah produksi yang kecil secara kuantitas akan lebih berarti bila perusahaan dapat tetap memperoleh keuntungan karena mendapat harga jual keseluruhan kerajinan bambu yang lebih besar dari biaya produksi langsung (biaya pembelian bahan baku) yang telah perusahaan keluarkan. Liu dan Yang (dalam Sana, 2011) dalam mengurang kerugian dapat memperhatikan sistem produksi yang memiliki proses tidak sempurna dengan

membagi sistem produksi dalam dua bagian yakni; (1) reworkable, dimana dikirim untuk pengerjaan ulang; dan (2) non-reworkable, segera dibuang dari dana sistem hal ini akan mengoptimalkan total produksi sehingga memiliki waktu yang lebih panjang dari siklus produksi agar dapat dimaksimalkan kualitas produk. Murti Sumarni dan Soeprihanto (2005) mengatakan bahwa produksi adalah semua kegiatan untuk menciptakan dan menambahkan kegunaan suatu barang atau jasa, dengan memanfaatkan faktor-faktor produksi yang tersedia. Sedangkan menurut pendapat Subagyo (2000) setiap perusahaan harus merencanakan sejauh mana tingkat aktivitasnya, supaya tidak terlalu kecil dan tidak berlebihan. Terlalu kecil akan rugi karena biaya operasi mahal dan mengecewakan pelanggan. Terlalu besar akan menyebabkan pemborosan, biaya penyimpanan yang mahal, penurunan harga dan turunnya kualitas barang jadi yang mengalami penyimpanan. Sehingga jumlah barang yang dibuat harus direncanakan dengan tepat. Hal ini sesuai dengan pendapat Goyal dan Cárdenas-Barron (2002) yang menyatakan bahwa jumlah barang akan tepat atau tidaknya perlu mempertimbangkan produk berkualitas yang tidak sempurna, pertama kenaikan dalam total produksi ketika nilai persentase produk cacat meningkat. Kedua, penurunan dalam pengiriman produksi ketika kenaikan biaya transportasi. Ketiga, jumlah pengiriman, ukuran produksi dan ukuran peningkatan permintaan. Pembelian (Purchasing) merupakan salah satu fungsi penting dalam menunjang keberhasilan produksi perusahaan, karena fungsi ini mempunyai tanggung jawab untuk mendapatkan bahan baku dengan kuantitas dan kualitas yang baik dan sesuai dengan kebutuhan, harga yang layak, dan penyerahan tepat waktu yang sesuai dengan ketentuan. Biaya pembelian bahan baku pada perusahaan mencakup sejumlah biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk melaksanakan proses produksinya yang selanjutnya akan menentukan jumlah yang diproduksi. Menurut Baroto (2002) mengatakan bahwa biaya pembelian adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan pemesanan ke pemasok, yang besarnya biasanya tidak dipengaruhi oleh jumlah pemesanan

Harga dari bahan baku yang akan dipergunakan dalam jumlah produksi merupakan salah satu faktor penentu terhadap persediaan bahan baku yang akan diselenggarakan didalam perusahaan. Hal ini disebabkan karena harga dari bahan baku yang akan dipergunakan didalam perusahaan akan menjadi faktor penentu seberapa besarnya dana yang harus disediakan oleh perusahaan apabila perusahaan akan menyelenggarakan persedian bahan baku dalam jumlah unit tertentu. Sehubungan dengan masalah ini, maka besarnya biaya modal yang harus ditanggung oleh perusahaan tentunya harus diperhitungkan dengan baik pula, semakin tinggi bahan baku yang dipergunakan oleh perusahaan tersebut, maka untuk mencapai sejumlah persediaan tertentu akan di perlukan dana yang semakin besar pula. Proses produksi akan berjalan lancar apabila faktor-faktor produksinya dapat terpenuhi dengan baik. Untuk mendapatkan berbagai faktor-faktor produksi. Seperti modal, tenaga kerja, sumberdaya, dan teknologi maka diperlukan biayabiaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk yang dapat mendatangkan manfaat dimasa datang yang biasanya berupa laba maupun sisa hasil usaha. Produksi suatu produk akan selalu memerlukan bahan mentah atau bahan baku, tenaga kerja langsung, dan hal-hal lainnya yang secara tidak langsung mendukung produksi tersebut. Demikian pula yang terjadi di CV. Shaniqua Marigold Bamboo Rangkasbitung, perusahaan memerlukan biaya produksi langsung yang berupa biaya bahan baku untuk pembelian bambu, rotan dan besi sebagai bahan penolong, serta biaya tenaga kerja langsung, untuk dapat menjalankan usahanya (berproduksi) hingga akhirnya mereka dapat menikmati keuntungan dari memproduksi kerajinan bambu tersebut. Agar hasil produksi dapat optimal maka diperlukan biaya produksi yang cukup pula. Penggunaan input (faktor-faktor produksi) harus proporsional dengan output yang dihasilkannya (jumlah produksi) sehingga keuntungan yang diperoleh dapat maksimal. Akan tetapi dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul seperti kenaikan bahan bakar minyak yang menyebabkan kenaikan biaya produksi, dan penurunan permintaan konsumen, maka perusahaan harus pandai-

pandai mengelola dan mencari kombinasi yang tepat dalam menggunakan faktorfaktor produksi sehingga dapat memperoleh hasil produksi yang optimal dengan biaya yang minimal. Keterkaitan antara biaya pembelian bahan baku dengan jumlah produksi pada CV. Shaniqua Marigold Bamboo yaitu biaya pembelian bahan baku meliputi jumlah biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan baku yang digunakan setelah dikalikan dengan harga pembelian dan atas dasar biaya tim penebangnya, yang kemudian ditambahkan dengan biaya transportasi dan biaya pemesanan. Sedangkan jumlah produksi meliputi hasil kerajinan bambu yang dihasilkan per unit. Berikut adalah gambar kerangka pemikiran dalam penelitian ini : Biaya Pembelian Bahan Baku Jumlah Produksi Gambar 1 Kerangka Berpikir Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, perumusan hipotesa penelitian ini adalah terdapat pengaruh positif biaya pembelian bahan baku terhadap jumlah produksi pada CV. Shaniqua Marigold Bamboo Di Rangkasbitung. Metodologi Penelitian Objek penelitian ini dilakukan pada CV. Shaniqua Marigold Bamboo di Rangkasbitung - Banten. Lama penelitian yang penyusun lakukan yaitu dari Agustus sampai dengan Oktober 2010. Dalam melakukan penelitian ini penulis menggunakan metode kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah seluruh data pembelian bahan baku sejak berdirinya perusahaan dan sampelnya adalah data pembelian bahan baku selama 10 bulan yaitu dari bulan Januari s.d Oktober 2010 dan jumlah produksi selama 10 bulan yaitu dari bulan Januari s.d Oktober 2010 dengan menggunakan instrument penelitian skala likert (1-5). Teknik analisis data yang digunakan adalah (1) koefisien korelasi, (2) koefisien determinasi, dan (3) pengujian hipotesis dengan menggunakan uji t hitung.

Hasil Penelitian dan Pembahasan Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, dapat dijabarkan sebagai berikut : Biaya Pembelian Bahan Baku Atas Dasar Harga Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Tabel 1 Biaya Pembelian Bahan Baku Bulan Januari s.d Oktober 2010 Jenis Bahan Baku Satuan / Batang Harga Per Batang (Rp) Jumlah Biaya Atas Dasar Harga Per Batang (1) (2) (3) (4) (5) = (3) x (4) Bambu besar 500 3.500 1.750.000 Bambu sedang 400 2.000 800.000 Bambu kecil 300 1.500 450.000 total 1200 7.000 3.000.000 September Oktober Bambu besar 600 3.500 2.100.000 Bambu sedang 500 2.000 1.000.000 Bambu kecil 400 1.500 600.000 total 1.500 7.000 3.700.000 Bambu besar 700 3.500 2.450.000 Bambu sedang 600 2.000 1.200.000 Bambu kecil 500 1.500 7500.000 total 1.800 7.000 4.400.000 Bambu besar 800 3.500 2.800.000 Bambu sedang 600 2.000 1.200.000 Bambu kecil 600 1.500 900.000 total 2.000 7.000 4.900.000 Bambu besar 900 3.500 3.150.000 Bambu sedang 800 2.000 1.600.000 Bambu kecil 700 1.500 1.050.000 total 2.400 7.000 5.800.000 Bambu besar 950 3.500 3.325.000 Bambu sedang 950 2.000 1.900.000 Bambu kecil 800 1.500 1.200.000 total 2.700 7.000 6.425.000 Bambu besar 900 3.500 3.150.000 Bambu sedang 900 2.000 1.800.000 Bambu kecil 800 1.500 1.200.000 total 2.600 7.000 6.150.000 Bambu besar 950 3.500 3.325.000 Bambu sedang 950 2.000 1.900.000 Bambu kecil 900 1.500 1.350.000 total 2.800 7.000 6.575.000 Bambu besar 900 3.500 3.150.000 Bambu sedang 800 2.000 1.600.000 Bambu kecil 700 1.500 1.050.000 total 2.400 7.000 5.800.000 Bambu besar 800 3.500 2.800.000 Bambu sedang 700 2.000 1.400.000 Bambu kecil 600 1.500 900.000 total 2.100 7.000 5.100.000

Berdasarkan tabel di atas, dari bulan ke bulan perusahaan mengalami peningkatan dalam biaya pembelian bahan bakunya, hal tersebut sesuai dengan kebutuhan akan bahan baku yang digunakan oleh perusahaan. Jika kebutuhan bahan baku bertambah maka akan di ikuti pula oleh bertambahnya biaya yang dikeluarkan untuk biaya pembelian bahan baku. Biaya Pembelian Bahan Baku Atas Dasar Tim Penebang Bulan Januari Tabel 2 Biaya Pembelian Bahan Baku Bulan Januari s.d Oktober 2010 Jenis Bahan Baku Satuan / Batang Harga Per Batang (Rp) Jumlah Biaya Atas Dasar Harga Per Batang (1) (2) (3) (4) (5) = (3) x (4) Bambu besar 500 2.000 1.000.000 Bambu sedang 400 750 300.000 Bambu kecil 300 750 225.000 total 1200 3.500 1.525.000 Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Bambu besar 600 2.000 1.200.000 Bambu sedang 500 750 375.000 Bambu kecil 400 750 300.000 total 1.500 3.500 1.875.000 Bambu besar 700 2.000 1.400.000 Bambu sedang 600 750 450.000 Bambu kecil 500 750 375.000 total 1.800 3.500 2.225.000 Bambu besar 800 2.000 1.600.000 Bambu sedang 600 750 450.000 Bambu kecil 600 750 450.000 total 2.000 3.500 2.500.000 Bambu besar 900 2.000 1.800.000 Bambu sedang 800 750 600.000 Bambu kecil 700 750 525.000 total 2.400 3.500 2.925.000 Bambu besar 950 2.000 1.900.000 Bambu sedang 950 750 712.000 Bambu kecil 800 750 600.000 total 2.700 3.500 3.212.000 Bambu besar 900 2.000 1.800.000 Bambu sedang 900 750 675.000 Bambu kecil 800 750 600.000 total 2.600 3.500 3.075.000 Bambu besar 950 2.000 1.900.000 Bambu sedang 950 750 712.000 Bambu kecil 900 750 675.000 total 2.800 3.500 3.287.000 Bambu besar 900 2.000 1.800.000 Bambu sedang 800 750 600.000 Bambu kecil 700 750 525.000 total 2.400 3.500 2.925.000

Bulan Oktober Jenis Bahan Baku Satuan / Batang Harga Per Batang (Rp) Jumlah Biaya Atas Dasar Harga Per Batang (1) (2) (3) (4) (5) = (3) x (4) Bambu besar 800 2.000 1.600.000 Bambu sedang 700 750 525.000 Bambu kecil 600 750 450.000 total 2.100 3.500 2.575.000 Berdasarkan tabel diatas, dari bulan ke bulan perusahan mengalami kenaikan dalam biaya tim penebang hal ini termasuk kepada biaya pembelian bahan baku, karena biaya tim penebang ini dibayar sesuai dengan upah dari harga per batang. Biaya Pembelian Bahan Baku Atas Dasar Harga Per Batang, Biaya Tim Penebang, Biaya Transportasi Dan Biaya Pemesanan Bulan Tabel 3 Biaya Pembelian Bahan Baku Bulan Januari s.d Oktober 2010 Biaya Atas Biaya Biaya Biaya Dasar Harga Tim Transportasi Pemesanan Per Batang Penebang Total Biaya Pembelian (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) Januari 3.000.000 1.525.000 275.000 50.000 4.850.000 Februari 3.700.000 1.875.000 225.000 60.000 5.860.000 Maret 4.400.000 2.225.000 275.000 60.000 6.960.000 April 4.900.000 2.500.000 290.000 50.000 7.740.000 Mei 5.800.000 2.925.000 275.000 50.000 9.050.000 Juni 6.425.000 3.212.000 300.000 60.000 9.997.000 Juli 6.150.000 3.075.000 290.000 60.000 9.575.000 Agustus 6.575.000 3.287.000 275.000 50.000 10.187.000 September 5.800.000 2.925.000 250.000 60.000 9.035.000 Oktober 5.100.000 2.575.000 225.000 50.000 7.950.000 Berdasarkan tabel diatas, dari bulan ke bulan perusahaan mengalami peningkatan dalam biaya pembelian bahan bakunya. Yang terdiri dari biaya yang dikeluarkan atas dasar harga per batang, biaya yang dikeluarkan untuk tim penebang, biaya transportasi dan biaya pemesanan. Pada bualan juni perusahaan mengalami kenaikan dalam biaya transportasi sebesar 300rb dibandingkan bulan sebelumnya dan sesudahnya. Sedangkan biaya pemesanan yang di keluarkan untuk memesan bahan baku oleh perusahaan dalam keadaan rata-rata yaitu dalam keadaan naik dan turun

Jumlah Produksi CV. Shaniqua Marigold Bamboo Tabel 2 Biaya Pembelian Bahan Baku Bulan Januari s.d Oktober 2010 No. Bulan Jenis Produk Yang Dihasilkan Jumlah Produksi Meja = 60 1. Januari Tempat tidur = 60 180 Kursi = 60 Meja = 105 2. Februari Tempat tidur = 20 Kursi = 65 230 Bupet = 40 Bupet = 60 3. Maret Lemari = 40 Kursi = 80 280 Tempat tidur = 100 Meja = 75 4. April Tempat tidur = 40 Kursi = 75 230 Lemari = 40 Bupet = 100 Lemari = 40 5. Mei Kursi = 90 380 Meja = 90 Tempat tidur = 60 Tempat tidur = 100 Meja = 120 6. Juni Kursi = 100 430 Bupet. = 60 Lemari = 50 Lemari = 50 Bupet = 80 7. Juli Kursi = 110 450 Meja = 100 Tempat tidur = 110 Tempat tidur = 90 Meja = 120 8. Agustus Kursi = 120 530 Bupet = 90 Lemari = 40 Tempat tidur = 60 Meja = 110 9. September Kursi = 120 370 Bupet = 50 Lemari = 30 Tempat tidur = 60 Meja = 115 10. Oktober Kursi = 105 340 Bupet = 30 Lemari = 30 Jumlah 3.520

Berdasarkan tabel diatas, dari bulan ke bulan perusahaan mengalami peningkatan dalam jumlah produksi yang dihasilkan oleh perusahaan. Jika biaya pembelian bahan baku yang dikeluarkan oleh perusahaan setiap bulannya mengalami peningkatan maka akan mempengaruhi jumlah produksi yang dihasilkan oleh perusahaan. Pengaruh Antara Biaya Pembelian Bahan Baku Terhadap Jumlah Produksi Dari perhitungan korelasi di atas ternyata hasilnya diperoleh sebesar r = 0,97. Ini artinya kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang sangat kuat. Hal ini dapat diartikan bahwa pengaruh biaya pembelian bahan baku terhadap jumlah produksi adalah sebesar 94,01 % dan sisanya sebesar 5,99 % yang dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti biaya tak terduga yaitu biaya kenaikan bensin dan biaya kecelakaan. Untuk mengetahui apakah kedua variabel tersebut terdapat hubungan mempengaruhi dan dipengaruhi antara variabel X dan variabel Y, Berdasarkan hasil pengujian di atas ternyata nilai thitung sebesar 11,3, sedangkan nilat ttabel dengan d.f.n 2 maka t tabel sama dengan t α/2 (n-2) t 0,025 : 8 = 2,306 dengan taraf nyata sebesar 0,05 diperoleh nilai sebesar 2,306 dan bila dibandingkan dengan thitung, maka thitung lebih besar dari t tabel, berarti hipotesa Ho harus ditolak Ha harus diterima. Dengan demikian hipotesis yang di ajukan oleh penulis yaitu Ho ditolak atau dengan kata lain terdapat hubungan yang kuat antara biaya pembelian bahan baku dan jumlah produksi. Simpulan Berdasarkan uraian dari hasil penelitian dan pembahasan, akhirnya penyusun dapat menyimpulkan bahwa : 1. Pada CV. Shaniqua Marigold Bamboo biaya pembelian yang dilakukan yaitu meliputi biaya yang dikeluarkan atas dasar harga bahan baku, biaya transportasi (pengangkutan), biaya pemesanan dan biaya tim penebang. 2. Jumlah produksi yang dihasilkan oleh CV. Shaniqua Marigold Bamboo setiap bulannya mengalami peningkatan terlihat dari bulan januari sebanyak 180 Unit sampai bulan Oktober meningkat sebanyak 340 Unit.

3. Berdasarkan analisa data yang diperoleh dari variabel biaya pembelian bahan baku dan jumlah produksi yang dihitung dengan metode statistika yaitu metode Korelasi serta pengujian hipotesis, dimana untuk mengetahui seberapa besar pengaruh yang ditimbulkan oleh biaya pembelian bahan baku terhadap jumlah produksi, apabila hasil dari x bertambah dan dapat lebih dari 1, maka hasilnya akan semakin mempengaruhi jumlah produksi. Analisa korelasi (r) diperoleh nilai sebesar 0,97 ini menggambarkan bahwa kedua variabel tersebut mempunyai hubungan yang sangat kuat dimana variabel biaya pembelian bahan baku (X) memberikan kontribusi terhadap variabel jumlah produksi (Y) sebesar 94,01 % dan sisanya 5,99 % dipengaruhi faktor-faktor lain diluar biaya pembelian bahan baku. Sedangkan hasil perhitungan diperoleh uji t hitung sebesar 11,3 dan t tabel sebesar 2,306. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka penyusun ingin memberikan saran yang dapat bermanfaat sekaligus sebagai bahan pertimbangan antara lain : 1. Saran Untuk Perusahaan a. Penggunaan metode pembelian yang dilaksanakan perusahaan selayaknya dikaji ulang untuk kemajuan perusahaan dengan memperbaharui yaitu dengan membandingkannya dengan biaya pembelian yang merupakan biaya yang dapat memaksimalisasi kuantitas optimal pembelian. b. Bagian pembelian sebaiknya dapat membuat rencana pembelian yang terekonomis baik itu dari segi waktu dan jumlah bahan baku yang dibeli dengan memanfaatkan informasi dari anggaran produksi yang telah dibuat. 2. Saran Untuk Penelitian Selanjutnya Dari uraian di atas dan dari temuan selama penulis melakukan penelitian, banyak sekali kendala yang dihadapi terutama dalam menganalisa data, untuk itu bagi peneliti yang lain yang akan mengambil permasalahan yang sama

tentang biaya pembelian bahan baku dan jumlah produksi agar lebih memahami lagi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kedua variabel Daftar Pustaka Arnold, Jan et.al (2009). Raw Material Procurement With Fluctuating Prices. International Journal of Production Economics. Volume 121. pp. 353-364 Mulyadi. (2005). Akuntansi Biaya. Yogyakarta : Akademi manajemen perusahaan YKPN. Murti, Sumarni dan John, Soeprihanto. (2005). Pengantar Bisnis (Dasar-Dasar Ekonomi Perusahaan). Yoyakarta : Liberty Yogyakarta. Pangestu, Subagyo. (2000). Manajemen Operasi. Yogyakarta : BPFE. Sofjan, Assauri. (2008). Manajemen Produksi Dan Operasi. Jakarta : Fakultas Ekonomi UI. Supriyanto. (1993). Peranggaran. Jakarta : Gunadarma Teguh, Baroto. (2002). Perencanaan Dan Pengendalian Produksi. Jakarta : Ghalia Indonesia. T. Hani, Handoko. (2008). Dasar-Dasar Manajemen Produksi Dan Operasi. Yogyakarta : BPFE Yogyakarta. Sana, Shib Sankar. 2011. A production-inventory model of imperfect quality products in a three-layer supply chain. Decision Support Systems Volume 50, pp. 539 547. S.K. Goyal, L.E. Cardenas-Barron. 2002. Note on: economic production quantity model for items with imperfect quality a practical approach, International Journal of Production Economics 77, pp. 85 87.