4 Hasil dan Pembahasan

dokumen-dokumen yang mirip
4 Pembahasan Artokarpin (35)

4 Hasil dan Pembahasan

BAB IV PEMBAHASAN IV.1 Artonin E (36)

san dengan tersebut (a) (b) (b) dalam metanol + NaOH

4 Pembahasan. 4.1 Sintesis Resasetofenon

Bab IV Hasil dan Pembahasan

4 PEMBAHASAN. (-)-epikatekin (5, 7, 3, 4 -tetrahidroksiflavan-3-ol) (73). Penentuan struktur senyawa tersebut

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Dari penelitian ini telah berhasil diisolasi senyawa flavonoid murni dari kayu akar

ADLN-Perpustakaan Universitas Airlangga BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Skrining Alkaloid dari Tumbuhan Alstonia scholaris

4 Pembahasan. 4.1 Senyawa Asam p-hidroksi Benzoat (58)

BAB III PERCOBAAN DAN HASIL

Mesomeri Jurnal Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan

A PRENYLATED FLAVONE FROM THE HEARTWOOD OF Artocarpus scortechinii King (Moraceae)

Senyawa 1 C7H8O2 Spektrum IR senyawa C7H8O2. Spektrum 13 C NMR senyawa C7H8O2

HASIL. Tabel 1 Rendemen sintesis resasetofenon metode Cooper et al. (1955) Sintesis 1,3-Diketon

HASIL DAN PEMBAHASAN

Isolasi Senyawa Artonin E dari Ekstrak Kulit Akar Artocarpus elasticus

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Transformasi Gugus Fungsi Senyawa Baekeol Sebagai Model Pembelajaran Kimia di Sekolah Menengah Atas

Penentuan struktur senyawa organik

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tumbuhan yang akan diteliti dideterminasi di Jurusan Pendidikan Biologi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Isolasi Senyawa Artobiloksanton dari Kulit Akar Artocarpus elasticus

SIKLOARTOBILOSANTON DARI KULIT BATANG DAN FLAVONOID DALAM BEBERAPA BAGIAN TUMBUHAN Artocarpus dadah YANG TUMBUH DI LAMPUNG

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

berdasarkan cpdna tersebut spesies Artocarpus dibedakan berdasarkan tingkat filogenetiknya. Tiga spesies penting di Indonesia (berdasarkan kelangkaan

Noda tidak naik Minyak 35 - Noda tidak naik Minyak 39 - Noda tidak naik Minyak 43

DR. Harrizul Rivai, M.S. Lektor Kepala Kimia Analitik Fakultas Farmasi Universitas Andalas. 28/03/2013 Harrizul Rivai

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Isolasi sinamaldehida dari minyak kayu manis. Minyak kayu manis yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari

HASIL DAN PEMBAHASAN Penetapan Kadar Air Hasil Ekstraksi Daun dan Buah Takokak

KIMIA ANALISIS ORGANIK (2 SKS)

AKTIVITAS SITOTOKSIK SENYAWA TURUNAN FLAVONOID TERPRENILASI DARI BEBERAPA SPESIES TUMBUHAN ARTOCARPUS ASAL INDONESIA

Artelastokromen suatu diprenilpiranoflavon dan β-resorsilaldehid dari kayu batang Artocarpus lanceifolius #

LIMA SENYAWA CALKON DARI KULIT BATANG CRYPTOKARYA PHOEBEOPSIS (LAURACEAE) DAN SIFAT SITOTOKSIKNYA TERHADAP SEL P 388, SEL HCT 166 DAN SEL A549

BEBERAPA SENYAWA FLAVON TERPRENILASI DARI ARTOCARPUS FRETESSI HASSK ENDEMIK SULAWESI SELATAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Persiapan dan Ekstraksi Sampel Uji Aktivitas dan Pemilihan Ekstrak Terbaik Buah Andaliman

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. NaOH dalam metanol dengan waktu refluks 1 jam pada suhu 60 C, diperoleh

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI TURUNAN SANTONTERPRENILASI GARCINIA CYLINDROCAPA (KOGBIRAT), ENDEMIK KEP. MALUKU

Tiga Turunan Santon Dari Kulit Batang Mundu Garcinia Dulcis (Roxb.) Kurz. Sebagai Antioksidan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Sintesis C-3,7-dimetil-7-hidroksiheptilkaliks[4]resorsinarena

I. KONSEP DASAR SPEKTROSKOPI

Elusidasi struktur. Ultraviolet - visibel

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Dari 100 kg sampel kulit kacang tanah yang dimaserasi dengan 420 L

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN. Hasil pemeriksaan ciri makroskopik rambut jagung adalah seperti yang terdapat pada Gambar 4.1.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

SINTESIS SENYAWA KALKON TURUNAN 3,4 -DIMETOKSI ASETOFENON DAN UJI TOKSISITAS MENGGUNAKAN METODE BRINE SHRIMP LETHALITY TEST (BSLT)

Jurnal Kimia Indonesia

BAB 3 METODE PENELITIAN

Oleh : IQBAL MUSTHAPA

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

ARTONIN M, TURUNAN FLAVON TERGERANILASI DARI Artocarpus rotunda

Senyawa Sikloartobiloksanton dari Kulit Akar Artocarpus elasticus

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kadar air = Ekstraksi

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA FENOLIK DARI KULIT AKAR TUMBUHAN Artocarpus dadah Miq.

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4 Hasil dan pembahasan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi EKSTRAK BAHAN AKTIF DARI TUMBUHAN MELINJO (GNETUM GNEMON), PROSES PEMBUATAN DAN PENGGUNAANNYA SEBAGAI ANTIKANKER KULIT

Spektroskopi IR Dalam Penentuan Struktur Molekul Organik Posted by ferry

4 Hasil dan Pembahasan

Bab II Tinjauan Pustaka

PENENTUAN STRUKTUR MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETER UV- VIS

Santon Dari Kulit Batang Tumbuhan Asam Kandis (Garcinia cowa)

Isolasi dan Identifikasi Senyawa Turunan Santon dari Kayu Batang Garcinia tetranda Pierre

SINTESIS (E)-3-(4-HIDROKSIFENIL)-1-(NAFTALEN-1-IL)PROP-2-EN-1-ON DARI ASETILNAFTALEN DAN 4-HIDROKSIBENZALDEHID. R. E. Putri 1, A.

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II PERCOBAAN IV PENENTUAN KOMPOSISI ION KOMPLEKS

UNIVERSITAS SETIA BUDI FAKULTAS FARMASI Program Studi S1 Farmasi Jl. Letjen. Sutoyo. Telp (0271) Surakarta 57127

HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pemeriksaan kandungan kimia kulit batang asam kandis ( Garcinia cowa. steroid, saponin, dan fenolik.(lampiran 1, Hal.

BAB I PENDAHULUAN. cara menghindari paparan berlebihan sinar, yaitu tidak berada di luar rumah pada

SINTESIS SENYAWA METOKSIFLAVON MELALUI SIKLISASI OKSIDATIF HIDROKSIMETOKSIKALKON

BAB I PENDAHULUAN. tersebar luas di alam. Sekitar 5-10% metabolit sekunder tumbuhan adalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Raman merupakan teknik pembiasan sinar yang memiliki berbagai

OPTIMASI WAKTU REAKSI SINTESIS SENYAWA BENZILIDENSIKLOHEKSANON MENGGUNAKAN KATALISATOR NATRIUM HIDROKSIDA

BAB I PENDAHULUAN. Gambar I.1 Struktur khalkon dan asam sinamat

Bab III Metodologi Penelitian

ABSTRAK. Isolasi dan Karakterisasi Flavonoid dari Kulit Buah Jengkol (Pithecellobium jiringa (Jack) Prain ex King) Oleh: ASMAUL HUSNA

HASIL DAN PEMBAHASAN Penapisan Sampel

III. METODE PENELITIAN di Laboratorium Biomassa Terpadu Universitas Lampung.

ISOLASI DAN KARAKTERISASI GOLONGAN SENYAWA FENOLIK DARI KULIT BATANG TAMPOI (Baccaurea macrocarpa) DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

AROMATISITAS, BENZENA DAN BENZENA TERSUBSTITUSI ACHMAD SYAHRANI ORGANIC CHEMISTRY, FESSENDEN DAN FESSENDEN, THIRD EDITION

BAB I PENDAHULUAN I.1

4. Hasil dan Pembahasan

Gambar IV 1 Serbuk Gergaji kayu sebelum ekstraksi

4 Hasil dan Pembahasan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Monggupo Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo,

AKTIVITAS DAN POTENSI ANTIMALARIA SENYAWA SANTON TEROKSIGENASI DAN TERPRENILASI

TUGAS ANALISIS FARMASI ANALISIS OBAT DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

Gambar 1.1 Struktur khalkon

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA FENOLIK DARI KULIT AKAR TUMBUHAN Artocarpus dadah Miq.

PATEN NASIONAL Nomor Permohonan Paten :P Warsi dkk Tanggal Permohonan Paten:19 November 2013

ISOLASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER DARI KULIT BATANG

BAB III METODE PENELITIAN

Chimica et Natura Acta p-issn: e-issn:

OLEH: NUARI WAHYU DWI CAHYANI DOSEN PEMBIMBIMNG: Dr. FAHIMAH MARTAK, M.Si

Transkripsi:

4 Hasil dan Pembahasan Penelitian yang dilakukan terhadap kayu akar dari Artocarpus elasticus telah berhasil mengisolasi dua senyawa flavon terprenilasi yaitu artokarpin (8) dan sikloartokarpin (13). Penentuan struktur molekul kedua senyawa tersebut dilakukan dengan menggunakan data UV, IR, dan 1 H-NMR. 4.1 Artokarpin (8) Senyawa artokarpin (8) diperoleh dalam bentuk serbuk berwarna oranye dengan titik leleh 174-175 o C. Nama trivial untuk senyawa ini adalah 7-metoksi-5,2,4 -trihidroksi-3,6- diisoprenil flavon. Spektrum ultraviolet senyawa ini (Gambar 4.1) menunjukkan adanya serapan maksimum pada panjang gelombang 279 nm, dan 319 nm (bahu). Senyawa flavon terdiri dari dua sistem kromofor, yaitu sistem kromofor sinamoil dan sistem kromofor benzoil (Gambar 4.2). Serapan sistem kromofor sinamoil (pita I) terjadi pada panjang gelombang 320-380 nm. Sedangkan serapan sistem kromofor benzoil (pita II) terjadi pada panjang gelombang 240-270 nm. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa senyawa hasil isolasi tersebut merupakan senyawa turunan flavon. Data tersebut didukung oleh data spektrum IR yang menunjukkan adanya gugus karbonil terkonjugasi pada bilangan gelombang 1647 cm -1 dan puncak untuk cincin aromatik pada 1620, 1450, 1357 cm -1 (Gambar 4.4). Puncak serapan kedua sistem kromofor memberikan gambaran tentang gugus fungsi yang dimiliki oleh flavon tersebut. Hal ini dapat diamati dari pita I pada panjang gelombang 319 nm dengan intensitas yang lebih rendah dibandingkan dengan pita II pada panjang gelombang 279 nm. Adanya gugus isoprenil bebas pada posisi C-3 dan adanya gerakan rotasi bebas dari cincin B menyebabkan intensitas pita I menjadi lebih rendah. Gugus isoprenil dan gerakan rotasi cincin B akan menyebabkan halangan sterik terhadap keplanaran sistem kromofor sinamoil. Keplanaran sistem kromofor pita sinamoil menjadi berkurang sehingga konjugasi elektron tidak dapat berlangsung dengan baik. Adanya gugus isoprenil diperkuat dari spektrum IR yang dmenunjukkan puncak serapan gugus C-H alifatik pada bilangan gelombang 2954 dan 2862 cm -1 (Gambar 4.4). 33

Gambar 4.1 Spektrum UV artokarpin (8) benzoil sinamoil Gambar 4.2 Sistem kromofor senyawa flavon Pada spektrum ultraviolet, penambahan pereaksi geser NaH menyebabkan pergeseran batokromik pada pita I sebesar 40 nm. Hal ini menunjukkan adanya gugus fenolik bebas. Gugus hidroksi ini didukung oleh puncak serapan gugus H pada bilangan gelombang 3388 cm -1 pada spektrum IR. Penambahan pereaksi geser AlCl 3 dapat mendeteksi adanya gugus orto-dihidroksi atau adanya gugus H pada posisi C-5 dari senyawa flavon. AlCl 3 dapat membentuk kelat baik dengan gugus H pada C-5 dan karbonil pada C-4 maupun dengan gugus orto-dihidroksi. AlCl 3 membentuk kompleks yang stabil dengan gugus H pada C-5 dan karbonil pada posisi C-4 sehingga menyebabkan pergeseran batokromik pada pita I (Gambar 4.3). leh karena itu, penambahan HCl tidak akan menyebabkan pergeseran hipsokromik. Sedangkan untuk gugus orto-dihidroksi, kelat yang terbentuk antara AlCl 3 dengan gugus orto-dihidroksi tidak stabil sehingga penambahan HCl menyebabkan pergeseran hipsokromik. 34

H H AlCl 3 Al Cl HCl H H AlCl 3 HCl 6 3 6 3 6 3 5 4 5 4 5 4 H Al Al Cl Cl Cl Cl Gambar 4.3 Kompleks yang terbentuk dengan AlCl 3 Untuk senyawa hasil isolasi, penambahan AlCl 3 tidak menyebabkan pergeseran batokromik pada pita I. Hal ini menunjukkan bahwa pada senyawa tersebut tidak terdapat gugus ortodihidroksi. Selain itu juga, kemungkinan terdapatnya gugus isoprenil pada posisi C-3 dan C- 6 sehingga mengakibatkan tidak terbentuknya kompleks antara gugus H pada C-5, karbonil pada C-4, dan AlCl 3. Gambar 4.4 Spektrum IR artokarpin (8) (KBr) Data spektrum UV dan IR dari senyawa artokarpin (8) hasil isolasi dibandingkan dengan standar (Tabel 4.1). Data spektrum 1 H-NMR dari senyawa artokarpin (8) hasil isolasi dibandingkan dengan senyawa artokarpin standar terdapat dalam Tabel 4.2. Dari perbandingan tersebut terlihat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara senyawa artokarpin (8) hasil isolasi dan standar. 35

Tabel 4.1 Data perbandingan spektrum UV dan IR artokarpin (8) Spektrum UV Artokarpin (8) (MeH) λ maks (nm) Spektrum IR Arokarpin (8) (KBr) ν maks (cm -1 ) Hasil Isolasi Literatur (*) Hasil Isolasi Literatur (*) 279 279 3388 (H) 3393 (H) 319 (bahu) 320 (bahu) 2956, 2866 (C-H alifatik) 2959,2927, 2862 (C-H alifatik) Penambahan NaH 1620, 1450, 1357 (C=C aromatik) 1621, 1481, 1452, 1352 (C=C aromatik) 277 277 1205, 1147 (C-) 1205, 1147 (C-) 359 347 1647 (C=) 1650 (C=) (*) Mustapha, 2006 Spektrum 1 H-NMR (Gambar 4.5) menunjukkan adanya sinyal singlet pada geseran kimia 13,94 ppm yang menandakan adanya gugus hidroksi dari C-5 yang terkelasi dengan C= pada C-4 pada senyawa hasil isolasi ini. Pada daerah aromatik terdapat 3 sinyal untuk 3 proton pada geseran kimia 7,16 ppm (1H, d, J = 8,5 Hz), 6,56 ppm (1H, d, J = 2,4 Hz), dan 6,48 ppm (1H, dd, J = 8,5; 2,4 Hz, H-5 ). Ketiga sinyal proton ini menunjukkan adanya sistem ABX pada cincin B. Pada geseran kimia 3,93 ppm (3H, s) terdapat sinyal proton untuk metoksi. Pada daerah alifatik terdapat dua sinyal metil yang masing-masing mewakili tiga proton yaitu pada geseran kimia 1,39 ppm (3H, s) dan 1,52 ppm (3H, s). Adanya gugus α-α dimetil alil ditunjukkan oleh sinyal-sinyal proton pada geseran kimia 5,08 ppm (1H, m), dan 3,09 (2H, d, J =6,7 Hz). Gugus 3-metil-1-butenil ditunjukkan dengan adanya satu sinyal yang mewakili 6 proton pada geseran kimia 1,07 ppm (6H, d, J = 6,7 Hz), satu sinyal proton alifatik pada geseran kimia 2,38 (1H, m), dan dua sinyal proton vinil berturut-turut pada geseran kimia 6,73 ppm (1H, dd, J = 6,7; 16,4 Hz), dan 6,54 (1H, d, J =16,4 Hz). 36

Gambar 4.5 Spektrum 1 H-NMR artokarpin (8) (aseton-d 6, 500 MHz) Tabel 4.2 Data perbandingan spektrum 1H-NMR artokarpin (8) Pergeseran Kimia (ppm, multiplisitas, J dalam Hz) No. C Literatur (*) (400 MHz, aseton-d 6) Hasil isolasi (500 MHz, aseton-d 6) (*) Mustapha, 2006 8 6,53 (1H, s) 6,56 (1H, s) 9 3,08 (2H, d, J =6,9 Hz) 3,09 (2H, d, J =6,7 Hz) 10 5,10 (1H, m) 5,08 (1H, m) 12 1.41 (3H, s) 1,39 (3H, s) 13 1,55 (3H, s) 1,52 (3H, s) 14 6,57 (1H, d, J =16,1) 6,54 (1H, d, J =16,4 Hz) 15 6,70 (1H, dd, J = 7,0; 16,1 Hz, 6,73 (1H, dd, J = 6,7; 16,4 Hz) 16 2,41(1H, m) 2,38 (1H, m) 17/18 1,07 (6H, d, J = 7,0 Hz) 1,07 (6H, d, J = 6,7 Hz) 3 6,55 (1H, d, J = 2,2 Hz) 6,56 (1H, d, J = 2,4 Hz) 5 6,49 (1H, dd, J = 8,4; 2,2 Hz) 6,48 (1H, dd, J = 8,5; 2,4 Hz) 6 7,18 (1H, d, J = 8,4 Hz) 7,16 (1H, d, J = 8,5 Hz) 37

Dari hasil data-data spektrum UV, IR dan 1 H-NMR dan perbandingan dengan senyawa yang sama pada literatur yang menunjukkan kesesuaian, maka struktur senyawa tersebut disarankan sebagai artokarpin (8). H 3 C 14 15 8 A 5 H H 10 3' B 6' 9 5' H (8) Senyawa artokarpin (8) sebelumnya ditemukan dalam tumbuhan Artocarpus lainnya, seperti A. heterophyllus (Lin, 1995), A. champeden (Hakim, 2005), A. elasticus (Mustapha, 2006), dan A.chama (Wang, 2004). Dari penelitian sebelumnya, artokarpin (8) memiliki aktivitas biologi seperti sifat sitotoksik, tosiksitas, anti tuberkulosis, dan anti malaria. Artokarpin (8) bersifat sitotoksik terhadap sel murin leukemia P388 dengan nilai IC 50 1,9 µg/ml (Hakim et al., 2006). Selain itu, artokarpin (8) bersifat toksik terhadap Artemia salina dengan nilai IC 50 24,3 µg/ml (Hakim et al., 2006). Artokarpin (8) juga bersifat sebagai antituberkulosis dengan konsentrasi minimum sebagai penghambat (MIC) sebesar 3,12 µg/ml dan bersifat sebagai antimalaria dengan nilai IC 50 3,0 µg/ml (Boonphong, 2007). 4.2 Sikloartokarpin (13) Senyawa sikloartokarpin (13) diperoleh dalam bentuk serbuk berwarna kuning dengan titik leleh 272-273 o C. Spektrum ultraviolet senyawa ini (Gambar 4.6) menunjukkan adanya serapan maksimum pada panjang gelombang 292 nm, dan 368 nm. Dua puncak serapan ini menunjukkan bahwa senyawa hasil isolasi merupakan senyawa turunan flavon. Data tersebut didukung oleh data spektrum IR yang menunjukkan adanya gugus karbonil terkonjugasi yang khas untuk senyawa flavon pada bilangan gelombang 1653 cm -1 dan puncak untuk C=C aromatik pada 1620, 1481, 1448 cm -1 (Gambar 4.7). Sama seperti pada artokarpin (8), puncak serapan kedua sistem kromofor mengambarkan gugus fungsi yang terdapat dalam senyawa flavon tersebut. Hal ini dapat diamati dari pita I pada panjang gelombang 368 nm dengan intensitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan pita II pada panjang gelombang 292 nm. Adanya cincin piran dapat meningkatkan keplanaran pada sistem kromofor sinamoil (pita I) sehingga konjugasi elektron menjadi lebih mudah. Dengan demikian, intensitas serapan maksimum berhubungan erat dengan 38

keplanaran suatu senyawa. Cincin piran ini terbentuk karena adanya reaksi sekunder dari gugus isoprenil pada C-3 dan gugus H pada C-2. Adanya gugus isoprenil diperkuat dari spektrum IR yang ditunjukkan oleh puncak serapan gugus C-H alifatik pada bilangan gelombang 2954 dan 2862 cm -1 (Gambar 4.7). Gambar 4.6 Spektrum UV sikloartokarpin (13) Pada spektrum ultraviolet, penambahan pereaksi geser NaH menyebabkan pergeseran batokromik pada pita I sebesar 41 nm. Hal ini menunjukkan adanya gugus hidroksi fenil bebas. Adanya gugus hidroksi ini ditunjukkan oleh puncak serapan gugus H pada bilangan gelombang 3404 cm -1 pada spektrum IR. Sama halnya dengan senyawa artokarpin (8), penambahan AlCl 3 tidak menyebabkan pergeseran batokromik pada pita I (Gambar 4.6). Hal ini menunjukkan bahwa pada senyawa tersebut tidak terdapat gugus orto-dihidroksi. Selain itu juga, kemungkinan terdapatnya gugus isoprenil pada posisi C-3 sehingga mengakibatkan kelat antara gugus H pada C-5 dan karbonil pada C-4 serta AlCl 3 tidak terbentuk. 39

Gambar 4.7 Spektrum IR sikloartokarpin (13) (KBr) Tabel 4.3 Data perbandingan spektrum UV dan IR sikloartokarpin (13) Spektrum UV sikloartokarpin (13) (MeH) λ maks (nm) Spektrum IR sikloartokarpin (13) (KBr) ν maks (cm -1 ) Hasil Isolasi Literatur (*) Hasil Isolasi Literatur (*) 292 279 3404 (H) 3393 (H) 2954, 2862 (C-H 2959,2927, 2862 (C-H 368 368 alifatik) 1620, 1481, 1448 (C=C aromatik) 292 277 1653 (C=) 1650 (C=) 409 411 Penambahan NaH (*) Mustapha, 2006 alifatik) 1621, 1481, 1452, 1352 (C=C aromatik) Tabel 4.3 menunjukkan perbandingan data spektrum UV dan IR sikloartokarpin (13) hasil isolasi dan standar. Berdasarkan Tabel 4.3 ditunjukkan bahwa sikloartokarpin (13) hasil isolasi bersesuaian dengan standar. Pada spektrum 1 H-NMR (Gambar 4.8) terlihat 15 sinyal proton untuk senyawa ini. Sinyal pada geseran kimia 13,62 ppm menunjukkan adanya gugus H yang terkelasi. Spektrum 1 H-NMR menunjukkan adanya sinyal singlet pada daerah aromatik dengan geseran kimia 6,72 ppm (1H, s). Gugus pirano-γ,γ-dimetil alil ditunjukkan dengan adanya sinyal-sinyal proton pada geseran kimia 1,06 ppm (3H, s), 1,92 ppm (3H, s), 5,45 ppm (1H, d, J = 9,2 Hz), 6,18 ppm (1H, d, J = 9,2 Hz). Gugus isopentenil ditunjukkan oleh sinyal-sinyal proton pada geseran kimia 1,05 ppm (3H, s), 1,06 ppm (3H, s), 2,40 ppm (1H, m), 6,54 ppm (1H, d, J = 16,5 Hz), 6,72 (1H, dd, J = 6,4; 16,5 Hz). Sinyal-sinyal proton untuk cincin B ditunjukkan pada geseran kimia 6,41 ppm (1H, d, J = 2,4 Hz), 6,60 ppm (1H, dd, J = 8,5; 40

2,4 Hz), 7,69 ppm (1H, d, J = 8,5 Hz). Sinyal-sinyal ini menunjukkan adanya sistem ABX pada cincin B yang mengalami trisubstitusi pada posisi 2,5, dan 6. Sinyal untuk proton pada gugus metoksi berada pada geseran kimia 3,96 (3H, s). Gambar 4.8 Spektrum 1 H-NMR sikloartokarpin (13) (aseton-d 6, 500 MHz) Tabel 4.4 Data perbandingan spektrum 1 H-NMR sikloartokarpin (13) No. C (*) Mustapha, 2006 Literatur (*) (400 MHz, aseton-d 6) H (ppm, multiplisitas, J dalam Hz) Hasil isolasi (500 MHz, aseton-d 6) 8 6,71 (1H, s) 6,72 (1H, s) 9 6,19 (1H, d, J = 9,5 Hz) 6,18 (1H, d, J = 9,2 Hz) 10 5,46 (1H, m) 5,45 (1H, d, J = 9,2 Hz) 12 1,07 (3H, s) 1,05 (3H, s) 13 1,07 (3H, s) 1,06 (3H, s) 14 6,55 (1H, d, J = 16,1 Hz) 6,54 (1H, d, J = 16,5 Hz) 15 6,70 (1H, dd, J = 7,0; 16,1 Hz) 6,72 (1H, dd, J = 6,4; 16,5 Hz) 16 2,41(1H, m) 2,40(1H, m) 17 1,94 (3H, s) 1,92 (3H, s) 18 1,68 (3H, s) 1,66 (3H, s) 3 6,42 (1H, d, J = 2,2 Hz) 6,41 (1H, d, J = 2,4 Hz) 5 6,61 (1H, dd, J = 8,4, 2,2 Hz) 6,60 (1H, dd, J = 8,5, 2,4 Hz) 6 7,69 (1H, d, J = 8,4 Hz) 7,69 (1H, d, J = 8,5 Hz) CH 3 3,96 (3H, s) 3,96 (3H, s) 41

Dari perbandingan data yang ditunjukkan pada Tabel 4.4 menunjukkan bahwa senyawa sikloartokarpin(13) hasil isolasi dan standar memberikan kesesuaian yang tinggi. Dari hasil data-data spektrum UV, IR dan 1 H-NMR, maka struktur yang disarankan adalah sikloartokarpin (13). H 3 C 14 15 8 A 5 4 H 6' 9 5' H B 3' 11 (13) Sikloartokarpin ini telah ditemukan dalam tumbuhan Artocarpus lainnya, seperti A. champeden Spreng (Lin et al., 1992), A. atilis (Ersam, 1999), A. elasticus (Mustapha, 2006), dan A.maingyii King (Hakim et al., 1999). Berdasarkan penelitian sebelumnya, sikloartokarpin (13) memiliki aktivitas biologi seperti artokarpin (8). Sikloartokarpin (13) bersifat sitotoksik terhadap sel murin leukemia P388 (IC 50 3,9 µg/ml) (Hakim et al., 2006). Sikloartokarpin (13) juga bersifat toksik terhadap Artemia salina (IC 50 1,9 µg/ml) (Hakim et al., 2006). Selain itu, sikloartokarpin (13) bersifat antituberkulosis (MIC 12,5 µg/ml) dan antimalaria (IC 50 4,3 µg/ml) (Boonphong, 2007). Namun, jika dibandingkan dengan artokarpin (8), sikloartokarpin (13) bersifat kurang aktif karena struktur sikloartokarpin (13) yang lebih planar daripada artokarpin (8). 4.3 Hubungan Biogenesis Artokarpin (8) dan Sikloartokarpin (13) Jika melihat kedua struktur senyawa hasil isolasi, terdapat kemiripan diantara keduanya. Keduanya hanya dibedakan dari terbentuknya siklik dalam senyawa sikloartokarpin (13). Siklik ini terbentuk karena reaksi sekunder yang terjadi pada senyawa artokarpin (8). Gugus isoprenil dan gugus H pada posisi C-2 pada senyawa artokarpin mengalami reaksi sekunder menghasilkan cincin piran pada senyawa sikloartokapin (13). Dengan demikian, artokarpin (8) merupakan prekursor bagi senyawa sikloartokarpin (13). Biogenesis yang disarankan dapat dilihat pada Gambar 4.9. 42

H 3 C H.... H H H H 3 C H.... H artokarpin (8) H H H 3 C H 3 C + H H - sikloartokarpin (13) Gambar 4.9 Hubungan biogenesis artokarpin (8) dan sikloartokarpin (13) (Hakim et al., 2006) 43