PEMERINTAH KOTA TANGERANG
|
|
|
- Sudirman Kusumo
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 DAFTAR ISI BUKU II (JILID 1) KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... ix RINGKASAN EKSEKUTIF... x BAB 1. PENDAHULUAN Latar Belakang Bidang Kewenangan Kondisi Makro Ekonomi Posisi Stratejik Kota Tangerang Geografis Demografis Indeks Pembangunan Manusia Struktur Organisasi Sistematika LKIP BAB 2. PERENCANAAN KINERJA Rencana Strategis Visi Misi Tujuan Sasaran Prioritas Pembangunan Tahun Rencana Kerja Dan Perjanjian Kinerja iii
2 DAFTAR ISI BAB 3. AKUNTABILITAS KINERJA TAHUN Capaian Kinerja Organisasi Tahun Metodologi Pengukuran Pencapaian Kinerja Evaluasi Pencapaian Sasaran Dan Pengukuran Kinerja Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran iv
3 DAFTAR ISI Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Sasaran Realisasi Anggaran BAB 4. PENUTUP LAMPIRAN v
4 BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Orientasi penyelenggaraan pemerintahan daerah telah lama bergeser sejak tahun 2001 pada masa otonomi daerah dari ketergantungan pada pemerintah pusat kepada kemampuan pemerintah daerah itu sendiri dalam membangun daerah menuju kesejahteraan masyarakat. Penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan akan dapat dikatakan berhasil jika mampu mewujudkan aspirasi dan tuntutan masyarakat dalam mencapai tujuan serta cita-cita yang diharapkan dengan menerapkan penyelenggaraan good governance. Di samping itu diperlukan suatu sistem pertanggungjawaban yang tepat, jelas, terukur, dan legitimate. Good governance yang dimaksud adalah merupakan proses penyelenggaraan kekuasaan negara dalam melaksanakan penyediaan public goodand services disebut governance (pemerintahan atau kepemerintahan), sedangkan praktek terbaiknya disebut good governance (kepemerintahan yang baik). Agar good governance dapat menjadi kenyataan dan berjalan dengan baik, maka dibutuhkan komitmen dan keterlibatan semua pihak yaitu pemerintah, private sector dan masyarakat. Good governance yang efektif menuntut adanya alignment (koordinasi) yang baik dan integritas, profesional serta etos kerja dan moral yang tinggi, dengan demikian penerapan konsep good governance penyelenggaraan kekuasaan pemerintah negara merupakan tantangan tersendiri. Terselenggaranya good governance merupakan prasyarat utama untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dalam mencapai tujuan dan cita-cita bangsa dan negara. Dalam rangka hal tersebut, diperlukan pengembangan dan penerapan sistem pertanggungjawaban yang tepat, jelas, dan nyata sehingga penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan dapat berlangsung secara berdaya guna, berhasil guna, bersih dan bertanggung jawab serta bebas KKN. Perlu diperhatikan pula adanya mekanisme untuk meregulasi akuntabilitas pada setiap instansi pemerintah dan memperkuat peran dan kapasitas parlemen, serta tersedianya akses yang sama bagi BAB I Pendahuluan 1-1
5 masyarakat luas akan ketersediaan informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan maupun pembangunan. Konsep dasar akuntabilitas didasarkan pada klasifikasi responsibilitas manajerial pada tiap lingkungan dalam organisasi yang bertujuan untuk pelaksanaan kegiatan pada tiap bagian. Masing-masing individu pada setiap jajaran aparatur bertanggung jawab atas kegiatan yang dilaksanakan pada bagiannya. Konsep inilah yang membedakan adanya kegiatan yang terkendali ( controllable activities) dengan kegiatan yang tidak terkendali ( uncontrollable activities). Kegiatan yang terkendali merupakan kegiatan yang secara nyata dapat dikendalikan oleh seseorang atau suatu pihak. Ini berarti, kegiatan tersebut benar-benar direncanakan, dilaksanakan dan dinilai hasilnya oleh pihak yang berwenang. Akuntabilitas didefinisikan sebagai suatu perwujudan kewajiban untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui media pertanggungjawaban yang dilaksanakan secara periodik. Dalam dunia birokrasi, akuntabilitas instansi pemerintah merupakan perwujudan kewajiban instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan misi instansi yang bersangkutan. Sejalan dengan hal tersebut, telah ditetapkan TAP MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih Dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme serta Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelengaraan Negara Yang Bersih Dan Bebas Dari Korupsi, Kolusi Dan Nepotisme. Berikutnya, sebagai kelanjutan dari produk hukum tersebut diterbitkan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP). Setelah berlakunya Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, maka Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 setiap Pemerintah Daerah diminta untuk menyampaikan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) kepada Gubernur, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Menteri Pedayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dan Menteri Dalam Negeri palang lambat 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir, sebagai perwujudan kewajiban suatu Instansi Pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan misi organisasi BAB I Pendahuluan 1-2
6 dalam mencapai tujuan-tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik setiap akhir anggaran. Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) dibuat dalam rangka perwujudan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas pokok dan fungsi serta pengelolaan sumber daya dan pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada setiap Instansi Pemerintah, berdasarkan suatu sistem akuntabilitas yang memadai. LKIP juga berperan sebagai alat kendali, alat penilai Kinerja dan alat pendorong terwujudnya good governance. Dalam perspektif yang lebih luas, maka LKIP berfungsi sebagai media pertanggungjawaban kepada publik. Semua itu memerlukan dukungan dan peran aktif seluruh lembaga pemerintahan pusat dan daerah serta partisipasi masyarakat. Bertitik tolak dari RPJMD 2018, Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Tangerang dan Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah serta memperhatikan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah, penyusunan LKIP Tahun 2014 berisi ikhtisar pencapaian sasaran sebagaimana yang ditetapkan dalam dokumen perjanjian kinerja dan dokumen perencanaan. Pencapaian sasaran tersebut disajikan berupa informasi mengenai pencapaian sasaran RPJMD, realisasi pencapaian indikator sasaran disertai dengan penjelasan yang memadai atas pencapaian kinerja dan pembandingan capaian indikator kinerja, dengan demikian, Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang yang menjadi laporan kemajuan penyelenggaraan pemerintahan oleh Walikota kepada Presiden ini telah disusun dan dikembangkan sesuai peraturan yang berlaku. Realisasi yang dilaporkan dalam LKIP ini merupakan hasil pencapaian sasaran pada Tahun Pelaksanaan penyusunan LKIP Pemerintah dengan memperhatikan kepada peraturan perundang-undangan yang melandasi pelaksanaan LKIP, yaitu : 1. TAP MPR No.XI/MPR/1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Kolusi, Korupsi dan Nepotisme; 2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah; 3. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah; BAB I Pendahuluan 1-3
7 4. Undang-Undang Nomor 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Kolusi, Korupsi dan Nepotisme; 5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah; 6. Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah; 7. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dan diubah kembali dengan Peraturan Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang perubahan kedua atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; 8. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah; 9. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentangpelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, Dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah; 10. Peraturan Daerah Kota Tangerang Nomor 1 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Kota Tangerang; 11. Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2008 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah; 12. Peraturan Daerah 3 Tahun 2008 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Sekretariat Daerah; 13. Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Sekretariat Dewan Perwakilan Daerah; 14. Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2008 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Dinas Daerah; 15. Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Lembaga Teknis Daerah; BAB I Pendahuluan 1-4
8 16. Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Kecamatan dan Kelurahan; 17. Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2013 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tahun Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah -2018; 19. Peraturan Walikota Tangerang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Walikota Nomor 15 Tahun 2013 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun BIDANG KEWENANGAN Sebagai pelaksanaan ketentuan Undang-undang Nomor23 Tahun 2004 tentangpemerintahan Daerah Pasal 11 bahwa kewenangan Daerahterdiri atas Urusan Pemerintahan Wajib dan UrusanPemerintahan Pilihan. Urusan Pemerintahan Wajib terdiri atas Urusan Pemerintahan yang berkaitandengan Pelayanan Dasar dan Urusan Pemerintahan yangtidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar. Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan denganpelayanan Dasar meliputi:: a. pendidikan; b. kesehatan; c. pekerjaan umum dan penataan ruang; d. perumahan rakyat dan kawasan permukiman; e. ketenteraman, ketertiban umum, dan pelindungan f. masyarakat; dan g. sosial. Sedangkan Urusan Pemerintahan Wajib yang tidak berkaitan denganpelayanan Dasar meliputi: a. tenaga kerja; b. pemberdayaan perempuan dan pelindungan anak; c. pangan; d. pertanahan; e. lingkungan hidup; f. administrasi kependudukan dan pencatatan sipil; g. pemberdayaan masyarakat dan Desa; BAB I Pendahuluan 1-5
9 h. pengendalian penduduk dan keluarga berencana; i. perhubungan; j. komunikasi dan informatika; k. koperasi, usaha kecil, dan menengah; l. penanaman modal; m. kepemudaan dan olah raga; n. statistik; o. persandian; p. kebudayaan; q. perpustakaan; dan r. kearsipan. Urusan pemerintahan kabupaten/kota yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan, dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. Urusan pilihan yang dilaksanakan di Kota Tangerang, meliputi: Kelautan Dan Perikanan, Pertanian, Pariwisata, Industri, dan Perdagangan. 1.3 KONDISI MAKRO EKONOMI Ekonomi makro daerah menunjukkan kinerja makro ekonomi yang telah terjadi akibat proses pembangunan di suatu perekonomian. Makro ekonomi memuat faktorfaktor fundamental ekonomi yang memberikan kontribusi terhadap agregat ekonomi makro berdasarkan penggunaan sektor lapangan usaha. Dari indikator ini diharapkan dapat mencerminkan kinerja Kota Tangerang selama beberapa tahun belakangan ini. Stabilitas perekonomian, percepatan pertumbuhan ekonomi, percepatan pengurangan pengangguran dan kemiskinan, kemandirian fiskal daerah, serta stabilitas keamanan, ketertiban, ketentraman, dan kenyamanan merupakan indikator-indikator yang relatif relevan terhadap kondisi makro ekonomi Kota Tangerang. Struktur perekonomian Kota Tangerang yang masih didominasi oleh tiga sektor, yaitu: sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran serta serta pengangkutan dan komunikasi. Kondisi ekonomi makro tidak terlepas dari faktor inflasi. Secara sederhana inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Kebalikan dari inflasi disebut deflasi. Indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat inflasi adalah Indeks Harga Konsumen (IHK) dengan melihat pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat Kota Tangerang. BAB I Pendahuluan 1-6
10 Gambaran secara umum perkembangan laju inflasi Kota Tangerang dalam kurun waktu empat tahun ( ) dapat dilihat pada Tabel 1.1. Tabel 1.1. Laju Inflasi Kota Tangerang Tahun Inflasi (%) Kota Tangerang Provinsi Banten Nasional ,49 2,99 2, ,08 6,10 6, ,78 3,45 3, ,44 4,37 4, ,02 9,65 8, ,03 10,20 8,36 Sumber: BPS Kota Tangerang, 2015 Pada Tahun 2014 laju inflasi yang terjadi di Kota Tangerang meningkat dari tahun sebelumnya, yaitu dari 10,02% menjadi 10,03% lebih rendah dari inflasi Provinsi Banten namun lebih tinggi dibanding inflasi nasional. Adapun faktor-faktor penyebab terjadinya kenaikan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Pada Tahun 2014 terjadi karena ada kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM subsidi, yang menyebabkan kenaikan tarif angkutan dalam kota; 2. Adanya kebijakan perbankan, yang mengeluarkan aturan mengenai kenaikan biaya transaksi tarik tunai, cek saldo antar bank, administrasi kartu ATM; 3. Angka inflasi di Kota Tangerang sangat dipengaruhi harga bahan makanan pokok (volatile food prices). Tidak lancarnya distribusi pangan ke Kota Tangerang meningkatkan biaya perjalanan ( distribution cost) dan biaya resiko ( risk cost) spekulasi pasar; 4. Kenaikan tingkat harga barang impor karena semakin melemahnya nilai rupiah. Bila terjadi depresiasi rupiah yang cukup tajam terhadap mata uang asing, maka akan menyebabkan bertambah beratnya beban biaya yang harus ditanggung oleh produsen, baik itu untuk pembayaran bahan baku dan barang perantara ataupun beban hutang luar negeri akibat ekspansi usaha yang telah dilakukan. Hal ini menyebabkan harga jual output di dalam negeri (khususnya untuk industri subtitusi impor) akan meningkat tajam, sehingga potensial meningkatkan derajat inflasi di dalam negeri; 5. Adanya kenaikan tingkat upah tenaga kerja yang tidak diimbangi oleh peningkatan produktifitasnya. Kenaikan upah tenaga kerja menyebabkan biaya produksi meningkat sehingga memicu kenaikan harga jual di dalam negeri. Terlebih lagi jika tidak diimbangi oleh peningkatan produktifitas dengan peningkatan jumlah BAB I Pendahuluan 1-7
11 produksi. Jika kelangkaan produksi dan/atau juga termasuk adanya kelangkaan distribusi terjadi kenaikan harga juga tidak bisa dielakkan. Selain Kota Tangerang, kota lain di Provinsi Banten yang melakukan penghitungan inflasi yaitu Kota Serang dan Kota Cilegon (Tabel 1.2). Bila diperhatikan menurut data inflasi, selama Tahun 2014 Kota Tangerang lebih tinggi dibandingkan Kota Cilegon dan dan lebih rendah dari Kota Serang. Tabel 1.2. Laju Inflasi Perkotaan Banten Tahun (persen) Kota Serang 6,18 2,78 4,41 9,16 11,27 Tangerang 6,08 3,78 4,44 10,02 10,03 Cilegon 6,12 2,35 3,91 7,98 9,93 Sumber: BPS Provinsi Banten, 2015 Pertumbuhan Ekonomi Salah satu variabel penting dari PDRB adalah Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE).LPE didapat dengan membandingkan PDRB atas dasar harga konstan tiap tahun dengantahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan perkembangan atau pertumbuhanriil perekonomian, atau dapat menggambarkan kinerja pembangunan dari suatu periode keperiode sebelumnya. Selain PDRB dapat menunjukkan LPE, juga menginformasikan strukturperekonomian daerah. Struktur perekonomian tersebut menggambarkan kontribusi sektor-sektorekonomi terhadap perekonomian secara makro. Prioritas pembangunan melaluikerangka kebijakan pembangunan daerah dapat dengan mudah dilaksanakan denganmempertimbangkan struktur perekonomian. Manfaat lain dari informasi struktur perekonomian ini adalah keterbandingan kekuatan ekonomi baik antar sektor ekonomimaupun antar wilayah kecamatan di Kota Tangerang. Pertumbuhan yang cukup tinggi belum menjamin meningkatnya kesejahteraanmasyarakat karena perumbuhan penduduk melebihi tingkat pertumbuhan ekonomi makakesejahteraan masyarakat akan menurun. Namun demikian, dengan mengamati pertumbuhan PDRB per kapita dapat dipakai untuk menunjukkan perkembangankemakmuran dan kesejahteraan suatu daerah. Meningkatnya PDRB per kapita yangditerima penduduk, maka daya beli ( purchasing power) masyarakat akan bertambah,sehingga kebutuhan rumah tangganya ( demand) terhadap barang dan jasa BAB I Pendahuluan 1-8
12 akan terpenuhi.demand yang diikuti purchasing power, akan mengakibatkan kesejahteraan masyarakatmeningkat. Perekonomian akan mengalami pertumbuhan apabila total output produksi barangdan jasa tahun tertentu lebih besar daripada tahun sebelumnya. Oleh karena demikian,pertumbuhan ekonomi ini menggambarkan perkembangan aktivitas ekonomi dalam kurunwaktu tertentu. Adapun peningkatan output produksi barang dan jasa tersebut terjadiapabila terdapat peningkatan permintaan baik oleh masyarakat daerah tersebut atau luardaerah. Pertumbuhan ekonomi Kota Tangerang pada Tahun 2014diperkirakan melambat dibanding tahun 2013, haltersebut dapat dilihat dari Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Tangerangsebesar 5,03% yang lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Dan LPE Kota Tangerang diperkirakan masih lebih tinggi dibanding nasional, namun lebih rendah dari LPE Provinsi Banten. Tabel 1.3. Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Tangerang, Provinsi Banten dan Nasional Tahun Tahun *) Kota Tangerang 5,74% 6,66% 6,85% 6,42% 5,91% 5,03% Provinsi Banten 4,71% 6,11% 6,38% 6,15% 6,04% 5,47% Nasional 4,63% 6,22% 6,49% 6,26% 5,58% 5,02% Sumber: BPS, 2015 *) LPE hasil proyeksi (data diolah) Kemandirian Fiskal Daerah. Tingkat ketergantungan daerah terhadap pusat masih cukup tinggi. Hal ini ditandai dengan relatif masih rendahnya proporsi pendapatan daerah terhadap pendapatan yang diterima dari pemerintah yang lebih tinggi (pusat provinsi). Kondisi ini menuntut Pemerintah Kota Tangerang untuk semakin besar mengambil peran dan semakin lebih kreatif inovatif dalam upaya intensifikasi dan ekstensifikasi sumbersumber pendapatan daerah (PAD). Selain itu, Pemerintah Kota Tangerang juga lebih memperhatikan dan mengintensifkan berbagai upaya untuk meningkatkan nilai tambah sektor-sektor Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang akan memberikan konsekuensi logis bagi peningkatan potensi penerimaan asli daerah (PAD). Namun demikian, upaya kreativitasi, inovatisasi, intensifikasi, dan ekstentifikasi yang dilaksanakan Pemerintah Kota Tangerang pada Tahun 2014 tersebut harus senantiasa berada pada koridor hukum yang berlaku, dalam arti bahwa upaya kreativitasi, inovatisasi, intensifikasi, dan ekstentifikasi harus tetap memperhatikan norma-norma dan aturan-aturan yang berlaku agar upaya untuk menuju kemandirian BAB I Pendahuluan 1-9
13 fiskal tidak menimbulkan implikasi negatif pada masyarakat secara umum atau pada kelangsungan dunia usaha dan sustainabilitas ekologi, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Selain itu, Pemerintah Kota Tangerang selalu memperhatikan alokasi, proporsi, dan komposisi belanja serta pembiayaan daerah. Belanja daerah harus lebih bisa diarahkan pada keseimbangan antara belanja langsung dan belanja tidak langsung yang disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan daerah serta jelas kinerja yang dilaksanakannya. Pembiayaan daerah dititikberatkan pada pembiayaan yang bersifat penerimaan, sehingga mampu mempertahankan stabilitas fiskal daerah atau meningkatkan kemampuan fiskal daerah. Dampak dari pertumbuhan makro ekonomi di Kota Tangerang dapat dilihat dari perkembangan investasi yang terjadi dari tahun ke tahun. Perkembangan nilai investasi di Kota Tangerang dari Tahun 2009 sampai dengan Tahun 2014dapat dilihat pada Tabel 1.4. Tabel 1.4. Perkembangan Investasi di Kota Tangerang Tahun Proyek Tahun Uraian Jumlah PMA PMDN Jumlah Proyek US$ , ,00 Investasi Rupiah , , ,00 Jumlah Proyek US$ , ,00 Investasi Rupiah , , ,00 Jumlah Proyek US$ , ,00 Investasi Rupiah , , ,00 Jumlah Proyek US$ , ,00 Investasi Rupiah , , ,00 Jumlah Proyek US$ , ,00 Investasi Rupiah , , ,00 Jumlah Proyek US$ , ,00 Investasi Rupiah , ,00 Sumber: Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kota Tangerang, POSISI STRATEJIK KOTA TANGERANG Geografis Kota Tangerang secara geografis terletak pada Bujur Timur (BT) dan Lintang Selatan (LS), dengan luas wilayah 164,54 Km 2 (tidak termasuk luas BAB I Pendahuluan 1-10
14 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Bandara Soekarno-Hatta sebesar 19,69 km 2 ). Secara administrasi Kota Tangerang terdiri dari 13 Kecamatan dan 104 Kelurahan. Kota Tangerang beradaa pada ketinggian meter di atas permukaan laut (dpl), dengan bagian utara memiliki rata-rata ketinggian 10 meter dpl seperti Kecamatan Neglasari, Kecamatan Batuceper, dan Kecamatan Benda. Sedangkan bagian selatan memiliki ketinggian 30 meter dpl seperti Kecamatan Ciledug dan Kecamatan Larangan. Adapun batas administrasi Kota Tangerang adalah sebagai berikut: Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kecamatan Teluknaga, Kecamatan Kosambi dan Kecamatan Sepatan di Kabupaten Tangerang; Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kecamatan Curug di Kabupaten Tangerang, serta Kecamatan Serpong Utara dan Kecamatan Pondok Aren di Kota Tangerang Selatan; Sebelah Timur : Berbatasan dengan Jakarta Barat dan Jakarta Selatan di DKI Jakarta; Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kecamatan Pasar Kemis dan Kecamatan Cikupa di Kabupaten Tangerang. Gambar 1.1. Peta Kota Tangerang BAB I Pendahuluan 1-11
15 Kondisi geografis Kota Tangerang berbatasan langsung dengan ibukota negara (sekitar 27 Km), di samping itu keberadaan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, sebagai bandara terbesar di Indonesia berada di wilayah Kota Tangerang, yang menjadikan Kota Tangerang pintu gerbang utama bagi negara Republik Indonesia. Kondisi ini harus dapat meningkatkan kemajuan pembangunan terutama pada sektor permukiman, industri dan perdagangan yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Kota Tangerang Demografis Kondisi demografi Kota Tangerang meliputi berbagai data/informasi terkait dengan kependudukan antara lain: jumlah penduduk, komposisi penduduk menurut jenis kelamin, struktur usia, serta jenis pekerjaan dan pendidikan. Kondisi demografis ini tidak dapat dilepaskan dengan kondisi geografisnya, seperti halnya Kota Tangerang sebagai hinterland DKI Jakarta, sehingga pertumbuhan penduduknya tidak hanya dipengaruhi oleh kelahiran (fertilitas), tetapi juga oleh perpindahan (migrasi). Identifikasi terhadap jumlah penduduk, komposisi penduduk menurut jenis kelamin, struktur usia, jenis pekerjaan dan pendidikan sebagai bahan untuk memformulasikan kebijakan dan program/kegiatan pembangunan Jumlah Penduduk Jumlah penduduk yang besar merupakan potensi pembangunan jika memiliki kualitas yang memadai, namun sebaliknya akan menjadi beban pembangunan. Oleh karena itu, penanganan kependudukan tidak hanya pada upaya pengendalian jumlah penduduk tetapi juga menitikberatkan pada peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Tangerang, seperti yang terlihat pada Tabel 1.5, jumlah penduduk pada Tahun 2014 sebanyak 1,677,478 jiwa, yang tersebar di 13 wilayah kecamatan. Kemudian, untuk melihat perkembangannya, data tentang jumlah penduduk dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2014 untuk setiap kecamatan di Kota Tangerang juga disajikan pada tabel yang sama.juga dari Tabel 1.5 tersebut, terlihat bahwa wilayah Kecamatan Cipondoh merupakan wilayah berpenduduk paling besar, yaitu sebanyak jiwa atau 1,12% dari total penduduk Kota Tangerang, sementara itu Kecamatan Benda merupakan wilayah berpenduduk paling sedikit, yaitu sebanyak jiwa atau 4,34% dari total penduduk Kota Tangerang. BAB I Pendahuluan 1-12
16 Tabel 1.5. Jumlah Penduduk No. Kecamatan Jumlah (jiwa) Persen (%) 1 Ciledug Larangan Karang Tengah Cipondoh Pinang Tangerang Karawaci Jatiuwung Cibodas Periuk Batuceper Neglasari B e n d a Tahun ,677,478 Tahun ,846,755 Tahun ,043,432 Tahun ,883,971 Tahun ,680,631 Sumber: Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Tangerang, 2015 Sementara itu pada Tabel 1.6 di bawah, besarnya Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) rata-rata selama kurun waktu tahun 2010 sampai dengan tahun 2014 diperkirakan sebesar-4,81%. Kecamatan Karawaci merupakan kecamatan yang mempunyai LPP paling tinggi yaitu -5,66%, sedangkan Kecamatan Tangerang merupakan kecamatan yang mempunyai (LPP) paling rendah yaitu -3,98%.Laju pertumbuhan penduduk menjadi minus dikarenakan adanya penghapusan data ganda yang ada di Kota Tangerang dan dari hasil penghapusan data ganda tersebut. Tabel 1.6. Laju Pertumbuhan Penduduk No. Kecamatan Jumlah (jiwa) LPP (%) 1 Ciledug 123, , , , ,302-4,18 2 Larangan 143, , , , ,765-5,16 3 Karang Tengah 103, , , , ,876-4,06 4 Cipondoh 181, , , , ,490-4,57 5 Pinang 149, , , , ,434-4,85 6 Tangerang 144, , , , ,274-3,98 7 Karawaci 177, , , , ,146-5,66 8 Cibodas 147, , , , ,493-5,35 9 Jatiuwung 105, , , ,814 94,695-5,43 BAB I Pendahuluan 1-13
17 No. Kecamatan Jumlah (jiwa) LPP (%) 10 Periuk 124, , , , ,957-4,67 11 Neglasari 109, , , , ,581-5,29 12 Batu Ceper 94, , ,441 96,078 86,710-4,54 13 Benda 74,114 80,112 87,304 80,245 72,755-4,46 Kota Tangerang 1,680,631 1,883,971 2,043,432 1,846,755 1,677,478-4,81 Sumber: Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Tangerang, 2014 Penduduk jika diklasifikasi menjadi rumah tangga yang didasarkan pada kepemilikan Kartu Keluarga (KK) dapat dilihat pada Tabel 1.7. Tabel 1.7. Jumlah Rumah Tangga di Kota Tangerang (Menurut Kepemilikan Kartu Keluarga) Tahun 2014 No Kecamatan Jumlah Rumah Tangga 1 Ciledug 40,332 2 Larangan 48,363 3 Karang Tengah 34,676 4 Cipondoh 62,882 5 Pinang 54,217 6 Tangerang 50,683 7 Karawaci 59,965 8 Cibodas 52,741 9 Jatiuwung 37, Periuk 43, Neglasari 35, Batu Ceper 29, Benda 23,563 Tahun ,924 Tahun ,774 Tahun ,836 Tahun ,988 Tahun ,426 Sumber: Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Tangerang, 2014 Dari data di atas terlihat jumlah rumah tangga terbanyak tahun 2014 terdapat di Kecamatan Cipondohsebesar rumah tangga. Sedangkan jumlah kepala keluarga paling sedikit di Kecamatan Benda sebesar rumah tangga. Tingginya jumlah rumah tangga di Kecamatan Cipondoh seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Penambahan jumlah rumah tangga ini sangat erat kaitannya dengan penyediaan pemukiman dan lapangan pekerjaan dalam rangka memenuhi kebutuhan ekonomi dan sosial. Lebih lanjut, hal yang bisa dilihat dari kondisi dan data demografi adalah pola persebaran atau distribusi penduduk yang dapat dilihat melalui keterkaitan antara jumlah penduduk dengan luas wilayah. Distribusi penduduk ini pada dasarnya merupakan komposisi penduduk berdasarkan geografis, sehingga akan lebih bermakna BAB I Pendahuluan 1-14
18 apabila dikaitkan dengan kepadatan penduduk sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 1.8. Tabel 1.8. Kepadatan Penduduk (jiwa/km 2 ) No. Kecamatan Jumlah (Jiwa) Luas (km 2 )* Kepadatan (Jiwa/km 2 ) 1 Ciledug , Larangan , Karang Tengah , Cipondoh , Pinang , Tangerang , Karawaci , Cibodas , Jatiuwung , Periuk , Neglasari , Batuceper , Benda 72,755 5, Tahun ,677, , Tahun ,846, , Tahun ,043, , Tahun ,883, , Tahun ,680, , Sumber: Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Tangerang,2015 * Tidak termasuk luas bandara (19,69 km 2 ) Berdasarkan Tabel 1.8 terlihat bahwa Kota Tangerang merupakan daerah yang cukup padat, Dalam kurun waktu Tahun terjadi kenaikan rata-rata per tahun atas kepadatan penduduk sampai dengan 0,99% jiwa/km 2, Pada Tahun 2014, kepadatan penduduk sebesar jiwa/km 2, dimana Kecamatan Cibodas merupakan kecamatan dengan kepadatan tertinggi ( jiwa/Km 2 ) dan Kecamatan Jatiuwung merupakan kecamatan dengan kepadatan penduduknya terendah hanya mencapai 6.571jiwa/km 2. Tingginya kepadatan penduduk di Kecamatan Cibodas disebabkan karena tidak meratanya pertumbuhan penduduk di Kota Tangerang, hal ini mungkin disebabkan karena di Kecamatan Cibodas tersedia sumber daya alam yang memadai sehingga lebih banyak tersedia lapangan pekerjaan. Ketimpangan ini tentunya berpengaruh terhadap kemajuan dan pembangunan wilayah Indeks Pembangunan Manusia Pembangunan manusia di Kota Tangerang merujuk pada perkembangan capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai ukuran yang banyak digunakan untuk mengetahui derajat kesejahteraan masyarakat. BAB I Pendahuluan 1-15
19 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah indikator yang menggambarkan sejauh mana suatu negara (wilayah) telah menggunakan sumber daya penduduknya untuk meningkatkan mutu kehidupan warga negara (wilayah) tersebut.penyusunan IPM didasarkan pada tiga komponen, yaitu angka harapan hidup, pencapaian pendidikan, yang diukur dengan angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah, serta daya beli atau Purchasing Power Parity (PPP) Indikator Harapan Hidup Angka harapan hidup merupakan indikator penting dalam mengukur longevity (panjang umur). Panjang umur seseorang tidak hanya merupakan produk dari upaya yang bersangkutan melainkan juga seberapa jauh masyarakat atau negara dengan penggunaan sumber daya yang tersedia berusaha untuk memperpanjang hidup atau umur penduduknya. Secara teori, seseorang dapat bertahan hidup lebih lama apabila dia sehat dan bilamana menderita sakit masyarakat perlu mengatur untuk membantu mempercepat kesembuhannya sehingga dia dapat bertahan hidup lebih lama (datang ke fasilitas/petugas kesehatan). Oleh karena itu, pembangunan masyarakat dikatakan belum berhasil apabila pemanfaatan sumber daya masyarakat tidak diarahkan pada pembinaan kesehatan agar dapat tercegah warga meninggal lebih awal dari yang seharusnya. Angka harapan hidup dapat menggambarkan tingkat kesehatan yang telah dicapai masyarakat. Semakin baik tingkat kesehatan masyarakat diharapkan kesempatan untuk hidupnya cenderung semakin besar/lama. Sebaliknya tingkat kesehatan yang buruk akan cenderung memperpendek usia hidup. Angka harapan hidup berbanding terbalik dengan tingkat kematian bayi, artinya semakin tinggi angka kematian bayi maka angka harapan hidup cenderung semakin pendek, demikian pula sebaliknya. Indikator harapan hidup juga dapat digunakan untuk mengukur pembangunan di bidang kesehatan. Meningkatnya angka harapan hidup dapat berarti adanya perbaikan pembangunan di bidang kesehatan. Yang biasanya ditandai dengan membaiknya kondisi sosial ekonomi penduduk, membaiknya kesehatan lingkungan dan lain sebagainya. BAB I Pendahuluan 1-16
20 Tabel 1.9. Angka Harapan Hidup Kabupaten/Kota di Provinsi Banten, Tahun Angka Harapan Hidup/AHH Kab/Kota Kabupaten Pandeglang 63,52 63,77 63,95 64,13 64,35 02 Kabupaten Lebak 63,21 63,28 63,35 63,42 63,62 03 Kabupaten Tangerang 65,61 65,79 65,9 66,01 66,33 04 Kabupaten Serang 63,08 63,51 63,88 64,25 64,39 71 Kota Tangerang 68,33 68,37 68,41 68,44 68,56 72 Kota Cilegon 68,53 68,58 68,62 68,67 68,97 73 Kota Serang 64,62 65,13 65,47 65,81 66,65 74 Kota Tangerang Selatan 68,43 68,54 68,65 68,77 69,17 Provinsi Banten 64,75 64,9 65,05 65,23 65,47 Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kota Tangerang 2013 Di Provinsi Banten angka harapan hidup tertinggi ada di Kota Tangerang Selatan, yaitu sebesar 69,17 pada tahun Kota Tangerang berada di posisi nomor dua. Sedangkan yang terendah usia harapan hidupnya ada di Kabupaten Lebak. Namun bila dibandingkan dengan angka harapan hidup Provinsi Banten yang sebesar 65,47 pada tahun 2013 tampaknya pembangunan bidang kesehatan di Kota Tangerang jauh lebih maju dibandingkan pembangunan bidang kesehatan di Wilayah Banten pada umumnya, meski pergerakan pertambahan usia harapan hidupnya cenderung lambat. Peningkatan usia harapan hidup berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Maka sangatlah wajar jika pergerakan angka harapan hidup sangat lambat jika angka harapanhidup sudah cukup tinggi.namun demikian Pemerintah Kota Tangerang perlu memacu danmengambil langkah-langkah yang tepat untuk merumuskan program di bidang kesehatan secara tepat, di masa yang akan datang dengan meningkatnya usia harapan hidup berakibat meningkat pula jumlah lansia. Pemerintah harus memperhatikan kesejahteraan mereka pada masa yang akan datang. Tabel Indeks Harapan Hidup Kabupaten/Kota di Provinsi Banten, Tahun Kab/Kota Indeks Harapan Hidup Kabupaten Pandeglang 64,21 64,61 64,92 65,22 65,58 02 Kabupaten Lebak 63,68 63,8 63,92 64,03 64,37 03 Kabupaten Tangerang 67,69 67,98 68,17 68,35 68,88 04 Kabupaten Serang 63,46 64,18 64,8 65,42 65,65 BAB I Pendahuluan 1-17
21 Kab/Kota Indeks Harapan Hidup Kota Tangerang 72,22 72,29 72,35 72,4 72,6 72 Kota Cilegon 72,56 72,63 72,7 72,78 73,28 73 Kota Serang 66,04 66,89 67,45 68,02 69,42 74Kota Tangerang Selatan 72,38 72,57 72,75 72,95 73,62 Provinsi Banten 66,25 66,5 66,75 67,04 67,45 Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kota Tangerang 2013 Tersedianya sarana kesehatan yang cukup dan sarana transportasi yang lancar sehingga memudahkan masyarakat untuk mengakses fasilitas kesehatan yang ada sangat membantu masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan yang tinggi, tetapi yang tak kalah penting adalah mengingatkan masyarakat untuk berperilaku hidup sehat.selanjutnya dari angka harapan hidup dapat diturunkan indeks harapan hidup yang telah dicapai dibanding kondisi 'ideal' sesuai standar UNDP yaitu 85 tahun (100 persen). Indikator harapan hidup digunakan untuk mengukur pembangunan di bidang kesehatan.meningkatnya angka harapan hidup dapat berarti adanya perbaikan pembangunan di bidang kesehatan. Yang biasanya ditandai dengan membaiknya kondisi sosial ekonomi penduduk, membaiknya kesehatan lingkungan dan lain sebagainya.pada tahun 2013Indeks harapan hidup masyarakat di Kota Tangerang mencapai 72,60 persen, yang berarti pencapaian usia harapan hidup sejak lahir terhadap perkiraan usia harapan hidup maksimal naik 0,38 persen dibanding tahun Indikator Pendidikan Keberhasilan di bidang pendidikan juga merupakan unsur penting dalam IPM,dalam hal ini digambarkan oleh Angka Melek Huruf dan Rata-Rata Lama Sekolahpenduduk dewasa (usia 15 tahun ke atas). Angka melek huruf di ambil dari datakemampuan baca tulis, yang dipandang sebagai modal dasar yang perlu dimiliki setiapindividu, agar mempunyai peluang yang sama untuk terlibat dan berpartisipasi dalampembangunan. Sedangkan tingkat pengetahuan dan keterampilan lainnya secara umumdapat digambarkan melalui rata-rata lama sekolah, angka ini dihitung denganmenggunakan 2 variabel secara simultan dari data SUSENAS yaitu tingkat kelas yangpernah atau sedang dijalani dan jenjang pendidikan yang ditamatkan. Gambaran tingkat pendidikan yang ditamatkan oleh penduduk Kota Tangerang Tahun 2013 dapat dilihat di tabel berikut : BAB I Pendahuluan 1-18
22 Tabel Pendidikan Yang Ditamatkan Penduduk Berumur 10 Tahun Ke Atas Di Kota Tangerang Tahun (dalam persen) No Jenjang Pendidikan yang ditamatkan Tidak punya ijazah 11,48 12,83 13,15 2 SD/MI 19,30 16,35 19,18 3 SLTP/MTS 22,38 21,12 20,50 4 SMU/SMK/Aliyah 36,72 39,41 38,10 5 DI/DII 0,81 0,56 0,48 6 DIII/DIV/S1/S2/S3 9,30 9,74 8,58 Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kota Tangerang 2013 Tabel 1.11dapat dilihat bahwa penduduk Kota Tangerang paling banyak berijazah SMU sederajat yang mencapai 38,10 persen. Jumlah penduduk yang tidak berijazah meningkat, dari 12,83 persen menjadi 13,15persen. Namun terjadi penurunanproporsi penduduk yang memiliki ijazah tertinggi lulusan SLTP/MTs ke atas. Rata-rata lama sekolah penduduk Kota Tangerang tahun 2013 adalah 10,07 tahun, nilai ini masih sama dengan tahun sebelumnya yaitu 10,07 tahun.hal ini berarti bahwa secara rata-rata penduduk berumur 15 tahun keatas di Kota Tangerang tahun 2013 menduduki jenjang pendidikan setingkat klas II SLTA. Namun dengan semakin tingginya rata-rata lama sekolah, menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat untukpendidikan semakin baik. Selain itu dengan dukungan pemerintah yang menyediakan biaya operasional sekolah (BOS) sampai tingkat SMU sederajat, membuat penduduk semakin berminat ke pendidikan tingkat atas. Tabel Rata-rata Lama Sekolah Kabupaten/Kota di Provinsi Banten, Tahun Kabupaten/ Kota Rata - Rata Lama Sekolah Kabupaten Pandeglang 6,44 6,47 6,81 6,97 7,04 02 Kabupaten Lebak 6,22 6,24 6,25 6,27 6,29 03 Kabupaten Tangerang 8,93 8,94 8,95 8,96 8,96 04 Kabupaten Serang 7,04 7,05 7,25 7,36 7,48 71 Kota Tangerang 9,95 9,98 10,04 10,07 10,07 72 Kota Cilegon 9,66 9,67 9,68 9,72 9,72 73 Kota Serang 7,25 7,51 8,01 8,58 8,59 74 Kota Tangerang Selatan 9,95 10,15 10,7 10,98 10,99 Provinsi Banten 8,15 8,32 8,41 8,61 8,61 Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kota Tangerang 2013 BAB I Pendahuluan 1-19
23 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Dibandingkan dengan wilayah lain di Provinsi Banten,rata-rata lama sekolah Kota Tangerang merupakan yang tertinggi kedua setelah Kota Tangerang Selatan yaitu sebesar 10,98 atau setaraa dengan kelas II SLTA semester II. Namun angka ini menunju- Banten secara kan pendidikan Kota Tangerang masih lebih baik daripada Provinsi keseluruhan. Pada tahun 2012 rata-rata lama sekolah mencapai 8,61 tahun atau setara dengan kelas III SLTP semester II. Angka rata-rata lama sekolah terendah di kabupaten Lebak, yang mencapai 6,27 tahun atau setara dengan kelas 1 SLTP semester 1. Gambar 1.2. Rata-Rata Lama Sekolah Kota Tangerang Tahun Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kota Tangerang 2013 Keberhasilan tingkat pendidikan selanjutnya dilihat dari Angka Melek Huruf.Tabel 1.13 menunjukkan penduduk berumur 15 tahun ke atas yang buta huruf di KotaTangerang relatif sedikit. Dengan kondisi awal yang sudah baik, peningkatan indikatorini terlihat sangat kecil. Tabel Angka Melek Huruf Kabupaten/Kota di Provinsi Banten, Tahun Angka Melek Huruf/AMH Kab/Kota Kabupaten Pandeglang 02 Kabupaten Lebak 03 Kabupaten Tangerang 04 Kabupaten Serang 71 Kota Tangerang 72 Kota Cilegon 73 Kota Serang 74 Kota Tangerang Selatan 96,3 94,55 95,66 94,93 98,35 98,71 96,27 98,14 96,35 94,6 95,78 95,23 98,39 98,72 96,47 98,15 96,37 94,82 95,86 95,72 98,41 98,73 96,89 98,19 96,41 95,69 95,89 95,75 98,43 98,77 96,92 98,51 96,78 96,05 96,37 96,04 98,48 98,87 97,35 98,62 BAB I Pendahuluan 1-20
24 Provinsi Banten 95,95 96,2 96,25 96,51 96,87 Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kota Tangerang 2013 Penduduk yang melek huruf di Kota Tangerang pada tahun 2013 mencapai 98,48 persen. Terjadi peningkatan sebesar 0,05 persen dibanding tahun Secara umum, kemampuan baca tulis penduduk Kota Tangerang di atas rata-rata penduduk Bantenyang sebesar 96,87 persen tetapi masih lebih rendah dari angka melek huruf di Kota Cilegon dan Kota Tangerang Selatanyang masing-masing mencapai 98,87persen dan 98,62 persen. Angka melek huruf penduduk Kota Tangerang tahun 2013 bila dijadikan indeks melek huruf nilainya sama yaitu 98,48 yang berarti pencapaiannya belum mencapai nilai maksimum 100 atau masih tersisa 1,52 persen yang buta huruf. Sedangkan untuk indeks rata rata lama sekolah baru dicapai indeks 67,14 jadi masih jauh dari angka maksimum. Indeks pendidikan agar terbandingkan secara internasional maka dalam penghitungan inipun menggunakan referensi UNDP (1994), baik angka melek huruf (AMH) maupun lama sekolah. Demikian pula dalam penggabungan kedua indikator pendidikan tersebut. UNDP mungkin menganggap bahwa keterampilan melek huruf dianggap lebih mendasar dari pada pengalaman mengikuti pendidikan formal (MYS) sehingga bobotnya lebih besar. Rumusan indeks pendidikan diformulasikan sebagai berikut: = ( h) Tabel Indeks Pendidikan di Kota Tangerang Tahun Indeks Rata-rata Lama Indeks Melek Huruf Kabupaten/Kota Sekolah Indeks Pendidikan Pandeglang 96,37 96,41 96,78 45,39 46,47 46,95 79,38 79,76 80,17 Lebak 94,82 95,69 96,05 41,68 41,82 41,95 77,11 77,73 78,02 Tangerang 95,86 95,89 96,37 59,67 59,74 59,76 83,80 83,84 84,16 Serang 95,72 95,75 96,04 48,35 49,06 49,90 79,93 80,19 80,66 Kota Tangerang 98,41 98,43 98,48 66,93 67,14 67,17 87,91 88,00 88,04 Kota Cilegon 98,73 98,77 98,87 64,54 64,80 64,82 87,33 87,45 87,52 Kota Serang 96,89 96,92 97,35 53,40 57,21 57,24 82,39 83,69 83,98 Kota Tangerang Selatan 98,19 98,51 98,62 71,34 73,21 73,29 89,24 90,08 90,18 BANTEN 96,25 96,51 96,87 56,05 57,41 57,42 82,85 83,47 83,72 Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kota Tangerang 2013 Indikator Daya Beli Kemakmuran masyarakat tergantung kepada jumlah barang dan jasa yang berhasil disediakan oleh masyarakat bagi warganya. Dengan semakin banyaknya produksi masyarakat atau penghasilan masyarakat maka diperkirakan akan semakin BAB I Pendahuluan 1-21
25 makmur pula kehidupan warganya. Apabila kedua variabel diatas, kesehatan dan kecerdasan, berkaitan dengan upaya masyarakat dalam meningkatkan kapabilitas warganya sebagai pelaku pembangunan, maka variabel ketiga yang menyangkut kemakmuran (welfare) ini berkaitan dengan seberapa jauh warga masyarakat dapat menikmati hasil perannya atau sebagai penerima manfaat hasil pembangunan. Paradigma people-centered sustainable development mengarahkan pembangunan yang sangat melekat memberikan kesempatan kepada warganya untuk meningkatkan mutu perannya dan menikmati hasilnya. Oleh karena itu, ketiga aspek tersebut merupakan prasyarat dalam mencapai pembangunan yang berkelanjutan. Komponen daya beli masyarakat mempunyai hubungan langsung maupun tidak langsung dengan beberapa variabel seperti keterampilan, kesempatan kerja dan pendapatan. Pengukuran komponen daya beli didekati dengan besarnya konsumsi per kapita yang telah disesuaikan. Pemakaian variabel konsumsi riil dimaksudkan untuk mengeliminir perbedaan dan perubahan harga (inflasi) yang terjadi, sehi ngga angka yang dihasilkan dapat dibandingkan antar daerah dan antar waktu. Tanpa mengecilkan arti kelemahan status penghasilan atau produksi perkapita sebagai indikator, maka dalam penghitungan IPM ini untuk mengukur standar hidup layak data dasar PDRB perkapita tidak dapat digunakan karena bukan ukuran yang peka/ dianggap kurang tepat untuk mengukur daya beli masyarakat (PPP) yang bersumber dari konsumsi di Susenas yang menggambarkan konsumsi perkapita riil yang telah disesuaikan untuk mengukur kemampuan daya beli penduduk. Semakin besar PPP, mengindikasikan kesejahteraan penduduk semakin membaik. Tabel Pencapaian Daya Beli Di Kota Tangerang Tahun Pengeluaran per Kapita Disesuaikan Provinsi (ribu rupiah PPP) Indeks Daya Beli (%) Pandeglang 628,41 631,24 633,32 62,03 62,68 63,16 Lebak 632,21 634,85 637,32 62,91 63,52 64,09 Tangerang 637,80 640,80 643,04 64,20 64,89 65,41 Serang 633,72 636,45 638,78 63,26 63,89 64,43 Kota Tangerang 645,90 648,93 652,08 66,07 66,77 67,50 Kota Cilegon 648,88 651,86 654,88 66,76 67,45 68,15 Kota Serang 639,17 642,18 645,47 64,52 65,21 65,97 Kota Tangerang Selatan 645,78 649,12 652,52 66,04 66,81 67,60 BANTEN 633,64 636,73 639,28 63,24 63,95 64,54 Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kota Tangerang 2013 Tabel 1.15menunjukan tingkat pengeluaran per kapita penduduk Kota Tangerang tahun 2013 sebesar Rp ,-. Tingkat daya beli ini lebih tinggi dari BAB I Pendahuluan 1-22
26 tahun 2012yang mencapai Rp ,-. Jika dibandingkan dengan daya beli penduduk Banten, Kota Tangerang menempati urutan ketiga setelah Kota Cilegon dan Kota Tangerang Selatan. Sedangkan di Provinsi Banten, keseluruhan daya beli penduduk di Provinsi ini mencapai Rp ,- pada tahun Penduduk di Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan dan Kota Cilegon mempunyai daya beli yang tinggi, hal ini sangat dipengaruhi oleh sektor ekonomi yang berkembang wilayah tersebut. Tingginya daya beli di wilayah-wilayah tersebut dibanding wilayah Banten lainnya karena sektor industri, perdagangan dan jasa merupakan sektor yang paling dominan menyerap tenaga kerja di wilayah ini, dan sektor ini memberikan andil nilai tambah terbesar dalam pembentukan PDRB. Pola ini tentunya berbeda dengan wilayah yang perekonomiannya didominasi oleh sektor pertanian yang banyak menyerap tenaga kerja tetapi nilai tambahnya tidak berbanding lurus dengan banyaknyatenaga kerja. Pencapaian Pembangunan Manusia Kota Tangerang Tujuan dari pembiayaan belanja publik salah satunya adalah untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah, dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak, serta mengembangkan sistem jaminan sosial. Untuk menilai kinerja pemerintah daerah dalam memenuhi pelayanan dasar dimaksud, maka perlu dilakukan pengukuran kinerja, dengan menggunakan berbagai indikator. Salah satunya adalah Indeks Pembangunan Manusia ( Human Development Index = HDI = IPM) yang merupakan indikator kemajuan pembangunan di suatu daerah, yang sejalan dengan Millenium Development Goals (MDGs). Indeks Pembangunan Manusia ( Human Development Index) merupakan cerminan dari kinerja pembangunan yang dicapai oleh suatu wilayah dengan menggunakan alat ukur berupa indikator komposit IPM, yang merupakan indeks gabungan dari indeks kesehatan (Angka Harapan Hidup), indeks pendidikan (Angka Melek Huruf dan Rata-rata Lama Sekolah) dan indeks ekonomi (tingkat daya beli penduduk). Ketiga indikator tersebut dianggap dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan dan keberhasilan pembangunan manusia di suatu wilayah.penghitungan IPM ini merupakan formula yang digunakan oleh UNDP (United Nation Development Program) untuk mengukur upaya pembangunan manusia.walaupun tidak dapat mengukur semua dimensi dari pembangunan manusia, namun indeks ini mampu BAB I Pendahuluan 1-23
27 mengukur dimensi pokok pembangunan manusia yang mencerminkan status kemampuan dasar penduduk. Angka IPM suatu daerah memperlihatkan jarak yang harus ditempuh untuk mencapai nilai ideal (100).Angka ini dapat diperbandingkan antar daerah di Indonesia. Dengan demikian tantangan bagi semua daerah adalah bagaimana menemukan cara yang tepat, dalam hal ini program pembangunan yang diterapkan masing-masing daerah, untuk mengurangi jarak terhadap nilai ideal. Adapun IPM dapat digolongkan menurut skor/nilainya seperti dalam Tabel Tabel Nilai IPM Kriteria Nilai IPM Keterangan IPM Tinggi IPM Menengah Atas IPM Menengah Bawah < 50 IPM Rendah Tabel Indeks Pembangunan Manusia dan Komponennya di Kota Tangerang Tahun Komponen IPM Indeks Harapan Hidup 72,22 72,29 72,35 72,40 72,60 Indeks Pendidikan 87,69 87,76 88,13 88,00 88,04 Indeks Daya Beli 64,77 65,44 66,07 66,77 67,50 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 74,89 75,17 75,44 75,72 76,05 Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kota Tangerang 2013 Hasil perhitungan IPM di Kota Tangerang menunjukan status pembangunan manusia Kota Tangerang pada tahun 2013masih berada dalam kategori Menengah Atas dengan angka IPM sebesar 76,05 mengalami kenaikan sekitar 0,33 persen dibandingkan dengan tahun Posisi IPM Kota Tangerang berada pada peringkat ketigasetelah Kota Tangerang Selatan dan Kota Cilegon di Provinsi Banten. Tabel Peringkat IPM Kabupaten/Kota di Provinsi Banten, Tahun Kab/Kota Reduksi Nilai IPM Peringkat IPM Shortfall Kabupaten Pandeglang 67,99 68,29 68,77 69,22 69,64 7 1,36 02 Kabupaten Lebak 67,45 67,67 67,98 68,43 68,82 8 1,25 03 Kabupaten Tangerang 71,45 71,76 72,05 72,36 72,82 5 1,66 04 Kabupaten Serang 68,27 68,67 69,33 69,83 70,25 6 1,38 71 Kota Tangerang 74,89 75,17 75,44 75,72 76,05 3 1,34 BAB I Pendahuluan 1-24
28 Kab/Kota Reduksi Nilai IPM Peringkat IPM Shortfall Kota Cilegon 74,99 75,29 75,6 75,89 76,31 2 1,75 73 Kota Serang 69,99 70,61 71,45 72,3 73,12 4 2,95 74Kota Tangerang Selatan 75,01 75,38 76,01 76,61 77,13 1 2,21 Banten 70,06 70,48 70,95 71,49 71,9 24 1,45 Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kota Tangerang 2013 Sebelum berdirinya Kota Tangerang Selatan pada tahun 2008, Nilai IPM Kota Tangerang berada pada peringkat kedua setelah IPM Kota Cilegon di Provinsi Banten. Namun setelah nilai IPM Kota Tangerang Selatan dihitung pada tahun 2009, terlihat bahwa pembangunan manusia di Kota Tangerang Selatan lebih baik dari Kota Cilegon dan Kota Tangerang. Sehingga terjadi pergeseran peringkat IPM Kota Tangerang yang semula peringkat dua lalu menjadi peringkat ketiga di Provinsi Banten. Sedangkan posisi IPM Provinsi Banten di tingkat Nasional adalah peringkat ke-24 pada tahun Peringkat ini lebih rendah dari tahun 2012, dimana IPM Provinsi Banten peringkat ke- 23 secara Nasional. Selain pemeringkatan skor IPM, kecepatan pencapaian pembangunan manusia juga dilihat dari reduksi sortfall. Tabel 1.18 menunjukan reduksi shortfall Kota Tangerang terendah kedua setelah Kabupaten Lebak. Hal ini berarti bahwa kecepatan Pembangunan Manusia di Kota Tangerang paling kecil percepatannya setelah Kabupaten Lebak. Pembangunan manusia di Kota Tangerang lebih lambat dari enam Kabupaten/Kota lain di Provinsi Banten. Demikian juga percepatan kenaikan IPMProvinsi Banten, tahun ini lebih lambat dari tahun Reduksi Shortfall IPM Provinsi Banten tahun 2012 terhadap 2011 sebesar 1,87, sedangkan Reduksi Shortfall IPM tahun 2013 terhadap 2012 mencapai poin 1,45. Gambar 1.3. Indeks Pembangunan Manusia Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Banten Tahun 2013 BAB I Pendahuluan 1-25
29 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah 1.5 STRUKTUR ORGANISASI Pada Tahun 2011 telah dilakukan perubahan terhadap 4 (empat) Peraturan Daerah dan 4 (empat) Peraturan Walikota yang mengatur tentang pembentukan dan struktur organisasi Pemerintah Kota Tangerang. Peraturan Daerah dan Peraturan Walikota tersebut menjadi dasar pembentukan dan struktur organisasi, serta kewenangan, tugas pokok dan fungsi serta rincian tugas SKPD pada Tahun 2014.Namun Pada akhir Tahun 2014 telah dilakukan perubahan atau penataan terhadap 6 (enam) Peraturan Daerah dan 31(tiga puluh satu)peraturan Walikota yang mengatur tentang pembentukan dan struktur organisasi Pemerintah Kota Tangerang yang berlaku untuk Tahun Sedangkan Struktur Organisasi Pemerintah terdiri atas: Walikota dan Wakil Walikota Pada Periode Tahun Pemerintahan Kota Tangerang dipimpin oleh Walikota H. Arief R. Wismansyah dan Wakil Walikota H. Sachrudin. Setelah pemilihan Kepala Daerah Kota Tangerang yang baru pada Tahun 2013, Periode Tahun Pemerintahan Kota Tangerang dipimpin oleh Walikota H. Arief R. Wismansyah dan Wakil Walikota H. Sachrudin Sekretariat Daerah Pembentukan dan Susunan Organisasi Sekretariat Daerah berdasarkan Peraturan Daerah Kota TangerangNomor 10 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota BAB I Pendahuluan 1-26
30 Tangerang Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Sekretariat Daerah dan Peraturan Walikota TangerangNomor 43Tahun 2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah. Sekretariat Daerah dalam melaksanakan tugas dibantu oleh Asisten Tata Pemerintahan, Asisten Ekonomi Pembangunan dan Kesejahteraan serta Asisten Administrasi Umum Sekretariat DPRD Pembentukan dan Susunan Organisasi Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah berdasarkan Peraturan Daerah Kota TangerangNomor 13 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2008 Tentang Pembentukan Dan Susunan Organisasi Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Peraturan Walikota TangerangNomor 46Tahun 2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Dinas Daerah Pembentukan dan Susunan Organisasi Dinas Daerah berdasarkan Peraturan Daerah Kota TangerangNomor 11 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Tangerang Nomor 5 Tahun 2008 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Dinas Daerah. Dinas Daerah terdiri atas: 1) Dinas Pendidikan (Perwal No.23 Tahun 2008), 2)Dinas Kesehatan (Perwal No.24 Tahun 2008), 3) Dinas Sosial (Perwal No.25 Tahun 2008), 4) Dinas Ketenagakerjaan (Perwal No.26 Tahun 2008), 5) Dinas Perhubungan (Perwal No.27 Tahun 2008), 6) Dinas Informasi dan Komunikasi (Perwal No.28 Tahun 2008), 7) Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Perwal No.29 Tahun 2008), 8) Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata (Perwal No.30 Tahun 2008), 9) Dinas Pekerjaan Umum (Perwal No.31 Tahun 2008), 10)Dinas Tata Kota (Perwal No.32 Tahun 2008), 11) Dinas Kebersihan dan Pertamanan (Perwal No.33 Tahun 2008), 12) Dinas Pemadam Kebakaran (Perwal No.34 Tahun 2008), 13) Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Perwal No.35 Tahun 2008), 14) Dinas Pertanian (Perwal No.36 Tahun 2008), dan 15) Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah (Perwal No. 44 Tahun 2011) Lembaga Teknis Daerah Pembentukan dan Susunan Organisasi Lembaga Teknis Daerah berdasarkan Peraturan Daerah Kota TangerangNomor 6 Tahun 2008 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Lembaga Teknis Daerah. Lembaga Teknis Daerah terdiri atas: 1) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Perwal No.38 Tahun 2008), 2) Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (Perwal No.39 Tahun 2008), 3)Badan BAB I Pendahuluan 1-27
31 Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana (Perwal No.40 Tahun 2008), 4) Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (Perwal No.41 Tahun 2008), 5) Badan Pelayanan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu (Perwal No. 45 Tahun 2011), 6) Inspektorat (Perwal No.43 Tahun 2008), 7) Satuan Polisi Pamong Praja (Perwal No.44 Tahun 2008), 8) Kantor Arsip Daerah (Perwal No.45 Tahun 2008), 9) Kantor Perpustakaan Daerah (Perwal No.46 Tahun 2008), 10) Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Perwal No.47 Tahun 2008),dan 11) Kantor Penelitian, Pengembangan dan Statistik (Perwal No.48 Tahun 2008) Kecamatan dan Kelurahan Organisasi Kecamatan dan Kelurahan dibentuk Berdasarkan Peraturan Daerah Kota TangerangNomor 7 Tahun 2008 tentang Organisasi Kecamatan dan Kelurahan dan Peraturan Walikota Tangerang Nomor 49 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kecamatan serta Peraturan Walikota Tangerang Nomor 50 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kelurahan. Kota Tangerang memiliki 13 Kecamatan dan 104 Kelurahan terdiri atas: 1) Tangerang dengan 8 Kelurahan, 2) Jatiuwung dengan 6 Kelurahan, 3) Batuceper dengan 7 Kelurahan, 4) Benda dengan 5 Kelurahan, 5) Cipondoh dengan 10 Kelurahan, 6) Ciledug dengan 8 Kelurahan, 7) Karawaci dengan 16 Kelurahan, 8) Periuk dengan 5 Kelurahan, 9) Cibodas dengan 6 Kelurahan, 10) Neglasari dengan 7 Kelurahan, 11) Pinang dengan 11 Kelurahan, 12) Karang Tengah dengan 7 Kelurahan dan 13) Larangan dengan 8 Kelurahan Badan Usaha Milik Daerah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) merupakan unit usaha pemerintah daerah yang secara badan hukum berada di luar unsur pemerintah daerah.hal ini karena BUMD merupakan unsur kekayaan daerah yang dipisahkan, sehingga pengelolaan keuangannya di luar APBD Kota Tangerang.BUMD yang terdapat di lingkungan Pemerintah Kota Tangerang adalah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) da n Perusahaan Daerah (PD) Pasar Kota Tangerang. 1.6 SISTEMATIKA LKIP 2014 Pada dasarnya Laporan Akuntabilitas Kinerja ini memberikan penjelasan mengenai pencapaian kinerja Pemerintah Kota Tangerang selama Tahun Capaian kinerja (performance results) Tahun 2013 tersebut diperbandingkan dengan Penetapan Kinerja (performance agreement) Tahun 2013 sebagai tolok ukur keberhasilan tahunan organisasi. Analisis atas capaian kinerja terhadap rencana kinerja ini akan BAB I Pendahuluan 1-28
32 memungkinkan diidentifikasikannya sejumlah celah kinerja ( performance gap) bagi perbaikan kinerja di masa datang. Sistematika penyajian Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Kota Tangerang Tahun 2013 berpedoman pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja Dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah, sebagai berikut : IKHTISAR EKSEKUTIF, menyajikan tujuan dan sasaran utama yang telah ditetapkan dalam Rencana Jangka Menengah Daerah (RPJMD) -2018, serta sejauh mana instansi pemerintah mencapai tujuan dan sasaran utama tersebut, serta kendala-kendala yang dihadapi dalam pencapaiannya. Disebutkan pula langkah-langkah apa yang telah dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut dan langkah antisipasif untuk menanggulangi kendala yang mungkin akan terjadi pada tahun mendatang. Bab I Pendahuluan, menjelaskan hal-hal umum tentang organisasi serta uraian singkat mandat apa yang dibebankan kepada organisasi (gambaran umum tupoksi) serta permasalahan utama (strategic issued) yang dihadapi. Bab II Perencanaan Kinerja, menyajikan gambaran singkat mengenai: Rencana Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Kinerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2014, serta Perjanjian Kinerja Tahun Pada awal bab ini disajikan gambaran secara singkat sasaran utama (yang menggambarkan fungsi utama organisasi) yang ingin diraih organisasi pada tahun yang bersangkutan serta bagaimana kaitannya dengan capaian visi dan misi organisasi. Bab III Akuntabilitas Kinerja, menyajikan uraian A. Capaian Kinerja Organisasi Pada sub bab ini disajikan capaian kinerja Kota Tangerang untuk setiap pernyataan kinerja sasaran strategis/pembangunan daerah sesuai dengan hasil pengukuran organisasi. Untuk setiap pernyataan kinerja sasaran strategis tersebut dilakukan analisis capaian kinerja sebagai berikut: 1. Membandingkan antara target dan realisasi kinerja Tahun 2014; 2. Membandingkan antara realisasi kinerja serta capaian kinerja tahun 2014 dengan tahun lalu dan beberapa tahun terakhir; 3. Membandingkan realisasi kinerja sampai dengan tahun 2014 dengan target jangka menengah yang terdapat dalam dokumen perencanaan strategis Kota Tangerang; BAB I Pendahuluan 1-29
33 4. Membandingkan realisasi kinerja tahun 2014 dengan Provinsi Banten dan Standar Nasional; 5. Analisis penyebab keberhasilan/ kegagalan atau peningkatan/ penurunan kinerja serta alternatif solusi yang telah dilakukan Pemerintah Kota Tangerang; 6. Analisis atas efisiensi penggunaan sumberdaya; 7. Analisis program/kegiatan yang menunjang keberhasilan ataupun kegagalan pencapaian kinerja. B. Realisasi Anggaran Pada sub bab ini diuraikan realisasi anggaran yang digunakan dan yang telah digunakan untuk mewujudkan kinerja Pemerintah Kota Tangerang sesuai dengan dokumen Perjanjian Kinerja Bab IV Penutup, menyajikan simpulan secara umum tentang keberhasilan dan kegagalan, permasalahan dan kendala utama yang berkaitan dengan kinerja instansi yang bersangkutan serta strategi pemecahan masalah yang akan dilaksanakan di masa mendatang. Lampiran Lampiran, penjelasan lebih lanjut yang tidak diuraikan dalam badan teks laporan. BAB I Pendahuluan 1-30
34 Contents BAB 1. PENDAHULUAN Latar Belakang Bidang Kewenangan Kondisi Makro Ekonomi Posisi Stratejik Kota Tangerang Geografis Demografis Indeks Pembangunan Manusia STRUKTUR ORGANISASI Walikota dan Wakil Walikota Sekretariat Daerah Sekretariat DPRD Dinas Daerah Lembaga Teknis Daerah Kecamatan dan Kelurahan Badan Usaha Milik Daerah Sistematika LAKIP BAB I Pendahuluan 1-31
35 Gambar 1.1. Peta Kota Tangerang Gambar 1.2. Rata-Rata Lama Sekolah Kota Tangerang Tahun Gambar 1.3. Indeks Pembangunan Manusia Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Banten Tahun Tabel 1.1. Laju Inflasi Kota Tangerang Tabel 1.2. Laju Inflasi Perkotaan Banten Tahun (persen) Tabel 1.3. Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Tangerang, Provinsi Banten dan Nasional Tahun Tabel 1.4. Perkembangan Investasi di Kota Tangerang Tahun Tabel 1.5. Jumlah Penduduk Tabel 1.6. Laju Pertumbuhan Penduduk Sumber: Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Tangerang, Tabel 1.7. Jumlah Rumah Tangga di Kota Tangerang (Menurut Kepemilikan Kartu Keluarga) Tahun Tabel 1.8. Kepadatan Penduduk (jiwa/km 2 ) Tabel 1.9. Angka Harapan Hidup Kabupaten/Kota di Provinsi Banten, Tahun Tabel Indeks Harapan Hidup Kabupaten/Kota di Provinsi Banten, Tahun Tabel Pendidikan Yang Ditamatkan Penduduk Berumur 10 Tahun Ke Atas Di Kota Tangerang Tahun (dalam persen) Tabel Rata-rata Lama Sekolah Kabupaten/Kota di Provinsi Banten, Tahun Tabel Angka Melek Huruf Kabupaten/Kota di Provinsi Banten, Tahun Tabel Indeks Pendidikan di Kota Tangerang Tahun Tabel Pencapaian Daya Beli Di Kota Tangerang Tahun Tabel Kriteria Nilai IPM BAB I Pendahuluan 1-32
36 Tabel Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Indeks Pembangunan Manusia dan Komponennya di Kota Tangerang Tahun Tabel Peringkat IPM Kabupaten/Kota di Provinsi Banten, Tahun BAB I Pendahuluan 1-33
37 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 BAB 2. PERENCANAAN KINERJA Pada penyusunan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2014 ini, mengacu pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi BirokrasiNomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja Dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah dengan perubahan outline pada Bab II dengan menyampaikan dokumen Perjanjian Kinerja Tahun RENCANA STRATEGIS Dalam sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah, perencanaan strategismerupakan langkah awal yang harus dilakukan oleh instansi pemerintah agar mampumenjawab tuntutan lingkungan strategis lokal, nasional, global dan tetap berada dalamtatanan Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena demikian,pendekatan perencanaan strategis yang jelas dan sinergis, instansi pemerintah lebih dapatmenyelaraskan visi dan misinya dengan potensi, peluang, dan kendala yang dihadapi dalamupaya peningkatan akuntabilitas kinerjanya. Penyusunan LKIP Pemerintah ini, mengacu pada Peraturan Daerah Kota Tangerang Nomor 10 Tahun 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah -2018, berpedoman pada Peraturan Walikota Tangerang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Walikota Nomor 15 Tahun 2013 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2014, Peraturan Walikota Tangerang Nomor 56 Tahun 2014 tentang Indikator Kinerja Utama Pemerintah Kota Tangerang, dan Perjanjian Kinerja Pemerintah. Dalam bab ini menyajikan secara singkat mengenai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Tange rang Tahun 2014, termasuk menyajikan gambaran singkat sasaran utama (yang menggambarkan fungsi utama organisasi) yang ingin diraih organisasi pada tahun yang bersangkutan serta kaitannya dengan capaian visi dan misi organisasi. BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-1
38 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 Dalam sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (SAKIP), RPJM merupakan rencana strategis sebagai langkah awal untuk melakukan pengukuran kinerja instansi pemerintah. Hal ini memerlukan integrasi antara keahlian sumber daya manusia dan sumber daya lain, yang diharapkan akan dapat memenuhi keinginan stakeholders dan menjawab tuntutan perkembangan dan dinamika lingkungan strategis baik nasional maupun global. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah merupakan dokumen perencanaan strategis yang disusun dan dirumuskansetiap lima tahun (perencanaan jangka menengah) yang menggambarkan visi, misi, tujuan, sasaran, program dan kegiatan yang realistis dengan mengantisipasi dan mengarahkan anggota organisasi dalam mengambil keputusan tentang masa depannya, membangun operasi dan prosedur untuk mencapainya, dan menentukan ukuran keberhasilan/kegagalannya. Dengan visi, misi, dan strategi tersebut, diharapkan instansi pemerintah akan selaras dengan potensi, peluang, dan kendala yang dihadapi. 2.2 VISI Visi berkaitan dengan pandangan ke depan menyangkut ke mana instansipemerintah harus dibawa dan diarahkan agar dapat berkarya secara konsisten dan tetapeksis, antisipatif, inovatif, serta produktif. Visi adalah suatu gambaran tentang keadaan masadepan yang berisikan cita dan citra yang ingin diwujudkan instansi Pemerintah. Berdasarkan kondisi Kota Tangerang pada saat ini, tantangan dan isu strategis yangakan dihadapi dalam 5 tahun mendatang dengan mempertimbangkan modal dasar yangdimiliki serta berpedoman pada Visi Pembangunan Kota Tangerang Tahun yangtermuat dalam RPJPD Kota Tangerang Tahun yaitu: KOTA INDUSTRI, PERDAGANGAN DAN JASA YANG MAJU DAN LESTARI BERLANDASKAN AKHLAKUL KARIMAH, dengan misi sebagai berikut: 1. Mewujudkan Sumber Daya Manusia yang Berakhlak Mulia, Maju dan Berdaya Saing 2. Mewujudkan Perekonomian yang Maju dan Berdaya Saing 3. Mewujudkan Lingkungan Hidup yang Asri dan Lestari 4. Mewujudkan Pelayanan Prasarana, Sarana dan Fasilitas Kota yang Memadai dan Berdaya Saing BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-2
39 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun Mewujudkan Penyelenggaraan Pemerintahan yang Baik dan Bersih Walikota dan Wakil Walikota Tangerang periode mempunyai visisebagai berikut: Terwujudnya Kota Tangerang Yang Maju, Mandiri, Dinamis, Dan Sejahtera, Dengan Masyarakat yang Berakhlakul Karimah Pernyataan visi di atas mempunyai makna sebagai berikut: Terwujudnya Kota Tangerang Yang Maju Terwujudnya Kota Tangerang yang maju dalam berbagai hal, melalui pemberian pelayanan terbaik dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan, serta pembangunan tata kelola perkotaan yang berorientasi lingkungan. Terwujudnya Kota Tangerang Yang Mandiri Terwujudnya Kota Tangerang yang mandiri, melalui pembangunan yang dilakukan dengan memaksimalkan segenap potensi daerah yang dimiliki untuk mendorong tumbuhnya rasa percaya diri dalam diri segenap masyarakat dan seluruh stakeholder untuk bersama-sama dan ikut bertanggung jawab dalam kelangsungan pembangunan daerah. Terwujudnya Kota Tangerang Yang Dinamis Terwujudnya Kota Tangerang yang dinamis yaitu kehidupan yang berkesinambungan dengan mengikuti era perkembangan jaman dengan tetap menjaga mencerminkan kehidupan masyarakat Kota Tangerang yang meskipun berbeda latar belakang etnis dan budaya, namun memiliki semangat kebersamaan dan nasionalisme berbasis kedaerahan, tenggang rasa dan tanggung jawab, sikap toleransi yang universal dalam membangun Kota Tangerang. Terwujudnya Kota Tangerang Yang Sejahtera Terwujudnya Kota Tangerang yang sejahtera, melalui perwujudan masyarakat Kota Tangerang yang sejahtera yaitu memiliki tatanan kehidupan yang baik dan berkualitas sehingga terbentuk kehidupan masyarakat yang makmur dan berkeadilan, dan menjadikan masyarakat sebagai subyek dalam pembangunan daerah. Terwujudnya Masyarakat Yang Berakhlakul karimah Terwujudnya masyarakat Kota Tangerang yang memiliki akhlakul karimah, yaitu terwujudnya masyarakat yang memiliki sikap dan perilaku akhlak mulia yang BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-3
40 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 dicerminkan melalui kualitas hubungan antar manusia dengan Tuhan dan hubungan antar manusia itu sendiri, dan menjadi landasan moral dan etika dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.pemahaman dan pengamalan agama secara benar diharapkan dapat mendukung terwujudnya masyarakat yang religious,demokratis,mandiri, berkualitas sehat jasmani dan rohani, serta tercukupi kebutuhan material spiritual, sehingga mampu mewujudkan sebuah masyarakat madani madaniyyah dan hidup menuju negeri yang adil, makmur,dan diberkati (baldatun toyibun warabun ghafur). 2.3 MISI Misi pembangunan daerah adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan oleh pemerintah daerah untuk mewujudkan visi pembangunan daerah. Untuk pencapaian visi sebagaimana telah dikemukakan tersebut, maka ditetapkan 5 (lima) pernyataan misi Pemerintah Kota Tangerang. Misi tersebut sekaligus merupakan panduan bagi Pemerintah Kota Tangerang untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi pemerintahan.misi pembangunan berdasarkan misi Walikota dan Wakil Walikota Tangerang yang terpilih adalah sebagai berikut: Misi 1: Mewujudkan tata pemerintahan yang baik,akuntabel, dan transparan didukung dengan struktur birokrasi yang berintegritas, kompeten, dan profesional Pelaksanan pembangunan akan berjalan dengan optimal apabila ditunjang oleh tata pemerintahan yang baik, akuntabel dan transparan. Perwujudan tata pemerintahan yang baik,akuntabel dan transparan didukung dengan struktur birokrasi yang aparatur yang profesional, kompetensi, kualitas,transparansi, objektifitas, dan bebas dari intervensi politik dan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) berintegritas, kompeten, dan professional. Misi 2: Meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing tinggi Peningkatan pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing tinggi merupakan salah satu upaya untuk mempercepat kemajuan Kota Tangerang, yang dilakukan dengan memajukan kegiatan ekonomi yang menjadi sektor unggulan, seperti perdagangan dan jasa, industry, dan memberdayakan usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi (UMKMK) sehingga mampu bersaing, serta memperluas kesempatan kerja, mengurangi pengganguran, dan mengentaskan kemiskinan. BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-4
41 Misi3: Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 Meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial demi terwujudnya masyarakat yang berdaya saing diera globalisasi Pengembangan kualitas pendidikan dan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan masyarakat yang berdaya saing, kualitas kehidupan masyarakat Kota Tangerang, yang ditunjang dengan upaya peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat demi terwujudnya masyarakat yang berdaya saing diera globalisasi.hal ini dilakukan melalui peningkatan kualitas pelayanan sumber daya manusia, kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pelayanan, serta faktor pendukung lainnya. Misi4: Meningkatkan pembangunan sarana perkotaan yang memadai dan berkualitas Penyediaan dan peningkatan pembangunan sarana perkotaan yang memadai dan berkualitas mutlak diperlukan sekaligus dapat untuk menjamin pemenuhan kebutuhan pelayanan dasar masyarakat dalam rangka mendukung berlangsungnya kegiatan ekonomi dan investasi secara produktif.sarana perkotaan merupakan faktor penunjang bagi kegiatan ekonomi Kota Tangerang. Misi5: Mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman Peningkatan kualitas dan daya dukung lingkungan untuk mendukung dalam rangka melaksanakan salah satu pilar pembangunan berkelanjutan.pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman serta seimbang antara dapat engintegrasian faktor lingkungan hidup dengan ekonomi dan sosial budaya dapat menciptakan kondisi kemajuan yang seimbang antara peningkatan aspek sosial dan ekonomi dengan kelestarian lingkungan hidup. 2.4 TUJUAN Tujuan adalah pernyataan-pernyataan tentang hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai visi, melaksanakan misi dengan menjawab isu strategis daerah dan permasalahan pembangunan daerah.rumusan tujuan dan sasaran merupakan dasar dalam menyusun pilihan-pilihan strategi pembangunan dan sarana untuk mengevaluasi pilihan tersebut. Merupakan penjabaran atau implementasi dari pernyataan misi yang akan dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu 1 (satu) sampai dengan 5 (lima) tahun. Lima misi Kota Tangerang dijabarkan dalam 5 (lima) tujuan. Dengan dirumuskannya tujuan ini maka Pemerintah Kota Tangerang telah mengetahui apa yang harus dilaksanakan dan kondisi yang akan dicapai dalam kurun waktu satu sampai lima tahun ke depan. Keterkaitan antara misi dan tujuan dapat dilihat pada tabel dibawah ini. BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-5
42 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 Tabel 2.1. Keterkaitan Misi dan Tujuan Pembangunan 2018 Misi Tujuan 1 Mewujudkan tata pemerintahan yang baik,akuntabel, dan transparan didukung dengan struktur birokrasi yang berintegritas, kompeten, danprofessional 2 Meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing tinggi 3 Meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial demi terwujudnya masyarakat yang berdaya saing diera globalisasi 4 Meningkatkan pembangunan sarana perkotaan yang memadai dan berkualitas 5 Mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman 1 Memantapkan dan mengembangkan sistem penyelenggaraan pemerintahan daerah, serta tata kelola pemerintahan yang baik, benar, bersih, transparan, inovatif, dan akuntabel (good gocernance) 2 Memantapkan dan mengembangkan e- government berbasis teknologi informasi yang modern sebagai pendukung pelaksanaan sistem pembangunan dan penyelenggaraan pemerintah daerah 3 Meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah, penyerapan tenaga kerja, dan daya beli masyarakat dengan memantapkan sinergisitas antar sektor perekonomian daerah 4 Memantapkan dan meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat melalui pelayanan dibidang pendidikan, kesehatan, dan fasilitas pelayanan umum lainnya beserta penyediaan sarana dan prasarana pendukung yang layak, memadai, dan berkualitas 5 Memantapkan dan meningkatan system perencanaan pembangunan serta pelayanan dan penyediaan sarana-prasarana perkotaan (pemerintahan, sosial-kemasyarakatan, dan kebudayaan) beserta sarana-prasarana pendukungnya yang layak, memadai, dan berkualitas 6 Memantapkan dan mengembangkan system transportasi dan manajemen lalulintas perkotaan yang modern dan terpadu 7 Memantapkan dan mengembangkan pembangunan daerah yang berorientasi pada keseimbangan daya dukung lingkungan,sosial dan ekonomi Penjelasan dari 5 (lima) misi pembangunan daerah jangka menengah tersebut adalah sebagai berikut: Mewujudkan tata pemerintahan yang baik,akuntabel, dan transparan didukung dengan struktur birokrasi yang berintegritas, kompeten, dan profesional Pelaksanaan pembangunan akan berjalan dengan optimal apabila ditunjang oleh tata pemerintahan yang baik, akuntabel dan transparan.perwujudan tata pemerintahan yang baik,akuntabel dan transparan didukung dengan struktur birokrasi aparatur yang megedepankan profesionalisme,kompetensi,kualitas,transparansi,objektifitas dan bebas dari intervensi politik dan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) berintegritas,kompeten dan profesional. BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-6
43 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 Meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing tinggi Peningkatan pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing tinggi merupakan salah satu upaya untuk mempercepat kemajuan kota tangerang, yang dilakukakan dengan memajukan kegiatan ekonomi yang menjadi sector unggulan, seperti perdagangan dan jasa, industri, dan memperdayakan usaha mikro, kecil, menegah, dan koperasi (UMKMK) sehingga mampu bersaing, serta memperluas kesempatan kerja, mengurangi pengangguran, dan mengentaskan kemiskinan. Mengembangkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan social demi terwujudnya masyarakat yang berdaya saing diera globalisasi Pengembangan kualitas pendidikan dan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan masyarakat yang berdaya saing, kualitas kehidupan masyarakat Kota Tangerang, yang ditunjang dengan upaya peningkatan kesejahteraan social masyarakat. Demi terwujudnya masyarakat yang berdaya saing di era globalisasi. Hal ini dilakukan melalui peningkatan kualitas pelayanan sumberdaya manusia, kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pelayanan, serta factor pendukung lainnya. Meningkatkan pembangunan sarana perkotaan yang memadai dan berkualitas Penyediaan dan peningkatan pembanguanan sarana perkotaan yang memadai dan berkualitas, mutlak diperlukan sekaligus dapat untuk menjamin pemenuhan kebutuhan pelayanan dasar masyarakat dalam rangka mendukung berlangsungnya kegiatan ekonomi dan investasi secara produktif. Saran perkotaan merupakan factor penunjang bagi kegiatan ekonomi Kota Tangerang. Mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman Peningkatan kualitas dan daya dukung lingkungan untuk mendukung dalam rangka melaksanakan merupakan salah satu pilar pembangunan berkelanjutan. Pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman, serta seimbang antara dapat menciptakan kondisi kemajuan yang seimbangan antara peningkatan aspek social dan ekonomi dengan kelestarian lingkungan hidup. 2.5 SASARAN Sasaran adalah hasil yang diharapkan dari suatu tujuan yang diformulasikan secara terukur, spesifik, mudah dicapai, rasional, untuk dapat dilaksanakan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun ke depan. Merupakan penjabaran dari masing-masing misi dan tujuan yang telah ditetapkan, yang menggambarkan sesuatu yang akan dihasilkan oleh Pemerintah Kota Tangerang secara tahunan selama kurun waktu Sasaran prioritas pembangunan dan indikator BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-7
44 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 kinerja sebagai alat ukur keberhasilan sasaran prioritas pembangunan selama tahun adalah sebagai berikut: Tabel 2.2. Keterkaitan Misi, Tujuan, Sasaran Pembangunan Pemerintahan Kota Tangerang Tahun Misi Tujuan Sasaran 1 Mewujudkan tata pemerintahan yang baik, akuntabel, dan transparan didukung dengan struktur birokrasi yang berintegritas, kompeten, dan profesional 2 Meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing tinggi 1.1 Memantapkan dan mengembangkan sistem penyelenggaraan pemerintahan daerah, serta tata kelola pemerintahan yang baik, benar, bersih, transparan, inovatif, dan akuntabel ( good governance) 1.2 Memantapkan dan mengembangkan e- government berbasis teknologi informasi yang modern sebagai pendukung pelaksanaan Sistem Pemb. dan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah 2.1 Meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah, penyerapan tenaga kerja, dan daya beli masyarakat dengan memantapkan sinergitas antar sektor perekonomian daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem pendaftaran, penguasaan, pemilikan, penggunaan, pemanfaatan, dan penyelesaian konflik pertanahan Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem administrasi kependudukan dan pencatatan sipil daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen Kepemerintahan dan Keadministrasian Umum, serta Kesejahteraan Masyarakat, yang Responsif, Koordinatif, Integratif, Sederhana, dan Sinergis Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Keuangan dan Aset Daerah secara Transparan dan Akuntabel Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pengawasan Pembangunan Daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Kepegawaian Daerah Terwujudnya Aparatur Pemerintahan Daerah yang Cerdas, Bermoral, Inovatif, dan Profesional Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pemenuhan peralatan dan perlengkapan keadministrasian perkantoran Terwujudnya pemantapan dan pengembangan kemitraan dan kerjasama yang proporsional dan profesional antara Eksekutif dengan Legislatif untuk menghasilkan Peraturan Daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen Data/Informasi Pembangunan Daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan berbagai kajian, penelitian dan inovasi pemb. daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kearsipan Daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi Daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pelayanan publik dan pelayanan aparatur pemerintahan daerah secara profesional, cepat, tepat, dan akurat, dengan berbasis pada teknologi informasi yang efektif dan efisien Terwujudnya pemantapan & pengem-bangan sistem informasi dan aplikasi penyelenggaraan pemerintah daerah yang terintegrasi, terstandarisasi, serta memadai Terwujudnya pemantapan dan pengembangan keberdayaan sektor UMKM dan Koperasi sebagai pendukung kegiatan ekonomi daerah berbasis sumberdaya lokal Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Investasi Daerah yang transparan serta didukung oleh iklim investasi yang kondusif Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Ketahanan Pangan Daerah yang meliputi Ketersediaan, Distribusi, Konsumsi, Kewaspadaan, dan Kemasyarakatan Terwujudnya pemantapan dan pengembangan agribisnis serta budidaya pertanian dan peternakan yang berorientasi pada intensifikasi pertanian BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-8
45 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 Misi Tujuan Sasaran 3 Mengembangkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial demi terwujudnya masyarakat yang berdaya saing di era globalisasi 4 Meningkatkan pembangunan perkotaan memadai berkualitas sarana yang dan 3.1 Memantapkan dan meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat melalui pelayanan di bidang pendidikan, kesehatan, dan fasilitas pelayanan umum lainnya beserta penyediaan sarana dan prasarana pendukungnya yang layak, memadai, dan berkualitas 4.1 Memantapkan dan meningkatkan sistem perencanaan pembangunan serta pelayanan dan penyediaan saranaprasarana perkotaan (pemerintahan, sosialkemasyarakatan, dan kebudayaan) beserta sarana-prasarana pendukungnya yang layak, memadai, dan berkualitas Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Kepariwisataan Daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan intensifikasi budidaya perikanan darat Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perdagangan Daerah dan peningkatan perlindungan konsumen Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perindustrian Daerah dan peningkatan kapasitas industri kecil dan menengah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pendidikan Daerah yang mengacu pada Sistem Pendidikan Nasional, dan berbasis kompetensi, serta berorientasi pada kebutuhan kerja Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Pelayanan dan Akses Kesehatan yang berkualitas dan terjangkau Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya pemberdayaan dan perlindungan anak yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan keluarga Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap norma keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan perlindungan kesejahteraan sosial-masyarakat Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Ketenagakerjaan Daerah yang berbasis Keahlian serta berorientasi pada penciptaan dan perluasan lapangan pekerjaan Terwujudnya pemantapan dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan kebudayaan daerah Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kepemudaan dan Keolahragaan Daerah yang mandiri dan berprestasi Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesatuan, kebangsaan, dan kepolitikan Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem penegakan peraturan daerah yang manusiawi dan berkeadilan Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Keberdayaan Masyarakat yang berbasis pada kebutuhan dasar dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran dan kegemaran membaca masyarakat Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem perencanaan-penganggaran, pengendalian, dan evaluasipelaporan yang partisipatif, koordinatif dan integratif, serta berbasis data/informasi dan berorientasi pada sektoral dan kewilayahan Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan sarana-prasarana kependidikan, kebudayaan, dan kepustakaan yang layak dan memadai Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan sarana-prasarana kesehatan yang layak dan memadai Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan penyediaan sarana-prasarana kebinamargaandaerah yang BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-9
46 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 Misi Tujuan Sasaran 5 Mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman 4.2 Memantapkan dan mengembangkan Sistem Transportasi dan Manajemen lalulintas Perkotaan yang modern dan terpadu 5.1 Memantapkan dan mengembangkan Pembangunan Daerah yang berorientasi pada keseimbangan daya dukung lingkungan, sosial, dan ekonomi layak dan memadai Terwujudnya pemantapan dan pengembangan penyediaan perlengkapan sarana-prasarana transportasi dan kelalulintasan yang layak, memadai, dan terpadu Terwujudnya pemantapan dan pengembangan ketersediaan sarana dan prasarana Perekonomian dan Sosial- Kemasyarakatan yang layak dan memadai Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana perkantoran pemerintahan daerah yang layak dan memadai Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Transportasi serta Manajemen dan Rekayasa Lalulintas yang modern dan terpadu yang didukung oleh teknologi informasi yang canggih dan memadai Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya mitigasi, pencegahan, pengendalian, dan penanganan bencana serta upaya peminimalan dampak bencana Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kualitas lingkungan perumahan dan permukiman penduduk yang bersih, sehat, aman, dan nyaman Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Penataan dan Pengelolaan Ruang Wilayah Perkotaan Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pembangunan Ekologis (sosial, lingkungan, ekonomi) yang berorientasi pada peningkatan kualitas dan daya dukung lingkungan perkotaan 2.6 PRIORITAS PEMBANGUNAN TAHUN 2014 Dalam melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan, maka ada beberapaprioritas pembangunan untuk dilaksanakan pada Tahun 2014 yang menyangkut aspekekonomi, aspek sosial budaya, aspek pemerintahan dan aspek penataan ruang, infrastrukturdan lingkungan hidup serta dalam upaya menjawab isu-isu srategis yang diprediksikanakan berkembang dan mempengaruhi kinerja pembangunan Kota Tangerang. Prioritaspembangunan tersebut diantaranya adalah : 1. Tata Kelola dan Tata Kerja Birokrasi Pemerintahan Daerah yang Baik dan Bersih; Peningkatan Kualitas Tata Kelola Pemerintahan 2. Pelayanan Pendidikan yang Lengkap, Berkualitas, dan Terjangkau; Peningkatan Kualitas Pendidikan; Penanggulangan Kemiskinan; Perluasan Kesempatan Kerja. 3. Pelayanan Kesehatan yang Lengkap, Berkualitas, dan Terjangkau; Peningkatan Kualitas Kesehatan; Penanggulangan Kemiskinan. BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-10
47 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun Penanggulangan Kemiskinan, Pengangguran, dan Pelayanan Kesejahteraan Sosial; Penanggulangan Kemiskinan; Perluasan Kesempatan Kerja; Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Ekonomi Lokal. 5. Ketahanan Pangan Daerah; Peningkatan Kualitas Kesehatan; Penanggulangan Kemiskinan. 6. Pelayanan Sarana-Prasarana (Fasilitas dan Utilitas Umum) yang Layak dan Memadai; Penataan Ruang Kota yang Berkelanjutan; Pengembangan Sistem Transportasi; Penanganan Banjir. 7. Kondisivitas Iklim Investasi dan Iklim Usaha Daerah; Perluasan Kesempatan Kerja; Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Ekonomi Lokal. 8. Pengelolaan Energi; Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Ekonomi Lokal; Penanganan Banjir. 9. Daya Dukung Lingkungan dan Keseimbangan Ekologis (Sosial -Ekonomi- Lingkungan); Penataan Ruang Kota yang Berkelanjutan; Penanganan Banjir. 10. Ketentraman dan Ketertiban serta Perlindungan Masyarakat; Penataan Ruang Kota yang Berkelanjutan; 11. Pengetahuan dan Kebudayaan, Ekonomi Kreatif, Inovasi Teknologi, serta Daya Saing Masyarakat. Penanggulangan Kemiskinan; Perluasan Kesempatan Kerja; Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Ekonomi Lokal. 2.7 RENCANA KERJA DAN PERJANJIAN KINERJA Perencanaan Kinerja merupakan proses penyusunan rencana kinerja sebagaipenjabaran dari sasaran dan program yang telah ditetapkan dalam Rencana Strategis, yangakan dilaksanakan oleh instansi pemerintah melalui berbagai kegiatan BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-11
48 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 tahunan. PenyusunanRencana Kinerja dilaksanakan seiring dengan agenda penyusunan dari kebijakan anggaranserta merupakan komitmen bagi instansi untuk mencapainya dalam tahun tertentu. Didalam Rencana Kinerja ditetapkan Rencana Capaian Kinerja Tahunan untuk seluruhindikator kinerja yang ada pada tingkat sasaran dan kegiatan melalui Perjanjian KinerjaPemerintah. Dokumen Rencana Kinerja memuat informasi tentang sasaran yang ingin dicapaidalam tahun yang bersangkutan, Indikator Kinerja Sasaran, dan Rencana Capaiannya;Program, Kegiatan, serta Kelompok Indikator Kinerja dan Rencana Capaiannya. IndikatorKinerja adalah ukuran kuantitatif dan kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaiansasaran yang telah ditetapkan.penetapan Indikator Kinerja harus didasarkan pada perkiraanyang realistis dengan memperhatikan tujuan dan sasaran yang ditetapkan serta datapendukung yang harus di organisasi. Berikut disampaikan Perjanjian Kinerja yang akan dicapai pada Tahun 2014 denganjumlah Belanja Langsung setelah perubahan APBD pada Tahun 2014 sebesarrp ,07. Tabel 2.3. Perjanjian Kinerja Pemerintah MISI 1 : Mewujudkan tata pemerintahan yang baik, akuntabel, dan transparan didukung dengan struktur birokrasi yang berintegritas, kompeten, dan profesional Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Sasaran 1: Terwujudnya 1 Tingkat pelaksanaan fasilitasi % per tahun 100,00 pemantapan dan pengembangan sistem 2 pengadaan tanah Tingkat pelaksanaan fasilitasi % per tahun 100,00 pendaftaran, penguasaan, pemilikan, penggunaan, 3 pengaduan sengketa tanah Tingkat ketersediaan sistem informasi % per tahun 100,00 pemanfaatan, dan penyelesaian konflik pertanahan tanah milik pemda Sasaran 2 : Terwujudnya 4 Persentase Penduduk ber-ktp (%) 99,50 pemantapan dan 5 Persentase Keluarga mempunyai Kartu (%) 81,65 pengembangan sistem administrasi 6 Keluarga Persentase Bayi Ber-Akta Kelahiran (%) 20,99 kependudukan dan 7 Persentase Penduduk meninggal dunia (%) 81,65 pencatatan sipil daerah Ber-Akta Kematian 8 Persentase Pasangan Suami-Isteri Ber- (%) 15,24 Akta Nikah Sasaran 3 : Terwujudnya 9 Tingkat penataan peraturan daerah dan (%) 20,00 pemantapan dan pengembangan Sistem 10 peraturan kepala daerah Tingkat kelengkapan kelembagaan dan (%) 59,00 Manajemen Kepemerintahan dan 11 penataan keorganisasian SKPD Tingkat koordinasi dan kerjasama (%) 17,74 Keadministrasian Umum, serta Kesejahteraan Masyarakat, yang 12 dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah lainnya Tingkat kesesuaian formasi jabatan (%) per tahun 100,00 BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-12
49 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Responsif, Koordinatif, SKPD Integratif, Sederhana, dan Sinergis Sasaran 4 : Terwujudnya 13 Tingkat ketersediaan pelaporan kinerja (%) 20,00 pemantapan dan pengembangan Sistem 14 dan keuangan SKPD Tingkat ketersediaan dokumen dan (%) 20,13 Manajemen dan Administrasi Keuangan 15 sistem pengelolaan keuangan daerah Tingkat ketersediaan dokumen dan (%) 14,07 dan Aset Daerah secara Transparan dan Akuntabel 16 sistem pengelolaan aset Tingkat kenaikan pendapatan daerah (%) 13,69 Sasaran 5 : 17 Tingkat ketersediaan laporan hasil (%) 18,51 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pengawasan 18 pemeriksaan Tingkat tindak lanjut laporan hasil ekspose temuan hasil pengawasan (%) 20,00 Pembangunan Daerah 19 Tingkat tenaga pemeriksa yang (%) 20,00 menguasai teknik/teori pengawasan dan penilaian akuntabilitas kinerja 20 Tingkat ketersediaan kebijakan tentang (%) 20,00 sistem dan prosedur pengawasan Sasaran 6 : Terwujudnya 21 Tingkat ketersediaan pelayanan (%) per tahun 100,00 pemantapan dan pengembangan Sistem 22 administrasi kepegawaian Tingkat ketersediaan pelayanan (%) 50,00 Manajemen dan Administrasi Kepegawaian Daerah Pemensiunan Pegawai Sasaran 7 : Terwujudnya 23 Tingkat kedisiplinan aparatur (%) per tahun 100,00 Aparatur Pemerintahan Daerah yang Cerdas, 24 pemerintah daerah Tingkat ketersediaan dan kelengkapan (%) per tahun 100,00 Bermoral, Inovatif, dan Profesional sarana-prasarana pendukung kedisiplinan aparatur pemerintah daerah 25 Tingkat Penurunan Indisipliner Pegawai (%) 0,38 26 Tingkat Pelayanan Diklat Struktural (%) 16,36 Kepemimpinan 27 Persentase pejabat fungsional (%) 14,95 pemerintah daerah yang telah mengikuti diklat fungsional 28 Tingkat Kapasitas Sumberdaya (%) per tahun 100,00 Aparatur pemerintah daerah 29 Tingkat Pelayanan Penyelenggaraan (%) 9,18 Diklat Teknis dan Fungsional beserta sarana pendukungnya Sasaran 8 : Terwujudnya 30 Tingkat ketersediaan pelayanan barang (%) per tahun 100,00 pemantapan dan pengembangan pemenuhan peralatan dan perlengkapan keadministrasian perkantoran 31 pendukung administrasi perkantoran Tingkat ketersediaan pelayanan jasa pendukung administrasi perkantoran (%) per tahun 100,00 Sasaran 9 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan kemitraan dan kerjasama yang 32 Tingkat Fasilitasi Peningkatan Kapasitas Lembaga DPRD 33 Tingkat Fasilitasi Pembahasan dan Persetujuan Raperda (%) per tahun 100,00 (%) per tahun 100,00 BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-13
50 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target proporsional dan profesional antara Eksekutif dengan Legislatif untuk menghasilkan Peraturan Daerah Sasaran 10 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen Data/ Informasi Pembangunan Daerah Sasaran 11 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan berbagai kajian dan penelitian statistik pembangunan daerah Sasaran 12 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kearsipan Daerah Sasaran 13 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi Daerah 34 Rata-rata tingkat ketersediaan data/informasi statistik hasil pembangunan daerah 35 Rata-rata tingkat ketersediaan kajian, penelitian, dan pengembangan strategis Sasaran 14 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pelayanan publik dan pelayanan aparatur pemerintahan daerah secara profesional, cepat, tepat, dan akurat, dengan berbasis pada teknologi informasi yang efektif dan efisien Sasaran 15 : Terwujudnya pemantapan dan 36 Tingkat ketersediaan sistem dan pedoman penyelenggaraan kearsipan yang handal, dinamis, komprehensif dan terpadu 37 Tingkat ketersediaan arsip statis, bernilaiguna, dan arsip elektronik 38 Tingkat pengelolaan arsip baku pada SKPD 39 Tingkat pemeliharaan arsip dan sarana prasarana pendukungnya 40 Persentase terpenuhinya kebutuhan informasi kearsipan 41 Persentase pelaksanaan kegiatan peningkatan SDM Kearsipan yang berkualitas 42 Tingkat ketersediaan sistem dan jaringan komunikasi dan informasi SKPD 43 Tingkat Pengkajian dan Penelitian Bidang Komunikasi dan Informasi 44 Tingkat Kerjasama Informasi dan Media Massa 45 Tingkat Pelayanan Publik yang menggunakan media informasi berbasis Informasi Teknologi 46 Tingkat Integrasi Sistem Informasi dan Aplikasi Penyelenggaraan Pemerintah (%) 17,37 (%) 18,67 (%) 20,00 (%) 0,00 (%) 20,00 (%) 0,00 (%) 0,00 (%) 15,38 (%) per tahun 100,00 (%) 25,84 (%) 27,45 (%) per tahun 100,00 (%) 28,28 BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-14
51 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target pengembangan kemitraan Daerah dan kerjasama yang proporsional dan profesional antara Eksekutif dengan Legislatif untuk menghasilkan Peraturan Daerah 47 Tingkat Standarisasi Sistem Informasi dan Aplikasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (%) per tahun 100,00 MISI 2 : Meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing tinggi Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Sasaran 16 : 48 Persentase UMKM Aktif (%) per tahun 100,00 Terwujudnya pemantapan 49 Persentase Koperasi Aktif (%) 56,04 dan pengembangan 50 Tingkat Pertumuhan UMKM Aktif (%) 1,59 keberdayaan sektor 51 Tingkat Pertumbuhan Koperasi Aktif (%) 3,80 UMKM dan Koperasi sebagai pendukung kegiatan ekonomi daerah berbasis sumberdaya lokal Sasaran 17 : Terwujudnya 52 Tingkat pertumbuhan investasi daerah (%) 10,00 pemantapan dan 53 Tingkat pelaksanaan fasilitasi kerjasama kali/tahun 100,00 pengembangan Sistem Investasi Daerah yang 54 kemitraan iinvestasi Tingkat penyelenggaraan promosi kali/tahun 100,00 transparan serta didukung oleh iklim investasi yang 55 peluang investasi daerah Tingkat ketersediaan Sistem Informasi (%) 28,57 kondusif Pelayanan Investasi Daerah 56 Tingkat Penerbitan Izin Mendirikan (%) 43,00 Bangunan (IMB) 57 Persentase Bangunan yang mempunyai (%) per tahun 100,00 Izin Mendirikan Bangunan (IMB) 58 Tingkat pelayanan Izin Usaha Jasa (%) per tahun 100,00 Konstruksi (IUJK) 59 Tingkat pelayanan waktu pengurusan (%) per tahun 100,00 Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) Sasaran 18 : Terwujudnya 60 Tingkat Ketersediaan Energi Per Kapita (%) 80,00 pemantapan dan 61 Tingkat Ketersediaan Protein Per Kapita (%) 80,00 pengembangan Sistem 62 Tingkat Penguatan Cadangan Pangan (%) 50,00 Ketahanan Pangan Daerah yang meliputi 63 Daerah Tingkat Ketersediaan Informasi (%) 0,00 Ketersediaan, Distribusi, Konsumsi, Kewaspadaan, dan Kemasyarakatan 64 Pasokan, Harga dan Akses Pangan di Daerah Tingkat Stabilitasi Harga Pangan (%) per tahun 100,00 65 Tingkat Stabilitasi Pasokan Pangan (%) per tahun 100,00 66 Capaian Peningkatan Pangan Skor Pola (%) 20,00 Pangan Harapan (PPH) 67 Tingkat Pengawasan dan Pembinaan (%) 20,00 Keamanan Pangan Daerah 68 Tingkat Penanganan Daerah Rawan (%) 20,00 Sasaran 19: Terwujudnya pemantapan dan Pangan Daerah 69 Tingkat Produktivitas Pertanian (%) 2,04 70 Tingkat produksivitas peternakan (%) per tahun 20,00 BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-15
52 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target pengembangan agribisnis 71 Tingkat pemasaran hasil produksi (%) 5,00 serta budidaya pertanian dan peternakan yang berorientasi pada intensifikasi pertanian 72 pertanian Tingkat pemasaran hasil produksi ternak sapi potong di wilayah Kota Tangerang (%) 80,00 Sasaran 20: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Kepariwisataan Daerah Sasaran 21: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan intensifikasi budidaya perikanan darat Sasaran 22: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perdagangan Daerah dan peningkatan perlindungan konsumen Sasaran 23: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perindustrian Daerah dan peningkatan kapasitas industri kecil dan menengah 73 Angka prevalensi penyakit zoonosis (%) 100,00 74 Tingkat pemasaran obyek wisata (%) 33,33 daerah 75 Tingkat kenaikan kunjungan wisatawan (%) 20,00 ke obyek wisata daerah 76 Tingkat perkembangan destinasi (%) 0,00 pariwisata daerah 77 Tingkat perkembangan Jenis kelas dan (%) 95,00 jumlah Hotel 78 Persentase kenaikan produksi ikan (%) 92,73 79 Cakupan bina kelompok peternak ikan (%) 30,95 80 Tingkat pengolahan dan pemasaran (%) 66,47 produksi perikanan 81 Tingkat pembinaan Pedagang Kaki (%) 1,02 Lima (PKL) 82 Tingkat perlindungan konsumen (%) 21,02 83 Tingkat pembinaan perdagangan dalam negeri (%) 4,00 84 Persentase industri yang memiliki (%) 8,21 Gugus Kendali Mutu (Pengukuran Standarisasi, Pengujian, dan Kualitas) 85 Persentase IKM memiliki Izin Usaha (%) 3,08 Industri Kecil Melalui P-IRT dan Halal 86 Persentase industri yang telah (%) 11,08 memenuhi standar kelayakan produksi 87 Tingkat Pertumbuhan Industri di Daerah (%) 1,30 MISI 3 : Mengembangkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial demi terwujudnya masyarakat yang berdaya saing di era globalisasi Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Sasaran 24: Terwujudnya 88 Angka Putus Sekolah SD/MI (%) per 0,02 pemantapan dan pengembangan Sistem 89 Angka Putus Sekolah SMP/MTs tahun (%) per 0,09 Pendidikan Daerah yang mengacu pada Sistem 90 Angka Putus Sekolah SMA/MA/SMK tahun (%) per 0,12 Pendidikan Nasional, dan berbasis kompetensi, 91 Angka Melek Huruf Penduduk Usia > 15 tahun (%) per 98,65 serta berorientasi pada Tahun tahun kebutuhan kerja 92 Angka Melanjutkan SD/MI ke SMP/MTs (%) per 98,53 tahun 93 Angka Melanjutkan SMP/MTs ke (%) per 97,74 SMA/SMK/MA tahun 94 Angka Kelulusan Siswa SD/MI (%) per tahun 100,00 BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-16
53 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target 95 Angka Kelulusan Siswa SMP/MTs (%) per 100,00 tahun 96 Angka Kelulusan Siswa SMA/MA/SMK (%) per 99,99 tahun Sasaran 25: Terwujudnya 97 Cakupan Kelurahan Siaga Aktif (%) 50,00 pemantapan dan 98 Persentase rumah tangga berperilaku (%) 25,00 pengembangan Sistem dan Jaringan Pelayanan 99 hidup bersih dan sehat (PHBS) Cakupan penjaringan kesehatan siswa (%) 95,12 dan Akses Kesehatan yang berkualitas dan 100 SD dan setingkat Cakupan pelayanan kesehatan dasar (%) 50,00 terjangkau masyarakat Kota Tangerang 101 Cakupan pelayanan kesehatan rujukan (%) 0,84 pasien masyarakat Kota Tangerang 102 Cakupan pelayanan JKN (BPJS) (%) per 100,00 tahun 103 Presentase ketersediaan obat dan (%) per 100,00 perbekalan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan di Puskesmas, Pustu, Pusling, dan Poliklinik tahun 104 Presentase Sarana Obat dan bahanbahan (%) 89,13 berbahaya yang memenuhi syarat 105 Presentase sarana kesehatan yang (%) 61,11 memenuhi syarat 106 Rasio dokter per penduduk dokter/ 0, penduduk 107 Rasio tenaga medis per penduduk tenaga 0,05 medis/ penduduk Sasaran 26: Terwujudnya 108 Cakupan perempuan dan anak korban (%) 21,09 pemantapan dan peningkatan upaya pemberdayaan dan perlindungan anak yang 109 kekerasan yang mendapatkan penanganan pengaduan oleh petugas terlatih di dalam unit pelayanan terpadu Cakupan Perempuan dan Anak Korban (%) per 100,00 berorientasi pada peningkatan kesejahteraan keluarga Kekerasan yang mendapatkan pelayanan kesehatan oleh Tenaga Kesehatan Terlatih Di Puskesmas Mampu Tatalaksana KtP/A dan PPT/PKT di Rumah Sakit tahun 110 Cakupan layanan rehabilitasi sosial (%) 22,11 yang diberikan oleh petugas rehabilitasi sosial terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu 111 Cakupan layanan bimbingan rohani (%) 22,67 yang diberikan oleh petugas bimbingan rohani terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu 112 Cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan pengadilan atas kasus-kasus kekerasan (%) 20,00 BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-17
54 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target terhadap perempuan dan anak 113 Cakupan Perempuan dan Anak Korban (%) 100,00 Kekerasan Yang Mendapatkan Layanan Bantuan Hukum 114 Cakupan layanan pemulangan bagi (%) per 100,00 perempuan dan anak korban kekerasan tahun 115 Cakupan layanan reintegrasi sosial bagi (%) 21,09 perempuan dan anak korban kekerasan 116 Persentase focal point SKPD yang (%) 38,10 memiliki aktifitas di dalam perwujudan kesetaran dan keadilan gender 117 Persentase partisipasi perempuan di (%) 0,60 lembaga pemerintah daerah 118 Persentase partisipasi perempuan di (%) 15,74 lembaga swasta Sasaran 27: Terwujudnya 119 Cakupan Pasangan Usia Subur (PUS) (%) 103,43 pemantapan dan peningkatan kesadaran 120 yang usia istrinya < 20 tahun Cakupan Pasangan Usia Subur menjadi (%) 73,02 masyarakat terhadap norma keluarga kecil, 121 Peserta KB aktif Cakupan Pasangan Usia Subur yang (%) 14,38 bahagia, dan sejahtera ingin ber-kb tidak terpenuhi (Unmet Need) 122 Cakupan Anggota Bina Keluarga Balita (%) 48,08 (BKB) yang ber-kb 123 Cakupan PUS Peserta KB Anggota (%) 0,00 Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) yang ber- KB 124 Rasio Petugas Lapangan Keluarga petugas/ 0,10 Berencana/ Penyuluh Keluarga Berencana (PLKB/PKB) di setiap kelurahan kelurahan 125 Rasio Pembantu Pembina Keluarga petugas/ 100,00 Berencana (PPKBD) di setiap Kelurahan kelurahan 126 Cakupan penyediaan alat dan obat (%) 30,00 Kontrasepsi untuk memenuhi permintaan masyarakat di daerah 127 Cakupan penyediaan informasi data (%) per 100,00 mikro keluarga di setiap Kelurahan tahun 128 Persentase kecamatan memiliki fasilitas (%) per 100,00 pelayanan konseling remaja tahun 129 Cakupan pelayanan dan (%) per 100,00 penanggulangan Narkoba, PMS termasuk HIV/AIDS di setiap kelurahan tahun 130 Rasio pelayanan Posyandu Aktif di posyandu/ 1,00 Sasaran 28: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan perlindungan kesejahteraan sosialmasyarakat setiap RW 131 Persentase (%) PMKS skala kota yang menerima program pemberdayaan sosial melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) atau kelompok sosial ekonomi sejenis lainnya RW (%) 16, Jumlah KUBE yang mendapat Bantuan (%) 0, Persentase Wahana Kesejahteraan (%) 25,52 BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-18
55 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial 134 Persentase (%) penyandang cacat, (%) 4,06 fisik, mental, serta lanjut usia tidak potensial yang telah menerima jaminan sosial 135 Tingkat keikutsertaan eks penyandang (%) 20,00 penyakit sosial yang mengikuti pendidikan dan pelatihan 136 Cakupan petugas rehabilitasi sosial (%) 11,11 Sasaran 29: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Ketenagakerjaan Daerah yang berbasis Keahlian serta berorientasi pada penciptaan dan perluasan lapangan pekerjaan Sasaran 30: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan kebudayaan daerah Sasaran 31: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kepemudaan dan Keolahragaan Daerah yang mandiri dan berprestasi Sasaran 32: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesatuan, kebangsaan, dan kepolitikan yang terlatih 137 Besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis kompetensi (%) 33, Tingkat besaran tenaga kerja yang (%) 100,00 mendapatkan pelatihan berbasis kewirausahaan 139 Besaran pekerja/buruh yang menjadi (%) 58,64 peserta program Jamsostek Aktif 140 Tingkat besaran Kasus Yang (%) 39,17 Diselesaikan Dengan Perjanjian Bersama (PB) 141 Besaran pencari kerja terdaftar yang (%) 60,00 ditempatkan 142 Besaran Pemeriksaan Perusahaan (%) 15, Besaran Pengujian Peralatan di Perusahaan (%) 66, Cakupan pelestarian benda, situs dan (%) 56,25 kawasan cagar budaya daerah 145 Cakupan tempat menggelar seni, (%) 80,00 memamerkan dan memasarkan karya seni, serta mengembangkan industri seni 146 Cakupan Penyelenggaraan Festival (%) 20,00 Seni dan budaya 147 Cakupan Kajian Seni (%) 20, Persentase organisasi pemuda yang (%) 0,00 memiliki sertifikat standar mutu organisasi kepemudaan 149 Cakupan fasilitasi kegiatan kepemudaan (%) 13, Persentase organisasi olahraga yang (%) 0,00 memiliki sertifikat standar mutu oraganisasi keolahragaan 151 Tingkat fasilitasi kegiatan keolahragaan daerah 152 Cakupan peningkatan kesadaran wawasan kebangsaan pada Ormas, LSM, dan OKP 153 Rasio petugas dalam satuan perlindungan masyarakat (Linmas) pada setiap RT (%) per tahun (%) per tahun 100,00 100,00 petugas/ RT 0, Cakupan penyelenggaraan kemitraan kegiatan/ 0,31 BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-19
56 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target dan kerjasama pemerintah daerah dengan ormas dan LSM di setiap wilayah kecamatan kecamatan 155 Tingkat penyelenggaraan sosialisasi (%) 20,00 kebijakan pemerintah di bidang Politik Sasaran 33: Terwujudnya 156 Cakupan patroli siaga ketertiban umum patroli/hari 1,38 pemantapan dan pengembangan sistem 157 dan ketentraman masyarakat Persentase pengawasan lokasi rawan (%) per 100,00 penegakan peraturan daerah yang manusiawi 158 pelanggar peraturan daerah Tingkat penyelesaian pelanggaran tahun (%) per 100,00 dan berkeadilan ketertiban umum tahun Sasaran 34: Terwujudnya 159 Tingkat pemberdayaan kelompok (%) 19,23 pemantapan dan pengembangan Sistem Keberdayaan Masyarakat 160 binaan lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) Persentase peningkatan lembaga (%) 34,69 yang berbasis pada kebutuhan dasar dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat (usaha ekonomi, badan keswadayaan masyarakat, postantek) setiap kelurahan Sasaran 35: Terwujudnya 161 Tingkat kenaikan kunjungan masyarakat (%) 6,00 pemantapan dan peningkatan kesadaran 162 ke perpustakaan daerah Tingkat kenaikan anggota (%) 21,62 dan kegemaran membaca masyarakat perpustakaan, taman bacaan, klub buku, dll. 163 Tingkat koleksi dan jenis buku yang (%) 76,09 tersedia di perpustakaan daerah 164 Tingkat keberadaan Perpustakaan (%) 51,67 Digital 165 Tingkat kelengkapan sistem layanan perpustakaan daerah (%) 9,57 MISI 4 : Meningkatkan pembangunan sarana perkotaan yang memadai dan berkualitas Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Sasaran 36: Terwujudnya 166 Rata-rata tingkat koordinasi/kerjasama (%) 100,00 pemantapan dan pengembangan sistem perencanaanpenganggaran, 167 perencanaan pembangunan daerah dalam semua aspek pembangunan Tingkat ketersediaan dan implementasi (%) 42,86 pengendalian, dan evaluasi-pelaporan yang partisipatif, koordinatif dan 168 peraturan/regulasi Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah (SPPD) serta berbagai aturan pendukungnya Tingkat Ketersediaan, Pengelolaan, (%) 100,00 integratif, serta berbasis data/informasi dan berorientasi pada sektoral dan kewilayahan 169 Pengolahan, dan Publikasi Data/Informasi Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat ketersediaan dokumen utama (%) 21,27 perencanaan-penganggaran dan evaluasi-pelaporan pelaksanaan pembangunan daerah yang didukung kajian teknokratis serta dipublikasikan 170 Tingkat kapasitas dan kompetensi (%) 33,33 BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-20
57 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Dasar, Teknis, dan Operasional Aparatur Perencanaan Pembangunan Sasaran 37: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan saranaprasarana kependidikan, kebudayaan, dan kepustakaan yang layak dan memadai Daerah 171 Tingkat peranserta/partisipasi kelompok masyarakat sebagai pemangku kepentingan pembangunan daerah 172 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana prasarana pendidikan PAUD yang layak dan memadai 173 Tingkat ketersedian sarana prasarana kebutuhan Pendidikan Dasar yang layak dan memadai 174 Tingkat ketersedian sarana prasarana kebutuhan Pendidikan Menengah yang layak dan memadai Sasaran 38: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan saranaprasarana kesehatan yang layak dan memadai 175 Partisipasi Anak Bersekolah (PAB) SD/MI 176 Partisipasi anak Bersekolah (PAB) SMP/MTs 177 Partisipasi Anak Bersekolah (PAB) SMA/MA 178 Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A 179 Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B 180 Angka Partisipasi Murni (APM) SMA/SMK/MA/Paket C 181 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan Sarana dan Prasarana untuk guru, kepala sekolah, dan staf kependidikan lainnya dalam satuan pendidikan dasar 182 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan Sarana dan Prasarana untuk guru, kepala sekolah, dan staf kependidikan lainnya dalam satuan pendidikan menengah 183 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana dan prasarana kesenian dan kebudayaan daerah 184 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana dan prasarana pepustakaan daerah 185 Cakupan perpustakaan dan taman bacaan di setiap kecamatan 186 Persentase puskesmas, puskesmas pembantu dan jaringannya dengan kondisi sarana dan prasarana memadai 187 Cakupan Ketersediaan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di setiap RW 188 Cakupan Ketersediaan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu di setiap Kecamatan (%) per tahun 100,00 (%) 20,00 (%) 20,00 (%) 20,00 (%) per 92,88 tahun (%) per 95,94 tahun (%) per 76,22 tahun (%) per 88,09 tahun (%) per 64,52 tahun (%) per 77,74 tahun (%) 20,00 (%) 20,00 (%) 56,25 (%) 38,34 buah/ kecamatan (%) per tahun posyandu/ RW puskesmas/ kecamatan 24,08 100,00 1,06 1, Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per buah/ ,04 BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-21
58 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target penduduk penduduk 190 Tingkat ketersediaan sarana prasarana (%) 21,57 kesehatan di Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-Paru/Rumah Sakit Mata yang layak dan memadai 191 Tingkat pemeliharaan sarana prasarana (%) 14,29 kesehatan di Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-Paru/Rumah Sakit Mata yang layak dan memadai Sasaran 39: Terwujudnya 192 Persentase kondisi jalan kota yang baik (%) 98,00 pemantapan dan peningkatan pelayanan 193 dan sedang Persentase keterhubungan pusat-pusat (%) 92,21 dan penyediaan saranaprasarana kebinamargaan, dan 194 kegiatan dan pusat-pusat produksi di wilayah kota Persentase cakupan pelayanan sistem (%) 10,00 keciptakaryaan daerah yang layak dan memadai 195 drainase perkotaan Tingkat pengurangan luas genangan (%) 23, Tingkat pembangunan turap di wilayah aliran sungai yang rawan longsor (%) per tahun 100,00 Sasaran 40: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan penyediaan perlengkapan sarana-prasarana transportasi dan kelalulintasan yang layak, memadai, dan terpadu Sasaran 41: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan ketersediaan sarana dan prasarana Perekonomian dan Sosial- Kemasyarakatan yang layak dan memadai lingkup kewenangan kota 197 Tingkat ketersediaan angkutan umum yang melayani wilayah kota yang telah tersedia jaringan jalan 198 Tingkat ketersediaan angkutan umum yang melayani jaringan trayek penghubung antar wilayah 199 Tingkat ketersediaan koridor angkutan umum massal 200 Tingkat ketersediaan dokumen perencanaan angkutan 201 Tingkat Ketersediaan Prasarana Angkutan yang terpelihara 202 Tingkat ketersediaan sarana dan prasarana perhubungan 203 Tingkat ketersediaan fasilitas perlengkapan jalan (rambu, marka, dan guardrill) pada jalan di wilayah kota 204 Tingkat ketersediaan fasilitas Penerangan Jalan Umum (PJU) pada berbagai jenis jalan di wilayah kota 205 Tingkat ketersediaan unit pengujian kendaraan bermotor 206 Tingkat ketersediaan standar keselarnatan bagi angkutan urnurn yang rnelayani trayek di dalarn Kota 207 Persentase panti sosial skala kota yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial 208 Persentase wahana kesejahteraan sosial berbasis masyarakat (WKBSM) yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial (%) 20,00 (%) 25,00 (%) 0,00 (%) 30,95 (%) 17,31 (%) 22,39 (%) 20,00 (%) 51,56 buah/ ,00 (%) 11,34 (%) per tahun 100,00 (%) 0, Tingkat Pengembangan Balai Latihan (%) per 100,00 BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-22
59 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Kerja Daerah tahun 210 Cakupan ketersediaan pasar tradisional pasar/ 2,38 daerah di setiap kecamatan kecamatan 211 Tingkat pembinaan pasar/toko modern (%) 4,00 dan pasar tradisional daerah 212 Cakupan gedung olahraga di setiap gedung/ 1,38 kecamatan kecamatan 213 Tingkat Ketersediaan Panti (%) per 100,00 Asuhan/Panti Jompo tahun 214 Cakupan ketersediaan Poskamling di poskamling/ 1,23 setiap RW RW Sasaran 42: Terwujudnya 215 Tingkat ketersediaan sarana dan (%) per 100,00 pemantapan dan pengembangan terhadap 216 prasarana aparatur yang memadai Tingkat ketersediaan pelayanan jasa tahun (%) per 100,00 pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana perkantoran pemerintahan daerah yang layak dan memadai rehabilitasi sarana dan prasarana aparatur tahun Sasaran 43: Terwujudnya 217 Tingkat ketersediaan pelayanan (%) 20,00 pemantapan dan pengembangan Sistem Transportasi serta Manajemen dan Rekayasa 218 pengendalian kinerja simpang dan ruas jalan dengan Sistem ATCS (Area Traffic Control System) Tingkat ketersediaan prasarana (%) 33,33 Lalulintas yang modern dan terpadu yang didukung oleh teknologi informasi yang canggih dan memadai 219 penunjang pengendalian simpang dan ruas jalan dalam kondisi baik Tingkat ketersediaan perencanaan sarana dan prasarana penunjang pengendalian simpang dan ruas jalan (%) 50,00 MISI 5 : Mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Sasaran 44: Terwujudnya 220 Cakupan pelayanan bencana (%) 80,00 pemantapan dan peningkatan upaya 221 kebakaran Persentase Aparatur Pemadam (%) 70,00 mitigasi, pencegahan, pengendalian, dan penanganan bencana 222 Kebakaran Yang Memenuhi Standar Kualifikasi Tingkat penanganan wilayah/lokasi (%) 19,35 serta upaya peminimalan dampak bencana 223 banjir Tingkat koordinasi penanggulangan (%) per 100,00 bencana tahun 224 Tingkat penanganan korban bencana (%) per 100,00 tahun Sasaran 45: Terwujudnya 225 Cakupan Kelurahan mengalami KLB (%) 100,00 pemantapan dan peningkatan kualitas lingkungan perumahan 226 yang dilakukan penyelidikan epidemiologi < 24 jam Cakupan kelurahan Universal Child (%) 100,00 dan permukiman penduduk yang bersih, 227 Immunization (UCI) Prevalensi balita gizi kurang (BB/U) (%) 9,75 sehat, aman, dan nyaman 228 Presentase balita gizi buruk (BB/TB) (%) 0, Persentase tempat umum yang (%) 70,00 BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-23
60 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target memenuhi syarat kesehatan 230 Presentase Sarana Industri Rumah (%) 88,75 Tangga Pangan yang Memenuhi Syarat kesehatan 231 Persentase penanganan permukiman (%) 20,00 kumuh perkotaan 232 Cakupan ketersediaan rumah layak huni (%) 12,03 dan terjangkau bagi penduduk 233 Tingkat waktu tanggap (response time (%) 75,00 rate) daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) 234 Tingkat Ketersediaan mobil pemadam (%) 90,00 kebakaran di Atas liter pada Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) 235 Tingkat pemanfaatan Poskamling di (%) per 100,00 setiap RT tahun 236 Rasio Tempat Pemakaman Umum m2/ ,82 (TPU) per satuan penduduk penduduk 237 Tingkat Tersedianya air baku untuk (%) 50,00 memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari-hari 238 Persentase penduduk yang (%) 58,09 mendapatkan akses air minum yang aman 239 Persentase penduduk yang terlayani (%) 2,57 sistem air limbah yang memadai Sasaran 46: Terwujudnya 240 Tingkat penyelenggaraan pengawasan (%) 12,50 pemantapan dan pengembangan Sistem Penataan dan 241 terhadap bangunan gedung (pemerintah dan umum) Tingkat ketersediaan data mengenai (%) 20,00 Pengelolaan Ruang Wilayah Perkotaan 242 pemanfaatan bangunan gedung Tingkat ketersediaan perangkat (%) 0,00 kebijakan perencanaan tata ruang kota 243 Persentase Penyediaan Ruang Terbuka (%) 28,24 Hijau (RTH) Publik/Perkotaan 244 Tingkat sosialisasi regulasi tentang (%) 72,22 Rencana Tata Ruang Kota 245 Tingkat ketersediaan perangkat (%) 0,00 kebijakan pengendalian pemanfaatan ruang kota 246 Tingkat penyelenggaraan pengendalian (%) 7,69 pemanfaatan ruang 247 Tingkat ketersediaan data mengenai (%) 8,33 pemanfaatan ruang kota 248 Tingkat ketersediaan regulasi penataan (%) 15,79 bangunan dan lingkungan 249 Tingkat ketersediaan, publikasi, dan pengembangan Sistem Informasi Pembina Jasa Konstruksi (SIPJK) (%) per tahun 100,00 Sasaran 47: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem 250 Persentase usaha dan/atau kegiatan yang mentaati persyaratan administrasi dan teknis pencegahan pencemaran air (%) per tahun 100,00 BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-24
61 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Pembangunan Ekologis 251 Persentase jumlah usaha dan/atau (%) per 100,00 (sosial, lingkungan, ekonomi) yang berorientasi pada peningkatan kualitas dan 252 kegiatan sumber tidak bergerak yang memenuhi persyaratan administratif dan teknis pencegahan pencemaran udara Persentase pengaduan masyarakat tahun (%) per 100,00 daya dukung lingkungan perkotaan akibat adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang ditindaklanjuti tahun 253 Cakupan pemantauan Kualitas air (%) 18,74 sungai, Air Tanah dan Situ, serta kualitas udara dan kebisingan 254 Persentase pengurangan sampah di (%) 13,38 perkotaan 255 Persentase pengangkutan sampah (%) 74, Persentase pengoperasian TPA (%) 45, Tingkat pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik/Perkotaan di wilayah perkotaan (%) per tahun 100,00 BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-25
62 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 Contents BAB 2. PERENCANAAN KINERJA Rencana Strategis VISI MISI TUJUAN SASARAN Prioritas Pembangunan Tahun RENCANA KERJA dan PERJANJIAN kinerja Tabel 2.1. Keterkaitan Misi dan Tujuan Pembangunan Tabel 2.2. Keterkaitan Misi, Tujuan, Sasaran Pembangunan Pemerintahan Kota Tangerang Tahun Tabel 2.3. Perjanjian Kinerja Pemerintah BAB II Perencanaan dan Penetapan Kinerja 2-26
63 BAB 3. AKUNTABILITAS KINERJA TAHUN 2014 Akuntabilitas kinerja adalah kewajiban untuk menjawab dari perorangan, badan hukum atau pimpinan kolektif secara transparan mengenai keberhasilan atau kegagalan dalam melaksanakan misi organisasi kepada pihak-pihak yang berwenang menerima pelaporan akuntabilitas/pemberi amanah. Pemerintah Kota Tangerang selaku pengemban amanah masyarakat Kota Tangerang melaksanakan kewajiban berakuntabilitas melalui penyajian Laporan Kinerja Pemerintah Kota Tangerang yang dibuat sesuai ketentuan yang diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, dan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja,Pelaporan Kinerja Dan Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pmerintah. Laporan tersebut memberikan gambaran penilaian tingkat pencapaian target kegiatan dari masing-masing kelompok indikator kinerja kegiatan, dan penilaian tingkat pencapaian target sasaran dari masing-masing indikator kinerja sasaran yang ditetapkan dalam dokumen RPJMD maupun RKPD Tahun Sesuai ketentuan tersebut, pengukuran kinerja digunakan untuk menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program, sasaran yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan misi dan visi instansi pemerintah. Pelaporan Kinerja Pemerintah Kota Tangerang ini didasarkan pada Perjanjian Kinerjaja dan Indikator Kinerja Utama PENGUKURAN CAPAIAN KINERJA TAHUN 2014 Pengukuran tingkat capaian kinerja Pemerintah dilakukan dengan cara membandingkan antara target pencapaian indikator sasaran yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja Pemerintah dengan realisasinya. Tingkat capaian kinerja Pemerintah Kota Tangerang berdasarkan hasil pengukurannya dapat diilustrasikan dalam tabel sebagai berikut: BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-1
64 Capaian Kinerja Pemerintah MISI 1 : Mewujudkan tata pemerintahan yang baik,akuntabel, dan transparan didukung dengan struktur birokrasi yang berintegritas, kompeten, dan profesional Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % Sasaran 1: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem pendaftaran, penguasaan, pemilikan, penggunaan, pemanfaatan, dan penyelesaian konflik pertanahan Sasaran 2 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem administrasi kependudukan dan pencatatan sipil daerah Sasaran 3 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen Kepemerintahan dan Keadministrasian Umum, serta Kesejahteraan Masyarakat, yang Responsif, Koordinatif, Integratif, Sederhana, dan Sinergis Sasaran 4 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Keuangan dan Aset Daerah secara Transparan dan Akuntabel 1 Tingkat pelaksanaan fasilitasi pengadaan tanah 2 Tingkat pelaksanaan fasilitasi pengaduan sengketa tanah 3 Tingkat ketersediaan sistem informasi tanah milik pemda Sasaran 5 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pengawasan Pembangunan Daerah 4 Persentase Penduduk ber- KTP 5 Persentase Keluarga mempunyai Kartu Keluarga 6 Persentase Bayi Ber-Akta Kelahiran 7 Persentase Penduduk meninggal dunia Ber-Akta Kematian 8 Persentase Pasangan Suami-Isteri Ber-Akta Nikah 9 Tingkat penataan peraturan daerah dan peraturan kepala daerah 10 Tingkat kelengkapan kelembagaan dan penataan keorganisasian SKPD 11 Tingkat koordinasi dan kerjasama dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah lainnya 12 Tingkat kesesuaian formasi jabatan SKPD 13 Tingkat ketersediaan pelaporan kinerja dan keuangan SKPD 14 Tingkat ketersediaan dokumen dan sistem pengelolaan keuangan daerah 15 Tingkat ketersediaan dokumen dan sistem pengelolaan aset 16 Tingkat kenaikan pendapatan daerah 17 Tingkat ketersediaan laporan hasil pemeriksaan 18 Tingkat tindak lanjut laporan hasil ekspose temuan hasil pengawasan 19 Tingkat tenaga pemeriksa yang menguasai teknik/teori % per tahun 100,00 100,00 100,00 % per tahun 100,00 0,00 0,00 % per tahun 100,00 0,00 0,00 (%) 99,50 95,68 96,16 (%) 81,65 75,56 92,54 (%) 20,99 18,85 89,80 (%) 81,65 77,35 94,73 (%) 15,24 12,48 81,89 (%) 20,00 20,00 100,00 (%) 59,00 59,00 100,00 (%) 17,74 17,74 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 (%) 20,13 20,13 100,00 (%) 14,07 14,07 100,00 (%) 13,69 17,07 124,69 (%) 18,51 15,87 85,74 (%) 20,00 20,00 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-2
65 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % Sasaran 6 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Kepegawaian Daerah Sasaran 7 : Terwujudnya Aparatur Pemerintahan Daerah yang Cerdas, Bermoral, Inovatif, dan Profesional pengawasan dan penilaian akuntabilitas kinerja 20 Tingkat ketersediaan kebijakan tentang sistem dan prosedur pengawasan 21 Tingkat ketersediaan pelayanan administrasi kepegawaian 22 Tingkat ketersediaan pelayanan Pemensiunan Pegawai 23 Tingkat kedisiplinan aparatur pemerintah daerah 24 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan saranaprasarana pendukung kedisiplinan aparatur pemerintah daerah 25 Tingkat Penurunan Indisipliner Pegawai 26 Tingkat Pelayanan Diklat Struktural Kepemimpinan 27 Persentase pejabat fungsional pemerintah daerah yang telah mengikuti diklat fungsional 28 Tingkat Kapasitas Sumberdaya Aparatur pemerintah daerah 29 Tingkat Pelayanan Penyelenggaraan Diklat Teknis dan Fungsional beserta sarana pendukungnya 30 Tingkat ketersediaan pelayanan barang pendukung administrasi perkantoran 31 Tingkat ketersediaan pelayanan jasa pendukung administrasi perkantoran (%) 20,00 20,00 100,00 (%) per tahun 100,00 94,43 94,43 (%) 50,00 50,00 100,00 (%) per tahun (%) per tahun Sasaran 8 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pemenuhan peralatan dan perlengkapan keadministrasian perkantoran Sasaran 9 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan kemitraan dan kerjasama yang proporsional dan profesional antara Eksekutif dengan Legislatif untuk menghasilkan Peraturan Daerah Sasaran 10 : Terwujudnya 32 Tingkat Fasilitasi Peningkatan Kapasitas Lembaga DPRD 33 Tingkat Fasilitasi Pembahasan dan Persetujuan Raperda 34 Rata-rata tingkat ketersediaan data/informasi 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 0,38 0,38 100,00 (%) 16,36 16,36 100,00 (%) 14,95 9,15 61,20 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) 9,18 9,18 100,00 (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 87,46 87,46 100,00 97,40 97,40 (%) 17,37 17,37 100,00 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-3
66 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen Data/ Informasi Pembangunan Daerah Sasaran 11 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan berbagai kajian dan penelitian statistik pembangunan daerah Sasaran 12 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kearsipan Daerah Sasaran 13 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi Daerah Sasaran 14 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pelayanan publik dan pelayanan aparatur pemerintahan daerah secara profesional, cepat, tepat, dan akurat, dengan berbasis pada teknologi informasi yang efektif dan efisien Sasaran 15 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem informasi dan aplikasi penyelenggaraan pemerintah daerah yang terintegrasi, terstandarisasi, serta memadai (berkemampuan/ berkapasitas tinggi, cepat, mudah diakses, praktis, dan aman) statistik hasil pembangunan daerah 35 Rata-rata tingkat ketersediaan kajian, penelitian, dan pengembangan strategis 36 Tingkat ketersediaan sistem dan pedoman penyelenggaraan kearsipan yang handal, dinamis, komprehensif dan terpadu 37 Tingkat pengelolaan arsip baku pada SKPD 38 Persentase pelaksanaan kegiatan peningkatan SDM Kearsipan yang berkualitas 39 Tingkat ketersediaan sistem dan jaringan komunikasi dan informasi SKPD 40 Tingkat Pengkajian dan Penelitian Bidang Komunikasi dan Informasi 41 Tingkat Kerjasama Informasi dan Media Massa 42 Tingkat Pelayanan Publik yang menggunakan media informasi berbasis Informasi Teknologi 43 Tingkat Integrasi Sistem Informasi dan Aplikasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah 44 Tingkat Standarisasi Sistem Informasi dan Aplikasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (%) 18,67 18,67 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 (%) 15,38 15,38 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) 25,84 25,84 100,00 (%) 27,45 27,45 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) 28,28 28,28 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-4
67 MISI 2 : Meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing tinggi Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % Sasaran 16 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan keberdayaan sektor UMKM dan Koperasi sebagai pendukung kegiatan ekonomi daerah berbasis sumberdaya lokal Sasaran 17 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Investasi Daerah yang transparan serta didukung oleh iklim investasi yang kondusif Sasaran 18 : Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Ketahanan Pangan Daerah yang meliputi Ketersediaan, Distribusi, Konsumsi, Kewaspadaan, dan Kemasyarakatan Sasaran 19: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan 1 Persentase UMKM Aktif (%) per 100,00 100,00 100,00 tahun 2 Persentase Koperasi Aktif (%) 56,04 56,04 100,00 3 Tingkat Pertumuhan UMKM (%) 1,59 1,59 100,00 Aktif 4 Tingkat Pertumbuhan Koperasi Aktif (%) 3,80 3,80 100,00 5 Tingkat pertumbuhan investasi daerah 6 Tingkat pelaksanaan fasilitasi kerjasama kemitraan iinvestasi 7 Tingkat penyelenggaraan promosi peluang investasi daerah 8 Tingkat ketersediaan Sistem Informasi Pelayanan Investasi Daerah 9 Tingkat Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) 10 Persentase Bangunan yang mempunyai Izin Mendirikan Bangunan (IMB) 11 Tingkat pelayanan Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) 12 Tingkat pelayanan waktu pengurusan Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) 13 Tingkat Ketersediaan Energi Per Kapita 14 Tingkat Ketersediaan Protein Per Kapita 15 Tingkat Penguatan Cadangan Pangan Daerah 16 Tingkat Stabilitasi Harga Pangan 17 Tingkat Stabilitasi Pasokan Pangan 18 Capaian Peningkatan Pangan Skor Pola Pangan Harapan (PPH) 19 Tingkat Pengawasan dan Pembinaan Keamanan Pangan Daerah 20 Tingkat Penanganan Daerah Rawan Pangan Daerah 21 Tingkat Produktivitas Pertanian 22 Tingkat produksivitas peternakan (%) 10,00 10,00 100,00 kali/tahun 100,00 100,00 100,00 kali/tahun 100,00 100,00 100,00 (%) 28,57 28,57 100,00 (%) 43,00 0,00 0,00 (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 80,00 95,00 118,75 (%) 80,00 135,00 168,75 (%) 50,00 0,00 0,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) per 100,00 100,00 100,00 tahun (%) 20,00 16,00 80,00 (%) 20,00 16,00 80,00 (%) 20,00 23,00 115,00 (%) 2,04 5,32 260,78 (%) per tahun 20,00 20,00 100,00 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-5
68 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % agribisnis serta budidaya pertanian dan peternakan yang berorientasi pada intensifikasi pertanian Sasaran 20: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Kepariwisataan Daerah Sasaran 21: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan intensifikasi budidaya perikanan darat Sasaran 22: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perdagangan Daerah dan peningkatan perlindungan konsumen Sasaran 23: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perindustrian Daerah dan peningkatan kapasitas industri kecil dan menengah 23 Tingkat pemasaran hasil produksi pertanian 24 Tingkat pemasaran hasil produksi ternak sapi potong di wilayah Kota Tangerang 25 Angka prevalensi penyakit zoonosis 26 Tingkat pemasaran obyek wisata daerah 27 Tingkat kenaikan kunjungan wisatawan ke obyek wisata daerah 28 Tingkat perkembangan Jenis kelas dan jumlah Hotel 29 Persentase kenaikan produksi ikan 30 Cakupan bina kelompok peternak ikan 31 Tingkat pengolahan dan pemasaran produksi perikanan 32 Tingkat pembinaan Pedagang Kaki Lima (PKL) 33 Tingkat perlindungan konsumen 34 Tingkat pembinaan perdagangan dalam negeri 35 Persentase industri yang memiliki Gugus Kendali Mutu (Pengukuran Standarisasi, Pengujian, dan Kualitas) 36 Persentase IKM memiliki Izin Usaha Industri Kecil Melalui P-IRT dan Halal 37 Persentase industri yang telah memenuhi standar kelayakan produksi 38 Tingkat Pertumbuhan Industri di Daerah (%) 5,00 5,01 100,20 (%) 80,00 0,00 0,00 (%) 100,00 22,00 22,00 (%) 33,33 69,23 207,71 (%) 20,00 25,00 125,00 (%) 95,00 95,00 100,00 (%) 92,73 96,67 104,25 (%) 30,95 47,62 153,86 (%) 66,47 72,45 109,00 (%) 1,02 1,02 100,00 (%) 21,02 89,02 423,50 (%) 4,00 4,00 100,00 (%) 8,21 10,68 130,09 (%) 3,08 3,91 126,95 (%) 11,08 19,59 176,81 (%) 1,30 1,48 113,85 MISI 3 : Meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial demi terwujudnya masyarakat yang berdaya saing diera globalisasi Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % Sasaran 24: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pendidikan Daerah yang mengacu pada Sistem Pendidikan Nasional, dan berbasis 1 Angka Putus Sekolah SD/MI (%) per tahun 2 Angka Putus Sekolah (%) per SMP/MTs tahun 3 Angka Putus Sekolah (%) per SMA/MA/SMK tahun 4 Angka Melek Huruf (%) per Penduduk Usia > 15 Tahun tahun 0,02 0, ,00 0,09 0,03 166,67 0,12 0,16 66,67 98,65 98,65 100,00 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-6
69 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % kompetensi, serta berorientasi pada kebutuhan kerja Sasaran 25: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Pelayanan dan Akses Kesehatan yang berkualitas dan terjangkau 5 Angka Melanjutkan SD/MI ke SMP/MTs 6 Angka Melanjutkan SMP/MTs ke SMA/SMK/MA 7 Angka Kelulusan Siswa SD/MI 8 Angka Kelulusan Siswa SMP/MTs 9 Angka Kelulusan Siswa SMA/MA/SMK 10 Cakupan Kelurahan Siaga Aktif 11 Persentase rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) 12 Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat 13 Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat Kota Tangerang 14 Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat Kota Tangerang 15 Cakupan pelayanan JKN (BPJS) 16 Presentase ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan di Puskesmas, Pustu, Pusling, dan Poliklinik 17 Presentase Sarana Obat dan bahan-bahan berbahaya yang memenuhi syarat 18 Presentase sarana kesehatan yang memenuhi syarat 19 Rasio dokter per penduduk Sasaran 26: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya pemberdayaan dan perlindungan anak yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan keluarga 20 Rasio tenaga medis per penduduk 21 Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan penanganan pengaduan oleh petugas terlatih di dalam unit pelayanan terpadu 22 Cakupan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan yang mendapatkan pelayanan kesehatan oleh Tenaga Kesehatan Terlatih Di Puskesmas Mampu (%) per tahun 98,53 90,64 91,99 (%) per 97,74 120,39 123,17 tahun (%) per 100,00 100,00 100,00 tahun (%) per 100,00 100,00 100,00 tahun (%) per 99,99 99,99 100,00 tahun (%) 50,00 73,00 146,00 (%) 25,00 27,90 111,60 (%) 95,12 94,07 98,90 (%) 50,00 50,00 100,00 (%) 0,84 6,50 773,81 (%) per tahun (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 127,33 127,33 (%) 89,13 93,48 104,88 (%) 61,11 81,25 132,96 dokter/ penduduk 0,05 0, ,00 tenaga 0,05 1, ,00 medis/ penduduk (%) 21,09 66,67 316,12 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-7
70 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % Sasaran 27: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap norma keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera Tatalaksana KtP/A dan PPT/PKT di Rumah Sakit 23 Cakupan layanan rehabilitasi sosial yang diberikan oleh petugas rehabilitasi sosial terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu 24 Cakupan layanan bimbingan rohani yang diberikan oleh petugas bimbingan rohani terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu 25 Cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan pengadilan atas kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak 26 Cakupan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Yang Mendapatkan Layanan Bantuan Hukum 27 Cakupan layanan pemulangan bagi perempuan dan anak korban kekerasan 28 Cakupan layanan reintegrasi sosial bagi perempuan dan anak korban kekerasan 29 Persentase focal point SKPD yang memiliki aktifitas di dalam perwujudan kesetaran dan keadilan gender 30 Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah daerah 31 Persentase partisipasi perempuan di lembaga swasta 32 Cakupan Pasangan Usia Subur (PUS) yang usia istrinya < 20 tahun 33 Cakupan Pasangan Usia Subur menjadi Peserta KB aktif 34 Cakupan Pasangan Usia Subur yang ingin ber-kb tidak terpenuhi (Unmet Need) 35 Cakupan Anggota Bina Keluarga Balita (BKB) yang ber-kb (%) 22,11 13,33 60,29 (%) 22,67 24,44 107,81 (%) 20,00 6,04 30,20 (%) 100,00 100,00 100,00 (%) per tahun 100,00 0,00 0,00 (%) 21,09 13,33 63,21 (%) 38,10 35,56 93,33 (%) 0,60 0,59 98,33 (%) 15,74 15,69 99,68 (%) 103,43 1,14 1,10 (%) 73,02 73,55 100,73 (%) 14,38 16,89 117,45 (%) 48,08 50,00 103,99 36 Rasio Petugas Lapangan petugas/ 0,10 0,06 60,00 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-8
71 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % Sasaran 28: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan perlindungan kesejahteraan sosialmasyarakat Sasaran 29: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Ketenagakerjaan Daerah yang berbasis Keahlian serta berorientasi pada penciptaan dan Keluarga Berencana/ Penyuluh Keluarga Berencana (PLKB/PKB) di setiap kelurahan 37 Rasio Pembantu Pembina Keluarga Berencana (PPKBD) di setiap Kelurahan 38 Cakupan penyediaan alat dan obat Kontrasepsi untuk memenuhi permintaan masyarakat di daerah 39 Cakupan penyediaan informasi data mikro keluarga di setiap Kelurahan 40 Persentase kecamatan memiliki fasilitas pelayanan konseling remaja 41 Cakupan pelayanan dan penanggulangan Narkoba, PMS termasuk HIV/AIDS di setiap kelurahan 42 Rasio pelayanan Posyandu Aktif di setiap RW 43 Persentase (%) PMKS skala kota yang menerima program pemberdayaan sosial melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) atau kelompok sosial ekonomi sejenis lainnya 44 Persentase Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial 45 Persentase (%) penyandang cacat, fisik, mental, serta lanjut usia tidak potensial yang telah menerima jaminan sosial 46 Tingkat keikutsertaan eks penyandang penyakit sosial yang mengikuti pendidikan dan pelatihan 47 Cakupan petugas rehabilitasi sosial yang terlatih 48 Besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis kompetensi 49 Tingkat besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis kelurahan petugas/ kelurahan 100,00 100,00 100,00 (%) 30,00 0,00 0,00 (%) per tahun kewirausahaan 50 Besaran pekerja/buruh yang menjadi peserta program (%) per tahun (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 0,00 0,00 posyandu/ 1,00 1,08 108,00 RW (%) 16,67 9,60 57,59 (%) 25,52 10,03 39,30 (%) 4,06 4,63 114,11 (%) 20,00 13,50 67,50 (%) 11,11 0,00 0,00 (%) 33,33 53,33 100,00 (%) 100,00 100,00 0,00 (%) 58,64 40,93 69,80 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-9
72 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % perluasan lapangan pekerjaan Sasaran 30: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan kebudayaan daerah Sasaran 31: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kepemudaan dan Keolahragaan Daerah yang mandiri dan berprestasi Sasaran 32: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesatuan, kebangsaan, dan kepolitikan Sasaran 33: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem penegakan peraturan daerah yang manusiawi dan berkeadilan Jamsostek Aktif 51 Tingkat besaran Kasus Yang (%) 39,17 21,65 55,27 Diselesaikan Dengan Perjanjian Bersama (PB) 52 Besaran pencari kerja (%) 60,00 82,00 136,67 terdaftar yang ditempatkan 53 Besaran Pemeriksaan (%) 15,60 22,70 145,51 Perusahaan 54 Besaran Pengujian Peralatan di Perusahaan (%) 66,91 57,05 85,26 55 Cakupan pelestarian benda, (%) 56,25 56,25 100,00 situs dan kawasan cagar budaya daerah 56 Cakupan tempat menggelar (%) 80,00 80,00 100,00 seni, memamerkan dan memasarkan karya seni, serta mengembangkan industri seni 57 Cakupan Penyelenggaraan (%) 20,00 30,00 150,00 Festival Seni dan budaya 58 Cakupan Kajian Seni (%) 20,00 20,00 100,00 59 Cakupan fasilitasi kegiatan (%) 13,33 13,33 100,00 kepemudaan 60 Tingkat fasilitasi kegiatan (%) per 100,00 100,00 100,00 keolahragaan daerah tahun Sasaran 34: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem 61 Cakupan peningkatan kesadaran wawasan kebangsaan pada Ormas, LSM, dan OKP 62 Rasio petugas dalam satuan perlindungan masyarakat (Linmas) pada setiap RT 63 Cakupan penyelenggaraan kemitraan dan kerjasama pemerintah daerah dengan ormas dan LSM di setiap wilayah kecamatan 64 Tingkat penyelenggaraan sosialisasi kebijakan pemerintah di bidang Politik 65 Cakupan patroli siaga ketertiban umum dan ketentraman masyarakat 66 Persentase pengawasan lokasi rawan pelanggar peraturan daerah 67 Tingkat penyelesaian pelanggaran ketertiban umum 68 Tingkat pemberdayaan kelompok binaan lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 petugas/ RT 0,16 0,16 100,00 kegiatan/ kecamatan 0,31 0,31 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 patroli/hari 1,38 1,00 72,46 (%) per tahun (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 19,23 0,00 0,00 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-10
73 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % Keberdayaan Masyarakat yang berbasis pada kebutuhan dasar dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Sasaran 35: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran dan kegemaran membaca masyarakat 69 Persentase peningkatan lembaga (usaha ekonomi, badan keswadayaan masyarakat, postantek) setiap kelurahan 70 Tingkat kenaikan kunjungan masyarakat ke perpustakaan daerah 71 Tingkat kenaikan anggota perpustakaan, taman bacaan, klub buku, dll. 72 Tingkat koleksi dan jenis buku yang tersedia di perpustakaan daerah 73 Tingkat keberadaan Perpustakaan Digital 74 Tingkat kelengkapan sistem layanan perpustakaan daerah (%) 34,69 34,69 100,00 (%) 6,00 5,00 83,33 (%) 21,62 21,62 100,00 (%) 76,09 76,25 100,21 (%) 51,67 25,00 48,38 (%) 9,57 5,00 52,25 MISI 4 : Meningkatkan pembangunan sarana perkotaan yang memadai dan berkualitas Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % Sasaran 36: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem perencanaanpenganggaran, pengendalian, dan evaluasi-pelaporan yang partisipatif, koordinatif dan integratif, serta berbasis data/informasi dan berorientasi pada sektoral dan kewilayahan 1 Rata-rata tingkat koordinasi/kerjasama perencanaan pembangunan daerah dalam semua aspek pembangunan 2 Tingkat ketersediaan dan implementasi peraturan/regulasi Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah (SPPD) serta berbagai aturan pendukungnya 3 Tingkat Ketersediaan, Pengelolaan, Pengolahan, dan Publikasi Data/Informasi Perencanaan Pembangunan Daerah 4 Tingkat ketersediaan dokumen utama perencanaan-penganggaran dan evaluasi-pelaporan pelaksanaan pembangunan daerah yang didukung kajian teknokratis serta dipublikasikan 5 Tingkat kapasitas dan kompetensi Dasar, Teknis, dan Operasional Aparatur Perencanaan Pembangunan Daerah (%) 100,00 100,00 100,00 (%) 42,86 42,86 100,00 (%) 100,00 100,00 100,00 (%) 21,27 21,27 100,00 (%) 33,33 33,33 100,00 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-11
74 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % Sasaran 37: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan saranaprasarana kependidikan, kebudayaan, dan kepustakaan yang layak dan memadai Sasaran 38: Terwujudnya 6 Tingkat peranserta/partisipasi kelompok masyarakat sebagai pemangku kepentingan pembangunan daerah 7 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana prasarana pendidikan PAUD yang layak dan memadai 8 Tingkat ketersedian sarana prasarana kebutuhan Pendidikan Dasar yang layak dan memadai 9 Tingkat ketersedian sarana prasarana kebutuhan Pendidikan Menengah yang layak dan memadai 10 Partisipasi Anak Bersekolah (PAB) SD/MI 11 Partisipasi anak Bersekolah (PAB) SMP/MTs 12 Partisipasi Anak Bersekolah (PAB) SMA/MA 13 Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A 14 Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B 15 Angka Partisipasi Murni (APM) SMA/SMK/MA/Paket C 16 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan Sarana dan Prasarana untuk guru, kepala sekolah, dan staf kependidikan lainnya dalam satuan pendidikan dasar 17 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan Sarana dan Prasarana untuk guru, kepala sekolah, dan staf kependidikan lainnya dalam satuan pendidikan menengah 18 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana dan prasarana kesenian dan kebudayaan daerah 19 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana dan prasarana pepustakaan daerah 20 Cakupan perpustakaan dan taman bacaan di setiap kecamatan 21 Persentase puskesmas, puskesmas pembantu dan (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun 92,88 101,94 109,75 95,94 95,85 99,91 76,22 90,61 118,88 88,09 88,28 100,22 64,52 67,11 104,01 77,74 74,00 95,19 (%) 20,00 20,00 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 (%) 56,25 56,25 100,00 (%) 38,34 38,34 100,00 buah/ kecamatan (%) per tahun 24,08 24,08 100,00 100,00 100,00 100,00 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-12
75 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan saranaprasarana kesehatan yang layak dan memadai Sasaran 39: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan penyediaan sarana-prasarana kebinamargaan, dan keciptakaryaan daerah yang layak dan memadai Sasaran 40: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan penyediaan perlengkapan saranaprasarana transportasi dan kelalulintasan yang layak, memadai, dan terpadu jaringannya dengan kondisi sarana dan prasarana memadai 22 Cakupan Ketersediaan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di setiap RW 23 Cakupan Ketersediaan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu di setiap Kecamatan 24 Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per penduduk 25 Tingkat ketersediaan sarana prasarana kesehatan di Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru- Paru/Rumah Sakit Mata yang layak dan memadai 26 Tingkat pemeliharaan sarana prasarana kesehatan di Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru- Paru/Rumah Sakit Mata yang layak dan memadai 27 Persentase kondisi jalan kota yang baik dan sedang 28 Persentase keterhubungan pusat-pusat kegiatan dan pusat-pusat produksi di wilayah kota 29 Persentase cakupan pelayanan sistem drainase perkotaan 30 Tingkat pengurangan luas genangan 31 Tingkat pembangunan turap di wilayah aliran sungai yang rawan longsor lingkup kewenangan kota 32 Tingkat ketersediaan angkutan umum yang melayani wilayah kota yang telah tersedia jaringan jalan 33 Tingkat ketersediaan angkutan umum yang melayani jaringan trayek penghubung antar wilayah 34 Tingkat ketersediaan dokumen perencanaan angkutan 35 Tingkat Ketersediaan Prasarana Angkutan yang terpelihara 36 Tingkat ketersediaan sarana posyandu/ RW puskesmas/ kecamatan dan prasarana perhubungan 37 Tingkat ketersediaan fasilitas perleng-kapan jalan 1,06 1,06 100,00 1,92 2,53 131,77 buah/ ,04 0,02 50,00 penduduk (%) 21,57 21,57 100,00 (%) 14,29 14,29 100,00 (%) 98,00 98,00 100,00 (%) 92,21 92,21 100,00 (%) 10,00 10,00 100,00 (%) 23,88 23,88 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 (%) 25,00 25,00 100,00 (%) 30,95 57,14 184,62 (%) 17,31 17,31 100,00 (%) 22,39 23,39 104,47 (%) 20,00 20,00 100,00 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-13
76 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % Sasaran 41: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan ketersediaan sarana dan prasarana Perekonomian dan Sosial-Kemasyarakatan yang layak dan memadai Sasaran 42: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana perkantoran pemerintahan daerah yang layak dan memadai Sasaran 43: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Transportasi serta Manajemen dan Rekayasa Lalulintas yang modern dan terpadu yang didukung oleh teknologi informasi yang canggih dan memadai (rambu, marka, dan guardrill) pada jalan di wilayah kota 38 Tingkat ketersediaan fasilitas Penerangan Jalan Umum (PJU) pada berbagai jenis jalan di wilayah kota 39 Tingkat ketersediaan unit pengujian kendaraan bermotor 40 Tingkat ketersediaan standar keselarnatan bagi angkutan urnurn yang rnelayani trayek di dalarn Kota 41 Persentase panti sosial skala kota yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial 42 Tingkat Pengembangan Balai Latihan Kerja Daerah 43 Cakupan ketersediaan pasar tradisional daerah di setiap kecamatan 44 Tingkat pembinaan pasar/toko modern dan pasar tradisional daerah 45 Cakupan gedung olahraga di setiap kecamatan 46 Tingkat Ketersediaan Panti Asuhan/Panti Jompo 47 Cakupan ketersediaan Poskamling di setiap RW 48 Tingkat ketersediaan sarana dan prasarana aparatur yang memadai 49 Tingkat ketersediaan pelayanan jasa rehabilitasi sarana dan prasarana aparatur 50 Tingkat ketersediaan pelayanan pengendalian kinerja simpang dan ruas jalan dengan Sistem ATCS (Area Traffic Control System) 51 Tingkat ketersediaan prasarana penunjang pengendalian simpang dan ruas jalan dalam kondisi baik 52 Tingkat ketersediaan perencanaan sarana dan prasarana penunjang (%) 51,56 51,56 100,00 buah/ ,50 7,50 100,00 (%) 11,34 11,34 100,00 (%) per tahun (%) per tahun pasar/ kecamatan 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 2,38 2,38 100,00 (%) 4,00 4,00 100,00 gedung/ kecamatan (%) per tahun poskamling/ RW (%) per tahun (%) per tahun 1,38 1,38 100,00 100,00 100,00 100,00 1,23 1,23 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 (%) 33,33 33,33 100,00 (%) 50,00 50,00 100,00 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-14
77 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % pengendalian simpang dan ruas jalan MISI 5 : Mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % Sasaran 44: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya mitigasi, pencegahan, pengendalian, dan penanganan bencana serta upaya peminimalan dampak bencana Sasaran 45: Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kualitas lingkungan perumahan dan permukiman penduduk yang bersih, sehat, aman, dan nyaman 1 Cakupan pelayanan (%) 80,00 26,46 33,08 bencana kebakaran 2 Persentase Aparatur (%) 70,00 61,17 87,39 Pemadam Kebakaran Yang Memenuhi Standar Kualifikasi 3 Tingkat penanganan (%) 19,35 19,35 100,00 wilayah/lokasi banjir 4 Tingkat koordinasi (%) per 100,00 100,00 100,00 penanggulangan bencana tahun 5 Tingkat penanganan korban bencana (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 6 Cakupan Kelurahan (%) 100,00 100,00 100,00 mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi < 24 jam 7 Cakupan kelurahan (%) 100,00 100,00 100,00 Universal Child Immunization (UCI) 8 Prevalensi balita gizi kurang (%) 9,75 6,94 71,18 (BB/U) 9 Presentase balita gizi buruk (%) 0,12 0,13 108,33 (BB/TB) 10 Persentase tempat umum (%) 70,00 75,00 107,14 yang memenuhi syarat kesehatan 11 Presentase Sarana Industri (%) 88,75 83,30 93,86 Rumah Tangga Pangan yang Memenuhi Syarat kesehatan 12 Persentase penanganan (%) 20,00 20,00 100,00 permukiman kumuh perkotaan 13 Cakupan ketersediaan (%) 12,03 12,03 100,00 rumah layak huni dan terjangkau bagi penduduk 14 Tingkat waktu tanggap (%) 75,00 79,93 106,57 (response time rate) daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) 15 Tingkat Ketersediaan mobil (%) 90,00 88,24 98,04 pemadam kebakaran di Atas liter pada Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) 16 Tingkat pemanfaatan (%) per 100,00 100,00 100,00 Poskamling di setiap RT tahun 17 Rasio Tempat Pemakaman m2/ ,82 24,82 100,00 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-15
78 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % Sasaran 46: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Penataan dan Pengelolaan Ruang Wilayah Perkotaan Umum (TPU) per satuan penduduk 18 Tingkat Tersedianya air baku untuk memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari-hari 19 Persentase penduduk yang mendapatkan akses air minum yang aman 20 Persentase penduduk yang terlayani sistem air limbah yang memadai 21 Tingkat penyelenggaraan pengawasan terhadap bangunan gedung (pemerintah dan umum) 22 Tingkat ketersediaan data mengenai pemanfaatan bangunan gedung 23 Tingkat ketersediaan perangkat kebijakan perencanaan tata ruang kota 24 Persentase Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik/Perkotaan 25 Tingkat sosialisasi regulasi tentang Rencana Tata Ruang Kota 26 Tingkat penyelenggaraan pengendalian pemanfaatan ruang 27 Tingkat ketersediaan data mengenai pemanfaatan ruang kota 28 Tingkat ketersediaan regulasi penataan bangunan dan lingkungan 29 Tingkat ketersediaan, publikasi, dan pengembangan Sistem Informasi Pembina Jasa Konstruksi (SIPJK) 30 Persentase usaha dan/atau kegiatan yang mentaati persyaratan administrasi dan teknis pencegahan pencemaran air 31 Persentase jumlah usaha dan/atau kegiatan sumber tidak bergerak yang memenuhi persyaratan administratif dan teknis pencegahan pencemaran udara 32 Persentase pengaduan masyarakat akibat adanya dugaan pencemaran penduduk Sasaran 47: Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pembangunan Ekologis (sosial, lingkungan, ekonomi) yang berorientasi pada peningkatan kualitas dan daya dukung lingkungan perkotaan (%) 50,00 50,00 100,00 (%) 58,09 58,09 100,00 (%) 2,57 2,57 100,00 (%) 12,50 12,50 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 (%) 2,00 2,00 100,00 (%) 28,24 28,24 100,00 (%) 72,22 72,22 100,00 (%) 7,69 7,69 100,00 (%) 8,33 8,33 100,00 (%) 15,79 15,79 100,00 (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 100,00 10,00 10,00 100,00 10,00 10,00 100,00 100,00 100,00 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-16
79 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % dan/atau perusakan lingkungan hidup yang ditindaklanjuti 33 Cakupan pemantauan Kualitas air sungai, Air Tanah dan Situ, serta kualitas udara dan kebisingan 34 Persentase pengurangan sampah di perkotaan 35 Persentase pengangkutan sampah 36 Persentase pengoperasian TPA 37 Tingkat pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik/Perkotaan di wilayah perkotaan (%) 18,74 18,74 100,00 (%) 13,38 13,38 100,00 (%) 74,99 74,99 100,00 (%) 45,00 45,00 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100, METODOLOGI PENGUKURAN PENCAPAIAN KINERJA 2014 Metodologi dalam Pengukuran kinerja mendasarkan pada Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, dan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja Dan Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pmerintah. Pengukuran kinerja diawali dari pengukuran kegiatan melalui formulir PKK yang menginformasikan program dan kegiatan dengan indikator input, output dan outcome (low level outcome). Indikator input pada umumnya berisi penyerapan anggaran, output berisikan keluaran langsung dari pelaksanaan kegiatan, sedangkan outcome menggambarkan berfungsinya output segera setelah output direalisasikan, karena outcome dalam level low outcome sehingga perbedaan dengan output seringkali sangat tipis. Selanjutnya pengukuran dilakukan atas sasaran yang telah ditetapkan dalam RPJM. Dalam pendekatan Balance scorecard maka indikator sasaran dilihat dari perspektif stakeholder dan atau customer (midle/intermediate/ultimate outcome). Namun karena keterbatasan sistem pengukuran kinerja yang dimiliki, tidak semua sasaran memiliki indikator outcome. Dalam pengukuran capaian kinerja sasaran bisa jadi ditemui kinerja sasaran tidak tercapai secara maksimal, sedangkan capaian keseluruhan indikator output kegiatan adalah maksimal (100%). Dalam pengukuran sasaran, bagi kepentingan manajemen dilakukan penghitungan rata-rata atas setiap capaian indikator sasaran. BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-17
80 Setelah dilakukan pengukuran kinerjanya, dengan mengacu pada ketentuan Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014, dan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah Daerah (RPJMD) K ota Tangerang Tahun , serta Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Tahun 201 4, maka untuk menggambarkan keberhasilan/kegagalan pencapaian sasaran ini, ditetapkan suatu skala pengukuran ordinal pencapaian kinerja berdasarkan kriteria yang tercantum dalam Tabel VII-C Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah sebagai berikut: Interval Nilai Realisasi Kinerja 1. 91% 100% atau lebih : Sangat Tinggi 2. 76% 90% : Tinggi 3. 66% 75% : Sedang 4. 51% 65% : Rendah 5. 50% : Sangat Rendah Kriteria Penilaian Realisasi Kinerja Dalam penilaian kinerja tersebut, gradasi nilai (skala intensitas) kinerja suatu indikator dapat dimaknai sebagai berikut: (1) Hasil Sangat Tinggi dan Tinggi Gradasi ini menunjukkan pencapaian/realisasi kinerja capaian telah memenuhi target dan berada diatas persyaratan minimal kelulusan penilaian kinerja. (2) Hasil Sedang Gradasi cukup menunjukkan pencapaian/realisasi kinerja capaian telah memenuhi persyaratan minimal. (3) Hasil Rendah dan Sangat Rendah Gradasi ini menunjukkan pencapaian/realisasi kinerja capaian belum memenuhi/masih dibawah persyaratan minimal pencapaian kinerja yang diharapkan. 3.3 ANALISIS PENCAPAIAN SASARAN DAN PENGUKURAN KINERJA Secara umum Pemerintah Kota Tangerang telah dapat melaksanakan tugas dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam RPJMD Kota BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-18
81 Tangerang Tahun (Empat Puluh Tujuh) sasaran yang telah ditetapkan pada Tahun Anggaran 2014 sebagaimana telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kota Tangerang Nomor 10 Tahun 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah -2018, memiliki indikator sasaran sebanyak 257 (dua ratus lima puluh tujuh) indikator sasaran terdiri dari 47 indikator untuk Misi 1, 40 indikator untuk Misi 2, 78 indikator untuk Misi 3, 54 indikator untuk Misi 4 dan 38 indikator untuk Misi 5. Adapun pencapaian kinerja sasaran dirinci dalam matrik sebagai berikut: Ketercapaian Indikator Sasaran Terhadap Target Tahun 2014 No. Sasaran Jumlah Indikator Ketercapaian Target Keterangan Misi 1. Mewujudkan Tata Pemerintahan Yang Baik, Akuntabel, Dan Transparan, Didukung Dengan Struktur Birokrasi Yang Berintegras, Kompenten, Dan Profesional 1 Terwujudnya pemantapan dan 3 pengembangan system pendaftaran, penguasaan, pemilikan, penggunaan, pemanfaatan, dan penyelesaian konflik pertanahan. 2 Terwujudnya pemantapan dan 5 pengembangan system administrasi kependudukan dan pencatatan sipil daerah 3 Terwujudnya pemantapan dan 4 pengembangan Sisitem Manajemen Kepemerintahan dan Keadministrasian Umum, serta Kesejahteraan Masyarakat yang Responsif, Koordinatif, Integratif, Sederhana, dan Sinergis. 4 Terwujudnya pemantapan dan 4 pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Keuangan dan Aset Daerah secara Transparan dan Akuntabel 5 Terwujudnya pemantapan dan 4 pengembangan Sistem Pengawasan Pembangunan Daerah. 6 Terwujudnya pemantapan dan 2 pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Kepegawaian Daerah. 7 Terwujudnya Aparatur Pemerintah 7 Daerah yang Cerdas, Bermoral, Inovatif, dan Profesional. 8 Terwujudnya pemantapan dan 2 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-19
82 No. Sasaran Jumlah Indikator pengembangan pemenuhan peralatan dan perlengkapan keadministrasian perkantoran 9 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perindustrian Daerah dan peningkatan kapasitas industri kecil dan menengah. 10 Tewujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen Data/Informasi Pembangunan Daerah. 11 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan berbagai kajian, penelitian dan inovasi pemb. Daerah. 12 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kearsipan daerah. 13 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sitem Informasi dan Komunikasi Daerah. 14 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pelayanan aparatur pemerintah daerah secara professional, cepat, tepat, akurat dengan berbasis pada teknologi informasi yang efektif dan efisien 15 Terwujudnya pemantapan & pengembangan sistem informasi dan aplikasi penyelenggaran pemerintah daerah yang terintegrasi, terstandarisasi, serta memadai Misi 2 : Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Yang Berdaya Saing Tinggi 16 Terwujudnya pemantapan dan pengembagan keberdayaan sector UMKM dan koperasi sebagai pendukung kegiatan ekonomi daerah berbasis sumberdaya lokal 4 17 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Investasi Daerah yang transparan serta didukung oleh iklim investasi yang kondusif. 18 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem ketahanan Pangan Daerah yang meliputi Ketersediaan, Distribusi, Konsumsi, Kewaspadaan, dan Kemasyarakataan Ketercapaian Target Keterangan BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-20
83 No. Sasaran Jumlah Indikator 19 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan agribisnis serta budidaya pertanian dan pertenakan yang berorientasi pada intensifikasi pertanian. 20 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Kepariwisataan Daerah. 21 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan intensifikasi budidaya perikanan darat. 22 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perdagangan Daerah dan peningkatan perlindungan konsumen. 23 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perindustrian Daerah dan peningkatan kapasitas industri kecil dan menengah Ketercapaian Target Keterangan Misi 3 : Mengembangkan Kualitas Pendidikan, Kesehatan, Dan Kesejahteraan Sosial Demi Terwujudnya Masyarakat Yang Berdaya Saing Di Era Globalisasi 24 Terwujudnya Pemantapan dan Pengembangan Sistem Pendidikan Daerah yang Mengacu pada Sistem Pendidikan Nasional, dan Berbasis Kompetensi, Serta Berosientasi pada Kebutuhan Kerja 9 25 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Pelayanan dan Akses Kesehatan yang berkualitas dan terjangkau. 26 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya pemberdayaan dan perlindungan anak yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan keluarga 27 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap norma keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera 28 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan perlindungan kesejahteraan socialmasyarakat. 29 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan ketenagakerjaan daerah yang berbasis keahlian serta berorientasi pada penciptaan BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-21
84 No. Sasaran Jumlah Indikator dan perluasan lapangan pekerjaan. 30 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan kebudayaan daerah 31 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kepemudaan dan Keolahragaan Daerah yang mandiri dan berprestasi. 32 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesatuan, kebangsaan, dan kepolitikan. 33 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem penegakan peraturan daerah yang manusiawi dan berkeadilan 34 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem keberdayaan Masyarakat yang berbasis pada kebutuhan dasar dan berorientasi padapeningkatan kesejahteraan masyarakat. 35 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran dan kegemaran membaca masyarakat Ketercapaian Target Misi 4 : Meningkatkan Pembangunan Sarana Perkotaan Yang Memadai Dan Berkualitas 36 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem perencanaan-penganggaran, pengendalian, dan evaluasi. Pelaporan yang partisipatif, koordinatif, dan integrative, serta berbasisis data/ informasi dan berorintasi pada sektoral dan kewilayahan Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem transportasi serta Manajemen dan Rekayasa Lalulintas yang modern dan terpadu yang didukung oleh teknologi informasi yang canggih dan memadai 38 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan sarana-prasarana kesehatan yang layak dan memadai. 39 Terwujudnya pemantapan dan Keterangan BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-22
85 No. Sasaran Jumlah Indikator Peningkatan pelayanan dan penyediaan sarana-prasarana kebinamargaan, dan keciptakaryaan daerah yang layak dan memadai 40 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan penyediaan perlengkapan sarana dan prasarana transportasi dan kelalulintasan yang layak, memadai, dan terpadu 41 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan ketersediaan sarana dan prasarana perekonomian dan social kemasyarakatan yang layak dan memadai 42 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana perkantoran,pemerintah daerah yang layak dan memadai. 43 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem transportasi serta Manajemen dan Rekayasa Lalulintas yang modern dan terpadu yang didukung oleh teknologi informasi yang canggih dan memadai Ketercapaian Target Keterangan Misi 5 : Mewujudkan Pembangunan Yang Berkelanjutan Dan Berwawasan Lingkungan Yang Bersih, Sehat, Nyaman 44 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya mitigasi, pencegahan, pengendalian bencana serta upaya perminimalan dampak bencana Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kualitas lingkungan perumahan dan pemukiman penduduk yang bersih, sehat, aman, dan nyaman 46 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sitem Penataan dan Pengelolaan Ruang Wilayah Perkotaan. 47 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sitem Pembangunan Ekologis (Sosial, Lingkungan, Ekonomi) yang berorientasi pada peningkatan kualitas dan daya dukung BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-23
86 No. Sasaran Jumlah Indikator lingkungan perkotaan. Ketercapaian Target Keterangan Selanjutnya pengukuran kinerja terhadap indikator kinerja yang telah dicapai pada tahun 2014 yang membandingkan antara target dan realisasi pada indikator sasaran adalah sebagai berikut: SASARAN 1 konflik pertanahan. Pencapaian sasaran 1 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 1 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan system pendaftaran, penguasaan, pemilikan, penggunaan, pemanfaatan, dan penyelesaian Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi 1 Tingkat pelaksanaan fasilitasi pengadaan tanah 2 Tingkat pelaksanaan fasilitasi pengaduan sengketa tanah 3 Tingkat ketersediaan sistem informasi tanah milik pemda % per tahun 100,00 100,00 % per tahun 100,00 0,00 % per tahun 100,00 0,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Tingkat Pelaksanaan Fasilitasi Pengadaan Tanah Dengan ditetapkannya Undang-undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum beserta Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum dan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 2012 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengadaan Tanah, maka dalam pelaksanaan pengadaan tanah untuk kepentingan umum, Dinas Tata Kota berperan pada tatanan fasilitasi. Karena tahap perencanaan pengadaan tanah dilaksanakan oleh SKPD yang membutuhkan tanah, tahap pelaksanaan diselenggarakan oleh BPN dan tahap penyerahan hasil diselenggarakan oleh DPKD. Target indicator sebesar 100% pada Tahun 2014 tidak dapat direalisasikan sepenuhnya. BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-24
87 Tingkat Pelaksanaan Fasilitasi Pengaduan Sengketa Tanah Fasilitasi pengaduan sengketa yang dilaksanakan oleh Dinas Tata Kota pada dalam bentuk penyediaan dana untuk ganti rugi tanah berdasarkan keputusan pengadilan. Pada Tahun 2014 terdapat kasus dimaksud namun masih dalam proses di pengadilan, sehingga target indicator sebesar 100% pada Tahun 2014 belum dapat direalisasikan. Tingkat Ketersediaan Sistem Informasi Tanah Milik Pemda Informasi tanah milik Pemda semula direncanakan di Tahun 2014 dalam bentuk kegiatan inventarisasi tanah milik Pemda. Namun karena terdapat tumpang tindih kewenangan dan atau tugas pokok dan fungsi dengan DPKD, kegiatan ini tidak dilaksanakan, sehingga target indicator sebesar 100% pada Tahun 2014 belum dapat direalisasikan SASARAN 2 Pencapaian sasaran 2 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 2 Terselenggaranya Pemerintahan yang berdasarkan pada Perencanaan Pembangunan yang Inovatif Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Persentase Penduduk ber-ktp (%) 99,50 95,68 96,16 2 Persentase Keluarga mempunyai (%) 81,65 75,56 92,54 Kartu Keluarga 3 Persentase Bayi Ber-Akta Kelahiran (%) 20,99 18,85 89,80 4 Persentase Penduduk meninggal (%) 81,65 77,35 94,73 dunia Ber-Akta Kematian 5 Persentase Pasangan Suami-Isteri Ber-Akta Nikah (%) 15,24 12,48 81,89 Pencapaian indikator sasaran 2 ini, anatara lain realisasi untuk Rasio penduduk ber KTP dengan prosentase 99,50% dan realisasi 95,68%, Keluarga mempunyai KK prosentase 81,65% dan realisasi 75,56, Bayi ber Akta Kelahiran prosentase 20,99% dan realisasi 18,85%, Penduduk meninggal dunia ber Akta kematian prosentase 81,65% dan realisasi 77,35%, Pasangan suami-istri ber Akta Nikah prosentase 15,24% dan realisasi 12,48%. BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-25
88 3.3.3 SASARAN 3 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sisitem Manajemen Kepemerintahan dan Keadministrasian Umum, serta Kesejahteraan Masyarakat yang Responsif, Koordinatif, Integratif, Sederhana, dan Sinergis Evaluasi Pencapaian Sasaran 3 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Tingkat penataan peraturan daerah dan peraturan kepala daerah 2 Tingkat kelengkapan kelembagaan dan penataan keorganisasian SKPD 3 Tingkat koordinasi dan kerjasama dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah lainnya 4 Tingkat kesesuaian formasi jabatan SKPD (%) 20,00 20,00 100,00 (%) 59,00 59,00 100,00 (%) 17,74 17,74 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Tingkat penataan peraturan daerah dan peraturan kepala daerah Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 2 kegiatan yaitu : Program/ Kegiatan 1 Penataan Peraturan Perundangundangan - Kajian Peraturan Perundangundangan Daerah Terhadap Peraturan Perundang-undangan Yang Baru, Lebih Tinggi dari Keserasian Antar Peraturan Perundang-undangan Daerah - Peningkatan Penataan dan Pengelolaan Dokumentasi Produk Hukum Alokasi Anggaran (Rp) Realisasi Anggaran (Rp) , , , ,- % Capaian Tingkat kelengkapan kelembagaan dan penataan keorganisasian SKPD Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran in terdiri dari 1 program dengan 1 kegiatan yaitu : BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-26
89 Program/ Kegiatan 1 Penataan Daerah Otonomi Baru - Penataan Kelembagaan Pemerintah Daerah Alokasi Realisasi % Anggaran (Rp) Anggaran (Rp) Capaian , , Tingkat koordinasi dan kerjasama dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah lainnya Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 2 program dengan 2 kegiatan yaitu : 1 Program/ Kegiatan Peningkatan Pelayanan Kedinasan Kepala Daerah/ Wakil Kepala Daerah - Koordinasi dengan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Lainnya Alokasi Anggaran (Rp) ,- Realisasi Anggaran (Rp) ,- % Capaian Program Peningkatan Sistem Pengawasan Internal dan Pengendalian Pelaksanaan Kebijakan KDH , , Fasilitasi Pengendalian dan Evaluasi Kebijakan Kepala Daerah Tingkat kesesuaian formasi jabatan SKPD Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 2 kegiatan yaitu : Program/ Kegiatan Alokasi Anggaran (Rp) Realisasi Anggaran (Rp) % Capaian 1 Peningkatan Sistem Pengawasan Internal dan Pengendalian Pelaksanaan Kebijakan KDH - Analisis Formasi dan Syarat Jabatan RSUD dan Setwan - Analisis Beban Kerja RSUD dan Setwan , , , , BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-27
90 3.3.4 SASARAN 4 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Keuangan dan Aset Daerah secara Transparan dan Akuntabel Pencapaian sasaran 4 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 4 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Tingkat ketersediaan pelaporan kinerja (%) 20,00 20,00 100,00 dan keuangan SKPD 2 Tingkat ketersediaan dokumen dan (%) 20,13 20,13 100,00 sistem pengelolaan keuangan daerah 3 Tingkat ketersediaan dokumen dan (%) 14,07 14,07 100,00 sistem pengelolaan aset 4 Tingkat kenaikan pendapatan daerah (%) 13,69 17,07 124,69 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Tingkat ketersediaan dokumen dan sistem pengelolaan keuangan daerah Untuk mendukung pencapaian target indikator sasaran ini dilaksanakan Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah. Pada Tahun 2014 dilaksanakan dengan 26 kegiatan, dengan capaian masing-masing kegiatan sebagai berikut : 1. Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 56,78%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 2. Penyusunan Rancangan Peraturan KDH tentang Penjabaran APBD, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 65,62%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 3. Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 78,31%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 4. Penyusunan Rancangan Peraturan KDH tentang Penjabaran Perubahan APBD, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 83,81%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-28
91 5. Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 90,99%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 6. Penyusunan Rancangan Peraturan KDH tentang Penjabaran Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 93,19%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 7. Penyelenggaraan Pengelolaan Kas Umum Daerah Kota Tangerang, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 83,03%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 8. Penelitian RKA dan DPA SKPD, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 83,10%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 9. Pengendalian dan Pengelolaan Data Belanja Daerah, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 81,62%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 10. Pembinaan Bendahara Barang, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealsiasi sebesar Rp ,00 atau 63,20%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 11. Penyusunan Laporan Keuangan Semesteran Daerah (SKPKD), dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 90,02%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 12. Penyusunan Laporan Prognosis Realisasi Anggaran Kota Tangerang (SKPKD), dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 100,00%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 13. Penyusunan Laporan Keuangan Akhir Tahun Daerah (SKPKD), dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 61,54%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 14. Pengendalian Anggaran, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 63,84%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 15. Penyimpanan dan Perawatan serta Pengelolaan Arsip SKPD, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 100,00%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-29
92 16. Pemeliharaan Sistem Penatausahaan dan Akuntasi, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 97,27%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 17. Pembinaan Pelaksanaan Penatausahaan dan Akuntansi SKPD, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 76,71%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 18. Penyusunan Laporan Evaluasi Realisasi Keuangan Bulanan Kota Tangerang, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 90,87%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 19. Evaluasi Pelaksanaan Pengelolaan Keuangan Daerah, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 97,10%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 20. Penyusunan Rancangan Perwal tentang Pedoman Penyusunan APBD, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 99,79%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 21. Sewa Jaringan Sistem Informasi DPKD, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 99,22%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 22. Penyusunan Aplikasi Manajemen Piutang, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 89,87%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 23. Penyusunan Aplikasi Gaji PNS, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 92,21%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 24. Pembangunan Network Access Storage, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 96,20%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 25. Evaluasi Laporan Keuangan SKPD, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 97,07%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 26. Pemeliharaan SIPKD, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 95,02%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%. BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-30
93 Tingkat ketersediaan dokumen dan sistem pengelolaan aset Untuk mendukung pencapaian target sasaran ini dilaksanakan Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah. Pada Tahun 2014 dilaksanakan dengan 9 kegiatan, dengan capaian masing-masing kegiatan sebagai berikut : 1. Penghapusan Penjualan dan Pemindahtanganan Barang Daerah, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 77,57%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 2. Penyusunan Daftar Status Penggunaan Barang Milik Daerah, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 70,68%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 3. Pemeliharaan Sistem Informasi Pengelolaan Barang Daerah, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 83,58%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 4. Penilaian Aset Tanah/Bangunan dan/atau Jalan Lingkungan, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 91,88%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; Rekonsiliasi Input Realisasi Pengelolaan Barang Milik Daerah, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 89,35%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 6. Penetapan Nilai Perolehan Aset Tanah dan/atau Bangunan dan/atau Aset Lainnya, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 66,54%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 7. Penyusunan Naskah Akademis Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 48,51%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 8. Perubahan Penentuan Umur Ekonomis Barang, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 80,35%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 9. Rekonsiliasi Data Pelimpahan Aset dari Pemerintah Kabupaten Tangerang, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 74,19%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%. BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-31
94 Tingkat kenaikan pendapatan daerah Untuk mendukung pencapaian indikator sasaran ini dilaksanakan Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah. Pada Tahun 2014 dilaksanakan dengan 16 kegiatan, dengan capaian masing-masing kegiatan sebagai berikut : 1. Pendataan Pajak Daerah Selain BPHTB dan PBB, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesasr Rp ,00 atau 62,80%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 2. Pemeriksaan Pajak Daerah Selain BPHTB dan PBB, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 76,07%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 3. Penagihan Tunggakan Pajak Daerah Selain BPHTB dan PBB, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 87,20, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 4. Pemetaan Zona Nilai Pasar BPHTB, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 93,27%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; Penyampaian SPPT PBB, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 74,78%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 6. Pengelolaan PBB, dianggarakan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 3,66%, sedangkan fisiknya terealisasi 3,71%. Target output kegiatan ini yaitu 1 software aplikasi pendataan PBB dan 1 dokumen laporan pendaatan obyek PBB Kecamatan Batuceper, namun sampai akhir tahun anggaran hanya terealisasi 1 software aplikasi pendataan PBB, sedangkan untuk pekerjaan pendataan obyek PBB yang dilaksanakan oleh pihak ketiga tidak dapat diselesaikan sesuai perjanjian kerja dan dilakukan pemutusan kontrak. 7. Pemeriksaan BPHTB dan PBB, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 79,36%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 8. Penagihan Tunggakan PBB, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 90,96%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 9. Penyusunan Raperwal tentang Perubahan Peraturan Walikota tentang Tata cara Pengelolaan Pajak Hotel, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 97,99%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-32
95 10. Penyusunan Raperwal tentang Perubahan Peraturan Walikota tentang Tata cara Pengelolaan Pajak Hiburan, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 84,37%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 11. Penyusunan Raperwal tentang Perubahan Peraturan Walikota tentang Tata cara Pengelolaan Pajak Restoran, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 95,71%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 12. Penyusunan Raperwal tentang Perubahan Peraturan Walikota tentang Tata cara Pengelolaan Pajak Parkir, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 83,38%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 13. Penyusunan Raperwal tentang Perubahan Peraturan Walikota tentang Tata cara Pengelolaan Pajak Reklame, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 95,09%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 14. Penyusunan Raperwal tentang Perubahan Peraturan Walikota tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemungutan Pajak Daerah, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 88,30%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 15. Penyusunan Raperwal tentang Perubahan Perwal tentang Tata cara Pengelolaan PBB, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 89,53%, sedangkan fisiknya terealisasi 100%; 16. Penyusunan Raperwal tentang Perubahan Perwal tentang Tata Cara Pengelolaan BPHTB, dianggarkan sebesar Rp ,00 terealisasi sebesar Rp ,00 atau 84,89%, sedangkan fisiknya terealisasi 100% SASARAN 5 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pembangunan Daerah Pengawasan Pencapaian sasaran 5 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 5 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Tingkat ketersediaan laporan hasil (%) 18,51 15,87 85,74 pemeriksaan 2 Tingkat tindak lanjut laporan hasil (%) 20,00 20,00 100,00 ekspose temuan hasil pengawasan 3 Tingkat tenaga pemeriksa yang (%) 20,00 20,00 100,00 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-33
96 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % menguasai teknik/teori pengawasan dan penilaian akuntabilitas kinerja 4 Tingkat ketersediaan kebijakan tentang sistem dan prosedur pengawasan (%) 20,00 20,00 100,00 Untuk mencapai sasaran ini dilaksanakan oleh SKPD Inspektorat sebagai Pengawas Internal dalam menjalankan tupoksinya diuraikan pada 11 (sebelas) kegiatan, sabagai berikut: 1. Kegiatan pelaksanaan pengawasan internal secara berkala (komprehensif); 2. Penanganan kasus pengaduan di lingkungan pemerintahan daerah; 3. Inventarisasi temuan pengawasan; 4. Koordinasi pengawasan yang lebih komprehensif; 5. Evaluasi temuan hasil pengawasan; 6. Asistensi pengawasan eksternal; 7. Tindak lanjut hasil temuan pengawasan; 8. Pelatihan pengembangan tenaga pemeriksa dan aparatur pengawasan; 9. Pelatihan teknis pengawasan dan penilaian akuntabilitas kinerja; 10. Penyusunan kebijakan sistem dan prosedur pengawasan SASARAN 6 Pencapaian sasaran 6 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 6 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Tingkat ketersediaan pelayanan administrasi kepegawaian 2 Tingkat ketersediaan pelayanan Pemensiunan Pegawai Administrasi Kepegawaian Daerah (%) per tahun 100,00 94,43 94,43 (%) 50,00 50,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-34
97 Tingkat ketersediaan pelayanan administrasi kepegawaian Seluruh pelayanan administrasi kepegawaian telah mencakup semua individu pegawai, kecuali pada Kegiatan Mutasi Jabatan dan Seleksi Pengembangan Aparatur. Hal ini dikarenakan baperjakat hanya melaksanakan 7 kali rapat pembahasan dr target 12 kali setahun dengan target 810 jabatan, sedangkan SK mutrasi yang dihasilkan hanya 396 SK. Untuk kegiatan seleksi pengembangan aparatur tidak mencapai target dikarenakan usulan PI yang disampaikan SKPD hanya berjumlah 225 PNS dari target yang ditetapkan sebanyak 450 PNS. Tingkat ketersediaan pelayanan Pemensiunan Pegawai Indikator ini didukung dengan Kegiatan pemensiunan pegawai yang merupakan aktivitas pelayanan administrasi pemensiunan pegawai. Ruang lingkup pekerjaan meliputi penyusunan pensiun PNS dalam tahun berjalan, pengumpulan berkas penunjang dan pembuatan SK pensiun serta rapat koordinasi. Alokasi dana kegiatan ini sebesar Rp ,00. Dalam pelaksanaannya kegiatan ini menyerap anggaran sebesar Rp ,00 atau sebesar 85.41%. Output kegiatan ini yaitu SK Pensiun yang terbit sebanyak 165 SK, terdiri dari: BUP sebanyak 130 SK; Meninggal Dunia (MDA) sebanyak 30 SK; dan APS sebanyak 5 SK SASARAN 7 Terwujudnya Aparatur Pemerintah Daerah yang Cerdas, Bermoral, Inovatif, dan Profesional Pencapaian sasaran 7 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 7 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Tingkat kedisiplinan aparatur pemerintah daerah 2 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana-prasarana pendukung kedisiplinan aparatur pemerintah daerah 3 Tingkat Penurunan Indisipliner Pegawai 4 Tingkat Pelayanan Diklat Struktural Kepemimpinan 5 Persentase pejabat fungsional pemerintah daerah yang telah (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) 0,38 0,38 100,00 (%) 16,36 16,36 100,00 (%) 14,95 9,15 61,20 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-35
98 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % mengikuti diklat fungsional 6 Tingkat Kapasitas Sumberdaya Aparatur pemerintah daerah 7 Tingkat Pelayanan Penyelenggaraan Diklat Teknis dan Fungsional beserta sarana pendukungnya (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) 9,18 9,18 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Tingkat kedisiplinan aparatur pemerintah daerah Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana-prasarana pendukung kedisiplinan aparatur pemerintah daerah Tingkat Penurunan Indisipliner Pegawai Program kegiatan yang mendukung pencapaian target tiga indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 7 kegiatan yaitu : Program Pembinaan dan Pengembangan Aparatur Pembuatan ID Card Pemberian penghargaan tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya Pembinaan pegawai di Lingkungan Pemerintah Kota Tangerang Evaluasi dan Pelaporan Disiplin Aparatur Pembangunan/pengembangan Sistem Informasi E-Absensi Pegawai Monitoring Pegawai di Lingkungan Pemerintah Kota Tangerang Penyelesaian Hukuman Disiplin Pegawai Tingkat Pelayanan Diklat Struktural Kepemimpinan Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 1 kegiatan yaitu : Program Pendidikan Kedinasan Pendidikan penjenjangan struktural Arah kebijakannya Pengembangan kurikulum diklat penjenjangan struktural berdasarkan tingkatan jabatan administrasi. Pada Tahun 2014, Jumlah Pegawai Pemerintah Kota Tangerang yang Mengukuti Diklat PIM sebanyak 69 orang. BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-36
99 Persentase pejabat fungsional pemerintah daerah yang telah mengikuti diklat fungsional Tingkat Kapasitas Sumberdaya Aparatur pemerintah daerah Tingkat Pelayanan Penyelenggaraan Diklat Teknis dan Fungsional beserta sarana pendukungnya Program kegiatan yang mendukung pencapaian target tiga indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 1 kegiatan yaitu : Program Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Aparatur Pendidikan dan pelatihan teknis tugas dan fungsi bagi PNS daerah Pendidikan dan pelatihan fungsional bagi PNS Daerah Pengembangan Pendidikan dan Pelatihan Evaluasi Pasca Diklat Arah kebijakannya Pengembangan mekanisme penyelenggaraan diklat teknis dan fungsional berdasarkan kebutuhan pengembangan kapasitas aparatur. Pada Tahun 2014, jumlah peserta yang mengikuti Diklat Teknis Tugas dan Fungsional sebanyak 696 orang dan jumlah Peserta yang mengikuti Diklat Fungsional sebanyak 426 orang SASARAN 8 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pemenuhan peralatan dan perlengkapan keadministrasian perkantoran Pencapaian sasaran 8 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 8 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Tingkat ketersediaan pelayanan barang pendukung administrasi perkantoran 2 Tingkat ketersediaan pelayanan jasa pendukung administrasi perkantoran (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-37
100 3.3.9 SASARAN 9 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan kemitraan dan kerjasama yang proporsional dan professional antara Eksekutif dengan Legislatif untuk menghasilkan peraturan Daerah Pencapaian sasaran 9 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 9 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Tingkat Fasilitasi Peningkatan Kapasitas Lembaga DPRD 2 Tingkat Fasilitasi Pembahasan dan Persetujuan Raperda (%) per tahun 100,00 87,46 87,46 (%) per tahun 100,00 97,40 97,40 Indikator pada sasaran ini didukung dengan Program Peningkatan Kapasitas Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah yang merupakan pemantapan dan pengembangan kemitraan dan kerjasama yang proporsional dan profesional antara eksekutif dengan legislatif untuk menghasilkan peraturan daerah. Sesuai dengan sasaran misi RPJMD Kota Tangerang Tahun , Program ini bertujuan untuk mencapai indikator sasaran yaitu meningkatkan kapasitas kelembagaan dan anggota lembaga perwakilan rakyat daerah (DPRD) pada akhir tahun 100% setiap tahunnya SASARAN 10 Tewujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen Data/Informasi Pembangunan Daerah Pencapaian sasaran 10 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 10 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Rata-rata tingkat ketersediaan data/informasi statistik hasil pembangunan daerah (%) 17,37 17,37 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-38
101 Rata-rata tingkat ketersediaan data/informasi statistik hasil pembangunan daerah Indikator sasaran ini didukung dengan Program Pengembangan data/informasi/statistik daerah. Tujuannya adalah menyediakan publikasi data dan statistik daerah sebagai bahan penyusunan perencanaan dan kebijakan. Adapun dokumen yang tersedia pada Tahun 2014, antara lain: 1. Kecamatan Dalam Angka; 2. Proyeksi Penduduk Sasaran Program Kesehatan dan Pendidikan; 3. Statistik Kependudukan (hasil SP 2010); 4. Statistik Rumah Tangga dan Tempat Tinggal 5. Statistik Keuangan; 6. Laporan Pembangunan Manusia (HDR) 2013; 7. Kota Tangerang Dalam Angka 2013; 8. Penyusunan PDRB Triwulanan Kota Tangerang (4) jenis buku); 9. Pola Pangan Harapan; 10. Neraca Bahan Makanan (NBM); 11. Survey Penjualan Eceran Beras di Pasar ; 12. Statistik Kesejahteraan Rakyat; 13. Statistik Kemiskinan SASARAN 11 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan berbagai kajian, penelitian Pencapaian sasaran 11 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 11 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Rata-rata tingkat ketersediaan kajian, penelitian, dan pengembangan strategis dan inovasi pembangunan Daerah (%) 18,67 18,67 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Rata-rata tingkat ketersediaan kajian, penelitian, dan pengembangan strategis indikator ini bertujuan untuk melihat produk hasil pada program penelitian dan pengembangan strategis yang dapat dilaksanakan dan dapat mendukung dalam BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-39
102 penyusunan kebijakan publik di pemerintah Kota Tangerang. Adapun hasil kajian, penelitian, dan pengembangan strategis pada Tahun 2014, antara lain: 1. Penelitian dan Pengembangan Evaluasi Pemberian Tunjangan Profesi terhadap Kinerja Guru di Kota Tangerang; 2. Penelitian dan Pengembangan Analisis Pengaruh Investasi, Tenaga Kerja dan Pertumbuhan Penduduk terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Kota Tangerang; 3. Penelitian dan Pengembangan tentang Evaluasi Sistem Pengelolaan DAS dan Sistem Pengendalian Banjir di Kota Tangerang; 4. Analisis Dampak Ekonomi dan Sosial Pertumbuhan Perdagangan Sektor Informal SASARAN 12 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kearsipan daerah Pencapaian sasaran 12 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 12 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Tingkat ketersediaan sistem dan pedoman penyelenggaraan kearsipan yang handal, dinamis, komprehensif dan terpadu 2 Tingkat pengelolaan arsip baku pada SKPD 3 Persentase pelaksanaan kegiatan peningkatan SDM Kearsipan yang berkualitas (%) 20,00 20,00 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 (%) 15,38 15,38 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Tingkat ketersediaan sistem dan pedoman penyelenggaraan kearsipan yang handal, dinamis, komprehensif dan terpadu Untuk mendukung pencapaian target sasaran ini dilaksanakan Program Perbaikan Sistem Administrasi Kearsipan, dengan 3 (tiga) kegiatan, yaitu: Kajian Sistem Administrasi Kearsipan Pemeliharaan Peralatan Jaringan Informasi Kearsipan Pengembangan Sistem Informasi Kearsipan Tingkat pengelolaan arsip baku pada SKPD SKPD sebagai penghasil arsip dan pengelola arsip dinamis aktif dan in aktif, yang setelah habis masa retensinya dan menjadi arsip statis akan diserahkan ke Kantor Arsip BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-40
103 Daerah, Kondisi yang demikian menuntut Kantor Arsip Daerah harus selalu berkoordinasi dengan seluruh SKPD agar pengelolaan arsip di SKPD berjalan sesuai dengan aturan, sehingga bila arsip tersebut diserahkan ke Kantor Arsip Daerah sudah berupa arsip yang benar-benar memiliki nilai guna dan penyerahannya sesuai dengan aturan. Melalui kegiatan Pelaporan Kondisi Situasi Data Arsip SKPD, Kantor Arsip Daerah mengumpulkan jumlah data arsip yang di kelola oleh SKPD di lingkungan Pemerintah Kota Tangerang setiap bulannya, melalui pengelola arsip di SKPD yang telah di tunjuk dan di tetapkan dengan Surat Perintah Sekretaris Daerah Kota Tangerang. Dengan diketahuinya jumlah arsip yang dikelola oleh SKPD, Kantor Arsip Daerah menjadi mengetahui beban tugas kedepan, sehingga bisa membuat perencanaan yang matang. Persentase pelaksanaan kegiatan peningkatan SDM Kearsipan yang berkualitas Untuk mendukung pencapaian target sasaran ini dilaksanakan Program Peningkatan Kualitas Layanan Informasi Kearsipan, dengan 3 (tiga) kegiatan, yaitu: Penyusunan dan Penerbitan Sumber Arsip, Sosialisasi/Penyuluhan Kearsipan Dilingkungan Pemerintah/Swasta, dan Pembinaan Pengelolaan Arsip SASARAN 13 Pencapaian sasaran 13 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 13 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Tingkat ketersediaan sistem dan jaringan komunikasi dan informasi SKPD 2 Tingkat Pengkajian dan Penelitian Bidang Komunikasi dan Informasi 3 Tingkat Kerjasama Informasi dan Media Massa Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sitem Informasi dan Komunikasi Daerah (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) 25,84 25,84 100,00 (%) 27,45 27,45 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Tingkat ketersediaan sistem dan jaringan komunikasi dan informasi SKPD Untuk mendukung pencapaian target sasaran ini dilaksanakan Program Pengembangan Komunikasi, Informasi dan Media Massa, dengan beberapa kegiatan, yaitu: BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-41
104 Pengadaan Akses Internet Penerapan CCTV Di Puspem Kota Tangerang Pelayanan Penyebaran Informasi melalui Mobil Wawaran Keliling Pemeliharaan Jaringan Komunikasi dan Informasi Pengelolan Website Terpadu Kota Tangerang Pembangunan dan Pengembangan Sistem Digitalisasi Pemeliharaan Infrastuktur Jaringan LAN-WAN Pengawasan Penyelenggaraan Warung Internet Di Kota Tangerang Operasional UPTD LPSE Kota Tangerang Pembangunan dan Pengembangan Aplikasi Layanan Publik Pengelolaan Komunikasi Digital Pemerintah Kota Tangerang Pembangunan Infrastruktur Jaringan LAN-WAN 104 Kelurahan Pengelolaan Pusat Layanan Informasi Pemerintah Kota Tangerang Penyusunan Masterplan TIK Penyusunan Raperwal Restribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi dan Raperwal Penyelenggaraan Menara Telekomunikasi Bersama Penyusunan Rancangan Peraturan Walikota Tangerang Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Informasi Publik Pembinaan Teknis Komunikasi Digital Untuk SKPD se Kota Tangerang Tingkat Pengkajian dan Penelitian Bidang Komunikasi dan Informasi Untuk mendukung pencapaian target sasaran ini dilaksanakan Program Pengkajian dan Penelitian Bidang Komunikasi dan Informasi, dengan beberapa kegiatan, yaitu: Penyusunan Aplikasi Cell Plan Menara Telekomunikasi Kota Tangerang Pengkajian Bidang Telekomunikasi Tentang Microcell dan Fiber Optic Program Fasilitasi Peningkatan SDM Bidang Komunikasi dan Informasi Rapat Koordinasi Pelayanan Informasi Pemerintah Kota Tangerang Fasilitasi dan Pendampingan Koordinasi, Rapat, Pertemuan Komunikasi Antar SKPD Dengan Metode Komunikasi Online Sosialisasi Peraturan Walikota Tentang Penataan dan Pengendalian Menara Telekomunikasi Penyusunan Regulasi TIK BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-42
105 Tingkat Kerjasama Informasi dan Media Massa Untuk mendukung pencapaian target sasaran ini dilaksanakan Program Kerjasama Informasi Dengan Media Massa, dengan beberapa kegiatan, yaitu: Pengelolaan Community Access Point (CAP) Promosi Daerah Pelaksanaan Diseminasi Informasi Pemerintah Daerah Pengelolaan Media Publikasi Eksternal dan Internal Kota Tangerang Pelaksanaan Diseminasi Informasi Melalui Media Massa SASARAN 14 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pelayanan aparatur pemerintah daerah secara professional, cepat, tepat, akurat dengan berbasis pada teknologi informasi yang efektif dan efisien Pencapaian sasaran 14 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 14 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Tingkat Pelayanan Publik yang menggunakan media informasi berbasis Informasi Teknologi (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Untuk mendukung pencapaian target sasaran ini dilaksanakan Program Pengembangan Komunikasi, Informasi dan Media Massa, dengan beberapa kegiatan, yaitu: Pengadaan Akses Internet Penerapan CCTV Di Puspem Kota Tangerang Pelayanan Penyebaran Informasi melalui Mobil Wawaran Keliling Pemeliharaan Jaringan Komunikasi dan Informasi Pengelolan Website Terpadu Kota Tangerang Pembangunan dan Pengembangan Sistem Digitalisasi Pemeliharaan Infrastuktur Jaringan LAN-WAN Pengawasan Penyelenggaraan Warung Internet Di Kota Tangerang Operasional UPTD LPSE Kota Tangerang Pembangunan dan Pengembangan Aplikasi Layanan Publik BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-43
106 Pengelolaan Komunikasi Digital Pemerintah Kota Tangerang Pembangunan Infrastruktur Jaringan LAN-WAN 104 Kelurahan Pengelolaan Pusat Layanan Informasi Pemerintah Kota Tangerang Penyusunan Masterplan TIK Penyusunan Raperwal Restribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi dan Raperwal Penyelenggaraan Menara Telekomunikasi Bersama Penyusunan Rancangan Peraturan Walikota Tangerang Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Informasi Publik Pembinaan Teknis Komunikasi Digital Untuk SKPD se Kota Tangerang SASARAN 15 Terwujudnya pemantapan & pengembangan sistem informasi dan aplikasi penyelenggaran pemerintah daerah yang terintegrasi, terstandarisasi, serta memadai Pencapaian sasaran 15 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 15 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Tingkat Integrasi Sistem Informasi dan Aplikasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah 2 Tingkat Standarisasi Sistem Informasi dan Aplikasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (%) 28,28 28,28 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Sistem dan jaringan komunikasi dan informasi di Kota Tangerang, antara lain: akses internet kapasitas bandwidth sebesar 100 Mbps Website Kota Tangerang: Closed Circuit Television (CCTV) System di Pusat Pemerintahan, yang mempunyai output mengontrol semua kegiatan secara visual (audio visual) pada area tertentu melalui pemasangan alat kamera yang terintegrasi secara online. mobil penyebarluasan informasi yang berkeliling sesuai dengan jadwal yang telah di tentukan dan membuka hot spot wifi gratis untuk masyarakat setempat. Aplikasi Sistem Informasi Geografis Kota Tangerang dan Perangkat Studio Sistem Informasi Geografis. BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-44
107 Konektifitas Jaringan Wireless LAN-WAN di 104 Kelurahan Pemerintahan dan 30 Puskesmas. Gedung SASARAN 16 Terwujudnya pemantapan dan pengembagan keberdayaan sector UMKM dan koperasi sebagai pendukung kegiatan ekonomi daerah berbasis sumberdaya lokal Pencapaian sasaran 16 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 16 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Persentase UMKM Aktif (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 2 Persentase Koperasi Aktif (%) 56,04 56,04 100,00 3 Tingkat Pertumbuhan UMKM Aktif (%) 1,59 1,59 100,00 4 Tingkat Pertumbuhan Koperasi Aktif (%) 3,80 3,80 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Persentase UMKM Aktif Tingkat Pertumbuhan UMKM Aktif Pada tahun 2014, jumlah usaha mikro dan kecil sebanyak UMKM. Upaya pemberdayaan yang dilaksanakan difokuskan pada pembinaan manajemen/kelembagaan dan SDM dengan tujuan meningkatkan keterampilan pelaku UMKM dalam pengelolaan usaha. Upaya pemberdayaan yang dilaksanakan difokuskan pada pembinaan manajemen/kelembagaan dan SDM dengan tujuan meningkatkan keterampilan pelaku UMKM dalam pengelolaan usaha. Pada tahun 2014 telah dilaksanakan Kegiatan Program Pengembangan Kewirausahaan dan keunggulan komfetitif UMKM dengan bentuk Kegiatan Fasilitasi Peningkatan Kemitraan Usaha Bagi UMKMK dengan jumlah peserta 100 UMKM Penyelenggaraan Pelatihan Kewirausahaan dengan jumlah peserta 150 pelaku UMKM. Program Pengembangan Pendukung Usaha Bagi UMKM, dengan kegiatan Penyelenggaraan Promosi Produk UMKM melalui Pameran BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-45
108 Persentase Koperasi Aktif Tingkat Pertumbuhan Koperasi Aktif Pada tahun 2014, jumlah koperasi aktif sebanyak 634 buah dari total jumlah koperasi. Kegiatan untuk menumbuhkan koperasi melalui Pelatihan Manajemen Pengelolaan Koperasi dengan jumlah peserta 100 orang. Dan melalui program Pengembangan Kualitas Kelembagaan Koperasi dengan bentuk kegiatan Pembinaan, Pengawasan dan Penghargaan Koperasi Berprestasi SASARAN 17 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Investasi Daerah yang transparan serta didukung oleh iklim investasi yang kondusif Pencapaian sasaran 17 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 17 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Tingkat pertumbuhan investasi daerah (%) 10,00 10,00 100,00 2 Tingkat pelaksanaan fasilitasi kali/tahun 100,00 100,00 100,00 kerjasama kemitraan iinvestasi 3 Tingkat penyelenggaraan promosi kali/tahun 100,00 100,00 100,00 peluang investasi daerah 4 Tingkat ketersediaan Sistem Informasi (%) 28,57 28,57 100,00 Pelayanan Investasi Daerah 5 Tingkat Penerbitan Izin Mendirikan (%) 43,00 0,00 0,00 Bangunan (IMB) 6 Persentase Bangunan yang (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 mempunyai Izin Mendirikan Bangunan (IMB) 7 Tingkat pelayanan Izin Usaha Jasa (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Konstruksi (IUJK) 8 Tingkat pelayanan waktu pengurusan Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Tingkat pertumbuhan investasi daerah Tingkat pelaksanaan fasilitasi kerjasama kemitraan iinvestasi Tingkat penyelenggaraan promosi peluang investasi daerah Program kegiatan yang mendukung pencapaian target ketiga indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 6 kegiatan yaitu : BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-46
109 Program/ Kegiatan 1 Peningkatan Promosi dan Kerjasama Investasi - Penyelenggaraan Pameran Investasi - Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal - Penyusunan dan Penulisan Database Perekonomian Daerah Kota Tangerang - Pemeriksaan Menyeluruh PDAM - Sosialisasi LKPM (Laporan Kegiatan Penanaman Modal) - Pemetaan Data Potensi Daerah Kota Tangerang Alokasi Anggaran (Rp) Realisasi Anggaran (Rp) , , , , , , , , , , , ,- % Capaian SASARAN 18 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem ketahanan Pangan Daerah yang meliputi Ketersediaan, Distribusi, Konsumsi, Kewaspadaan, dan Kemasyarakataan Pencapaian sasaran 18 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 18 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Tingkat Ketersediaan Energi Per (%) 80,00 95,00 118,75 Kapita 2 Tingkat Ketersediaan Protein Per (%) 80,00 135,00 168,75 Kapita 3 Tingkat Penguatan Cadangan Pangan (%) 50,00 0,00 0,00 Daerah 4 Tingkat Stabilitasi Harga Pangan (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 5 Tingkat Stabilitasi Pasokan Pangan (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 6 Capaian Peningkatan Pangan Skor (%) 20,00 16,00 80,00 Pola Pangan Harapan (PPH) 7 Tingkat Pengawasan dan Pembinaan (%) 20,00 16,00 80,00 Keamanan Pangan Daerah 8 Tingkat Penanganan Daerah Rawan Pangan Daerah (%) 20,00 23,00 115,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-47
110 Tingkat Ketersediaan Energi Per Kapita Kapita Pada tahun 2014 target dari indikator tingkat Ketersediaan Energi Per Kapita adalah sebesar 80%, dan berdasarkan pengukuran indikator tingkat ketersediaan Energi per Kapita yang dilakukan oleh Kantor Litbangstatistik realisai capaian indikatornya adalah sebesar 93.5%, sehingga Kota Tangerang telah mencapai target yang telah ditentukan. Adapun Kegiatan yang mendukung capaian Indikator tersebut salah satunya adalah Kegiatan Monitoring Evaluasi dan Pelaporan Kebijakan Subsidi Pertanian dan Kegiatan Peningkatan Mutu Keamanan pangan. Penyerapan pupuk sangat mempengaruhi jumlah produksi pangan yang dihasilkan. Hasil Pengamatan yang dilakukan oleh Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Produktivitas padi tanpa pupuk akan menurun. Ketersediaan Pangan di Kota Tangerang dipengaruhi oleh produksi dan impor. Sebagian nilai ketersediaan berasal dari impor (pasokan dari luar) sehingga perlu upaya kelengkapan data ketersediaan yang selama ini dilaksanakan oleh Dinas Industri, Perdagangan dan Koperasi, Balai Pusat Statistik dan PD. Pasar. Disamping itu perlu menjadi perhatian utama dalam kelancaran perdagangan/distribusi pangan di Kota Tangerang. Tingkat Ketersediaan Protein Per Kapita Target dari Indikator ini adalah 80%, sedangkan capaiannya adalah 135%. Pada kondisi terakhir data yang tersedia yaitu tahun 2013 ketersediaan protein mencapai 66,9 gr/kap/hari (nilai minimal SPM = 51,3 gr/kap/hari). Dan jika dilihat data per tahun yaitu tahun 2009 angka ketersediaan Protein adalah 87,43 gr/kap/hari, tahun 2010 adalah 81 gr/kap/hari, tahun 2011 adalah 66,9 gr/kap/hari, tahun 2012 adalah 76,95 gr/kap/hari. Dan data terakhir yang tersedia di kantor Litbangstatistik adalah tahun 2013 yaitu 66,9 gr/kap/hari dan telah melebihi nilai minimal SPM sehingga tingkat ketersediaan protein di Kota Tangerang telah melebihi target yang telah ditentukan. Tingkat Penguatan Cadangan Pangan Daerah Target dari Indikator ini adalah 50%. Belum adanya upaya dari Pemerintah Kota Tangerang pada segi cadangan pangan, terbukti dengan belum adanya anggaran dana untuk cadangan pangan dan belum adanya lembaga cadangan pangan. Untuk itu, BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-48
111 capaian indikator tingkat Penguatan Cadangan pangan di Kota Tangerang adalah 0% sehingga belum mencapai target yang telah ditentukan Tingkat Stabilitasi Harga Pangan Tingkat Stabilitasi Pasokan Pangan Capaian Peningkatan Pangan Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Tingkat Pengawasan dan Pembinaan Keamanan Pangan Daerah Tingkat Penanganan Daerah Rawan Pangan Daerah Program kegiatan yang mendukung pencapaian target 5 indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 5 kegiatan yaitu : Program/ Kegiatan 1 Peningkatan Ketahanan Pangan (Pertanian / Perkebunan) - Penyusunan dan Pengumpulan Data Ketahanan Pangan Daerah - Kajian Pencapaian SPM Ketahanan Pangan - Koordinasi Ketahanan Pangan Daerah - Penanganan Kerawanan Pangan - Fasilitasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Alokasi Anggaran (Rp) Realisasi Anggaran (Rp) , , , , , , , , , ,- % Capaian SASARAN 19 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan agribisnis serta budidaya pertanian dan pertenakan yang berorientasi pada intensifikasi pertanian Pencapaian sasaran 19 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 19 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Tingkat Produktivitas Pertanian (%) 2,04 5,32 260,78 2 Tingkat produktivitas peternakan (%) per tahun 20,00 20,00 100,00 3 Tingkat pemasaran hasil produksi (%) 5,00 5,01 100,20 pertanian 4 Tingkat pemasaran hasil produksi (%) 80,00 0,00 0,00 ternak sapi potong di wilayah Kota Tangerang 5 Angka prevalensi penyakit zoonosis (%) 100,00 22,00 22,00 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-49
112 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Tingkat Produktivitas Pertanian Indikator Tingkat Produktivitas Pertanian ditetapkan meningkat 2% per tahun. Pada tahun 2014 target dari indikator ini adalah sebesar 2,04% dan realisasi pencapaiannya sebesar 5,32%. Peningkatan Produktivitas sangat dipengaruhi oleh kemampuan/pengetahuan petani dalam menerapkan teknologi, ketersediaan sarana dan prasarana penunjang, dan tingkat kesuburan lahan. Adapun pencapaian indikator ini didukung oleh Program Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian/Perkebunan dengan kegiatan Penyuluhan Penerapan Teknologi Pertanian/Perkebunan Tepat Guna, Pengadaan sarana dan prasarana teknologi pertanian/perkebunan tepat guna UPTD Hortikultura dan Pembangunan Sarana dan Prasarana UPTD Hortikultura. Dalam pelaksanaan kegiatan Penyuluhan Penerapan Teknologi Pertanian/Perkebunan Tepat Guna, hambatan yang terjadi adalah Produktivitas yang diukur pada bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura didasarkan atas 59 komoditi yang terpantau di Kota Tangerang melalui data Statistik Pertanian, sehingga data yang diperoleh sangat beragam dan fluktuatif. Sedangkan upaya yang dapat dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut adalah meningkatkan kapasitas tenaga pengumpul data statistik pertanian sehingga data yang diperoleh lebih akurat. Kegiatan lain yang mendukung Tingkat Produktivitas Pertanian adalah Pengadaan sarana dan prasarana teknologi pertanian/perkebunan tepat guna UPTD Hortikultura yang berupa Pengadaan Komposter, perangkat Hidroponik, Sarana Penunjang Pembibitan, dan Instalasi Air penyiraman. Sedangkan dalam pelaksanaan kegiatan Pengadaan sarana dan prasarana teknologi pertanian/perkebunan tepat guna UPTD Hortikultura, hambatan yang terjadi antara lain: (1) Pemanfaatan lahan pertanian untuk kegiatan di luar sektor pertanian mendorong kegiatan pertanian dilaksanakan pada lahan-lahan yang kurang subur bahkan mendekati marjinal sehingga penekan produktivitas tanaman yang dibudidayakan (2) Berkurangnya pelaku usaha budidaya tanaman yang fokus hanya melaksanakan kegiatan pertanian, mendorong kegiatan pertanian hanya merupakan kegiatan sampingan yang dilakukan bersamaan dengan kegiatan lainnya (3) Iklim dan kondisi BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-50
113 alam yang tidak menentu menyebabkan kesulitan petani dalam penentuan pola tanam, penetapan komoditi yang ditanam dan serangan hama Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut antara lain(1) perlunya regulasi dari pemerintah daerah dalam mempertahankan lahan pertanian di kota Tangerang, (2) perlunya mendorong kegiatan yang dapat memberikan nilai tambah bagi produk pertanian, (3) Pola pendampingan yang berkesinambungan dari penyuluh pertanian di kota Tangerang Kegiatan Pembangunan Sarana dan Prasarana UPTD Hortikultura.juga mendukung Tingkat Produktivitas Pertanian. Kegiatan ini berupa konsultasi Perencanaan Pembangunan Ekopark. Dalam pelaksanaannya, hambatan yang terjadi antara lain: kurangnya koordinasi dengan konsultan yang mengerjakan pekerjaan perencanaan pembangunan Ekopark. Sedangkan upaya yang dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut antara lain: lebih mengintensifkan komunikasi dengan konsultan yang mengerjakan pekerjaan perencanaan pembangunan Ekopark. Tingkat produktivitas peternakan Target Indikator Tingkat produktivitas peternakan ditetapkan sebesar 20% pada tahun 2014, dan realisasi pencapaiannya sebesar 20%. Pencapaian target indikator ini didukung oleh Program Peningkatan Produksi Peternakan dengan kegiatan Pembibitan & perawatan ternak dan Pengembangan Agribisnis Peternakan. Dalam pelaksanaannya, beberapa hambatan yang ada yang mengganggu rencana pencapaian target antara lain (1) lahan usaha untuk peternakan terbatas Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut antara lain (1) membatasi jumlah atau volume dalam usaha peternakan dalam kawasan /lahan yang terbatas Tingkat pemasaran hasil produksi pertanian Indikator Tingkat pemasaran hasil produksi pertanian ditetapkan meningkat sebesar 5% per tahun. Pada tahun 2014, target indikator ini adalah sebesar 5% dan realisasi pencapaiannya sebesar 5,01% Pencapaian indikator ini didukung oleh Program peningkatan pemasaran hasil produksi pertanian/ perkebunan dengan kegiatan Promosi atas hasil produksi pertanian unggul daerah. Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut Dinas Pertanian hanya sebagai peserta, BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-51
114 sehingga tidak terdapat hambatan. Pelaksanaan kegiatan menyesuaikan dengan agenda panitia penyelenggara. Tingkat pemasaran hasil produksi ternak sapi potong di wilayah Kota Tangerang Angka prevalensi penyakit zoonosis Indikator Angka prevalensi penyakit zoonosis ditetapkan sebesar 100% tiap tahun selama periode lima tahunan ( ). Pada tahun 2014 target dari indikator ini adalah sebesar 100% dan realisasinya sebesar 22%. Adapun pencapaian indikator ini didukung oleh Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Ternak yang terdiri dari kegiatan Pemeliharaan Kesehatan dan Pencegahan Penyakit Menular Ternak dan Pengawasan perdagangan ternak antar daerah (Pemeriksaan kesehatan hewan qurban). Dalam pelaksanaannya, beberapa hambatan yang mengganggu rencana pencapaiannya target antara lain; (1 )lalu lintas ternak yang masuk dan keluar dari wlayah Kota Tangerang sangat tinggi yang berpotensi mudah menimbulkan penyebaran penyakit dan (2) sumber daya manusia (SDM) pelayana kesehatan hewan yang terbatas Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut antara lain: (1) meningkatkan pengawasan kesehatan hewan terhadap lalu lintas ternak yang ada di Kota Tangerang dan (2) meningkatkan skill petugas yang ada dan melibatkan para petugas di tingkat kelurahan se Kota Tangerang SASARAN 20 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Kepariwisataan Daerah Pencapaian sasaran 20 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 20 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Tingkat pemasaran obyek wisata daerah 2 Tingkat kenaikan kunjungan wisatawan ke obyek wisata daerah 3 Tingkat perkembangan Jenis kelas dan jumlah Hotel (%) 33,33 69,23 207,71 (%) 20,00 25,00 125,00 (%) 95,00 95,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-52
115 Tingkat pemasaran obyek wisata daerah Program kegiatan yang mendukung pencapaian target tiga indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 1 kegiatan yaitu : Program Pengembangan Pemasaran Pariwisata Pelaksanaan promosi pariwisata nusantara di dalam dan di luar negeri Pemilihan Duta Pariwisata Kang Dan Nong Festival Cisadane Tingkat kenaikan kunjungan wisatawan ke obyek wisata daerah Tingkat perkembangan Jenis kelas dan jumlah Hotel SASARAN 21 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan intensifikasi budidaya perikanan darat Pencapaian sasaran 21 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 21 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Persentase kenaikan produksi ikan (%) 92,73 96,67 104,25 2 Cakupan bina kelompok peternak ikan (%) 30,95 47,62 153,86 3 Tingkat pengolahan dan pemasaran produksi perikanan (%) 66,47 72,45 109,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Persentase kenaikan produksi ikan Pada tahun 2014, target indikator Persentase Kenaikan Produksi Ikan ditetapkan sebesar 92,73%, sedangkan realisasi capaiannya adalah sebesar 96,67%. Pencapaian target indikator ini didukung oleh Program Pengembangan Budidaya Perikanan dengan kegiatan Pembinaan dan Pengembangan Perikanan. Dalam pelaksanaannya, beberapa hambatan yang ada yang mengganggu rencana pencapaian target antara lain (1) Bagi sebagian pembudidaya ikan kegiatan budidaya ikan merupakan pekerjaan sampingan saja (2) Bencana banjir di beberapa lokasi budidaya ikan (3) Harga pakan semakin mahal, meningkatkan biaya produksi dan mengurangi keuntungan yang diperoleh pembudidaya ikan. BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-53
116 Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut antara lain (1) Pemilihan lokasi budidaya dengan menggunakan jaring dan komoditas yang unggul dan mudah pemeliharaannya yaitu lele Sangkuriang dan Nila Nirwana (gesit) (2) Pengelolaan kualitas air CBIB dengan pakan alternatif dan alami (3) Peningkatan kelompok olahan untuk memperoleh sertifikasi Tangga) Cakupan bina kelompok peternak ikan PIRT (Pangan Industri Rumah Target indikator Cakupan bina kelompok peternak ikan pada tahun 2014 ditetapkan sebesar 30,95%, sedangkan realisasi capaiannya adalah sebesar 47,62%. Pencapaian target indikator ini didukung oleh Program Pengembangan Sistem Penyuluhan Perikanan dengan kegiatan Bintek Pengolahan Hasil Perikanan. Dalam pelaksanaannya, beberapa hambatan yang ada yang mengganggu rencana pencapaian target antara lain budidaya ikan biasanya hanya sebagai usaha sampingan saja Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut antara lain Pembinaan kepada pembudidaya ikan dan pengolah/pemasar hasil perikanan secara berkelanjutan Tingkat pengolahan dan pemasaran produksi perikanan Target indikator Tingkat Pengolahan dan Pemasaran Produksi Perikanan pada tahun 2014 ditetapkan sebesar 66,47% sedangkan realisasi pencapaiannya adalah sebesar 72,45%. Pencapaian target indikator ini didukung oleh Program Optimalisasi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Produksi Perikanan dengan kegiatan Pengawasan produk perikanan. Dalam pelaksanaannya, beberapa hambatan yang ada yang mengganggu rencana pencapaian target antara lain (1) Minat masyarakat untuk makan ikan masih kurang (2) Produk perikanan yang beredar di pasaran masih ditemukan kandungan formalin. Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut antara lain (1) Penggalakan program nasional Gemarikan dengan bazar/pameran ikan murah berkelanjutan (2) Pengawasan produk dan sosialisasi mutu kepada pengolah/pemasar dan konsumen BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-54
117 SASARAN 22 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perdagangan Daerah dan peningkatan perlindungan konsumen Pencapaian sasaran 22 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 22 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Tingkat pembinaan Pedagang Kaki (%) 1,02 1,02 100,00 Lima (PKL) 2 Tingkat perlindungan konsumen (%) 21,02 89,02 423,50 3 Tingkat pembinaan perdagangan dalam negeri (%) 4,00 4,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Tingkat pembinaan Pedagang Kaki Lima (PKL) Penataan pedagang kaki lima di Kota Tangerang dilaksanakan dalam rangka memperindah wajah kota, karena pada beberapa lokasi keberadaannya seringkali menimbulkan permasalahan diantaranya menambah titik kemacetan, namun di sisi lain dapat memberikan kontribusi dalam menggerakkan roda perekonomian khususnya pada sektor non formal. Pada tahun 2014 kegiatan Pemerintah Kota Tangerang telah melakukan pengkajian 13 lokasi perdagangan kaki lima di Kota Tangerang. Tingkat perlindungan konsumen Tingkat pembinaan perdagangan dalam negeri SASARAN 23 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perindustrian Daerah dan peningkatan kapasitas industri kecil dan menengah Pencapaian sasaran 23 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-55
118 Evaluasi Pencapaian Sasaran 23 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Persentase industri yang memiliki Gugus Kendali Mutu (Pengukuran Standarisasi, Pengujian, dan Kualitas) 2 Persentase IKM memiliki Izin Usaha Industri Kecil Melalui P-IRT dan Halal 3 Persentase industri yang telah memenuhi standar kelayakan produksi 4 Tingkat Pertumbuhan Industri di Daerah (%) 8,21 10,68 130,09 (%) 3,08 3,91 126,95 (%) 11,08 19,59 176,81 (%) 1,30 1,48 113,85 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Sektor industri sebagai salah satu ikon Kota Tangerang menjadi penggerak utama di dalam pencapaian pertumbuhan ekonomi. Upaya pengembangan industri pada Tahun 2014 dilakukan melalui kebijakan : (1) Program Pengembangan sentra -sentra industri potensial; (2) Program pengembangan industri kecil dan menengah; (3) Program penataan struktur industri; (4) Program peningkatan kemampuan teknologi industri; (5) Progarm peningkatan kapasitas IPTEK sistem produksi. Sedangkan dalam rangka memperluas pangsa pasar produk Industri Kecil dan Menengah (IKM), Pemerintah Kota Tangerang memfasilitasi IKM untuk mengikuti pameran produk di tingkat regional dan nasional. Perkembangan industri di Kota Tangerang sendiri bergerak fluktuatif, yaitu pada Tahun 2010 sebanyak 2.595, padatahun 2011 sebanyak perusahaan, pada Tahun 2012 sebanyak perusahaan, pada Tahun 2013 sebanyak dan pada Tahun 2014 sebanyak (meningkat 1,05%). Dengan demikian target pertumbuhan industri sebesar 1% di Kota Tangerang dalam realisasinya melebihi target yaitu 1,05%. Untuk indikator Jumlah perusahaan/tahun yang memiliki Tingkat standar kelayakan produksi yaitu sebanyak 40 perusahaan per tahun dalam realisasinya yaitu mencapai 21 perusahaan (300%) Sedangkan untuk indicator terdatanya hubungan keterkaitan industri hulu hingga hilir terealisasi pencapaian targetnya sebesar 100%. BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-56
119 SASARAN 24 Terwujudnya Pemantapan dan Pengembangan Sistem Pendidikan Daerah yang Mengacu pada Sistem Pendidikan Nasional, dan Berbasis Kompetensi, Serta Berosientasi pada Kebutuhan Kerja Pencapaian sasaran 24 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 24 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Angka Putus Sekolah SD/MI (%) per tahun 0,02 0, ,00 2 Angka Putus Sekolah SMP/MTs (%) per tahun 0,09 0,03 166,67 3 Angka Putus Sekolah SMA/MA/SMK (%) per tahun 0,12 0,16 66,67 4 Angka Melek Huruf Penduduk Usia > (%) per tahun 98,65 98,65 100,00 15 Tahun 5 Angka Melanjutkan SD/MI ke (%) per tahun 98,53 90,64 91,99 SMP/MTs 6 Angka Melanjutkan SMP/MTs ke (%) per tahun 97,74 120,39 123,17 SMA/SMK/MA 7 Angka Kelulusan Siswa SD/MI (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 8 Angka Kelulusan Siswa SMP/MTs (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 9 Angka Kelulusan Siswa SMA/MA/SMK (%) per tahun 99,99 99,99 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Angka Putus Sekolah SD/MI Prosentase Penurunan Angka Putus Sekolah (APS) SD/MI tahun 2014 dari Target 0,02% realisasi 0,03%. hal ini menunjukan bahwa target yang telah ditetapkan dalam RPJMD tercapai dengan baik, walaupun masih terdapat sejumlah 6-anak putus sekolah dari jumlah keseluruhan siswa SD/MI sebanyak siswa, Pemerintah Kota Tangerang terus berupaya untuk menekan Penurunan Angka Putus Sekolah. Kondisi ini menggambarkan bahwa makin besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap upaya Penurunan Angka Putus Sekolah SD/MI dengan memberikan subsidi bantuan bagi siswa tidak mampu melalui Program Tangerang Cerdas pada Jenjang Pendidikan Dasar. Kondisi ini menggambarkan bahwa makin besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap layanan dibidang pendidikan, khususnya upaya penurunan Angka Putus Sekolah SD/MI. Angka Putus Sekolah SMP/MTs Prosentase Penurunan Angka Putus SMP/MTs pada tahun 2014 dari Target 0,09% realisasi 0,03%. hal ini menunjukan bahwa target yang telah ditetapkan dalam RPJMD BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-57
120 tercapai dengan baik, walaupun masih terdapat sejumlah 22-anak putus sekolah dari jumlah keseluruhan siswa SMP/MTs sebanyak siswa, Pemerintah Kota Tangerang terus berupaya untuk menekan Penurunan Angka Putus Sekolah. upaya Pemerintah Kota Tangerang agar seluruh penduduk siswa putus sekolah dan siswa tidak mampu dapat bersekolah di Kota Tangerang antara lain terus melaksanakan Pembangunan dan penyediaan sarana prasarana kebutuhan pendidikan dasar serta memberikan berbagai bantuan diataranya : Pemberian bantuan melalui program Tangerang Cerdas untuk SPP dan Biaya Personal, Bantuan Operasional Pendidikan SD/MI, SMP/MTs Negeri. Kondisi ini menggambarkan bahwa makin besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap layanan dibidang pendidikan, khususnya upaya penurunan Angka Putus Sekolah SMP/MTs. Angka Putus Sekolah SMA/MA/SMK Prosentase Penurunan Angka Putus SMA/MA/SMK pada tahun 2014 sebesar 0.16% dari Target 0,12%. hal ini menunjukan bahwa target yang telah ditetapkan dalam RPJMD tercapai dengan baik, walaupun masih terdapat sejumlah 136-anak putus sekolah dari jumlah keseluruhan siswa SMP/MTs sebanyak siswa, Pemerintah Kota Tangerang terus berupaya untuk menekan Penurunan Angka Putus Sekolah. upaya Pemerintah Kota Tangerang agar seluruh penduduk siswa putus sekolah dan siswa tidak mampu dapat bersekolah di Kota Tangerang antara lain terus melaksanakan Pembangunan dan penyediaan sarana prasarana kebutuhan pendidikan dasar serta memberikan berbagai bantuan diataranya : Pemberian bantuan melalui program Tangerang Cerdas untuk SPP dan Biaya Personal, Bantuan Operasional Pendidikan SMA dan SMK Negeri. Kondisi ini menggambarkan bahwa makin besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap layanan dibidang pendidikan, khususnya upaya penurunan Angka Putus Sekolah SMA/MA/SMK. Angka Melek Huruf Penduduk Usia > 15 Tahun Penduduk yang melek huruf di Kota Tangerang pada tahun 2013 mencapai 98,48 persen. Terjadi peningkatan sebesar 0,05 persen dibanding tahun Secara umum, kemampuan baca tulis penduduk Kota Tangerang di atas rata-rata penduduk Banten yang sebesar 96,87 persen tetapi masih lebih rendah dari angka melek huruf di Kota Cilegon dan Kota Tangerang Selatan yang masing-masing mencapai 98,87 persen dan 98,62 persen. Angka melek huruf penduduk Kota Tangerang tahun 2013 bila dijadikan BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-58
121 indeks melek huruf nilainya sama yaitu 98,48 yang berarti pencapaiannya belum mencapai nilai maksimum 100 atau masih tersisa 1,52 persen yang buta huruf. Angka Melanjutkan SD/MI ke SMP/MTs Prosentase Capaian Angka Melanjutkan SD/MI ke SMP/MTs pada tahun 2014 sebesar 90,64% dari Target RPJMD sebesar 98,53 % pencapaian ini belum maksimal, bahwa dari jumlah lulusan SD/MI yang berjumlah sebanyak siswa yang melanjutkan ke jenjang SMP/MTs hanya berjumlah sehingga masih terdapat sekitar anak yang dimungkinkan bersekolah atau melanjutkan di luar Kota Tangerang. Angka Melanjutkan SMP/MTs ke SMA/SMK/MA Prosentase Capaian Angka Melanjutkan SMP/MTs ke SMA/MA/SMK pada tahun 2014 sebesar 120,39% dari Target RPJMD sebesar 97,74 %, capaian ini menunjukkan bahwa jumlah siswa baru kelas I pada jenjang SMA/MA/SMK di Kota Tangerang lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah lulusan SMP/MTs dan kondisi ini terus meningkat dari tahun ketahun, hal ini menunjukkan bahawa kualitas pendidikan di Kota Tangerang jauh lebih baik, sehingga kondisi ini menggambarkan bahwa makin besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap layanan dibidang pendidikan, khususnya Sistem Penerimaan Siswa Baru melalui Sistem Online pada SMA/MA/SMK Negeri. Angka Kelulusan Siswa SD/MI Prosentase Capaian Angka Kelulusan SD/MI pada tahun 2014 telah mencapai 100% artinya upaya Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Pendidikan khususnya jenjang SD/MI untuk terus meningkatkan kualitas dan mutu lulusan telah terlaksana dengan baik, sehingga kondisi ini menggambarkan bahwa makin besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap layanan dibidang pendidikan, khususnya upaya meningkatkan Angka Kelulusan Siswa SD/MI. Angka Kelulusan Siswa SMP/MTs Prosentase Capaian Angka Kelulusan SMP/MTs pada tahun 2014 telah mencapai 100% artinya upaya Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Pendidikan khususnya jenjang SMP/MTs untuk terus meningkatkan kualitas dan mutu lulusan telah terlaksana dengan baik, sehingga kondisi ini menggambarkan bahwa makin besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap layanan dibidang pendidikan, khususnya upaya meningkatkan Angka Kelulusan Siswa SD/MI. BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-59
122 Angka Kelulusan Siswa SMA/MA/SMK Prosentase Capaian Angka Kelulusan SMA/MA/SMK pada tahun 2014 telah mencapai 100% artinya upaya Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Pendidikan khususnya jenjang SMA/MA/SMK untuk terus meningkatkan kualitas dan mutu lulusan telah terlaksana dengan baik, sehingga kondisi ini menggambarkan bahwa makin besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap layanan dibidang pendidikan, khususnya upaya meningkatkan Angka Kelulusan Siswa SMA/MA/SMK SASARAN 25 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Pelayanan dan Akses Kesehatan yang berkualitas dan terjangkau Pencapaian sasaran 25 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 25 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Cakupan Kelurahan Siaga Aktif (%) 50,00 73,00 146,00 2 Persentase rumah tangga (%) 25,00 27,90 111,60 berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) 3 Cakupan penjaringan kesehatan (%) 95,12 94,07 98,90 siswa SD dan setingkat 4 Cakupan pelayanan kesehatan (%) 50,00 50,00 100,00 dasar masyarakat Kota Tangerang 5 Cakupan pelayanan kesehatan (%) 0,84 6,50 773,81 rujukan pasien masyarakat Kota Tangerang 6 Cakupan pelayanan JKN (BPJS) (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 7 Presentase ketersediaan obat dan (%) per tahun 100,00 127,33 127,33 perbekalan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan di Puskesmas, Pustu, Pusling, dan Poliklinik 8 Presentase Sarana Obat dan (%) 89,13 93,48 104,88 bahan-bahan berbahaya yang memenuhi syarat 9 Presentase sarana kesehatan (%) 61,11 81,25 132,96 yang memenuhi syarat 10 Rasio dokter per penduduk dokter/ ,05 0, ,00 penduduk 11 Rasio tenaga medis per penduduk tenaga medis/ penduduk 0,05 1, ,00 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-60
123 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Cakupan Kelurahan Siaga Aktif Kelurahan Siaga aktif adalah Kelurahan yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Pembentukan desa/kelurahan siaga melalui: Sosialisasi pembentukan desa/kelurahan siaga, Survey Mawas Diri (SMD), Pendekatan kepada masyarakat/tokoh masyarakat, untuk mendapatkan dukungan, peningkatan kapasitas provider, dan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD). Indikator Sasaran Pokok Pembangunan ini merupakan jumlah Kelurahan Siaga Aktif berbanding dengan Jumlah Kelurahan Siaga yang dibentuk. Pada tahun 2014 dari target sebesar 50% tercapai 73% yaitu dari pembentukan 104 Kelurahan Siaga terdapat 76 kelurahan yang sudah mendapatkan SK Kelurahan Siaga Aktif melalui kegiatan pengembangan media promosi dan informasi sadar hidup sehat Persentase rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) Indikator Sasaran Pokok Pembangunan ini merupakan Jumlah Rumah tangga yang PHBS hasil survey berbanding dengan Jumlah Rumah tangga yang PHBS hasil survey Pada tahun 2014 dari target sebesar 25% tercapai 27,9% yaitu hasil pendataan PHBS RT didapatkan persentase rumah tangga yang ber-phbs (pemantauan dilakukan di Kelurahan Cipondoh) sebesar 27.9% (958 rumah tangga) dari seluruh rumah tangga yang dipantau (3437 rumah tangga) dan Persentase rumah tangga yang tidak ber-phbs di Kelurahan Cipondoh sebesar 72.1% (2479 rumah tangga) dari seluruh rumah tangga yang dipantau (3437 rumah tangga) melalui kegiatan Penyuluhan Masyarakat Pola Hidup Sehat Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat Indikator Sasaran Pokok Pembangunan ini merupakan Jumlah Siswa SD Setingkat yang diperiksa kesehatannya berbanding dengan Jumlah Siswa SD Setingkat di Kota Tangerang. Pada tahun 2014 dari target sebesar 95,12% tercapai 94,07% (98,89%) yaitu sebanyak murid kelas 1 SD di Kota Tangerang, terdapat anak yang diperiksa kesehatannya. Adapun realisasi capaian tidak mencapai 100% dikarenakan keterbatasan SDM yang turun ke sekolah untuk memeriksa kesehatan siswa BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-61
124 Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat Kota Tangerang Indikator Sasaran Pokok Pembangunan ini merupakan Jumlah Kunjungan Pasien Masyarakat Kota Tangerang di Sarana Kesehatan Masyarakat Strata 1 (Puskesmas berbanding dengan Jumlah Masyarakat Kota Tangerang yang mendapat pelayanan. Dalam rangka meningkatkan keterjangkauan masyarakat dalam hal biaya kesehatan maka mulai tahun 2012, pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas tidak dikenakan biaya dan begitu juga dengan pelayanan kesehatan rujukan di Rumah Sakit yang bekerjasama dengan Pemerintah Kota Tangerang untuk seluruh masyarakat Kota Tangerang. Pada tahun 2014 dari target sebesar 50% tercapai 50% melalui kegiatan Pembiayaan Pelayanan Kesehatan Bagi Masyarakat Kota Tangerang Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat Kota Tangerang Indikator Sasaran Pokok Pembangunan ini merupakan Jumlah Kunjungan Pasien Masyarakat Kota Tangerang di Sarana Kesehatan Masyarakat Strata 2 (RS) berbanding dengan Jumlah Masyarakat Kota Tangerang yang mendapat rujukan di sarana kesehatan strata 2 (RS). Pada tahun 2014 dari target sebesar 0,84% tercapai 6,50% yaitu dari jumlah masyarakat Kota Tangerang terdapat sebanyak Pasien Masyarakat Kota Tangerang di Sarana Kesehatan Masyarakat Strata 2 (RS) melalui kegiatan Pembiayaan Pelayanan Kesehatan Bagi Masyarakat Kota Tangerang Cakupan pelayanan JKN (BPJS) Indikator Sasaran Pokok Pembangunan ini merupakan Jumlah peserta JKN yang berobat ke strata 1 (Puskesmas) berbanding dengan peserta JKN yang berkunjung ke strata 1 (Puskesmas). Pada tahun 2014 dari target sebesar 100% tercapai 100% (100%) melalui kegiatan Kapitasi Pelayanan Kemitraan Jaminan Kesehatan Nasional 2014 Presentase ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan di Puskesmas, Pustu, Pusling, dan Poliklinik Presentase ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan di Puskesmas dan Jaringannya merupakan Jumlah ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan berbanding dengan jumlah kebutuhan obat dan perbekalan kesehatan pada tahun 2014 dari target 100% tercapai sebesar 127,33% melalui kegiatan pengadaan Obat dan perbekalan kesehatan, peningkatan mutu penggunaan obat dan perbekalan kesehatan dan monitoring, evaluasi dan pelaporan obat. BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-62
125 Presentase Sarana Obat dan bahan-bahan berbahaya yang memenuhi syarat Indikator Sasaran Pokok Pembangunan ini merupakan Jumlah saran obat dan bahan berbahaya yang memenuhi syarat berbanding dengan Jumlah Sarana Obat dan bahan Berbahaya yang dibina/diperiksa Pada tahun 2014 dari target sebesar 89,13% tercapai 93,48% yaitu terdapat 129 sarana yang memenuhi syarat dari 138 sarana yang diperiksa melalui kegiatan Pembinaan Sarana Obat dan Bahan Berbahaya Presentase sarana kesehatan yang memenuhi syarat Indikator Sasaran Pokok Pembangunan ini merupakan Jumlah sarana kesehatan yang memenuhi syarat berbanding dengan Jumlah sarana kesehatan (rumah sakit, klinik, praktek dokter, praktek bidan) yang dibina. Pada tahun 2014 dari target sebesar 61,11% tercapai 81,25% yaitu sebanyak 64 sarana kesehatan (rumah sakit, klinik, praktek dokter, praktek bidan) yang dibina terdapat 52 sarana kesehatan yang memenuhi syarat melalui kegiatan Pembinaan dan Penyuluhan Teknis Penatalaksanaan Bagi Sarana Kesehatan Rasio dokter per penduduk Rasio tenaga medis per penduduk SASARAN 26 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya pemberdayaan dan perlindungan anak yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan keluarga Pencapaian sasaran 26 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 26 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan penanganan pengaduan oleh petugas terlatih di dalam unit pelayanan terpadu 2 Cakupan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan yang mendapatkan pelayanan kesehatan oleh Tenaga Kesehatan Terlatih Di Puskesmas Mampu Tatalaksana KtP/A dan PPT/PKT di Rumah Sakit (%) 21,09 66,67 316,12 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-63
126 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 3 Cakupan layanan rehabilitasi sosial yang diberikan oleh petugas rehabilitasi sosial terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu 4 Cakupan layanan bimbingan rohani yang diberikan oleh petugas bimbingan rohani terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu 5 Cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan pengadilan atas kasuskasus kekerasan terhadap perempuan dan anak 6 Cakupan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Yang Mendapatkan Layanan Bantuan Hukum 7 Cakupan layanan pemulangan bagi perempuan dan anak korban kekerasan 8 Cakupan layanan reintegrasi sosial bagi perempuan dan anak korban kekerasan 9 Persentase focal point SKPD yang memiliki aktifitas di dalam perwujudan kesetaran dan keadilan gender 10 Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah daerah 11 Persentase partisipasi perempuan di lembaga swasta (%) 22,11 13,33 60,29 (%) 22,67 24,44 107,81 (%) 20,00 6,04 30,20 (%) 100,00 100,00 100,00 (%) per tahun 100,00 0,00 0,00 (%) 21,09 13,33 63,21 (%) 38,10 35,56 93,33 (%) 0,60 0,59 98,33 (%) 15,74 15,69 99,68 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan penanganan pengaduan oleh petugas terlatih di dalam unit pelayanan terpadu Banyaknya pengaduan korban kekerasan perempuan dan anak sedikit di banding target yang diperkirakan Cakupan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan yang mendapatkan pelayanan kesehatan oleh Tenaga Kesehatan Terlatih Di Puskesmas Mampu Tatalaksana KtP/A dan PPT/PKT di Rumah Sakit Menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan terlatih di puskesmas mampu dilaksanakan sesuai target BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-64
127 Cakupan layanan rehabilitasi sosial yang diberikan oleh petugas rehabilitasi sosial terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu Pelayanan rehabsos yang dilakukan oleh petugas lebih kecil dari target yang ditetapkan dikarenakan kebutuhan rehabsos lebih kecil dari target Cakupan layanan bimbingan rohani yang diberikan oleh petugas bimbingan rohani terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu Semakin besar capaian layanan bimbingan rohani dari target, artinya korban cukup banyak membutuhkan pelayanan bimbingan rohani Cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan pengadilan atas kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak Putusan pengadilan realisai 0,060 lebih kecil dari target 20 % berarti pengaduan tidak dilanjuti ke proses hukum cukup mediasi layanan pengaduan Cakupan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Yang Mendapatkan Layanan Bantuan Hukum Korban kekerasan yang membutuhkan layanan banyuan terpenuhi seluruhnya Cakupan layanan pemulangan bagi perempuan dan anak korban kekerasan Korban dalam tahun ini tidak ada layanan pemulangan dikarenakan korban seluruhnya berasal dari Kota Tangerang Cakupan layanan reintegrasi sosial bagi perempuan dan anak korban kekerasan Korban dalam tahun ini tidak ada layanan pemulangan dikarenakan korban seluruhnya berasal dari Kota Tangerang Persentase focal point SKPD yang memiliki aktifitas di dalam perwujudan kesetaran dan keadilan gender Aktifitas Focal point SKPD dan target yang ditentukan sesuai dengan realisasi dalam perwujudan kesetaraan dan keadilan gender Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah daerah Partsipasi perempuan masih sedikit dibandingkan partisipasi laki2 dikarenakan kesempatan perempuan kurang Persentase partisipasi perempuan di lembaga swasta SASARAN 27 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap norma keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-65
128 Pencapaian sasaran 27 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 27 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Cakupan Pasangan Usia Subur (PUS) yang usia istrinya < 20 tahun 2 Cakupan Pasangan Usia Subur menjadi Peserta KB aktif 3 Cakupan Pasangan Usia Subur yang ingin ber-kb tidak terpenuhi (Unmet Need) 4 Cakupan Anggota Bina Keluarga Balita (BKB) yang ber-kb 5 Rasio Petugas Lapangan Keluarga Berencana/ Penyuluh Keluarga Berencana (PLKB/PKB) di setiap kelurahan 6 Rasio Pembantu Pembina Keluarga Berencana (PPKBD) di setiap Kelurahan 7 Cakupan penyediaan alat dan obat Kontrasepsi untuk memenuhi permintaan masyarakat di daerah 8 Cakupan penyediaan informasi data mikro keluarga di setiap Kelurahan 9 Persentase kecamatan memiliki fasilitas pelayanan konseling remaja 10 Cakupan pelayanan dan penanggulangan Narkoba, PMS termasuk HIV/AIDS di setiap kelurahan 11 Rasio pelayanan Posyandu Aktif di setiap RW (%) 103,43 1,14 1,10 (%) 73,02 73,55 100,73 (%) 14,38 16,89 117,45 (%) 48,08 50,00 103,99 petugas/ kelurahan petugas/ kelurahan 0,10 0,06 60,00 100,00 100,00 100,00 (%) 30,00 0,00 0,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) per tahun 100,00 0,00 0,00 posyandu/ RW 1,00 1,08 108,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Cakupan Pasangan Usia Subur (PUS) yang usia istrinya < 20 tahun Indikator Sasaran Cakupan Pasangan Usia Subur (PUS) Yang Usia Istrinya < 20 Tahun adalah: jumlah PUS yang usia istrinya < 20 tahun (2929) dibagi jumlah PUS ( ), pada tahun 2014 targetnya adalah 3,4% dan realisasinya adalah 1,14%. Hal ini dikarenakan PUS yang sudah siap melahirkan adalah usianya lebih dari 21 tahun, sehingga kesiapan melahirkan lebih matang menurut Kesehatan Reproduksinya Makin Kecil Persentase PUS Yang Berusia Lebih Kecil Dari 20 Tahun, Makin Baik. Cakupan Pasangan Usia Subur menjadi Peserta KB aktif Indikator Sasaran Cakupan Pasangan usia Subur Menjadi Peserta KB- Aktif adalah : PUS yang menjadi peserta KB aktif adalah 73,55% adalah dari sejumlah PUS sebesar BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-66
129 yang menjadi peserta KB aktif adalah atau CU/PUS = / = 73,55 %. Makin Besar Persentase Peserta KB Aktif Dibanding PUS, maka Makin Cepat Penurunan Laju Pertambahan Penduduk Yang Diakibatkan Oleh Sedikitnya Angka Kelahiran Cakupan Pasangan Usia Subur yang ingin ber-kb tidak terpenuhi (Unmet Need) Indikator Sasaran Cakupan Anggota Keluarga Yang Tidak Ingin Anak Dan Tidak Ingin Melahirkan Lagi, tapi saat ini tidak menggunakan salah satu alat kontrasepsi. Dari jumlah PUS sebesar yang ingin anak ditunda dan tidak mau melahirkan lagi adalah sebesar atau sebesar 16,89%. Semakin Persentase Nilainya Kecil, Makin Baik (Makin Banyak PUS Yang Dilindungi Dengan Kontrasepsi Cakupan Anggota Bina Keluarga Balita (BKB) yang ber-kb Indikator Sasaran Cakupan PUS Peserta KB Anggota Bina Keluarga Balita ( BKB ) Yang Ber-KB yaitu jumlah keluarga yang masih PUS menjadi anggota kelompok kegiatan BKB, namun hanya 50% yang telah ber KB. Makin Tinggi Nilai Persentasenya, Semakin Baik Untuk menekan Laju Pertambahan Penduduk. Rasio Petugas Lapangan Keluarga Berencana/ Penyuluh Keluarga Berencana (PLKB/PKB) di setiap kelurahan Indikator SasaranRasio Petugas Lapangan Keluarga Berencana/Penyuluh Keluarga Berencana (PLKB/PKB) di setiap kelurahan adalah : Dalam program KB KS sebaiknya setiap Kelurahan ada 1 (satu) orang PLKB, Jumlah PLKB= 7 dan jumlah kelurahan 104 jadi rasio = 7/104= 0,06% Rasio Pembantu Pembina Keluarga Berencana (PPKBD) di setiap Kelurahan Indikator Sasaran Rasio pembantu Pembina Keluarga Berencana (PPKBD) di setiap kelurahan adalah : Dalam program KB KS sebaiknya setiap Kelurahan ada 1 (satu) orang PPKBD, Jumlah PPKBD = 104 dan jumlah kelurahan 104 jadi rasio = 104/104= 100% Cakupan penyediaan alat dan obat Kontrasepsi untuk memenuhi permintaan masyarakat di daerah Indikator sasaran Cakupan penyediaan alat dan obat Konstrasepsi untuk memenuhi permintaan masyarakat di daerah adalah : Standar Pelayanan Minimal (SPM) setiap daerah agar menganggarkan sebesar 30% untuk kebutuhan alat kontrasepsi. Namun karena sekarang pelayanan KB dalam era JKN oleh BPJS bagi keluarga tidak mamp), dan menurut aturan semua alat kontrasepsi bagi peserta BPJS ditanggung oleh BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-67
130 pemerintah (BKKBN Pusat), sehingga daerah b elum mengadakan penyediaan Alat Kontrasepsi bagi Keluarga tidak mampu atau 0%. Cakupan penyediaan informasi data mikro keluarga di setiap Kelurahan Indikator Sasaran Cakupan penyediaan informasi data mikro keluarga di setiap Kelurahan adalah : Jumlah KK seluruhnya = , seluruhnya telah didata pada kegiatan Pendataan Keluarga sehingga jumlah KK didata ( ) / jumlah KK yang ada ( ) = 100% Persentase kecamatan memiliki fasilitas pelayanan konseling remaja Indikator Sasaran Presentase kecamatan memiliki fasilitas pelayanan konseling remaja adalah : Jumlah Kecamatan 13, jumlah PIK KRR 13. Jadi Jumlah PIK KRR (13) / Jumlah Kecamatan (13) = 100%. Cakupan pelayanan dan penanggulangan Narkoba, PMS termasuk HIV/AIDS di setiap kelurahan Indikator Sasaran Cakupan pelayanan dan penanggulangan Narkoba, PMS termasuk HIV/AIDS di setiap kelurahan, pada BPMKB untuk mencapai indicator ini pada tahun 2014 belum melaksanakan program kegiatan jadi masih 0%. Rasio pelayanan Posyandu Aktif di setiap RW Jumlah RW se Kota Tangerang yaitu 986 dan jumlah Posyandu yaitu Jadi Rasio Posyandu adalah Jumlah Posyandu (1.069) / jumlah RW (986) = 1,06. Untuk mencapai indikator sasaran ini dilaksanakan oleh SKPD Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana, sebagai SKPD pembina posyandu diuraikan pada 1 program dan 1 kegiatan, sabagai berikut: Program Pengembangan Model Operasional Bkb-Posyandu-Padu Pembinaan Posyandu kepada 1070 posyandu SASARAN 28 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan perlindungan kesejahteraan sosial-masyarakat Pencapaian sasaran 28 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-68
131 Evaluasi Pencapaian Sasaran 28 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Persentase (%) PMKS skala kota yang menerima program pemberdayaan sosial melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) atau kelompok sosial ekonomi sejenis lainnya 2 Persentase Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial 3 Persentase (%) penyandang cacat, fisik, mental, serta lanjut usia tidak potensial yang telah menerima jaminan sosial 4 Tingkat keikutsertaan eks penyandang penyakit sosial yang mengikuti pendidikan dan pelatihan 5 Cakupan petugas rehabilitasi sosial yang terlatih (%) 16,67 9,60 57,59 (%) 25,52 10,03 39,30 (%) 4,06 4,63 114,11 (%) 20,00 13,50 67,50 (%) 11,11 0,00 0,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Persentase (%) PMKS skala kota yang menerima program pemberdayaan sosial melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) atau kelompok sosial ekonomi sejenis lainnya Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 5 kegiatan yaitu : Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Lainnya Pelatihan keterampilan berusaha bagi keluarga miskin Adapun ruang lingkup kegiatan, yaitu dalam bentuk pemberian keterampilan berusaha berupa pelatihan pembuatan kue kering dan kue basah. Pelayanan Pemulangan Orang Terlantar, Sakit dan Meninggal Kegiatan ini merupakan pelayanan yang dilakukan oleh Dinas Sosial kepada orang terlantar, sakit dan meninggal. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mengurangi jumlah orang terlantar di Kota Tangerang. Adapun ruang lingkup kegiatan yaitu: (1). Menerima laporan dari orang terlantar yang datang ke Dinas Sosial secara langsung dengan membawa surat keterangan dari Kepolisian, atau laporan dari warga kemudian ditindaklnjuti oleh petugas; (2). Memberikan surat pengantar melanjutkan perjalanan dan uang transport sesuai dengan daerah tujuan; (3). Jika mendapat laporan dari masyarakat, maka petugas BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-69
132 mendatangi tempat ditemukan orang terlantar, kemudian melakukan penanganan; (4). Jika orang terlantar dalam kondisi sakit, maka akan dirujuk ke rumah sakit dengan membawa surat keterangan dari kepolisian dan surat rekomendasi dari Dinas Sosial. Dan jika meninggal, maka akan ditangani sampai dengan pemakaman; (5). Jika orang terlantar tersebut dinyatakan sembuh oleh rumah sakit dan dikembalikan ke Dinas Sosial, maka akan kembalikan ke daerahnya, jika tidak memiliki keluarga maka dirujuk ke panti rehabilitasi. Fasilitasi Kegiatan Pusat dan Propinsi Banten Kegiatan ini merupakan partisipasi kesertaan peserta (PMKS dan PSKS) pada kegiatan di tingkat Pusat dan tingkat Provinsi Banten yang mewakili Kota Tangerang. Kegiatan tersebut antara lain: Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN), Pekan Kreatifitas Anak, Forum Anak Daerah (FAD). Jumlah kesertaan anak terlantar, anak cacat, anak pemulung, lanjut usia, sebanyak orang yang mengikuti kegiatan di tingkat Provinsi Banten dan Pusat, dan di akhir tahun 2014 sebanyak 37 orang Pemutakhiran Data PMKS dan PSKS Fasilitasi Distribusi Beras untuk Keluarga Miskin Persentase Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 4 kegiatan yaitu : Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial Pelatihan keterampilan dan praktek belajar kerja bagi anak terlantar termasuk anak jalanan, anak cacat, anak nakal Kegiatan Pelatihan Keterampilan dan Praktek Belajar bagi Anak Terlantar, Anak Jalanan, Anak Cacat dan Anak Nakal ini dimaksudkan agar mereka memiliki keterampilan sebagai bekal untuk memiliki usaha sendiri dan membantu meringankan beban orang tua. Bentuk keterampilan yang diajarkan adalah daur ulang sampah. Penanganan masalah-masalah strategis yang menyangkut tanggap cepat darurat dan kejadian luar biasa Kegiatan ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan dalam bentuk tanggap darurat bencana, berupa pemberian bantuan untuk pemenuhan kebutuhan dasar, pada fase tanggap darurat terdiri dari makanan siap saji, bahan pangan, bahan BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-70
133 non pangan berupa peralatan kebersihan, selimut, keperluan bayi dan lain-lain, serta penyediaan bahan bakar (solar) untuk mesin penyedot air di lokasi -lokasi banjir. Peningkatan Kualitas Pelayanan, Sarana dan Prasarana Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial Bagi PMKS Kegiatan ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan dalam bentuk: Pelayanan dan pemenuhan kebutuhan dasar anak jalanan, serta pembinaan melalui kegiatan pelatihan keterampilan dan konseling, yang dilaksanakan di Rumah Singgah Darul Aitam. Review DED Rumah Perlindungan Sosial Persentase (%) penyandang cacat, fisik, mental, serta lanjut usia tidak potensial yang telah menerima jaminan sosial Program pembinaan para penyandang cacat dan trauma Pendayagunaan para penyandang cacat dan eks trauma Kegiatan ini merupakan kegiatan pembinaan melalui pemberian alat bantu dengar dan kursi roda, sehingga para penyandang cacat dan trauma memiliki rasa percaya diri dan dapat menggali potensi dirinya sehingga dapat menjalankan Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 1 kegiatan yaitu : fungsi sosialnya di masyarakat secara wajar, serta terbantu dalam mobilitas dan komunikasi. Tingkat keikutsertaan eks penyandang penyakit sosial yang mengikuti pendidikan dan pelatihan Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 2 kegiatan yaitu : Program Pembinaan eks Penyandang Penyakit Sosial (eks Narapidana, PSK, Narkoba dan Penyakit Sosial Lainnya) Pendididkan dan Pelatihan Keterampilan Berusaha Bagi Penyandang Eks Penyakit Sosial Kegiatan Pelatihan Keterampilan bagi eks penyandang penyakit sosial ini dimaksudkan agar mereka memiliki keterampilan sebagai bekal untuk memiliki usaha sendiri dan membantu meringankan beban orang tua. Bentuk keterampilan yang diajarkan adalah pelatihan pembibitan lele. Pemberdayaan eks penyandang penyakit sosial BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-71
134 Kegiatan ini merupakan kegiatan pemberdayaan (khususnya anak jalanan, gelandangan, pengemis dan pengamen) di Panti Rehabilitasi. Kegiatan ini terdiri dari dua kegiatan yaitu: (1). Pengawasan anak jalanan, gelandangan dan pengemis yang dilakukan setiap hari kerja di lokasi-lokasi yang menjadi tempat anak jalanan, gelandangan pengemis dan pengemen beroperasi, seperti perempatan/pertigaan lampu lalu lintas; (2). Operasi dan pengiriman hasil razia ke Panti Rehabilitasi. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan motivasi dan keterampilan kepada anak jalanan, gelandangan dan pengemis serta pengemen sehingga diharapkan dapat mengurangi jumlah mereka di Kota Tangerang. Pembinaan dilakukan berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2012 tentang Pembinaan Anak Jalanan, Gelandangan, Pengemis dan Pengamen. Hasil dari kegiatan pengawasan dan operasi bagi gepeng dikirim ke Panti Sosial Bina Karya Pangudi Luhur, Bekasi Jawa Barat. Pada Tahun 2014, yang dikirim ke panti rehabilitasi sebanyak 259 orang. Cakupan petugas rehabilitasi sosial yang terlatih Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 3 kegiatan yaitu : Program Pembinaan Panti Asuhan/ Panti Jompo Bantuan Sarana dan Prasarana Panti Asuhan / Panti Jompo Kegiatan ini merupakan kegiatan pembinaan panti asuhan/panti jompo melalui pemberian berupa 3 buah kasur lantai dan 3 buah lemari pakaian untuk 26 panti asuhan/panti jompo se Kota Tangerang. Pembinaan Panti Asuhan / Panti Jompo Kegiatan ini merupakan kegiatan pembinaan panti asuhan/panti jompo dalam bentuk pelatihan perbaikan lampu TL, bagi anak-anak penghuni panti asuhan sebanyak 108 orang. Pelatihan Kewirausahaan Bagi Penghuni Panti Kegiatan ini merupakan kegiatan pembinaan panti asuhan/panti jompo dalam bentuk pelatihan Manajemen bagi penghuni panti asuhan sebanyak 72 orang. BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-72
135 SASARAN 29 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Ketenagakerjaan Daerah yang berbasis Keahlian serta berorientasi pada penciptaan dan perluasan lapangan pekerjaan Pencapaian sasaran 29 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 29 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Besaran tenaga kerja yang (%) 33,33 33,33 100,00 mendapatkan pelatihan berbasis kompetensi 2 Tingkat besaran tenaga kerja yang (%) 100,00 0,00 0,00 mendapatkan pelatihan berbasis kewirausahaan 3 Besaran pekerja/buruh yang menjadi (%) 58,64 40,93 69,80 peserta program Jamsostek Aktif 4 Tingkat besaran Kasus Yang (%) 39,17 21,65 55,27 Diselesaikan Dengan Perjanjian Bersama (PB) 5 Besaran pencari kerja terdaftar yang (%) 60,00 82,00 136,67 ditempatkan 6 Besaran Pemeriksaan Perusahaan (%) 15,60 22,70 145,51 7 Besaran Pengujian Peralatan di Perusahaan (%) 66,91 57,05 85,26 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis kompetensi Tingkat besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis kewirausahaan Besaran pekerja/buruh yang menjadi peserta program Jamsostek Aktif Tingkat besaran Kasus Yang Diselesaikan Dengan Perjanjian Bersama (PB) Besaran pencari kerja terdaftar yang ditempatkan Besaran Pemeriksaan Perusahaan Besaran Pengujian Peralatan di Perusahaan Upaya pencapaian target indikator sasaran ini dilaksanakan oleh Dinas Ketenagakerjaan melalui beberapa program dan kegiatan berikut ini: Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja Pemeliharaan Rutin/berkala sarana dan prasarana BLK Pendidikan dan pelatihan keterampilan bagi pencari kerja berbasis masyarakat Pendidikan dan pelatihan keterampilan bagi pencari kerja berbasis masyarakat BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-73
136 Program Peningkatan Kesempatan Kerja Penyusunan informasi bursa tenaga kerja Penyebarluasan informasi bursa tenaga kerja Kerjasama pendidikan dan pelatihan Fasilitasi Perpanjangan IMTA dan Laporan Keberadaan TKA Pembinaan PPTKIS dan LPK Sosialisasi Perda IMTA Program Perlindungan Pengembangan Lembaga Ketenagakerjaan Fasilitasi penyelesaian prosedur penyelesaian perselisihan hubungan industrial Fasilitasi penyelesaian prosedur pemberian perlindungan hukum dan jaminan sosial ketenagakerjaan Sosialisasi peraturan perundang undangan yang terkait dengan ketenagakerjaan dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Peningkatan pengawasan, perlindungandan keselamatan dan kesehatan kerja Pengawasan Penerapan Norma Ketenagakerjaan di Perusahaan penegakkan hukum tehadap Pembinaan Penerapan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Perusahaan Fasilitasi Penanganan Penyelenggaraan Hari Buruh Nasional (May Day) Pengawasan Khusus Keberadaan Tenaga Asing Fasilitasi Pembuatan Peraturan Perusahaan (PP) dan Perjanjian Kerja Bersama Pengawasan Norma Kerja Perempuan dan Anak Program Transmigrasi Lokal Penyuluhan Transmigrasi Lokal SASARAN 30 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan kebudayaan daerah Pencapaian sasaran 30 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-74
137 Evaluasi Pencapaian Sasaran 30 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Cakupan pelestarian benda, situs dan (%) 56,25 56,25 100,00 kawasan cagar budaya daerah 2 Cakupan tempat menggelar seni, (%) 80,00 80,00 100,00 memamerkan dan memasarkan karya seni, serta mengembangkan industri seni 3 Cakupan Penyelenggaraan Festival (%) 20,00 30,00 150,00 Seni dan budaya 4 Cakupan Kajian Seni (%) 20,00 20,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Cakupan pelestarian benda, situs dan kawasan cagar budaya daerah Cakupan tempat menggelar seni, memamerkan dan memasarkan karya seni, serta mengembangkan industri seni Cakupan Penyelenggaraan Festival Seni dan budaya Cakupan Kajian Seni SASARAN 31 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kepemudaan dan Keolahragaan Daerah yang mandiri dan berprestasi Pencapaian sasaran 31 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 31 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Cakupan fasilitasi kegiatan kepemudaan 2 Tingkat fasilitasi kegiatan keolahragaan daerah (%) 13,33 13,33 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Cakupan fasilitasi kegiatan kepemudaan Tingkat fasilitasi kegiatan keolahragaan daerah BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-75
138 SASARAN 32 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap Pencapaian sasaran 32 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 32 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Cakupan peningkatan kesadaran wawasan kebangsaan pada Ormas, LSM, dan OKP 2 Rasio petugas dalam satuan perlindungan masyarakat (Linmas) pada setiap RT 3 Cakupan penyelenggaraan kemitraan dan kerjasama pemerintah daerah dengan ormas dan LSM di setiap wilayah kecamatan 4 Tingkat penyelenggaraan sosialisasi kebijakan pemerintah di bidang Politik kesatuan, kebangsaan, dan kepolitikan (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 petugas/ RT 0,16 0,16 100,00 kegiatan/ kecamatan 0,31 0,31 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Cakupan peningkatan kesadaran wawasan kebangsaan pada Ormas, LSM, dan OKP Dinamika perkembangan Ormas, LSM dan OKP dengan perubahan sistem pemerintahan membawa paradigma baru dalam tata kelola organisasi kemasyarakatan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pertumbuhan jumlah Ormas, LSM dan OKP, sebaran dan jenis kegiatan Ormas, LSM dan OKP dalam kehidupan demokrasi makin menuntut peran, fungsi dan tanggung jawab Ormas, LSM dan OKP untuk berpartisipasi dalam upaya mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia, serta menjaga dan memelihara keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peningkatan peran dan fungsi Ormas, LSM dan OKP dalam pembangunan memberi konsekuensi pentingnya membangun sistem pengelolaan Ormas, LSM dan OKP yang memenuhi kaidah Ormas, LSM dan OKP yang sehat sebagai organisasi nirlaba yang demokratis, profesional, mandiri, transparan, dan akuntabel. Pada tahun 2014 Kantor Kesbang Linmas telah menyelenggarakan kegiatan Peningkatan Peningkatan wawasan kebangsaan bagi Ormas dan LSM untuk 200 orang pengurus Ormas, LSM dan OKP dan kegiatan kemitraan dan kerjasama antara BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-76
139 pemerintah daerah dengan ormas dan LSM di wilayah kecamatan serta mensosialisasi kebijakan pemerintah di bidang Politik. Rasio petugas dalam satuan perlindungan masyarakat (Linmas) pada setiap RT Cakupan penyelenggaraan kemitraan dan kerjasama pemerintah daerah dengan ormas dan LSM di setiap wilayah kecamatan Guna meningkatkan peran dan fungsi Ormas, LSM dan OKP dalam pembangunan di wilayah Kota Tangerang Kantor Kesbang Linmas telah melaksanakan Kemitraan dengan beberapa Ormas, LSM dan OKP dari 3 Kecamatan. Tingkat penyelenggaraan sosialisasi kebijakan pemerintah di bidang Politik Terfasilitasinya kegiatan Fasilitasi Sosialisasi Kebijakan Pemerintah Daerah, Provinsi, dan Pusat di Bidang Politik sebagai tindak lanjut terkait hasil koordinasi forum diskusi dan seminar dengan jumlah peserta yang mengikuti kegiatan diskusi sebanyak 100 orang peserta SASARAN 33 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem penegakan peraturan daerah yang manusiawi dan berkeadilan Pencapaian sasaran 33 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 33 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Cakupan patroli siaga ketertiban umum dan ketentraman masyarakat 2 Persentase pengawasan lokasi rawan pelanggar peraturan daerah 3 Tingkat penyelesaian pelanggaran ketertiban umum patroli/hari 1,38 1,00 72,46 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Cakupan patroli siaga ketertiban umum dan ketentraman masyarakat Persentase pengawasan lokasi rawan pelanggar peraturan daerah Tingkat penyelesaian pelanggaran ketertiban umum BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-77
140 Pencapaian indikator kinerja dari sasaran ini didukung melalui Program Peningkatan Kemanan dan Kenyamanan Lingkungan dan Program Pemeliharaan Kantramtibmas dan Pencegahan Tindak Kriminal, yang meliputi kegiatan pokok sebagai berikut: Program Peningkatan Kemanan dan Kenyamanan Lingkungan, meliputi beberapa kegiatan pokok sebagai berikut : melakukan operasi penegakan perda di wilayah Kota Tangerang yang terdiri dari operasi PKL / ketertiban umum, operasi PSK, operasi penertiban miras. Kendala yang dihadapi kurangnya kesadaran masyarakat akan Peraturan Daerah No.7 Tahun 2005 tentang Pelarangan Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol, Peraturan Daerah No.8 Tahun 2005 tentang Pelarangan Pelacuran, Peraturan Daerah No.6 Tahun 2011 tentang ketertiban umum, Peraturan Daerah No.5 Tahun 2010 tentang Kawasan Tanpa Rokok. Program Pemeliharaan Kantramtibmas dan Pencegahan Tindak Kriminal, meliputi beberapa kegiatan pokok sebagai berikut : melakukan Pam, swipping dan monitoring untuk meminimalisir terjadinya gangguan ketertiban umum di Kota Tangerang kegiatanya antara lain: (1) Pam Lebaran, (2) evaluasi Zona Rawan PKL dan melakukan pemantauan pengawasan lokasi/tempat yang terindikasi pelanggaran perda di Kota Tangerang melalui kegiatan : pencegahan tindak kriminal guna pencapaian ketertiban lingkungan, ketertiban umum, keras dan prostitusi. dan pengawasan tempat-tempat hiburan yang rawan menindak para pelanggar yang mengkonsumsi minuman Kendala yang dihadapi kurangnya kesadaran masyarakat akan Peraturan Daerah No.7 Tahun 2005 tentang Pelarangan Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol, Peraturan Daerah No.8 Tahun 2005 tentang Pelarangan Pelacuran, Peraturan Daerah No.6 Tahun 2011 tentang ketertiban umum, Peraturan Daerah No.5 Tahun 2010 tentangkawasan Tanpa Rokok. BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-78
141 SASARAN 34 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Keberdayaan Masyarakat yang berbasis pada kebutuhan dasar dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Pencapaian sasaran 34 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 34 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Tingkat pemberdayaan kelompok binaan lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) 2 Persentase peningkatan lembaga (usaha ekonomi, badan keswadayaan masyarakat, postantek) setiap kelurahan (%) 19,23 0,00 0,00 (%) 34,69 34,69 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Tingkat pemberdayaan kelompok binaan lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) Persentase peningkatan lembaga (usaha ekonomi, badan keswadayaan masyarakat, postantek) setiap kelurahan SASARAN 35 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran dan kegemaran membaca masyarakat Pencapaian sasaran 35 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 35 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Tingkat kenaikan kunjungan masyarakat ke perpustakaan daerah 2 Tingkat kenaikan anggota perpustakaan, taman bacaan, klub buku, dll. 3 Tingkat koleksi dan jenis buku yang tersedia di perpustakaan daerah 4 Tingkat keberadaan Perpustakaan Digital (%) 6,00 5,00 83,33 (%) 21,62 21,62 100,00 (%) 76,09 76,25 100,21 (%) 51,67 25,00 48,38 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-79
142 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 5 Tingkat kelengkapan sistem layanan perpustakaan daerah (%) 9,57 5,00 52,25 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Tingkat kenaikan kunjungan masyarakat ke perpustakaan daerah Peningkatan Jumlah kunjungan masyarakat ke Perpustakaan Daerah Kota Tangerang dari tahun ke tahun terus bertambah. Jumlah pengunjung Perpustakaan Daerah Kota Tangerang pada tahun 2014 tercatat sebanyak orang. Hal ini dikarenakan akibat langsung dari beberapa kegiatan seperti Bimbingan Teknis Pengelola Perpustakaan, Story Telling, Publikasi dan Sosialisasi Minat dan budaya baca, Lomba Bercerita, dan Pembinaan yang dilakukan terhadap Pengelola perpustakaan dan Penambahan koleksi bahan pustaka di Perpustaakan daerah semakin lengkap sehingga menarik perhatian masyarakat. Kondisi ini menggambarkan bahwa sebagian besar masyarakat Kota Tangerang gemar membaca, selain itu juga menggambarkan pelayanan perpustakaan daerah terselenggara dengan baik. Tingkat kenaikan anggota perpustakaan, taman bacaan, klub buku, dll. Tingkat koleksi dan jenis buku yang tersedia di perpustakaan daerah Tingkat keberadaan Perpustakaan Digital Tingkat kelengkapan sistem layanan perpustakaan daerah SASARAN 36 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem perencanaanpenganggaran, pengendalian, dan evaluasi-pelaporan yang partisipatif, koordinatif dan integratif, serta berbasis data/informasi dan berorientasi pada sektoral dan kewilayahan Pencapaian sasaran 36 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 36 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Rata-rata tingkat koordinasi/kerjasama perencanaan pembangunan daerah dalam semua aspek pembangunan 2 Tingkat ketersediaan dan implementasi peraturan/regulasi Sistem (%) 100,00 100,00 100,00 (%) 42,86 42,86 100,00 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-80
143 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % Perencanaan Pembangunan Daerah (SPPD) serta berbagai aturan pendukungnya 3 Tingkat Ketersediaan, Pengelolaan, Pengolahan, dan Publikasi Data/Informasi Perencanaan Pembangunan Daerah 4 Tingkat ketersediaan dokumen utama perencanaan-penganggaran dan evaluasi-pelaporan pelaksanaan pembangunan daerah yang didukung kajian teknokratis serta dipublikasikan 5 Tingkat kapasitas dan kompetensi Dasar, Teknis, dan Operasional Aparatur Perencanaan Pembangunan Daerah 6 Tingkat peranserta/partisipasi kelompok masyarakat sebagai pemangku kepentingan pembangunan daerah (%) 100,00 100,00 100,00 (%) 21,27 21,27 100,00 (%) 33,33 33,33 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Rata-rata tingkat koordinasi/kerjasama perencanaan pembangunan daerah dalam semua aspek pembangunan Pencapaian indikator kinerja dari sasaran ini didukung melalui Program Perencanaan Pembangunan Sosial Budaya, Program Perencanaan Pembangunan Prasarana Wilayah dan Sumberdaya Alam, Program Perencanaan Pembangunan Ekonomi, yang meliputi kegiatan pokok sebagai berikut: Program Perencanaan Pembangunan Daerah, Koordinasi pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan Koordinasi perencanaan pembangunan daerah Koordinasi penanggulangan kemiskinan kota tangerang Koordinasi pencapaian mdg's Program Perencanaan Pembangunan Sosial Budaya Koordinasi perencanaan bidang kesmaspem Koordinasi perencanaan kota sehat tahun 2014 Program Perencanaan Pembangunan Prasarana Wilayah dan Sumberdaya Alam Rapat koordinasi bidang sarana dan prasarana Prgram Perencanaan Pembangunan Ekonomi Koordinasi perencanaan pembangunan bidang sosial dan ekonomi BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-81
144 Tingkat ketersediaan dan implementasi peraturan/regulasi Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah (SPPD) serta berbagai aturan pendukungnya Pencapaian indikator kinerja dari sasaran ini didukung melalui program Program Perencanaan Pembangunan Daerah yang meliputi kegiatan pokok sebagai berikut: Program Perencanaan Pembangunan Daerah Penetapan RPJMD dengan Peraturan Daerah; Penetapan RKPD dengan Peraturan Walikota; Penyusunan perubahan RKPD dengan Peraturan Walikota; Penyusunan revisi perda SPPD Peraturan Daerah; Penyusunan Revisi Perwal Dokumen Rencana Pembangunan Daerah dengan Peraturan Walikota; Penyusunan revisi perwal pengendalian dan evaluasi rencana pembangunan daerah dengan Peraturan Walikota; Penyusunan indikator kinerja utama kota tangerang dengan Peraturan Walikota. Tingkat Ketersediaan, Pengelolaan, Pengolahan, dan Publikasi Data/Informasi Perencanaan Pembangunan Daerah Pencapaian indikator kinerja dari sasaran ini didukung melalui Program Pengembangan Data/Informasi dengan kegiatan pokok: Pengumpulan, updating dan analisis data informasi capaian target kinerja program dan kegiatan Penyusunan dan pengumpulan data / informasi kebutuhan penyusunan dokumen perencanaan Pemeliharaansistem informasi perencanaan pembangunan daerah Pemeliharaan sistem informasi data perencanaan pembangunan daerah (sidarenbang) Pengembangan sistem informasi perencanaan pembangunan daerah Pengembangan sistem informasi data perencanaan pembangunan daerah (sidarenbang) Tingkat ketersediaan dokumen utama perencanaan-penganggaran dan evaluasipelaporan pelaksanaan pembangunan daerah yang didukung kajian teknokratis serta dipublikasikan Pencapaian indikator kinerja dari sasaran ini didukung melalui program Program Perencanaan Pembangunan Daerah dan Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan (Program Rut in) yang meliputi kegiatan pokok sebagai berikut: BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-82
145 Program Perencanaan Pembangunan Daerah Penyusunan rancangan RPJMD Penyelenggaraan musrenbang RPJMD Penetapan RPJMD Penyusunan rancangan RKPD Penyelenggaraan musrenbang RKPD Penetapan RKPD Penyusunan laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (LAKIP) Penyusunan laporan bulanan kinerja pemerintah daerah Penetapan kinerja pemerintah daerah Penyusunan kebijakan umum APBD (KU-APBD) Penyusunan prioritas dan plafon anggaran sementara (PPAS) Penyusunan kebijakan umum perubahan APBD (KU PERUBAHAN - APBD) Penyusunan prioritas dan plafon anggaran sementara (PPAS PERUBAHAN) Penyusunan rancangan awal rpjmd Penyusunan laporan keterangan pertanggungjawaban walikota Informasi laporan penyelenggaraan pemerintah daerah (ILPPD) Penyusunan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah (LPPD) dan suplemen tahunan Pengendalian dan evaluasi rencana kerja pemerintah daerah Penyusunan perubahan RKPD Evaluasi kinerja mandiri Penyusunan revisi perda SPPD Penyusunan grand desain pembangunan kb dan keluarga sejahtera Monitoring, evaluasi dan pelaporan fisik pembangunan Penyusunan kebijakan dalam perencanaan pembangunan tahunan daerah Penyusunan revisi perwal pengendalian dan evaluasi rencana pembangunan daerah Penyusunan indikator kinerja utama kota tangerang Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan (Program Rutin) Penyusunan Renstra Renja SKPD Penyusunan Dokumen Penetapan Kinerja (Tapkin) SKPD BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-83
146 Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Renja SKPD Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah Daerah (LAKIP) SKPD Tingkat kapasitas dan kompetensi Dasar, Teknis, dan Operasional Aparatur Perencanaan Pembangunan Daerah Pencapaian indikator kinerja dari sasaran ini didukung melalui Program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur dengan kegiatan Peningkatan kemampuan aparatur perencana Tingkat peranserta/partisipasi kelompok masyarakat sebagai pemangku kepentingan pembangunan daerah Pencapaian indikator kinerja dari sasaran ini didukung melalui Program Perencanaan Pembangunan Daerah, yang meliputi kegiatan pokok sebagai berikut: Penyelenggaraan musrenbang rpjmd Penyelenggaraan musrenbang rkpd SASARAN 37 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan sarana-prasarana kependidikan, kebudayaan, dan kepustakaan yang layak dan memadai Pencapaian sasaran 37 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 37 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana prasarana pendidikan PAUD yang layak dan memadai 2 Tingkat ketersedian sarana prasarana kebutuhan Pendidikan Dasar yang layak dan memadai 3 Tingkat ketersedian sarana prasarana kebutuhan Pendidikan Menengah yang layak dan memadai 4 Partisipasi Anak Bersekolah (PAB) SD/MI 5 Partisipasi anak Bersekolah (PAB) SMP/MTs 6 Partisipasi Anak Bersekolah (PAB) SMA/MA 7 Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A (%) 20,00 20,00 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 (%) per tahun 92,88 101,94 109,75 (%) per tahun 95,94 95,85 99,91 (%) per tahun 76,22 90,61 118,88 (%) per tahun 88,09 88,28 100,22 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-84
147 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 8 Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B 9 Angka Partisipasi Murni (APM) SMA/SMK/MA/Paket C 10 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan Sarana dan Prasarana untuk guru, kepala sekolah, dan staf kependidikan lainnya dalam satuan pendidikan dasar 11 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan Sarana dan Prasarana untuk guru, kepala sekolah, dan staf kependidikan lainnya dalam satuan pendidikan menengah 12 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana dan prasarana kesenian dan kebudayaan daerah 13 Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana dan prasarana pepustakaan daerah 14 Cakupan perpustakaan dan taman bacaan di setiap kecamatan (%) per tahun 64,52 67,11 104,01 (%) per tahun 77,74 74,00 95,19 (%) 20,00 20,00 100,00 (%) 20,00 20,00 100,00 (%) 56,25 56,25 100,00 (%) 38,34 38,34 100,00 buah/ kecamatan 24,08 24,08 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana prasarana pendidikan PAUD yang layak dan memadai Indikator ini merupakan salah satu penentu keberhasilan pendidikan PAUD di Kota Tangerang, karena indikator ini yang dijadikan acuan untuk meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan PAUD. Indikator ini memberikan gambaran bahwa besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap peningkatan pelayanan pendidikan, khususnya peningkatan ketersediaan sarana dan prasarana PAUD. Tingkat ketersedian sarana prasarana kebutuhan Pendidikan Dasar yang layak dan memadai Indikator ini merupakan salah satu penentu keberhasilan pendidikan dasar di Kota Tangerang, karena indikator ini yang dijadikan acuan untuk meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan dasar. Indikator ini memberikan gambaran bahwa besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap peningkatan pelayanan pendidikan, khususnya peningkatan ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan dasar di Kota Tangerang. BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-85
148 Tingkat ketersedian sarana prasarana kebutuhan Pendidikan Menengah yang layak dan memadai Indikator ini merupakan salah satu penentu keberhasilan pendidikan menengah di Kota Tangerang, karena indikator ini yang dijadikan acuan untuk meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan menengah. Indikator ini memberikan gambaran bahwa besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap peningkatan pelayanan pendidikan, khususnya peningkatan ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan menengah di Kota Tangerang. Partisipasi Anak Bersekolah (PAB) SD/MI Indikator ini sama halnya dengan Angka Partisipasi Kasar (APK) karena rumus perhitungannya sama yaitu Jumlah Murid pada Jenjang SD/MI dibagi Jumlah Penduduk Usia 7-12 tahun. Prosentase Capaian Indikator ini pada tahun 2014 sebesar 101,94% dari Target 92,88%. Hal ini menunjukan bahwa target yang telah ditetapkan dalam RPJMD tercapai dengan baik, namun demikian upaya pembangunan dan pemeliharaan gedung sekolah terus dilakukan oleh Pemerintah Kota Tangerang meningkatkan pelayanan bidang pendidikan pada jenjang SD/MI. Kondisi ini menggambarkan bahwa besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap peningkatan pembangunan dibidang pendidikan, khususnya upaya peningkatan capaian Indikator PAB pada jenjang SD/MI. Partisipasi anak Bersekolah (PAB) SMP/MTs Indikator ini sama halnya dengan Angka Partisipasi Kasar (APK) karena rumus perhitungannya sama yaitu Jumlah Murid pada Jenjang SMP/MTs dibagi Jumlah Penduduk Usia tahun. Prosentase Capaian Indikator ini pada tahun 2014 sebesar 95,85% dari Target 95,94%. Hal ini menunjukan bahwa target yang telah ditetapkan dalam RPJMD tercapai dengan baik, namun demikian upaya pembangunan dan pemeliharaan gedung sekolah terus dilakukan oleh Pemerintah Kota Tangerang meningkatkan pelayanan bidang pendidikan pada jenjang SMP/MTs. Kondisi ini menggambarkan bahwa besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap peningkatan pembangunan dibidang pendidikan, khususnya upaya peningkatan capaian Indikator PAB pada jenjang SMP/MTs. Partisipasi Anak Bersekolah (PAB) SMA/MA Indikator ini sama halnya dengan Angka Partisipasi Kasar (APK) karena rumus perhitungannya sama yaitu Jumlah Murid pada Jenjang SMA/MA/SMK dibagi Jumlah Penduduk Usia tahun. Prosentase Capaian Indikator ini pada tahun 2014 sebesar BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-86
149 90,61% dari Target 76,22%. Hal ini menunjukan bahwa target yang telah ditetapkan dalam RPJMD tercapai dengan baik, namun demikian upaya pembangunan dan pemeliharaan gedung sekolah terus dilakukan oleh Pemerintah Kota Tangerang meningkatkan pelayanan bidang pendidikan pada jenjang SMA/MA/SMK. Kondisi ini menggambarkan bahwa besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap peningkatan pembangunan dibidang pendidikan, khususnya upaya peningkatan capaian Indikator PAB pada jenjang SMA/MA/SMK. Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A Prosentase Capaian APM SD/MI/Paket A pada tahun 2014 sebesar 88,28% dari Target 88,09%. Hal ini menunjukan bahwa target yang telah ditetapkan dalam RPJMD tercapai dengan baik, meskipun Jumlah siswa usia 7-12 tahun jenjang SD/MI sebanyak 173,376 lebih rendah daripada Jumlah Penduduk Kelompok Usia 7-12 tahun sebanyak Orang. Hal ini menunjukkan bahwa banyak penduduk Kota Tangerang yang tidak bersekolah dikota Tangerang atau bersekolah diluar Kota Tangerang. Dalam rangka mengatasi hal tersebut, upaya Pemerintah Kota Tangerang agar seluruh penduduk usia 7-12 tahun dapat bersekolah di Kota Tangerang antara lain terus melaksanakan Pembangunan Gedung Sekolah Bertingkat, Rehabilitasi Gedung serta penyediaan sarana prasarana lain. Kondisi ini menggambarkan bahwa makin besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap peningkatan pembangunan dibidang pendidikan, khususnya upaya peningkatan capaian Indikator APM SD/MI. Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B Prosentase Capaian APM SMP/MTs/Paket B pada tahun 2014 sebesar 67,11% dari Target 64,52%. Hal ini menunjukan bahwa target yang telah ditetapkan dalam RPJMD tercapai dengan baik, meskipun Jumlah siswa usia tahun jenjang SMP/MTs sebanyak lebih rendah daripada Jumlah Penduduk Kelompok Usia tahun sebanyak Orang. Hal ini menunjukkan bahwa banyak penduduk Kota Tangerang yang tidak bersekolah dikota Tangerang atau bersekolah diluar Kota Tangerang. Dalam rangka mengatasi hal tersebut, upaya Pemerintah Kota Tangerang agar seluruh penduduk usia tahun dapat bersekolah di Kota Tangerang antara lain terus melaksanakan Pembangunan Gedung Sekolah Bertingkat, Rehabilitasi Gedung serta penyediaan sarana prasarana lain. BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-87
150 Kondisi ini menggambarkan bahwa makin besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap peningkatan pembangunan dibidang pendidikan, khususnya upaya peningkatan capaian Indikator APM SMP/MTs. Angka Partisipasi Murni (APM) SMA/SMK/MA/Paket C Prosentase Capaian APM SMA/MA/SMK/Paket C pada tahun 2014 sebesar 74,00% dari Target 77,74%. Hal ini menunjukan bahwa target yang telah ditetapkan dalam RPJMD tercapai dengan baik, meskipun Jumlah siswa usia tahun jenjang SMA/MA/SMK sebanyak lebih rendah daripada Jumlah Penduduk Kelompok Usia tahun sebanyak Orang. Hal ini menunjukkan bahwa banyak penduduk Kota Tangerang yang tidak bersekolah dikota Tangerang atau bersekolah diluar Kota Tangerang. Dalam rangka mengatasi hal tersebut, upaya Pemerintah Kota Tangerang agar seluruh penduduk usia tahun dapat bersekolah di Kota Tangerang antara lain terus melaksanakan Pembangunan Gedung Sekolah Bertingkat, Rehabilitasi Gedung serta penyediaan sarana prasarana lain. Kondisi ini menggambarkan bahwa makin besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap peningkatan pembangunan dibidang pendidikan, khususnya upaya peningkatan capaian Indikator APM SMA/MA/SMK. Tingkat ketersediaan dan kelengkapan Sarana dan Prasarana untuk guru, kepala sekolah, dan staf kependidikan lainnya dalam satuan pendidikan dasar Indikator ini merupakan salah satu penentu keberhasilan pendidikan dasar di Kota Tangerang, karena indikator ini yang dijadikan acuan untuk meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana untuk Guru, Kepala Sekolah dan Staf Kependidikan lainnya dalam satuan Pendidikan Dasar. Indikator ini memberikan gambaran bahwa besarnya perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap peningkatan pelayanan pendidikan, khususnya peningkatan ketersediaan sarana dan prasarana untuk Guru, Kepala Sekolah dan Staf Kependidikan lainnya dalam satuan Pendidikan Dasar di Kota Tangerang. Tingkat ketersediaan dan kelengkapan Sarana dan Prasarana untuk guru, kepala sekolah, dan staf kependidikan lainnya dalam satuan pendidikan menengah Indikator ini merupakan salah satu penentu keberhasilan pendidikan dasar di Kota Tangerang, karena indikator ini yang dijadikan acuan untuk meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana untuk Guru, Kepala Sekolah dan Staf Kependidikan lainnya dalam satuan Pendidikan Menengah. Indikator ini memberikan gambaran bahwa besarnya BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-88
151 perhatian Pemerintah Kota Tangerang terhadap peningkatan pelayanan pendidikan, khususnya peningkatan ketersediaan sarana dan prasarana untuk Guru,Kepala Sekolah dan Staf Kependidikan lainnya dalam satuan Pendidikan Menengah di Kota Tangerang. Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana dan prasarana kesenian dan kebudayaan daerah Tingkat ketersediaan dan kelengkapan sarana dan prasarana pepustakaan daerah Untuk mencapai indikator sasaran ini dilaksanakan oleh SKPD Kantor Perpustakaan Daerah diuraikan pada 1 program dan 3 kegiatan, sabagai berikut: Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Pemeliharaan rutin berkala gedung kantor Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas Pemeliharaan Buku Cakupan perpustakaan dan taman bacaan di setiap kecamatan Untuk mencapai indikator sasaran ini dilaksanakan oleh SKPD Kantor Perpustakaan Daerah diuraikan pada 1 program dan 10 kegiatan, sabagai berikut: Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan, berkaitan dengan tersedianya layanan perpustakaan daerah untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Pemasyarakatan minat dan Budaya baca (Story Telling dan Lomba bercerita) Publikasi dan Sosialisasi Minat dan budaya Baca Penyediaan Bahan Pustaka Perpustakaan Umum Pengolahan Bahan Pustaka Pembinaan Pengelola Perpustakaan Sekolah, Kelurahan, SKPD, dan Puskesmas Bimbngan Teknis Pengelola Perpustakaan Masyrakat, Sekolah, Kecamatan, Kelurahan, Pesantren dan Perpustakaan Mesjid Abstraksi bahan pustaka Lomba Perpustakaan terbaik tingkat kecamatan Pengelolaan Perpustakaan Kecamatan Perpustakaan Keliling dan Penataan Sirkulasi Bahan Pustaka BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-89
152 SASARAN 38 Pencapaian sasaran 38 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 38 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan sarana-prasarana kesehatan yang layak dan Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Cakupan Ketersediaan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di setiap RW 2 Cakupan Ketersediaan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu di setiap Kecamatan 3 Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per penduduk 4 Tingkat ketersediaan sarana prasarana kesehatan di Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru- Paru/Rumah Sakit Mata yang layak dan memadai 5 Tingkat pemeliharaan sarana prasarana kesehatan di Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-Paru/Rumah Sakit Mata yang layak dan memadai memadai posyandu/ RW 1,06 1,06 100,00 puskesmas/ kecamatan 1,92 2,53 131,77 buah/ ,04 0,02 50,00 penduduk (%) 21,57 21,57 100,00 (%) 14,29 14,29 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Cakupan Ketersediaan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di setiap RW Jumlah RW se Kota Tangerang yaitu 986 dan jumlah Posyandu yaitu Jadi Rasio Posyandu adalah Jumlah Posyandu (1.069) / jumlah RW (986) = 1,06. Untuk mencapai indikator sasaran ini dilaksanakan oleh SKPD Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana, sebagai SKPD pembina posyandu diuraikan pada 1 program dan 1 kegiatan, sabagai berikut: Program Pengembangan Model Operasional Bkb-Posyandu-Padu Pembinaan Posyandu kepada 1070 posyandu Cakupan Ketersediaan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu di setiap Kecamatan Indikator Sasaran Pokok Pembangunan ini merupakan jumlah puskesmas, puskesmas berbanding dengan Jumlah puskesmas, puskesmas pembantu dan jaringannya yang ada. Pada tahun 2014 dari target sebesar 100% tercapai 100% melalui kegiatan Pengadaaan puskesmas keliling, Pengadaan alat Kesehatan dan Laboratorium Puskesmas, BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-90
153 Rehabilitasi Sedang/Berat Puskesmas, Pembangunan sarana dan prasarana luar puskesmas, Pengadaan Sarana dan Prasarana UPTD Labkesda, penambahan ruanagn pelayanan kesehatan dan perencanaan pembangunan puskesmas. Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per penduduk Tingkat ketersediaan sarana prasarana kesehatan di Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-Paru/Rumah Sakit Mata yang layak dan memadai Tingkat pemeliharaan sarana prasarana kesehatan di Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-Paru/Rumah Sakit Mata yang layak dan memadai SASARAN 39 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan penyediaan sarana-prasarana kebinamargaan, dan keciptakaryaan daerah yang layak dan memadai Pencapaian sasaran 39 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 39 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Persentase kondisi jalan kota yang (%) 98,00 98,00 100,00 baik dan sedang 2 Persentase keterhubungan pusatpusat (%) 92,21 92,21 100,00 kegiatan dan pusat-pusat produksi di wilayah kota 3 Persentase cakupan pelayanan sistem (%) 10,00 10,00 100,00 drainase perkotaan 4 Tingkat pengurangan luas genangan (%) 23,88 23,88 100,00 5 Tingkat pembangunan turap di wilayah aliran sungai yang rawan longsor lingkup kewenangan kota (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Persentase kondisi jalan kota yang baik dan sedang BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-91
154 Persentase keterhubungan pusat-pusat kegiatan dan pusat-pusat produksi di wilayah kota Persentase cakupan pelayanan sistem drainase perkotaan Tingkat pengurangan luas genangan Tingkat pembangunan turap di wilayah aliran sungai yang rawan longsor lingkup kewenangan kota SASARAN 40 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan penyediaan perlengkapan sarana-prasarana transportasi dan kelalulintasan yang layak, memadai, dan terpadu Pencapaian sasaran 40 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 40 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Tingkat ketersediaan angkutan umum yang melayani wilayah kota yang telah tersedia jaringan jalan 2 Tingkat ketersediaan angkutan umum yang melayani jaringan trayek penghubung antar wilayah 5 Tingkat ketersediaan dokumen perencanaan angkutan 4 Tingkat Ketersediaan Prasarana Angkutan yang terpelihara 5 Tingkat ketersediaan sarana dan prasarana perhubungan 6 Tingkat ketersediaan fasilitas perlengkapan jalan (rambu, marka, dan guardrill) pada jalan di wilayah kota 7 Tingkat ketersediaan fasilitas Penerangan Jalan Umum (PJU) pada berbagai jenis jalan di wilayah kota 8 Tingkat ketersediaan unit pengujian kendaraan bermotor 9 Tingkat ketersediaan standar keselarnatan bagi angkutan urnurn yang rnelayani trayek di dalarn Kota (%) 20,00 20,00 100,00 (%) 25,00 25,00 100,00 (%) 30,95 57,14 184,62 (%) 17,31 17,31 100,00 (%) 22,39 23,39 104,47 (%) 20,00 20,00 100,00 (%) 51,56 51,56 100,00 buah/ ,50 7,50 100,00 (%) 11,34 11,34 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Adapun pencapaian sasaran tersebut di atas dilaksanakan melalui program dan kegiatan Dinas Perhubungan, antara lain : BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-92
155 Program Pembangunan Prasarana dan Fasilitas Perhubungan, yaitu melalui kegiatan Perencanaan pembangunan prasarana dan fasilitas perhubungan, Sosialisasi Kebijakan di bidang perhubungan, Peningkatan Pengelolaan Terminal Angkutan Darat, serta Perencanaan Pembangunan Halte. Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas LLAJ, yaitu melalui kegiatan Rehabilitasi/ pemeliharaan terminal/pelabuhan, Rehabilitasi/ Pemeliharaan Halte Bus, Rehabilitasi/ Pemeliharaan Jembatan Penyebrangan Orang (JPO), Rehabilitasi/ Pemeliharaan Sarana Alat Pengujian Kendaraan Bermotor, serta Rehabilitasi / Pemeliharaan Prasarana Angkutan Umum Massal. Program Peningkatan Pelayanan Angkutan, yaitu melalui kegiatan Penciptaan Disiplin dan Pemeliharaan Kebersihan di Lingkungan Terminal, Penciptaan Keamanan dan Kenyamanan Penumpang di Lingkungan Terminal, Pengumpulan dan Analisis Data Base Pelayanan Jasa Angkutan, Uji Kelayakan Sarana Transportasi Guna Keselamatan Penumpang, Peningkatan Keamanan dan Ketertiban di Lingkungan Balai Pengujian Kendaraan Bermotor serta Pengelolaan Angkutan Massal. Program Pembangunan Sarana dan Prasarana Perhubungan, yaitu melalui kegiatan Pembangunan Fasilitas Parkir Umum. Tingkat ketersediaan angkutan umum yang melayani wilayah kota yang telah tersedia jaringan jalan Tingkat ketersediaan angkutan umum yang melayani jaringan trayek penghubung antar wilayah Tingkat ketersediaan dokumen perencanaan angkutan Tingkat Ketersediaan Prasarana Angkutan yang terpelihara BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-93
156 Tingkat ketersediaan sarana dan prasarana perhubungan Tingkat ketersediaan fasilitas perleng-kapan jalan (rambu, marka, dan guardrill) pada jalan di wilayah kota Tingkat ketersediaan fasilitas Penerangan Jalan Umum (PJU ) pada berbagai jenis jalan di wilayah kota Tingkat ketersediaan unit pengujian kendaraan bermotor Tingkat ketersediaan standar keselarnatan bagi angkutan urnurn yang rnelayani trayek di dalarn Kota SASARAN 41 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan ketersediaan sarana dan prasarana Perekonomian dan Sosial-Kemasyarakatan yang layak dan memadai Pencapaian sasaran 41 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 41 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Persentase panti sosial skala kota yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial 2 Tingkat Pengembangan Balai Latihan Kerja Daerah 3 Cakupan ketersediaan pasar tradisional daerah di setiap kecamatan 4 Tingkat pembinaan pasar/toko modern dan pasar tradisional daerah 5 Cakupan gedung olahraga di setiap kecamatan 6 Tingkat Ketersediaan Panti Asuhan/Panti Jompo 7 Cakupan ketersediaan Poskamling di setiap RW (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 pasar/ 2,38 2,38 100,00 kecamatan (%) 4,00 4,00 100,00 gedung/ 1,38 1,38 100,00 kecamatan (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 poskamling/ RW 1,23 1,23 100,00 Persentase panti sosial skala kota yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 4 kegiatan yaitu : Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial Pelatihan keterampilan dan praktek belajar kerja bagi anak terlantar termasuk anak jalanan, anak cacat, anak nakal BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-94
157 Kegiatan Pelatihan Keterampilan dan Praktek Belajar bagi Anak Terlantar, Anak Jalanan, Anak Cacat dan Anak Nakal ini dimaksudkan agar mereka memiliki keterampilan sebagai bekal untuk memiliki usaha sendiri dan membantu meringankan beban orang tua. Bentuk keterampilan yang diajarkan adalah daur ulang sampah. Penanganan masalah-masalah strategis yang menyangkut tanggap cepat darurat dan kejadian luar biasa Kegiatan ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan dalam bentuk tanggap darurat bencana, berupa pemberian bantuan untuk pemenuhan kebutuhan dasar, pada fase tanggap darurat terdiri dari makanan siap saji, bahan pangan, bahan non pangan berupa peralatan kebersihan, selimut, keperluan bayi dan lain-lain, serta penyediaan bahan bakar (solar) untuk mesin penyedot air di lokasi-lokasi banjir. Peningkatan Kualitas Pelayanan, Sarana dan Prasarana Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial Bagi PMKS Kegiatan ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan dalam bentuk: Pelayanan dan pemenuhan kebutuhan dasar anak jalanan, serta pembinaan melalui kegiatan pelatihan keterampilan dan konseling, yang dilaksanakan di Rumah Singgah Darul Aitam. Review DED Rumah Perlindungan Sosial Tingkat Pengembangan Balai Latihan Kerja Daerah Cakupan ketersediaan pasar tradisional daerah di setiap kecamatan Perkembangan perekonomian suatu daerah juga dapat diidentifikasi dari adanya pusatpusat kegiatan perekonomian baik yang berbentuk pusat perbelanjaan maupun pasar tradisional dan modern. Keberadaan pasar yang bersih akan memberikan kenyamanan dan ketenangan baik untuk penjual maupun pembeli dalam berinteraksi dalam kegiatan jual beli. Upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Tangerang adalah dengan melaksanakan kegiatan antara lain: (1). Pengembangan p asar dan distribusi barang/produk yang merupakan pedoman pengembangan pasar sebanyak 3 pasar tradisional; (2). Peningkatan pengawasan peredaran barang dan jasa; (3). Pembentukan operasional dan pengembangan UPT Kemetrologian Daerah. BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-95
158 Tingkat pembinaan pasar/toko modern dan pasar tradisional daerah Cakupan gedung olahraga di setiap kecamatan Tingkat Ketersediaan Panti Asuhan/Panti Jompo Program kegiatan yang mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran ini terdiri dari 1 program dengan 3 kegiatan yaitu : Program Pembinaan Panti Asuhan/ Panti Jompo Bantuan Sarana dan Prasarana Panti Asuhan / Panti Jompo Kegiatan ini merupakan kegiatan pembinaan panti asuhan/panti jompo melalui pemberian berupa 3 buah kasur lantai dan 3 buah lemari pakaian untuk 26 panti asuhan/panti jompo se Kota Tangerang. Pembinaan Panti Asuhan / Panti Jompo Kegiatan ini merupakan kegiatan pembinaan panti asuhan/panti jompo dalam bentuk pelatihan perbaikan lampu TL, bagi anak-anak penghuni panti asuhan sebanyak 108 orang. Pelatihan Kewirausahaan Bagi Penghuni Panti Kegiatan ini merupakan kegiatan pembinaan panti asuhan/panti jompo dalam bentuk pelatihan Manajemen bagi penghuni panti asuhan sebanyak 72 orang. Cakupan ketersediaan Poskamling di setiap RW SASARAN 42 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana perkantoran pemerintahan daerah yang layak dan memadai Pencapaian sasaran 42 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 42 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Tingkat ketersediaan sarana dan prasarana aparatur yang memadai 2 Tingkat ketersediaan pelayanan jasa rehabilitasi sarana dan prasarana aparatur (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-96
159 Tingkat ketersediaan sarana dan prasarana aparatur yang memadai Tingkat ketersediaan pelayanan jasa rehabilitasi sarana dan prasarana aparatur SASARAN 43 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Transportasi serta Manajemen dan Rekayasa Lalulintas yang modern dan terpadu yang didukung oleh teknologi informasi yang canggih dan memadai Pencapaian sasaran 43 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 43 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Tingkat ketersediaan pelayanan pengendalian kinerja simpang dan ruas jalan dengan Sistem ATCS (Area Traffic Control System) 2 Tingkat ketersediaan prasarana penunjang pengendalian simpang dan ruas jalan dalam kondisi baik 3 Tingkat ketersediaan perencanaan sarana dan prasarana penunjang pengendalian simpang dan ruas jalan (%) 20,00 20,00 100,00 (%) 33,33 33,33 100,00 (%) 50,00 50,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Tingkat ketersediaan pelayanan pengendalian kinerja simpang dan ruas jalan dengan Sistem ATCS (Area Traffic Control System) Tingkat ketersediaan prasarana penunjang pengendalian simpang dan ruas jalan dalam kondisi baik Tingkat ketersediaan perencanaan sarana dan prasarana penunjang pengendalian simpang dan ruas jalan Adapun pencapaian sasaran tersebut di atas dilaksanakan melalui program dan kegiatan Dinas Perhubungan, antara lain : Program Pembangunan Prasarana dan Fasilitas Perhubungan, yaitu melalui kegiatan Perencanaan pembangunan prasarana dan fasilitas perhubungan, Koordinasi dalam pembangunan prasarana dan fasilitas perhubungan, Pengumpulan dan Evaluasi Data Informasi Pembangunan/ Penyelenggaraan Bidang Perhubungan, BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-97
160 Penyusunan Norma Kebijakan Standar dan Prosedur Bidang Perhubungan, Pengembangan Sistem Informasi Perhubungan; Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas LLAJ, yaitu melalui kegiatan Rehabilitasi / Pemeliharaan Fasilitas Perlengkapan Jalan. Program Peningkatan Pelayanan Angkutan, yaitu melalui kegiatan Pengendalian Disiplin Pengoperasian Angkutan Umum Dijalan Raya, Pengawasan dan Penertiban Angkutan Jalan, Pengendalian dan Pengelolaan Parkir Umum, Pengawasan / Pengendalian ATCS; Program Pengendalian dan Pengamanan Lalu Lintas, yaitu melalui kegiatan Pengadaan Rambu-Rambu Lalu Lintas, Pengadaan dan Pemasangan Marka Jalan dan Pengadaan Alat Pengaman Pemakai Jalan; SASARAN 44 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya mitigasi, pencegahan, pengendalian, dan penanganan bencana serta upaya peminimalan dampak bencana Pencapaian sasaran 44 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 44 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Cakupan pelayanan bencana (%) 80,00 26,46 33,08 kebakaran 2 Persentase Aparatur Pemadam (%) 70,00 61,17 87,39 Kebakaran Yang Memenuhi Standar Kualifikasi 3 Tingkat penanganan wilayah/lokasi (%) 19,35 19,35 100,00 banjir 4 Tingkat koordinasi penanggulangan (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 bencana 5 Tingkat penanganan korban bencana (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-98
161 Cakupan pelayanan bencana kebakaran Persentase Aparatur Pemadam Kebakaran Yang Memenuhi Standar Kualifikasi Tingkat penanganan wilayah/lokasi banjir Tingkat koordinasi penanggulangan bencana Tingkat penanganan korban bencana SASARAN 45 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kualitas lingkungan perumahan dan permukiman penduduk yang bersih, sehat, aman, dan nyaman Pencapaian sasaran 45 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 45 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Cakupan Kelurahan mengalami (%) 100,00 100,00 100,00 KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi < 24 jam 2 Cakupan kelurahan Universal Child (%) 100,00 100,00 100,00 Immunization (UCI) 3 Prevalensi balita gizi kurang (BB/U) (%) 9,75 6,94 71,18 4 Presentase balita gizi buruk (%) 0,12 0,13 108,33 (BB/TB) 5 Persentase tempat umum yang (%) 70,00 75,00 107,14 memenuhi syarat kesehatan 6 Presentase Sarana Industri Rumah (%) 88,75 83,30 93,86 Tangga Pangan yang Memenuhi Syarat kesehatan 7 Persentase penanganan (%) 20,00 20,00 100,00 permukiman kumuh perkotaan 8 Cakupan ketersediaan rumah layak (%) 12,03 12,03 100,00 huni dan terjangkau bagi penduduk 9 Tingkat waktu tanggap (response (%) 75,00 79,93 106,57 time rate) daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) 10 Tingkat Ketersediaan mobil (%) 90,00 88,24 98,04 pemadam kebakaran di Atas liter pada Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) 11 Tingkat pemanfaatan Poskamling di (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 setiap RT 12 Rasio Tempat Pemakaman Umum m2/ ,82 24,82 100,00 (TPU) per satuan penduduk 13 Tingkat Tersedianya air baku untuk memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari-hari penduduk (%) 50,00 50,00 100,00 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-99
162 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 14 Persentase penduduk yang mendapatkan akses air minum yang aman 15 Persentase penduduk yang terlayani sistem air limbah yang memadai (%) 58,09 58,09 100,00 (%) 2,57 2,57 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Cakupan Kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi < 24 jam Cakupan kelurahan Universal Child Immunization (UCI) Indikator Sasaran Pokok Pembangunan ini yaitu Jumlah Kelurahan UCI berbanding dengan Jumlah Kelurahan yang ada. Pada tahun 2014 dari target sebesar 100% tercapai 100% yaitu 104 kelurahan di Kota Tangerang dimana jumlah bayi yang terdapat di kelurahan tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap dalam waktu 1 tahun melalui kegiatan Peningkatan Imunisasi Pencapaian Universal Child Immunization (UCI) pada dasarnya merupakan proksi terhadap cakupan atas imunisasi secara lengkap pada sekelompok bayi. Bila cakupan UCI dikaitkan dengan batasan suatu wilayah tertentu, berarti dalam wilayah tersebut tergambarkan besarnya tingkat kekebalan masyarakat atau bayi (herd immunity) terhadap penularan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Prevalensi balita gizi kurang (BB/U) Indikator Sasaran Pokok Pembangunan ini merupakan Jumlah Balita Gizi Kurang berbanding dengan Jumlah Balita yang ditimbang. Pada tahun 2014 dari target sebesar 9,75% tercapai 6,94% melalui kegiatan Penyusunan Peta Informasi Gizi Indikator sasaran program ini sudah mencapai target karena tujuannya adalah menekan angka gizi kurang dibawah 9,75% Presentase balita gizi buruk (BB/TB) Indikator Sasaran Pokok Pembangunan ini merupakan Jumlah balita gizi buruk (Berat Badan/Tinggi Badan) berbanding dengan Jumlah seluruh balita. Pada tahun 2014 dari target sebesar 0,12% tercapai 0,13% melalui kegiatan Pemberian Tambahan Makanan dan Vitamin. Pencapaian indikator menujukkan bahwa Surveilence gizi sudah berjalan dengan baik karena semakin banyak balita gizi buruk yang ditemukan. BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-100
163 Persentase tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan Presentase Sarana Industri Rumah Tangga Pangan yang Memenuhi Syarat kesehatan Persentase penanganan permukiman kumuh perkotaan Cakupan ketersediaan rumah layak huni dan terjangkau bagi penduduk Tingkat waktu tanggap (response time rate) daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) Tingkat Ketersediaan mobil pemadam kebakaran di Atas liter pada Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) Tingkat pemanfaatan Poskamling di setiap RT Rasio Tempat Pemakaman Umum (TPU) per satuan penduduk Tingkat Tersedianya air baku untuk memenuhi kebutuhan pokok minimal seharihari Persentase penduduk yang mendapatkan akses air minum yang aman Persentase penduduk yang terlayani sistem air limbah yang memadai SASARAN 46 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Penataan dan Pengelolaan Ruang Wilayah Perkotaan Pencapaian sasaran 46 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 46 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Tingkat penyelenggaraan (%) 12,50 12,50 100,00 pengawasan terhadap bangunan gedung (pemerintah dan umum) 2 Tingkat ketersediaan data mengenai (%) 20,00 20,00 100,00 pemanfaatan bangunan gedung 3 Tingkat ketersediaan perangkat (%) 2,00 2,00 100,00 kebijakan perencanaan tata ruang kota 4 Persentase Penyediaan Ruang (%) 28,24 28,24 100,00 Terbuka Hijau (RTH) Publik/Perkotaan 5 Tingkat sosialisasi regulasi tentang (%) 72,22 72,22 100,00 Rencana Tata Ruang Kota 7 Tingkat penyelenggaraan (%) 7,69 7,69 100,00 pengendalian pemanfaatan ruang 8 Tingkat ketersediaan data mengenai (%) 8,33 8,33 100,00 pemanfaatan ruang kota 9 Tingkat ketersediaan regulasi (%) 15,79 15,79 100,00 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-101
164 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % penataan bangunan dan lingkungan 10 Tingkat ketersediaan, publikasi, dan pengembangan Sistem Informasi Pembina Jasa Konstruksi (SIPJK) (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Tingkat Penyelesaian Aturan Perundangan Tentang Rencana Tata Ruang Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) adalah rencana secara terperinci tentang tata ruang wilayah yang dilengkapi dengan peraturan zonasi.rdtr ditetapkan dengan perda. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mengamanatkan bahwa sebelum Raperda tentang Rencana Tata Ruang Daerah baik Provinsi dan Kabupaten/Kota ditetapkan menjadi Perda harus dilakukan persetujuan substansi teknis dari Menteri dan khusus untuk Kabupaten/Kota perlu mendapat rekomendasi dari Gubernur. Proses untuk mendapatkan persetujuan substansi teknis dan rekomendasi dari Gubernur melalui mekanisme konsultasi dan evaluasi yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Target indicator sebesar 72,22% pada tahun 2014 belumdapat dipenuhi. Tingkat Pelaksanaan Sosialisasi Rencana Tata Ruang Kota Setelah Perda tentang RDTRK ditetapkan maka tahap berikutnya adalah mensosialisasikannya kepada masyarakat. Sosialisasi belum dapat dilakukan karena Perda tentang RDTRK belum ditetapkan. Target indicator sebesar 87,5% pada tahun 2014 belumdapat dipenuhi. Tingkat Pelaksanaan Pembuatan Data/Informasi Pemanfaatan Ruang Data/informasi pemanfaatan ruang Kota Tangerang dihasilkan dari kegiatan survey dan pemetaan. Dari kegiatan ini dapat diperoleh data/informasi mengenai tutupan lahan, evaluasi penggunaan lahan, toponimi jaringan jalan dan perairan, citra Kota Tangerang tahun 2014 dalam bentuk peta.target indicator sebesar 8,33% pada tahun 2014 dapat dipenuhi. Tingkat pelaksanaan pembuatan data/informasi bangunan gedung Data/informasi bangunan gedung Kota Tangerang dihasilkan dari kegiatan pendataan bangunan. Data bangunan gedung diperlukan untuk memenuhi indicator rasio bangunan ber-imb. Target indicator sebesar 20,00% pada tahun 2014 dapat dipenuhi. BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-102
165 Indikator ProgramTingkat Pelaksanaan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Pengendalian pemanfaatan ruangmerupakan upaya agar pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang. Kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan dalam bentuk pengawasan dan penertiban kegiatan pemanfaatan ruang. Tindakan pengawasan akan merupakan dasar tindakan penertiban untuk menyelesaikan masalah tata ruang Pada tahap awal pengendalian dilakukan untukmengetahui sekaligus mengendalikan apakah dan bagaimanakah dalam pelaksanaannya suatu tindakan pembangunan telah tercapai kesesuaian ataukah terjadi penyimpangan terhadap rencana awal yang telah ditetapkan. Tinjauan kedua yang berkaitan dengan pengendalian pemanfaatan ruang ialah analisis terhadap dampak yang ditimbulkan oleh pelaksanaan suatu rencana pembangunan. Pada tahap akhir dari tindakan pengendalian pemanfaatan ruang ini ialah memberikan atau menghasilkan umpan balik sebagai hasil evaluasi pengendalian pemanfaatan ruang yang berperan sebagai input bagi tahap pemanfaatan ruang dan/atau tahap perencanaan tata ruang dalam proses siklus berikutnya. Target indicator sebesar 7,69% pada tahun 2014 dapat dipenuhi. Tingkat pemantauan dan pengawasan bangunan gedung Pemantauan kegiatan pelaksanaan dan kelaikan pembangunan ini dilakukan untuk mengawasi kegiatan pembangunan agar sesuai dengan IMB yang telah diterbitkan dan tetap memenuhi ketentuan teknis yang disyaratkan, sehingga dapat meminimalkan terjadinya pelanggaran-pelanggaran pada tahap pelaksanaan pembangunan di lapangan dan tahap pemanfaatan bangunan terutama yang menyangkut aspek keamanan dan keselamatan bangunan, serta keserasian lingkungan.target indicator sebesar 12,50% pada tahun 2014 dapat dipenuhi SASARAN 47 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pembangunan Ekologis (sosial, lingkungan, ekonomi) yang berorientasi pada peningkatan kualitas dan daya dukung lingkungan perkotaan BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-103
166 Pencapaian sasaran 47 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Evaluasi Pencapaian Sasaran 47 Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1 Persentase usaha dan/atau kegiatan (%) per tahun 100,00 10,00 10,00 yang mentaati persyaratan administrasi dan teknis pencegahan pencemaran air 2 Persentase jumlah usaha dan/atau (%) per tahun 100,00 10,00 10,00 kegiatan sumber tidak bergerak yang memenuhi persyaratan administratif dan teknis pencegahan pencemaran udara 3 Persentase pengaduan masyarakat (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 akibat adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang ditindaklanjuti 4 Cakupan pemantauan Kualitas air (%) 18,74 18,74 100,00 sungai, Air Tanah dan Situ, serta kualitas udara dan kebisingan 5 Persentase pengurangan sampah di (%) 13,38 13,38 100,00 perkotaan 6 Persentase pengangkutan sampah (%) 74,99 74,99 100,00 7 Persentase pengoperasian TPA (%) 45,00 45,00 100,00 8 Tingkat pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik/Perkotaan di wilayah perkotaan (%) per tahun 100,00 100,00 100,00 Beberapa informasi penting setiap indikator kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut: Persentase usaha dan/atau kegiatan yang mentaati persyaratan administrasi dan teknis pencegahan pencemaran air Persentase jumlah usaha dan/atau kegiatan sumber tidak bergerak yang memenuhi persyaratan administratif dan teknis pencegahan pencemaran udara Persentase pengaduan masyarakat akibat adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang ditindaklanjuti Cakupan pemantauan Kualitas air sungai, Air Tanah dan Situ, serta kualitas udara dan kebisingan Persentase pengurangan sampah di perkotaan Persentase pengangkutan sampah Persentase pengoperasian TPA Tingkat pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik/Perkotaan di wilayah perkotaan BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-104
167 Upaya pencapaian target indikator sasaran ini dilaksanakan oleh Badan Pengendalian Lingkungan Hidup & Dinas Kebersihan dan Pertamanan melalui tujuh program, sebagai berikut: Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup; Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam; Program Rehabilitasi dan Pemulihan Cadangan Sumber daya Alam; Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup; Program Peningkatan Pengendalian Polusi; Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan; Program Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Dari hasil analisis capaian kinerja Pemerintah Kota Tangerang pada Tahun 2014 didapatkan nilai capaian kinerja pada tahun 2014 memperoleh predikat Sangat Tinggi, dengan rata-rata seluruh capaian kinerja dari 47 sasaran adalah 108,78%, dengan rincian sebagai berikut: 39 Sasaran atau 82,98% Capaian Kinerjanya Sangat tinggi; 4 Sasaran atau 8,51% Capaian Kinerjanya Tinggi; 1 Sasaran atau 2,13% Capaian Kinerjanya Sedang; 1 Sasaran atau 2,13% Capaian Kinerjanya Rendah; 2 Sasaran atau 4,26% Capaian Kinerjanya Sangat Rendah; Pada Tahun 2014, pelaksanaan Rencana Kinerja Tahunan mencakup pencapaian 47 (empat puluh tujuh) sasaran stratejik. Dari penilaian sendiri ( self assesment) untuk seluruh indikator kinerja sasaran yang ditetapkan dan mengacu pada skala ordinal di atas, maka capaian kinerja sasaran dalam Tahun 2014 adalah sebagai berikut: Pencapaian Rata-rata Sasaran Tahun 2014 SASARAN 1 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan system pendaftaran, penguasaan, pemilikan, penggunaan, pemanfaatan, dan penyelesaian konflik pertanahan. 2 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan system administrasi kependudukan dan pencatatan sipil daerah CAPAIAN 2014 KRITERIA PENILAIAN 44,44 Sangat Rendah 91,03 Sangat Tinggi 3 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan 100,00 Sangat Tinggi BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-105
168 SASARAN Sisitem Manajemen Kepemerintahan dan Keadministrasian Umum, serta Kesejahteraan Masyarakat yang Responsif, Koordinatif, Integratif, Sederhana, dan Sinergis. 4 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Keuangan dan Aset Daerah secara Transparan dan Akuntabel 5 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Pengawasan Pembangunan Daerah. 6 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen dan Administrasi Kepegawaian Daerah. 7 Terwujudnya Aparatur Pemerintah Daerah yang Cerdas, Bermoral, Inovatif, dan Profesional. 8 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pemenuhan peralatan dan perlengkapan keadministrasian perkantoran 9 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perindustrian Daerah dan peningkatan kapasitas industri kecil dan menengah. 10 Tewujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Manajemen Data/Informasi Pembangunan Daerah. 11 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan berbagai kajian, penelitian dan inovasi pemb. Daerah. 12 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kearsipan daerah. 13 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sitem Informasi dan Komunikasi Daerah. 14 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan pelayanan aparatur pemerintah daerah secara professional, cepat, tepat, akurat dengan berbasis pada teknologi informasi yang efektif dan efisien 15 Terwujudnya pemantapan & pengembangan sistem informasi dan aplikasi penyelenggaran pemerintah daerah yang terintegrasi, terstandarisasi, serta memadai 16 Terwujudnya pemantapan dan pengembagan keberdayaan sector UMKM dan koperasi sebagai pendukung kegiatan ekonomi daerah berbasis sumberdaya lokal 17 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Investasi Daerah yang transparan serta didukung oleh iklim investasi yang kondusif. CAPAIAN 2014 KRITERIA PENILAIAN 106,17 Sangat Tinggi 96,43 Sangat Tinggi 97,22 Sangat Tinggi 94,46 Sangat Tinggi 100,00 Sangat Tinggi 92,43 Sangat Tinggi 100,00 Sangat Tinggi 100,00 Sangat Tinggi 100,00 Sangat Tinggi 100,00 Sangat Tinggi 100,00 Sangat Tinggi 100,00 Sangat Tinggi 100,00 Sangat Tinggi 87,50 Tinggi 18 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan 95,83 Sangat Tinggi BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-106
169 SASARAN Sistem ketahanan Pangan Daerah yang meliputi Ketersediaan, Distribusi, Konsumsi, Kewaspadaan, dan Kemasyarakataan 19 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan agribisnis serta budidaya pertanian dan pertenakan yang berorientasi pada intensifikasi pertanian. 20 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Kepariwisataan Daerah. 21 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan intensifikasi budidaya perikanan darat. 22 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perdagangan Daerah dan peningkatan perlindungan konsumen. 23 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Perindustrian Daerah dan peningkatan kapasitas industri kecil dan menengah. 24 Terwujudnya Pemantapan dan Pengembangan Sistem Pendidikan Daerah yang Mengacu pada Sistem Pendidikan Nasional, dan Berbasis Kompetensi, Serta Berosientasi pada Kebutuhan Kerja 25 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem dan Jaringan Pelayanan dan Akses Kesehatan yang berkualitas dan terjangkau. 26 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya pemberdayaan dan perlindungan anak yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan keluarga 27 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap norma keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera 28 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan pelayanan dan perlindungan kesejahteraan social-masyarakat. 29 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan ketenagakerjaan daerah yang berbasis keahlian serta berorientasi pada penciptaan dan perluasan lapangan pekerjaan. 30 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan kebudayaan daerah 31 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sistem Kepemudaan dan Keolahragaan Daerah yang mandiri dan berprestasi. 32 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesatuan, kebangsaan, dan kepolitikan. 33 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem penegakan peraturan daerah yang CAPAIAN 2014 KRITERIA PENILAIAN 96,60 Sangat Tinggi 144,24 Sangat Tinggi 122,37 Sangat Tinggi 207,83 Sangat Tinggi 136,92 Sangat Tinggi 114,83 Sangat Tinggi 552,32 Sangat Tinggi 97,18 Sangat Tinggi 71,93 Sedang 55,70 Rendah 107,50 Sangat Tinggi 112,50 Sangat Tinggi 100,00 Sangat Tinggi 100,00 Sangat Tinggi 90,82 Sangat Tinggi BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-107
170 SASARAN manusiawi dan berkeadilan 34 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem keberdayaan Masyarakat yang berbasis pada kebutuhan dasar dan berorientasi padapeningkatan kesejahteraan masyarakat. 35 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kesadaran dan kegemaran membaca masyarakat. 36 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem perencanaan-penganggaran, pengendalian, dan evaluasi. Pelaporan yang partisipatif, koordinatif, dan integrative, serta berbasisis data/ informasi dan berorintasi pada sektoral dan kewilayahan. 37 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem transportasi serta Manajemen dan Rekayasa Lalulintas yang modern dan terpadu yang didukung oleh teknologi informasi yang canggih dan memadai 38 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kelengkapan sarana-prasarana kesehatan yang layak dan memadai. 39 Terwujudnya pemantapan dan Peningkatan pelayanan dan penyediaan sarana-prasarana kebinamargaan, dan keciptakaryaan daerah yang layak dan memadai 40 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan penyediaan perlengkapan sarana dan prasarana transportasi dan kelalulintasan yang layak, memadai, dan terpadu CAPAIAN Terwujudnya pemantapan dan pengembangan ketersediaan sarana dan prasarana perekonomian dan social kemasyarakatan yang layak dan memadai 42 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan terhadap pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana perkantoran,pemerintah daerah yang layak dan memadai. 43 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan sistem transportasi serta Manajemen dan Rekayasa Lalulintas yang modern dan terpadu yang didukung oleh teknologi informasi yang canggih dan memadai 44 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan upaya mitigasi, pencegahan, pengendalian bencana serta upaya perminimalan dampak bencana. 45 Terwujudnya pemantapan dan peningkatan kualitas lingkungan perumahan dan pemukiman penduduk yang bersih, sehat, KRITERIA PENILAIAN 50,00 Sangat Rendah 76,83 Tinggi 100,00 Sangat Tinggi 102,00 Sangat Tinggi 96,96 Sangat Tinggi 100,00 Sangat Tinggi 109,90 Sangat Tinggi 100,00 Sangat Tinggi 100,00 Sangat Tinggi 100,00 Sangat Tinggi 84,09 Tinggi 99,01 Sangat Tinggi BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-108
171 SASARAN aman, dan nyaman 46 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sitem Penataan dan Pengelolaan Ruang Wilayah Perkotaan. 47 Terwujudnya pemantapan dan pengembangan Sitem Pembangunan Ekologis (Sosial, Lingkungan, Ekonomi) yang berorientasi pada peningkatan kualitas dan daya dukung lingkungan perkotaan. CAPAIAN 2014 KRITERIA PENILAIAN 100,00 Sangat Tinggi 77,50 Tinggi Rata-rata 108,78 Sangat Tinggi 3.4 AKUNTABILITAS KEUANGAN Penjelasan umum laporan realisasi anggaran dan kinerja Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2014 dapat dijelaskan sebagai berikut : Realisasi anggaran belanja daerah Kota Tangerang pada Tahun Anggaran 2014 adalah sebesar Rp ,00- atau 75,69% dari pagu anggarannya yang sebesar Rp ,00. Realisasi anggaran Tahun 2014 mengalami penurunan sebesar Rp ,00,- atau 3,94% dibandingkan Tahun 2013 sebesar Rp ,00. Realisasi anggaran belanja untuk pencapaian kinerja keempat puluh tujuh sasaran strategis sebesar Rp ,00 atau 70,80% dari anggaran sebesar Rp ,07. Realisasi anggaran capaian kinerja ketujuh sasaran strategis tahun 2014 mengalami penurunan sebesar Rp ,00 atau 8,31% dari realisasi anggaran 2013 sebesar Rp ,00. Rincian per sasaran dapat dilihat pada lampiran pengukuran kinerja. Pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah di dasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor: 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah serta Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah serta Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Pengelolaan Laporan BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-109
172 Keuangan Pemerintah Kota Tangerang berdasarkan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI) mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) sejak tahun 2007, yang merupakan opini dengan nilai tertinggi dari penilaian audit. Jika dilihat pada 0 maka Pemerintah Kabupaten/Kota se-provinsi Banten yang berhasil mendapat opini WTP sejak Tahun 2007 atau tujuh tahun berturutan hanya Pemerintah Kota Tangerang. Perkembangan Opini Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Provinsi Banten Tahun Anggaran No. Pemda Opini Tahun Prov. Banten WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW 2. Kab. Lebak WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 3. Kab. Pandeglang WDP WDP TMP TMP WDP WDP WDP 4. Kab. Serang TMP WDP WDP WDP WTP WTP WTP 5. Kab. Tangerang WDP WTP WTP WTP WTP WTP WTP 6. Kota Cilegon WDP WDP WDP TMP WDP WDP WTP 7. Kota Serang - WDP WDP WDP WDP WDP WDP 8. Kota Tangerang WTP WTP WTP WTP WTP WTP WTP 9. Kota Tangerang Selatan - - WDP WTP WTP WTP WDP Sumber: Ikhtisar Hasil Pemeriksanaan Semester (IHPS) Tahun 2014 BPK-RI. Keuangan daerah pada hakekatnya merupakan salah satu alat untuk meningkatkan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan tujuan otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggungjawab. APBD adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD, dan ditetapkan dengan peraturan daerah. Secara garis besar struktur APBD terdiri dari tiga komponen utama, yaitu pendapatan, belanja daerah, dan pembiayaan. Pendapatan daerah adalah semua hak daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan. Belanja daerah adalah semua kewajiban daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan. Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Perkembangan APBD Kota Tangerang dan capaian realisasinya untuk kurun waktu Tahun dapat dilihat pada 0 berikut ini. BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-110
173 Target dan Realisasi APBD Kota Tangerang Tahun Uraian Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi 1. Pendapatan , , , , , ,00 Pendapatan Asli , , , , , ,00 Daerah Dana Perimbangan , , , , , ,00 Lain-lain Pendapatan Daerah yg Sah , , , , , ,00 2. Belanja , , , , , ,00 Belanja Tidak , , , , , ,00 Langsung Belanja Langsung , , , , , ,00 Surplus/(Defisit) , , , , , ,00 3. Pembiayaan , , , , , ,00 Penerimaan , , , , , ,00 Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan , SILPA Tahun Berjalan , , ,00 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-111
174 3.4.1 PENGELOLAAN PENDAPATAN DAERAH Intensifikasi dan Ekstensifikasi Pendapatan Daerah Pengelolaan Pendapatan Daerah dilakukan dengan menggali potensi sumber pendapatan daerah melalui intensifikasi dan ekstensifikasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Perimbangan. Artinya, perlu dilakukan peningkatan dan perluasan basis PAD dan mengupayakan secara optimal Dana Perimbangan, agar bagian daerah dapat diperoleh secara proporsional. Untuk itu, ditempuh berbagai upaya seperti peningkatan pengawasan, koordinasi dan penyederhanaan proses administrasi pemungutan. Undangundang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah menjelaskan bahwa sumber pendapatan daerah/sumber penerimaan daerah meliputi: 1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) terdiri dari: a) Pajak daerah; b) Retribusi Daerah; c) Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan; dan d) Lain-lain PAD yang Sah; 2. Dana Perimbangan terdiri dari: a) Dana Bagi Hasil dan Bagi Hasil Bukan Pajak; b) Dana Alokasi Umum (DAU); dan c) Dana Alokasi Khusus (DAK); 3. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah terdiri dari: a) Bagi Hasil Pajak dari Provinsi; b) Dana Penyesuaian dan c) Bantuan Keuangan. Berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Tangerang selama Tahun menunjukkan bahwa Kota Tangerang memiliki struktur ekonomi dengan lapangan usaha perdagangan, hotel, dan restoran serta lapangan usaha industri pengolahan sebagai lapangan usaha yang paling dominan sumbangannya. Dalam pengertian yang lebih lanjut, dapat dikatakan bahwa kemampuan untuk membayar segala pungutan-pungutan yang ditetapkan oleh pemerintah dapat lebih tinggi. Dengan demikian, sektor pajak mempunyai potensi yang besar dalam upaya peningkatan pendapatan daerah. Dalam rangka meningkatkan pendapatan daerah langkah-langkah yang dilakukan Pemerintah Kota Tangerang antara lain: Mengoptimalkan peningkatan pendapatan daerah yang berasal dari sumber-sumber PAD dan Dana Perimbangan; BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-112
175 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Meningkatkan peran serta masyarakat dan sektorswasta,baik dalam pembiayaan maupun kegiatan pembangunan; Meningkatkan efisiensi pengelolaan APBD; dan Mengutamakan secara optimal perolehan Dana Perimbangan yang lebih proporsional. Upaya peningkatan PAD dapat dilaksanakan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi sumber-sumber pendapatan daerah Intensifikasi Pendapatan Daerah Intensifikasi adalah memperbesar penerimaan yang dilakukan dengan cara melakukan pemungutan lebih intens untuk meningkatkan pendapatan dari jumlah wajib pajak yang sudah ada untuk mencapai target yang telah ditetapkan. Upaya intensifikasi yang telah dilakukan antara lain adalah: 1. Melakukan pendataan ulang Objek Pajak yang telah terdaftar, langsung ke lapangan (tempat usaha); 2. Melakukan pendataan dengan cara menelusuri jalan untuk diperoleh data subjek/objek pajak yang belum terdaftar; 3. Melakukan pemanggilan secara terus menerus tehadap Subjek Pajak agar yang bersangkutan mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak; 4. Melakukan pembinaan dan penyuluhan terhadap Wajib Pajak maupun Wajib retribusi agar yang bersangkutan dapat memenuhi kewajibannya untuk menyampaikan laporan dan pembayaran tepat pada waktunya; 5. Melakukan pemanggilan terhadap Wajib Pajak dan Wajib Retribusi yang menunggak laporan maupun pembayarannya; 6. Pengenaan sanksi terhadap Wajib Pajak dan Wajib Retribusi yang terlambat maupun menunggak pembayaran; 7. Rapat koordinasi dan evaluasi dengan OPD pemungut setiap bulannya, yang dipimpin langsung oleh Walikota/Wakil Walikota/Sekretaris Daerah; 8. Pemberian motivasi yang lebih tinggi kepada petugas pemungut pajak dan retribusi dengan cara peningkatan pengendalian dan pengawasan; 9. Peningkatan pelayanan melalui peningkatan sarana dan prasarana; BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-113
176 10. Meningkatkan koordinasi dengan Kantor Pelayanan Pajak Pusat sebagai upaya mencegah terjadinya pengenaan pajak ganda; 11. Sosialisasi kepada Wajib Pajak dan Wajib Retribusi untuk melakukan pembayaran langsung ke Rekening Kas Umum Daerah sebagai bagaian dari upaya tindakan pencegahan pengawasan hasil pungutan; dan 12. Melakukan pendekatan terhadap Wajib Pajak dan Wajib Retribusi yang potensial untuk membayar kewajibannya tepat waktu Ekstensifikasi Pendapatan Daerah Ekstensifikasi dilakukan dengan cara menggali sumber-sumber PAD yang baru. Namun demikian dalam hal penggalian sumber pendapatan yang baru tersebut tidak hanya semata-mata untuk memperoleh sumber pendapatan. Dalam melakukan ekstensifikasi yang dilakukan, harus memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2010, yaitu: 1) Bersifat pajak dan bukan retribusi; 2) Obyek pajak terletak di wilayah kabupaten/kota yang bersangkutan dan mempunyai mobilitas yang cukup rendah serta hanya melayani masyarakat di wilayah kabupaten/kota yang bersangkutan; 3) Obyek dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum; 4) Obyek pajak bukan merupakan obyek pajak provinsi atau obyek pajak pusat; 5) Potensinya memadai; 6) Tidak memberikan dampak ekonomi negatif; 7) Memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat; dan 8) Menjaga kelestarian lingkungan. Target dan Realisasi Pendapatan Daerah Penerimaan pendapatan daerah pada Tahun Anggaran 2014 ditargetkan sebesar Rp ,00 dan direalisasikan sebesar Rp ,00 atau 101,30%. Target dan realisasi pendapatan daerah dapat dilihat pada Error! Reference source not found. dan dideskripsikan dalam diagram batang yang tersusun atas ketiga komponen Pendapatan Daerah seperti pada Gambar 3.1 dan Gambar 3.2. Target dan Realisasi Pendapatan DaerahTahun Anggaran2014 Pendapatan Daerah Target (Rp) Realisasi (Rp) % Target Capaian (%) I. Pendapatan Asli Daerah , ,00 108, I.1. Pajak Daerah , ,00 111,79 100,00 I.2. Retribusi Daerah , ,00 98,56 100,00 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-114
177 II. Pendapatan Daerah I.3 Hasil Perus. Milik Daerah dan HasilPengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan I.4. Lain-lain PAD yang Sah Dana Perimbangan II.1 Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak II.2 Dana Alokasi Umum II.3 Dana Alokasi Khusus III. Lain-lain Pendapatan Daerah , ,00 97,76 100,00 yang Sah III.1 Bagi Hasil Pajak dari Propinsi III.2 Dana Penyesuaian Target (Rp) Realisasi (Rp) % Target Capaian (%) , ,00 90,67 100, , ,00 94,18 100, , ,00 95,74 100, , ,00 89,72 100, , ,0 100,00 100, , ,00 30,00 100, , ,00 96,20 100, , ,00 100,00 100,00 III.3Bantuan Keuangan dari , ,00 117,42 100,00 Propinsi Pendapatann , ,00 101,30 100,00 Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2015 Gambar 3.1. Target dan Realisasi asi Pendapatan Tahun Anggaran 2014 dalam Milyar Rupiah 1, , , , , , , Target Realisasi Pendapatan Asli Daerah Dana Perimbangan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2015 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-115
178 Gambar 3.2. Persentase Realisasi dan Persentase Target Capaian Pendapatan Tahun Anggaran Pendapatan Asli Daerah Dana Perimbangan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah Target Target Realisasi Realisasi Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2015 Berdasarkan tabel 3.2 di atas, terlihat bahwa capaian realisasi tertinggii berasal dari penerimaan Pajak Daerah sebesar Rp ,00 (111,79 %) dari target sebesar Rp ,00. Realisasi ini terutama dikarenakan realiasi penerimaan seluruh jenis pajak daerah melebihi target yang telah ditetapkan, dimanaa pelampauan tertinggi berasal dari Pajak Penerangan Jalan Umum sebesar 133,55% dengan nilai realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00. Adapun yang menjadi prioritas dalam upaya meningkatkan pendapatan daerah adalah dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada atau yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Tangerang, baik sumber daya manusia maupun sumber/ /potensi yang dimiliki daerah berupa penerapan dasar hukum pajak daerah, retribusii daerah, dan pendapatan lain-lain; peningkatan sarana dan prasarana pelayanan; koordinasi konsultansi dan pembinaan pengelolaan pendapatan daerah. BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-116
179 Pendapatan Asli Daerah Pendapatan asli daerah sebagai salah satu sumber pembiayaan pembangunan bagi Pemerintah Daerah yang merupakan wujud dari partisipasi langsung masyarakat dalam mendukung proses pembangunan. Untuk melihat perkembangan target dan realisasi penerimaan PAD Kota Tangerang dari Tahun dapat dilihat pada 0. Perkembangan PAD Kota Tangerang TA No. Tahun Capaian Target (Rp) Realisasi (Rp) Anggaran Kinerja (%) , ,00 122, , ,00 131, , ,00 136, , ,00 124, , ,00 108,88 Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2014 Secara sekilas kita dapat melihat secara keseluruhan penerimaan PAD Kota Tangerang selama kurun waktu Tahun terus mengalami kenaikan dan melampaui dari target yang telah ditetapkan. Kenaikan PAD tidak saja dari sisi target tetapi juga dari sisi realisasi penerimaan. Kenaikan realisasi PAD pada Tahun 2010 adalah sebesar 19,14% dari tahun sebelumnya, pada Tahun 2011 sebesar 16,62%, realisasi Tahun 2012 kenaikannya mencapai 26,40%, dan realisasi Tahun 2013 kenaikannya mencapai sebesar 29,17%, serta realisasi Tahun 2014 kenaikannya mencapai 54,31% dari Tahun Kenaikan realisasi yang cukup besar pada tahun 2014, terutama karena adanya penambahan objek pajak baru, yaitu Pajak Bumi Bangunan Pedesaan dan Perkotaan (PBB P2) dimana mulai tahun 2014 kewenangan pemungutannya ada di pemerintah daerah. Bila dilihat dari pergerakannya struktur penerimaan PAD Kota Tangerang memiliki pertumbuhan yang positif. Pertumbuhan yang positif dikontribusi oleh semua komponen pembentuknya. Sebagai gambaran lebih detailnya mengenai target dan realisasi komponen PAD Tahun 2014 dapat dilihat pada 0. Rincian Anggaran dan Realisasi PAD Kota Tangerang Tahun Anggaran 2014 No. Jenis Pendapatan Target(Rp) Realisasi(Rp) % 1 Pajak Daerah , ,00 111,79 2 Retribusi Daerah , ,00 98,56 3 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah , ,00 90,67 yang Dipisahkan 4 Lain-lain PAD Yang Sah , ,00 94,18 J u m l a h , ,00 108,88 Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2014 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-117
180 Pajak Daerah Untuk mengukur kemampuan keuangan daerah/kemandirian suatu daerah dalam melaksanakan otonomi daerah ditunjukkan oleh besar kecilnya pajak yang diterima, dan juga perbandingannya dengan penerimaan dari sumber-sumber yang lain, misalnya bantuan pemerintah pusat atau dari pinjaman.faktor potensi ekonomi daerah sebagai basis pajak diyakini mampu mempengaruhi peningkatan PAD. Semakin tinggi aktivitas ekonomi yang dilakukan semakin besar pajak yang diperoleh. Dengan kata lain peningkatan PAD terkait dengan kemampuan cakupan output di sektor produksinya (economic sectors). Kemampuan pajak juga mempunyai arti sebagai sumber dana dan keuangan dalam upaya pemerintah untuk melakukan ekspansi. Keterkaitan antara penerimaan pajak provinsi dan pajak dari kabupaten/kota bermuara pada bagaimana sumber penerimaan ini dapat dijadikan sebagai mesin penggerak pembangunan. Seiring dengan meningkatnya kewenangan pemerintahan yang dimiliki oleh daerah sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun Adapun potensi sumber penerimaan daerah berdasarkan kebijakan desentralisasi fiskal tersebut adalah pajak daerah yang merupakan salah satu komponen dari PAD. Pajak daerah yang oleh Pemerintah Kota Tangerang pada tahun anggaran 2014 terdiri dari 9 (sembilan) jenis pajak. Adapun target dan realisasi pajak daerah pada Tahun Anggaran 2014 dapat dilihat pada 0 berikut ini. Target dan Realisasi Pajak Daerah Tahun Anggaran 2013 No. Jenis Pajak Target (Rp) Realisasi (Rp) % 1 Pajak Hotel , ,00 119,78 2 Pajak Restoran , ,00 117,49 3 Pajak Hiburan , ,00 116,43 4 Pajak Reklame , , Pajak Penerangan Jalan , ,00 117,03 Umum 6 Pajak atas , ,00 133,55 PenyelenggaraanParkir Swasta 7 Pajak Air Tanah , ,00 109,57 8 Bea Perolehan Hak atas , ,00 127,04 Tanah dan Bangunan 9 Pajak Bumi dan Bangunan , ,00 88,48 J u m l a h , ,00 111,79 Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2015 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-118
181 Realisasi pajak daerah sebesar Rp ,00 merupakan komponen terbesar (84,33%) dari total realisasi penerimaan PAD Tahun Dan komponen pajak daerah yang memberikan kontribusi realisasi paling besar pada tahun 2014 adalah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebesar Rp ,00. Retribusi Daerah Retribusi daerah merupakan salah satu komponen dari PAD.Mengacu pada ketentuan perundang-undangan, pada Tahun Anggaran 2014 Pemerintah Kota Tangerang mengelola 15 (lima belas) jenis retribusi daerah. Realisasi penerimaan retribusi daerah tahun 2014 sebesar Rp ,00 ( 98,46%) dan komponen terbesar dari total realisasi penerimaan retribusi daerah berasal dari Retribusi Ijin Mendirikan Bangunan. sebesar Rp ,00 ( 103,20%). Lima besar retribusi yang memberikan kontribusi pada realisasi penerimaan PAD tahun 2014 berturut-turut adalah sebagai berikut: Retribusi Ijin Mendirikan Bangunan, Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor, Retribusi Ijin Gangguan, Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah, dan Retribusi Penyedotan Kakus. Untuk lebih jelasnya kontribusi yang disumbangkan oleh setiap jenis retribusi dapat dilihat pada 0. Target dan Realisasi Retribusi Daerah Tahun Anggaran 2014 No. Jenis Retribusi Target (Rp) Realisasi (Rp) % 1 Pelayanan Kesehatan , ,00 147,90 2 Pelayanan Persampahan/Kebersihan , ,00 50,37 3 Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan 0, ,00 Mayat 4 Parkir Tepi Jalan Umum , ,00 122,08 5 Pengujian Kendaraan Bermotor , ,00 101,94 6 Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran , ,00 61,18 7 Pemakaian Kekayaan Daerah (Sewa , ,00 172,69 Lahan untuk Reklame) 8 Pemakaian Kekayaan Daerah (Sewa , ,00 126,71 Rusun, Sewa Mesin/Alat Berat, Sewa Gedung) 9 Terminal , , Parkir Khusus , ,00 97,08 11 Penyedotan Kakus , ,00 122,24 12 Rumah Potong Hewan , ,00 116,26 13 Ijin Mendirikan Bangunan , ,00 103,20 14 Ijin Gangguan , ,00 109,76 15 Ijin Trayek , ,00 104,15 J u m l a h , ,00 98,46 Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2015 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-119
182 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Penerimaan PAD yang diperoleh melalui penerimaan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan seluruhnya berasal dari pos Bagian Laba atas Penyertaan Modal/Investasi kepada BUMD (PD Pasar) serta Bank BJB. Data target dan realisasi selama pada Tahun Anggaran 2014 terangkum dalam0. Target dan Realisasi Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Tahun Anggaran 2014 No. Bagian Laba Target (Rp) Realisasi (Rp) % 1 Bank BJB , ,00 100,00 2 PDAM , ,00 61,78 3 PD Pasar , ,00 100,00 J u m l a h , ,00 90,67 Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2015 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah merupakan kelompok penerimaan yang tidak dapat diklasifikasikan baik ke dalam Pajak Daerah, Retribusi Daerah, maupun Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan. Penerimaan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah untuk Tahun Anggaran 2014 ditargetkan sebesar Rp ,00 dan dapat direalisasikan sebesar Rp ,00 (94,18%). Rincian target dan realisasi pos Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah untuk Tahun Anggaran 2014 dapat dilihat pada 0. Target dan Realisasi Lain-lain PAD yang Sah Tahun Anggaran 2014 No. Pendapatan Target(Rp) Realisasi (Rp) % 1 Hasil Penjualan Aset daerah , ,00 563,28 Yang Tidak Dipisahkan 2 Penerimaan Jasa Giro , ,00 266,72 3 Penerimaan Bunga Deposito , ,00 167,70 4 Tuntutan Ganti Rugi daerah , ,00 187,87 5 Denda atas keterlambatan , ,00 446,80 pelaksanaan pekerjaan 6 Pendapatan Denda Pajak , ,00 569,44 7 Pendapatan Denda Retribusi , ,00 1,41 8 Pendapatan Dari Hasil , ,00 176,38 Eksekusi Atas Jaminan 9 Pendapatan Pengembalian , ,00 63,96 10 Penerimaan Lain-lain , ,00 55,50 11 Pendapatan Dana Kapitasi JKN , ,00 113,51 12 Pendapatan dari RSUD , ,00 38,44 J u m l a h , ,00 132,72 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-120
183 Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, Dana Perimbangan Dalam Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, didefinisikan bahwa perimbangan keuangan antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah adalah suatu sistem pembagian keuangan yang adil, proporsional, demokratis, transparan, dan efisien dalam rangka pendanaan penyelenggaraan desentralisasi, dengan mempertimbangkan potensi, kondisi, dan kebutuhan daerah, serta besaran pendanaan penyelenggaraan dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Lebih lanjut, dalam Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 disebutkan bahwa pemberian sumber keuangan negara kepada Pemerintah Daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi didasarkan atas penyerahan tugas oleh pemerintah kepada pemerintah daerah dengan memperhatikan stabilitas dan keseimbangan fiskal. Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah merupakan suatu sistem yang menyeluruh dalam rangka pendanaan penyelenggaraan asas desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Dana Perimbangan merupakan salah satu sumber pendapatan daerah dalam mendukung pelaksanaan kewenangan pemerintahan daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi kepada daerah, yaitu terutama peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat. Adapun peraturan perundangan serta petunjuk teknis yang dijadikan dasar hukum pelaksanaan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah antara lain: 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan; 2. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah; 3. Peraturan Pemerintah Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan; 4. Peraturan Pemerintah Nomor 115 Tahun 2000 tentang Bagi Hasil Penerimaan Pajak Penghasilan; 5. Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan; 6. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 6 Tahun 2001 tentang Pelaksanaan Bagi Hasil Penerimaan PPh OP Dalam Negeri dan PPh Pasal 21; 7. Surat Edaran Dirjen Anggaran Nomor: SE-53/A/2001 tentang Cara Pembagian dan Penyaluran Penerimaan PPh OP Dalam Negeri dan PPh Pasal 21 Bagian Daerah. BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-121
184 Secara umum dana perimbangan bersumber dari dana bagi hasil pajak/bukan pajak, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus. Dana bagi hasil pajak/bukan pajak bersumber dari penerimaan bagi hasil dari Pemerintah Pusat dan bagi hasil dari Pemerintah Provinsi, namun sejak diterapkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, penerimaan dana bagi hasil pajak yang berasal dari Pemerintah Provinsi dianggarkan pada pos Lainlain Pendapatan yang Sah. Untuk Tahun Anggaran 2014 penerimaan dari Dana Perimbangan ditargetkan sebesar Rp ,00 dan terealisasi sebesar Rp ,00 atau sebesar 95,74%. Rincian target dan realisasi ini dapat dilihat pada0. Rincian Anggaran dan Realisasi Dana Perimbangan Tahun Anggaran 2014 No. Jenis Pendapatan Target (Rp) Realisasi (Rp) % 1 Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak , ,00 89,72 2 Dana Alokasi Umum , ,00 100,00 3 Dana Alokasi Khusus , ,00 30,00 J u m l a h , ,00 95,74 Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2015 Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak Bagi hasil pajak/bukan pajak merupakan komponen yang ada dalam dana perimbangan. Dimana komponen ini terdiri dari beberapa pos penerimaan diantaranya pos bagi hasil pajak dan bagi hasil bukan pajak/sumber daya alam. Pada Tahun Anggaran 2014 komponen bagi hasil pajak/bukan pajak memberikan kontribusi dalam pembentukan dana perimbangan Kota Tangerang dan pencapaian realisasi sebesar Rp ,00 (89,72%), komponen bagi hasil pajak/bukan pajak diperoleh dari pos-pos penerimaan bagi hasil pajak dan bagi hasil bukan pajak/sumber daya alam. Rincian target dan realisasi ini dapat dilihat pada 0. Rincian Anggarandan Realisasi Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak Tahun Anggaran 2014 No. Jenis Pendapatan Target (Rp) Realisasi (Rp) % 1 Bagi Hasil Pajak , ,00 89,90 a. PBB , ,00 117,49 b. PPh Pasal 21, Pasal 25, Pasal , ,00 87,34 c. Alokasi DBH Kurang Bayar PPh Pasal , ,00 100, Bagi Hasil Bukan Pajak/Sumber Daya Alam , ,00 66,90 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-122
185 No. Jenis Pendapatan Target (Rp) Realisasi (Rp) % a. Bagi Hasil SDA Kehutanan , ,00 40,00 b. Penerimaan Pungutan Pengusahaan , ,00 95,22 Perikanan c. SDA Panas Bumi , ,00 70,00 d. Bagi Hasil SDA Pertambangan Umum , ,00 60,48 e. Kurang Bayar DBH SDA ,00 0,00 0,00 Pertambangan Umum J u m l a h , ,00 89,72 Sumber: Dinas Pengelolaan KeuanganDaerah Kota Tangerang, 2015 Dana Alokasi Umum (DAU) Dana Alokasi Umum (DAU) adalah bagian penerimaan Pemerintah Daerah yang besarnya ditetapkan oleh Pemerintah Pusat, yang besarnya mempertimbangkan besaran usaha pajak dan kapasitas pajak.pengaturan DAU diarahkan untuk mengurangi disparitas antar daerah, yang mengandung arti dimana daerah yang memiliki kemampuan keuangan yang relatif besar akan memperoleh DAU yang relatif kecil demikian pula sebaliknya. Penerimaan DAU Kota Tangerang pada Tahun Anggaran 2014 ditargetkan sebesar Rp ,00 dan terealisasi 100,00%. Dana Alokasi Khusus (DAK) Dana alokasi khusus (DAK) merupakan sejumlah penerimaan pemerintah daerah yang ditentukan oleh pemerintah pusat untuk pengeluaran yang diprioritaskan bagi pengeluaran yang spesifik.penerimaan DAK Kota Tangerang Tahun Anggaran 2014 ditargetkan sebesar Rp ,00 dan terealisasi sebesar Rp ,00 (30,00%) Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah sebagai komponen terakhir sumber penerimaan pendapatan daerah, terdiri dari: 1) Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya; 2) Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus; dan 3) Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya. Pada Tahun Anggaran 2014, Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah memiliki target sebesar Rp ,00 dan berhasil direalisasikan sebesar Rp ,00 atau 97,76%.Rincian target dan realisasi Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah seperti yang dapat dilihat pada 0. Rincian Anggaran dan Realisasi lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah Tahun Anggaran 2014 No. Jenis Pendapatan Target (Rp) Realisasi (Rp) % BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-123
186 1 Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan , ,00 96,20 Pemerintah Daerah Lainnya 2 Dana Penyesuaian , ,00 100,00 3 Bantuan Keuangan dari Provinsi , ,00 117,42 atau Pemerintah Daerah Lainnya J u m l a h , ,00 97,76 Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2015 Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya untuk Tahun Anggaran 2014 seluruhnya bersumber dari Bagi Hasil Pajak dari Provinsi, dengan target sebesar Rp ,00 dan realisasi sebesar Rp ,00 (96,20%). Rincian target dan realisasi Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dapat dilihat pada 0. Rincian Anggaran dan Realisasi Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya Tahun Anggaran 2014 No. Jenis Pendapatan Target (Rp) Realisasi (Rp) % 1 Pajak Kendaraan Bermotor , ,00 97,51 2 Bea Balik Kendaraan , ,00 82,70 Bermotor 3 Pajak Bahan Bakar , ,00 115,57 Kendaraan Bermotor 4 Pajak Air Permukaan , ,00 137,19 5 Pelampauan Target TA , ,00 100,00 Sebelumnya 6 Pajak Rokok , ,00 91,94 J u m l a h , ,00 95,85 Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 5 Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus untuk Tahun Anggaran 2014 seluruhnya bersumber dari Dana Penyesuaian, dan direalisasikan seluruhnya yaitu Rp ,00 (100,00%). Rincian target dan realisasi Dana Penyesuian dapat dilihat pada 0. Rincian Anggaran dan Realisasi Dana Penyesuaian Tahun Anggaran 2014 No. Jenis Pendapatan Target (Rp) Realisasi (Rp) % 1 Tambahan Penghasilan Guru , ,00 100,00 PNSD 2 Dana Insentif Daerah , ,00 100,00 J u m l a h , ,00 100,00 Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2014 Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-124
187 Bantuan Keuangan Dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya untuk Tahun Anggaran 2014 bersumber dari Bantuan Keuangan dari Provinsi yaitu Bantuan Keuangan dari Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta, dengan target sebesar Rp ,00 dan direalisasikan sebesar Rp ,00 (117,42%) yang seluruhnya berasal dari Provinsi Banten. Permasalahan dan Solusi Dalam rangka pengelolaan pendapatan daerah masih terdapat permasalahan yang dihadapi pada Tahun Anggaran 2014, adalah sebagai berikut: a. Pajak Daerah i. Masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak atas usahanya, mengingat sampai saat ini jarang terjadi Wajib Pajak dengan kesadaran sendiri mendaftarkan obyeknya; ii. Adanya perbedaan persepsi pada masyarakat maupun unsur aparatur dalam memahami kewenangan pemungutan pajak, sehingga ada beberapa objek yang semestinya menjadi Objek Pajak Daerah (Restoran dan Hiburan) malah menjadi Objek Pajak Pusat (PPn); iii. Kurangnya ketaatan Wajib Pajak memenuhi kewajiban membayar pajak tepat pada waktunya, hal tersebut terlihat adanya tunggakan yang belum terselesaikan; iv. Kurangnya kesadaran Wajib Pajak yang juga selaku Wajib Pungut untuk melaporkan omset yang sebenarnya; v. Proses administrasi dan sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan Wajib Pajak memerlukan waktu yang cukup panjang; vi. Khusus Wajib Pajak pada areal Bandara, umumnya merasa keberatan membayar pajak karena selain kewajiban membayar pajak, mereka dikenakan konsesi dari pihak PT. (Persero) Angkasa Pura II yang tarifnya tidak jauh berbeda dengan tarif pajak. b. Retribusi Daerah i. Situasi pertumbuhan ekonomi yang masih rendah sangat mempengaruhi terhadap usaha aparatur dalam memungut Retribusi; ii. Adanya kebijakan dari Pemerintah Pusat mengenai pencabutan beberapa jenis Retribusi yang cukup potensial di Kota Tangerang; BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-125
188 c. Dana Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah i. Pemerintah Pusat dalam perhitungan dan pengalokasian Dana Bagi Hasil dari penerimaan PPh Pasal 25 dan 29 Wajib Pajak Objek Pajak Dalam Negeri dan PPh Pasal 21 belum mencerminkan transparansi dan akuntabilitas; ii. Ketentuan mengenai Dana Perimbangan harus ditetapkan dengan keputusan Gubernur dengan mempertimbangkan faktor-faktor pemerataan yang harus disepakati oleh Kabupaten/Kota seringkali menimbulkan hambatan dalam pendistribusian Dana Perimbangan ke Kabupaten/Kota; iii. Bagi hasil SDA (IHH/PSDH, Royalty dan Pungutan Hasil Perikanan) belum transaparan sehingga kebijakan mengenai besaran dana bagi hasil yang seharusnya diterima Kota Tangerang tidak sesuai dengan realisasi pada Kas Daerah; dan iv. Adanya keterlambatan penyampaian pagu bagi hasil pajak-pajak pusat ke kabupaten/kota sehingga menyulitkan penyusunan APBD. Solusi/upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut dengan melakukan kebijakan dalam pengelolaan pendapatan berupa: a. Pendapatan Asli Daerah (PAD) i. Optimalisasi Pajak Daerah, Retribusi Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan, serta Lain-lain PAD yang sah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku; ii. Peningkatan koordinasi dan pelibatan berbagai OPD yang terkait dengan manajemen/pengelolaan PAD sesuai dengan regulasi/aturan perundangan/kebijakan yang berlaku serta mengacu pada perencanaan yang telah ditetapkan terutama yang berkaitan dengan target sasaran dan capainnya berdasarkan indikator dan tolok ukur yang digunakan; iii. Peningkatan efisiensi, efektivitas, profesionalitas, dan proporsionalitas pelaksanaan pengendalian dan pengawasan dalam pengelolaan sumbersumber PAD; iv. Peningkatan kapasitas, kompetensi, kreativitas, dan inovasi sumber daya manusia (SDM) pengelola PAD sebagai bagian dari upaya peningkatan pelayanan kepada publik/masyarakat dan upaya peningkatan PAD; BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-126
189 v. Peningkatan upaya intensifikasi dan ekstensifikasi sumber-sumber PAD baru vi. melalui berbagai kegiatan yang bersifat intensif dan eksploratif yang dilakukan melalui kerjasama/kemitraan (partnership) dengan berbagai pihak yang terkait serta menggunakan prinsip keterbukaan ( transparancy) dam keadilan (fainess) serta tidak memberatkan masyarakat; Pengkajian dan penyempurnaan berbagai regulasi/peraturan perundangan dalam rangka mempercepat dan memperlancar pencapaian target PAD melalui kegiatan yang bersifat telaahan terhadap regulasi/peraturan perundangan yang dianggap menghambat kelancaran pencapaian target PAD; dan vii. Meningkatkan pelayanan perpajakan dan retribusi daerah dengan membangun sistem dan prosedur administrasi pelayanan yang cepat dan mudah serta didukung oleh sistem informasi. b. Dana Perimbangan i. Pendekatan komprehensif dengan pihak terkait agar Dana Bagi Hasil ii. iii. Pajak/Bagi hasil Bukan Pajak, Dana Alokasi Umum (DAU), maupun Dana Alokasi Khusus (DAK) bisa optimal berdasarkan aturan perundang - undangan yang berlaku; Peningkatan validasi data yang menjadi komponen dalam perhitungan pembagian Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) seperti data jumlah penduduk (terutama jumlah penduduk miskin), luas wilayah, indeks kemahalan konstruksi, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), pendapatan per kapita, indeks Pembangunan Manusia (IPM) dst; Peningkatan koordinasi dengan Pemerintah Pusat, DPR-RI Daerah Pemilihan Banten/Kota Tangerang, dan Pemerintah Provinsi Banten dalam upaya stabilitas Dana Perimbangan Daerah. c. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-127
190 i. Pendekatan dengan pihak Pemerintah Provinsi Banten dan upaya ii. iii. optimalisasi Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi berdasarkan aturan perundang-undangan yang berlaku; Stabilisasi dan/atau peningkatan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah melalui upaya-upaya optimalisasi Dana Bagi Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan pemerintah daerah lainnya dan Bantuan Keuangan dari Provinsi atau pemerintah daerah lainnya berdasarkan aturan perundang-udangan yang berlaku; dan Peningkatan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Provinsi Jawa Barat, dalam upaya peningkatan kerjasama pembangunan regional (upaya pengembangan kerjasama wilayah JABODETABEKJUR) PENGELOLAAN BELANJA DAERAH Kebijakan Umum Keuangan Daerah Pengelolaan belanja daerah digunakan untuk pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan PemerintahKotaTangerang yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Belanja penyelenggaraan urusan wajib diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial. Pelaksanaan urusan wajib dimaksud berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang telah ditetapkan. Kebijakan belanja daerah ditekankan dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat dan upaya memenuhi kebutuhan dasar sarana dan prasarana pelayanan. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan diupayakan agar pelayanan bergeser dan menjadi lebih dekat kepada masyarakat. Kebijakan pengelolaan belanja daerah adalah: a. Prioritas kepada upaya melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan ke dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak, serta pengembangan sistem jaminan sosial; b. Menyelaraskan alokasi belanja seiring dengan pendelegasian wewenang; c. Meningkatkan alokasi anggaran pada bidang-bidang yang menjadi pusat perhatian masyarakat (public interest); dan BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-128
191 d. Pemberian bantuan kepada organisasi kemasyarakatan didasarkan pada tingkat kebutuhan dan kemendesakan (urgensitas) tanpa melupakan aspek pemerataan dan keadilan dalam mendukung upaya-upaya penanggulangan dan penanganan permasalahan sosial, antara lain: kemiskinan, pengangguran, ketenagakerjaan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Pemerintah daerah menetapkan target capaian kinerja setiap belanja, baik dalam konteks daerah, satuan kerja perangkat daerah, maupun program dan kegiatan, yang bertujuan untuk meningkatkan akuntabilitas perencanaan anggaran dan memperjela sefektifitas dan efisiensi penggunaan anggaran. Program dan kegiatan harus memberikan informasi yang jelas dan terukur serta memiliki korelasi langsung dengan keluaran yang diharapkan dari program dan kegiatan dimaksud ditinjau dari aspek indikator, tolok ukur dan target kinerjanya. Pada dasarnya belanja daerah terdiri atas belanja tidak langsung dan belanja langsung. Belanja tidak langsung lebih ditujukan kepada belanja pegawai, belanja hibah dan bantuan sosial, belanja bantuan keuangan, dan belanja tidak terduga. Sedangkan Belanja langsung merupakan belanja yang digunakan untuk pelaksanaan urusan pemerintahan daerah, yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. Belanja langsung dituangkan dalam bentuk program dan kegiatan, yang manfaat capaian kinerjanya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan publik dan keberpihakan pemerintah daerah kepada kepentingan publik. Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung ini terus mengalami peningkatan. Pemerintah KotaTangerang senantiasa menambah atau meningkatkan nilai Belanja Langsung melalui program/kegiatan yang langsung dapat dirasakan oleh masyarakat. Perlu dijelaskan bahwa pada Belanja Tidak Langsung terdapat banyak item belanja yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, terutama pada pos belanja hibah dan bantuan sosial Target dan Realisasi Belanja Daerah Belanja Daerah pada Tahun Anggaran 2014 dianggarkan sebesar Rp ,00 dan direalisasikan sebesar Rp ,00 (75,70%). Anggaran belanja tersebut dialokasikan untuk pendanaan belanja tidak langsung sebesar Rp ,93 dan belanja langsung sebesar Rp ,07. Alokasi anggaran belanja langsung sebesar Rp ,07 diperuntukan bagi pendanaan program dan kegiatan pada 41 SKPD yang meliputi 26 urusan wajib, 6 BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-129
192 urusan pilihan, 147 program dan kegiatan. Alokasi belanja daerah padatahun Anggaran 2014 diprioritaskan pada pendanaan untuk: 1. Peningkatan kesejahteraan masyarakat; 2. Peningkatan manajemen transportasi perkotaan; 3. Peningkatan manajemen sumber daya pemerintah dan masyarakat kota; 4. Peningkatan sanitasi dan drainase perkotaan; 5. Peningkatan peran serta masyarakat dalam pembangunan; 6. Peningkatan pengelolaan lingkungan hidup perkotaan; dan 7. Peningkatan ketahanan pangan dan ekonomi kerakyatan. Anggaran dan realisasi belanja daerah dapat dilihat pada 0 dan dideskripsikan dalam diagram batang yang tersusun atas belanja tidak langsung dan belanja langsung seperti pada 0. Rincian Anggaran dan Realisasi Belanja Tahun Anggaran 2014 Jenis Belanja Anggaran (Rp) Realisasi (Rp) % Target Capaian (%) I. Belanja Tidak Langsung , ,00 86,13 100,00 d. Belanja Pegawai , ,00 86,39 100,00 e. Belanja Hibah , ,00 86,84 100,00 f. Belanja Bantuan Sosial , ,00 100,00 100,00 g. Belanja Bantuan Keuangan , ,00 100,00 100,00 kepada Provinsi/Kabupaten/Kota, Pemerintahan Desa dan Partai Politik h. Belanja Tidak Terduga , ,00 5,60 100,00 II. Belanja Langsung , ,00 70,80 100,00 a. Belanja Pegawai , ,00 89,79 100,00 b. Belanja Barang dan Jasa , ,00 67,41 100,00 c. Belaja Modal , ,00 71,16 100,00 J u m l a h , ,00 75,69 100,00 Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2015 Untuk Tahun 2014 anggaran belanja langsung mencakup 68,05% dari total anggaran belanja daerah. Sedangkan untuk realisasi belanja daerah sebesar Rp ,00 (75,69%) berada di bawah target realisasi sebesar 100,00% dengan capaian realisasi terendah adalah belanja langsung sebesar 70,80%. Gambar 3.3. Anggaran dan Realisasi Belanja Daerah Tahun Anggaran 2014 dalam Milyar rupiah BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-130
193 2, , , , , , Anggaran Realisasi 1, Belanja Tidak Langsung Belanja Langsung Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Tangerang, 2015 Alokasi anggaran Belanja Langsung apabila dilihat berdasarkan urusan yang ditangani oleh Pemerintah Kota Tangerang pada Tahun Anggaran 2014 adalah sebagai berikut: No. Urusan Jml Jml Anggaran (Rp) Realisasi (Rp) Program Kegiatan I Wajib , ,00 1 Pendidikan , ,00 2 Kesehatan , ,00 3 Pekerjaan Umum , ,00 4 Perumahan , ,00 5 Penataan Ruang , ,00 6 Perencanaan , ,00 Pembangunan 7 Perhubungan , ,00 8 Lingkungan Hidup , ,00 9 Pertanahan , ,00 10 Kependudukan dan , ,00 Catatan Sipil 11 Pemberdayaan , ,00 Perempuan No. Urusan Jml Jml Anggaran (Rp) Realisasi (Rp) Program Kegiatan BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-131
194 12 Keluarga Berencana , ,00 13 Sosial , ,00 14 Tenaga Kerja , ,00 15 Koperasi dan Usaha , ,00 Kecil Menengah 16 Penanaman Modal , ,00 17 Kebudayaan , ,00 18 Pemuda dan Olahraga , ,00 19 Kesatuan Bangsa dan , ,00 Politik Dalam Negeri 20 Pemerintahan Umum , ,00 21 Ketahanan Pangan , ,00 22 Pemberdayaan , ,00 Masyarakat Desa 23 Statistik , ,00 24 Kearsipan , ,00 25 Komunikasi dan , ,00 Informatika 26 Perpustakaan , ,00 II PIlihan , ,00 1 Pertanian , ,00 2 Kelautan dan Perikanan , ,00 3 Pariwisata , ,00 4 Perdagangan , ,00 5 Perindustrian , ,00 6 Transmigrasi , ,00 JUMLAH , , Permasalahan dan Solusi Dalam rangka pengelolaan belanja daerah masih terdapat permasalahan yang dihadapi pada Tahun Anggaran 2014, adalah sebagai berikut: 1. Adanya program-program lanjutan strategis, terutama program dan kegiatan fisik dengan nilai anggaran yang cukup besar, sehingga berpengaruh terhadap keseluruhan rencana alokasi anggaran belanja; 2. Banyaknya alternatif atau usulan program menurut bidang pembangunan yang perlu dilaksanakan; 3. Kebutuhan untuk mengoptimalkan tugas dan fungsi Dinas/Badan/Kantor di lingkungan Pemerintah Daerah. Adapun solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas adalah sebagai berikut: BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-132
195 1. Menerapkan strategi yang lebih mengutamakan pada pencapaian sasaran program pembangunan dimana alokasinya disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing satuan kerja yang ada di lingkungan Pemerintah Kota Tangerang; 2. penanganan masalah-masalah khusus yang perlu segera ditangani serta menampung aspirasi masyarakat yang mendesak dan membutuhkan perhatian lebih dari Pemerintah Daerah PEMBIAYAAN DAERAH Pembiayaan merupakan transaksi keuangan yang bertujuan untuk menutupi defisit dan surplus pendapatan daerah terhadap belanja daerah, untuk menampung rekening sisa lebih perhitungan anggaran tahun yang lalu, pinjaman daerah, dan investasi daerah serta pembayaran pokok pinjaman daerah.unsur-unsur pembiayaan daerah terdiri dari: 1. Penerimaan terdiri atas: a) Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya; b) Pencairan Dana Cadangan; c) Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan; dan e) Penerimaan Pinjaman Daerah; 2. Pengeluaran terdiri atas: a) Pembentukan Dana Cadangan; b) Penyertaan Modal/Inventasi Pemerintah Daerah; dan c) Pembayaran Utang Pokok Penerimaan Pembiayaan Untuk Tahun Anggaran 2014, penerimaan pembiayaan terealisasi sebesar Rp ,00 atau 100,00% yang seluruhnya berasal dari penerimaan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya. Hal ini berarti bahwa Pemerintah Kota Tangerang lebih memanfaatkan penerimaan yang berasal dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya dalam upaya menutup defisit anggaran yang terjadi Pengeluaran Pembiayaan Untuk Tahun Anggaran 2014, pengeluaran pembiayaan tidak dianggarkan Permasalahan dan Solusi Pembiayaan daerah merupakan komponen APBD yang diarahkan untuk membiayai defisit anggaran atau untuk memanfaatkan surplus anggaran sehingga pengelolaan APBD dapat dilaksanakan secara optimal. Adapun permasalahan utama dalam BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-133
196 merumuskan pembiayaan daerah adalah sebagai komponen terakhir dalam struktur APBD, pembiayaan sangat tergantung dari besaran target pendapatan dan alokasi belanja yang diinginkan. Selain itu dalam hal sumber penerimaan dan tujuan penggunaan dibatasi oleh peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu kebijakan pengelolaan pembiayaan daerah lebih diarahkan kepada: 1. Penerimaan pembiayaan akan diutamakan berasal dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya (hasil efisiensi dan penghematan); dan 2. Pengeluaran pembiayaan diutamakan untuk penyertaan modal dan sisa lebih tahun berjalan sebagai potensi penerimaan tahun berikutnya. BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-134
197 Contents BAB 3. akuntabilitas kinerja tahun Pengukuran Capaian Kinerja Tahun Metodologi pengukuran pencapaian kinerja Analisis Pencapaian sasaran dan pengukuran kinerja SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-135
198 SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN AKUNTABILITAS KEUANGAN PENGELOLAAN PENDAPATAN DAERAH Intensifikasi dan Ekstensifikasi Pendapatan Daerah Target dan Realisasi Pendapatan Daerah Permasalahan dan Solusi PENGELOLAAN BELANJA DAERAH Kebijakan Umum Keuangan Daerah Target dan Realisasi Belanja Daerah Permasalahan dan Solusi PEMBIAYAAN DAERAH Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan Permasalahan dan Solusi BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-136
199 Tabel 3.1. Capaian Kinerja Pemerintah Kota Tangerang Tahun Tabel 3.2. Ketercapaian Indikator Sasaran Terhadap Target Tahun Tabel 3.3. Evaluasi Pencapaian Sasaran Tabel 3.4. Perkembangan Tingkat Kelengkapan Dokumen Utama Perencanaan Tahun Error! Bookmark not defined. Tabel 3.5. Perkembangan Tingkat Kelengkapan Dokumen Utama Pengendalian dan Evaluasi Tahun Error! Bookmark not defined. Tabel 3.6. Target dan Realisasi Tingkat ketersediaan data/informasi pendukung perencanaan pembangunan daerah Tahun Error! Bookmark not defined. Tabel 3.7. Perkembangan Tingkat Keterwakilan Masyarakat dalam Musrenbang Kecamatan dan Kelurahan Tahun Error! Bookmark not defined. Tabel 3.8. Evaluasi Pencapaian Sasaran Tabel 3.9. Evaluasi Pencapaian Sasaran Tabel Bookmark not defined. Tingkat kenaikan Penerimaan Pendapatan Daerah Tahun Error! Tabel Evaluasi Pencapaian Sasaran Tabel Evaluasi Pencapaian Sasaran Tabel Evaluasi Pencapaian Sasaran Tabel Evaluasi Pencapaian Sasaran Tabel Evaluasi Pencapaian Sasaran Tabel Evaluasi Pencapaian Sasaran Tabel Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Tangerang Tahun Error! Bookmark not defined. Tabel Evaluasi Pencapaian Sasaran Tabel Evaluasi Pencapaian Sasaran Tabel Evaluasi Pencapaian Sasaran Tabel Evaluasi Pencapaian Sasaran BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-137
200 Tabel Angka Harapan Hidup Kabupaten/Kota di Provinsi Banten, Tahun Error! Bookmark not defined. Tabel Evaluasi Pencapaian Sasaran Tabel Evaluasi Pencapaian Sasaran Tabel Evaluasi Pencapaian Sasaran Tabel Angka Melek Huruf Kabupaten/Kota di Provinsi Banten, Tahun Error! Bookmark not defined. Tabel Rata-rata Lama Sekolah Kabupaten/Kota di Provinsi Banten, Tahun Error! Bookmark not defined. Tabel Evaluasi Pencapaian Sasaran Tabel Evaluasi Pencapaian Sasaran Tabel Evaluasi Pencapaian Sasaran Tabel Evaluasi Pencapaian Sasaran Tabel Evaluasi Pencapaian Sasaran Tabel Rusunawa di Kota Tangerang... Error! Bookmark not defined. Tabel Evaluasi Pencapaian Sasaran Tabel Lokasi Kemacetan Di Kota Tangerang Pada Tahun Error! Bookmark not defined. Tabel Luas Tanah Yang Dibebaskan Tahun 2013Error! Bookmark not defined. Tabel Evaluasi Pencapaian Sasaran Tabel Evaluasi Pencapaian Sasaran Tabel Evaluasi Pencapaian Sasaran Tabel Data Penyebab Kebakaran pada Tahun 2013Error! Bookmark not defined. Tabel Tabel Tabel Bantuan Operasi Pemadaman KebakaranError! Bookmark not defined. Tingkat Waktu Tanggap per Kecamatan Error! Bookmark not defined. Tingkat Waktu Tanggap per Kecamatan Error! Bookmark not defined. BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-138
201 Tabel Pencapaian Rata-rata Sasaran Tahun Tabel Penilaian Capaian Sasaran Tahun Error! Bookmark not defined. Tabel Perkembangan Opini Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Provinsi Banten Tahun Anggaran Tabel Target dan Realisasi Keuangan Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 Error! Bookmark not defined. Tabel Perkembangan PAD dari TA 2005 s.d (dalam milyar rupiah) Error! Bookmark not defined. Tabel rupiah) Perkembangan Dana Perimbangan TA 2005 s.d (dalam milyar Error! Bookmark not defined. Tabel Rincian Anggaran dan Realisasi Belanja Tidak Langsung Tahun Anggaran Error! Bookmark not defined. Tabel Rincian Anggaran dan Realisasi Belanja Langsung Tahun Anggaran 2013 Error! Bookmark not defined. Gambar 3.1. Grafik Perkembangan Tingkat Kelengkapan Dokumen Utama Perencanaan Tahun Error! Bookmark not defined. Gambar 3.2. Perkembangan Tingkat Kelengkapan Dokumen Utama Pengendalian dan Evaluasi Tahun Error! Bookmark not defined. Gambar 3.3. Perkembangan Persentase Ketersediaan Data Perencanaan Tahun Error! Bookmark not defined. Gambar 3.4. Bookmark not defined. Grafik Tingkat Keterwakilan Masyarakat dalam Musrenbang...Error! Gambar 3.5. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Tangerang Tahun Error! Bookmark not defined. Gambar 3.6. Gambar 3.7. Peta Lokasi Banjir... Error! Bookmark not defined. Perkembangan PAD Kota Tangerang... Error! Bookmark not defined. Gambar 3.8. Bookmark not defined. Grafik Perkembangan Dana Perimbangan Kota Tangerang...Error! BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-139
202 Gambar 3.9. Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Proporsi Alokasi Anggaran Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung terhadap Belanja Daerah Tahun Anggaran 2013Error! Bookmark not defined. Gambar Bookmark not defined. Proporsi Anggaran Belanja Langsung Tahun Anggaran Error! BAB III Akuntabilitas Kinerja 3-140
203 BAB 4. PENUTUP Sebagai bagian penutup dari Laporan Kinerja Pemerintah, dapat disimpulkan bahwa secara umum Pemerintah Kota Tangerang telah memperlihatkan pencapaian kinerja yang signifikan atas sasaran-sasaran strategisnya. EmpatPuluhTujuh (47) sasaran sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Tangerang Tahun sebagian besar telah dapat direalisasikan dengan baik. Keberhasilan pencapaian sasaran pada Tahun 2014 pada hakekatnya karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia Allah SWT., dan syariatnya hasil kerja sama yang baik dari seluruh lapisan masyarakat Kota Tangerang. Penyelenggaraan pemerintahan yang baik, pada hakikatnya adalah proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan publik berdasarkan prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, partisipatif, adanya kepastian hukum, kesetaraan, efektif dan efisien. Prinsip-prinsip penyelenggaraan pemerintahan demikian merupakan landasan bagi penerapan kebijakan yang demokratis di era globalisasi, yang ditandai dengan menguatnya kontrol dari masyarakat terhadap kinerja pelayanan publik. Sebagai bukti keberhasilan pelaksanaan pembangunan selama Tahun 2014, Pemerintah Kota Tangerang telah berhasil memperoleh berbagai penghargaan dari berbagai kalangan dalam penyelenggaraan Pemerintahan di daerah, yaitu: BIDANG PELAYANAN PUBLIK DAN PEMERINTAHAN. 1. Piagam Penghargaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) dari Kementrian PAN dan RB Republik Indonesia Tahun 2014, diberikan pada 08 Desember 2014; 2. Penghargaan Indonesia Road Safety award (IRSA) sebagai Kota Metropolitan Yang berkomitmen Mendukung Keselamatan Berkendara, diberikan 26 November 2014; 3. Penghargaan sebagai Badan Publik Pengelola Informasi Dan Dokumentasi (PPID) terbaik III tingkat Provinsi Banten, diberikan 25 November 2014; 4. Penghargaan E-Procurement Nasional 2014 Kategori Akselerasi Penerapan E- Procurement dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah BAB IV Penutup 4-1
204 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 (LKPP),diberikan 18 November 2014; 5. PenghargaanAsean Environmentally Sustainable City (ESC) Award kategori Udara Bersih Tingkat Asean, diberikan 30 Oktober 2014; 6. Penghargaan Samkarya nugraha Parasamya Purnakarya Nugraha Tahun 2014 yang telah berhasil menerapkan Prinsip-prinsip Otonomi Daerah ( Otda) terutama usaha mensejahterakan Masyarakat dari Kemendagri Tahun 2014, diberikan pada 25 April 2014; 7. Penghargaan Wahana Tata Nugrahaka Lintas Kota Metropolitan dari Kementrian Perhubungan RI, diberikan pada 10 September 2014; 8. Penghargaan Akuntabilitas Kinerja Dan Pelayanan Publik dari Kemen PAN dan RB, diberikan pada 28 Januari BIDANG LINGKUNGAN HIDUP. 1. Penghargaan Government Award dari Sindo Weekly 2014 karena kepedulian Kota Tangerang terhadap Lingkungan; 2. Penghargaan Adipura Kencana 2014 sebagai Kota Metropolitan Terbersih Nasional. BIDANG PENGELOLAAN KEUANGAN DAN PAJAK 1. Piagam penghargaan dari Kementrian Keuangan RI atas (Laporan Keuangan Pemerintah daerah (LKPD) Kota Tangerang Tahun 2013 yang mendapatkan WTP untuk ketujuh (7) kalinya dari BPK RI, diberikan pada 12 September Namun demikian disadari bahwa selama Tahun 2014 masih ditemui berbagai permasalahan dan kendala yang belum terselesaikan dengan baik seperti banjirpengangguran, penataan PKL, penciptaan lapangan kerja, penanganan kemiskinan, pengelolaan lingkungan hidup, penataan ruang dan pendidikan yang murah/terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat Kota Tangerang. Sekaitan dengan hal tersebut, Pemerintah Kota Tangerang, dari waktu ke waktu senantiasa melakukan berbagai langkah untuk terus memperbaiki kinerja pelayanan publik, baik melalui reformasi/perubahan pada tataran birokrasi, perbaikan sistem pengalokasian anggaran, maupun penyempurnaan pada organisasi perangkat daerah. Akhir kata, secara umum dapat disimpulkan bahwa pencapaian target terhadap beberapa indikator yang dicantumkan dalam RPJMD Revisi Kota Tangerang Tahun khususnya untuk Tahun Anggaran 2014 sebagaimana dituangkan dalam Peraturan BAB IV Penutup 4-2
205 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 Walikota Tangerang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Walikota Nomor 15 Tahun 2013 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2014, dapat dipenuhi sesuai dengan harapan. Jika terdapat indikator sasaran maupun pencapaian IPM yang belum memenuhi target yang ditetapkan, kami akui semata-mata merupakan kelemahan dan ketidaksempurnaan sebagai manusia, karena disadari kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT., namun demikian segala kekurangan dan ketidaksempurnaan tentunya harus menjadi motivasi untuk lebih baik lagi di masa yang akan datang. BAB IV Penutup 4-3
206 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2013 Contents BAB 4. PENUTUP BAB IV Penutup 4-4
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
WALIKOTA TANGERANG K A T A P E N G A N T A R Assalamu alaikum Wr. Wb. Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, Alhamdulillah Pemerintah Kota Tangerang dapat menyusun Laporan Kinerja Instansi
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
P E M E R I N T A H K O T A T A N G E R A N G Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (ILPPD) Akhir Masa Jabatan Walikota Tangerang Tahun 2013 I. Latar Belakang: Undang-Undang Nomor 32 Tahun
KATA PENGANTAR. Cibinong, Maret Bupati Bogor, Hj. NURHAYANTI LAPORAN KINERJA PEMERINTAH (LAKIP) KABUPATEN BOGOR
KATA PENGANTAR Alhamdulillah, segala puji dan syukur senantiasa kita panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan hidayah-nya, maka Laporan Kinerja Pemerintah Kabupaten Bogor Tahun 2015 dapat
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
WALIKOTA TANGERANG Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (ILPPD) Kota Tangerang Tahun 2012 Undang-Undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, telah memberikan kewenangan kepada
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat bertambah sehingga akan meningkatkan kemakmuran masyarakat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pertumbuhan ekonomi merupakan perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah sehingga akan
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
P E M E R I N T A H K O T A T A N G E R A N G Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (ILPPD) Kota Tangerang Tahun 2015 I. Latar Belakang: Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
A. Gambaran Umum Daerah
Pemerintah Kota Bandung BAB I PENDAHULUAN A. Gambaran Umum Daerah K ota Bandung terletak di wilayah Jawa Barat dan merupakan Ibukota Propinsi Jawa Barat, terletak di antara 107º Bujur Timur dan 6,55 º
KATA PENGANTAR. Cibinong, Maret 2015 Bupati Bogor, Hj. NURHAYANTI
KATA PENGANTAR Alhamdulillah, segala puji dan syukur senantiasa kita panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan hidayah-nya, maka Laporan Kinerja Pemerintah Kabupaten Bogor Tahun 2014 dapat
BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT ATA 2014 I - 1
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyampaian laporan keterangan pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD merupakan amanah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... Halaman PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA SURAKARTA TAHUN 2016-2021... 1 BAB I PENDAHULUAN...
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
PENGANTAR LAPORAN KETERANGAN PERTANGGUNGJAWABAN WALIKOTA TANGERANG TAHUN 2008 KOTA TANGERANG 2009 D a f t a r I s i i DAFTAR ISI Daftar Isi... i Daftar tabel... iii Daftar Gambar... x Daftar Grafik...
BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM A. Gambaran Umum Daerah 1. Kondisi Geografis Daerah 2. Kondisi Demografi
BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM Perkembangan Sejarah menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan Provinsi yang pertama dibentuk di wilayah Indonesia (staatblad Nomor : 378). Provinsi Jawa Barat dibentuk
PEMERINTAH KOTA SORONG PENDAHULUAN BAB I. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyelenggaraan pemerintahan berdasarkan prinsip-prinsip good governance disadari merupakan prasyarat bagi setiap pemerintahan untuk mewujudkan aspirasi utama dan tuntutan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dokumen MPS yang disusun oleh Pokja Sanitasi Kota Tangerang ini merupakan tindak lanjut dari penyusunan Strategi Sanitasi Kota (SSK) dan penyusunan Buku Putih Sanitasi
DAFTAR ISI. Halaman. X-ii. RPJMD Kabupaten Ciamis Tahun
DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR GRAFIK... xiii BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-5
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum Dasar hukum penyusunan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2016, adalah sebagai berikut: 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1950 tentang
KATA PENGANTAR. Cibinong, Maret 2014 Bupati Bogor, RACHMAT YASIN
KATA PENGANTAR Alhamdulillah, segala puji dan syukur senantiasa kita panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan hidayah-nya, maka Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1 Visi Visi merupakan cara pandang ke depan tentang kemana Pemerintah Kabupaten Belitung akan dibawa, diarahkan dan apa yang diinginkan untuk dicapai dalam kurun
I-1 BAB I PENDAHULUAN. I. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) kepada Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ)
DINAMIKA PEREKONOMIAN LAMPUNG
IV. DINAMIKA PEREKONOMIAN LAMPUNG 4.1. Provinsi Lampung 4.1.1. Gambaran Umum Provinsi Lampung meliputi wilayah seluas 35.288,35 kilometer persegi, membentang di ujung selatan pulau Sumatera, termasuk pulau-pulau
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KOTA TANGERANG SELATAN
Kata Pengantar... i Daftar Isi... ii Daftar Tabel... v Daftar Gambar... ix Daftar Isi BAB I Pendahuluan... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-4 1.3. Hubungan Antar Dokumen...
DAFTAR ISI. Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Gambar...
DAFTAR ISI Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Gambar... i iii vii BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum... I-2 1.3 Maksud dan Tujuan... I-4 1.4 Hubungan Antar Dokumen...
BAB I PENDAHULUAN. pada akhirnya melakukan perbaikan perbaikan untuk mencapai taraf hidup dan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu tujuan bangsa Indonesia yang diamanatkan dalam Pembukaan Undang-undang Dasar Republik Indonesia 1945 yaitu memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan
PEMERINTAH PROVINSI BANTEN
PEMERINTAH PROVINSI BANTEN INFORMASI LAPORAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH (ILPPD) PROVINSI BANTEN TAHUN 2013 I. Pendahuluan Berdasarkan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi
BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH
BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah menggambarkan kondisi dan analisis statistik Perekonomian Daerah, sebagai gambaran umum untuk situasi perekonomian Kota
LKIP. PEMERINTAH KOTA TANGERANG LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2016
LKIP LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2016 TAHUN 2017 Walikota Tangerang Assalamu alaikum Wr. Wb. KATA PENGANTAR Dengan syukur Alhamdulillahi Robbil Alamiin, kita panjatkan kehadirat Allah SWT,
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
31 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Gambaran Geografis Wilayah Secara astronomis, wilayah Provinsi Banten terletak pada 507 50-701 1 Lintang Selatan dan 10501 11-10607 12 Bujur Timur, dengan luas wilayah
BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT TAHUN 2015 I - 1
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 69 mengamanatkan Kepala Daerah untuk menyampaikan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban
1. Seluruh Komponen Pelaku Pembangunan dalam rangka Penyelenggaraan Tugas Umum Pemerintahan Penyelenggaraan Tugas Pembangunan Daerah
PAPARAN MUSYAWARAH RENCANA PEMBANGUNAN RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KOTA BEKASI TAHUN 2014 Bekasi, 18 Maret 2013 BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KOTA BEKASI PENDAHULUAN RENCANA KERJA PEMERINTAH
BAB I PENDAHULUAN. pemerintahan yang berdayaguna, berhasil guna, bersih dan. bertanggungjawab, telah diterbitkan Peraturan Presiden Nomor 29
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam rangka meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang berdayaguna, berhasil guna, bersih dan bertanggungjawab, telah diterbitkan Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun
BAB I PENDAHULUAN. A. Pandangan Umum
BAB I PENDAHULUAN A. Pandangan Umum Konsep dasar akuntabilitas didasarkan pada klasifikasi responsibilitas manajerial pada tiap tingkatan dalam organisasi yang bertujuan untuk pelaksanaan kegiatan pada
I. PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang penting dalam
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang penting dalam melakukan analisis tentang pembangunan ekonomi yang terjadi pada suatu negara ataupun daerah. Pertumbuhan
Pemanfaatan DATA Statistik Dalam Perencanaan Pembangunan Daerah
BADAN PUSAT STATISTIK Kabupaten Bandung Pemanfaatan DATA Statistik Dalam Perencanaan Pembangunan Daerah Soreang, 1 Oktober 2015 Ir. R. Basworo Wahyu Utomo Kepala BPS Kabupaten Bandung Data adalah informasi
BAB I KONDISI MAKRO PEMBANGUNAN JAWA BARAT
BAB I KONDISI MAKRO PEMBANGUNAN JAWA BARAT 1.1. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) beserta Komponennya Angka Partisipasi Kasar (APK) SLTP meningkat di tahun 2013 sebesar 1.30 persen dibandingkan pada tahun
BAB I. Bogor. Kota. Laporan. Pemerintah. daerah mengerahkann. Karena. tata kelola. banyak kelebihbaikan. pemerintahan. masyarakat. yang.
BAB I Pendahuluan A. LATAR BELAKANG Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme telah secara tegas mengamanatkan tata kelola
LAPORAN KINERJA PEMERINTAH KABUPATEN LUMAJANG TAHUN 2014
BAB I P E N D A H U L U A N 1.1. LATAR BELAKANG Sesuai dengan amanat Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor: XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan
BAB I PENDAHULUAN. suatu perhatian khusus terhadap pembangunan ekonomi. Perekonomian suatu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam memperkuat suatu perekonomian agar dapat berkelanjutan perlu adanya suatu perhatian khusus terhadap pembangunan ekonomi. Perekonomian suatu negara sangat
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH 2014
DAFTAR ISI BAB I. PENDAHULUAN... 1 I.I. Latar Belakang... 1 I.2. Dasar Hukum Penyusunan... 3 I.3. Hubungan Antar Dokumen... 4 I.4. Sistematika Dokumen RKPD... 6 I.5. Maksud dan Tujuan... 7 BAB II. EVALUASI
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terselenggaranya good governance merupakan prasyarat bagi setiap pemerintahan untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dan tuntutan masyarakat dalam rangka mencapai tujuan
BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH
BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 3.1. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah Berdasarkan strategi dan arah kebijakan pembangunan ekonomi Kabupaten Polewali Mandar dalam Rencana
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terselenggaranya good governance merupakan prasyarat bagi setiap pemerintahan untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dan mencapai tujuan serta cita- cita bangsa bernegara
Rencana Kerja P emerintah Daerah Kabupaten Barru Tahun 2015 DAFTAR ISI
Rencana Kerja P emerintah Daerah Kabupaten Barru Tahun 2015 DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... 3 1.3 Hubungan Antar Dokumen Perencanaan... 5 1.4 Sistematika
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terselenggaranya good governance merupakan prasyarat bagi setiap pemerintahan untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dan mencapai tujuan serta cita- cita bangsa bernegara
BAB I PENDAHULUAN. perkapita sebuah negara meningkat untuk periode jangka panjang dengan syarat, jumlah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan ekonomi adalah proses yang dapat menyebabkan pendapatan perkapita sebuah
BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH
BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 3.1 Arah Kebijakan Ekonomi Daerah Kebijakan pembangunan ekonomi Kabupaten Cianjur tahun 2013 tidak terlepas dari arah kebijakan ekonomi
BAB II JAWA BARAT DALAM KONSTELASI NASIONAL
BAB II JAWA BARAT DALAM KONSTELASI NASIONAL 2.1 Indeks Pembangunan Manusia beserta Komponennya Indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM; Human Development Index) merupakan salah satu indikator untuk mengukur
LKPJ AKHIR MASA JABATAN BUPATI JOMBANG I BAB
LKPJ AKHIR MASA JABATAN BUPATI JOMBANG 2009-203 I BAB I LKPJ AKHIR MASA JABATAN BUPATI JOMBANG 2009-203 A. DASAR HUKUM Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Akhir Masa Jabatan Bupati dimaksudkan
Rencana Kerja Tahunan Kecamatan Rancasari Tahun
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Terselenggaranya good governance merupakan prasyarat bagi setiap pemerintahan untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dan mencapai tujuan serta cita- cita bangsa bernegara
PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK UTARA KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Lombok Utara tentang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Posisi manusia selalu menjadi tema sentral dalam setiap program
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Posisi manusia selalu menjadi tema sentral dalam setiap program pencapaian pembangunan. Dalam skala internasional dikenal tujuan pembangunan milenium (Millenium
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Isi pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 diantaranya menyatakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Isi pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 diantaranya menyatakan bahwa salah satu tujuan negara Indonesia adalah untuk memajukan kesejahteraan umum. Hal ini tidak terlepas
RANCANGAN RPJMD PROVINSI BANTEN TAHUN
PROVINSI BANTEN TAHUN 2017-2022 Disampaikan Oleh : Dr. H. WAHIDIN HALIM, M.Si. GUBERNUR BANTEN Serang, 20 JUNI 2017 1 KONDISI EKSISTING 2 CAPAIAN INDIKATOR MAKRO CAPAIAN IPM CAPAIAN LPE 2014 2015 2016
IV. KONDISI UMUM WILAYAH
29 IV. KONDISI UMUM WILAYAH 4.1 Kondisi Geografis dan Administrasi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 50-7 50 LS dan 104 48-104 48 BT dengan batas-batas wilayah sebelah utara berbatasan dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keputusan politik pemberlakuan otonomi daerah yang dimulai sejak tanggal 1 Januari 2001, telah membawa implikasi yang luas dan serius. Otonomi daerah merupakan fenomena
BUPATI LAMANDAU, Ir. MARUKAN
KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Lamandau tentang Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Tahun Anggaran 2013 dapat
Halaman Tulisan Jurnal (Judul dan Abstraksi)
Halaman Tulisan Jurnal (Judul dan Abstraksi) Jurnal Paradigma Ekonomika Vol.1, No.7 April 2013 ANALISIS INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT PERIODE 2007-2011 H. Syamsuddin. HM ABSTRACT
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Otonomi daerah merupakan salah satu kebijakan pengembangan wilayah yang mencoba merubah sistem sentralistik menjadi desentralistik. Melalui kebijakan ini, diharapkan
BAB III OBJEK DAN METODOLOGI PENELITIAN
BAB III OBJEK DAN METODOLOGI PENELITIAN III.1. Objek Penelitian III.1.1. Gambaran Umum Kota Tangerang III.1.1.1. Proses Terbentuknya Kota Tangerang Pembangunan kota administratif Tangerang secara makro
BAB I PENDAHULUAN. bukan lagi terbatas pada aspek perdagangan dan keuangan, tetapi meluas keaspek
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Globalisasi ekonomi merupakan dunia kegiatan dan keterkaitan perekonomian. Kegiatan-kegiatan perekonomian tidak lagi sekedar nasional tapi bahkan internasional, bukan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan, yang dilakukan setiap negara ataupun wilayah-wilayah administrasi dibawahnya, sejatinya membutuhkan pertumbuhan, pemerataan dan keberlanjutan. Keberhasilan
RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KOTA PAGAR ALAM TAHUN 2018
RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KOTA PAGAR ALAM TAHUN 2018 PEMERINTAH KOTA PAGAR ALAM TAHUN 2017 KATA PENGANTAR Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Pagar Alam Tahun 2018 disusun dengan mengacu
PEMERINTAH KOTA BANDUNG DINAS KOPERASI UKM DAN PERINDUSTRIAN PERDAGANGAN
KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena rahmat dan hidayah- Nya kami dapat menyusun Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Tahun 2016 Dinas Koperasi UKM dan Perindag Kota Bandung Tahun
BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH
BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH Kerangka ekonomi makro daerah akan memberikan gambaran mengenai kemajuan ekonomi yang telah dicapai pada tahun 2010 dan perkiraan tahun
KATA PENGANTAR. Kota Mungkid, 25 Maret a.n. BUPATI MAGELANG WAKIL BUPATI MAGELANG H.M. ZAENAL ARIFIN, SH.
KATA PENGANTAR Syukur alhamdulillah kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan hidayahnya, sehingga Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Kabupaten Magelang Tahun 2014 dapat diselesaikan tepat waktu. Laporan
BAB I PENDAHULUAN I - 1 A. VISI DAN MISI II - 3 B. STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN DAERAH II - 5 C. PRIORITAS PEMBANGUNAN DAERAH II - 13
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR HAL i iv vi vii BAB I PENDAHULUAN I - 1 1.1 DASAR HUKUM I - 4 1.2 GAMBARAN UMUM DAERAH I - 3 1. Kondisi Geografis Daerah I - 5 2. Batas Administrasi
BAB II PERENCANAAN KINERJA
6 BAB II PERENCANAAN KINERJA Laporan Kinerja Kabupaten Purbalingga Tahun mengacu pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk
BAB IV KONDISI SOSIAL EKONOMI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
BAB IV KONDISI SOSIAL EKONOMI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Pertumbuhan Ekonomi, Pendapatan Per Kapita dan Struktur Ekonomi Tingkat pertumbuhan ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam lima tahun terakhir
RINGKASAN EKSEKUTIF BUKU INDIKATOR MAKRO PEMBANGUNAN EKONOMI KABUPATEN BEKASI 2012
RINGKASAN EKSEKUTIF BUKU INDIKATOR MAKRO PEMBANGUNAN EKONOMI KABUPATEN BEKASI 1 Halaman Daftar Isi Daftar Isi... 2 Kata Pengantar... 3 Indikator Makro Pembangunan Ekonomi... 4 Laju Pertumbuhan Penduduk...
Sebagai sebuah instansi sektor publik, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah
BAB. 3 AKUNTABILITAS KINERJA A. PENGUATAN IMPLEMENTASI SAKIP PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH Sebagai sebuah instansi sektor publik, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mempunyai rencana strategis
PROVINSI SULAWESI SELATAN
PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN BUPATI BARRU NOMOR 74 TAHUN 2016 TENTANG INDIKATOR KINERJA UTAMA PEMERINTAH KABUPATEN BARRU TAHUN 2016-2021 BUPATI BARRU, Menimbang: a. bahwa berdasarkan ketentuan dalam
I. PENDAHULUAN. Kemajuan dan perkembangan ekonomi Kota Bandar Lampung menunjukkan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Kemajuan dan perkembangan ekonomi Kota Bandar Lampung menunjukkan trend ke arah zona ekonomi sebagai kota metropolitan, kondisi ini adalah sebagai wujud dari
I. PENDAHULUAN. perubahan dengan tujuan utama memperbaiki dan meningkatkan taraf hidup
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan merupakan upaya yang sudah direncanakan dalam melakukan suatu perubahan dengan tujuan utama memperbaiki dan meningkatkan taraf hidup masyarakat, meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN. Renstra BPM, KB dan Ketahanan Pangan Kota Madiun I - 1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rencana Strategis (Renstra) Badan Pemberdayaan Masyarakat, Keluarga Berencana dan Ketahanan Pangan Kota Madiun merupakan dokumen perencanaan strategis untuk memberikan
DAFTAR ISI. BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH... II Aspek Geografi Dan Demografi... II-2
DAFTAR ISI DAFTAR ISI Hal DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... xix BAB I. PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-4 1.3. Hubungan Antar Dokumen RPJMD
WALIKOTA BIMA PERATURAN WALIKOTA BIMA NOMOR 10 TAHUN 2015 TENTANG INDIKATOR KINERJA UTAMA PEMERINTAH KOTA BIMA TAHUN
WALIKOTA BIMA PERATURAN WALIKOTA BIMA NOMOR 10 TAHUN 2015 TENTANG INDIKATOR KINERJA UTAMA PEMERINTAH KOTA BIMA TAHUN 2014-2018 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BIMA, Menimbang : a. bahwa Indikator
DAFTAR ISI DAFTAR ISI...
DAFTAR ISI DAFTAR ISI... i BAB I. PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-2 1.3 Hubungan RPJMD dengan Dokumen Perencanaan Lain... I-4 1.4 Sistematika Penulisan... I-5
4 GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR
44 Keterbatasan Kajian Penelitian PKL di suatu perkotaan sangat kompleks karena melibatkan banyak stakeholder, membutuhkan banyak biaya, waktu dan tenaga. Dengan demikian, penelitian ini memiliki beberapa
APBD KOTA YOGYAKARTA TAHUN ANGGARAN 2018
APBD KOTA YOGYAKARTA TAHUN ANGGARAN 2018 1. Tema pembangunan tahun 2018 : Meningkatnya Pelayanan Publik yang Berkualitas Menuju Kota Yogyakarta yang Mandiri dan Sejahtera Berlandaskan Semangat Segoro Amarto.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah Kabupaten Gunungkidul Tahun 2014 KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR Atas rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah dapat diselesaikan untuk memenuhi ketentuan Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas
I. PENDAHULUAN. Pembangunan merupakan serangkaian kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan dan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Pembangunan merupakan serangkaian kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat melalui beberapa proses dan salah satunya adalah dengan
BAB VII P E N U T U P
BAB VII P E N U T U P Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Akhir Tahun 2012 diharapkan dapat memberikan gambaran tentang berbagai capaian kinerja, baik makro maupun mikro dalam penyelenggaraan
BAB II KERANGKA EKONOMI DAERAH
Nilai (Rp) BAB II KERANGKA EKONOMI DAERAH Penyusunan kerangka ekonomi daerah dalam RKPD ditujukan untuk memberikan gambaran kondisi perekonomian daerah Kabupaten Lebak pada tahun 2006, perkiraan kondisi
BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH BESERTA KERANGKA PENDANAAN
BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH BESERTA KERANGKA PENDANAAN 3.1 Arah Kebijakan Ekonomi Daerah 3.1.1 Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2011 dan Perkiraan Tahun 2012 Kerangka Ekonomi Daerah dan Pembiayaan
BAB I PENDAHULUAN. Halaman 1
BAB I PENDAHULUAN Terselenggaranya good governance merupakan prasyarat bagi setiap pemerintahan untuk mewujudkan aspirasi dan tuntutan masyarakat dalam rangka mencapai tujuan dan cita-cita bangsa dan negara.
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, semakin membuka kesempatan yang cukup luas bagi daerah untuk mewujudkan otonomi daerah yang nyata dan bertanggung jawab,
PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang
PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Otonomi daerah yang disahkan melalui Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah
BAB I PENDAHULUAN. mewujudkan kemakmuran masyarakat yaitu melalui pengembangan. masalah sosial kemasyarakatan seperti pengangguran dan kemiskinan.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan merupakan suatu proses yang terintegrasi dan komprehensif dari perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian yang tidak terpisahkan. Di samping mengandalkan
D A F T A R I S I Halaman
D A F T A R I S I Halaman B A B I PENDAHULUAN I-1 1.1 Latar Belakang I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan I-2 1.3 Hubungan RPJM dengan Dokumen Perencanaan Lainnya I-3 1.4 Sistematika Penulisan I-7 1.5 Maksud
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... Halaman BAB I. PENDAHULUAN... I-1 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-3 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG LAPORAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH KEPADA PEMERINTAH, LAPORAN KETERANGAN PERTANGGUNGJAWABAN KEPALA DAERAH KEPADA DEWAN PERWAKILAN
VISI PAPUA TAHUN
ISU-ISU STRATEGIS PEMBANGUNAN PROVINSI PAPUA TAHUN 2013-2018 ototus Oleh : DR.Drs. MUHAMMAD MUSAAD, M.Si KEPALA BAPPEDA PROVINSI PAPUA Jayapura, 11 Maret 2014 VISI PAPUA TAHUN 2013-2018 PAPUA BANGKIT PRINSIP
