NOMINA KOSMIS DALAM BAHASA JAWA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB V PENUTUP. rubrik cerita Pasir Luhur Cinatur pada majalah PS, maka diperoleh simpulan

2. Punya pendirian, peduli sesama, berkomitmen dan bisa bertanggung jawab. Menurut aku, gentleman punya sifat yang seperti itu. Kalau punya pacar, dia

Analisis Morfologi Kelas Kata Terbuka Pada Editorial Media Cetak. Abstrak

sudah diketahui supaya tidak berulang-ulang menyebut benda tersebut, bahasa Jawa anak usia lima tahun yang berupa tingkat tutur krama, berjenis

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Bahasa adalah suatu alat komunikasi pada manusia untuk menyatakan

KATA JAHAT DENGAN SINONIMNYA DALAM BAHASA INDONESIA: ANALISIS STRUKTURAL

BAB 2 LANDASAN TEORETIS

STRUKTUR KALIMAT BAHASA INDONESIA DALAM KARANGAN DESKRIPSI MAHASISWA PROGRAM BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA.

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN TEORI

BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil dari penelitian berjudul Interferensi Morfologis

PROSES MORFOLOGIS PEMBENTUKAN KATA RAGAM BAHASA WALIKA

BAB I PENDAHULUAN. Kemiripan makna dalam suatu bentuk kebahasaan dapat menimbulkan

PENDAHULUAN. kelaziman penggunaannya dalam komunikasi sering terdapat kesalahan-kesalahan dianggap

BAB V PENUTUP. bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia pada karangan siswa kelas VII SMPN 2

BAB I PENDAHULUAN. wilayah Indonesia lainnya. Menurut Wedhawati dkk (2006: 1-2), Bahasa Jawa

BENTUK DAN MAKNA VERBA DENOMINAL BAHASA JAWA DALAM SARIWARTA PADA PANJEBAR SEMANGAT EDISI TAHUN 2011

BAB 2 LANDASAN TEORI. Dalam penelitian ini, dijelaskan konsep bentuk, khususnya afiksasi, dan

pada Fakultas Sastra Universitas Andalas

BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang kajian. Aji Kabupaten Jepara dapat disimpulkan sebagai berikut.

BAB V PENUTUP. A. Simpulan

KATA MENANGIS : BENTUK, PERILAKU, DAN MAKNA. Kumairoh. Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Dipnegoro. Abstrak

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi media massa berjalan dengan pesat saat ini.

NASKAH PUBLIKASI PEMAKAIAN PREPOSISI PADA KOLOM POS PEMBACA DI HARIAN SOLOPOS SKRIPSI

BAB II KAJIAN TEORI. Persinggungan antara dua bahasa atau lebih akan menyebabkan kontak

PEMBENTUKAN KATA PADA LIRIK LAGU EBIET G. ADE

KATA ULANG BAHASA INDONESIA PADA MAJALAH PAPIRUS EDISI JANUARI 2015

YAYASAN WIDYA BHAKTI SEKOLAH MENENGAH ATAS SANTA ANGELA TERAKREDITASI A

KONSTRUKSI OBJEK GANDA DALAM BAHASA INDONESIA

KATA HABIS : BENTUK, PERILAKU, DAN MAKNA Anisa Rofikoh Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

PENDAHULUAN Bahasa Jawa adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat suku Jawa untuk berkomunikasi antarsesama masyarakat Jawa.

BASINDO Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya Vol 1 No 1 - April 2017 (14-24)

Oleh: RIA SUSANTI A

PEMEROLEHAN NOMINA BAHASA INDONESIA ANAK USIA 3;5 TAHUN: STUDI KASUS SEORANG ANAK DI LUBUK MINTURUN PADANG

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. Konsep adalah ide-ide, penggambaran hal-hal atau benda-benda ataupun

BAB V PENUTUP. berdasarkan konteks pemakaian dibedakan atas istilah umum, dan istilah

Konjungsi yang Berasal dari Kata Berafiks dalam Bahasa Indonesia. Mujid F. Amin Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

PENGGUNAAN FRASA DAN KLAUSA BAHASA INDONESIA DALAM KARANGAN SISWA SEKOLAH DASAR

BAB V KESIMPULAN. polisemi, dan tipe-tipe hubungan makna polisemi. Hasil penelitian yang

PENGGUNAAN KATA DEK DALAM KABA KLASIK MINANGKABAU

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan alat komunikasi yang efektif. Bahasa dan proses

KAJIAN CAMPUR KODE DAN ALIH KODE PADA NOVEL PERAHU KERTAS KARYA DEWI LESTARI

ANALISIS KLAUSA DALAM SURAT KABAR HARIAN MEDIA INDONESIA. Oleh: Rismalasari Dalimunthe ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. sintaksis,fungsi semantis dan fungsi pragmatis.fungsi sintaksis adalah hubungan

CAMPUR KODE PADA BERITA UTAMA BALI ORTI BALI POST

Frase Nominal dan Frase Verbal pada Novel Pinatri Ing Teleng Ati Karya Tiwiek SA

BAB I PENDAHULUAN. yang ada di wilayah Sulawesi Tenggara, tepatnya di Pulau Buton. Pada masa

KAJIAN FRASA NOMINA BERATRIBRUT PADA TEKS TERJEMAHAN AL QURAN SURAT AL-AHZAB NASKAH PUBLIKASI. Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

BAB I PENDAHULUAN. Istilah sintaksis berasal dari bahasa Yunani (Sun + tattein) yang berarti

BAB I PENDAHULUAN. banyak masalah yang harus dicarikan jalan keluarnya secara sistematis. Salah satu

BAB 11 KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. bahasa yang digunakan akal budi memahami hal-hal lain ( KBBI,2007:588).

KATA BERSUFIKS PADA TAJUK RENCANA SUARA MERDEKA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN

BAB I PENDAHULUAN. Jika kita membaca berbagai macam karya sastra Jawa, maka di antaranya ada

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

TATA KATA DAN TATA ISTILAH BAHASA INDONESIA

PEMBELAJARAN SINTAKSIS BAGI PEMBELAJAR ASING YANG BERBAHASA PERTAMA BAHASA INGGRIS

BAB I PENDAHULUAN. perhatian khusus dari pengamat bahasa. Hal ini dikarenakan nominalisasi mempunyai

ANALISIS MORFOLOGI PADA KARANGAN SISWA KELAS VIII D SMP MUHAMMADIYAH 5 SURAKARTA. Naskah Publikasi Ilmiah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu berinteraksi antara satu

BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan

PENANDA KOHESI GRAMATIKAL KONJUNGSI ANTARKALIMAT DAN INTRAKALIMAT PADA TEKS PIDATO KENEGARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Morfologi merupakan cabang ilmu linguistik yang mengkaji tentang

BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian. dan analisis, yaitu mendeskripsikan dan menganalisis verba berprefiks ber- dalam

NOMINA DAN PENATAANNYA DALAM SISTEM TATA BAHASA INDONESIA

Analisis Fungsi Sintaksis Kata Apa dan Mana dalam Bahasa Indonesia

NUMERALIA BAHASA JAWA KUNO. Dewa Ayu Carma Miradayanti. Sastra Jawa Kuno Fakultas Sastra Universitas Udayana. Abstract

PENGGUNAAN FRASA BAHASA INDONESIA DALAM KARANGAN SISWA KELAS VII MTsN RENGEL TAHUN PELAJARAN 2014/2015

BAB V P E N U T U P. Ketika kita membaca semua tulisan dalam tesis yang berjudul Kalimat

VERBA DENOMINAL BAHASA JAWA PADA MAJALAH DJAKA LODHANG EDISI JULI SAMPAI SEPTEMBER TAHUN 2008

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

Penguasaan Kelas Kata Bahasa Indonesia. Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri 18 Padang. Sri Fajarini. Mahasiswa Universitas Andalas)

ABREVIASI DALAM MENU MAKANAN DAN MINUMAN DI KOTA SEMARANG: SUATU KAJIAN MORFOLOGIS

PROSES MORFOLOGIS KATA MAJU BESERTA TURUNANNYA INTISARI

KAJIAN NOMINA SERAPAN ASING DALAM MEDIA MASSA. oleh Dra. Nunung Sitaresmi, M.Pd FPBS UPI

B E N T U K D A N F U N G S I B A H A S A R I T U A L C A R U P A Ñ C A S A T A D I D E N P A S A R B A R A T. Putu Weja Apryanthi

DEIKSIS DALAM RUBRIK AH TENANE PADA SURAT KABAR HARIAN UMUM SOLOPOS

Alat Sintaksis. Kata Tugas (Partikel) Intonasi. Peran. Alat SINTAKSIS. Bahasan dalam Sintaksis. Morfologi. Sintaksis URUTAN KATA 03/01/2015

BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN. Sebagai alat interaksi sosial peranan bahasa besar sekali. Hampir tidak ada

Bab I Pendahuluan. Latar Belakang Pemikiran

BAB I PENDAHULUAN. Surat kabar atau dapat disebut koran merupakan lembaran-lembaran kertas

PROSES MORFOLOGIS PADA TERJEMAHAN AYAT-AYAT AL QUR AN YANG MENGGAMBARKAN KEPRIBADIAN NABI MUHAMMAD SAW NASKAH PUBLIKASI

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional digunakan oleh sebagian besar

Artikel Publikasi POLA FRASA NOMINA POSESIF DALAM CERITA PENDEK DI MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH TAHUN 2014

BAB II KAJIAN PUSTAKA. onoma yang berarti nama dan syn yang berarti dengan. Secara harfiah sinonim

PEMAKAIAN PERPADUAN LEKSEM BAHASA INDONESIA DALAM TABLOID NOVA EDISI JULI Jurnal Publikasi. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

BENTUKAN KATA DALAM KARANGAN BAHASA INDONESIA YANG DITULIS PELAJAR THAILAND PROGRAM DARMASISWA CIS-BIPA UM TAHUN

ANALISIS AFIKSASI DAN PENGHILANGAN BUNYI PADA LIRIK LAGU GEISHA DALAM ALBUM MERAIH BINTANG

KLASIFIKASI EMOSIONAL DALAM UNGKAPAN BAHASA INDONESIA YANG MENGGUNAKAN KATA HATI

KATA BESAR: BENTUK, PERILAKU, DAN MAKNA. Disusun Oleh: SHAFIRA RAMADHANI FAKULTAS ILMU BUDAYA, UNIVERSITAS DIPONEGORO, SEMARANG,50257

BAB 5 PENUTUP. Campur code..., Annisa Ramadhani, FIB UI, Universitas Indonesia

ABSTRAK. Kata Kunci: kamus, bahasa, sastra, istilah, kategori.

ARTIKEL JURNAL LINA NOVITA SARI NPM Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (Strata 1)

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. di luar bahasa, dan yang dipergunakan akal budi untuk memahami hal-hal tersebut

KARAKTERISTIK ALAT PERELATIF SING DAN KANG/INGKANG SERTA STRATEGI PERELATIFAN DALAM BAHASA JAWA

16, Vol. 06 No. 1 Januari Juni 2015 Pada dasarnya, secara semantik, proses dalam klausa mencakup hal-hal berikut: proses itu sendiri; partisipan yang

AFIKS-AFIKS PEMBENTUK VERBA DENOMINAL DALAM BAHASA JAWA ABSTRACT

PERILAKU SINTAKSIS FRASA ADJEKTIVA SEBAGAI PENGUAT JATI DIRI BAHASA INDONESIA

Transkripsi:

NOMINA KOSMIS DALAM BAHASA JAWA Oleh: Ashari Hidayat Jurusan Ilmu Budaya FISIP Universitas Jenderal Soedirman Jl. Kampus Lapangan Grendeng Purwokerto e-mail: asharisatu@yahoo.com Abstract Cosmic nouns in Javanese language are a group of nouns, which refers to astronomic and geographic notion. This research aims at describing its morphologic and syntactic characteristics. This research uses distributional and equivalent method. The data is collected from everyday use of language as well as its variety of the language, literature, and dictionary. The astronomic nouns refer to "sun", "moon", and "star". The geographic nouns refer to location and direction. Morphologically, cosmic nouns can be in the form of simple noun or complex noun from affixation. Some can be reduplicated while others can t. Some demonstrative and negation of Javanese language can be jointed with cosmic nouns. Syntactically, cosmic nouns can be in phrasal form. The dominant phrasal form, which emerges, has endocentric relation having center form which is clarified by peripheral form. Based on its references, astronomic and geographic nouns are categorized into specific and general noun. The complexity of cosmic noun is bound to the number as well as distance of the referent noun. The result of this research shows that cosmic nouns have its unique characteristics compared to other nouns. Nomina kosmis dalam bahasa Jawa adalah sekelompok nomina yang merujuk kepada makna astronomis dan geografis. Penelitian ini mendeskripsikan karakteristik morfologis dan sintaksis nomina kosmis dalam bahasa Jawa. Metode yang dipergunakan adalah metode distribusional dengan teknik hubung banding. Data diambil dari berbagai variasi pemakaian bahasa Jawa keseharian, ragam sastra, dan kamus. Nomina kosmis

Nomina Kosmis dalam Bahasa Jawa geografis merujuk kepada bulan dan bintang. Secara morfologis, nomina kosmis ini dapat berupa bentuk sederhana atau kompleks setelah mendapat afiksasi. Beberapa jenis nomina kosmis dapat mengalami reduplikasi. Beberapa aspek demonstratif dan negasi dalam bahasa Jawa dapat bergabung dengan nomina kosmis ini. Secara sintaksis, nomina kosmis dapat hadir dalam bentuk konstruksi frasal. Klausa utama dalam konstruksi frasa nomina kosmis bersifat endosentris mempunyai unsur pusat yang diperjelas oleh unsur tambahan. Berdasarkan rujukannya, nomina kosmis jenis astronomis dan geografis dikategorikan ke dalam sifat generik dan spesifik. Kompleksitas rujukan nomina kosmis berkaitan dengan aspek jumlah dan jarak. Dari hasil penelitian ini ditunjukkan bahwa nomina kosmis memiliki kekhasan dan karakteristik yang berbeda dengan nomina jenis lain dalam bahasa Jawa. Kata kunci: nomina kosmis; astronomi; geografi. A. PENDAHULUAN Konsep kosmis tradisional masyarakat Jawa terwakili oleh sejumlah kata benda atau nomina penunjuk benda-benda geografis maupun astronomis. Berkaitan dengan hal itu, bahasa Jawa memiliki sejumlah nomina yang merupakan representasi dari konsep kosmis masyarakat Jawa. Dewasa ini, beberapa kata masih dipakai penutur bahasa Jawa dan sebagian lagi hanya dipergunakan dalam ragam susastra. Nomina atau kata benda merupakan kelas kata yang produktif dalam bahasa Jawa. Beberapa penelitian telah dilakukan terhadap nomina bahasa Jawa. Penelitian tersebut bersifat deskriptif yang menghubungkan nomina dengan kajian umum morfologi maupun secara khusus memerikan perilaku dan komponen penandanya, seperti penelitian yang pernah dilakukan oleh Poedjosoedarmo (1979), Wedhawati et al. (1981), dan Gina (1986). Nomina penggolong konsep kosmis dalam bahasa Jawa ini menarik untuk dikaji lebih lanjut karakteristiknya karena SK Akreditasi No: 64a/DIKTI/Kep/2010 365

Ashari Hidayat memiliki kekhasan perilaku bila dibandingkan dengan jenis nomina yang lain. Pembahasan dalam makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik dan perilaku morfologis sintaktis nomina kosmis. Data dalam penelitian diambil dari pemakaian bahasa Jawa dalam ragam susastra, kamus bahasa Jawa, dan pemakaian bahasa Jawa keseharian. Metode Agih (Sudaryanto, 1993: 39) dipergunakan untuk mendeskripsikan konstruksi dasar nomina hingga kaitannya dengan konstituen lain yang berfungsi sebagai pewatasnya. Pelaksanaan metode distribusional tersebut dilakukan dengan beberapa teknik lanjutannya, seperti pengulangan dan perluasan bentuk, untuk menguji keberterimaan nomina kosmis. Di samping itu, untuk menentukan rujukan nomina kosmis dipergunakan metode padan dengan teknik pilah unsur penentu yang mengandalkan daya pilah referensial (Sudaryanto, 1993: 21) dengan sarana intuisi kebahasaan peneliti sebagai penutur bahasa Jawa yang memahami pemakaian sekelompok nomina tersebut. Model analisis mempergunakan cara kerja penanganan data morfologis yang berupa satuan morfem (Ramlan, 1985: 75; Bauer, 1988: 109) dan sebagai satuan leksem (Kridalaksana, 1987: 80). Dalam makalah ini, nomina yang berasal dari bahasa Jawa ragam krama tidak dipisahkan secara khusus dengan nomina yang berasal dari ragam ngoko karena analisisnya berfokus pada tingkatan konstruksi formal dan belum menghubungkannya dengan aspek semantisnya secara mendalam atau sosiokultural yang melatarbelakangi pemakaian kata tersebut. B. NOMINA KOSMIS ASTRONOMIS Nomina kosmis penunjuk konsep astronomis (untuk selanjutnya akan disebut nomina astronomis) dalam bahasa Jawa dapat berupa nomina dasar yang memiliki karakteristik sebuah morfem bebas yang tidak dapat digunakan untuk membentuk kelas kata lain. Kata srengenge matahari dan surya matahari tidak dapat digunakan sebagai dasar pembentuk verba menjadi *nyrengenge 366 Adabiyyāt, Vol. IX, No. 2, Desember 2010

Nomina Kosmis dalam Bahasa Jawa bermatahari dan *nyurya bermatahari. Hal itu tentunya berbeda dengan nomina lor utara dan wetan timur yang dapat berubah menjadi verba ngalor menuju utara dan ngetan menuju timur. Seperti dikemukakan oleh Kridalaksana (2005: 71) bahwa nomina tidak bernyawa dapat meliputi penggolong benda, tempat dan arah. Kriteria nomina penggolong benda-benda yang berkait dengan konsep geografis juga berhubungan dengan perihal benda-benda antariksa yang dapat diamati dari bumi. Srengenge matahari, rembulan bulan, dan lintang bintang yang dalam bahasa Jawa disebut dengan sejumlah kata beserta variasinya akan menunjukkan karakteristik tersendiri dibandingkan dengan subkategorisasi nomina lainnya. Dalam bahasa Jawa, nomina astronomis ini tersebar dalam tingkat tutur ngoko maupun krama yang masing-masing pemakaiannya disesuaikan dengan konteks situasional. Uraian lebih lanjut tentang nomina astronomis dideskripsikan sebagai berikut. 1. Nomina Penunjuk Matahari Karakteristik nomina astronomis penunjuk matahari ini adalah generik dan tunggal karena bendanya hanya satu. Nomina penunjuk matahari ini antara lain. srengenge surya aditya baskara bagaskara pratanggapati matahari matahari matahari matahari matahari matahari Kata srengenge merupakan nomina yang paling sering dipergunakan oleh penutur bahasa Jawa dalam ragam ngoko. Kata penunjuk matahari yang lain, seperti surya, aditya, baskara, bagaskara, dan pratanggapati merupakan nomina yang termasuk SK Akreditasi No: 64a/DIKTI/Kep/2010 367

Ashari Hidayat dalam ragam krama. Nomina yang termasuk dalam ragam krama ini lebih sering dijumpai pemakaiannya dalam ragam susastra. 2. Nomina Penunjuk Bulan Nomina astronomis penunjuk bulan memiliki karakter yang sama dengan nomina penunjuk matahari yang bersifat generik dan tunggal. Nomina penunjuk bulan ini di antaranya sebagai berikut. rembulan mbulan candra wulan sasangka bulan bulan bulan bulan bulan Nomina penunjuk bulan yang paling dikenal oleh penutur bahasa Jawa adalah mbulan yang merupakan varian dari rembulan. Kata mbulan ini lazim dipakai dalam bahasa Jawa ragam ngoko, sedangkan rembulan dapat dipakai dalam ragam krama maupun ngoko. Nomina yang lain, seperti candra, wulan, dan sasangka lebih banyak dipakai dalam ragam krama. Nomina ini dapat bergabung dengan kata sandang sang hyang, misal sang hyang rembulan, sang hyang candra, dan sang hyang pratanggapati.. 3. Nomina Penunjuk Bintang Nomina penunjuk bintang maksudnya nomina yang secara umum digunakan sebagai referen dari makna bintang. Nomina penunjuk bintang dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu yang bersifat generik dan spesifik. Nomina penunjuk bintang generik ini tidak banyak jumlahnya, yaitu: lintang kartika bintang bintang 368 Adabiyyāt, Vol. IX, No. 2, Desember 2010

Nomina Kosmis dalam Bahasa Jawa Selain bersifat generik, nomina penunjuk bintang ini dapat pula bersifat spesifik. Dalam tingkatan yang spesifik nomina penunjuk bintang menjadi lebih produktif jumlahnya. Nomina penunjuk bintang spesifik ini bersifat tunggal, maksudnya, mengarah pada satu benda saja. Nomina penunjuk bintang spesifik ini didominasi oleh bentuk gabungan morfem yang dapat dikategorikan sebagai kata majemuk. Sebagaimana telah disinggung oleh Poedjosoedarmo (1979: 164), bentuk majemuk dalam penunjukan benda-benda astronomis dalam bahasa Jawa berhubungan dengan sistem kebudayaan masyarakat Jawa. Nomina penunjuk bintang spesifik ini dikemukakan sebagai berikut. panjer enjing panjer rina panjer sore joko belek lintang pari gubug penceng lintang waluku lintang alihan planet Venus planetvenus planet Venus planet Mars rasi Salib rasi Biduk rasi Orion meteor C. NOMINA KOSMIS GEOGRAFIS Nomina penunjuk konsep geografis (untuk selanjutnya disebut nomina geografis) ini berhubungan dengan konsep penunjukan terhadap benda-benda yang berhubungan dengan faktor kebumian. Subkategorisasinya dapat dimasukkan dalam kelompok nomina tidak bernyawa. Nomina geografis terdiri atas penunjukan terhadap lokasi dan arah. Secara sintaktis, nomina geografis dapat ditandai dengan kemampuannya bergabung dengan preposisi ana ing atau neng di, misalnya dalam konstruksi ana ing kali di sungai, ana ing wetan di timur, neng SK Akreditasi No: 64a/DIKTI/Kep/2010 369

Ashari Hidayat laut di laut, dan neng sawah di sawah. Deskripsi lebih lanjut nomina konsep geografis dipaparkan sebagai berikut. 1. Nomina Geografis Lokasi Nomina geografis penunjuk lokasi ini bersifat umum, artinya penunjukan terhadap suatu lokasi masih berupa nomina dasar yang dapat dikembangkan ke dalam satuan geografis lain yang lebih besar. Misalnya: kali gunung samodra segara sungai gunung laut laut 2. Nomina Geografis Penunjuk Arah Nomina geografis penunjuk arah adalah nomina dasar yang menunjukkan arah geografis. Arah geografis ini meliputi mata angin dan arah posisional sebuah benda. Misalnya: lor wetan kulon kidul ngisor dhuwur kiwa tengen ngarep mburi utara timur barat selatan bawah atas kiri kanan depan belakang 370 Adabiyyāt, Vol. IX, No. 2, Desember 2010

Nomina Kosmis dalam Bahasa Jawa D. STRUKTUR MORFOLOGIS NOMINA KOSMIS Perilaku nomina kosmis tidak selalu menunjukkan kesamaan ketika mengalami afiksasi. Beberapa nomina dapat mengalami afiksasi sementara yang lainnya justru menjadi tidak berterima saat dilekati oleh afiks. Sudaryanto (1991: 29) telah mendaftar sejumlah afiks yang dapat bergabung dengan nomina. Afiks-afiks tersebut jika diujigabungkan dengan nomina kosmis akan memperluas makna. Deskripsi nomina yang dapat mengalami afiksasi diuraikan dalam rumusan sebagai berikut. 1. Afiksasi dengan Konfiks pa-/-an Konfiks pa-/-an jika bergabung dengan nomina kosmis berfungsi untuk membentuk nomina yang menyatakan tempat atau perihal. Perhatikan contoh berikut ini. pa- + lintang + -an > palintangan perihal perbintangan pa- + kiwa + -an > pakiwan wilayah kiri pa- + gunung + -an > pagunungan wilayah gunung pa- + segara + -an > pasegaran perihal laut 2. Afiksasi dengan Sufiks -an Sufiks an jika bergabung dengan nomina kosmis akan menghasilkan makna kawasan atau tempat. Misal: kali + -an > kalen kawasan sungai pinggir + -an > pinggiran tempat pinggir kebon + -an > kebonan kawasan kebun 3. Afiksasi dengan Prefis N- Bergabungnya prefik nasal N- dengan nomina geografis akan mengubah kategori menjadi verba yang menunjukkan makna terjadinya sebuah aktivitas gerakan menuju ke arah yang disebut bentuk dasarnya. Proses morfofonemik akan terjadi dalam afiksasinya. Misalnya: N- + lor > ngalor menuju utara SK Akreditasi No: 64a/DIKTI/Kep/2010 371

Ashari Hidayat N- + kidul > ngidul menuju selatan N- + wetan > ngetan menuju timur N- + kulon > ngulon menuju barat N- + kilen > ngilen menuju barat 4. Afiksasi dengan Sufiks -e Sufiks e dalam bahasa Jawa berfungsi untuk memberi penegasan terhadap bentuk dasar yang dilekatinya. Adanya sufiks -e dalam nomina kosmis menunjukkan kata tersebut mengalami penegasan dalam penunjukannya. Misal: srengenge + -e > srengengene mataharinya rembulan +-e > rembulane bulannya gunung + -e > gununge gunungnya segara +-e > segarane lautnya E. STRUKTUR SINTAKTIS NOMINA KOSMIS Nomina kosmis memiliki karakteristik yang beragam saat berada dalam struktur frasal. Antara nomina astronomis dan nomina geografis terdapat perbedaan dalam hal konstituen atributif yang dapat bergabung dengan inti frasa. Perbedaan perilaku ini berhubungan dengan subkategorisasi penggolongan yang membedakan antara konsep astronomis dan geografis. Nomina konsep astronomis lebih dapat berterima bila bergabung dengan konstituen yang menunjukkan jarak yang jauh, sedangkan nomina geografis cenderung dapat bergabung dengan konstituen yang menunjukkan jarak yang dekat maupun jauh. Persamaan antara keduanya adalah kemampuannya membentuk konstruksi frasa endosentrik atributif. Uraian lebih lanjut perilaku nomina ini dipaparkan sebagai berikut. 372 Adabiyyāt, Vol. IX, No. 2, Desember 2010

Nomina Kosmis dalam Bahasa Jawa 1. Nomina Kosmis Berwujud Frasa Endosentrik Atributif a. Nomina astronomis + nomina astronomis Konstruksi frasa nominal dapat terdiri atas nomina astronomis generik yang bergabung dengan nomina astronomis spesifik. Hasil gabungan dua unsur ini membentuk konstruksi frasa endosentrik atributif. Misal: lintang panjer rina lintang kemukus lintang waluku lintang pari bintang kejora bintang kemukus bintang waluku bintang pari Nomina astronomis spesifik tidak dapat langsung digunakan untuk menunjuk benda-benda langit yang dimaksud. Penutur bahasa Jawa lazimnya akan menggabungkannya dengan nomina astronomis generik. Frasa hasil bentukannya berupa frasa endosentrik atributif dengan unsur inti nomina astronomis spesifik dan atributnya nomina astronomis generik. b. Nomina geografis + nomina geografis Struktur frasa nominal ini dapat terbagi atas dua jenis, yaitu bersifat endosentrik atributif dengan unsur utama berposisi di belakang dan frasa dengan unsur utama berposisi di depan. Misal: kulon kali kidule gunung segara kidul barat sungai selatannya gunung laut selatan Dari tiga contoh di atas, dapat dianalisis frasa kulon kali memiliki unsur inti kali dan atributnya kulon. Frasa kidule gunung memiliki unsur inti gunung dengan atribut kidule. Frasa segara kidul berunsur inti segara dengan atribut kidul. SK Akreditasi No: 64a/DIKTI/Kep/2010 373

Ashari Hidayat 2. Nomina Kosmis Berwujud Frasa Eksosentrik a. Nomina Astronomis + Demonstrativa Demonstrativa adalah kata penunjuk. Demonstrativa yang dapat membentuk makna berterima jika bergabung dengan nomina astronomis adalah kae itu. Demonstrativa frasa ini merupakan deiksis penanda jarak antara penunjuk dan yang ditunjuk. Purwo (1984: 3) menyatakan bahwa dalam bahasa Jawa kata menika ini/itu dalam ragam krama merupakan bentuk yang digunakan untuk menetralkan bentuk iki ini dan kae itu. Dalam hubungannya dengan konstruksi frasa nominal ini penggabungan iki ini dengan nomina konsep astronomis tidak menghasilkan makna yang berterima, seperti dalam konstruksi *lintang iki bintang ini, *srengenge iki matahari ini, dan *rembulan iki bulan ini. Konstruksi yang dapat berterima adalah sebagai berikut. langite kae lintang kae srengengene kae rembulan kae langitnya itu bintang itu mataharinya itu bulan itu b. Nomina konsep geografis + demonstrativa Demonstrativa yang dapat bergabung dengan nomina geografis adalah kae itu, iki ini, menika ini/itu, dan kuwi itu. Konstruksi frasa nominal jenis ini mengandung makna penunjukan yang dapat mengacu pada penanda jarak yang dekat maupun jauh. Misal: gunung kae redi menika laute kae laute kuwi samudranipun menika gunung itu gunung ini/itu lautnya itu lautnya itu lautnya ini/itu 374 Adabiyyāt, Vol. IX, No. 2, Desember 2010

Nomina Kosmis dalam Bahasa Jawa kulon kae wetan kae (di) barat itu (di) timur itu 3. Daya Gabung Nomina Kosmis dengan Negasi Nomina dimaknai sebagai kelas kata yang dapat berfungsi sebagai subjek atau objek dari sebuah klausa dan sering dipadankan dengan orang, benda atau hal lain yang dibendakan dalam alam di luar bahasa (Kridalaksana, 2001: 145). Nomina dalam bahasa Jawa disebut tembung aran yang secara sintaksis tidak dapat dinegasikan dengan ora dan dapat bergabung dengan penunjuk jumlah. Dengan demikian, nomina kosmis dalam bahasa Jawa tidak akan berterima jika bergabung dengan negasi ora, misal *ora laut tidak laut, *ora pratanggapati tidak matahari, dan *ora kali tidak sungai. Konstruksi akan berterima jika bergabung dengan negasi dudu atau sanes bukan, misalnya sanes pratanggapati bukan matahari, dudu rembulan bukan bulan, dan dudu kali bukan sungai. Lebih lanjut, dijelaskan, bahwa penggolongan nomina bahasa Jawa dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu nomina yang merujuk pada benda-benda alami, buatan, dan benda-benda abstraksi yang akhirnya dapat digolongkan dalam kategori nomina konkret dan abstrak (Wedhawati et al, 1981: 17). Merujuk pada pendapat Kridalaksana (2005: 70), dalam hemat penulis, nomina kosmis ini dapat dikelompokkan sebagai nomina tidak bernyawa terbilang dan penunjuk konsep geografis untuk penunjukan benda-benda geografis yang berada di bumi maupun yang dapat dilihat dari bumi semacam benda-benda antariksa. 4. Reduplikasi Nomina Kosmis Nomina astronomis dan geografis memiliki perilaku yang berbeda jika direduplikasi. Sebagian nomina geografis akan mengalami perubahan kelas kata menjadi verba jika direduplikasi. Namun begitu, ada juga nomina geografis yang tidak mengalami perubahan kelas kata setelah direduplikasi, misalnya kata gunung. Nomina astronomis tidak dapat dikenai SK Akreditasi No: 64a/DIKTI/Kep/2010 375

Ashari Hidayat proses reduplikasi secara keseluruhan. Hanya kata lintang saja yang dapat direduplikasi. Pereduplikasian terhadap nomina astronomis selain lintang justru menghasilkan makna yang tidak berterima. Perhatikan contoh berikut. wetan + R > ngetan-ngetan terlalu ke timur kulon + R > ngulon-ngulon terlalu ke barat kidul + R > ngidul-ngidul terlalu ke selatan lor + R > ngalor-ngalor terlalu ke utara gunung + R > gunung-gunung banyak gunung lintang + R > lintang-lintang banyak bintang rembulan + R > *rembulan-rembulan banyak bulan srengenge + R > *srengenge-srengenge banyak matahari E. PENUTUP Nomina kosmis digolongkan berdasarkan cakupan konsep makna sekelompok nomina bahasa Jawa dalam penamaan astronomis dan geografis. Perilaku morfologis dan sintaksis nomina kosmis teruraikan dengan mengujinya melalui konstituen lain yang digabungkan sehingga menjadi bentuk-bentuk turunan. Dari bentuk-bentuk turunan itu akan ditemukan kompleksitas makna yang menandai wujud atau sifat benda-benda atau konsep astronomis dan geografis yang dirujuknya. Kompleksitas nomina kosmis juga terikat oleh jumlah dan jarak benda-benda astronomis dan geografis yang dirujuk. DAFTAR PUSTAKA Bauer, Laurie. 1988. Introducing Linguistic Morphology. Edinburgh: Edinburgh University Press. 376 Adabiyyāt, Vol. IX, No. 2, Desember 2010

Nomina Kosmis dalam Bahasa Jawa Gina. 1986. Komponen Kata Benda Bahasa Jawa dalam Widyaparwa No. 30 Oktober 1986. Yogyakarta: Balai Penelitian Bahasa. Kridalaksana, Harimurti. 1987. Beberapa prinsip Perpaduan Leksem dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Kanisius. Kridalaksana, Harimurti. 2005. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Mardiwarsito, L. 1990. Kamus Jawa Kuna (Kawi) Indonesia. Flores: Nusa Indah. Purwo, Bambang Kaswanti. 1984. Deiksis dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Ramlan, M. 1985. Ilmu Bahasa Indonesia Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: CV Karyono Sudaryanto (ed). 1991. Tatabahasa Baku Bahasa Jawa. Yogyakarta: DutaWacana University Press. Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Poedjosoedarmo, Soepomo. 1979. Morfologi Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Wedhawati dkk. 1981. Sistem Morfologi Kata Benda dan Kata Sifat BahasaJawa. Yogyakarta: Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah DIY. SK Akreditasi No: 64a/DIKTI/Kep/2010 377