HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

dokumen-dokumen yang mirip
HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

I. PENDAHULUAN. Identifikasi Masalah, (1.3) Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat Penelitian, (1.5)

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2)

BAB I PENDAHULUAN. sebanyak 22%, industri horeka (hotel, restoran dan katering) 27%, dan UKM

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. makanan sangat terbatas dan mudah rusak (perishable). Dengan pengawetan,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Menurut WHO, makanan adalah : Food include all substances, whether in a

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

Prinsip-prinsip Penanganan dan Pengolahan Bahan Agroindustri

I. PENDAHULUAN. penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi, karena memiliki protein yang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. lainnya. Secara visual, faktor warna berkaitan erat dengan penerimaan suatu

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. akan dikonsumsi akan semakin besar. Tujuan mengkonsumsi makanan bukan lagi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENGAWETAN PANGAN. Oleh: Puji Lestari, S.TP Widyaiswara Pertama

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Kandungan gizi pada ikan adalah protein, lemak, vitamin-vitamin, mineral,

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. industri pangan karena mempunyai banyak kelebihan, diantaranya adalah proses

PENDAHULUAN. Berbagai jenis tumbuhan di Indonesia mempunyai banyak manfaat bagi. kelangsungan hidup manusia. Salah satunya adalah tanaman aren (Arenga

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENDAHULUAN. amino esensial yang lengkap dan dalam perbandingan jumlah yang baik. Daging broiler

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Pengembangan produk pangan menggunakan bahan baku kacang-kacangan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Serbuk halus daun tumbuhan jeringau sebanyak 400 g diekstraksi dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. secara optimal (Direktorat Pengelolaan Hasil Perikanan, 2007 dalam Marada, 2012).

I. PENDAHULUAN. makanan (foodborne disease) (Susanna, 2003). Foodborne disease tidak

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. PENDAHULUAN Latar Belakang

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Penelitian, (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

HASIL DA PEMBAHASA. Kadar Air

HASIL. (%) Kulit Petai 6.36 n-heksana 0,33 ± 0,06 Etil Asetat 0,32 ± 0,03 Etanol 70% 12,13 ± 0,06

I. PENDAHULUAN. satu produk olahan pangan asal hewan yangpaling banyak diminati

TEKNOLOGI FERMENTASI PANGAN. Agroindustrial Departement, Faculty of Agricultural Technology, Brawijaya University

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. terjangkau oleh berbagai kalangan. Menurut (Rusdi dkk, 2011) tahu memiliki

I. PENDAHULUAN. Semakin berkembangnya bioteknologi, terdapat kecenderungan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Makanan merupakan komponen penting bagi kehidupan manusia, karena

I PENDAHULUAN. Bab ini akan membahas mengenai: (1.1) Latar Belakang Penelitian, (1.2)

TINJAUAN PUSTAKA. Pohon aren atau enau (Arenga pinnata) adalah pohon yang banyak

BAB I PENDAHULUAN. berupa pengawet yang berbahaya (Ismail & Harahap, 2014). Melihat dari

I. PENDAHULUAN. Buah naga (Hylocereus polyrhizus) merupakan buah yang saat ini cukup populer

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia diantaranya adalah tempe, keju, kefir, nata, yoghurt, dan lainlain.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. populer di kalangan masyarakat. Berdasarkan (SNI ), saus sambal

IV. Hasil dan Pembahasan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Makanan merupakan salah satu dari tiga unsur kebutuhan pokok manusia,

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ikan merupakan salah satu hasil kekayaan alam yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia untuk dijadikan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I PENDAHULUAN. Identifikasi Masalah, (1.3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. lalapan karena memiliki cita rasa yang khas. Daun muda pohpohan memiliki

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. cara ditempuh, antara lain memperhatikan dan mengatur makanan yang

Haris Dianto Darwindra BAB VI PEMBAHASAN

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: (1.1.) Latar Belakang, (1.2.) Identifikasi

I PENDAHULUAN. maksud dan tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka pemikiran, hipotesis

I. PENDAHULUAN. maupun tujuan lain atau yang dikenal dengan istilah back to nature. Bahan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 5. Jumlah Bakteri Asam Laktat pada Media Susu Skim.

I. PENDAHULUAN. juga mengandung beberapa jenis vitamin dan mineral. Soeparno (2009)

Pengawetan Bahan Nabati dan Hewani. 1. Pengertian Pengawetan Bahan Nabati dan Hewani

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. tersebut, pemerintah mengimpor sebagian BBM. Besarnya ketergantungan

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan akan kesehatan. Gaya hidup yang kembali ke alam (Back to nature)

BAB I PENDAHULUAN. Bakso merupakan makanan jajanan yang paling populer di Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahan pangan mudah mengalami kerusakan yang disebabkan oleh bakteri

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. Makanan adalah salah satu kebutuhan dasar manusia dan merupakan hak

BAB I PENDAHULUAN. nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu hasil perikanan budidaya

BAB I PENDAHULUAN. Buah kelapa merupakan salah satu bahan pangan yang banyak. digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Kebutuhan akan produk kelapa bagi

Analisis Fitokimia (Harborne 1987) Uji alkaloid. Penentuan Bakteriostatik Uji flavonoid dan senyawa fenolik. Penentuan Bakterisidal

DAFTAR ISI. repository.unisba.ac.id

I. PENDAHULUAN. seseorang. Makanan yang sehat dan aman merupakan salah satu faktor yang

PENDAHULUAN. kandungan gizi tinggi, akan tetapi mudah mengalami kerusakan (perishable food).

3.5.1 Teknik Pengambilan Sampel Uji Daya Hambat Infusa Rimpang Kunyit Terhadap E. coli dan Vibrio sp. Pada Ikan Kerapu Lumpur

AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK LAOS PUTIH (ALPINIA GALANGAS) TERHADAP BAKTERI Escericia coli DAN Salmonella sp. Lely Adel Violin Kapitan 1

BAB I PENDAHULUAN. kasar yang tinggi. Ternak ruminansia dalam masa pertumbuhannya, menyusui,

BAB I PENDAHULUAN. Sehat merupakan salah satu hal terpenting dalam hidup. Bebas dari segala penyakit

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. makanan yang halal dan baik, seperti makan daging, ikan, tumbuh-tumbuhan, dan

BIOETHANOL. Kelompok 12. Isma Jayanti Lilis Julianti Chika Meirina Kusuma W Fajar Maydian Seto

Pengawetan bahan pangan

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Minyak kelapa sawit adalah jenis minyak goreng yang paling mendominasi

MIKROBIOLOGI INDUSTRI Memanfaatkan mo sbg kompnen untuk industri Produk mo dlm industri: zat kimia, antibiotik, zat tumbuh, enzim, makanan dan minuman

BAB 1 PENDAHULUAN. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Kadar Air Ekstraksi dan Rendemen Hasil Ekstraksi

Transkripsi:

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permintaan konsumen terhadap makanan dengan kualitas tinggi tanpa pengawet kimia merupakan suatu tantangan bagi industri pangan saat ini. Pencemaran mikroorganisme pada produk pangan merupakan masalah yang paling banyak dijumpai pada kehidupan sehari-hari. Mikroorganisme kontaminan dapat menyebabkan perubahan fisik maupun kimiawi pada produk pangan. Hal tersebut mendorong peningkatan pemanfaatan antimikroba alami untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme kontaminan. Mikroorganisme kontaminan masuk ke dalam makanan dapat melalui air, debu, udara, tanah, alat-alat (selama proses produksi atau penyiapan) atau dari hasil sekresi dari usus manusia atau hewan. Mikroorganisme yang mengkontaminasi makanan dapat berupa bakteri, kapang dan khamir (BPOM RI, 2008). Banyak faktor yang mempengaruhi jumlah serta jenis mikroba yang terdapat dalam makanan, diantaranya adalah sifat makanan itu sendiri (ph, kelembaban, nilai gizi), keadaan lingkungan dari mana makanan tersebut diperoleh, serta kondisi pengolahan ataupun penyimpanan. Pengujian cemaran mikroorganisme perlu menggunakan mikroorganisme indikator karena mudah dideteksi serta memberikan gambaran tentang kondisi higienis dari produk yang diuji (BPOM RI, 2008). Escherichia coli merupakan mikroorganisme indikator sanitasi makanan karena keberadaannya banyak dijumpai pada makanan yang tercemar serta dapat menyebabkan timbulnya penyakit. Keberadaan mikroorgnisme tersebut memberikan peran dalam menyebabkan kerusakan pada nira aren selama proses penyimpanan 1 FTIP001657/001

2 (Sardjono, Rahma dan Anton, 1983). Leuconostoc mesenteroides merupakan jenis bakteri yang bersifat heterofermentatif, yaitu memfermentasi gula menjadi asam laktat, CO 2, dan etanol atau asam asetat. L. mesenteroides dapat menguraikan sukrosa pada nira menjadi glukosa yang selanjutnya diubah menjadi dekstran. Dekstran merupakan senyawa polimer glukosa yang dapat menyebabkan permasalahan pada industri gula karena dekstran dapat menurunkan produktivitas gula (Wahyuningtyas, Kristiani dan Triantarti, 2008). Saccharomyces cerevisiae merupakan khamir yang dapat menyebabkan pada fermentasi, khususnya pada nira. S. cerevisiae dapat mengoksidasi gula menjadi karbon dioksida dan air dengan bantuan oksigen. Keberadaan S. cerevisiae pada nira dapat membuat cita rasa yang khas namun dapat menyebabkan terfermentasinya nira sehingga nira mudah mengalami kerusakan (Tjahjadi et.al, 1994). Dalam mempertahankan kesegaran nira maka dibutuhkan suatu pengawet atau antimikroba yang dapat mencegah pertumbuhan mikroorganisme kontaminan. Antimikroba merupakan suatu senyawa yang dalam konsentrasi rendah mempunyai kemampuan untuk menghambat atau mencegah proses hidup mikroorganisme atau membunuh mikroorganisme (Mutschler, 1991). Berdasarkan bahan asalnya antimikroba terbagi ke dalam dua jenis yaitu antimikroba sintetis dan antimikroba alami. Antimikroba sintetik yang terbuat dari bahan kimia dapat merugikan kesehatan manusia. Salah satu contoh bahan antimikroba sintetik adalah formalin. Formalin bersifat karsinogenik (menyebabkan penyakit kanker) dan mutagen (menyebabkan perubahan fungsi sel) sehingga membahayakan manusia apabila mengkonsumsinya (Saparinto dan Cahyadi, 2006). Antimikroba alami berasal FTIP001657/002

3 dari bahan-bahan yang tersedia di alam baik dari bahan nabati maupun hewani. Antimikroba alami tidak menyebabkan gangguan kesehatan manusia pada jumlah tertentu sehingga penggunaannya lebih aman dibandingkan antimikroba sintetik. Contoh antimikroba alami diantaranya daun sirih, kunyit, jahe dan akar kawao. Akar kawao berpotensi sebagai bahan pengawet alami karena mengandung sejumlah senyawa fitokimia seperti alkaloid dan flavonoid (Filianty, 2007). Kandungan fitokimia inilah yang membuat akar kawao dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengawet. Berdasarkan penelitian Dirga (2011), ekstrak akar kawao dapat menghambat pertumbuhan S. cerevisiae, L. mesenteroides dan E. coli. Zat-zat aktif yang terkandung di dalam akar kawao dapat diperoleh dengan proses ekstraksi. Ekstraksi dapat dilakukan secara mekanis atau menggunakan pelarut. Ekstraksi mekanis hanya cocok untuk bahan yang mengandung komponen yang akan diekstrak dalam jumlah yang besar (rendemen tinggi). Sementara ekstraksi pelarut cocok untuk bahan dengan komponen yang akan diekstrak dalam jumlah kecil. Untuk itu, ekstraksi akar kawao dapat dilakukan dengan ekstrak pelarut agar menghasilkan konsentrat. Salah satu cara ekstraksi dengan pelarut adalah metode maserasi. Metode maserasi banyak digunakan untuk proses ekstraksi karena merupakan cara ekstraksi yang paling sederhana tanpa menggunakan alat khusus. Maserasi dilakukan dengan cara merendam bahan berbentuk serbuk dalam pelarut, sehingga pelarut akan menembus dinding sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan yang terpekat didesak keluar (Digunawan,2010). Pemisahan tercapai jika komponen yang dipisahkan larut dalam pelarut dimana FTIP001657/003

4 komponen lainnya masih tetap berada dalam bahan asalnya, komponen yang terlarut dari proses pemisahan ini disebut ekstrak. Ekstraksi pelarut didasarkan pada kelarutan komponen terhadap komponen lain dalam campuran (Suyitno et. al., 1989). Jenis pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi akan mempengaruhi jenis senyawa yang terekstrak karena masingmasing pelarut mempunyai efisiensi dan selektifitas yang berbeda untuk melarutkan komponen dalam bahan (Ketaren, 1985). Pelarut yang dapat digunakan untuk ekstraksi bahan pangan merupakan bahan yang aman (food grade). Jenis pelarut yang aman tersebut antara lain akuades, etanol, etil asetat, dan heksan.. Akuades merupakan pelarut yang paling aman dibandingkan dengan pelarut lainnya (Ketaren, 1985). Menurut Perlman (2011), akuades dapat disebut sebagai pelarut universal karena dapat melarutkan banyak komponen dibandingkan pelarut yang lainnya. Pelarut akuades memiliki viskositas yang cukup rendah sehingga mudah dialirkan dan mampu melarutkan komponen kimia yang terdapat pada akar kawao. Berdasarkan penelitian Wulandari (2011), pelarut akuades dapat mengekstrak sebagian besar senyawa alkaloid dalam akar kawao. Alkaloid memiliki aktivitas fisiologis luas dan penghambatan pertumbuhan mikroorganisme cukup baik (Lenny, 2006). Menurut Lingga dan Rustama (2005) alkaloid mengandung racun yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri atau dapat menyebabkan sel bakteri menjadi lisis bila terpapar zat tersebut. Faktor suhu dan lama ekstraksi mempengaruhi jumlah dan jenis senyawa yang diekstraksinya (Supriadi, 2002). Proses ekstraksi memerlukan kontrol suhu dan lama yang tepat karena pada peningkatan suhu dan peningkatan lama ekstraksi akan FTIP001657/004

5 menyebabkan terjadinya kerusakan senyawa yang terekstrak (Bakar et al, 2010). Menurut Buchori (2007) p eningkatan suhu dan lama ekstraksi menyebabkan rendemen yang dihasilkan semakin besar karena peningkatan lama ekstraksi maka proses kontak antara pelarut dengan bahan akan semakin banyak, sedangkan peningkatan suhu menyebabkan difusivitas pelarut semakin besar dan viskositas semakin kecil. Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh perlakuan suhu dan lama ekstraksi akar kawao dengan menggunakan pelarut akuades. Hasil ekstrak tersebut perlu diuji kemampuannya dalam penghambatan pertumbuhan mikroorganisme kontaminan. 1.2. Identifikasi Masalah Berdasakan uraian pada latar belakang maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut : Bagaimanakah pengaruh suhu dan lama ekstraksi akar kawao agar memberikan hasil terbaik terhadap penghambatan S.cerevisiae, L. mesenteroides dan E.coli? 1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu dan lama ekstraksi akar kawao terhadap aktivitas antimikroba ekstrak akar kawao yang dihasilkan terhadap penghambatan S.cerevisiae, L. mesenteroides dan E.coli. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan suhu dan lama ekstraksi akar kawao sehingga diperoleh aktivitas antimikroba ekstrak akar kawao terbaik terhadap penghambatan S. cerevisiae, L. mesenteroides dan E.coli. FTIP001657/005

6 1.4. Kegunaan Hasil Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah tentang pengaruh suhu dan lama ekstraksi akar kawao terhadap penghambatan S.cerevisiae, L. mesenteroides dan E.coli serta dapat memberikan sumbangsih terhadap industri pangan dalam penggunaan zat antimikroba alami dari ekstrak akar kawao fraksi pelarut akuades. FTIP001657/006