8 VI. 9 VII. 12 VIII. 16 IX.

dokumen-dokumen yang mirip
Family Gathering Terpadu RSJ Grhasia Yogyakarta

2 Mengingat : Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28H ayat (1), dan Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Dengan Persetuju

PENDAHULUAN.. Upaya Kesehatan Jiwa di Puskesmas: Mengapa Perlu? Direktorat Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI

LEMBAR EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA AKSI Sehat Jiwaku Sehat keluargaku (UPK Puskesmas Siantan Hulu)

UPTD PUSKESMAS KAMPAR KIRI

Ditulis oleh Rini Saputro Jumat, 28 November :47 - Last Updated Selasa, 15 Desember :40

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN. TENTANG KESEHATAN JIWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KERANGKA ACUAN KEGIATAN PERAWATAN KESEHATAN MASYARAKAT ( PERKESMAS ) PUSKESMAS KESAMBEN TAHUN I. Pendahuluan

BAB 1 PENDAHULUAN. Promosi kesehatan menurut Piagam Ottawa (1986) adalah suatu proses yang

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA STANDAR PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT

PROGRAM KERJA PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT (PKRS) RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SUNAN KALIJAGA KABUPATEN DEMAK TAHUN 2016

PELAYANAN KESEHATAN KERJA DI PUSKESMAS

PEDOMAN PEDOMAN PENGELOLAAN USIA LANJUT (USILA) PUSKESMAS WARA BARAT BAB I PENDAHULUAN

PERAN PEKERJA SOSIAL DALAM UPAYA PELAYANAN KESEHATAN JIWA PARIPURNA

PROGRAM KERJA PANITIA PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT RSIA CITRA INSANI

PROGRAM KERJA PANITIA PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT RUMAH SAKIT HARAPAN BUNDA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

SILABUS MATA KULIAH. Kode Mata Kuliah : GIZ : PRAKTEK KERJA LAPANGAN PELAYANAN GIZI KLINIK (PKL PGK)

: Evi Karota Bukit, SKp, MNS NIP : : Kep. Jiwa & Kep. Komunitas. : Asuhan Keperawatan Jiwa - Komunitas

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 19 TAHUN 2011 TENTANG

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, dengan menggunakan

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN DALAM NEGERI. Pos Pelayanan Terpadu. Layanan Sosial Dasar. Pedoman.

BAB I PENDAHULUAN. yang terbatas antara individu dengan lingkungannya (WHO, 2007). Berdasarkan data dari World Health Organisasi (WHO, 2015), sekitar

PEDOMAN PELAYANAN TIM PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT RUMAH SAKIT LAVALETTE

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PEDOMAN MANAJER PELAYANAN PASIEN RUMAH SAKIT (CASE MANAGER)

KEBIJAKAN PELAYANAN KEFARMASIAN DI DIY DINAS KESEHATAN DIY

BAB I PENDAHULUAN. mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Sektor kesehatan

GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR PROVINSI JAMBI NOMOR 48 TAHUN 2014 TENTANG PENANGGULANGAN KORBAN PASUNG PSIKOTIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI MADIUN SALISSS SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 46 TAHUN 2012 TENTANG

2 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Pelayanan Kesehatan adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN TENTANG

BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

SUBDIT BINA KESEHATAN PERKOTAAN DAN OLAHRAGA DIREKTORAT BINA KESEHATAN KERJA DAN OLAHRAGA DITJEN BINA GIZI DAN KIA KEMENTERIAN KESEHATAN RI

PANDUAN PENYULUHAN PADA PASIEN UPTD PUSKESMAS RAWANG BAB I PENDAHULUAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN JIWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

2014, No Mengingat : Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28H ayat (1), dan Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Den

KERANGKA ACUAN KEGIATAN KUNJUNGAN RUMAH

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan peran serta aktif masyarakat mengutamakan pelayanan promotif dan preventif

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kesehatan merupakan hal yang paling penting dalam setiap kehidupan

2012, No.1156

MONITORING DAN EVALUASI TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT (TPKJM) KOTA SURAKARTA

BAB VI INDIKATOR KINERJA PERANGKAT DAERAH YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD

MENGIMPLEMENTASIKAN UPAYA KESEHATAN JIWA YANG TERINTEGRASI, KOMPREHENSIF,

BAB I PENDAHULUAN. sosialisasi, transisi agama, transisi hubungan keluarga dan transisi moralitas.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 43 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN FASILITASI AKREDITASI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN JIWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PEDOMAN PENYULUHAN PADA PASIEN

BEBAS PASUNG PUSKESMAS TELUK LUBUK

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Program Kesehatan Peduli Remaja PERTEMUAN 11 Ira Marti Ayu Kesmas/ Fikes

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 31 TAHUN : 2004 SERI : D NOMOR : 4

BAB IV VISI MISI, TUJUAN, SASARAN STRATEGI DAN KEBIJAKAN

MODUL PEMBELAJARAN DAN PRAKTIKUM MANAJEMEN HIV AIDS DISUSUN OLEH TIM

Tabel 7.5 Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Misi 5. INDIKATOR KINERJA (outcome)

REHABILITASI PADA LAYANAN PRIMER

BUPATI LOMBOK BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LOMBOK BARAT,

BAB 1 : PENDAHULUAN. masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber

BAB 1 : PENDAHULUAN. memperoleh derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Upaya kesehatan dalam

REHABILITASI PADA LAYANAN PRIMER

IDENTIFIKASI PELUANG-PELUANG PERBAIKAN INOVATIF

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 26 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS KESEHATAN

PEDOMAN WAWANCARA ANALISIS PELAKSANAAN PELAYANAN PROMOTIF DAN PREVENTIF DI PUSKESMAS TELADAN KOTA MEDAN TAHUN 2016

2 ODGJ terhadap layanan kesehatan. Sedangkan secara hukum, peraturan perundang-undangan yang ada belum komprehensif sehingga menghambat pemenuhan hak

2016, No Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang

KERANGKA ACUAN KEGIATAN PELAKSANAAN KOORDINASI DESA SIAGA DAN PHBS

I. SEJARAH RSJ Mataram Rumah Sakit Jiwa Provinsi. Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma

GAMBARAN UMUM RSUD INDRASARI RENGAT

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PEDOMAM PELAYANAN KESPRO REMAJA oleh. dr. Yuliana Tjawan

PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN NOMOR 079 TAHUN 2017 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI, DAN URAIAN TUGAS DINAS KESEHATAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

PERENCANAAN PASIEN PULANG (DISCHARGE PLANNING) Mira Asmirajanti, SKp, MKep

GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR: 30 TAHUN 2017 TENTANG

2015, No Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Neg

Revisi PP.38/2007 serta implikasinya terhadap urusan direktorat jenderal bina upaya kesehatan.

DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH ( DPA SKPD )

BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

Kesehatan Mental dan Dukungan Psikososial

PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

B. Tujuan Umum : Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan terhadap usia lanjut dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

-1- GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 141 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT JIWA

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 68 TAHUN 2017 TENTANG PENYELENGGARAAN KESEHATAN HAJI

2016, No Indonesia Nomor 4431); 2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144,

BAB I PENDAHULUAN. mellitus (Perkeni, 2011). Secara umum hampir 80% prevalensi. diabetes mellitus adalah diabetes mellitus tipe 2.

2017, No d. bahwa untuk belum adanya keseragaman terhadap penyelenggaraan rehabilitasi, maka perlu adanya pengaturan tentang standar pelayanan

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan adalah kebutuhan primer yang harus dipenuhi oleh seluruh

PROGRAM KERJA INSTALASI GIZI RUMAH SAKIT AR BUNDA PRABUMULIH TAHUN 2016

BAB I PENDAHULUAN. Tesis ini mengkaji tentang perilaku keluarga dalam penanganan penderita

SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 59 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN KELUARGA BERENCANA DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. terserang peyakit degenerative, Dinas Kesehatan kota Yogyakarta terus menerus

PROGRAM PENDIDIKAN PASIEN DAN KELUARGA RSUP DR. M. DJAMIL PADANG 2013 DAFTAR ISI

PROGRAM PENDIDIKAN PASIEN DAN KELUARGA (PPK) / PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT PPK

1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan

PERATURAN GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 9 TAHUN 2012 TENTANG PEMBERIAN AIR SUSU IBU EKSKLUSIF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Transkripsi:

DAFTAR ISI Lembar Pengesahan... ii DAFTAR ISI... iii I. Pendahuluan... 1 II. Latar Belakang... 2 III. Tujuan Umum dan Tujuan Khusus... 3 IV. Kegiatan Pokok dan Rincian Kegiatan... 4 V. Cara Melaksanakan Kegiatan... 8 VI. Sasaran... 9 VII. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan... 12 VIII. Monitoring Evaluasi... 16 IX. Pencatatan dan Pelaporan... 17

I. Pendahuluan Pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan jiwa dapat dilakukan melalui upaya kesehatan yang komprehensif mulai dari upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana mengembangkan sistem pelayanan kesehatan jiwa yang dapat mendukung upaya pemeliharaan dan perawatan kesehatan jiwa masyarakat dengan melakukan redefenisi peran dan fungsi seluruh sistem pelayanan kesehatan dengan mengintegrasikan pelayanan kesehatan jiwa pada semua level pelayanan yang ada, termasuk melakukan revitalisasi peran dan fungsi Rumah Sakit Jiwa. Upaya upaya penanggulangan masalah kesehatan jiwa sudah dilakukan berbagai pihak dengan melibatkan peran serta masyarakat dan kader kesehatan jiwa dalam upaya pencegahan dan penanggulangan masalah. Kesehatan jiwa berbasis masyarakat ini didukung pula dengan tersedianya pelayanan kesehatan jiwa dan psikofarmaka di Puskesmas serta dokter umum dan perawat yang telah dibekali dengan keterampilan melakukan deteksi dan penatalaksanaan gangguan jiwa serta memberikan asuhan keperawatan jiwa.

II. Latar Belakang Pembangunan segala bidang di Indonesia telah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang ditandainya dengan menurunnya kejadian berbagai penyakit menular dan peningkatan umur harapan hidup. Namun keadaan ini juga telah memicu transisi epidemiologi penyakit dengan bertambahnya penyakit degeneratif atau penyakit tidak menular seperti penyakit jantung,hipertensi,diabetes melitus,nyeri punggung dan sendi sehingga menyebabkan ketidakmampuan bekerja, kecelakaan lalu lintas, penggunaan narkotika,psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA), serta gangguan jiwa. Kecenderungan perubahan ini juga dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup (life style) yang tidak sehat akibat urbanisasi, modernisasi dan globalisasi seperti pola makan yang tidak seimbang, kurang gerak, konsumsi tembakau, alkohol dan NAPZA, lingkungan yang tidak kondusif terhadap kesehatan, serta tingkat stres yang tinggi. Prilaku gaya hidup tidak sehat ini tidak hanya dipraktekkan di kota-kota besar saja tapi juga terjadi di pedesaan. Masalah kesehatan jiwa sangat berhubungan dengan determinasi sosial ekonomi dan kualitas hidup yaitu tingginya tingkat pengangguran yang akan berdampak pula pada tingginya tingkat kemiskinan. Beberapa gangguan jiwa yang dikaitkan dengan kemiskinan antara lain adalah bunuh diri, penggunaan alkohol, depresi, gangguan penggunaan zat, masalah perkembangan anak dan remaja serta gangguan stres pasca trauma akibat trauma kekerasan dan bencana. Status kesehatan jiwa selain dipengaruhi oleh kemiskinan, juga oleh kebodohan, ketersediaan sumber daya alam, kualitas lingkungan hidup serta adat, kebiasaan dan budaya. Sehingga semua yang terlibat dalam pembangunan kesehatan jiwa, harus melakukan advokasi yang terus menerus kepada berbagai pihak terkait untuk meningkatkan kapasitas sumber daya potensial, membangun dukungan sosial serta membangaun kemampuan masyarakat dalam upaya mengatasi berbagai penyebab mendasar dari gangguan kesehatan jiwa.

III. Tujuan Umum dan Tujuan Khusus Tujuan Umum : meningkatkan derajat kesehatan jiwa masyarakat. Tujuan Khusus: 1. Meningkatkan pengetahuan petugas, penyedia layanan, pendidik, dan penyuluh dalam memfasilitasi masyarakat agar tahu, mau dan mampu memecahkan masalah di bidang kesehatan jiwa. 2. Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat untuk dapat melakukan deteksi dini gangguan jiwa. 3. Meningkatkan keterampilan masyarakat untuk melakukan rujukan ke sarana pelayanan kesehatan maupun ke petugas kesehatan.

IV. Kegiatan Pokok dan Rincian Kegiatan Kegiatan Pokok 1. Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) Melaksanakan kegiatan pelayanan penyuluhan, menyebarluaskan informasi kesehatan jiwa kepada masyarakat. 2. Assertif Community Treatment (ACT) Tim ACT merupakan tim multidisiplin dan dikuatkan dengan Tim leader untuk memberikan pelayanan yang komprehensif terhadap krisis, penanganan dan rehabilitasi untuk seseorang yang mengalami gangguan jiwa di komunitas dan rumah 3. Pelayanan Mobile Mendekatkan pelayanan kepada masyarakat melalui kerjasama dengan dinas kesehatan kabupaten/kota dan instasi lain yang terkait 4. Penanganan Psikososial Pasca Bencana Adalah pendampingan yg dilakukan kepada penyintas yang mengalami dampak psikososial pasca bencana. Rincian Kegiatan 1. PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT (PKRS) Promosi Kesehatan di Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma adalah suatu upaya untuk meningkatkan kemampuan pasien, keluarga maupun masyarakat yang berada di lokasi Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma, agar mereka dapat mandiri dalam mempercepat kesembuhannya, sehingga mereka dapat mandiri dalam meningkatkan kesehatan, mencegah masalah-masalah kesehatan, dan mengembangkan upaya-upaya kesehatan, melalui pembelajaran dari, oleh, untuk, dan bersama mereka, sesuai sosial budaya mereka, serta didukung kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. Ruang Lingkup Pelaksanakan promosi kesehatan di Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma dapat dilakukan dalam gedung maupun di luar gedung. Pelaksanaan PKRS didalam gedung, dapat dilakukan diruang pendaftaran/adminsitrasi, di ruang pelayanan rawat jalan, pelayanan rawat inap, ruang pelayanan penunjang medik seperti pelayanan obat/apotik, pelayanan laboratorium, dan pelayanan rehabilitasi mental, maupun tempat tempat yang di anggap strategis untuk melaksanakan promosi kesehatan. sedangkan, pelaksanaan PKRS di luar gedung dapat di lakukan di sekolah-sekolah atau tempat umum berdasarkan kebutuhan pelayananan kesehatan. Lingkup Kegiatan dalam Promosi kesehatan di Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma antara lain:

1. Pelayanan konseling antara lain : Konseling narkoba, HIV/AIDS dan Konseling kesehatan jiwa 2. Edukasi dengan mengadakan Penyuluhan Kesehatan baik didalam maupun diluar gedung dengan mengunakan metode Ceramah, Diskusi. dll 3. pembagian selebaran ( leaflet ), majalah dan pemasangan poster, Spanduk dan media informasi kesehatan lainnya 4. penayangan video yang berkaitan dengan kesehatan jiwa 5. Seminar/Talkshow tentang kesehatan jiwa 6. Memberikan Informasi tentang kesehatan & layanan RSJ Mutiara Sukma. 7. Menyusun materi penyuluhan untuk media tatap muka dalam bentuk konseling 8. Menyusun materi penyuluhan untuk media cetak dalam bentuk leaflet 9. Melaksanakan kegiatan penyuluhan kelompok dgn demonstratif/praktek 10. Melaksanakan kegiatan penyuluhan individu dgn demonstratif/praktek 11. Memberikan pelayanan konseling kepada masyarakat dengan dasar pendidikan diatas SLTA 12. Advokasi pasien dengan manfaat : 1) Meningkatkan pengertian dan sikap ingin sembuh 2) Memberi pengertian kepada orang sekitarnya/keluarga 3) Memberi pengertian/pengetahuan dan sikap tentang penggunaan fasilitas kesehatan secara tepat dan benar 4) Mengerti dan mendukung dalam upaya perawatan agar keluarga mampu merawat keluarganya dengan benar. 5) Membantu pasien yang sudah sembuh/rehabilitasi untuk meningkatkan kesehatannya agar bisa berproduktif kembali. 6) Upaya pencegahan penyakit dan perubahan perilaku untuk hidup sehat 7) Senam Kesehatan dengan cara membentuk kelompok senam dll. Sumber daya Sumber daya utama dalam kegiatan PKRS di RSJ Mutiara Sukma ini adalah semua petugas kesehatan yang melayani pasien antara lain : 1. Psikiater, Dokter Umum, Perawat, Psikolog dll. 2. Tenaga Khusus Promosi Kesehatan 2. ASSERTIF COMMUNITY TREATMENT (ACT) Assertive Community Treatment (ACT) adalah suatu model yang didesain terdiri dari multidisiplin untuk memberikan pelayanan terdiri dari tim multidisiplin untuk memberikan pelayanan secara komprehensif dengan menggunakan sumber-sumber yang

tersedia, mengatasi masalah psikososial dan ditujukan untuk mengatasi masalah yang komplek karena lamanya perawatan pasien gangguan jiwa. Tim ACT merupkan tim multidisiplin dan dikuatkan dengan tim leader untuk memberikan pelayanan yang komprehensif terhadap krisis, penanganan dan rehabilitasi untuk seseorang yang mengalami gangguan jiwa dikomunitas dan rumah. Kegiatan 1. Rehabilitasi untuk keterampilan activity daily living/aktifitas Hidup Seharihari:melatih berbelanja dan memasak, menggunakan transportasi, berpakaian, dan membantu berhubungan dengan keluarga dan masyarakat 2. Pelayanan terhadap keluarga: management crisis, konseling dan psikoedukasi dengan keluarga dan keluarga besar. 3. Health Promotion: memberikan pendidikan pencegahan kesehatan, mengatur skrining medis, membuat jadual dan mempertahankan kunjungan, memberikan pelayanan medis akut, memberikan konseling reproduksi dan pendidikan seksual. 4. Support Medikasi: memberikan pendidikan tentang pengobatan, memonitor komplikasi medikasi dan efek samping, pengobatan lanjutan dan rujukan. 5. Konseling: menggunakan pendekatan yang berorientasi pada masalah, mengintegrasikan konseling secara berkesinambungan, mengembangkan tujuan bersama dengan semua anggota tim, meningkatkan ketrampilan komunikasi, memberikan konseling sebagai bagian dari pendekatan rehabilitasi. Bentuk Dan Sasaran Kegiatan Kegiatan yang dilakukan berbentuk: 1. Layanan ACT Statis 1. Bentuk layanan Bentuk layanan yang dilakukan di Poliklinik ACT di RSJ. Prov. NTB 2. Sasaran layanan ACT Statis; 1. Seseorang/pasien yang dengan frekuensi rawat jalan ke RS tinggi 2. Pasien dan keluarga dengan pemasungan 3. Keterbatasan dalam berfungsi 4. Keterbatasan dalam memenuhi ADL 5. Ketidakmampuan dalam berpartisipasi dalam masyarakat. 2. Layanan ACT Mobile: 1. Bentuk layanan Bentuk layanan dengan melakukan kunjungan pada pasien dan keluarga di rumahnya dan masyarakat.

Pembentukan Self Help Grup (SHG) atau Kelompok Swabantuadalah kelompok yang dibentuk di masyarakat yang beranggotakan orang-orang yang mengalami masalah yang sama dengan tujuan saling mendukung 2. Sasaran layanan ACT Mobile; 1. Pasien dengan percobaan bunuh diri 2. Pasien dengan krisis 3. Pasien yang mengalami penolakan keluarga dan masyarakat 3. Layanan Hotline: 1. Layanan laporan kasus pemasungan dan krisis yang ada di masyarakat 2. Layanan konsultasi dengan pasien, keluarga, masyarakat dan petugas kesehatan baik di Puskesmas maupun RSU Kab./Kota dan lintas sektor. 3. Layanan menghubungi keluarga dan petugas puskesmas. 4. Self Helf Group (SHG) Kelompok swabantu yang ada di masyarakat yang anggotanya dapat terdiri dari pasien,keluarga pasien, atau pemerhati orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Dimana kegiatan kelompok ini berkoordinasi dan di pandu dari tim keswamas. 5. Website MAKPASOL (Masyarakat Aktif Klik Pasung On Line) Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mutiara Sukma sebagai RSJ Pemerintah Provinsi NTB bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi NTB dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di NTB telah secara aktif melakukan sistem komunikasi yang efektif demi mewujudkan NTB Bebas Pasung 2018. Sistem komunikasi tersebut diwujudkan dalam upaya pelaporan dan pencatatan jumlah tindakan pemasungan di wilayah NTB dengan melibatkan peran serta aktif dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) maupun dari kader kesehatan di masyarakat yang peduli akan kesehatan jiwa. Sistem yang telah berjalan tersebut diwujudkan melalui komunikasi via telepon dan sms di nomor 087865178666, yang kemudian ditindaklanjuti dengan kunjungan langsung ke lokasi tindakan pemasungan. RSJ Mutiara Sukma juga memberikan kemudahan layanan kesehatan jiwa lainnya bagi masyarakat melalui whatsapp di nomor 087865178666, PIN Blackberry Messenger (BBM) 5AB1B2D7, twitter di alamat @hotlinersjms dan www.facebook.com/rsj.mutiara.sukmantb. Upaya berikutnya yang dilakukan adalah dengan melakukan terapi terhadap ODGJ yang dipasung, melakukan monitoring secara berkala, dan melakukan upaya pemberdayaan terhadap ODGJ pasca pasung agar dapat hidup mandiri dan produktif. Sistem komunikasi yang telah terbentuk dalam upaya penanggulangan tindakan pemasungan di wilayah NTB mengacu pada Peraturan Gubernur NTB nomor 22 tahun 2013. Peraturan Gubernur NTB tersebut berisi tentang pencegahan pemasungan

melalui kampanye yang dilakukan melalui kegiatan sosialisasi perubahan perilaku dengan cara komunikasi, informasi, dan edukasi sehingga dapat mendorong dan meningkatkan layanan kesehatan jiwa. Sistem komunikasi yang telah berjalan saat ini dapat ditingkatkan melalui inovasi MAK PASOL dengan sistem pencatatan, pelaporan, dan tindak lanjut berkesinambungan yang lebih baik dalam hal mengatasi kendala biaya, waktu, tenaga, dan geografi. Inovasi MAK PASOL juga diharapkan memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan mudah diakses seiring dengan perkembangan teknologi internet saat ini. Manfaat inovasi MAK PASOL lainnya adalah dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat NTB mengenai pemasungan dan gangguan jiwa berat sehingga akan menurunkan angka jumlah ODGJ yang mengalami pemasungan di NTB. Kinerja Pemerintah Provinsi NTB pun juga akan meningkat di bidang kesehatan jiwa apabila inovasi MAK PASOL berjalan dengan baik dan berkesinambungan. MAK PASOL secara langsung akan menghubungkan komunikasi diantara masyarakat, Puskesmas, Dinas Kesehatan, RSJ Mutiara Sukma, dan Pemerintah Provinsi melalui media internet secara on line dalam upaya pembebasan ODGJ yang mengalami tindakan pemasungan di wilayah NTB. MAK PASOL dapat diakses secara mudah dan langsung di alamat website: rsjmutiarasukma.ntbprov.go.id. Keluaran yang mendukung keberhasilan MAK PASOL adalah: 1. Meningkatnyaangka temuanodgj yang mengalami pemasungan di NTB untuk data dasar (baseline) berdasarkan nama dan alamat (by name by address). 2. Penatalaksanaan/perawatan yang komprehensif terhadap ODGJ yang mengalami pemasungan di NTB. 3. Melakukan monitoring secara berkala terhadap ODGJ pasca pasung yang telah diberikan terapi, termasuk pemberdayaan ODGJ dan keluarga dalam hal kemandirian ekonomi. 4. Mempermudah sistem pelaporan dan koordinasi antara pemangku kepentingan atau lintas sektoral. Manfaat utama dari inovasi MAK PASOL ialah meningkatnya angka temuan ODGJ yang mengalami pemasungan di NTB untuk data baseline berdasarkan nama dan alamat (by name by address) yang dapat dijadikan acuan untuk tatalaksana selanjutnya. Semakin banyak ODGJ yang terdeteksi mengalami pemasungan di NTB maka semakin cepat ODGJ tersebut mendapatkan terapi dan monitoring yang adekuat sehingga upaya pemberdayaan secara mandiri dalam terwujud. ODGJ pasca pasung yang berdaya dan mandiri akan berproduktif bagi keluarga dan masyarakat sehingga meningkatkan keberhasilan sumber daya manusia di bidang kesehatan jiwa bagi pemerintah daerah provinsi NTB.

Waktu Pelayanan Waktu pelayanan yang dilakukan adalah: 1. Layanan ACT Statis Tiap hari kerja: Senin Kamis 07.30 13.00 Wita Jumat 08.00 10.30 Wita Sabtu 08.00 12.00 Wita 2. Layanan ACT Mobile Dilaksanakan 10 x di wilayah Pulau Lombok. 3. Layanan Hotline 24 jam sehari Pelaksana 1. Psikiater 2. Dokter umum 3. Perawat 3. PELAYANAN MOBILE Pelayanana mobile adalah pelayanan yang dilakukan dengan mendekatkan akses pada sasaran dengan tidak mengurangi mutu layanan. Terdiri dari: 1. Integrasi Integrasi adalah program kegiatan pembinaan kesehatan jiwa kepada petugas kesehatan (dokter, perawat, tim kesehatan) yang dilakukan di puskesmas atau di tingkat pelayanan dasar. 2. Mobile Clinic Mobile Clinic adalah kegiatan layanan pengobatan dan konsultasi tentang masalah kesehatan jiwa yang dilakukan langsung ke masyarakat. 3. Droping Pasien Dropping (Pemulangan Pasien) adalah layanan pemulangan/pengembalian pasien stabil/kooperatif yang tidak dijemput keluarga setelah dirawat selama 3 bulan atau lebih kepada keluarganya. 4. Home Visite Kunjungan rumah (home visite) adalah kegiatan layanan kunjungan ke rumah pasien dan keluarganya yang terlantar/terpasung/terisolasi yang pernah/tidak pernah dirawat di RSJ Mutiara Sukma akan tetapi tidak pernah kontrol secara teratur/belum mendapatkan pelayanan kesehatan jiwa. 4. PENANGGULANGAN PSIKOSOSIAL PASCA BENCANA Penanganan pasca bencana tidak hanya dititikberatkan pada sektor kesehatan fisik tapi juga aspek psikososial. Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma sebagai salah satu institusi

pelayanan kesehatan jiwa masyarakat merasa bertanggung jawab untuk memberikan penanganan secara lebih serius dan komprehensif dalam penanganan kasus kasus yang terkait dengan aspek psikososial masyarakat. Tujuan 1. Melakukan Asesmen psikososial pasca bencana di daerah yang terkena 2. Mengidentifikasi dan Mendeteksi Dini kasus psikososial yang terjadi pasca bencana 3. Memberikan penanganan dampak psikososial pasca bemcana Strategi 1. Koordinasi dengan Dinas Kesehatan 2. Membentuk Tim kecil penanganan dampak psikososial pasca bencana terdiri dari psikiater, dokter umum, psikolog, perawat spesialis kejiwaan, perawat, dan petugas kesehatan lainnya. 3. Penanganan dampak psikososial pada kelompok masyarakat yang terkena bemcana dan daerah sekitarnya. 1. Membuat Posko Pelayanan Kesehatan Jiwa dan Dampak Psikososial 2. Melakukan Asesmen Psikososial 3. Memberikan intervensi psikososial secara berkelompok berdasarkan usia dan kelompok yang rentan 4. Memberikan intervensi psikososial secara individual terhadap korban / penyintas yang berisiko mengalami gangguan yang lebih berat. Rencana aksi 1. Deteksi dini Melakukan skrining dengan menggunakan alat kuisioner yang terkait dengan dampak psikososial. Kuisioner tersebut terdiri dari 2 jenis yaitu untuk anak-anak dan dewasa. 2. Memberikan Intervensi Psikososial yang akan diberikan secara berkelompok berdasarkan kelompok usia yaitu kelompok anak-anak, dewasa, dan lansia. maupun individual terhadap penyintas yang lebih berisiko terhadap gangguan psikologis yang lebih berat. Berikut rincian kegiatan yang akan dilakukan: 1. Kelompok dewasa Bercakap cakap tentang perasaan, harapan, keinginan, hal positif yang masih bisa disyukuri, latihan relakasi, teknik hipnosis 5 jari 2. Kelompok remaja Bercakap-cakap tentang cita-cita, harapan, olahraga, musik, bernyanyi, menulis, aktivitas social, latihan relaksasi 3. Kelompok anak Bermain, menggambar, bernyanyi, bercerita. 4. Kelompok lansia

Bercakap cakap tentang perasaan, berikan informasi tentang kegiatan yang dilakukan di pengungsian, berbagi pengalaman sukses masa lalu, relaksasi. Kelompok lansia merupakan kelompok yang butuh perhatian dan rentan. Sedangkan intervensi secara individual akan dilakukan dengan pemberian konseling oleh psikolog dan psikiater.. 3. Memberikan pengobatan dan perawatan terhadap kelompok yang berisiko mengalami gangguan yang lebih berat. Kegiatan ini diberikan kepada korban / penyintas yang mengalami gangguan mental emosional, pasca trauma, maupun individu dengan riwayat gangguan kejiwaan sebelumnya berdasarkan hasil skrining, anamnesis, dan pemeriksaan psikiatrik.

V. Cara Melaksanakan Kegiatan Dalam pelaksanaan kegiatan di Instalasi Keswamas RSJ Mutiara Sukma menggunakan metode siklus PDSA (Plan, Do, Study and Action). PDSA singkatan bahasa Inggris dari Plan, Do, Study and Action, (Rencanakan, Kerjakan, Pelajari, Tindak Lanjuti) adalah suatu proses empat langkah alternatif yang umum digunakan dalam pengendalian kualitas untuk lebih menggambarkan hasil rekomendasinya.

VI. Sasaran No Kegiatan Target 1. Promosi Kesehatan Rumah Sakit 100% 2. Assertive Community Treatman (ACT) 100% 3. Layanan Hotlane 100% 4. Self Helf Group (SHG) 100% 5. Websate MAKPASOL(masyarakat aktif klik pasung on line) 100% 6. Integrasi 100% 7. Mobile Clinik 100% 8. Droping 100% 9. Home Visite 100% 10. Pendampingan Psikososial Pasca Bencana 100%

VII. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan NO 1 PKRS URAIAN - Penyuluhan pendidikan individu - Penyuluhan pendidikan kelompok 2 ACT ( Assertive Community Treatment) BULAN (2017) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 KET - SHG 2 x - Hotlane - MAKPASOL 3 Pelayanan Mobile 10 x - Integrasi 20 x - mobile clinic 20 x - Droping 20 x - Home Visit 20 x 4 Bencana Keterangan : = Jadwal kegiatan = Program = Bila diperlukan

VIII. Monitoring Evaluasi 1. Dilakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan secara berkala. a. Harian (laporan dari kegiatan). b. Bulanan (laporan Kepala Unit Kerja ke Kasi Pelayanan medikdan PMKP) c. Tahunan (laporan Kepala Unit Kerja ke Kasi Pelayanan medik dan PMKP) 2. Sarana yang dipergunakan dalam monitoring dan evaluasi adalah a. Laporan langsung ke Kasi Pelayanan Medik / Direktur ( secara teratur dan insidentil ). b. Rapat kerja unit. c. Rapat kerja bulanan. d. Rapat kerja kepala seksi e. Rapat koordinasi. f. Monev keswamas g. Paparan program kerja keswamas.

IX. Pencatatan dan Pelaporan 1. Pencatatan dan pelaporan hasil kegiatan Program Kerja Instalasi Keswamas RSJ Mutiara Sukma terdokumentasi melalui hard file dan soft file sesuai kebutuhan. Data hard file dan atau soft file terdokumentasi dan tersimpan di penanggung jawab dokumen keswamas. 2. Masing masing kegiatan mempunyai dokumentasi dalam bentuk hard file dan soft file sesuai dengan kebutuhan terkait Program Kerja Instalasi Keswamas. Mataram Tanggal : 1 Desember 2016 Kepala Instalasi KESWAMAS Dr. A. A. A. Arimawati Nip:19760124 200501 2 010