PENENTUAN PATAHAN DAN TOPOGRAFI MOHO PADA DATA NOAA-FA BERBASIS FFT

dokumen-dokumen yang mirip
ISSN No Jurnal Sangkareang Mataram 63 INVERSI DATA GAYA BERAT 3D BERBASIS ALGORITMA FAST FORIER TRANSFORM DI DAERAH BANTEN INDONESIA

INVERSI DATA GAYA BERAT 3D BERBASIS ALGORITMA FAST FORIER TRANSFORM DI DAERAH BANTEN INDONESIA

BAB III TEORI DASAR. 3.1 Metode Gayaberat

Abstrak. Abstract. Kata kunci: Anomali Gravitasi; pemodelan ke depan; pemodelan Inversi

PENGGUNAAN METODE ANALISIS SINYAL DALAM INTERPRETASI DATA MAGNET DI PERAIRAN SELAT SUNDA UNTUK MENENTUKAN ARAH DAN POSISI PIPA BAWAH LAUT

IV. METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

V. INTERPRETASI DAN ANALISIS

STUDI IDENTIFIKASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DAN KEBERADAAN HIDROKARBON BERDASARKAN DATA ANOMALI GAYA BERAT PADA DAERAH CEKUNGAN KALIMANTAN TENGAH

BAB III. TEORI DASAR. benda adalah sebanding dengan massa kedua benda tersebut dan berbanding

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Maksud dan Tujuan

PEMODELAN SINTETIK GRADIEN GAYABERAT UNTUK IDENTIFIKASI SESAR

APLIKASI FILTER KONTINUASI KEATAS DAN ANALISA SPEKTRAL TERHADAP DATA MEDAN POTENSIAL Oleh: N. Avisena M.Si ABSTRACT

STUDI IDENTIFIKASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DAN KEBERADAAN HIDROKARBON BERDASARKAN DATA ANOMALI GAYA BERAT PADA DAERAH CEKUNGAN KALIMANTAN TENGAH

Jurnal ILMU DASAR, Vol.15 No.1, Januari 2015: Filter Berbasis Model Satu Dimensi untuk Pemisahan Anomali Gayaberat Mikro Antar Waktu

Pemisahan Anomali Regional-Residual pada Metode Gravitasi Menggunakan Metode Moving Average, Polynomial dan Inversion

PEMODELAN 3-D SUSEPTIBILITAS MAGNETIK BAWAH PERMUKAAN DASAR LAUT PERAIRAN LANGSA, SELAT MALAKA-SUMATERA UTARA

2 1 2 D. Berdasarkan penelitian di daerah

BAB 2 LANDASAN TEORITIS PERMASALAHAN

BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISA ANOMALI BOUGUER

Aplikasi Transformasi Hartley pada Analisa Kontinuasi Data Gravitasi dan Geomagnet

ANALISIS ANOMALI UDARA BEBAS DAN ANOMALI BOUGUER DI WILAYAH NUSA TENGGARA TIMUR

ANALISIS REDUKSI TOPOGRAFI DATA GAYABERAT DENGAN PENDEKATAN METODE LA FEHR DAN WHITMAN PADA PENENTUAN ANOMALI BOUGUER

Kontinuasi ke Atas Anomali Bawah Permukaan Memanfaatkan Data Magnetik di DAS Bedadung Wilayah Kota Jember

Koreksi-Koreksi pada Pengolahan Data Geofisika (Part II :Metode Magnetik)

BAB I PENDAHULUAN. Geofisika adalah bagian dari ilmu bumi yang mempelajari bumi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

IDENTIFIKASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN BERDASARKAN DATA GAYABERAT DI DAERAH KOTO TANGAH, KOTA PADANG, SUMATERA BARAT

BAB III METODE PENELITIAN. A. Koordinat Titik Pengukuran Audio Magnetotellurik (AMT)

DESAIN SURVEI METODA MAGNETIK MENGGUNAKAN MARINE MAGNETOMETER DALAM PENDETEKSIAN RANJAU

Albert Wenanta 1, Piter Lepong 2. Prosiding Seminar Sains dan Teknologi FMIPA Unmul Periode Maret 2016, Samarinda, Indonesia ISBN:

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. pegunungan dengan lintasan 1 (Line 1) terdiri dari 8 titik MT yang pengukurannya

INVERSI 1-D PADA DATA MAGNETOTELLURIK DI LAPANGAN X MENGGUNAKAN METODE OCCAM DAN SIMULATED ANNEALING

BAB 5 : KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran.. 66 DAFTAR PUSTAKA Lampiran-lampiran... 69

Analisis dan Pemodelan Inversi 3D Struktur Bawah Permukaan Daerah Panas Bumi Sipoholon Berdasarkan Data Gaya Berat

TEORI DASAR. variasi medan gravitasi akibat variasi rapat massa batuan di bawah. eksplorasi mineral dan lainnya (Kearey dkk., 2002).

BAB 2 TEORI DASAR. Gambar 2.1. Sketsa gaya tarik dua benda berjarak R.

STUDI PENERAPAN METODE ANALISIS DERIVATIF PADA DATA POTENSIAL GRAVITASI

BAB III TEORI DASAR (3.1-1) dimana F : Gaya antara dua partikel bermassa m 1 dan m 2. r : jarak antara dua partikel

commit to user 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PEMBENTUKAN KARAKTER MELALUI APLIKASI SAINS (PEMODELAN 3D ANOMALI GRAVITASI MAGMA GUNUNGAPI MERAPI DENGAN SOFTWARE GRABLOX, BLOXER DAN ROCKWORK) 1

LAPORAN AKHIR PENELITIAN HIBAH KOMPTENSI APLIKASI METODE GAYABERAT MIKRO ANTAR WAKTU UNTUK PEMANTAUAN INTRUSI AIR LAUT DI KAWASAN SEMARANG UTARA

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

INTERPRETASI ANOMALI GAYA BERAT DAERAH LUWUK, SULAWESI TENGAH

PEMODELAN ANOMALI GRAVITASI MENGGUNAKAN METODE INVERSI 2D (DUA DIMENSI) PADA AREA PROSPEK PANAS BUMI LAPANGAN A

Pemodelan Sintetik Gaya Berat Mikro Selang Waktu Lubang Bor. Menggunakan BHGM AP2009 Sebagai Studi Kelayakan Untuk Keperluan

Pengaruh Pola Kontur Hasil Kontinuasi Atas Pada Data Geomagnetik Intepretasi Reduksi Kutub

Pemodelan inversi gayaberat dengan panduan Euler deconvolution untuk struktur bawah permukaan di Lapangan Panas Bumi B24

Identifikasi Keberadaan Heat Source Menggunakan Metode Geomagnetik Pada Daerah Tlogowatu, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah

2014 INTERPRETASI STRUKTUR GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN DAERAH LEUWIDAMAR BERDASARKAN ANALISIS SPEKTRAL DATA GAYABERAT

INVERSI GEOFISIKA (geophysical inversion) Dr. Hendra Grandis

Pemograman Ray Tracing Metode Pseudo-Bending Medium 3-D Untuk Menghitung Waktu Tempuh Antara Sumber Dan Penerima

TESIS PEMODELAN STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DAERAH YAPEN DAN MAMBERAMO, PAPUA BERDASARKAN ANOMALI GRAVITASI

Youngster Physics Journal ISSN : Vol. 5, No. 4, Oktober 2016, Hal

BAB I PENDAHULUAN. Gayaberat merupakan salah satu metode dalam geofisika. Nilai Gayaberat di

Unnes Physics Journal

PEMETAAN STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DAERAH PANAS BUMI MG DENGAN METODE GRAVITASI. Magfirah Ismayanti, Muhammad Hamzah, Lantu

BAB III PENGUKURAN DAN PENGOLAHAN DATA. Penelitian dilakukan menggunakan gravimeter seri LaCoste & Romberg No.

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini, ada beberapa tahapan yang ditempuh dalam

Metode Geolistrik (Tahanan Jenis)

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

INVERSI LINIER LEASTSQUARE DENGAN MATLAB ( Studi Kasus Model Gravitasi Bola Berlapis)

Gambar 3.1 Lintasan Pengukuran

BAB II LANDASAN TEORI

BAB V PEMBAHASAN DAN INTERPRETASI

Analisis Jarak Microphone Array dengan Teknik Pemrosesan Sinyal Fast Fourier Transform Beamforming

PENERAPAN METODA TIE-LINE LEVELLING PADA DATA MAGNET LAPANGAN SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI KOREKSI HARIAN

GEOFISIKA GEOFISIKA

Jurnal Sains & Matematika (JSM) ISSN Volume 17 Nomor 3, Juli 2009 Artikel Penelitian:

Identifikasi Perubahan Muka Air Tanah Berdasarkan Data Gradien Vertikal Gaya Berat Antar Waktu

Estimasi Kedalaman Sedimen dan Batas Diskontinuitas Sesar Palu Koro Menggunakan Metode Power Spectral Density

III. TEORI DASAR. kedua benda tersebut. Hukum gravitasi Newton (Gambar 6): Gambar 6. Gaya tarik menarik merarik antara dua benda m 1 dan m 2.

PENGARUH POLA KONTUR HASIL KONTINUASI ATAS PADA DATA GEOMAGNETIK INTEPRETASI REDUKSI KUTUB

Pemodelan Gravity Kecamatan Dlingo Kabupaten Bantul Provinsi D.I. Yogyakarta. Dian Novita Sari, M.Sc. Abstrak

J.G.S.M. Vol. 15 No. 4 November 2014 hal

Telford, W. M., Geldart, L.P., Sheriff, R.E., 1990, Applied Geophysics, Second edition, Cambridge University Press, Cambridge. Whitelaw, J. L.

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan penulis adalah metode penelitian

Skrip GNU Octave sederhana untuk menghitung respon Magnetotellurik dengan algoritma rekursif

MAKALAH GRAVITASI DAN GEOMAGNET INTERPRETASI ANOMALI MEDAN GRAVITASI OLEH PROGRAM STUDI FISIKA JURUSAN MIPA FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK

ANALISIS PERBANDINGAN METODE PREWITT DAN CANNY UNTUK IDENTIFIKASI IKAN AIR TAWAR

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian survei metode gayaberat secara garis besar penyelidikan

Pengaruh Grid Stasiun Pengukuran Gravitasi Terhadap Kedalaman Penetrasi dan Orde Polinomial Trend Surface Analysis

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Implementasi Teori Graf Dalam Masalah Fingerprint Recognition (Pengenalan Sidik Jari)

Identifikasi Zona Patahan di Sebelah Barat Gunung Api Seulawah Agam Berdasarkan Nilai Anomali Gravitasi

PENERAPAN METODE F-K DEMULTIPLE DALAM KASUS ATENUASI WATER-BOTTOM MULTIPLE

APLIKASI METODE GEOMAGNETIK UNTUK MEMETAKAN SITUS ARKEOLOGI CANDI BADUT MALANG JAWA TIMUR

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan penulis adalah metode penelitian

Youngster Physics Journal ISSN : Vol. 5, No. 4, Oktober 2016, Hal

Yesika Wahyu Indrianti 1, Adi Susilo 1, Hikhmadhan Gultaf 2.

BAB I PENDAHULUAN. lempeng besar (Eurasia, Hindia-Australia, dan Pasifik) menjadikannya memiliki

III. TEORI DASAR. Dasar dari metode gayaberat adalah hukum Newton tentang gayaberat dan teori

BAB III METODE PENELITIAN

ANALYSIS OF TIME SERIES DATA (EL NINO and Sunspot) BASED ON TIME- FREQUENCY

SURVEI GEOFISIKA TERPADU (AUDIO MAGNETOTELURIK DAN GAYA BERAT) DAERAH PANAS BUMI MALINGPING KABUPATEN LEBAK, PROVINSI BANTEN

STUDI POTENSI ENERGI GEOTHERMAL BLAWAN- IJEN, JAWA TIMUR BERDASARKAN METODE GRAVITY

BEBERAPA METODE ITERASI DENGAN TURUNAN KETIGA UNTUK MENYELESAIKAN PERSAMAAN NONLINEAR BESERTA DINAMIKNYA. Zulkarnain 1, M. Imran 2

BEBERAPA METODE ITERASI DENGAN TURUNAN KETIGA UNTUK MENYELESAIKAN PERSAMAAN NONLINEAR BESERTA DINAMIKNYA. Zulkarnain 1, M.

SIMULASI PERHITUNGAN WAKTU TEMPUH GELOMBANG DENGAN METODA EIKONAL : SUATU CONTOH APLIKASI DALAM ESTIMASI KETELITIAN HIPOSENTER GEMPA

Transkripsi:

99 Jurnal Neutrino Vol. 2, No. 2 April 2010 PENENTUAN PATAHAN DAN TOPOGRAFI MOHO PADA DATA NOAA-FA BERBASIS FFT Sungkono a,1, Bagus Jaya Santosa 1 Abstract : Regional Gravity NOAA-FA data analysis using several gradient methods has been conducted to determine the fracture and direction fault based on FFT. Fault can be qualitatively identified from a regional anomaly data, gradient Theta and Normalized Standard Deviation (NSD) is trending north-south. Dominant fracture orientation parallel to the fault is only detectable by gradient Theta and NSD, but more obviously displayed on the gradient NSD. Furthermore, regional anomaly of Gravity data inverted to generate Moho topography. This inversion using FFT based algorithm (Parker, 1972). The inversion result of Moho depths between 30-39 km. In the Moho topography, there is contrast depth difference, namely the Latitude -35 to -25 and Longitude -70 to -65, which is suspected as a fracture. Keyword: Gravity, FFT, Inversion, Fault, Fracture, Moho PENDAHULUAN Penyelidikan struktur bawah permukaan data potensial, sepertihalnya data gravitasi dan magnetik telah dikembangkan berbagai metode. Blakely (1995) membagi perkembangan ini menjadi tiga kategori: metode pemodelan kedepan, metode pemodelan kebelakang, dan metode perbaikan dan pertunjukan data. Metode pemodelan kedepan, berdasarkan intuisi geologi dan geofisika untuk membuat suatu model awal dan kemudian dihitung nilai medan gravitasi yang akna dibandingkan dengan anomali pengukuran. Berdasarkan perbandingan tersebut, parameter model disesuaikan untuk meningkatkan kemiripan anomali terukur dan parameter model. Ini merupakan metode trial-and-error, seperti halnya konsep metode Talwani (Talwani, 1973). Dalam metode kebelakang, seperti metode deret Fourier (Tsuboi,1983) dan metode (Tomoda dan Aki, 1955; Tsuboi dan Tomoda, 1958), satu atau lebih parameter anomali bawah permukaan dihitung secara otomatis dan langsung dari anomali pengamatan, dengan membuat beberapa asumsi sederhana. Pada metode perbaikan dan pertunjukan data, tidak ada parameter model yang dihitung, tetapi anomali ini diproses sedemikian rupa untuk meningkatkan karakteristik sumber tertentu dan untuk memfasilitasi interpretasi secara keseluruhan. Metode maju sering digunakan. Ini biasanya membagi struktur bawah permukaan yang tidak rata ke sejumlah besar prisma empat persegi panjang yang sederhana, menghitung anomali gaya berat dengan mengintegrasikan efek gravitasi masing-masing sel, dan membandingkannya dengan data pengamatan. Namun 1 Program Studi Geofisika Jurusan ITS Surabaya a) email : hening_1@physics.its.ac.id 99

Jurnal Neutrino Vol. 2, No. 2 April 2010 100 peningkatan pesat dalam waktu komputasi dengan kompleksitas model, dan jumlah observasi, tetap menjadi masalah teknis dalam pendekatan ini. Sejak algoritma Fast Fourier Transform (FFT) dikembangkan, ada beberapa yang mencoba untuk menerapkannya pada pengolahan data geofisika. Salah satu aplikasi yang paling penting dalam studi medan potensial adalah dengan Parker (1972). Ia menurunkan ekspansi matematika dan menunjukkan serangkaian transformasi Fourier dapat digunakan untuk menghitung anomali gayaberat yang disebabkan oleh lapisan bahan yang tidak rata, non-seragam. Tak lama kemudian, Oldenburg (1974) menemukan metode untuk menghitung topografi kontras densitas secara terbalik dari anomali gravitasi dua-dimensi 2D) dalam koordinat Cartesian, oleh intuisi dari rumus Parker. Dasar Inversi Berbasis FFT Parker (1972) menurunkan hubungan antara efek gravitasi vertikal, dan massa topografi yang kausatif, dalam domain Fourier r n 1 r k n r F ( g ) = 2π Gρ exp( k z) F h ( ) 1 n= 1 r r menunjukkan jarak posisi r=(x,y,z) ke x-y, k r vector gelombang fungsi peubah, G kontanta gravitasi Newton, ρ ialah densitas. Parker (1972) juga memeriksa konvergensi persamaan (1), ditunjukkan bahwa persamaan 1 konvergen pada bidang k, dengan max h r < z0 dan z > 0 0. Oleh karena itu, persamaan 1 ini mempunyai kemudahan dan penghematan waktu untuk mengistimasi efek gravitasi yang disebabkan anomali massa bawah permukaan. Selain itu, dapat dengan mudah diterapkan pada kasus multilapisan. Oldenberg (1974) menyimpulkan bahwa metode untuk menghitung kontras densitas topografi suatu anomali gravitasi pembalikan dalam system koordinat kartesian 2 D dengan dasar seperti pada persamaan 1. Pada koordinat kartesian 2 D, persamaan 1 dapat dinyatakan sebagaimana persamaan 2. n= 1 n 1 k n F g ( x) = 2π Gρ exp( k z) F h ( x) 2 Persamaan 2 ini dapat disimpelkan menjadi persamaan 3. k n F h( x) = F g ( x) exp ( k z) / ( 2πGρ ) F h ( x) 3 Pada persamaan 3, h(x) dapat diselesaikan secara iterative, dimulai dengan nilai h, mislanya, h(x)=0. Oldenburg (1974) mengunakna persamaan 4 n= 1 n 1

101 Jurnal Neutrino Vol. 2, No. 2 April 2010 n 1 k n Rn = max exp ( k z) F h ( x) 4 l overalk Untuk monitor konvergensi algoritma maju pada Persamaan (2). Persyaratan estimasi dari 1 sampai n dan digunakan untuk mendapatkan Dg dari Persamaan. (2), sampai kriteria, terpenuhi, dipilih dengan nilai yang sangat kecil. Namun, Persamaan. (4) tidak sesuai untuk monitoring konvergensi algoritma maju pada Persamaan. (3), sehingga perlu menggunakna kriteria lain n 1 k n Sn = max F h ( x) 5 l overalk Penjumlahan bagian kanan pada persamaan 3, dapat berhenti jika terpenuhi syarat enjumlahan bagian kanan pada persamaan 3, akan berhenti jika terpenuhi syarat Sn/S1 < E dengan E bernilai sangat kecil. Lebih lanjut, kreteria konvergen tidak cukup dalam komputasi exp ( o ) praktis, karena persamaan yang menyertakan k z, yang sangat dipengaruhi oleh panjang gelombang yang pendek dan kesalahan pemfilteran yang mungkin terjadi selama transformasi Fourier. Panjang gelombang yang pendek pada anomali gravity, seringkali mencitrakan struktur bawah permukaan yang dekat dengan permukaan dan noise. Bahkan data ini memiliki noise yang cukup kecil atau bahkan tidak ada noise, data biasanya difilter dalam inversi gravitasi menurut kedalaman target, tidak hanya karena sinyalnya yang tidak mungkin berasal dari target kedalaman, tetapi juga karena akan menyebabkan masalah dalam kontinuasi ke bawah. Untuk memutuskan panjang gelombang yang harus difilter yang dihilangkan atau yang rentang panjang gelombang harus digunakan itu sangat sulit dan kompleks. Hal ini biasanya tergantung pada target mendalam, analisis spectrum anomali gravity dan informasi geofisika atau geologi lainnya. Filter yang tajam menyebabkan hilangnya sinyal, sementara filter longgar tidak dapat menghilangkan noise dengan efektif. Dalam filter gravitasi dalam domain panjang gelombang, filter cosines persamaan 6 telah digunakan oleh Oldenberg (1974) dan Nagendra et al. (1996) 1 k / 2π < WH 2 ( ) k πwh B k = 0.5 1 + cos WH k / 2π SH 6 2( SH WH ) 0 k / 2π > SH WH dan SH adalah parameter frekuensi. Yang memotong frekuensi yang lebih tinggi dari SH dan sepenuhnya melewatkan frekuensi yang lebih rendah dari WH, sedangkan frekuensi antara mereka akan sebagian lewat. Granser (1986) menunjukkan bahwa frekuensi cutoff menjamin konvergensi dari proses iterasi pada persamaan (3), jika h(x) telah dibatasi oleh.

Jurnal Neutrino Vol. 2, No. 2 April 2010 102 Pengolahan Data Analisis data Gravity pada data Noaa-FA ini dilakukan dengan menggunakan software Matlab 7.05. Analisis pertama kali yang diterapakan ialah pemisahan anaomali lokal terhadap anomali regional. Metode yang digunakan dalam pemisahan anomaly lokal dan regional ini ialah kontinuasi keatas yang didasarkan pada Blakely (1995). Hasil kontinuasi ini merupakan anomaly regional, sedangkan anomaly lokal diestimasi dengan jalan mengurangkan anomali regional pada anomali Bouguer. Selanjutnya, data anomali regional dianalisis dengan menggunakan beberapa metode gradien; Total Gradien, Second Vertikal Derefativ (SVD), Gradient theta dan Normalisasi Standart Deviasi (NSD). Analisis gradien NSD diestimasi berdasarkan Cooper dan Cowan (2008), gradien Theta diestimasi berdasarkan (Wijns et al., 2005), total gradien didasarkan pada Verduzco et al. (2004) dan SVD didasarkan pada Blakely (1995). Analisis ini dilakukan untuk melokalisir keberadaan patahan dan fracture. Setelah, fracture dan patahan dapat diidentifikasi, dilakukannya analisis inverse pada anomlai regional untuk menghasilkan kedalaman Moho. HASIL DAN PEMBAHASAN Data gravitasi Noaa-FA diukur pada daratan dan lautan di daerah Santiago. Anomali Bouguer pada wilayah ini (gambar 1) merupakan perbaduan anomali lokal dan anomali regional. Anomali lokal yang dicirikan oleh frekuensi tinggi biasanya mencitrakan sumber dangkal, sebaliknya anomali regional mencitrakan struktur yang lebih dalam (Blakely, 1995). Untuk memisahkan kedua anomali ini dilakukan dengan menggunakan kontinuasi keatas dengan ketinggian 100 meter. Hasil kontinuasi keatas ini berupa anomali regional. Anomali lokal diestimasi dengan cara mengurangkan anomali regional pada anomali Bouguer. Masing-masing anomali regional dan anomali lokal ditunjukkan pada gambar 2 a dan 2 b. Estimasi anomali lokal dengan cara ini disebabkan oleh ketidak stabilan kontinuasi kebawah (Naidu dan Mathew, 1998). Anomali regional biasanya dikontrol oleh struktur, seperti antiklin, sinklin, patahan, lipatan subduction dan fracture. Interpretasi secara kualitatif dari anomali regional tersebut, dapat diketahui bahwa daerah penelitian dikontrol oleh patahan dengan arah Utara-Selatan, yang ditunjukkan oleh anomali negatif. Selain itu, pada daerah ini dapat juga diduga adanya antikline yang ditandai dengan klosur (kutuban) positip yang berwarna merah.

103 Jurnal Neutrino Vol. 2, No. 2 April 2010 Gambar 1 data observasi gravitasi di Noaa-Fa Gambar 2 a) Anomali Regional, b) Anomali Lokal Selanjutnya, untuk mempertegas keberadaan patahan, dilakukan analisis kuantitatif dengan menggunakan metode gardien. Sebelum dilakukannya analisis gradien, perlu dipastikan frekuensi tinggi yang disebabkan noise pengukuran maupun yang disebabkan oleh anomali dekat permukaan telah difilter (Naidu dan Mathew, 1998). Hal ini dilakukan agar hasil analisis metode gradien lebih stabil dan mampu mengalokalisir anomali. Hasil masing-masing gradien yang diterapkan pada anomali regional seperti gambar 3. Menurut Saibi et al. (2006) gradien gravitasi lebih sensitif terhadap struktur geologi dari pada data gravitasi sendiri dan metode gradien kurang rentan terhadap interfrensi struktur tetangga. Keberadaan patahan pada penelitian ini terlihat dengan jelas pada data gradien Theta dengan warna merah dan NSD dengan warna biru yang membujur utara-selatan pada longitude 77o. Patahan ini kurang jelas pada gradien total dan agak jelas pada

Jurnal Neutrino Vol. 2, No. 2 April 2010 104 hasil gradien SVD. Hal ini sesuai dengan analisis Naidu dan Mathew (1998). Selain patahan ini, juga terdapat beberapa fracture yang relatif sejajar dengan patahan tersebut, hal ini didasarkan pada hasil gradien Theta dengan warna merah dan NSD dengan warna biru. Fracture juga terdapat pada Sinkline. Gambar gradien Theta dan NSD hamper mempunyai kecenderungan yang sama, namun NSD lebih sensitif terhadap struktur (Cooper dan Cowan, 2008). Gambar 3 Gradien a) Total, b) SVD c) Theta, d) NSD Selanjutnya, anomali regional data gravitasi dapat digunakan untuk mengestimasi kedalaman Moho. Estimasi ini dilakukan dengan asumsi bahwa kontras densitas Moho sebesar 0.4 gr/cm3. Estimasi kedalaman Moho didasarkan pada Oldelberg (1974) yang source code-nya telah dibuat oleh Gomez-Ortiz dan Agarwal (2005) dengan menggunakan software Matlab. Software ini berbasiskan Fast Fourier Transform (FFT), sehingga untuk estimasi kedalaman Moho ini relatif cepat (Shin et al., 2006). Gambar 4. Hasil inversi a) Topografi Moho [kontras densitas 0.4 gr/cm3], b) Error antara gravitasi estimasi dan observasi

105 Jurnal Neutrino Vol. 2, No. 2 April 2010 Seperti halnya metode inverse yang lainnya, inversi dengan dasar FFT ini diperlukan nilai tebakan awal; dalam hal ini kedalaman Moho tebakan. Kedalaman Moho tebakan ini dapat didasarkan dari estimasi Power Spectrum sebagaimana yang dilakukan oleh Kim dan Han (2009). Hal ini dilakukan karena, solusi inversi bersifat unik. Artinya, suatu data dapat mempunyai lebih dari satu kondisi struktur bawah permukaan. Untuk menghasilkan kondisi struktur bawah permukaan yang mendekati kondisi yang sebenarnya, maka diperlukan nilai tebakan awal yang mendekati dengan struktur yang sebenarnya. Hasil kedalaman Moho di tiap titik pengukuran dapat digambarkan sebagaimana gambar 4a dengan RMS error sebesar 0.0061 dan error secara keseluruhan hasil proses inversi seperti gambar 4b. Selanjutnya, dari hasil inversi ini diketahui bahwa kedalaman Moho pada tempat penelitian antara 30-39 Km. Pada Latitude -35 sampai -25 dan Longitude -70 sampai -65 terdapat kedalaman Moho yang kontras. Hal ini, kemungkinan disebabkan oleh subduction atau patahan yang melewati tempat tersebut. KESIMPULAN Patahan dan fracture dapat diidentifikasi dari data gravity dengan menganggap data tersebut sebagai sinyal yang dianalisis dengan menggunakan metode yang berbasiskan FFT. Patahan dan fracture diidentifikasi dengan menggunakan metode gradien; gradient total, SVD, NSD dan Theta. Patahan dan fracture dapat teramati dengan jelas dari hasil analisis gradien NSD dan Theta, NSD lebih jelas dari pada Theta, dan tidak teramati pada hasil gradien total dan SVD. Hasil gradien NSD ini juga menunjukkan adanya fracture pada sinklin yang teridentifikasi dari data gravitasi regional. Selanjutnya, dengan mengunakan inversi yang berbasiskan yang berbasiskan algoritma FFT yang didasarkan pada Parker (1972). Hasil inversi ini berupa kedalaman Moho antara 30-39 Km. Topografi Moho ini, terdapat kedalaman yang kontras, yaitu pada Latitude -35 sampai -25 dan Longitude -70 sampai -65 yang diduga sebagai terusan patahan. DAFTAR PUSTAKA Blakely, R.J., 1995. Potential Theory in Gravity and Magnetic Applications. Cambridge University Press, Cambridge (441pp). Braitenberg, C., Pettenati, F., Zadro, M., 1997. Spectral and classical methods in the evaluation of Moho undulations from gravity data: the NE Italian Alps and isostasy. Journal of Geodynamics 23, 5 22. Cooper, G.R.J., Cowan, D. R. 2008. Edge enhancement of potential-field data using normalized statistics. Geophysics,Vol. 73, No. 3, May-June; P. H1 H4, 3 Figs. 10.1190/1.2837309

Jurnal Neutrino Vol. 2, No. 2 April 2010 106 Gomez-Ortiz, D., Agarwal, B.N.P., 2005. 3DINVER.M: a MATLAB program to invert the gravity anomali over a 3D horizontal density interface by Parker Oldenburg s algorithm. Computers & Geosciences 31 (4), 513 520. Kim, K.O., Han, HC.2009. Study on Density Discontinuous Layers of the Kunsan Basin in the Yellow Sea Using Satellite Altimetry Gravity Data. The Firs International Symposium on Application of Marine Geophysical Data. Nagendra, R., Prasad, P.V.S., Bhimasankaram, V.L.S., 1996. Forward and inverse computer modeling of a gravity field resulting from a density interface using Parker Oldenburg method. Computers & Geosciences 22 (3), 227 237. Naidu, P.S and Mathew, M.P. 1998. Analysis of Gheophysical Potential field A Digital Signal Processing Approach. Elsevier: Amsterdam Oldenburg, D.W., 1974. The inversion and interpretation of gravity anomalies. Geophysics 39 (4), 526 536. Parker, R.L., 1972. The rapid calculation of potential anomalies. Geophysical Journal of the Royal Astronomical Society 31, 447 455. Talwani, M., 1973. Computer usages in the computation of gravity anomalies. In: Alder, B., Fernbach, S., Rotenberg, M. (Eds.), Methods in Computational Physics, vol. 13, pp. 343 389. Tomoda, Y., 1960. Thickness of the Earth s crust from Bouguer anomali statistics. Journal of the Japanese Society of Geodesy 6, 47 55 (in Japanese). Tomoda, Y., Aki, K., 1955. Use of the function sin x/x in gravity problems. Proceedings of the Japanese Academy 31, 443 448. Tsuboi, C., 1983. Gravity. George Allen and Unwin, London (254pp). Tsuboi, C., Tomoda, Y., 1958. The relation between the Fourier series method and sin x/x method for gravity interpretations. Journal of Physics of the Earth 6, 1 5. Saibi, H., Nishijima, J., Ehar, S, and Aboud, E. 2006. Integrated gradient interpretation techniques for 2D and 3D gravity data interpretation. Earth Planets Space, 58, pp. 815 821 Shin, Y.H, Choi, K.S., Xu, H. 2006. Three -Dimensional Forward and Inverse models for Gravity Field based on Fast Fourier Transform. Computers & Geosciences 32. 727 738

107 Jurnal Neutrino Vol. 2, No. 2 April 2010 Verduzco, B., J. D. Fairhead, C. M. Green, and C. MacKenzie, 2004, The meter reader New insights into magnetic derivatives for structural mapping: The Leading Edge, 23, 116 119. Wijns, C., C. Perez, and P. Kowalczyk, 2005, Theta map: Edge detection in magnetic data: Geophysics, 70, no. 4, L39 L43.