WALIKOTA TANGERANG K A T A P E N G A N T A R Assalamu alaikum Wr. Wb. Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, Alhamdulillah Pemerintah Kota Tangerang dapat menyusun Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) Tahun 2015. LKIP merupakan bentuk akuntabilitas dari pelaksanaan tugas dan fungsi setiap instansi pemerintah atas penggunaan anggaran, serta merupakan perwujudan kewajiban untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan dan kegagalan dari pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan selama Tahun 2015. LKIP disusun dalam rangka mewujudkan terselenggaranya kepemerintahan yang baik (Good Governance), aspek-aspek pelayanan publik (Public Service Obligation), dan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih (Clean Governance) yang saat ini menjadi harapan dan dambaan masyarakat. Pemerintah Kota Tangerang senantiasa berupaya meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan yang lebih baik, melalui program-program yang berkesinambungan dari tahun ke tahun, dengan berprinsip pada tata kelola kepemerintahan yang baik dan berorientasi kepada hasil (result oriented government). Berbagai perubahan perbaikan yang terjadi baik yang berasal dari pemerintahan yang lebih tinggi dalam bentuk peraturan perundangan maupun yang berasal dari tuntutan atau aspirasi masyarakat yang konstruktif dan produktif terhadap proses penyelenggaraan pemerintahan difasilitasi dan diakomodir oleh Pemerintah Kota Tangerang. Pemerintah Kota Tangerang dengan segenap jajarannya sangat konsen dalam pemenuhan sarana prasarana kota guna mewujudkan harapan masyarakat, namun demikian tidak semua aspirasi masyarakat itu dapat dipenuhi, karena keterbatasan anggaran dan sumberdaya lainnya, sehingga apa yang dilakukan oleh pemerintah kota belum dapat memuaskan seluruh pihak. Penyelenggaraan pemerintahan yang baik, pada hakikatnya adalah proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan publik berdasarkan prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, partisipatif, adanya kepastian hukum, kesetaraan, efektif dan efisien. Prinsip-prinsip i
penyelenggaraan pemerintahan demikian merupakan landasan bagi penerapan kebijakan yang demokratis di era globalisasi, yang ditandai dengan menguatnya kontrol dari masyarakat terhadap kinerja pelayanan publik. Pemerintah Kota Tangerang saat ini fokus terhadap berbagai program dan kegiatan dalam rangka mempertajam terwujudnya Tangerang LIVE, bukan saja bagaimana mewujudkan Kota Tangerang sebagai kota layak huni (liveable), tetapi juga sebagai kota layak investasi (investable), kota layak dikunjungi (visitable), serta sebagai kota cerdas (e-city). Penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan pada Tahun 2015 merupakan cerminan atas pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yang diamanahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tangerang sebagai representasi dari masyarakat Kota Tangerang, pada umumnya telah dapat dilaksanakan dalam menunjang pencapaian Misi Pemerintah Kota Tangerang. Akhirnya, dalam rangka mewujudkan Visi Kota Tangerang yaitu Terwujudnya Kota Tangerang Yang Maju, Mandiri, Dinamis, Dan Sejahtera, Dengan Masyarakat Yang Berakhlakul Karimah merupakan tantangan yang harus dihadapi dan harapan yang harus diwujudkan, oleh sebab itu perlu dilakukan upaya perbaikan yang terus-menerus dalam proses pembangunan dengan melibatkan seluruh masyarakat Kota Tangerang. Wassalamu alaikum Wr. Wb Tangerang, Maret 2016 WALIKOTA TANGERANG H. ARIEF R. WISMANSYAH ii
DAFTAR ISI BUKU II (JILID 1) KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... viii RINGKASAN EKSEKUTIF... xi BAB 1. PENDAHULUAN... 1-1 1.1 LATAR BELAKANG... 1-1 1.2 BIDANG KEWENANGAN... 1-5 1.3 PERTUMBUHAN EKONOMI... 1-6 1.4 ASPEK STRATEJIK KOTA TANGERANG... 1-8 1.5 STRUKTUR ORGANISASI... 1-17 1.6 SISTEMATIKA LKIP 2015... 1-20 BAB 2. PERENCANAAN KINERJA... 2-1 2.1 RENCANA STRATEGIS... 2-1 2.2 VISI... 2-2 2.3 MISI... 2-4 2.4 TUJUAN... 2-6 2.5 SASARAN... 2-9 2.6 PRIORITAS PEMBANGUNAN TAHUN 2015... 2-12 2.7 TARGET INDIKATOR MAKRO TAHUN 2015... 2-13 2.8 RENCANA KERJA DAN PERJANJIAN KINERJA... 2-14 BAB 3. AKUNTABILITAS KINERJA TAHUN 2015... 3-1 3.1 KERANGKA PENGUKURAN KINERJA... 3-1 3.2 CAPAIAN INDIKATOR MAKRO... 3-3 3.3 CAPAIAN KINERJA TAHUN 2015... 3-23 iii
DAFTAR ISI 3.4 EVALUASI PENCAPAIAN SASARAN DAN PENGUKURAN KINERJA... 3-41 3.5 REALISASI ANGGARAN... 3-163 3.6 PENGELOLAAN PENDAPATAN DAERAH... 3-167 3.7 PENGELOLAAN BELANJA DAERAH... 3-185 3.8 PEMBIAYAAN DAERAH... 3-190 BAB 4. PENUTUP... 4-1 LAMPIRAN PERJANJIAN KINERJA iv
DAFTAR TABEL BAB 1 Tabel 1.1. Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Tangerang, Provinsi Banten dan Nasional Tahun 2011 2015 1-7 Tabel 1.2. Jumlah Penduduk. 1-10 Tabel 1.3. Laju Pertumbuhan Penduduk.. 1-11 Tabel 1.4. Jumlah Rumah Tangga di Kota Tangerang (Menurut Kepemilikan Kartu Keluarga) Tahun 2015... 1-12 Tabel 1.5. Kepadatan Penduduk (jiwa/km 2 ).. 1-13 BAB 2 Tabel 2.1. Keterkaitan Misi dan Tujuan Pembangunan Tahun 2014 2018. 2-6 Tabel 2.2. Keterkaitan Misi, Tujuan, Sasaran Pembangunan Pemerintahan Kota Tangerang Tahun 2014-2018. 2-9 Tabel 2.3. Target Indikator Makro.... 2-14 Tabel 2.4. Perjanjian Kinerja Pemerintah... 2-15 BAB 3 Tabel 3.1. Perbandingan Indikator Makro Kota Tangerang dengan Provinsi Banten 3-4 Tabel 3.2. Target dan Realisasi Indikator Makro... 3-4 Tabel 3.3. Angka Harapan Hidup Kabupaten/Kota di Provinsi Banten. 3-7 Tabel 3.4. Indeks Harapan Hidup Kabupaten/Kota di Provinsi Banten. 3-8 Tabel 3.5. Pendidikan Yang Ditamatkan Penduduk Berumur 10 Tahun Ke Atas Di Kota Tangerang Tahun 2011-2013 (dalam persen). 3-9 Tabel 3.6. Harapan Lama Sekolah Kabupaten/Kota di Banten. 3-10 Tabel 3.7. Rata-rata Lama Sekolah Kabupaten/Kota di Provinsi Banten... 3-11 Tabel 3.8. Indeks Pengetahuan di Provinsi Banten.. 3-13 Tabel 3.9. Pencapaian Daya Beli di Provinsi Banten.. 3-14 Tabel 3.10. Indeks Pembangunan Manusia dan Komponennya di Kota Tangerang Tahun 2013-2015... 3-15 Tabel 3.11. Peringkat IPM Kabupaten/Kota di Provinsi Banten.. 3-15 Tabel 3.12. Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Tangerang, Provinsi Banten dan Nasional Tahun 2011 2015... 3-18 Tabel 3.13. Ukuran Kemiskinan di Kota Tangerang... 3-19 Tabel 3.14. Angka Partisipasi Angkatan Kerja Kota Tangerang Tahun 2011-2015.. 3-20 Tabel 3.15. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Tangerang Tahun 2011-2015... 3-21 Tabel 3.16. Capaian Kinerja Pemerintah... 3-23 Tabel 3.17. Ketercapaian Indikator Sasaran Terhadap Target Tahun 2015.. 3-42 Tabel 3.18. Evaluasi Pencapaian Sasaran 1... 3-48 Tabel 3.19. Perbandingan Antara Capaian Sasaran sampai Tahun 2015 dan Rencana pada RPJMD Kota Tangerang... 3-49 Tabel 3.20. Evaluasi Pencapaian Sasaran 2... 3-50 v
vi DAFTAR TABEL Tabel 3.21. Perbandingan Antara Capaian Sasaran sampai Tahun 2015 dan Rencana pada RPJMD Kota Tangerang... 3-51 Tabel 3.22. Evaluasi Pencapaian Sasaran 3... 3-51 Tabel 3.23. Evaluasi Pencapaian Sasaran 4... 3-53 Tabel 3.24. Evaluasi Pencapaian Sasaran 5... 3-59 Tabel 3.25. Evaluasi Pencapaian Sasaran 6... 3-60 Tabel 3.26. Evaluasi Pencapaian Sasaran 7... 3-61 Tabel 3.27. Evaluasi Pencapaian Sasaran 8... 3-63 Tabel 3.28. Evaluasi Pencapaian Sasaran 9... 3-64 Tabel 3.29. Evaluasi Pencapaian Sasaran 10... 3-64 Tabel 3.30. Evaluasi Pencapaian Sasaran 11... 3-65 Tabel 3.31. Evaluasi Pencapaian Sasaran 12... 3-66 Tabel 3.32. Evaluasi Pencapaian Sasaran 13... 3-68 Tabel 3.33. Evaluasi Pencapaian Sasaran 14... 3-70 Tabel 3.34. Evaluasi Pencapaian Sasaran 15... 3-71 Tabel 3.35. Evaluasi Pencapaian Sasaran 16... 3-72 Tabel 3.36. Evaluasi Pencapaian Sasaran 17... 3-73 Tabel 3.37. Evaluasi Pencapaian Sasaran 18... 3-75 Tabel 3.38. Evaluasi Pencapaian Sasaran 19... 3-77 Tabel 3.39. Evaluasi Pencapaian Sasaran 20... 3-80 Tabel 3.40. Jumlah Wisatawan Nusantara dan Wisatawan Mancanegara di Kota Tangerang (orang), 2009-2015... 3-82 Tabel 3.41. Nama Hotel dan Jenis Kelas di Kota Tangerang.. 3-82 Tabel 3.42. Evaluasi Pencapaian Sasaran 21... 3-84 Tabel 3.43. Evaluasi Pencapaian Sasaran 22... 3-85 Tabel 3.44. Evaluasi Pencapaian Sasaran 23... 3-86 Tabel 3.45. Evaluasi Pencapaian Sasaran 24... 3-87 Tabel 3.46. Evaluasi Pencapaian Sasaran 25... 3-91 Tabel 3.47. Evaluasi Pencapaian Sasaran 26... 3-95 Tabel 3.48. Evaluasi Pencapaian Sasaran 44... 3-108 Tabel 3.49. Luas Potensi Kebakaran Kota Tangerang... 3-101 Tabel 3.50. Evaluasi Pencapaian Sasaran 29... 3-106 Tabel 3.51. Evaluasi pencapaian sasaran 30... 3-107 Tabel 3.52. Evaluasi pencpaian sasaran 31... 3-108 Tabel 3.53. Evaluasi Pencapaian Sasaran 32... 3-109 Tabel 3.54. Evaluasi Pencapaian Sasaran 33... 3-111 Tabel 3.55. Evaluasi Pencapaian Sasaran 34... 3-112 Tabel 3.56. Evaluasi Pencapaian Sasaran 35... 3-113 Tabel 3.57. Evaluasi Pencapaian Sasaran 36... 3-114 Tabel 3.58. Evaluasi pencapaian Sasaran 37... 3-119 Tabel 3.59. Evaluasi Pencapaian Sasaran 38... 3-125 Tabel 3.60. Evaluasi Pencapaian Sasaran 39... 3-128 Tabel 3.61. Evaluasi Pencapaian Sasaran 40... 3-131 Tabel 3.62. Evaluasi Pencapaian Sasaran 41... 3-134 Tabel 3.63. Evaluasi Pencapaian Sasaran 42.... 3-137 Tabel 3.64. Evaluasi Pencapaian Sasaran 43.... 3-138
DAFTAR TABEL Tabel 3.65. Evaluasi Pencapaian Sasaran 44.... 3-139 Tabel 3.66. Luas Potensi Kebakaran Kota Tangerang.. 3-141 Tabel 3.67. Evaluasi Pencapaian Sasaran 45.... 3-145 Tabel 3.68. Rekap Waktu Respon Per Kecamatan... 3-149 Tabel 3.69. Rekap Jumlah Mobil Pemadam 3000 5000 liter Per WMK.. 3-150 Tabel 3.70. Evaluasi Pencapaian Sasaran 46.... 3-153 Tabel 3.71. Evaluasi Pencapaian Sasaran 47.... 3-156 Tabel 3.72. Rata-rata Pencapaian Kinerja Sasaran Tahun 2015... 3-157 Tabel 3.73. Perkembangan Opini Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Provinsi Banten Tahun Anggaran 2007-2014.... 3-164 Tabel 3.74. Target dan Realisasi APBD Kota Tangerang Tahun 2013-2015. 3-166 Tabel 3.75. Target dan Realisasi Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2015. 3-169 Tabel 3.76. Perkembangan PAD Kota Tangerang TA 2011 2015... 3-172 Tabel 3.77. Rincian Anggaran dan Realisasi PAD Kota Tangerang Tahun Anggaran 2015.. 3-173 Tabel 3.80. Target dan Realisasi Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Tahun Anggaran 2015... 3-176 Tabel 3.81. Target dan Realisasi Lain-lain PAD yang Sah Tahun Anggaran 2015.. 3-176 Tabel 3.82. Rincian Anggaran dan Realisasi Dana Perimbangan Tahun Anggaran 2015.... 3-178 Tabel 3.83. Rincian Anggaran dan Realisasi Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak Tahun Anggaran 2015.... 3-179 Tabel 3.84. Rincian Anggaran dan Realisasi Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah Tahun Anggaran 2015.... 3-180 Tabel 3.85. Rincian Anggaran dan Realisasi Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya Tahun Anggaran 2015.... 3-181 Tabel 3.86. Rincian Anggaran dan Realisasi Belanja Tahun Anggaran 2015.... 3-187 vii
DAFTAR GAMBAR BAB 1 Gambar 1.1. Peta Kota Tangerang. 1-9 BAB 3 Gambar 3.1. Perkembangan HLS dan RLS Kota Tangerang Tahun 2010 2015... 3-12 Gambar 3.2. Nilai dan Pertumbuhan IPM Kota Tangerang Tahun 2010-2015. 3-16 Gambar 3.3. Target dan Realisasi Pendapatan Tahun Anggaran 2015 dalam rupiah. 3-170 Gambar 3.4. Persentase Realisasi dan Persentase Target Capaian Pendapatan Tahun Anggaran 2015. 3-171 Gambar 3.5. Anggaran dan Realisasi Belanja Daerah Tahun Anggaran 2015 dalam Milyar Rupiah.. 3-188 viii
RINGKASAN EKSEKUTIF Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) Pemerintah Kota Tangerang dalam menyelenggarakan pemerintahannya berupaya dengan berprinsip pada tata kelola kepemerintahan yang baik dan berorientasi kepada hasil (result oriented government). Sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugas pokok dan fungsi serta sesuai dengan kewenangan, maka Pemerintah Kota berkewajiban melaporkan melalui penyajian Laporan Kinerja Pemerintah Kota Tangerang yang dibuat sesuai ketentuan yang diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, dan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja Dan Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Laporan tersebut memuat visi, misi, tujuan dan sasaran yang memiliki arah dan tolok ukur yang jelas atas rumusan perencanaan strategis organisasi sehingga gambaran hasil yang ingin dicapai dalam bentuk sasaran dapat terukur, dapat diuji dan diandalkan. Selain itu Laporan Kinerja ini memberikan gambaran penilaian tingkat pencapaian target kegiatan dari masing-masing kelompok indikator kinerja kegiatan, dan penilaian tingkat pencapaian target sasaran dari masing-masing indikator kinerja sasaran yang ditetapkan dalam dokumen RPJMD 2014-2018 maupun RKPD Tahun 2015. Sesuai ketentuan tersebut, pengukuran kinerja digunakan untuk menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program, sasaran yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan misi dan visi instansi pemerintah. Pelaporan Kinerja Pemerintah Kota Tangerang ini didasarkan pada Perjanjian Kinerja dan Indikator Kinerja Utama 2014-2018. Tahun 2015 merupakan tahun kedua dalam upaya pencapaian tujuan dan sasaran RPJMD Kota Tangerang Tahun 2014-2018, secara umum pencapaian sasaran melalui indikatorindikator sasaran menunjukkan keberhasilan untuk mewujudkan misi dan tujuan sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Daerah Kota Tangerang Nomor 10 Tahun xi
RINGKASAN EKSEKUTIF 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Tangerang Tahun 2014-2018. Pada Tahun 2015 Pemerintah Kota Tangerang menetapkan 47 sasaran dengan 257 indikator sasaran dan mengacu kepada 7 tujuan dengan rincian sebagai berikut : Misi 1, terdiri dari : 2 tujuan, 15 sasaran dan 47 indikator sasaran; Misi 2, terdiri dari : 1 tujuan, 8 sasaran dan 40 indikator sasaran; Misi 3, terdiri dari : 1 tujuan, 12 sasaran dan 78 indikator sasaran; Misi 4, terdiri dari : 2 tujuan, 8 sasaran dan 54 indikator sasaran; Misi 5, terdiri dari : 1 tujuan, 4 sasaran dan 38 indikator sasaran. Rata-rata capaian kinerja Kota Tangerang pada Tahun 2015 sebesar 105,88% dengan kriteria Sangat Tinggi berdasarkan Tabel VII-C Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. Adapun rincian capaian kinerja sasaran sebagai berikut : 1 2 3 4 5 6 SASARAN Terwujudnya pemantapan dan pengembangan system pendaftaran, penguasaan, pemilikan, penggunaan, pemanfaatan, dan penyelesaian konflik pertanahan. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan system administrasi kependudukan dan pencatatan sipil daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen Kepemerintahan dan Keadministrasian Umum, serta Kesejahteraan Masyarakat yang Responsif, Koordinatif, Integratif, Sederhana, dan Sinergis. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Keuangan dan Aset Daerah secara Transparan dan Akuntabel Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pengawasan Pembangunan Daerah. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Kepegawaian Daerah. CAPAIAN 2014 2015 100,00 100,00 Kriteria Penilaian Sangat Tinggi Peningkatan/ Penurunan Tetap 91,03 86,42 Tinggi Menurun 100,00 100,32 106,17 119,25 100,00 100,00 97,22 100,00 Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Meningkat Meningkat Tetap Meningkat xii
RINGKASAN EKSEKUTIF 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 SASARAN Terwujudnya Aparatur Pemerintah Daerah yang Cerdas, Bermoral, Inovatif, dan Profesional. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pemenuhan peralatan dan perlengkapan keadministrasian perkantoran Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perindustrian Daerah dan peningkatan kapasitas industry kecil dan menengah. Tewujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen Data/Informasi Pembangunan Daerah. CAPAIAN 2014 2015 94,46 103,31 100,00 100,00 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan berbagai kajian, penelitian dan inovasi pemb. Daerah. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kearsipan daerah. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi Daerah. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pelayanan aparatur pemerintah daerah secara professional, cepat, tepat, akurat dengan berbasis pada teknologi informasi yang efektif dan efisien Terwujudnya pemantapan & pengembangan sistem informasi dan aplikasi penyelenggaran pemerintah daerah yang terintegrasi, terstandarisasi, serta memadai Terwujudnya pemantapan dan pengembagan keberdayaan sector UMKM dan koperasi sebagai pendukung kegiatan ekonomi daerah berbasis sumberdaya lokal Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Investasi Daerah yang transparan serta didukung oleh iklim investasi yang kondusif. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Ketahanan Pangan Daerah yang meliputi Ketersediaan, Distribusi, Konsumsi, Kewaspadaan, dan Kemasyarakatan Terwujudnya pemantapan dan pengembangan agri bisnis serta budidaya pertanian dan pertenakan yang berorientasi pada intensifikasi pertanian. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Kepariwisataan Daerah. Kriteria Penilaian Sangat Tinggi Sangat Tinggi Peningkatan/ Penurunan Meningkat Tetap 92,43 81,18 Tinggi Menurun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 126,34 100,00 100,00 95,83 137,41 Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Meningkat Tetap Meningkat 116,60 78,55 Tinggi Menurun 117,73 122,12 Sangat Tinggi Meningkat xiii
RINGKASAN EKSEKUTIF 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 SASARAN Terwujudnya pemantapan dan pengembangan intensifikasi budidaya perikanan darat. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perdagangan Daerah dan peningkatan perlindungan konsumen. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perindustrian Daerah dan peningkatan kapasitas industry kecil dan menengah. Terwujudnya Pemantapan dan Pengembangan Sistem Pendidikan Daerah yang Mengacu pada Sistem Pendidikan Nasional, dan Berbasis Kompetensi, Serta Berorientasi pada Kebutuhan Kerja CAPAIAN 2014 2015 122,37 101,63 207,83 100,00 136,92 240,63 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Pelayanan dan Akses Kesehatan yang berkualitas dan terjangkau. Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya pemberdayaan dan perlindungan anak yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan keluarga Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap norma keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan perlindungan kesejahteraan sosial-masyarakat. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan ketenagakerjaan daerah yang berbasis keahlian serta berorientasi pada penciptaan dan perluasan lapangan pekerjaan. Terwujudnya pemantapan dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan kebudayaan daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kepemudaan dan Keolahragaan Daerah yang mandiri dan berprestasi. Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesatuan, kebangsaan, dan kepolitikan. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem penegakan peraturan daerah yang manusiawi dan berkeadilan Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem keberdayaan Masyarakat yang berbasis pada kebutuhan dasar dan berorientasi pada 114,83 110,19 172,32 128,79 97,18 134,44 93,06 99,23 75,70 105,32 107,50 91 112,50 100,00 100,48 103,00 100,00 100,00 Kriteria Penilaian Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Peningkatan/ Penurunan Menurun Menurun Meningkat Menurun Menurun Meningkat Meningkat Meningkat Menurun Menurun Meningkat Tetap 90,82 78,70 Tinggi Menurun 100,00 109,73 Sangat Tinggi Meningkat xiv
RINGKASAN EKSEKUTIF 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 SASARAN peningkatan kesejahteraan masyarakat. Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran dan kegemaran membaca masyarakat. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem perencanaan-penganggaran, pengendalian, dan evaluasi. Pelaporan yang partisipatif, koordinatif, dan integrative, serta berbasisis data/ informasi dan berorintasi pada sektoral dan kewilayahan. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan sarana-prasarana kependidikan, kebudayaan, dan kepustakaan yang layak dan memadai CAPAIAN 2014 2015 76,83 100,00 100,00 100,00 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan sarana-prasarana kesehatan yang layak dan memadai. Terwujudnya pemantapan dan Peningkatan pelayanan dan penyediaan sarana-prasarana kebinamargaan, dan keciptakaryaan daerah yang layak dan memadai Terwujudnya pemantapan dan pengembangan penyediaan perlengkapan sarana dan prasarana transportasi dan kelalulintasan yang layak, memadai, dan terpadu Terwujudnya pemantapan dan pengembangan ketersediaan sarana dan prasarana perekonomian dan sosial kemasyarakatan yang layak dan memadai Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana perkantoran, pemerintah daerah yang layak dan memadai. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem transportasi serta Manajemen dan Rekayasa Lalulintas yang modern dan terpadu yang didukung oleh teknologi informasi yang canggih dan memadai Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya mitigasi, pencegahan, pengendalian bencana serta upaya perminimalan dampak bencana. Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kualitas lingkungan perumahan dan pemukiman penduduk yang bersih, sehat, aman, dan nyaman 102,00 104,01 96,96 106,90 100,56 118,91 100,50 93,24 100,83 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 84,09 91,35 97,73 124,61 Kriteria Penilaian Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Peningkatan/ Penurunan Meningkat Tetap Meningkat Meningkat Meningkat Menurun Menurun Tetap Tetap Meningkat Meningkat xv
RINGKASAN EKSEKUTIF 46 47 SASARAN Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Penataan dan Pengelolaan Ruang Wilayah Perkotaan. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pembangunan Ekologis (Sosial, Lingkungan, Ekonomi) yang berorientasi pada peningkatan kualitas dan daya dukung lingkungan perkotaan. CAPAIAN 2014 2015 Kriteria Penilaian Peningkatan/ Penurunan 97,32 77,66 Tinggi Menurun 100,00 102,11 Rata-rata 104,25 105,88 Sangat Tinggi Sangat Tinggi Meningkat Meningkat Dari hasil analisis capaian kinerja Pemerintah Kota Tangerang pada Tahun 2015 sebesar 105,88%, dibandingkan dengan capaian Tahun 2014 sebesar 104,25%, terdapat kenaikan sebesar 1,63%, dengan klasifikasi yaitu : 42 sasaran (89,36%), capaian kinerjanya sangat tinggi, dan 5 sasaran (10,64%), capaian kinerjanya tinggi. Sedangkan ketercapaian target indikator sasaran pembangunan pada Tahun 2015 sebesar 80,54 persen, dengan rincian sebagai berikut: Misi Tujuan Sasaran Jumlah Indikator Indikator yang tercapai 100% Indikator yang tidak tercapai % Ketercapaian Target 1 2 15 47 38 9 80,85 2 1 8 40 32 8 80,00 3 1 12 78 62 16 79,49 4 2 8 54 48 6 88,89 5 1 4 38 27 11 71,05 Jumlah 7 47 257 207 50 80,54 Ketercapaian misi 1, terdiri atas 47 indikator sasaran dengan realisasi 38 indikator sasaran atau 80,85% telah mencapai atau melampaui target yang ditetapkan, sementara sebanyak 9 indikator sasaran atau 19,15% masih belum atau tidak mencapai target. Ketercapaian misi 2, berjumlah 40 indikator sasaran dengan realisasi ketercapaian sebanyak 32 indikator sasaran atau 80,00% dan 20,00% belum/tidak tercapai atau sebanyak 5 indikator sasaran. xvi
RINGKASAN EKSEKUTIF Ketercapaian misi 3, berjumlah 78 indikator sasaran dengan persentase pencapaian sasaran sebanyak 62 indikator atau 79,49% dan indikator yang belum/tidak tercapai 20,51% atau 16 indikator sasaran. Ketercapaian misi 4, berjumlah 54 indikator sasaran dengan persentase pencapaian sasaran sebanyak 48 indikator atau 88,49% dan indikator yang belum/tidak tercapai 11,51% atau 6 indikator sasaran. Ketercapaian misi 5, berjumlah 38 indikator sasaran dengan persentase pencapaian sasaran sebanyak 27 indikator atau 71,05% dan indikator yang belum/tidak tercapai 28,95% atau 11 indikator sasaran. Berkenaan dengan ketercapaian indikator sasaran dengan jumlah keseluruhan 257 indikator sasaran terdapat 207 indikator atau 80,54% yang telah dan/atau melampaui target dan 50 indikator atau 19,45% belum/tidak mencapai target. Terkait dengan masih terdapat tantangan yang harus dihadapi serta banyaknya harapan yang harus diwujudkan, maka dalam rangka perubahan atau perbaikan, keterlibatan seluruh masyarakat dalam proses pembangunan sangatlah diperlukan. xvii
BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan akan dapat dikatakan berhasil jika mampu mewujudkan aspirasi dan tuntutan masyarakat dalam mencapai tujuan serta citacita yang diharapkan dengan menerapkan penyelenggaraan good governance. Di samping itu diperlukan suatu sistem pertanggungjawaban yang tepat, jelas, terukur, dan legitimate. Good governance yang dimaksud adalah merupakan proses penyelenggaraan kekuasaan negara dalam melaksanakan penyediaan public good and services disebut governance (pemerintahan atau kepemerintahan), sedangkan praktek terbaiknya disebut good governance (kepemerintahan yang baik). Agar good governance dapat menjadi kenyataan dan berjalan dengan baik, maka dibutuhkan komitmen dan keterlibatan semua pihak yaitu pemerintah, private sector dan masyarakat. Good governance yang efektif menuntut adanya alignment (koordinasi) yang baik dan integritas, profesional serta etos kerja dan moral yang tinggi, dengan demikian penerapan konsep good governance penyelenggaraan kekuasaan pemerintah atau negara merupakan tantangan tersendiri. Terselenggaranya good governance merupakan prasyarat utama untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dalam mencapai tujuan dan cita-cita bangsa dan negara. Dalam rangka hal tersebut, diperlukan pengembangan dan penerapan sistem pertanggungjawaban yang tepat, jelas, dan nyata sehingga penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan dapat berlangsung secara berdaya guna, berhasil guna, bersih dan bertanggung jawab serta bebas KKN. Perlu diperhatikan pula adanya mekanisme untuk meregulasi akuntabilitas pada setiap instansi pemerintah dan memperkuat peran dan kapasitas parlemen, serta tersedianya akses yang sama bagi masyarakat luas akan ketersediaan informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan maupun pembangunan. Konsep dasar akuntabilitas didasarkan pada klasifikasi responsibilitas manajerial pada tiap lingkungan dalam organisasi yang bertujuan untuk pelaksanaan kegiatan pada tiap bagian. Masing-masing individu pada setiap jajaran aparatur bertanggung jawab atas BAB I Pendahuluan 1-1
kegiatan yang dilaksanakan pada bagiannya. Konsep inilah yang membedakan adanya kegiatan yang terkendali (controllable activities) dengan kegiatan yang tidak terkendali (uncontrollable activities). Kegiatan yang terkendali merupakan kegiatan yang secara nyata dapat dikendalikan oleh seseorang atau suatu pihak. Ini berarti, kegiatan tersebut benar-benar direncanakan, dilaksanakan dan dinilai hasilnya oleh pihak yang berwenang. Akuntabilitas didefinisikan sebagai suatu perwujudan kewajiban untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui media pertanggungjawaban yang dilaksanakan secara periodik. Dalam dunia birokrasi, akuntabilitas instansi pemerintah merupakan perwujudan kewajiban instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan misi instansi yang bersangkutan. Sejalan dengan hal tersebut, telah ditetapkan TAP MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, serta Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelengaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Berikutnya, sebagai kelanjutan dari produk hukum tersebut diterbitkan Inpres Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP), kemudian perbaharui dengan Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, maka Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 setiap Instansi Pemerintah diminta untuk menyampaikan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) kepada Presiden, sebagai perwujudan kewajiban suatu Instansi Pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan-tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik setiap akhir anggaran. Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 setiap Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota diminta untuk menyampaikan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) kepada Gubernur, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Menteri Pedayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dan Menteri Dalam Negeri paling lambat 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir, sebagai perwujudan kewajiban suatu Instansi Pemerintah BAB I Pendahuluan 1-2
untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan-tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik setiap akhir anggaran. Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) dibuat dalam rangka perwujudan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas pokok dan fungsi serta pengelolaan sumberdaya dan pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada setiap Instansi Pemerintah, berdasarkan suatu sistem akuntabilitas yang memadai. LKIP juga berperan sebagai alat kendali, alat penilai Kinerja dan alat pendorong terwujudnya good governance. Dalam perspektif yang lebih luas, maka LKIP berfungsi sebagai media pertanggungjawaban kepada publik. Semua itu memerlukan dukungan dan peran aktif seluruh lembaga pemerintahan pusat dan daerah serta partisipasi masyarakat. Bertitik tolak dari RPJMD Kota Tangerang Tahun 2014-2018, Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dan Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah serta memperhatikan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah, penyusunan LKIP Tahun 2015 berisi ikhtisar pencapaian sasaran sebagaimana yang ditetapkan dalam dokumen perjanjian kinerja dan dokumen perencanaan. Pencapaian sasaran tersebut disajikan berupa informasi mengenai pencapaian sasaran RPJMD, realisasi pencapaian indikator sasaran disertai dengan penjelasan yang memadai atas pencapaian kinerja dan pembandingan capaian indikator kinerja, dengan demikian, Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang yang menjadi laporan kemajuan penyelenggaraan pemerintahan oleh Walikota kepada Presiden melalui Gubernur ini telah disusun dan dikembangkan sesuai peraturan yang berlaku. Realisasi yang dilaporkan dalam LKIP ini merupakan hasil pencapaian sasaran pada Tahun 2015. Pelaksanaan penyusunan LKIP Pemerintah dengan memperhatikan kepada peraturan perundang-undangan yang melandasi pelaksanaan LKIP, yaitu : 1. TAP MPR No.XI/MPR/1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Kolusi, Korupsi dan Nepotisme; BAB I Pendahuluan 1-3
2. Undang-Undang Nomor 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Kolusi, Korupsi dan Nepotisme; 3. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah; 4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah; 5. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah; 6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah; 7. Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah; 8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dan diubah kembali dengan Peraturan Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang perubahan kedua atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; 9. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah; 10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, Dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah; 11. Peraturan Daerah Kota Tangerang Nomor 1 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Kota Tangerang; 12. Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2008 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah; 13. Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2013 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tahun 2005-2025; 14. Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Tangerang Tahun 2014-2018; BAB I Pendahuluan 1-4
15. Peraturan Daerah 13 Tahun 2014 tentang Organisasi Perangkat Daerah; 16. Peraturan Walikota Tangerang Nomor 60 Tahun 2014 tentang Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah. 17. Peraturan Walikota Tangerang Nomor 31 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Walikota Nomor 28 Tahun 2014 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2015; 1.2 BIDANG KEWENANGAN Sebagai pelaksanaan ketentuan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 12 bahwa Kewenangan Daerah terdiri atas Urusan Pemerintahan Wajib dan Urusan Pemerintahan Pilihan. Urusan Pemerintahan Wajib terdiri atas Urusan Pemerintahan yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar dan Urusan Pemerintahan yang tidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar. Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar meliputi : a. pendidikan; b. kesehatan; c. pekerjaan umum dan penataan ruang; d. perumahan rakyat dan kawasan permukiman; e. ketenteraman, ketertiban umum, dan pelindungan masyarakat; dan f. sosial. Sedangkan Urusan Pemerintahan Wajib yang tidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar meliputi : a. tenaga kerja; b. pemberdayaan perempuan dan pelindungan anak; c. pangan; d. pertanahan; e. lingkungan hidup; f. administrasi kependudukan dan pencatatan sipil; g. pemberdayaan masyarakat dan Desa; h. pengendalian penduduk dan keluarga berencana; i. perhubungan; BAB I Pendahuluan 1-5
j. komunikasi dan informatika; k. koperasi, usaha kecil, dan menengah; l. penanaman modal; m. kepemudaan dan olah raga; n. statistik; o. persandian; p. kebudayaan; q. perpustakaan; dan r. kearsipan. Urusan pemerintahan kabupaten/kota yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan, dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. Urusan pilihan yang dilaksanakan di Kota Tangerang, meliputi: Pertanian, Pariwisata, Industri, dan Perdagangan. 1.3 PERTUMBUHAN EKONOMI Salah satu variabel penting dari PDRB adalah Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE), adapun LPE didapat dengan membandingkan PDRB atas dasar harga konstan tiap tahun dengan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan perkembangan atau pertumbuhan riil perekonomian, atau dapat menggambarkan kinerja pembangunan dari suatu periode ke periode sebelumnya. Selain PDRB dapat menunjukkan LPE, juga menginformasikan struktur perekonomian daerah. Struktur perekonomian tersebut menggambarkan kontribusi sektor-sektor ekonomi terhadap perekonomian secara makro. Prioritas pembangunan melalui kerangka kebijakan pembangunan daerah dapat dengan mudah dilaksanakan dengan mempertimbangkan struktur perekonomian. Manfaat lain dari informasi struktur perekonomian ini adalah keterbandingan kekuatan ekonomi baik antar sektor ekonomi maupun antar wilayah kecamatan di Kota Tangerang. Pertumbuhan yang cukup tinggi belum menjamin meningkatnya kesejahteraan masyarakat karena perumbuhan penduduk melebihi tingkat pertumbuhan ekonomi, maka kesejahteraan masyarakat akan menurun. Namun demikian, dengan mengamati BAB I Pendahuluan 1-6
pertumbuhan PDRB per kapita dapat dipakai untuk menunjukkan perkembangan kemakmuran dan kesejahteraan suatu daerah. Meningkatnya PDRB per kapita yang diterima penduduk, maka daya beli (purchasing power) masyarakat akan bertambah, sehingga kebutuhan rumah tangganya (demand) terhadap barang dan jasa akan terpenuhi. Demand yang diikuti purchasing power, akan mengakibatkan kesejahteraan masyarakat meningkat. Perekonomian akan mengalami pertumbuhan apabila total output produksi barang dan jasa tahun tertentu lebih besar daripada tahun sebelumnya. Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi dapat menggambarkan perkembangan aktivitas ekonomi dalam kurun waktu tertentu. Adapun peningkatan output produksi barang dan jasa tersebut terjadi apabila terdapat peningkatan permintaan baik oleh masyarakat daerah tersebut atau dari luar daerah. Tabel 1.1 Tahun Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Tangerang, Provinsi Banten dan Nasional Tahun 2011-2015 LPE (%) Kota Tangerang Provinsi Banten Nasional 2011 7,39 7,03 6,16 2012 7,07 6,83 6,16 2013 6,73 7,13 5,74 2014 6,17 5,47 5,21 2015*) 5,88 5,60 5,80 Sumber : BPS Kota Tangerang, 2015 *) Kajian Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kota Tangerang, Bappeda, 2015 *) RAPBD P Provinsi Banten Tahun 2015 *) RAPBN P Tahun 2015 Pertumbuhan ekonomi Kota Tangerang pada Tahun 2015 melambat dibanding tahun 2014, hal tersebut dapat dilihat dari Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Tangerang sebesar 5,88% yang lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yaitu 6,17%. LPE Kota Tangerang diperkirakan masih lebih tinggi dibanding LPE Nasional maupun LPE Provinsi Banten. BAB I Pendahuluan 1-7
1.4 ASPEK STRATEJIK KOTA TANGERANG 1.4.1 Geografis Kota Tangerang secara geografis terletak pada 106 36 106 42 Bujur Timur (BT) dan 6 6-6 Lintang Selatan (LS), dengan luas wilayah 164,54 Km 2 (tidak termasuk luas Bandara Soekarno-Hatta sebesar 19,69 km 2 ). Secara administrasi Kota Tangerang terdiri dari 13 Kecamatan dan 104 Kelurahan. Kota Tangerang berada pada ketinggian 10-30 meter di atas permukaan laut (dpl), dengan bagian utara memiliki rata-rata ketinggian 10 meter dpl seperti Kecamatan Neglasari, Kecamatan Batuceper, dan Kecamatan Benda. Sedangkan bagian selatan memiliki ketinggian 30 meter dpl seperti Kecamatan Ciledug dan Kecamatan Larangan. Adapun batas administrasi Kota Tangerang adalah sebagai berikut : Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kecamatan Teluknaga, Kecamatan Kosambi dan Kecamatan Sepatan di Kabupaten Tangerang; Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kecamatan Curug di Kabupaten Tangerang, serta Kecamatan Serpong Utara dan Kecamatan Pondok Aren di Kota Tangerang Selatan; Sebelah Timur : Berbatasan dengan Jakarta Barat dan Jakarta Selatan di DKI Jakarta; Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kecamatan Pasar Kemis dan Kecamatan Cikupa di Kabupaten Tangerang. BAB I Pendahuluan 1-8
Gambar 1.1. Peta Kota Tangerang Kondisi geografis Kota Tangerang berbatasan langsung dengan ibukota negara (sekitar 27 Km), di samping itu keberadaan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, sebagai bandara terbesar di Indonesia berada di wilayah Kota Tangerang, yang menjadikan Kota Tangerang pintu gerbang utama bagi negara Republik Indonesia. Kondisi ini harus dapat meningkatkan kemajuan pembangunan terutama pada sektor permukiman, industri dan perdagangan yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Kota Tangerang. 1.4.2 Demografis Kondisi demografi Kota Tangerang meliputi berbagai data/informasi terkait dengan kependudukan antara lain: jumlah penduduk, komposisi penduduk menurut jenis kelamin, struktur usia, serta jenis pekerjaan dan pendidikan. Kondisi demografis ini tidak dapat dilepaskan dengan kondisi geografisnya, seperti halnya Kota Tangerang sebagai hinterland DKI Jakarta, sehingga pertumbuhan penduduknya tidak hanya dipengaruhi oleh kelahiran (fertilitas), tetapi juga oleh perpindahan (migrasi). BAB I Pendahuluan 1-9
Identifikasi terhadap jumlah penduduk, komposisi penduduk menurut jenis kelamin, struktur usia, jenis pekerjaan dan pendidikan sebagai bahan untuk memformulasikan kebijakan dan program/kegiatan pembangunan. 1.4.2.1 Jumlah Penduduk Jumlah penduduk yang besar merupakan potensi pembangunan jika memiliki kualitas yang memadai, oleh karena itu penanganan kependudukan tidak hanya pada upaya pengendalian jumlah penduduk tetapi juga menitikberatkan pada peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Tangerang, seperti yang terlihat pada jumlah penduduk pada Tahun 2015 sebanyak 1.795.436 jiwa, yang tersebar di 13 wilayah kecamatan. Kemudian, untuk melihat perkembangannya, data tentang jumlah penduduk dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2015 untuk setiap kecamatan di Kota Tangerang juga disajikan pada tabel yang sama. Terlihat bahwa wilayah Kecamatan Cipondoh merupakan wilayah berpenduduk paling besar, yaitu sebanyak 202.740 jiwa atau 11,29% dari total penduduk Kota Tangerang, sementara itu Kecamatan Benda merupakan wilayah berpenduduk paling sedikit, yaitu sebanyak 77.833 jiwa atau 4,34% dari total penduduk Kota Tangerang. Tabel 1.2 Jumlah Penduduk No. Kecamatan Jumlah (jiwa) Persen (%) 1 Larangan 148.080 8.25 2 Karang Tengah 112.140 6.25 3 Cipondoh 202.740 11.29 4 Pinang 166.272 9.26 5 Tangerang 165.314 9.21 6 Karawaci 182.872 10.19 7 Jatiuwung 102.949 5.73 8 Cibodas 160.472 8.94 9 Periuk 136.100 7.58 10 Batuceper 92.289 5.14 11 Neglasari 116.261 6.48 12 B e n d a 77.833 4.34 BAB I Pendahuluan 1-10
No. Kecamatan Jumlah (jiwa) Persen (%) 13 Ciledug 134.114 7.36 Tahun 2015 1.795.436 Tahun 2014 1.677.478 Tahun 2013 1.846.755 Tahun 2012 2.043.432 Tahun 2011 1.883.971 Tahun 2010 1.680.631 Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Tangerang, 2015 Sementara itu besarnya Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) rata-rata selama kurun waktu Tahun 2012 sampai dengan Tahun 2015 diperkirakan sebesar 2.23 %. Kecamatan Tangerang merupakan kecamatan yang mempunyai LPP paling tinggi yaitu 4,56%, yang merupakan hasil dari penghapusan data ganda tersebut. Sedangkan Kecamatan Jatiuwung merupakan kecamatan yang mempunyai (LPP) paling rendah yaitu -0,67%. Laju pertumbuhan penduduk menjadi minus dikarenakan adanya penghapusan data ganda yang ada di Kota Tangerang. Tabel 1.3 Laju Pertumbuhan Penduduk No Kecamatan Jumlah (jiwa) 2010 2011 2012 2013 2014 2015 LPP 2012-2015 (%) 1 Ciledug 123.373 136.614 146.237 134.841 123.302 132.114 2,31 2 Larangan 143.805 160.810 171.550 152.423 138.765 148.080 0,98 3 Karang Tengah 103.251 114.705 124.946 115.875 105.876 112.140 2,79 4 Cipondoh 181.644 205.408 227.289 207.106 188.490 202.740 3,73 5 Pinang 149.857 172.092 188.422 168.855 154.434 166.272 3,53 6 Tangerang 144.632 162.747 182.679 168.104 155.274 165.314 4,56 7 Karawaci 177.486 196.471 214.810 186.088 170.146 182.872 1,00 8 Cibodas 147.543 168.593 188.733 166.667 151.493 160.472 2,84 9 Jatiuwung 105.057 116.291 118.374 106.814 94.695 102.949-0,67 10 Periuk 124.684 139.289 153.707 139.925 126.957 136.100 2,96 11 Neglasari 109.301 127.296 134.940 123.734 108.581 116.261 2,08 12 Batu Ceper 94.884 103.543 104.441 96.078 86.710 92.949-0,68 13 Benda 74.114 80.112 87.304 80.245 72.755 77.833 1,65 BAB I Pendahuluan 1-11
No Kecamatan Kota Tangerang Jumlah (jiwa) 2010 2011 2012 2013 2014 2015 LPP 2012-2015 (%) 1.680.631 1.883.971 2.043.432 1.846.755 1.677.478 1.795.436 2,23 Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Tangerang, 2015 Penduduk jika diklasifikasi menjadi rumah tangga yang didasarkan pada kepemilikan Kartu Keluarga (KK) dapat dilihat pada Tabel 1.4. Tabel 1.4 Jumlah Rumah Tangga di Kota Tangerang (Menurut Kepemilikan Kartu Keluarga) Tahun 2015 No Kecamatan Jumlah Rumah Tangga 1 Ciledug 43.509 2 Larangan 50.793 3 Karang Tengah 36.785 4 Cipondoh 67.073 5 Pinang 57.222 6 Tangerang 54.252 7 Karawaci 63.683 8 Cibodas 55.748 9 Jatiuwung 39.447 10 Periuk 46.169 11 Neglasari 38.365 12 Batu Ceper 31.354 13 Benda 25.164 Tahun 2015 609.114 Tahun 2014 573.924 Tahun 2013 630.774 Tahun 2012 637.836 Tahun 2011 583.988 Tahun 2010 495.426 Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Tangerang, 2015 Dari data di atas terlihat jumlah rumah tangga terbanyak tahun 2015 terdapat di Kecamatan Cipondoh sebesar 67.073 rumah tangga. Sedangkan jumlah kepala keluarga BAB I Pendahuluan 1-12
paling sedikit di Kecamatan Benda sebesar 25.164 rumah tangga. Tingginya jumlah rumah tangga di Kecamatan Cipondoh seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Penambahan jumlah rumah tangga ini sangat erat kaitannya dengan penyediaan pemukiman dan lapangan pekerjaan dalam rangka memenuhi kebutuhan ekonomi dan sosial. Lebih lanjut, hal yang bisa dilihat dari kondisi dan data demografi adalah pola persebaran atau distribusi penduduk yang dapat dilihat melalui keterkaitan antara jumlah penduduk dengan luas wilayah. Distribusi penduduk ini pada dasarnya merupakan komposisi penduduk berdasarkan geografis, sehingga akan lebih bermakna apabila dikaitkan dengan kepadatan penduduk sebagaimana dapat dilihat dibawah ini. Tabel 1.5 Kepadatan Penduduk (jiwa/km 2 ) No. Kecamatan Jumlah (Jiwa) Luas (km 2 )* Kepadatan (Jiwa/km 2 ) 1 Ciledug 132.114 8,77 15.064 2 Larangan 148.080 9,40 15.753 3 Karang Tengah 112.140 10,47 10.711 4 Cipondoh 202.740 17,91 11.320 5 Pinang 166.272 21,59 7.701 6 Tangerang 165.314 15,79 10.470 7 Karawaci 182.872 13,48 13.566 8 Cibodas 160.472 9,61 16.698 9 Jatiuwung 102.949 14,41 7.144 10 Periuk 136.100 9,54 14.266 11 Neglasari 116.261 16,08 7.230 12 Batuceper 92.289 11,58 7.970 13 Benda 77.833 5,92 13.147 Tahun 2015 1.795.436 164,55 10.911 Tahun 2014 1,677,478 164,55 10.194 Tahun 2013 1,846,755 164,55 11.223 Tahun 2012 2,043,432 164,55 12.418 Tahun 2011 1,883,971 164,55 11.467 Tahun 2010 1,680,631 164,55 10.213 Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Tangerang, 2015 * Tidak termasuk luas bandara (19,69 km 2 ) BAB I Pendahuluan 1-13
terlihat bahwa Kota Tangerang merupakan daerah yang cukup padat, dalam kurun waktu Tahun 2010-2015 terjadi kenaikan rata-rata per tahun atas kepadatan penduduk sampai dengan 10,911% jiwa/km 2 pada Tahun 2015, kepadatan di Kecamatan Cibodas merupakan kecamatan dengan kepadatan tertinggi (16.698 jiwa/km 2 ) dan Kecamatan Pinang merupakan kecamatan dengan kepadatan penduduknya terendah hanya mencapai 7.701 jiwa/km 2. Tingginya kepadatan penduduk di Kecamatan Cibodas disebabkan karena tidak meratanya pertumbuhan penduduk di Kota Tangerang, hal ini mungkin disebabkan karena di Kecamatan Cibodas tersedia sumberdaya yang memadai sehingga lebih banyak tersedia lapangan pekerjaan. Ketimpangan ini tentunya berpengaruh terhadap kemajuan dan pembangunan wilayah. Potensi penduduk Kota Tangerang diharapkan mampu memiliki daya dukung untuk pelaksanaan program dalam pembangunan yang ditujukan untuk upaya pencapaian visi dan misi Kota Tangerang, program dan kegiatan prioritas pada setiap bidang atau sektor pembangunan, diharapkan mampu mencerminkan adanya kesatuan pembangunan antara aspek pemerintahan, aspek ekonomi, aspek sosial budaya, aspek tata ruang dan infrastruktur Kota Tangerang. Untuk mendukung arah kebijakan yang jelas dan terarah perlu dirumuskan strategi. Dalam tatanan operasional strategi pembangunan kota harus mengacu pada Master Plan (Rencana Induk Pembangunan Kota), kondisi eksisting (potensi) dan Grand Planning Strategic (program strategi pelayanan yang mendasar) yang dimiliki Kota Tangerang, sehingga kebijakan pembangunan kota selain bersifat normatif dan komprehensif juga tanggap terhadap aspirasi dan tuntutan masyarakat sesuai dengan kondisi dan potensi kota. Oleh karena itu, pembangunan Kota Tangerang dirumuskan ke dalam 9 (sembilan) isu strategi, yaitu sebagai berikut: 1. Peningkatan Kualitas Pendidikan Pembangunan sektor pendidikan mempunyai peran penting dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Untuk mewujudkan hal ini, dilakukan melalui peningkatan kelembagaan sumber daya manusia dan tata laksana yang meliputi penyediaan prasarana dan sarana, peningkatan kualitas tenaga pendidik, pengelolaan sistem pendidikan yang berkualitas dan pembiayaan pendidikan. Dalam pelaksanaannya, diperlukan pertimbangan kebutuhan pasar tenaga kerja, BAB I Pendahuluan 1-14
khususnya dalam penyediaan fasilitas pendidikan yang berbasis keterampilan khusus. 2. Peningkatan Kualitas Kesehatan Peningkatan kualitas pembangunan kesehatan merupakan salah satu pilar utama dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Pelaksanaan pembangunan kesehatan dilakukan melalui peningkatan kualitas kelembagaan, sumber daya manusia, dan tata kelola meliputi antara lain peningkatan kualitas prasarana dan sarana kesehatan, kualitas tenaga medis dan paramedis, perbaikan sistem pelayanan dengan memperhatikan keterjangkauan dan ketersediaan pelayanan untuk seluruh masyarakat Kota Tangerang termasuk masyarakat miskin. Selain itu, pembangunan kesehatan juga diarahkan pada perubahan perilaku masyarakat untuk hidup bersih dan sehat serta penyediaan prasarana dan sarana lingkungan, seperti penyediaan air bersih, pengelolaan sampah, dan penataan sanitasi lingkungan. 3. Penanggulangan Kemiskinan Kemiskinan adalah kondisi tidak terpenuhinya kebutuhan sehari-hari secara layak. Kemiskinan merupakan salah satu permasalahan krusial di Kota Tangerang mengingat terdapat 6,88% penduduk Kota Tangerang yang terkategorikan miskin pada Tahun 2013 menurut data yang dikeluarkan oleh BPS. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kurangnya kesempatan kerja, beban ekonomi keluarga, keterbatasan akses permodalan, tingkat pendidikan yang rendah, atau perilaku malas. Penanganannya masing-masing berbeda namun harus menjadi satu kesatuan strategi. 4. Perluasan Kesempatan Kerja Pengangguran merupakan salah satu permasalahan krusial di kawasan perkotaan termasuk Kota Tangerang. Dengan banyaknya industri, Kota Tangerang menjadi incaran penduduk luar daerah untuk mengadu nasib. Namun banyak diantara pendatang tersebut yang tidak dibekali dengan kemampuan dan keterampilan kerja yang memadai sehingga menjadi pengangguran terbuka atau setengah pengangguran. Penanganannya dilakukan melalui perluasan kesempatan kerja dan peningkatan kemampuan dan keterampilan pencari kerja. 5. Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Ekonomi Lokal Struktur perekonomian daerah Kota Tangerang yang didominasi oleh sektor industri, pada satu sisi memberikan dampak positif terhadap tingginya laju BAB I Pendahuluan 1-15
pertumbuhan ekonomi daerah, namun di sisi lain dampak negatif yang ditimbulkan yaitu kerawanan sosial serta pencemaran lingkungan. Hal tersebut dikarenakan sektor industri yang berkembang di Kota Tangerang bukan merupakan industri yang berbasis sumberdaya lokal, namun merupakan industri yang padat modal serta membutuhkan tenaga kerja dengan skill atau keahlian khusus. Di samping itu, perekonomian yang didominasi oleh industri strukturnya relatif lemah dan sangat rawan terhadap adanya gejolak perekonomian. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan ekonomi kerakyatan yang berbasis sumberdaya lokal berupa UKM dan Koperasi harus lebih ditingkatkan kinerjanya agar dapat berperan lebih signifikan dalam perekonomian daerah. 6. Penataan Ruang Kota yang Berkelanjutan Dari sudut pandang penataan ruang, salah satu tujuan pembangunan adalah mewujudkan ruang kehidupan yang nyaman, produktif, dan berkelanjutan. Ruang kehidupan yang nyaman mengandung pengertian adanya kesempatan yang luas bagi masyarakat untuk mengartikulasikan nilai-nilai sosial budaya dan fungsinya sebagai manusia. produktif mengandung pengertian bahwa proses produksi dan distribusi berjalan secara efisien sehingga mampu memberikan nilai tambah ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing. Sementara berkelanjutan mengandung pengertian dimana kualitas lingkungan fisik dapat dipertahankan bahkan dapat ditingkatkan, tidak hanya untuk kepentingan generasi saat ini, namun juga generasi yang akan datang. Keseluruhan tujuan tersebut diarahkan untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang cerdas, berbudi luhur, dan sejahtera; mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia; dan mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan. Untuk mewujudkan ruang kota yang berkualitas dan diperlukan peraturan daerah tentang rencana tata ruang wilayah, rencana detail tata ruang, dan peraturan zonasi yang dapat dijadikan acuan dalam membangun ruang kota. Untuk itu diperlukan peningkatan kualitas kelembagaan, sumber daya manusia, dan tata laksana dengan mempertimbangkan keseimbangan antara ketersediaan infrastruktur dan pengembangan kawasan. Dalam pelaksanaannya diperlukan konsistensi dan komitmen dalam penegakan hukum. Untuk itu, diperlukan sinergitas antara pemerintah, masyarakat dengan komunitas BAB I Pendahuluan 1-16
pemerhati penataan ruang yang didukung oleh transparansi informasi terkait penataan ruang. 7. Pengembangan Sistem Transportasi Pengembangan sistem transportasi merupakan kebutuhan utama yang perlu diperhatikan dalam pembangunan daerah. Kota Tangerang menghadapi berbagai permasalahan transportasi, khususnya kemacetan, akibat meningkatnya aktivitas ekonomi, sosial dan budaya. Oleh karena itu, perlu pengembangan sistem transportasi terpadu untuk memperlancar kegiatan produksi, distribusi barang dan jasa serta peningkatan aksesibilitas bagi manusia ataupun barang dan jasa. 8. Penanganan Banjir Banjir merupakan ancaman bencana yang masih dihadapi oleh Kota Tangerang dan diprioritaskan penanganannya. Banjir yang terjadi sangat dipengaruhi oleh curah hujan di daerah lain yaitu Bogor dan Jakarta, selain dipengaruhi juga oleh tingginya curah hujan lokal. Lokasi genangan banjir pada Tahun 2012 sebanyak 13 titik lokasi banjir bertambah menjadi 33 titik lokasi dengan ketinggian genangan air antara 100-150 cm pada Tahun 2013. Pelaksanaan penanganan banjir dilakukan melalui penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pengembangan tata laksana meliputi perbaikan sistem sungai dan saluran, situ, serta pembangunan tandon-tandon air dan sumur resapan. 9. Peningkatan Kualitas Tata Kelola Pemerintahan Prioritas utama Kota Tangerang dalam peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan meliputi integritas, akuntabilitas, ketaatan pada hukum, kredibilitas dan transparansi. Langkah utama untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang berkualitas di Kota Tangerang dilakukan melalui: penciptaan struktur pemerintah yang efisien, peningkatan kapasitas pegawai pemerintah, dan peningkatan kualitas perencanaan pembangunan yang lebih baik melalui peningkatan kualitas dan keandalan data. 1.5 STRUKTUR ORGANISASI Pemerintah Kota Tangerang pada Tahun 2014 melakukan perubahan atau penataan terhadap 6 (enam) Peraturan Daerah dan 31 (tiga puluh satu) Peraturan Walikota yang mengatur tentang pembentukan kelembagaan dan struktur organisasi perangkat daerah, BAB I Pendahuluan 1-17
yang efektip diberlakukan pada Tahun 2015. Secara normatif kelembagaan perangkat daerah Kota Tangerang sudah dapat dievaluasi setelah 2 (dua) tahun pembentukannya sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007. Beberapa fakta dinamika perkembangan peraturan perundang-undangan dan pelaksanaan otonomi daerah yang mendorong Pemerintah Kota Tangerang melakukan penataan kelembagaan perangkat daerah, antara lain : Pertama, adanya kepemimpinan baru pada Pemerintahan Kota Tangerang sebagai hasil Pemilihan Kepala Daerah pada tahun 2013 dengan visi dan misi Kota Tangerang yang baru. Kedua, masih belum tuntasnya proses perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah yang sudah berjalan 3 (tiga) tahun lebih terhitung sejak dikeluarkannya Surat Kemendagri Nomor 61/824/SD tertanggal 7 April 2011. Ketiga, adanya sejumlah aturan di bidang OPD yang memang mengharuskan diadakannya penataan ulang kelembagaan perangkat daerah, misalnya Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2010 tentang Satuan Polisi Pamong Praja. Keempat, adanya masukan dari Organisasi Perangkat Daerah Kota Tangerang untuk melakukan penataan ulang kelembagaan perangkat daerah yang pada umumnya terkait dengan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi pada level bidang dan subbagian/seksi/subbidang guna lebih meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas pokok dan fungsi. Sedangkan Struktur Organisasi Pemerintah Kota Tangerang berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2014 terdiri atas : 1.5.1 Walikota dan Wakil Walikota Tahun 2013, pada pemilihan Kepala Daerah Kota Tangerang periode Tahun 2013-2018, terpilih Walikota dan Wakil Walikota yaitu Walikota H. Arief R. Wismansyah dan Wakil Walikota H. Sachrudin. 1.5.2 Sekretariat Daerah Pembentukan dan Susunan Organisasi Sekretariat Daerah berdasarkan Peraturan Daerah Kota Tangerang Nomor 13 Tahun 2014 tentang Organisasi Perangkat Daerah dan Peraturan Walikota Tangerang Nomor 60 Tahun 2014 tentang Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah. Sekretariat Daerah dalam melaksanakan tugas dibantu oleh Asisten Tata Pemerintahan, Asisten Ekonomi Pembangunan dan Kesejahteraan serta Asisten Administrasi Umum. BAB I Pendahuluan 1-18
1.5.3 Sekretariat DPRD Pembentukan dan Susunan Organisasi Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah berdasarkan Peraturan Daerah Kota Tangerang Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pembentukan Perangkat Daerah dan Peraturan Walikota Tangerang Nomor 61 Tahun 2014 tentang Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 1.5.4 Dinas Daerah Pembentukan dan Susunan Organisasi Dinas Daerah berdasarkan Peraturan Daerah Kota Tangerang Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pembentukan Perangkat Daerah. Dinas Daerah terdiri atas: 1) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Perwal No. 62 Tahun 2014), 2) Dinas Kesehatan (Perwal No. 63 Tahun 2014), 3) Dinas Sosial (Perwal No. 64 Tahun 2014), 4) Dinas Ketenagakerjaan (Perwal No. 65 Tahun 2014), 5) Dinas Perhubungan (Perwal No. 66 Tahun 2014), 6) Dinas Komunikasi dan Informatika (Perwal No. 67 Tahun 2014), 7) Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Perwal No. 68 Tahun 2014), 8) Dinas Pemuda Olah Raga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Perwal No. 69 Tahun 2014), 9) Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (Perwal No. 70 Tahun 2014), 10) Dinas Cipta Karya dan Penataan Ruang (Perwal No. 71 Tahun 2014), 11) Dinas Bangunan (Perwal No. 72 Tahun 2014), 12) Dinas Kebersihan dan Pertamanan (Perwal No. 73 Tahun 2014), 13) Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Perwal No. 74 Tahun 2014), 14) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Perwal No. 75 Tahun 2014), 15) Dinas Pelayanan PBB dan BPHTB (Perwal No. 76 Tahun 2014), dan 16) Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah (Perwal No. 77 Tahun 2014). 1.5.5 Lembaga Teknis Daerah Pembentukan dan Susunan Organisasi Lembaga Teknis Daerah berdasarkan Peraturan Daerah Kota Tangerang Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pembentukan Organisasi Perangkat Daerah. Lembaga Teknis Daerah terdiri atas : 1) Inspektorat (Perwal No. 78 Tahun 2014), 2) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Perwal No. 79 Tahun 2014), 3) Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (Perwal No. 80 Tahun 2014), 4) Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (Perwal No. 81 Tahun 2014), 5) Badan Lingkungan Hidup (Perwal No.82 Tahun 2014), 6) Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Perwal No. 83 Tahun 2014), 7) Badan Perpustakaan Arsip Daerah (Perwal No. 84 BAB I Pendahuluan 1-19
Tahun 2014), 8) Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Perwal No. 85 Tahun 2014), 9) Rumah Sakit Umum Daerah (Perwal No. 3 Tahun 2013), 10) Satuan Polisi Pamong Praja (Perwal No. 86 Tahun 2014), 11) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Perwal No. 87 Tahun 2014), 12) Kantor Layanan Pengadaan Barang dan Jasa (Perwal No. 88 Tahun 2014) 1.5.6 Kecamatan dan Kelurahan Organisasi Kecamatan dan Kelurahan dibentuk Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Tangerang Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pembentukan Organisasi Perangkat Daerah. Adapun tugas, fungsi dan tata kerja Kecamatan dan Kelurahan diatur : 1) Kecamatan (Perwal No. 89 Tahun 2014), dan 2) Kelurahan (Perwal No. 90 Tahun 2014). Kota Tangerang memiliki 13 Kecamatan dan 104 Kelurahan terdiri atas: 1) Tangerang dengan 8 Kelurahan, 2) Jatiuwung dengan 6 Kelurahan, 3) Batuceper dengan 7 Kelurahan, 4) Benda dengan 5 Kelurahan, 5) Cipondoh dengan 10 Kelurahan, 6) Ciledug dengan 8 Kelurahan, 7) Karawaci dengan 16 Kelurahan, 8) Periuk dengan 5 Kelurahan, 9) Cibodas dengan 6 Kelurahan, 10) Neglasari dengan 7 Kelurahan, 11) Pinang dengan 11 Kelurahan, 12) Karang Tengah dengan 7 Kelurahan dan 13) Larangan dengan 8 Kelurahan. 1.5.7 Badan Usaha Milik Daerah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) merupakan unit usaha pemerintah daerah yang secara badan hukum berada di luar unsur pemerintah daerah. Hal ini karena BUMD merupakan unsur kekayaan daerah yang dipisahkan, sehingga pengelolaan keuangannya di luar APBD Kota Tangerang. BUMD yang terdapat di lingkungan Pemerintah Kota Tangerang adalah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan Perusahaan Daerah (PD) Pasar Kota Tangerang. 1.6 SISTEMATIKA LKIP 2015 Pada dasarnya Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) ini memberikan penjelasan mengenai pencapaian kinerja Pemerintah Kota Tangerang selama Tahun 2015. Capaian kinerja (performance results) Tahun 2015 tersebut diperbandingkan dengan Perjanjian Kinerja (performance agreement) Tahun 2014 sebagai tolok ukur keberhasilan tahunan organisasi. Analisis atas capaian kinerja terhadap rencana kinerja ini akan memungkinkan diidentifikasikannya sejumlah celah kinerja (performance gap) bagi perbaikan kinerja di masa datang. Sistematika penyajian Laporan Kinerja Instansi BAB I Pendahuluan 1-20
Pemerintah (LKIP) berpedoman pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja Dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah, sebagai berikut : IKHTISAR EKSEKUTIF, pada bagian ini menyajikan tujuan dan sasaran utama yang telah ditetapkan dalam Rencana Strategis maupun penetapan kinerja yang berpedoman pada Rencana Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Tangerang Tahun 2014-2018, serta sejauh mana instansi pemerintah mencapai tujuan dan sasaran utama tersebut, serta kendala-kendala yang dihadapi dalam pencapaiannya. Disebutkan pula langkah-langkah apa yang telah dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut dan langkah antisipasif untuk menanggulangi kendala yang mungkin akan terjadi pada tahun mendatang. Bab I Pendahuluan, menjelaskan hal-hal umum tentang organisasi,dasar hukum terbentuknya organisasi, tujuan terbentuknya organisasi, aspek strategis organisasi serta uraian singkat mandat apa yang dibebankan kepada organisasi (gambaran umum tupoksi) serta permasalahan utama (strategic issued) yang sedang dihadapi organisasi dan potensi organisasi yang bisa digunakan untuk mencapai tujuan organisasi. Bab II Perencanaan Kinerja, Pada bab ini menyajikan gambaran singkat mengenai: Rencana Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Tangerang Tahun 2014-2018 dan Rencana Kinerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2015, serta Perjanjian Kinerja Tahun 2015. Pada awal bab ini disajikan gambaran secara singkat sasaran utama (yang menggambarkan fungsi utama organisasi) yang ingin diraih organisasi pada tahun yang bersangkutan serta bagaimana kaitannya dengan capaian visi dan misi organisasi. Bab III Akuntabilitas Kinerja, menyajikan uraian A. Capaian Kinerja Organisasi Pada sub bab ini disajikan capaian kinerja Kota Tangerang untuk setiap pernyataan kinerja sasaran strategis/pembangunan daerah sesuai dengan hasil pengukuran organisasi. Untuk setiap pernyataan kinerja sasaran strategis tersebut dilakukan analisis capaian kinerja sebagai berikut: 1. Membandingkan antara target dan realisasi kinerja Tahun 2015; 2. Membandingkan antara realisasi kinerja serta capaian kinerja tahun 2015 dengan tahun lalu dan beberapa tahun terakhir; BAB I Pendahuluan 1-21
3. Membandingkan realisasi kinerja sampai dengan tahun 2015 dengan target jangka menengah yang terdapat dalam dokumen perencanaan strategis Kota Tangerang; 4. Membandingkan realisasi kinerja tahun 2015 dengan Provinsi Banten dan Standar Nasional (seperti SPM,MDGs dll); 5. Analisis penyebab keberhasilan/kegagalan atau peningkatan/ penurunan kinerja serta alternatif solusi yang telah dilakukan Pemerintah Kota Tangerang; 6. Analisis atas efisiensi penggunaan sumberdaya; 7. Analisis program/kegiatan yang menunjang keberhasilan ataupun kegagalan pencapaian kinerja. B. Realisasi Anggaran Pada sub bab ini diuraikan realisasi/penyerapan anggaran organisasi/opd yang digunakan dan yang telah digunakan untuk mewujudkan kinerja Pemerintah Kota Tangerang sesuai dengan dokumen Perjanjian Kinerja Bab IV Penutup, menyajikan simpulan secara umum tentang keberhasilan dan kegagalan, permasalahan dan kendala utama yang berkaitan dengan kinerja instansi yang bersangkutan serta strategi pemecahan masalah yang akan dilaksanakan di masa/tahun mendatang. Lampiran Lampiran, penjelasan lebih lanjut yang tidak diuraikan dalam badan teks laporan. BAB I Pendahuluan 1-22
BAB 2. PERENCANAAN KINERJA Pada penyusunan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2015 ini, mengacu pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja Dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah dengan perubahan outline pada Bab II dengan menyampaikan dokumen Perjanjian Kinerja Tahun 2015. 2.1 RENCANA STRATEGIS Dalam sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah, perencanaan strategis merupakan langkah awal yang harus dilakukan oleh instansi pemerintah agar mampu menjawab tuntutan lingkungan strategis lokal, nasional, global dan tetap berada dalam tatanan Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu, pendekatan perencanaan strategis yang jelas dan sinergis, dapat lebih menyelaraskan visi dan misinya instansi pemerintah dengan potensi, peluang, dan kendala yang dihadapi dalam upaya peningkatan akuntabilitas kinerjanya. Penyusunan LKIP Pemerintah ini, mengacu pada Peraturan Daerah Kota Tangerang Nomor 10 Tahun 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Tangerang Tahun 2014-2018, berpedoman pada Peraturan Walikota Tangerang Nomor 31 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Walikota Nomor 28 Tahun 2014 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2015, serta Peraturan Walikota Tangerang Nomor 2 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Walikota Nomor 56 Tahun 2014 tentang Indikator Kinerja Utama Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2014-2018, dan Perjanjian Kinerja Pemerintah. Dalam bab ini menyajikan secara singkat mengenai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Tangerang Tahun 2014-2018 dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), termasuk menyajikan gambaran singkat sasaran utama (yang menggambarkan fungsi utama organisasi) yang ingin diraih organisasi pada tahun yang bersangkutan serta kaitannya dengan capaian visi dan misi organisasi. BAB II Perencanaan Kinerja 2-1
Dalam Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP), RPJM merupakan rencana strategis yang berperan sebagai langkah awal untuk melakukan pengukuran kinerja instansi pemerintah. Hal ini memerlukan integrasi antara keahlian sumber daya manusia dan sumber daya lain, yang diharapkan akan dapat memenuhi keinginan stakeholders dan menjawab tuntutan perkembangan dan dinamika lingkungan strategis baik nasional maupun global. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Tangerang Tahun 2014-2018 merupakan dokumen perencanaan strategis yang disusun dan dirumuskan setiap lima tahun (perencanaan jangka menengah) yang menggambarkan visi, misi, tujuan, sasaran, program dan kegiatan yang realistis dengan mengantisipasi dan mengarahkan anggota organisasi dalam mengambil keputusan tentang masa depannya, membangun operasi dan prosedur untuk mencapainya, dan menentukan ukuran keberhasilan/kegagalannya. Dengan visi, misi, dan strategi tersebut, diharapkan instansi pemerintah akan selaras dengan potensi, peluang, dan kendala yang dihadapi. 2.2 VISI Visi berkaitan dengan pandangan ke depan menyangkut kemana instansi Pemerintah harus dibawa dan diarahkan agar dapat berkarya secara konsisten dan tetap eksis, antisipatif, inovatif, serta produktif. Visi adalah suatu gambaran tentang keadaan masa depan yang berisikan cita dan citra yang ingin diwujudkan instansi Pemerintah. Berdasarkan kondisi Kota Tangerang pada saat ini, tantangan dan isu strategis yang akan dihadapi dalam 5 tahun mendatang dengan mempertimbangkan modal dasar yang dimiliki serta berpedoman pada Visi Pembangunan Kota Tangerang Tahun 2005-2025, yang termuat dalam RPJPD Kota Tangerang Tahun 2005-2025 berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2013 tentang RPJPD Kota Tangerang Tahun 2005-2025, yaitu : KOTA INDUSTRI, PERDAGANGAN DAN JASA YANG MAJU DAN LESTARI BERLANDASKAN AKHLAKUL KARIMAH, dengan misinya sebagai berikut: 1. Mewujudkan Sumber Daya Manusia yang Berakhlak Mulia, Maju dan Berdaya Saing; 2. Mewujudkan Perekonomian yang Maju dan Berdaya Saing; 3. Mewujudkan Lingkungan Hidup yang Asri dan Lestari; 4. Mewujudkan Pelayanan Prasarana, Sarana dan Fasilitas Kota yang Memadai dan Berdaya Saing; BAB II Perencanaan Kinerja 2-2
5. Mewujudkan Penyelenggaraan Pemerintahan yang Baik dan Bersih; Walikota dan Wakil Walikota Tangerang periode 2014-2018 mempunyai visi berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Tangerang Tahun 2014-2018, sebagai berikut: Pernyataan visi di atas mempunyai makna sebagai berikut: Terwujudnya Kota Tangerang Yang Maju Terwujudnya Kota Tangerang yang maju dalam berbagai hal, melalui pemberian pelayanan terbaik dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan, serta pembangunan tata kelola perkotaan yang berorientasi lingkungan. Terwujudnya Kota Tangerang Yang Mandiri Terwujudnya Kota Tangerang yang mandiri, melalui pembangunan yang dilakukan dengan memaksimalkan segenap potensi daerah yang dimiliki untuk mendorong tumbuhnya rasa percaya diri dalam diri segenap masyarakat dan seluruh stakeholder untuk bersama-sama dan ikut bertanggung jawab dalam kelangsungan pembangunan daerah. TERWUJUDNYA KOTA TANGERANG YANG MAJU, MANDIRI, DINAMIS, DAN SEJAHTERA, DENGAN MASYARAKAT YANG Terwujudnya Kota Tangerang Yang Dinamis Terwujudnya Kota Tangerang yang dinamis yaitu kehidupan yang berkesinambungan dengan mengikuti era perkembangan jaman dengan tetap menjaga kerukunan, yang mencerminkan kehidupan masyarakat Kota Tangerang yang meskipun berbeda latar belakang etnis dan budaya, namun memiliki semangat kebersamaan dan nasionalisme berbasis kedaerahan, tenggang rasa dan tanggung jawab, sikap toleransi yang universal dalam membangun Kota Tangerang. BERAKHLAKUL KARIMAH Terwujudnya Kota Tangerang Yang Sejahtera Terwujudnya Kota Tangerang yang sejahtera, melalui perwujudan masyarakat Kota Tangerang yang sejahtera yaitu memiliki tatanan kehidupan yang baik dan berkualitas sehingga terbentuk kehidupan masyarakat yang makmur dan berkeadilan, dan menjadikan masyarakat sebagai subyek dalam pembangunan daerah. BAB II Perencanaan Kinerja 2-3
Terwujudnya Masyarakat Yang Berakhlakul karimah Terwujudnya masyarakat Kota Tangerang yang memiliki akhlakul karimah, yaitu terwujudnya masyarakat yang memiliki sikap dan perilaku akhlak mulia yang dicerminkan melalui kualitas hubungan antar manusia dengan Tuhan dan hubungan antar manusia itu sendiri, dan menjadi landasan moral dan etika dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pemahaman dan pengamalan agama secara benar diharapkan dapat mendukung terwujudnya masyarakat yang religius, demokratis, mandiri, berkualitas sehat jasmani dan rohani, serta tercukupi kebutuhan material spiritual, sehingga mampu mewujudkan sebuah masyarakat madani (madaniyyah) dan hidup menuju negeri yang adil, makmur, dan diberkati (baldatun toyyibatun warabbun ghafur). 2.3 MISI Misi pembangunan daerah adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan oleh pemerintah daerah untuk mewujudkan visi pembangunan daerah. Untuk pencapaian visi sebagaimana telah dikemukakan tersebut, maka ditetapkan 5 (lima) pernyataan misi Pemerintah Kota Tangerang. Misi tersebut sekaligus merupakan panduan bagi Pemerintah Kota Tangerang untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi pemerintahan. Misi pembangunan Kota Tangerang Tahun 2014-2018 berdasarkan misi Walikota dan Wakil Walikota Tangerang yang terpilih adalah sebagai berikut : Misi 1 : Mewujudkan tata pemerintahan yang baik, akuntabel, dan transparan didukung dengan struktur birokrasi yang berintegritas, kompeten, dan profesional Pelaksanan pembangunan akan berjalan dengan optimal apabila ditunjang oleh tata pemerintahan yang baik, akuntabel dan transparan. Perwujudan tata pemerintahan yang baik,akuntabel dan transparan didukung dengan struktur birokrasi yang aparatur yang profesional, kompetensi, kualitas,transparansi, objektifitas, dan bebas dari intervensi politik dan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) berintegritas, kompeten, dan professional. Melalui Tangerang LIVE yang salah satunya adalah E-CITY, pengembangan Kota Tangerang sebagai E-CITY terus dilakukan secara bertahap. Mulai dari pembuatan aplikasi, website hingga penerapan kepada pegawai Kota Tangerang seperti E-Pemerintahan, E-Kesehatan, E-Pendidikan, E-Logistik dan E-Pengadaan, E- BAB II Perencanaan Kinerja 2-4
SPTPD, Akta Kelahiran Online, Pencaker Online, ATCS Dishub, Simpati RSUD dll. Dengan dibuatnya Comand Center (Pusat Data) yang menghimpun seluruh aplikasi yang ada, maka pelayanan kepada masyarakat bisa lebih cepat lagi. Misi 2 : Meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing tinggi Peningkatan pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing tinggi merupakan salah satu upaya untuk mempercepat kemajuan Kota Tangerang, yang dilakukan dengan memajukan kegiatan ekonomi yang menjadi sektor unggulan, seperti perdagangan dan jasa, industry, dan memberdayakan usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi (UMKMK) sehingga mampu bersaing, serta memperluas kesempatan kerja, mengurangi pengganguran, dan mengentaskan kemiskinan. Apalagi dengan adanya program Investable (kota layak investasi) diharapkan bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Berbagai kemudahan terus diberikan Pemerintah Kota Tangerang untuk menarik investor menanamkan modalnya di Kota Tangerang yang sedang bertranformasi dari Kota Seribu Industri menjadi Kota Sejuta Jasa. Program-program yang dilakukan Pemerintah Kota Tangerang untuk mendukung kearah itu seperti layanan BPHTB Online, SIUP dan TDP Online. Kemudahan perijinan merupakan salah satu point dasar dalam menarik investor kesuatu daerah. Bila selama ini izin investasi harus menunggu lama, tetapi hal itu tak berlaku lagi di Kota Tangerang. Birokrasi yang rumit dan lama akan berdampak pada keengganan investor menanamkan modalnya di suatu daerah. Misi 3 : Meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial demi terwujudnya masyarakat yang berdaya saing diera globalisasi Pengembangan kualitas pendidikan dan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan masyarakat yang berdaya saing, kualitas kehidupan masyarakat Kota Tangerang yang ditunjang dengan upaya peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat demi terwujudnya masyarakat yang berdaya saing diera globalisasi. Hal ini dilakukan melalui peningkatan kualitas pelayanan sumber daya manusia, kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pelayanan, serta faktor pendukung lainnya. Sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan, Pemerintah Kota Tangerang menyediakan layanan informasi mengenai pendidikan dan kesehatan secara online. BAB II Perencanaan Kinerja 2-5
Misi 4 : Meningkatkan pembangunan sarana perkotaan yang memadai dan berkualitas Penyediaan dan peningkatan pembangunan sarana perkotaan yang memadai dan berkualitas mutlak diperlukan sekaligus untuk menjamin pemenuhan kebutuhan pelayanan dasar masyarakat dalam rangka mendukung berlangsungnya kegiatan ekonomi dan investasi secara produktif. Sarana perkotaan merupakan faktor penunjang bagi kegiatan ekonomi Kota Tangerang. Misi 5 : Mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman Peningkatan kualitas dan daya dukung lingkungan untuk mendukung dalam rangka melaksanakan salah satu pilar pembangunan berkelanjutan. Pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman serta seimbang, dapat mengintegrasikan faktor lingkungan hidup dengan ekonomi dan sosial budaya, serta dapat pula menciptakan kondisi kemajuan yang seimbang antara peningkatan aspek sosial dan ekonomi dengan kelestarian lingkungan hidup. Pemerintah Kota Tangerang dalam mewujudkan Kota sehat, bersih dan nyaman telah mengalokasikan anggaran disetiap OPD untuk enam tatanan menuju Kota yang sehat, bersih dan nyaman yaitu : pertama untuk sarana dan prasarana (urusan pekerjaan umum, LH dan kebersihan), kedua tatanan kehidupan masyarakat sehat dan mandiri (urusan perbaikan gizi, pencegahan dan penanggulangan penyakit menular dan lainnya), ketiga ketahanan pangan dan gizi (urusan ketahanan pangan, kesehatan, pertanian, perikanan dan perternakan), keempat kehidupan sosial yang sehat (urusan pelayanan dan rehabilitasi kesejahteraan sosial, pembinaan penyandang cacat dan trauma), kelima yaitu kawasan tertib lalulintas dan pelayanan transportasi yang berkaitan dengan perhubungan dan pekerjaan umum, keenam yakni industri dan perkantoran sehat. 2.4 TUJUAN Tujuan adalah pernyataan-pernyataan tentang hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai visi, melaksanakan misi dengan menjawab isu strategis daerah dan permasalahan pembangunan daerah. Rumusan tujuan dan sasaran merupakan dasar dalam menyusun pilihan-pilihan strategi pembangunan dan sarana untuk mengevaluasi pilihan tersebut, serta merupakan penjabaran atau implementasi dari pernyataan misi BAB II Perencanaan Kinerja 2-6
yang akan dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu 1 (satu) sampai dengan 5 (lima) tahun. Lima Misi Kota Tangerang 2014-2018 dijabarkan dalam 5 (lima) tujuan. Dengan dirumuskannya tujuan ini maka Pemerintah Kota Tangerang telah mengetahui apa yang harus dilaksanakan dan kondisi yang akan dicapai dalam kurun waktu satu sampai lima tahun ke depan. Keterkaitan antara misi dan tujuan dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 2.1. Keterkaitan Misi dan Tujuan Pembangunan Tahun 2014-2018 Misi 1 Mewujudkan tata pemerintahan yang baik,akuntabel, dan transparan didukung dengan struktur birokrasi yang berintegritas, kompeten, danprofessional 2 Meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing tinggi 3 Meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial demi terwujudnya masyarakat yang berdaya saing diera globalisasi 4 Meningkatkan pembangunan sarana perkotaan yang memadai dan berkualitas 5 Mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman Tujuan 1 Memantapkan dan mengembangkan sistem penyelenggaraan pemerintahan daerah, serta tata kelola pemerintahan yang baik, benar, bersih, transparan, inovatif, dan akuntabel (good governance) 2 Memantapkan dan mengembangkan e- government berbasis teknologi informasi yang modern sebagai pendukung pelaksanaan sistem pembangunan dan penyelenggaraan pemerintah daerah 3 Meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah, penyerapan tenaga kerja, dan daya beli masyarakat dengan memantapkan sinergisitas antar sektor perekonomian daerah 4 Memantapkan dan meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat melalui pelayanan dibidang pendidikan, kesehatan, dan fasilitas pelayanan umum lainnya beserta penyediaan sarana dan prasarana pendukung yang layak, memadai, dan berkualitas 5 6 Memantapkan dan meningkatan system perencanaan pembangunan serta pelayanan dan penyediaan sarana-prasarana perkotaan (pemerintahan, sosial-kemasyarakatan, dan kebudayaan) beserta sarana-prasarana pendukungnya yang layak, memadai, dan berkualitas Memantapkan dan mengembangkan system transportasi dan manajemen lalulintas perkotaan yang modern dan terpadu 7 Memantapkan dan mengembangkan pembangunan daerah yang berorientasi pada keseimbangan daya dukung lingkungan,sosial dan ekonomi BAB II Perencanaan Kinerja 2-7
Penjelasan dari 5 (lima) misi pembangunan daerah jangka menengah tersebut adalah sebagai berikut : Mewujudkan tata pemerintahan yang baik, akuntabel, dan transparan didukung dengan struktur birokrasi yang berintegritas, kompeten, dan profesional Pelaksanaan pembangunan akan berjalan dengan optimal apabila ditunjang oleh tata pemerintahan yang baik, akuntabel dan transparan.perwujudan tata pemerintahan yang baik,akuntabel dan transparan didukung dengan struktur birokrasi aparatur yang mengedepankan profesionalisme,kompetensi,kualitas,transparansi,objektifitas dan bebas dari intervensi politik dan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) berintegritas,kompeten dan profesional. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing tinggi Peningkatan pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing tinggi merupakan salah satu upaya untuk mempercepat kemajuan Kota Tangerang, yang dilakukan dengan memajukan kegiatan ekonomi yang menjadi sektor unggulan, seperti perdagangan dan jasa, industri, dan memperdayakan usaha mikro, kecil, menegah, dan koperasi (UMKMK) sehingga mampu bersaing, serta memperluas kesempatan kerja, mengurangi pengangguran, dan mengentaskan kemiskinan. Mengembangkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan social demi terwujudnya masyarakat yang berdaya saing diera globalisasi Pengembangan kualitas pendidikan dan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan masyarakat yang berdaya saing dari sisi kualitas kehidupan masyarakat Kota Tangerang, yang ditunjang dengan upaya peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat, demi terwujudnya masyarakat yang berdaya saing di era globalisasi. Hal ini dilakukan melalui peningkatan kualitas pelayanan sumberdaya manusia, kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pelayanan, serta faktor pendukung lainnya. Meningkatkan pembangunan sarana perkotaan yang memadai dan berkualitas Penyediaan dan peningkatan pembanguanan sarana perkotaan yang memadai dan berkualitas, mutlak diperlukan sekaligus dapat untuk menjamin pemenuhan kebutuhan pelayanan dasar masyarakat dalam rangka mendukung berlangsungnya kegiatan ekonomi dan investasi secara produktif. Sarana perkotaan merupakan faktor penunjang bagi kegiatan ekonomi Kota Tangerang. BAB II Perencanaan Kinerja 2-8
Mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman Peningkatan kualitas dan daya dukung lingkungan merupakan salah satu pilar pembangunan berkelanjutan. Pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman, serta seimbang dapat menciptakan kondisi kemajuan yang seimbangan antara peningkatan aspek sosial dan ekonomi dengan kelestarian lingkungan hidup. 2.5 SASARAN Sasaran adalah hasil yang diharapkan dari suatu tujuan yang diformulasikan secara terukur, spesifik, mudah dicapai, rasional, untuk dapat dilaksanakan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun ke depan. Selain itu sasaran juga merupakan penjabaran dari masing-masing misi dan tujuan yang telah ditetapkan, yang menggambarkan sesuatu yang akan dihasilkan oleh Pemerintah Kota Tangerang secara tahunan selama kurun waktu 2014-2018. Sasaran prioritas pembangunan dan indikator kinerja sebagai alat ukur keberhasilan sasaran prioritas pembangunan selama tahun 2014-2018 adalah sebagai berikut : Tabel 2.2. Keterkaitan Misi, Tujuan, Sasaran Pembangunan Pemerintahan Kota Tangerang Tahun 2014-2018 Misi Tujuan Sasaran 1 Mewujudkan tata pemerintahan yang baik, akuntabel, dan transparan didukung dengan struktur birokrasi yang berintegritas, kompeten, dan profesional 1.1 Memantapkan dan mengembangkan sistem penyelenggaraan pemerintahan daerah, serta tata kelola pemerintahan yang baik, benar, bersih, transparan, inovatif, dan akuntabel (good governance) 1.1.1 1.1.2 1.1.3 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem pendaftaran, penguasaan, pemilikan, penggunaan, pemanfaatan, dan penyelesaian konflik pertanahan Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem administrasi kependudukan dan pencatatan sipil daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen Kepemerintahan dan Keadministrasian Umum, serta Kesejahteraan Masyarakat, yang Responsif, Koordinatif, Integratif, Sederhana, dan Sinergis 1.1.4 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Keuangan dan Aset Daerah secara Transparan dan Akuntabel 1.1.5 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pengawasan Pembangunan Daerah 1.1.6 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Kepegawaian Daerah 1.1.7 Terwujudnya Aparatur Pemerintahan Daerah yang Cerdas, Bermoral, Inovatif, dan Profesional 1.1.8 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pemenuhan peralatan dan perlengkapan keadministrasian perkantoran BAB II Perencanaan Kinerja 2-9
Misi Tujuan Sasaran 1.1.9 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan kemitraan dan kerjasama yang proporsional dan profesional antara Eksekutif dengan Legislatif untuk menghasilkan Peraturan Daerah 2 Meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing tinggi 3 Mengembangkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial demi terwujudnya masyarakat yang berdaya saing di era globalisasi 1.2 Memantapkan dan mengembangkan e- government berbasis teknologi informasi yang modern sebagai pendukung pelaksanaan Sistem Pemb. dan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah 2.1 Meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah, penyerapan tenaga kerja, dan daya beli masyarakat dengan memantapkan sinergitas antar sektor perekonomian daerah 1.1.10 1.1.11 1.1.12 1.1.13 3.1 Memantapkan dan meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat melalui pelayanan di bidang pendidikan, kesehatan, dan fasilitas pelayanan umum lainnya beserta penyediaan sarana dan prasarana pendukungnya yang layak, memadai, dan berkualitas 1.2.1 1.2.2 2.1.1 2.1.2 2.1.3 2.1.4 2.1.5 2.1.6 2.1.7 2.1.8 3.1.1 3.1.2 3.1.3 3.1.4 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen Data/Informasi Pembangunan Daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan berbagai kajian, penelitian dan inovasi pemb. daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kearsipan Daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi Daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pelayanan publik dan pelayanan aparatur pemerintahan daerah secara profesional, cepat, tepat, dan akurat, dengan berbasis pada teknologi informasi yang efektif dan efisien Terwujudnya pemantapan & pengem-bangan sistem informasi dan aplikasi penyelenggaraan pemerintah daerah yang terintegrasi, terstandarisasi, serta memadai Terwujudnya pemantapan dan pengembangan keberdayaan sektor UMKM dan Koperasi sebagai pendukung kegiatan ekonomi daerah berbasis sumberdaya lokal Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Investasi Daerah yang transparan serta didukung oleh iklim investasi yang kondusif Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Ketahanan Pangan Daerah yang meliputi Ketersediaan, Distribusi, Konsumsi, Kewaspadaan, dan Kemasyarakatan Terwujudnya pemantapan dan pengembangan agribisnis serta budidaya pertanian dan peternakan yang berorientasi pada intensifikasi pertanian Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Kepariwisataan Daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan intensifikasi budidaya perikanan darat Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perdagangan Daerah dan peningkatan perlindungan konsumen Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perindustrian Daerah dan peningkatan kapasitas industri kecil dan menengah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pendidikan Daerah yang mengacu pada Sistem Pendidikan Nasional, dan berbasis kompetensi, serta berorientasi pada kebutuhan kerja Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Pelayanan dan Akses Kesehatan yang berkualitas dan terjangkau Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya pemberdayaan dan perlindungan anak yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan keluarga Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap norma keluarga kecil, bahagia, dan BAB II Perencanaan Kinerja 2-10
Misi Tujuan Sasaran 4 Meningkatkan pembangunan sarana perkotaan yang memadai dan berkualitas 4.1 Memantapkan dan meningkatkan sistem perencanaan pembangunan serta pelayanan dan penyediaan saranaprasarana perkotaan (pemerintahan, sosialkemasyarakatan, dan kebudayaan) beserta sarana-prasarana pendukungnya yang layak, memadai, dan berkualitas 3.1.5 3.1.6 3.1.7 3.1.8 3.1.9 3.1.10 3.1.11 3.1.12 sejahtera 4.2 Memantapkan dan mengembangkan Sistem Transportasi dan Manajemen lalulintas Perkotaan yang modern dan terpadu 4.1.1 4.1.2 4.1.3 4.1.4 4.1.5 4.1.6 4.1.7 4.2.1 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan perlindungan kesejahteraan sosial-masyarakat Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Ketenagakerjaan Daerah yang berbasis Keahlian serta berorientasi pada penciptaan dan perluasan lapangan pekerjaan Terwujudnya pemantapan dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan kebudayaan daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kepemudaan dan Keolahragaan Daerah yang mandiri dan berprestasi Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesatuan, kebangsaan, dan kepolitikan Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem penegakan peraturan daerah yang manusiawi dan berkeadilan Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Keberdayaan Masyarakat yang berbasis pada kebutuhan dasar dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran dan kegemaran membaca masyarakat Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem perencanaan-penganggaran, pengendalian, dan evaluasipelaporan yang partisipatif, koordinatif dan integratif, serta berbasis data/informasi dan berorientasi pada sektoral dan kewilayahan Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan sarana-prasarana kependidikan, kebudayaan, dan kepustakaan yang layak dan memadai Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan sarana-prasarana kesehatan yang layak dan memadai Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan penyediaan sarana-prasarana kebinamargaandaerah yang layak dan memadai Terwujudnya pemantapan dan pengembangan penyediaan perlengkapan sarana-prasarana transportasi dan kelalulintasan yang layak, memadai, dan terpadu Terwujudnya pemantapan dan pengembangan ketersediaan sarana dan prasarana Perekonomian dan Sosial- Kemasyarakatan yang layak dan memadai Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana perkantoran pemerintahan daerah yang layak dan memadai Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Transportasi serta Manajemen dan Rekayasa Lalulintas yang modern dan terpadu yang didukung oleh teknologi informasi yang canggih dan memadai BAB II Perencanaan Kinerja 2-11
Misi Tujuan Sasaran 5 Mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman 5.1 Memantapkan dan mengembangkan Pembangunan Daerah yang berorientasi pada keseimbangan daya dukung lingkungan, sosial, dan ekonomi 5.1.1 5.1.2 5.1.3 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya mitigasi, pencegahan, pengendalian, dan penanganan bencana serta upaya peminimalan dampak bencana Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kualitas lingkungan perumahan dan permukiman penduduk yang bersih, sehat, aman, dan nyaman Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Penataan dan Pengelolaan Ruang Wilayah Perkotaan 5.1.4 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pembangunan Ekologis (sosial, lingkungan, ekonomi) yang berorientasi pada peningkatan kualitas dan daya dukung lingkungan perkotaan 2.6 PRIORITAS PEMBANGUNAN TAHUN 2015 Dalam melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan, maka ada beberapa prioritas pembangunan untuk dilaksanakan pada Tahun 2015 yang menyangkut aspek ekonomi, aspek sosial budaya, aspek pemerintahan dan aspek penataan ruang, infrastruktur dan lingkungan hidup serta dalam upaya menjawab isu-isu srategis yang diprediksikan akan berkembang dan mempengaruhi kinerja pembangunan Kota Tangerang. Prioritas pembangunan tersebut diantaranya adalah : 1. Tata Kelola dan Tata Kerja Birokrasi Pemerintahan Daerah yang Baik dan Bersih : Peningkatan Kualitas Tata Kelola Pemerintahan. 2. Pelayanan Pendidikan yang Lengkap, Berkualitas, dan Terjangkau : Peningkatan Kualitas Pendidikan; Penanggulangan Kemiskinan; Perluasan Kesempatan Kerja. 3. Pelayanan Kesehatan yang Lengkap, Berkualitas, dan Terjangkau : Peningkatan Kualitas Kesehatan; Penanggulangan Kemiskinan. 4. Penanggulangan Kemiskinan, Pengangguran, dan Pelayanan Kesejahteraan Sosial : Penanggulangan Kemiskinan; Perluasan Kesempatan Kerja; Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Ekonomi Lokal. 5. Ketahanan Pangan Daerah : Peningkatan Kualitas Kesehatan; BAB II Perencanaan Kinerja 2-12
Penanggulangan Kemiskinan. 6. Pelayanan Sarana-Prasarana (Fasilitas dan Utilitas Umum) yang Layak dan Memadai : Penataan Ruang Kota yang Berkelanjutan; Pengembangan Sistem Transportasi; Penanganan Banjir. 7. Kondisivitas Iklim Investasi dan Iklim Usaha Daerah : Perluasan Kesempatan Kerja; Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Ekonomi Lokal. 8. Pengelolaan Energi : Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Ekonomi Lokal; Penanganan Banjir. 9. Daya Dukung Lingkungan dan Keseimbangan Ekologis (Sosial-Ekonomi- Lingkungan) : Penataan Ruang Kota yang Berkelanjutan; Penanganan Banjir. 10. Ketentraman dan Ketertiban serta Perlindungan Masyarakat : Penataan Ruang Kota yang Berkelanjutan; 11. Pengetahuan dan Kebudayaan, Ekonomi Kreatif, Inovasi Teknologi, serta Daya Saing Masyarakat : Penanggulangan Kemiskinan; Perluasan Kesempatan Kerja; Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Ekonomi Lokal. 2.7 TARGET INDIKATOR MAKRO TAHUN 2015 Seluruh kebijakan pembangunan yang tertuang dalam sasaran misi dan prioritas pembangunan Tahun 2015 diarahkan untuk mencapai sasaran indikator makro Kota Tangerang Tahun 2015 sebagai berikut : BAB II Perencanaan Kinerja 2-13
Tabel 2.3. Target Indikator Makro Indikator Makro Satuan Proyeksi 2015 PDRB (Harga Berlaku) Rp. Miliar 91,311,709 PDRB (Harga Konstan) Rp. Miliar 40,757.04 LPE % 6,49 Tingkat Inflasi % 6.33 Jumlah Penduduk Miskin % 5,18 Tingkat Pengangguran % 7,82 Pendapatan Perkapita Juta 17.29 IPM Poin 76.56 Indeks Kepuasan Masyarakat Kategori B Sumber : RKPD 2.8 RENCANA KERJA DAN PERJANJIAN KINERJA Perencanaan Kinerja merupakan proses penyusunan rencana kinerja sebagai penjabaran dari sasaran dan program yang telah ditetapkan dalam Rencana Strategis, yang akan dilaksanakan oleh instansi pemerintah melalui berbagai kegiatan tahunan. Penyusunan Rencana Kinerja dilaksanakan seiring dengan agenda penyusunan dari kebijakan anggaran serta merupakan komitmen bagi instansi untuk mencapainya dalam tahun tertentu. Didalam Rencana Kinerja ditetapkan Rencana Capaian Kinerja Tahunan untuk seluruh indikator kinerja yang ada pada tingkat sasaran dan kegiatan melalui Perjanjian Kinerja Pemerintah. Dokumen Rencana Kinerja memuat informasi tentang sasaran yang ingin dicapai dalam tahun yang bersangkutan, Indikator Kinerja Sasaran, dan Rencana Capaiannya; Program, Kegiatan, serta Kelompok Indikator Kinerja dan Rencana Capaiannya. Indikator Kinerja adalah ukuran kuantitatif dan kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian sasaran yang telah ditetapkan.penetapan Indikator Kinerja harus didasarkan pada perkiraan yang realistis dengan memperhatikan tujuan dan sasaran yang ditetapkan serta dat apendukung yang harus di organisasi. Berikut disampaikan Perjanjian Kinerja yang akan dicapai pada Tahun 2015 dengan Jumlah Belanja Langsung setelah perubahan APBD pada Tahun 2015 sebesar Rp. 2.906.336.311.835,45. BAB II Perencanaan Kinerja 2-14
Tabel 2.4. Perjanjian Kinerja Pemerintah MISI 1 : Mewujudkan tata pemerintahan yang baik, akuntabel, dan transparan didukung dengan struktur birokrasi yang berintegritas, kompeten, dan profesional Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Sasaran 1 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem pendaftaran, penguasaan, pemilikan, penggunaan, pemanfaatan, dan penyelesaian konflik pertanahan Sasaran 2 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem administrasi kependudukan dan pencatatan sipil daerah Sasaran 3 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen Kepemerintahan dan Keadministrasian Umum, serta Kesejahteraan Masyarakat, yang Responsif, Koordinatif, Integratif, Sederhana, dan Sinergis Sasaran 4 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Keuangan dan Aset Daerah secara Transparan dan Akuntabel Sasaran 5 : 1 Tingkat pelaksanaan fasilitasi pengadaan tanah % per tahun 100,00 2 3 Tingkat pelaksanaan fasilitasi pengaduan sengketa tanah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pengawasan Pembangunan Daerah Tingkat ketersediaan sistem informasi tanah milik pemda % per tahun 100,00 % per tahun 100,00 4 Persentase Penduduk ber-ktp (%) 99,65 5 Persentase Keluarga mempunyai Kartu Keluarga (%) 85,89 6 Persentase Bayi Ber-Akta Kelahiran (%) 52,10 7 8 9 10 11 Persentase Penduduk meninggal dunia Ber-Akta Kematian Persentase Pasangan Suami-Isteri Ber-Akta Nikah Tingkat penataan peraturan daerah dan peraturan kepala daerah Tingkat kelengkapan kelembagaan dan penataan keorganisasian SKPD Tingkat koordinasi dan kerjasama dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah lainnya (%) 85,89 (%) 36,49 (%) 40,00 (%) 59,00 (%) 36,54 12 Tingkat kesesuaian formasi jabatan SKPD (%) per tahun 100,00 13 14 15 Tingkat ketersediaan pelaporan kinerja dan keuangan SKPD Tingkat ketersediaan dokumen dan sistem pengelolaan keuangan daerah Tingkat ketersediaan dokumen dan sistem pengelolaan aset (%) 40,00 (%) 40,93 (%) 36,68 16 Tingkat kenaikan pendapatan daerah (%) 6,63 17 Tingkat ketersediaan laporan hasil pemeriksaan (%) 38,04 18 19 Tingkat tindak lanjut laporan hasil ekspose temuan hasil pengawasan Tingkat tenaga pemeriksa yang menguasai teknik/teori pengawasan dan penilaian akuntabilitas kinerja (%) 40,00 (%) 40,00 BAB II Perencanaan Kinerja 2-15
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Sasaran 6 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Kepegawaian Daerah Sasaran 7 : Terwujudnya Aparatur Pemerintahan Daerah yang Cerdas, Bermoral, Inovatif, dan Profesional Sasaran 8 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pemenuhan peralatan dan perlengkapan keadministrasian perkantoran Sasaran 9 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan kemitraan dan kerjasama yang proporsional dan profesional antara Eksekutif dengan Legislatif untuk menghasilkan Peraturan Daerah Sasaran 10 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen Data/ Informasi Pembangunan Daerah Sasaran 11 : 20 21 22 Tingkat ketersediaan kebijakan tentang sistem dan prosedur pengawasan Tingkat ketersediaan pelayanan administrasi kepegawaian Tingkat ketersediaan pelayanan Pemensiunan Pegawai (%) 40,00 (%) per tahun 100,00 (%) 66,67 23 Tingkat kedisiplinan aparatur pemerintah daerah (%) per tahun 100,00 24 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan saranaprasarana pendukung kedisiplinan aparatur pemerintah daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan berbagai kajian dan penelitian statistik pembangunan daerah (%) per tahun 100,00 25 Tingkat Penurunan Indisipliner Pegawai (%) 0,34 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Tingkat Pelayanan Diklat Struktural Kepemimpinan Persentase pejabat fungsional pemerintah daerah yang telah mengikuti diklat fungsional Tingkat Kapasitas Sumberdaya Aparatur pemerintah daerah Tingkat Pelayanan Penyelenggaraan Diklat Teknis dan Fungsional beserta sarana pendukungnya Tingkat ketersediaan pelayanan barang pendukung administrasi perkantoran Tingkat ketersediaan pelayanan jasa pendukung administrasi perkantoran Tingkat Fasilitasi Peningkatan Kapasitas Lembaga DPRD Tingkat Fasilitasi Pembahasan dan Persetujuan Raperda Rata-rata tingkat ketersediaan data/informasi statistik hasil pembangunan daerah Rata-rata tingkat ketersediaan kajian, penelitian, dan pengembangan strategis (%) 34,36 (%) 25,26 (%) per tahun 100,00 (%) 26,33 (%) per tahun 100,00 (%) per tahun 100,00 (%) per tahun 100,00 (%) per tahun 100,00 (%) 36,67 (%) 36,89 BAB II Perencanaan Kinerja 2-16
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Sasaran 12 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kearsipan Daerah Sasaran 13 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi Daerah Sasaran 14 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pelayanan publik dan pelayanan aparatur pemerintahan daerah secara profesional, cepat, tepat, dan akurat, dengan berbasis pada teknologi informasi yang efektif dan efisien Sasaran 15 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem informasi dan aplikasi penyelenggaraan pemerintah daerah yang terintegrasi, terstandarisasi, serta memadai (berkemampuan/ berkapasitas tinggi, cepat, mudah diakses, praktis, dan aman) 36 37 Tingkat ketersediaan sistem dan pedoman penyelenggaraan kearsipan yang handal, dinamis, komprehensif dan terpadu Tingkat ketersediaan arsip statis, bernilaiguna, dan arsip elektronik (%) 40,00 (%) 25,00 38 Tingkat pengelolaan arsip baku pada SKPD (%) 40,00 39 40 41 42 43 Tingkat pemeliharaan arsip dan sarana prasarana pendukungnya Persentase terpenuhinya kebutuhan informasi kearsipan Persentase pelaksanaan kegiatan peningkatan SDM Kearsipan yang berkualitas Tingkat ketersediaan sistem dan jaringan komunikasi dan informasi SKPD Tingkat Pengkajian dan Penelitian Bidang Komunikasi dan Informasi (%) 25,00 (%) 25,00 (%) 38,46 (%) per tahun 100,00 (%) 42,70 44 Tingkat Kerjasama Informasi dan Media Massa (%) 44,12 45 46 47 Tingkat Pelayanan Publik yang menggunakan media informasi berbasis Informasi Teknologi Tingkat Integrasi Sistem Informasi dan Aplikasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Tingkat Standarisasi Sistem Informasi dan Aplikasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (%) per tahun 100,00 (%) 45,52 (%) per tahun 100,00 MISI 2 : Meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing tinggi Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Sasaran 16 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan keberdayaan sektor UMKM dan Koperasi sebagai 48 Persentase UMKM Aktif (%) per tahun 100,00 49 Persentase Koperasi Aktif (%) 61,79 50 Tingkat Pertumuhan UMKM Aktif (%) 0,99 BAB II Perencanaan Kinerja 2-17
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target pendukung kegiatan ekonomi daerah berbasis sumberdaya lokal Sasaran 17 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Investasi Daerah yang transparan serta didukung oleh iklim investasi yang kondusif Sasaran 18 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Ketahanan Pangan Daerah yang meliputi Ketersediaan, Distribusi, Konsumsi, Kewaspadaan, dan Kemasyarakatan Sasaran 19 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan agribisnis serta budidaya pertanian dan peternakan yang berorientasi pada intensifikasi pertanian Sasaran 20 : 51 Tingkat Pertumbuhan Koperasi Aktif (%) 11,11 52 Tingkat pertumbuhan investasi daerah (%) 10,00 53 54 55 56 57 58 59 Tingkat pelaksanaan fasilitasi kerjasama kemitraan iinvestasi Tingkat penyelenggaraan promosi peluang investasi daerah Tingkat ketersediaan Sistem Informasi Pelayanan Investasi Daerah Tingkat Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Persentase Bangunan yang mempunyai Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Tingkat pelayanan Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) Tingkat pelayanan waktu pengurusan Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) kali/tahun 1,00 kali/tahun 1,00 (%) 42,86 (%) 45,00 (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 60 Tingkat Ketersediaan Energi Per Kapita (%) 90,00 61 Tingkat Ketersediaan Protein Per Kapita (%) 90,00 62 Tingkat Penguatan Cadangan Pangan Daerah (%) 60,00 63 Tingkat Ketersediaan Informasi Pasokan, Harga dan Akses Pangan di Daerah 64 Tingkat Stabilitasi Harga Pangan 65 Tingkat Stabilitasi Pasokan Pangan 66 67 68 Capaian Peningkatan Pangan Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Tingkat Pengawasan dan Pembinaan Keamanan Pangan Daerah Tingkat Penanganan Daerah Rawan Pangan Daerah (%) 60,00 (%) per tahun (%) per tahun 100,00 100,00 (%) 30,00 (%) 40,00 (%) 40,00 69 Tingkat Produktivitas Pertanian (%) 2,08 70 Tingkat produksivitas peternakan (%) per tahun 20,00 71 Tingkat pemasaran hasil produksi pertanian (%) 5,12 72 Tingkat pemasaran hasil produksi ternak sapi potong di wilayah Kota Tangerang (%) 72,86 73 Angka prevalensi penyakit zoonosis (%) 100,00 74 Tingkat pemasaran obyek wisata daerah (%) 50,00 75 Tingkat kenaikan kunjungan wisatawan ke obyek wisata daerah (%) 40,00 76 Tingkat perkembangan destinasi pariwisata (%) 40,00 BAB II Perencanaan Kinerja 2-18
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Kepariwisataan Daerah Sasaran 21 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan intensifikasi budidaya perikanan darat Sasaran 22 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perdagangan Daerah dan peningkatan perlindungan konsumen Sasaran 23 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perindustrian Daerah dan peningkatan kapasitas industri kecil dan menengah 77 daerah Tingkat perkembangan Jenis kelas dan jumlah Hotel (%) 95,23 78 Persentase kenaikan produksi ikan (%) 94,55 79 Cakupan bina kelompok peternak ikan (%) 33,33 80 Tingkat pengolahan dan pemasaran produksi perikanan (%) 72,45 81 Tingkat pembinaan Pedagang Kaki Lima (PKL) (%) 2,12 82 Tingkat perlindungan konsumen (%) 28,47 83 Tingkat pembinaan perdagangan dalam negeri (%) 20,00 84 85 86 Persentase industri yang memiliki Gugus Kendali Mutu (Pengukuran Standarisasi, Pengujian, dan Kualitas) Persentase IKM memiliki Izin Usaha Industri Kecil Melalui P-IRT dan Halal Persentase industri yang telah memenuhi standar kelayakan produksi (%) 7,03 (%) 3,08 (%) 11,08 87 Tingkat Pertumbuhan Industri di Daerah (%) 1,50 MISI 3 : Mengembangkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosialdemi terwujudnya masyarakat yang berdaya saing di era globalisasi Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Sasaran 24 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pendidikan Daerah yang mengacu pada Sistem Pendidikan Nasional, dan berbasis kompetensi, serta berorientasi pada kebutuhan kerja 88 Angka Putus Sekolah SD/MI 89 Angka Putus Sekolah SMP/MTs 90 Angka Putus Sekolah SMA/MA/SMK 91 Angka Melek Huruf Penduduk Usia > 15 Tahun 92 Angka Melanjutkan SD/MI ke SMP/MTs 93 Angka Melanjutkan SMP/MTs ke SMA/SMK/MA 94 Angka Kelulusan Siswa SD/MI 95 Angka Kelulusan Siswa SMP/MTs (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun 0,02 0,07 0,11 98,71 98,72 97,93 100,00 100,00 96 Angka Kelulusan Siswa SMA/MA/SMK (%) 99,99 BAB II Perencanaan Kinerja 2-19
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Sasaran 25: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Pelayanan dan Akses Kesehatan yang berkualitas dan terjangkau Sasaran 26 : per tahun 97 Cakupan Kelurahan Siaga Aktif (%) 85,58 98 99 100 101 Persentase rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat Kota Tangerang Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat Kota Tangerang Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya pemberdayaan dan perlindungan anak yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan keluarga 102 Cakupan pelayanan JKN (BPJS) 103 104 105 Presentase ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan di Puskesmas, Pustu, Pusling, dan Poliklinik Presentase Sarana Obat dan bahan-bahan berbahaya yang memenuhi syarat Presentase sarana kesehatan yang memenuhi syarat 106 Rasio dokter per 1.000 penduduk 107 Rasio tenaga medis per 1.000 penduduk 108 109 110 111 112 113 Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan penanganan pengaduan oleh petugas terlatih di dalam unit pelayanan terpadu Cakupan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan yang mendapatkan pelayanan kesehatan oleh Tenaga Kesehatan Terlatih Di Puskesmas Mampu Tatalaksana KtP/A dan PPT/PKT di Rumah Sakit Cakupan layanan rehabilitasi sosial yang diberikan oleh petugas rehabilitasi sosial terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu Cakupan layanan bimbingan rohani yang diberikan oleh petugas bimbingan rohani terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu Cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan pengadilan atas kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak Cakupan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Yang Mendapatkan Layanan (%) 30,00 (%) 96,34 (%) 50,00 (%) 0,84 (%) per tahun (%) per tahun 100,00 100,00 (%) 91,30 (%) 65,56 dokter/ 1.000 penduduk tenaga medis/ 1.000 penduduk 0,05 0,05 (%) 20,54 (%) per tahun 100,00 (%) 21,05 (%) 21,33 (%) 20,00 (%) 100,00 BAB II Perencanaan Kinerja 2-20
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Sasaran 27 : Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap norma keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 Bantuan Hukum Cakupan layanan pemulangan bagi perempuan dan anak korban kekerasan Cakupan layanan reintegrasi sosial bagi perempuan dan anak korban kekerasan Persentase focal point SKPD yang memiliki aktifitas di dalam perwujudan kesetaran dan keadilan gender Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah daerah Persentase partisipasi perempuan di lembaga swasta Cakupan Pasangan Usia Subur yang ingin ber- KB tidak terpenuhi (Unmet Need) Sasaran 28 : Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan perlindungan kesejahteraan sosialmasyarakat 125 126 127 128 129 Cakupan Pasangan Usia Subur (PUS) yang usia istrinya < 20 tahun Cakupan Pasangan Usia Subur menjadi Peserta KB aktif Cakupan Anggota Bina Keluarga Balita (BKB) yang ber-kb Cakupan PUS Peserta KB Anggota Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) yang ber-kb Rasio Petugas Lapangan Keluarga Berencana/ Penyuluh Keluarga Berencana (PLKB/PKB) di setiap kelurahan Rasio Pembantu Pembina Keluarga Berencana (PPKBD) di setiap Kelurahan Cakupan penyediaan alat dan obat Kontrasepsi untuk memenuhi permintaan masyarakat di daerah Cakupan penyediaan informasi data mikro keluarga di setiap Kelurahan Persentase kecamatan memiliki fasilitas pelayanan konseling remaja Cakupan pelayanan dan penanggulangan Narkoba, PMS termasuk HIV/AIDS di setiap kelurahan 130 Rasio pelayanan Posyandu Aktif di setiap RW 131 Persentase (%) PMKS skala kota yang menerima program pemberdayaan sosial melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) atau kelompok sosial ekonomi sejenis lainnya (%) per tahun 100,00 (%) 20,54 (%) 52,38 (%) 59,83 (%) 15,74 (%) 1,05 (%) 73,20 (%) 15,07 (%) 49,04 (%) 0,37 petugas/ kelurahan petugas/ kelurahan BAB II Perencanaan Kinerja 2-21 0,10 1,00 (%) 30,00 (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun posyandu/ RW 100,00 100,00 100,00 1,00 (%) 37,50 132 Jumlah KUBE yang mendapat Bantuan (%) 25,00 133 Persentase Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) yang (%) 49,30
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial Sasaran 29 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Ketenagakerjaan Daerah yang berbasis Keahlian serta berorientasi pada penciptaan dan perluasan lapangan pekerjaan Sasaran 30 : Terwujudnya pemantapan dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan kebudayaan daerah Sasaran 31 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kepemudaan dan Keolahragaan Daerah yang mandiri dan berprestasi Sasaran 32 : Terwujudnya dan kesadaran terhadap kebangsaan, kepolitikan 134 135 136 137 138 139 140 141 Persentase (%) penyandang cacat, fisik, mental, serta lanjut usia tidak potensial yang telah menerima jaminan sosial Tingkat keikutsertaan eks penyandang penyakit sosial yang mengikuti pendidikan dan pelatihan Cakupan petugas rehabilitasi sosial yang terlatih Besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis kompetensi pemantapan peningkatan masyarakat kesatuan, dan Tingkat besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis kewirausahaan Besaran pekerja/buruh yang menjadi peserta program Jamsostek Aktif Tingkat besaran Kasus Yang Diselesaikan Dengan Perjanjian Bersama (PB) Besaran pencari kerja terdaftar yang ditempatkan (%) 11,48 (%) 40,00 (%) 22,22 (%) 50,00 (%) 100,00 (%) 60,19 (%) 45,83 (%) 64,00 142 Besaran Pemeriksaan Perusahaan (%) 24,26 143 Besaran Pengujian Peralatan di Perusahaan (%) 70,63 144 145 146 Cakupan pelestarian benda, situs dan kawasan cagar budaya daerah Cakupan tempat menggelar seni, memamerkan dan memasarkan karya seni, serta mengembangkan industri seni Cakupan Penyelenggaraan Festival Seni dan budaya (%) 68,75 (%) 80,00 (%) 40,00 147 Cakupan Kajian Seni (%) 40,00 148 Persentase organisasi pemuda yang memiliki sertifikat standar mutu organisasi kepemudaan (%) 33,33 149 Cakupan fasilitasi kegiatan kepemudaan (%) 33,33 150 Persentase organisasi olahraga yang memiliki sertifikat standar mutu oraganisasi keolahragaan 151 Tingkat fasilitasi kegiatan keolahragaan daerah 152 153 154 Cakupan peningkatan kesadaran wawasan kebangsaan pada Ormas, LSM, dan OKP Rasio petugas dalam satuan perlindungan masyarakat (Linmas) pada setiap RT Cakupan penyelenggaraan kemitraan dan kerjasama pemerintah daerah dengan ormas (%) 25,00 (%) per tahun (%) per tahun 100,00 100,00 petugas/ RT 0,18 kegiatan/ kecamatan 0,46 BAB II Perencanaan Kinerja 2-22
155 dan LSM di setiap wilayah kecamatan Tingkat penyelenggaraan sosialisasi kebijakan pemerintah di bidang Politik (%) 40,00 Sasaran 33 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem penegakan peraturan daerah yang manusiawi dan berkeadilan Sasaran 34 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Keberdayaan Masyarakat yang berbasis pada kebutuhan dasar dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Sasaran 35 : Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran dan kegemaran membaca masyarakat 156 157 158 159 160 161 162 163 Cakupan patroli siaga ketertiban umum dan ketentraman masyarakat Persentase pengawasan lokasi rawan pelanggar peraturan daerah Tingkat penyelesaian pelanggaran ketertiban umum Tingkat pemberdayaan kelompok binaan lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) Persentase peningkatan lembaga (usaha ekonomi, badan keswadayaan masyarakat, postantek) setiap kelurahan Tingkat kenaikan kunjungan masyarakat ke perpustakaan daerah Tingkat kenaikan anggota perpustakaan, taman bacaan, klub buku, dll. Tingkat koleksi dan jenis buku yang tersedia di perpustakaan daerah patroli/hari 2,77 (%) per tahun (%) per tahun 100,00 100,00 (%) 38,46 (%) 51,02 (%) 6,12 (%) 29,33 (%) 73,48 164 Tingkat keberadaan Perpustakaan Digital (%) 61,67 165 Tingkat kelengkapan sistem layanan perpustakaan daerah (%) 11,42 MISI 4 : Meningkatkan pembangunan sarana perkotaan yang memadai dan berkualitas Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Sasaran 36 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem perencanaanpenganggaran, pengendalian, dan evaluasi-pelaporan yang partisipatif, koordinatif dan integratif, serta berbasis data/informasi dan berorientasi pada sektoral dan kewilayahan 166 167 168 169 Rata-rata tingkat koordinasi/kerjasama perencanaan pembangunan daerah dalam semua aspek pembangunan Tingkat ketersediaan dan implementasi peraturan/regulasi Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah (SPPD) serta berbagai aturan pendukungnya Tingkat Ketersediaan, Pengelolaan, Pengolahan, dan Publikasi Data/Informasi Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat ketersediaan dokumen utama perencanaan-penganggaran dan evaluasipelaporan pelaksanaan pembangunan daerah yang didukung kajian teknokratis serta (%) 100,00 (%) 71,43 (%) 100,00 (%) 40,39 BAB II Perencanaan Kinerja 2-23
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Sasaran 37 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan saranaprasarana kependidikan, kebudayaan, dan kepustakaan yang layak dan memadai Sasaran 38 : 170 171 172 173 174 dipublikasikan Tingkat kapasitas dan kompetensi Dasar, Teknis, dan Operasional Aparatur Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat peranserta/partisipasi kelompok masyarakat sebagai pemangku kepentingan pembangunan daerah Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana prasarana pendidikan PAUD yang layak dan memadai Tingkat ketersedian sarana prasarana kebutuhan Pendidikan Dasar yang layak dan memadai Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan Tingkat ketersedian sarana prasarana kebutuhan Pendidikan Menengah yang layak dan memadai 175 Partisipasi Anak Bersekolah (PAB) SD/MI 176 Partisipasi anak Bersekolah (PAB) SMP/MTs 177 Partisipasi Anak Bersekolah (PAB) SMA/MA 178 Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A 179 180 181 182 183 184 185 186 Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B Angka Partisipasi Murni (APM) SMA/SMK/MA/Paket C Tingkat ketersediaan dan kelengkapan Sarana dan Prasarana untuk guru, kepala sekolah, dan staf kependidikan lainnya dalam satuan pendidikan dasar Tingkat ketersediaan dan kelengkapan Sarana dan Prasarana untuk guru, kepala sekolah, dan staf kependidikan lainnya dalam satuan pendidikan menengah Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana dan prasarana kesenian dan kebudayaan daerah Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana dan prasarana pepustakaan daerah Cakupan perpustakaan dan taman bacaan di setiap kecamatan Persentase puskesmas, puskesmas pembantu dan jaringannya dengan kondisi sarana dan prasarana memadai (%) 50,00 (%) per tahun 100,00 (%) 40,00 (%) 40,00 (%) 40,00 (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun 93,81 96,90 76,99 88,93 65,13 78,48 (%) 40,00 (%) 40,00 (%) 68,75 (%) 39,56 buah/ kecamatan (%) per tahun 24,00 100,00 187 Cakupan Ketersediaan Pos Pelayanan posyandu/ 1,06 BAB II Perencanaan Kinerja 2-24
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target kebutuhan dan kelengkapan saranaprasarana kesehatan yang layak dan memadai Sasaran 39 : Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan penyediaan saranaprasarana kebinamargaan, dan keciptakaryaan daerah yang layak dan memadai Sasaran 40 : 188 189 190 191 192 193 194 Terpadu (Posyandu) di setiap RW Cakupan Ketersediaan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu di setiap Kecamatan Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per 1.000 penduduk Tingkat ketersediaan sarana prasarana kesehatan di Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-Paru/Rumah Sakit Mata yang layak dan memadai Tingkat pemeliharaan sarana prasarana kesehatan di Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-Paru/Rumah Sakit Mata yang layak dan memadai Terwujudnya pemantapan dan pengembangan penyediaan perlengkapan sarana-prasarana transportasi dan kelalulintasan yang layak, memadai, dan terpadu Persentase kondisi jalan kota yang baik dan sedang Persentase keterhubungan pusat-pusat kegiatan dan pusat-pusat produksi di wilayah kota Persentase cakupan pelayanan sistem drainase perkotaan RW puskesmas/ kecamatan buah/1.000 penduduk 1,92 0,04 (%) 41,18 (%) 35,71 (%) 98,01 (%) 93,96 (%) 20,00 195 Tingkat pengurangan luas genangan (%) 43,28 196 197 198 199 200 201 202 203 204 Tingkat pembangunan turap di wilayah aliran sungai yang rawan longsor lingkup kewenangan kota Tingkat ketersediaan angkutan umum yang melayani wilayah kota yang telah tersedia jaringan jalan Tingkat ketersediaan angkutan umum yang melayani jaringan trayek penghubung antar wilayah Tingkat ketersediaan koridor angkutan umum massal Tingkat ketersediaan dokumen perencanaan angkutan Tingkat Ketersediaan Prasarana Angkutan yang terpelihara Tingkat ketersediaan sarana dan prasarana perhubungan Tingkat ketersediaan fasilitas perleng-kapan jalan (rambu, marka, dan guardrill) pada jalan di wilayah kota Tingkat ketersediaan fasilitas Penerangan Jalan Umum (PJU) pada berbagai jenis jalan di wilayah kota (%) per tahun 100,00 (%) 40,00 (%) 25,00 (%) 20,00 (%) 47,62 (%) 17,31 (%) 41,79 (%) 40,00 (%) 63,68 BAB II Perencanaan Kinerja 2-25
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Sasaran 41 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan ketersediaan sarana dan prasarana Perekonomian dan Sosial- Kemasyarakatan yang layak dan memadai Sasaran 42 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana perkantoran pemerintahan daerah yang layak dan memadai Sasaran 43 : 205 206 207 208 209 210 211 Tingkat ketersediaan unit pengujian kendaraan bermotor Tingkat ketersediaan standar keselarnatan bagi angkutan urnurn yang rnelayani trayek di dalarn Kota Persentase panti sosial skala kota yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial Persentase wahana kesejahteraan sosial berbasis masyarakat (WKBSM) yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Transportasi serta Manajemen dan Rekayasa Lalulintas yang modern dan terpadu yang didukung oleh teknologi informasi yang canggih dan memadai Tingkat Pengembangan Balai Latihan Kerja Daerah Cakupan ketersediaan pasar tradisional daerah di setiap kecamatan Tingkat pembinaan pasar/toko modern dan pasar tradisional daerah 212 Cakupan gedung olahraga di setiap kecamatan 213 214 215 216 217 218 219 Tingkat Ketersediaan Panti Asuhan/Panti Jompo Cakupan ketersediaan Poskamling di setiap RW Tingkat ketersediaan sarana dan prasarana aparatur yang memadai Tingkat ketersediaan pelayanan jasa rehabilitasi sarana dan prasarana aparatur Tingkat ketersediaan pelayanan pengendalian kinerja simpang dan ruas jalan dengan Sistem ATCS (Area Traffic Control System) Tingkat ketersediaan prasarana penunjang pengendalian simpang dan ruas jalan dalam kondisi baik Tingkat ketersediaan perencanaan sarana dan prasarana penunjang pengendalian simpang dan ruas jalan buah/ 4.000 21,50 (%) 32,51 (%) per tahun 100,00 (%) 51,83 (%) per tahun pasar/ kecamatan 100,00 2,38 (%) 24,00 gedung/ kecamatan (%) per tahun poskamling/ RW (%) per tahun (%) per tahun 1,46 100,00 1,23 100,00 100,00 (%) 40,00 (%) 50,00 (%) 50,00 BAB II Perencanaan Kinerja 2-26
MISI 5 : Mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Sasaran 44 : Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya mitigasi, pencegahan, pengendalian, dan penanganan bencana serta upaya peminimalan dampak bencana Sasaran 45 : Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kualitas lingkungan perumahan dan permukiman penduduk yang bersih, sehat, aman, dan nyaman Sasaran 46 : 220 Cakupan pelayanan bencana kebakaran (%) 80,00 221 Persentase Aparatur Pemadam Kebakaran Yang Memenuhi Standar Kualifikasi (%) 85,00 222 Tingkat penanganan wilayah/lokasi banjir (%) 38,71 223 Tingkat koordinasi penanggulangan bencana 224 Tingkat penanganan korban bencana Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Penataan dan 225 226 Cakupan Kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi < 24 jam Cakupan kelurahan Universal Child Immunization (UCI) BAB II Perencanaan Kinerja 2-27 (%) per tahun (%) per tahun 100,00 100,00 (%) 100,00 (%) 100,00 227 Prevalensi balita gizi kurang (BB/U) (%) 9,57 228 Presentase balita gizi buruk (BB/TB) (%) 0,11 229 230 231 232 233 234 Persentase tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan Presentase Sarana Industri Rumah Tangga Pangan yang Memenuhi Syarat kesehatan Persentase penanganan permukiman kumuh perkotaan Cakupan ketersediaan rumah layak huni dan terjangkau bagi penduduk Tingkat waktu tanggap (response time rate) daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) Tingkat Ketersediaan mobil pemadam kebakaran di Atas 3.000-5.000 liter pada Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) 235 Tingkat pemanfaatan Poskamling di setiap RT 236 237 238 239 240 241 Rasio Tempat Pemakaman Umum (TPU) per satuan penduduk Tingkat Tersedianya air baku untuk memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari-hari Persentase penduduk yang mendapatkan akses air minum yang aman Persentase penduduk yang terlayani sistem air limbah yang memadai Tingkat penyelenggaraan pengawasan terhadap bangunan gedung (pemerintah dan umum) Tingkat ketersediaan data mengenai pemanfaatan bangunan gedung (%) 72,00 (%) 88,89 (%) 40,00 (%) 17,40 (%) 75,00 (%) 92,00 (%) per tahun m2/ 100 penduduk 100,00 24,05 (%) 60,00 (%) 64,60 (%) 2,86 (%) 25,00 (%) 40,00
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Pengelolaan Ruang Wilayah Perkotaan 242 Sasaran 47 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pembangunan Ekologis (sosial, lingkungan, ekonomi) yang berorientasi pada peningkatan kualitas dan daya dukung lingkungan perkotaan 243 244 245 246 247 248 249 Tingkat ketersediaan perangkat kebijakan perencanaan tata ruang kota Persentase Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik/Perkotaan Tingkat sosialisasi regulasi tentang Rencana Tata Ruang Kota Tingkat ketersediaan perangkat kebijakan pengendalian pemanfaatan ruang kota Tingkat penyelenggaraan pengendalian pemanfaatan ruang Tingkat ketersediaan data mengenai pemanfaatan ruang kota 250 251 252 253 Tingkat ketersediaan regulasi penataan bangunan dan lingkungan Tingkat ketersediaan, publikasi, dan pengembangan Sistem Informasi Pembina Jasa Konstruksi (SIPJK) Persentase usaha dan/atau kegiatan yang mentaati persyaratan administrasi dan teknis pencegahan pencemaran air Persentase jumlah usaha dan/atau kegiatan sumber tidak bergerak yang memenuhi persyaratan administratif dan teknis pencegahan pencemaran udara Persentase pengaduan masyarakat akibat adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang ditindaklanjuti Cakupan pemantauan Kualitas air sungai, Air Tanah dan Situ, serta kualitas udara dan kebisingan (%) 20,69 (%) 28,24 (%) 77,78 (%) 16,67 (%) 30,77 (%) 25,00 (%) 36,84 (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 38,62 254 Persentase pengurangan sampah di perkotaan (%) 14,24 255 Persentase pengangkutan sampah (%) 75,00 256 Persentase pengoperasian TPA (%) 50,00 257 Tingkat pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik/Perkotaan di wilayah perkotaan (%) per tahun 100,00 BAB II Perencanaan Kinerja 2-28
BAB 3. AKUNTABILITAS KINERJA TAHUN 2015 Pemerintah Kota Tangerang selaku pengemban amanah masyarakat Kota Tangerang melaksanakan kewajiban berakuntabilitas melalui penyajian Laporan Kinerja Pemerintah Kota Tangerang yang dibuat sesuai ketentuan yang diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, dan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja Dan Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Laporan tersebut memberikan gambaran penilaian tingkat pencapaian target kegiatan dari masing-masing kelompok indikator kinerja kegiatan, dan penilaian tingkat pencapaian target sasaran dari masing-masing indikator kinerja sasaran yang ditetapkan dalam dokumen RPJMD 2014-2018 maupun RKPD Tahun 2015. Sesuai ketentuan tersebut, pengukuran kinerja digunakan untuk menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program, sasaran yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan misi dan visi instansi pemerintah. Pelaporan Kinerja Pemerintah Kota Tangerang ini didasarkan pada Perjanjian Kinerja dan Indikator Kinerja Utama 2014-2018. 3.1 KERANGKA PENGUKURAN KINERJA Metodologi dalam Pengukuran kinerja mendasarkan pada Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, dan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja Dan Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pmerintah. Pencapaian Sasaran diperoleh dengan cara membandingkan target dengan Realisasi Indikator Sasaran melalui media formulir Pengukuran Kinerja. Kemudian atas hasil pengukuran kinerja tersebut dilakukan evaluasi untuk mengetahui keberhasilan dan kegagalan pencapaian sasaran strategis yang terkait dengan Core Area Kota Tangerang sebagai kota industri serta pusat pelayanan jasa terpadu di bidang perdagangan, pendidikan, dan kesehatan. Dalam pengukuran capaian kinerja sasaran bisa jadi ditemui 3-1
kinerja sasaran tidak tercapai secara maksimal. Dalam pengukuran sasaran, bagi kepentingan manajemen dilakukan penghitungan rata-rata atas setiap capaian indikator sasaran. Setelah dilakukan pengukuran kinerjanya, dengan mengacu pada ketentuan Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014, dan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah Daerah (RPJMD) Kota Tangerang Tahun 2014-2018, serta Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Tahun 2015, maka untuk menggambarkan keberhasilan/kegagalan pencapaian sasaran ini, ditetapkan suatu skala pengukuran ordinal pencapaian kinerja berdasarkan kriteria yang tercantum dalam Tabel VII-C Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah sebagai berikut : Interval Nilai Realisasi Kinerja Kriteria Penilaian Realisasi Kinerja 1. 91% 100% atau lebih : Sangat Tinggi 2. 76% 90% : Tinggi 3. 66% 75% : Sedang 4. 51% 65% : Rendah 5. 50% : Sangat Rendah Dalam penilaian kinerja tersebut, gradasi nilai (skala intensitas) kinerja suatu indikator dapat dimaknai sebagai berikut : (1) Hasil Sangat Tinggi dan Tinggi Gradasi ini menunjukkan pencapaian/realisasi kinerja capaian telah memenuhi target dan berada diatas persyaratan minimal kelulusan penilaian kinerja. (2) Hasil Sedang Gradasi cukup menunjukkan pencapaian/realisasi kinerja capaian telah memenuhi persyaratan minimal. (3) Hasil Rendah dan Sangat Rendah Gradasi ini menunjukkan pencapaian/realisasi kinerja capaian belum memenuhi/masih dibawah persyaratan minimal pencapaian kinerja yang diharapkan. 3-2
Selanjutnya berdasarkan hasil evaluasi kinerja dilakukan analisis pencapaian kinerja untuk memberikan informasi yang lebih transparan mengenai sebab-sebab tercapai atau tidak tercapainya kinerja yang diharapkan. Indikator Kinerja Indikator Kinerja adalah ukuran kuantitatif dan kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan dengan memperhitungkan indikator masukan (inputs), keluaran (outputs), dan hasil (outcomes). Indikator Sasaran Indikator Sasaran adalah sesuatu yang dapat menunjukkan secara signifikan mengenai keberhasilan atau kegagalan pencapaian sasaran. Indikator Sasaran dilengkapi dengan Target Kuantitatif dan satuannya untuk mempermudah pengukuran pencapaian sasaran. 3.2 CAPAIAN INDIKATOR MAKRO Tujuan pembangunan Kota Tangerang telah ditetapkan dan dituangkan dalam pernyataan visi dan misi. Hal ini memberikan kejelasan bahwa arah pembangunan Kota Tangerang telah disusun dalam suatu kebijakan yang bertahap, terstruktur dan berkesinambungan. Oleh karenanya, kebijakan yang telah ditetapkan dalam kerangka kinerja pembangunan daerah harus dapat menginformasikan sejauhmana kebijakan tersebut dalam mendukung tujuan pembangunan itu sendiri. Adapun representasi ketercapaian tujuan pembangunan daerah tersebut dituangkan dalam indikator makro pembangunan daerah, yang akhirnya bermuara terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Atas dasar telah ditetapkannya indikator tersebut, maka kinerja pembangunan daerah dapat diukur, melalui informasi gambaran ketercapaian dan permasalahan yang terjadi dari setiap indikator makro. Tetapi persoalan yang perlu dicermati bersama adalah, ketercapaian setiap indikator makro tersebut merupakan akumulasi dari peran serta seluruh stakeholder pembangunan yang meliputi : Pemerintah, Swasta dan Masyarakat. Oleh karena itu dalam menyikapi kinerja kebijakan pemerintah dalam konstelasi pencapaian indikator makro, perlu diterjemahkan terlebih dahulu kerangka pikir kontribusi kebijakan dan pelaku terhadap capaian indikator makro tersebut. Sehingga gambaran pencapaian indikator makro merupakan hasil kinerja dari seluruh pelaku 3-3
pembangunan. Sebagai gambaran bahwa Perbandingan indikator makro antara Kota Tangerang dan Propinsi Banten dapat dilihat pada 5 indikator makro seperti yang terdapat pada Tabel 3.1. Tabel 3.1. Perbandingan Indikator Makro Kota Tangerang dengan Provinsi Banten Indikator Satuan Indikator Kota Tangerang 2013 2014 2015 Provinsi Banten Kota Tangerang Provinsi Banten Kota Tangerang Provinsi Banten (IPM) Poin 75,04 69,47 75,87 69,89 76,52 70,59 (LPE) % 6,73 7,13 6,17 5,47 5,88 5,37 Tingkat Kemiskinan % 5,26 5,89 4,91 5,51 4,60 5,75 TPT % 8,62 9,9 7,81 9,07 8,00 9,55 IKM Kategori B B B Sumber: BPS Provinsi Banten BPS Kota Tangerang dan Bappeda Kota Tangerang Kondisi Realiasi IPM Kota Tangerang dari tahun 2013 sampai dengan 2015 menunjukkan hasil di atas rata-rata kabupaten/kota di Provinsi Banten. Demikian juga kondisi realisasi indikator makro untuk IPM dan LPE menunjukkan nilai di atas ratarata Propinsi Banten. Hal ini berarti bahwa usaha peningkatan IPM yang dilakukan melalui peningkatan usaha di bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi di Kota Tangerang relatif lebih berhasil dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Provinsi Banten. Tabel 3.2. Target dan Realisasi Indikator Makro No. Indikator Satuan Indikator Target 2015 Realisasi 1. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Poin 76,56 76,24 2. Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) % 6,49 5,88 3. Tingkat Kemiskinan (% Jumlah Penduduk Miskin) % 5,18 4,60 4. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) % 8,12 8,00 5. Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Kategori B B Sumber : BPS Kota Tangerang dan Bappeda Kota Tangerang 3-4
3.2.1 Indeks Pembangunan Manusia Pembangunan manusia sebagaimana direflekasikan dalam IPM merupakan issu strategis karena relevansinya terhadap sasaran pembangunan jangka panjang, yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya. Manusia Indonesia yang berkualitas memiliki tiga ciri: pertama, sehat dan berumur panjang, kedua cerdas, kreatif, terampil, terdidik dan bertaqwa pada tuhan YME dan ketiga mandiri dan memiliki akses untuk hidup layak. Ketiga ciri manusia Indonesia yang berkualitas tersebut, terkait erat dengan ketiga parameter dalam IPM. Laporan pembangunan manusia yang dikedepankan secara luas oleh United Nations Development Programme (UNDP) merupakan suatu model pembangunan yang menempatkan manusia sebagai titik sentral dalam semua proses dan kegiatan pembangunan (people centered development). Pembangunan harus ditujukan untuk memperluas pilihan bagi penduduk (a process of enlarging people s choice) melalui upaya-upaya pemberdayaan yang mengutamakan peningkatan kemampuan dasar manusia agar dapat sepenuhnya berpartisipasi dalam bidang ekonomi, politik, dan sosial budaya. Pendekatan konseptual pembangunan manusia mencakup empat elemen pokok yaitu produktifitas, pemerataan, keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat.peningkatan kualitas hidup akan menjadi lebih luas dan terjamin jika kemampuan dasar yang mencakup hidup panjang dan sehat, berpengetahuan (serta menguasai IPTEK) dan mempunyai akses terhadap sumber daya yang dibutuhkan agar dapat hidup secara layak (berdaya beli) dimiliki oleh penduduk. Produktivitas berarti manusia harus dapat meningkatkan produktivitasnya dalam artian ekonomi, yaitu untuk memperoleh pendapatan dan berpartisipasi dalam pasar kerja. Pemerataan berarti semua mempunyai kesempatan yang sama berpartisipasi dalam seluruh kegiatan, termasuk ekonomi, sosial dan politik. Makna berkelanjutan adalah bahwa semua kegiatan dalam rangka pembangunan manusia dilakukan terus menerus, sedangkan pemberdayaan berarti semua lapisan masyarakat ikut berpartisipasi penuh dalam proses pembangunan. 3-5
Sehingga pada akhirnya, sasaran pembangunan manusia diprioritaskan pada tiga tujuan dasar, yaitu : 1. Usia hidup (longevity) 2. Pengetahuan (knowledge), dan 3. Standar hidup Layak (decent living). Pilihan lainnya yang dianggap mendukung ketiga pilihan tersebut adalah kebebasan politik, dan penghomatan hak pribadi.jadi jelas bahwa pembangunan manusia lebih dari sekedar pertumbuhan Ekonomi dan peningkatan pendapatan, serta akumulasi modal. Dalam hal ini pembangunan manusia dan pemenuhan hak-hak azasi manusia model UNDP mempunyai kesamaan visi dan tujuan, yaitu untuk menjamin 'kebebasan', kemakmuran dan harga diri semua orang dimanapun berada. IPM merupakan salah satu indikator komposit selain banyak ragam indikator lain yang dapat dibuat dari berbagai kegiatan pengumpulan data oleh BPS selama ini. Indikator itu sendiri merupakan petunjuk yang memberikan indikasi tentang sesuatu keadaan dan merupakan refleksi dari keadaan tersebut. Dalam definisi lain, indikator dapat dikatakan sebagai alat pengukur perubahan. Variabel-variabel ini terutama digunakan apabila perubahan yang akan dinilai tidak dapat diukur secara langsung. Indikator Harapan Hidup Angka harapan hidup dapat menggambarkan tingkat kesehatan yang telah dicapai masyarakat. Semakin baik tingkat kesehatan masyarakat diharapkan kesempatan untuk hidupnya cenderung semakin besar/lama. Sebaliknya tingkat kesehatan yang buruk akan cenderung memperpendek usia hidup. Angka harapan hidup berbanding terbalik dengan tingkat kematian bayi, artinya semakin tinggi angka kematian bayi maka angka harapan hidup cenderung semakin pendek, demikian pula sebaliknya. Berdasarkan Tabel 3.3, usia harapan hidup di Kota Tangerang selama tiga tahun terakhir tidak berubah pencapaiannya, yaitu 71,09 tahun. Artinya peluang hidup bayi yang lahir di Kota Tangerang pada tahun 2015 diharapkan dapat hidup sampai usia sekitar 71 tahun. 3-6
Tabel 3.3. Angka Harapan Hidup Kabupaten/Kota di Provinsi Banten Kabupaten /Kota Angka Harapan Hidup/AHH 2010 2011 2012 2013 2014 2015*) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Kabupaten Pandeglang 62,26 62,46 62,66 62,83 62,91 Kabupaten Lebak 65,49 65,63 65,74 65,83 65,88 Kabupaten Tangerang 68,79 68,86 68,92 68,96 68,98 Kabupaten Serang 62,56 62,75 62,90 63,03 63,09 Kota Tangerang 71,07 71,08 71,09 71,09 71,09 71,10 Kota Cilegon 65,72 65,78 65,82 65,84 65,85 Kota Serang 67,20 67,22 67,23 67,23 67,23 Kota Tangerang Selatan 72,04 72,07 72,09 72,10 72,11 Provinsi Banten 68,50 68,68 68,86 69,04 69,13 Sumber: BPS Kota Tangerang 2015, *) Diolah Di Provinsi Banten angka harapan hidup tertinggi ada di Kota Tangerang Selatan, yaitu sebesar 72,11 pada tahun 2014. Kota Tangerang berada di posisi nomor dua. Sedangkan yang terendah usia harapan hidupnya ada di Kabupaten Pandeglang. Namun bila dibandingkan dengan angka harapan hidup Provinsi Banten yang sebesar 69,13 pada tahun 2014 tampaknya pembangunan bidang kesehatan di Kota Tangerang jauh lebih maju dibandingkan pembangunan bidang kesehatan di Wilayah Banten pada umumnya, meski pergerakan pertambahan usia harapan hidupnya cenderung lambat. Peningkatan usia harapan hidup berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Maka sangatlah wajar jika pergerakan angka harapan hidup sangat lambat jika angka harapan hidup sudah cukup tinggi. Namun demikian Pemerintah Kota Tangerang perlu memacu dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk merumuskan program di bidang kesehatan secara tepat, di masa yang akan datang dengan meningkatnya usia harapan hidup berakibat meningkat pula jumlah lansia. Pemerintah harus memperhatikan kesejahteraan mereka pada masa yang akan datang. 3-7
Tabel 3.4. Indeks Harapan Hidup Kabupaten/Kota di Provinsi Banten Kab/Kota Indeks Harapan Hidup 2010 2011 2012 2013 2014 2015*) Kabupaten Pandeglang 64,61 64,92 65,22 65,58 66,02 Kabupaten Lebak 63,80 63,92 64,03 64,37 70,58 Kabupaten Tangerang 67,98 68,17 68,35 68,88 75,35 Kabupaten Serang 64,18 64,8 65,42 65,65 66,29 Kota Tangerang 72,29 72,35 72,4 72,6 78,60 78,61 Kota Cilegon 72,63 72,7 72,78 73,28 70,54 Kota Serang 66,89 67,45 68,02 69,42 72,66 Kota Tangerang Selatan 72,57 72,75 72,95 73,62 80,17 Provinsi Banten 66,5 66,75 67,04 67,45 75,58 Sumber : BPS Kota Tangerang 2015, *) diolah Tersedianya sarana kesehatan yang cukup dan sarana transportasi yang lancar sehingga memudahkan masyarakat untuk mengakses fasilitas kesehatan yang ada sangat membantu masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan yang tinggi, tetapi yang tak kalah penting adalah mengingatkan masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. Selanjutnya dari angka harapan hidup dapat diturunkan indeks harapan hidup yang telah dicapai dibanding kondisi 'ideal' sesuai standar UNDP yaitu 85 tahun (100 persen). Indikator harapan hidup digunakan untuk mengukur pembangunan di bidang kesehatan. Meningkatnya angka harapan hidup dapat berarti adanya perbaikan pembangunan di bidang kesehatan. Yang biasanya ditandai dengan membaiknya kondisi sosial ekonomi penduduk, membaiknya kesehatan lingkungan dan lain sebagainya. Pada tahun 2015 Indeks harapan hidup masyarakat di Kota Tangerang diperkirakan mencapai 78,61 persen, yang berarti pencapaian usia harapan hidup sejak lahir terhadap perkiraan usia harapan hidup maksimal naik 6,32 persen dibanding tahun 2010. Indikator Pengetahuan Pencapaian pendidikan merupakan salah satu ukuran untuk menilai kemajuan suatu masyakat. Hal ini karena masyarakat yang berpendidikan akan lebih mudah menyerap informasi-informasi kemajuan peradaban, sehingga dapat meningkatkan kualitas penduduk daerah yang bersangkutan. Pendidikan juga mempunyai korelasi yang kuat dengan berbagai aspek sosial ekonomi. Berbagai penelitian menyimpulkan bahwa 3-8
tingkat pendidikan berkaitan erat dengan kualitas hidup dan kesejahteraan keluarga serta masyarakat. Oleh karena itu pembangunan pendidikan sangat penting untuk mencetak generasi yang memiliki kemampuan dan berkualita unggul bagi kemajuan suatu bangsa. Pada dasarnya pembangunan pendidikan difokuskan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pendidikan dan memperluas kesempatan untuk memperoleh pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat. Selain itu, juga untuk meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan dengan perkembangan dunia usaha. Peningkatan partisipasi masyarakat dan perluasan kesempatan dalam bidang pendidikan, dapat dilihat dari indikator Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) penduduk. Kedua indikator ini dalam pembangunan manusia mewakili aspek pengetahuan, yang keberhasilannya memerlukan dukungan kuat dari keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Angka HLS diambil dari data SUSENAS, yang dihitung dari data penduduk usia 7 tahun ke atas karena mengikuti kebijakan pemerintah yaitu program wajib belajar. HLS dapat digunakan untuk mengetahui kondisi pembangunan sistem pendidikan di berbagai jenjang. Sedangkan Rata-rata Lama Sekolah (RLS)dihitung untuk usia 25 tahun ke atas dengan asumsi pada umur 25 tahun proses pendidikan sudah berakhir. Penghitungan RLS pada usia 25 tahun ke atas juga mengikuti standard internasional yang digunakan oleh UNDP. Gambaran tingkat pendidikan yang ditamatkan oleh penduduk Kota Tangerang Tahun 2015 dapat dilihat di tabel berikut : Tabel 3.5. Pendidikan Yang Ditamatkan Penduduk Berumur 10 Tahun Ke Atas Di Kota Tangerang Tahun 2011-2015 (dalam persen) No Jenjang Pendidikan yang ditamatkan 2011 2012 2013 2014 2015*) 1 Tidak punya ijazah 11,48 12,83 13,15 10,95 12,15 2 SD/MI 19,30 16,35 19,18 17,81 17,70 3 SLTP/MTS 22,38 21,12 20,50 19,51 19,27 4 SMU/SMK/Aliyah 36,72 39,41 38,10 38,54 39,11 5 DI/DII 0,81 0,56 0,48 0,58 0,45 6 DIII/DIV/S1/S2/S3 9,30 9,74 8,58 12,60 11,32 Sumber : BPS Kota Tangerang 2015, *) diolah 3-9
Pada Tabel 3.5. menunjukkan pada tahun 2015, persentase penduduk Kota Tangerang paling banyak berijazah SMU sederajat yang mencapai 39,11 persen. Jumlah penduduk yang berijazah SD/MI menurun dari tahun 2014, yang semula 17,81 persen turun menjadi 17,70 pada tahun 2015. Terjadi juga penurunan persentase penduduk yang berijazah Diploma hingga Sarjana, dari 13,18 persen menjadi 11,77 persen pada tahun 2015. Angka Harapan Lama Sekolah (HLS) Kota Tangerang pada tahun 2015 adalah 12,90 tahun, berarti setiap penduduk Kota Tangerang yang berusia 7 tahun pada tahun 2014, dapat berharap untuk bersekolah selama 12 tahun lebih, atau kuliah sampai semester I. Namun pencapaian ini masih dibawah beberapa wilayah lain seperti Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Pandeglang, dan Kota Cilegon. Tabel 3.6. Harapan Lama Sekolah Kabupaten/Kota di Banten Harapan Lama Sekolah (EYS) Kabupaten /Kota 2010 2011 2012 2013 2014 2015 (1) (2) (3) (4) (5) (6) Kabupaten Pandeglang 11,23 11,81 12,17 12,86 13,38 Kabupaten Lebak 10,35 10,83 10,96 11,55 11,88 Kabupaten Tangerang 10,77 10,99 11,18 11,44 11,65 Kabupaten Serang 10,74 11,23 11,72 12,09 12,35 Kota Tangerang 11,56 11,86 12,23 12,6 12,86 12,90 Kota Cilegon 11,78 11,88 12,18 12,67 13,07 Kota Serang 10,98 11,27 11,82 11,92 12,34 Kota Tangerang Selatan 12,08 12,43 12,79 13,24 13,58 Provinsi Banten 11,02 11,41 11,79 12,05 12,31 Sumber : BPS Kota Tangerang 2015, *) diolah Indikator kedua dari komponen pengetahuan adalah Angka Rata-rata Lama Sekolah (RLS), yang jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk dalam menjalani pendidikan formal, dengan Cakupan penduduk yang dihitung RLS adalah penduduk berusia 25 tahun ke atas. 3-10
Tabel 3.7. Rata-rata Lama Sekolah Kabupaten/Kota di Provinsi Banten Rata - Rata Lama Sekolah (MYS) Kabupaten /Kota 2010 2011 2012 2013 2014 2015 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Kabupaten Pandeglang 6,33 6,38 6,43 6,44 6,45 Kabupaten Lebak 5,34 5,58 5,7 5,81 5,84 Kabupaten Tangerang 7,85 7,96 8,07 8,18 8,2 Kabupaten Serang 6,07 6,31 6,57 6,65 6,69 Kota Tangerang 9,64 9,75 9,76 9,82 10,2 10,2 Kota Cilegon 8,71 8,93 9,29 9,6 9,66 Kota Serang 8,32 8,39 8,48 8,56 8,58 Kota Tangerang Selatan - 10,87 11,09 11,48 11,56 Provinsi Banten 7,92 7,95 8,06 8,17 8,19 Sumber : BPS Kota Tangerang 2015, *) diolah Angka Rata-rata Lama Sekolah yang dicapai Kota Tangerang pada tahun 2015 diperkirakan adalah 10,2 tahun, yang berarti rata-rata penduduk Kota Tangerang yang berumur 25 tahun ke atas, bersekolah hingga setara kelas II SMU. Posisi angka ini adalah kedua tertinggi di Banten, setelah Kota Tangerang Selatan. Pencapaian angka ini menunjukkan pendidikan Kota Tangerang masih lebih baik dibandingkan Kabupaten/Kota di Provinsi Banten secara keseluruhan. Angka RLS terendah ada di Kabupaten Lebak, yaitu 5,84 tahun, Sedangkan rata-rata lama sekolah penduduk Banten adalah 8,19 tahun atau setara dengan kelas II SLTP. 3-11
Gambar 3.1. Perkembangan HLS dan RLS Kota Tangerang Tahun 2010-2015 Tabel 3.8. menunjukkan besarnya Indeks Pengetahuan Kota Tangerang tahun 2015 adalah 70,78. Angka ini meningkat sebesar 1,06 poin dari tahun 2014. Namun dari angka indeks ini masih jauh dari angka maksimalnya (100), sehingga dapat dikatakan pencapaian indikator pengetahuan di Kota Tangerang masih perlu ditingkatkan sehingga masyarakat mempunyai kesempatan dan kemauan untuk menempuh pendidikan lebih tinggi. 3-12
Tabel 3.8. Indeks Pengetahuan di Provinsi Banten Kabupaten /Kota Indeks Pengetahuan 2010 2011 2012 2013 2014 2015*) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Kabupaten Pandeglang 52,29 54,07 55,24 57,19 58,67 Kabupaten Lebak 46,55 48,68 49,44 51,45 52,47 Kabupaten Tangerang 56,08 57,06 57,96 59,04 59,69 Kabupaten Serang 50,07 52,23 54,46 55,75 56,61 Kota Tangerang 64,24 65,44 66,51 67,73 69,72 70,78 Kota Cilegon 61,76 62,77 64,8 67,19 68,51 Kota Serang 58,23 59,27 61,1 61,64 62,88 Kota Tangerang Selatan 33,56 70,76 72,49 75,04 76,26 Provinsi Banten 57,01 58,19 59,62 60,71 61,49 Sumber: BPS Kota Tangerang 2015, *) diolah Indikator Pengeluaran Daya beli masyarakat mencerminkan kemampuan masyarakat dalam membelanjakan uangnya dalam bentuk barang maupun jasa. Kemampuan ini berbeda antar wilayah, karena nilai tukar nya juga berbeda bergantung kepada harga riil pada masing-masing wilayah.komponen ini mempunyai hubungan langsung maupun tidak langsung dengan beberapa variabel seperti keterampilan, kesempatan kerja dan pendapatan. Agar daya beli masyarakat memiliki keterbandingan antar wilayah, perlu dibuat standardisasi. Misalnya, satu rupiah di suatu wilayah memiliki daya beli yang sama dengan satu rupiah di Jakarta Selatan. Dengan adanya standarisasi ini, maka perbedaan kemampuan daya beli masyarakat antar wilayah dapat dibandingkan. Implikasinya, standar hidup antar wilayah pun menjadi dapat diperbandingkan. 3-13
Tabel 3.9. Pencapaian Daya Beli di Provinsi Banten Kabupaten/Kota Pengeluaran per Kapita Disesuaikan (ribu Rp) Indeks Pengeluaran 2013 2014 2015*) 2013 2014 2015*) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Kabupaten Pandeglang 7.486 7.589 61,29 61,71 Kabupaten Lebak 7.918 7.977 63 63,23 Kabupaten Tangerang 11.648 11.666 74,8 74,84 Kabupaten Serang 9.831 9.886 69,62 69,79 Kota Tangerang 13.531 13.671 13.893 79,38 79,69 80,18 Kota Cilegon 11.920 12.057 75,5 75,85 Kota Serang 11.950 12.091 75,58 75,94 Kota Tangerang Selatan 14.207 14.361 80,87 81,2 Provinsi Banten 11.061 11.150 73,22 73,46 Sumber: BPS Kota Tangerang 2015, *) diolah Tabel 3.9 menunjukan tingkat pengeluaran per kapita penduduk Kota Tangerang tahun 2015 adalah 13,893 juta rupiah. Nilai pengeluaran ini meningkat sebanyak 222 ribu rupiah dibandingkan tahun 2014. Jika dibandingkan dengan pengeluaran per kapita penduduk Banten, Kota Tangerang menempati urutan kedua setelah Kota Tangerang Selatan. Sedangkan di Provinsi Banten, keseluruhan pengeluaran per kapita penduduk di Provinsi ini mencapai 11,15 juta rupiah pada tahun 2014. Pencapaian Pembangunan Manusia Kota Tangerang Pencapaian pembangunan manusia di Kota Tangerang cukup menggembirakan. Berdasarkan klasifikasi yang ditetapkan oleh UNDP, capaian pembangunan manusia di Kota Tangerang termasuk dalam klasifikasi tinggi (70 IPM < 80). 3-14
Tabel 3.10. Indeks Pembangunan Manusia dan Komponennya di Kota Tangerang Tahun 2013-2015 Komponen IPM 2013 2014 2015*) (1) (2) (3) (4) IndeksHarapan Hidup 78,60 78,60 78,61 Indeks Pengetahuan 67,73 69,72 70,78 Indeks Pengeluaran 79,38 79,69 80,18 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 75,04 75,87 76,52 Sumber: BPS Kota Tangerang 2015, *) diolah Angka IPM Kota Tangerang pada tahun 2015 mencapai 76,52. Berarti, tingkat pencapaian pembangunan manusia nya dapat dikatakan masih sekitar 76,52 persen dari kondisi pembangunan manusia yang ideal (IPM ideal = 100). Meskipun demikian, dengan capaian sebesar itu, Kota Tangerang menempati urutan kedua di Provinsi Banten, setelah Kota Tangerang Selatan. Perkembangan pembangunan manusia di Kota Tangerang terus mengalami perbaikan. Hal ini terlihat dari meningkatnya angka IPM secara konsisten selama periode 2010-2015. Dimana, IPM Kota Tangerang naik 2,83 poin dalam jangka waktu enam tahun. (Tabel 3.11). Tabel 3.11. Peringkat IPM Kabupaten/Kota di Banten Kabupaten / Kota Nilai IPM 2010 2011 2012 2013 2014 2015*) Peringkat IPM 2014 Pertumbuhan IPM 2014 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Kabupaten Pandeglang 59,08 59,92 60,48 61,35 62,06 7 1,16 Kabupaten Lebak 58,83 59,82 60,22 61,13 61,64 8 0,82 Kabupaten Tangerang 68,01 68,45 68,83 69,28 69,57 5 0,42 Kabupaten Serang 60,96 61,97 62,97 63,57 63,97 6 0,63 Kota Tangerang 73,69 74,15 74,57 75,04 75,87 76,52 2 1,11 Kota Cilegon 68,8 69,26 70,07 70,99 71,57 3 0,81 Kota Serang 68,25 68,69 69,43 69,69 70,26 4 0,81 Kota Tangerang Selatan - 76,99 77,68 78,65 79,17 1 0,67 Provinsi Banten 67,54 68,22 68,92 69,47 69,89 8 0,61 3-15
Sumber : BPS Kota Tangerang 2015, *) diolah Capaian IPM yang terus meningkat dari tahun ke tahun ini, menjadi pertanda bahwa kualitas pembangunan manusia di Kota Tangerang yang dilihat dari aspek kesehatan, pendidikan, dan ekonomi juga semakin membaik. Sebelum berdirinya Kota Tangerang Selatan, pada tahun 2010 Nilai IPM Kota Tangerang berada pada peringkat pertama di Provinsi Banten. Namun setelah nilai IPM Kota Tangerang Selatan dihitung pada tahun 2011, terlihat bahwa pembangunan manusia di Kota Tangerang Selatan lebih baik dari Kota Tangerang. Sehingga terjadi pergeseran peringkat IPM Kota Tangerang yang semula peringkat pertama menjadi peringkat kedua di Provinsi Banten. Sedangkan posisi IPM Provinsi Banten di tingkat Nasional adalah peringkat ke delapan pada tahun 2014. Gambar 3.2. Nilai dan Pertumbuhan IPM Kota Tangerang Tahun 2010-2015 Keberhasilan pembangunan manusia tidak hanya diukur dari tingginya angka IPM, akan tetapi juga harus dilihat dari kecepatan dalam peningkatannya. Untuk mengukur kecepatan peningkatan IPM dalam suatu kurun waktu, digunakan ukuran pertumbuhan atau rata-rata pertumbuhan per tahun. Pertumbuhan IPM Kota Tangerang selama periode 2011-2015 berfluktuasi, dengan nilai yang semula menurun pada tahun 2012 terhadap tahun 2011, kemudian meningkat lagi 3-16
pada tahun 2013 dan 2014. Artinya, capaian IPM Kota Tangerang memang terus meningkat, namun kecepatan atau peningkatannya berfluktuasi setiap tahun. Percepatan pertumbuhan ini membawa implikasi kepada semakin cepatnya waktu yang dibutuhkan untuk mencapai IPM yang ideal. 3.2.2 Laju Pertumbuhan Ekonomi Salah satu variabel penting dari PDRB adalah Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE). LPE didapat dengan membandingkan PDRB atas dasar harga konstan tiap tahun dengan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan perkembangan atau pertumbuhan riil perekonomian, atau dapat menggambarkan kinerja pembangunan dari suatu periode ke periode sebelumnya. Selain PDRB dapat menunjukkan LPE, juga menginformasikan struktur perekonomian daerah. Struktur perekonomian tersebut menggambarkan kontribusi sektor-sektor ekonomi terhadap perekonomian secara makro. Prioritas pembangunan melalui kerangka kebijakan pembangunan daerah dapat dengan mudah dilaksanakan dengan mempertimbangkan struktur perekonomian. Manfaat lain dari informasi struktur perekonomian ini adalah keterbandingan kekuatan ekonomi baik antar sektor ekonomi maupun antar wilayah kecamatan di Kota Tangerang. Pertumbuhan yang cukup tinggi belum menjamin meningkatnya kesejahteraan masyarakat karena perumbuhan penduduk melebihi tingkat pertumbuhan ekonomi maka kesejahteraan masyarakat akan menurun. Namun demikian, dengan mengamati pertumbuhan PDRB per kapita dapat dipakai untuk menunjukkan perkembangan kemakmuran dan kesejahteraan suatu daerah. Meningkatnya PDRB per kapita yang diterima penduduk, maka daya beli (purchasing power) masyarakat akan bertambah, sehingga kebutuhan rumah tangganya (demand) terhadap barang dan jasa akan terpenuhi. Demand yang diikuti purchasing power, akan mengakibatkan kesejahteraan masyarakat meningkat. Perekonomian akan mengalami pertumbuhan apabila total output produksi barang dan jasa tahun tertentu lebih besar daripada tahun sebelumnya. Oleh karena demikian, pertumbuhan ekonomi ini menggambarkan perkembangan aktivitas ekonomi dalam kurun waktu tertentu. Adapun peningkatan output produksi barang dan jasa tersebut 3-17
terjadi apabila terdapat peningkatan permintaan baik oleh masyarakat daerah tersebut atau luar daerah. Pertumbuhan ekonomi Kota Tangerang pada Tahun 2015 melambat dibanding tahun 2014, hal tersebut dapat dilihat dari Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Tangerang sebesar 5,88% yang lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Dan LPE Kota Tangerang masih lebih tinggi dibanding nasional maupun LPE Provinsi Banten. Tabel 3.12. Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Tangerang, Provinsi Banten dan Tahun Nasional Tahun 2011 2015 LPE (%) Kota Tangerang Provinsi Banten Nasional 2011 7,39 7,03 6,16 2012 7,07 6,83 6,16 2013 6,73 7,13 5,74 2014 6,17 5,47 5,21 2015*) 5,88 5,37 4,79 Sumber : BPS, 2015 *) Kajian Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kota Tangerang, Bappeda, 2015 3.2.3 Tingkat Kemiskinan Peningkatan dan penurunan penduduk miskin lebih dikarenakan banyaknya penduduk yanghidup disekitar garis kemiskinan atau penduduk yang rentan miskin sehingga mereka akan mudah sekali berubah menjadi miskin hanya karena sedikit goncangan ekonomi atau kenaikan harga pangan terutama beras. Konsumsi beras menyumbang andil yang cukup tinggi terhadap pengeluaran penduduk miskin secara rata-rata sekitar 21,75 persen pengeluarannya untuk membeli beras sehingga kenaikan harga pada komoditi ini akan mengakibatkan kenaikan batas garis kemiskinan, akibatnya penduduk dengan pengeluaran sama semula tidak miskin berubah menjadi miskin. Oleh karenanya stabilitas harga dan ketersediaan beras perlu di jaga agar penduduk yang masuk kategori miskin tidak semakin terbebani. Selain beras pengeluaran penduduk miskin pada kelompok makanan banyak dikeluarkan untuk membeli rokok kretek filter, telur ayam ras, mie instan dan daging ayam ras, tiga pengeluaran terakhir seharusnya bisa dialihkan untuk pengeluaran lain. 3-18
Tabel 3.13. Ukuran Kemiskinan di Kota Tangerang Ukuran Kemiskinan 2012 2013 2014 (1) (2) (3) (4) Jumlah Penduduk Kota Tangerang (000 jiwa) 1.918,60 1.952,30 1.999,80 Persentase Penduduk Di Bawah GK (P0) (Penduduk Miskin) *) 5,56 5,26 4,91 Jumlah Penduduk Miskin (000 jiwa) *) 106,5 103,1 98,7 Indek Kedalaman Kemiskinan (P1) 0,68 0,58 0,44 Indeks Keparahan Kemiskinan(P2) 0,13 0,1 0,06 Gini Coefficient/Gini Ratio (GR) 0.31 0.38 0.36 Garis Kemiskinan GK (rupiah/kapita/bulan) 365.205 398.513 421.554 Pendapatan 40 persen Penduduk Berpendapatan Rendah( Persen) Pendapatan 20 persen Penduduk Termiskin/Quartil 1 (Q1)( Persen) Sumber : BPS Kota Tangerang 20.61 16.29 15.35 8.52 6.72 6.51 Perkembangan tingkat kemiskinan (jumlah dan persentase penduduk miskin) pada periode 2005 sd 2014 tampak berfluktuasi dari tahun ke tahun. Meningkat pada tahun 2009 dan mulai 2010 sd 2014 terlihat adanya kecenderungan terus menurun.dari 124,3 ribu pada tahun 2010 dan terus menurun tinggal 98,76 ribu pada tahun 2014. Demikian juga Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan menurun. Indeks Kedalaman Kemiskinan menurun dari 1.10 pada tahun 2010 menjadi 0.44 pada tahun 2014. Demikian pula Indeks Keparahan Kemiskinan menurun dari 0,46 menjadi 0,06 pada periode yang sama. Penurunan nilai kedua indeks ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit. Menurut kriteria Bank Dunia, distribusi pengeluaran pada kelompok 40 persen bawah menurun, yaitu sekitar, 16,29 sd 15,35 persen baik pada tahun 2013 maupun tahun 2014. Angka ini masih berada pada kategori tingkat ketimpangan sedang. 3-19
3.2.4 Tingkat Pengangguran Terbuka Indikator ketenagakerjaan yang bisa digunakan untuk mengetahui bagian dari tenaga kerja yang sesungguhnya terlibat, atau berusaha untuk terlibat, dalam kegiatan produktif yaitu memproduksi barang dan jasa, dalam kurun waktu tertentu adalah Angka Partisipasi Angkatan Kerja (APAK). Secara khusus APAK bisa diartikan sebagai bagian dari penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) yang mempunyai pekerjaan selama seminggu yang lalu, baik yang bekerja maupun yang sementara tidak bekerja karena suatu sebab seperti menunggu panenan atau cuti. Di samping itu, mereka yang tidak mempunyai pekerjaan tetapi sedang mencari pekerjaan juga termasuk dalam kelompok angkatan kerja. Sementara itu, penduduk yang bekerja atau mempunyai pekerjaan adalah mereka yang selama seminggu sebelum pencacahan melakukan pekerjaan atau bekerja untuk memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan selama paling sedikit satu jam dalam seminggu yang lalu dan tidak boleh terputus. Secara formulasi APAK bisa dihitung melalui rasio antara jumlah angkatan kerja terhadap jumlah penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) yang selama 5 tahun terakhir (2011-2015) bisa dilihat pada tabel berikut. Tabel 3.14. Angka Partisipasi Angkatan Kerja Kota Tangerang Tahun 2011 2015 Tahun Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)% 2011 70,31 2012 66,74 2013 68,02 2014 67,69 2015 64,68 Rata-Rata 67,49 Sumber: Dinas Ketenagakerjaan Kota Tangerang, 2015 Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa selama 5 tahun terakhir (2011 2015) nilai Angka Partisipasi Angkatan Kerja (APAK) untuk Kota Tangerang sebesar 67,49%. Hal ini mengartikan bahwa selama 5 tahun terakhir (2011 2015) secara rata-rata diantara 100 orang yang termasuk ke dalam Penduduk Usia Kerja (15 tahun ke atas) terdapat 67 orang yang merupakan Angkatan Kerja. Pada Tahun 2015, APAK untuk Kota Tangerang turun menjadi 64,68% dari tahun sebelumnya 67,69%. Angka tersebut 3-20
menggambarkan dari 100 orang yang termasuk ke dalam Penduduk Usia Kerja (15 tahun ke atas) pada Tahun 2015 terdapat 64 orang yang merupakan angkatan kerja. Hal ini menunjukkan dari 100 orang yang masuk Kategori Penduduk Usia Kerja (PUK), terdapat 64 orang yang bekerja. Indikator lainnya yang terkait dengan ketenagakerjaan adalah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), yaitu bagian dari angkatan kerja yang tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan (baik bagi mereka yang belum pernah bekerja sama sekali maupun yang sudah penah berkerja), atau sedang mempersiapkan suatu usaha, mereka yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin untuk mendapatkan pekerjaan dan mereka yang sudah memiliki pekerjaan tetapi belum mulai bekerja.indikator ini berfungsi sebagai acuan pemerintah daerah untuk pembukaan lapangan kerja baru.disamping itu, trend indikator ini akan menunjukkan keberhasilan/kegagalan progam dan kegiatan ketenagakerjaan dari tahun ke tahun. Secara formulasi, indikator Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dihitung melalui rasio antara jumlah orang yang tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan terhadap jumlah angkatan kerja, yang selama Tahun 2011 2015 bisa dilihat pada tabel berikut. Tabel 3.15. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Tangerang Tahun 2011 2015 Tahun Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)% 2011 12,89 2012 8,31 2013 8,62 2014 7,81 2015 8,00 Rata-Rata 9,13 Sumber: Dinas Ketenagakerjaan Kota Tangerang,2016 Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa selama 5 tahun terakhir (2011 2015) rata-rata nilai Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) untuk Kota Tangerang sebesar 9,13%. Hal ini mengartikan bahwa selama 5 tahun terakhir (2011 2015) secara rata-rata diantara 100 orang yang termasuk ke dalam angkatan kerja terdapat sekitar 9 orang yang tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan. Pada tahun 2015, TPT untuk Kota Tangerang meningkat menjadi 8,00%dari tahun sebelumnya sebesar7,81%. Angka tersebut 3-21
menggambarkan bahwa dari 100 orang yang termasuk ke dalam angkatan kerja pada tahun 2015 terdapat sekitar 8 orang yang tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan. Terlihat bahwa trend TPT Kota Tangerang selama tahun 2011-2015 mengalami fluktuatif, hal ini menunjukkan masalah ketenagakerjaantergantung dengan kondisi ekonomi dan kaum urban (pendatang). Buruknya kondisi ekonomi sekarangini membuat banyak perusahaan terpaksa melakukan 'wait and see'. Artinya, belum tentu para pendatang ini mendapatkan pekerjaan disana. Namun demikian, Pemerintah Kota Tangerang berusaha menekan angka pengangguran yang ada.kalau nanti ditambah dengan warga pendatang dengan skill yang tidak memadai, jelas akan menjadi masalah baru. Diluar arus urbanisasi pasca Lebaran, penduduk kota saja sudah bertambah dua persen tiap tahunnya. Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Kota Tangerang menggelar Operasi Yustisi Kependudukan (OYK) untuk menjaring para pendatang, untuk mengendalikan masalah sosial, pengangguran, dan kriminalitas. 3.2.5 Indeks Kepuasan Masyarakat Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) merupakan paramater yang menunjukkan seberapa jauh tingkat kepuasan masyarakat atas pelayanan yang diberikan oleh pemerintah daerah selaku penyedia jasa layanan. Berdasarkan pengukuran tingkat kepuasan pelayanan publik di Kota Tangerang dalam pada tahun 2015 ini, IKM Kota Tangerang berada pada Kategori B (Baik) dengan nilai indeks 78,77 dengan nilai rata-rata tertimbang (NRR Tertimbang) dari unsur yang disurvei adalah 3,151. Pengukuran ini dilakukan pada 53 Unit Kerja yang dipandang dapat merepresentasikan seluruh jenis layanan publik yang disediakan/diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Tangerang. Tingkat kepuasan yang sama juga diberikan oleh masyarakat kepada 53 SKPD yang disurvei pada periode pengukuran tahun 2015. Meski nilai IKM ke-53 SKPD tersebut berbeda-beda, ternyata semuanya berada pada kategori B (Baik) atau pada interval nilai 62,51 81,25. Dari ke-53 SKPD tersebut tidak terdapat SKPD yang memiliki nilai dibawah kategori B. Secara umum baik nilai IKM Kota maupun IKM masing-masing SKPD yang diukur, berada pada kategori B (Baik). Hal ini menunjukan bahwa nilai IKM Kota maupun 3-22
IKM di masing masing SKPD mengalami kenaikan dibandingkan dengan pengukuran IKM tahun sebelumnya. 3.3 CAPAIAN KINERJA TAHUN 2015 Pengukuran tingkat capaian kinerja Pemerintah dilakukan dengan cara membandingkan antara target pencapaian indikator sasaran yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja Pemerintah dengan realisasinya. Tingkat capaian kinerja Pemerintah Kota Tangerang berdasarkan hasil pengukurannya dapat diilustrasikan dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.16. Capaian Kinerja Pemerintah MISI 1 : Mewujudkan tata pemerintahan yang baik,akuntabel, dan transparan didukung dengan struktur birokrasi yang berintegritas, kompeten, dan profesional Indikator Kinerja Sasaran Strategis Uraian Satuan Target Realisasi % 1 2 3 4 5 6 Sasaran 1 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem pendaftaran, penguasaan, pemilikan, penggunaan, pemanfaatan, dan penyelesaian konflik pertanahan Sasaran 2 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem administrasi kependudukan dan pencatatan sipil daerah Sasaran 3 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen Kepemerintahan dan Keadministrasian Umum, serta Kesejahteraan Masyarakat, yang Responsif, Koordinatif, Integratif, Sederhana, dan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Tingkat pelaksanaan fasilitasi pengadaan tanah Tingkat pelaksanaan fasilitasi pengaduan sengketa tanah Tingkat ketersediaan sistem informasi tanah milik pemda Persentase Penduduk ber- KTP Persentase Keluarga mempunyai Kartu Keluarga Persentase Bayi Ber-Akta Kelahiran Persentase Penduduk meninggal dunia Ber-Akta Kematian Persentase Pasangan Suami-Isteri Ber-Akta Nikah Tingkat penataan peraturan daerah dan peraturan kepala daerah Tingkat kelengkapan kelembagaan dan penataan keorganisasian SKPD Tingkat koordinasi dan kerjasama dengan pemerintah pusat dan % per tahun % per tahun % per tahun 100,00 120,00 120,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 99,65 75,09 75,36 (%) 85,89 78,34 91,21 (%) 52,10 48,11 92,34 (%) 85,89 69,54 80,96 (%) 36,49 33,65 92,22 (%) 40,00 40,00 100,00 (%) 59,00 59,00 100,00 (%) 36,54 37,01 101,28 3-23
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Uraian Satuan Target Realisasi % 1 2 3 4 5 6 Sinergis pemerintah daerah lainnya Sasaran 4 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Keuangan dan Aset Daerah secara Transparan dan Akuntabel Sasaran 5 : Sasaran 6 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pengawasan Pembangunan Daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Kepegawaian Daerah 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Tingkat kesesuaian formasi jabatan SKPD Tingkat ketersediaan pelaporan kinerja dan keuangan SKPD Tingkat ketersediaan dokumen dan sistem pengelolaan keuangan daerah Sasaran 7 : Terwujudnya Aparatur Pemerintahan Daerah yang Cerdas, Bermoral, Inovatif, dan Profesional 22 23 24 25 26 27 Tingkat ketersediaan dokumen dan sistem pengelolaan aset Tingkat kenaikan pendapatan daerah Tingkat ketersediaan laporan hasil pemeriksaan Tingkat tindak lanjut laporan hasil ekspose temuan hasil pengawasan Tingkat tenaga pemeriksa yang menguasai teknik/teori pengawasan dan penilaian akuntabilitas kinerja Tingkat ketersediaan kebijakan tentang sistem dan prosedur pengawasan Tingkat pelayanan kepegawaian Tingkat pelayanan Pegawai ketersediaan administrasi ketersediaan Pemensiunan Tingkat kedisiplinan aparatur pemerintah daerah Tingkat ketersediaan dan kelengkapan saranaprasarana pendukung kedisiplinan aparatur pemerintah daerah Tingkat Penurunan Indisipliner Pegawai Tingkat Pelayanan Diklat Struktural Kepemimpinan Persentase pejabat fungsional pemerintah daerah yang telah mengikuti (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) 40,00 40,00 100,00 (%) 40,93 40,93 100,00 (%) 36,68 36,68 100,00 (%) 6,63 16,82 253,79 (%) 38,04 38,04 100,00 (%) 40,00 40,00 100,00 (%) 40,00 40,00 100,00 (%) 40,00 40,00 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) 66,67 66,67 100,00 (%) per tahun (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 0,34 0,33 98,30 (%) 34,36 37,80 110,00 (%) 25,26 25,36 100,38 3-24
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Uraian Satuan Target Realisasi % 1 2 3 4 5 6 diklat fungsional Sasaran 8 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pemenuhan peralatan dan perlengkapan keadministrasian perkantoran Sasaran 9 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan kemitraan dan kerjasama yang proporsional dan profesional antara Eksekutif dengan Legislatif untuk menghasilkan Peraturan Daerah Sasaran 10: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen Data/ Informasi Pembangunan Daerah Sasaran 11: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan berbagai kajian dan penelitian statistik pembangunan daerah 28 29 30 31 32 33 34 Tingkat Kapasitas Sumberdaya Aparatur pemerintah daerah Tingkat Pelayanan Penyelenggaraan Diklat Teknis dan Fungsional beserta sarana pendukungnya Tingkat pelayanan pendukung perkantoran ketersediaan barang administrasi 35 Sasaran 12: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kearsipan Daerah 36 37 38 39 40 Tingkat ketersediaan pelayanan jasa pendukung administrasi perkantoran Tingkat Peningkatan Lembaga DPRD Fasilitasi Kapasitas Tingkat Fasilitasi Pembahasan dan Persetujuan Raperda Rata-rata tingkat ketersediaan data/informasi statistik hasil pembangunan daerah Rata-rata tingkat ketersediaan kajian, penelitian, dan pengembangan strategis Tingkat ketersediaan sistem dan pedoman penyelenggaraan kearsipan yang handal, dinamis, komprehensif dan terpadu Tingkat ketersediaan arsip statis, bernilaiguna, dan arsip elektronik Tingkat pengelolaan arsip baku pada SKPD Tingkat pemeliharaan arsip dan sarana prasarana pendukungnya Persentase kebutuhan kearsipan terpenuhinya informasi (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) 26,33 30,15 114,52 (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 86,16 86,16 100,00 76,19 76,19 (%) 36,67 36,67 100,00 (%) 36,89 36,89 100,00 (%) 40,00 40,00 100,00 (%) 25,00 25,00 100,00 (%) 40,00 40,00 100,00 (%) 25,00 25,00 100,00 (%) 25,00 25,00 100,00 3-25
Indikator Kinerja Sasaran Strategis Uraian Satuan Target Realisasi % 1 2 3 4 5 6 Sasaran 13: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi Daerah Sasaran 14: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pelayanan publik dan pelayanan aparatur pemerintahan daerah secara profesional, cepat, tepat, dan akurat, dengan berbasis pada teknologi informasi yang efektif dan efisien Sasaran 15: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem informasi dan aplikasi penyelenggaraan pemerintah daerah yang terintegrasi, terstandarisasi, serta memadai (berkemampuan/ berkapasitas tinggi, cepat, mudah diakses, praktis, dan aman) 41 42 43 44 45 46 47 Persentase pelaksanaan kegiatan peningkatan SDM Kearsipan yang berkualitas Tingkat ketersediaan sistem dan jaringan komunikasi dan informasi SKPD Tingkat Pengkajian dan Penelitian Bidang Komunikasi dan Informasi Tingkat Kerjasama Informasi dan Media Massa Tingkat Pelayanan Publik yang menggunakan media informasi berbasis Informasi Teknologi Tingkat Integrasi Sistem Informasi dan Aplikasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Tingkat Standarisasi Sistem Informasi dan Aplikasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (%) 38,46 38,46 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) 42,70 42,70 100,00 (%) 44,12 44,12 100,01 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) 45,52 45,52 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 MISI 2 : Meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing tinggi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Uraian Satuan Target Realisasi % 1 2 3 4 5 6 Sasaran 16: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan keberdayaan sektor UMKM dan Koperasi sebagai pendukung kegiatan ekonomi daerah berbasis sumberdaya lokal Sasaran 17: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Investasi Daerah yang 48 Persentase UMKM Aktif (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 49 Persentase Koperasi Aktif (%) 61,79 62,00 100,34 50 51 52 Tingkat Pertumuhan UMKM Aktif Tingkat Koperasi Aktif Pertumbuhan Tingkat pertumbuhan investasi daerah (%) 0,99 2,03 205,03 (%) 11,11 11,11 99,99 (%) 10,00 10,00 100,00 53 Tingkat pelaksanaan fasilitasi kali/tahun 1,00 1,00 100,00 3-26
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Uraian Satuan Target Realisasi % 1 2 3 4 5 6 transparan serta didukung kerjasama kemitraan oleh iklim investasi yang kondusif iinvestasi Tingkat penyelenggaraan 54 promosi peluang investasi kali/tahun 1,00 1,00 100,00 daerah Sasaran 18: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Ketahanan Pangan Daerah yang meliputi Ketersediaan, Distribusi, Konsumsi, Kewaspadaan, dan Kemasyarakatan 55 56 57 58 59 60 61 62 Tingkat ketersediaan Sistem Informasi Pelayanan Investasi Daerah Tingkat Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Sasaran 19: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan agribisnis serta budidaya pertanian dan peternakan yang berorientasi pada intensifikasi pertanian 63 64 65 66 67 68 69 70 71 Persentase Bangunan yang mempunyai Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Tingkat pelayanan Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) Tingkat pelayanan waktu pengurusan Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) Tingkat Ketersediaan Energi Per Kapita Tingkat Ketersediaan Protein Per Kapita Tingkat Penguatan Cadangan Pangan Daerah Tingkat Ketersediaan Informasi Pasokan, Harga dan Akses Pangan di Daerah Tingkat Stabilitasi Harga Pangan Tingkat Stabilitasi Pasokan Pangan Capaian Peningkatan Pangan Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Tingkat Pengawasan dan Pembinaan Keamanan Pangan Daerah Tingkat Penanganan Daerah Rawan Pangan Daerah Tingkat Pertanian Tingkat peternakan Produktivitas produksivitas Tingkat pemasaran hasil produksi pertanian (%) 42,86 42,86 100,00 (%) 45,00 45,00 100,00 (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 90,00 96,80 107,56 (%) 90,00 120,90 134,33 (%) 60,00 49,00 81,67 (%) 60,00 60,00 100,00 (%) per tahun (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 30,00 80,60 268,67 (%) 40,00 74,79 186,98 (%) 40,00 63,00 157,50 (%) 2,08 0,42 20,16 (%) per tahun 20,00 30,00 150,00 (%) 5,12 5,60 109,27 3-27
Indikator Kinerja Sasaran Strategis Uraian Satuan Target Realisasi % 1 2 3 4 5 6 Sasaran 20: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Kepariwisataan Daerah Sasaran 21: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan intensifikasi budidaya perikanan darat 72 73 74 75 76 77 78 79 80 Tingkat pemasaran hasil produksi ternak sapi potong di wilayah Kota Tangerang Angka prevalensi penyakit zoonosis Tingkat pemasaran obyek wisata daerah Tingkat kenaikan kunjungan wisatawan ke obyek wisata daerah Sasaran 22: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perdagangan Daerah dan peningkatan perlindungan konsumen Sasaran 23: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perindustrian Daerah dan peningkatan kapasitas industri kecil dan menengah 81 82 83 84 85 86 87 Tingkat perkembangan destinasi pariwisata daerah Tingkat perkembangan Jenis kelas dan jumlah Hotel Persentase produksi ikan kenaikan Cakupan bina kelompok peternak ikan Tingkat pengolahan dan pemasaran produksi perikanan Tingkat pembinaan Pedagang Kaki Lima (PKL) Tingkat konsumen perlindungan Tingkat pembinaan perdagangan dalam negeri Persentase industri yang memiliki Gugus Kendali Mutu (Pengukuran Standarisasi, Pengujian, dan Kualitas) Persentase IKM memiliki Izin Usaha Industri Kecil Melalui P-IRT dan Halal Persentase industri yang telah memenuhi standar kelayakan produksi Tingkat Pertumbuhan Industri di Daerah (%) 72,86 68,00 93,33 (%) 100,00 20,00 20,00 (%) 50,00 68,75 137,50 (%) 40,00 56,25 140,63 (%) 40,00 40,00 100,00 (%) 95,23 105,08 110,35 (%) 94,55 98,74 104,44 (%) 33,33 33,33 100,00 (%) 72,45 72,78 100,45 (%) 2,12 2,12 100,00 (%) 28,47 28,47 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 (%) 7,03 9,37 133,21 (%) 3,08 10,43 338,77 (%) 11,08 14,91 134,52 (%) 1,50 5,35 356,00 3-28
MISI 3 : Meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial demi terwujudnya masyarakat yang berdaya saing diera globalisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Uraian Satuan Target Realisasi % 1 2 3 4 5 6 Sasaran 24: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pendidikan Daerah yang mengacu pada Sistem Pendidikan Nasional, dan berbasis kompetensi, serta berorientasi pada kebutuhan kerja 88 Angka Putus Sekolah SD/MI 89 90 91 92 93 Angka Putus Sekolah SMP/MTs Sasaran 25: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Pelayanan dan Akses Kesehatan yang berkualitas dan terjangkau 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 Angka Putus Sekolah SMA/MA/SMK Angka Melek Huruf Penduduk Usia > 15 Tahun Angka Melanjutkan SD/MI ke SMP/MTs Angka Melanjutkan SMP/MTs ke SMA/SMK/MA Angka Kelulusan Siswa SD/MI Angka Kelulusan Siswa SMP/MTs Angka Kelulusan Siswa SMA/MA/SMK Cakupan Kelurahan Siaga Aktif Persentase rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat Kota Tangerang Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat Kota Tangerang Cakupan pelayanan JKN (BPJS) Presentase ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan di Puskesmas, Pustu, Pusling, (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun 0,02 0,01 150,00 0,07 0,02 171,43 0,11 0,14 72,73 98,71 98,51 99,80 98,72 94,42 95,64 97,93 100,00 102,12 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 99,99 100,00 100,01 (%) 85,58 97,12 113,49 (%) 30,00 54,20 180,67 (%) 96,34 98,08 101,80 (%) 50,00 48,08 96,16 (%) 0,84 2,59 309,63 (%) per tahun (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 3-29
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Uraian Satuan Target Realisasi % 1 2 3 4 5 6 dan Poliklinik Sasaran 26: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya pemberdayaan dan perlindungan anak yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan keluarga 104 105 106 107 108 109 Presentase Sarana Obat dan bahan-bahan berbahaya yang memenuhi syarat Presentase sarana kesehatan yang memenuhi syarat Rasio dokter per 1.000 penduduk 110 111 112 113 Rasio tenaga medis per 1.000 penduduk Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan penanganan pengaduan oleh petugas terlatih di dalam unit pelayanan terpadu Cakupan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan yang mendapatkan pelayanan kesehatan oleh Tenaga Kesehatan Terlatih Di Puskesmas Mampu Tatalaksana KtP/A dan PPT/PKT di Rumah Sakit Cakupan layanan rehabilitasi sosial yang diberikan oleh petugas rehabilitasi sosial terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu Cakupan layanan bimbingan rohani yang diberikan oleh petugas bimbingan rohani terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu Cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan pengadilan atas kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak Cakupan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Yang Mendapatkan Layanan (%) 91,30 92,75 101,58 (%) 65,56 77,78 118,65 dokter/ 1.000 penduduk tenaga medis/ 1.000 penduduk 0,05 0,08 146,81 0,05 0,05 100,00 (%) 20,54 20,54 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) 21,05 36,07 171,33 (%) 21,33 68,85 322,73 (%) 20,00 62,00 310,00 (%) 100,00 62,00 62,00 3-30
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Uraian Satuan Target Realisasi % 1 2 3 4 5 6 Bantuan Hukum Sasaran 27: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap norma keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 Cakupan layanan pemulangan bagi perempuan dan anak korban kekerasan Cakupan layanan reintegrasi sosial bagi perempuan dan anak korban kekerasan Persentase focal point SKPD yang memiliki aktifitas di dalam perwujudan kesetaran dan keadilan gender 124 125 126 127 Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah daerah Persentase partisipasi perempuan di lembaga swasta Cakupan Pasangan Usia Subur (PUS) yang usia istrinya < 20 tahun Cakupan Pasangan Usia Subur menjadi Peserta KB aktif Cakupan Pasangan Usia Subur yang ingin ber-kb tidak terpenuhi (Unmet Need) Cakupan Anggota Bina Keluarga Balita (BKB) yang ber-kb Cakupan PUS Peserta KB Anggota Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) yang ber- KB Rasio Petugas Lapangan Keluarga Berencana/ Penyuluh Keluarga Berencana (PLKB/PKB) di setiap kelurahan Rasio Pembantu Pembina Keluarga Berencana (PPKBD) di setiap Kelurahan Cakupan penyediaan alat dan obat Kontrasepsi untuk memenuhi permintaan masyarakat di daerah Cakupan penyediaan informasi data mikro keluarga (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) 20,54 20,54 100,00 (%) 52,38 17,31 33,05 (%) 59,83 66,23 110,69 (%) 15,74 10,87 69,10 (%) 1,05 1,07 101,77 (%) 73,20 77,91 106,43 (%) 15,07 13,71 90,99 (%) 49,04 66,23 135,06 (%) 0,37 0,49 130,44 petugas/ kelurahan petugas/ kelurahan 0,10 0,10 100,00 1,00 1,00 100,00 (%) 30,00 30,00 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 3-31
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Uraian Satuan Target Realisasi % 1 2 3 4 5 6 di setiap Kelurahan Sasaran 28: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan perlindungan kesejahteraan sosialmasyarakat 128 129 130 131 132 133 134 135 Persentase kecamatan memiliki fasilitas pelayanan konseling remaja Cakupan pelayanan dan penanggulangan Narkoba, PMS termasuk HIV/AIDS di setiap kelurahan Rasio pelayanan Posyandu Aktif di setiap RW Sasaran 29: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Ketenagakerjaan Daerah yang berbasis Keahlian serta berorientasi pada penciptaan dan perluasan lapangan pekerjaan 136 137 138 139 140 Persentase (%) PMKS skala kota yang menerima program pemberdayaan sosial melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) atau kelompok sosial ekonomi sejenis lainnya Jumlah KUBE yang mendapat Bantuan Persentase Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial Persentase (%) penyandang cacat, fisik, mental, serta lanjut usia tidak potensial yang telah menerima jaminan sosial Tingkat keikutsertaan eks penyandang penyakit sosial yang mengikuti pendidikan dan pelatihan Cakupan petugas rehabilitasi sosial yang terlatih Besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis kompetensi Tingkat besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis kewirausahaan Besaran pekerja/buruh yang menjadi peserta program Jamsostek Aktif Tingkat besaran Kasus Yang Diselesaikan Dengan Perjanjian Bersama (PB) (%) per tahun (%) per tahun posyandu/ RW 100,00 100,00 100,00 100,00 17,31 17,31 1,00 1,09 108,74 (%) 37,50 82,81 220,83 (%) 25,00 25,00 100,00 (%) 49,30 62,81 127,42 (%) 11,48 11,48 100,00 (%) 40,00 10,40 26,00 (%) 22,22 12,82 57,69 (%) 50,00 71,00 142,00 (%) 100,00 100,00 100,00 (%) 60,19 63,00 104,68 (%) 45,83 29,00 63,27 141 Besaran pencari kerja (%) 64,00 49,00 76,56 3-32
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Uraian Satuan Target Realisasi % 1 2 3 4 5 6 terdaftar yang ditempatkan Sasaran 30: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan kebudayaan daerah Sasaran 31: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kepemudaan dan Keolahragaan Daerah yang mandiri dan berprestasi Sasaran 32: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesatuan, kebangsaan, dan kepolitikan 142 143 144 145 146 Besaran Perusahaan Pemeriksaan Besaran Pengujian Peralatan di Perusahaan Cakupan pelestarian benda, situs dan kawasan cagar budaya daerah Cakupan tempat menggelar seni, memamerkan dan memasarkan karya seni, serta mengembangkan industri seni Sasaran 33: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem penegakan peraturan daerah yang manusiawi Cakupan Penyelenggaraan Festival Seni dan budaya (%) 24,26 15,00 61,82 (%) 70,63 62,00 87,78 (%) 68,75 68,75 100,00 (%) 80,00 80,00 100,00 (%) 40,00 40,00 100,00 147 Cakupan Kajian Seni (%) 40,00 40,00 100,00 148 149 150 151 152 153 154 155 156 Persentase organisasi pemuda yang memiliki sertifikat standar mutu organisasi kepemudaan Cakupan fasilitasi kegiatan kepemudaan Persentase organisasi olahraga yang memiliki sertifikat standar mutu oraganisasi keolahragaan Tingkat fasilitasi kegiatan keolahragaan daerah Cakupan peningkatan kesadaran wawasan kebangsaan pada Ormas, LSM, dan OKP Rasio petugas dalam satuan perlindungan masyarakat (Linmas) pada setiap RT Cakupan penyelenggaraan kemitraan dan kerjasama pemerintah daerah dengan ormas dan LSM di setiap wilayah kecamatan Tingkat penyelenggaraan sosialisasi kebijakan pemerintah di bidang Politik Cakupan patroli siaga ketertiban umum dan ketentraman masyarakat (%) 33,33 36,36 109,08 (%) 33,33 33,67 101,01 (%) 25,00 25,00 100,00 (%) per tahun (%) per tahun petugas/ RT kegiatan/ kecamata n 100,00 101,92 101,92 100,00 100,00 100,00 0,18 0,18 100,00 0,46 0,46 100,00 (%) 40,00 40,00 100,00 patroli/hari 2,77 2,77 100,00 157 Persentase pengawasan (%) 100,00 100,00 100,00 3-33
Indikator Kinerja Sasaran Strategis Uraian Satuan Target Realisasi % 1 2 3 4 5 6 dan berkeadilan lokasi rawan pelanggar per tahun peraturan daerah Sasaran 34: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Keberdayaan Masyarakat yang berbasis pada kebutuhan dasar dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Sasaran 35: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran dan kegemaran membaca masyarakat 158 159 160 161 162 163 164 165 Tingkat pelanggaran umum penyelesaian ketertiban Tingkat pemberdayaan kelompok binaan lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) Persentase peningkatan lembaga (usaha ekonomi, badan keswadayaan masyarakat, postantek) setiap kelurahan Tingkat kenaikan kunjungan masyarakat ke perpustakaan daerah Tingkat kenaikan anggota perpustakaan, taman bacaan, klub buku, dll. Tingkat koleksi dan jenis buku yang tersedia di perpustakaan daerah Tingkat keberadaan Perpustakaan Digital Tingkat kelengkapan sistem layanan perpustakaan daerah (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) 38,46 38,46 100,00 (%) 51,02 60,95 119,46 (%) 6,12 6,12 100,00 (%) 29,33 29,33 100,00 (%) 73,48 73,48 100,00 (%) 61,67 61,67 100,00 (%) 11,42 11,42 100,00 MISI 4 : Meningkatkan pembangunan sarana perkotaan yang memadai dan berkualitas Indikator Kinerja Sasaran Strategis Uraian Satuan Target Realisasi % 1 2 3 4 5 6 Sasaran 36: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem perencanaanpenganggaran, pengendalian, dan evaluasi-pelaporan yang partisipatif, koordinatif dan integratif, serta berbasis data/informasi dan berorientasi pada sektoral dan kewilayahan 166 167 168 Rata-rata tingkat koordinasi/kerjasama perencanaan pembangunan daerah dalam semua aspek pembangunan Tingkat ketersediaan dan implementasi peraturan/regulasi Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah (SPPD) serta berbagai aturan pendukungnya Tingkat Ketersediaan, Pengelolaan, Pengolahan, dan Publikasi Data/Informasi (%) 100,00 100,00 100,00 (%) 71,43 71,43 100,00 (%) 100,00 100,00 100,00 3-34
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Uraian Satuan Target Realisasi % 1 2 3 4 5 6 Perencanaan Pembangunan Daerah Sasaran 37: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan saranaprasarana kependidikan, kebudayaan, dan kepustakaan yang layak dan memadai 169 170 171 172 173 174 Tingkat ketersediaan dokumen utama perencanaan-penganggaran dan evaluasi-pelaporan pelaksanaan pembangunan daerah yang didukung kajian teknokratis serta dipublikasikan Tingkat kapasitas dan kompetensi Dasar, Teknis, dan Operasional Aparatur Perencanaan Pembangunan Daerah 175 176 177 178 179 180 181 Tingkat peranserta/partisipasi kelompok masyarakat sebagai pemangku kepentingan pembangunan daerah Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana prasarana pendidikan PAUD yang layak dan memadai Tingkat ketersedian sarana prasarana kebutuhan Pendidikan Dasar yang layak dan memadai Tingkat ketersedian sarana prasarana kebutuhan Pendidikan Menengah yang layak dan memadai Partisipasi Anak Bersekolah (PAB) SD/MI Partisipasi anak Bersekolah (PAB) SMP/MTs Partisipasi Anak Bersekolah (PAB) SMA/MA Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B Angka Partisipasi Murni (APM) SMA/SMK/MA/Paket C Tingkat ketersediaan dan kelengkapan Sarana dan Prasarana untuk guru, kepala (%) 40,39 40,39 100,00 (%) 50,00 50,00 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) 40,00 40,00 100,00 (%) 40,00 40,00 100,00 (%) 40,00 40,00 100,00 (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun 93,81 112,20 119,60 96,90 84,03 86,72 76,99 98,86 128,41 88,93 94,65 106,43 65,13 75,22 115,49 78,48 80,47 102,54 (%) 40,00 40,00 100,00 3-35
Indikator Kinerja Sasaran Strategis Uraian Satuan Target Realisasi % 1 2 3 4 5 6 sekolah, dan staf kependidikan lainnya dalam satuan pendidikan dasar Sasaran 38: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan saranaprasarana kesehatan yang layak dan memadai 182 183 184 185 186 187 188 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan Sarana dan Prasarana untuk guru, kepala sekolah, dan staf kependidikan lainnya dalam satuan pendidikan menengah Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana dan prasarana kesenian dan kebudayaan daerah Sasaran 39: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan penyediaan sarana-prasarana 189 190 191 192 193 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana dan prasarana pepustakaan daerah Cakupan perpustakaan dan taman bacaan di setiap kecamatan Persentase puskesmas, puskesmas pembantu dan jaringannya dengan kondisi sarana dan prasarana memadai Cakupan Ketersediaan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di setiap RW Cakupan Ketersediaan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu di setiap Kecamatan Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per 1.000 penduduk Tingkat ketersediaan sarana prasarana kesehatan di Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru- Paru/Rumah Sakit Mata yang layak dan memadai Tingkat pemeliharaan sarana prasarana kesehatan di Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru- Paru/Rumah Sakit Mata yang layak dan memadai Persentase kondisi jalan kota yang baik dan sedang Persentase keterhubungan pusat-pusat kegiatan dan (%) 40,00 40,00 100,00 (%) 68,75 66,67 96,97 (%) 39,56 39,56 100,00 buah/ kecamata n (%) per tahun posyandu/ RW puskesma s/ kecamata n buah/1000 penduduk 24,00 24,00 100,00 100,00 100,00 100,00 1,06 1,09 102,52 1,92 3,00 156,00 0,04 0,04 100,00 (%) 41,18 34,12 82,86 (%) 35,71 35,71 100,00 (%) 98,01 98,01 100,00 (%) 93,96 96,96 103,19 3-36
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Uraian Satuan Target Realisasi % 1 2 3 4 5 6 kebinamargaan, dan pusat-pusat produksi di keciptakaryaan daerah wilayah kota yang layak dan memadai Persentase cakupan 194 pelayanan sistem drainase perkotaan (%) 20,00 38,27 191,35 Sasaran 40: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan penyediaan perlengkapan sarana-prasarana transportasi dan kelalulintasan yang layak, memadai, dan terpadu 195 196 197 198 199 200 201 Tingkat pengurangan luas genangan Tingkat pembangunan turap di wilayah aliran sungai yang rawan longsor lingkup kewenangan kota Sasaran 41: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan ketersediaan sarana dan prasarana Perekonomian 202 203 204 205 206 207 Tingkat ketersediaan angkutan umum yang melayani wilayah kota yang telah tersedia jaringan jalan Tingkat ketersediaan angkutan umum yang melayani jaringan trayek penghubung antar wilayah Tingkat ketersediaan koridor angkutan umum massal Tingkat dokumen angkutan ketersediaan perencanaan Tingkat Ketersediaan Prasarana Angkutan yang terpelihara Tingkat ketersediaan sarana dan prasarana perhubungan Tingkat ketersediaan fasilitas perleng-kapan jalan (rambu, marka, dan guardrill) pada jalan di wilayah kota Tingkat ketersediaan fasilitas Penerangan Jalan Umum (PJU) pada berbagai jenis jalan di wilayah kota Tingkat ketersediaan unit pengujian kendaraan bermotor Tingkat ketersediaan standar keselarnatan bagi angkutan urnurn yang rnelayani trayek di dalarn Kota Persentase panti sosial skala kota yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial (%) 43,28 43,28 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) 40,00 40,00 100,00 (%) 25,00 25,00 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 (%) 47,62 47,62 100,00 (%) 17,31 17,31 100,00 (%) 41,79 41,79 100,00 (%) 40,00 40,00 100,00 (%) 63,68 62,09 97,50 buah/ 4.000 21,50 21,50 100,00 (%) 32,51 32,51 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 3-37
Indikator Kinerja Sasaran Strategis Uraian Satuan Target Realisasi % 1 2 3 4 5 6 dan Sosial- Persentase wahana Kemasyarakatan yang kesejahteraan sosial berbasis layak dan memadai masyarakat (WKBSM) yang 208 (%) 51,83 51,83 100,00 menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial Sasaran 42: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana perkantoran pemerintahan daerah yang layak dan memadai 209 210 211 212 213 214 215 216 Tingkat Pengembangan Balai Latihan Kerja Daerah Cakupan ketersediaan pasar tradisional daerah di setiap kecamatan Sasaran 43: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Transportasi serta Manajemen dan Rekayasa Lalulintas yang modern dan terpadu yang didukung oleh teknologi informasi yang canggih dan memadai 217 218 219 Tingkat pembinaan pasar/toko modern dan pasar tradisional daerah Cakupan gedung olahraga di setiap kecamatan Tingkat Ketersediaan Panti Asuhan/Panti Jompo Cakupan ketersediaan Poskamling di setiap RW Tingkat ketersediaan sarana dan prasarana aparatur yang memadai Tingkat ketersediaan pelayanan jasa rehabilitasi sarana dan prasarana aparatur Tingkat ketersediaan pelayanan pengendalian kinerja simpang dan ruas jalan dengan Sistem ATCS (Area Traffic Control System) Tingkat ketersediaan prasarana penunjang pengendalian simpang dan ruas jalan dalam kondisi baik Tingkat ketersediaan perencanaan sarana dan prasarana penunjang pengendalian simpang dan ruas jalan (%) per tahun pasar/ kecamata n 100,00 100,00 100,00 2,38 2,38 100,00 (%) 24,00 24,00 100,00 gedung/ kecamata n (%) per tahun poskamlin g/ RW (%) per tahun (%) per tahun 1,46 1,46 100,00 100,00 100,00 100,00 1,23 1,23 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 40,00 40,00 100,00 (%) 50,00 50,00 100,00 (%) 50,00 50,00 100,00 3-38
MISI 5 : Mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman Sasaran Strategis Sasaran 44: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya mitigasi, pencegahan, pengendalian, dan penanganan bencana serta upaya peminimalan dampak bencana Indikator Kinerja Uraian Satuan Target Realisasi % 1 2 3 4 5 6 Sasaran 45: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kualitas lingkungan perumahan dan permukiman penduduk yang bersih, sehat, aman, dan nyaman 220 221 222 223 224 225 226 Cakupan pelayanan bencana kebakaran Persentase Aparatur Pemadam Kebakaran Yang Memenuhi Standar Kualifikasi 227 228 229 230 231 232 233 234 Tingkat penanganan wilayah/lokasi banjir Tingkat koordinasi penanggulangan bencana Tingkat penanganan korban bencana Cakupan Kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi < 24 jam Cakupan kelurahan Universal Child Immunization (UCI) Prevalensi balita gizi kurang (BB/U) Presentase balita gizi buruk (BB/TB) Persentase tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan Presentase Sarana Industri Rumah Tangga Pangan yang Memenuhi Syarat kesehatan Persentase permukiman perkotaan penanganan kumuh Cakupan ketersediaan rumah layak huni dan terjangkau bagi penduduk Tingkat waktu tanggap (response time rate) daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) Tingkat Ketersediaan mobil pemadam kebakaran di Atas 3.000-5.000 liter pada Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) (%) 80,00 39,69 49,61 (%) 85,00 91,08 107,15 (%) 38,71 38,71 100,00 (%) per tahun (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 100,00 100,00 100,00 (%) 100,00 100,00 100,00 (%) 9,57 6,58 68,76 (%) 0,11 0,16 147,69 (%) 72,00 81,25 112,85 (%) 88,89 83,33 93,75 (%) 40,00 72,00 180,00 (%) 17,40 19,55 112,35 (%) 75,00 52,34 69,79 (%) 92,00 117,65 127,88 3-39
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Uraian Satuan Target Realisasi % 1 2 3 4 5 6 Sasaran 46: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Penataan dan Pengelolaan Ruang Wilayah Perkotaan 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 Tingkat pemanfaatan Poskamling di setiap RT Rasio Tempat Pemakaman Umum (TPU) per satuan penduduk Tingkat Tersedianya air baku untuk memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari-hari Persentase penduduk yang mendapatkan akses air minum yang aman 245 246 247 248 249 Persentase penduduk yang terlayani sistem air limbah yang memadai Tingkat penyelenggaraan pengawasan terhadap bangunan gedung (pemerintah dan umum) Tingkat ketersediaan data mengenai pemanfaatan bangunan gedung Tingkat ketersediaan perangkat kebijakan perencanaan tata ruang kota Persentase Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik/Perkotaan Tingkat sosialisasi regulasi tentang Rencana Tata Ruang Kota Tingkat perangkat pengendalian ruang kota ketersediaan kebijakan pemanfaatan Tingkat penyelenggaraan pengendalian pemanfaatan ruang Tingkat ketersediaan data mengenai pemanfaatan ruang kota Tingkat ketersediaan regulasi penataan bangunan dan lingkungan Tingkat ketersediaan, publikasi, dan pengembangan Sistem Informasi Pembina Jasa Konstruksi (SIPJK) (%) per tahun m2/ 100 penduduk 100,00 100,00 100,00 24,05 23,55 97,92 (%) 60,00 60,00 100,00 (%) 64,60 32,20 49,85 (%) 2,86 11,68 408,27 (%) 25,00 25,00 100,00 (%) 40,00 40,00 100,00 (%) 20,69 3,45 16,68 (%) 28,24 8,85 31,34 (%) 77,78 77,78 100,00 (%) 16,67 16,67 100,00 (%) 30,77 30,77 100,00 (%) 25,00 25,00 100,00 (%) 36,84 10,53 28,58 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 3-40
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Uraian Satuan Target Realisasi % 1 2 3 4 5 6 Sasaran 47: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pembangunan Ekologis (sosial, lingkungan, ekonomi) yang berorientasi pada peningkatan kualitas dan daya dukung lingkungan perkotaan 250 251 252 253 254 Persentase usaha dan/atau kegiatan yang mentaati persyaratan administrasi dan teknis pencegahan pencemaran air Persentase jumlah usaha dan/atau kegiatan sumber tidak bergerak yang memenuhi persyaratan administratif dan teknis pencegahan pencemaran udara 255 256 257 Persentase pengaduan masyarakat akibat adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang ditindaklanjuti Cakupan pemantauan Kualitas air sungai, Air Tanah dan Situ, serta kualitas udara dan kebisingan Persentase pengurangan sampah di perkotaan Persentase sampah Persentase TPA pengangkutan pengoperasian Tingkat pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik/Perkotaan di wilayah perkotaan (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 38,62 27,27 70,60 (%) 14,24 17,99 126,31 (%) 75,00 75,00 100,00 (%) 50,00 60,00 120,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 3.4 EVALUASI PENCAPAIAN SASARAN DAN PENGUKURAN KINERJA Secara umum Pemerintah Kota Tangerang telah dapat melaksanakan tugas dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam RPJMD Kota Tangerang Tahun 2014-2018. Sebanyak 47 (empat puluh tujuh) sasaran yang telah ditetapkan pada Tahun Anggaran 2015 sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Kota Tangerang Nomor 10 Tahun 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Tangerang Tahun 2014-2018, memiliki indikator sasaran sebanyak 257 (dua ratus lima puluh tujuh) indikator sasaran terdiri dari 47 indikator 3-41
untuk Misi 1, 40 indikator untuk Misi 2, 78 indikator untuk Misi 3, 54 indikator untuk Misi 4 dan 38 indikator untuk Misi 5. Adapun ketercapaian indikator kinerja sasaran dirinci dalam matrik sebagai berikut : Tabel 3.17. Ketercapaian Indikator Sasaran Terhadap Target Tahun 2015 No. Sasaran Jumlah Indikator Ketercapaian Target (%) Keterangan Misi 1. Mewujudkan Tata Pemerintahan Yang Baik, Akuntabel, Dan Transparan, Didukung Dengan Struktur Birokrasi Yang Berintegras, Kompenten, Dan Profesional 1 2 3 4 5 6 7 8 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan system pendaftaran, penguasaan, pemilikan, penggunaan, pemanfaatan, dan penyelesaian konflik pertanahan. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan system administrasi kependudukan dan pencatatan sipil daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sisitem Manajemen Kepemerintahan dan Keadministrasian Umum, serta Kesejahteraan Masyarakat yang Responsif, Koordinatif, Integratif, Sederhana, dan Sinergis. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Keuangan dan Aset Daerah secara Transparan dan Akuntabel Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pengawasan Pembangunan Daerah. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Kepegawaian Daerah. Terwujudnya Aparatur Pemerintah Daerah yang Cerdas, Bermoral, Inovatif, dan Profesional. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pemenuhan 3 33,33 5 0,00 4 100,00 4 100,00 4 100,00 2 50,00 7 85,71 2 100,00 1 indikator mencapai 100% atau lebih dan 2 indikator targetnya nol Tidak ada indikator mencapai 100% atau lebih 4 indikator mencapai 100% atau lebih 4 indikator mencapai 100% atau lebih 4 indikator mencapai 100% atau lebih 1 indikator mencapai 100% atau lebih dan I indikator capaiannya 0% 6 indikator mencapai 100% atau lebih dan 1 indikator capaiannya 0% 2 indikator mencapai 100% atau lebih 3-42
No. 9 10 11 12 13 14 15 Misi 2. 16 17 Sasaran peralatan dan perlengkapan keadministrasian perkantoran Terwujudnya pemantapan dan pengembangan kemitraan dan kerjasama yang proporsional dan profesional antara Eksekutif dengan Legislatif untuk menghasilkan Peraturan Daerah Tewujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen Data/Informasi Pembangunan Daerah. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan berbagai kajian, penelitian dan inovasi pemb. Daerah. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kearsipan daerah. Jumlah Indikator Ketercapaian Target (%) 2 0,00 1 100,00 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sitem Informasi dan Komunikasi Daerah. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pelayanan aparatur pemerintah daerah secara professional, cepat, tepat, akurat dengan berbasis pada teknologi informasi yang efektif dan efisien Terwujudnya pemantapan & pengembangan sistem informasi dan aplikasi penyelenggaran pemerintah daerah yang terintegrasi, terstandarisasi, serta memadai 1 100,00 6 50,00 3 100,00 1 100,00 2 100,00 Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Yang Berdaya Saing Tinggi Terwujudnya pemantapan dan pengembagan keberdayaan sector UMKM dan koperasi sebagai pendukung kegiatan ekonomi daerah berbasis sumberdaya lokal Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Investasi Daerah yang transparan serta didukung oleh iklim investasi yang kondusif. 4 100,00 8 100,00 Keterangan Tidak ada indikator mencapai 100% atau lebih 1 indikator mencapai 100% atau lebih 1 indikator mencapai 100% atau lebih 3 indikator mencapai 100% atau lebih dan 3 indikator capaiannya 0% 3 indikator mencapai 100% atau lebih 1 indikator mencapai 100% atau lebih 2 indikator mencapai 100% atau lebih 4 indikator mencapai 100% atau lebih 8 indikator mencapai 100% atau lebih 3-43
No. 18 19 20 21 22 23 Sasaran Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem ketahanan Pangan Daerah yang meliputi Ketersediaan, Distribusi, Konsumsi, Kewaspadaan, dan Kemasyarakataan Terwujudnya pemantapan dan pengembangan agribisnis serta budidaya pertanian dan pertenakan yang berorientasi pada intensifikasi pertanian. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Kepariwisataan Daerah. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan intensifikasi budidaya perikanan darat. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perdagangan Daerah dan peningkatan perlindungan konsumen. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perindustrian Daerah dan peningkatan kapasitas industri kecil dan menengah. Jumlah Indikator Ketercapaian Target (%) 9 66,67 5 80,00 4 66,67 3 100,00 3 100,00 4 100,00 Keterangan 6 indikator mencapai 100% atau lebih 4 indikator mencapai 100% atau lebih 2 indikator mencapai 100% atau lebih dan 1 indikator targetnya nol 3 indikator mencapai 100% atau lebih 3 indikator mencapai 100% atau lebih 4 indikator mencapai 100% atau lebih Misi 3. Mengembangkan Kualitas Pendidikan, Kesehatan, Dan Kesejahteraan Sosial Demi Terwujudnya Masyarakat Yang Berdaya Saing Di Era Globalisasi 24 Terwujudnya Pemantapan dan Pengembangan Sistem Pendidikan Daerah yang Mengacu pada Sistem Pendidikan Nasional, dan Berbasis Kompetensi, Serta Berosientasi pada Kebutuhan Kerja 9 77,78 7 indikator mencapai 100% atau lebih 25 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Pelayanan dan Akses Kesehatan yang berkualitas dan terjangkau. 11 90,91 10 indikator mencapai 100% atau lebih 26 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya pemberdayaan dan perlindungan anak yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan keluarga 11 45,45 5 indikator mencapai 100% atau lebih 3-44
No. 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Sasaran Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap norma keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan perlindungan kesejahteraan socialmasyarakat. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan ketenagakerjaan daerah yang berbasis keahlian serta berorientasi pada penciptaan dan perluasan lapangan pekerjaan. Terwujudnya pemantapan dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan kebudayaan daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kepemudaan dan Keolahragaan Daerah yang mandiri dan berprestasi. Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesatuan, kebangsaan, dan kepolitikan. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem penegakan peraturan daerah yang manusiawi dan berkeadilan Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem keberdayaan Masyarakat yang berbasis pada kebutuhan dasar dan berorientasi padapeningkatan kesejahteraan masyarakat. Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran dan kegemaran membaca masyarakat. Jumlah Indikator Ketercapaian Target (%) 12 81,82 6 20,00 7 57,14 4 100,00 4 100,00 4 100,00 3 66,67 2 50,00 5 40,00 Misi 4 : Meningkatkan Pembangunan Sarana Perkotaan Yang Memadai Dan Berkualitas 36 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem perencanaan-penganggaran, pengendalian, dan evaluasi. Pelaporan yang partisipatif, koordinatif, dan integrative, serta 6 100,00 Keterangan 9 indikator mencapai 100% atau lebih dan 1 indikator targetnya nol 1 indikator mencapai 100% atau lebih dan 1 indikator targetnya nol 4 indikator mencapai 100% atau lebih 2 indikator mencapai 100% atau lebih dan 2 indikator targetnya nol 4 indikator mencapai 100% atau lebih 4 indikator mencapai 100% atau lebih 2 indikator mencapai 100% atau lebih 1 indikator mencapai 100% atau lebih 2 indikator mencapai 100% atau lebih 6 indikator mencapai 100% atau lebih 3-45
No. 37 38 39 40 41 42 43 Sasaran berbasisis data/ informasi dan berorintasi pada sektoral dan kewilayahan. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem transportasi serta Manajemen dan Rekayasa Lalulintas yang modern dan terpadu yang didukung oleh teknologi informasi yang canggih dan memadai Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan sarana-prasarana kesehatan yang layak dan memadai. Terwujudnya pemantapan dan Peningkatan pelayanan dan penyediaan sarana-prasarana kebinamargaan, dan keciptakaryaan daerah yang layak dan memadai Terwujudnya pemantapan dan pengembangan penyediaan perlengkapan sarana dan prasarana transportasi dan kelalulintasan yang layak, memadai, dan terpadu Terwujudnya pemantapan dan pengembangan ketersediaan sarana dan prasarana perekonomian dan social kemasyarakatan yang layak dan memadai Jumlah Indikator Ketercapaian Target (%) 14 85,71 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana perkantoran,pemerintah daerah yang layak dan memadai. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem transportasi serta Manajemen dan Rekayasa Lalulintas yang modern dan terpadu yang didukung oleh teknologi informasi yang canggih dan memadai 6 83,33 5 100,00 10 90,00 8 87,50,00 2 100,00 3 100,00 Keterangan 12 indikator mencapai 100% atau lebih dan 2 indikator capaiannya 0% 5 indikator mencapai 100% atau lebih dan 1 indikator capaiannya 0% 5 indikator mencapai 100% atau lebih 9 indikator mencapai 100% atau lebih dan 1 indikator capaiannya 0% 7 indikator mencapai 100% atau lebih dan 1 indikator targetnya nol 2 indikator mencapai 100% atau lebih 3 indikator mencapai 100% atau lebih 3-46
Misi 5. Mewujudkan Pembangunan Yang Berkelanjutan Dan Berwawasan Lingkungan Yang Bersih, Sehat, Nyaman 44 45 46 47 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya mitigasi, pencegahan, pengendalian bencana serta upaya perminimalan dampak bencana. Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kualitas lingkungan perumahan dan pemukiman penduduk yang bersih, sehat, aman, dan nyaman Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sitem Penataan dan Pengelolaan Ruang Wilayah Perkotaan. 5 60,00 15 73,33 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sitem Pembangunan Ekologis (Sosial, Lingkungan, Ekonomi) yang berorientasi pada peningkatan kualitas dan daya dukung lingkungan perkotaan. 10 90,00 8 100,00 3 indikator mencapai 100% atau lebih dan 2 indikator capaiannya 0% 11 indikator mencapai 100% atau lebih dan 4 indikator capaiannya 0% 9 indikator mencapai 100% atau lebih dan 1 indikator capaiannya 0% 8 indikator mencapai 100% atau lebih Selanjutnya pengukuran kinerja terhadap indikator kinerja yang telah dicapai pada Tahun 2015 yang membandingkan antara target dan realisasi pada indikator sasaran adalah sebagai berikut : 3.4.1 SASARAN 1 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan system pendaftaran, penguasaan, pemilikan, penggunaan, pemanfaatan, dan penyelesaian konflik pertanahan. 3-47
Pencapaian sasaran 1 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.18. Evaluasi Pencapaian Sasaran 1 No Indikator Sasaran Satuan 1 2 3 Tingkat pelaksanaan fasilitasi pengadaan tanah Tingkat pelaksanaan fasilitasi pengaduan sengketa tanah Tingkat ketersediaan sistem informasi tanah milik pemda Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % % per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 120,00 120,00 % per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 % per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Berdasarkan hasil evaluasi terhadap sasaran tersebut di atas, diperoleh gambaran bahwa dari 3 (tiga) indikator sasaran yang ditetapkan menghasilkan seluruh capaian kinerja 3 (tiga) indikator di atas 90% atau bermakna sangat tinggi. Apabila dibandingkan antara capaian kinerja tahun 2014 dengan capaian kinerja tahun 2015 bahwa tiga indikator sasaran telah memenuhi target. Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut : Tingkat Pelaksanaan Fasilitasi Pengadaan Tanah Dengan ditetapkannya Undang-undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum beserta Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum dan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 2012 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengadaan Tanah, maka dalam pelaksanaan pengadaan tanah untuk kepentingan umum. Karena tahap perencanaan pengadaan tanah sampai dengan penganggarannya dilaksanakan oleh OPD yang membutuhkan tanah, tahap pelaksanaan diselenggarakan oleh BPN dan tahap penyerahan hasil diselenggarakan oleh DPKD. Target indikator sebesar 100% pada Tahun 2015 tidak dapat direalisasikan sepenuhnya. Fasilitasi pengadaan tanah yang dapat dilaksanakan melalui Kegiatan Ganti Rugi Tanah dan Bangunan, dari yang direncanakan 240.300 m2 yang dapat direalisasikan hanya 33.797 m2 (14,06%). Permasalahan yang dihadapi adalah masih banyak warga yang keberatan dengan harga yang dihasilkan oleh appraisal. Yang dapat direalisasikan adalah pembayaran ganti rugi kepada masyarakat yang dapat menerima hasil appraisal. 3-48
Tingkat Pelaksanaan Fasilitasi Pengaduan Sengketa Tanah Fasilitasi pengaduan sengketa yang dilaksanakan oleh Bagian Pemerintahan Sekretariat Daerah dalam bentuk penyediaan dana untuk ganti rugi tanah berdasarkan keputusan pengadilan. Pada Tahun 2015 terdapat kasus dimaksud namun masih dalam proses di pengadilan, sehingga target indikator pada Tahun 2015 belum dapat direalisasikan. Semula direncanakan kegiatan Fasilitasi Konflik Pertanahan berupa penyediaan dana ganti rugi tanah yang disengketakan di pengadilan, yaitu tanah TPA dan SMPN 15. Namun sampai dengan triwulan ketiga belum ada kepastian mengenai keputusan pengadilan terhadap sengketa tersebut. Tingkat Ketersediaan Sistem Informasi Tanah Milik Pemda Informasi tanah milik Pemda semula direncanakan di Tahun 2014 dalam bentuk kegiatan inventarisasi tanah milik Pemda. Namun karena terdapat tumpang tindih kewenangan dan atau tugas pokok dan fungsi dengan DPKD, kegiatan ini tidak dilaksanakan, sehingga target indikator Tahun 2015 belum dapat direalisasikan. Pemenuhan indikator ini diupayakan melalui Kegiatan Inventarisasi Tanah Aset Pemda. Kegiatan ini dilaksanakan oleh DPKD. Realisasi akumulasi capaian sasaran sampai dengan tahun ini dibandingkan dengan rencana yang tercantum dalam RPJMD dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 3.19. Perbandingan Antara Capaian Sasaran sampai Tahun 2015 dan Rencana pada RPJMD Kota Tangerang No Indikator Sasaran Satuan 1 2 3 Tingkat pelaksanaan fasilitasi pengadaan tanah Tingkat pelaksanaan fasilitasi pengaduan sengketa tanah Tingkat ketersediaan sistem informasi tanah milik pemda Realisasi Akumulasi s.d. thaun 2015 Rencana sesuai dengan RPJMD tahun 2018 Persentase Capaian Kinerja (%) % per tahun 100,00 100,00 100,00 % per tahun 100,00 100,00 100,00 % per tahun 100,00 100,00 100,00 3-49
3.4.2 SASARAN 2 Pencapaian sasaran 2 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Tabel 3.20. Evaluasi Pencapaian Sasaran 2 No Indikator Sasaran Satuan Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % 1 Persentase Penduduk ber-ktp (%) 99,50 95,68 96,16 99,65 75,09 75,36 2 3 4 5 Terselenggaranya Pemerintahan yang berdasarkan pada Perencanaan Persentase Keluarga mempunyai Kartu Keluarga Persentase Bayi Ber-Akta Kelahiran Persentase Penduduk meninggal dunia Ber-Akta Kematian Persentase Pasangan Suami-Isteri Ber-Akta Nikah Pembangunan yang Inovatif (%) 81,65 75,56 92,54 85,89 78,34 91,21 (%) 20,99 18,85 89,80 52,10 48,11 92,34 (%) 81,65 77,35 94,73 85,89 69,54 80,96 (%) 15,24 12,48 81,89 36,49 33,65 92,22 Pencapaian indikator sasaran 2 ini, antara lain realisasi untuk Rasio penduduk ber KTP tercapai 77,35%. Keluarga mempunyai KK tercapai 78,34%. Bayi ber Akta Kelahiran tercapai 48,11%. Penduduk meninggal dunia ber Akta Kematian tercapai 69,54%. Pasangan suami-istri ber Akta Nikah tercapai 33,65%. Kelima indikator ini semuanya belum mencapai target. Adapun beberapa kendala dan hambatan dalam pencapaian target indikator kinerja ini diantaranya : 1. Jaringan SIAK yang sering mengalami kerusakan; 2. Masih kurangnya SDM yang professional di bidang IT; 3. Data base penduduk yang belum valid dan akurat, karena masyarakat belum memproses data penduduk secara rutin ketika data berubah sehingga data base statis; 4. Pelaporan kependudukan dari kecamatan sering terlambat sehingga apabila dibutuhkan data bulan tertentu sering menggunakan data bulan sebelumnya; 5. Tingginya arus urbanisasi dan mobilitas penduduk pendatang; 6. Belum maksimalnya sanksi yang tegas bagi para pelanggar ketentuan administrasi kependudukan, 3-50
Realisasi akumulasi capaian sasaran sampai dengan tahun ini dibandingkan dengan rencana yang tercantum dalam RPJMD dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 3.21. Perbandingan Antara Capaian Sasaran sampai Tahun 2015 dan Rencana pada RPJMD Kota Tangerang No Indikator Sasaran Satuan Realisasi Akumulasi s.d. tahun 2015 Rencana sesuai dengan RPJMD tahun 2018 Persentase Capaian Kinerja (%) 1 Persentase Penduduk ber-ktp (%) 75,09 100,00 75,09 2 Persentase Keluarga mempunyai Kartu Keluarga (%) 78,34 100,00 78,34 3 Persentase Bayi Ber-Akta Kelahiran (%) 48,11 100,00 48,11 4 5 Persentase Penduduk meninggal dunia Ber- Akta Kematian Persentase Pasangan Suami-Isteri Ber-Akta Nikah (%) 69,54 100,00 69,54 (%) 33,65 100,00 33,65 3.4.3 SASARAN 3 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sisitem Manajemen Kepemerintahan dan Keadministrasian Umum, serta Kesejahteraan Masyarakat yang Responsif, Koordinatif, Integratif, Sederhana, dan Sinergis Tabel 3.22. Evaluasi Pencapaian Sasaran 3 No Indikator Sasaran Satuan 1 2 3 4 Tingkat penataan peraturan daerah dan peraturan kepala daerah Tingkat kelengkapan kelembagaan dan penataan keorganisasian SKPD Tingkat koordinasi dan kerjasama dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah lainnya Tingkat kesesuaian formasi jabatan SKPD Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 20,00 20,00 100,00 40,00 40,00 100,00 (%) 59,00 59,00 100,00 59,00 59,00 100,00 (%) 17,74 17,74 100,00 36,54 37,01 101,28 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 3-51
Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut : Tingkat penataan peraturan daerah dan peraturan kepala daerah Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 2 kegiatan yaitu : Program/ Kegiatan Alokasi Anggaran (Rp) Realisasi Anggaran (Rp) % Capaian 1 Penataan Peraturan Perundangundangan - Kajian Peraturan Perundangundangan Daerah Terhadap Peraturan Perundang-undangan Yang Baru, Lebih Tinggi dari Keserasian Antar Peraturan Perundang-undangan Daerah - Peningkatan Penataan dan Pengelolaan Dokumentasi Produk Hukum 150.000.000,- 350.000.000,- 132.280.000,- 332.526.000,- 88.19 95.01 Tingkat kelengkapan kelembagaan dan penataan keorganisasian OPD Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan1 kegiatan yaitu : Program/ Kegiatan Alokasi Anggaran (Rp) Realisasi Anggaran (Rp) % Capaian 1 Penataan Daerah Otonomi Baru - Penataan Kelembagaan Pemerintah Daerah 1.419.954.000,- 1.380.974.000,- 97.25 Tingkat koordinasi dan kerjasama dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah lainnya Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 2 program dengan 2 kegiatan yaitu : Program/ Kegiatan Alokasi Anggaran (Rp) Realisasi Anggaran (Rp) % Capaian 1 Peningkatan Pelayanan Kedinasan Kepala Daerah/ Wakil Kepala Daerah - Koordinasi dengan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Lainnya 439.132.000,- 313.710.800,- 71.44 3-52
2 Program/ Kegiatan Program Peningkatan Sistem Pengawasan Internal dan Pengendalian Pelaksanaan Kebijakan KDH - Fasilitasi Pengendalian dan Evaluasi Kebijakan Kepala Daerah Alokasi Anggaran (Rp) Realisasi Anggaran (Rp) % Capaian 598.510.000,- 524.578.816,- 87.65 Tingkat kesesuaian formasi jabatan SKPD Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 2 kegiatan yaitu : Program/ Kegiatan Alokasi Anggaran (Rp) Realisasi Anggaran (Rp) % Capaian 1 Peningkatan Sistem Pengawasan Internal dan Pengendalian Pelaksanaan Kebijakan KDH - Analisis Formasi dan Syarat Jabatan RSUD dan Setwan - Analisis Beban Kerja RSUD dan Setwan 211.049.950,- 255.799.500,- 181.399.950,- 217.849.500,- 85.95 85.16 3.4.4 SASARAN 4 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Keuangan dan Aset Daerah secara Transparan dan Akuntabel Pencapaian sasaran 4 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.23. Evaluasi Pencapaian Sasaran 4 No Indikator Sasaran Satuan 1 2 3 Tingkat ketersediaan pelaporan kinerja dan keuangan SKPD Tingkat ketersediaan dokumen dan sistem pengelolaan keuangan daerah Tingkat ketersediaan dokumen dan sistem pengelolaan aset Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 20,00 20,00 100,00 40,00 40,00 100,00 (%) 20,13 20,13 100,00 40,93 40,93 100,00 (%) 14,07 14,07 100,00 36,68 36,68 99,99 3-53
4 Tingkat kenaikan pendapatan daerah (%) 13,69 17,07 124,69 6,63 16,82 253,79 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut : Tingkat ketersediaan dokumen dan sistem pengelolaan keuangan daerah Untuk mendukung pencapaian target indikator sasaran ini dilaksanakan Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah. Pada Tahun 2015 dilaksanakan dengan 26 kegiatan, dengan capaian masing-masing kegiatan sebagai berikut : 1. Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD, dianggarkan sebesar Rp. 233.530.000,00 terealisasi sebesar Rp. 132.600.000,00 atau 56,78%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 2. Penyusunan Rancangan Peraturan KDH tentang Penjabaran APBD, dianggarkan sebesar Rp. 49.830.000,00 terealisasi sebesar Rp. 32.700.000,00 atau 65,62%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 3. Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD, dianggarkan sebesar Rp. 227.530.000,00 terealisasi sebesar Rp. 178.180.000,00 atau 78,31%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 4. Penyusunan Rancangan Peraturan KDH tentang Penjabaran Perubahan APBD, dianggarkan sebesar Rp. 49.110.000,00 terealisasi sebesar Rp. 41.160.000,00 atau 83,81%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 5. Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD, dianggarkan sebesar Rp. 244.900.000,00 terealisasi sebesar Rp. 222.826.000,00 atau 90,99%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 6. Penyusunan Rancangan Peraturan KDH tentang Penjabaran Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD, dianggarkan sebesar Rp. 88.055.000,00 terealisasi sebesar Rp. 82.055.000,00 atau 93,19%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 7. Penyelenggaraan Pengelolaan Kas Umum Daerah Kota Tangerang, dianggarkan sebesar Rp. 216.070.000,00 terealisasi sebesar Rp. 179.400.000,00 atau 83,03%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 8. Penelitian RKA dan DPA SKPD, dianggarkan sebesar Rp1.155.500.800,00 terealisasi sebesar Rp960.165.000,00 atau 83,10%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 3-54
9. Pengendalian dan Pengelolaan Data Belanja Daerah, dianggarkan sebesar Rp. 219.752.500,00 terealisasi sebesar Rp, 179.352.500,00 atau 81,62%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 10. Pembinaan Bendahara Barang, dianggarkan sebesar Rp. 140.975.000,00 terealsiasi sebesar Rp. 89.093.750,00 atau 63,20%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 11. Penyusunan Laporan Keuangan Semesteran Daerah (SKPKD), dianggarkan sebesar Rp. 62.150.000,00 terealisasi sebesar Rp. 55.950.000,00 atau 90,02%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 12. Penyusunan Laporan Prognosis Realisasi Anggaran Kota Tangerang (SKPKD), dianggarkan sebesar Rp. 32.400.000,00 terealisasi sebesar Rp32.400.000,00 atau 100,00%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 13. Penyusunan Laporan Keuangan Akhir Tahun Daerah (SKPKD), dianggarkan sebesar Rp. 283.950.000,00 terealisasi sebesar Rp. 174.731.500,00 atau 61,54%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 14. Pengendalian Anggaran, dianggarkan sebesar Rp. 197.632.500,00 terealisasi sebesar Rp. 126.175.000,00 atau 63,84%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 15. Penyimpanan dan Perawatan serta Pengelolaan Arsip SKPD, dianggarkan sebesar Rp. 40.231.250,00 terealisasi sebesar Rp. 40.231.250,00 atau 100,00%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 16. Pemeliharaan Sistem Penatausahaan dan Akuntasi, dianggarkan sebesar Rp. 641.125.000,00 terealisasi sebesar Rp. 623.625.000,00 atau 97,27%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 17. Pembinaan Pelaksanaan Penatausahaan dan Akuntansi SKPD, dianggarkan sebesar Rp. 313.830.000,00 terealisasi sebesar Rp. 240.730.000,00 atau 76,71%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 18. Penyusunan Laporan Evaluasi Realisasi Keuangan Bulanan Kota Tangerang, dianggarkan sebesar Rp. 305.650.000,00 terealisasi sebesar Rp. 277.740.000,00 atau 90,87%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 19. Evaluasi Pelaksanaan Pengelolaan Keuangan Daerah, dianggarkansebesar Rp. 347.700.000,00 terealisasi sebesar Rp. 337.625.740,00 atau 97,10%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 3-55
20. Penyusunan Rancangan Perwal tentang Pedoman Penyusunan APBD, dianggarkan sebesar Rp. 124.380.000,00 terealisasi sebesar Rp. 124.120.000,00 atau 99,79%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 21. Sewa Jaringan Sistem Informasi DPKD, dianggarkan sebesar Rp. 1.030.391.865,00 terealisasi sebesar Rp. 1.022.391.865,00 atau 99,22%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 22. Penyusunan Aplikasi Manajemen Piutang, dianggarkan sebesar Rp. 72.450.000,00 terealisasi sebesar Rp. 65.110.000,00 atau 89,87%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 23. Penyusunan Aplikasi Gaji PNS, dianggarkan sebesar Rp. 72.400.000,00 terealisasi sebesar Rp. 66.760.000,00 atau 92,21%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 24. Pembangunan Network Access Storage, dianggarkan sebesar Rp. 179.840.000,00 terealisasi sebesar Rp. 173.000.000,00 atau 96,20%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 25. Evaluasi Laporan Keuangan SKPD, dianggarkan sebesar Rp. 217.115.000,00 terealisasi sebesar Rp. 210.750.000,00 atau 97,07%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 26. Pemeliharaan SIPKD, dianggarkan sebesar Rp. 66.450.000,00 terealisasi sebesar Rp. 63.140.000,00 atau 95,02%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%. Tingkat ketersediaan dokumen dan sistem pengelolaan aset Untuk mendukung pencapaian target sasaran ini dilaksanakan Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah. Pada Tahun 2015 dilaksanakan dengan 9 kegiatan, dengan capaian masing-masing kegiatan sebagai berikut : 1. Penghapusan Penjualan dan Pemindahtanganan Barang Daerah, dianggarkan sebesar Rp. 754.740.000,00 terealisasi sebesar Rp. 585.425.000,00 atau 77,57%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 2. Penyusunan Daftar Status Penggunaan Barang Milik Daerah, dianggarkan sebesar Rp. 120.790.000,00 terealisasi sebesar Rp. 85.370.000,00 atau 70,68%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 3. Pemeliharaan Sistem Informasi Pengelolaan Barang Daerah, dianggarkan sebesar Rp. 93.835.000,00 terealisasi sebesar Rp. 78.430.000,00 atau 83,58%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 3-56
4. Penilaian Aset Tanah/Bangunan dan/atau Jalan Lingkungan, dianggarkan sebesar Rp. 429.027.500,00 terealisasi sebesar Rp. 394.185.500,00 atau 91,88%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 5. Rekonsiliasi Input Realisasi Pengelolaan Barang Milik Daerah, dianggarkan sebesar Rp. 96.714.000,00 terealisasi sebesar Rp. 86.414.000,00 atau 89,35%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 6. Penetapan Nilai Perolehan Aset Tanah dan/atau Bangunan dan/atau Aset Lainnya, dianggarkan sebesar Rp. 111.640.000,00 terealisasi sebesar Rp. 74.285.000,00 atau 66,54%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 7. Penyusunan Naskah Akademis Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah,dianggarkan sebesar Rp. 257.025.000,00 terealisasi sebesar Rp. 124.680.000,00 atau 48,51%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 8. Perubahan Penentuan Umur Ekonomis Barang, dianggarkan sebesar Rp. 88.560.000,00 terealisasi sebesar Rp. 71.160.000,00 atau 80,35%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 9. Rekonsiliasi Data Pelimpahan Aset dari Pemerintah Kabupaten Tangerang, dianggarkan sebesar Rp. 293.449.900,00 terealisasi sebesar Rp. 217.699.900,00 atau 74,19%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%. Tingkat kenaikan pendapatan daerah Untuk mendukung pencapaian indikator sasaran ini dilaksanakan Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah. Pada Tahun 2015 dilaksanakan dengan 16 kegiatan, dengan capaian masing-masing kegiatan sebagai berikut : 1. Pendataan Pajak Daerah Selain BPHTB dan PBB, dianggarkan sebesar Rp. 83.440.000,00 terealisasi sebesasr Rp. 52.400.000,00 atau 62,80%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 2. Pemeriksaan Pajak Daerah Selain BPHTB dan PBB, dianggarkan sebesar Rp. 1.542.600.000,00 terealisasi sebesar Rp. 1.173.515.000,00 atau 76,07%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 3. Penagihan Tunggakan Pajak Daerah Selain BPHTB dan PBB, dianggarkan sebesar Rp. 173.575.000,00 terealisasi sebesar Rp. 151.362.500,00 atau 87,20, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 3-57
4. Pemetaan Zona Nilai Pasar BPHTB, dianggarkan sebesar Rp. 975.275.000,00 terealisasi sebesar Rp. 909.636.000,00 atau 93,27%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 5. Penyampaian SPPT PBB, dianggarkan sebesar Rp. 1.265.810.000,00 terealisasi sebesar Rp. 946.511.000,00 atau 74,78%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 6. Pengelolaan PBB, dianggarakan sebesar Rp. 1.345.462.500,00 terealisasi sebesar Rp. 49.200.000,00 atau 3,66%, sedangkan fisiknya terealisasi 3,71%. Target output kegiatan ini yaitu 1 software aplikasi pendataan PBB dan 1 dokumen laporan pendaatan obyek PBB Kecamatan Batuceper, namun sampai akhir tahun anggaran hanya terealisasi 1 software aplikasi pendataan PBB, sedangkan untuk pekerjaan pendataan obyek PBB yang dilaksanakan oleh pihak ketiga tidak dapat diselesaikan sesuai perjanjian kerja dan dilakukan pemutusan kontrak. 7. Pemeriksaan BPHTB dan PBB, dianggarkan sebesar Rp. 508.050.000,00 terealisasi sebesar Rp. 403.200.000,00 atau 79,36%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 8. Penagihan Tunggakan PBB, dianggarkan sebesar Rp. 200.025.000,00 terealisasi sebesar Rp. 181.950.000,00 atau 90,96%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 9. Penyusunan Raperwal tentang Perubahan Peraturan Walikota tentang Tata cara Pengelolaan Pajak Hotel, dianggarkan sebesar Rp. 171.993.000,00 terealisasi sebesar Rp. 168.535.000,00 atau 97,99%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 10. Penyusunan Raperwal tentang Perubahan Peraturan Walikota tentang Tata cara Pengelolaan Pajak Hiburan, dianggarkan sebesar Rp. 182.965.000,00 terealisasi sebesar Rp. 154.359.000,00 atau 84,37%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 11. Penyusunan Raperwal tentang Perubahan Peraturan Walikota tentang Tata cara Pengelolaan Pajak Restoran, dianggarkan sebesar Rp. 164.153.000,00 terealisasi sebesar Rp. 157.103.000,00 atau 95,71%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 12. Penyusunan Raperwal tentang Perubahan Peraturan Walikota tentang Tata cara Pengelolaan Pajak Parkir, dianggarkan sebesar Rp. 176.715.000,00 terealisasi sebesar Rp. 147.353.000,00 atau 83,38%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 13. Penyusunan Raperwal tentang Perubahan Peraturan Walikota tentang Tata cara Pengelolaan Pajak Reklame, dianggarkan sebesar Rp. 174.215.000,00 terealisasi sebesar Rp. 165.659.000,00 atau 95,09%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 14. Penyusunan Raperwal tentang Perubahan Peraturan Walikota tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemungutan Pajak Daerah, dianggarkan sebesar Rp. 184.565.000,00 3-58
terealisasi sebesar Rp. 162.977.000,00 atau 88,30%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 15. Penyusunan Raperwal tentang Perubahan Perwal tentang Tata cara Pengelolaan PBB, dianggarkan sebesar Rp. 187.592.500,00 terealisasi sebesar Rp. 167.942.500,00 atau 89,53%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 16. Penyusunan Raperwal tentang Perubahan Perwal tentang Tata Cara Pengelolaan BPHTB, dianggarkan sebesar Rp. 187.592.500,00 terealisasi sebesar Rp 159.242.500,00 atau 84,89%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%. 3.4.5 SASARAN 5 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pembangunan Daerah Pengawasan Pencapaian sasaran 5 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.24. Evaluasi Pencapaian Sasaran 5 No Indikator Sasaran Satuan 1 2 3 4 Tingkat ketersediaan laporan hasil pemeriksaan Tingkat tindak lanjut laporan hasil ekspose temuan hasil pengawasan Tingkat tenaga pemeriksa yang menguasai teknik/teori pengawasan dan penilaian akuntabilitas kinerja Tingkat ketersediaan kebijakan tentang sistem dan prosedur pengawasan Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 18,51 18,51 100,00 38,04 38,04 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 40,00 40,00 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 40,00 40,00 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 40,00 40,00 100,00 Untuk mencapai sasaran ini dilaksanakan oleh OPD Inspektorat sebagai Pengawas Internal dalam menjalankan tupoksinya diuraikan pada 11 (sebelas) kegiatan, sabagai berikut: 1. Kegiatan pelaksanaan pengawasan internal secara berkala (komprehensif); 2. Penanganan kasus pengaduan di lingkungan pemerintahan daerah; 3. Inventarisasi temuan pengawasan; 4. Koordinasi pengawasan yang lebih komprehensif; 3-59
5. Evaluasi temuan hasil pengawasan; 6. Asistensi pengawasan eksternal; 7. Tindak lanjut hasil temuan pengawasan; 8. Pelatihan pengembangan tenaga pemeriksa dan aparatur pengawasan; 9. Pelatihan teknis pengawasan dan penilaian akuntabilitas kinerja; 10. Penyusunan kebijakan sistem dan prosedur pengawasan. 3.4.6 SASARAN 6 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Kepegawaian Daerah Pencapaian sasaran 6 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.25. Evaluasi Pencapaian Sasaran 6 No Indikator Sasaran Satuan 1 2 Tingkat ketersediaan pelayanan administrasi kepegawaian Tingkat ketersediaan pelayanan Pemensiunan Pegawai (%) per tahun Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % 100,00 94,43 94,43 100,00 100,00 100,00 (%) 50,00 50,00 100,00 66,67 66,67 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut : Tingkat ketersediaan pelayanan administrasi kepegawaian Seluruh pelayanan administrasi kepegawaian telah mencakup semua individu pegawai, kecuali pada Kegiatan Mutasi Jabatan dan Seleksi Pengembangan Aparatur. Hal ini dikarenakan baperjakat hanya melaksanakan 7 kali rapat pembahasan dari target 12 kali setahun dengan target 810 jabatan, sedangkan SK mutasi yang dihasilkan hanya 396 SK. Untuk kegiatan seleksi pengembangan aparatur tidak mencapai target dikarenakan usulan PI yang disampaikan SKPD hanya berjumlah 225 PNS dari target yang ditetapkan sebanyak 450 PNS. Tingkat ketersediaan pelayanan Pemensiunan Pegawai Indikator ini didukung dengan Kegiatan pemensiunan pegawai yang merupakan aktivitas pelayanan administrasi pemensiunan pegawai. Ruang lingkup pekerjaan 3-60
meliputi penyusunan pensiun PNS dalam tahun berjalan, pengumpulan berkas penunjang dan pembuatan SK pensiun serta rapat koordinasi. Alokasi dana kegiatan ini sebesar Rp 223.749.000,00. Dalam pelaksanaannya kegiatan ini menyerap anggaran sebesar Rp 191.099.580,00 atau sebesar 85.41%. Output kegiatan ini yaitu SK Pensiun yang terbit sebanyak 165 SK, terdiri dari: BUP sebanyak 130 SK; Meninggal Dunia (MDA) sebanyak 30 SK; dan APS sebanyak 5 SK. 3.4.7 SASARAN 7 Terwujudnya Aparatur Pemerintah Daerah yang Cerdas, Bermoral, Inovatif, dan Profesional Pencapaian sasaran 7 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Tabel 3.26. Evaluasi Pencapaian Sasaran 7 No Indikator Sasaran Satuan 1 2 3 4 5 6 7 Tingkat kedisiplinan aparatur pemerintah daerah Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana-prasarana pendukung kedisiplinan aparatur pemerintah daerah Tingkat Penurunan Indisipliner Pegawai Tingkat Pelayanan Diklat Struktural Kepemimpinan Persentase pejabat fungsional pemerintah daerah yang telah mengikuti diklat fungsional Tingkat Kapasitas Sumberdaya Aparatur pemerintah daerah Tingkat Pelayanan Penyelenggaraan Diklat Teknis dan Fungsional beserta sarana pendukungnya (%) per tahun (%) per tahun Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 0,38 0,38 100,00 0,34 0,33 98,30 (%) 16,36 16,36 100,00 34,36 37,80 110,00 (%) 14,95 9,15 61,20 25,26 25,36 100,38 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 9,18 9,18 100,00 26,33 30,15 114,52 Program kegiatan yang mendukung pencapaian target tiga indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 7 kegiatan yaitu : Program Pembinaan dan Pengembangan Aparatur 3-61
Pembuatan ID Card Pemberian penghargaan tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya Pembinaan pegawai di Lingkungan Pemerintah Kota Tangerang Evaluasi dan Pelaporan Disiplin Aparatur Pembangunan/pengembangan Sistem Informasi E-Absensi Pegawai Monitoring Pegawai di Lingkungan Pemerintah Kota Tangerang Penyelesaian Hukuman Disiplin Pegawai Tingkat Pelayanan Diklat Struktural Kepemimpinan Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 1 kegiatan yaitu : Program Pendidikan Kedinasan Pendidikan penjenjangan struktural Arah kebijakannya Pengembangan kurikulum diklat penjenjangan struktural berdasarkan tingkatan jabatan administrasi. Pada Tahun 2015,Jumlah Pegawai Pemerintah Kota Tangerang yang Mengukuti Diklat PIM sebanyak 69 orang. Program kegiatan yang mendukung pencapaian target tiga indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 1 kegiatan yaitu : Program Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Aparatur Pendidikan dan pelatihan teknis tugas dan fungsi bagi PNS daerah Pendidikan dan pelatihan fungsional bagi PNS Daerah Pengembangan Pendidikan dan Pelatihan Evaluasi Pasca Diklat Arah kebijakannya Pengembangan mekanisme penyelenggaraan diklat teknis dan fungsional berdasarkan kebutuhan pengembangan kapasitas aparatur. Pada Tahun 2015, jumlah peserta yang mengikuti Diklat Teknis Tugas dan Fungsional sebanyak 696 orang dan jumlah Peserta yang mengikuti Diklat Fungsional sebanyak 426 orang. 3-62
3.4.8 SASARAN 8 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pemenuhan peralatan dan perlengkapan keadministrasian perkantoran Pencapaian sasaran 8 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Tabel 3.27. Evaluasi Pencapaian Sasaran 8 No Indikator Sasaran Satuan 1 Tingkat ketersediaan pelayanan barang pendukung administrasi perkantoran 2 Tingkat ketersediaan pelayanan jasa pendukung administrasi perkantoran (%) per tahun (%) per tahun Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Sasaran ini bertujuan untuk meningkatkan sistem pelayanan administrasi perkantoran di seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota Tangerang, seperti : Penyediaan jasa surat menyurat Penyediaan jasa komunikasi, sumberdaya air dan listrik Penyediaan jasa pemeliharaan dan perizinan kendaraan dinas/operasionaal Penyediaan jasa administrasi keuangan Penyediaan jasa kebersihan kantor Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangaan Penyediaan makanan dan minuman rapat-rapaat koordinasi dan konsultasi keluaar daerah Penyediaan jasa tenaga penunjang administrasi/teknis 3.4.9 SASARAN 9 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan kemitraan dan kerjasama yang proporsional dan professional antara Eksekutif dengan Legislatif untuk menghasilkan peraturan Daerah 3-63
Pencapaian sasaran 9 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.28. Evaluasi Pencapaian Sasaran 9 No Indikator Sasaran Satuan Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % 1 Tingkat Fasilitasi Peningkatan Kapasitas Lembaga DPRD (%) per tahun 100,00 87,46 87,46 100,00 86,16 86,16 2 Tingkat Fasilitasi Pembahasan dan Persetujuan Raperda (%) per tahun 100,00 97,40 97,40 100,00 76,19 76,19 Indikator pada sasaran ini didukung dengan Program Peningkatan Kapasitas Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah yang merupakan pemantapan dan pengembangan kemitraan dan kerjasama yang proporsional dan profesional antara eksekutif dengan legislatif untuk menghasilkan peraturan daerah. Sesuai dengan sasaran misi RPJMD Kota Tangerang Tahun 2014-2018, Program ini bertujuan untuk mencapai indikator sasaran yaitu meningkatkan kapasitas kelembagaan dan anggota lembaga perwakilan rakyat daerah (DPRD) pada akhir tahun 100% setiap tahunnya. 3.4.10 SASARAN 10 Tewujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen Data/Informasi Pembangunan Daerah Pencapaian sasaran 10 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Tabel 3.29. Evaluasi Pencapaian Sasaran 10 No Indikator Sasaran Satuan 1 Rata-rata tingkat ketersediaan data/informasi statistik hasil pembangunan daerah Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 17,37 17,37 100,00 36,67 36,67 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut : Rata-rata tingkat ketersediaan data/informasi statistik hasil pembangunan daerah Indikator sasaran ini didukung dengan Program Pengembangan data/informasi/statistik daerah. Tujuannya adalah menyediakan publikasi data dan statistik daerah sebagai 3-64
bahan penyusunan perencanaan dan kebijakan. Adapun dokumen yang tersedia pada Tahun 2015, antara lain : 1. Kecamatan Dalam Angka; 2. Proyeksi Penduduk Sasaran Program Kesehatan dan Pendidikan; 3. Statistik Kependudukan (hasil SP 2010); 4. Statistik Rumah Tangga dan Tempat Tinggal 5. Statistik Keuangan; 6. Laporan Pembangunan Manusia (HDR) 2013; 7. Kota Tangerang Dalam Angka 2013; 8. Penyusunan PDRB Triwulanan Kota Tangerang (4) jenis buku); 9. Pola Pangan Harapan; 10. Neraca Bahan Makanan (NBM); 11. Survey Penjualan Eceran Beras di Pasar ; 12. Statistik Kesejahteraan Rakyat; 13. Statistik Kemiskinan. 3.4.11 SASARAN 11 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan berbagai kajian, penelitian dan inovasi pembangunan Daerah Pencapaian sasaran 11 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Tabel 3.30. Evaluasi Pencapaian Sasaran 11 No Indikator Sasaran Satuan 1 Rata-rata tingkat ketersediaan kajian, penelitian, dan pengembangan strategis Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 18,67 18,67 100,00 36,89 36,89 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Rata-rata tingkat ketersediaan kajian, penelitian, dan pengembangan strategis indikator ini bertujuan untuk melihat produk hasil pada program penelitian dan pengembangan strategis yang dapat dilaksanakan dan dapat mendukung dalam 3-65
penyusunan kebijakan publik di pemerintah Kota Tangerang. Adapun hasil kajian, penelitian, dan pengembangan strategis pada Tahun 2015, antara lain : 1. Penelitian dan Pengembangan Evaluasi Pemberian Tunjangan Profesi terhadap Kinerja Guru di Kota Tangerang; 2. Penelitian dan Pengembangan Analisis Pengaruh Investasi, Tenaga Kerja dan Pertumbuhan Penduduk terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Kota Tangerang; 3. Penelitian dan Pengembangan tentang Evaluasi Sistem Pengelolaan DAS dan Sistem Pengendalian Banjir di Kota Tangerang; 4. Analisis Dampak Ekonomi dan Sosial Pertumbuhan Perdagangan Sektor Informal 3.4.12 SASARAN 12 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kearsipan daerah Pencapaian sasaran 12 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Tabel 3.31. Evaluasi Pencapaian Sasaran 12 No Indikator Sasaran Satuan 1 Tingkat ketersediaan sistem dan pedoman penyelenggaraan kearsipan yang handal, dinamis, komprehensif dan terpadu Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 20,00 20,00 100,00 40,00 40,00 100,00 2 3 4 5 6 Tingkat ketersediaan arsip statis, bernilaiguna, dan arsip elektronik Tingkat pengelolaan arsip baku pada SKPD Tingkat pemeliharaan arsip dan sarana prasarana pendukungnya Persentase terpenuhinya kebutuhan informasi kearsipan Persentase pelaksanaan kegiatan peningkatan SDM Kearsipan yang berkualitas (%) 0,00 0,00 0,00 25,00 25,00 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 40,00 40,00 100,00 (%) 0,00 0,00 0,00 25,00 25,00 100,00 (%) 0,00 0,00 0,00 25,00 25,00 100,00 (%) 15,38 15,38 100,00 38,46 38,46 100,00 3-66
Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Tingkat ketersediaan sistem dan pedoman penyelenggaraan kearsipan yang handal, dinamis, komprehensif dan terpadu Untuk mendukung pencapaian target sasaran ini dilaksanakan Program Perbaikan Sistem Administrasi Kearsipan, dengan 3 (tiga) kegiatan, yaitu: Kajian Sistem Administrasi Kearsipan Pemeliharaan Peralatan Jaringan Informasi Kearsipan Pengembangan Sistem Informasi Kearsipan Tingkat pengelolaan arsip baku pada OPD SKPD sebagai penghasil arsip dan pengelola arsip dinamis aktif dan in aktif, yang setelah habis masa retensinya dan menjadi arsip statis akan diserahkan ke Badan Perpustakaan Dan Arsip Daerah, Kondisi yang demikian menuntut Badan Perpustakaan Arsip Daerah harus selalu berkoordinasi dengan seluruh OPD agar pengelolaan arsip di OPD berjalan sesuai dengan aturan, sehingga bila arsip tersebut diserahkan ke Badan Perpustakaan Dan Arsip Daerah sudah berupa arsip yang benar-benar memiliki nilai guna dan penyerahannya sesuai dengan aturan. Melalui kegiatan Pelaporan Kondisi Situasi Data Arsip OPD, Badan Perpustakaan Dan Arsip Daerah mengumpulkan jumlah data arsip yang di kelola oleh OPD di lingkungan Pemerintah Kota Tangerang setiap bulannya, melalui pengelola arsip di OPD yang telah di tunjuk dan di tetapkan dengan Surat Perintah Sekretaris Daerah Kota Tangerang. Dengan diketahuinya jumlah arsip yang dikelola oleh OPD, Badan Perpustakaan Dan Arsip Daerah menjadi mengetahui beban tugas kedepan, sehingga bisa membuat perencanaan yang matang. Persentase pelaksanaan kegiatan peningkatan SDM Kearsipan yang berkualitas Untuk mendukung pencapaian target sasaran ini dilaksanakan Program Peningkatan Kualitas Layanan Informasi Kearsipan, dengan 3 (tiga) kegiatan, yaitu: Penyusunan dan Penerbitan Sumber Arsip, Sosialisasi/Penyuluhan Kearsipan Dilingkungan Pemerintah/Swasta, dan Pembinaan Pengelolaan Arsip 3-67
3.4.13 SASARAN 13 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sitem Informasi dan Komunikasi Daerah Pencapaian sasaran 13 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.32. Evaluasi Pencapaian Sasaran 13 Tahun 2014 Tahun 2015 No Indikator Sasaran Satuan Target Realisasi % Target Realisasi % Tingkat ketersediaan sistem dan (%) per 1 jaringan komunikasi dan informasi 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 tahun SKPD 2 3 Tingkat Pengkajian dan Penelitian Bidang Komunikasi dan Informasi Tingkat Kerjasama Informasi dan Media Massa (%) 25,84 25,84 100,00 42,70 42,70 100,00 (%) 27,45 27,45 100,00 44,12 44,12 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Tingkat ketersediaan sistem dan jaringan komunikasi dan informasi SKPD Untuk mendukung pencapaian target sasaran ini dilaksanakan Program Pengembangan Komunikasi, Informasi dan Media Massa, dengan beberapa kegiatan, yaitu: Pengadaan Akses Internet Penerapan CCTV Di Puspem Kota Tangerang Pelayanan Penyebaran Informasi melalui Mobil Wawaran Keliling Pemeliharaan Jaringan Komunikasi dan Informasi Pengelolan Website Terpadu Kota Tangerang Pembangunan dan Pengembangan Sistem Digitalisasi Pemeliharaan Infrastuktur Jaringan LAN-WAN Pengawasan Penyelenggaraan Warung Internet Di Kota Tangerang Operasional UPTD LPSE Kota Tangerang Pembangunan dan Pengembangan Aplikasi Layanan Publik Pengelolaan Komunikasi Digital Pemerintah Kota Tangerang Pembangunan Infrastruktur Jaringan LAN-WAN 104 Kelurahan Pengelolaan Pusat Layanan Informasi Pemerintah Kota Tangerang 3-68
Penyusunan Masterplan TIK Penyusunan Raperwal Restribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi dan Raperwal Penyelenggaraan Menara Telekomunikasi Bersama Penyusunan Rancangan Peraturan Walikota Tangerang Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Informasi Publik Pembinaan Teknis Komunikasi Digital Untuk SKPD se Kota Tangerang Tingkat Pengkajian dan Penelitian Bidang Komunikasi dan Informasi Untuk mendukung pencapaian target sasaran ini dilaksanakan Program Pengkajian dan Penelitian Bidang Komunikasi dan Informasi, dengan beberapa kegiatan, yaitu: Penyusunan Aplikasi Cell Plan Menara Telekomunikasi Kota Tangerang Pengkajian Bidang Telekomunikasi Tentang Microcell dan Fiber Optic Program Fasilitasi Peningkatan SDM Bidang Komunikasi dan Informasi Rapat Koordinasi Pelayanan Informasi Pemerintah Kota Tangerang Fasilitasi dan Pendampingan Koordinasi, Rapat, Pertemuan Komunikasi Antar SKPD Dengan Metode Komunikasi Online Sosialisasi Peraturan Walikota Tentang Penataan dan Pengendalian Menara Telekomunikasi Penyusunan Regulasi TIK Tingkat Kerjasama Informasi dan Media Massa Untuk mendukung pencapaian target sasaran ini dilaksanakan Program Kerjasama Informasi Dengan Media Massa, dengan beberapa kegiatan, yaitu: Pengelolaan Community Access Point (CAP) Promosi Daerah Pelaksanaan Diseminasi Informasi Pemerintah Daerah Pengelolaan Media Publikasi Eksternal dan Internal Kota Tangerang Pelaksanaan Diseminasi Informasi Melalui Media Massa 3.4.14 SASARAN 14 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pelayanan publik dan pelayanan aparatur pemerintah daerah secara professional, cepat, tepat, akurat dengan berbasis pada teknologi informasi yang efektif dan efisien 3-69
Pencapaian sasaran 14 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Tabel 3.33. Evaluasi Pencapaian Sasaran 14 No Indikator Sasaran Satuan 1 Tingkat Pelayanan Publik yang menggunakan media informasi berbasis Informasi Teknologi (%) per tahun Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Untuk mendukung pencapaian target sasaran ini dilaksanakan Program Pengembangan Komunikasi, Informasi dan Media Massa, dengan beberapa kegiatan, yaitu: Pengadaan Akses Internet Penerapan CCTV Di Puspem Kota Tangerang Pelayanan Penyebaran Informasi melalui Mobil Wawaran Keliling Pemeliharaan Jaringan Komunikasi dan Informasi Pengelolan Website Terpadu Kota Tangerang Pembangunan dan Pengembangan Sistem Digitalisasi Pemeliharaan Infrastuktur Jaringan LAN-WAN Pengawasan Penyelenggaraan Warung Internet Di Kota Tangerang Operasional UPTD LPSE Kota Tangerang Pembangunan dan Pengembangan Aplikasi Layanan Publik Pengelolaan Komunikasi Digital Pemerintah Kota Tangerang Pembangunan Infrastruktur Jaringan LAN-WAN 104 Kelurahan Pengelolaan Pusat Layanan Informasi Pemerintah Kota Tangerang Penyusunan Masterplan TIK Penyusunan Raperwal Restribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi dan Raperwal Penyelenggaraan Menara Telekomunikasi Bersama Penyusunan Rancangan Peraturan Walikota Tangerang Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Informasi Publik Pembinaan Teknis Komunikasi Digital Untuk SKPD se Kota Tangerang 3-70
3.4.15 SASARAN 15 Terwujudnya pemantapan & pengembangan sistem informasi dan aplikasi penyelenggaran pemerintah daerah yang terintegrasi, terstandarisasi, serta memadai Pencapaian sasaran 15 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.34. Evaluasi Pencapaian Sasaran 15 No Indikator Sasaran Satuan 1 2 Tingkat Integrasi Sistem Informasi dan Aplikasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Tingkat Standarisasi Sistem Informasi dan Aplikasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 28,28 28,28 100,00 45,52 45,52 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Sistem dan jaringan komunikasi dan informasi di Kota Tangerang, antara lain: akses internet kapasitas bandwidth sebesar 100 Mbps Website Kota Tangerang: www.tangerangkota.go.id Closed Circuit Television (CCTV) System di Pusat Pemerintahan, yang mempunyai output mengontrol semua kegiatan secara visual (audio visual) pada area tertentu melalui pemasangan alat kamera yang terintegrasi secara online. mobil penyebarluasan informasi yang berkeliling sesuai dengan jadwal yang telah di tentukan dan membuka hot spot wifi gratis untuk masyarakat setempat. Aplikasi Sistem Informasi Geografis Kota Tangerang dan Perangkat Studio Sistem Informasi Geografis. Konektifitas Jaringan Wireless LAN-WAN di 104 Kelurahan Gedung Pemerintahan dan 30 Puskesmas. 3-71
3.4.16 SASARAN 16 Terwujudnya pemantapan dan pengembagan keberdayaan sector UMKM dan koperasi sebagai pendukung kegiatan ekonomi daerah berbasis sumberdaya lokal Pencapaian sasaran 16 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.35. Evaluasi Pencapaian Sasaran 16 No Indikator Sasaran Satuan 1 Persentase UMKM Aktif (%) per tahun Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 2 Persentase Koperasi Aktif (%) 56,04 56,04 100,00 61,79 62,00 100,34 3 Tingkat Pertumuhan UMKM Aktif (%) 1,59 1,59 100,00 0,99 2,03 205,03 4 Tingkat Pertumbuhan Koperasi Aktif (%) 3,80 3,80 100,00 11,11 11,11 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Persentase UMKM Aktif Pelaku UMKM aktif telah mencapai target yang telah ditetapkan.pencapaian ini terjadi karena pembinaan yang dilakukan Dinas kepada masyarakat pelaku usaha mikro kecil dan menengah berupa penumbuhan wirausaha baru yang memotivasi pelaku usaha baru untuk pengembangan usahanya.program yang mendukung tercapainya indikator ini adalah Program Pengembangan Kewirausahaan Dan Keunggulan Kompetitif usaha kecil menengah yang meliputi kegiatan memfasilitasi peningkatan kemitraan usaha bagi UMKM dan penyelenggaraan pelatihan kewirausahaan. Tingkat Pertumbuhan UMKM Aktif Pada tahun 2015, jumlah usaha mikro dan kecil sebanyak 10.815 UMKM. Upaya pemberdayaan yang dilaksanakan difokuskan pada pembinaan manajemen/kelembagaan dan SDM dengan tujuan meningkatkan keterampilan pelaku UMKM dalam pengelolaan usaha.upaya pemberdayaan yang dilaksanakan difokuskan pada pembinaan manajemen/kelembagaan dan SDM dengan tujuan meningkatkan keterampilan pelaku UMKM dalam pengelolaan usaha. 3-72
Pada tahun 2015 telah dilaksanakan Kegiatan Program Pengembangan Kewirausahaan dan keunggulan komfetitif UMKM dengan bentuk Kegiatan Fasilitasi Peningkatan Kemitraan Usaha Bagi UMKMK dengan jumlah peserta 100 UMKM Penyelenggaraan Pelatihan Kewirausahaan dengan jumlah peserta 150 pelaku UMKM. Program Pengembangan Pendukung Usaha Bagi UMKM, dengan kegiatan Penyelenggaraan Promosi Produk UMKM melalui Pameran. Persentase Koperasi Aktif Jumlah koperasi aktif telah mencapai target yang telah ditetapkan. Koperasi yang aktif dan berbadan hukum di Kota Tangerang setiap tahun mendapat binaan dari Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Indagkop. Adapun program mendukung tercapainya peningkatan koperasi aktif adalah program peningkatan kualitas kelembagaan koperasi dan lembaga keuangan mikro yang meliputi kegiatan sosialisasi prinsip-prinsip pemahaman perkoperasian, pembinaan, pengawasan dan penghargaan koperasi berprestasi dan revitalisasi koperasi. Tingkat Pertumbuhan Koperasi Aktif Pada tahun 2015,jumlah koperasi aktif sebanyak 634 buah dari total 1.136 jumlah koperasi. Kegiatan untuk menumbuhkan koperasi melalui Pelatihan Manajemen Pengelolaan Koperasi dengan jumlah peserta 100 orang. Dan melalui program Pengembangan Kualitas Kelembagaan Koperasi dengan bentuk kegiatan Pembinaan, Pengawasan dan Penghargaan Koperasi Berprestasi. 3.4.17 SASARAN 17 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Investasi Daerah yang transparan serta didukung oleh iklim investasi yang kondusif Pencapaian sasaran 17 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.36. Evaluasi Pencapaian Sasaran 17 No Indikator Sasaran Satuan 1 Tingkat pertumbuhan investasi daerah Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 10,00 10,00 100,00 10,00 10,00 100,00 3-73
No Indikator Sasaran Satuan Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % 2 3 4 5 Tingkat pelaksanaan fasilitasi kerjasama kemitraan iinvestasi Tingkat penyelenggaraan promosi peluang investasi daerah Tingkat ketersediaan Sistem Informasi Pelayanan Investasi Daerah Tingkat Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) kali/tahun 1,00 1,00 100,00 1,00 1,00 100,00 kali/tahun 1,00 1,00 100,00 1,00 1,00 100,00 (%) 28,57 28,57 100,00 42,86 42,86 100,00 (%) 43,00 43,00 100,00 45,00 45,00 100,00 6 Persentase Bangunan yang mempunyai Izin Mendirikan Bangunan (IMB) (%) per 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 tahun 7 Tingkat pelayanan Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 8 Tingkat pelayanan waktu pengurusan Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut : Program kegiatan yang mendukung pencapaian target ketiga indikator kinerja sasaran Tingkat pertumbuhan investasi daerah,tingkat pelaksanaan fasilitasi kerjasama kemitraan investasi, dan Tingkat penyelenggaraan promosi peluang investasi daerah ini terdiri dari 1 program dengan6 kegiatan yaitu : Program/ Kegiatan Alokasi Anggaran (Rp) Realisasi Anggaran (Rp) % Capaian 1 Peningkatan Promosi dan Kerjasama Investasi - Penyelenggaraan Pameran Investasi - Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal - Penyusunan dan Penulisan Database Perekonomian Daerah Kota Tangerang - Pemeriksaan Menyeluruh PDAM - Sosialisasi LKPM (Laporan Kegiatan Penanaman Modal) - Pemetaan Data Potensi Daerah Kota Tangerang 413.750.000,- 85.710.000,- 226.900.000,- 750.000.000,- 104.870.000,- 74.700.000,- 347.278.346,- 44.550.000,- 224.087.500,- 565.977.000,- 90.887.000,- 69.680.000,- 83.93 51.98 98.76 75.46 86.67 93.28 3-74
3.4.18 SASARAN 18 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem ketahanan Pangan Daerah yang meliputi Ketersediaan, Distribusi, Konsumsi, Kewaspadaan, dan Kemasyarakataan Pencapaian sasaran 18 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.37. Evaluasi Pencapaian Sasaran 18 No Indikator Sasaran Satuan 1 2 Tingkat Ketersediaan Energi Per Kapita Tingkat Ketersediaan Protein Per Kapita Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 80,00 95,00 118,75 90,00 96,80 107,56 (%) 80,00 135,00 168,75 90,00 120,90 134,33 3 4 Tingkat Penguatan Cadangan Pangan Daerah Tingkat Ketersediaan Informasi Pasokan, Harga dan Akses Pangan di Daerah (%) 50,00 0,00 0,00 60,00 49,00 81,67 (%) 20,00 20,00 100,00 60,00 60,00 100,00 5 Tingkat Stabilitasi Harga Pangan (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 6 Tingkat Stabilitasi Pasokan Pangan (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 7 8 9 Capaian Peningkatan Pangan Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Tingkat Pengawasan dan Pembinaan Keamanan Pangan Daerah Tingkat Penanganan Daerah Rawan Pangan Daerah (%) 20,00 16,00 80,00 30,00 80,60 268,67 (%) 20,00 16,00 80,00 40,00 74,79 186,98 (%) 20,00 23,00 115,00 40,00 63,00 157,50 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut : Tingkat Ketersediaan Energi Per Kapita Pada tahun 2015 target dari indikator tingkat Ketersediaan Energi Per Kapita adalah sebesar 90%, dan berdasarkan pengukuran indikator tingkat ketersediaan Energi per Kapita yang dilakukan oleh Bappeda realisai capaian indikatornya adalah sebesar 96,80%, sehingga Kota Tangerang telah mencapai target yang telah ditentukan atau sebesar 107,56%. 3-75
Adapun Kegiatan yang mendukung capaian Indikator tersebut salah satunya adalah Kegiatan Monitoring Evaluasi dan Pelaporan Kebijakan Subsidi Pertanian dan Kegiatan Peningkatan Mutu Keamanan pangan. Penyerapan pupuk sangat mempengaruhi jumlah produksi pangan yang dihasilkan. Hasil Pengamatan yang dilakukan oleh Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Produktivitas padi tanpa pupuk akan menurun. Ketersediaan Pangan di Kota Tangerang dipengaruhi oleh produksi dan impor. Sebagian nilai ketersediaan berasal dari impor (pasokan dari luar) sehingga perlu upaya kelengkapan data ketersediaan yang selama ini dilaksanakan oleh Dinas Industri, Perdagangan dan Koperasi, Biro Pusat Statistik dan PD. Pasar. Disamping itu perlu menjadi perhatian utama dalam kelancaran perdagangan/distribusi pangan di Kota Tangerang. Tingkat Ketersediaan Protein Per Kapita Target dari Indikator ini adalah 90%, sedangkan capaiannya adalah 120,90%. Pada kondisi terakhir data yang tersedia yaitu tahun 2013 ketersediaan protein mencapai 66,9 gr/kap/hari (nilai minimal SPM = 51,3 gr/kap/hari). Dan jika dilihat data per tahun yaitu tahun 2009 angka ketersediaan Protein adalah 87,43 gr/kap/hari, tahun 2010 adalah 81 gr/kap/hari, tahun 2011 adalah 66,9 gr/kap/hari, tahun 2012 adalah 76,95 gr/kap/hari. Dan data terakhir yang tersedia di Bappeda adalah tahun 2013 yaitu 66,9 gr/kap/hari dan telah melebihi nilai minimal SPM sehingga tingkat ketersediaan protein di Kota Tangerang telah melebihi target yang telah ditentukan. Tingkat Penguatan Cadangan Pangan Daerah Target dari Indikator ini adalah 60%, Belum adanya upaya dari Pemerintah Kota Tangerang pada segi cadangan pangan, terbukti dengan belum adanya anggaran dana untuk cadangan pangan dan belum adanya lembaga cadangan pangan. Untuk itu, capaian indikator tingkat Penguatan Cadangan pangan di Kota Tangerang adalah 49% sehingga belum mencapai target yang telah ditentukan atau sebesar 81,67%. Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran Tingkat Stabilitasi Harga Pangan, Tingkat Stabilitasi Pasokan Pangan, Capaian Peningkatan Pangan Skor Pola Pangan Harapan (PPH), Tingkat Pengawasan dan Pembinaan Keamanan Pangan Daerah, dan Tingkat Penanganan Daerah Rawan Pangan Daerahini terdiri dari 1 program dengan 5 kegiatan yaitu : 3-76
Program/ Kegiatan Alokasi Anggaran (Rp) Realisasi Anggaran (Rp) % Capaian 1 Peningkatan Ketahanan Pangan (Pertanian / Perkebunan) - Penyusunan dan Pengumpulan Data Ketahanan Pangan Daerah - Kajian Pencapaian SPM Ketahanan Pangan - Koordinasi Ketahanan Pangan Daerah - Penanganan Kerawanan Pangan - Fasilitasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) 79.300.000,- 97.862.500,- 214.000.000,- 232.200.000,- 200.000.000,- 72.687.500,- 89.762.500,- 135.351.250,- 215.525.000,- 172.082.500,- 91,66 91,72 63,25 92,82 86,04 3.4.19 SASARAN 19 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan agribisnis serta budidaya pertanian dan pertenakan yang berorientasi pada intensifikasi pertanian Pencapaian sasaran 19 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.38. Evaluasi Pencapaian Sasaran 19 Tahun 2014 Tahun 2015 No Indikator Sasaran Satuan Target Realisasi % Target Realisasi % 1 Tingkat Produktivitas Pertanian (%) 2,04 5,32 260,78 2,08 0,42 20,16 2 Tingkat produksivitas peternakan (%) per tahun 20,00 20,00 100,00 20,00 30,00 150,00 3 4 5 Tingkat pemasaran hasil produksi pertanian Tingkat pemasaran hasil produksi ternak sapi potong di wilayah Kota Tangerang Angka prevalensi penyakit zoonosis (%) 5,00 5,01 100,20 5,12 5,60 109,27 (%) 80,00 80,00 100,00 72,86 68,00 93,33 (%) 100,00 22,00 22,00 100,00 20,00 20,00 3-77
Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Tingkat Produktivitas Pertanian Indikator Tingkat Produktivitas Pertanian ditetapkan meningkat 2% per tahun. Pada tahun 2015 target dari indikator ini adalah sebesar 2,08% dan realisasi pencapaiannya sebesar 0,42%. Peningkatan Produktivitas sangat dipengaruhi oleh kemampuan/pengetahuan petani dalam menerapkan teknologi, ketersediaan sarana dan prasarana penunjang, dan tingkat kesuburan lahan. Adapun pencapaian indikator ini didukung oleh Program Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian/Perkebunan dengan kegiatan Penyuluhan Penerapan Teknologi Pertanian/Perkebunan Tepat Guna, Pengadaan sarana dan prasarana teknologi pertanian/perkebunan tepat guna UPTD Hortikultura dan Pembangunan Sarana dan Prasarana UPTD Hortikultura. Dalam pelaksanaan kegiatan Penyuluhan Penerapan Teknologi Pertanian/Perkebunan Tepat Guna, hambatan yang terjadi adalah Produktivitas yang diukur pada bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura didasarkan atas 59 komoditi yang terpantau di Kota Tangerang melalui data Statistik Pertanian, sehingga data yang diperoleh sangat beragam dan fluktuatif. Sedangkan upaya yang dapat dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut adalah meningkatkan kapasitas tenaga pengumpul data statistik pertanian sehingga data yang diperoleh lebih akurat. Kegiatan lain yang mendukung Tingkat Produktivitas Pertanian adalah Pengadaan sarana dan prasarana teknologi pertanian/perkebunan tepat guna UPTD Hortikultura yang berupa Pengadaan Komposter, perangkat Hidroponik, Sarana Penunjang Pembibitan, dan Instalasi Air penyiraman. Sedangkan dalam pelaksanaan kegiatan Pengadaan sarana dan prasarana teknologi pertanian/perkebunan tepat guna UPTD Hortikultura, hambatan yang terjadi antara lain: (1) Pemanfaatan lahan pertanian untuk kegiatan di luar sektor pertanian mendorong kegiatan pertanian dilaksanakan pada lahan-lahan yang kurang subur bahkan mendekati marjinal sehingga penekan produktivitas tanaman yang dibudidayakan (2) Berkurangnya pelaku usaha budidaya tanaman yang fokus hanya melaksanakan kegiatan pertanian, mendorong kegiatan pertanian hanya merupakan kegiatan 3-78
sampingan yang dilakukan bersamaan dengan kegiatan lainnya (3) Iklim dan kondisi alam yang tidak menentu menyebabkan kesulitan petani dalam penentuan pola tanam, penetapan komoditi yang ditanam dan serangan hama Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut antara lain(1) perlunya regulasi dari pemerintah daerah dalam mempertahankan lahan pertanian di kota Tangerang, (2) perlunya mendorong kegiatan yang dapat memberikan nilai tambah bagi produk pertanian, (3) Pola pendampingan yang berkesinambungan dari penyuluh pertanian di kota Tangerang Kegiatan Pembangunan Sarana dan Prasarana UPTD Hortikultura.juga mendukung Tingkat Produktivitas Pertanian. Kegiatan ini berupa konsultasi Perencanaan Pembangunan Ekopark. Dalam pelaksanaannya, hambatan yang terjadi antara lain: kurangnya koordinasi dengan konsultan yang mengerjakan pekerjaan perencanaan pembangunan Ekopark. Sedangkan upaya yang dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut antara lain: lebih mengintensifkan komunikasi dengan konsultan yang mengerjakan pekerjaan perencanaan pembangunan Ekopark. Tingkat produktivitas peternakan Target Indikator Tingkat produktivitas peternakan ditetapkan sebesar 20% pada tahun 2015, dan realisasi pencapaiannya sebesar 30%. Pencapaian target indikator ini didukung oleh Program Peningkatan Produksi Peternakan dengan kegiatan Pembibitan & perawatan ternak dan Pengembangan Agribisnis Peternakan. Dalam pelaksanaannya, beberapa hambatan yang ada yang mengganggu rencana pencapaian target antara lain (1) lahan usaha untuk peternakan terbatas Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut antara lain (1) membatasi jumlah atau volume dalam usaha peternakan dalam kawasan/lahan yang terbatas. Tingkat pemasaran hasil produksi pertanian Indikator Tingkat pemasaran hasil produksi pertanian ditetapkan meningkat sebesar 5% per tahun. Pada tahun 2015, target indikator ini adalah sebesar 5,12% dan realisasi pencapaiannya sebesar 5,60%. 3-79
Pencapaian indikator ini didukung oleh Program peningkatan pemasaran hasil produksi pertanian/ perkebunan dengan kegiatan Promosi atas hasil produksi pertanian unggul daerah. Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut Dinas Pertanian hanya sebagai peserta, sehingga tidak terdapat hambatan. Pelaksanaan kegiatan menyesuaikan dengan agenda panitia penyelenggara. Angka prevalensi penyakit zoonosis Indikator Angka prevalensi penyakit zoonosis ditetapkan sebesar 100% tiap tahun selama periode lima tahunan (2014-2018). Pada tahun 2015 target dari indikator ini adalah sebesar 100% dan realisasinya sebesar 20%. Adapun pencapaian indikator ini didukung oleh Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Ternak yang terdiri dari kegiatan Pemeliharaan Kesehatan dan Pencegahan Penyakit Menular Ternak dan Pengawasan perdagangan ternak antar daerah (Pemeriksaan kesehatan hewan qurban). Dalam pelaksanaannya, beberapa hambatan yang mengganggu rencana pencapaiannya target antara lain; (1) lalu lintas ternak yang masuk dan keluar dari wlayah Kota Tangerang sangat tinggi yang berpotensi mudah menimbulkan penyebaran penyakit dan (2) sumber daya manusia (SDM) pelayanan kesehatan hewan yang terbatas Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut antara lain: (1) meningkatkan pengawasan kesehatan hewan terhadap lalu lintas ternak yang ada di Kota Tangerang dan (2) meningkatkan skill petugas yang ada dan melibatkan para petugas di tingkat kelurahan se Kota Tangerang. 3.4.20 SASARAN 20 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Kepariwisataan Daerah Pencapaian sasaran 20 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.39. Evaluasi Pencapaian Sasaran 20 No Indikator Sasaran Satuan 1 Tingkat pemasaran obyek wisata daerah Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 33,33 56,26 168,80 50,00 68,75 137,50 3-80
2 3 4 Tingkat kenaikan kunjungan wisatawan ke obyek wisata daerah Tingkat perkembangan destinasi pariwisata daerah Tingkat perkembangan Jenis kelas dan jumlah Hotel (%) 20,00 25,00 125,00 40,00 56,25 140,63 (%) 0,00 0,00 0,00 40,00 40,00 100,00 (%) 95,00 56,42 59,39 95,23 105,08 110,35 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut : Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 3 kegiatan yaitu : Program Pengembangan Pemasaran Pariwisata Pelaksanaan promosi pariwisata nusantara di dalam dan di luar negeri Pemilihan Duta Pariwisata Kang Dan Nong Festival Cisadane Tingkat pemasaran obyek wisata daerah Beberapa tempat kunjungan obyek wisata, seni dan budaya yang dimiliki Kota Tangerang adalah sebagai berikut : 1. Gedung Pusat Pemerintahan 2. PT (Persero) Angkasa Pura II 3. Masjid Raya Al-A zhom 4. Mesjid Kali Pasir 5. Mesjid Pintu Seribu 6. Vihara/Kelenteng 7. Bendungan Pintu Air Sepuluh 8. Situ Cipondoh 9. Fasilitas Olahraga 10. Penginapan Dan Rumah Makan 11. Gedung Kesenian 12. Festival Cisadane 13. Kang & Nong 14. Barongsai 15. Cokek 16. Cinderamata (Kerajinan Tangan) 3-81
17. Makanan Khas Tangerang 18. Benteng Heritage Tingkat kenaikan kunjungan wisatawan ke obyek wisata daerah Tabel 3.40. Jumlah Wisatawan Nusantara dan Wisatawan Mancanegara di Kota Tahun Tangerang (orang), 2009-2015 Wisatawan Nusantara Wisatawan Mancanegara Jumlah 2009 202.792 81.546 284.338 % Kenaikan 2010 211.167 83.796 294.963 3,74 2011 189.245 76.652 265.897-9,85 2012 331.483 102.479 433.962 63,21 2013 340.234 84.617 424.851-2,10 2014 425.293 105.771 531.064 25,00 2015 664.520 165.267 829.787 56,25 Sumber: Dinas Pemuda, Olahraga dan Ekonomi Kreatif, 2015 Tingkat perkembangan Jenis kelas dan jumlah Hotel Tabel 3.41. Nama Hotel dan Jenis Kelas di Kota Tangerang No. Nama Hotel Jenis Hotel 1 Hotel Jakarta Airport Bintang 1 2 POP Hotel Airport Bintang 2 3 Narita Classic Hotel Tangerang Bintang 2 4 Hotel Bandara Jakarta Bintang 2 5 Amaris Hotel Bandara Soekarno Hatta Bintang 2 6 Transit Hotel Bintang 3 7 Puspamaya Airport Hotel Bintang 3 8 Orchardz Hotel Bandara Bintang 3 9 J Hotel Bandara Soekarno Hatta Bintang 3 10 Hotel Narita Bintang 3 11 Hotel Istana Nelayan Bintang 3 12 Hotel FM7 Bintang 3 13 Padjadjaran Suite Business & Conference Hotel Bintang 4 14 Hotel Olive Bintang 4 15 Hotel Great Western Bintang 4 3-82
No. Nama Hotel Jenis Hotel 16 Grand Serpong Hotel Bintang 4 17 Allium Airport Hotel Bintang 4 18 Hotel Sheraton Bandara Bintang 5 19 Hotel Padang Golf Modern Melati 20 Aerofans Inn Melati 21 Wisma PKPN Melati 22 Wisma Anggrek Melati 23 Hotel Tangerang Melati 24 Hotel Serasi Melati 25 Hotel Permata Mulia Melati 26 Hotel Permata Bandara Melati 27 Hotel Palem Melati 28 Hotel Merdeka Utama Melati 29 Hotel Merdeka Melati 30 Hotel Mentari Melati 31 Hotel Mandala Melati 32 Hotel Huswah Melati 33 Hotel Flamboyan Melati 34 Hotel Elia Bandara Melati 35 Hotel Chandra Melati 36 Hotel Bengawan Melati 37 Hotel Bandung Melati 38 Hotel Anugrah Melati 39 Hotel Amaris Melati 40 Hotel Al-Amin Melati 41 Bamboo Hotel Melati 3.4.21 SASARAN 21 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan intensifikasi budidaya perikanan darat 3-83
Pencapaian sasaran 21 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Tabel 3.42. Evaluasi Pencapaian Sasaran 21 No Indikator Sasaran Satuan Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % 1 Persentase kenaikan produksi ikan (%) 92,73 96,67 104,25 94,55 98,74 104,44 2 Cakupan bina kelompok peternak ikan (%) 30,95 47,62 153,86 33,33 33,33 100,00 3 Tingkat pengolahan dan pemasaran produksi perikanan (%) 66,47 72,45 109,00 72,45 72,78 100,45 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut : Persentase kenaikan produksi ikan Pada tahun 2015, target indikator Persentase Kenaikan Produksi Ikan ditetapkan sebesar 94,55%, sedangkan realisasi capaiannya adalah sebesar 98,74%. Pencapaian target indikator ini didukung oleh Program Pengembangan Budidaya Perikanan dengan kegiatan Pembinaan dan Pengembangan Perikanan. Dalam pelaksanaannya, beberapa hambatan yang ada yang mengganggu rencana pencapaian target antara lain (1) Bagi sebagian pembudidaya ikan kegiatan budidaya ikan merupakan pekerjaan sampingan saja (2) Bencana banjir di beberapa lokasi budidaya ikan (3) Harga pakan semakin mahal, meningkatkan biaya produksi dan mengurangi keuntungan yang diperoleh pembudidaya ikan. Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut antara lain (1) Pemilihan lokasi budidaya dengan menggunakan jaring dan komoditas yang unggul dan mudah pemeliharaannya yaitu lele Sangkuriang dan Nila Nirwana (gesit) (2) Pengelolaan kualitas air CBIB dengan pakan alternatif dan alami (3) Peningkatan kelompok olahan untuk memperoleh sertifikasi PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga). Cakupan bina kelompok peternak ikan Target indikator Cakupan bina kelompok peternak ikan pada tahun 2015 ditetapkan sebesar 33,33%, sedangkan realisasi capaiannya adalah sebesar 33,33%. Pencapaian target indikator ini didukung oleh Program Pengembangan Sistem Penyuluhan Perikanan dengan kegiatan Bintek Pengolahan Hasil Perikanan. 3-84
Dalam pelaksanaannya, beberapa hambatan yang ada yang mengganggu rencana pencapaian target antara lain budidaya ikan biasanya hanya sebagai usaha sampingan saja. Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut antara lain Pembinaan kepada pembudidaya ikan dan pengolah/pemasar hasil perikanan secara berkelanjutan. Tingkat pengolahan dan pemasaran produksi perikanan Target indikator Tingkat Pengolahan dan Pemasaran Produksi Perikanan pada tahun 2015 ditetapkan sebesar 72,45% sedangkan realisasi pencapaiannya adalah sebesar 72,78%. Pencapaian target indikator ini didukung oleh Program Optimalisasi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Produksi Perikanan dengan kegiatan Pengawasan produk perikanan. Dalam pelaksanaannya, beberapa hambatan yang ada yang mengganggu rencana pencapaian target antara lain (1) Minat masyarakat untuk makan ikan masih kurang (2) Produk perikanan yang beredar di pasaran masih ditemukan kandungan formalin. Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut antara lain (1) Penggalakan program nasionalgemarikan dengan bazar/pameran ikan murah berkelanjutan (2) Pengawasan produk dan sosialisasi mutu kepada pengolah/pemasar dan konsumen. 3.4.22 SASARAN 22 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perdagangan Daerah dan peningkatan perlindungan konsumen Pencapaian sasaran 22 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Tabel 3.43. Evaluasi Pencapaian Sasaran 22 No Indikator Sasaran Satuan Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % 1 Tingkat pembinaan Pedagang Kaki Lima (PKL) (%) 1,02 1,02 100,00 2,12 2,12 100,00 2 Tingkat perlindungan konsumen (%) 21,02 89,02 423,50 28,47 28,47 100,00 3 Tingkat pembinaan perdagangan dalam negeri (%) 4,00 4,00 100,00 20,00 20,00 100,00 3-85
Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut : Tingkat pembinaan Pedagang Kaki Lima (PKL) Penataan pedagang kaki lima di Kota Tangerang dilaksanakan dalam rangka memperindah wajah kota, karena pada beberapa lokasi keberadaannya seringkali menimbulkan permasalahan diantaranya menambah titik kemacetan, namun di sisi lain dapat memberikan kontribusi dalam menggerakkan roda perekonomian khususnya pada sektor non formal. Pada tahun 2015 kegiatan Pemerintah Kota Tangerang telah melakukan pengkajian 13 lokasi perdagangan kaki lima di Kota Tangerang. 3.4.23 SASARAN 23 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perindustrian Daerah dan peningkatan kapasitas industri kecil dan menengah Pencapaian sasaran 23 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.44. Evaluasi Pencapaian Sasaran 23 No Indikator Sasaran Satuan 1 2 3 4 Persentase industri yang memiliki Gugus Kendali Mutu (Pengukuran Standarisasi, Pengujian, dan Kualitas) Persentase IKM memiliki Izin Usaha Industri Kecil Melalui P-IRT dan Halal Persentase industri yang telah memenuhi standar kelayakan produksi Tingkat Pertumbuhan Industri di Daerah Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 8,21 10,68 130,09 7,03 9,37 133,21 (%) 3,08 3,91 126,95 3,08 10,43 338,77 (%) 11,08 19,59 176,81 11,08 14,91 134,52 (%) 1,30 1,48 113,85 1,50 5,35 356,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut : Sektor industri sebagai salah satu ikon Kota Tangerang menjadi penggerak utama di dalam pencapaian pertumbuhan ekonomi. Upaya pengembangan industri pada Tahun 2015 dilakukan melalui kebijakan : (1) Program Pengembangan sentra-sentra industri potensial; (2) Program pengembangan industri kecil dan menengah; (3) Program 3-86
penataan struktur industri; (4) Program peningkatan kemampuan teknologi industri; (5) Progarm peningkatan kapasitas IPTEK sistem produksi. Sedangkan dalam rangka memperluas pangsa pasar produk Industri Kecil dan Menengah (IKM), Pemerintah Kota Tangerang memfasilitasi IKM untuk mengikuti pameran produk di tingkat regional dan nasional. Perkembangan industri di Kota Tangerang sendiri bergerak fluktuatif, yaitu pada Tahun 2010 sebanyak 2.595, padatahun 2011 sebanyak 2.220 perusahaan, pada Tahun 2012 sebanyak 2.288 perusahaan, pada Tahun 2013 sebanyak 2.275 dan pada Tahun 2014 sebanyak 2.299 (meningkat 1,05%). Dengan demikian target pertumbuhan industri sebesar 1% di Kota Tangerang dalam realisasinya melebihi target yaitu 1,05%. Untuk indikator Jumlah perusahaan/tahun yang memiliki Tingkat standar kelayakan produksi yaitu sebanyak 40 perusahaan per tahun dalam realisasinya yaitu mencapai 21 perusahaan (300%) Sedangkan untuk indicator terdatanya hubungan keterkaitan industri hulu hingga hilir terealisasi pencapaian targetnya sebesar 100%. 3.4.24 SASARAN 24 Terwujudnya Pemantapan dan Pengembangan Sistem Pendidikan Daerah yang Mengacu pada Sistem Pendidikan Nasional, dan Berbasis Kompetensi, Serta Berosientasi pada Kebutuhan Kerja Pencapaian sasaran 24 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.45. Evaluasi Pencapaian Sasaran 24 No Indikator Sasaran Satuan 1 Angka Putus Sekolah SD/MI 2 Angka Putus Sekolah SMP/MTs 3 4 5 Angka Putus Sekolah SMA/MA/SMK Angka Melek Huruf Penduduk Usia > 15 Tahun Angka Melanjutkan SD/MI ke SMP/MTs (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % 0,02 0,00 185,00 0,02 0,01 200,00 0,09 0,03 166,67 0,07 0,02 350,00 0,12 0,16 66,67 0,11 0,14 78,57 98,65 98,65 100,00 98,71 98,51 99,80 98,53 90,64 91,99 98,72 94,42 95,64 3-87
No Indikator Sasaran Satuan 6 Angka Melanjutkan SMP/MTs ke SMA/SMK/MA 7 Angka Kelulusan Siswa SD/MI 8 Angka Kelulusan Siswa SMP/MTs 9 Angka Kelulusan Siswa SMA/MA/SMK (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % 97,74 120,39 123,17 97,93 100,00 102,12 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 99,99 99,99 100,00 99,99 100,00 100,01 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Angka Putus Sekolah SD/MI Prosentase Penurunan Angka Putus Sekolah (APS) SD/MI tahun 2015 dari Target 0,02% realisasi 0,01%. hal ini menunjukan bahwa target yang telah ditetapkan dalam RPJMD tercapai dengan baik, walaupun masih terdapat sejumlah 6 anak putus sekolah dari jumlah keseluruhan siswa SD/MI sebanyak 198.426 siswa, Pemerintah Kota Tangerang terus berupaya untuk menekan Penurunan Angka Putus Sekolah. Kondisi ini menggambarkan bahwa makin besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap upaya Penurunan Angka Putus Sekolah SD/MI dengan memberikan subsidi bantuan bagi siswa putus sekolah melalui bantuan operasional Paket A, B, dan C yang tidak mampu melalui Program Tangerang Cerdas pada Jenjang Pendidikan Dasar. Kondisi ini menggambarkan bahwa makin besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap layanan dibidang pendidikan, khususnya upaya penurunan Angka Putus Sekolah SD/MI. Angka Putus Sekolah SMP/MTs Prosentase Penurunan Angka Putus SMP/MTs pada tahun 2015 dari Target 0,07% realisasi 0,02%. hal ini menunjukan bahwa target yang telah ditetapkan dalam RPJMD tercapai dengan baik, walaupun masih terdapat sejumlah 22-anak putus sekolah dari jumlah keseluruhan siswa SMP/MTs sebanyak 85.594 -siswa, Pemerintah Kota Tangerang terus berupaya untuk menekan Penurunan Angka Putus Sekolah. upaya Pemerintah Kota Tangerang agar seluruh penduduk siswa putus sekolah dan siswa tidak mampu dapat bersekolah di Kota Tangerang antara lain terus melaksanakan Pembangunan dan penyediaan sarana prasarana kebutuhan pendidikan dasar serta 3-88
memberikan berbagai bantuan diataranya : Pemberian bantuan melalui program Tangerang Cerdas untuk SPP dan Biaya Personal, Bantuan Operasional Pendidikan SD/MI, SMP/MTs Negeri. Kondisi ini menggambarkan bahwa makin besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap layanan dibidang pendidikan, khususnya upaya penurunan Angka Putus Sekolah SMP/MTs. Angka Putus Sekolah SMA/MA/SMK Prosentase Penurunan Angka Putus SMA/MA/SMK pada tahun 2015 sebesar 0.11% dari Target 0,14%. hal ini menunjukan bahwa target yang telah ditetapkan dalam RPJMD tercapai dengan baik, walaupun masih terdapat sejumlah 136-anak putus sekolah dari jumlah keseluruhan siswa SMP/MTs sebanyak 87.425-siswa, Pemerintah Kota Tangerang terus berupaya untuk menekan Penurunan Angka Putus Sekolah. upaya Pemerintah Kota Tangerang agar seluruh penduduk siswa putus sekolah dan siswa tidak mampu dapat bersekolah di Kota Tangerang antara lain terus melaksanakan Pembangunan dan penyediaan sarana prasarana kebutuhan pendidikan dasar serta memberikan berbagai bantuan diataranya : Pemberian bantuan melalui program Tangerang Cerdas untuk SPP dan Biaya Personal, Bantuan Operasional Pendidikan SMA dan SMK Negeri. Kondisi ini menggambarkan bahwa makin besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap layanan dibidang pendidikan, khususnya upaya penurunan Angka Putus Sekolah SMA/MA/SMK. Angka Melek Huruf Penduduk Usia > 15 Tahun Penduduk yang melek huruf di Kota Tangerang pada tahun 2014 mencapai 98,65 persen. Terjadi peningkatan sebesar 1,15 persen dibanding tahun 2015. Secara umum, kemampuan baca tulis penduduk Kota Tangerang di atas rata-rata penduduk Banten. Angka Melanjutkan SD/MI ke SMP/MTs Prosentase Capaian Angka Melanjutkan SD/MI ke SMP/MTs pada tahun 2015 sebesar 95,64% dari Target RPJMD sebesar 98,53 % pencapaian ini belum maksimal, bahwa dari jumlah lulusan SD/MI yang berjumlah sebanyak 29.725-siswa yang melanjutkan ke jenjang SMP/MTs hanya berjumlah 26.943 sehingga masih terdapat sekitar 2.782 anak yang dimungkinkan bersekolah atau melanjutkan di luar Kota Tangerang. 3-89
Angka Melanjutkan SMP/MTs ke SMA/SMK/MA Prosentase Capaian Angka Melanjutkan SMP/MTs ke SMA/MA/SMK pada tahun 2015 sebesar 102,12% dari Target RPJMD sebesar 97,74 %, capaian ini menunjukkan bahwa jumlah siswa baru kelas I pada jenjang SMA/MA/SMK di Kota Tangerang lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah lulusan SMP/MTs dan kondisi ini terus meningkat dari tahun ketahun, hal ini menunjukkan bahawa kualitas pendidikan di Kota Tangerang jauh lebih baik, sehingga kondisi ini menggambarkan bahwa makin besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap layanan dibidang pendidikan. Angka Kelulusan Siswa SD/MI Prosentase Capaian Angka Kelulusan SD/MI pada tahun 2015 telah mencapai 100% artinya upaya Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Pendidikan khususnya jenjang SD/MI untuk terus meningkatkan kualitas dan mutu lulusan telah terlaksana dengan baik, sehingga kondisi ini menggambarkan bahwa makin besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap layanan dibidang pendidikan, khususnya upaya meningkatkan Angka Kelulusan Siswa SD/MI. Angka Kelulusan Siswa SMP/MTs Prosentase Capaian Angka Kelulusan SMP/MTs pada tahun 2015 telah mencapai 100% artinya upaya Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Pendidikan khususnya jenjang SMP/MTs untuk terus meningkatkan kualitas dan mutu lulusan telah terlaksana dengan baik, sehingga kondisi ini menggambarkan bahwa makin besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap layanan dibidang pendidikan, khususnya upaya meningkatkan Angka Kelulusan Siswa SD/MI. Angka Kelulusan Siswa SMA/MA/SMK Prosentase Capaian Angka Kelulusan SMA/MA/SMK pada tahun 2015 telah mencapai 100% artinya upaya Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Pendidikan khususnya jenjang SMA/MA/SMK untuk terus meningkatkan kualitas dan mutu lulusan telah terlaksana dengan baik, sehingga kondisi ini menggambarkan bahwa makin besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap layanan dibidang pendidikan, khususnya upaya meningkatkan Angka Kelulusan Siswa SMA/MA/SMK. 3-90
3.4.25 SASARAN 25 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Pelayanan dan Akses Kesehatan yang berkualitas dan terjangkau Pencapaian sasaran 25 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.46. Evaluasi Pencapaian Sasaran 25 No Indikator Sasaran Satuan Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % 1 Cakupan Kelurahan Siaga Aktif (%) 50,00 73,00 146,00 85,58 97,12 113,49 2 3 4 5 Persentase rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat Kota Tangerang Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat Kota Tangerang 6 Cakupan pelayanan JKN (BPJS) 7 8 Presentase ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan di Puskesmas, Pustu, Pusling, dan Poliklinik Presentase Sarana Obat dan bahan-bahan berbahaya yang memenuhi syarat (%) 25,00 27,90 111,60 30,00 54,20 180,67 (%) 95,12 94,07 98,90 96,34 98,08 101,80 (%) 50,00 50,00 100,00 50,00 48,08 96,16 (%) 0,84 6,50 773,81 0,84 2,59 309,63 (%) per tahun (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 127,33 127,33 100,00 100,00 100,00 (%) 89,13 93,48 104,88 91,30 92,75 101,58 9 Presentase sarana kesehatan yang memenuhi syarat (%) 61,11 81,25 132,96 65,56 77,78 118,65 10 Rasio dokter per 1.000 penduduk dokter/ 1.000 penduduk 0,62 0,62 100,00 0,05 0,08 146,81 11 Rasio tenaga medis per 1.000 penduduk tenaga medis/ 1.000 penduduk 1,57 1,57 100,00 0,05 0,02 47,91 3-91
Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut : Cakupan Kelurahan Siaga Aktif Kelurahan Siaga aktif adalah Kelurahan yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Pembentukan desa/kelurahan siaga melalui: Sosialisasi pembentukan desa/kelurahan siaga, Survey Mawas Diri (SMD), Pendekatan kepada masyarakat/tokoh masyarakat, untuk mendapatkan dukungan, peningkatan kapasitas provider, dan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD). Indikator Sasaran Pokok Pembangunan ini merupakan jumlah Kelurahan Siaga Aktif berbanding dengan Jumlah Kelurahan Siaga yang dibentuk. Pada tahun 2015 dari target sebesar 85,58% tercapai 97,12% yaitu dari pembentukan 104 Kelurahan Siaga terdapat 76 kelurahan yang sudah mendapatkan SK Kelurahan Siaga Aktif melalui kegiatan pengembangan media promosi dan informasi sadar hidup sehat Persentase rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) Indikator Sasaran Pokok Pembangunan ini merupakan Jumlah Rumah tangga yang PHBS hasil survey berbanding dengan Jumlah Rumah tangga yang PHBS hasil survey Pada tahun 2015 dari target sebesar 30,00% tercapai 54,20% yaitu hasil pendataan PHBS RT didapatkan persentase rumah tangga yang ber-phbs (pemantauan dilakukan di Kelurahan Cipondoh) sebesar 27.9% (958 rumah tangga) dari seluruh rumah tangga yang dipantau (3437 rumah tangga) dan Persentase rumah tangga yang tidak ber-phbs di Kelurahan Cipondoh sebesar 72.1% (2479 rumah tangga) dari seluruh rumah tangga yang dipantau (3437 rumah tangga) melalui kegiatan Penyuluhan Masyarakat Pola Hidup Sehat Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat Indikator Sasaran Pokok Pembangunan ini merupakan Jumlah Siswa SD Setingkat yang diperiksa kesehatannya berbanding dengan Jumlah Siswa SD Setingkat di Kota Tangerang. Pada tahun 2015 dari target sebesar 96,24% tercapai 98,08% (101,80%) yaitu sebanyak 33.300 murid kelas 1 SD di Kota Tangerang, terdapat 31.324 anak yang 3-92
diperiksa kesehatannya. Adapun realisasi capaian tidak mencapai 100% dikarenakan keterbatasan SDM yang turun ke sekolah untuk memeriksa kesehatan siswa. Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat Kota Tangerang Indikator Sasaran Pokok Pembangunan ini merupakan Jumlah Kunjungan Pasien Masyarakat Kota Tangerang di Sarana Kesehatan Masyarakat Strata 1 (Puskesmas berbanding dengan Jumlah Masyarakat Kota Tangerang yang mendapat pelayanan. Dalam rangka meningkatkan keterjangkauan masyarakat dalam hal biaya kesehatan maka mulai tahun 2012, pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas tidak dikenakan biaya dan begitu juga dengan pelayanan kesehatan rujukan di Rumah Sakit yang bekerjasama dengan Pemerintah Kota Tangerang untuk seluruh masyarakat Kota Tangerang. Pada tahun 2015 dari target sebesar 50,00% tercapai 48,08% melalui kegiatan Pembiayaan Pelayanan Kesehatan Bagi Masyarakat Kota Tangerang. Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat Kota Tangerang Indikator Sasaran Pokok Pembangunan ini merupakan Jumlah Kunjungan Pasien Masyarakat Kota Tangerang di Sarana Kesehatan Masyarakat Strata 2 (RS) berbanding dengan Jumlah Masyarakat Kota Tangerang yang mendapat rujukan di sarana kesehatan strata 2 (RS). Pada tahun 2015 dari target sebesar 0,84% tercapai 2,59% yaitu dari 1.672.813 jumlah masyarakat Kota Tangerang terdapat sebanyak 108.871 Pasien Masyarakat Kota Tangerang di Sarana Kesehatan Masyarakat Strata 2 (RS) melalui kegiatan Pembiayaan Pelayanan Kesehatan Bagi Masyarakat Kota Tangerang Cakupan pelayanan JKN (BPJS) Indikator Sasaran Pokok Pembangunan ini merupakan Jumlah peserta JKN yang berobat ke strata 1 (Puskesmas) berbanding dengan peserta JKN yang berkunjung ke strata 1 (Puskesmas). Pada tahun 2015 dari target sebesar 100% tercapai 100% (100%) melalui kegiatan Kapitasi Pelayanan Kemitraan Jaminan Kesehatan Nasional 2015 3-93
Presentase ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan di Puskesmas, Pustu, Pusling, dan Poliklinik Presentase ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan di Puskesmas dan Jaringannya merupakan Jumlah ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan berbanding dengan jumlah kebutuhan obat dan perbekalan kesehatan pada tahun 2015 dari target 100% tercapai sebesar 100,00% melalui kegiatan pengadaan Obat dan perbekalan kesehatan, peningkatan mutu penggunaan obat dan perbekalan kesehatan dan monitoring, evaluasi dan pelaporan obat. Presentase Sarana Obat dan bahan-bahan berbahaya yang memenuhi syarat Indikator Sasaran Pokok Pembangunan ini merupakan Jumlah saran obat dan bahan berbahaya yang memenuhi syarat berbanding dengan Jumlah Sarana Obat dan bahan Berbahaya yang dibina/diperiksa Pada tahun 2015 dari target sebesar 91,30% tercapai 92,75% yaitu terdapat 129 sarana yang memenuhi syarat dari 138 sarana yang diperiksa melalui kegiatan Pembinaan Sarana Obat dan Bahan Berbahaya Presentase sarana kesehatan yang memenuhi syarat Indikator Sasaran Pokok Pembangunan ini merupakan Jumlah sarana kesehatan yang memenuhi syarat berbanding dengan Jumlah sarana kesehatan (rumah sakit, klinik, praktek dokter, praktek bidan) yang dibina. Pada tahun 2015 dari target sebesar 65,56% tercapai 77,78% yaitu sebanyak 64 sarana kesehatan (rumah sakit, klinik, praktek dokter, praktek bidan) yang dibina terdapat 52 sarana kesehatan yang memenuhi syarat melalui kegiatan Pembinaan dan Penyuluhan Teknis Penatalaksanaan Bagi Sarana Kesehatan 3.4.26 SASARAN 26 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya pemberdayaan dan perlindungan anak yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan keluarga 3-94
Pencapaian sasaran 26 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Tabel 3.47. Evaluasi Pencapaian Sasaran 26 No Indikator Sasaran Satuan 1 Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan penanganan pengaduan oleh petugas terlatih di dalam unit pelayanan terpadu Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 21,09 66,67 316,12 20,54 20,54 100,00 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Cakupan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan yang mendapatkan pelayanan kesehatan oleh Tenaga Kesehatan Terlatih Di Puskesmas Mampu Tatalaksana KtP/A dan PPT/PKT di Rumah Sakit Cakupan layanan rehabilitasi sosial yang diberikan oleh petugas rehabilitasi sosial terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu Cakupan layanan bimbingan rohani yang diberikan oleh petugas bimbingan rohani terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu Cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan pengadilan atas kasuskasus kekerasan terhadap perempuan dan anak Cakupan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Yang Mendapatkan Layanan Bantuan Hukum Cakupan layanan pemulangan bagi perempuan dan anak korban kekerasan Cakupan layanan reintegrasi sosial bagi perempuan dan anak korban kekerasan Persentase focal point SKPD yang memiliki aktifitas di dalam perwujudan kesetaran dan keadilan gender (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 22,11 13,33 60,29 21,05 36,07 171,33 (%) 22,67 24,44 107,81 21,33 68,85 322,73 (%) 20,00 6,04 30,20 20,00 62,00 310,00 (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 62,00 62,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 21,09 13,33 63,21 20,54 20,54 100,00 (%) 38,10 35,56 93,33 52,38 17,31 33,05 Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah daerah (%) 0,60 0,59 98,33 59,83 66,23 110,69 3-95
No Indikator Sasaran Satuan 11 Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % Persentase partisipasi perempuan di lembaga swasta (%) 15,74 15,69 99,68 15,74 10,87 69,10 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut : Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan penanganan pengaduan oleh petugas terlatih di dalam unit pelayanan terpadu Banyaknya pengaduan korban kekerasan perempuan dan anak sedikit di banding target yang diperkirakan Cakupan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan yang mendapatkan pelayanan kesehatan oleh Tenaga Kesehatan Terlatih Di Puskesmas Mampu Tatalaksana KtP/A dan PPT/PKT di Rumah Sakit Menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan terlatih di puskesmas mampu dilaksanakan sesuai target Cakupan layanan rehabilitasi sosial yang diberikan oleh petugas rehabilitasi sosial terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu Pelayanan rehabsos yang dilakukan oleh petugas lebih kecil dari target yang ditetapkan dikarenakan kebutuhan rehabsos lebih kecil dari target Cakupan layanan bimbingan rohani yang diberikan oleh petugas bimbingan rohani terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu Semakin besar capaian layanan bimbingan rohani dari target, artinya korban cukup banyak membutuhkan pelayanan bimbingan rohani Cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan pengadilan atas kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak Putusan pengadilan realisai 0,060 lebih kecil dari target 20 % berarti pengaduan tidak dilanjuti ke proses hukum cukup mediasi layanan pengaduan 3-96
Cakupan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Yang Mendapatkan Layanan Bantuan Hukum Korban kekerasan yang membutuhkan layanan banyuan terpenuhi seluruhnya Cakupan layanan pemulangan bagi perempuan dan anak korban kekerasan Korban dalam tahun ini tidak ada layanan pemulangan dikarenakan korban seluruhnya berasal dari Kota Tangerang Cakupan layanan reintegrasi sosial bagi perempuan dan anak korban kekerasan Korban dalam tahun ini tidak ada layanan pemulangan dikarenakan korban seluruhnya berasal dari Kota Tangerang Persentase focal point SKPD yang memiliki aktifitas di dalam perwujudan kesetaran dan keadilan gender Aktifitas Focal point SKPD dan target yang ditentukan sesuai dengan realisasi dalam perwujudan kesetaraan dan keadilan gender Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah daerah Partsipasi perempuan masih sedikit dibandingkan partisipasi laki2 dikarenakan kesempatan perempuan kurang 3.4.27 SASARAN 27 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap norma keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera Pencapaian sasaran 27 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.48. Evaluasi Pencapaian Sasaran 27 No Indikator Sasaran Satuan 1 Cakupan Pasangan Usia Subur (PUS) yang usia istrinya < 20 tahun Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 3,40 1,14 33,53 1,05 1,07 101,77 2 Cakupan Pasangan Usia Subur menjadi Peserta KB aktif (%) 73,02 73,55 100,73 73,20 77,91 106,43 3-97
3 4 5 6 7 8 9 10 11 Cakupan Pasangan Usia Subur yang ingin ber-kb tidak terpenuhi (Unmet Need) Cakupan Anggota Bina Keluarga Balita (BKB) yang ber- KB Cakupan PUS Peserta KB Anggota Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) yang ber-kb Rasio Petugas Lapangan Keluarga Berencana/ Penyuluh Keluarga Berencana (PLKB/PKB) di setiap kelurahan Rasio Pembantu Pembina Keluarga Berencana (PPKBD) di setiap Kelurahan Cakupan penyediaan alat dan obat Kontrasepsi untuk memenuhi permintaan masyarakat di daerah Cakupan penyediaan informasi data mikro keluarga di setiap Kelurahan Persentase kecamatan memiliki fasilitas pelayanan konseling remaja Cakupan pelayanan dan penanggulangan Narkoba, PMS termasuk HIV/AIDS di setiap kelurahan (%) 14,38 16,89 117,45 15,07 13,71 90,99 (%) 48,08 50,00 103,99 49,04 66,23 135,06 (%) 0,00 0,00 0,00 0,37 0,49 130,44 petugas/ kelurahan petugas/ kelurahan 0,10 0,06 60,00 0,10 0,10 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 30,00 30,00 100,00 30,00 30,00 100,00 (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 17,31 17,31 12 Rasio pelayanan Posyandu Aktif di setiap RW posyandu/ RW 1,00 1,08 108,00 100,00 108,74 108,74 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Cakupan Pasangan Usia Subur (PUS) yang usia istrinya < 20 tahun Indikator Sasaran Cakupan Pasangan Usia Subur (PUS) Yang Usia Istrinya < 20 Tahun adalah: jumlah PUS yang usia istrinya < 20 tahun (2929) dibagi jumlah PUS (255.224), pada tahun 2015 targetnya adalah 1,05% dan realisasinya adalah 1,07%. Hal ini dikarenakan PUS yang sudah siap melahirkan adalah usianya lebih dari 21 tahun, sehingga kesiapan melahirkan lebih matang menurut Kesehatan Reproduksinya Makin Kecil Persentase PUS Yang Berusia Lebih Kecil Dari 20 Tahun, Makin Baik. 3-98
Cakupan Pasangan Usia Subur menjadi Peserta KB aktif Indikator Sasaran Cakupan Pasangan usia Subur Menjadi Peserta KB- Aktif adalah : PUS yang menjadi peserta KB aktif adalah 73,55% adalah dari sejumlah PUS sebesar 255.244 yang menjadi peserta KB aktif adalah 187.734 atau CU/PUS = 187.734/255.224= 73,55 %. Makin Besar Persentase Peserta KB Aktif Dibanding PUS, maka Makin Cepat Penurunan Laju Pertambahan Penduduk Yang Diakibatkan Oleh Sedikitnya Angka Kelahiran Cakupan Pasangan Usia Subur yang ingin ber-kb tidak terpenuhi (Unmet Need) Indikator Sasaran Cakupan Anggota Keluarga Yang Tidak Ingin Anak Dan Tidak Ingin Melahirkan Lagi, tapi saat ini tidak menggunakan salah satu alat kontrasepsi. Dari jumlah PUS sebesar 255.224 yang ingin anak ditunda dan tidak mau melahirkan lagi adalah sebesar 43.132 atau sebesar 16,89%. Semakin Persentase Nilainya Kecil, Makin Baik (Makin Banyak PUS Yang Dilindungi Dengan Kontrasepsi Cakupan Anggota Bina Keluarga Balita (BKB) yang ber-kb Indikator Sasaran Cakupan PUS Peserta KB Anggota Bina Keluarga Balita ( BKB ) Yang Ber-KB yaitu jumlah keluarga yang masih PUS menjadi anggota kelompok kegiatan BKB, namun hanya 50% yang telah ber KB. Makin Tinggi Nilai Persentasenya, Semakin Baik Untuk menekan Laju Pertambahan Penduduk. Rasio Petugas Lapangan Keluarga Berencana/ Penyuluh Keluarga Berencana (PLKB/PKB) di setiap kelurahan Indikator SasaranRasio Petugas Lapangan Keluarga Berencana/Penyuluh Keluarga Berencana (PLKB/PKB) di setiap kelurahan adalah : Dalam program KB KS sebaiknya setiap Kelurahan ada 1 (satu) orang PLKB, Jumlah PLKB= 7 dan jumlah kelurahan 104 jadi rasio = 7/104= 0,06% Rasio Pembantu Pembina Keluarga Berencana (PPKBD) di setiap Kelurahan Indikator Sasaran Rasio pembantu Pembina Keluarga Berencana (PPKBD) di setiap kelurahan adalah : Dalam program KB KS sebaiknya setiap Kelurahan ada 1 (satu) orang PPKBD, Jumlah PPKBD = 104 dan jumlah kelurahan 104 jadi rasio = 104/104= 100% 3-99
Cakupan penyediaan alat dan obat Kontrasepsi untuk memenuhi permintaan masyarakat di daerah Indikator sasaran Cakupan penyediaan alat dan obat Konstrasepsi untuk memenuhi permintaan masyarakat di daerah adalah : Standar Pelayanan Minimal (SPM) setiap daerah agar menganggarkan sebesar 30% untuk kebutuhan alat kontrasepsi. Namun karena sekarang pelayanan KB dalam era JKN oleh BPJS bagi keluarga tidak mamp), dan menurut aturan semua alat kontrasepsi bagi peserta BPJS ditanggung oleh pemerintah (BKKBN Pusat), sehingga daerah belum mengadakan penyediaan Alat Kontrasepsi bagi Keluarga tidak mampu atau 0%. Cakupan penyediaan informasi data mikro keluarga di setiap Kelurahan Indikator Sasaran Cakupan penyediaan informasi data mikro keluarga di setiap Kelurahan adalah : Jumlah KK seluruhnya = 343.758, seluruhnya telah didata pada kegiatan Pendataan Keluarga sehingga jumlah KK didata (343.758) / jumlah KK yang ada (343.758) = 100% Persentase kecamatan memiliki fasilitas pelayanan konseling remaja Indikator Sasaran Presentase kecamatan memiliki fasilitas pelayanan konseling remaja adalah : Jumlah Kecamatan 13, jumlah PIK KRR 13. Jadi Jumlah PIK KRR (13) / Jumlah Kecamatan (13) = 100%. Cakupan pelayanan dan penanggulangan Narkoba, PMS termasuk HIV/AIDS di setiap kelurahan Indikator Sasaran Cakupan pelayanan dan penanggulangan Narkoba, PMS termasuk HIV/AIDS di setiap kelurahan, pada BPMKB untuk mencapai indicator ini pada tahun 2014 belum melaksanakan program kegiatan jadi masih 0%. Rasio pelayanan Posyandu Aktif di setiap RW Jumlah RW se Kota Tangerang yaitu 986 dan jumlah Posyandu yaitu 1.069. Jadi Rasio Posyandu adalah Jumlah Posyandu (1.069) / jumlah RW (986) = 1,06. Untuk mencapai indikator sasaran ini dilaksanakan oleh SKPDBadan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana, sebagai SKPD pembina posyandu diuraikan pada 1 program dan 1 kegiatan, sabagai berikut : 3-100
Program Pengembangan Model Operasional Bkb-Posyandu-Padu Pembinaan Posyandu kepada 1070 posyandu 3.4.28 SASARAN 28 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan perlindungan kesejahteraan sosial-masyarakat Pencapaian sasaran 28 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.49. Evaluasi Pencapaian Sasaran 28 No Indikator Sasaran Satuan 1 2 3 4 5 6 Persentase (%) PMKS skala kota yang menerima program pemberdayaan sosial melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) atau kelompok sosial ekonomi sejenis lainnya Jumlah KUBE yang mendapat Bantuan Persentase Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial Persentase (%) penyandang cacat, fisik, mental, serta lanjut usia tidak potensial yang telah menerima jaminan sosial Tingkat keikutsertaan eks penyandang penyakit sosial yang mengikuti pendidikan dan pelatihan Cakupan petugas rehabilitasi sosial yang terlatih Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 16,67 9,60 57,59 37,50 82,81 220,83 (%) 0,00 0,00 0,00 25,00 25,00 100,00 (%) 25,52 10,03 39,30 49,30 62,81 127,42 (%) 4,06 4,63 114,11 11,48 11,48 100,00 (%) 20,00 13,50 67,50 40,00 10,40 26,00 (%) 11,11 11,11 100,00 22,22 12,82 57,69 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: 3-101
Persentase (%) PMKS skala kota yang menerima program pemberdayaan sosial melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) atau kelompok sosial ekonomi sejenis lainnya Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 5 kegiatan yaitu : Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Lainnya Pelatihan keterampilan berusaha bagi keluarga miskin Adapun ruang lingkup kegiatan, yaitu dalam bentuk pemberian keterampilan berusaha berupa pelatihan pembuatan kue kering dan kue basah. Pelayanan Pemulangan Orang Terlantar, Sakit dan Meninggal Kegiatan ini merupakan pelayanan yang dilakukan oleh Dinas Sosial kepada orang terlantar, sakit dan meninggal. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mengurangi jumlah orang terlantar di Kota Tangerang. Adapun ruang lingkup kegiatan yaitu: (1). Menerima laporan dari orang terlantar yang datang ke Dinas Sosial secara langsung dengan membawa surat keterangan dari Kepolisian, atau laporan dari warga kemudian ditindaklnjuti oleh petugas; (2). Memberikan surat pengantar melanjutkan perjalanan dan uang transport sesuai dengan daerah tujuan; (3). Jika mendapat laporan dari masyarakat, maka petugas mendatangi tempat ditemukan orang terlantar, kemudian melakukan penanganan; (4). Jika orang terlantar dalam kondisi sakit, maka akan dirujuk ke rumah sakit dengan membawa surat keterangan dari kepolisian dan surat rekomendasi dari Dinas Sosial. Dan jika meninggal, maka akan ditangani sampai dengan pemakaman; (5). Jika orang terlantar tersebut dinyatakan sembuh oleh rumah sakit dan dikembalikan ke Dinas Sosial, maka akan kembalikan ke daerahnya, jika tidak memiliki keluarga maka dirujuk ke panti rehabilitasi. Fasilitasi Kegiatan Pusat dan Propinsi Banten Kegiatan ini merupakan partisipasi kesertaan peserta (PMKS dan PSKS) pada kegiatan di tingkat Pusat dan tingkat Provinsi Banten yang mewakili Kota Tangerang. Kegiatan tersebut antara lain: Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN), Pekan Kreatifitas Anak, Forum Anak Daerah (FAD). 3-102
Jumlah kesertaan anak terlantar, anak cacat, anak pemulung, lanjut usia, sebanyak orang yang mengikuti kegiatan di tingkat Provinsi Banten dan Pusat, dan di akhir tahun 2015 sebanyak 37 orang Pemutakhiran Data PMKS dan PSKS Fasilitasi Distribusi Beras untuk Keluarga Miskin Persentase Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 4 kegiatan yaitu : Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial Pelatihan keterampilan dan praktek belajar kerja bagi anak terlantar termasuk anak jalanan, anak cacat, anak nakal Kegiatan Pelatihan Keterampilan dan Praktek Belajar bagi Anak Terlantar, Anak Jalanan, Anak Cacat dan Anak Nakal ini dimaksudkan agar mereka memiliki keterampilan sebagai bekal untuk memiliki usaha sendiri dan membantu meringankan beban orang tua. Bentuk keterampilan yang diajarkan adalah daur ulang sampah. Penanganan masalah-masalah strategis yang menyangkut tanggap cepat darurat dan kejadian luar biasa Kegiatan ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan dalam bentuk tanggap darurat bencana, berupa pemberian bantuan untuk pemenuhan kebutuhan dasar, pada fase tanggap darurat terdiri dari makanan siap saji, bahan pangan, bahan non pangan berupa peralatan kebersihan, selimut, keperluan bayi dan lain-lain, serta penyediaan bahan bakar (solar) untuk mesin penyedot air di lokasi-lokasi banjir. Peningkatan Kualitas Pelayanan, Sarana dan Prasarana Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial Bagi PMKS Kegiatan ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan dalam bentuk: Pelayanan dan pemenuhan kebutuhan dasar anak jalanan, serta pembinaan melalui kegiatan pelatihan keterampilan dan konseling,yang dilaksanakan di Rumah Singgah Darul Aitam. Review DED Rumah Perlindungan Sosial 3-103
Persentase (%) penyandang cacat, fisik, mental, serta lanjut usia tidak potensial yang telah menerima jaminan sosial Program pembinaan para penyandang cacat dan trauma Pendayagunaan para penyandang cacat dan eks trauma Kegiatan ini merupakan kegiatan pembinaan melalui pemberian alat bantu dengar dan kursi roda, sehingga para penyandang cacat dan trauma memiliki rasa percaya diri dan dapat menggali potensi dirinya sehingga dapat menjalankan Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 1 kegiatan yaitu : fungsi sosialnya di masyarakat secara wajar, serta terbantu dalam mobilitas dan komunikasi. Tingkat keikutsertaan eks penyandang penyakit sosial yang mengikuti pendidikan dan pelatihan Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 2 kegiatan yaitu : Program Pembinaan eks Penyandang Penyakit Sosial (eks Narapidana, PSK, Narkoba dan Penyakit Sosial Lainnya). Pendididkan dan Pelatihan Keterampilan Berusaha Bagi Penyandang Eks Penyakit Sosial Kegiatan Pelatihan Keterampilan bagi eks penyandang penyakit sosial ini dimaksudkan agar mereka memiliki keterampilan sebagai bekal untuk memiliki usaha sendiri dan membantu meringankan beban orang tua. Bentuk keterampilan yang diajarkan adalah pelatihan pembibitan lele. Pemberdayaan eks penyandang penyakit sosial Kegiatan ini merupakan kegiatan pemberdayaan (khususnya anak jalanan, gelandangan, pengemis dan pengamen) di Panti Rehabilitasi. Kegiatan ini terdiri dari dua kegiatan yaitu: (1). Pengawasan anak jalanan, gelandangan dan pengemis yang dilakukan setiap hari kerja di lokasi-lokasi yang menjadi tempat anak jalanan, gelandangan pengemis dan pengemen beroperasi, seperti perempatan/pertigaan lampu lalu lintas; (2). Operasi dan pengiriman hasil razia ke Panti Rehabilitasi. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan motivasi dan keterampilan kepada anak jalanan, gelandangan dan pengemis serta pengemen sehingga diharapkan dapat 3-104
mengurangi jumlah mereka di Kota Tangerang. Pembinaan dilakukan berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2012 tentang Pembinaan Anak Jalanan, Gelandangan, Pengemis dan Pengamen. Hasil dari kegiatan pengawasan dan operasi bagi gepeng dikirim ke Panti Sosial Bina Karya Pangudi Luhur, Bekasi Jawa Barat. Pada Tahun 2015, yang dikirim ke panti rehabilitasi sebanyak 259 orang. Cakupan petugas rehabilitasi sosial yang terlatih Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 3 kegiatan yaitu : Program Pembinaan Panti Asuhan/ Panti Jompo Bantuan Sarana dan Prasarana Panti Asuhan / Panti Jompo Kegiatan ini merupakan kegiatan pembinaan panti asuhan/panti jompo melalui pemberian berupa 3 buah kasur lantai dan 3 buah lemari pakaian untuk 26 panti asuhan/panti jompo se Kota Tangerang. Pembinaan Panti Asuhan / Panti Jompo Kegiatan ini merupakan kegiatan pembinaan panti asuhan/panti jompo dalam bentuk pelatihan perbaikan lampu TL, bagi anak-anak penghuni panti asuhan sebanyak 108 orang. Pelatihan Kewirausahaan Bagi Penghuni Panti Kegiatan ini merupakan kegiatan pembinaan panti asuhan/panti jompo dalam bentuk pelatihan Manajemen bagi penghuni panti asuhan sebanyak 72 orang. 3.4.29 SASARAN 29 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Ketenagakerjaan Daerah yang berbasis Keahlian serta berorientasi pada penciptaan dan perluasan lapangan pekerjaan 3-105
Pencapaian sasaran 29 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.50. Evaluasi Pencapaian Sasaran 29 No Indikator Sasaran Satuan 1 2 3 4 Besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis kompetensi Tingkat besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis kewirausahaan Besaran pekerja/buruh yang menjadi peserta program Jamsostek Aktif Tingkat besaran Kasus Yang Diselesaikan Dengan Perjanjian Bersama (PB) Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 33,33 53,33 160,02 50,00 71,00 142,00 (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 58,64 40,93 69,80 60,19 63,00 104,68 (%) 39,17 21,65 55,27 45,83 29,00 63,27 5 Besaran pencari kerja terdaftar yang ditempatkan (%) 60,00 82,00 136,67 64,00 49,00 76,56 6 Besaran Pemeriksaan Perusahaan (%) 15,60 22,70 145,51 24,26 15,00 61,82 7 Besaran Pengujian Peralatan di Perusahaan (%) 66,91 57,05 85,26 70,63 62,00 87,78 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Upaya pencapaian target indikator sasaran ini dilaksanakan oleh Dinas Ketenagakerjaanmelalui beberapa program dan kegiatan berikut ini: Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja Pemeliharaan Rutin/berkala sarana dan prasarana BLK Pendidikan dan pelatihan keterampilan bagi pencari kerja berbasis masyarakat Pendidikan dan pelatihan keterampilan bagi pencari kerja berbasis masyarakat Program Peningkatan Kesempatan Kerja Penyusunan informasi bursa tenaga kerja Penyebarluasan informasi bursa tenaga kerja Kerjasama pendidikan dan pelatihan Fasilitasi Perpanjangan IMTA dan Laporan Keberadaan TKA Pembinaan PPTKIS dan LPK Sosialisasi Perda IMTA Program Perlindungan Pengembangan Lembaga Ketenagakerjaan Fasilitasi penyelesaian prosedur 3-106
penyelesaian perselisihan hubungan industrial Fasilitasi penyelesaian prosedur pemberian perlindungan hukum dan jaminan sosial ketenagakerjaan Sosialisasi peraturan perundang undangan yang terkait dengan ketenagakerjaan dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Peningkatan pengawasan, perlindungandan penegakkan hukum tehadap keselamatan dan kesehatan kerja Pengawasan Penerapan Norma Ketenagakerjaan di Perusahaan Pembinaan Penerapan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Perusahaan Fasilitasi Penanganan Penyelenggaraan Hari Buruh Nasional (May Day) Pengawasan Khusus Keberadaan Tenaga Asing Fasilitasi Pembuatan Peraturan Perusahaan (PP) dan Perjanjian Kerja Bersama Pengawasan Norma Kerja Perempuan dan Anak Program Transmigrasi Lokal Penyuluhan Transmigrasi Lokal 3.4.30 SASARAN 30 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan kebudayaan daerah Pencapaian sasaran 30 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.51. Evaluasi Pencapaian Sasaran 30 No Indikator Sasaran Satuan 1 2 3 Cakupan pelestarian benda, situs dan kawasan cagar budaya daerah Cakupan tempat menggelar seni, memamerkan dan memasarkan karya seni, serta mengembangkan industri seni Cakupan Penyelenggaraan Festival Seni dan budaya Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 56,25 56,25 100,00 68,75 68,75 100,00 (%) 80,00 80,00 100,00 80,00 80,00 100,00 (%) 20,00 30,00 150,00 40,00 40,00 100,00 4 Cakupan Kajian Seni (%) 20,00 20,00 100,00 40,00 40,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: 3-107
Upaya pencapaian target indikator sasaran ini dilaksanakan oleh Dinas Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan melalui beberapa program dan kegiatan berikut ini: Program Pengembangan Nilai Budaya Pelestarian dan aktualisasi adat budaya daerah Pembinaan dan Pengelolaan Benda/Cagar Budaya Seminar/Sarasehan Kesenian Khas Kota Tangerang Kajian Akademik Raperda Benda/Cagar Budaya Program Pengelolaan Keragaman Budaya Pengembangan kesenian dan kebudayaan daerah Fasilitasi penyelenggaraan festival budaya daerah Pengiriman Misi Kesenian Program Pengembangan Kerjasama Pengelolaan Kekayaan Budaya Fasilitasi Pementasan Seni Budaya 3.4.31 SASARAN 31 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kepemudaan dan Keolahragaan Daerah yang mandiri dan berprestasi Pencapaian sasaran 31 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.52. Evaluasi Pencapaian Sasaran 31 No Indikator Sasaran Satuan 1 2 3 4 Persentase organisasi pemuda yang memiliki sertifikat standar mutu organisasi kepemudaan Cakupan fasilitasi kegiatan kepemudaan Persentase organisasi olahraga yang memiliki sertifikat standar mutu oraganisasi keolahragaan Tingkat fasilitasi kegiatan keolahragaan daerah Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 0,00 0,00 0,00 33,33 36,36 109,08 (%) 13,33 13,33 100,00 33,33 33,67 101,01 (%) 0,00 0,00 0,00 25,00 25,00 100,00 (%) per tahun 100,00 100,96 100,96 100,00 101,92 101,92 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: 3-108
Upaya pencapaian target indikator sasaran ini dilaksanakan oleh Dinas Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan melalui beberapa program dan kegiatan berikut ini: Program peningkatan peran serta kepemudaan Training Center (TC) Paskibraka Tingkat Kota dan Kecamatan Fasilitasi Tim Marching Band Kota Tangerang Fasilitasi Penyelenggaraan Festival Al - Azhom Pembangunan Gedung Pemuda Pengeadaan Perlengkapan Marching Band Pengembangan Wawasan Paskibraka Kota dan Kecamatan Program Pengembangan Kebijakan dan Manajemen Olahraga Pembinaan Managemant Organisasi Olahraga Program Pembinaan dan Pemasyarakatan Olahraga Peningkatan kesegaran jasmani dan rekreasi Penyelenggaraan kompetisi olahraga Pemberian penghargaan bagi insan olahraga yang berdedikasi dan berprestasi Kerjasama Peningkatan Olahragawan Berbakat dan Berprestasi Dengan Lembaga/Instasi Lainnya Pekan Olahraga Pelajar Daerah Pekan Olahraga Daerah Fasilitasi Kejuaraan Daerah dan Kejuaraan Nasional 3.4.32 SASARAN 32 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesatuan, kebangsaan, dan kepolitikan Pencapaian sasaran 32 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.53. Evaluasi Pencapaian Sasaran 32 No Indikator Sasaran Satuan 1 Cakupan peningkatan kesadaran wawasan kebangsaan pada Ormas, LSM, dan OKP (%) per tahun Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 3-109
2 3 4 Rasio petugas dalam satuan perlindungan masyarakat (Linmas) pada setiap RT Cakupan penyelenggaraan kemitraan dan kerjasama pemerintah daerah dengan ormas dan LSM di setiap wilayah kecamatan Tingkat penyelenggaraan sosialisasi kebijakan pemerintah di bidang Politik petugas/ RT kegiatan/ kecamatan 0,16 0,16 100,00 17,90 17,90 100,00 0,31 0,31 100,00 46,15 46,15 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 40,00 40,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Cakupan peningkatan kesadaran wawasan kebangsaan pada Ormas, LSM, dan OKP Dinamika perkembangan Ormas, LSM dan OKP dengan perubahan system pemerintahan membawa paradigma baru dalam tata kelola organisasi kemasyarakatan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pertumbuhan jumlah Ormas, LSM dan OKP, sebaran dan jenis kegiatan Ormas, LSM dan OKP dalam kehidupan demokrasi makin menuntut peran, fungsi dan tanggung jawab Ormas, LSM dan OKP untuk berpartisipasi dalam upaya mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia, serta menjaga dan memelihara keutuhan dan kedaulatan NegaraKesatuan Republik Indonesia. Peningkatan peran dan fungsi Ormas, LSM dan OKP dalam pembangunan memberi konsekuensi pentingnya membangun sistem pengelolaan Ormas, LSM dan OKP yang memenuhi kaidah Ormas, LSM dan OKP yang sehat sebagai organisasi nirlaba yang demokratis, profesional, mandiri, transparan,dan akuntabel. Pada tahun 2015 Kantor KesbangPol telah menyelenggarakan kegiatanpeningkatan Peningkatan wawasan kebangsaan bagi Ormas dan LSM untuk 200 orangpengurus Ormas, LSM dan OKP dan kegiatan kemitraan dan kerjasama antara pemerintah daerah dengan ormas dan LSM di wilayah kecamatan serta mensosialisasi kebijakan pemerintah di bidang Politik. Cakupan penyelenggaraan kemitraan dan kerjasama pemerintah daerah dengan ormas dan LSM di setiap wilayah kecamatan Guna meningkatkan peran dan fungsi Ormas, LSM dan OKP dalam pembangunan diwilayah Kota Tangerang Kantor Kesbang Linmas telah melaksanakan Kemitraan dengan beberapa Ormas, LSM dan OKP dari 3 Kecamatan. 3-110
Tingkat penyelenggaraan sosialisasi kebijakan pemerintah di bidang Politik Terfasilitasinya kegiatan Fasilitasi Sosialisasi Kebijakan Pemerintah Daerah, Provinsi, dan Pusat di Bidang Politik sebagai tindak lanjut terkait hasil koordinasi forum diskusidan seminar dengan jumlah peserta yang mengikuti kegiatan diskusi sebanyak 100 orang peserta. 3.4.33 SASARAN 33 Pencapaian sasaran 33 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.54. Evaluasi Pencapaian Sasaran 33 No Indikator Sasaran Satuan 1 2 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem penegakan Cakupan patroli siaga ketertiban umum dan ketentraman masyarakat Persentase pengawasan lokasi rawan pelanggar peraturan daerah Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % patroli/hari 1,38 1,00 72,46 2,77 1,00 36,11 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 3 Tingkat penyelesaian pelanggaran ketertiban umum (%) per tahun peraturan daerah yang manusiawi dan berkeadilan 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Pencapaian indikator kinerja dari sasaran ini didukung melalui Program Peningkatan Kemanan dan Kenyamanan Lingkungan dan Program Pemeliharaan Kantramtibmas dan Pencegahan Tindak Kriminal, yang meliputi kegiatan pokok sebagai berikut: Program Peningkatan Kemanan dan Kenyamanan Lingkungan, meliputi beberapa kegiatan pokok sebagai berikut : melakukan operasi penegakan perda di wilayah Kota Tangerang yang terdiri dari operasi PKL / ketertiban umum, operasi PSK, operasi penertiban miras. Kendala yang dihadapi kurangnya kesadaran masyarakat akan Peraturan Daerah No.7 Tahun 2005 tentang Pelarangan Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol, Peraturan Daerah No.8 Tahun 2005 tentang Pelarangan 3-111
Pelacuran, Peraturan Daerah No.6 Tahun 2011 tentang ketertiban umum, Peraturan Daerah No.5 Tahun 2010 tentang Kawasan Tanpa Rokok. Program Pemeliharaan Kantramtibmas dan Pencegahan Tindak Kriminal, meliputi beberapa kegiatan pokok sebagai berikut : melakukan Pam, swipping dan monitoring untuk meminimalisir terjadinya gangguan ketertiban umum di Kota Tangerang kegiatanya antara lain: (1) Pam Lebaran, (2) evaluasi Zona Rawan PKL dan melakukan pemantauan dan pengawasan lokasi/tempat yang terindikasi pelanggaran perda di Kota Tangerang melalui kegiatan : pencegahan tindak kriminal guna pencapaian ketertiban lingkungan, pengawasan tempat-tempat hiburan yang rawan ketertiban umum, menindak para pelanggar yang mengkonsumsi minuman keras dan prostitusi. Kendala yang dihadapi kurangnya kesadaran masyarakat akan Peraturan Daerah No.7 Tahun 2005 tentang Pelarangan Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol, Peraturan Daerah No.8 Tahun 2005 tentang Pelarangan Pelacuran, Peraturan Daerah No.6 Tahun 2011 tentang ketertiban umum, Peraturan Daerah No.5Tahun 2010tentangKawasan Tanpa Rokok. 3.4.34 SASARAN 34 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Keberdayaan Masyarakat yang berbasis pada kebutuhan dasar dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Pencapaian sasaran 34 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.55. Evaluasi Pencapaian Sasaran 34 No Indikator Sasaran Satuan 1 2 Tingkat pemberdayaan kelompok binaan lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) Persentase peningkatan lembaga (usaha ekonomi, badan keswadayaan masyarakat, postantek) setiap kelurahan Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 19,23 19,23 100,00 38,46 38,46 100,00 (%) 34,69 34,69 100,00 51,02 60,95 119,46 3-112
Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Upaya pencapaian target indikator sasaran ini dilaksanakan oleh Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana melalui beberapa program dan kegiatan berikut ini: Program Peningkatan Keberdayaan Masyarakat Pedesaan Pelatihan P3MK Gelar Karya Pemberdayaan Masyarakat Bulan Bakti Gotong Royong Penyusunan Buku Profil Kelurahan Fasilitasi Pokjanal Posyandu Gelar Teknologi Tepat Guna Pelatihan Penumbuhan dan Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Perlombaan Kelurahan Program pengembangan lembaga ekonomi pedesaan Fasilitasi PNPM Fasilitasi Kelembagaan Posyantek Kelurahan dan Wartek Pelatihan Peningkatan Usaha Ekonomi Keluarga 3.4.35 SASARAN 35 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran dan kegemaran membaca masyarakat Pencapaian sasaran 35 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Tabel 3.56. Evaluasi Pencapaian Sasaran 35 No Indikator Sasaran Satuan 1 2 Tingkat kenaikan kunjungan masyarakat ke perpustakaan daerah Tingkat kenaikan anggota perpustakaan, taman bacaan, klub buku, dll. Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 6,00 5,00 83,33 6,12 6,12 100,00 (%) 21,62 21,62 100,00 29,33 29,33 100,00 3-113
3 4 5 Tingkat koleksi dan jenis buku yang tersedia di perpustakaan daerah Tingkat keberadaan Perpustakaan Digital Tingkat kelengkapan sistem layanan perpustakaan daerah (%) 76,09 76,25 100,21 73,48 73,48 100,00 (%) 51,67 25,00 48,38 61,67 61,67 100,00 (%) 9,57 5,00 52,25 11,42 11,42 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Tingkat kenaikan kunjungan masyarakat ke perpustakaan daerah Peningkatan Jumlah kunjungan masyarakat ke Perpustakaan Daerah Kota Tangerang dari tahun ke tahun terus bertambah. Jumlah pengunjung Perpustakaan Daerah Kota Tangerang pada tahun 2015 tercatat sebanyak 308.207 orang. Hal ini dikarenakan akibat langsung dari beberapa kegiatan seperti Bimbingan Teknis Pengelola Perpustakaan, Story Telling, Publikasi dan Sosialisasi Minat dan budaya baca, Lomba Bercerita, dan Pembinaan yang dilakukan terhadap Pengelola perpustakaan dan Penambahan koleksi bahan pustaka di Perpustaakan daerah semakin lengkap sehingga menarik perhatian masyarakat. Kondisi ini menggambarkan bahwa sebagian besar masyarakat Kota Tangerang gemar membaca, selain itu juga menggambarkan pelayanan perpustakaan daerah terselenggara dengan baik. 3.4.36 SASARAN 36 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem perencanaanpenganggaran, pengendalian, dan evaluasi-pelaporan yang partisipatif, koordinatif dan integratif, serta berbasis data/informasi dan berorientasi pada sektoral dan kewilayahan Pencapaian sasaran 36 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.57. Evaluasi Pencapaian Sasaran 36 No Indikator Sasaran Satuan 1 Rata-rata tingkat koordinasi/kerjasama perencanaan pembangunan daerah dalam semua aspek pembangunan Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 3-114
2 3 Tingkat ketersediaan dan implementasi peraturan/regulasi Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah (SPPD) serta berbagai aturan pendukungnya Tingkat Ketersediaan, Pengelolaan, Pengolahan, dan Publikasi Data/Informasi Perencanaan Pembangunan Daerah (%) 42,86 42,86 100,00 71,43 71,43 100,00 (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 4 Tingkat ketersediaan dokumen utama perencanaan-penganggaran dan evaluasi-pelaporan pelaksanaan pembangunan daerah yang didukung kajian teknokratis serta dipublikasikan (%) 21,27 21,27 100,00 40,39 40,39 100,00 5 6 Tingkat kapasitas dan kompetensi Dasar, Teknis, dan Operasional Aparatur Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat peranserta/partisipasi kelompok masyarakat sebagai pemangku kepentingan pembangunan daerah (%) 33,33 33,33 100,00 50,00 50,00 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Rata-rata tingkat koordinasi/kerjasama perencanaan pembangunan daerah dalam semua aspek pembangunan Pencapaian indikator kinerja dari sasaran ini didukung melalui Program Perencanaan Pembangunan Sosial Budaya, Program Perencanaan Pembangunan Prasarana Wilayah dan Sumberdaya Alam, Program Perencanaan Pembangunan Ekonomi, yang meliputi kegiatan pokok sebagai berikut: Program Perencanaan Pembangunan Daerah, Koordinasi pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan Koordinasi perencanaan pembangunan daerah Koordinasi penanggulangan kemiskinan kota tangerang Koordinasi pencapaian mdg's Program Perencanaan Pembangunan Sosial Budaya Koordinasi perencanaan bidang kesmaspem Koordinasi perencanaan kota sehat tahun 2015 Program Perencanaan Pembangunan Prasarana Wilayah dan Sumberdaya Alam 3-115
Rapat koordinasi bidang sarana dan prasarana Prgram Perencanaan Pembangunan Ekonomi Koordinasi perencanaan pembangunan bidang sosial dan ekonomi Tingkat ketersediaan dan implementasi peraturan/regulasi Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah (SPPD) serta berbagai aturan pendukungnya Pencapaian indikator kinerja dari sasaran ini didukung melalui program Program Perencanaan Pembangunan Daerah yang meliputi kegiatan pokok sebagai berikut: Program Perencanaan Pembangunan Daerah Penetapan RPJMD dengan Peraturan Daerah; Penetapan RKPD dengan Peraturan Walikota; Penyusunan perubahan RKPD dengan Peraturan Walikota; Penyusunan revisi perda SPPD Peraturan Daerah; Penyusunan Revisi Perwal Dokumen Rencana Pembangunan Daerah dengan Peraturan Walikota; Penyusunan revisi perwal pengendalian dan evaluasi rencana pembangunan daerah dengan Peraturan Walikota; Penyusunan indikator kinerja utama kota tangerang dengan Peraturan Walikota. Tingkat Ketersediaan, Pengelolaan, Pengolahan, dan Publikasi Data/Informasi Perencanaan Pembangunan Daerah Pencapaian indikator kinerja dari sasaran ini didukung melalui Program Pengembangan Data/Informasi dengan kegiatan pokok: Pengumpulan, updating dan analisis data informasi capaian target kinerja program dan kegiatan Penyusunan dan pengumpulan data / informasi kebutuhan penyusunan dokumen perencanaan Pemeliharaansistem informasi perencanaan pembangunan daerah Pemeliharaan sistem informasi data perencanaan pembangunan daerah (sidarenbang) Pengembangan sistem informasi perencanaan pembangunan daerah Pengembangan sistem informasi data perencanaan pembangunan daerah (sidarenbang) 3-116
Tingkat ketersediaan dokumen utama perencanaan-penganggaran dan evaluasipelaporan pelaksanaan pembangunan daerah yang didukung kajian teknokratis serta dipublikasikan Pencapaian indikator kinerja dari sasaran ini didukung melalui program Program Perencanaan Pembangunan Daerah dan Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan (Program Rutin) yang meliputi kegiatan pokok sebagai berikut: Program Perencanaan Pembangunan Daerah Penyusunan rancangan RPJMD Penyelenggaraan musrenbang RPJMD Penetapan RPJMD Penyusunan rancangan RKPD Penyelenggaraan musrenbang RKPD Penetapan RKPD Penyusunan laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (LAKIP) Penyusunan laporan bulanan kinerja pemerintah daerah Penetapan kinerja pemerintah daerah Penyusunan kebijakan umum APBD (KU-APBD) Penyusunan prioritas dan plafon anggaran sementara (PPAS) Penyusunan kebijakan umum perubahan APBD (KU PERUBAHAN - APBD) Penyusunan prioritas dan plafon anggaran sementara (PPAS PERUBAHAN) Penyusunan rancangan awal rpjmd Penyusunan laporan keterangan pertanggungjawaban walikota Informasi laporan penyelenggaraan pemerintah daerah (ILPPD) Penyusunan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah (LPPD) dan suplemen tahunan Pengendalian dan evaluasi rencana kerja pemerintah daerah Penyusunan perubahan RKPD Evaluasi kinerja mandiri Penyusunan revisi perda SPPD Penyusunan grand desain pembangunan kb dan keluarga sejahtera Monitoring, evaluasi dan pelaporan fisik pembangunan Penyusunan kebijakan dalam perencanaan pembangunan tahunan daerah 3-117
Penyusunan revisi perwal pengendalian dan evaluasi rencana pembangunan daerah Penyusunan indikator kinerja utama kota tangerang Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan (Program Rutin) Penyusunan Renstra Renja SKPD Penyusunan Dokumen Penetapan Kinerja (Tapkin) SKPD Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Renja SKPD Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah Daerah (LAKIP) SKPD Tingkat kapasitas dan kompetensi Dasar, Teknis, dan Operasional Aparatur Perencanaan Pembangunan Daerah Pencapaian indikator kinerja dari sasaran ini didukung melalui Program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur dengan kegiatan Peningkatan kemampuan aparatur perencana Tingkat peranserta/partisipasi kelompok masyarakat sebagai pemangku kepentingan pembangunan daerah Pencapaian indikator kinerja dari sasaran ini didukung melalui Program Perencanaan Pembangunan Daerah, yang meliputi kegiatan pokok sebagai berikut: Penyelenggaraan musrenbang rpjmd Penyelenggaraan musrenbang rkpd 3.4.37 SASARAN 37 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan sarana-prasarana kependidikan, kebudayaan, dan kepustakaan yang layak dan memadai 3-118
Pencapaian sasaran 37 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Tabel 3.58. Evaluasi Pencapaian Sasaran 37 No Indikator Sasaran Satuan 1 2 3 4 5 6 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana prasarana pendidikan PAUD yang layak dan memadai Tingkat ketersedian sarana prasarana kebutuhan Pendidikan Dasar yang layak dan memadai Tingkat ketersedian sarana prasarana kebutuhan Pendidikan Menengah yang layak dan memadai Partisipasi Anak Bersekolah (PAB) SD/MI Partisipasi anak Bersekolah (PAB) SMP/MTs Partisipasi Anak Bersekolah (PAB) SMA/MA Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 20,00 20,00 100,00 40,00 40,00 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 40,00 40,00 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 40,00 40,00 100,00 (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun 92,88 101,94 109,75 93,81 112,20 119,60 95,94 95,85 99,91 96,90 84,03 86,72 76,22 90,61 118,88 76,99 98,86 128,41 7 Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A (%) per tahun 88,09 88,28 100,22 88,93 94,65 106,43 8 9 10 11 12 Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B Angka Partisipasi Murni (APM) SMA/SMK/MA/Paket C Tingkat ketersediaan dan kelengkapan Sarana dan Prasarana untuk guru, kepala sekolah, dan staf kependidikan lainnya dalam satuan pendidikan dasar Tingkat ketersediaan dan kelengkapan Sarana dan Prasarana untuk guru, kepala sekolah, dan staf kependidikan lainnya dalam satuan pendidikan menengah Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana dan prasarana kesenian dan kebudayaan daerah (%) per tahun 64,52 67,11 104,01 65,13 75,22 115,49 (%) per tahun 77,74 74,00 95,19 78,48 80,47 102,54 (%) 20,00 20,00 100,00 40,00 40,00 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 40,00 40,00 100,00 (%) 56,25 56,25 100,00 68,75 66,67 96,97 3-119
13 14 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana dan prasarana pepustakaan daerah Cakupan perpustakaan dan taman bacaan di setiap kecamatan (%) 38,34 38,34 100,00 39,56 39,56 100,00 buah/ kecamatan 24,08 24,08 100,00 24,31 24,31 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut : Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana prasarana pendidikan PAUD yang layak dan memadai Indikator ini merupakan salah satu penentu keberhasilan pendidikan PAUD di Kota Tangerang, karena indikator ini yang dijadikan acuan untuk meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan PAUD. Indikator ini memberikan gambaran bahwa besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap peningkatan pelayanan pendidikan, khususnya peningkatan ketersediaan sarana dan prasarana PAUD. Tahun 2015 target 40,00 % dan realisasi tercapai 40,00 %. Tingkat ketersedian sarana prasarana kebutuhan Pendidikan Dasar yang layak dan memadai Indikator ini merupakan salah satu penentu keberhasilan pendidikan dasar di Kota Tangerang, karena indikator ini yang dijadikan acuan untuk meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan dasar. Indikator ini memberikan gambaran bahwa besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap peningkatan pelayanan pendidikan, khususnya peningkatan ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan dasar di Kota Tangerang. Tahun 2015 target 40,00 % dan realisasi tercapai 40,00 % Tingkat ketersedian sarana prasarana kebutuhan Pendidikan Menengah yang layak dan memadai Indikator ini merupakan salah satu penentu keberhasilan pendidikan menengah di Kota Tangerang, karena indikator ini yang dijadikan acuan untuk meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan menengah. 3-120
Indikator ini memberikan gambaran bahwa besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap peningkatan pelayanan pendidikan, khususnya peningkatan ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan menengah di Kota Tangerang. Tahun 2015 target 40,00 % dan realisasi tercapai 40,00% Partisipasi Anak Bersekolah (PAB) SD/MI Indikator ini sama halnya dengan Angka Partisipasi Kasar (APK) karena rumus perhitungannya sama yaitu Jumlah Murid pada Jenjang SD/MI dibagi Jumlah Penduduk Usia 7-12 tahun. Prosentase Capaian Indikator ini pada tahun 2015 sebesar 112,20% dari Target 93,81%. Hal ini menunjukan bahwa target yang telah ditetapkan dalam RPJMD tercapai dengan baik, namun demikian upaya pembangunan dan pemeliharaan gedung sekolah terus dilakukan oleh Pemerintah Kota Tangerang meningkatkan pelayanan bidang pendidikan pada jenjang SD/MI. Kondisi ini menggambarkan bahwa besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap peningkatan pembangunan dibidang pendidikan, khususnya upaya peningkatan capaian Indikator PAB pada jenjang SD/MI. Partisipasi anak Bersekolah (PAB) SMP/MTs Indikator ini sama halnya dengan Angka Partisipasi Kasar (APK) karena rumus perhitungannya sama yaitu Jumlah Murid pada Jenjang SMP/MTs dibagi Jumlah Penduduk Usia 13-15 tahun. Prosentase Capaian Indikator ini pada tahun 2015 sebesar 84,03% dari Target 96,90%. Hal ini menunjukan bahwa target yang telah ditetapkan dalam RPJMD tercapai dengan baik, namun demikian upaya pembangunan dan pemeliharaan gedung sekolah terus dilakukan oleh Pemerintah Kota Tangerang meningkatkan pelayanan bidang pendidikan pada jenjang SMP/MTs. Kondisi ini menggambarkan bahwa besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap peningkatan pembangunan dibidang pendidikan, khususnya upaya peningkatan capaian Indikator PAB pada jenjang SMP/MTs. Partisipasi Anak Bersekolah (PAB) SMA/MA Indikator ini sama halnya dengan Angka Partisipasi Kasar (APK) karena rumus perhitungannya sama yaitu Jumlah Murid pada Jenjang SMA/MA/SMK dibagi Jumlah Penduduk Usia 16-18 tahun. Prosentase Capaian Indikator ini pada tahun 2015 sebesar 98,86% dari Target 76,99%. Hal ini menunjukan bahwa target yang telah ditetapkan 3-121
dalam RPJMD tercapai dengan baik, namun demikian upaya pembangunan dan pemeliharaan gedung sekolah terus dilakukan oleh Pemerintah Kota Tangerang meningkatkan pelayanan bidang pendidikan pada jenjang SMA/MA/SMK. Kondisi ini menggambarkan bahwa besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap peningkatan pembangunan dibidang pendidikan, khususnya upaya peningkatan capaian Indikator PAB pada jenjang SMA/MA/SMK. Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A Prosentase Capaian APM SD/MI/Paket A pada tahun 2015 sebesar 94,65% dari Target 88,93%. Hal ini menunjukan bahwa target yang telah ditetapkan dalam RPJMD tercapai dengan baik, meskipun Jumlah siswa usia 7-12 tahun jenjang SD/MI sebanyak 173,376 lebih rendah daripada Jumlah Penduduk Kelompok Usia 7-12 tahun sebanyak 196.383- Orang. Hal ini menunjukkan bahwa banyak penduduk Kota Tangerang yang tidak bersekolah dikota Tangerang atau bersekolah diluar Kota Tangerang. Dalam rangka mengatasi hal tersebut, upaya Pemerintah Kota Tangerang agar seluruh penduduk usia 7-12 tahun dapat bersekolah di Kota Tangerang antara lain terus melaksanakan Pembangunan Gedung Sekolah Bertingkat, Rehabilitasi Gedung serta penyediaan sarana prasarana lain. Kondisi ini menggambarkan bahwa makin besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap peningkatan pembangunan dibidang pendidikan, khususnya upaya peningkatan capaian Indikator APM SD/MI. Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B Prosentase Capaian APM SMP/MTs/Paket B pada tahun 2015 sebesar 75,22% dari Target 65,13%. Hal ini menunjukan bahwa target yang telah ditetapkan dalam RPJMD tercapai dengan baik, meskipun Jumlah siswa usia 13-15 tahun jenjang SMP/MTs sebanyak 59.845 lebih rendah daripada Jumlah Penduduk Kelompok Usia 13-15 tahun sebanyak 89.180-Orang. Hal ini menunjukkan bahwa banyak penduduk Kota Tangerang yang tidak bersekolah dikota Tangerang atau bersekolah diluar Kota Tangerang. Dalam rangka mengatasi hal tersebut, upaya Pemerintah Kota Tangerang agar seluruh penduduk usia 13-15 tahun dapat bersekolah di Kota Tangerang antara lain terus melaksanakan Pembangunan Gedung Sekolah Bertingkat, Rehabilitasi Gedung serta penyediaan sarana prasarana lain. 3-122
Kondisi ini menggambarkan bahwa makin besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap peningkatan pembangunan dibidang pendidikan, khususnya upaya peningkatan capaian Indikator APM SMP/MTs. Angka Partisipasi Murni (APM) SMA/SMK/MA/Paket C Prosentase Capaian APM SMA/MA/SMK/Paket C pada tahun 2015 sebesar 80,47% dari Target 78,48%. Hal ini menunjukan bahwa target yang telah ditetapkan dalam RPJMD tercapai dengan baik, meskipun Jumlah siswa usia 16-18 tahun jenjang SMA/MA/SMK sebanyak 67.225 lebih rendah daripada Jumlah Penduduk Kelompok Usia 16-18 tahun sebanyak 90.846-Orang. Hal ini menunjukkan bahwa banyak penduduk Kota Tangerang yang tidak bersekolah dikota Tangerang atau bersekolah diluar Kota Tangerang. Dalam rangka mengatasi hal tersebut, upaya Pemerintah Kota Tangerang agar seluruh penduduk usia 16-18 tahun dapat bersekolah di Kota Tangerang antara lain terus melaksanakan Pembangunan Gedung Sekolah Bertingkat, Rehabilitasi Gedung serta penyediaan sarana prasarana lain. Kondisi ini menggambarkan bahwa makin besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap peningkatan pembangunan dibidang pendidikan, khususnya upaya peningkatan capaian Indikator APM SMA/MA/SMK. Tingkat ketersediaan dan kelengkapan Sarana dan Prasarana untuk guru, kepala sekolah, dan staf kependidikan lainnya dalam satuan pendidikan dasar Indikator ini merupakan salah satu penentu keberhasilan pendidikan dasar di Kota Tangerang, karena indikator ini yang dijadikan acuan untuk meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana untuk Guru, Kepala Sekolah dan Staf Kependidikan lainnya dalam satuan Pendidikan Dasar. Indikator ini memberikan gambaran bahwa besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap peningkatan pelayanan pendidikan, khususnya peningkatan ketersediaan sarana dan prasarana untuk Guru,Kepala Sekolah dan Staf Kependidikan lainnya dalam satuan Pendidikan Dasar di Kota Tangerang. Tahun 2015 target 40,00 % dan realisasi tercapai 40,00% 3-123
Tingkat ketersediaan dan kelengkapan Sarana dan Prasarana untuk guru, kepala sekolah, dan staf kependidikan lainnya dalam satuan pendidikan menengah Indikator ini merupakan salah satu penentu keberhasilan pendidikan dasar di Kota Tangerang, karena indikator ini yang dijadikan acuan untuk meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana untuk Guru,Kepala Sekolah dan Staf Kependidikan lainnya dalam satuan Pendidikan Menengah. Indikator ini memberikan gambaran bahwa besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap peningkatan pelayanan pendidikan, khususnya peningkatan ketersediaan sarana dan prasarana untuk Guru,Kepala Sekolah dan Staf Kependidikan lainnya dalam satuan Pendidikan Menengah di Kota Tangerang. Tahun 2015 target 40,00 % dan realisasi tercapai 40,00% Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana dan prasarana kesenian dan kebudayaan daerah Indikator ini merupakan salah satu penentu keberhasilan pendidikan dasar di Kota Tangerang, karena indikator ini yang dijadikan acuan untuk ketersediaan dan kelengkapan sarana dan prasarana kesenian dan kebudayaan daerah. Tahun 2015 target 68,75 % dan realisasi tercapai 66,67% Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana dan prasarana pepustakaan daerah Prosentase Capaian ketersediaan dan kelengkapan sarana dan prasarana pepustakaan daerah tahun 2015 sebesar 39,56% dari Target 39,56%. Untuk mencapai indikator sasaran ini dilaksanakan oleh SKPDKantor Perpustakaan Daerah diuraikan pada 1 program dan 3 kegiatan, sabagai berikut: Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Pemeliharaan rutin berkala gedung kantor Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas Pemeliharaan Buku Cakupan perpustakaan dan taman bacaan di setiap kecamatan Prosentase Capaian perpustakaan dan taman bacaan di setiap kecamatan tahun 2015 sebesar 24,31% dari Target 24,31%. Untuk mencapai indikator sasaran ini dilaksanakan oleh SKPDKantor Perpustakaan Daerah diuraikan pada 1 program dan 10 kegiatan, sabagai berikut: 3-124
Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan, berkaitan dengan tersedianya layanan perpustakaan daerah untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Pemasyarakatan minat dan Budaya baca (Story Telling dan Lomba bercerita) Publikasi dan Sosialisasi Minat dan budaya Baca Penyediaan Bahan Pustaka Perpustakaan Umum Pengolahan Bahan Pustaka Pembinaan Pengelola Perpustakaan Sekolah, Kelurahan, SKPD, dan Puskesmas Bimbngan Teknis Pengelola Perpustakaan Masyrakat, Sekolah, Kecamatan, Kelurahan, Pesantren dan Perpustakaan Mesjid Abstraksi bahan pustaka Lomba Perpustakaan terbaik tingkat kecamatan Pengelolaan Perpustakaan Kecamatan Perpustakaan Keliling dan Penataan Sirkulasi Bahan Pustaka 3.4.38 SASARAN 38 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan sarana-prasarana kesehatan yang layak dan memadai Pencapaian sasaran 38 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.59. Evaluasi Pencapaian Sasaran 38 No Indikator Sasaran Satuan 1 2 3 Persentase puskesmas, puskesmas pembantu dan jaringannya dengan kondisi sarana dan prasarana memadai Cakupan Ketersediaan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di setiap RW Cakupan Ketersediaan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu di setiap Kecamatan (%) per tahun posyandu/ RW puskesmas/ kecamatan Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 1,06 1,06 100,00 1,06 1,09 102,52 1,92 2,53 131,77 1,92 3,00 156,00 3-125
4 5 6 Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per 1.000 penduduk Tingkat ketersediaan sarana prasarana kesehatan di Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru- Paru/Rumah Sakit Mata yang layak dan memadai Tingkat pemeliharaan sarana prasarana kesehatan di Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru- Paru/Rumah Sakit Mata yang layak dan memadai buah/1.000 penduduk 0,04 0,02 50,00 0,04 0,04 100,00 (%) 21,57 21,57 100,00 41,18 34,12 82,86 (%) 14,29 14,29 100,00 35,71 35,71 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut : Cakupan Ketersediaan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di setiap RW Jumlah RW se Kota Tangerang yaitu 986 dan jumlah Posyandu yaitu 1.069. Jadi Rasio Posyandu adalah Jumlah Posyandu (1.069) / jumlah RW (986) = 1,06. Untuk mencapai indikator sasaran ini dilaksanakan oleh SKPD Badan Pemberdayaan Masyarakat,Perempuan dan Keluarga Berencana, sebagai SKPD pembina posyandu diuraikan pada 1 program dan 1 kegiatan, sabagai berikut: Program Pengembangan Model Operasional Bkb-Posyandu-Padu Pembinaan Posyandu kepada 1070 posyandu Cakupan Ketersediaan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu di setiap Kecamatan Indikator Sasaran Pokok Pembangunan ini merupakan jumlah puskesmas, puskesmas berbanding dengan Jumlah puskesmas, puskesmas pembantu dan jaringannya yang ada. Pada tahun 2015 dari target sebesar 1,92% tercapai 3,00% melalui kegiatan Pengadaaan puskesmas keliling, Pengadaan alat Kesehatan dan Laboratorium Puskesmas, Rehabilitasi Sedang/Berat Puskesmas, Pembangunan sarana dan prasarana luar puskesmas, Pengadaan Sarana dan Prasarana UPTD Labkesda, penambahan ruanagn pelayanan kesehatan dan perencanaan pembangunan puskesmas. Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per 1.000 penduduk Indikator Sasaran Pokok Pembangunan ini merupakan jumlah puskesmas, Poliklinik, puskesmas puskesmas pembantu per 1000 penduduk pada tahun 2015 dari target sebesar 0,04% tercapai 0,04% 3-126
Tingkat ketersediaan sarana prasarana kesehatan di Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-Paru/Rumah Sakit Mata yang layak dan memadai Prosentase Capaian ketersediaan sarana prasarana kesehatan di Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-Paru/Rumah Sakit Mata yang layak dan memadai tahun 2015 sebesar 41,18% dari Target 34,12%. Untuk mencapai indikator sasaran ini dilaksanakan oleh SKPD Rumah Sakit Umum Daerah Kota Tangerang diuraikan pada 1 program dan 13 kegiatan, sabagai berikut: Program pengadaan, peningkatan sarana dan prasarana rumah sakit/rumah sakit jiwa/rumah sakit paru-paru/rumah sakit mata Pengadaan Alat-alat Kesehatan Rumah Sakit Pengadaan Obat-obatan Rumah Sakit Pengadaan Ambulance /Mobil Jenazah Pengadaan Meuberlair Rumah Sakit Pengadaan Perlengkapan Rumah Tangga Rumah Sakit (dapur, ruang pasien, laundry, ruang tunggu, dan lain-lain) Pengadaan Bahan-bahan Logistik Rumah Sakit Pengadaan Pencetakan Administrasi dan Surat Menyurat Rumah Sakit Pengembangan Tipe Rumah Sakit Pengembangan Sistem Informasi RSUD Kota Tangerang Pembuatan Papan Nama Ruangan, Poli, Jalur Evakuasi, dll ( Singning RS ) Penyusunan Kebutuhan Sarana dan Prasarana RSUD Kota Tangerang Pemasangan Kanopi dan Pagar RSUD Kota Tangerang Perencanaan Pengembangan Rumah Sakit Tingkat pemeliharaan sarana prasarana kesehatan di Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-Paru/Rumah Sakit Mata yang layak dan memadai Prosentase Capaian pemeliharaan sarana prasarana kesehatan di Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-Paru/Rumah Sakit Mata yang layak dan memadai tahun 2015 sebesar 35,71% dari Target 35,71%. Untuk mencapai indikator sasaran ini dilaksanakan oleh SKPD Rumah Sakit Umum Daerah Kota Tangerang diuraikan pada 1 program dan 2 kegiatan, sabagai berikut: Program Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-Paru/Rumah Sakit Mata 3-127
Pemeliharaan Rutin/Berkala Alat-alat Kesehatan Rumah Sakit Maintenance Jaringan LAN di RSUD Kota Tangerang 3.4.39 SASARAN 39 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan penyediaan sarana-prasarana kebinamargaan, dan keciptakaryaan daerah yang layak dan memadai Pencapaian sasaran 39 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.60. Evaluasi Pencapaian Sasaran 39 No Indikator Sasaran Satuan Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % 1 2 3 4 Persentase kondisi jalan kota yang baik dan sedang Persentase keterhubungan pusatpusat kegiatan dan pusat-pusat produksi di wilayah kota Persentase cakupan pelayanan sistem drainase perkotaan Tingkat pengurangan luas genangan (%) 98,00 99,67 101,70 98,01 98,01 100,00 (%) 92,21 93,24 101,12 93,96 96,96 103,19 (%) 10,00 10,00 100,00 20,00 38,27 191,35 (%) 23,88 23,88 100,00 43,28 43,28 100,00 5 Tingkat pembangunan turap di wilayah aliran sungai yang rawan longsor lingkup kewenangan kota (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut : Persentase kondisi jalan kota yang baik dan sedang Prosentase Capaian kondisi jalan kota yang baik dan sedang Tahun 2015 sebesar 98,01% dari Target 98,01%. Kondisi jalan dalam kondisi baik dapat meningkatkan mobilitas pengguna jalan dan meningkatkan laju perekonomian. Untuk merealisasikan tujuan kondisi jalan kota yang baik dan sedang, dilaksanakan program Rehabilitasi/Pemeliharaan Jalan dan Jembatan melalui kegiatan berupa:(1). Rehabilitasi/Pemeliharaan Jalan; dan (2). Rehabilitasi/Pemeliharaan Jembatan dengan rincian kegiatan tersebut adalah kegiatan Inkasing, Pengisian Agregat, Aspal Concret 3-128
(AC) pada172 ruas jalan dan pemeliharaan 196 ruas jembatan sepanjang (5,05 KM). Hasil pelaksanaan dari seluruh kegiatan menunjukan Prosentase kondisi jalan kota yang baik dan sedang sebesar 99,67%, melampaui target yang direncanakan. Persentase keterhubungan pusat-pusat kegiatan dan pusat-pusat produksi di wilayah kota Prosentase Capaian keterhubungan pusat-pusat kegiatan dan pusat-pusat produksi di wilayah kota Tahun 2015 sebesar 93,96% dari Target 93,96%. Keterhubungan pusat pusat kegiatan dan pusat pusat produksi merupakan motor penggerak bagi berkembangnya perekonomian kota. Untuk merealisasikan keterhubungan pusat pusat kegiatan dan pusat pusat produksi di wilayah kota dilaksanakan program pembangunan jalan dan jembatan denganmelaksanakan kegiatan berupa:(1). Pembangunan Jalan; (2). Pembangunan Jembatan; (3). Rehabilitasi/Peningkatan, dan Pemeliharaan jalan lingkungan. (4). Perencanaan Pembangunan Jalan dan Jembatan dengan rincian kegiatan tersebut adalah peningkatan kualitas dan kuantitas 127 ruas jalan dan trotoar sepanjang 37.875,23 m, 14 buah jembatan sepanjang 151,8 m, 330 ruas jalan lingkungan sepanjang 87.933,22 m. Hasil pelaksanaan dari seluruh kegiatan adalah keterhubungan pusat pusat kegiatan dan pusat pusat produksi di wilayah kota sebesar 93,24%, melampaui target yang direncanakan. Persentase cakupan pelayanan sistem drainase perkotaan Prosentase Capaian cakupan pelayanan sistem drainase perkotaan Tahun 2015 sebesar 20,00% dari Target 38,27%. Peningkatan cakupan pelayanan sistem drainase perkotaan merupakan sarana untuk kelancarnya aliran air dan mengurangi titik genangan. Untuk merealisasikan persentase cakupan pelayanan sistem drainase perkotaan, dilaksanakan program pembangunan saluran drainase/gorong gorongmelalui kegiatan berupa:(1). Perencanaan Pembangunan saluran drainase/gorong-gorong;(2). Pembangunan saluran drainase/gorong-gorong; (3). Rehabilitasi/Peningkatan, Pembangunan & Pemeliharaan Saluran Drainase/Gorong-Gorong; (4). Penyediaan Sarana & Prasarana Pemeliharaan SaluranDrainase/Gorong-Gorong dengan rincian kegiatan tersebut adalah terbangunnya 94 ruas drainase, sepanjang 22.551,4 m dan terpeliharanya ruas drainase sepanjang 137.867 m, 8 unit sarana dan prasarana pemeliharaan drainase Hasil pelaksanaan dari seluruh kegiatan Persentase cakupan pelayanan sistem drainase perkotaan sebesar 10%, sesuai dengan target yang direncanakan. 3-129
Tingkat pengurangan luas genangan Prosentase Capaian pengurangan luas genangan Tahun 2015 sebesar 43,28% dari Target 43,28%. Genangan terjadi karena kapasitas saluran belum cukup untuk mengalirkan beban drainase maksimum dan penurunan kapasitas saluran akibat pendangkalan saluran sehinga perlu untuk menambah kapasitas saluran agar dapat menampung debit air. Untuk merealisasikan persentase tingkat pengurangan luas genangan, dilaksanakan program pembangunan saluran drainase / gorong gorong melalui kegiatan berupa : (1). Perencanaan Pembangunan saluran drainase/gorong-gorong; (2). Pembangunan saluran drainase/gorong-gorong; (3). Rehabilitasi/Peningkatan, Pembangunan & Pemeliharaan Saluran Drainase/Gorong-Gorong; (4). Penyediaan Sarana & Prasarana Pemeliharaan SaluranDrainase/Gorong-Gorong dengan rincian kegiatan tersebut adalah terbangunnya 94 ruas drainase, sepanjang 22.551,4 m dan terpeliharanya ruas drainase sepanjang 137.867 m, 8 unit sarana dan prasarana pemeliharaan drainase. Hasil pelaksanaan dari seluruh kegiatan dapat memenuhi persentase cakupan pelayanan sistem drainase perkotaan sebesar 10%, sesuai dengan target yang direncanakan. Tingkat pembangunan turap di wilayah aliran sungai yang rawan longsor lingkup kewenangan kota Prosentase Capaian pembangunan turap di wilayah aliran sungai yang rawan longsor lingkup kewenangan kota Tahun 2015 sebesar 100,00% dari Target 100,00%. Pembangunan Turap diwilayah aliran sungai yang rawan longsor merupakan sarana untuk mengurangi longsor akibat erosi sungai. Untuk merealisasikan tujuan pembangunan turap di wilayah aliran sungai yang rawan longsor lingkup kewenangan kota, dilaksanakan program Pembangunan Turap/Talud/Bronjongmelalui kegiatan berupa : (1). Perencanaan turap/talud/bronjong; dan (2). Pembangunan Turap/Talud/Bronjong dengan rincian kegiatan tersebut adalahterbangunnya 47 turap sepanjang 4514,4 m. Hasil pelaksanaan dari seluruh kegiatan menunjukan tingkat pembangunan turap di wilayah aliran sungai yang rawan longsor lingkup kewenangan kota 100%.sesuai dengan target yang direncanakan. 3-130
3.4.40 SASARAN 40 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan penyediaan perlengkapan sarana-prasarana transportasi dan kelalulintasan yang layak, memadai, dan terpadu Pencapaian sasaran 40 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Tabel 3.61. Evaluasi Pencapaian Sasaran 40 No Indikator Sasaran Satuan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tingkat ketersediaan angkutan umum yang melayani wilayah kota yang telah tersedia jaringan jalan Tingkat ketersediaan angkutan umum yang melayani jaringan trayek penghubung antar wilayah Tingkat ketersediaan koridor angkutan umum massal Tingkat ketersediaan dokumen perencanaan angkutan Tingkat Ketersediaan Prasarana Angkutan yang terpelihara Tingkat ketersediaan sarana dan prasarana perhubungan Tingkat ketersediaan fasilitas perleng-kapan jalan (rambu, marka, dan guardrill) pada jalan di wilayah kota Tingkat ketersediaan fasilitas Penerangan Jalan Umum (PJU) pada berbagai jenis jalan di wilayah kota Tingkat ketersediaan unit pengujian kendaraan bermotor Tingkat ketersediaan standar keselarnatan bagi angkutan urnurn yang rnelayani trayek di dalarn Kota Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 20,00 20,00 100,00 40,00 40,00 100,00 (%) 25,00 25,00 100,00 25,00 25,00 100,00 (%) 0,00 0,00 0,00 20,00 20,00 100,00 (%) 57,14 57,14 100,00 47,62 47,62 100,00 (%) 17,31 17,31 100,00 17,31 17,31 100,00 (%) 22,39 23,39 104,47 41,79 41,79 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 40,00 40,00 100,00 (%) 51,56 51,56 100,00 63,68 62,09 97,50 buah/ 4.000 7,50 7,50 100,00 21,50 7,50 34,88 (%) 11,34 11,34 100,00 32,51 11,34 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Adapun pencapaian sasaran tersebut di atas dilaksanakan melalui program dan kegiatan Dinas Perhubungan, antara lain : Program Pembangunan Prasarana dan Fasilitas Perhubungan, yaitu melalui kegiatan 3-131
Perencanaan pembangunan prasarana dan fasilitas perhubungan, Sosialisasi Kebijakan di bidang perhubungan, Peningkatan Pengelolaan Terminal Angkutan Darat, serta Perencanaan Pembangunan Halte. Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas LLAJ, yaitu melalui kegiatan Rehabilitasi/ pemeliharaan terminal/pelabuhan, Rehabilitasi/ Pemeliharaan Halte Bus, Rehabilitasi/ Pemeliharaan Jembatan Penyebrangan Orang (JPO), Rehabilitasi/ Pemeliharaan Sarana Alat Pengujian Kendaraan Bermotor, serta Rehabilitasi / Pemeliharaan Prasarana Angkutan Umum Massal. Program Peningkatan Pelayanan Angkutan, yaitu melalui kegiatan Penciptaan Disiplin dan Pemeliharaan Kebersihan di Lingkungan Terminal, Penciptaan Keamanan dan Kenyamanan Penumpang di Lingkungan Terminal, Pengumpulan dan Analisis Data Base Pelayanan Jasa Angkutan, Uji Kelayakan Sarana Transportasi Guna Keselamatan Penumpang, Peningkatan Keamanan dan Ketertiban di Lingkungan Balai Pengujian Kendaraan Bermotor serta Pengelolaan Angkutan Massal. Program Pembangunan Sarana dan Prasarana Perhubungan, yaitu melalui kegiatan Pembangunan Fasilitas Parkir Umum. Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 4 kegiatan yaitu : Program Pembangunan Prasarana dan Fasilitas Perhubungan Rehabilitasi Penerangan Jalan Umum Rehabilitasi PJU di 5 ruas jalan Kota Tangerang sebanyak 243 titik di yaitu : Jl. Sasmita,Jl. Imam Bonjol,Jl. Shinta Raya,Jl. Cadas Irigasi-Perbatasan,Jl. Kameswara Raya. Pembangunan Penerangan Jalan Umum Pembangunan PJU di beberapa ruas jalan di Kota Tangerang yaitu : Jl. Gatot Subroto, Jl. Sejahtera, Jl. Inpres 17,18 & 19 RW 09, 3-132
Jl. Mushola Jawab & Lantur Rw 02 & 06, Jl. Inpres 15 & 16 RW 04 Kel. Gaga, Jl. Karyawan IV, Jl. H. Lembang RT 02/01, Jl. Perum. Griya Kencana I RW 04, Jl. Sandong RW 01, Jl. Musholla Kel. Larangan Selatan, Jl. Taman Asri Blok A & B RW 02 Kel. Cipadu, Jl. Sawah Indah, Jl. Lingkungan Makam Kamp. Gebang, Jl. Lingkungan LKMD Nagrak, Jl. Gg. Beringin 1 & 2 RW 01, Jl. Lingkungan Tawes, Jl. Automen RW 04 & 05, Jl. Perum. Keroncong, Jl. Cikoneng Ilir RW 02, Jl. Manis Jaya,Jl. Pebabri, Jl. KUD RW 06, Jl. Lingkungan Makam Kramat Pucung RW 03, Jl. Karya Damai 1, Jl. Gg. H. Husin RT 001/001, Jl. Puri Kartika Kel. Tajur, Jl. Raya Kali Sipon Dongkal I, Jl. Kosambi 1 & 2,Jl. Masjid Babusslam, Jl. Pengayoman Selatan & Gg. Pentil, Jl. Gedong Tiga, Jl. HOS. Cokroaminoto Lanjutan, Jl. Lingkungan Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Jl. Lingkungan Pintu Air 10, Jl. Kali Sipon Baru, Jl. Lingkungan TPU Jombang, Jl. H. Astra, Jl. Lingkungan Blok H. Gatar RW 07, 08 & 09, 3-133
Jl. KH. Mu'min Kel. Belendung, Jl. Raya Doyong Pasar Kemis, Jl. Lingkungan Sumur Pacing, Jl. Juanda dan wilayah Kota Tangerang lainnya dengan total 2.081 titik Penyusunan DED Sistem Monitoring PJU 3.4.41 SASARAN 41 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan ketersediaan sarana dan prasarana Perekonomian dan Sosial-Kemasyarakatan yang layak dan memadai Pencapaian sasaran 41 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.62. Evaluasi Pencapaian Sasaran 41 No Indikator Sasaran Satuan 1 2 3 4 5 6 7 8 Persentase panti sosial skala kota yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan social Persentase wahana kesejahteraan sosial berbasis masyarakat (WKBSM) yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan social Tingkat Pengembangan Balai Latihan Kerja Daerah Cakupan ketersediaan pasar tradisional daerah di setiap kecamatan Tingkat pembinaan pasar/toko modern dan pasar tradisional daerah Cakupan gedung olahraga di setiap kecamatan Tingkat Ketersediaan Panti Asuhan/Panti Jompo Cakupan ketersediaan Poskamling di setiap RW (%) per tahun Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 0,00 0,00 0,00 51,83 51,83 100,00 (%) per tahun pasar/ kecamatan 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 2,38 2,38 100,00 2,38 2,38 100,00 (%) 4,00 4,00 100,00 24,00 24,00 100,00 gedung/ kecamatan (%) per tahun poskamling/ RW 1,38 1,46 105,80 1,46 1,46 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 1,23 1,23 100,00 1,23 1,23 100,00 3-134
Persentase panti sosial skala kota yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 4 kegiatan yaitu : Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial Pelatihan keterampilan dan praktek belajar kerja bagi anak terlantar termasuk anak jalanan, anak cacat, anak nakal Kegiatan Pelatihan Keterampilan dan Praktek Belajar bagi Anak Terlantar, Anak Jalanan, Anak Cacat dan Anak Nakal ini dimaksudkan agar mereka memiliki keterampilan sebagai bekal untuk memiliki usaha sendiri dan membantu meringankan beban orang tua. Bentuk keterampilan yang diajarkan adalah daur ulang sampah. Penanganan masalah-masalah strategis yang menyangkut tanggap cepat darurat dan kejadian luar biasa Kegiatan ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan dalam bentuk tanggap darurat bencana, berupa pemberian bantuan untuk pemenuhan kebutuhan dasar, pada fase tanggap darurat terdiri dari makanan siap saji, bahan pangan, bahan non pangan berupa peralatan kebersihan, selimut, keperluan bayi dan lain-lain, serta penyediaan bahan bakar (solar) untuk mesin penyedot air di lokasi-lokasi banjir. Peningkatan Kualitas Pelayanan, Sarana dan Prasarana Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial Bagi PMKS Kegiatan ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan dalam bentuk: Pelayanan dan pemenuhan kebutuhan dasar anak jalanan, serta pembinaan melalui kegiatan pelatihan keterampilan dan konseling,yang dilaksanakan di Rumah Singgah Darul Aitam. Review DED Rumah Perlindungan Sosial Cakupan ketersediaan pasar tradisional daerah di setiap kecamatan Perkembangan perekonomian suatu daerah juga dapat diidentifikasi dari adanya pusatpusat kegiatan perekonomian baik yang berbentuk pusat perbelanjaan maupun pasar tradisional dan modern. Keberadaan pasar yang bersih akan memberikan kenyamanan dan ketenangan baik untuk penjual maupun pembeli dalam berinteraksi dalam kegiatan 3-135
jual beli. Upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Tangerang adalah dengan melaksanakan kegiatan antara lain: (1). Pengembangan pasar dan distribusi barang/produk yang merupakan pedoman pengembangan pasar sebanyak 3 pasar tradisional; (2). Peningkatan pengawasan peredaran barang dan jasa; (3). Pembentukan operasional dan pengembangan UPT Kemetrologian Daerah. Tingkat pembinaan pasar/toko modern dan pasar tradisional daerah Untuk indikator sasaran tingkat pembinaan pasar/toko modern dan pasar tradisional daerah. Hasil pelaksanaan dari seluruh kegiatan dapat memenuhi persentase cakupan pembinaan pasar/toko modern dan pasar tradisonal daerah dari target sebesar 24,00 %, tercapai sesuai dengan target yang direncanakan yaitu sebesar 24,00%. Cakupan gedung olahraga di setiap kecamatan Untuk indikator sasaran cakupan gedung olah raga disetiap kecamatan. Hasil pelaksanaan dari seluruh kegiatan di 13 kecamatan yang berkaitan dengan gedung olahraga dapat memenuhi persentase cakupan dari target sebesar 1,46% tercapai sesuai dengan target yang direncanakan yaitu sebesar 1,46%. Tingkat Ketersediaan Panti Asuhan/Panti Jompo Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 3 kegiatan yaitu : Program Pembinaan Panti Asuhan/ Panti Jompo Bantuan Sarana dan Prasarana Panti Asuhan / Panti Jompo Kegiatan ini merupakan kegiatan pembinaan panti asuhan/panti jompo melalui pemberian berupa 3 buah kasur lantai dan 3 buah lemari pakaian untuk 26 panti asuhan/panti jompo se Kota Tangerang. Pembinaan Panti Asuhan / Panti Jompo Kegiatan ini merupakan kegiatan pembinaan panti asuhan/panti jompo dalam bentuk pelatihan perbaikan lampu TL, bagi anak-anak penghuni panti asuhan sebanyak 108 orang. Pelatihan Kewirausahaan Bagi Penghuni Panti Kegiatan ini merupakan kegiatan pembinaan panti asuhan/panti jompo dalam bentuk pelatihan Manajemen bagi penghuni panti asuhan sebanyak 72 orang. 3-136
3.4.42 SASARAN 42 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana perkantoran pemerintahan daerah yang layak dan memadai Pencapaian sasaran 42 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.63. Evaluasi Pencapaian Sasaran 42 No Indikator Sasaran Satuan Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % 1 Tingkat ketersediaan sarana dan prasarana aparatur yang memadai (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 2 Tingkat ketersediaan pelayanan jasa rehabilitasi sarana dan prasarana aparatur (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Sasaran ini bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan kerja aparatur di seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota Tangerang dalam menunjang pelaksanaan tugas dan pelayanan kepada masyarakat, seperti kegiatan berikut: Pembangunan gedung kantor Pengadaan peralatan gedung kantor Pengadaan mebeleur Pengadaan rutin/berkala rumah dinas Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional Pemeliharaan rutin/berkala mebeleur Pemeliharaan rutin/berkala sarana pengolah data/pelaporan 3.4.43 SASARAN 43 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Transportasi serta Manajemen dan Rekayasa Lalulintas yang modern dan terpadu yang didukung oleh teknologi informasi yang canggih dan memadai 3-137
Pencapaian sasaran 43 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.64. Evaluasi Pencapaian Sasaran 43 No Indikator Sasaran Satuan 1 2 3 Tingkat ketersediaan pelayanan pengendalian kinerja simpang dan ruas jalan dengan Sistem ATCS (Area Traffic Control System) Tingkat ketersediaan prasarana penunjang pengendalian simpang dan ruas jalan dalam kondisi baik Tingkat ketersediaan perencanaan sarana dan prasarana penunjang pengendalian simpang dan ruas jalan Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 20,00 20,00 100,00 40,00 40,00 100,00 (%) 33,33 33,33 100,00 50,00 50,00 100,00 (%) 50,00 50,00 100,00 50,00 50,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Adapun pencapaian sasaran tersebut di atas dilaksanakan melalui program dan kegiatan Dinas Perhubungan, antara lain : Program Pembangunan Prasarana dan Fasilitas Perhubungan, yaitu melalui kegiatan Perencanaan pembangunan prasarana dan fasilitas perhubungan, Koordinasi dalam pembangunan prasarana dan fasilitas perhubungan, Pengumpulan dan Evaluasi Data Informasi Pembangunan/ Penyelenggaraan Bidang Perhubungan, Penyusunan Norma Kebijakan Standar dan Prosedur Bidang Perhubungan, Pengembangan Sistem Informasi Perhubungan; Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas LLAJ, yaitu melalui kegiatan Rehabilitasi / Pemeliharaan Fasilitas Perlengkapan Jalan. Program Peningkatan Pelayanan Angkutan, yaitu melalui kegiatan Pengendalian Disiplin Pengoperasian Angkutan Umum Dijalan Raya, Pengawasan dan Penertiban Angkutan Jalan, Pengendalian dan Pengelolaan Parkir Umum, Pengawasan / Pengendalian ATCS; Program Pengendalian dan Pengamanan Lalu Lintas, yaitu melalui kegiatan Pengadaan Rambu-Rambu Lalu Lintas, Pengadaan dan Pemasangan Marka Jalan dan 3-138
Pengadaan Alat Pengaman Pemakai Jalan; 3.4.44 SASARAN 44 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya mitigasi, pencegahan, pengendalian, dan penanganan bencana serta upaya peminimalan dampak bencana Pencapaian sasaran 44 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.65. Evaluasi Pencapaian Sasaran 44 No Indikator Sasaran Satuan 1 2 3 Cakupan pelayanan bencana kebakaran Persentase Aparatur Pemadam Kebakaran Yang Memenuhi Standar Kualifikasi Tingkat penanganan wilayah/lokasi banjir Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 80,00 26,46 33,08 80,00 39,69 49,61 (%) 70,00 61,17 87,39 85,00 91,08 107,15 (%) 19,35 19,35 100,00 38,71 38,71 100,00 4 Tingkat koordinasi penanggulangan bencana (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 5 Tingkat penanganan korban bencana (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut : Cakupan pelayanan bencana kebakaran Dijelaskan dalam lampiran Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 69 Tahun 2012 bahwa Cakupan Pelayanan Penanggulangan Kebakaran yang selanjutnya disingkat PPK adalah sumber daya yang berpotensi kebakaran yang perlu mendapat perlindungan dari bahaya kebakaran dengan membentuk wilayah manajemen kebakaran, selanjutnya disingkat WMK oleh daerah provinsi dan kabupaten/kota sesuai wilayah yurisdiksi urusan pemerintahannya dan bertujuan untuk mendukung pengurangan resiko kebakaran pada lingkungan dan/atau kawasan berpotensi kebakaran antara lain : pemukiman di perkotaan dan perdesaan, perindustrian/pabrik, bangunan gedung, hutan dan lahan maupun kebakaran lainnya seperti pada kawasan tertentu pertambangan, 3-139
depo bahan bakar minyak dan/atau bahan yang sangat mudah terbakar, pelabuhan, bandara dan lingkungan yang memiliki potensi kebakaran lainnya. Pembentukan per 1 (satu) WMK ditentukan cakupan luas maksimal masing-masing kawasan. Pada pemukiman perkotaan dengan luas 100 km2 atau 10.000 ha, pemukiman perdesaan dengan luas 250 km2 atau 25.000 ha, pada lingkungan kawasan Industri dan/atau pabrik dengan luas 25 km2 atau 2.500 ha, pada kawasan hutan dengan luas 1000 km2 atau 100.000 ha dan lahan dengan luas 250 km2 atau 25.000 ha, dibentuklah masing-masing 1 (satu) WMK. WMK adalah sebagai suatu public service dalam melayani proteksi kebakaran pada suatu lingkungan yang memiliki daya ancaman kebakaran dan rentan kebakaran daerah yang difasilitasi pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota yang secara teknis dilakukan oleh organisasi perangkat daerah/satuan Kerja perangkat daerah kabupaten/kota penanggulangan kebakaran. yang mempunyai tugas pokok dan fungsi pencegahan dan Bencana kebakaran adalah setiap peristiwa bencana yang disebabkan karena kebakaran dan dapat menimbulkan kerugian materiil maupun korban jiwa, gangguan kesehatan dan lingkungan. Cakupan pelayanan bencana kebakaran mencerminkan berapa persen luas lingkungan dan/atau wilayah potensi kebakaran dan rentan kebakaran yang mendapat WMK untuk mendapat layanan proteksi ancaman bencana kebakaran. Cakupan Pelayanan Bencana Kebakaran di kabupaten/kota adalah : WMK dibentuk pada pengelompokan hunian yang memiliki kesamaan kebutuhan proteksi kebakaran dalam batas wilayah yang ditentukan secara alamiah maupun buatan. WMK perlu dilengkapi dengan mitigasi, sistem peringatan dini dapat melalui alarm dan sejenisnya, pemberitahuan kebakaran yang terintegrasi dalam WMK, kesiapsiagaan, pos pelayanan pemadam kebakaran, sarana dan prasarana pencegahan dan penanggulangan kebakaran. WMK ditentukan oleh tingkat waktu tanggap (response time) dari pos pelayanan pemadam kebakaran terdekat yang memiliki satuan petugas pemadam kebakaran yang terlatih bersertifikasi, memiliki mobil pemadam kebakaran dan/atau peralatan penyemprotan pemadam api yang terintegrasi dengan 3-140
ketersedian sumber air dan/atau penyemprotan racun api dan alat pendukung pemadam api sesuai dengan tipologi kebakaran. Realisasi indikator ini dapat dihitung dengan formula sebagai berikut : Berdasarkan data penggunaan lahan Kota Tangerang tahun 2012 Potensi kebakaran Kota Tangerang dapat di kelompokan berdasarkan Tipologinya meliputi : kebakaran pada pemukiman di perkotaan, kebakaran pabrik/industri dan lahan Pertanian dengan rincian dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 3.66. Luas Potensi Kebakaran Kota Tangerang No Potensi Kebakaran Jenis Bangunan Luas (ha) 1 KawasanPerkotaan Bangunan Bersejarah 0.706 Fasilitas Umum 289.033 Gedung Pemerintah 40.517 Permukiman Teratur 1215.42 Permukiman Tidak Teratur 2871.51 Sarana Kesehatan 4.306 Sarana Olah Raga 202.874 Sarana Pendidikan 33.076 Sarana Peribadatan 25.946 Sarana Transportasi 1331.288 Luas Total (ha) 6.014,676 2 KawasanIndustri Pabrik Industri 734.836 734,836 3 Kawasanpertanian Kawasan Pertanian 3962.394 Lahan Terbuka Hijau 5117.78 9.080,174 Dengan rincian kinerja pada : Pemukiman perkotaan : di kawasan lahan pertanian: 3-141
di lingkungan kawasan pabrik dan industri : Jadi persentase Capaian kinerja cakupan pelayanan penanggulangan bencana kebakaran pada tahun 2014 (24,94 % + 0 % + 54,43 %) : 3 = 26,46 %. Kesenjangan Kinerja secara nasional berdasarkan Indikator Cakupan Pelayanan Penanggulangan Kebakaran 53,54 % dari Target Tahun 2015 = 80 %. Persentase Aparatur Pemadam Kebakaran Yang Memenuhi Standar Kualifikasi Aparatur pemadam kebakaran adalah satuan petugas pemadam kebakaran yang memenuhi standar kualifikasi sebagai aparat Dinas atau Organisasi Perangkat Daerah yang membidangi Pemadam kebakaran dengan keahlian untuk melakukan inspeksi proteksi kebakaran, investigasi penyebab kebakaran, pemadaman api dan penyelamatan korban jiwa serta asset harta benda. Satuan petugas pemadam kebakaran ini memiliki peran penting dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran dengan prinsip pengurangan resiko kebakaran. Cakupan Satuan Petugas Pemadam Kebakaran pada kabupaten/kota yang memenuhi standar kualifikasi adalah Satuan Petugas Pemadam Kebakaran yang telah bersertifikasi melalui proses pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 16 Tahun 2009 tentang Standar Kualifikasi Aparatur Pemadam Kebakaran untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan kebakaran pada lingkungan dan/atau kawasan yang berpotensi kebakaran dengan prinsip pengurangan resiko kebakaran. Realisasi indikator ini dapat dihitung dengan formula sebagai berikut : Data perhitungan indikator Jumlah Satgas Damkar = 269 orang Jumlah Satgas Damkar yang mengikuti Pelatihan = 215 orang Jumlah Satgas Damkar yang belum mengikuti Palatihan = 54 orang 3-142
Maka perhitungan pemenuhan capaian tingkat persentase cakupan Satgas Damkar memenuhi sertifikasi sesuai standar kualifikasi adalah sebagai berikut : Kinerja Pemerintah Daerah Kota Tangerang dalam menyediakan satgas damkar yang memiliki sertifikasi sesuai standar kualifikasi baru mencapai 79,93%, sedangkan target pencapaian SPM sampai dengan tahun 2015 sebesar 85%. Maka kesenjangannya = 85% 79,93% = 5,07%. Kesenjangan 5,07% dari target SPM wajib dipenuhi dalam penyusunan perencanaan pembangunan dan perhitungan anggaran daerah. Tingkat penanganan wilayah/lokasi banjir Penanganan wilayah / lokasi banjir bertujuan untuk mengurangi lokasi banjir sehingga kejadian banjir dapat diturunkan. Kondisi topografi yang landai serta tingginya sedimentasi sungai khususnya di kawasan perumahan yang dilalui Kali Angke, Kali Sabi dan Kali Cirarab mengakibatkan adanya areal yang mengalami banjir dengan durasi selama 3 hari. Untuk mengurangi tingkat durasi banjir di lokasi tersebut dilaksanakan program pengendalian banjir dengan realisasi anggaran sebesar Rp5.413.409.000,00 melalui kegiatan berupa: (1). Pengadaan sarana dan prasarana pengendalian banjir; (2). Rehabilitasi dan Pemeliharaan Bantaran dan Tanggul Sungai;(3). Peningkatan Pembersihan dan Pengerukan Sungai/Kali. Output dari kegiatan adalah terpeliharanya 28Saluran pembuang sepanjang 25.000 meter, pengadaan material pengendali banjir dan pengadaan material sumur resapan sebanyak 30 unit.disamping itu dilakukan pula pemeliharaan dan rehabilitasi bantaran dan tanggul sungai dengan melaksanakan kegiatan rehabilitasi turap sebanyak 15 lokasi sepanjang 780 m. Banjir merupakan salah satu permasalahan krusial yang dihadapi pemerintah Kota Tangerang, yang penanganannya terus dilakukan secara berkesinambungan dari tahun ketahun.pada tahun 2013 tercatat sebanyak 31 lokasi di Kota Tangerang mengalami masalah banjir.faktor utama yang menyebabkan banjir adalah meluapnya kali Cirarab, Kali Sabi dan Kali Angke yang tidak mampu menampung debit air yang semakin bertambah akibat kondisi pada bagian hulu sungai yang mengalami perubahan penggunaan lahan, sehingga memperbesar jumlah surfacerun off (air larian). Faktor 3-143
lainnya adalah kondisi jaringan drainase yang tidak mampu menampung surface run off (air larian) akibat sumbatan saluran drainase oleh sedimentasi maupun sampah. Berdasarkan hal tersebut, maka untuk mengatasi permasalahan banjir pada tahun 2015 dialokasikan anggaran sebesar Rp.44.743.152.000,00 melalui program Pembangunan Saluran Drainase/gorong-gorong,Program Pembangunan Turap, Program Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi, Rawa dan Jaringan Irigasi lainnya untuk pelaksanaan kegiatan antara lain berupa: (1). Pembangunan saluran drainase/gorong-gorong; (2). Rehabilitasi/Peningkatan, Pembangunan danpemeliharaan Saluran Drainase/Gorong-Gorong; (3). Penyediaan Sarana dan Prasarana Pemeliharaan Saluran Drainase/Gorong-Gorong; (4). Pembangunan Turap/talud/bronjong ; (5). Pemeliharaan Pintu air; (6). Pemeliharaan Pompa dan Diesel Air (7). Pemeliharaan Jaringan Irigasi. Keluaran (output) dari berbagai kegiatan tersebut antara lain berupa terpeliharanya turap/talud sepanjang 2500 m, perbaikan saluran drainase sepanjang 617.552 m dan terbangunnya saluran drainase sepanjang 23.216 m serta terpeliharanya 6 unit pintu air dan 50 pompa dan diesel air. Hasil dari seluruh kegiatan dimaksud mampu menurunkan jumlah lokasi banjir, sehingga tercatat hanya 22 lokasi yang terkena banjir pada tahun 2015. Hasil pencapaian dari seluruh kegiatan-kegiatan tersebut mampu mengurangi durasi banjir, yaitu maksimal 24 jam dari yang ditargetkan 2 hari. 3.4.45 SASARAN 45 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kualitas lingkungan perumahan dan permukiman penduduk yang bersih, sehat, aman, dan nyaman 3-144
Pencapaian sasaran 45 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.67. Evaluasi Pencapaian Sasaran 45 No Indikator Sasaran Satuan 1 2 3 4 Cakupan Kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi < 24 jam Cakupan kelurahan Universal Child Immunization (UCI) Prevalensi balita gizi kurang (BB/U) Presentase balita gizi buruk (BB/TB) Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 9,75 6,94 71,18 9,57 6,58 68,76 (%) 0,12 0,13 108,33 0,11 0,16 147,69 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Persentase tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan Presentase Sarana Industri Rumah Tangga Pangan yang Memenuhi Syarat kesehatan Persentase penanganan permukiman kumuh perkotaan Cakupan ketersediaan rumah layak huni dan terjangkau bagi penduduk Tingkat waktu tanggap (response time rate) daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) Tingkat Ketersediaan mobil pemadam kebakaran di Atas 3.000-5.000 liter pada Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) Tingkat pemanfaatan Poskamling di setiap RT Rasio Tempat Pemakaman Umum (TPU) per satuan penduduk Tingkat Tersedianya air baku untuk memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari-hari Persentase penduduk yang mendapatkan akses air minum yang aman Persentase penduduk yang terlayani sistem air limbah yang memadai (%) 70,00 75,00 107,14 72,00 81,25 112,85 (%) 88,75 83,30 93,86 88,89 83,33 93,75 (%) 20,00 20,00 100,00 40,00 72,00 180,00 (%) 12,03 12,03 100,00 17,40 19,55 112,35 (%) 75,00 65,52 87,36 75,00 52,34 69,79 (%) 90,00 88,24 98,04 92,00 117,65 127,88 (%) per tahun m2/ 100 penduduk 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 24,82 24,82 100,00 24,05 23,55 97,92 (%) 50,00 50,00 100,00 60,00 60,00 100,00 (%) 58,09 58,09 100,00 64,60 32,20 49,85 (%) 2,57 2,57 100,00 2,86 11,68 408,27 3-145
Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut : Cakupan kelurahan Universal Child Immunization (UCI) Indikator Sasaran Pokok Pembangunan ini yaitu Jumlah Kelurahan UCI berbanding dengan Jumlah Kelurahan yang ada. Pada tahun 2015 dari target sebesar 100% tercapai 100% yaitu 104 kelurahan di Kota Tangerang dimana jumlah bayi yang terdapat di kelurahan tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap dalam waktu 1 tahun melalui kegiatan Peningkatan Imunisasi. Pencapaian Universal Child Immunization (UCI) pada dasarnya merupakan proksi terhadap cakupan atas imunisasi secara lengkap pada sekelompok bayi. Bila cakupan UCI dikaitkan dengan batasan suatu wilayah tertentu, berarti dalam wilayah tersebut tergambarkan besarnya tingkat kekebalan masyarakat atau bayi (herd immunity) terhadap penularan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Prevalensi balita gizi kurang (BB/U) Indikator Sasaran Pokok Pembangunan ini merupakan Jumlah Balita Gizi Kurang berbanding dengan Jumlah Balita yang ditimbang. Pada tahun 2015 dari target sebesar 9,57% tercapai 6,58% melalui kegiatan Penyusunan Peta Informasi Gizi. Indikator sasaran program ini sudah mencapai target karena tujuannya adalah menekan angka gizi kurang dibawah 9,75% Presentase balita gizi buruk (BB/TB) Indikator Sasaran Pokok Pembangunan ini merupakan Jumlah balita gizi buruk (Berat Badan/Tinggi Badan) berbanding dengan Jumlah seluruh balita. Pada tahun 2015 dari target sebesar 0,11% tercapai 0,16% melalui kegiatan Pemberian Tambahan Makanan dan Vitamin. Pencapaian indikator menujukkan bahwa Surveilence gizi sudah berjalan dengan baik karena semakin banyak balita gizi buruk yang ditemukan. Persentase penanganan permukiman kumuh perkotaan Prosentase Capaian penanganan permukiman kumuh perkotaan Tahun 2015 sebesar 72,00% dari Target 40,00%. Kawasan kumuh merupakan sebuah kawasan yang dicirikan oleh padatnya bangunan rumah dengan kondisi sarana prasarana permukiman seperti prasarana jalan lingkungan, drainase, sanitasi lingkungan serta akses air bersih 3-146
yang masih rendah atau belum mencapai standar pelayanan. Terkait hal tersebut maka dalam upaya penanganan kawasan kumuh dilaksanakan Program Pengembangan Perumahan untuk melaksanakan kegiatan, antara lain berupa: (1). Pembangunan sarana dan prasarana rumah sederhana sehat; (2). Perencanaan Teknis Kampung Kumuh dengan rincian kegiatan tersebut antara lain terbangunnya rumah sehat sebanyak 52 unit rumah, saluran drainase U-ditch, dan jalan paving block pada 5 lokasi/kelurahandan dokumen perencanaan teknis kampung kumuh 2015. Hasil pencapaian dari seluruh kegiatan dimaksud mampu menurunkan kawasan kumuh sebanyak 5 kelurahan pada tahun 2015 dengan persentase 20 %, sesuai dengan target yang direncanakan. Cakupan ketersediaan rumah layak huni dan terjangkau bagi penduduk Terbatasnya ketersediaan lahan dan tingginya harga rumah yang sehat menjadi faktor utama bagi pengembangan rumah susun. Saat ini di Kota Tangerang memiliki 17 Blok rumah susun sewa, yaitu 9 Blok di Manis Jaya dan 8 Blok di Gebang Raya, sedangkan 2 blok di Alam Jaya telah diserahkan ke pemilik lahan sesuai perjanjian. Untuk memberikan kenyamanan, keamanan, serta tertibnya administrasi pengelola Rusunawa dan terkait dengan cakupan ketersediaan rumah layak huni dan terjangkau bagi penduduk dilaksanakan melalui program pengembangan perumahan untuk melakasanakan kegiatan berupa: (1). Pemeliharaan dan rehabilitasi rusunawa; (2). Pengadaan Sarana Dan Prasarana Rusunawa.Hasil dari pencapaian seluruh kegiatan dimaksud mampu membangun sarana dan prasarana 17 Blok rumah susun yang beroperasional secara baik sehingga dapat memenuhi cakupan ketersediaan rumah layak huni dan terjangkau bagi penduduk dengan prosentase realisasi kegiatan (12,03%), sehingga sesuai dengan target yang direncanakan. Tingkat waktu tanggap (response time rate) daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) Prosentase Capaian Tingkat waktu tanggap (response time rate) daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) Tahun 2015 sebesar 52,34% dari Target 75,00%. Tingkat waktu tanggap daerah layanan WMK adalah pelayanan pemadam kebakaran pada saat tanggap darurat yang efektif, dan bereaksi cepat dan tepat tiba dilokasi kejadian kebakaran untuk pengurangan resiko kebakaran dengan waktu minimal yang diperlukan, dimulai saat menerima informasi dari warga/penduduk 3-147
sampai tiba di tempat kejadian kebakaran, yang langsung melakukan tindakan pemadaman api, penyelamatan jiwa dan harta benda. Tingkat waktu tanggap (response time rate) daerah layanan WMK adalah rasio antara kejadian kebakaran yang tertangani dalam waktu tidak lebih dari 15 (lima belas) menit tingkat waktu tanggap kebakaran pada pemukiman, bangunan gedung, pabrik/industri dan tidak lebih dari 60 (enam puluh) menit tingkat waktu tanggap kebakaran pada kawasan hutan dan lahandengan jumlah kejadian kebakaran di WMK. Waktu tanggap adalah waktu minimal yang diperlukan dimulai saat menerima informasi dari warga/penduduk sampai tiba di tempat kejadian serta langsung melakukan tindakan yang diperlukan secara cepat dan tepat sasaran.variabel terbesar yang menentukan lamanya waktu tanggap adalah waktu yang diperlukan untuk mencapai lokasi kebakaran sehinga capaian waktu tanggap amat dipengaruhi oleh kondisi jalan dan lalu lintas saat menuju lokasi kebakaran. Kondisi-kondisi lain yang mempengaruhi response time antara lain:jarak lokasi kebakaran, tingkat kepadatan pemukiman di lokasi kebakaran serta kondisi jalan dan lalu lintas, termasuk banyaknya bangunan portal yang dipasang pada jalan lingkungan. Selain itu, capaian response time juga dipengaruhi oleh jumlah Pos Pemadam Kebakaran yang hingga tahun 2015 hanya berjumlah 3 UPT dan 1 pos pembantu. Jumlah pos pemadam tersebut belum bisa menjangkau seluruh wilayah Kota Tangerang sesuai Standar Pelayanan Minimal.Karena Kota Tangerang belum dibagi berdasarkan jarak atau kesamaan kebutuhan proteksi kebakaran menjadi Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) sehingga penghitungan waktu tanggap (response time) dilakukan berdasarkan wilayah administrasi kecamatan. Indikator kinerja tingkat waktu tanggap (response time rate) daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) adalah rasio antara kejadian kebakaran yang tertangani dalam waktu tidak lebih dari 15 (lima belas) menit dengan seluruh jumlah kejadian kebakaran di WMK. Target indikator ini untuk tahun 2014 adalah sebesar %. Dengan jumlah kebakaran dan waktu tanggap yang diketahui untuk tiap Kecamatan seperti terlihat pada Tabel 3.68maka realisasi indikator ini dapat dihitung dengan formula sebagai berikut : 3-148
Tabel 3.68. Rekap Waktu Respon Per Kecamatan NO. KECAMATAN Waktu Respon > dr 15Menit Waktu Respon < dr 15Menit Jumlah Kejadian 1 TANGERANG 2 18 20 2 PRIUK 8 7 15 3 CIBODAS 1 3 4 4 KARAWACI 3 10 13 5 JATI UWUNG 6 5 11 6 NEGLASARI 1 8 9 7 BATUCEPER 3 3 6 8 BENDA 2 2 4 9 CILEDUG 2-2 10 LARANGAN 2 1 3 11 KARANG TENGAH 4 4 8 12 PINANG 2 7 9 13 CIPONDOH 4 8 12 JUMLAH 40 76 116 Jumlah kejadian yang tertangani/terpenuhi dalam waktu tanggap sebanyak 63 kejadian. Jumlah kejadian yang tidak tertangani/terpenuhi dalam waktu tanggap sebanyak 40 kejadian Capain kinerja belum terpenuhi sesuai dengan target nasional tahun 2015 = 75 % berarti masih ada kesenjangannya : 75 % - 65,52% = 9,75 %. Maka kesenjangan yang wajib dipenuhi yang direncanakan dalam perencanaan dan anggaran pembangunan daerah sampai dengan tahun 2015 = 9,75%. 3-149
Tingkat Ketersediaan mobil pemadam kebakaran di Atas 3.000-5.000 liter pada Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) Prosentase Capaian Tingkat Ketersediaan mobil pemadam kebakaran di Atas 3.000-5.000 liter pada Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK). Tahun 2015 sebesar 117,65% dari Target 92,00%. Mobil damkar dan/atau mesin damkar adalah salah satu sarana pemadam kebakaran yang digunakan oleh Satgas Damkar, Satlakar, Balakar atau sebutan lainnya untuk memenuhi waktu tanggap darurat kebakaran yang cepat dan tepat dalam pengurangan resiko kebakaran. Mobil damkar dan/atau mesin damkar sebagai identitas bentuk kepedulian pemerintah daerah memberi perlindungan dari bahaya kebakaran terhadap seluruh asset yang berada dilingkungan dan/atau kawasan berpotensi kebakaran. Jumlah mobil dan/atau mesin damkar Diatas 3000-5000 Liter pada WMK adalah cakupan mobil dan/atau mesin pemadam kebakaran yang disediakan pemerintah daerah yang layak pakai untuk mendukung tindakan waktu tanggap darurat kebakaran pada lingkungan dan/atau kawasan berpotensi kebakaran dan/atau WMK Realisasi indikator ini dapat dihitung dengan formula sebagai berikut: Tabel 3.69. Rekap Jumlah Mobil Pemadam 3000-5000 liter Per WMK No Nama WMK Jumlah Mobil Pemadam Kondisi Mobil Pemadam 1 WMK I (Jatiuwung) 4 Unit 82% 2 WMK II (Ciledug) 2 Unit 85% 3 WMK III (Tangerang) 6 Unit 76% 4 WMK IV (BatuCeper) 3 Unit 80% Data Kendaraan 3000-5000 liter di Kota Tangerang sampai dengan Tahun 2015 sebanyak 15 Kendaraan. Jumlah WMK yang dimiliki Kota Tangerang sampai dengan Tahun 2015 sebanyak 4 WMK. Jumlah WMK yang seharusnya sebanyak 17 WMK 3-150
Maka persentase Cakupan WMK yang memiliki mobil dan/atau mesin damkar laik pakai pada tahun 2015 adalah : Kinerja Pemerintah Daerah Kota Tangerang dalam menyediakan mobil pemadam kebakaran di atas 3000 5000 liter baru mencapai 88,24%, sedangkan target pencapaian SPM sampai dengan tahun 2015 sebesar 90% Capain kinerja belum terpenuhi sesuai dengan target nasional tahun 2015 = 90 % berarti masih ada kesenjangannya : 90 % - 88,24% % = 1,76 % Rasio Tempat Pemakaman Umum (TPU) per satuan penduduk Prosentase Capaian Tempat Pemakaman Umum (TPU) per satuan penduduk. Tahun 2015 sebesar 23,55% dari Target 24,05%. Ketersediaan tempat pemakaman merupakan salah satu sarana dan prasarana perkotaan yang dituntut keberadaannya.tempat Pemakaman Umum (TPU) di Kota Tangerang saat ini terdapat di Selapajang Jaya dengan luas 10,4 hektar. Permasalahan yang melingkupi sarana prasarana pemakaman adalah terbatasnya prasarana jalan dan drainase, sarana kantor pelayanan langsung di tempat TPU yang belum memadai. Bertolak dari kondisi tersebut, dalam dalam upaya memenuhi rasio tempat pemakaman umum (TPU) persatuan penduduk dan untuk menyediakan lahan pemakaman siap pakai serta meningkatkan kepuasan ahli waris terhadap pelayanan pemakamandilaksanakan program pengelolaan areal pemakaman dengan melaksanakan kegiatan : (1). Pembangunan sarana dan prasarana pemakaman; (2). Pemeliharaan sarana dan prasarana pemakaman.hasil pelaksanaan seluruh kegiatan dimaksud, mampu memenuhi rasio tempat pemakaman umum (TPU) persatuan penduduk (24,82%) sesuai dengan target yang direncanakan. Tingkat Tersedianya air baku untuk memenuhi kebutuhan pokok minimal seharihari Prosentase Capaian Tersedianya air baku untuk memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari-hari Tahun 2015 sebesar 60,00% dari Target 60,00%. Ketersediaan air baku untuk memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari hari merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Untuk merealisasikan tujuan tersedianya air baku untuk memenuhi 3-151
kebutuhan pokok minimal sehari-haridilaksanakanprogram penyediaan dan pengolahan air bakuyang dilaksanakan melalui kegiatan berupa:(1). Pemantauan dan Pengawasan Air Tanah; (2). Penyusunan Perwal Tata Cara Penentuan Harga Dasar Air sebagai Perhitungan NPA untuk Pajak Air Tanah; (3). Sosialisasi Pengelolaan Air Tanah. Persentase penduduk yang mendapatkan akses air minum yang aman Prosentase Capaian penduduk yang mendapatkan akses air minum yang aman Tahun 2015 sebesar 32,20% dari Target 64,60%. Ketersediaan air minum yang aman melalui SPAM dengan jaringan perpipaan dan SPAM bukan jaringan perpipaan merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Untuk merealisasikan tujuan ketersediaan air minum yang aman melalui SPAM dengan jaringan perpipaan dan SPAM bukan jaringan perpipaan dilaksanakan program Program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa dan jaringan pengairan lainnyadilaksanakan melalui kegiatan berupa:(1). Perencanaan Pembangunan Jaringan Air Bersih /Air Minum; dan (2). Pembangunan Jaringan Air Bersih /Air Minum. Persentase penduduk yang terlayani sistem air limbah yang memadai Prosentase Capaian penduduk yang terlayani sistem air limbah yang memadai Tahun 2015 sebesar 11,68% dari Target 2,86%. Pengelolaan air limbah di Kota Tangerang dilaksanakan melalui 2 sistem yaitu sistem off site(terpusat) pada IPAL Tanah Tinggi yang melayani masyarakat di Kelurahan Sukasari dan Babakan Kecamatan Tangerang dengan cakupan pelayanan sebanyak 2.758 SR dan 7 kolam oksidasi di Perumnas I Karawaci yang melayani Kelurahan Cibodasari di Kecamatan Cibodas; Kelurahan Nusa Jaya dan Karawaci Baru di Kecamatan Karawaci dengan cakupan pelayanan sebanyak 8.870 SR.Adapun untuk sistem yang kedua adalah sistem on site(setempat) dimana limbah tinja masyarakat (septictank) diangkut oleh 7 unit truk tinja untuk diolah di IPLT Perumnas I Karawaci yang memiliki kapasitas pelayanan 200.000 jiwa per tahun. Untuk memenuhi prosentase penduduk yang terlayani system air limbah yang memadai dilaksanakan program pengembangan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah melalui kegiatan (1). Rehabilitasi/pemeliharaan sarana dan prasarana air limbah; dan (2). Pendukung Pembangunan Sanitasi Perkotaan. Hasil dari seluruh kegiatan-kegiatan dimaksud mampu memenuhi prosentase penduduk yang terlayani system air limbah yang memadai dengan prosentase 33,3%, sesuai dengan target yang direncanakan. 3-152
3.4.46 SASARAN 46 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Penataan dan Pengelolaan Ruang Wilayah Perkotaan Pencapaian sasaran 46 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.70. Evaluasi Pencapaian Sasaran 46 No Indikator Sasaran Satuan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tingkat penyelenggaraan pengawasan terhadap bangunan gedung (pemerintah dan umum) Tingkat ketersediaan data mengenai pemanfaatan bangunan gedung Tingkat ketersediaan perangkat kebijakan perencanaan tata ruang kota Persentase Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik/Perkotaan Tingkat sosialisasi regulasi tentang Rencana Tata Ruang Kota Tingkat ketersediaan perangkat kebijakan pengendalian pemanfaatan ruang kota Tingkat penyelenggaraan pengendalian pemanfaatan ruang Tingkat ketersediaan data mengenai pemanfaatan ruang kota Tingkat ketersediaan regulasi penataan bangunan dan lingkungan Tingkat ketersediaan, publikasi, dan pengembangan Sistem Informasi Pembina Jasa Konstruksi (SIPJK) Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % (%) 12,50 12,50 100,00 25,00 25,00 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 40,00 40,00 100,00 (%) 2,00 2,00 100,00 20,69 3,45 16,68 (%) 28,24 21,42 75,85 28,24 8,85 31,34 (%) 72,22 72,22 100,00 77,78 77,78 100,00 (%) 0,00 0,00 0,00 16,67 16,67 100,00 (%) 7,69 7,69 100,00 30,77 30,77 100,00 (%) 8,33 8,33 100,00 25,00 25,00 100,00 (%) 15,79 15,79 100,00 36,84 10,53 28,58 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 3-153
Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut : Tingkat penyelenggaraan pengawasan terhadap bangunan gedung (pemerintah dan umum) Diupayakan pemenuhannya melalui kegiatan pemantauan terhadap pelaksanaan pembangunan fisik konstruksi yang merupakan bangunan umum (non pemerintah). Kegiatan ini dilaksanakan untuk menjamin dipatuhinya ketentuan-ketentuan yang berlaku mengenai pendirian bangunan terhadap pelaksanaan pekerjaan konstruksi dan pemeriksaan administratif terhadap pelaksanaan pekerjaan konstruksi bangunan di daerah. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun. Penentuan target indikator sebesar 25,00% dapat dipenuhi pada Tahun 2015 sebesar 25,00%. Tingkat ketersediaan data mengenai pemanfaatan bangunan gedung Diupayakan pemenuhannya melalui kegiatan pendataan bangunan. Untuk itu mendapatkan data mengenai jumlah bangunan yang ada di Kota Tangerang yang merupakan salah satu SPM (Standar Pelayanan Minimal) yang harus dipenuhi. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun. Penentuan target indikator sebesar 40,00% dapat dipenuhi pada Tahun 2015 sebesar 40,00%. Persentase Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik/Perkotaan Prosentase Capaian penduduk Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik/Perkotaan Tahun 2015 sebesar 28,24% dari Target 8,85%. Beradasarkan interpretasi terhadap peta citra, melalui Kegiatan Pemutakhiran Peta Penggunaan Lahan, luas lahan terbuka hijau (belum terbangun) adalah 3.897 ha (22,42%). Namun luasan ini belum didefinisikan sebagai ruang terbuka hijau. Dinas Tata Kota tidak mengupayakan penyediaan ruang terbuka hijau. Tingkat sosialisasi regulasi tentang Rencana Tata Ruang Kota Diupayakan pemenuhannya melalui kegiatan sosialisasi rencana tata ruang kota. Sosialisasi rencana tata ruang yang direncanakan pada Tahun 2015 adalah tentang Perda Rencan Detail Tata Ruang Kawasan (RDTRK). Target indikator sebesar 77,78% dengan pencapaian 77,78%, tidak dapat dipenuhi pada Tahun 2015 karena Perda dimaksud belum tersedia, karena belum selesai dievaluasi baik di BKPRD Banten maupun BKPRN. 3-154
Tingkat penyelenggaraan pengendalian pemanfaatan ruang Diupayakan pemenuhannya melalui kegiatan yang berkaitan dengan pengawasan dan penertiban agar pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Pengawasan dimaksudkan untuk menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang denga fungsi ruang yang ditetapkan dalam rencana yang diselenggarakan dalam bentuk pelaporan, pemantauan, dan evaluasi pemanfaatan ruang. Penertiban pemanfaatan ruang adalah usaha untuk mengambil tindakan agar pemanfaatan ruang yang direncanakan dapat terwujud. Target indikator sebesar 16,67% dapat dipenuhi pada Tahun 2015 dengan pencapaian 16,67. Tingkat ketersediaan data mengenai pemanfaatan ruang kota Diupayakan pemenuhannya melalui kegiatan survei dan pemetaan penggunaan lahan untuk mendapatkan gambaran mengenai perkembangan pemanfaatan ruang. Target indikator sebesar 30,77% dapat dipenuhi pada Tahun 2015 dengan pencapaian 30,77%. Tingkat ketersediaan regulasi penataan bangunan dan lingkungan Penataan bangunan dan lingkungan adalah kegiatan pembangunan untuk merencanakan, melaksanakan, memperbaiki, mengembangkan, atau melestarikan bangunan dan lingkungan/kawasan tertentu sesuai dengan prinsip pemanfaatan ruang dan pengendalian bangunan gedung dan lingkungan secara optimal, yang terdiri atas proses perencanaan teknis dan pelaksanaan konstruksi, serta kegiatan pemanfaatan, pelestarian, dan pembongkaran bangunan gedung dan lingkungan. Pemenuhan indikator ini diupayakan melalui kegiatan penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah panduan rancang bangun suatu lingkungan/kawasan yang dimaksudkan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang, penataan bangunan dan lingkungan, serta memuat materi pokok ketentuan program bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana investasi, ketentuan pengendalian rencan, dan pedoman pengendalian pelaksanaan pengembangan lingkungan/kawasan. Target indikator sebesar 36,84% dapat dipenuhi pada Tahun 2015 sebesar 10,53%. Tingkat ketersediaan, publikasi, dan pengembangan Sistem Informasi Pembina Jasa Konstruksi (SIPJK) Sistem Informasi Pembian Jasa Konstruksi adalah sekumpulan komponen dari informasi mengenai jasa konstruksi yang saling terintegrasi untuk menyajikan data dan 3-155
informasi mengenai jasa konstruksi yang merupakan salah satu SPM (Standar Pelayanan Minimal) yang harus dipenuhi. Pemenuhan indikator ini diupayakan melalui kegiatan verifikasi ijin usaha jasa konstruksi dan pembinaan teknis usaha jasa konstruksi. Target indikator sebesar 100% dapat dipenuhi pada Tahun 2015 sebesar 100%. 3.4.47 SASARAN 47 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pembangunan Ekologis (sosial, lingkungan, ekonomi) yang berorientasi pada peningkatan kualitas dan daya dukung lingkungan perkotaan Pencapaian sasaran 47 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 3.71. Evaluasi Pencapaian Sasaran 47 No Indikator Sasaran Satuan 1 2 3 4 5 Persentase usaha dan/atau kegiatan yang mentaati persyaratan administrasi dan teknis pencegahan pencemaran air Persentase jumlah usaha dan/atau kegiatan sumber tidak bergerak yang memenuhi persyaratan administratif dan teknis pencegahan pencemaran udara Persentase pengaduan masyarakat akibat adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang ditindaklanjuti Cakupan pemantauan Kualitas air sungai, Air Tanah dan Situ, serta kualitas udara dan kebisingan Persentase pengurangan sampah di perkotaan (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi % Target Realisasi % 10,00 10,00 100,00 100,00 100,00 100,00 10,00 10,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 18,74 18,74 100,00 38,62 27,27 70,60 (%) 13,38 13,38 100,00 14,24 17,99 126,31 6 Persentase pengangkutan sampah (%) 74,99 74,99 100,00 75,00 75,00 99,99 7 Persentase pengoperasian TPA (%) 45,00 45,00 100,00 50,00 60,00 120,00 8 Tingkat pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik/Perkotaan di wilayah perkotaan (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 3-156
Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut : Upaya pencapaian target indikator sasaran ini dilaksanakan oleh Badan Pengendalian Lingkungan Hidup &Dinas Kebersihan dan Pertamanan melalui tujuh program, sebagai berikut: Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup; Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam; Program Rehabilitasi dan Pemulihan Cadangan Sumber daya Alam; Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup; Program Peningkatan Pengendalian Polusi; Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan; Program Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Dari hasil evaluasi capaian kinerja Pemerintah Kota Tangerang pada Tahun 2015 didapatkan nilai capaian kinerja pada tahun 2015 memperoleh predikat Sangat Tinggi, dengan rata-rata seluruh capaian kinerja dari 47 sasaran adalah 106,43%, dengan rincian sebagai berikut: 42 Sasaran atau 89,36% Capaian Kinerjanya Sangat tinggi; 5 Sasaran atau 10,64% Capaian Kinerjanya Tinggi. Pada Tahun 2015, pelaksanaan Rencana Kinerja Tahunan mencakup pencapaian 47(empat puluh tujuh) sasaran stratejik. Dari penilaian sendiri (self assesment) untuk seluruh indikator kinerja sasaran yang ditetapkan dan mengacu pada skala ordinal di atas, maka capaian kinerja sasaran dalam Tahun2015 adalah sebagai berikut : Tabel 3.72. Rata-rata Pencapaian Kinerja Sasaran Tahun 2015 1 2 SASARAN Terwujudnya pemantapan dan pengembangan system pendaftaran, penguasaan, pemilikan, penggunaan, pemanfaatan, dan penyelesaian konflik pertanahan. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan system administrasi kependudukan CAPAIAN 2014 2015 KRITERIA PENILAIAN Peningkatan/ Penurunan 100,00 106,67 Sangat Tinggi Meningkat 91,03 86,42 Tinggi Menurun 3-157
3 4 5 6 7 8 9 10 11 SASARAN dan pencatatan sipil daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sisitem Manajemen Kepemerintahan dan Keadministrasian Umum, serta Kesejahteraan Masyarakat yang Responsif, Koordinatif, Integratif, Sederhana, dan Sinergis. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Keuangan dan Aset Daerah secara Transparan dan Akuntabel Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pengawasan Pembangunan Daerah. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Kepegawaian Daerah. Terwujudnya Aparatur Pemerintah Daerah yang Cerdas, Bermoral, Inovatif, dan Profesional. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pemenuhan peralatan dan perlengkapan keadministrasian perkantoran Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perindustrian Daerah dan peningkatan kapasitas industri kecil dan menengah. Tewujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen Data/Informasi Pembangunan Daerah. CAPAIAN 2014 2015 KRITERIA PENILAIAN Peningkatan/ Penurunan 100,00 100,32 Sangat Tinggi Meningkat Terwujudnya pemantapan dan pengembangan berbagai kajian, penelitian dan inovasi pemb. Daerah. 106,17 138,45 Sangat Tinggi Meningkat 100,00 100,00 Sangat Tinggi Tetap 97,22 100,00 Sangat Tinggi Meningkat 94,46 103,31 Sangat Tinggi Meningkat 100,00 100,00 Sangat Tinggi Tetap 92,43 81,18 Tinggi Menurun 100,00 100,00 Sangat Tinggi Tetap 100,00 100,00 Sangat Tinggi Tetap 3-158
12 13 14 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kearsipan daerah. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sitem Informasi dan Komunikasi Daerah. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pelayanan aparatur pemerintah daerah secara professional, cepat, tepat, akurat dengan berbasis pada teknologi informasi yang efektif dan efisien 15 Terwujudnya pemantapan & pengembangan sistem informasi dan aplikasi penyelenggaran pemerintah daerah yang terintegrasi, terstandarisasi, serta memadai 16 17 18 19 20 Terwujudnya pemantapan dan pengembagan keberdayaan sector UMKM dan koperasi sebagai pendukung kegiatan ekonomi daerah berbasis sumberdaya lokal Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Investasi Daerah yang transparan serta didukung oleh iklim investasi yang kondusif. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem ketahanan Pangan Daerah yang meliputi Ketersediaan, Distribusi, Konsumsi, Kewaspadaan, dan Kemasyarakataan Terwujudnya pemantapan dan pengembangan agribisnis serta budidaya pertanian dan pertenakan yang berorientasi pada intensifikasi pertanian. 100,00 100,00 Sangat Tinggi Tetap 100,00 100,00 Sangat Tinggi Tetap 100,00 100,00 Sangat Tinggi Tetap Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Kepariwisataan Daerah. 100,00 100,00 Sangat Tinggi Tetap 100,00 126,34 Sangat Tinggi Meningkat 100,00 100,00 Sangat Tinggi Tetap 95,83 137,41 Sangat Tinggi Meningkat 116,60 78,55 Tinggi Menurun 117,73 122,12 Sangat Tinggi Meningkat 3-159
21 22 23 24 25 26 27 28 29 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan intensifikasi budidaya perikanan darat. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perdagangan Daerah dan peningkatan perlindungan konsumen. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perindustrian Daerah dan peningkatan kapasitas industri kecil dan menengah. Terwujudnya Pemantapan dan Pengembangan Sistem Pendidikan Daerah yang Mengacu pada Sistem Pendidikan Nasional, dan Berbasis Kompetensi, Serta Berosientasi pada Kebutuhan Kerja Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Pelayanan dan Akses Kesehatan yang berkualitas dan terjangkau. Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya pemberdayaan dan perlindungan anak yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan keluarga Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap norma keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan perlindungan kesejahteraan social-masyarakat. 122,37 101,63 Sangat Tinggi Menurun 207,83 100,00 Sangat Tinggi Menurun 136,92 240,63 Sangat Tinggi Meningkat Terwujudnya pemantapan dan pengembangan ketenagakerjaan daerah yang berbasis keahlian serta berorientasi pada penciptaan dan perluasan lapangan pekerjaan. 114,83 110,19 Sangat Tinggi Menurun 172,32 128,79 Sangat Tinggi Menurun 97,18 134,44 Sangat Tinggi Meningkat 93,06 99,23 Sangat Tinggi Meningkat 75,70 105,32 Sangat Tinggi Meningkat 107,50 91,00 Sangat Tinggi Menurun 3-160
30 31 32 33 34 35 36 37 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan kebudayaan daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kepemudaan dan Keolahragaan Daerah yang mandiri dan berprestasi. Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesatuan, kebangsaan, dan kepolitikan. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem penegakan peraturan daerah yang manusiawi dan berkeadilan Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem keberdayaan Masyarakat yang berbasis pada kebutuhan dasar dan berorientasi padapeningkatan kesejahteraan masyarakat. Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran dan kegemaran membaca masyarakat. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem perencanaan-penganggaran, pengendalian, dan evaluasi. Pelaporan yang partisipatif, koordinatif, dan integrative, serta berbasisis data/ informasi dan berorintasi pada sektoral dan kewilayahan. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan sarana-prasarana kependidikan, kebudayaan, dan kepustakaan yang layak dan memadai 112,50 100,00 Sangat Tinggi Menurun 100,48 103,00 Sangat Tinggi Meningkat 100,00 100,00 Sangat Tinggi Tetap 90,82 78,70 Tinggi Menurun 100,00 109,73 Sangat Tinggi Meningkat 76,83 100,00 Sangat Tinggi Meningkat 100,00 100,00 Sangat Tinggi Tetap 102,00 104,01 Sangat Tinggi Meningkat 3-161
38 39 40 41 42 43 44 45 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan sarana-prasarana kesehatan yang layak dan memadai. Terwujudnya pemantapan dan Peningkatan pelayanan dan penyediaan sarana-prasarana kebinamargaan, dan keciptakaryaan daerah yang layak dan memadai Terwujudnya pemantapan dan pengembangan penyediaan perlengkapan sarana dan prasarana transportasi dan kelalulintasan yang layak, memadai, dan terpadu Terwujudnya pemantapan dan pengembangan ketersediaan sarana dan prasarana perekonomian dan social kemasyarakatan yang layak dan memadai Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana perkantoran,pemerintah daerah yang layak dan memadai. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem transportasi serta Manajemen dan Rekayasa Lalulintas yang modern dan terpadu yang didukung oleh teknologi informasi yang canggih dan memadai Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya mitigasi, pencegahan, pengendalian bencana serta upaya perminimalan dampak bencana. 96,96 106,90 Sangat Tinggi Meningkat 100,56 118,91 Sangat Tinggi Meningkat Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kualitas lingkungan perumahan dan pemukiman penduduk yang bersih, sehat, aman, dan nyaman 100,50 93,24 Sangat Tinggi Menurun 100,83 100,00 Sangat Tinggi Menurun 100,00 100,00 Sangat Tinggi Tetap 100,00 100,00 Sangat Tinggi Tetap 84,09 91,35 Sangat Tinggi Meningkat 97,73 124,61 Sangat Tinggi Meningkat 3-162
46 47 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sitem Penataan dan Pengelolaan Ruang Wilayah Perkotaan. Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sitem Pembangunan Ekologis (Sosial, Lingkungan, Ekonomi) yang berorientasi pada peningkatan kualitas dan daya dukung lingkungan perkotaan. 97,32 77,66 Tinggi Menurun 100,00 102,11 Sangat Tinggi Meningkat Rata-rata 104,25 106,43 Sangat Tinggi Meningkat 3.5 REALISASI ANGGARAN Penjelasan umum laporan realisasi anggaran dan kinerja Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2015 dapat dijelaskan sebagai berikut : Realisasi anggaran belanja daerah Kota Tangerang pada Tahun Anggaran 2015 adalah sebesar Rp3.101.117.662.466,00 atau 74,06% dari pagu anggarannya yang sebesar Rp4.187.571.847.064,00. Realisasi anggaran belanja Tahun 2015meningkat sebesar Rp445.029.730.813,00 atau 16,76% dibandingkan Tahun 2014 sebesar Rp2.656.087.931.653,00. Realisasi anggaran belanja untuk pencapaian kinerja keempat puluh tujuh sasaran strategis sebesar Rp2.017.419.893.418,00 atau 69,41% dari anggaran sebesar Rp2.906.336.311.835,45. Realisasi anggaran capaian kinerja ke empat puluh tujuh sasaran strategis tahun 2015meningkat sebesar Rp327.395.772.368,00 atau 19,37% dari realisasi anggaran 2014 sebesar Rp1.690.024.121.050,00. Rincian per sasaran dapat dilihat pada lampiran pengukuran kinerja. Pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah di dasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor: 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah serta Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah serta Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang 3-163
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Pengelolaan Laporan Keuangan Pemerintah Kota Tangerang berdasarkan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI) mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) sejak tahun 2007, yang merupakan opini dengan nilai tertinggi dari penilaian audit. Jika dilihat pada Tabel 3.73maka Pemerintah Kabupaten/Kota se-provinsi Banten yang berhasil mendapat opini WTP sejak Tahun 2007 atau delapan tahun berturutan hanya Pemerintah Kota Tangerang. Tabel 3.73. Perkembangan Opini Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Provinsi No. Banten Tahun Anggaran 2007 2014 Pemda OPINI Tahun 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 1 Prov. Banten WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP TMP 2 Kab. Lebak WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 3 Kab. Pandeglang WDP WDP TMP TMP WDP WDP WDP TMP 4 Kab. Serang TMP WDP WDP WDP WTP WTP WTP WTP 5 Kab. Tangerang WDP WTP WTP WTP WTP WTP WTP WTP 6 Kota Cilegon WDP WDP WDP TMP WDP WDP WTP WTP 7 Kota Serang - WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 8 Kota Tangerang WTP WTP WTP WTP WTP WTP WTP WTP 9 Kota Tangerang Selatan Sumber: BPK Perwakilan Provinsi Banten - - WDP WTP WTP WTP WDP WDP Keuangan daerah pada hakekatnya merupakan salah satu alat untuk meningkatkan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan tujuan otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggungjawab. APBD adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD, dan ditetapkan dengan peraturan daerah. Secara garis besar struktur APBD terdiri dari tiga komponen utama, yaitu pendapatan, belanja daerah, dan pembiayaan. Pendapatan daerah adalah semua hak daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan. Belanja daerah adalah semua kewajiban daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan. Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali 3-164
dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Perkembangan APBD Kota Tangerang dan capaian realisasinya untuk kurun waktu Tahun 2007 2014 dapat dilihat pada Tabel 3.74 berikut ini. 3-165
Tabel 3.74. Target dan Realisasi APBD Kota Tangerang Tahun 2013-2015 Uraian 2013 2014 2015 Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi 1. Pendapatan 2.448.837.281.618,22 2.554.197.028.016,00 2.977.599.316.157,00 3.016.402.369.860,00 3.294.192.110.809,00 3.370.179.908.195,00 Pendapatan Asli Daerah 653.182.027.244,00 815.733.560.156,00 1.156.097.821.081,00 1.258.738.853.83400 1.290.411.582.374,00 1.462.500.964.856,00 Dana Perimbangan 1.213.843.109.110,00 1.171.494.009.982,00 1.142.431.199.128,00 1.093.831.122.465,00 1.153.453.087.259,00 1.057.756.756.159,00 Lain-lain Pendapatan Daerah yg Sah 581.812.145.264,22 566.969.457.878,00 679.070.295.948,00 663.832.393.561,00 850.327.441.176,00 849.922.187.180,00 2. Belanja 3.194.123.620.842,22 2.766.426.989.192,00 3.510.664.614.205,00 2.656.087.931.653,00 4.187.571.847.064,00 3.101.117.662.466,00 Belanja Tidak Langsung 1.030.544.916.000,00 921.801.438.725,00 1.121.661.012.158,93 966.063.810.603,00 1.281.235.535.228,55 1.083.697.769.048,00 Belanja Langsung 2.163.578.704.842,22 1.844.625.550.467,00 2,389.003.602.046,07 1.690.024.121.050,00 2.906.336.311.835,45 2.017.419.893.418,00 Surplus/(Defisit) (745.286.339.224,00) (212.229.961.176,00) (533.065.298.048,00) 360.314.438.207,00 (893.379.736.255,00) 269.062.245.729,00 3. Pembiayaan 745.286.339.224,00 745.286.339.224,00 533.065.298.048,00 533.065.298.048,00 893.379.736.255,00 (269.062.245.729,00) Penerimaan Pembiayaan 745.286.339.224,00 745.286.339.224,00 533.065.298.048,00 533.065.298.048,00 893.379.736.255,00 893.379.736.255,00 Pengeluaran Pembiayaan 0,00 0,00 0.00 0.00 0.00 0.00 SILPA Tahun Berjalan 0,00 533.056.378.048,00 0,00 893.379.736.255,00 0,00 1.162.441.981.984,00 Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2016 3-166
3.6 PENGELOLAAN PENDAPATAN DAERAH 3.6.1 Intensifikasi dan Ekstensifikasi Pendapatan Daerah Pengelolaan Pendapatan Daerah dilakukan dengan menggali potensi sumber pendapatan daerah melalui intensifikasi dan ekstensifikasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Perimbangan. Artinya, perlu dilakukan peningkatan dan perluasan basis PAD dan mengupayakan secara optimal Dana Perimbangan, agar bagian daerah dapat diperoleh secara proporsional. Untuk itu, ditempuh berbagai upaya seperti peningkatan pengawasan, koordinasi dan penyederhanaan proses administrasi pemungutan. Undangundang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah menjelaskan bahwa sumber pendapatan daerah/sumber penerimaan daerah meliputi: 1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) terdiri dari: a) Pajak daerah; b) Retribusi Daerah; c) Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan; dan d) Lain-lain PAD yang Sah; 2. Dana Perimbangan terdiri dari: a) Dana Bagi Hasil dan Bagi Hasil Bukan Pajak; b) Dana Alokasi Umum (DAU); dan c) Dana Alokasi Khusus (DAK); 3. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah terdiri dari: a) Bagi Hasil Pajak dari Provinsi; b) Dana Penyesuaian dan c) Bantuan Keuangan. Berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Tangerang selama Tahun 2011-2015 menunjukkan bahwa Kota Tangerang memiliki struktur ekonomi dengan lapangan usaha perdagangan, hotel, dan restoran serta lapangan usaha industri pengolahan sebagai lapangan usaha yang paling dominan sumbangannya. Dalam pengertian yang lebih lanjut, dapat dikatakan bahwa kemampuan untuk membayar segala pungutan-pungutan yang ditetapkan oleh pemerintah dapat lebih tinggi.dengan demikian, sektor pajak mempunyai potensi yang besar dalam upaya peningkatan pendapatan daerah.dalam rangka meningkatkanpendapatandaerahlangkah-langkah yang dilakukan Pemerintah Kota Tangerang antara lain: Mengoptimalkan peningkatan pendapatan daerah yang berasal dari sumber-sumber PAD dan Dana Perimbangan; Meningkatkan peran serta masyarakat dan sektorswasta,baik dalam pembiayaan maupun kegiatan pembangunan; 3-167
Meningkatkan efisiensi pengelolaan APBD; dan MengutamakansecaraoptimalperolehanDanaPerimbangan yang lebih proporsional. Upaya peningkatan PAD dapat dilaksanakan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi sumber-sumber pendapatan daerah. 3.6.2 Intensifikasi Pendapatan Daerah Intensifikasi adalah memperbesar penerimaan yang dilakukan dengan cara melakukan pemungutan lebih intens untuk meningkatkan pendapatan dari jumlah wajib pajak yang sudah ada untuk mencapai target yang telah ditetapkan.upaya intensifikasi yang telah dilakukan antara lain adalah: 1. Melakukan pendataan ulang Objek Pajak yang telah terdaftar, langsung ke lapangan (tempat usaha); 2. Melakukan pendataan dengan cara menelusuri jalan untuk diperoleh data subjek/objek pajak yang belum terdaftar; 3. Melakukan pemanggilan secara terus menerus tehadap Subjek Pajak agar yang bersangkutan mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak; 4. Melakukan pembinaan dan penyuluhan terhadap Wajib Pajak maupun Wajib retribusi agar yang bersangkutan dapat memenuhi kewajibannya untuk menyampaikan laporan dan pembayaran tepat pada waktunya; 5. Melakukan pemanggilan terhadap Wajib Pajak dan Wajib Retribusi yang menunggak laporan maupun pembayarannya; 6. Pengenaan sanksi terhadap Wajib Pajak dan Wajib Retribusi yang terlambat maupun menunggak pembayaran; 7. Rapat koordinasi dan evaluasi dengan OPD pemungut setiap bulannya, yang dipimpin langsung oleh Walikota/Wakil Walikota/Sekretaris Daerah; 8. Pemberian motivasi yang lebih tinggi kepada petugas pemungut pajak dan retribusi dengan cara peningkatan pengendalian dan pengawasan; 9. Peningkatan pelayanan melalui peningkatan sarana dan prasarana; 10. Meningkatkan koordinasi dengan Kantor Pelayanan Pajak Pusat sebagai upaya mencegah terjadinya pengenaan pajak ganda; 11. Sosialisasi kepada Wajib Pajak dan Wajib Retribusi untuk melakukan pembayaran langsung ke Rekening Kas Umum Daerah sebagai bagaian dari upaya tindakan pencegahan pengawasan hasil pungutan; dan 3-168
12. Melakukan pendekatan terhadap Wajib Pajak dan Wajib Retribusi yang potensial untuk membayar kewajibannya tepat waktu. 3.6.3 Ekstensifikasi Pendapatan Daerah Ekstensifikasi dilakukan dengan cara menggali sumber-sumber PAD yang baru. Namun demikian dalam hal penggalian sumber pendapatan yang baru tersebut tidak hanya semata-mata untuk memperoleh sumber pendapatan. Dalam melakukan ekstensifikasi yang dilakukan, harus memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2010, yaitu: 1) Bersifat pajak dan bukan retribusi; 2) Obyek pajak terletak di wilayah kabupaten/kota yang bersangkutan dan mempunyai mobilitas yang cukup rendah serta hanya melayani masyarakat di wilayah kabupaten/kota yang bersangkutan; 3) Obyek dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum; 4) Obyek pajak bukan merupakan obyek pajak provinsi atau obyek pajak pusat; 5) Potensinya memadai; 6) Tidak memberikan dampak ekonomi negatif; 7) Memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat; dan 8) Menjaga kelestarian lingkungan. Target dan Realisasi Pendapatan Daerah Penerimaan pendapatan daerah pada Tahun Anggaran 2015ditargetkan sebesar Rp3.294.192.110.809,00 dan direalisasikan sebesar Rp3.370.179.908.195,00 atau 102,31%. Target dan realisasi pendapatan daerah dapat dilihat pada table 3.76 dan dideskripsikan dalam diagram batang yang tersusun atas ketiga komponen Pendapatan Daerahseperti pada Gambar 3.3 dan Gambar 3.4. Tabel 3.75. Target dan Realisasi Pendapatan DaerahTahun Anggaran2015 Pendapatan Daerah Target (Rp) Realisasi (Rp) % Target Capaian (%) I. Pendapatan Asli Daerah 1.290.411.582.374,00 1.462.500.964.856,00 113,34 100.00 I.1. Pajak Daerah 1.059.450.000.000,00 1.179.842.721.472,00 111,36 100,00 I.2. Retribusi Daerah 79.781.085.273,00 85.146.428.660,00 106,73 100,00 I.3 Hasil Perus. Milik Daerah dan HasilPengelolaan Kekayaan 15.117.599.548,00 12.657.480.190,00 83,73 100,00 Daerah yang Dipisahkan I.4. Lain-lain PAD yang Sah 136.062.897.553,00 184.854.334.534,00 135,86 100,00 II. Dana Perimbangan 1.153.453.087.259,00 1.057.756.756.159,00 91,70 100,00 II.1 Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak 231.352.155.259,00 142.669.228.159,00 61,66 100,00 II.2 Dana Alokasi Umum 887.033.912.000,00 887.033.912.000,0 100,00 100,00 II.3 Dana Alokasi Khusus 35.067.020.000,00 28.053.616.000,00 80,00 100,00 3-169
Pendapatan Daerah Target (Rp) Realisasi (Rp) % Target Capaian (%) III. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah III.1 Bagi Hasil Pajak dari Propinsi 850.327.441.176,00 849.922.187.180,00 99,95 100,00 472.177.144.926,00 471.771.900.930,00 99,91 100,00 III.2Dana Penyesuaian 240.257.189.000,00 240.257.189.000,00 100,00 100,00 III.3Bantuan Keuangan dari 137.893.137.250,00 137.893.137.250,00 100,00 100,00 Propinsi Pendapatan 3.294.192.110.809,00 3.370.179.908.195,00 102,31 100,00 Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2016 Gambar 3.3. Target dan Realisasi Pendapatan Tahun Anggaran 2015dalam Milyar Rupiah Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2016 3-170
Gambar 3.4. Persentase Realisasi dan Persentase Target Capaian Pendapatan Tahun Anggaran 2015 120 100 80 113,34 100 99,95 100 91,7 100 60 40 20 0 PAD Dana Perimbangan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah Realisasi (%) Target (%) Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2016 Target (%) Realisasi (%) Berdasarkan tabel 3.2 di atas, terlihat bahwa capaian realisasi tertinggi berasal dari penerimaan Pajak Daerah sebesar Rp1.179.842.721.472,00 (111,36%) dari target sebesar Rp1.059.450.000.000,00. Realisasi ini terutama dikarenakan realiasi penerimaan seluruh jenis pajak daerah melebihi target yang telah ditetapkan, dimana pelampauan tertinggi berasal dari Pajak Hotel sebesar 128,24% dengan nilai realisasi sebesar Rp43.601.502.867,00 dari target sebesar Rp34.000.000.000,00. Adapun yang menjadi prioritas dalam upaya meningkatkan pendapatan daerah adalah dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada atau yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Tangerang, baik sumber daya manusia maupun sumber/potensi yang dimiliki daerah berupa penerapan dasar hukum pajak daerah, retribusi daerah, dan 3-171
pendapatan lain-lain; peningkatan sarana dan prasarana pelayanan; koordinasi konsultansi dan pembinaan pengelolaan pendapatan daerah. 3.6.3.1 Pendapatan Asli Daerah Pendapatan asli daerah sebagai salah satu sumber pembiayaan pembangunan bagi Pemerintah Daerah yang merupakan wujud dari partisipasi langsung masyarakat dalam mendukung proses pembangunan. Untuk melihat perkembangan target dan realisasi penerimaan PAD Kota Tangerang dari Tahun 2011-2015 dapat dilihat pada Tabel 3.76. Tabel 3.76. Perkembangan PAD Kota Tangerang TA 2011-2015 No. Tahun Anggaran Target (Rp) Realisasi (Rp) Capaian Kinerja (%) 1 2011 380.071.981.676,26 499.600.758.688,00 131,45 2 2012 461.383.233.872,66 631.519.353.723,00 136,88 3 2013 653.182.027.244,00 815.733.560.156,00 124,89 4 2014 1.156.097.821.081,00 1.258.738.853.834,00 108,88 5 2015 1.290.411.582.374,00 1.462.500.964.856,00 113,34 Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2016 Secara sekilas kita dapat melihat secara keseluruhan penerimaan PAD Kota Tangerang selama kurun waktu Tahun 2011 2015terus mengalami kenaikan dan melampaui dari target yang telah ditetapkan.kenaikan PAD tidak saja dari sisi target tetapi juga dari sisi realisasi penerimaan. Kenaikan realisasi PAD pada pada Tahun 2011 sebesar 16,62%, realisasitahun 2012 kenaikannya mencapai 26,40%, dan realisasi Tahun 2013 kenaikannya mencapai sebesar 29,17%, dan realisasi Tahun 2014 kenaikannya mencapai 54,31% dari Tahun 2013, serta realisasi Tahun 2015 kenaikannya mencapai 16,19% dari Tahun 2014. Kenaikan realisasi yang cukup besar pada tahun 2014, terutama karena adanya penambahan objek pajak baru, yaitu Pajak Bumi Bangunan Pedesaan dan Perkotaan (PBB P2) dimana mulai tahun 2014 kewenangan pemungutannya ada di pemerintah daerah. Bila dilihat dari pergerakannya struktur penerimaan PAD Kota Tangerang memiliki pertumbuhan yang positif.pertumbuhan yang positif dikontribusi oleh semua komponen pembentuknya.sebagai gambaran lebih detailnya mengenai target dan realisasi komponen PAD Tahun 2015dapat dilihat pada Tabel 3.77. 3-172
Tabel 3.77. Rincian Anggaran dan Realisasi PAD Kota Tangerang Tahun Anggaran 2015 No. Jenis Pendapatan Target (Rp) Realisasi (Rp) % 1 Pajak Daerah 1.059.450.000.000,00 1.179.842.721.472,00 111,36 2 Retribusi Daerah 79.781.085.273,00 85.146.428.660,00 106,72 3 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan 15.117.599.548,00 12.657.480.190,00 83,73 4 Lain-lain PAD Yang Sah 136.062.897.553,00 184.854.334.534,00 135,86 J u m l a h 1.290.411.582.374,00 1.462.500.964.856,00 113,34 Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2016 Pajak Daerah Untuk mengukur kemampuan keuangan daerah/kemandirian suatu daerah dalam melaksanakan otonomi daerah ditunjukkan oleh besar kecilnya pajak yang diterima, dan juga perbandingannya dengan penerimaan dari sumber-sumber yang lain, misalnya bantuan pemerintah pusat atau dari pinjaman.faktor potensi ekonomi daerah sebagai basis pajak diyakini mampu mempengaruhi peningkatan PAD.Semakin tinggi aktivitas ekonomi yang dilakukan semakin besar pajak yang diperoleh. Dengan kata lain peningkatan PAD terkait dengan kemampuan cakupan output di sektor produksinya (economic sectors).kemampuan pajak juga mempunyai arti sebagai sumber dana dan keuangan dalam upaya pemerintah untuk melakukan ekspansi. Keterkaitan antara penerimaan pajak provinsi dan pajak dari kabupaten/kota bermuara pada bagaimana sumber penerimaan ini dapat dijadikan sebagai mesin penggerak pembangunan.seiring dengan meningkatnya kewenangan pemerintahan yang dimiliki oleh daerah sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004. Adapun potensi sumber penerimaan daerah berdasarkan kebijakan desentralisasi fiskal tersebut adalah pajak daerah yang merupakan salah satu komponen dari PAD. Pajak daerah yang oleh Pemerintah Kota Tangerang pada tahun anggaran 2015 terdiri dari9 (sembilan) jenis pajak. Adapun target dan realisasi pajak daerah pada Tahun Anggaran 2015 dapat dilihat pada Tabel 3.78 berikut ini. 3-173
Tabel 3.78. Target dan Realisasi Pajak Daerah Tahun Anggaran 2015 No. Jenis Pajak Target (Rp) Realisasi (Rp) % 1 Pajak Hotel 34.000.000.000,00 43.601.502.867,00 128,24 2 Pajak Restoran 190.000.000.000,00 211.475.134.941,00 111,30 3 Pajak Hiburan 18.000.000.000,00 18.672.693.168,00 116,43 4 Pajak Reklame 26.000.000.000,00 24.302.062.468,00 93,46 5 Pajak Penerangan Jalan Umum 6 Pajak atas PenyelenggaraanParkir Swasta 158.000.000.000,00 164.324.630.726,00 104,00 50.000.000.000,00 54.751.944.699,00 109,50 7 Pajak Air Tanah 5.500.000.000,00 5.930.754.279,00 107,83 8 Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan 290.850.000.000,00 350.005.140.351,00 120,34 9 Pajak Bumi dan Bangunan 287.100.000.000,00 306.778.857.973,00 106,85 J u m l a h 1.059.450.000.000,00 1.179.842.721.472,00 111,36 Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2016 Realisasi pajak daerah sebesar Rp1.179.842.721.472,00 merupakan komponen terbesar (111,36%) dari total realisasi penerimaan PAD Tahun 2015. Dan komponen pajak daerah yang memberikan kontribusi realisasi paling besar pada tahun 2015 adalah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebesar Rp350.005.140.351,00. Retribusi Daerah Retribusi daerah merupakan salah satu komponen dari PAD.Mengacu pada ketentuan perundang-undangan, pada Tahun Anggaran 2015 Pemerintah Kota Tangerang mengelola 16 (enam belas) jenis retribusi daerah.realisasi penerimaan retribusi daerah tahun 2015 sebesar Rp85.146.428.660,00 (106,72%) dan komponen terbesar dari total realisasi penerimaan retribusi daerah berasal dari Retribusi Ijin Mendirikan Bangunan. sebesar Rp57.785.407.770,00 (107,74%).Lima besar retribusi yang memberikan kontribusi pada realisasi penerimaan PAD tahun 2015berturut-turut adalah sebagai berikut: Retribusi Ijin Mendirikan Bangunan, Retribusi Pelayanan 3-174
Persampahan/Kebersihan, Retribusi IMTA, Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor,dan Retribusi Ijin Gangguan. Untuk lebih jelasnya kontribusi yang disumbangkan oleh setiap jenis retribusi dapat dilihat pada Tabel 3.79. Tabel 3.79. Target dan Realisasi Retribusi Daerah Tahun Anggaran 2015 No. Jenis Retribusi Target (Rp) Realisasi (Rp) % 1 Pelayanan Kesehatan 593.750.000,00 684.711.000,00 115,32 2 Pelayanan Persampahan/Kebersihan 6.000.000.000,00 5.617.228.000,00 93,62 3 Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat 0,00 302.290.000,00 4 Parkir Tepi Jalan Umum 392.000.000,00 392.000.000,00 100,00 5 Pengujian Kendaraan Bermotor 3.800.000.000,00 3.801.905.000,00 100,05 6 Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran 500.000.000,00 305.674.512,00 61,13 7 Pemakaian Kekayaan Daerah (Sewa Lahan untuk Reklame) 8 Pemakaian Kekayaan Daerah (Sewa Rusun, Sewa Mesin/Alat Berat, Sewa Gedung) 0,00 1.736.000,00 2.023.427.080,00 2.546.326.300,00 125,84 9 Terminal 3.200.000.000,00 3.129.128.500,00 97,78 10 Parkir Khusus 1.408.000.000,00 1.412.000.000,00 100,28 11 Penyedotan Kakus 870.000.000,00 953.585.000,00 109,60 12 Rumah Potong Hewan 738.150.000,00 590.225.000,00 79,96 13 Ijin Mendirikan Bangunan 53.631.213.036,00 57.785.407.770,00 107,74 14 Ijin Gangguan 3.500.045.157,00 3.635.146.378,00 103,86 15 Ijin Trayek 124.500.000,00 184.275.000,00 148,01 16 IMTA 3.000.000.000,00 3.804.790.200,00 126,83 J u m l a h 79.781.085.273,00 85.146.428.660,00 106,72 Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2016 Untuk jenis retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat dan Pemakaian Kekayaan Daerah (Sewa Lahan untuk Reklame) memang tidak ditargetkan karena tidak bisa diprediksi target retribusinya Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Penerimaan PAD yang diperoleh melalui penerimaan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan seluruhnya berasal dari pos Bagian Laba atas Penyertaan 3-175
Modal/Investasi kepada BUMD (PD Pasar) serta Bank BJB. Data target dan realisasi selama pada Tahun Anggaran 2015 terangkum dalamtabel 3.80. Tabel 3.80. Target dan Realisasi Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Tahun Anggaran 2015 No. Bagian Laba Target (Rp) Realisasi (Rp) % 1 Bank BJB 9.500.000.000,00 8.556.443.010,00 90,06 2 PDAM 5.117.599.548,00 3.697.000.380,00 72,24 3 PD Pasar 500.000.000,00 404.036.800,00 80,80 J u m l a h 15.117.599.548,00 12.657.480.190,00 83,73 Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2016 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah merupakan kelompok penerimaan yang tidak dapat diklasifikasikan baik ke dalam Pajak Daerah, Retribusi Daerah, maupun Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan. Penerimaan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah untuk Tahun Anggaran 2015 ditargetkan sebesar Rp136.062.897.553,00 dan dapat direalisasikan sebesar Rp184.854.334.534,00 (135,86%). Rincian target dan realisasi pos Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah untuk Tahun Anggaran 2015 dapat dilihat pada Tabel 3.81. Tabel 3.81. Target dan Realisasi Lain-lain PAD yang Sah Tahun Anggaran 2015 No. Pendapatan Target(Rp) Realisasi (Rp) % 1 Hasil Penjualan Aset daerah Yang Tidak Dipisahkan 0,00 625.556.788,00 2 Penerimaan Jasa Giro 7.507.903.181,47 12.851.900.506,00 171,18 3 Penerimaan Bunga Deposito 18.663.484.818,53 57.058.356.032,00 305,72 4 Tuntutan Ganti Rugi daerah 78.612.000,00 145.090.338,00 184,56 5 Denda atas keterlambatan pelaksanaan pekerjaan 0,00 553.428.446,00 6 Pendapatan Denda Pajak 0,00 2.951.390.883,00 7 Pendapatan Denda Retribusi 0,00 550.800,00 8 Pendapatan Dari Hasil Eksekusi Atas Jaminan 0,00 26.500.000,00 9 Pendapatan Pengembalian 0,00 390.077.695,00 3-176
No. Pendapatan Target(Rp) Realisasi (Rp) % 10 Penerimaan Lain-lain 19.328.397.553,00 8.846.303.025,00 45,77 11 Pendapatan Dana Kapitasi JKN 30.484.500.000,00 37.941.816.224,00 124,46 12 Pendapatan dari RSUD 60.000.000.000,00 63.463.363.797,00 105,77 J u m l a h 136.062.897.553,00 184.854.334.534,00 135,86 Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2016 Untuk pendapatan poin 1, 5, 6, 7, 8, dan 9 memang tidak ditargetkan karena untuk target sesuai dengan angka tersebut tidak bias diprediksi karena pendapatannya yang berasal dari penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan, dari denda dan pendapatan pengembalian itu harus menunggu ada penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan dan ada kesalahan dari si wajib pajak atau wajib retribusi. 3.6.3.2 Dana Perimbangan Dalam Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, didefinisikan bahwa perimbangan keuangan antara Pemerintah dan PemerintahDaerah adalah suatu sistem pembagian keuangan yang adil, proporsional, demokratis, transparan, dan efisien dalam rangka pendanaan penyelenggaraan desentralisasi, dengan mempertimbangkan potensi, kondisi, dan kebutuhan daerah, serta besaran pendanaan penyelenggaraan dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Lebih lanjut, dalam Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 disebutkan bahwa pemberian sumber keuangan negara kepada Pemerintah Daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi didasarkan atas penyerahan tugas oleh pemerintah kepada pemerintah daerah dengan memperhatikan stabilitas dan keseimbangan fiskal. Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah merupakan suatu sistem yang menyeluruh dalam rangka pendanaan penyelenggaraan asas desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas pembantuan.dana Perimbangan merupakan salah satu sumber pendapatan daerah dalam mendukung pelaksanaan kewenangan pemerintahan daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi kepada daerah, yaitu terutama peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat. 3-177
Adapun peraturan perundangan serta petunjuk teknis yang dijadikan dasar hukum pelaksanaan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah antara lain: 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan; 2. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah; 3. Peraturan Pemerintah Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan; 4. Peraturan Pemerintah Nomor 115 Tahun 2000 tentang Bagi Hasil Penerimaan Pajak Penghasilan; 5. Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan; 6. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 6 Tahun 2001 tentang Pelaksanaan Bagi Hasil Penerimaan PPh OP Dalam Negeri dan PPh Pasal 21; 7. Surat Edaran Dirjen Anggaran Nomor: SE-53/A/2001 tentang Cara Pembagian dan Penyaluran Penerimaan PPh OP Dalam Negeri dan PPh Pasal 21 Bagian Daerah. Secara umum dana perimbangan bersumber dari dana bagi hasil pajak/bukan pajak, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus. Dana bagi hasil pajak/bukan pajak bersumber dari penerimaan bagi hasil dari Pemerintah Pusat dan bagi hasil dari Pemerintah Provinsi, namun sejak diterapkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, penerimaan dana bagi hasil pajak yang berasal dari Pemerintah Provinsi dianggarkan pada pos Lainlain Pendapatan yang Sah.Untuk Tahun Anggaran 2015 penerimaan dari Dana Perimbangan ditargetkan sebesar Rp1.153.453.087.259,00 dan terealisasi sebesar Rp1.057.756.756.159,00 atau sebesar 91,70%. Rincian target dan realisasi ini dapat dilihat padatabel 3.82. Tabel 3.82. Rincian Anggaran dan Realisasi Dana Perimbangan Tahun Anggaran 2015 No. Jenis Pendapatan Target (Rp) Realisasi (Rp) % 1 Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak 231.352.155.259,00 142.669.228.159,00 61,67 2 Dana Alokasi Umum 887.033.912.000,00 887.033.912.000,00 100,00 3 Dana Alokasi Khusus 35.067.020.000,00 28.053.616.000,00 80,00 J u m l a h 1.153.453.087.259,00 1.057.756.756.159,00 91,70 Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2016 3-178
Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak Bagi hasil pajak/bukan pajak merupakan komponen yang ada dalam dana perimbangan. Dimana komponen ini terdiri dari beberapa pos penerimaan diantaranya pos bagi hasil pajak dan bagi hasil bukan pajak/sumber daya alam. Pada Tahun Anggaran 2015komponen bagi hasil pajak/bukan pajak memberikan kontribusi dalam pembentukan dana perimbangan Kota Tangerang dan pencapaian realisasi sebesar Rp142.669.228.159,00 (61,67%), komponen bagi hasil pajak/bukan pajak diperoleh dari pos-pos penerimaan bagi hasil pajak dan bagi hasil bukan pajak/sumber daya alam. Rincian target dan realisasi ini dapat dilihat pada Tabel 3.83. Tabel 3.83. Rincian Anggarandan Realisasi Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak Tahun Anggaran 2015 No. Jenis Pendapatan Target (Rp) Realisasi (Rp) % 1 Bagi Hasil Pajak 228.363.193.000,00 140.555.409.700,00 61,55 2 a. PBB 17.869.046.000,00 14.258.921.500,00 79,80 b. PPh Pasal 21, Pasal 25, Pasal 29 210.494.147.000,00 126.296.488.200,00 60,00 Bagi Hasil Bukan Pajak/Sumber Daya Alam 2.988.962.259,00 2.113.818.459,00 70,72 a. Bagi Hasil SDA Kehutanan 184.398.000,00 116.305.213,00 63,07 b. Penerimaan Pungutan Pengusahaan Perikanan 915.093.000,00 703.264.033,00 76,85 c. SDA Panas Bumi 113.370.000,00 79.359.000,00 70,00 d. Bagi Hasil SDA Pertambangan Umum 1.550.620.000,00 1.214.890.213,00 78,35 e. Kurang Bayar DBH SDA Pertambangan Umum 129.456.213,00 0,00 0,00 f. Kurang Bayar DBH SDA Perikanan 62.698.933,00 0,00 0,00 g. Kurang Bayar DBH SDA Kehutanan 33.326.113,00 0,00 0,00 J u m l a h 231.352.155.259,00 142.669.228.159,00 61,67 Sumber: Dinas Pengelolaan KeuanganDaerah Kota Tangerang, 2016 Untuk jenis pendapatan Kurang Bayar DBH SDA Pertambangan Umum, Kurang Bayar DBH SDA Perikanan, dan Kurang Bayar DBH SDA Kehutanan sesuai dengan poin 2 hurug e, f dan g target alokasinya adalah dari pemerintah pusat. Sepanjang tahun 2015 Pemerintah Kota Tangerang tidak menerima transfer dari Pemerintah Pusat yang berkaitan dengan ketiga jenis pendapatan tersebut. 3-179
Dana Alokasi Umum (DAU) Dana Alokasi Umum (DAU) adalah bagian penerimaan Pemerintah Daerah yang besarnya ditetapkan oleh Pemerintah Pusat, yang besarnya mempertimbangkan besaran usaha pajak dan kapasitas pajak.pengaturan DAU diarahkan untuk mengurangi disparitas antar daerah, yang mengandung arti dimana daerah yang memiliki kemampuan keuangan yang relatif besar akan memperoleh DAU yang relatif kecil demikian pula sebaliknya. Penerimaan DAU Kota Tangerang pada Tahun Anggaran 2015 ditargetkan sebesar Rp887.033.912.000,00 dan terealisasi 100,00%. Dana Alokasi Khusus (DAK) Dana alokasi khusus (DAK) merupakan sejumlah penerimaan pemerintah daerah yang ditentukan oleh pemerintah pusat untuk pengeluaran yang diprioritaskan bagi pengeluaran yang spesifik.penerimaan DAK Kota Tangerang Tahun Anggaran 2015ditargetkan sebesar Rp35.067.020.000,00 dan terealisasi sebesar Rp28.053.616.000,00 (80,00%). 3.6.3.3 Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah sebagai komponen terakhir sumber penerimaan pendapatan daerah, terdiri dari: 1) Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya; 2) Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus; dan 3) Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya.Pada Tahun Anggaran 2015, Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah memiliki target sebesar Rp850.327.441.176,00 dan berhasil direalisasikan sebesar Rp849.922.187.180,00atau99,95%.Rincian target dan realisasi Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah seperti yang dapat dilihat pada Tabel 3.84. Tabel 3.84. Rincian Anggaran dan Realisasi lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah Tahun Anggaran 2015 No. Jenis Pendapatan Target (Rp) Realisasi (Rp) % 1 Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya 472.177.114.926,00 471.771.900.930,00 99,91 2 Dana Penyesuaian 240.257.189.000,00 240.257.189.000,00 100,00 3 Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya 137.893.137.250,00 137.893.137.250,00 100,00 J u m l a h 850.327.441.176,00 849.922.187.180,00 99,95 3-180
Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2016 Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya untuk Tahun Anggaran 2015 seluruhnya bersumber dari Bagi Hasil Pajak dari Provinsi, dengan target sebesar Rp472.177.114.926,00 dan realisasi sebesar Rp471.771.900.930,00 (99,91%). Rincian target dan realisasi Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dapat dilihat pada Tabel 3.85. Tabel 3.85. Rincian Anggaran dan Realisasi Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya Tahun Anggaran 2015 No. Jenis Pendapatan Target (Rp) Realisasi (Rp) % 1 Pajak Kendaraan Bermotor 118.542.801.312,00 107.470.492.254,00 97,51 2 3 Bea Balik Kendaraan Bermotor Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 146.591.276.772,00 145.564.286.413,00 82,70 133.498.039.084,00 132.073.569.569,00 115,57 4 Pajak Air Permukaan 3.587.787.500,00 4.006.107.705,00 137,19 5 Pelampauan Target TA Sebelumnya 15.820.802.261,00 12.580.928.793,00 100,00 6 Pajak Rokok 54.136.407.997,00 31.942.424.827,00 91,94 J u m l a h 472.177.114.926,00 471.771.900.930,00 99,91 Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2016 Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus untuk Tahun Anggaran 2015 seluruhnya bersumber dari Dana Penyesuaian, dan direalisasikan seluruhnya yaitu Rp240.257.189.000,00 (100,00%) dalam bentuk Tunjangan Profesi Guru. Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya Bantuan Keuangan Dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya untuk Tahun Anggaran 2015 bersumber dari Bantuan Keuangan dari Provinsi yaitu Bantuan Keuangan dari Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta, dengan target sebesar Rp137.893.137.250,00 dan direalisasikan sebesar Rp137.893.097.250,00 (100,00%) yang berasal dari Provinsi Banten sebesar Rp37.893.137.250,00 (100,00%) dan Provinsi DKI Jakarta sebesar Rp99.999.960.000,00 (100,00%). 3-181
3.6.4 Permasalahan dan Solusi Dalam rangka pengelolaan pendapatan daerah masih terdapat permasalahanyang dihadapi pada Tahun Anggaran 2015, adalah sebagai berikut : a. Pajak Daerah 1. Masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak atas usahanya, mengingat sampai saat ini jarang terjadi Wajib Pajak dengan kesadaran sendiri mendaftarkan obyeknya; 2. Adanya perbedaan persepsi pada masyarakat maupun unsur aparatur dalam memahami kewenangan pemungutan pajak, sehingga ada beberapa objek yang semestinya menjadi Objek Pajak Daerah (Restoran dan Hiburan) malah menjadi Objek Pajak Pusat (PPn); 3. Kurangnya ketaatan Wajib Pajak memenuhi kewajiban membayar pajak tepat pada waktunya, hal tersebut terlihat adanya tunggakan yang belum terselesaikan; 4. Kurangnya kesadaran Wajib Pajak yang juga selaku Wajib Pungut untuk melaporkan omset yang sebenarnya; 5. Proses administrasi dan sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan Wajib Pajak memerlukan waktu yang cukup panjang; 6. Khusus Wajib Pajak pada areal Bandara, umumnya merasa keberatan membayar pajak karena selain kewajiban membayar pajak, mereka dikenakan konsesi dari pihak PT. (Persero) Angkasa Pura II yang tarifnya tidak jauh berbeda dengan tarif pajak. 7. Kurangnya ketaatan Wajib Pajak memenuhi kewajiban membayar pajak bumi bangunan (PBB) tepat pada waktunya, hal tersebut terlihat adanya tunggakan yang belum terselesaikan. b. Retribusi Daerah 1. Situasi pertumbuhan ekonomi yang masih rendah sangat mempengaruhi terhadap usaha aparatur dalam memungut Retribusi; 2. Adanya kebijakan dari Pemerintah Pusat mengenai pencabutan beberapa jenis Retribusi yang cukup potensial di Kota Tangerang; 3-182
c. Dana Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah 1. Pemerintah Pusat dalam perhitungan dan pengalokasian Dana Bagi Hasil dari penerimaan PPh Pasal 25 dan 29 Wajib Pajak Objek Pajak Dalam Negeri dan PPh Pasal 21 belum mencerminkan transparansi dan akuntabilitas; 2. Ketentuan mengenai Dana Perimbangan harus ditetapkan dengan keputusan Gubernur dengan mempertimbangkan faktor-faktor pemerataan yang harus disepakati oleh Kabupaten/Kota seringkali menimbulkan hambatan dalam pendistribusian Dana Perimbangan ke Kabupaten/Kota; 3. Bagi hasil SDA (IHH/PSDH, Royalty dan Pungutan Hasil Perikanan) belum transaparan sehingga kebijakan mengenai besaran dana bagi hasil yang seharusnya diterima Kota Tangerang tidak sesuai dengan realisasi pada Kas Daerah; dan 4. Adanya keterlambatan penyampaian pagu bagi hasil pajak-pajak pusat ke kabupaten/kota sehingga menyulitkan penyusunan APBD. Solusi/upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut dengan melakukan kebijakan dalam pengelolaan pendapatan berupa : a. Pendapatan Asli Daerah (PAD) 1. Optimalisasi Pajak Daerah, Retribusi Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan, serta Lain-lain PAD yang sah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku; 2. Peningkatan koordinasi dan pelibatan berbagai OPD yang terkait dengan manajemen/pengelolaan PAD sesuai dengan regulasi/aturan perundangan/kebijakan yang berlaku serta mengacu pada perencanaan yang telah ditetapkan terutama yang berkaitan dengan target sasaran dan capainnya berdasarkan indikator dan tolok ukur yang digunakan; 3. Peningkatan efisiensi, efektivitas, profesionalitas, dan proporsionalitas pelaksanaan pengendalian dan pengawasan dalam pengelolaan sumber-sumber PAD; 4. Peningkatan kapasitas, kompetensi, kreativitas, dan inovasi sumber daya manusia (SDM) pengelola PAD sebagai bagian dari upaya peningkatan pelayanan kepada publik/masyarakat dan upaya peningkatan PAD; 3-183
5. Peningkatan upaya intensifikasi dan ekstensifikasi sumber-sumber PAD baru melalui berbagai kegiatan yang bersifat intensif dan eksploratif yang dilakukan melalui kerjasama/kemitraan (partnership) dengan berbagai pihak yang terkait serta menggunakan prinsip keterbukaan (transparancy) dam keadilan (fainess) serta tidak memberatkan masyarakat; 6. Pengkajian dan penyempurnaan berbagai regulasi/peraturan perundangan dalam rangka mempercepat dan memperlancar pencapaian target PAD melalui kegiatan yang bersifat telaahan terhadap regulasi/peraturan perundangan yang dianggap menghambat kelancaran pencapaian target PAD; dan 7. Meningkatkan pelayanan perpajakan dan retribusi daerah dengan membangun sistem dan prosedur administrasi pelayanan yang cepat dan mudah serta didukung oleh sistem informasi. 8. Guna meningkatkan pelayanan terhadap para wajib pajak, Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang akan membuka layanan Pajak Bumi dan Banggunan (PBB) keliling, yang bertujuan untuk lebih mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. b. Dana Perimbangan 1. Pendekatan komprehensif dengan pihak terkait agar Dana Bagi Hasil Pajak/Bagi hasil Bukan Pajak, Dana Alokasi Umum (DAU), maupun Dana Alokasi Khusus (DAK) bisa optimal berdasarkan aturan perundang-undangan yang berlaku; 2. Peningkatan validasi data yang menjadi komponen dalam perhitungan pembagian Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) seperti data jumlah penduduk (terutama jumlah penduduk miskin), luas wilayah, indeks kemahalan konstruksi, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), pendapatan per kapita, indeks Pembangunan Manusia (IPM) dst; 3. Peningkatan koordinasi dengan Pemerintah Pusat, DPR-RI Daerah Pemilihan Banten/Kota Tangerang, dan Pemerintah Provinsi Banten dalam upaya stabilitas Dana Perimbangan Daerah. c. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah 3-184
1. Pendekatan dengan pihak Pemerintah Provinsi Banten dan upaya optimalisasi Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi berdasarkan aturan perundang-undangan yang berlaku; 2. Stabilisasi dan/atau peningkatan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah melalui upaya-upaya optimalisasi Dana Bagi Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan pemerintah daerah lainnya dan Bantuan Keuangan dari Provinsi atau pemerintah daerah lainnya berdasarkan aturan perundang-udangan yang berlaku; dan 3. Peningkatan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Provinsi Jawa Barat, dalam upaya peningkatan kerjasama pembangunan regional (upaya pengembangan kerjasama wilayah JABODETABEKJUR). 3.7 PENGELOLAAN BELANJA DAERAH 3.7.1 Kebijakan Umum Keuangan Daerah Pengelolaan belanja daerah digunakan untuk pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Kota Tangerang yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Belanja penyelenggaraan urusan wajib diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitassosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial. Pelaksanaan urusan wajib dimaksud berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang telah ditetapkan. Kebijakan belanja daerah ditekankan dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat dan upaya memenuhi kebutuhan dasar sarana dan prasarana pelayanan. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan diupayakan agar pelayanan bergeser dan menjadi lebih dekat kepada masyarakat. Kebijakan pengelolaan belanja daerah adalah : a. Prioritas kepada upaya melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan ke dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak, serta pengembangan sistem jaminan sosial; b. Menyelaraskan alokasi belanja seiring dengan pendelegasian wewenang; 3-185
c. Meningkatkan alokasi anggaran pada bidang-bidang yang menjadi pusat perhatian masyarakat (public interest); dan d. Pemberian bantuan kepada organisasi kemasyarakatan didasarkan pada tingkat kebutuhan dan kemendesakan (urgensitas) tanpa melupakan aspek pemerataan dan keadilan dalam mendukung upaya-upaya penanggulangan dan penanganan permasalahan sosial, antara lain: kemiskinan, pengangguran, ketenagakerjaan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Pemerintah daerah menetapkan target capaian kinerja setiap belanja, baik dalam konteks daerah, satuan kerja perangkat daerah, maupun program dan kegiatan, yang bertujuan untuk meningkatkan akuntabilitas perencanaan anggaran dan memperjelase fektifitas dan efisiensi penggunaan anggaran. Program dan kegiatan harus memberikan informasi yang jelas dan terukur serta memiliki korelasi langsung dengan keluaran yang diharapkan dari program dan kegiatan dimaksud ditinjau dari aspek indikator, tolok ukur dan target kinerjanya. Pada dasarnya belanja daerah terdiri atas belanja tidak langsung dan belanja langsung. Belanja tidak langsung lebih ditujukan kepada belanja pegawai, belanja hibah dan bantuan sosial, belanja bantuan keuangan, dan belanja tidak terduga. Sedangkan Belanja langsung merupakan belanja yang digunakan untuk pelaksanaan urusan pemerintahan daerah, yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. Belanja langsung dituangkan dalam bentuk program dan kegiatan, yang manfaat capaian kinerjanya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan publik dan keberpihakan pemerintah daerah kepada kepentingan publik. Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung ini terus mengalami peningkatan. PemerintahKotaTangerang senantiasa menambah atau meningkatkan nilai Belanja Langsung melalui program/kegiatan yang langsung dapat dirasakan oleh masyarakat. Perlu dijelaskan bahwa pada Belanja Tidak Langsung terdapat banyak item belanja yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, terutama pada pos belanja hibah dan bantuan sosial. 3.7.2 Target danrealisasi Belanja Daerah Belanja Daerah pada Tahun Anggaran 2015 dianggarkan sebesar Rp. 4.187.571.847.064,00 dan direalisasikan sebesar Rp. 3.100.229.443.939,00 (74,06%). Anggaran belanja tersebut dialokasikan untuk pendanaan belanja tidak langsung sebesar Rp. 1.281.235.535.228,55 dan belanja langsung sebesar 3-186
Rp, 2.906.336.311.835,45. Alokasi anggaran belanja langsung sebesar Rp. 2.906.336.311.835,45 diperuntukan bagi pendanaan program dan kegiatan pada 43 SKPD yang meliputi 26 urusan wajib, 5 urusan pilihan, 570 program dan 2.671 kegiatan. Alokasi belanja daerah pada Tahun Anggaran 2015 diprioritaskan pada pendanaan untuk : 1. Peningkatan kesejahteraan masyarakat; 2. Peningkatan manajemen transportasi perkotaan; 3. Peningkatan manajemen sumber daya pemerintah dan masyarakat kota; 4. Peningkatan sanitasi dan drainase perkotaan; 5. Peningkatan peran serta masyarakat dalam pembangunan; 6. Peningkatan pengelolaan lingkungan hidup perkotaan; dan 7. Peningkatan ketahanan pangan dan ekonomi kerakyatan. Anggaran dan realisasi belanja daerah dapat dilihat pada Tabel 3.86 dan dideskripsikan dalam diagram batang yang tersusun atas belanja tidak langsung dan belanja langsung seperti pada Tabel 3.86. Tabel 3.86. Rincian Anggarandan Realisasi Belanja Tahun Anggaran 2015 Jenis Belanja Anggaran (Rp) Realisasi (Rp) % Target Capaian (%) I. Belanja Tidak Langsung 1.281.235.535.228,55 1.083.697.769.048,00 84,58 100,00 c. Belanja Pegawai 1.225.365.873.110,55 1.028.903.934.982,00 83,97 100,00 d. Belanja Hibah 24.415.500.000,00 23.760.500.000,00 97,32 100,00 e. Belanja Bantuan Sosial 25.876.000.000,00 25.876.000.000,00 100,00 100,00 f. Belanja Bantuan Keuangan kepada Provinsi/Kabupaten/Kota, Pemerintahan Desa dan Partai Politik 1.278.162.118,00 888.218.527,00 69,49 100,00 g. Belanja Tidak Terduga 4.300.000.000,00 23.261.100,00 0,54 100,00 II. Belanja Langsung 2.906.336.311.835,45 2.021.598.633.289,00 69,56 100,00 a. Belanja Pegawai 252.631.462.040,00 230.555.623.678,00 91,26 100,00 b. Belanja Barang dan Jasa 1.404.761.770.948,02 1.185.820.335.590,00 84,41 100,00 c. Belaja Modal 1.248.943.078.847,43 605.289.788.589,00 48,46 100,00 J u m l a h 4.187.571.847.064,00 3.101.050.547.898,00 74,05 100,00 Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2016 3-187
Untuk Tahun 2015 anggaran belanja langsung mencakup 69,19% dari total anggaran belanja daerah. Sedangkan untuk realisasi belanja daerah sebesar Rp3.101.050.547.898,00 (74,05%) berada di bawah target realisasi sebesar 100,00% dengan capaian realisasi terendah adalah belanja langsung sebesar 69,56%. Gambar 3.5. Anggaran dan Realisasi Belanja Daerah Tahun Anggaran 2015 dalam Milyar rupiah 3.000,00 2.000,00 1.500,00 2.906,34 2.500,00 1.281,24 1.079,45 2.021,60 Anggaran (Rp) Realisasi (Rp) 1.000,00 500,00 0,00 Belanja Tidak Langsung Belanja Langsung Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2016 Alokasi anggaran Belanja Langsung apabila dilihat berdasarkan urusan yang ditangani oleh Pemerintah Kota Tangerang pada Tahun Anggaran 2015 adalah sebagai berikut: No. Urusan Jml Program Jml Kegiatan Anggaran (Rp) Realisasi (Rp) I Wajib 220 1.717 2.889.849.198.184,45 2.007.688.260.337,00 1 Pendidikan 9 91 518.173.452.965,00 427.947.781.024,00 2 Kesehatan 23 157 439.698.160.748,00 345.428.844.723,00 3 Pekerjaan Umum 16 97 522.741.805.310,00 326.567.646.414,00 4 Perumahan 9 113 95.516.046.490,00 77.000.644.986,00 3-188
No. Urusan Jml Program Jml Kegiatan Anggaran (Rp) Realisasi (Rp) 5 Penataan Ruang 3 20 4.690.332.300,00 3.660.046.800,00 6 Perencanaan Pembangunan 12 94 25.158.172.171,00 23.341.764.374,00 7 Perhubungan 10 82 106.766.368.051,00 87.682.200.133,00 8 Lingkungan Hidup 10 119 241.984.320.658,50 207.702.721.881,00 9 Pertanahan 2 3 420.388.536.881,43 207.702.721.881,00 10 Kependudukan Pencatatan Sipil dan 5 63 15.149.794.391,00 13.118.909.908,00 11 12 Pemberdayaan Perempuan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera 2 8 5.939.965.100,00 5.739.104.500,00 7 12 21.188.557.518,00 20.256.067.868,00 13 Sosial 11 84 32.250.243.918,52 29.166.918.663,00 14 Tenaga Kerja 7 55 20.871.433.118,00 13.781.990.078,00 15 Koperasi dan Usaha Kecil Menengah 11 40 6.888.246.110,00 5.227.518.394,00 16 Penanaman Modal 7 45 10.822.194.400,00 8.215.161.522,00 17 Kebudayaan 4 9 1.711.934.500,00 1.422.430.776,00 18 Pemuda dan Olahraga 11 57 23.867.237.330,00 20.052.410.730,00 19 20 Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum dan Administrasi Keuangan 13 73 40.377.679.550,00 37.042.033.101,00 19 256 284.007.865.972,00 247.484.364.401,00 21 Ketahanan Pangan 5 36 5.835.759.380,00 5.019.015.264,00 22 Pemberdayaan Masyarakat dan Desa 7 39 5.342.800.555,00 5.110.509.311,00 23 Statistik 2 7 1.888.179.000,00 1.830.379.000,00 24 Kearsipan 4 18 2.117.396.600,00 2.021.038.600,00 25 Komunikasi Informatika dan 8 79 29.872.617.398,00 25.186.380.574,00 26 Perpustakaan 5 60 6.600.097.769,00 6.086.903.119,00 II PIlihan 21 65 16.487.113.651,00 13.910.372.952,00 1 Pertanian 7 13 5.647.448.551,00 4.993.118.962,00 3 Pariwisata 3 16 4.202.968.150,00 3.571.173.750,00 3-189
2 Kelautan dan Perikanan 3 6 738.418.250,00 665.657.916,00 4 Perdagangan 5 16 3.004.079.000,00 2.266.159.500,00 5 Perindustrian 4 13 2.894.199.700,00 2.414.262.824,00 JUMLAH 241 1.782 2.906.336.311.835,45 2.021.598.633.289,00 3.7.3 Permasalahandan Solusi Dalam rangka pengelolaan belanja daerah masih terdapat permasalahan yang dihadapi pada Tahun Anggaran 2015, adalah sebagai berikut: 1. Adanya program-program lanjutan strategis, terutama program dan kegiatan fisik dengan nilai anggaran yang cukup besar, sehingga berpengaruh terhadap keseluruhan rencana alokasi anggaran belanja; 2. Banyaknya alternatif atau usulan program menurut bidang pembangunan yang perlu dilaksanakan; 3. Kebutuhan untuk mengoptimalkan tugas dan fungsi Dinas/Badan/Kantor dilingkungan Pemerintah Daerah. Adapun solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas adalah sebagai berikut: 1. Menerapkan strategi yang lebih mengutamakan pada pencapaian sasaran program pembangunan dimana alokasinya disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing satuan kerja yang ada dilingkungan Pemerintah Kota Tangerang; 2. penanganan masalah-masalah khusus yang perlu segera ditangani serta menampung aspirasi masyarakat yang mendesak dan membutuhkan perhatian lebih dari Pemerintah Daerah. 3.8 PEMBIAYAAN DAERAH Pembiayaan merupakan transaksi keuangan yang bertujuan untuk menutupi defisit dan surplus pendapatan daerah terhadap belanja daerah, untuk menampung rekening sisa lebih perhitungan anggaran tahun yang lalu, pinjaman daerah, dan investasi daerah serta pembayaran pokok pinjaman daerah.unsur-unsur pembiayaan daerah terdiri dari: 3-190
1. Penerimaan terdiri atas: a) Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya; b) Pencairan Dana Cadangan; c) Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan; dan e) Penerimaan Pinjaman Daerah; 2. Pengeluaran terdiri atas: a) Pembentukan Dana Cadangan; b) Penyertaan Modal/Inventasi Pemerintah Daerah; dan c) Pembayaran Utang Pokok. 3.8.1 Penerimaan Pembiayaan Untuk Tahun Anggaran 2015, penerimaan pembiayaan terealisasi sebesar Rp893.379.736.255,00 atau 100,00% yang seluruhnya berasal dari penerimaan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya.Hal ini berarti bahwa Pemerintah Kota Tangerang lebih memanfaatkan penerimaan yang berasal dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya dalam upaya menutup defisit anggaran yang terjadi. 3.8.2 Pengeluaran Pembiayaan Untuk Tahun Anggaran 2015, pengeluaran pembiayaan tidak dianggarkan. 3.8.3 Permasalahan dan Solusi Pembiayaan daerah merupakan komponen APBD yang diarahkan untuk membiayai defisit anggaran atau untuk memanfaatkan surplus anggaran sehingga pengelolaan APBD dapat dilaksanakan secara optimal. Adapun permasalahan utama dalam merumuskan pembiayaan daerah adalah sebagai komponen terakhir dalam struktur APBD, pembiayaan sangat tergantung dari besaran target pendapatan dan alokasi belanja yang diinginkan. Selain itu dalam hal sumber penerimaan dan tujuan penggunaan dibatasi oleh peraturan perundang-undangan.oleh karena itu kebijakan pengelolaan pembiayaan daerah lebih diarahkan kepada: 1. Penerimaan pembiayaan akan diutamakan berasal dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya (hasil efisiensi dan penghematan); dan 2. Pengeluaran pembiayaan diutamakan untuk penyertaan modal dan sisa lebih tahun berjalan sebagai potensi penerimaan tahun berikutnya. 3-191
3-192
BAB 4. PENUTUP Sebagai bagian penutup dari Laporan Kinerja Pemerintah, dapat disimpulkan bahwa secara umum Pemerintah Kota Tangerang telah memperlihatkan pencapaian kinerja yang signifikan atas sasaran-sasaran strategisnya. Empat Puluh Tujuh (47) sasaran sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Tangerang Tahun 2014-2018 sebagian besar telah dapat direalisasikan dengan baik. Keberhasilan pencapaian sasaran pada Tahun 2015 pada hakekatnya karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia Allah SWT dan tentunya dukungan DPRD Kota Tangerang serta peranserta dari seluruh lapisan masyarakat Kota Tangerang. Penyelenggaraan pemerintahan yang baik, pada hakikatnya adalah proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan publik berdasarkan prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, partisipatif, adanya kepastian hukum, kesetaraan, efektif dan efisien. Prinsip-prinsip penyelenggaraan pemerintahan demikian merupakan landasan bagi penerapan kebijakan yang demokratis di era globalisasi, yang ditandai dengan menguatnya kontrol dari masyarakat terhadap kinerja pelayanan publik. Sebagai bukti keberhasilan pelaksanaan pembangunan selama Tahun 2015, Pemerintah Kota Tangerang telah berhasil memperoleh berbagai penghargaan dari berbagai kalangan dalam penyelenggaraan Pemerintahan di daerah dalam bidang pengelolaan keuangan, otonomi daerah, pengelolaan transportasi, manajemen perkotaan, pelayanan publik, kesehatan, serta e-procurement. BIDANG PELAYANAN PUBLIK DAN PEMERINTAHAN 1. Piagam Penghargaan Anugerah Pangripta Nusantara (APN) untuk RPKD 2014 di tingkat Provinsi Banten, 20 April 2015; 2. Peringkat Kedua Indeks Kota Cerdas Indonesia (IKCI) 2015 untuk Kategori Kota berpenduduk di atas 1 juta jiwa dari media Kompas, 13 Agustus 2015; 3. Penghargaan Wahana Tata Nugraha (WTN) dari Kementrian Perhubungan karena mampu melakukan Penataan Transportasi yang berkelanjutan, berbasis kepentingan publik dan ramah lingkungan, 18 September 2015; BAB IV Penutup 4-1
Kota Tangerang Tahun 2014 4. Peringkat Kedua tingkat Nasional untuk pengelolaan website Jaringan Dokumentasi Dan Informasi Hukum (JDIH) dari Kementrian Hukum dan HAM, 29 September 2015; 5. National E-Procurement Award Kategori Kepemimpinan dan Transformasi Elektronik 2015 dari LKPP, 10 November 2015; 6. Penghargaan Swastisaba Wistara dari Kementerian Kesehatan, atas Komitmen Pemerintah Kota Tangerang yang telah berhasil menerapkan 7 dari 9 tatanan Kota/Kabupaten Sehat, 27 November 2015; 7. Penghargaan sebagai Kota dengan Peningkatan Indeks Total Keselamatan Jalan dalam 3 tahun, di ajang Indonesia Road Safety Award (IRSA) 2015. Penghargaan ini diberikan kepada Kota Tangerang karena dianggap mampu mengurangi angka kecelakaan lalulintas selama 3 tahun terakhir. BIDANG LINGKUNGAN HIDUP 1. Penghargaan Piala Adipura Kategori Kota Metropolitan Tahun 2015, 23 November 2015; 2. Penghargaan Plakat Adipura dari Kementrian Lingkungan Hidup atas Keberhasilan Pengelolaan Sarana dan Prasarana Terbaik dengan Kategori Pasar Bersih dan Terminal Bersih 2015; BIDANG PENGELOLAAN KEUANGAN DAN PAJAK Penghargaan WTP kedelapan kalinya secara berturut-turut, dan WTP kali ini diperoleh Pemerintah Kota Tangerang dalam penerapan akuntansi berbasis akrual untuk penyusunan laporan keuangan, 2 Oktober 2015. Namun demikian disadari bahwa selama Tahun 2015 masih ditemui berbagai permasalahan dan kendala yang belum terselesaikan dengan baik seperti daerah rawan banjir, pengangguran, penataan PKL, penciptaan lapangan kerja, penanganan kemiskinan, pengelolaan lingkungan hidup, penataan ruang dan pendidikan yang murah/terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat Kota Tangerang. Sekaitan dengan hal tersebut, Pemerintah Kota Tangerang, dari waktu ke waktu senantiasa melakukan berbagai langkah untuk terus memperbaiki kinerja pelayanan publik, baik melalui BAB IV Penutup 4-2
Kota Tangerang Tahun 2014 reformasi/perubahan pada tataran birokrasi, perbaikan sistem pengalokasian anggaran, maupun penyempurnaan pada organisasi perangkat daerah. Akhir kata, secara umum dapat disimpulkan bahwa pencapaian target terhadap beberapa indikator yang dicantumkan dalam RPJMD Revisi Kota Tangerang Tahun 2014-2018 khususnya untuk Tahun Anggaran 2015 sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Walikota Tangerang Nomor 31 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Walikota Nomor 15 Tahun 2013 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2015, dapat dipenuhi sesuai dengan harapan. Jika terdapat indikator sasaran maupun pencapaian IPM yang belum memenuhi target yang ditetapkan, kami akui semata-mata merupakan kelemahan dan ketidaksempurnaan sebagai manusia, karena disadari kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT, namun demikian segala kekurangan dan ketidaksempurnaan tentunya harus menjadi motivasi untuk lebih baik lagi di masa yang akan datang. BAB IV Penutup 4-3
PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2015 MISI 1 : Mewujudkan tata pemerintahan yang baik, akuntabel, dan transparan didukung dengan struktur birokrasi yang berintegritas, kompeten, dan Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Sasaran 1: Terwujudnya pemantapan dan 1 Tingkat pelaksanaan fasilitasi pengadaan tanah % per tahun 100,00 pengembangan sistem pendaftaran, penguasaan, pemilikan, penggunaan, pemanfaatan, dan penyelesaian 2 Tingkat pelaksanaan fasilitasi pengaduan sengketa tanah % per tahun 100,00 konflik pertanahan 3 Tingkat ketersediaan sistem informasi tanah milik pemda % per tahun 100,00 Sasaran 2 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem administrasi kependudukan dan pencatatan sipil daerah Sasaran 3 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen Kepemerintahan dan Keadministrasian Umum, serta Kesejahteraan Masyarakat, yang Responsif, Koordinatif, Integratif, Sederhana, dan Sinergis Sasaran 4 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Keuangan dan Aset Daerah secara Transparan dan Akuntabel Sasaran 5 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pengawasan Pembangunan Daerah Sasaran 6 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Kepegawaian Daerah 4 Persentase Penduduk ber-ktp (%) 99,65 5 Persentase Keluarga mempunyai Kartu Keluarga (%) 85,89 6 Persentase Bayi Ber-Akta Kelahiran (%) 52,10 7 Persentase Penduduk meninggal dunia Ber-Akta Kematian (%) 85,89 8 Persentase Pasangan Suami-Isteri Ber-Akta Nikah (%) 36,49 9 Tingkat penataan peraturan daerah dan peraturan kepala daerah (%) 40,00 10 Tingkat kelengkapan kelembagaan dan penataan keorganisasian SKPD (%) 59,00 11 Tingkat koordinasi dan kerjasama dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah lainnya (%) 36,54 12 Tingkat kesesuaian formasi jabatan SKPD (%) per tahun 100,00 13 Tingkat ketersediaan pelaporan kinerja dan keuangan SKPD (%) 40,00 14 Tingkat ketersediaan dokumen dan sistem pengelolaan keuangan daerah (%) 40,93 15 Tingkat ketersediaan dokumen dan sistem pengelolaan aset (%) 36,68 16 Tingkat kenaikan pendapatan daerah (%) 6,63 17 Tingkat ketersediaan laporan hasil pemeriksaan (%) 38,04 18 Tingkat tindak lanjut laporan hasil ekspose temuan hasil pengawasan (%) 40,00 19 Tingkat tenaga pemeriksa yang menguasai teknik/teori pengawasan dan (%) 40,00 penilaian akuntabilitas kinerja 20 Tingkat ketersediaan kebijakan tentang sistem dan prosedur pengawasan (%) 40,00 21 Tingkat ketersediaan pelayanan administrasi kepegawaian (%) per tahun 100,00 22 Tingkat ketersediaan pelayanan Pemensiunan Pegawai (%) 66,67
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Sasaran 7 : Terwujudnya Aparatur Pemerintahan 23 Tingkat kedisiplinan aparatur pemerintah daerah (%) per tahun 100,00 Daerah yang Cerdas, Bermoral, Inovatif, dan Profesional 24 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana-prasarana pendukung kedisiplinan aparatur pemerintah daerah (%) per tahun 100,00 Sasaran 8 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pemenuhan peralatan dan perlengkapan keadministrasian perkantoran Sasaran 9 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan kemitraan dan kerjasama yang proporsional dan profesional antara Eksekutif dengan Legislatif untuk menghasilkan Peraturan Daerah 25 Tingkat Penurunan Indisipliner Pegawai (%) 0,34 26 Tingkat Pelayanan Diklat Struktural Kepemimpinan (%) 34,36 27 Persentase pejabat fungsional pemerintah daerah yang telah mengikuti diklat fungsional (%) 25,26 28 Tingkat Kapasitas Sumberdaya Aparatur pemerintah daerah (%) per tahun 100,00 29 Tingkat Pelayanan Penyelenggaraan Diklat Teknis dan Fungsional beserta sarana pendukungnya (%) 26,33 30 Tingkat ketersediaan pelayanan barang pendukung administrasi perkantoran (%) per tahun 100,00 31 Tingkat ketersediaan pelayanan jasa pendukung administrasi perkantoran (%) per tahun 100,00 32 Tingkat Fasilitasi Peningkatan Kapasitas Lembaga DPRD (%) per tahun 100,00 33 Tingkat Fasilitasi Pembahasan dan Persetujuan Raperda (%) per tahun 100,00 Sasaran 10 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen Data/ Informasi Pembangunan Daerah 34 Rata-rata tingkat ketersediaan data/informasi statistik hasil pembangunan daerah (%) 36,67 Sasaran 11 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan berbagai kajian dan penelitian statistik pembangunan daerah Sasaran 12 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kearsipan Daerah Sasaran 13 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi Daerah 35 Rata-rata tingkat ketersediaan kajian, penelitian, dan pengembangan strategis (%) 36,89 36 Tingkat ketersediaan sistem dan pedoman penyelenggaraan kearsipan yang handal, dinamis, komprehensif dan terpadu (%) 40,00 37 Tingkat ketersediaan arsip statis, bernilaiguna, dan arsip elektronik (%) 25,00 38 Tingkat pengelolaan arsip baku pada SKPD (%) 40,00 39 Tingkat pemeliharaan arsip dan sarana prasarana pendukungnya (%) 25,00 40 Persentase terpenuhinya kebutuhan informasi kearsipan (%) 25,00 41 Persentase pelaksanaan kegiatan peningkatan SDM Kearsipan yang berkualitas (%) 38,46 42 Tingkat ketersediaan sistem dan jaringan komunikasi dan informasi SKPD (%) per tahun 100,00 43 Tingkat Pengkajian dan Penelitian Bidang Komunikasi dan Informasi (%) 42,70 44 Tingkat Kerjasama Informasi dan Media Massa (%) 44,12
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target (%) per tahun 100,00 Sasaran 14 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pelayanan publik dan pelayanan aparatur pemerintahan daerah secara profesional, cepat, tepat, dan akurat, dengan berbasis pada teknologi informasi yang efektif dan efisien 45 Tingkat Pelayanan Publik yang menggunakan media informasi berbasis Informasi Teknologi Sasaran 15 :Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem informasi dan aplikasi penyelenggaraan pemerintah daerah yang terintegrasi, terstandarisasi, serta memadai (berkemampuan/ berkapasitas tinggi, cepat, mudah diakses, praktis, dan aman) 46 Tingkat Integrasi Sistem Informasi dan Aplikasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah 47 Tingkat Standarisasi Sistem Informasi dan Aplikasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (%) 45,52 (%) per tahun 100,00 MISI 2 : Meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing tinggi Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Sasaran 16 : Terwujudnya pemantapan dan 48 Persentase UMKM Aktif (%) per tahun 100,00 pengembangan keberdayaan sektor UMKM dan 49 Persentase Koperasi Aktif (%) 61,79 Koperasi sebagai pendukung kegiatan ekonomi daerah 50 Tingkat Pertumuhan UMKM Aktif (%) 0,99 berbasis sumberdaya lokal 51 Tingkat Pertumbuhan Koperasi Aktif (%) 11,11 Sasaran 17 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Investasi Daerah yang transparan serta didukung oleh iklim investasi yang kondusif 52 Tingkat pertumbuhan investasi daerah (%) 10,00 53 Tingkat pelaksanaan fasilitasi kerjasama kemitraan iinvestasi kali/tahun 1,00 54 Tingkat penyelenggaraan promosi peluang investasi daerah kali/tahun 1,00 55 Tingkat ketersediaan Sistem Informasi Pelayanan Investasi Daerah (%) 42,86 56 Tingkat Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) (%) 45,00 57 Persentase Bangunan yang mempunyai Izin Mendirikan Bangunan (IMB) (%) per tahun 100,00 58 Tingkat pelayanan Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) (%) per tahun 100,00 59 Tingkat pelayanan waktu pengurusan Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) (%) per tahun 100,00
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target 60 Tingkat Ketersediaan Energi Per Kapita (%) 90,00 Sasaran 18 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Ketahanan Pangan Daerah yang meliputi Ketersediaan, Distribusi, Konsumsi, Kewaspadaan, dan Kemasyarakatan 61 Tingkat Ketersediaan Protein Per Kapita (%) 90,00 62 Tingkat Penguatan Cadangan Pangan Daerah (%) 60,00 63 Tingkat Ketersediaan Informasi Pasokan, Harga dan Akses Pangan di Daerah (%) 60,00 Sasaran 19: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan agribisnis serta budidaya pertanian dan peternakan yang berorientasi pada intensifikasi pertanian 64 Tingkat Stabilitasi Harga Pangan (%) per tahun 100,00 65 Tingkat Stabilitasi Pasokan Pangan (%) per tahun 100,00 66 Capaian Peningkatan Pangan Skor Pola Pangan Harapan (PPH) (%) 30,00 67 Tingkat Pengawasan dan Pembinaan Keamanan Pangan Daerah (%) 40,00 68 Tingkat Penanganan Daerah Rawan Pangan Daerah (%) 40,00 69 Tingkat Produktivitas Pertanian (%) 2,08 70 Tingkat produksivitas peternakan (%) per tahun 20,00 71 Tingkat pemasaran hasil produksi pertanian (%) 5,12 72 Tingkat pemasaran hasil produksi ternak sapi potong di wilayah Kota Tangerang (%) 72,86 Sasaran 20: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Kepariwisataan Daerah Sasaran 21: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan intensifikasi budidaya perikanan darat Sasaran 22: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perdagangan Daerah dan peningkatan perlindungan konsumen Sasaran 23: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perindustrian Daerah dan peningkatan kapasitas industri kecil dan menengah 73 Angka prevalensi penyakit zoonosis (%) 100,00 74 Tingkat pemasaran obyek wisata daerah (%) 50,00 75 Tingkat kenaikan kunjungan wisatawan ke obyek wisata daerah (%) 40,00 76 Tingkat perkembangan destinasi pariwisata daerah (%) 40,00 77 Tingkat perkembangan Jenis kelas dan jumlah Hotel (%) 95,23 78 Persentase kenaikan produksi ikan (%) 94,55 79 Cakupan bina kelompok peternak ikan (%) 33,33 80 Tingkat pengolahan dan pemasaran produksi perikanan (%) 72,45 81 Tingkat pembinaan Pedagang Kaki Lima (PKL) (%) 2,12 82 Tingkat perlindungan konsumen (%) 28,47 83 Tingkat pembinaan perdagangan dalam negeri (%) 20,00 84 Persentase industri yang memiliki Gugus Kendali Mutu (Pengukuran Standarisasi, Pengujian, dan Kualitas) (%) 7,03 85 Persentase IKM memiliki Izin Usaha Industri Kecil Melalui P-IRT dan Halal (%) 3,08 86 Persentase industri yang telah memenuhi standar kelayakan produksi (%) 11,08 87 Tingkat Pertumbuhan Industri di Daerah (%) 1,50
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target MISI 3 : Mengembangkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial demi terwujudnya masyarakat yang berdaya saing di era globalisasi Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Sasaran 24: Terwujudnya pemantapan dan 88 Angka Putus Sekolah SD/MI (%) per tahun 0,02 pengembangan Sistem Pendidikan Daerah yang 89 Angka Putus Sekolah SMP/MTs (%) per tahun 0,07 mengacu pada Sistem Pendidikan Nasional, dan 90 Angka Putus Sekolah SMA/MA/SMK (%) per tahun 0,11 berbasis kompetensi, serta berorientasi pada kebutuhan 91 Angka Melek Huruf Penduduk Usia > 15 Tahun (%) per tahun 98,71 kerja 92 Angka Melanjutkan SD/MI ke SMP/MTs (%) per tahun 98,72 Sasaran 25: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Pelayanan dan Akses Kesehatan yang berkualitas dan terjangkau 93 Angka Melanjutkan SMP/MTs ke SMA/SMK/MA (%) per tahun 97,93 94 Angka Kelulusan Siswa SD/MI (%) per tahun 100,00 95 Angka Kelulusan Siswa SMP/MTs (%) per tahun 100,00 96 Angka Kelulusan Siswa SMA/MA/SMK (%) per tahun 99,99 97 Cakupan Kelurahan Siaga Aktif (%) 85,58 98 Persentase rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) (%) 30,00 99 Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat (%) 96,34 100 Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat Kota Tangerang (%) 50,00 101 Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat Kota Tangerang (%) 0,84 102 Cakupan pelayanan JKN (BPJS) (%) per tahun 100,00 103 Presentase ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan di Puskesmas, Pustu, Pusling, dan Poliklinik (%) per tahun 100,00 104 Presentase Sarana Obat dan bahan-bahan berbahaya yang memenuhi syarat (%) 91,30 105 Presentase sarana kesehatan yang memenuhi syarat (%) 65,56 106 Rasio dokter per 1.000 penduduk dokter/ 1.000 penduduk 0,05 107 Rasio tenaga medis per 1.000 penduduk tenaga medis/ 1.000 penduduk 0,05
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target (%) 20,54 Sasaran 26: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya pemberdayaan dan perlindungan anak yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan keluarga 108 Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan penanganan pengaduan oleh petugas terlatih di dalam unit pelayanan terpadu 109 Cakupan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan yang mendapatkan pelayanan kesehatan oleh Tenaga Kesehatan Terlatih Di Puskesmas Mampu Tatalaksana KtP/A dan PPT/PKT di Rumah Sakit 110 Cakupan layanan rehabilitasi sosial yang diberikan oleh petugas rehabilitasi sosial terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu 111 Cakupan layanan bimbingan rohani yang diberikan oleh petugas bimbingan rohani terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu 112 Cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan pengadilan atas kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak (%) per tahun 100,00 (%) 21,05 (%) 21,33 (%) 20,00 113 Cakupan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Yang Mendapatkan Layanan Bantuan Hukum (%) 100,00 114 Cakupan layanan pemulangan bagi perempuan dan anak korban kekerasan (%) per tahun 100,00 115 Cakupan layanan reintegrasi sosial bagi perempuan dan anak korban kekerasan (%) 20,54 Sasaran 27: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap norma keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera 116 Persentase focal point SKPD yang memiliki aktifitas di dalam perwujudan kesetaran dan keadilan gender (%) 52,38 117 Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah daerah (%) 59,83 118 Persentase partisipasi perempuan di lembaga swasta (%) 15,74 119 Cakupan Pasangan Usia Subur (PUS) yang usia istrinya < 20 tahun (%) 1,05 120 Cakupan Pasangan Usia Subur menjadi Peserta KB aktif (%) 73,20 121 Cakupan Pasangan Usia Subur yang ingin ber-kb tidak terpenuhi (Unmet Need) (%) 15,07 122 Cakupan Anggota Bina Keluarga Balita (BKB) yang ber-kb (%) 49,04 123 Cakupan PUS Peserta KB Anggota Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) yang ber-kb 124 Rasio Petugas Lapangan Keluarga Berencana/ Penyuluh Keluarga Berencana (PLKB/PKB) di setiap kelurahan (%) 0,37 petugas/ kelurahan 0,10 125 Rasio Pembantu Pembina Keluarga Berencana (PPKBD) di setiap Kelurahan petugas/ kelurahan 1,00
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target 126 Cakupan penyediaan alat dan obat Kontrasepsi untuk memenuhi permintaan (%) 30,00 masyarakat di daerah Sasaran 28: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan perlindungan kesejahteraan sosialmasyarakat Sasaran 29: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Ketenagakerjaan Daerah yang berbasis Keahlian serta berorientasi pada penciptaan dan perluasan lapangan pekerjaan Sasaran 30: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan kebudayaan daerah 127 Cakupan penyediaan informasi data mikro keluarga di setiap Kelurahan (%) per tahun 100,00 128 Persentase kecamatan memiliki fasilitas pelayanan konseling remaja (%) per tahun 100,00 129 Cakupan pelayanan dan penanggulangan Narkoba, PMS termasuk HIV/AIDS di setiap kelurahan (%) per tahun 100,00 130 Rasio pelayanan Posyandu Aktif di setiap RW posyandu/ RW 1,00 131 Persentase (%) PMKS skala kota yang menerima program pemberdayaan sosial melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) atau kelompok sosial ekonomi sejenis lainnya (%) 37,50 132 Jumlah KUBE yang mendapat Bantuan (%) 25,00 133 Persentase Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial 134 Persentase (%) penyandang cacat, fisik, mental, serta lanjut usia tidak potensial yang telah menerima jaminan sosial 135 Tingkat keikutsertaan eks penyandang penyakit sosial yang mengikuti pendidikan dan pelatihan (%) 49,30 (%) 11,48 (%) 40,00 136 Cakupan petugas rehabilitasi sosial yang terlatih (%) 22,22 137 Besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis kompetensi (%) 50,00 138 Tingkat besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis kewirausahaan (%) 100,00 139 Besaran pekerja/buruh yang menjadi peserta program Jamsostek Aktif (%) 60,19 140 Tingkat besaran Kasus Yang Diselesaikan Dengan Perjanjian Bersama (PB) (%) 45,83 141 Besaran pencari kerja terdaftar yang ditempatkan (%) 64,00 142 Besaran Pemeriksaan Perusahaan (%) 24,26 143 Besaran Pengujian Peralatan di Perusahaan (%) 70,63 144 Cakupan pelestarian benda, situs dan kawasan cagar budaya daerah (%) 68,75 145 Cakupan tempat menggelar seni, memamerkan dan memasarkan karya seni, serta mengembangkan industri seni (%) 80,00 146 Cakupan Penyelenggaraan Festival Seni dan budaya (%) 40,00 147 Cakupan Kajian Seni (%) 40,00
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target (%) 33,33 Sasaran 31: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kepemudaan dan Keolahragaan Daerah yang mandiri dan berprestasi Sasaran 32: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesatuan, kebangsaan, dan kepolitikan 148 Persentase organisasi pemuda yang memiliki sertifikat standar mutu organisasi kepemudaan 149 Cakupan fasilitasi kegiatan kepemudaan (%) 33,33 150 Persentase organisasi olahraga yang memiliki sertifikat standar mutu oraganisasi keolahragaan (%) 25,00 151 Tingkat fasilitasi kegiatan keolahragaan daerah (%) per tahun 100,00 152 Cakupan peningkatan kesadaran wawasan kebangsaan pada Ormas, LSM, dan OKP (%) per tahun 100,00 153 Rasio petugas dalam satuan perlindungan masyarakat (Linmas) pada setiap RT petugas/ RT 0,18 Sasaran 33: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem penegakan peraturan daerah yang manusiawi dan berkeadilan Sasaran 34: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Keberdayaan Masyarakat yang berbasis pada kebutuhan dasar dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Sasaran 35: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran dan kegemaran membaca masyarakat 154 Cakupan penyelenggaraan kemitraan dan kerjasama pemerintah daerah dengan ormas dan LSM di setiap wilayah kecamatan kegiatan/ kecamatan 0,46 155 Tingkat penyelenggaraan sosialisasi kebijakan pemerintah di bidang Politik (%) 40,00 156 Cakupan patroli siaga ketertiban umum dan ketentraman masyarakat patroli/hari 2,77 157 Persentase pengawasan lokasi rawan pelanggar peraturan daerah (%) per tahun 100,00 158 Tingkat penyelesaian pelanggaran ketertiban umum (%) per tahun 100,00 159 Tingkat pemberdayaan kelompok binaan lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) 160 Persentase peningkatan lembaga (usaha ekonomi, badan keswadayaan masyarakat, postantek) setiap kelurahan (%) 38,46 (%) 51,02 161 Tingkat kenaikan kunjungan masyarakat ke perpustakaan daerah (%) 6,12 162 Tingkat kenaikan anggota perpustakaan, taman bacaan, klub buku, dll. (%) 29,33 163 Tingkat koleksi dan jenis buku yang tersedia di perpustakaan daerah (%) 73,48 164 Tingkat keberadaan Perpustakaan Digital (%) 61,67 165 Tingkat kelengkapan sistem layanan perpustakaan daerah (%) 11,42
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target MISI 4 : Meningkatkan pembangunan sarana perkotaan yang memadai dan berkualitas Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target 166 Rata-rata tingkat koordinasi/kerjasama perencanaan pembangunan daerah (%) 100,00 dalam semua aspek pembangunan Sasaran 36: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem perencanaan-penganggaran, pengendalian, dan evaluasi-pelaporan yang partisipatif, koordinatif dan integratif, serta berbasis data/informasi dan berorientasi pada sektoral dan kewilayahan 167 Tingkat ketersediaan dan implementasi peraturan/regulasi Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah (SPPD) serta berbagai aturan pendukungnya (%) 71,43 Sasaran 37: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan sarana-prasarana kependidikan, kebudayaan, dan kepustakaan yang layak dan memadai 168 Tingkat Ketersediaan, Pengelolaan, Pengolahan, dan Publikasi Data/Informasi Perencanaan Pembangunan Daerah 169 Tingkat ketersediaan dokumen utama perencanaan-penganggaran dan evaluasipelaporan pelaksanaan pembangunan daerah yang didukung kajian teknokratis serta dipublikasikan 170 Tingkat kapasitas dan kompetensi Dasar, Teknis, dan Operasional Aparatur Perencanaan Pembangunan Daerah 171 Tingkat peranserta/partisipasi kelompok masyarakat sebagai pemangku kepentingan pembangunan daerah 172 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana prasarana pendidikan PAUD yang layak dan memadai 173 Tingkat ketersedian sarana prasarana kebutuhan Pendidikan Dasar yang layak dan memadai 174 Tingkat ketersedian sarana prasarana kebutuhan Pendidikan Menengah yang layak dan memadai (%) 100,00 (%) 40,39 (%) 50,00 (%) per tahun 100,00 (%) 40,00 (%) 40,00 (%) 40,00 175 Partisipasi Anak Bersekolah (PAB) SD/MI (%) per tahun 93,81 176 Partisipasi anak Bersekolah (PAB) SMP/MTs (%) per tahun 96,90 177 Partisipasi Anak Bersekolah (PAB) SMA/MA (%) per tahun 76,99 178 Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A (%) per tahun 88,93 179 Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B (%) per tahun 65,13 180 Angka Partisipasi Murni (APM) SMA/SMK/MA/Paket C (%) per tahun 78,48 181 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan Sarana dan Prasarana untuk guru, kepala sekolah, dan staf kependidikan lainnya dalam satuan pendidikan dasar (%) 40,00
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target 182 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan Sarana dan Prasarana untuk guru, kepala sekolah, dan staf kependidikan lainnya dalam satuan pendidikan menengah (%) 40,00 Sasaran 38: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan sarana-prasarana kesehatan yang layak dan memadai 183 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana dan prasarana kesenian dan kebudayaan daerah 184 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana dan prasarana pepustakaan daerah (%) 68,75 (%) 39,56 185 Cakupan perpustakaan dan taman bacaan di setiap kecamatan buah/ kecamatan 24,00 186 Persentase puskesmas, puskesmas pembantu dan jaringannya dengan kondisi sarana dan prasarana memadai (%) per tahun 100,00 187 Cakupan Ketersediaan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di setiap RW posyandu/ RW 1,06 188 Cakupan Ketersediaan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu di setiap Kecamatan puskesmas/ kecamatan 1,92 189 Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per 1.000 penduduk buah/1.000 penduduk 0,04 190 Tingkat ketersediaan sarana prasarana kesehatan di Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-Paru/Rumah Sakit Mata yang layak dan memadai (%) 41,18 191 Tingkat pemeliharaan sarana prasarana kesehatan di Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-Paru/Rumah Sakit Mata yang layak dan memadai (%) 35,71 Sasaran 39: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan penyediaan sarana-prasarana kebinamargaan, dan keciptakaryaan daerah yang layak dan memadai Sasaran 40: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan penyediaan perlengkapan saranaprasarana transportasi dan kelalulintasan yang layak, memadai, dan terpadu 192 Persentase kondisi jalan kota yang baik dan sedang (%) 98,01 193 Persentase keterhubungan pusat-pusat kegiatan dan pusat-pusat produksi di wilayah kota (%) 93,96 194 Persentase cakupan pelayanan sistem drainase perkotaan (%) 20,00 195 Tingkat pengurangan luas genangan (%) 43,28 196 Tingkat pembangunan turap di wilayah aliran sungai yang rawan longsor lingkup kewenangan kota 197 Tingkat ketersediaan angkutan umum yang melayani wilayah kota yang telah tersedia jaringan jalan 198 Tingkat ketersediaan angkutan umum yang melayani jaringan trayek penghubung antar wilayah (%) per tahun 100,00 (%) 40,00 (%) 25,00 199 Tingkat ketersediaan koridor angkutan umum massal (%) 20,00 200 Tingkat ketersediaan dokumen perencanaan angkutan (%) 47,62
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target 201 Tingkat Ketersediaan Prasarana Angkutan yang terpelihara (%) 17,31 Sasaran 41: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan ketersediaan sarana dan prasarana Perekonomian dan Sosial-Kemasyarakatan yang layak dan memadai Sasaran 42: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana perkantoran pemerintahan daerah yang layak dan memadai Sasaran 43: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Transportasi serta Manajemen dan Rekayasa Lalulintas yang modern dan terpadu yang didukung oleh teknologi informasi yang canggih dan memadai 202 Tingkat ketersediaan sarana dan prasarana perhubungan (%) 41,79 203 Tingkat ketersediaan fasilitas perleng-kapan jalan (rambu, marka, dan guardrill) pada jalan di wilayah kota 204 Tingkat ketersediaan fasilitas Penerangan Jalan Umum (PJU) pada berbagai jenis jalan di wilayah kota (%) 40,00 (%) 63,68 205 Tingkat ketersediaan unit pengujian kendaraan bermotor buah/ 4.000 21,50 206 Tingkat ketersediaan standar keselarnatan bagi angkutan urnurn yang rnelayani trayek di dalarn Kota 207 Persentase panti sosial skala kota yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial 208 Persentase wahana kesejahteraan sosial berbasis masyarakat (WKBSM) yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial (%) 32,51 (%) per tahun 100,00 (%) 51,83 209 Tingkat Pengembangan Balai Latihan Kerja Daerah (%) per tahun 100,00 210 Cakupan ketersediaan pasar tradisional daerah di setiap kecamatan pasar/ kecamatan 2,38 211 Tingkat pembinaan pasar/toko modern dan pasar tradisional daerah (%) 24,00 212 Cakupan gedung olahraga di setiap kecamatan gedung/ kecamatan 1,46 213 Tingkat Ketersediaan Panti Asuhan/Panti Jompo (%) per tahun 100,00 214 Cakupan ketersediaan Poskamling di setiap RW poskamling/ RW 1,23 215 Tingkat ketersediaan sarana dan prasarana aparatur yang memadai (%) per tahun 100,00 216 Tingkat ketersediaan pelayanan jasa rehabilitasi sarana dan prasarana aparatur (%) per tahun 100,00 217 Tingkat ketersediaan pelayanan pengendalian kinerja simpang dan ruas jalan dengan Sistem ATCS (Area Traffic Control System) 218 Tingkat ketersediaan prasarana penunjang pengendalian simpang dan ruas jalan dalam kondisi baik 219 Tingkat ketersediaan perencanaan sarana dan prasarana penunjang pengendalian simpang dan ruas jalan (%) 40,00 (%) 50,00 (%) 50,00
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target MISI 5 : Mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Sasaran 44: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan 220 Cakupan pelayanan bencana kebakaran (%) 80,00 upaya mitigasi, pencegahan, pengendalian, dan 221 Persentase Aparatur Pemadam Kebakaran Yang Memenuhi Standar Kualifikasi (%) 85,00 penanganan bencana serta upaya peminimalan dampak bencana 222 Tingkat penanganan wilayah/lokasi banjir (%) 38,71 Sasaran 45: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kualitas lingkungan perumahan dan permukiman penduduk yang bersih, sehat, aman, dan nyaman Sasaran 46: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Penataan dan Pengelolaan Ruang Wilayah Perkotaan 223 Tingkat koordinasi penanggulangan bencana (%) per tahun 100,00 224 Tingkat penanganan korban bencana (%) per tahun 100,00 225 Cakupan Kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi < 24 jam (%) 100,00 226 Cakupan kelurahan Universal Child Immunization (UCI) (%) 100,00 227 Prevalensi balita gizi kurang (BB/U) (%) 9,57 228 Presentase balita gizi buruk (BB/TB) (%) 0,11 229 Persentase tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan (%) 72,00 230 Presentase Sarana Industri Rumah Tangga Pangan yang Memenuhi Syarat kesehatan (%) 88,89 231 Persentase penanganan permukiman kumuh perkotaan (%) 40,00 232 Cakupan ketersediaan rumah layak huni dan terjangkau bagi penduduk (%) 17,40 233 Tingkat waktu tanggap (response time rate) daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) 234 Tingkat Ketersediaan mobil pemadam kebakaran di Atas 3.000-5.000 liter pada Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) (%) 75,00 (%) 92,00 235 Tingkat pemanfaatan Poskamling di setiap RT (%) per tahun 100,00 236 Rasio Tempat Pemakaman Umum (TPU) per satuan penduduk m2/ 100 penduduk 24,05 237 Tingkat Tersedianya air baku untuk memenuhi kebutuhan pokok minimal seharihari (%) 60,00 238 Persentase penduduk yang mendapatkan akses air minum yang aman (%) 64,60 239 Persentase penduduk yang terlayani sistem air limbah yang memadai (%) 2,86 240 Tingkat penyelenggaraan pengawasan terhadap bangunan gedung (pemerintah dan umum) (%) 25,00 241 Tingkat ketersediaan data mengenai pemanfaatan bangunan gedung (%) 40,00 242 Tingkat ketersediaan perangkat kebijakan perencanaan tata ruang kota (%) 20,69
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target 243 Persentase Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik/Perkotaan (%) 28,24 244 Tingkat sosialisasi regulasi tentang Rencana Tata Ruang Kota (%) 77,78 245 Tingkat ketersediaan perangkat kebijakan pengendalian pemanfaatan ruang kota (%) 16,67 Sasaran 47: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pembangunan Ekologis (sosial, lingkungan, ekonomi) yang berorientasi pada peningkatan kualitas dan daya dukung lingkungan perkotaan 246 Tingkat penyelenggaraan pengendalian pemanfaatan ruang (%) 30,77 247 Tingkat ketersediaan data mengenai pemanfaatan ruang kota (%) 25,00 248 Tingkat ketersediaan regulasi penataan bangunan dan lingkungan (%) 36,84 249 Tingkat ketersediaan, publikasi, dan pengembangan Sistem Informasi Pembina Jasa Konstruksi (SIPJK) 250 Persentase usaha dan/atau kegiatan yang mentaati persyaratan administrasi dan teknis pencegahan pencemaran air 251 Persentase jumlah usaha dan/atau kegiatan sumber tidak bergerak yang memenuhi persyaratan administratif dan teknis pencegahan pencemaran udara (%) per tahun 100,00 (%) per tahun 100,00 (%) per tahun 100,00 252 Persentase pengaduan masyarakat akibat adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang ditindaklanjuti 253 Cakupan pemantauan Kualitas air sungai, Air Tanah dan Situ, serta kualitas udara dan kebisingan (%) per tahun 100,00 (%) 38,62 254 Persentase pengurangan sampah di perkotaan (%) 14,24 255 Persentase pengangkutan sampah (%) 75,00 256 Persentase pengoperasian TPA (%) 50,00 257 Tingkat pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik/Perkotaan di wilayah perkotaan (%) per tahun 100,00
PENGUKURAN KINERJA TAHUN 2015 MISI 1 : Sasaran 1: Sasaran 2 : Sasaran 3 : Sasaran 4 : Mewujudkan tata pemerintahan yang baik, akuntabel, dan transparan didukung dengan struktur birokrasi yang berintegritas, kompeten, dan profesional Sasaran Strategis Indikator Kinerja Uraian Satuan Target Realisasi % OPD 1 2 3 4 5 6 7 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem pendaftaran, 1 Tingkat pelaksanaan fasilitasi pengadaan tanah % per tahun 100,00 100,00 100,00 BMSDA, SETDA, DISBANG, CIKARANG, DISHUB penguasaan, pemilikan, penggunaan, pemanfaatan, dan penyelesaian konflik pertanahan 2 Tingkat pelaksanaan fasilitasi pengaduan sengketa tanah % per tahun 100,00 100,00 100,00 SETDA Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem administrasi kependudukan dan pencatatan sipil daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen Kepemerintahan dan Keadministrasian Umum, serta Kesejahteraan Masyarakat, yang Responsif, Koordinatif, Integratif, Sederhana, dan Sinergis Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Keuangan dan Aset Daerah secara Transparan dan Akuntabel 3 Tingkat ketersediaan sistem informasi tanah milik pemda % per tahun 100,00 100,00 100,00 SETDA 4 Persentase Penduduk ber-ktp (%) 99,65 75,09 75,36 Dukcapil 5 Persentase Keluarga mempunyai Kartu (%) 85,89 78,34 91,21 Dukcapil Keluarga 6 Persentase Bayi Ber-Akta Kelahiran (%) 52,10 48,11 92,34 Dukcapil 7 Persentase Penduduk meninggal dunia Ber- (%) 85,89 69,54 80,96 Dukcapil Akta Kematian 8 Persentase Pasangan Suami-Isteri Ber-Akta Nikah 9 Tingkat penataan peraturan daerah dan peraturan kepala daerah 10 Tingkat kelengkapan kelembagaan dan penataan keorganisasian SKPD 11 Tingkat koordinasi dan kerjasama dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah lainnya (%) 36,49 33,65 92,22 Dukcapil (%) 40,00 40,00 100,00 SETDA (%) 59,00 59,00 100,00 SETDA (%) 36,54 37,01 101,28 SETDA 12 Tingkat kesesuaian formasi jabatan SKPD (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 SETDA, BKPP 13 Tingkat ketersediaan pelaporan kinerja dan keuangan SKPD 14 Tingkat ketersediaan dokumen dan sistem pengelolaan keuangan daerah 15 Tingkat ketersediaan dokumen dan sistem pengelolaan aset (%) 40,00 40,00 100,00 Semua SKPD (%) 40,93 40,93 100,00 DPKD (%) 36,68 36,68 100,00 DPKD 16 Tingkat kenaikan pendapatan daerah (%) 6,63 11,73 176,99 DPKD
Sasaran Strategis 1 Sasaran 5 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pengawasan Pembangunan Daerah Uraian 2 17 Tingkat ketersediaan laporan hasil pemeriksaan 18 Tingkat tindak lanjut laporan hasil ekspose temuan hasil pengawasan 19 Tingkat tenaga pemeriksa yang menguasai teknik/teori pengawasan dan penilaian akuntabilitas kinerja 20 Tingkat ketersediaan kebijakan tentang sistem dan prosedur pengawasan Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % OPD 3 4 5 6 7 (%) 38,04 38,04 100,00 Inspektorat (%) 40,00 40,00 100,00 Inspektorat (%) 40,00 40,00 100,00 Inspektorat (%) 40,00 40,00 100,00 Inspektorat Sasaran 6 : Sasaran 7 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Kepegawaian Daerah Terwujudnya Aparatur Pemerintahan Daerah yang Cerdas, Bermoral, Inovatif, dan Profesional 21 Tingkat ketersediaan pelayanan administrasi kepegawaian 22 Tingkat ketersediaan pelayanan Pemensiunan Pegawai 23 Tingkat kedisiplinan aparatur pemerintah daerah 24 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan saranaprasarana pendukung kedisiplinan aparatur pemerintah daerah (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Semua SKPD (%) 66,67 66,67 100,00 BKPP (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Semua SKPD dan BKPP (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Semua SKPD dan BKPP 25 Tingkat Penurunan Indisipliner Pegawai (%) 0,34 0,33 98,30 BKPP 26 Tingkat Pelayanan Diklat Struktural Kepemimpinan (%) 34,36 37,80 110,00 BKPP
Sasaran Strategis Uraian 1 2 27 Persentase pejabat fungsional pemerintah daerah yang telah mengikuti diklat fungsional Indikator Kinerja OPD Satuan Target Realisasi % 3 4 5 6 7 (%) 25,26 25,36 100,38 BKPP 28 Tingkat Kapasitas Sumberdaya Aparatur pemerintah daerah (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Semua SKPD dan BKPP 29 Tingkat Pelayanan Penyelenggaraan Diklat Teknis dan Fungsional beserta sarana pendukungnya (%) 26,33 30,15 114,52 BKPP Sasaran 8 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pemenuhan peralatan dan perlengkapan keadministrasian perkantoran 30 Tingkat ketersediaan pelayanan barang pendukung administrasi perkantoran 31 Tingkat ketersediaan pelayanan jasa pendukung administrasi perkantoran (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 semua SKPD (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 semua SKPD Sasaran 9 : Sasaran 10 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan kemitraan dan kerjasama yang proporsional dan profesional antara Eksekutif dengan Legislatif untuk menghasilkan Peraturan Daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen Data/ Informasi Pembangunan Daerah 32 Tingkat Fasilitasi Peningkatan Kapasitas Lembaga DPRD 33 Tingkat Fasilitasi Pembahasan dan Persetujuan Raperda 34 Rata-rata tingkat ketersediaan data/informasi statistik hasil pembangunan daerah (%) per tahun 100,00 86,16 86,16 SETWAN (%) per tahun 100,00 76,19 76,19 SETWAN (%) 36,67 36,67 100,00 Bappeda Sasaran 11 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan berbagai kajian dan penelitian statistik pembangunan daerah 35 Rata-rata tingkat ketersediaan kajian, penelitian, dan pengembangan strategis (%) 36,89 36,89 100,00 Bappeda Sasaran 12 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kearsipan Daerah 36 Tingkat ketersediaan sistem dan pedoman penyelenggaraan kearsipan yang handal, dinamis, komprehensif dan terpadu (%) 40,00 40,00 100,00 BPAD 37 Tingkat ketersediaan arsip statis, bernilaiguna, dan arsip elektronik (%) 25,00 25,00 100,00 BPAD
Sasaran Strategis 1 Indikator Kinerja OPD Uraian Satuan Target Realisasi % 2 3 4 5 6 7 38 Tingkat pengelolaan arsip baku pada SKPD (%) 40,00 40,00 100,00 BPAD 39 Tingkat pemeliharaan arsip dan sarana prasarana pendukungnya (%) 25,00 25,00 100,00 BPAD 40 Persentase terpenuhinya kebutuhan informasi kearsipan (%) 25,00 25,00 100,00 BPAD 41 Persentase pelaksanaan kegiatan peningkatan SDM Kearsipan yang berkualitas (%) 38,46 38,46 100,00 BPAD Sasaran 13 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi Daerah 42 Tingkat ketersediaan sistem dan jaringan komunikasi dan informasi SKPD (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Kominfo 43 Tingkat Pengkajian dan Penelitian Bidang Komunikasi dan Informasi (%) 42,70 42,70 100,00 Kominfo 44 Tingkat Kerjasama Informasi dan Media Massa (%) 44,12 44,12 100,00 Kominfo Sasaran 14 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pelayanan publik dan pelayanan aparatur pemerintahan daerah secara profesional, cepat, tepat, dan akurat, dengan berbasis pada teknologi informasi yang efektif dan efisien 45 Tingkat Pelayanan Publik yang menggunakan media informasi berbasis Informasi Teknologi (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Kominfo Sasaran 15 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem informasi dan aplikasi penyelenggaraan pemerintah daerah yang terintegrasi, terstandarisasi, serta memadai (berkemampuan/ berkapasitas tinggi, cepat, mudah diakses, praktis, dan aman) 46 Tingkat Integrasi Sistem Informasi dan Aplikasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah 47 Tingkat Standarisasi Sistem Informasi dan Aplikasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (%) 45,52 45,52 100,00 Kominfo (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Kominfo
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Uraian Satuan Target Realisasi % OPD 1 2 3 4 5 6 7 MISI 2 : Meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing tinggi Sasaran Strategis Indikator Kinerja Uraian Satuan Target Realisasi % OPD 1 1 2 3 4 5 6 7 Sasaran 16 : Terwujudnya pemantapan dan 48 Persentase UMKM Aktif (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Indagkop pengembangan keberdayaan sektor UMKM dan Koperasi sebagai pendukung kegiatan ekonomi daerah berbasis 49 Persentase Koperasi Aktif (%) 61,79 62,00 100,34 Indagkop sumberdaya lokal 50 Tingkat Pertumuhan UMKM Aktif (%) 0,99 2,03 205,03 Indagkop 51 Tingkat Pertumbuhan Koperasi Aktif (%) 11,11 11,11 100,00 Indagkop Sasaran 17 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Investasi Daerah yang transparan serta didukung oleh iklim investasi yang kondusif 52 Tingkat pertumbuhan investasi daerah (%) 10,00 10,00 100,00 BPPMPST & SETDA 53 Tingkat pelaksanaan fasilitasi kerjasama kemitraan iinvestasi 54 Tingkat penyelenggaraan promosi peluang investasi daerah 55 Tingkat ketersediaan Sistem Informasi Pelayanan Investasi Daerah kali/tahun 1,00 1,00 100,00 BPMPTSP & SETDA kali/tahun 1,00 1,00 100,00 BPMPTSP & SETDA (%) 42,86 42,86 100,00 BPMPTSP & SETDA 56 Tingkat Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) (%) 45,00 45,00 100,00 BPMPTSP 57 Persentase Bangunan yang mempunyai Izin Mendirikan Bangunan (IMB) (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 BPMPTSP 58 Tingkat pelayanan Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) 59 Tingkat pelayanan waktu pengurusan Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 BPMPTSP (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 BPMPTSP
Sasaran 18 : Sasaran 19: Sasaran Strategis 1 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Ketahanan Pangan Daerah yang meliputi Ketersediaan, Distribusi, Konsumsi, Kewaspadaan, dan Kemasyarakatan Terwujudnya pemantapan dan pengembangan agribisnis serta budidaya pertanian dan peternakan yang berorientasi pada intensifikasi pertanian Indikator Kinerja Uraian Satuan Target Realisasi % OPD 2 3 4 5 6 7 60 Tingkat Ketersediaan Energi Per Kapita (%) 90,00 96,80 107,56 DKPP 61 Tingkat Ketersediaan Protein Per Kapita (%) 90,00 120,90 134,33 DKPP 62 Tingkat Penguatan Cadangan Pangan Daerah (%) 60,00 49,00 81,67 DKPP 63 Tingkat Ketersediaan Informasi Pasokan, (%) 60,00 60,00 100,00 DKPP Harga dan Akses Pangan di Daerah 64 Tingkat Stabilitasi Harga Pangan (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 DKPP 65 Tingkat Stabilitasi Pasokan Pangan (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 DKPP 66 Capaian Peningkatan Pangan Skor Pola Pangan Harapan (PPH) (%) 30,00 80,60 268,67 DKPP 67 Tingkat Pengawasan dan Pembinaan Keamanan Pangan Daerah 68 Tingkat Penanganan Daerah Rawan Pangan Daerah (%) 40,00 74,79 186,98 DKPP (%) 40,00 63,00 157,50 DKPP 69 Tingkat Produktivitas Pertanian (%) 2,08 0,42 20,16 DKPP 70 Tingkat produksivitas peternakan (%) per tahun 20,00 30,00 150,00 DKPP 71 Tingkat pemasaran hasil produksi pertanian (%) 5,12 5,60 109,27 DKPP 72 Tingkat pemasaran hasil produksi ternak sapi potong di wilayah Kota Tangerang (%) 72,86 68,00 93,33 DKPP 73 Angka prevalensi penyakit zoonosis (%) 100,00 20,00 20,00 DKPP Sasaran 20: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Kepariwisataan Daerah 74 Tingkat pemasaran obyek wisata daerah (%) 50,00 68,75 137,50 Dispoparekraf 75 Tingkat kenaikan kunjungan wisatawan ke (%) 40,00 56,25 140,63 Dispoparekraf obyek wisata daerah 76 Tingkat perkembangan destinasi pariwisata daerah 77 Tingkat perkembangan Jenis kelas dan jumlah Hotel (%) 40,00 40,00 100,00 Dispoparekraf (%) 95,23 105,08 110,35 Dispoparekraf
Sasaran 21: Sasaran Strategis 1 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan intensifikasi budidaya perikanan darat Indikator Kinerja OPD Uraian Satuan Target Realisasi % 2 3 4 5 6 7 78 Persentase kenaikan produksi ikan (%) 94,55 98,74 104,44 DKPP 79 Cakupan bina kelompok peternak ikan (%) 33,33 33,33 100,00 DKPP 80 Tingkat pengolahan dan pemasaran produksi perikanan (%) 72,45 72,78 100,45 DKPP 81 Tingkat pembinaan Pedagang Kaki Lima (PKL) (%) 2,12 2,12 100,00 Indagkop 82 Tingkat perlindungan konsumen (%) 28,47 28,47 100,00 Indagkop 83 Tingkat pembinaan perdagangan dalam negeri (%) 20,00 20,00 100,00 Indagkop Sasaran 23: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perindustrian Daerah dan peningkatan kapasitas industri kecil dan menengah Sasaran 22: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perdagangan Daerah dan peningkatan perlindungan konsumen 84 Persentase industri yang memiliki Gugus Kendali Mutu (Pengukuran Standarisasi, Pengujian, dan Kualitas) 85 Persentase IKM memiliki Izin Usaha Industri Kecil Melalui P-IRT dan Halal (%) 7,03 9,37 133,21 Indagkop (%) 3,08 10,43 338,77 Indagkop 86 Persentase industri yang telah memenuhi standar kelayakan produksi (%) 11,08 14,91 134,52 Indagkop 87 Tingkat Pertumbuhan Industri di Daerah (%) 1,50 5,35 356,00 Indagkop
Indikator Kinerja Sasaran Strategis OPD Uraian Satuan Target Realisasi % 1 2 3 4 5 6 7 MISI 3 : Mengembangkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial demi terwujudnya masyarakat yang berdaya saing di era globalisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis OPD Uraian Satuan Target Realisasi % 1 1 2 3 4 5 6 7 Sasaran 24: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pendidikan Daerah yang mengacu pada Sistem Pendidikan Nasional, dan berbasis kompetensi, serta berorientasi pada kebutuhan kerja 88 Angka Putus Sekolah SD/MI (%) per tahun 0,02 0,01 150,00 PDK 89 Angka Putus Sekolah SMP/MTs (%) per tahun 0,07 0,02 171,43 PDK 90 Angka Putus Sekolah SMA/MA/SMK (%) per tahun 0,11 0,14 72,73 PDK 91 Angka Melek Huruf Penduduk Usia > 15 Tahun (%) per tahun 98,71 98,51 99,80 PDK 92 Angka Melanjutkan SD/MI ke SMP/MTs (%) per tahun 98,72 94,42 95,64 PDK 93 Angka Melanjutkan SMP/MTs ke (%) per tahun 97,93 100,00 102,12 PDK SMA/SMK/MA 94 Angka Kelulusan Siswa SD/MI (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 PDK 95 Angka Kelulusan Siswa SMP/MTs (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 PDK 96 Angka Kelulusan Siswa SMA/MA/SMK (%) per tahun 99,99 100,00 100,01 PDK Sasaran 25: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Pelayanan dan Akses Kesehatan yang berkualitas dan terjangkau 97 Cakupan Kelurahan Siaga Aktif (%) 85,58 97,12 113,49 Dinkes 98 Persentase rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) 99 Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat 100 Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat Kota Tangerang 101 Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat Kota Tangerang (%) 30,00 54,20 180,67 Dinkes (%) 96,34 98,08 101,80 Dinkes (%) 50,00 48,08 96,16 Dinkes (%) 0,84 2,59 309,63 Dinkes
Sasaran Strategis 1 Indikator Kinerja Uraian Satuan Target Realisasi % OPD 2 3 4 5 6 7 102 Cakupan pelayanan JKN (BPJS) (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Dinkes 103 Presentase ketersediaan obat dan perbekalan (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Dinkes kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan di Puskesmas, Pustu, Pusling, dan Poliklinik 104 Presentase Sarana Obat dan bahan-bahan berbahaya yang memenuhi syarat (%) 91,30 92,75 101,58 Dinkes Sasaran 26: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya pemberdayaan dan perlindungan anak yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan keluarga 105 Presentase sarana kesehatan yang memenuhi syarat 106 Rasio dokter per 1.000 penduduk dokter/ 1.000 penduduk 107 Rasio tenaga medis per 1.000 penduduk tenaga medis/ 1.000 penduduk 108 Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan penanganan pengaduan oleh petugas terlatih di dalam unit pelayanan terpadu (%) 65,56 77,78 118,65 Dinkes 0,05 0,08 146,81 Dinkes 0,05 0,05 100,00 Dinkes (%) 20,54 20,54 100,00 BPMPKB 109 Cakupan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan yang mendapatkan pelayanan kesehatan oleh Tenaga Kesehatan Terlatih Di Puskesmas Mampu Tatalaksana KtP/A dan PPT/PKT di Rumah Sakit (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 BPMPKB 110 Cakupan layanan rehabilitasi sosial yang diberikan oleh petugas rehabilitasi sosial terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu (%) 21,05 36,07 171,33 BPMPKB
Sasaran Strategis Uraian 1 2 111 Cakupan layanan bimbingan rohani yang diberikan oleh petugas bimbingan rohani terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu Indikator Kinerja OPD Satuan Target Realisasi % 3 4 5 6 7 (%) 21,33 68,85 322,73 BPMPKB 112 Cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan pengadilan atas kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak (%) 20,00 62,00 310,00 BPMPKB 113 Cakupan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Yang Mendapatkan Layanan Bantuan Hukum (%) 100,00 62,00 62,00 BPMPKB 114 Cakupan layanan pemulangan bagi perempuan dan anak korban kekerasan (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 BPMPKB 115 Cakupan layanan reintegrasi sosial bagi perempuan dan anak korban kekerasan (%) 20,54 20,54 100,00 BPMPKB 116 Persentase focal point SKPD yang memiliki aktifitas di dalam perwujudan kesetaran dan keadilan gender (%) 52,38 17,31 33,05 BPMPKB 117 Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah daerah (%) 59,83 66,23 110,69 BPMPKB 118 Persentase partisipasi perempuan di lembaga swasta (%) 15,74 10,87 69,10 BPMPKB Sasaran 27: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap norma keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera 119 Cakupan Pasangan Usia Subur (PUS) yang usia istrinya < 20 tahun 120 Cakupan Pasangan Usia Subur menjadi Peserta KB aktif (%) 1,05 1,07 101,77 BPMPKB (%) 73,20 77,91 106,43 BPMPKB 121 Cakupan Pasangan Usia Subur yang ingin ber- KB tidak terpenuhi (Unmet Need) (%) 15,07 13,71 90,99 BPMPKB
Sasaran Strategis Uraian 1 2 122 Cakupan Anggota Bina Keluarga Balita (BKB) yang ber-kb Indikator Kinerja OPD Satuan Target Realisasi % 3 4 5 6 7 (%) 49,04 66,23 135,06 BPMPKB 123 Cakupan PUS Peserta KB Anggota Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) yang ber-kb (%) 0,37 0,49 130,44 BPMPKB 124 Rasio Petugas Lapangan Keluarga Berencana/ Penyuluh Keluarga Berencana (PLKB/PKB) di setiap kelurahan petugas/ kelurahan 0,10 0,10 100,00 BPMPKB 125 Rasio Pembantu Pembina Keluarga Berencana (PPKBD) di setiap Kelurahan 126 Cakupan penyediaan alat dan obat Kontrasepsi untuk memenuhi permintaan masyarakat di daerah 127 Cakupan penyediaan informasi data mikro keluarga di setiap Kelurahan petugas/ kelurahan 1,00 1,00 100,00 BPMPKB (%) 30,00 30,00 100,00 BPMPKB (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 BPMPKB 128 Persentase kecamatan memiliki fasilitas pelayanan konseling remaja (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 BPMPKB 129 Cakupan pelayanan dan penanggulangan Narkoba, PMS termasuk HIV/AIDS di setiap kelurahan (%) per tahun 100,00 17,31 17,31 BPMPKB 130 Rasio pelayanan Posyandu Aktif di setiap RW posyandu/ RW 1,00 1,09 108,74 BPMPKB
Sasaran 28: Sasaran Strategis 1 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan perlindungan kesejahteraan sosial-masyarakat Uraian 2 131 Persentase (%) PMKS skala kota yang menerima program pemberdayaan sosial melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) atau kelompok sosial ekonomi sejenis lainnya Indikator Kinerja OPD Satuan Target Realisasi % 3 4 5 6 7 (%) 37,50 82,81 220,83 Dinsos 132 Jumlah KUBE yang mendapat Bantuan (%) 25,00 25,00 100,00 Dinsos 133 Persentase Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial (%) 49,30 62,81 127,42 Dinsos 134 Persentase (%) penyandang cacat, fisik, mental, serta lanjut usia tidak potensial yang telah menerima jaminan sosial (%) 11,48 11,48 100,00 Dinsos 135 Tingkat keikutsertaan eks penyandang penyakit sosial yang mengikuti pendidikan dan pelatihan (%) 40,00 10,40 26,00 Dinsos 136 Cakupan petugas rehabilitasi sosial yang terlatih (%) 22,22 12,82 57,69 Dinsos Sasaran 29: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Ketenagakerjaan Daerah yang berbasis Keahlian serta berorientasi pada penciptaan dan perluasan lapangan pekerjaan 137 Besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis kompetensi 138 Tingkat besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis kewirausahaan (%) 50,00 71,00 142,00 Disnaker (%) 100,00 100,00 100,00 Disnaker 139 Besaran pekerja/buruh yang menjadi peserta program Jamsostek Aktif (%) 60,19 63,00 104,68 Disnaker 140 Tingkat besaran Kasus Yang Diselesaikan Dengan Perjanjian Bersama (PB) (%) 45,83 29,00 63,27 Disnaker 141 Besaran pencari kerja terdaftar yang ditempatkan (%) 64,00 49,00 76,56 Disnaker
Sasaran Strategis 1 Indikator Kinerja OPD Uraian Satuan Target Realisasi % 2 3 4 5 6 7 142 Besaran Pemeriksaan Perusahaan (%) 24,26 15,00 61,82 Disnaker 143 Besaran Pengujian Peralatan di Perusahaan (%) 70,63 62,00 87,78 Disnaker Sasaran 30: Sasaran 31: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan kebudayaan daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kepemudaan dan Keolahragaan Daerah yang mandiri dan berprestasi 144 Cakupan pelestarian benda, situs dan kawasan cagar budaya daerah 145 Cakupan tempat menggelar seni, memamerkan dan memasarkan karya seni, serta mengembangkan industri seni 146 Cakupan Penyelenggaraan Festival Seni dan budaya (%) 68,75 68,75 100,00 PDK & Dispoparekraf (%) 80,00 80,00 100,00 PDK & Dispoparekraf (%) 40,00 40,00 100,00 PDK & Dispoparekraf 147 Cakupan Kajian Seni (%) 40,00 40,00 100,00 PDK & Dispoparekraf 148 Persentase organisasi pemuda yang memiliki sertifikat standar mutu organisasi kepemudaan (%) 33,33 36,36 109,08 Disporparekraf 149 Cakupan fasilitasi kegiatan kepemudaan (%) 33,33 33,67 101,01 Disporparekraf 150 Persentase organisasi olahraga yang memiliki sertifikat standar mutu oraganisasi keolahragaan (%) 25,00 25,00 100,00 Disporparekraf 151 Tingkat fasilitasi kegiatan keolahragaan daerah (%) per tahun 100,00 101,92 101,92 Disporparekraf Sasaran 32: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesatuan, kebangsaan, dan kepolitikan 152 Cakupan peningkatan kesadaran wawasan kebangsaan pada Ormas, LSM, dan OKP (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 KesbangPol
Sasaran Strategis Uraian 1 2 153 Rasio petugas dalam satuan perlindungan masyarakat (Linmas) pada setiap RT 154 Cakupan penyelenggaraan kemitraan dan kerjasama pemerintah daerah dengan ormas dan LSM di setiap wilayah kecamatan Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % OPD 3 4 5 6 7 petugas/ RT 0,18 0,18 100,00 Satpol PP kegiatan/ kecamatan 0,46 0,46 100,00 KesbangPol Sasaran 33: Sasaran 34: Sasaran 35: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem penegakan peraturan daerah yang manusiawi dan berkeadilan Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Keberdayaan Masyarakat yang berbasis pada kebutuhan dasar dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran dan kegemaran membaca masyarakat 155 Tingkat penyelenggaraan sosialisasi kebijakan pemerintah di bidang Politik 156 Cakupan patroli siaga ketertiban umum dan ketentraman masyarakat 157 Persentase pengawasan lokasi rawan pelanggar peraturan daerah 158 Tingkat penyelesaian pelanggaran ketertiban umum 159 Tingkat pemberdayaan kelompok binaan lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) 160 Persentase peningkatan lembaga (usaha ekonomi, badan keswadayaan masyarakat, postantek) setiap kelurahan 161 Tingkat kenaikan kunjungan masyarakat ke perpustakaan daerah 162 Tingkat kenaikan anggota perpustakaan, taman bacaan, klub buku, dll. 163 Tingkat koleksi dan jenis buku yang tersedia di perpustakaan daerah (%) 40,00 40,00 100,00 KesbangPol patroli/hari 2,77 2,77 100,00 Satpol PP (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Satpol PP (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Satpol PP (%) 38,46 38,46 100,00 BPMPKB (%) 51,02 60,95 119,46 BPMPKB (%) 6,12 6,12 100,00 BPAD (%) 29,33 29,33 100,00 BPAD (%) 73,48 73,48 100,00 BPAD 164 Tingkat keberadaan Perpustakaan Digital (%) 61,67 61,67 100,00 BPAD 165 Tingkat kelengkapan sistem layanan perpustakaan daerah (%) 11,42 11,42 100,00 BPAD
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Uraian Satuan Target Realisasi % OPD 1 2 3 4 5 6 7 MISI 4 : Meningkatkan pembangunan sarana perkotaan yang memadai dan berkualitas Sasaran Strategis Indikator Kinerja Uraian Satuan Target Realisasi % OPD 1 1 2 3 4 5 6 7 Sasaran 36: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem perencanaanpenganggaran, pengendalian, dan 166 Rata-rata tingkat koordinasi/kerjasama perencanaan pembangunan daerah dalam semua aspek pembangunan (%) 100,00 100,00 100,00 Bappeda evaluasi-pelaporan yang partisipatif, 167 Tingkat ketersediaan dan implementasi (%) 71,43 71,43 100,00 Bappeda koordinatif dan integratif, serta berbasis peraturan/regulasi Sistem Perencanaan data/informasi dan berorientasi pada Pembangunan Daerah (SPPD) serta berbagai sektoral dan kewilayahan aturan pendukungnya 168 Tingkat Ketersediaan, Pengelolaan, Pengolahan, dan Publikasi Data/Informasi Perencanaan Pembangunan Daerah (%) 100,00 100,00 100,00 Bappeda 169 Tingkat ketersediaan dokumen utama perencanaan-penganggaran dan evaluasipelaporan pelaksanaan pembangunan daerah yang didukung kajian teknokratis serta dipublikasikan (%) 40,39 40,39 100,00 Bappeda 170 Tingkat kapasitas dan kompetensi Dasar, Teknis, dan Operasional Aparatur Perencanaan Pembangunan Daerah (%) 50,00 50,00 100,00 Bappeda 171 Tingkat peranserta/partisipasi kelompok masyarakat sebagai pemangku kepentingan pembangunan daerah (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Bappeda Sasaran 37: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan saranaprasarana kependidikan, kebudayaan, dan kepustakaan yang layak dan memadai 172 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana prasarana pendidikan PAUD yang layak dan memadai 173 Tingkat ketersedian sarana prasarana kebutuhan Pendidikan Dasar yang layak dan memadai (%) 40,00 40,00 100,00 PDK (%) 40,00 40,00 100,00 PDK
Sasaran Strategis Uraian 1 2 174 Tingkat ketersedian sarana prasarana kebutuhan Pendidikan Menengah yang layak dan memadai Indikator Kinerja OPD Satuan Target Realisasi % 3 4 5 6 7 (%) 40,00 40,00 100,00 PDK 175 Partisipasi Anak Bersekolah (PAB) SD/MI (%) per tahun 93,81 112,20 119,60 PDK 176 Partisipasi anak Bersekolah (PAB) SMP/MTs (%) per tahun 96,90 84,03 86,72 PDK 177 Partisipasi Anak Bersekolah (PAB) SMA/MA (%) per tahun 76,99 98,86 128,41 PDK 178 Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A (%) per tahun 88,93 94,65 106,43 PDK 179 Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B 180 Angka Partisipasi Murni (APM) SMA/SMK/MA/Paket C 181 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan Sarana dan Prasarana untuk guru, kepala sekolah, dan staf kependidikan lainnya dalam satuan pendidikan dasar 182 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan Sarana dan Prasarana untuk guru, kepala sekolah, dan staf kependidikan lainnya dalam satuan pendidikan menengah (%) per tahun 65,13 75,22 115,49 PDK (%) per tahun 78,48 80,47 102,54 PDK (%) 40,00 40,00 100,00 PDK (%) 40,00 40,00 100,00 PDK 183 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana dan prasarana kesenian dan kebudayaan daerah 184 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana dan prasarana pepustakaan daerah (%) 68,75 66,67 96,97 PDK (%) 39,56 39,56 100,00 BPAD 185 Cakupan perpustakaan dan taman bacaan di setiap kecamatan buah/ kecamatan 24,00 24,00 100,00 BPAD
Sasaran 38: Sasaran Strategis 1 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan saranaprasarana kesehatan yang layak dan memadai Uraian 2 186 Persentase puskesmas, puskesmas pembantu dan jaringannya dengan kondisi sarana dan prasarana memadai 187 Cakupan Ketersediaan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di setiap RW 188 Cakupan Ketersediaan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu di setiap Kecamatan Indikator Kinerja OPD Satuan Target Realisasi % 3 4 5 6 7 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Dinkes posyandu/ RW 1,06 1,09 102,52 BPMPKB puskesmas/ kecamatan 1,92 3,00 156,00 Dinkes 189 Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per 1.000 penduduk 190 Tingkat ketersediaan sarana prasarana kesehatan di Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-Paru/Rumah Sakit Mata yang layak dan memadai 191 Tingkat pemeliharaan sarana prasarana kesehatan di Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-Paru/Rumah Sakit Mata yang layak dan memadai buah/1.000 penduduk 0,04 0,04 100,00 Dinkes (%) 41,18 34,12 82,86 RSUD (%) 35,71 35,71 100,00 RSUD Sasaran 39: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan penyediaan sarana-prasarana kebinamargaan, dan keciptakaryaan daerah yang layak dan memadai 192 Persentase kondisi jalan kota yang baik dan sedang 193 Persentase keterhubungan pusat-pusat kegiatan dan pusat-pusat produksi di wilayah kota 194 Persentase cakupan pelayanan sistem drainase perkotaan (%) 98,01 98,01 100,00 BMSDA (%) 93,96 96,96 103,19 Dishub, BMSDA (%) 20,00 38,27 191,35 BMSDA, Cikarang 195 Tingkat pengurangan luas genangan (%) 43,28 43,28 100,00 BMSDA, Cikarang 196 Tingkat pembangunan turap di wilayah aliran sungai yang rawan longsor lingkup kewenangan kota (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 BMSDA
Sasaran 40: Sasaran Strategis 1 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan penyediaan perlengkapan sarana-prasarana transportasi dan kelalulintasan yang layak, memadai, dan terpadu Uraian 2 197 Tingkat ketersediaan angkutan umum yang melayani wilayah kota yang telah tersedia jaringan jalan 198 Tingkat ketersediaan angkutan umum yang melayani jaringan trayek penghubung antar wilayah 199 Tingkat ketersediaan koridor angkutan umum massal 200 Tingkat ketersediaan dokumen perencanaan angkutan Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % OPD 3 4 5 6 7 (%) 40,00 40,00 100,00 Dishub (%) 25,00 25,00 100,00 Dishub (%) 20,00 20,00 100,00 Dishub (%) 47,62 47,62 100,00 Dishub 201 Tingkat Ketersediaan Prasarana Angkutan yang terpelihara (%) 17,31 17,31 100,00 Dishub 202 Tingkat ketersediaan sarana dan prasarana perhubungan (%) 41,79 41,79 100,00 Dishub 203 Tingkat ketersediaan fasilitas perleng-kapan jalan (rambu, marka, dan guardrill) pada jalan di wilayah kota 204 Tingkat ketersediaan fasilitas Penerangan Jalan Umum (PJU) pada berbagai jenis jalan di wilayah kota 205 Tingkat ketersediaan unit pengujian kendaraan bermotor 206 Tingkat ketersediaan standar keselarnatan bagi angkutan urnurn yang rnelayani trayek di dalarn Kota (%) 40,00 40,00 100,00 Dishub (%) 63,68 62,09 97,50 DKP buah/ 4.000 21,50 21,50 100,00 Dishub (%) 32,51 32,51 100,00 Dishub
Sasaran 41: Sasaran Strategis 1 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan ketersediaan sarana dan prasarana Perekonomian dan Sosial- Kemasyarakatan yang layak dan memadai Uraian 2 207 Persentase panti sosial skala kota yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial 208 Persentase wahana kesejahteraan sosial berbasis masyarakat (WKBSM) yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % OPD 3 4 5 6 7 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Dinsos (%) 51,83 51,83 100,00 Dinsos 209 Tingkat Pengembangan Balai Latihan Kerja (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Disnaker Daerah 210 Cakupan ketersediaan pasar tradisional daerah pasar/ kecamatan 2,38 2,38 100,00 Indagkop di setiap kecamatan 211 Tingkat pembinaan pasar/toko modern dan (%) 24,00 24,00 100,00 Indagkop pasar tradisional daerah 212 Cakupan gedung olahraga di setiap kecamatan gedung/ kecamatan 1,46 1,46 100,00 Disporparekraf 213 Tingkat Ketersediaan Panti Asuhan/Panti Jompo (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Dinsos 214 Cakupan ketersediaan Poskamling di setiap RW poskamling/ RW 1,23 1,23 100,00 Satpol PP Sasaran 42: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana perkantoran pemerintahan daerah yang layak dan memadai 215 Tingkat ketersediaan sarana dan prasarana aparatur yang memadai 216 Tingkat ketersediaan pelayanan jasa rehabilitasi sarana dan prasarana aparatur (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 semua SKPD (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 semua SKPD Sasaran 43: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Transportasi serta Manajemen dan Rekayasa Lalulintas yang modern dan terpadu yang didukung oleh teknologi informasi yang canggih dan memadai 217 Tingkat ketersediaan pelayanan pengendalian kinerja simpang dan ruas jalan dengan Sistem ATCS (Area Traffic Control System) 218 Tingkat ketersediaan prasarana penunjang pengendalian simpang dan ruas jalan dalam kondisi baik (%) 40,00 40,00 100,00 Dishub (%) 50,00 50,00 100,00 Dishub 219 Tingkat ketersediaan perencanaan sarana dan prasarana penunjang pengendalian simpang dan ruas jalan (%) 50,00 50,00 100,00 Dishub
Sasaran Strategis Uraian 1 2 Indikator Kinerja OPD Satuan Target Realisasi % 3 4 5 6 7 MISI 5 : Mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman Sasaran Strategis Indikator Kinerja Uraian Satuan Target Realisasi % 1 1 2 3 4 5 6 7 Sasaran 44: Terwujudnya pemantapan dan 220 Cakupan pelayanan bencana kebakaran (%) 80,00 39,69 49,61 BPBD peningkatan upaya mitigasi, pencegahan, 221 Persentase Aparatur Pemadam Kebakaran (%) 85,00 91,08 107,15 BPBD pengendalian, dan penanganan bencana Yang Memenuhi Standar Kualifikasi serta upaya peminimalan dampak bencana 222 Tingkat penanganan wilayah/lokasi banjir (%) 38,71 38,71 100,00 BPBD 223 Tingkat koordinasi penanggulangan bencana (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 BPBD OPD Sasaran 45: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kualitas lingkungan perumahan dan permukiman penduduk yang bersih, sehat, aman, dan nyaman 224 Tingkat penanganan korban bencana (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 BPBD 225 Cakupan Kelurahan mengalami KLB yang (%) 100,00 100,00 100,00 Dinkes dilakukan penyelidikan epidemiologi < 24 jam 226 Cakupan kelurahan Universal Child Immunization (UCI) (%) 100,00 100,00 100,00 Dinkes 227 Prevalensi balita gizi kurang (BB/U) (%) 9,57 6,58 68,76 Dinkes 228 Presentase balita gizi buruk (BB/TB) (%) 0,11 0,16 147,69 Dinkes 229 Persentase tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan (%) 72,00 81,25 112,85 Dinkes 230 Presentase Sarana Industri Rumah Tangga Pangan yang Memenuhi Syarat kesehatan (%) 88,89 83,33 93,75 Dinkes 231 Persentase penanganan permukiman kumuh perkotaan 232 Cakupan ketersediaan rumah layak huni dan terjangkau bagi penduduk 233 Tingkat waktu tanggap (response time rate) daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) 234 Tingkat Ketersediaan mobil pemadam kebakaran di Atas 3.000-5.000 liter pada Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) (%) 40,00 72,00 180,00 Cikarang (%) 17,40 19,55 112,35 Cikarang (%) 75,00 52,34 69,79 BPBD (%) 92,00 117,65 127,88 BPBD
Sasaran Strategis 1 Indikator Kinerja OPD Uraian Satuan Target Realisasi % 2 3 4 5 6 7 235 Tingkat pemanfaatan Poskamling di setiap RT (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Satpol PP 236 Rasio Tempat Pemakaman Umum (TPU) per satuan penduduk m2/ 100 penduduk 24,05 23,55 97,92 DKP 237 Tingkat Tersedianya air baku untuk memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari-hari (%) 60,00 60,00 100,00 BMSDA 238 Persentase penduduk yang mendapatkan akses air minum yang aman (%) 64,60 32,20 49,85 BMSDA 239 Persentase penduduk yang terlayani sistem air limbah yang memadai (%) 2,86 11,68 408,27 BMSDA Sasaran 46: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Penataan dan Pengelolaan Ruang Wilayah Perkotaan 240 Tingkat penyelenggaraan pengawasan terhadap bangunan gedung (pemerintah dan umum) (%) 25,00 25,00 100,00 Disbang 241 Tingkat ketersediaan data mengenai pemanfaatan bangunan gedung (%) 40,00 40,00 100,00 Disbang 242 Tingkat ketersediaan perangkat kebijakan perencanaan tata ruang kota (%) 20,69 3,45 16,68 Cikarang 243 Persentase Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik/Perkotaan (%) 28,24 8,85 31,34 Cikarang 244 Tingkat sosialisasi regulasi tentang Rencana Tata Ruang Kota (%) 77,78 77,78 100,00 Cikarang 245 Tingkat ketersediaan perangkat kebijakan pengendalian pemanfaatan ruang kota (%) 16,67 16,67 100,00 Cikarang 246 Tingkat penyelenggaraan pengendalian pemanfaatan ruang (%) 30,77 30,77 100,00 Cikarang 247 Tingkat ketersediaan data mengenai pemanfaatan ruang kota (%) 25,00 25,00 100,00 Cikarang 248 Tingkat ketersediaan regulasi penataan bangunan dan lingkungan (%) 36,84 10,53 28,58 Cikarang 249 Tingkat ketersediaan, publikasi, dan pengembangan Sistem Informasi Pembina Jasa Konstruksi (SIPJK) (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Disbang
Sasaran 47: Sasaran Strategis 1 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pembangunan Ekologis (sosial, lingkungan, ekonomi) yang berorientasi pada peningkatan kualitas dan daya dukung lingkungan perkotaan Uraian 2 250 Persentase usaha dan/atau kegiatan yang mentaati persyaratan administrasi dan teknis pencegahan pencemaran air 251 Persentase jumlah usaha dan/atau kegiatan sumber tidak bergerak yang memenuhi persyaratan administratif dan teknis pencegahan pencemaran udara 252 Persentase pengaduan masyarakat akibat adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang ditindaklanjuti Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % OPD 3 4 5 6 7 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 BLH (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 BLH (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 BLH 253 Cakupan pemantauan Kualitas air sungai, Air (%) 38,62 27,27 70,60 BLH Tanah dan Situ, serta kualitas udara dan kebisingan 254 Persentase pengurangan sampah di perkotaan (%) 14,24 17,99 126,31 DKP 255 Persentase pengangkutan sampah (%) 75,00 75,00 100,00 DKP 256 Persentase pengoperasian TPA (%) 50,00 60,00 120,00 DKP 257 Tingkat pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik/Perkotaan di wilayah perkotaan (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 DKP
Sasaran 1: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem pendaftaran, penguasaan, pemilikan, penggunaan, pemanfaatan, dan penyelesaian konflik pertanahan RENCANA STRATEGIS 2014-2018 MISI 1 : Mewujudkan tata pemerintahan yang baik, akuntabel, dan transparan didukung dengan struktur birokrasi yang berintegritas, kompeten, Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan 2014 2015 2016 2017 2018 1 Tingkat pelaksanaan fasilitasi pengadaan tanah % per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 2 Tingkat pelaksanaan fasilitasi pengaduan sengketa tanah % per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 3 Tingkat ketersediaan sistem informasi tanah milik pemda % per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Target Sasaran 2 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem administrasi kependudukan dan pencatatan sipil daerah 4 Persentase Penduduk ber-ktp (%) 99,50 99,65 99,76 99,88 100,00 5 Persentase Keluarga mempunyai Kartu Keluarga (%) 81,65 85,89 90,36 95,06 100,00 6 Persentase Bayi Ber-Akta Kelahiran (%) 20,99 52,10 72,15 84,40 100,00 7 Persentase Penduduk meninggal dunia Ber-Akta Kematian (%) 81,65 85,89 90,36 95,06 100,00 Sasaran 3 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen Kepemerintahan dan Keadministrasian Umum, serta Kesejahteraan Masyarakat, yang Responsif, Koordinatif, Integratif, Sederhana, dan Sinergis Sasaran 4 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Keuangan dan Aset Daerah secara Transparan dan Akuntabel 8 Persentase Pasangan Suami-Isteri Ber-Akta Nikah (%) 15,24 36,49 65,47 86,19 100,00 9 Tingkat penataan peraturan daerah dan peraturan kepala (%) 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 daerah 10 Tingkat kelengkapan kelembagaan dan penataan keorganisasian SKPD 11 Tingkat koordinasi dan kerjasama dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah lainnya (%) 59,00 59,00 100,00 100,00 100,00 (%) 17,74 36,54 56,48 77,60 100,00 12 Tingkat kesesuaian formasi jabatan SKPD (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 13 Tingkat ketersediaan pelaporan kinerja dan keuangan SKPD (%) 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 14 Tingkat ketersediaan dokumen dan sistem pengelolaan keuangan daerah (%) 20,13 40,93 60,62 80,31 100,00 15 Tingkat ketersediaan dokumen dan sistem pengelolaan aset (%) 14,07 36,68 57,79 78,89 100,00 Sasaran 5 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pengawasan Pembangunan Daerah Sasaran 6 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Kepegawaian Daerah 16 Tingkat kenaikan pendapatan daerah (%) 13,69 6,63 7,22 7,57 7,67 17 Tingkat ketersediaan laporan hasil pemeriksaan (%) 18,51 38,04 58,69 79,35 100,00 18 Tingkat tindak lanjut laporan hasil ekspose temuan hasil pengawasan (%) 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 19 Tingkat tenaga pemeriksa yang menguasai teknik/teori pengawasan dan penilaian akuntabilitas kinerja 20 Tingkat ketersediaan kebijakan tentang sistem dan prosedur pengawasan (%) 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 (%) 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 21 Tingkat ketersediaan pelayanan administrasi kepegawaian (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 22 Tingkat ketersediaan pelayanan Pemensiunan Pegawai (%) 50,00 66,67 75,00 80,00 100,00
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target 2014 2015 2016 2017 2018 Sasaran 7 : Terwujudnya Aparatur Pemerintahan 23 Tingkat kedisiplinan aparatur pemerintah daerah (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Daerah yang Cerdas, Bermoral, Inovatif, dan Profesional 24 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana-prasarana pendukung kedisiplinan aparatur pemerintah daerah (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 25 Tingkat Penurunan Indisipliner Pegawai (%) 0,38 0,34 0,33 0,32 0,31 26 Tingkat Pelayanan Diklat Struktural Kepemimpinan (%) 16,36 34,36 54,18 76,00 100,00 27 Persentase pejabat fungsional pemerintah daerah yang telah mengikuti diklat fungsional (%) 14,95 25,26 35,33 45,41 55,96 28 Tingkat Kapasitas Sumberdaya Aparatur pemerintah daerah (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sasaran 8 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pemenuhan peralatan dan perlengkapan keadministrasian perkantoran Sasaran 9 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan kemitraan dan kerjasama yang proporsional dan profesional antara Eksekutif dengan Legislatif untuk menghasilkan Peraturan Daerah 29 Tingkat Pelayanan Penyelenggaraan Diklat Teknis dan (%) 9,18 26,33 36,14 45,44 53,15 Fungsional beserta sarana pendukungnya 30 Tingkat ketersediaan pelayanan barang pendukung (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 administrasi perkantoran 31 Tingkat ketersediaan pelayanan jasa pendukung administrasi (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 perkantoran 32 Tingkat Fasilitasi Peningkatan Kapasitas Lembaga DPRD (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 33 Tingkat Fasilitasi Pembahasan dan Persetujuan Raperda (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sasaran 10 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen Data/ Informasi Pembangunan Daerah Sasaran 11 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan berbagai kajian dan penelitian statistik pembangunan daerah Sasaran 12 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kearsipan Daerah 34 Rata-rata tingkat ketersediaan data/informasi statistik hasil pembangunan daerah 35 Rata-rata tingkat ketersediaan kajian, penelitian, dan pengembangan strategis 36 Tingkat ketersediaan sistem dan pedoman penyelenggaraan kearsipan yang handal, dinamis, komprehensif dan terpadu (%) 17,37 36,67 56,06 75,39 100,00 (%) 18,67 36,89 57,33 81,78 100,00 (%) 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 37 Tingkat ketersediaan arsip statis, bernilaiguna, dan arsip elektronik (%) 0,00 25,00 50,00 75,00 100,00 38 Tingkat pengelolaan arsip baku pada SKPD (%) 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 39 Tingkat pemeliharaan arsip dan sarana prasarana (%) 0,00 25,00 50,00 75,00 100,00 pendukungnya 40 Persentase terpenuhinya kebutuhan informasi kearsipan (%) 0,00 25,00 50,00 75,00 100,00 41 Persentase pelaksanaan kegiatan peningkatan SDM Kearsipan yang berkualitas (%) 15,38 38,46 53,85 84,62 100,00
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target 2014 2015 2016 2017 2018 Sasaran 13 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi 42 Tingkat ketersediaan sistem dan jaringan komunikasi dan informasi SKPD (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Daerah Sasaran 14 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pelayanan publik dan pelayanan aparatur pemerintahan daerah secara profesional, cepat, tepat, dan akurat, dengan berbasis pada Sasaran 15 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem informasi dan aplikasi penyelenggaraan pemerintah daerah yang terintegrasi, terstandarisasi, serta memadai (berkemampuan/ berkapasitas tinggi, cepat, mudah diakses, praktis, dan aman) 43 Tingkat Pengkajian dan Penelitian Bidang Komunikasi dan Informasi (%) 25,84 42,70 61,80 80,90 100,00 44 Tingkat Kerjasama Informasi dan Media Massa (%) 27,45 44,12 62,75 81,37 100,00 45 Tingkat Pelayanan Publik yang menggunakan media informasi (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 berbasis Informasi Teknologi 46 Tingkat Integrasi Sistem Informasi dan Aplikasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah 47 Tingkat Standarisasi Sistem Informasi dan Aplikasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (%) 28,28 45,52 62,76 81,72 100,69 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 MISI 2 : Meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing tinggi Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Sasaran 16 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan keberdayaan sektor UMKM dan Koperasi sebagai pendukung kegiatan ekonomi daerah berbasis sumberdaya lokal Sasaran 17 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Investasi Daerah yang transparan serta didukung oleh iklim investasi yang kondusif 2014 2015 2016 2017 2018 48 Persentase UMKM Aktif (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 49 Persentase Koperasi Aktif (%) 56,04 61,79 68,61 83,75 83,95 50 Tingkat Pertumuhan UMKM Aktif (%) 1,59 0,99 0,98 0,97 0,96 51 Tingkat Pertumbuhan Koperasi Aktif (%) 3,80 11,11 11,11 6,17 10,00 52 Tingkat pertumbuhan investasi daerah (%) 10,00 10,00 10,00 10,00 10,00 53 Tingkat pelaksanaan fasilitasi kerjasama kemitraan iinvestasi kali/tahun 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 54 Tingkat penyelenggaraan promosi peluang investasi daerah kali/tahun 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 55 Tingkat ketersediaan Sistem Informasi Pelayanan Investasi Daerah (%) 28,57 42,86 57,14 71,43 100,00 56 Tingkat Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) (%) 43,00 45,00 47,00 49,00 61,00 57 Persentase Bangunan yang mempunyai Izin Mendirikan (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Bangunan (IMB) 58 Tingkat pelayanan Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 59 Tingkat pelayanan waktu pengurusan Izin Usaha Jasa (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Konstruksi (IUJK) Target
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target 2014 2015 2016 2017 2018 Sasaran 18 : Terwujudnya pemantapan dan 60 Tingkat Ketersediaan Energi Per Kapita (%) 80,00 90,00 90,00 90,00 90,00 pengembangan Sistem Ketahanan Pangan Daerah yang 61 Tingkat Ketersediaan Protein Per Kapita (%) 80,00 90,00 90,00 90,00 90,00 meliputi Ketersediaan, Distribusi, Konsumsi, 62 Tingkat Penguatan Cadangan Pangan Daerah (%) 50,00 60,00 60,00 60,00 60,00 Kewaspadaan, dan Kemasyarakatan 63 Tingkat Ketersediaan Informasi Pasokan, Harga dan Akses (%) 0,00 60,00 80,00 100,00 100,00 Pangan di Daerah Sasaran 19: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan agribisnis serta budidaya pertanian dan peternakan yang berorientasi pada intensifikasi pertanian Sasaran 20: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Kepariwisataan Daerah Sasaran 21: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan intensifikasi budidaya perikanan darat 64 Tingkat Stabilitasi Harga Pangan (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 65 Tingkat Stabilitasi Pasokan Pangan (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 66 Capaian Peningkatan Pangan Skor Pola Pangan Harapan (PPH) (%) 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 67 Tingkat Pengawasan dan Pembinaan Keamanan Pangan Daerah (%) 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 68 Tingkat Penanganan Daerah Rawan Pangan Daerah (%) 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 69 Tingkat Produktivitas Pertanian (%) 2,04 2,08 2,13 2,17 2,21 70 Tingkat produksivitas peternakan (%) per tahun 20,00 20,00 20,00 20,00 20,00 71 Tingkat pemasaran hasil produksi pertanian (%) 5,00 5,12 5,25 5,37 5,51 72 Tingkat pemasaran hasil produksi ternak sapi potong di wilayah Kota Tangerang (%) 80,00 72,86 80,00 80,00 80,00 73 Angka prevalensi penyakit zoonosis (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 74 Tingkat pemasaran obyek wisata daerah (%) 33,33 50,00 66,67 83,33 100,00 75 Tingkat kenaikan kunjungan wisatawan ke obyek wisata daerah (%) 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 76 Tingkat perkembangan destinasi pariwisata daerah (%) 0,00 40,00 60,00 80,00 100,00 77 Tingkat perkembangan Jenis kelas dan jumlah Hotel (%) 95,00 95,23 95,24 95,24 100,00 78 Persentase kenaikan produksi ikan (%) 92,73 94,55 96,36 98,18 100,00 79 Cakupan bina kelompok peternak ikan (%) 30,95 33,33 59,52 80,95 100,00 80 Tingkat pengolahan dan pemasaran produksi perikanan (%) 66,47 72,45 78,97 86,08 93,83 Sasaran 22: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perdagangan Daerah dan peningkatan perlindungan konsumen Sasaran 23: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perindustrian Daerah dan peningkatan kapasitas industri kecil dan menengah 81 Tingkat pembinaan Pedagang Kaki Lima (PKL) (%) 1,02 2,12 3,82 3,82 3,82 82 Tingkat perlindungan konsumen (%) 21,02 28,47 35,93 43,39 50,85 83 Tingkat pembinaan perdagangan dalam negeri (%) 4,00 20,00 20,00 28,00 28,00 84 Persentase industri yang memiliki Gugus Kendali Mutu (Pengukuran Standarisasi, Pengujian, dan Kualitas) (%) 8,21 7,03 7,03 7,03 7,03 85 Persentase IKM memiliki Izin Usaha Industri Kecil Melalui P-IRT dan Halal 86 Persentase industri yang telah memenuhi standar kelayakan produksi (%) 3,08 3,08 3,08 3,08 3,08 (%) 11,08 11,08 11,08 11,08 11,08 87 Tingkat Pertumbuhan Industri di Daerah (%) 1,30 1,50 1,69 1,87 2,04
Target Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan 2014 2015 2016 2017 2018 MISI 3 : Mengembangkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial demi terwujudnya masyarakat yang berdaya saing di era Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Sasaran 24: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pendidikan Daerah yang mengacu pada Sistem Pendidikan Nasional, dan berbasis kompetensi, serta berorientasi pada kebutuhan kerja Sasaran 25: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Pelayanan dan Akses Kesehatan yang berkualitas dan terjangkau 2014 2015 2016 2017 2018 88 Angka Putus Sekolah SD/MI (%) per tahun 0,02 0,02 0,01 0,01 0,01 89 Angka Putus Sekolah SMP/MTs (%) per tahun 0,09 0,07 0,06 0,04 0,02 90 Angka Putus Sekolah SMA/MA/SMK (%) per tahun 0,12 0,11 0,09 0,08 0,07 91 Angka Melek Huruf Penduduk Usia > 15 Tahun (%) per tahun 98,65 98,71 98,74 98,77 98,80 92 Angka Melanjutkan SD/MI ke SMP/MTs (%) per tahun 98,53 98,72 98,91 99,10 99,29 93 Angka Melanjutkan SMP/MTs ke SMA/SMK/MA (%) per tahun 97,74 97,93 98,11 98,30 98,49 94 Angka Kelulusan Siswa SD/MI (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 95 Angka Kelulusan Siswa SMP/MTs (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 96 Angka Kelulusan Siswa SMA/MA/SMK (%) per tahun 99,99 99,99 100,00 100,00 100,00 97 Cakupan Kelurahan Siaga Aktif (%) 50,00 85,58 90,38 95,19 100,00 98 Persentase rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) (%) 25,00 30,00 35,00 40,00 45,00 99 Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat (%) 95,12 96,34 97,56 98,78 100,00 Target Sasaran 26: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya pemberdayaan dan perlindungan anak yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan keluarga 100 Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat Kota Tangerang 101 Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat Kota Tangerang (%) 50,00 50,00 100,00 100,00 100,00 (%) 0,84 0,84 0,84 0,84 0,84 102 Cakupan pelayanan JKN (BPJS) (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 103 Presentase ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan di Puskesmas, Pustu, Pusling, dan Poliklinik (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 104 Presentase Sarana Obat dan bahan-bahan berbahaya yang memenuhi syarat (%) 89,13 91,30 91,43 92,14 92,96 105 Presentase sarana kesehatan yang memenuhi syarat (%) 61,11 65,56 67,78 71,11 80,00 106 Rasio dokter per 1.000 penduduk dokter/ 1.000 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 penduduk 107 Rasio tenaga medis per 1.000 penduduk tenaga medis/ 1.000 penduduk 108 Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan penanganan pengaduan oleh petugas terlatih di dalam unit pelayanan terpadu 109 Cakupan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan yang mendapatkan pelayanan kesehatan oleh Tenaga Kesehatan Terlatih Di Puskesmas Mampu Tatalaksana KtP/A dan PPT/PKT di Rumah Sakit 110 Cakupan layanan rehabilitasi sosial yang diberikan oleh petugas rehabilitasi sosial terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 (%) 21,09 20,54 20,00 19,46 18,91 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 22,11 21,05 20,00 18,95 17,89
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target 2014 2015 2016 2017 2018 111 Cakupan layanan bimbingan rohani yang diberikan oleh petugas bimbingan rohani terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu (%) 22,67 21,33 20,00 18,67 17,33 Sasaran 27: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap norma keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera 112 Cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan pengadilan atas kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak 113 Cakupan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Yang Mendapatkan Layanan Bantuan Hukum 114 Cakupan layanan pemulangan bagi perempuan dan anak korban kekerasan 115 Cakupan layanan reintegrasi sosial bagi perempuan dan anak korban kekerasan 116 Persentase focal point SKPD yang memiliki aktifitas di dalam perwujudan kesetaran dan keadilan gender 117 Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah daerah (%) 20,00 20,00 20,00 20,00 20,00 (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 21,09 20,54 20,00 19,46 18,91 (%) 38,10 52,38 66,67 83,33 100,00 (%) 0,60 0,60 0,60 0,60 0,60 118 Persentase partisipasi perempuan di lembaga swasta (%) 15,74 15,74 15,74 15,74 15,74 119 Cakupan Pasangan Usia Subur (PUS) yang usia istrinya < 20 (%) 103,43 105,14 106,86 108,57 108,57 tahun 120 Cakupan Pasangan Usia Subur menjadi Peserta KB aktif (%) 73,02 73,20 74,95 76,32 77,64 121 Cakupan Pasangan Usia Subur yang ingin ber-kb tidak terpenuhi (Unmet Need) (%) 14,38 15,07 15,75 16,44 17,12 122 Cakupan Anggota Bina Keluarga Balita (BKB) yang ber-kb (%) 48,08 49,04 50,00 93,27 100,00 123 Cakupan PUS Peserta KB Anggota Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) yang ber-kb 124 Rasio Petugas Lapangan Keluarga Berencana/ Penyuluh Keluarga Berencana (PLKB/PKB) di setiap kelurahan (%) 0,00 0,37 0,75 1,12 1,50 petugas/ kelurahan 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10 125 Rasio Pembantu Pembina Keluarga Berencana (PPKBD) di setiap Kelurahan 126 Cakupan penyediaan alat dan obat Kontrasepsi untuk memenuhi permintaan masyarakat di daerah 127 Cakupan penyediaan informasi data mikro keluarga di setiap Kelurahan 128 Persentase kecamatan memiliki fasilitas pelayanan konseling remaja petugas/ kelurahan 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 (%) 30,00 30,00 30,00 30,00 30,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target 2014 2015 2016 2017 2018 129 Cakupan pelayanan dan penanggulangan Narkoba, PMS termasuk HIV/AIDS di setiap kelurahan (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sasaran 28: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan perlindungan kesejahteraan sosialmasyarakat 130 Rasio pelayanan Posyandu Aktif di setiap RW posyandu/ RW 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 131 Persentase (%) PMKS skala kota yang menerima program pemberdayaan sosial melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) atau kelompok sosial ekonomi sejenis lainnya (%) 16,67 37,50 58,33 79,17 100,00 132 Jumlah KUBE yang mendapat Bantuan (%) 0,00 25,00 50,00 75,00 100,00 133 Persentase Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial (%) 25,52 49,30 72,87 96,50 100,00 134 Persentase (%) penyandang cacat, fisik, mental, serta lanjut (%) 4,06 11,48 22,96 34,44 45,92 usia tidak potensial yang telah menerima jaminan sosial Sasaran 29: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Ketenagakerjaan Daerah yang berbasis Keahlian serta berorientasi pada penciptaan dan perluasan lapangan pekerjaan Sasaran 30: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan kebudayaan daerah 135 Tingkat keikutsertaan eks penyandang penyakit sosial yang mengikuti pendidikan dan pelatihan (%) 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 136 Cakupan petugas rehabilitasi sosial yang terlatih (%) 11,11 22,22 22,22 22,22 22,22 137 Besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis (%) 33,33 50,00 56,67 60,00 63,33 kompetensi 138 Tingkat besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis kewirausahaan 139 Besaran pekerja/buruh yang menjadi peserta program Jamsostek Aktif 140 Tingkat besaran Kasus Yang Diselesaikan Dengan Perjanjian Bersama (PB) (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 58,64 60,19 61,73 62,04 62,35 (%) 39,17 45,83 50,00 54,17 58,33 141 Besaran pencari kerja terdaftar yang ditempatkan (%) 60,00 64,00 68,00 72,00 76,00 142 Besaran Pemeriksaan Perusahaan (%) 15,60 24,26 41,59 51,99 62,39 143 Besaran Pengujian Peralatan di Perusahaan (%) 66,91 70,63 78,07 81,78 85,50 144 Cakupan pelestarian benda, situs dan kawasan cagar budaya daerah (%) 56,25 68,75 81,25 93,75 100,00 145 Cakupan tempat menggelar seni, memamerkan dan memasarkan karya seni, serta mengembangkan industri seni (%) 80,00 80,00 100,00 100,00 100,00 Sasaran 31: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kepemudaan dan Keolahragaan Daerah yang mandiri dan berprestasi 146 Cakupan Penyelenggaraan Festival Seni dan budaya (%) 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 147 Cakupan Kajian Seni (%) 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 148 Persentase organisasi pemuda yang memiliki sertifikat standar mutu organisasi kepemudaan (%) 0,00 33,33 66,67 100,00 100,00 149 Cakupan fasilitasi kegiatan kepemudaan (%) 13,33 33,33 53,33 73,33 93,33 150 Persentase organisasi olahraga yang memiliki sertifikat standar (%) 0,00 25,00 50,00 75,00 100,00 mutu oraganisasi keolahragaan 151 Tingkat fasilitasi kegiatan keolahragaan daerah (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target 2014 2015 2016 2017 2018 Sasaran 32: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan 152 Cakupan peningkatan kesadaran wawasan kebangsaan pada (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 kesadaran masyarakat terhadap kesatuan, kebangsaan, Ormas, LSM, dan OKP dan kepolitikan 153 Rasio petugas dalam satuan perlindungan masyarakat (Linmas) pada setiap RT petugas/ RT 0,16 0,18 0,20 0,22 0,24 Sasaran 33: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem penegakan peraturan daerah yang manusiawi dan berkeadilan Sasaran 34: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Keberdayaan Masyarakat yang berbasis pada kebutuhan dasar dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat 154 Cakupan penyelenggaraan kemitraan dan kerjasama pemerintah daerah dengan ormas dan LSM di setiap wilayah kecamatan 155 Tingkat penyelenggaraan sosialisasi kebijakan pemerintah di bidang Politik 156 Cakupan patroli siaga ketertiban umum dan ketentraman masyarakat 157 Persentase pengawasan lokasi rawan pelanggar peraturan daerah kegiatan/ kecamatan 0,31 0,46 0,69 0,74 0,92 (%) 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 patroli/hari 1,38 2,77 4,15 5,54 6,92 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 158 Tingkat penyelesaian pelanggaran ketertiban umum (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 159 Tingkat pemberdayaan kelompok binaan lembaga (%) 19,23 38,46 57,69 78,85 100,00 pemberdayaan masyarakat (LPM) 160 Persentase peningkatan lembaga (usaha ekonomi, badan keswadayaan masyarakat, postantek) setiap kelurahan (%) 34,69 51,02 67,35 83,67 100,00 Sasaran 35: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran dan kegemaran membaca masyarakat 161 Tingkat kenaikan kunjungan masyarakat ke perpustakaan daerah 162 Tingkat kenaikan anggota perpustakaan, taman bacaan, klub buku, dll. 163 Tingkat koleksi dan jenis buku yang tersedia di perpustakaan daerah (%) 6,00 6,12 6,25 6,37 6,50 (%) 21,62 29,33 16,83 13,38 13,41 (%) 76,09 73,48 69,64 67,53 65,64 164 Tingkat keberadaan Perpustakaan Digital (%) 51,67 61,67 66,67 78,33 86,67 165 Tingkat kelengkapan sistem layanan perpustakaan daerah (%) 9,57 11,42 12,35 14,51 16,05
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan MISI 4 : Meningkatkan pembangunan sarana perkotaan yang memadai dan berkualitas Target 2014 2015 2016 2017 2018 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target 2014 2015 2016 2017 2018 Sasaran 36: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem perencanaan-penganggaran, 166 Rata-rata tingkat koordinasi/kerjasama perencanaan pembangunan daerah dalam semua aspek pembangunan (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 pengendalian, dan evaluasi-pelaporan yang partisipatif, koordinatif dan integratif, serta berbasis data/informasi 167 Tingkat ketersediaan dan implementasi peraturan/regulasi dan berorientasi pada sektoral dan kewilayahan Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah (SPPD) serta berbagai aturan pendukungnya (%) 42,86 71,43 100,00 100,00 100,00 168 Tingkat Ketersediaan, Pengelolaan, Pengolahan, dan Publikasi Data/Informasi Perencanaan Pembangunan Daerah (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 169 Tingkat ketersediaan dokumen utama perencanaanpenganggaran dan evaluasi-pelaporan pelaksanaan pembangunan daerah yang didukung kajian teknokratis serta dipublikasikan 170 Tingkat kapasitas dan kompetensi Dasar, Teknis, dan Operasional Aparatur Perencanaan Pembangunan Daerah (%) 21,27 40,39 59,51 78,63 100,00 (%) 33,33 50,00 66,67 83,33 100,00 Sasaran 37: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan sarana-prasarana kependidikan, kebudayaan, dan kepustakaan yang layak dan memadai 171 Tingkat peranserta/partisipasi kelompok masyarakat sebagai pemangku kepentingan pembangunan daerah 172 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana prasarana pendidikan PAUD yang layak dan memadai 173 Tingkat ketersedian sarana prasarana kebutuhan Pendidikan Dasar yang layak dan memadai 174 Tingkat ketersedian sarana prasarana kebutuhan Pendidikan Menengah yang layak dan memadai (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 (%) 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 (%) 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 175 Partisipasi Anak Bersekolah (PAB) SD/MI (%) per tahun 92,88 93,81 94,75 95,69 96,65 176 Partisipasi anak Bersekolah (PAB) SMP/MTs (%) per tahun 95,94 96,90 97,87 98,85 99,84 177 Partisipasi Anak Bersekolah (PAB) SMA/MA (%) per tahun 76,22 76,99 77,76 78,53 79,32 178 Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A (%) per tahun 88,09 88,93 89,78 99,01 91,50 179 Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B (%) per tahun 64,52 65,13 65,75 66,38 67,01 180 Angka Partisipasi Murni (APM) SMA/SMK/MA/Paket C (%) per tahun 77,74 78,48 79,23 80,62 80,74 181 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan Sarana dan Prasarana untuk guru, kepala sekolah, dan staf kependidikan lainnya dalam satuan pendidikan dasar (%) 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 182 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan Sarana dan Prasarana untuk guru, kepala sekolah, dan staf kependidikan lainnya dalam satuan pendidikan menengah (%) 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 183 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana dan prasarana kesenian dan kebudayaan daerah (%) 56,25 68,75 81,25 93,75 100,00
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target 2014 2015 2016 2017 2018 184 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana dan prasarana (%) 38,34 39,56 40,13 40,50 41,98 pepustakaan daerah 185 Cakupan perpustakaan dan taman bacaan di setiap kecamatan buah/ kecamatan 24,00 24,00 25,00 25,00 25,00 Sasaran 38: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan sarana-prasarana kesehatan yang layak dan memadai Sasaran 39: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan penyediaan sarana-prasarana kebinamargaan, dan keciptakaryaan daerah yang layak dan memadai 186 Persentase puskesmas, puskesmas pembantu dan jaringannya dengan kondisi sarana dan prasarana memadai 187 Cakupan Ketersediaan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di setiap RW 188 Cakupan Ketersediaan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu di setiap Kecamatan (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 posyandu/ RW 1,06 1,06 1,06 1,06 1,06 puskesmas/ kecamatan 189 Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per 1.000 penduduk buah/1.000 penduduk 190 Tingkat ketersediaan sarana prasarana kesehatan di Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-Paru/Rumah Sakit Mata yang layak dan memadai 191 Tingkat pemeliharaan sarana prasarana kesehatan di Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-Paru/Rumah Sakit Mata yang layak dan memadai 1,92 1,92 1,92 1,92 1,92 0,040 0,038 0,036 0,035 0,035 (%) 21,57 41,18 60,78 80,39 100,00 (%) 14,29 35,71 57,14 78,57 100,00 192 Persentase kondisi jalan kota yang baik dan sedang (%) 98,00 98,01 98,02 98,03 98,03 193 Persentase keterhubungan pusat-pusat kegiatan dan pusatpusat (%) 92,21 93,96 96,26 99,49 100,00 produksi di wilayah kota 194 Persentase cakupan pelayanan sistem drainase perkotaan (%) 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 Sasaran 40: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan penyediaan perlengkapan saranaprasarana transportasi dan kelalulintasan yang layak, memadai, dan terpadu 195 Tingkat pengurangan luas genangan (%) 23,88 43,28 61,19 80,60 100,00 196 Tingkat pembangunan turap di wilayah aliran sungai yang (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 rawan longsor lingkup kewenangan kota 197 Tingkat ketersediaan angkutan umum yang melayani wilayah kota yang telah tersedia jaringan jalan 198 Tingkat ketersediaan angkutan umum yang melayani jaringan trayek penghubung antar wilayah (%) 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 (%) 25,00 25,00 50,00 75,00 100,00 199 Tingkat ketersediaan koridor angkutan umum massal (%) 0,00 20,00 40,00 60,00 100,00 200 Tingkat ketersediaan dokumen perencanaan angkutan (%) 30,95 47,62 66,67 83,33 100,00 201 Tingkat Ketersediaan Prasarana Angkutan yang terpelihara (%) 17,31 17,31 19,87 21,47 24,04 202 Tingkat ketersediaan sarana dan prasarana perhubungan (%) 22,39 41,79 61,69 80,10 100,00 203 Tingkat ketersediaan fasilitas perleng-kapan jalan (rambu, marka, dan guardrill) pada jalan di wilayah kota 204 Tingkat ketersediaan fasilitas Penerangan Jalan Umum (PJU) pada berbagai jenis jalan di wilayah kota (%) 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 (%) 51,56 63,68 75,81 87,93 100,00
Target Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan 2014 2015 2016 2017 2018 205 Tingkat ketersediaan unit pengujian kendaraan bermotor buah/ 4.000 7,50 21,50 36,00 50,88 66,13 Sasaran 41: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan ketersediaan sarana dan prasarana Perekonomian dan Sosial-Kemasyarakatan yang layak dan memadai Sasaran 42: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana perkantoran pemerintahan daerah yang layak dan memadai Sasaran 43: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Transportasi serta Manajemen dan Rekayasa Lalulintas yang modern dan terpadu yang didukung oleh teknologi informasi yang canggih dan memadai 206 Tingkat ketersediaan standar keselarnatan bagi angkutan urnurn yang rnelayani trayek di dalarn Kota 207 Persentase panti sosial skala kota yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial 208 Persentase wahana kesejahteraan sosial berbasis masyarakat (WKBSM) yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial (%) 11,34 32,51 54,44 76,94 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 0,00 51,83 76,30 101,05 102,83 209 Tingkat Pengembangan Balai Latihan Kerja Daerah (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 210 Cakupan ketersediaan pasar tradisional daerah di setiap pasar/ kecamatan 2,38 2,38 2,38 2,38 2,38 kecamatan 211 Tingkat pembinaan pasar/toko modern dan pasar tradisional daerah (%) 4,00 24,00 44,00 56,00 68,00 212 Cakupan gedung olahraga di setiap kecamatan gedung/ kecamatan 1,38 1,46 1,54 1,54 1,62 213 Tingkat Ketersediaan Panti Asuhan/Panti Jompo (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 214 Cakupan ketersediaan Poskamling di setiap RW poskamling/ RW 1,23 1,23 1,23 1,23 1,23 215 Tingkat ketersediaan sarana dan prasarana aparatur yang memadai (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 216 Tingkat ketersediaan pelayanan jasa rehabilitasi sarana dan prasarana aparatur 217 Tingkat ketersediaan pelayanan pengendalian kinerja simpang dan ruas jalan dengan Sistem ATCS (Area Traffic Control System) 218 Tingkat ketersediaan prasarana penunjang pengendalian simpang dan ruas jalan dalam kondisi baik (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 (%) 33,33 50,00 66,67 83,33 100,00 219 Tingkat ketersediaan perencanaan sarana dan prasarana penunjang pengendalian simpang dan ruas jalan (%) 50,00 50,00 50,00 100,00 100,00
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan MISI 5 : Mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Sasaran 44: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya mitigasi, pencegahan, pengendalian, dan penanganan bencana serta upaya peminimalan dampak bencana Sasaran 45: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kualitas lingkungan perumahan dan permukiman penduduk yang bersih, sehat, aman, dan nyaman Target 2014 2015 2016 2017 2018 2014 2015 2016 2017 2018 220 Cakupan pelayanan bencana kebakaran (%) 80,00 80,00 80,00 80,00 80,00 221 Persentase Aparatur Pemadam Kebakaran Yang Memenuhi Standar Kualifikasi (%) 70,00 85,00 85,00 85,00 85,00 222 Tingkat penanganan wilayah/lokasi banjir (%) 19,35 38,71 58,06 77,42 100,00 223 Tingkat koordinasi penanggulangan bencana (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 224 Tingkat penanganan korban bencana (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 225 Cakupan Kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi < 24 jam (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 226 Cakupan kelurahan Universal Child Immunization (UCI) (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 227 Prevalensi balita gizi kurang (BB/U) (%) 9,75 9,57 9,39 9,21 9,00 228 Presentase balita gizi buruk (BB/TB) (%) 0,12 0,11 0,10 0,09 0,08 229 Persentase tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan (%) 70,00 72,00 75,00 78,00 80,00 230 Presentase Sarana Industri Rumah Tangga Pangan yang Memenuhi Syarat kesehatan (%) 88,75 88,89 90,00 90,00 90,83 231 Persentase penanganan permukiman kumuh perkotaan (%) 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 Target 232 Cakupan ketersediaan rumah layak huni dan terjangkau bagi penduduk 233 Tingkat waktu tanggap (response time rate) daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) 234 Tingkat Ketersediaan mobil pemadam kebakaran di Atas 3.000-5.000 liter pada Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) (%) 12,03 17,40 22,77 28,14 33,51 (%) 75,00 75,00 75,00 75,00 75,00 (%) 90,00 92,00 95,00 97,00 100,00 235 Tingkat pemanfaatan Poskamling di setiap RT (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 236 Rasio Tempat Pemakaman Umum (TPU) per satuan penduduk m2/ 100 penduduk 24,82 24,05 23,31 22,59 21,89 Sasaran 46: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Penataan dan Pengelolaan Ruang Wilayah Perkotaan 237 Tingkat Tersedianya air baku untuk memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari-hari 238 Persentase penduduk yang mendapatkan akses air minum yang aman 239 Persentase penduduk yang terlayani sistem air limbah yang memadai 240 Tingkat penyelenggaraan pengawasan terhadap bangunan gedung (pemerintah dan umum) 241 Tingkat ketersediaan data mengenai pemanfaatan bangunan gedung 242 Tingkat ketersediaan perangkat kebijakan perencanaan tata ruang kota (%) 50,00 60,00 70,00 80,00 90,00 (%) 58,09 64,60 71,55 78,00 83,99 (%) 2,57 2,86 3,49 3,84 4,20 (%) 12,50 25,00 50,00 75,00 100,00 (%) 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 (%) 0,00 20,69 44,83 51,72 100,00
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target 2014 2015 2016 2017 2018 243 Persentase Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) (%) 28,24 28,24 28,24 28,24 28,24 Publik/Perkotaan 244 Tingkat sosialisasi regulasi tentang Rencana Tata Ruang Kota (%) 72,22 77,78 83,33 94,44 100,00 245 Tingkat ketersediaan perangkat kebijakan pengendalian pemanfaatan ruang kota (%) 0,00 16,67 50,00 83,33 100,00 246 Tingkat penyelenggaraan pengendalian pemanfaatan ruang (%) 7,69 30,77 53,85 76,92 100,00 247 Tingkat ketersediaan data mengenai pemanfaatan ruang kota (%) 8,33 25,00 50,00 75,00 100,00 Sasaran 47: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pembangunan Ekologis (sosial, lingkungan, ekonomi) yang berorientasi pada peningkatan kualitas dan daya dukung lingkungan perkotaan 248 Tingkat ketersediaan regulasi penataan bangunan dan lingkungan 249 Tingkat ketersediaan, publikasi, dan pengembangan Sistem Informasi Pembina Jasa Konstruksi (SIPJK) 250 Persentase usaha dan/atau kegiatan yang mentaati persyaratan administrasi dan teknis pencegahan pencemaran air 251 Persentase jumlah usaha dan/atau kegiatan sumber tidak bergerak yang memenuhi persyaratan administratif dan teknis pencegahan pencemaran udara (%) 15,79 36,84 57,89 78,95 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 252 Persentase pengaduan masyarakat akibat adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang ditindaklanjuti 253 Cakupan pemantauan Kualitas air sungai, Air Tanah dan Situ, serta kualitas udara dan kebisingan (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 18,74 38,62 58,73 79,06 100,00 254 Persentase pengurangan sampah di perkotaan (%) 13,38 14,24 15,26 15,27 15,22 255 Persentase pengangkutan sampah (%) 74,99 75,00 75,00 74,99 75,00 256 Persentase pengoperasian TPA (%) 45,00 50,00 55,00 60,00 65,00 257 Tingkat pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik/Perkotaan di wilayah perkotaan (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00