PT MODERN PHOTO Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

dokumen-dokumen yang mirip
PT Modern Photo Tbk Dan Anak Perusahaan

Neraca Konsolidasi 1. Laporan Laba Rugi Konsolidasi 2. Laporan Perubahan Ekuitas Konsolidasi 3. Laporan Arus Kas Konsolidasi 4

PT. INTANWIJAYA INTERNASIONAL, Tbk. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN 31 MARET 2009 DAN 2008

PT SIANTAR TOP Tbk LAPORAN KEUANGAN UNTUK ENAM BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 30 JUNI 2007 DAN 2006 (TIDAK DIAUDIT)

PT. PRIMARINDO ASIA INFRASTRUCTURE, Tbk. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Per 30 Juni 2010 dan 2009

BAB III GAMBARAN UMUM ATAS PT MMS. Sejarah Singkat dan Perkembangan Perusahaan

PT WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

PT. AKBAR INDO MAKMUR STIMEC Tbk

PT. AKBAR INDO MAKMUR STIMEC Tbk CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2009 dan 2008

Catatan 31 Maret Maret 2010

PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 30 JUNI 2010 DAN 2009 (MATA UANG INDONESIA)

JUMLAH AKTIVA

P.T. SURYA SEMESTA INTERNUSA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR 30 JUNI 2008 DAN 2007

PT SIANTAR TOP Tbk. LAPORAN KEUANGAN INTERIM UNTUK TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 30 JUNI 2009 DAN 2008 (TIDAK DIAUDIT)

LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI PT INDO EVERGREEN. UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2011 dan 2010

PT RAMAYANA LESTARI SENTOSA Tbk

BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. pada tanggal 16 Januari 1985 berdasarkan akta notaris Ridwan Suselo, S.H., No. 27.

PT DANASUPRA ERAPACIFIC Tbk. LAPORAN KEUANGAN 31 MARET 2012 DAN 2011

1,111,984, ,724,096 Persediaan 12 8,546,596, f, ,137, ,402,286 2h, 9 3,134,250,000 24,564,101,900

PT SURYA TOTO INDONESIA Tbk. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN 30 Juni 2010 dan 2009 ( Dalam Rupiah )

PT ASTRA GRAPHIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN. Catatan 2009*) Kas dan setara kas 2d,

AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 2c,2e,4, Penyertaan sementara 2c,2f,

PT MUSTIKA RATU Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

MEMBACA LAPORAN KEUANGAN

PT ASTRA GRAPHIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN. Catatan 2009*) Kas dan setara kas 2d,

PT ANEKA KEMASINDO UTAMA Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 30 SEPTEMBER 2009 DENGAN ANGKA PERBANDINGAN TAHUN 2008 (MATA UANG INDONESIA)

PT RAMAYANA LESTARI SENTOSA Tbk

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

PT Selamat Sempurna Tbk. Dan Anak Perusahaan

PT LIPPO SECURITIES Tbk DAN PERUSAHAAN ANAK LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (TIDAK DIAUDIT) UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR PADA 30 JUNI 2007 DAN 2006

PT JEMBO CABLE COMPANY Tbk NERACA 31 Desember 2003 dan 2002 (dalam Ribuan Rupiah, kecuali di nyatakan lain)

PT TEMPO SCAN PACIFIC Tbk. DAN ANAK PERUSAHAAN NERACA KONSOLIDASI 31 Maret 2010 dan 2009 (Dinyatakan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain)

PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 31 MARET 2011 DAN 2010 (MATA UANG INDONESIA)

Laporan Keuangan Periode Enam Bulan Yang Berakhir Pada Tanggal 30 Juni 2005 dan PT ADIRA DINAMIKA MULTI FINANCE Tbk.

PT RICKY PUTRA GLOBALINDO Tbk dan ANAK PERUSAHAAN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI. Pada tanggal 30 Maret 2012 dan 2011 (Tidak Diaudit)

PT ASTRA GRAPHIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

PT YANAPRIMA HASTAPERSADA Tbk

PT SARASA NUGRAHA Tbk NERACA Per 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Ribuan Rupiah, Kecuali Data Saham)

BAB IV. ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PT GUDANG GARAM Tbk. modal kerja yang paling tinggi tingkat likuiditasnya. Hal ini berarti bahwa

Daftar Isi. Neraca Laporan Laba Rugi Laporan Perubahan Ekuitas Laporan Arus Kas Catatan Atas Laporan Keuangan...

PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ENTITAS ANAK

BAB II LANDASAN TEORI. perusahaan yang mengajak orang lain untuk membeli barang dan jasa yang ditawarkan

BAB III METODOLOGI ANALISIS

PT Yanaprima Hastapersada Tbk. Laporan Keuangan (tidak diaudit) 30 Juni 2010 Dengan Angka Perbandingan Periode 2009 (Mata Uang Rupiah Indonesia)

PT SUPARMA Tbk LAPORAN KEUANGAN UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL - TANGGAL 31 DESEMBER 2006 DAN 2005 DAN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

PT ASTRA GRAPHIA Tbk

LAPORAN KEUANGAN UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL - TANGGAL 31 DESEMBER 2007 DAN 2006 DAN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

PT Bank Central Asia Tbk dan Anak Perusahaan

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

PT. INTI KAPUAS AROWANA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN. Laporan Auditor Independen

PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 30 SEPTEMBER 2011 DAN 30 SEPTEMBER 2010 (MATA UANG INDONESIA)

PT Wicaksana Overseas International Tbk Dan Anak Perusahaan

PT Yanaprima Hastapersada Tbk. Laporan Keuangan (tidak diaudit) 30 September 2010 Dengan Angka Perbandingan Periode 2009 (Mata Uang Rupiah Indonesia)

ANAK PERUSAHAAN NERACA KONSOLIDASI

PT AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, Tbk LAPORAN KEUANGAN

PT LIPPO SECURITIES Tbk DAN PERUSAHAAN ANAK

JUMLAH ASET LANCAR

Lampiran 1. Neraca Konsolidasi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk

PT ASTRA GRAPHIA Tbk

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk

PT Selamat Sempurna Tbk. Dan Anak Perusahaan

PT RAMAYANA LESTARI SENTOSA Tbk. NERACA 30 JUNI 2002 DAN 2001 ( Dalam Jutaan Rupiah, Kecuali Nilai Nominal per Saham ) KEWAJIBAN DAN EKUITAS

BADAN MEDIASI PEMBIAYAAN, PEGADAIAN DAN VENTURA INDONESIA (BMPPVI)

Susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010 adalah sebagai berikut: Tahun 2011 Tahun 2010

PEDOMAN PELAPORAN KEUANGAN PEMANFAATAN HUTAN PRODUKSI DAN PENGELOLAAN HUTAN (DOLAPKEU PHP2H)

Persediaan Uang muka pembelian mesin dan lainnya

PT PENYELENGGARA PROGRAM PERLINDUNGAN INVESTOR EFEK INDONESIA

PT Selamat Sempurna Tbk. Dan Anak Perusahaan

PT CLIPAN FINANCE INDONESIA Tbk. LAPORAN KEUANGAN PER 30 September 2007 (TIDAK DIAUDIT) dan 30 September 2006 (TIDAK DIAUDIT) Global Reports LLC

PT Selamat Sempurna Tbk. Dan Anak Perusahaan

PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian Untuk Tahun Yang Berakhir 31 Desember 2015 dan 2014 Beserta LAPORAN AUDITOR

30 Juni 31 Desember

PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian 30 September 2015 (Tidak Diaudit) dan 31 Desember 2014 (Diaudit) Serta Untuk

BAB III OBJEK PENELITIAN DAN METODE PENELITIAN. PT UG didirikan dengan akta notaris Abdul Latief, SH, No.104 tertanggal 29

Laporan Keuangan - Pada tanggal 31 Desember 2008 dan untuk periode sejak 8 April 2008 (tanggal efektif) sampai dengan 31 Desember 2008

KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL NOMOR KEP-06/PM/2000 TENTANG PERUBAHAN PERATURAN NOMOR VIII.G.7 TENTANG PEDOMAN PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN

PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian 31 Maret 2015 (Tidak Diaudit) dan 31 Desember 2014 (Diaudit) Serta Untuk

PT KABELINDO MURNI Tbk LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI


PT KARWELL INDONESIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

P.T. EKADHARMA INTERNATIONAL TBK. DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI

PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ENTITAS ANAK

Lihat Catatan atas Laporan Keuangan Konsolidasi yang merupakan Bagian yang tidak terpisahkan dari Laporan ini

PT ASTRA GRAPHIA Tbk

PT SUMMARECON AGUNG Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

PT Selamat Sempurna Tbk. Dan Anak Perusahaan

PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian Untuk Tahun Yang Berakhir 31 Desember 2014 dan 2013 Beserta LAPORAN AUDITOR

PT Selamat Sempurna Tbk. Dan Anak Perusahaan


Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian 1 3. Laporan Laba Rugi Komprehensif Konsolidasian 4-5. Laporan Perubahan Ekuitas Konsolidasian 6-7

PT SUPARMA Tbk LAPORAN KEUANGAN UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR PADA TANGGAL - TANGGAL 30 JUNI 2008 DAN Global Reports LLC

LAMPIRAN. Laporan Keuangan PT Astra Graphia Tbk

Neraca 1. Perhitungan Hasil Usaha 2. Laporan Perubahan Ekuitas 3. Laporan Arus Kas 4. Catatan Atas Laporan Keuangan 5

PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian 30 September 2014 (Tidak Diaudit) dan 31 Desember 2013 (Diaudit) Serta Untuk

PT GOLDEN RETAILINDO Tbk

Transkripsi:

Laporan Keuangan Konsolidasi Dengan Laporan Auditor Independen Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal PT MODERN PHOTO Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI DENGAN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL 31 DESEMBER 2003 DAN 2002 Daftar Isi Halaman Laporan Auditor Independen Neraca Konsolidasi... 1-3 Laporan Laba Rugi Konsolidasi... 4 Laporan Perubahan Ekuitas Konsolidasi... 5 Laporan Arus Kas Konsolidasi... 6-7 Catatan atas Laporan Keuangan Konsolidasi... 8-49 *********************

Laporan Auditor Independen Laporan No. RPC-2087 Pemegang Saham, Dewan Komisaris dan Direksi PT Modern Photo Tbk Kami telah mengaudit neraca konsolidasi PT Modern Photo Tbk dan Anak perusahaan tanggal, serta laporan laba rugi konsolidasi, laporan perubahan ekuitas konsolidasi dan laporan arus kas konsolidasi untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. Laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen Perusahaan. Tanggung jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan audit kami. Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa audit kami memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat. Menurut pendapat kami, laporan keuangan konsolidasi yang kami sebut di atas menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan PT Modern Photo Tbk dan Anak perusahaan tanggal 31 Desember 2003 and 2002, dan hasil usaha serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggaltanggal tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Seperti dijelaskan dalam Catatan 25 atas laporan keuangan konsolidasi, operasi Perusahaan dan Anak perusahaan telah terpengaruh, dan akan terus terpengaruh oleh kondisi ekonomi di Indonesia. Prasetio, Sarwoko & Sandjaja Indrajuwana Komala Widjaja NIAP 98.1.0511 19 April 2004

NERACA KONSOLIDASI Catatan AKTIVA AKTIVA LANCAR Kas dan bank 3 33.628.759.083 40.475.340.802 Wesel tagih - setelah dikurangi penyisihan kerugian sebesar Rp361.528.299 2c,4-13.655.000.000 Piutang usaha 2c,2d,5,6,13,16 Pihak ketiga - setelah dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu sebesar Rp4.433.770.667 pada tahun 2003 dan Rp2.641.715.096 pada tahun 2002 127.150.000.461 172.324.648.735 Pihak yang mempunyai hubungan istimewa 18.539.768 74.240.248 Piutang hubungan istimewa - setelah dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu sebesar Rp100.899.330 pada tahun 2003 2d,6 1.900.531.845 940.916.645 Piutang lain-lain - setelah dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu sebesar Rp126.534.904 2c 13.739.435.899 12.507.750.654 Persediaan 2e,7,13,16,22 344.269.710.095 346.025.712.585 Pajak pertambahan nilai dibayar di muka 9.262.995.765 5.124.208.497 Biaya dibayar di muka dan uang muka 2d,2f 27.013.935.742 18.928.360.256 Jumlah Aktiva Lancar 556.983.908.658 610.056.178.422 AKTIVA TIDAK LANCAR Aktiva pajak tangguhan - bersih 2n,15 37.690.065.614 48.312.403.802 Penyertaan saham 2b,8 455.827.168 1.712.068.721 Aktiva tetap - setelah dikurangi akumulasi penyusutan sebesar Rp377.178.271.185 pada tahun 2003 dan Rp322.399.940.234 pada tahun 2002 2g,9,13,16 284.183.749.096 232.384.963.081 Selisih lebih biaya perolehan penyertaan atas aktiva bersih Anak perusahaan - setelah dikurangi akumulasi amortisasi sebesar Rp28.056.741.578 pada tahun 2003 dan Rp25.310.429.048 pada tahun 2002 2i 22.955.474.865 25.701.787.395 Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi secara keseluruhan. 1

NERACA KONSOLIDASI (lanjutan) Catatan Uang muka pembelian persediaan, mesin dan peralatan 7,9 72.317.247.917 21.207.186.000 Taksiran tagihan pajak penghasilan 15 22.672.494.866 20.198.822.934 Beban ditangguhkan - bersih 2j,10 21.948.180.563 32.922.270.839 Dana pada bank beku operasi - pihak yang mempunyai hubungan istimewa - setelah dikurangi penyisihan kerugian sebesar Rp5.500.842.727 2c,2d,6,12,13 10.700.000.000 10.700.000.000 Setoran jaminan 3.396.417.335 1.943.998.703 Sewa dibayar di muka jangka panjang 2f 2.808.681.506 9.129.864.597 Pinjaman direksi dan karyawan 2d,6 1.083.642.237 1.500.275.451 Aktiva disewakan - pihak yang mempunyai hubungan istimewa - setelah dikurangi akumulasi penyusutan sebesar Rp1.805.947.415 pada tahun 2003 dan Rp1.725.896.204 pada tahun 2002 2b,2d,2k,6,9,11 604.973.601 685.024.812 Aktiva lain-lain 601.287.756 1.448.779.236 Jumlah Aktiva Tidak Lancar 481.418.042.524 407.847.445.571 JUMLAH AKTIVA 1.038.401.951.182 1.017.903.623.993 Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi secara keseluruhan. 2

NERACA KONSOLIDASI (lanjutan) KEWAJIBAN DAN EKUITAS KEWAJIBAN Catatan KEWAJIBAN LANCAR Hutang jangka pendek 2d,6,9,12,13,16 Pihak ketiga 152.779.446.137 102.533.155.928 Pihak yang mempunyai hubungan istimewa 10.700.000.000 10.700.000.000 Hutang usaha 2d,6,14 Pihak ketiga 210.984.892.954 275.063.595.894 Pihak yang mempunyai hubungan istimewa 3.381.120.215 1.819.895.547 Hutang hubungan istimewa 2d,6 600.000.000 792.173.790 Hutang lain-lain 11.052.479.540 15.243.617.153 Biaya masih harus dibayar 13.770.160.065 6.817.633.901 Hutang pajak 2n,15,26 12.576.936.585 9.963.059.731 Hutang jangka panjang jatuh tempo dalam satu tahun Bank 13,16 39.344.001.782 31.647.599.999 Sewa guna usaha 2g,9 257.752.725 1.073.778.875 Pembiayaan konsumen 9 93.229.968 - Jumlah Kewajiban Lancar 455.540.019.971 455.654.510.818 KEWAJIBAN TIDAK LANCAR Kewajiban pajak tangguhan - bersih 2n,15 806.794.081 1.482.866.543 Penyisihan kesejahteraan karyawan 2h,23 2.523.040.288 - Hutang jangka panjang - setelah dikurangi bagian jatuh tempo dalam satu tahun Bank 13,16 346.380.982.394 338.721.957.175 Sewa guna usaha 2g,9 136.229.864 246.674.217 Pembiayaan konsumen 9 163.911.228 - Jumlah hutang jangka panjang 346.681.123.486 338.968.631.392 Jumlah Kewajiban Tidak Lancar 350.010.957.855 340.451.497.935 Jumlah Kewajiban 805.550.977.826 796.106.008.753 EKUITAS Modal saham - nilai nominal Rp500 per saham Modal dasar - 400.000.000 saham Modal ditempatkan dan disetor penuh - 266.769.900 saham 17 133.384.950.000 133.384.950.000 Tambahan modal disetor - agio saham 10.260.385.000 10.260.385.000 Saldo laba Telah ditentukan untuk cadangan umum 5.000.000.000 5.000.000.000 Belum ditentukan penggunaannya 84.205.638.356 73.152.280.240 Jumlah Ekuitas 232.850.973.356 221.797.615.240 JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS 1.038.401.951.182 1.017.903.623.993 Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi secara keseluruhan. 3

LAPORAN LABA RUGI KONSOLIDASI Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal Catatan PENJUALAN BERSIH 2d,2l,6,18,21 1.694.243.122.266 1.856.933.843.332 BEBAN POKOK PENJUALAN 2d,2j,2l,6,10,19 1.374.515.677.544 1.619.987.218.640 LABA KOTOR 319.727.444.722 236.946.624.692 BEBAN USAHA 2d,2k,2l,6,15,20,21,23 Penjualan 155.018.065.730 145.906.466.518 Umum dan administrasi 134.978.807.124 116.257.316.786 Jumlah Beban Usaha 289.996.872.854 262.163.783.304 LABA (RUGI) USAHA 29.730.571.868 (25.217.158.612) PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN Laba selisih kurs - bersih 2m 33.350.044.806 91.322.997.638 Laba penjualan aktiva tetap 2g,9 1.755.752.721 602.283.333 Penghasilan sewa 2d,6,11 613.688.294 671.945.593 Penghasilan bunga 492.827.509 1.398.320.727 Beban bunga (33.682.658.722) (24.526.008.160) Royalti 22 (2.946.876.512) (2.688.425.151) Amortisasi selisih lebih biaya perolehan penyertaan atas aktiva bersih Anak perusahaan 2i,15 (2.746.312.530) (2.746.312.530) Penyisihan kerugian penyertaan saham 2b,8 (1.256.241.553) - Lain-lain - bersih 15 1.554.334.262 1.377.296.640 Jumlah Penghasilan (Beban) Lain-lain - Bersih (2.865.441.725) 65.412.098.090 LABA SEBELUM BEBAN PAJAK 26.865.130.143 40.194.939.478 BEBAN PAJAK 2n,15 Tahun berjalan 5.870.022.200 3.182.503.500 Tangguhan 9.941.749.827 14.046.439.637 Jumlah Beban Pajak - Bersih 15.811.772.027 17.228.943.137 LABA BERSIH 11.053.358.116 22.965.996.341 LABA BERSIH PER SAHAM DASAR 2o 41 86 Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi secara keseluruhan. 4

LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS KONSOLIDASI Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal Saldo Laba Telah Modal Ditentukan Ditempatkan Tambahan Modal Untuk Belum Dan Disetor Disetor - Agio Cadangan Ditentukan Penuh Saham Umum Penggunaannya Jumlah Ekuitas Saldo, 31 Desember 2001 133.384.950.000 10.260.385.000 5.000.000.000 50.186.283.899 198.831.618.899 Laba bersih tahun 2002 - - - 22.965.996.341 22.965.996.341 Saldo, 31 Desember 2002 133.384.950.000 10.260.385.000 5.000.000.000 73.152.280.240 221.797.615.240 Laba bersih tahun 2003 - - - 11.053.358.116 11.053.358.116 Saldo, 31 Desember 2003 133.384.950.000 10.260.385.000 5.000.000.000 84.205.638.356 232.850.973.356 Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi secara keseluruhan. 5

LAPORAN ARUS KAS KONSOLIDASI Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal Catatan ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI Penerimaan dari pelanggan 1.735.167.051.656 1.804.542.285.103 Pembayaran untuk/kepada: Pemasok (1.417.291.874.628) (1.459.216.426.753) Gaji, upah dan kesejahteraan karyawan (169.693.387.173) (158.865.848.991) Beban usaha (134.153.169.826) (114.733.702.197) Kas dihasilkan dari operasi 14.028.620.029 71.726.307.162 Penerimaan dari: Pajak 15 6.201.933.394 12.287.680.632 Bunga 492.827.509 1.398.320.727 Lain-lain 10.367.988.226 (12.500.451.087) Pembayaran untuk: Pajak (16.070.537.940) (27.937.657.730) Bunga (33.731.838.365) (23.969.216.911) Kas Bersih Diperoleh dari (Digunakan untuk) Aktivitas Operasi (18.711.007.147) 21.004.982.793 ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI Penurunan (kenaikan) wesel tagih 4 13.655.000.000 (13.655.000.000) Hasil penjualan aktiva tetap 9 3.020.837.023 869.639.806 Perolehan aktiva tetap 9 (89.674.359.229) (28.142.158.358) Kenaikan piutang hubungan istimewa (2.059.615.200) (484.318.739) Pembayaran aktivitas investasi lainnya (135.563.882) (379.921.441) Uang muka pembelian mesin dan peralatan 9 - (21.207.186.000) Kas Bersih Digunakan untuk Aktivitas Investasi (75.193.701.288) (62.998.944.732) ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN Perolehan hutang jangka pendek dan jangka panjang 339.654.350.403 315.406.100.432 Pembayaran hutang jangka pendek dan jangka panjang (251.375.720.590) (278.922.267.847) Pembayaran hutang sewa guna usaha (926.470.503) (1.370.926.602) Penurunan hutang hubungan istimewa 6 (192.173.790) (23.199.060) Pembayaran hutang pembiayaan konsumen (101.858.804) - Kas Bersih Diperoleh dari Aktivitas Pendanaan 87.058.126.716 35.089.706.923 Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi secara keseluruhan. 6

LAPORAN ARUS KAS KONSOLIDASI (lanjutan) Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal Catatan PENURUNAN BERSIH KAS DAN BANK (6.846.581.719) (6.904.255.016) KAS DAN BANK AWAL TAHUN 3 40.475.340.802 47.379.595.818 KAS DAN BANK AKHIR TAHUN 3 33.628.759.083 40.475.340.802 Aktivitas yang Tidak Mempengaruhi Arus Kas Perolehan aktiva melalui: Sewa guna usaha 9 360.000.000 293.000.000 Pembiayaan konsumen 359.000.000 - Reklasifikasi ke aktiva tetap dari: Uang muka pembelian mesin dan peralatan 9 21.207.186.000 2.970.916.819 Aktiva tidak digunakan dalam operasi 9 707.458.618 - Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi secara keseluruhan. 7

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI 1. UMUM a. Pendirian Perusahaan PT Modern Photo Tbk (Perusahaan) didirikan pada tanggal 12 Mei 1971 berdasarkan Akta Notaris Djojo Muljadi, S.H. No. 47. Akta pendirian ini disahkan oleh Menteri Kehakiman dalam Surat Keputusan No. Y.A.5/205/2 tanggal 23 Agustus 1972 serta diumumkan dalam Berita Negara No. 99 tanggal 12 Desember 1972. Anggaran dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan Akta Notaris Budiarti Karnadi, S.H. No. 48 tanggal 26 Mei 1997, mengenai perubahan seluruh Anggaran Dasar Perusahaan, termasuk perubahan nama Perusahaan dari PT Modern Photo Film Company menjadi PT Modern Photo Tbk dan perubahan nilai nominal saham dari Rp1.000 per saham menjadi Rp500 per saham. Perubahan ini telah disetujui oleh Menteri Kehakiman dengan Surat Keputusan No. C2-7307 HT.01.04.Th.97 tanggal 29 Juli 1997. Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan meliputi usaha-usaha di bidang perdagangan dan perindustrian, khususnya di bidang industri colour processing, bahan-bahan fotografi, alat-alat percetakan dan perdagangan pada umumnya. Perusahaan berkedudukan di Jalan Matraman Raya No. 12, Jakarta dan cabang-cabangnya berlokasi di Balikpapan, Bandung, Banjarmasin, Batam, Denpasar, Lampung, Makassar, Manado, Medan, Padang, Palembang, Pekanbaru, Pontianak, Semarang dan Surabaya. Perusahaan memulai kegiatan komersialnya pada tahun 1971. b. Penawaran Umum Efek Perusahaan Pada tahun 1991, Perusahaan menawarkan 4.500.000 sahamnya kepada masyarakat dengan nilai nominal Rp1.000 per saham melalui Penawaran Umum Perdana dengan harga penawaran Rp6.800 per saham pada Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Tanggal efektif penawaran umum perdana tersebut adalah tanggal 11 Juni 1991. Sebelum dilakukan Penawaran Umum Perdana, jumlah saham ditempatkan dan disetor adalah 40.000.000 saham, sehingga sesudah Penawaran Umum Perdana, jumlah saham ditempatkan dan disetor adalah 44.500.000 saham. Pada tahun 1992, Perusahaan menerbitkan saham baru dengan cara Penawaran Umum Terbatas dengan hak memesan efek terlebih dahulu (rights issue) sejumlah 8.853.980 saham dengan nilai nominal Rp1.000 per saham yang ditawarkan kepada para pemegang saham lama di mana setiap pemegang saham yang memiliki 5 (lima) saham lama dapat membeli 1 (satu) saham baru dengan harga Rp8.250. Pada tahun 1994, Perusahaan mengkapitalisasi sebagian besar agio saham ke modal saham dengan menerbitkan saham bonus sejumlah 80.030.970 saham dengan nilai nominal Rp1.000 per saham atau seluruhnya Rp80.030.970.000, dimana setiap kepemilikan 2 (dua) saham yang terdaftar dalam daftar pemegang saham tanggal 30 Maret 1994 memperoleh 3 (tiga) saham bonus (baru). Dalam rapat umum luar biasa para pemegang saham yang diselenggarakan pada tanggal 2 Mei 1997 yang diaktakan dengan Akta Notaris No. 48 yang telah disebutkan di atas, para pemegang saham menyetujui perubahan nilai nominal saham dari Rp1.000 per saham menjadi Rp500 per saham. Pada tanggal 31 Desember 1998, Perusahaan telah mencatatkan seluruh saham ditempatkan dan disetor penuh pada Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. 8

1. UMUM (lanjutan) c. Struktur Perusahaan dan Anak perusahaan Pada tanggal, Anak perusahaan dengan persentase pemilikan lebih dari 50% adalah sebagai berikut: Tahun Jumlah Aktiva Mulai 31 Desember Operasi Persentase Anak Perusahaan Lokasi Kegiatan Pokok Komersial Pemilikan PT Honoris Industry Jakarta Produsen dan eksportir (HI) dan Ciawi kamera, radio stereo mobil 1982 99,99% 359.630.627.691 446.585.359.290 dan alat musik PT Modern Photo Jakarta dan Produsen film dan Industry (MPI) Serang kertas foto 1979 99,99 217.401.112.155 159.390.552.644 PT Modern Putra Jakarta Perdagangan eceran produk- 1988 99,99 183.757.514.197 134.113.395.385 Indonesia (MPRI) produk fotografi, elektronik dan telekomunikasi (kartu telepon) PT Modern Indolab Jakarta Jasa cuci cetak foto 1990 99,99 19.571.478.917 21.073.172.574 (MIL) d. Dewan Komisaris dan Direksi serta Karyawan Berdasarkan Akta Notaris Sutjipto, S.H. No. 131 tanggal 20 Juni 2003, susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan pada tanggal 31 Desember 2003, adalah sebagai berikut: Komisaris Utama : Hadi Intan Komisaris : Oscar Jaro Tavera Komisaris : Sonny Yong Direktur Utama : Sungkono Honoris Direktur : Achmad Fauzi Hasan Direktur : Lendy Susanto Gaji dan tunjangan lainnya yang diperuntukkan bagi direksi dan komisaris Perusahaan sejumlah Rp5.377.961.165 dan Rp6.021.207.129 masing-masing pada tahun 2003 dan 2002. Pada tanggal, Perusahaan dan Anak perusahaan memiliki masingmasing 5.346 dan 6.953 karyawan tetap (tidak diaudit). 2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI Laporan keuangan konsolidasi telah disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, yaitu Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM). a. Dasar penyajian laporan keuangan konsolidasi Dasar pengukuran laporan keuangan konsolidasi ini adalah konsep akrual, kecuali untuk laporan arus kas konsolidasi dan konsep biaya perolehan (historical cost), kecuali untuk persediaan yang dinyatakan sebesar nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi bersih (the lower of cost or net realizable value), penyertaan saham yang dicatat dengan metode ekuitas, dan aktiva tetap tertentu yang telah dinilai kembali. 9

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan) a. Dasar penyajian laporan keuangan konsolidasi (lanjutan) Laporan arus kas konsolidasi disusun dengan menggunakan metode langsung (direct method) dengan mengelompokkan arus kas dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan. Mata uang pelaporan yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan konsolidasi ini adalah Rupiah. b. Prinsip-prinsip konsolidasi Laporan keuangan konsolidasi meliputi laporan keuangan Perusahaan dan Anak perusahaan yang sahamnya dimiliki Perusahaan di atas 50% seperti yang diungkapkan dalam Catatan 1c. Seluruh saldo akun dan transaksi yang material antar perusahaan yang dikonsolidasi telah dieliminasi. Penyertaan saham Perusahaan atau Anak perusahaan dengan persentase pemilikan paling sedikit 20% tetapi tidak lebih dari 50% dicatat dengan metode ekuitas (equity method). Dengan metode ini, penyertaan dinyatakan sebesar biaya perolehannya dan ditambah atau dikurangi dengan bagian atas laba atau rugi bersih perusahaan asosiasi sejak tanggal perolehan serta dikurangi dividen kas yang diterima. Bagian atas laba atau rugi bersih perusahaan asosiasi disesuaikan dengan jumlah amortisasi secara garis lurus selama 5 (lima) tahun atas selisih antara biaya perolehan penyertaan saham dan proporsi pemilikan Perusahaan atau Anak perusahaan atas nilai buku aktiva bersih pada tanggal perolehan. c. Penyisihan kerugian dan piutang ragu-ragu Penyisihan kerugian dan piutang ragu-ragu ditentukan berdasarkan hasil penelaahan terhadap keadaan akun aktiva masing-masing secara individual pada akhir tahun. d. Transaksi dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa Perusahaan dan Anak perusahaan mempunyai transaksi dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagaimana dimaksud dalam PSAK No. 7, Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa. Saldo hutang dan piutang yang timbul dari transaksi pembelian dan penjualan dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa masing-masing disajikan sebagai Hutang Usaha dan Piutang Usaha pada neraca konsolidasi, sedangkan saldo hutang dan piutang yang timbul dari transaksi dengan pihak hubungan istimewa di luar transaksi pembelian dan penjualan, masing-masing disajikan sebagai Hutang Hubungan Istimewa dan Piutang Hubungan Istimewa pada neraca konsolidasi. Seluruh transaksi yang signifikan dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa baik yang dilakukan dengan persyaratan dan kondisi yang sama dengan atau tidak sama dengan pihak ketiga, telah diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan konsolidasi. 10

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan) e. Persediaan Persediaan dinyatakan sebesar nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi bersih (the lower of cost or net realizable value) dimana biaya perolehan ditentukan dengan metode rata-rata bergerak (moving-average method). Penyisihan kerugian untuk persediaan usang dan penurunan nilai persediaan ditentukan berdasarkan penelaahan terhadap keadaan persediaan pada akhir tahun untuk mengurangi nilai tercatat persediaan ke nilai realisasi bersih. f. Biaya dibayar di muka Biaya dibayar di muka diamortisasi dan dibebankan pada operasi selama masa manfaat masingmasing biaya. g. Aktiva tetap o Pemilikan langsung Aktiva tetap dinyatakan sebesar biaya perolehan, kecuali yang dinilai kembali berdasarkan peraturan pemerintah, dikurangi akumulasi penyusutan. Perusahaan dan Anak perusahaan tertentu menghitung penyusutan dengan menggunakan metode garis lurus (straight-line method) berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis aktiva tetap sebagai berikut: Tahun Bangunan dan prasarana 3-20 Mesin dan peralatan 4-10 Inventaris 4-5 Alat-alat pengangkutan 4-5 Satu Anak perusahaan menghitung penyusutan atas bangunan dan prasarana dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis aktiva selama 20 (dua puluh) tahun dan metode saldo menurun ganda (double-declining balance method) untuk aktiva lainnya berdasarkan kategori masing-masing aktiva tersebut. Tanah dinyatakan berdasarkan biaya perolehan dan tidak disusutkan. Biaya-biaya tertentu sehubungan dengan perolehan atau perpanjangan hak pemilikan tanah, dibebankan seluruhnya pada operasi pada saat terjadinya, karena jumlahnya tidak material. Biaya perbaikan dan pemeliharaan dibebankan pada laporan laba rugi konsolidasi pada saat terjadinya; pemugaran dan penambahan dalam jumlah signifikan dikapitalisasi. Aktiva tetap yang sudah tidak digunakan lagi atau yang dijual, nilai tercatat dan akumulasi penyusutannya dikeluarkan dari kelompok aktiva tetap yang bersangkutan dan laba atau rugi yang terjadi dibukukan dalam laporan laba rugi konsolidasi tahun yang bersangkutan. Penurunan nilai aktiva tetap dibebankan pada beban usaha tahun berjalan apabila terdapat peristiwa atau perubahan yang mengidentifikasikan bahwa nilai tercatat aktiva tersebut tidak dapat dipulihkan kembali. 11

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan) g. Aktiva tetap (lanjutan) o Sewa guna usaha Transaksi sewa guna usaha digolongkan sebagai sewa guna usaha yang dikapitalisasi (capital lease) apabila memenuhi semua kriteria yang disyaratkan dalam PSAK No. 30, Akuntansi Sewa Guna Usaha. Jika salah satu kriteria tidak terpenuhi, maka transaksi sewa guna usaha dikelompokkan sebagai transaksi sewa menyewa biasa (operating lease). Aktiva sewa guna usaha yang dikapitalisasi disajikan di dalam neraca konsolidasi sebagai bagian aktiva tetap sebesar nilai tunai dari seluruh pembayaran sewa guna usaha selama masa sewa guna usaha ditambah nilai sisa (harga opsi) yang harus dibayar pada akhir masa sewa guna usaha. Penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis yang sama dengan yang diterapkan untuk aktiva tetap pemilikan langsung. Hutang sewa guna usaha dinyatakan sebesar nilai tunai dari seluruh pembayaran sewa guna usaha. o Aktiva dalam penyelesaian Aktiva dalam penyelesaian dinyatakan sebesar biaya perolehan. Akumulasi biaya perolehan akan dipindahkan ke masing-masing aktiva tetap yang bersangkutan pada saat aktiva tersebut selesai dikerjakan dan siap digunakan. h. Dana pensiun Perusahaan dan Anak perusahaan mempunyai program pensiun manfaat pasti untuk seluruh karyawan tetap yang memenuhi syarat. Iuran dana pensiun tersebut ditanggung oleh karyawan, Perusahaan dan Anak perusahaan. Iuran dana pensiun yang ditanggung karyawan dihitung sebesar 3,6% dari jumlah gaji pokok bulanan karyawan dan kontribusi Perusahaan dan Anak perusahaan sebesar 4,9% sampai dengan 5,4%. Biaya jasa lalu (past service cost) diamortisasi sepanjang rata-rata sisa masa kerja karyawan yang ada. Aktiva program pensiun manfaat pasti Perusahaan dan Anak perusahaan dikelola oleh Dana Pensiun The Modern Group yang didirikan berdasarkan keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. KEP/054/KM.17/1994 dan dimuat di Tambahan Berita Negara Republik Indonesia No. 42 tanggal 27 Mei 1994. Sebelum tanggal 1 Januari 2003, Perusahaan dan Anak Perusahaan tidak melakukan akrual kesejahteraan karyawan berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep-150/Men/2000 (Kep-150) mengenai Penyelesaian Pemutusan Hubungan Kerja dan Penetapan Uang Pesangon, Penghargaan Masa Kerja dan Ganti Kerugian di Perusahaan, karena Manajemen Perusahaan dan Anak perusahaan berpendapat bahwa program pensiun yang ada cukup untuk menutupi beban sehubungan dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja tersebut. Sejak tanggal 1 Januari 2003, Perusahaan dan Anak perusahaan telah menghitung dampak Undang-undang Tenaga Kerja No. 13/2003 tanggal 25 Maret 2003 pada Laporan Keuangan Konsolidasi tahun 2003 sesuai dengan Undang-undang Tenaga Kerja No. 13 tahun 2003. 12

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan) i. Selisih lebih biaya perolehan penyertaan atas aktiva bersih Anak perusahaan Selisih lebih biaya perolehan penyertaan atas aktiva bersih Anak perusahaan (disajikan setelah dikurangi selisih lebih aktiva bersih Anak perusahaan atas biaya perolehan penyertaan) diamortisasi dengan menggunakan metode garis lurus selama 20 (dua puluh) tahun. Manajemen berpendapat bahwa alasan utama pengamortisasian selisih lebih biaya perolehan penyertaan atas aktiva bersih Anak perusahaan selama 20 (dua puluh) tahun adalah karena pada umumnya Anak perusahaan tersebut mempunyai prestasi usaha yang cukup baik dan telah menjalankan usahanya selama 13 (tiga belas) sampai 25 (dua puluh lima) tahun. j. Beban ditangguhkan Biaya untuk riset dan pengembangan diakui sebagai beban pada periode terjadinya kecuali biayabiaya pengembangan proyek yang secara khusus dapat diidentifikasi dan mempunyai manfaat di masa yang akan datang dikapitalisasi dan dicatat sebagai beban ditangguhkan. Beban ditangguhkan diamortisasi dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan taksiran masa manfaatnya selama 6 (enam) tahun. k. Aktiva disewakan Aktiva disewakan dinyatakan sebesar biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan. Penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis yang sama dengan yang diterapkan untuk aktiva tetap pemilikan langsung (Catatan 2g). l. Pengakuan pendapatan dan beban Pendapatan dari penjualan ekspor diakui pada saat penyerahan barang di atas kapal di pelabuhan pengiriman. Pendapatan dari penjualan lokal, jasa cuci cetak foto, jasa perbaikan dan perakitan diakui pada saat penyerahan barang kepada pelanggan atau pada saat jasa cuci cetak foto, jasa perbaikan dan perakitan telah selesai. Beban diakui pada saat terjadinya. m. Transaksi dan saldo dalam mata uang asing Transaksi dalam mata uang asing dicatat berdasarkan kurs yang berlaku pada saat transaksi dilakukan. Pada tanggal neraca, aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dijabarkan ke dalam Rupiah berdasarkan kurs yang berlaku pada tanggal tersebut, yaitu kurs tengah uang kertas asing yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Laba atau rugi kurs yang terjadi dikreditkan atau dibebankan pada operasi tahun berjalan. Kurs yang digunakan adalah AS$1 sama dengan Rp8.465,00, 1 sama dengan Rp79,17 dan SIN$1 sama dengan Rp4.976,50 pada tanggal 31 Desember 2003, dan AS$1 sama dengan Rp8.940,00, 1 sama dengan Rp75,40, SIN$1 sama dengan Rp5.154,31, dan HK$1 sama dengan Rp1.146,33 pada tanggal 31 Desember 2002. n. Beban atau manfaat pajak Beban pajak kini dihitung berdasarkan taksiran penghasilan kena pajak dalam tahun yang bersangkutan. Penangguhan beban atau manfaat pajak (deferred tax) dihitung untuk mencerminkan pengaruh pajak atas beda temporer antara pelaporan komersial dan fiskal, serta akumulasi rugi fiskal yang dapat dikompensasi sesuai dengan PSAK No. 46 tentang Akuntansi Pajak Penghasilan. 13

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan) o. Laba bersih per saham dasar Laba bersih per saham dasar dihitung dengan membagi laba bersih dengan jumlah rata-rata tertimbang saham yang ditempatkan dan disetor penuh selama tahun berjalan sebanyak 266.769.900 saham pada tahun 2003 dan 2002. p. Informasi segmen usaha Informasi segmen disajikan menurut pengelompokan umum produk Perusahaan dan Anak perusahaan (segmen usaha) dan wilayah pemasarannya (segmen geografis). Segmen usaha adalah komponen Perusahaan yang dapat dibedakan dalam menghasilkan produk atau jasa dan komponen itu memiliki risiko dan imbalan yang berbeda dengan risiko dan imbalan segmen lain. Segmen geografis adalah komponen Perusahaan yang dapat dibedakan dalam menghasilkan produk atau jasa pada lingkungan (wilayah) ekonomi tertentu dan komponen itu memiliki risiko dan imbalan yang berbeda dengan risiko dan imbalan pada komponen yang beroperasi pada lingkungan (wilayah) ekonomi lain. q. Penggunaan estimasi Penyusunan laporan keuangan konsolidasi sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, mensyaratkan manajemen untuk memakai estimasi-estimasi dan asumsi-asumsi yang mempengaruhi jumlah yang dilaporkan. Sehubungan dengan ketidakpastian yang melekat dalam pembuatan estimasi, hasil sebenarnya yang dilaporkan dalam periode mendatang mungkin didasarkan atas jumlah-jumlah yang berbeda dari estimasi tersebut. 3. KAS DAN BANK Kas dan bank terdiri dari: Kas 3.427.467.676 4.221.806.522 Bank PT Bank Internasional Indonesia Tbk (Rp7.865.004.539 dan AS$10.506 pada tahun 2003 dan Rp6.884.763 dan AS$22.251 pada tahun 2002) 7.953.934.315 205.809.948 PT Bank DBS Indonesia (Rp1.143.923.815, AS$457.036 dan 19.619.069 pada tahun 2003 dan Rp1.559.650.220, AS$451.815 dan 124.798.216 pada tahun 2002) 6.565.974.825 15.007.409.801 PT Bank Central Asia Tbk (Rp6.388.775.826 dan AS$4.941 pada tahun 2003 dan Rp11.416.242.870 pada tahun 2002) 6.430.600.498 11.416.242.870 14

3. KAS DAN BANK (lanjutan) Standard Chartered Bank, Jakarta (Rp4.214.646.474, AS$116.161 dan 153.729 pada tahun 2003 dan Rp3.440.158.220, AS$202.905 dan 170.240 pada tahun 2002) 5.210.116.329 5.266.967.096 PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk 1.662.026.099 303.403.546 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk 718.139.153 2.532.187.337 PT Bank Lippo Tbk 605.168.403 498.514.447 PT Bank Mayapada International Tbk 552.842.091 658.364.380 PT Bank Permata Tbk 248.485.166 284.635.083 PT Bank Artha Graha 175.867.164 - Lain-lain di bawah Rp100.000.000 (Rp44.481.455 dan AS$3.976 pada tahun 2003 dan Rp44.380.310 dan AS$3.984 pada tahun 2002) 78.137.364 79.999.772 Jumlah kas dan bank 33.628.759.083 40.475.340.802 4. WESEL TAGIH Wesel tagih terdiri dari: Pihak ketiga PT Cahyagold Prasetya Finance 361.528.299 361.528.299 Mirabell Ventures Limited, Nassau, Bahamas - 13.655.000.000 Jumlah pihak ketiga 361.528.299 14.016.528.299 Dikurangi penyisihan kerugian 361.528.299 361.528.299 Bersih - 13.655.000.000 Wesel tagih yang dikeluarkan pada bulan Oktober 2002 oleh Mirabell Ventures Limited, Nassau, Bahamas kepada satu Anak perusahaan (MPI) terdiri dari 3 (tiga) lembar wesel tagih dengan jumlah masing-masing sebesar Rp6.000.000.000, Rp6.000.000.000, dan Rp1.655.000.000, yang jatuh tempo pada tanggal 6 Januari 2003, 9 Januari 2003 dan 3 Oktober 2003 dengan suku bunga tahunan sebesar 17%. Pada tanggal 6 Januari 2003, 9 Januari 2003, dan 4 April 2003, Anak perusahaan telah menerima hasil pencairan wesel tagih tersebut sebesar Rp13.655.000.000. Wesel tagih yang dikeluarkan oleh PT Cahyagold Prasetya Finance kepada satu Anak perusahaan (MIL) sebesar Rp361.528.299 telah jatuh tempo pada tanggal 26 Juni 1999 dan telah dibentuk penyisihan kerugian 100% sejak tahun 1999. 15

5. PIUTANG USAHA Akun ini merupakan piutang yang timbul dari penjualan barang dagangan dan jasa serta jasa perbaikan dan perakitan kepada: Pihak ketiga Produk fotografi 102.799.948.564 133.116.255.943 Produk elektronik dan magnetik 18.254.226.421 30.972.366.780 Produk industrial 4.908.804.107 5.590.816.822 Produk peralatan musik 3.461.248.774 3.644.510.337 Produk mesin foto copy 1.446.449.588 941.405.803 Lain-lain 713.093.674 701.008.146 Jumlah pihak ketiga 131.583.771.128 174.966.363.831 Dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu 4.433.770.667 2.641.715.096 Bersih 127.150.000.461 172.324.648.735 Pihak yang mempunyai hubungan istimewa (Catatan 6) PT Modernland Realty Tbk 12.651.700 - PT Hori Elemeca Industry 5.888.068 74.240.248 Jumlah pihak yang mempunyai hubungan istimewa 18.539.768 74.240.248 Jumlah piutang usaha - bersih 127.168.540.229 172.398.888.983 Termasuk dalam piutang usaha di atas adalah piutang dalam mata uang asing sebesar AS$5.735.822 dan 302.296.837 pada tahun 2003 dan AS$6.724.091 dan 847.587.197 pada tahun 2002. Analisa umur piutang usaha adalah sebagai berikut: 1-30 hari 71.392.910.318 114.923.283.271 31-60 hari 10.981.551.760 24.607.319.100 61-90 hari 3.602.797.251 2.222.168.205 lebih dari 90 hari 45.625.051.567 33.287.833.503 Jumlah 131.602.310.896 175.040.604.079 Dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu 4.433.770.667 2.641.715.096 Bersih 127.168.540.229 172.398.888.983 Perubahan penyisihan piutang ragu-ragu adalah sebagai berikut: Saldo awal 2.641.715.096 2.542.574.403 Penyisihan selama tahun berjalan 1.839.168.443 214.560.000 Penghapusan piutang selama tahun berjalan (47.112.872) (115.419.307) Saldo akhir 4.433.770.667 2.641.715.096 16

5. PIUTANG USAHA (lanjutan) Berdasarkan hasil penelaahan terhadap keadaan akun piutang masing-masing pelanggan pada akhir tahun, manajemen berpendapat bahwa penyisihan piutang ragu-ragu yang dibentuk adalah cukup untuk menutup kemungkinan kerugian atas tidak tertagihnya piutang usaha. Piutang usaha milik dua Anak perusahaan (HI dan MPRI) digunakan sebagai jaminan atas fasilitasfasilitas kredit yang diperoleh dari berbagai kreditur (Catatan 13 dan 16). 6. TRANSAKSI DAN SALDO DENGAN PIHAK-PIHAK YANG MEMPUNYAI HUBUNGAN ISTIMEWA a. Dalam kegiatan usaha normal, Perusahaan dan Anak perusahaan melakukan transaksi usaha dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa, terutama yang berhubungan dengan transaksi penjualan dan pembelian. Transaksi-transaksi tersebut dilaksanakan pada tingkat harga dan persyaratan yang normal, kecuali untuk pinjaman tanpa bunga Perusahaan dan Anak perusahaan kepada direksi, dan karyawan (Catatan 6b) dan pinjaman tanpa bunga satu Anak perusahaan (HI) dari pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa (Catatan 6f). Penjualan kepada pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa berjumlah Rp29.644.695 dan Rp104.978.235 atau 0,002% dan 0,006% dari jumlah penjualan bersih masing-masing untuk tahun 2003 dan 2002. Saldo piutang dari transaksi penjualan tersebut berjumlah Rp18.539.768 dan Rp74.240.248 atau 0,002% dan 0,007% dari jumlah aktiva masing-masing pada tanggal, yang disajikan dalam akun Piutang Usaha pada neraca konsolidasi (Catatan 5). Pembelian dari pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa berjumlah Rp11.322.023.752 dan Rp13.560.435.743 atau 0,912% dan 0,894% dari jumlah pembelian masing-masing untuk tahun 2003 dan 2002. Saldo hutang dari transaksi pembelian tersebut berjumlah Rp3.381.120.215 dan Rp1.819.895.547 atau 0,420% dan 0,229% dari jumlah kewajiban masing-masing pada tanggal, yang disajikan dalam akun Hutang Usaha pada neraca konsolidasi (Catatan 14). b. Perusahaan dan Anak perusahaan memberikan pinjaman tanpa bunga kepada direksi dan karyawan yang dilunasi melalui pemotongan gaji bulanan berjumlah Rp1.083.642.237 dan Rp1.500.275.451 atau 0,104% dan 0,147% dari jumlah aktiva masing-masing pada tanggal. Pinjaman ini disajikan dalam akun Pinjaman Direksi dan Karyawan pada neraca konsolidasi. c. Satu Anak perusahaan (HI) menggunakan jasa PT Hori Elemeca Industry untuk merakit komponen lampu kilat kamera di tahun 2002. Biaya perakitan yang dibebankan pada operasi berjumlah Rp5.833.449.144 (0,360% dari jumlah beban pokok penjualan), yang disajikan dalam akun Beban Pokok Penjualan - Beban Pabrikasi pada laporan laba rugi konsolidasi tahun 2002. d. Satu Anak perusahaan (MPI) menyewakan tanah, bangunan dan prasarana, serta inventaris, yang disajikan dalam akun Aktiva Disewakan pada neraca konsolidasi, kepada PT Modern Toolsindo, pihak yang mempunyai hubungan istimewa (Catatan 11). Penghasilan sewa yang diperoleh tersebut berjumlah Rp253.668.053 dan Rp289.083.418 atau 8,853% dan 0,442% dari jumlah penghasilan (beban) lain-lain masing-masing untuk tahun 2003 dan 2002, yang disajikan dalam akun Penghasilan (Beban) Lain-lain - Penghasilan Sewa pada laporan laba rugi konsolidasi. 17

6. TRANSAKSI DAN SALDO DENGAN PIHAK-PIHAK YANG MEMPUNYAI HUBUNGAN ISTIMEWA (lanjutan) e. Pada tanggal, Perusahaan dan Anak perusahaan memiliki saldo giro dan deposito berjangka pada PT Bank Modern Tbk (bank beku operasi) berjumlah Rp16.200.842.727 atau 1,560% dan 1,592% dari jumlah aktiva masing-masing untuk tanggal. Di lain pihak, Perusahaan dan satu Anak perusahaan (MPI) juga mempunyai saldo pinjaman dari PT Bank Modern Tbk (bank beku operasi). Pada tahun 1999, pinjaman ini telah dialihkan kepada PT Cakrawala Gita Pratama (CGP). Saldo pinjaman dari CGP sebesar Rp10.700.000.000 atau 1,328% dan 1,344% masing-masing dari jumlah kewajiban pada tanggal (Catatan 12 dan 13). f. Satu Anak perusahaan (HI) mendapat pinjaman tanpa bunga dari satu pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebesar Rp600.000.000 atau 0,074% dan 0,075% masing-masing dari jumlah kewajiban pada tanggal. Disamping itu, pada tahun 2002, Anak perusahaan tersebut juga mendapat pinjaman tanpa bunga dari PT Linda Utomo Perkasa sebesar Rp192.173.790 atau 0,024% dari jumlah kewajiban pada tanggal 31 Desember 2002. Pinjaman tersebut disajikan dalam akun Hutang Hubungan Istimewa pada neraca konsolidasi. Sifat hubungan dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah sebagai berikut: Sifat hubungan dengan Perusahaan dan/atau Anak perusahaan Nama pihak yang mempunyai hubungan istimewa (i) Pemegang saham Perusahaan PT Inti PutraModern (ii) (iii) Memiliki sebagian direksi dan komisaris yang sama dengan Perusahaan dan/atau Anak perusahaan Empat puluh persen sahamnya dimiliki oleh satu Anak perusahaan PT Modern Toolsindo, PT Linda Utomo Perkasa dan PT Cakrawala Gita Pratama PT Hori Elemeca Industry (iv) Seluruh atau sebagian sahamnya dimiliki oleh PT Inti PutraModern, pemegang saham utama Perusahaan PT Fajarina Unggul Industry, PT Modernland Realty Tbk, dan PT Bank Modern Tbk (bank beku operasi). Transaksi dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa dengan jumlah di atas Rp1 milyar adalah sebagai berikut: Pembelian barang dagangan dan bahan pembantu: PT Fajarina Unggul Industry 3.886.038.103 3.141.838.170 PT Linda Utomo Perkasa 3.626.211.998 2.305.896.415 PT Hori Elemeca Industry 2.796.066.481 5.833.449.145 PT Modern Toolsindo 1.013.707.170 2.279.252.013 Jumlah 11.322.023.752 13.560.435.743 18

6. TRANSAKSI DAN SALDO DENGAN PIHAK-PIHAK YANG MEMPUNYAI HUBUNGAN ISTIMEWA (lanjutan) Rincian saldo piutang yang timbul dari transaksi di luar usaha pokok dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah sebagai berikut: PT Modern Toolsindo 1.645.199.477 873.313.603 PT Fajarina Unggul Industry 246.690.000 - PT Hori Elemeca Industry 100.899.330 54.293.042 Lain-lain 8.642.368 13.310.000 Jumlah 2.001.431.175 940.916.645 Dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu 100.899.330 - Bersih 1.900.531.845 940.916.645 Persentase dari jumlah aktiva 0,18% 0,09% Piutang kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagian besar merupakan piutang yang timbul dari transaksi sewa dan pembayaran biaya-biaya tertentu dari pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Berdasarkan hasil penelaahan terhadap keadaan akun piutang pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa pada akhir tahun, manajemen berpendapat bahwa penyisihan piutang ragu-ragu yang dibentuk adalah cukup untuk menutup kemungkinan kerugian atas tidak tertagihnya piutang hubungan istimewa. 7. PERSEDIAAN Persediaan terdiri dari: Produk fotografi 253.655.546.998 239.384.440.738 Produk elektronik dan magnetik 21.895.411.927 21.076.835.236 Produk industrial 16.600.298.861 14.745.771.128 Produk telekomunikasi (kartu telepon) 14.094.317.525 20.844.649.583 Mesin fotocopy 7.407.493.023 8.331.661.173 Suku cadang untuk reparasi 4.773.440.607 4.307.129.345 Produk peralatan musik 4.228.450.493 4.189.058.328 Bahan pembungkus 1.909.309.959 2.707.998.590 Gallery frame 262.011.762 1.472.208.343 Lain-lain 910.376.469 631.509.514 Sub-jumlah 325.736.657.624 317.691.261.978 Persediaan dalam perjalanan 18.533.052.471 28.334.450.607 Jumlah 344.269.710.095 346.025.712.585 Pada tanggal 31 Desember 2003, Perusahaan dan satu Anak perusahaan (MPI) memiliki uang muka pembelian persediaan sebesar Rp72.317.247.917 yang dicatat sebagai Uang Muka Pembelian Persediaan, Mesin dan Peralatan dalam neraca konsolidasi. 19

7. PERSEDIAAN (lanjutan) Pada tanggal 31 Desember 2002, nilai realisasi bersih barang jadi kamera milik satu Anak perusahaan (HI) lebih rendah dibandingkan biaya perolehannya yang disebabkan oleh keusangan. Oleh karena itu, Anak perusahaan melakukan penyesuaian sebesar Rp1.035.940.100 untuk mengurangi nilai persediaan barang jadi tersebut ke nilai realisasi bersihnya dan membebankan penyesuaian tersebut pada operasi tahun berjalan. Persediaan Perusahaan dan dua Anak perusahaan (HI dan MPRI) masing-masing pada tanggal digunakan sebagai jaminan atas fasilitas-fasilitas kredit yang diperoleh dari berbagai kreditur (Catatan 13 dan 16). Persediaan telah diasuransikan terhadap risiko kerugian kebakaran atau pencurian berdasarkan suatu paket polis tertentu dengan nilai pertanggungan sebesar Rp309.979.945.887. Manajemen berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutup kemungkinan kerugian atas persediaan yang dipertanggungkan. 8. PENYERTAAN SAHAM Pada tanggal 31 Desember 2002, akun ini merupakan penyertaan saham satu Anak perusahaan (HI) pada PT Hori Elemeca Industry (HEI), perusahaan asosiasi yang bergerak dalam industri perakitan lampu kilat untuk kamera, yang terdiri dari 2.000 saham dengan jumlah nilai nominal Rp348.800.000 (AS$200.000). Saham-saham tersebut diperoleh sejak tahun 1989 dengan harga Rp2.200.000.000 yang merupakan pemilikan 40%. Pada tanggal 31 Desember 2002, nilai tercatat penyertaan ini adalah sebesar Rp1.712.068.721, setelah memperhitungkan akumulasi bagian Anak perusahaan atas laba bersih HEI setelah dikurangi dividen kas sejak tanggal perolehan. Bagian Anak perusahaan atas laba bersih HEI adalah sebesar Rp7.510.488 pada tahun 2002. Pada tanggal 30 November 2003, laporan keuangan PT HEI mencerminkan akumulasi defisit yang signifikan, karena rugi operasi. Hal ini terutama disebabkan permintaan produk yang rendah dari Anak perusahaan (HI), pelanggan utama HEI. Karena itu, berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa tanggal 22 November 2003 yang diaktakan dalam Akta Notaris Linaswati, S.H., No. 8 tanggal 22 November 2003, pemegang saham HEI menyetujui likuidasi HEI efektif sejak tanggal 30 November 2003. Pada tanggal 31 Desember 2003, sehubungan dengan likuidasi dan aktiva bersih HEI yang telah negatif, manajemen telah melakukan penyisihan kerugian penyertaan saham sebesar Rp1.256.241.553 yang dicatat sebagai bagian dari Pendapatan (Beban) Lain-lain dalam laporan laba rugi konsolidasi. 9. AKTIVA TETAP Aktiva tetap terdiri dari: Penambahan/ Pengurangan/ 2003 Saldo Awal Reklasifikasi Reklasifikasi Saldo Akhir Nilai Tercatat Pemilikan Langsung Tanah 29.680.699.808-151.266.800 29.529.433.008 Bangunan dan prasarana 71.617.962.167 7.043.256.058 146.307.825 78.514.910.400 Mesin dan peralatan 289.087.568.092 43.209.735.833 12.346.748 332.284.957.177 Inventaris 126.943.564.529 62.632.441.855 2.907.614.817 186.668.391.567 Alat-alat pengangkutan 28.896.192.129 6.114.686.691 2.154.350.691 32.856.528.129 Jumlah 546.225.986.725 119.000.120.437 5.371.886.881 659.854.220.281 20

9. AKTIVA TETAP (lanjutan) Penambahan/ Pengurangan/ 2003 Saldo Awal Reklasifikasi Reklasifikasi Saldo Akhir Aktiva dalam Penyelesaian Bangunan 3.772.849.990 2.224.764.545 5.997.614.535 - Sewa Guna Usaha Alat-alat pengangkutan 4.786.066.600 360.000.000 3.638.266.600 1.507.800.000 Jumlah Nilai Tercatat 554.784.903.315 121.584.884.982 15.007.768.016 661.362.020.281 Akumulasi Penyusutan Pemilikan Langsung Bangunan dan prasarana 32.284.643.255 3.942.032.505 88.432.735 36.138.243.025 Mesin dan peralatan 184.272.918.576 30.784.739.659 9.849.113 215.047.809.122 Inventaris 81.982.974.777 19.596.008.983 1.931.129.717 99.647.854.043 Alat-alat pengangkutan 21.875.108.332 5.952.185.993 2.035.119.322 25.792.175.003 Jumlah 320.415.644.940 60.274.967.140 4.064.530.887 376.626.081.193 Sewa Guna Usaha Alat-alat pengangkutan 1.984.295.294 1.041.203.408 2.473.308.710 552.189.992 Jumlah Akumulasi Penyusutan 322.399.940.234 61.316.170.548 6.537.839.597 377.178.271.185 Nilai Buku 232.384.963.081 284.183.749.096 Penambahan/ Pengurangan/ 2002 Saldo Awal Reklasifikasi Reklasifikasi Saldo Akhir Nilai Tercatat Pemilikan Langsung Tanah 29.134.952.958 545.746.850-29.680.699.808 Bangunan dan prasarana 69.181.529.129 2.461.433.038 25.000.000 71.617.962.167 Mesin dan peralatan 284.999.381.961 4.427.409.295 339.223.164 289.087.568.092 Inventaris 111.046.836.091 16.471.302.256 574.573.818 126.943.564.529 Alat-alat pengangkutan 25.418.434.540 4.107.805.548 630.047.959 28.896.192.129 Jumlah 519.781.134.679 28.013.696.987 1.568.844.941 546.225.986.725 Aktiva dalam Penyelesaian Bangunan 36.471.800 4.519.081.117 782.702.927 3.772.849.990 Sewa Guna Usaha Alat-alat pengangkutan 5.130.066.600 293.000.000 637.000.000 4.786.066.600 Jumlah Nilai Tercatat 524.947.673.079 32.825.778.104 2.988.547.868 554.784.903.315 Akumulasi Penyusutan Pemilikan Langsung Bangunan dan prasarana 28.367.765.877 3.921.877.378 5.000.000 32.284.643.255 Mesin dan peralatan 155.018.010.519 29.300.695.679 45.787.622 184.272.918.576 Inventaris 63.833.663.529 18.482.621.808 333.310.560 81.982.974.777 Alat-alat pengangkutan 19.209.082.079 3.285.130.048 619.103.795 21.875.108.332 Jumlah 266.428.522.004 54.990.324.913 1.003.201.977 320.415.644.940 Sewa Guna Usaha Alat-alat pengangkutan 1.211.484.833 1.051.497.961 278.687.500 1.984.295.294 Jumlah Akumulasi Penyusutan 267.640.006.837 56.041.822.874 1.281.889.477 322.399.940.234 Nilai Buku 257.307.666.242 232.384.963.081 21

9. AKTIVA TETAP (lanjutan) Penambahan nilai tercatat terdiri dari: Pembelian 89.674.359.229 28.142.158.358 Perolehan aktiva melalui sewa guna usaha 360.000.000 293.000.000 Reklasifikasi dari: Uang muka pembelian mesin dan peralatan 21.207.186.000 2.970.916.819 Aktiva dalam penyelesaian 5.997.614.535 782.702.927 Aktiva sewa guna usaha 3.638.266.600 637.000.000 Aktiva tidak digunakan dalam operasi 707.458.618 - Jumlah 121.584.884.982 32.825.778.104 Pengurangan aktiva tetap pada tahun 2003 dan 2002 meliputi penjualan tanah, bangunan dan prasarana, mesin dan peralatan, inventaris dan alat-alat pengangkutan dengan rincian sebagai berikut: 2003 Laba (Rugi) Penjualan Harga Jual Nilai Buku Aktiva Tetap Tanah, bangunan dan prasarana 735.962.022 209.141.890 526.820.132 Mesin dan peralatan 300.000 2.497.635 (2.197.635) Inventaris 1.225.938.638 953.664.546 272.274.092 Alat-alat pengangkutan 1.058.636.363 99.780.231 958.856.132 Jumlah 3.020.837.023 1.265.084.302 1.755.752.721 2002 Laba Penjualan Harga Jual Nilai Buku Aktiva Tetap Bangunan dan prasarana 25.000.000 20.000.000 5.000.000 Mesin dan peralatan 137.119.422 6.728.067 130.391.355 Inventaris 564.519.498 229.684.243 334.835.255 Alat-alat pengangkutan 143.000.886 10.944.163 132.056.723 Jumlah 869.639.806 267.356.473 602.283.333 Pada tahun 2003, pengurangan aktiva tetap termasuk penghapusan inventaris dengan nilai buku sebesar Rp22.820.554, dan penghapusan alat-alat pengangkutan dengan nilai buku sebesar Rp19.451.138. Pada tahun 2002, pengurangan aktiva tetap termasuk reklasifikasi aktiva tetap dari mesin dan peralatan ke inventaris dengan nilai buku sebesar Rp286.707.475 dan penghapusan inventaris dengan nilai buku sebesar Rp11.579.015. 22

9. AKTIVA TETAP (lanjutan) Pembebanan penyusutan aktiva tetap tahun 2003 dan 2002 adalah sebagai berikut: Beban pabrikasi 33.247.008.841 30.145.595.986 Beban usaha (Catatan 20) 25.595.852.997 25.617.539.388 Jumlah 58.842.861.838 55.763.135.374 Pada tanggal 31 Desember 2002, dua Anak perusahaan (MPI dan MPRI) memiliki uang muka pembelian mesin dan peralatan sebesar Rp21.207.186.000, yang dicatat sebagai Uang Muka Pembelian Persediaan, Mesin dan Peralatan dalam neraca konsolidasi. Tanah atas nama Perusahaan dan Anak perusahaan merupakan Hak Guna Bangunan yang akan jatuh tempo pada berbagai tanggal sampai dengan tanggal 29 Desember 2029 dan manajemen berpendapat hak tersebut dapat diperpanjang pada saat jatuh tempo. Tanah, bangunan dan aktiva tetap tertentu milik Perusahaan dan tiga Anak perusahaan (HI, MPI dan MPRI) digunakan sebagai jaminan atas fasilitas-fasilitas kredit yang diperoleh dari berbagai kreditur (Catatan 13 dan 16). Berdasarkan evaluasi manajemen, tidak terdapat kejadian-kejadian atau perubahan-perubahan keadaan yang mengindikasikan adanya penurunan nilai aktiva Perusahaan dan Anak perusahaan seperti yang disyaratkan dalam PSAK No. 48. Aktiva tetap dan aktiva disewakan (Catatan 11), kecuali tanah, telah diasuransikan terhadap risiko kebakaran dan risiko lainnya berdasarkan suatu paket polis tertentu dengan nilai pertanggungan sebesar Rp570.410.974.011. Manajemen berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutupi kemungkinan kerugian dari risiko kebakaran dan risiko lainnya. Perusahaan (pada tahun 2002) dan dua Anak perusahaan (HI dan MPI) mengadakan perjanjian sewa guna usaha untuk alat-alat pengangkutan dengan berbagai jangka waktu yang akan berakhir pada berbagai tanggal di tahun 2004 dan 2005. Pada tanggal, pembayaran sewa minimum di masa yang akan datang berdasarkan perjanjian tersebut adalah sebagai berikut: Tahun 2003-1.278.048.300 2004 303.534.986 269.925.186 2005 133.302.400 - Jumlah 436.837.386 1.547.973.486 Dikurangi bunga yang belum jatuh tempo 42.854.797 227.520.394 Hutang sewa guna usaha 393.982.589 1.320.453.092 Bagian jatuh tempo dalam satu tahun 257.752.725 1.073.778.875 Bagian jangka panjang 136.229.864 246.674.217 23

9. AKTIVA TETAP (lanjutan) Satu Anak perusahaan (MPI) mengadakan perjanjian pembiayaan konsumen atas alat-alat pengangkutan, yang dijamin dengan alat-alat pengangkutan yang dibiayai tersebut. Pada tanggal 31 Desember 2003, pembayaran sewa minimum di masa yang akan datang berdasarkan Perjanjian tersebut adalah sebagai berikut: Tahun 2004 138.846.000 2005 138.846.000 2006 46.282.000 Total 323.974.000 Dikurang bunga yang belum jatuh tempo 66.832.804 Hutang pembiayaan konsumen 257.141.196 Bagian jatuh tempo dalam satu tahun 93.229.968 Bagian jangka panjang 163.911.228 10. BEBAN DITANGGUHKAN - BERSIH Akun ini merupakan pengeluaran satu Anak perusahaan (HI) untuk desain dan modifikasi teknis produk kamera yang dikapitalisasi dan diamortisasi dengan jangka waktu 6 (enam) tahun sejak tahun 2000. Amortisasi beban ditangguhkan yang dibebankan pada usaha berjumlah Rp10.974.090.276 masing-masing pada tahun 2003 dan 2002, yang dicatat pada akun Beban Pokok Penjualan - Beban Pabrikasi pada laporan laba rugi konsolidasi. 11. AKTIVA DISEWAKAN Aktiva disewakan terdiri dari: 2003 Saldo Awal Penambahan Saldo Akhir Biaya Perolehan Tanah 176.269.500-176.269.500 Bangunan dan prasarana 1.990.522.506-1.990.522.506 Inventaris 244.129.010-244.129.010 Jumlah Biaya Perolehan 2.410.921.016-2.410.921.016 Akumulasi Penyusutan Bangunan dan prasarana 1.481.767.194 80.051.211 1.561.818.405 Inventaris 244.129.010-244.129.010 Jumlah Akumulasi Penyusutan 1.725.896.204 80.051.211 1.805.947.415 Nilai Buku 685.024.812 604.973.601 24

11. AKTIVA DISEWAKAN (lanjutan) 2002 Saldo Awal Penambahan Saldo Akhir Biaya Perolehan Tanah 176.269.500-176.269.500 Bangunan dan prasarana 1.990.522.506-1.990.522.506 Inventaris 244.129.010-244.129.010 Jumlah Biaya Perolehan 2.410.921.016-2.410.921.016 Akumulasi Penyusutan Bangunan dan prasarana 1.405.413.644 76.353.550 1.481.767.194 Inventaris 244.129.010-244.129.010 Jumlah Akumulasi Penyusutan 1.649.542.654 76.353.550 1.725.896.204 Nilai Buku 761.378.362 685.024.812 Beban penyusutan aktiva disewakan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal masing-masing sebesar Rp80.051.211 dan Rp76.353.550. Tanah yang disewakan atas nama satu Anak perusahaan (MPI) merupakan Hak Guna Bangunan yang akan jatuh tempo pada tanggal 21 November 2025 dan manajemen berpendapat hak tersebut dapat diperpanjang pada saat jatuh tempo. 12. DANA PADA BANK BEKU OPERASI Pada tanggal 4 April 1998, Pemerintah mengumumkan bahwa PT Bank Modern Tbk (bank beku operasi), pihak yang mempunyai hubungan istimewa, termasuk dalam salah satu bank yang berada dalam pengawasan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Kemudian pada tanggal 21 Agustus 1998, Pemerintah telah mengumumkan pembekuan operasi PT Bank Modern Tbk (bank beku operasi). Hal ini menyebabkan dana Perusahaan dan beberapa Anak perusahaan berupa rekening giro sejumlah Rp12.394.298.824 (Rp8.100.673.428, AS$601.490 dan 309.370) dan deposito berjangka sejumlah Rp3.806.543.903 (Rp2.950.929.269 dan AS$109.008), yang ditempatkan pada bank tersebut tidak dapat ditarik untuk jangka waktu yang belum ditentukan. Pada tanggal 14 April 1998, manajemen telah mengajukan permohonan tertulis kepada BPPN untuk memperhitungkan dana tersebut dengan pinjaman Perusahaan dan satu Anak perusahaan pada bank tersebut. Pada tanggal, Perusahaan dan Anak perusahaan belum memperhitungkan (set-off) dana dengan pinjaman tersebut di atas. Walaupun demikian, selisih antara saldo dana sebesar Rp16.200.842.727 pada tahun 2003 dan 2002 dengan saldo pinjaman sebesar Rp10.700.000.000 pada tahun 2003 dan 2002 (Catatan 6 dan 13) telah dibentuk penyisihan kerugian. Hutang kepada PT Bank Modern Tbk ini telah dialihkan kepada PT Cakrawala Gita Pratama, pihak yang mempunyai hubungan istimewa, berdasarkan Perjanjian Consent and Acknowledgement tanggal 9 Juli 1999. Dalam Perjanjian Consent and Acknowledgement ini para debitur, termasuk Perusahaan, menyetujui pengalihan semua hak dan kewajiban Bank kepada BPPN, dari BPPN kepada pemegang saham debitur dan dari pemegang saham debitur kepada PT Cakrawala Gita Pratama. 25

12. DANA PADA BANK BEKU OPERASI (lanjutan) Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 15 tahun 2004 tentang pengakhiran tugas dan pembubaran BPPN, dalam pasal 8 dinyatakan bahwa dengan diakhirinya tugas dan dibubarkannya BPPN, Program Penjaminan Pemerintah terhadap kewajiban pembayaran bank umum yang semula dilakukan oleh BPPN berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 26 tahun 1998 dan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 27 tahun 1998, selanjutnya dilaksanakan oleh Menteri Keuangan yang dalam hal ini dilaksanakan oleh Unit Pelaksanaan Penjaminan Pemerintah (UP3) sebagaimana diatur oleh Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 17 tahun 2004. 13. HUTANG JANGKA PENDEK Hutang jangka pendek merupakan pinjaman dari: Pihak ketiga Standard Chartered Bank, Jakarta (AS$10.208.762 pada tahun 2003 dan AS$6.691.970 pada tahun 2002) 86.417.131.137 59.826.215.928 PT Bank Mayapada International Tbk 32.375.300.000 34.562.600.000 PT Bank International Indonesia Tbk 30.000.000.000 - UFJ Bank Limited, Singapura (AS$471.000 pada tahun 2003 dan AS$ 911.000 pada tahun 2002) 3.987.015.000 8.144.340.000 Jumlah pihak ketiga 152.779.446.137 102.533.155.928 Pihak yang mempunyai hubungan istimewa (Catatan 6 dan 12) PT Cakrawala Gita Pratama 10.700.000.000 10.700.000.000 Jumlah 163.479.446.137 113.233.155.928 Berdasarkan Perjanjian Fasilitas Kredit Bank tanggal 19 Juni 2003, Perusahaan memperoleh fasilitas pinjaman dari Standard Chartered Bank, Jakarta (SCB) berupa Letters of Credit, dan Loan against Trust Receipt dengan jumlah maksimum masing-masing sebesar AS$5.300.000, serta Shipping Guarantee dan Bank Guarantee dengan jumlah maksimum masing-masing sebesar AS$2.000.000. Fasilitas pinjaman ini dikenakan suku bunga tahunan sebesar 8,0% pada tahun 2003. Berdasarkan perjanjian kredit tersebut, Perusahaan diharuskan untuk menginformasikan dengan segera kepada Bank jika terjadi perubahan susunan dewan komisaris dan direksi Perusahaan serta Anggaran Dasar Perusahaan, mempertahankan kepemilikan keluarga Honoris sekurang-kurangnya 51% secara langsung maupun tidak langsung, mempertahankan rasio keuangan tertentu, dan tidak diperbolehkan memperoleh pinjaman baru tanpa persetujuan tertulis dari SCB. Perjanjian ini telah diperpanjang sampai tanggal 30 Desember 2004. Pada tanggal 31 Desember 2003, Perusahaan tidak memenuhi salah satu persyaratan dalam perjanjian pinjaman, yaitu mengenai rasio periode persediaan. Manajemen Perusahaan berkeyakinan bahwa tidak dipenuhinya rasio tersebut tidak mempunyai dampak terhadap operasi Perusahaan. 26

13. HUTANG JANGKA PENDEK (lanjutan) Fasilitas pinjaman yang diperoleh satu Anak perusahaan (MPI) dari Standard Chartered Bank, Jakarta (SCB), merupakan fasilitas Letters of Credit termasuk fasilitas Loan against Trust Receipt dan Shipping Guarantee dengan jumlah maksimum AS$8.000.000 (Catatan 22) yang berlaku sampai dengan tanggal 31 Desember 2004. Fasilitas pinjaman ini dikenakan suku bunga tahunan sebesar 8,0% pada tahun 2003 dan 8,0% sampai dengan 8,5% pada tahun 2002 serta dijamin dengan tanah dan bangunan milik Anak perusahaan tersebut dengan nilai hipotik sebesar Rp40.000.000.000 (Catatan 9) dan jaminan pribadi dari 4 (empat) pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Berdasarkan perjanjian kredit tersebut, Anak perusahaan tidak diperbolehkan untuk melakukan penggabungan usaha (merger), konsolidasi, reorganisasi atau perubahan pemilikan, hipotik, penjaminan, penyerahan atau pemindahan aktiva Anak perusahaan, memperoleh pinjaman baru tanpa persetujuan tertulis dari SCB, dan harus mempertahankan rasio keuangan tertentu. Pada tanggal, Anak perusahaan tidak memenuhi salah satu persyaratan dalam perjanjian pinjaman, yaitu mengenai rasio periode pelunasan piutang. Manajemen Anak perusahaan berkeyakinan bahwa tidak dipenuhinya rasio tersebut tidak mempunyai dampak terhadap operasi Anak perusahaan. Berdasarkan Akta Notaris Misahardi Wilamarta, S.H. No. 200 tanggal 31 Juli 2002, satu Anak perusahaan (MPI) memperoleh fasilitas pinjaman dari PT Bank Mayapada International Tbk sejumlah Rp35.000.000.000, yang akan jatuh tempo pada tanggal 18 September 2004. Pinjaman ini dikenakan suku bunga tahunan sebesar 19% pada tahun 2003 dan 21% pada tahun 2002 dan dijamin dengan tanah dan bangunan milik Anak perusahaan yang berlokasi di Serang (Catatan 9). Anak perusahaan telah mendapatkan persetujuan dari Standard Chartered Bank mengenai perolehan pinjaman dari PT Bank Mayapada International Tbk ini. Berdasarkan akta Pengakuan Hutang No. 9 tanggal 4 Juli 2003, yang dibuat oleh notaris James Herman Rahardja, S.H., satu Anak perusahaan (MPRI) mendapat fasilitas pinjaman dari PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) yang terdiri dari: a. Fasilitas rekening koran sebesar Rp5.000.000.000, jangka waktu 12 bulan, atau akan jatuh tempo pada tanggal 4 Juli 2004. b. Pinjaman promes berulang sebesar Rp30.000.000.000, yang akan jatuh tempo dalam 12 bulan. c. Pinjaman berjangka sebesar Rp35.000.000.000, dengan jangka waktu 60 bulan (Catatan 16). Pinjaman ini dijamin dengan tanah dan bangunan Anak perusahaan yang berlokasi di Semarang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali dan daerah lainnya di Jawa, piutang dagang, persediaan dan mesin frontier digital (Catatan 5, 7 dan 9). Pinjaman tersebut dikenakan suku bunga tahunan sebesar 17% sampai dengan 18%. Selama pinjaman ini masih terhutang, Anak perusahaan tidak diperbolehkan melakukan, antara lain, memberikan pinjaman kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa kecuali berhubungan dengan operasional Anak perusahaan, memperoleh tambahan pinjaman kecuali yang telah diinformasikan kepada BII sebelum penandatangan perjanjian, menjual sebagian atau seluruh aktiva Anak perusahaan, menjadi penjamin/penanggung hutang kecuali yang telah diinformasikan kepada BII sebelum penandatanganan perjanjian, mengubah struktur modal kecuali untuk peningkatan modal yang berasal dari kenaikan laba ditahan atau pengeluaran saham baru atau setoran dari pemegang saham Anak perusahaan, membagi dividen, investasi untuk meningkatkan kapasitas Anak perusahaan, melakukan merger/penggabungan perusahaan, konsolidasi atau mengakuisisi saham-saham dalam perusahaan lain, dan mempertahankan beberapa rasio keuangan tertentu. Fasilitas pinjaman yang diperoleh satu Anak perusahaan (MPRI) dari UFJ Bank, Limited, Singapura mempunyai jumlah maksimum sebesar AS$2.000.000. Pinjaman ini dikenakan suku bunga tahunan 2,5% di atas SIBOR serta dijamin dengan jaminan perusahaan dari Perusahaan. Fasilitas ini telah diperpanjang dan akan jatuh tempo pada tanggal 13 November 2004. Saldo terhutang adalah sebesar Rp3.987.015.000 dan Rp8.144.340.000 masing-masing pada tanggal. 27

13. HUTANG JANGKA PENDEK (lanjutan) Fasilitas pinjaman yang diperoleh Perusahaan dan satu Anak perusahaan (MPI) dari PT Bank Modern Tbk (bank beku operasi), Jakarta, dengan jumlah maksimum Rp35.000.000.000 dijamin dengan jaminan pribadi dari Direktur Utama Perusahaan. Fasilitas ini telah berakhir pada tanggal 29 September 1998 dan 6 Januari 1999. Pada tanggal 9 Juli 1999, saldo terhutang pinjaman tersebut sebesar Rp10.700.000.000 telah dialihkan kepada PT Cakrawala Gita Pratama, pihak yang mempunyai hubungan istimewa (Catatan 12). 14. HUTANG USAHA Hutang usaha terdiri atas hutang kepada: Pihak ketiga Impor (AS$7.576.234, 1.350.934.690 dan SIN$497.505 pada tahun 2003 dan AS$ 7.879.630, 2.223.059.186 dan SIN$146.710 pada tahun 2002) 173.562.152.366 238.797.442.341 Lokal (AS$348.554, 26.546.539, SIN$24.364 dan Rp32.249.294.039 pada tahun 2003 dan AS$984.336, 45.690.938, SIN$180.112 dan Rp23.093.202.100 pada tahun 2002) 37.422.740.588 36.266.153.553 Jumlah pihak ketiga 210.984.892.954 275.063.595.894 Pihak yang mempunyai hubungan istimewa (Catatan 6) PT Linda Utomo Perkasa 1.366.749.789 6.050.000 PT Fajarina Unggul Industry 1.239.560.001 518.442.573 PT Modern Toolsindo 644.614.302 385.460.746 PT Hori Elemeca Industry 130.196.123 909.942.228 Jumlah pihak yang mempunyai hubungan istimewa 3.381.120.215 1.819.895.547 Jumlah hutang usaha 214.366.013.169 276.883.491.441 Akun-akun tersebut di atas merupakan hutang dari pembelian produk fotografi Fuji, bingkai, peralatan rumah tangga, baterai, kartu telepon, bahan pembungkus, produk elektronik, kamera digital, album foto, suku cadang dan lain-lain. Pemasok utama Perusahaan dan Anak perusahaan tertentu adalah Fuji Photo Film Co., Ltd., Jepang. Perusahaan dan Anak perusahaan tertentu membeli produk Fuji Photo Film Co., Ltd., Jepang melalui Tai Fung Trading Co., Hong Kong, karena pemasok tidak bersedia menerima fasilitas letters of credit yang diterbitkan di Indonesia. Analisa umur hutang usaha adalah sebagai berikut: 1-30 hari 16.602.723.384 35.628.020.121 31-60 hari 21.134.284.284 56.757.953.499 61-90 hari 83.656.939.400 46.914.072.923 lebih dari 90 hari 92.972.066.101 137.583.444.898 Jumlah 214.366.013.169 276.883.491.441 28

15. PERPAJAKAN a. Hutang pajak terdiri dari: Taksiran hutang pajak penghasilan (setelah dikurangi pembayaran pajak di muka sebesar Rp15.872.392.840 pada tahun 2003 dan Rp15.954.029.490 pada tahun 2002) - 351.698.936 Hutang pajak lainnya Pasal 4 13.788.070 - Pasal 21 3.495.216.947 1.904.880.492 Pasal 22 1.132.965 1.140.331 Pasal 23 313.485.367 181.327.852 Pasal 25 141.914.317 448.761.195 Pasal 26 134.482.789 79.461.828 Pajak Pertambahan Nilai 4.361.411.733 2.140.444.003 Pajak Penjualan atas Barang Mewah 4.115.504.397 4.855.345.094 Jumlah 12.576.936.585 9.963.059.731 b. Rekonsiliasi antara laba sebelum beban pajak seperti yang disajikan dalam laporan laba rugi konsolidasi dengan taksiran penghasilan kena pajak adalah sebagai berikut: Laba sebelum beban pajak menurut laporan laba rugi konsolidasi 26.865.130.143 40.194.939.478 Ditambah (dikurangi) Rugi Anak perusahaan sebelum beban (manfaat) pajak 1.826.873.614 5.467.494.049 Amortisasi selisih lebih biaya perolehan penyertaan atas aktiva bersih Anak perusahaan 2.746.312.530 2.746.312.530 Eliminasi transaksi yang berhubungan dengan Anak perusahaan 508.616.396 2.705.147.674 Laba Perusahaan sebelum beban pajak 31.946.932.683 51.113.893.731 Beda temporer Penyusutan 5.712.771.475 2.089.909.681 Laba penjualan aktiva tetap 61.506.357 150.520.841 Transaksi sewa guna usaha 49.851.200 59.820.000 Penyisihan kesejahteraan karyawan 26.146.602 - Lain-lain 16.254.050 7.678.495 29

15. PERPAJAKAN (lanjutan) Beda tetap Sumbangan dan representasi 3.534.362.704 2.098.235.406 Pemberian kenikmatan kepada karyawan 930.135.044 855.652.104 Kekurangan bayar dan denda pajak 153.266.786 137.648.887 Rugi yang belum direalisasi atas penurunan harga pasar saham 149.140.075 - Beban bunga yang tidak dapat dikurangkan - 52.862.847 Penghapusan piutang tak tertagih - 37.614.242 Penghasilan yang pajaknya bersifat final Sewa (477.423.647) (580.293.611) Bunga (72.656.025) (247.271.145) Taksiran penghasilan kena pajak Perusahaan 42.030.287.304 55.776.271.478 Dikurangi akumulasi rugi fiskal: Tahun 1997-22.149.763.012 Tahun 1998 39.877.215.664 78.196.587.762 Tahun 1999 5.684.411.182 5.684.411.182 Tahun 2000 70.509.186.309 70.509.186.309 Tahun 2001 4.823.424.667 10.930.892.858 Saldo akumulasi rugi fiskal Perusahaan 78.863.950.518 131.694.569.645 c. Perhitungan beban pajak dan taksiran tagihan pajak penghasilan adalah sebagai berikut: Taksiran penghasilan kena pajak Anak perusahaan 16.861.840.399 9.947.890.475 Beban pajak dalam laporan laba rugi konsolidasi 5.870.022.200 3.182.503.500 Pajak dibayar di muka Perusahaan 11.499.968.529 8.736.549.836 Anak perusahaan 24.571.247.245 26.887.580.008 Jumlah pajak dibayar di muka 36.071.215.774 35.624.129.844 Penerimaan tagihan pajak penghasilan Perusahaan 2.595.380.637 2.082.509.745 Anak perusahaan 3.606.552.757 10.205.170.887 Jumlah penerimaan tagihan pajak penghasilan 6.201.933.394 12.287.680.632 Pengurangan tagihan pajak penghasilan Perusahaan 151.340.182 67.680.474 Anak perusahaan 1.175.425.132 239.141.240 Jumlah pengurangan tagihan pajak penghasilan 1.326.765.314 306.821.714 30

15. PERPAJAKAN (lanjutan) Taksiran tagihan pajak penghasilan Perusahaan 8.753.247.710 6.586.359.617 Anak perusahaan 13.919.247.156 13.612.463.317 Jumlah taksiran tagihan pajak penghasilan 22.672.494.866 20.198.822.934 Taksiran hutang pajak penghasilan Anak perusahaan - 351.698.936 d. Perhitungan beban pajak tangguhan adalah sebagai berikut: Beban pajak tangguhan pengaruh beda temporer pada tarif pajak maksimum (30%) Perusahaan Rugi fiskal 15.849.185.739 16.732.881.443 Penyusutan aktiva tetap (1.713.831.443) (626.972.904) Laba penjualan aktiva tetap (18.451.907) (45.156.252) Gaji, upah dan kesejahteraan karyawan (7.843.981) - Lain-lain 59.257.387 105.536.984 Anak perusahaan Penghapusan persediaan usang 241.300.830 (120.252.984) Amortisasi beban ditangguhkan (1.638.075.878) (1.401.768.563) Gaji, upah dan kesejahteraan karyawan (749.068.106) - Penyusutan aktiva tetap (598.494.507) (1.316.633.475) Penyisihan (pembukuan kembali penyisihan) piutang ragu-ragu (551.750.532) 1.106.962.626 Penyisihan kerugian penyertaan saham (376.872.466) - Rugi fiskal (350.152.347) (369.337.882) Sewa (323.942.276) (22.123.854) Lain-lain 120.489.314 3.304.498 Beban pajak tangguhan 9.941.749.827 14.046.439.637 e. Pengaruh pajak tangguhan atas beda temporer antara pelaporan komersial dan pajak adalah sebagai berikut: Aktiva pajak tangguhan Perusahaan Rugi fiskal 23.659.185.155 39.508.370.894 Aktiva tetap 2.831.872.346 1.150.328.881 Piutang 512.050.850 526.184.711 Transaksi sewa guna usaha 189.094.740 183.478.380 Penyisihan kesejahteraan karyawan 7.843.981-31

15. PERPAJAKAN (lanjutan) Anak perusahaan Beban ditangguhkan 4.994.604.272 3.356.528.394 Aktiva tetap 1.655.477.988 3.130.277.672 Dana pada bank beku operasi 1.625.483.670 1.625.483.670 Rugi fiskal 1.013.273.149 663.120.802 Piutang 995.991.888 444.241.356 Biaya masih harus dibayar 565.013.619 - Sewa dibayar di muka 412.623.792 84.067.246 Penyisihan kerugian penyertaan saham 376.872.466 - Persediaan 82.276.639 323.577.469 Lain-lain 117.890.640 117.890.641 Jumlah aktiva pajak tangguhan 39.039.555.195 51.113.550.116 Kewajiban pajak tangguhan Anak perusahaan Aktiva tetap 1.312.772.960 2.695.409.604 Transaksi sewa guna usaha 36.716.621 105.736.710 Jumlah kewajiban pajak tangguhan 1.349.489.581 2.801.146.314 Aktiva pajak tangguhan - bersih 37.690.065.614 48.312.403.802 Aktiva pajak tangguhan Anak perusahaan Penyisihan kesejahteraan karyawan 184.054.487 - Aktiva disewakan 44.244.341 50.086.815 Dana pada bank beku operasi 24.769.148 24.769.148 Jumlah aktiva pajak tangguhan 253.067.976 74.855.963 Kewajiban pajak tangguhan Anak perusahaan Aktiva tetap 1.047.442.633 1.557.816.792 Biaya dibayar di muka 7.559.820 2.945.550 Transaksi sewa guna usaha 4.859.604 (3.039.836) Jumlah kewajiban pajak tangguhan 1.059.862.057 1.557.722.506 Kewajiban pajak tangguhan - bersih 806.794.081 1.482.866.543 32

15. PERPAJAKAN (lanjutan) f. Rekonsiliasi antara beban pajak yang dihitung berdasarkan tarif pajak yang berlaku atas laba sebelum beban pajak dengan beban pajak menurut laporan laba rugi konsolidasi adalah sebagai berikut: Laba sebelum beban pajak menurut laporan laba rugi konsolidasi 26.865.130.143 40.194.939.478 Ditambah (dikurangi) Amortisasi selisih lebih biaya perolehan penyertaan atas aktiva bersih Anak perusahaan 2.746.312.530 2.746.312.530 Eliminasi transaksi yang berhubungan dengan Anak perusahaan 508.616.396 2.705.147.674 Laba Perusahaan dan Anak perusahaan sebelum beban pajak 30.120.059.069 45.646.399.682 Beban pajak berdasarkan tarif pajak yang berlaku 9.018.517.626 13.641.419.905 Pengaruh pajak atas beda tetap 3.553.154.854 3.587.523.232 Penyesuaian atas akumulasi rugi fiskal 3.240.099.547 - Beban pajak 15.811.772.027 17.228.943.137 Aktiva dan kewajiban pajak tangguhan mencakup konsekuensi pajak di masa mendatang sehubungan dengan perbedaan antara dasar laporan komersial dan fiskal dari aktiva dan kewajiban serta pemanfaatan dari akumulasi rugi fiskal bersih yang dapat digunakan telah didasarkan atas rencana kerja Perusahaan dan Anak perusahaan. Aktiva pajak tangguhan diakui sepanjang besar kemungkinan bahwa laba fiskal pada masa yang akan datang dapat menyebabkan aktiva pajak tangguhan dipulihkan. Manajemen Perusahaan dan Anak perusahaan berkeyakinan bahwa aktiva pajak tangguhan tersebut dapat dipulihkan seluruhnya. Untuk tahun 2003, taksiran penghasilan kena pajak (rugi fiskal) adalah sesuai dengan jumlah yang akan dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) yang akan disampaikan Perusahaan dan Anak perusahaan kepada Kantor Pelayanan Pajak, sedangkan untuk tahun 2002, taksiran penghasilan kena pajak (rugi fiskal) adalah sesuai dengan jumlah yang telah dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) yang telah disampaikan Perusahaan dan Anak perusahaan kepada Kantor Pelayanan Pajak. g. Ketetapan Pajak Pada bulan Maret 2003, Perusahaan menerima Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) Pajak Penghasilan Badan, yang menyatakan bahwa Perusahaan memiliki kelebihan pembayaran pajak penghasilan tahun 2001 sebesar Rp2.743.978.563. Disamping itu, pada bulan Februari dan Maret 2003, Perusahaan juga menerima beberapa Surat Tagihan pajak dan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar untuk Pajak Penghasilan dan Pajak Pertambahan Nilai tahun 2001 yang menyatakan bahwa Perusahaan mempunyai kekurangan pembayaran pajak sebesar Rp148.597.926. Jumlah ini telah dikurangkan dengan kelebihan pembayaran pajak penghasilan tahun 2001. Dengan demikian, kelebihan pembayaran pajak penghasilan tahun 2001 setelah dikurangkan dengan kekurangan pembayaran pajak adalah sebesar Rp2.595.380.637. Selisih antara jumlah tersebut dengan taksiran pajak penghasilan yang dicatat oleh Perusahaan sebesar Rp151.340.182 dibebankan pada operasi tahun 2003. 33

15. PERPAJAKAN (lanjutan) Berdasarkan Surat Ketetapan tersebut di atas, rugi fiskal Perusahaan untuk tahun 2001 telah dikoreksi dari Rp10.930.892.858 menjadi Rp4.823.424.667. Disamping itu, akumulasi rugi fiskal juga telah disesuaikan dengan adanya perubahan penghasilan kena pajak Perusahaan tahun 2002 menurut SKPLB yang diterima di tahun 2004 (Catatan 26). Berdasarkan surat dari Direktorat Jenderal Pajak No. 007/IB/PPN/WPJ.07/KP.089/2003 tanggal 31 Maret 2003, kantor pajak memberikan pengembalian bunga atas kelebihan pembayaran pajak Perusahaan tahun 2001 sebesar Rp138.573.640 yang dicatat sebagai bagian dari Pendapatan (Beban) Lain-lain di tahun 2003. Pada bulan Juni 2003, dua Anak perusahaan (MIL dan MPI) menerima Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) yang menyatakan bahwa Anak perusahaan mempunyai kelebihan pembayaran atas Pajak Penghasilan Badan untuk tahun 2001 sebesar Rp3.616.314.189. Disamping itu, pada bulan Agustus, Oktober dan November 2003, tiga Anak perusahaan (MPRI, MIL dan MPI) menerima Surat Tagihan Pajak (STP) dan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar yang menyatakan bahwa Anak perusahaan mempunyai kekurangan pembayaran Pajak Penghasilan Badan, pasal 4, 21, 23, 26 dan Pajak Pertambahan Nilai tahun 2001 sebesar Rp692.224.358. Kekurangan pembayaran pajak ini telah dikurangkan dari kelebihan pembayaran Pajak Penghasilan Badan sebesar Rp9.761.432 dan sisanya sebesar Rp682.462.926 dibebankan pada operasi tahun 2003. Dengan demikian kelebihan pembayaran Pajak Penghasilan Badan tahun 2001 yang diterima Anak perusahaan dari kantor pajak setelah memperhitungkan kekurangan pembayaran pajak tersebut adalah sebesar Rp3.606.552.757. Perbedaan antara jumlah tersebut dengan jumlah taksiran tagihan pajak penghasilan yang dicatat Anak perusahaan sebesar Rp1.165.663.700 dibebankan pada operasi tahun 2003. Berdasarkan surat keputusan Direktorat Jenderal Pajak No. Kep.062-PPN/WPJ.07/KP.0809/2002 tanggal 18 Juli 2002, Kep.077-PPN/WPJ.07/KP.0809/2002 tanggal 25 September 2002 dan Kep.078-PPN/WPJ.07/KP.0809/2002 tanggal 25 September 2002, Kantor Pajak telah mengembalikan sejumlah Rp2.082.509.745 kepada Perusahaan (setelah dikurangi kekurangan pembayaran pajak dan denda pajak). Perbedaan sebesar Rp67.680.474 antara jumlah tersebut dengan taksiran tagihan pajak penghasilan yang dicatat oleh Perusahaan dibebankan pada beban usaha tahun 2002. Pada tahun 2002, tiga Anak perusahaan (HI, MPRI dan MPI) menerima Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) yang menyatakan bahwa Anak perusahaan mempunyai kelebihan pembayaran atas Pajak Penghasilan Badan untuk tahun 2000 sebesar Rp10.093.083.931. Dua Anak perusahaan (HI dan MPI) juga menerima Surat Tagihan Pajak (STP) dan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar yang menyatakan bahwa Anak perusahaan mempunyai kekurangan pembayaran pajak penghasilan tahun 2000 sebesar Rp351.555.262 yang telah dikurangkan dari kelebihan pembayaran Pajak Penghasilan Badan tersebut di atas. Dengan demikian kelebihan pembayaran pajak penghasilan badan tahun 2000 yang diterima Anak perusahaan dari kantor pajak setelah memperhitungkan kekurangan pembayaran pajak tersebut adalah sebesar Rp9.741.528.669. Perbedaan sebesar Rp239.141.240 antara jumlah tersebut dengan jumlah taksiran tagihan pajak penghasilan yang dicatat Anak perusahaan dibebankan pada operasi tahun 2002. Pada tahun 2002, satu Anak perusahaan (MIL) juga telah menerima pengembalian kelebihan pembayaran pajak penghasilan tahun 1999 dari kantor pajak sebesar Rp463.642.218, setelah permohonan bandingnya diterima pada bulan Juli 2002. 34

16. HUTANG BANK JANGKA PANJANG Hutang bank jangka panjang terdiri dari: The Sumitomo Trust and Banking Company Limited, Singapura(AS$6.970.864 pada tahun 2003 dan AS$7.474.568 pada tahun 2002) 59.008.365.029 66.822.636.758 Sumitomo Mitsui Banking Corporation, Singapura (AS$6.970.864 pada tahun 2003 dan AS$7.474.568 pada tahun 2002) 59.008.362.066 66.822.634.701 PT Bank Internasional Indonesia Tbk 35.000.000.000 - PT Bank UFJ Indonesia, Jakarta (AS$3.917.662 pada tahun 2003 dan AS$4.410.397 pada tahun 2002) 33.163.011.540 39.428.947.750 PT Bank DBS Indonesia, Jakarta (AS$3.728.401 pada tahun 2003 dan AS$4.191.736 pada tahun 2002) 31.560.917.512 37.474.123.774 PT Bank Artha Graha 30.000.000.000 - Lehman Brothers Commercial Corporation Asia Limited, Jepang (AS$3.485.432 pada tahun 2003 dan AS$3.737.284 pada tahun 2002) 29.504.183.996 33.411.319.407 Mizuho Corporate Bank, Limited, Singapura (AS$3.485.432 pada tahun 2003 dan AS$3.737.284 pada tahun 2002) 29.504.183.996 33.411.319.407 The Bank of Tokyo-Mitsubishi, Limited, Jakarta (AS$2.091.259 pada tahun 2003 dan AS$2.242.370 pada tahun 2002) 17.702.510.398 20.046.791.644 PT Bank Credit Agricole Indosuez, Jakarta (AS$2.050.335 pada tahun 2003 dan AS$2.368.830 pada tahun 2002) 17.356.083.235 21.177.336.803 PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia, Jakarta (AS$1.682.537 pada tahun 2003 dan AS$1.943.899 pada tahun 2002) 14.242.677.567 17.378.458.669 UFJ Bank, Limited, Singapura (AS$1.394.173 pada tahun 2003 dan AS$1.494.914 pada tahun 2002) 11.801.673.599 13.364.527.763 PT Bank Mizuho Indonesia, Jakarta (AS$1.065.772 pada tahun 2003 dan AS$1.231.327 pada tahun 2002) 9.021.761.520 11.008.065.704 PT Bank Daiwa Perdania, Jakarta (AS$1.045.630 pada tahun 2003 dan AS$1.121.185 pada tahun 2002) 8.851.253.718 10.023.394.794 Jumlah 385.724.984.176 370.369.557.174 Dikurangi bagian jatuh tempo dalam satu tahun 39.344.001.782 31.647.599.999 Bagian jangka panjang 346.380.982.394 338.721.957.175 35

16. HUTANG BANK JANGKA PANJANG (lanjutan) Pada tanggal 31 Juli 2002, Anak perusahaan (HI) mengadakan Perjanjian Perubahan dan Penegasan Pengakuan Hutang III dengan PT Bank UFJ Indonesia, Jakarta, PT Bank DBS Indonesia, Jakarta, PT Bank Credit Agricole Indosuez, Jakarta, PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia, Jakarta dan PT Bank Mizuho Indonesia, Jakarta, dimana PT Bank DBS Indonesia bertindak sebagai koordinator. Para kreditur setuju untuk memperpanjang jatuh tempo hutang sebesar AS$11.906.362 yang dibayar dalam 21 (dua puluh satu) kali angsuran triwulanan mulai dari tanggal 30 September 2002 sampai dengan tanggal 31 Juli 2007. Pinjaman tersebut dikenakan bunga sebesar 2,25% di atas biaya dana bank per tahun dan dijamin dengan piutang, persediaan, aktiva tetap tertentu (Catatan 5, 7 dan 9), jaminan Anak perusahaan dan Perusahaan serta jaminan pribadi dari 4 (empat) pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Perjanjian ini memuat beberapa pembatasan, antara lain, pembagian dividen, memperoleh tambahan pinjaman, menjaminkan atau menggadaikan pendapatan dan aktiva saat ini dan masa depan dan aktiva di luar yang telah dijaminkan dalam perjanjian ini, transaksi dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa yang dilakukan tidak dengan persyaratan dan kondisi normal, reorganisasi, penggabungan usaha, perubahan Anggaran Dasar, melakukan investasi, menjual atau memindahkan sebagian atau seluruh aktiva dan pendapatan di luar kegiatan usaha Anak perusahaan, melakukan pengeluaran barang modal (capital expenditure) dalam jumlah yang melebihi AS$1.000.000 atau Rp10 milyar atau pembukaan rekening koran dengan bank lain di luar Escrow Account dan rekening koran yang sebelumnya telah disetujui oleh para kreditur dan diatur dalam perjanjian ini. Pada tanggal 5 Februari 2001, Perusahaan, seluruh Bank yang merupakan kreditur Perusahaan (The Sumitomo Trust and Banking Company, Limited, Singapura, Mizuho Corporate Bank, Limited, Singapura, Lehman Brothers Commercial Corporation Asia Limited, Jepang, The Bank of Tokyo- Mitsubishi, Limited, Jakarta, PT Bank UFJ Indonesia, Jakarta, PT Bank DBS Indonesia, Jakarta, UFJ Bank, Limited, Singapura dan PT Bank Daiwa Perdania, Jakarta) dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation, Singapura, yang bertindak sebagai agen fasilitas ( Facilities Agent ) dan agen penjamin ( Security Agent ) mengadakan perjanjian restrukturisasi. Saldo hutang bank pada saat restrukturisasi adalah sebesar AS$34.182.000. Hutang bank tersebut dijamin dengan persediaan, tanah dan jaminan pribadi dari Direktur Utama Perusahaan dan akan dibayar secara bulanan dengan angsuran pertama sampai ke dua puluh empat masing-masing sebesar AS$170.000 dan sisanya sebesar AS$30.102.000 akan dilunasi pada bulan ke dua puluh empat (Catatan 7 dan 9). Jika sisanya tersebut belum dilunasi, Perusahaan dapat membayar secara angsuran bulanan dengan angsuran ke dua puluh lima sampai ke tiga puluh enam masing-masing sebesar AS$170.000 dan sisanya sebesar AS$28.062.000 akan dilunasi pada bulan ke tiga puluh enam. Jika sisanya tersebut belum dilunasi, Perusahaan dapat membayar secara angsuran bulanan dengan angsuran ke tiga puluh tujuh sampai ke empat puluh delapan masing-masing sebesar AS$270.000 dan sisanya sebesar AS$24.822.000 akan dilunasi pada bulan ke empat puluh delapan. Jika sisanya tersebut belum dilunasi, Perusahaan dapat membayar secara angsuran bulanan dengan angsuran ke empat puluh sembilan sampai ke lima puluh sembilan masing-masing sebesar AS$300.000 dan sisanya sebesar AS$21.522.000 akan dilunasi pada bulan ke enam puluh. Pembayaran angsuran bulanan kepada masing-masing bank dilakukan secara prorata dari saldo hutang Perusahaan pada Bank yang bersangkutan. Tanpa persetujuan tertulis dari Bank, Perusahaan tidak diperbolehkan untuk, antara lain: - Mengubah kegiatan usaha Perusahaan; - Melakukan penggabungan usaha dan akuisisi atas perusahaan lain; - Menambah hutang; - Memberikan jaminan atau dukungan keuangan secara langsung atau tidak langsung; - Memberikan pinjaman secara langsung maupun tidak langsung kepada anggota Keluarga Honoris; - Melakukan pembelian aktiva tetap atau pengeluaran modal di atas AS$1.000.000 atau penjualan aktiva tetap di atas AS$100.000. 36

16. HUTANG BANK JANGKA PANJANG (lanjutan) Disamping itu, Perusahaan harus mempertahankan rasio keuangan tertentu, dimana perbandingan antara jumlah hutang bank sebelum konsolidasi terhadap jumlah ekuitas sebelum konsolidasi tidak boleh melebihi 3 : 1. Pinjaman ini dikenakan suku bunga tahunan sebesar 2,375% di atas SIBOR pada tahun 2003 dan 2002. Pada tahun 2003, satu Anak perusahaan (MPRI) memperoleh fasilitas pinjaman berjangka dari PT Bank Internasional Indonesia Tbk dengan jumlah maksimum fasilitas kredit sebesar Rp35.000.000.000. Pinjaman ini dikenakan suku bunga 17% flat per tahun. Jangka waktu pinjaman ini adalah 60 bulan, termasuk masa tenggang waktu satu tahun sejak penarikan fasilitas. Fasilitas ini dijamin dengan jaminan yang sama atas fasilitas pinjaman rekening koran dan pinjaman promes berulang (Catatan 13). Suku bunga tahunan pinjaman berjangka ini berkisar antara 17% - 18% pada tahun 2003. Berdasarkan Akta Notaris Sinta Susikto, S.H., No. 19 tanggal 6 Juni 2003, satu Anak perusahaan (MPI) memperoleh fasilitas pinjaman tetap dari PT Bank Artha Graha (BAG) sebesar Rp30.000.000.000. Pinjaman ini adalah untuk modal kerja dan investasi Anak perusahaan. Pinjaman ini dikenakan suku bunga tahunan sebesar 20% dan dijamin dengan beberapa bidang tanah di Jakarta dan Surabaya yang dimiliki oleh beberapa pihak yang mempunyai hubungan istimewa dan jaminan pribadi dari 2 (dua) pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Pinjaman ini akan jatuh tempo pada tanggal 9 Juni 2008 yang akan dibayar dalam 60 (enam puluh) angsuran bulanan sesudah tenggang waktu 12 (dua belas) bulan dengan jadwal pembayaran sebagai berikut: Tahun Jumlah 2004 3.750.000.000 2005 7.500.000.000 2006 7.500.000.000 2007 7.500.000.000 2008 3.750.000.000 BAG mempunyai hak untuk membatalkan perjanjian kredit, jika Anak perusahaan (MPI) melakukan, antara lain, menerima pinjaman atau memberikan pinjaman kecuali dalam rangka menjalankan usaha Anak perusahaan sehari-hari, menjaminkan, menjual sebagian atau seluruh harta Anak perusahaan kecuali dalam rangka menjalankan usaha Anak perusahaan sehari-hari, merubah bidang usaha Anak perusahaan, merger atau konsolidasi, membubarkan Anak perusahaan, merubah anggaran dasar, merubah susunan direksi, komisaris atau pemegang saham Anak perusahaan, mengeluarkan sahamsaham baru, membayar hutang atau dividen kepada pemegang saham. 37

17. MODAL SAHAM Pada tanggal, rincian pemegang saham dan pemilikannya masingmasing adalah sebagai berikut: 2003 dan 2002 Jumlah Saham Ditempatkan Persentase Pemegang Saham dan Disetor Penuh Pemilikan Jumlah PT Inti PutraModern 109.707.500 41,124% 54.853.750.000 PT Inti Lindasihaja 15.505.500 5,812 7.752.750.000 Koperasi Pasar Pulo Gadung 106.500 0,040 53.250.000 Masyarakat (masing-masing di bawah 5%) 141.450.400 53,024 70.725.200.000 Jumlah 266.769.900 100,000% 133.384.950.000 18. PENJUALAN BERSIH Penjualan bersih merupakan pendapatan yang diperoleh dari sumber-sumber sebagai berikut: Barang dagangan dan jasa Produk fotografi 1.179.253.744.860 1.185.183.697.853 Telekomunikasi (kartu telepon) 212.281.927.591 306.179.794.231 Produk elektronik dan magnetik 160.047.171.320 216.023.938.491 Produk industrial 58.709.633.802 68.915.554.650 Lain-lain 83.950.644.693 80.630.858.107 Jumlah 1.694.243.122.266 1.856.933.843.332 Jumlah penjualan bersih tersebut di atas termasuk penjualan ekspor dan jasa kepada pihak luar negeri sebesar Rp471.428.060.323 dan Rp591.382.128.131 masing-masing untuk tahun 2003 dan 2002. Satu Anak perusahaan (HI) melakukan penjualan yang melebihi 10 (sepuluh)% dari jumlah penjualan bersih konsolidasi kepada Mitsui & Co., Limited, Jepang, sebesar Rp401.674.915.379 (23,708%) dan Rp515.611.509.936 (27,767%) masing-masing untuk tahun 2003 dan 2002. 19. BEBAN POKOK PENJUALAN Rincian beban pokok penjualan adalah sebagai berikut: Pemakaian Bahan Baku 688.488.569.425 949.378.460.567 Upah Buruh Langsung 56.903.802.309 58.910.206.407 Beban Pabrikasi 89.791.744.291 94.428.079.924 Jumlah Beban Pabrikasi 835.184.116.025 1.102.716.746.898 38

19. BEBAN POKOK PENJUALAN (lanjutan) Persediaan Barang dalam Proses Awal tahun 28.523.100.418 18.243.629.180 Akhir tahun (10.586.979.793) (28.523.100.418) Beban Pokok Produksi 853.120.236.650 1.092.437.275.660 Persediaan Barang Jadi Awal tahun 196.444.043.912 145.563.698.115 Pembelian 531.472.826.978 578.430.288.777 Akhir tahun (206.521.429.996) (196.444.043.912) Beban Pokok Barang yang Dijual 1.374.515.677.544 1.619.987.218.640 Perusahaan dan Anak perusahaan melakukan pembelian yang melebihi 10 (sepuluh)% dari jumlah penjualan bersih konsolidasi kepada pihak-pihak sebagai berikut: 2003 % 2002 % Mitsui & Co., Limited, Jepang 247.760.634.889 14,62 722.165.152.725 38,89 Tai Fung Trading Co., Hong Kong 325.326.214.308 19,20 333.792.193.141 17,98 PT Telekomunikasi Selular - - 198.356.144.061 10,68 Jumlah 573.086.849.197 1.254.313.489.927 20. BEBAN USAHA Rincian beban usaha adalah sebagai berikut: Beban Penjualan Gaji, upah dan kesejahteraan karyawan (Catatan 23) 43.121.335.445 39.561.956.622 Iklan, pameran dan promosi 42.832.856.963 47.619.943.374 Pengepakan dan pengiriman 18.208.157.233 12.188.422.710 Sewa 12.937.912.351 10.090.043.087 Penyusutan (Catatan 9) 8.557.054.783 9.214.390.100 Perjalanan dan transportasi 5.717.289.524 5.572.220.539 Listrik, air, telepon dan faksimili 5.058.298.341 4.769.563.227 Pemeliharaan dan perbaikan 3.657.378.890 4.104.674.400 Biaya konsultan 2.911.622.396 1.971.444.378 Lain-lain (masing-masing di bawah Rp2 milyar) 12.016.159.804 10.813.808.081 Jumlah beban penjualan 155.018.065.730 145.906.466.518 39

20. BEBAN USAHA (lanjutan) Beban Umum dan Administrasi Gaji, upah dan kesejahteraan karyawan (Catatan 23) 66.203.972.505 54.760.523.838 Penyusutan (Catatan 9) 17.038.798.214 16.403.149.288 Jamuan dan representasi 7.708.338.768 4.988.859.675 Pemeliharaan dan perbaikan 5.669.153.180 5.589.109.798 Listrik, air, telepon dan faksimili 5.475.892.256 4.983.614.627 Perjalanan dan transportasi 5.436.362.309 5.876.311.969 Sewa 5.263.419.250 4.552.927.145 Biaya bank 2.736.361.708 1.890.507.830 Pajak dan perizinan 2.553.923.994 3.072.806.040 Lain-lain (masing-masing di bawah Rp2 milyar) 16.892.584.940 14.139.506.576 Jumlah beban umum dan administrasi 134.978.807.124 116.257.316.786 Jumlah 289.996.872.854 262.163.783.304 21. INFORMASI SEGMEN Segmen Primer Kegiatan Perusahaan dan Anak perusahaan dikelompokkan dalam divisi usaha yang terdiri dari produk-produk fotografi, telekomunikasi (kartu telepon), elektronik dan magnetik dan lain-lainnya. Divisi usaha ini juga digunakan sebagai dasar pelaporan informasi segmen primer. Segmen usaha yang dilaporkan memenuhi baik pengujian 10% maupun pengujian 75% seperti yang dipersyaratkan dalam PSAK No. 5. Informasi segmen primer yang berupa segmen usaha Perusahaan dan Anak perusahaan adalah sebagai berikut: Tahun 2003 Telekomunikasi Elektronik dan Fotografi (Kartu Telepon) Magnetik Lain-lain Jumlah Pendapatan Penjualan bersih 1.179.253.744.860 212.281.927.591 160.047.171.320 142.660.278.495 1.694.243.122.266 Penjualan Antar Segmen - - - - - Jumlah Pendapatan 1.179.253.744.860 212.281.927.591 160.047.171.320 142.660.278.495 1.694.243.122.266 Hasil (Beban) yang Tidak Dapat Dialokasikan Hasil Segmen 319.727.444.722 Beban Usaha (289.996.872.854) Beban Bunga (33.682.658.722) Penghasilan Bunga 492.827.509 Penghasilan Lain-lain 30.324.389.488 Beban Pajak (15.811.772.027) Laba Bersih 11.053.358.116 40

21. INFORMASI SEGMEN (lanjutan) Segmen Primer (lanjutan) Tahun 2003 (lanjutan) Telekomunikasi Elektronik dan Fotografi (Kartu Telepon) Magnetik Lain-lain Jumlah Aktiva dan Kewajiban Aktiva Segmen 356.455.495.562 14.094.317.525 40.149.638.348 60.720.259.121 471.419.710.556 Aktiva yang Tidak Dapat Dialokasikan 566.982.240.626 Jumlah Aktiva 1.038.401.951.182 Jumlah Kewajiban yang Tidak Dapat Dialokasikan 805.550.977.826 Informasi Segmen Lainnya Pengeluaran modal 89.674.359.229 Penyusutan 58.842.861.838 Tahun 2002 Telekomunikasi Elektronik dan Fotografi (Kartu Telepon) Magnetik Lain-lain Jumlah Pendapatan Penjualan bersih 1.185.183.697.853 306.179.794.231 216.023.938.491 149.546.412.757 1.856.933.843.332 Penjualan Antar Segmen - - - - - Jumlah Pendapatan 1.185.183.697.853 306.179.794.231 216.023.938.491 149.546.412.757 1.856.933.843.332 Hasil (Beban) yang Tidak Dapat Dialokasikan Hasil Segmen 236.946.624.692 Beban Usaha (262.163.783.304) Beban Bunga (24.526.008.160) Penghasilan Bunga 1.398.320.727 Penghasilan Lain-lain 88.539.785.523 Beban Pajak (17.228.943.137) Laba Bersih 22.965.996.341 Aktiva dan Kewajiban Aktiva Segmen 372.500.696.681 20.844.649.583 52.049.202.016 72.955.813.040 518.350.361.320 Aktiva yang Tidak Dapat Dialokasikan 499.553.262.673 Jumlah Aktiva 1.017.903.623.993 Jumlah Kewajiban yang Tidak Dapat Dialokasikan 796.106.008.753 Informasi Segmen Lainnya Pengeluaran modal 28.142.158.358 Penyusutan 55.763.135.374 Segmen Sekunder Bentuk sekunder pelaporan segmen Perusahaan dan Anak perusahaan adalah segmen geografis yang ditentukan berdasarkan lokasi aktiva atau operasi Perusahaan, yakni Pulau Jawa, Pulau Sumatera, Pulau Sulawesi, Pulau Kalimantan, Pulau Bali, Pulau Batam dan lainnya. Segmen yang dilaporkan memenuhi baik pengujian 10% maupun pengujian 75% seperti yang dipersyaratkan dalam PSAK No. 5. 41

21. INFORMASI SEGMEN (lanjutan) Segmen Sekunder (lanjutan) Informasi bentuk segmen sekunder berdasarkan geografis adalah sebagai berikut: Penjualan Bersih Pulau Jawa 1.319.923.562.612 1.377.970.721.908 Sumatera 132.890.503.764 127.432.908.971 Sulawesi 66.011.015.973 66.667.914.420 Kalimantan 53.339.922.379 49.777.961.514 Bali 44.944.627.609 47.797.932.519 Batam 18.368.462.621 20.845.121.116 Penjualan Ekspor dan Jasa Kepada Pihak Luar Negeri 471.428.060.323 591.382.128.131 Jumlah 2.106.906.155.281 2.281.874.688.579 Eliminasi (412.663.033.015) (424.940.845.247) Jumlah Penjualan Bersih 1.694.243.122.266 1.856.933.843.332 Aktiva Pulau Jawa 837.747.226.074 779.954.673.972 Sumatera 18.390.138.087 29.244.892.093 Sulawesi 14.788.613.994 16.992.080.458 Kalimantan 8.489.254.395 11.585.340.875 Bali 5.256.105.339 11.211.029.112 Batam 2.668.232.046 3.306.694.525 Aktiva yang Tidak Dapat Dialokasikan 506.498.734.136 491.882.106.978 Jumlah 1.393.838.304.071 1.344.176.818.013 Eliminasi (355.436.352.889) (326.273.194.020) Jumlah Aktiva 1.038.401.951.182 1.017.903.623.993 22. PERJANJIAN-PERJANJIAN PENTING DAN IKATAN a. Sejak tahun 1971, Perusahaan mengadakan perjanjian distributor dengan Fuji Photo Film Co., Ltd., Jepang (Fuji), dimana Perusahaan sebagai distributor tunggal Fuji di Indonesia diberikan izin untuk menjual, memasarkan atau mendistribusikan dan melakukan jasa perbaikan atas peralatan fotografi, produk peka cahaya lainnya dan produk-produk lain dari Fuji. Fuji juga memberikan wewenang dan izin kepada Perusahaan untuk menggunakan semua merek dagang terdaftar yang sekarang atau di kemudian hari dimiliki oleh Fuji. Perjanjian distributor ini telah diperbarui pada tahun 1998 dan 1999 dan akan berakhir pada tanggal 31 Januari 2006. Dalam perjanjian tersebut, disebutkan apabila terdapat perubahan manajemen atau kepemilikan Perusahaan yang signifikan, harus segera diberitahukan kepada Fuji. Dalam hal tersebut, Fuji akan segera mengakhiri perjanjian tersebut dengan mengirimkan pemberitahuan secara tertulis kepada Perusahaan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak Fuji mengetahui perubahan tersebut. 42

22. PERJANJIAN-PERJANJIAN PENTING DAN IKATAN (lanjutan) b. Pada tanggal 1 April 1999, satu Anak perusahaan (HI) mengadakan perjanjian komisi dengan PT Mitsui Indonesia (MI) dan Mitsui & Co., Ltd., Jepang (Mitsui) sehubungan dengan produk audio mobil (car audio products) yang dirakit dan disediakan oleh Anak perusahaan ke pabrik domestik, melalui agen penjualan audio mobil Pioneer di Indonesia (untuk selanjutnya disebut agen ). MI dan Mitsui, sesuai dengan permintaan Anak perusahaan memberikan informasi penting sehubungan dengan promosi penjualan oleh Pioneer Electronics Asiacentre Pte., Ltd., Singapura (PEA) dan Pioneer Electronic Corporation, Jepang. Sebagai imbalan, mulai tanggal 1 April 2001, Anak perusahaan membayar biaya jasa sebesar AS$0,54 per unit aktual produk yang dikirim kepada agen. Perjanjian ini diperpanjang secara otomatis setiap tahun kecuali ada pemberitahuan dari salah satu pihak secara tertulis tidak lebih dari 6 (enam) bulan sebelum perjanjian ini berakhir. Biaya komisi yang dibebankan pada operasi selama tahun 2003 dan 2002 atas jasa yang diberikan masing-masing adalah sebesar Rp134.918.460 dan Rp56.288.268 yang dicatat sebagai bagian dari Beban Pokok Penjualan - Beban Pabrikasi pada laporan laba rugi konsolidasi. c. Pada tanggal 1 Agustus 1990, Perusahaan ditunjuk sebagai distributor tunggal oleh Itotec Co., Ltd., Jepang, untuk mesin pemotong kertas di Indonesia. Penunjukan distributor ini akan berakhir apabila ada pemberitahuan dari salah satu pihak untuk mengakhiri perjanjian ini. d. Pada tanggal 8 Agustus 1990, Perusahaan mengadakan perjanjian distributor dengan Fuji Hunt Photographic Chemicals Pte. Ltd., Singapura (Fuji Hunt), dimana Perusahaan sebagai distributor tunggal Fuji Hunt di Indonesia diberikan izin untuk menjual bahan kimia untuk cuci cetak foto. Perjanjian distributor ini masih berlaku, kecuali ada pemberitahuan dari salah satu pihak untuk mengakhiri perjanjian tersebut. e. Pada tanggal 1 April 1999, Perusahaan mengadakan perjanjian distributor dengan Ricoh Asia Pacific Pte. Ltd., Singapura (Ricoh), dimana Perusahaan sebagai distributor tunggal Ricoh di Indonesia diberikan izin untuk menjual mesin fotokopi, printer, scanner, mesin fax beserta dengan suku cadang Ricoh. Perjanjian distributor ini telah berakhir pada tanggal 1 April 2003. Pada tanggal 15 Januari 2003, Perusahaan mengadakan Perjanjian Novasi yang merupakan pelengkap dari Perjanjian Pengalihan Usaha dengan Ricoh Asia Pacific Pte. Ltd., Singapura (RAP) dan Ricoh Hong Kong Ltd., Hong Kong (RHK). Di dalam perjanjian tersebut, disebutkan bahwa efektif tanggal 1 Januari 2003, RAP mengalihkan usahanya kepada RHK, sehingga Perusahaan melepaskan RAP dari segala kewajiban, tuntutan, serta permintaan berdasarkan Perjanjian-perjanjian yang dialihkan, dan menerimanya menjadi kewajiban RHK berdasarkan Perjanjian-perjanjian yang dialihkan. Seluruh piutang yang jatuh tempo dan terhutang pada tanggal efektif pengalihan dan sesudahnya akan tetap jatuh tempo dan terhutang kepada RAP. f. Sejak tanggal 1 Februari 1978, satu Anak perusahaan (MPI) mengadakan perjanjian dengan Fuji Photo Film Co., Ltd., Jepang (Fuji), dimana Anak perusahaan tersebut diberikan izin untuk membeli film dan kertas foto dalam bentuk master roll, memprosesnya sesuai dengan teknologi dan menggunakan merek dagang Fuji serta menjualnya kepada Perusahaan untuk pasar lokal. Perjanjian ini akan berakhir apabila ada pemberitahuan dari salah satu pihak untuk mengakhiri perjanjian ini. Selain itu, sejak tahun 1997, Anak perusahaan juga diberi izin untuk memproduksi pembungkus film dengan menggunakan teknologi Fuji. Anak perusahaan harus membayar royalti kepada Fuji untuk setiap pembungkus film yang diproduksi sebesar 0,4. Royalti yang dibebankan pada usaha berjumlah Rp1.221.296.438 dan Rp933.325.680 masing-masing pada tahun 2003 dan 2002 dan dicatat dalam akun Beban Lain-lain - Royalti pada laporan laba rugi konsolidasi. 43

22. PERJANJIAN-PERJANJIAN PENTING DAN IKATAN (lanjutan) g. Sejak tanggal 21 November 1990, satu Anak perusahaan (HI) mempunyai hak untuk memproduksi kamera di Indonesia dengan menggunakan merek dagang Fuji dan menjualnya kepada Perusahaan selaku distributor. Sebagai imbalan atas hak yang diberikan kepada Anak perusahaan tersebut oleh Fuji Photo Film Co., Ltd., Jepang (Fuji), Anak perusahaan harus membayar kepada Fuji royalti sebesar 6% dari harga jual bersih untuk setiap kamera yang diproduksi dan dijual untuk pasar lokal. Royalti ini terhutang setiap setengah tahunan. Perjanjian ini telah berakhir pada tanggal 20 Oktober 1993, dan diperpanjang secara otomatis setiap tahun sampai ada pemberitahuan dari salah satu pihak untuk mengakhiri perjanjian ini. Pada tanggal 1 Juli 2000, Anak perusahaan juga mengadakan perjanjian usaha kamera Fuji dengan Fuji Photo Film Co., Ltd., Jepang (Fuji), Fuji Photo Optical Co., Ltd., Jepang (FPO) dan Mitsui & Co., Ltd., Jepang (Mitsui), dimana Anak perusahaan telah ditunjuk oleh FPO untuk memproduksi, merakit dan menjual kepada FPO alat-alat optik (optical instruments) melalui Mitsui dan Perusahaan di bawah bantuan teknis dan keahlian dari Fuji dan FPO. Anak perusahaan harus membayar kepada Fuji suatu royalti untuk setiap produk yang dijual melalui Perusahaan sebesar 6% dari harga jual bersih atau 3% dari harga jual bersih apabila poduk tersebut dikembangkan oleh Anak perusahaan dengan menggunakan merek dagang Fuji. Perjanjian ini telah berakhir pada tanggal 30 September 2001 dan diperpanjang secara otomatis setiap periode atau setiap tahun, kecuali ada pemberitahuan dari salah satu pihak secara tertulis untuk mengakhiri perjanjian ini. Royalti yang dibebankan pada operasi berjumlah Rp760.659.313 dan Rp907.294.223 masing-masing untuk tahun 2003 dan 2002 dan dicatat dalam akun Beban Lain-lain - Royalti pada laporan laba rugi konsolidasi. h. Pada tanggal 26 November 1993, satu Anak perusahaan (HI) mengadakan perjanjian perakitan dengan Pioneer Electronic Corporation, Jepang (PEC), Pioneer Electronics Asiacentre Pte. Ltd., Singapura (PEA), (bersama-sama disebut Pioneer ) dan Mitsui & Co., Ltd., Jepang ( Mitsui ), di mana Anak perusahaan akan merakit produk audio mobil (car audio products) dan mengirimkannya ke Pioneer melalui Mitsui. Sebagai imbalan, Mitsui akan membayar jasa perakitan kepada Anak perusahaan sesuai dengan kesepakatan para pihak. Perjanjian ini telah berakhir pada tanggal 31 Maret 1997 dan diperpanjang secara otomatis setiap tahun sampai ada pemberitahuan dari salah satu pihak untuk mengakhiri perjanjian ini. Mulai tahun 1997, Anak perusahaan tidak hanya melakukan perakitan, tetapi juga membeli suku cadang dan memproduksi audio mobil tersebut serta menjualnya kembali kepada Mitsui. Jumlah penjualan di tahun 2003 dan 2002 masing-masing sebesar Rp110.841.676.291 dan Rp189.890.369.375. Pada tanggal 1 September 1997, satu Anak perusahaan (HI) mengadakan perjanjian lisensi dengan Pioneer Electronic Corporation, Jepang (PEC) di mana Anak perusahaan akan memperoleh suatu lisensi untuk penggunaan teknologi tertentu, pengetahuan dan informasi yang diperlukan untuk merakit, memproduksi dan menjual produk elektronik mobil tertentu. Sebagai imbalan, Anak perusahaan harus membayar kepada PEC suatu royalti sebesar 5% dari harga jual bersih untuk setiap produk yang diproduksi. Anak perusahaan juga harus membayar suatu hak paten sebesar AS$ 0,20 per unit kepada pemegang lisensi pihak ketiga untuk paten yang digunakan. Royalti dan hak paten yang dibebankan pada usaha sebesar Rp964.920.761 dan Rp847.805.248, masing-masing pada tahun 2003 dan 2002, dan dicatat dalam akun Beban Lainlain - Royalti pada laporan laba rugi konsolidasi. Perjanjian ini telah berakhir pada tanggal 31 Maret 1999 dan telah diperpanjang secara otomatis setiap tahun, kecuali ada pemberitahuan dari salah satu pihak secara tertulis untuk mengakhiri perjanjian tersebut tidak lebih dari 90 (sembilan puluh) hari sebelum perjanjian ini berakhir. 44

22. PERJANJIAN-PERJANJIAN PENTING DAN IKATAN (lanjutan) Pada tanggal 1 April 1999, Anak perusahaan (HI) juga mengadakan perjanjian dengan PEA, di mana PEA setuju untuk memberikan panduan dan bantuan untuk merakit, memproduksi dan memperbaiki produk elektronik mobil untuk dijual di Indonesia. Sebagai imbalan, Anak perusahaan membayar biaya teknis sebesar 5% dari harga jual bersih. Mulai tanggal 1 April 2000, biaya teknis yang dibebankan kepada Anak perusahaan berubah menjadi 2,5% dari harga jual bersih. Biaya teknis yang dibebankan pada usaha pada tahun 2003 dan 2002 masing-masing sebesar lebih kurang Rp2.118 juta dan Rp1.130 juta dan dicatat sebagai bagian dari Beban Pokok Penjualan - Beban Pabrikasi pada laporan laba rugi konsolidasi. Perjanjian ini telah berakhir pada tanggal 31 Maret 2000 dan diperpanjang secara otomatis untuk periode satu tahun berikutnya sampai ada pemberitahuan dari salah satu pihak secara tertulis tidak lebih dari 90 (sembilan puluh) hari sebelum perjanjian ini berakhir. i. Pada tanggal 1 November 2000, satu Anak perusahaan (HI) mengadakan perjanjian dengan Mitsui & Co., Ltd., Jepang (Mitsui) di mana Anak perusahaan telah ditunjuk oleh Mitsui dan Showa Aircraft Industry Co., Ltd., Jepang (Showa) sebagai pabrikan untuk memproduksi, merakit dan menjual kepada Mitsui dan designeenya seperti produk honeycomb berdasarkan design dan spesifikasi dasar Showa. Perjanjian ini telah berakhir pada tanggal 1 Agustus 2003 dan diperpanjang secara otomatis setiap periode atau setiap tahun, kecuali ada pemberitahuan dari salah satu pihak secara tertulis untuk mengakhiri perjanjian tersebut. Jumlah penjualan pada tahun 2003 dan 2002 masing-masing adalah sebesar Rp2.314.439.672 dan Rp4.327.091.764. Pada tanggal 1 Februari 2001, satu Anak perusahaan (HI) mengadakan perjanjian dasar dengan Kawai Musical Instruments Mfg. Co., Ltd., Jepang (Kawai) dan Mitsui & Co., Ltd., Jepang (Mitsui) di mana Anak perusahaan akan merakit piano digital dan keyboard piano digital serta menjualnya kembali kepada Kawai melalui Mitsui. Perjanjian ini akan berakhir pada tanggal 31 Maret 2004. Sebagai imbalan, Anak perusahaan akan menerima jasa perakitan dari Mitsui sesuai dengan kesepakatan para pihak. Imbalan yang diterima Anak perusahaan berjumlah Rp44.050.659.251 dan Rp45.783.538.337 masing-masing untuk tahun 2003 dan 2002, yang disajikan dalam akun Penjualan Bersih pada laporan laba rugi konsolidasi. Berdasarkan surat No. JKEBB- 002TN0331F tanggal 31 Maret 1999 dari PT Mitsui Indonesia, Anak perusahaan setuju untuk membayar royalti sebesar 12,5% per unit keyboard dan 20% per unit piano digital yang dijual di pasar lokal. Tidak ada royalti yang dibebankan pada operasi pada tahun 2003 dan 2002. Pada tanggal 1 Maret 2001, Anak perusahaan (HI) mengadakan perjanjian komisi dengan PT Mitsui Indonesia (MI) sehubungan dengan produk piano digital dan keyboard yang dirakit oleh Anak perusahaan untuk Mitsui & Co., Ltd., Jepang, dimana MI menyediakan informasi penting sehubungan dengan produk yang diekspor oleh Anak perusahaan. Biaya jasa yang dibebankan pada usaha selama tahun 2003 dan 2002 masing-masing sebesar Rp533.833.586 dan Rp656.294.729 yang dicatat sebagai bagian dari biaya perolehan persediaan. Perjanjian ini berlaku satu tahun sejak ditandatangani dan akan diperpanjang secara otomatis setiap tahun sampai ada pemberitahuan dari salah satu pihak secara tertulis tidak lebih dari 3 (tiga) bulan sebelum perjanjian ini berakhir. j. Pada tanggal 27 Maret 2002, satu Anak perusahaan (HI) mengadakan perjanjian dengan Pioneer Technology (M) Sdn Bhd. (Pioneer), Malaysia (MPT) dan Mitsui & Co., Ltd. (Mitsui), Jepang, dimana Anak perusahaan tersebut telah ditunjuk untuk memproduksi produk dengan menggunakan teknologi Pioneer sesuai dengan spesifikasi dan sampel dari Pioneer dan menjual produk tersebut kepada Pioneer melalui Mitsui. Mitsui akan membantu Anak perusahaan untuk memproduksi produk tersebut bilamana diperlukan dan bertanggung jawab untuk melakukan impor (pembelian) suku cadang Pioneer dari Pioneer dan ekspor barang jadi ke Pioneer. Perjanjian ini telah berakhir pada tanggal 27 Maret 2003 dan diperpanjang secara otomatis sampai ada pemberitahuan tertulis dari salah satu pihak untuk mengakhiri perjanjian tersebut tidak lebih dari 60 (enam puluh) hari sebelum perjanjian ini berakhir. Selain itu, Pioneer dapat mengakhiri perjanjian ini dengan pemberitahuan tertulis 90 (sembilan puluh) hari sebelum perjanjian berakhir kepada Mitsui dan Anak perusahaan. 45

22. PERJANJIAN-PERJANJIAN PENTING DAN IKATAN (lanjutan) Berdasarkan perjanjian tersebut di atas, pada tanggal 1 Juli 2002, Anak perusahaan, Pioneer Electronics Asiacentre Pte., Ltd. (PAC), MPT dan Mitsui mengadakan perjanjian kerjasama dengan PT Gemasuara Adhitama (GSA), dimana antara lain disebutkan bahwa GSA akan membeli produk Pioneer tertentu dari Anak perusahaan. Perjanjian ini telah berakhir pada tanggal 31 Maret 2003 dan diperpanjang secara otomatis selama setahun. Pada tanggal 1 Juli 2002, Anak perusahaan juga mengadakan perjanjian komisi masing-masing dengan PAC dan MPT, dimana PAC akan membantu Anak perusahaan dalam penjualan dan pemasaran produk Pioneer tertentu dan MPT akan menyediakan bantuan jasa teknik dalam memproduksi produk Pioneer tertentu. Sebagai imbalan, Anak perusahaan akan membayar jasa kepada PAC dan MPT masing-masing sebesar 11% dan 2,5% dari harga jual produk tersebut. Kedua perjanjian tersebut mulai berlaku pada tanggal 1 April 2002 dan akan terus berlanjut sepanjang Anak perusahaan masih memproduksi produk Pioneer tertentu. Komisi yang dibebankan pada operasi, atas jasa yang diberikan oleh PAC dan MPT masing-masing sebesar Rp1.715.461.710 dan Rp47.968.196 pada tahun 2003 serta Rp1.135.607.560 dan Rp206.705.816 pada tahun 2002, yang dicatat sebagai bagian dari akun Beban Penjualan - Biaya Konsultan pada laporan laba rugi konsolidasi. k. Pada tanggal 1 Oktober 2002, Anak perusahaan (HI) mengadakan perjanjian lisensi dengan Matsushita Kotobuki Electronics Industries, Ltd., Jepang (MKI), dimana Anak perusahaan akan memperoleh lisensi untuk menggunakan teknologi informasi MKI tertentu dan dalam memproduksi wiring board dari produk elektronik tertentu. Anak perusahaan akan dikenakan biaya lisensi sebesar 1% dari harga beli wiring board, jika terdapat penggunaan teknologi MKI namun bukan untuk kepentingan MKI, termasuk tapi tidak terbatas pada wiring board yang diperoleh secara cuma-cuma. Anak perusahaan tidak akan dikenakan biaya lisensi untuk produk yang dijual ke group Matsushita Electric Industrial Co., Ltd., Jepang (MEI), di mana MKI merupakan group dari MEI. Perjanjian ini berlaku untuk jangka waktu 5 (lima) tahun sejak tanggal 1 Oktober 2002. l. Pada tanggal 31 Desember 2003, satu Anak perusahaan (MPI) mempunyai fasilitas Letters of Credit yang belum digunakan sebesar AS$7.529.125 dengan Standard Chartered Bank (Catatan 13). 23. DANA PENSIUN Di bawah Dana Pensiun Manfaat Pasti Perusahaan dan Anak perusahaan, manfaat pensiun yang akan diperoleh karyawan adalah masa kerja dikali dengan faktor penghargaan (1,2) dikali dengan penghasilan dasar pensiun. Biaya pensiun yang dibebankan pada operasi, terdiri dari biaya jasa kini dan amortisasi atas biaya jasa lalu, sebesar Rp2.900.666.582 dan Rp3.190.397.358 masing-masing untuk tahun 2003 dan 2002. Pada tanggal, akrual atas kewajiban pensiun masing-masing berjumlah Rp446.890.981 dan Rp200.305.241. Akrual atas kewajiban pensiun ini telah ditentukan berdasarkan penilaian aktuaria independen pada tanggal 31 Agustus 2003 dan 31 Desember 2002 oleh PT Dayamandiri Dharmakonsilindo, aktuaria independen Perusahaan, dengan menggunakan metode Attained Age Normal Actuarial Cost Method dan dengan mempertimbangkan asumsi-asumsi sebagai berikut: 46

23. DANA PENSIUN (lanjutan) 2003 dan 2002 Tingkat bunga atau hasil investasi bersih rata-rata : 13% Tingkat kenaikan penghasilan dasar : 10% Usia pensiun normal : 55 Tingkat pengunduran diri : 0-10% Tingkat kematian : Commisioners Standard Ordinary USA Table of Mortality 1980 (CSO 80) Tingkat kecacatan : 10% dari CSO 80 Aktiva dan kewajiban aktuaria program pensiun pada tanggal 31 Agustus 2003 (laporan aktuaria yang terakhir) dan 31 Desember 2002 adalah sebagai berikut: 31 Agustus 2003 31 Desember 2002 Nilai wajar aktiva 50.409.939.589 48.347.186.475 Kewajiban aktuaria (43.027.271.232) (45.089.373.000) Selisih lebih nilai wajar aktiva atas kewajiban aktuaria 7.382.668.357 3.257.813.475 Selain program pensiun karyawan yang didiskusikan di atas, Perusahaan mencatat akrual untuk uang pesangon, uang penghargaan masa kerja dan ganti kerugian untuk karyawan tetap yang memenuhi syarat setelah memperhitungkan program pensiun karyawan tersebut di atas sebesar Rp2.523.040.288 pada tanggal 31 Desember 2003, yang disajikan dalam akun Penyisihan Kesejahteraan Karyawan dalam neraca konsolidasi. Beban kesejahteraan karyawan berjumlah Rp2.523.040.288 untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 yang disajikan sebagai bagian dari Beban Usaha - Gaji, Upah dan Kesejahteraan Karyawan dalam laporan laba rugi konsolidasi. Cadangan untuk akrual uang pesangon, uang penghargaan masa kerja dan ganti kerugian dihitung berdasarkan perhitungan aktuaria pada tanggal 31 Desember 2003 yang dibuat oleh PT Dian Artha Tama, aktuaria independen, berdasarkan laporannya tanggal 1 April 2004 dengan menggunakan metode Projected Unit Credit dengan menggunakan asumsi berikut: Tingkat bunga : 13% Asumsi kenaikan gaji dan upah : 10% Umur pensiun : 55 Tingkat pengunduran diri : 0-10% Tingkat kematian : Commisioners Standard Ordinary (CSO) - 1980 2003 47

24. AKTIVA DAN KEWAJIBAN DALAM MATA UANG ASING Pada tanggal 31 Desember 2003, Perusahaan dan Anak perusahaan memiliki aktiva dan kewajiban dalam mata uang asing sebagai berikut: Mata Uang Asing Ekuivalen Rupiah Aktiva Dalam Dolar Amerika Serikat AS$ 7.857.021 66.509.685.806 Dalam Yen Jepang 329.101.072 26.054.931.875 Dalam Dollar Singapura SIN$ 47.255 235.163.064 Jumlah 92.799.780.745 Kewajiban Dalam Dolar Amerika Serikat AS$ 57.652.074 488.024.807.257 Dalam Yen Jepang 1.388.744.587 109.946.908.942 Dalam Dolar Singapura SIN$ 521.869 2.597.082.870 Jumlah 600.568.799.069 Kewajiban - bersih 507.769.018.324 Jika digunakan kurs tengah uang kertas asing yang ditetapkan oleh Bank Indonesia pada tanggal 19 April 2004 (Rp8.603,00 per AS$1, Rp79,62 per 1 dan Rp5.126,42 per SIN$1), kewajiban bersih Perusahaan dan Anak perusahaan dalam mata uang asing akan meningkat sebesar lebih kurang Rp7,42 milyar. 25. KONDISI EKONOMI Operasi Perusahaan dan Anak perusahaan masih akan terpengaruh dan akan terus terpengaruh oleh dampak kondisi ekonomi Indonesia yang menyebabkan labilnya kurs valuta asing dan berdampak negatif terhadap kemampuan Perusahaan dan Anak perusahaan dalam mencapai target laba dan arus kas. Pada tahun 2003, Perusahaan dan Anak perusahaan melaporkan laba usaha sebesar Rp30 miliar dan laba bersih sebesar Rp11 miliar. Pada tahun 2002, Perusahaan dan Anak perusahaan melaporkan rugi usaha sebesar Rp25 miliar dan laba bersih sebesar Rp23 miliar. Perbaikan dan pemulihan yang berkelanjutan bergantung pada beberapa faktor seperti kebijakan fiskal dan moneter yang diambil oleh Pemerintah dan pihak lainnya, suatu tindakan yang berada di luar kendali Perusahaan. Dampak kondisi ekonomi Indonesia terhadap kreditur dan pelanggan Perusahaan dan Anak perusahaan, antara lain adalah, menurunnya sumber pembiayaan dan meningkatnya risiko kredit bawaan dalam piutang usaha. Sebagai respon terhadap kondisi ekonomi tersebut, tindakan yang telah dan akan diambil oleh Perusahaan dan Anak perusahaan adalah sebagai berikut: Mengubah sistem pembayaran atas penjualan barang dagangan dari kredit menjadi tunai sebelum/pada saat barang dikirim (cash before/on delivery); Mengubah sistem pembayaran atas pembelian barang dagangan dari tunai untuk pembelian lokal dan sight L/C untuk pembelian impor menjadi kredit untuk pembelian lokal dan usance L/C untuk pembelian impor (supplier s credit); Melakukan restrukturisasi atas pinjaman yang telah jatuh tempo; Menjual aktiva tetap yang tidak produktif; Menutup sebagian outlet yang tidak menguntungkan. 48

25. KONDISI EKONOMI (lanjutan) Pemulihan kondisi ekonomi lebih lanjut tergantung pada kebijakan fiskal, moneter dan kebijakan lainnya yang telah dan akan diambil oleh pemerintah Indonesia untuk menyehatkan ekonomi, suatu tindakan yang berada di luar kendali Perusahaan dan Anak perusahaan. Oleh karena itu, tidaklah mungkin untuk menentukan dampak masa depan kondisi ekonomi terhadap likuiditas dan pendapatan Perusahaan dan Anak perusahaan, termasuk dampak mengalirnya dana investor, kreditur, pelanggan dan pemasok ke dan dari Perusahaan dan Anak perusahaan. 26. PERISTIWA SESUDAH TANGGAL NERACA a. Pada tanggal 17 Maret 2004, Perusahaan menerima Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) Pajak Penghasilan Badan dari Direktorat Jenderal Pajak, yang menyatakan bahwa Perusahaan memiliki kelebihan pembayaran pajak penghasilan tahun 2002 sebesar Rp3.839.638.799, dan taksiran penghasilan kena pajak Perusahaan tahun 2002 sebesar Rp60.469.135.110. Selisih sebesar Rp4.692.863.632 antara jumlah tersebut dengan taksiran penghasilan kena pajak yang dicatat oleh Perusahaan tahun 2002 sebesar Rp55.776.271.478 (Catatan 15) telah diperhitungkan dalam akumulasi rugi fiskal Perusahaan tahun 2003. b. Pada bulan Januari 2004, satu Anak perusahaan (MPI) menerima Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) Pajak Penghasilan Badan dari Direktorat Jenderal Pajak, yang menyatakan bahwa Anak perusahaan memiliki kelebihan pembayaran pajak penghasilan tahun 2002 sebesar Rp6.047.356.030. Selisih antara jumlah taksiran tagihan pajak penghasilan yang dicatat oleh Anak Perusahaan dengan jumlah penerimaan tagihan pajak penghasilan sebesar Rp453.100.700 dibebankan pada operasi tahun 2003. Anak perusahaan juga menerima Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) yang menyatakan bahwa Anak perusahaan mempunyai kekurangan pembayaran Pajak Penghasilan pasal 21, 23 dan Pajak Pertambahan Nilai sebesar Rp233.288.669. Kekurangan pembayaran pajak ini telah dibebankan pada operasi tahun 2003. 27. PENYELESAIAN LAPORAN KEUANGAN Manajemen Perusahaan bertanggung jawab atas penyusunan laporan keuangan terlampir yang diselesaikan pada tanggal 19 April 2004. 49