VOICES FROM THE REAL ECONOMY

dokumen-dokumen yang mirip
MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PRODUKTIVITAS MELALUI PEKERJAAN YANG LAYAK. Oleh : 9 Juli 2015 DPN APINDO

MEMAHAMI BEBERAPA POINT PENTING YANG DIATUR DALAM RPP PENGUPAHAN

SUSTAINABLE DEVELOPMENT THROUGH GREEN ECONOMY AND GREEN JOBS

How Digitalization is Changing Enterprises and Jobs in Indonesia

FORMULIR PENDAFTARAN KEANGGOTAAN DEWAN PIMPINAN NASIONAL ASOSIASI PENGUSAHA INDONESIA (DPN APINDO)

Mengenal. Dana Pensiun

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

T I N D A K L A N J U T NOTA KESEPAHAMAN BPJS-Kesehatan APINDO. Sri Endang Tidarwati Wahyuningsih Direktur Kepesertaan dan Pemasaran

FORMULIR UPDATE DATA KEANGGOTAAN

11 Program Prioritas KIB II

Transformasi BPJS 2. September 2011

Jaminan Hari Tua (JHT) & Jaminan Pensiun (JP) Pekerja. Timoer Sutanto, DPN Apindo, Ketua Bidang Jaminan Sosial Jakarta, 24 April 2015

Kuningan City, Jakarta, 22 Oktober Jaminan Pensiun BPJS Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Hari Tua

BPJS Ketenagakerjaan ( SJSN ) Tanggal 1 Juli Apindo training center

UPDATE PSAK 24 IMBALAN KERJA. Dwi Hastuty Slipiaty, FSAI Aktuaris

3 (TIGA) PILAR MENSEJATERAHKAN RAKYAT/BURUH

MEMAHAMI INVESTASI, RESIKO, & RETURN. Dr. Budi S. Purnomo, SE., MM., MSi.

PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO

FORM APL-02 ASESMEN MANDIRI

PEMERINTAH KABUPATEN BLITAR RINCIAN PERUBAHAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH, ORGANISASI, PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2011 TENTANG BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL


PENDAPATAN NASIONAL. Andri Wijanarko,SE,ME. 1

Beberapa permasalahan menghambat pertumbuhan produk[vitas Indonesia

SISTEM INFORMASI SDM. WAHYU PRATAMA, S.Kom., MMSI.

PARADIGMA PERTUMBUHAN

3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 150 Tambahan Lembaran Negara

LAMPIRAN IV : PERATURAN BUPATI BULELENG NOMOR

PROGRAM DAN KEGIATAN PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK

PENINGKATAN KEPESERTAAN JAMINAN KESEHATAN KEPADA PEKERJA

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 24 AKUNTANSI BIAYA MANFAAT PENSIUN

BAB II PROFIL BPJS KETENAGAKERJAAN KANTOR WILAYAH. ekonomi kepada masyarakat. Sesuai dengan kondisi kemampuan keuangan

Kajian Regulasi PERATURAN DAERAH PROVINSI DKI JAKARTA NO.12 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU.

BAB I PENDAHULUAN. Dalam siklus kehidupan seseorang ada tiga tahapan kehidupan yang harus

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. disebut sebagai desentralisasi. Haris dkk (2004: 40) menjelaskan, bahwa

REFORMASI BIROKRASI DALAM RANGKA PENINGKATAN PELAYANAN PUBLIK

Problem dan Tantangan dalam Implementasi Skema Pensiun Publik Indonesia di masa datang yang berdasarkan pada UU No 40/2004 tentang SJSN

PROFIL ORGANISASI. Nama Organisasi : Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (DPN APINDO)

KAJIAN EKONOMI REGIONAL Triwulan IV 2012

PEMERINTAH KOTA MAGELANG DINAS PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU Jl. Veteran No. 7 Telp (0293) Fax (0293) MAGELANG 56117

BAB I PENDAHULUAN. Termasuk dalam kompensasi tidak langsung adalah berbagai macam bentuk tunjangan

Bab I Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. trampil cenderung pindah ke kota untuk mencari pengalaman. Oleh karena itu,

APINDO Collaborative. User Guide Member

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

IMBALAN KERJA. Dwi Martani. 1/26/2010 Pelaporan Akuntans Keuangan Imbalan Kerja 1

3. Bagaimanakah pelaksanaan kerja lembur: a. Pada hari kerja biasa b. Pada hari istirahat mingguan c. Pada hari libur nasional d. Apakah ada surat per

09/02/2012. Sistem kompensasi harus dihubungkan dengan tujuan tujuan strategis organisasi. Tujuan program kompensasi yang efektif:

PEMERINTAH PROVINSI RIAU DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI

BAB I PENDAHULUAN. terpenting yang mampu digunakan menjalankan setiap proses di dalamnya yaitu

PERLINDUNGAN DAN PENGAWASAN TENAGA KERJA (2)

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan. Dalam Undang Undang 36/2009 ditegaskan bahwa setiap orang

TUGAS PELAPORAN DAN AKUNTANSI KEUANGAN

Produk BPJS Ketenagakerjaan. Orientasi Persiapan Kerja Tahun 2016

BAB III METODE PENELITIAN. data utama yang digunakan adalah data ketenagakerjaan dan pendapatan regional

NOMOR... TAHUN... TENTANG PROGRAM JAMINAN KOMPENSASI PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. (pekerja dan pengusaha). Dalam Pasal 1 angka 30 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003, upah

& Proses PHK Tanpa Gejolak

KEPUTUSAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2012

GUBERNUR MALUKU PERATURAN GUBERNUR MALUKU NOMOR 21 TAHUN 2017 TENTANG

Sinergi BPJS Ketenagakerjaan Dengan Perusahaan Asuransi dan Dana Pensiun Sumarjono Direktur Perencanaan Strategis & TI

Kajian Permen 1 Tahun 2017

I. PENDAHULUAN. pertumbuhan ekonomi banyak dilakukan di beberapa daerah dalam

BAB I PENDAHULUAN. melalui peraturan perundang-undangan, seperti Undang-Undang Ketenagakerjaan. No. 13 Tahun 2003 atau peraturan industri(anna, 2007).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. karena dia berhenti bekerja. Sedangkan perencanaan pensiun (pension plan)

I. PENDAHULUAN. Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja untuk orang lain karena adanya

Keuangan telah melakukan perubahan kelembagaan yaitu. peningkat- an efisiensi, efektivitas, dan produktivitas kinerja birokrasi dalam

Transkripsi:

VOICES FROM THE REAL ECONOMY BAGAIMANA APINDO MELIHAT REGULASI DUNIA USAHA DAN IMPLEMENTASINYA DI INDONESIA BY: HARIJANTO (KETUA DPN APINDO BIDANG KETENAGAKERJAAN) JAKARTA, FEBRUARY 24 TH 2015

REGULASI TERKAIT APA SAJA? BATASAN PEMBAHASAN KEBIJAKAN KETENAGAKERJAAN BPJS KESEHATAN BPJS KETENAGAKERJAAN PERIJINAN USAHA

KEBIJAKAN KETENAGAKERJAAN HUBUNGAN INDUSTRIAL

KEBIJAKAN KETENAGAKERJAAN Kebijakan ketenagakerjaan di Indonesia belum ideal karena: (1) Merugikan Pemberi Kerja (2) Merugikan Pekerja (3) Merugikan Pencari Kerja (4) Permasalahan Implementasi, dan (5) Persoalan Lainnya

(1) MERUGIKAN PEMBERI KERJA Upah Minimum di Indonesia adalah salah satu yang tertinggi dibandingkan negara-negara manufaktur berkembang lainnya (Grafik1) Upah Minimum Indonesia tidak hanya mahal, tetapi juga meningkat lebih tinggi dibanding produktivitas tenaga kerjanya (Grafik 2) Kedua hal diatas akan menyebabkan unit labor cost meningkat yang bisa berdampak hilangnya daya saing Indonesia sebagai negara production base untuk manufaktur Grafik 1. Minimum Wage (USD/Month), Indonesia Vs Other Developing Manufacturing Countries, in 2013 Grafik 2. The Dynamics of Minimum Wage, Productivity, and Unit Labor Cost in Indonesia, 2000-2013

79.2 75.3 63.6 (2) MERUGIKAN PEKERJA Nilai pesangon di Indonesia merupakan yang tertinggi di kawasan (Grafik 3) Hal tersebut bisa mendorong perusahaan untuk lebih memilih mempekerjakan temporary worker Dengan lebih banyaknya temporary worker, itu bisa mengurangi keinginan perusahaan untuk meberikan pelatihan formal (Grafik 4) Grafik 3. Severance pay for redundancy dismissal (average for workers with 1, 5 and 10 years of tenure), in salary weeks: Indonesia vs. Neighbors Grafik 4. Percent of Firms Offering Formal Training (%) 50.8 50.1 48.4 43.5 43.4 42.7 42.2 36.3 31.1 15.9 4.7

employment growth (3) MERUGIKAN PENCARI KERJA Hasil studi APINDO menunjukkan bahwa peningkatan upah minimum berhubungan dengan penurunan penciptaan lapangan kerja(grafik 5) Lebih lanjut, studi tersebut juga didukung oleh trend data yang menunjukkan bahwa untuk periode 2007-2013, Indonesia mengalami Jobless Growth : setiap peningkatan pertumbuhan ekonomi menghasilkan penciptaan lapangan pekerjaan yang lebih sedikit dibanding periode sebelumnya. (Grafik 6) Grafik 5. The Association between Minimum Wage and Employment in Indonesia, 2000-2013 Grafik 6. Employment Creation per 1% economic Growth, 2007-2013 5.00% 4.00% 3.00% 2.00% 1.00% y = -0.0608x + 0.0256 R² = 0.1331 0.00% 0.00% 5.00% 10.00% 15.00% 20.00% 25.00% 30.00% 35.00% 40.00% -1.00% Minimum Wage Growth 800,000 700,000 600,000 500,000 400,000 300,000 200,000 100,000 - (100,000) 704,489 501,202 536,645 435,672 182,002 225,113 (1,730) 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013

(4) PERMASALAHAN IMPLEMENTASI Dalam implementasinya, kalkulasi upah minimum Indonesia rumit dan sulit di-replikasi, misalnya terkait penghitungan: inflasi, pertumbuhan, dan produktivitas Mekanisme penetapan upah minimum bersifat tidak pasti seringkali dipolitisasi (penolakan hasil survei, penolakan SP/SB diluar Dewan Pengupahan, kepentingan poitik Kepala Daerah, Dll.) Penentuan UMP ke depan: sebaiknya dilakukan survei yang kredibel dimana hasilnya digunakan sebagai patokan penentuan kenaikan UMP 5 tahun ke depan dengan penambahan faktor Inflasi, yang penentuannya secara ternokratis & tersentralisasi dilakukan oleh lembaga independen yang kredibel.

(5) PERSOALAN LAIN Dalam hal Ketenagakerjaan terdapat berbagai peraturan yang yang hanya wan-prestasi tanpa kontraprestasi (pembebanan biaya resmi ke perusahaan tanpa jasa pelayanan dinas ketenagakerjaan), plus kerepotan perusahaan untuk tambahan biaya tidak resmi ikutannya Misalnya: pengecekan alat pemadam kebakaran, penangkal petir, forklift, ketel uap, dan lain sebagainya

BPJS KESEHATAN

BPJS KESEHATAN Berdasar Perpress 111/2013 mewajibkan sebagian besar perusahaan (state-owned, big, medium, small enterprise) untuk mendaftarkan karyawannya per 1 Januari 2015, untuk Micro di tahun 2019 Namun, ada beberapa permasalahan penting yang menyebabkan hal diatas tidak bisa dilakukan: permasalahan teknis maupun fundamental

BPJS KESEHATAN (LANJ.) (1) Permasalahan Teknis, diantaranya: lemahnya dukungan IT untuk antisipasi pendaftaran dengan jumlah yang sangat besar, komitmen dukungan dana dari APBN, Dll. (2) Permasalahan Fundamental FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama): belum tersedia merata, daya tampung Fasilitas Kesehatan Rujukan (Rumah Sakit) yang terbatas, kualitas layanan yang kurang bagus Coordination of Benefit (CoB) / Koordinasi Manfaat: mekanisme teknis belum disepakati BPJS dan perusahaan asuransi swasta sehingga tidak ada jaminan kualitas pelayanan dan potensi dobel bayar

BPJS KETENAGAKERJAAN

BPJS KETENAGAKERJAAN Permasalahan terkait BPJS ketenagakerjaan terutama dispute mengenai penggunaan metode defined benefit (manfaat pasti) vs defined contribution (iuran pasti) Kedua metode tersebut memiliki karakteristik masing-masing (Tabel 1) Metode defined contribution lebih memberi kepastian kepada dunia usaha karena dengan defined benefit, perusahaan bisa menanggung risiko lebih besar Tabel 1. Defined Benefit VS Defined Contribution Defined Benefit / Manfaat Pasti Pensiunan menerima manfaat bulanan setelah mendapat sebagian manfaat saat diawal ketika masuk masa pensiun Iuran berfluktuasi: berdasarkan hasil estimasi kebutuhan biaya untuk merealisasikan manfaat pensiun berdasarkan perhitungan aktuaris Defined Contribution / Iuran Pasti Seluruh iuran serta hasil pengembangannya dibukukan pada rekenng masing-masing peserta sebagai Manfaat Pensiun Manfaat pensiun diberikan penuh ketika memasuki masa pensiun Sifatnya paternalistik dimana pemberi kerja menanggung semua/sebagian besar risiko, termasuk risiko investasi

PERIJINAN USAHA

PERIJINAN USAHA Lingkungan Bisnis Indonesia masih penuh tantangan: Indonesia berada pada posisi 155 dari 189 dalam Ease of Doing Business IFC-WB 2015 Pemerintahan Baru telah melakukan langkah untuk mengefisienkan prosedur bisnis di Indonesia melalui one-stop shop/service (PTSP-Pelayanan Terpadu Satu Pintu) Akan tetapi, reformasi yang lebih penting adalah reformasi kebijakan perijinan, tidak sekadar reformasi birokrasi perijinan melalui one stop shop/service

PERIJINAN USAHA...(LANJ.) Reformasi Kebijakan Perijinan: melakukan perubahan substansial dengan evaluasi perijinan usaha mana saja yang benar-benar diperlukan, jika tidak diperlukan seharusnya dihapus jenis perijinan terkait Dalam hal Perijinan Usaha, pada dasarnya hanya perlu 3 klasifikasi kebijakan: (1) Ijin terkait keabsahan hukum pendirian usaha (2) Ijin teknis spesifik untuk setiap jenis industri (3) Ijin untuk menjamin keberlanjutan usaha (misalnya ijin impor bahan baku, impor mesin, dll.) Diperlukan laporan berkala secara terbuka atas kinerja perijinan usaha pasca implementasi PTSP

Sekretariat DPN APINDO Permata Kuningan Building, 10 th Floor Jl. Kuningan Mulia Kav. 9C Guntur Setiabudi Jakarta Selatan 12980 Indonesia Tel. (62) 21 8378 0824, Fax. (62)21 8378 0823/8378 0746 Website: www.apindo.or.id