2015 PENGARUH STORE ATMOSPHERE TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. henti-hentinya bagi perusahaan-perusahaan yang berperan di dalamnya. Banyaknya

BAB I PENDAHULUAN. Dalam beberapa tahun terakhir ini kota Bandung menjadi salah satu tujuan

BAB I PENDAHULUAN. Termasuk dalam bidang ritel yang saat ini tumbuh dan berkembang pesat seiring

I. PENDAHULUAN. Dewasa ini perkembangan dunia bisnis semakin pesat, ditandai dengan makin

BAB I PENDAHULUAN. maksimal guna mempertahankan keberadaan perusahaan di tengah persaingan.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Masalah Pada era globalisasi saat ini persaingan bisnis antar industri ritel sangat ketat, baik di pasar

BAB I PENDAHULUAN. membuat sebagian besar rakyat Indonesia terjun ke bisnis ritel. Bisnis ritel

BAB I PENDAHULUAN. Bisnis ritel tersebut antara lain hypermart, supermarket, specialty store,

BAB I PENDAHULUAN. pembelian dan mengkonsumsi. Untuk memenuhi ketiga aktivitas tersebut, terjangkau terutama bagi masyarakat berpenghasilan sedang.

I. PENDAHULUAN. Jenis Wisatawan Domestik Asing Jumlah Domestik Asing Jumlah Domestik Asing

I PENDAHULUAN. Indonesia masih memperlihatkan kinerja ekonomi makro nasional yang relatif

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I - PENDAHULUAN 1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. bidang ekonomi yang semakin membuka peluang pengusaha untuk turut

BAB I PENDAHULUAN. jumlah penduduk. Seiring dengan pesatnya daya beli masyarakat dalam bidang

BAB I PENDAHULUAN. persaingan bisnisnya menunjukan perkembangan yang cukup pesat, namun tidak

BAB I PENDAHULUAN. kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi global. Dari tahun ke tahun, jumlah. kegiatan wisata semakin mengalami peningkatan.

BAB I PENDAHULUAN. tiap tahun naik sekitar 14%-15%, dalam rentang waktu tahun 2004 sampai dengan

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan bisnis eceran (retailer business) yang ada di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. diprediksi terutama pada sektor perusahaan jasa. Setiap perusahaan berlomba

BAB I PENDAHULUAN. memberikan keuntungan dan menghidupi banyak orang. Pada saat krisis UKDW

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pariwisata merupakan usaha yang pada umumnya menjanjikan

2015 PENGARUH STORE ATTRIBUTE TERHADAP LOYALITAS WISATAWAN DIKONTROL OLEH MOTIVASI BERBELANJA

BAB I PENDAHULUAN. Industri ritel merupakan salah satu industri yang strategis di Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. munculnya pasar tradisional maupun pasar modern, yang menjual produk dari

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

V. KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan

BAB I PENDAHULUAN. mereka memanfaatkan peluang-peluang bisnis yang ada dan berusaha untuk

BAB I Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Pusat perbelanjaan moderen merupakan tempat berkumpulnya. pedagang yang menawarkan produknya kepada konsumen.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia banyak tertolong oleh sektor perdagangan ritel. Industri ritel

BAB I PENDAHULUAN. bagi perusahaan yang beroperasi di Indonesia. Di satu sisi, Era globalisasi

BAB I PENDAHULUAN. langsung. Disadari atau tidak bisnis ritel kini telah menjamur dimana-mana baik

BAB I PENDAHULUAN. tertentu. Keberadaan perusahaan ritel yang bermunculan di dalam negeri

BAB I PENDAHULUAN. yang bergerak dibidang perdagangan eceran (retail) yang berbentuk toko,

BAB I PENDAHULUAN. mengalami perkembangan yang cukup positif. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia

BAB I PENDAHUALAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Kemajuan dibidang perekonomian selama ini telah banyak

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian (Info Bisnis, Maret 2007:30 ( 8/10/2009).

BAB I PENDAHULUAN. Industri pariwisata merupakan salah satu sektor ekonomi, juga merupakan

1.1 DATA KUNJUNGAN WISATAWAN KE KOTA BANDUNG PADA TAHUN

BAB 1 PENDAHULUAN. dibidang perdagangan eceran yang berbentuk toko, minimarket, departement

BAB I PENDAHULUAN. dan Perdagangan Nomor 23/MPP/KEP/1/1998 tentang Lembaga-lembaga

BAB 1 PENDAHULUAN. semakin banyaknya bisnis ritel tradisional yang mulai membenahi diri menjadi bisnis ritel

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan bisnis ritel dari tahun ke tahun cukup pesat. Hal ini dapat dari

BAB I PENDAHULUAN. Kepariwisataan di Indonesia telah tumbuh dan berkembang menjadi

I. PENDAHULUAN. Lapangan Usaha * 2011** Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan, dimana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul

BAB I PENDAHULUAN. Pariwisata muncul sebagi salah satu sektor yang cukup menjanjikan dalam

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan pembangunan di Indonesia diikuti pula dengan. perkembangan di bidang ekonomi. Sejalan dengan kemajuan tersebut

BAB I PENDAHULUAN. peritel tetap agresif melakukan ekspansi yang memperbaiki distribusi dan juga

BAB 1 PENDAHULUAN. hal itu, Ghanimata (2012) mengatakan para pemasar harus menerapkan. ujung tombak keberhasilan pemasaran.

BAB I PENDAHULUAN. kepuasaan pelanggan untuk memaksimalkan laba dan menjaga. keberlangsungan perusahaanya. Hal ini juga untuk memberikan kepuasan

BAB 1 PENDAHULUAN. Fenomena ini dapat dibuktikan dengan adanya perubahan gaya hidup masyarakat

BAB 1 PENDAHULUAN. hanya untuk bersenang - senang, memenuhi rasa ingin tahu, menghabiskan waktu senggang

BAB I PENDAHULUAN. menjadi pendorong utama perekonomian dunia pada abad ke-21, dan menjadi salah

Judul : Pengaruh Retail Marketing Mix

ANALISIS KEPUTUSAN PEMBELIAN DITINJAU DARI FAKTOR PSIKOGRAFIS KONSUMEN MATAHARI DEPARTMENT STORE SOLO SQUARE SKRIPSI. Untuk Memenuhi Persyaratan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dalam kehidupan ini, manusia dihadapkan pada berbagai macam

BAB I PENDAHULUAN. dan lain-lain oleh masing-masing destinasi pariwisata. melayani para wisatawan dan pengungjung lainnya 1

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi Indonesia. Menurut Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU),

BAB I PENDAHULUAN. maupun wilayahnya sebagai daerah wisata hingga mampu meningkatkan

Jumlah Restoran dan Kafe

BAB I PENDAHULUAN. yang ketat antar perusahaan, terutama persaingan yang berasal dari perusahaan

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh adanya perkembangan ekonomi global yang bergerak di bidang

BAB I PENDAHULUAN. Pariwisata merupakan salah satu sektor yang mampu menunjang kemajuan

BAB I PENDAHULUAN. mengelola, mengatur, dan memanfaatkan pegawai sehingga dapat berfungsi

BAB I PENDAHULUAN. ritel yang telah mengglobalisasi pada operasi-operasi ritel. Pengertian ritel secara

BAB I PENDAHULUAN. segi kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier merupakan suatu kebutuhan

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN UKDW. ritel modern seperti minimarket daripada pasar tradisional. strategis serta promosi yang menarik minat beli.

BAB I PENDAHULUAN. produk dan jasa yang tersedia. Didukung dengan daya beli masyarakat yang terus

BAB I PENDAHULUAN. lagi. Penelitian yang dilakukan oleh World Tourism Organizatioan (WTO)

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan usaha dalam bidang ritel dalam perkembangannya sangat

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pariwisata merupakan usaha yang pada umumnya sangat

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi pada dasarnya dicerminkan oleh terjadinya

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB I PENDAHULUAN. ruko (rumah toko) sehingga diseluruh pelosok Surabaya tidak menutup

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Kotler (2009 ; 215) : Eceran (retailing)

BAB I PENDAHULUAN UKDW. alat pemasaran yang disebut dengan bauran pemasaran(marketing mix). Marketing

BAB 1 PENDAHULUAN. jenis seperti kios, pasar modern/tradisional, department store, butik dan lain-lainnya

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. bidang ekonomi yang semakin membuka peluang pengusaha asing untuk turut

BAB I PENDAHULUAN. Pariwisata adalah suatu kegiatan yang unik, karena sifatnya yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. sementara, tidak bekerja yang sifatnya menghasilkan upah, dilakukan perorangan

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI AGUSTUS 2014

Transkripsi:

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perlambatan ekonomi global berdampak hampir di semua negara sehingga berpengaruh terhadap target pencapaian jangka panjang, hal ini disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi yang tidak merata akibatnya terjadi ketimpangan yang membuat negara dalam keadaan berkembang semakin sulit tumbuh karena sangat dipengaruhi oleh kondisi negara maju yang sedang mengalami krisis. Negara maju sebagai penyokong utama perekonomian dunia kemudian melakukan perbaikan yang membuatnya lebih berfokus pada upaya pemulihan sehingga membuat kerjasama ekonomi yang sedang dilakukan tidak berlangsung dengan baik dan berdampak kepada melemahnya prospek pertumbuhan negara berkembang karena dipersulit oleh ketatnya kebijakan moneter yang ditetapkan negara maju. Meskipun terjadi perlambatan ekonomi global pada Negara maju dan juga Negara berkembang, perkembangan positif dapat terlihat di sektor perdagangan barang yang terus menunjukan kenaikan persentase pertumbuhan dan diprediksi dapat terus meningkat sehingga membuat posisi ekonomi global berada dalam keadaan moderat. Pendorong utama peningkatan presentase tersebut diperkirakan berasal dari kawasan Asia Pasifik yaitu di sektor penjualan barang pada bisnis ritel yang terus mengalami pertumbuhan hingga dapat mencakup seluruh kebutuhan pasar dunia. Hal itulah yang menjadi salah satu faktor yang membuat perekonomian dunia masih sanggup bertahan di kondisi moderat dan memberikan kesempatan lebih lama untuk memperbaiki kondisi perekonomian agar kembali dapat mencapai target peningkatan pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang akan berpengaruh kepada stabilitas di setiap Negara. Pertumbuhan volume penjualan ritel dikawasan Asia Pasifik pada tahun 2013-2014 dapat dilihat pada gambar 1.1, berikut ini: 1

2 Vietnam 3,8 9,5-2,4-0,6 Thailand Taiwan 2,9 2,5 Korea Selatan -0,1 Singapore Philipines 1,2 1,6 4,6 4,2 4,4 Pakistan 3,9 5,1 New Zealand 3,2 6,3 Malaysia 5,4 6,4 Japan 0,2 0,7 Indonesia India 1,7 3,8 4,3 4 Hong Kong 3,1 6,6 China 8,8 9,3 Australia 1,3 1,5 2014 2013 Sumber: http://www.pwchk.com/home/eng/pr_120215.html Gambar 1. 1 Pertumbuhan Volume Penjualan Ritel Di Kawasan Asia Pasifik Tahun 2013-2014

3 Indonesia termasuk negara di Asia Pasifik yang mengalami pertumbuhan bisnis ritel yang baik meski dalam kategori barang tertentu masih mengalami minus namun pada kategori barang lain menunjukan perbaikan yang signifikan salah satunya dari kategori ritel pakaian. Produk pakaian merupakan kebutuhan pokok dengan tingkat permintaan yang semakin tinggi karena populasi masyarakat Indonesia begitu besar, oleh sebab itu perlu diseimbangkan dengan penawaran yang juga tinggi akibatnya bisnis tersebut mengalami pertumbuhan yang pesat sehingga memperketat persaingan di usaha sejenis. Pada umumnya konsumen sekarang ini lebih tertarik melakukan pembelian karena disertai dengan fasilitas yang bersifat rekreatif, terutama pada bisnis ritel oleh karena itu banyak toko didesain dengan suasana senyaman mungkin dan memudahkan konsumen melakukan transaksi pembelian seperti pada konsep butik, department store, distribution store, factory outlet dan lainnya. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing juga mengalami pertumbuhan yang baik terutama pada factory outlet yang telah menjadi tujuan wisatawan untuk datang kesuatu kota. Bandung merupakan kota yang terkenal dengan wisata belanja khususnya factory outlet dan tersebar secara strategis di sepanjang jalan menuju objek wisata lainnya, selain daripada itu suasana Bandung yang kondusif menjadikannya nyaman untuk dikunjungi sehingga membuat jumlah wisatawan setiap tahunnya mengalami peningkatan yang dapat dilihat pada Tabel 1.1 berikut ini. Tabel 1. 1 Jumlah Wisatawan Yang Datang ke Kota Bandung Tahun 2010-2014 Tahun Wisatawan Wisatawan Jumlah Persentase Mancanegara Nusantara Wisatawan Pertumbuhan 2010 228.449 4.951.439 5.179.888-2011 225.585 6.487.239 6.712.824 29.59% 2012 176.855 5.080.584 5.257.439-21.68% 2013 176.432 5.388.292 5.564.724 5.84% 2014 180.143 5.627.421 5.807.564 4.36% Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung 2015

4 Berdasarkan tabel 1.1 terlihat bahwa pertumbuhan wisatawan yang datang ke kota Bandung secara umum mengalami peningkatan yang sangat baik setiap tahunnya terutama di tahun 2011 yang mengalami pelonjakan wisatawan baik nusantara maupun manca negara. Pelonjakan tersebut disebabkan oleh strategi yang dilakukan dengan meningkatkan kualitas pelayanan transportasi penerbangan yang semakin banyak jumlahnya yang bertujuan untuk mempermudah para wisatawan datang ke kota Bandung dan juga perbaikan akses jalan ke sejumlah objek wisata di Bandung menjadi prioritas pemerintah setempat dalam upaya peningkatan jumlah kunjungan, selain itu juga momen yang strategis terjadi dimana waktu liburan keluarga menjadi lebih panjang karena bertepatan dengan libur nasional kemudian dilanjutkan libur kalender pendidikan. Di setiap tahunnya daya tarik utama wisatawan datang ke kota Bandung adalah untuk berbelanja karena di kota tersebut terdapat banyak factory outlet dan tempat belanja lainnya yang tersebar secara strategis seperti yang ditunjukan pada tabel 1.2 berikut ini. Tabel 1. 2 Klasifikasi Pasar Modern di Kota Bandung Menurut Jenis No. Jenis Pasar Modern Jumlah 2013 2014 1 Departement Store 5 5 2 Hypermarket 8 7 3 Mall 17 17 4 Minimarket 591 593 5 Perkulakan 3 3 6 Distribution Outlet 135 135 7 Factory Outlet 98 98 8 Supermarket 49 49 Total 906 907 Sumber: diolah dari http://bandungkota.bps.go.id/ Berdasarkan tabel 1.2 dapat dilihat bahwa tidak ada peningkatan signifikan di hampir semua jenis pasar modern di kota Bandung hal ini di karenakan terjadi

5 pembatasan pendirian pasar modern karena jumlah tersebut sudah sangat banyak sehingga membuat pangsa pasar semakin kecil terutama pada industri ritel pakaian dimana factory outlet bersaing dengan pasar ritel modern dari jenis lainnya untuk melakukan pengembangan dalam pelayanan toko. Di awal perkembangannya, factory outlet menawarkan harga murah karena langsung menjual barang dari pabriknya, namun kini dengan mempertimbangkan pesaing akhirnya factory outlet mulai memperhatikan strategi lain seperti kestrategisan lokasi, pelayanan yang ramah, keragaman dan kualitas produk, kenyamanan suasana toko, dan promosi yang membuat konsumen tertarik untuk berbelanja. Selain menghadapi pesaing dari jenis pasar berbeda saat factory outlet yang jumlahnya sudah terhitung banyak di Bandung membuat persaingan sejenis tetap tinggi, hanya factory outlet dengan pengelolaan yang baik dapat mengungguli para pesaing. Dengan semakin banyaknya pilihan toko ritel pakaian selain factory outlet yang beroperasi membuat pangsa pasar terbagi dan menyebabkan pertumbuhan penjualan semakin menurun setiap tahunnya, seperti yang terjadi pada The Summit, Stamp, dan The Oasis yang berada di sepanjang jalur wisata yaitu Jl. L.L.R.E. Martadinata, dapat dilihat pada Tabel 1.3 berikut ini. Tabel 1. 3 Jumlah Pengunjung di Factory Outlet The Summit, Stamp, dan The Oasis Tahun 2013-2014 Nama Factory Outlet Jumlah Pengunjung 2013 2014 Persentase Pertumbuhan The Summit 245.623 231.342-5,81% Stamp 99.245 85.353-14,00% The Oasis 27.064 22.301-17,60% Jumlah 371.932 338.996 Sumber: Pengolahan Data Factory outlet The Summit, Stamp, dan The Oasis tahun 2015

6 Berdasarkan tabel 1.3, terlihat bahwa yang menjadi perhatian utama yaitu jumlah pengunjung The Summit, Stamp, dan The Oasis pada tahun 2013 yang menjadi kunjungan tertinggi yaitu sebanyak 245.623 orang, namun pada tahun 2014 menurun menjadi 231.342 atau sebesar -5,81%. Berbeda dengan jumlah Stamp yang pada tahun 2013 terdapat 99.245 pengunjung, namun pada tahun 2014 menurun menjadi 85.353 orang atau sebesar -14%. Pengunjung The Oasis pada tahun 2013 sebanyak 27.064 orang, namun pada tahun berikutnya mengalami penurunan pengunjung menjadi 22.301 orang atau sebesar -17,60%. Dengan kondisi penurunan jumlah pengunjung tentu akan berpengaruh pada jumlah calon pembeli sehingga dapat menurunkan omset penjualan yang berdampak pada kelangsungan bisnis, hal tersebut terbukti pada jumlah konsumen yang menurun pada The Summit, Stamp, dan The Oasis pada tahun 2013-2014 seperti pada Tabel 1.4 berikut ini. Tabel 1. 4 Jumlah Konsumen yang Melakukan Pembelian di Factory Outlet The Summit, Stamp, dan The Oasis Tahun 2013-2014 Nama Jumlah Konsumen Persentase Factory Outlet yang Melakukan Pertumbuhan Pembelian 2013 2014 The Summit 90.720 86.400-4,76% Stamp 59.921 55.575-7,25% The Oasis 13.978 12.192-12,78% Jumlah 164.619 154.167 Sumber: Pengolahan Data factory outlet The Summit, Stamp, dan The Oasis tahun 2015

7 Berdasarkan tabel 1.4 dapat diketahui bahwa terjadi penurunan jumlah konsumen yang melakukan pembelian seperti pada jumlah pembeli The Summit, Stamp, dan The Oasis pada tahun 2013 yaitu sebanyak 90.720 orang lalu menurun pada tahun 2014 menjadi 86.400 atau sebesar -4,76%. Pembeli Stamp yang pada tahun 2013 terdapat 59.921 orang, namun pada tahun 2014 menurun menjadi 55.575 orang atau sebesar -7,25%. Pembeli The Oasis pada tahun 2013 sebanyak 13.978 orang, namun pada tahun berikutnya menurun menjadi 12.192 orang atau sebesar -12,78%. Penurunan yang terjadi pada The Summit, Stamp, dan The Oasis terjadi karena pada saat ini sudah banyak beroperasi factory outlet dan juga pesaing pasar modern lainnya yang menjual pakaian jadi dengan strategi pemasaran untuk berusaha menarik pengunjung calon pembeli sebanyak mungkin. Selain itu factory outlet tidak dapat mempertahankan keunggulannya dengan menjual barang berkualitas dengan harga murah sehingga menjual pakaian jadi pada umumnya membuat daya tarik pengunjung untuk membeli mengalami penurunan. Sebagai bisnis ritel yang menjual pakaian jadi kepada konsumennya secara langsung, The Summit, Stamp, dan Thep Oasis harus memperhatikan apa saja yang menjadi bauran ritel yang dapat dijadikan strategi pemasarannya yaitu tempat (place), prosedur pelayanan (operation procedures), proses perdagangan (merchandising), harga (pricing tactics), suasana toko (store atmosphere), karyawan toko (employee), dan metode promosi (promotion). Dari berbagai bauran tersebut yang umumnya ditonjolkan oleh factory outlet untuk menarik konsumennya adalah store atmosphere yang dapat memberikan kesan pertama dan seterusnya kepada setiap konsumen yang datang dan dari hasil pra-survei yang dilakukan kepada 30 orang konsumen The Summit, stamp, dan The Oasis tentang kelebihan yang diharapkan tersedia di setiap factory outlet yang mereka kunjungi dapat dilihat pada gambar 1.2 berikut ini.

8 Suasana toko yang nyaman 8 Seringnya melakukan promosi 6 Produk yang berkualitas 5 Pelayanan yang ramah 4 Lokasi yang strategis 3 Harga yang murah 4 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sumber: Hasil pengolahan angket Pra-Survei tahun 2015 Gambar 1. 2 Kelebihan yang Diharapkan Tesedia di Setiap Factory Outlet Data pra survei tersebut menunjukan bahwa suasana toko (store atmosphere) menjadi nilai tertinggi sebagai kelebihan yang diharapkan tersedia pada factory outlet terutama The Summit, Stamp, dan The Oasis untuk dapat ditingkatkan kedepannya sehingga konsumen merasa nyaman saat berbelanja. Store atmosphere berperan dalam memberikan kesan kepada para konsumen yang datang dan apabila kesan yang ditimbulkan buruk maka konsumen tidak tertarik untuk berbelanja bahkan tidak ingin kembali ke toko tersebut. Store atmosphere juga dapat menunjukan seberapa besar target yang bisa didapatnya, oleh karena itu jika hal tersebut dapat dipahami sebagai strategi yang harus segera diaplikasikan maka konsumen akan menjadikannya sebagai pilihan pertama dalam aktivitas berbelanjanya. Dengan tantangan baru kedepannya The Summit, Stamp, dan The Oasis harus meningkatkan keputusan pembelian pemasaran demi peningkatan usahanya, yang dalam hal ini diperlukan adanya perhatian serius mengenai faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian dan perlu memahami situasi bisnis secara detil. Itulah yang perlu dilakukan The Summit, Stamp, dan The Oasis karena

9 pesaing dan konsumen akan berubah setiap waktu sehingga untuk dapat mempertahankan kelangsungan bisnis perlu adanya perbaikan strategi pemasaran. Pengamatan yang telah dilakukan kepada konsumen The Summit, Stamp, dan The Oasis di kota Bandung menunjukan penurunan jumlah pengunjung dan jumlah penjualannya yang membuat penulis tertarik untuk mengetahui apa penyebab utamanya dalam bentuk penyusunan skripsi ini, dengan judul Pengaruh Store Atmosphere Terhadap Keputusan Pembelian (Survei pada Konsumen Factory Outlet The Summit, Stamp, dan The Oasis di Kota Bandung). 1.2 Identifikasi dan Rumusan Masalah 1.2.1 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang yang sudah dijelaskan sebelumnya, tingginya tingkat persaingan usaha ritel pakaian modern membuat factory outlet The Summit, Stamp, dan The Oasis harus meningkatkan strategi pemasarannya dimana hal itu terindikasi dari jumlah pengunjung dan jumlah pembeli yang menurun pada The Summit, Stamp, dan The Oasis. Perhatian konsumen di Indonesia terhadap tempat belanja yang memadukan unsur rekreatif perlu disadari sebagai strategi yang cocok untuk meningkatkan probabilitas keputusan pembelian. Pendekatan yang menyentuh emosi pengunjung harus menjadi perhatian dalam strategi pemasaran saat ini untuk menghadapi pesaing. Pengaplikasian Store atmosphere menjadi strategi yang cocok diterapkan pada factory outlet The Summit, Stamp, dan The Oasis dalam memperbesar probabilitas keputusan pembelian. 1.2.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian yang disampaikan pada latar belakang, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:

10 1. Bagaimana store atmosphere di factory outlet The Summit, Stamp, dan The Oasis? 2. Bagaimana keputusan pembelian di factory outlet The Summit, Stamp, dan The Oasis? 3. Seberapa besar pengaruh antara pelaksanaan store atmosphere terhadap keputusan pembelian di factory outlet The Summit, Stamp, dan The Oasis? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mendeskripsikan store atmosphere di factory outlet The Summit, Stamp, dan The Oasis. 2. Untuk mendeskripsikan keputusan pembelian di factory outlet The Summit, Stamp, dan The Oasis. 3. Untuk mendeskripsikan pengaruh antara pelaksanaan store atmosphere terhadap keputusan pembelian di factory outlet The Summit, Stamp, dan The Oasis. 1.4 Kegunaan Penelitian 1.4.1 Kegunaan Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam aspek teoritis untuk mengkaji ilmu manajemen pemasaran, terutama pada bauran ritel yaitu store atmosphere yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian sehingga kedepannya para akademisi dapat lebih baik dalam mengkaji hal serupa dan memberikan kontribusi secara berkesinambungan sebagai upaya pemahaman mengenai teori ilmu pemasaran yang senantiasa berkembang dengan pesat.

11 1.4.2 Kegunaan Praktis Pada kegunaan praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang dapat diaplikasikan pada factory outlet untuk meningkatkan proses keputusan pembelian melalui perbaikan pada store atmosphere yang berpengaruh pada pertumbuhan positif pendapatan usaha, selain dari factory outlet tentu strategi pemasaran ini dapat diterapkan pada toko dengan jenis lainnya.