Sumatera Selatan. Jembatan Ampera

dokumen-dokumen yang mirip
Sumatera Barat. Jam Gadang

Kalimantan Selatan. Pasar Terapung Muara Kuin

Kalimantan Tengah. Jembatan Kahayan

PERKEMBANGAN IPM 6.1 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA. Berdasarkan perhitungan dari keempat variabel yaitu:

Gorontalo. Menara Keagungan Limboto

Kalimantan Timur. Lembuswana

Sulawesi Tenggara. Tugu Persatuan

Sumatera Utara. Rumah Balai Batak Toba

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2016

BUKU SAKU KINERJA PEMBANGUNAN PROVINSI SUMATERA SELATAN

BAB V PERBANDINGAN REGIONAL

Tipologi Wilayah Hasil Pendataan Potensi Desa (Podes) 2014 Sumatera Selatan

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014

Keadaan Ketenagakerjaan Agustus 2017 Provinsi Sumatera Selatan

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

POLA PEMBIAYAAN PROGRAM PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR DI DINAS KESEHATAN KAB/KOTA PROPINSI SUMATERA SELATAN

INFLASI BAHAN MAKANAN FENOMENA NASIONAL; PERLU LANGKAH DAERAH UNTUK MENANGGULANGI INFLASI

BERITA RESMI STATISTIK

KATA PENGANTAR. Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan publikasi prakiraan musim hujan ini.

PERAN TIM KOORDINASI PENANGGULANGAN KEMISKINAN (TKPK) DALAM PENDATAAN PROGRAM PERLINDUNGAN SOSIAL (PPLS) TAHUN 2011 BAPPEDA PROVINSI SUMATERA SELATAN

BUKU SAKU DATA DAN INDIKATOR SOSIAL SUMATERA SELATAN

I. PENDAHULUAN. Manusia merupakan kekayaan bangsa dan sekaligus sebagai modal dasar

CAPAIAN PROGRAM KEPENDUDUKAN, KB DAN PEMBANGUNAN KELUARGA sd. BULAN MEI 2016

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

BAB I PENDAHULUAN. (pendapatan) yang tinggi. Petani perlu memperhitungkan dengan analisis

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI SUMATERA SELATAN

ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PROVINSI SUMATERA SELATAN TAHUN 2015

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 -

LAMPIRAN-LAMPIRAN. Pada awal abad ke-15 berdirilah Kesultanan Palembang yang berkuasa sampai datangnya

DAFTAR SAMPEL PENELITIAN

RAPAT KOORDINASI NASIONAL BIDANG KUMKM TAHUN 2018 DINAS KOPERASI DAN UKM PROVINSI SUMATERA SELATAN

ASRAMA MAHASISWA BIDIKMISI UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Dr. EDWARD Saleh FORUM DAS SUMATERA SELATAN 2013

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH

4 GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR

INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT SUMATERA SELATAN 2009

2.2 EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN RKPD SAMPAI DENGAN TAHUN 2013 DAN REALISASI RPJMD

KEGIATAN STRATEGIS BIDANG DALDUK

V. GAMBARAN UMUM. permukaan laut, dan batas-batas wilayah sebagai berikut : a) Batas Utara : Kabupaten Banyuasin

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

SENSITIVITAS PERTUMBUHAN EKONOMI SUMSEL TERHADAP HARGA KOMODITAS PRIMER; PENDEKATAN PANEL DATA

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB I PENDAHULUAN. kemiskinan merupakan permasalahan yang dihadapi dan menjadi perhatian

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PROVINSI SUMATERA SELATAN TAHUN 2016 Disampaikan pada MUSRENBANG RKPD KABUPATEN MUARA ENIM.

SDM. Staf Administrasi/Tata Usaha. Jumlah 170. Jumlah Pegawai berdasarkan Pendidikan No Pendidikan Jumlah 1 S S1/D IV 90 3 D III 49 4 SMA 21

4. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

Profil Lembaga Badan badan Penanggulangan Bencana Daerah. Kabupaten Ogan Komering Ulu

TANTANGAN DAN PERAN DINAS KESEHATAN DALAM JARLITBANGKES DI DAERAH. Sekretaris Dinas Kesehatan Prov. Sumatera Selatan dr. H. Trisnawarman, M.

PENGARUH PENDAPATAN ASLI DAERAH, DANA ALOKASI UMUM DAN DANA ALOKASI KHUSUS TERHADAP ALOKASI BELANJA DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN PERIODE

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

KATA PENGANTAR. Surakarta, Desember KEPALA BAPPEDA KOTA SURAKARTA Selaku SEKRETARIS TIM KOORDINASI PENANGGULANGAN KEMISKINAN KOTA SURAKARTA

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

BAB I PENDAHULUAN. Hutan bagi masyarakat bukanlah hal yang baru, terutama bagi masyarakat

Tabel-Tabel Pokok TABEL-TABEL POKOK. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 /

Desentralisasi fiskal merupakan kewenangan yang diberikan pemerintah. pusat kepada daerah yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pelayanannya

PROFIL KABUPATEN / KOTA

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar

BAB IV GAMBARAN UMUM. A. Profil Provinsi Kepulauan Bangka belitung. Bangka dan Pulau Belitung yang beribukotakan Pangkalpinang.

LAPORAN PENGENDALIAN PROGRAM KB NASIONAL PROPINSI SUMATERA SELATAN BULAN JUNI 2008

LAPORAN HARIAN UPTB PUSDALOPS PB BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH

IKU Pemerintah Provinsi Jambi

BAB I KONDISI MAKRO PEMBANGUNAN JAWA BARAT

Guna mendukung pembangunan perikanan di Kabupaten OKU Timur dan secara umum pembangunan kelautan dan perikanan di Provinsi

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TAHUN 2008

ANALISIS HUJAN OKTOBER 2015 DAN PRAKIRAAN HUJAN DESEMBER 2015, JANUARI DAN FEBRUARI 2016 DI SUMATERA SELATAN

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN MUARA ENIM TAHUN

BAB III STUDI KASUS. III.1. Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Lahat

I. PENDAHULUAN. Proses pembangunan memerlukan Gross National Product (GNP) yang tinggi

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Nilai PDB Hortikultura Berdasarkan Harga Berlaku Pada Tahun Kelompok

ANALISIS HUJAN DESEMBER 2015 DAN PRAKIRAAN HUJAN FEBRUARI, MARET DAN APRIL 2016 DI SUMATERA SELATAN

I. PENDAHULUAN. Keberhasilan perekonomian suatu negara dapat diukur melalui berbagai indikator

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum

LATAR BELAKANG DAN KONDISI UMUM

LAPORAN HARIAN UPTB PUSDALOPS PB BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH

BAB I PENDAHULUAN...I.

POTENSI BATUBARA DI SUMATERA SELATAN

BAB IV ANALISIS ISU - ISU STRATEGIS

Peraturan Daerah RPJMD Kabupaten Pulang Pisau Kata Pengantar Bupati Kabupaten Pulang Pisau

LAPORAN HARIAN UPTB PUSDALOPS PB BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH

BAB IV GAMBARAN UMUM. A. Gambaran Umum Kabupaten Tulang Bawang Barat. Kabupaten Tulang Bawang Barat terletak di bagian utara Provinsi Lampung.

LAPORAN HARIAN UPTB PUSDALOPS PB BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH

PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN SIMALUNGUN TAHUN 2012

V GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2013 sebanyak rumah tangga

Transkripsi:

Laporan Provinsi 169 Sumatera Selatan Jembatan Ampera Jembatan Ampera adalah sebuah jembatan di Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Jembatan Ampera, yang telah menjadi semacam lambang kota, terletak di tengah-tengah Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi.

170 Penghitungan Indeks Indonesia 2012-2014 Profil Sumatera Selatan Ibu : Palembang Luas Wilayah : 91.592 km 2 Jumlah Penduduk : 7,45 juta Kepadatan Penduduk : 87 jiwa/km 2 PDRB/Kapita 2) : Rp 8,0 juta IPM : 66,75 Angka Pengangguran 3) : 4,96% Koefisien Gini 4) : 0,383 2014 Profil Jumlah Rumah Tangga Miskin : 559.629 Jumlah Penduduk Miskin : 2.414.273 Angka : 28,9% Keparahan : 41,59% Indeks : 0,120 Karakter Perbandingan 85,2% 28,7% 82,0% 17,0% 79,0% 13,9% 470.187 89.442 53,1% 52,4% 13,1% 4,2% 2.015.367 398.906 37,3% 13,2% 41,7% 41,1% 45,5% 0,155 IKM 0,054 Keterangan Simbol RT Miskin Persentase Penduduk Miskin Penduduk Miskin IKM Keparahan Indeks Keterangan 1) Semua perhitungan kecuali pada jumlah penduduk miskin IKM menggunakan standar rumah tangga 2) PDRB/kapita tanpa Migas 3) Data Agustus 2014 4) Data 2013

Laporan Provinsi 171 Peta Provinsi Sumatera Selatan 2013 0 MUSI RAWAS UTARA KOTA LUBUK LINGGAU EMPAT LAWANG KOTA PAGAR ALAM 47 7 MUSI RAWAS 26 LAHAT 42 11 MUSI BANYUASIN 46 0 PENUKAL ABAB LEMATANG ILIR 47 22 8 MUARA ENIM 34 39 71 35 OGAN ILIR KOTA PRABUMULIH BANYUASIN KOTA PALEMBANG 93 OGAN KOMERING ULU TIMUR OGAN KOMERING ILIR OGAN KOMERING ULU 56 OGAN KOMERING ULU SELATAN Keterangan RT Miskin (%) >50 40-50 30-40 20-30 <20 n.a. Jumlah RT Miskin (dalam ribu) Keterangan Simbol Karakteristik Akses air bersih Sanitasi Pembantu Kelahiran Gizi Seimbang Anak Balita Partisipasi Sekolah Melek Huruf Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Bahan Bakar untuk Memasak Sumber Penerangan Kondisi Atap Lantai Dinding Kepemilikan Aset Rumah

172 Penghitungan Indeks Indonesia 2012-2014 Analisis Sumatera Selatan Profil Sumatera Selatan meraih pencapaian positif dalam hal penurunan kemiskinan multidimensi tahun 2012-2014. Beberapa indikator kemiskinan multidimensi membuktikan hal ini. Tabel 1 menunjukkan bahwa pada tahun 2012 jumlah rumah tangga miskin yang semula 650.849 keluarga berkurang 14 persen dua tahun kemudian. Terjadinya perubahan ini juga seiring dengan menurunnya jumlah penduduk miskin pada periode yang sama. Perubahan positif terjadi pula dengan angka kemiskinan Sumsel pada 2014. Saat itu angka kemiskinan di provinsi ini berada di posisi 28,88 persen. Dibandingkan dengan kondisi 2012, jumlah ini berbeda 5,61 persen dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa terdapat tiga dari 10 rumah tangga miskin di Sumsel yang masuk kategori miskin secara multidimensi. Jika diamati sejak 2012 perubahan yang terjadi tidaklah mencolok, tetapi jika dilihat secara rinci terdapat 91.220 rumah tangga yang berhasil keluar dari persoalan kemiskinan multidimensi. Gambaran kemiskinan multidimensi terjadi di semua wilayah Sumsel, termasuk empat wilayah perkotaan yang ada, yaitu Palembang, Lubuk Linggau, Prabumulih, dan Pagar Alam. Indeks kemiskinan Sumsel tahun 2014 adalah 0,135. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional yang hanya sebesar 0,124. Artinya, kondisi kemiskinan multidimensi Sumsel lebih memprihatinkan dibandingkan dengan provinsi pada umumnya di Indonesia. Peringkatnya berada di urutan ke-23 dari 33 provinsi. Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan adalah wilayah dengan indeks kemiskinan tertinggi di Sumsel. Lokasinya berada di ujung paling selatan Sumsel dan menjadi wilayah termiskin di antara kabupaten/kota yang ada. Sebaliknya, Palembang memiliki indeks kemiskinan terendah, yaitu 0,039. Dengan kata lain, warga ibu kota Sumsel relatif paling sejahtera di lingkup Sumsel. Seperti halnya kedua indikator kemi- Tabel 1 Profil Sumatera Selatan 2012-2014 Keterangan Jumlah Rumah Tangga Miskin Jumlah Penduduk Miskin (Jiwa) Angka (%) Keparahan (%) Indeks 2012 2013 2014 + + + 537.864 112.985 650.849 487.382 96.252 583.634 470.187 89.442 559.629 2.221.640 508.608 2.730.248 2.043.292 443.438 2.486.730 2.015.367 398.906 2.414.273 43,35 17,49 34,49 38,41 14,65 30,31 37,28 13,22 28,88 42,4 41,3 42,2 42,1 39,4 41,6 41,7 41,1 41,6 0,184 0,072 0,146 0,162 0,058 0,126 0,155 0,054 0,120

Laporan Provinsi 173 skinan multidimensi, yaitu angka kemiskinan dan indeks kemiskinan, yang cenderung turun selama 2012-2014, demikian juga dengan tingkat keparahan kemiskinan di Sumsel. Dalam dua tahun sejak 2012 setidaknya terdapat penurunan keparahan kemiskinan sebesar 3 persen. Angka Angka kemiskinan multidimensi Sumsel memiliki pola yang berbeda dengan angka kemiskinan moneter. Perubahan angka kemiskinan moneter selama 2012-2014 cenderung tidak stabil. Sementara itu, angka kemiskinan multidimensi turun secara konstan dari waktu ke waktu. Dari sisi kemiskinan multidimensi, pada tahun 2012 terdapat 34,5 persen rumah tangga miskin di Sumsel yang tidak terlayani kebutuhan dasarnya terkait kesehatan, dan pendidikan, serta kualitas hidupnya, seperti ditunjukkan pada Grafik 1. Akan tetapi, dua tahun kemudian kondisinya menjadi lebih baik. Angka kemiskinan multidimensi di wilayah ini turun sebesar 5,6 persen atau setara dengan 91.220 rumah tangga miskin. Mereka masuk golongan yang berhasil memperoleh kehidupan lebih baik pada tahun 2014. Selain terdapat perbedaan dari segi proporsi, pola kecenderungan antara angka kemiskinan multidimensi dan moneter pun tidak sama. Pada tahun 2013, misalnya, terjadi perubahan yang bertolak belakang di antara kedua indikator tersebut. Sementara angka kemiskinan multidimensi turun 4,2 persen, angka kemiskinan moneter kembali meningkat sebesar 0,58 persen. Konsentrasi kemiskinan di Sumsel tidak berbeda jauh dengan yang terjadi di wilayah lain di Indonesia. Rumah tangga miskin yang belum bisa mengakses berbagai fasilitas kesehatan, pendidikan, dan kualitas hidup lebih banyak bermukim di perdesaan. Sisanya bertempat tinggal di perkotaan. Selain serupa dalam hal proporsi, pola kecenderungannya pun sejalan satu sama lain. Dalam tiga tahun tersebut angka kemiskinan multidimensi baik di perdesaan maupun perkotaan Sumsel selalu turun dari waktu ke waktu. Kondisi ini juga terjadi di tingkat nasional. Gambaran tersebut dapat dilihat pada Grafik 2. Keparahan Secara umum, keparahan kemiskinan yang dilihat dari kacamata multidimensi baik di Sumsel maupun di nasional tidak berbeda satu sama lain. Ketidakmampuan mengakses berbagai fasilitas kesehatan, pendidikan, dan kualitas hidup lebih banyak dialami oleh masyarakat miskin perdesaan dibandingkan dengan perkotaan. Pada tahun 2012 kepa- Grafik 1 Perbandingan Angka dengan Angka Moneter (%)

174 Penghitungan Indeks Indonesia 2012-2014 rahan kemiskinan di Sumsel dialami oleh 42,2 persen penduduk di perdesaan Sumsel. Jumlah ini relatif sama dengan yang terjadi di nasional, seperti ditunjukkan pada Grafik 3. Kondisi yang dialami masyarakat miskin perkotaan di Sumsel relatif tidak berbeda jauh dengan di perdesaan. Pada tahun 2012, misalnya, keparahan kemiskinan yang terjadi di perkotaan adalah 42,4 persen atau selisih 0,02 persen lebih tinggi dibandingkan dengan di perdesaan. Dari 15 wilayah kabupaten/kota di Sumsel, kemiskinan masyarakat Kabupaten Muara Enim adalah yang terparah di tahun 2013. Artinya, ada 4-5 dari 11 variabel kebutuhan yang tidak bisa dinikmati oleh masyarakat miskin perdesaan. Sebaliknya, masyarakat miskin perkotaan kesulitan mengakses tak lebih dari 4 variabel kebutuhan. Indeks Indeks kemiskinan perkotaan di Sumsel selalu lebih rendah dibandingkan dengan perdesaan. Hal ini terjadi selama dua tahun berturut-turut sejak 2012. Pada tahun tersebut, indeks kemiskinan perkotaan adalah 0,072. Sementara perdesaan mencapai dua kali lipat lebih tinggi. Jika dilihat dari keseluruhan, Kabupaten OKU Selatan, Ogan Komering Ilir, dan Empat Lawang adalah tiga wilayah dengan indeks kemiskinan tertinggi di tahun 2013. Dengan indeks kemiskinan 0,27, Kabupaten OKU Selatan merupakan yang termiskin di antara 14 wilayah lainnya. Sementara itu, kesejahter- Grafik 2 Angka (%) Menurut - 50,0 45,0 40,0 35,0 30,0 25,0 20,0 15,0 10,0 5,0-43,3 47,6 42,2 38,4 34,5 40,8 35,0 37,3 30,3 30,8 28,9 22,2 29,7 17,5 19,4 14,6 18,5 13,2 + + Sumatra Selatan Nasional 2012 2013 2014 Grafik 3 Keparahan (%) Menurut - 44,0 43,4 43,0 42,0 41,0 40,0 39,0 38,0 42,42,1 41,7 42,2 41,3 41,6 41,1 41,6 39,4 42,7 42,7 40,3 40,0 39,6 42,4 41,8 41,8 2012 2013 2014 37,0 + + Sumatra Selatan Nasional

Laporan Provinsi 175 aan masyarakat Lubuk Linggau, Pagar Alam, dan Prabumulih adalah yang tertinggi di Sumsel. Bagaimanapun kondisi masyarakat miskin Sumsel lebih baik dibandingkan dengan rata-rata nasional. Pada 2014 indeks kemiskinan Sumsel adalah 0,120 atau selisih 0,004 poin lebih tinggi dibandingkan dengan nasional, seperti ditunjukkan pada Grafik 4. Posisinya berada di urutan ke-23 dari 33 provinsi di Indonesia. Kesimpulan dan Rekomendasi Kesimpulan Kegiatan ekonomi Sumsel tanpa minyak dan gas tahun 2014 mencapai 436,99 triliun rupiah. Jumlah sebesar itu disokong oleh tiga sektor perekonomian utama. Pertama, sektor industri pengolahan yang proporsinya mencapai 23,7 persen. Kontributor kedua berasal dari sektor perdagangan, hotel, dan restoran, yaitu 14,6 persen. Sementara itu, sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan punya andil sebesar 14,3 persen dari total PDRB Sumsel. Total kegiatan Sumsel yang mencapai 436,99 triliun rupiah belum dirasakan oleh semua warga, baik di perkotaan maupun perdesaan. Rumah tangga miskin banyak dijumpai di semua wilayah Sumsel, terutama di perdesaan. Berdasarkan pengukuran multidimensi, diperoleh gambaran bahwa Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan merupakan wilayah termiskin di Sumsel dengan indeks kemiskinan tertinggi, yaitu 0,27. Sebaliknya Palembang tergolong paling sejahtera karena memiliki indeks kemiskinan terendah, yaitu 0,039. Air bersih, listrik, dan sanitasi adalah sederetan persoalan yang dihadapi masyarakat miskin Sumsel selama 2012-2014. Setidaknya 8 dari 10 rumah tangga miskin di Sumsel tidak bisa mengakses tiga kebutuhan dasar tersebut. Keterbatasan ini berlangsung terus-menerus selama 2012-2014, seperti dapat dilihat pada Grafik 5. Malangnya, warga miskin Sumsel tak hanya dihadapkan pada minimnya akses kesehatan, pendidikan, dan sarana penunjang kualitas hidup, tetapi juga menderita akibat bencana kabut asap. Bencana kabut asap yang terjadi beberapa tahun terakhir ini tidak hanya berlangsung dalam hitungan hari, tetapi terjadi berbulan-bulan, terutama di musim kemarau. Bencana kabut asap di Sumatera Selatan yang pernah terjadi setengah abad lalu, kini kembali terjadi. Pembiaran terhadap perusakan ekosistem lahan gambut secara masif ditengarai kembali memicu kebakaran lahan dan hutan. Pemberian izin penggunaan lahan gam- Grafik 4 Indeks Menurut - 0,250 0,200 0,150 0,100 0,050 0,184 0,162 0,155 0,146 0,126 0,120 0,072 0,058 0,054 0,207 0,180 0,174 0,090 0,077 0,149 0,129 0,124 0,074 - + + Sumatra Selatan Nasional 2012 2013 2014

176 Penghitungan Indeks Indonesia 2012-2014 but yang masif sudah terjadi sejak 1997. Tahun 1994, luas kebun sawit di Sumsel baru 50.120 hektare. Namun, tahun 2015, luas areal kebun sawit telah mencapai 827.212 hektare, atau menjadi 17 kali lipat dibandingkan dengan periode sebelumnya. Adapun untuk izin hutan tanaman industri dan hak pengusahaan hutan mencapai luas 1,8 juta hektare. Saat ini maksimum hanya 10 persen lahan gambut di Sumsel yang masih dalam kondisi baik. Tahun 2014 luas kebakaran hutan di Sumsel adalah yang tertinggi di antara provinsi lainnya. Tak kurang dari 8.504,86 hektare lahan hutan mengalami kebakaran di Sumsel. Tahun 2015 Palembang, Kabupaten Ogan Komering Ilir, dan Musi Banyuasin menjadi tiga wilayah yang paling terdampak bencana kabut asap. Bencana kabut asap menjadi faktor eksternal yang bisa memperlambat perbaikan kesejahteraan warga Sumsel, padahal selama 2012-2014 tren penurunan kemiskinan multidimensi sudah mulai tampak. Rekomendasi Fakta menyebutkan bahwa keparahan kemiskinan, baik di perdesaan maupun perkotaan, di Sumsel tidak jauh berbeda. Sebaliknya terjadi ketimpangan angka kemiskinan yang cukup jauh di antara keduanya. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh terpusatnya pembangunan di wilayah perkotaan saja. Agar program kebijakan untuk penanggulangan masalah kemiskinan ini dapat memberikan hasil optimal, perlu disusun rencana terpadu yang berfokus pada daerah-daerah dengan tingkat kemiskinan yang tergolong tinggi. Pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat, harus menyusun berbagai program kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan kualitas kondisi kehidupan penduduk. Meski persoalan pemenuhan gizi anak balita tidak menduduki peringkat pertama, perhatian pada bidang ini harus tetap diprioritaskan. Menurut data Riskesdas, hingga tahun 2013 masih terdapat 148.006 anak balita yang masuk kategori gizi buruk dan gizi kurang. Program Intervensi Gizi Masyarakat yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Musi Banyuasin bisa menjadi contoh bagi wilayah lainnya di Sumsel. Program tersebut bisa mendorong pengetahuan masyarakat tentang pentingnya asupan pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman atau disingkat dengan B2SA. Melalui program B2SA, kreativitas masyarakat dalam mengembangkan menu B2SA berbasis sumber daya lokal pun akan terwujud. Dengan memperhatikan permasalahan utama yang dialami oleh rumah tangga miskin, upaya penanggulangan kemiskinan multidimensi di provinsi ini perlu diarahkan pada: 1. Peningkatan sarana air bersih agar didorong lebih cepat dan lebih luas, terutama dilakukan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, OKU Selatan, dan Musi Banyuasin. 2. Pembangunan pembangkit listrik agar semakin ditingkatkan, terutama di Kabupaten OKI, Banyuasin, OKU Selatan, dan Muara Enim. 3. Penyuluhan tentang pentingnya sanitasi bagi setiap keluarga, didukung oleh bantuan secara fisik dari pemerintah, perlu digalakkan. 4. Peningkatan pengetahuan, sikap, serta perilaku setiap keluarga tentang perlunya gizi bagi pertumbuhan anak balita harus dilakukan di Kabupaten OKI, Banyuasin, Muara Enim, dan Musi Rawas.

Laporan Provinsi 177 Lampiran 1 Jumlah RT Miskin Menurut Dimensi dan Indikator 2012-2014 2012 2013 2014 Indikator + + + 458.671 73.471 532.142 417.346 62.112 479.458 396.338 45.538 441.876 441.255 95.659 536.914 411.378 82.403 493.781 409.198 67.475 476.674 123.263 11.920 135.183 103.405 5.722 109.127 68.852 8.802 77.654 250.794 67.000 317.794 230.523 54.005 284.528 233.219 59.988 293.207 82.051 19.638 101.689 81.245 16.790 98.035 78.534 16.491 95.025 50.564 8.401 58.965 43.558 6.768 50.326 58.243 14.806 73.049 228.072 67.476 295.548 212.719 47.770 260.489 203.376 51.238 254.614 462.687 80.028 542.716 418.015 62.825 480.839 391.875 66.757 458.632 375.108 35.018 410.126 312.861 27.104 339.965 269.958 27.363 297.321 22.921 2.113 25.034 20.018 1.296 21.313 19.467 4.015 23.482 122.264 67.653 189.916 95.969 64.065 160.034 109.209 51.255 160.464

178 Penghitungan Indeks Indonesia 2012-2014 Lampiran 2 Menurut Kabupaten/ 2012 Kode KABUPATEN/KOTA Jumlah RT Miskin Angka (%) Keparahan (%) Indeks 1601 Komering Ulu 26.198 32,4 43,1 0,139 1602 Komering Ilir 92.008 48,3 41,6 0,201 1603 Kab. Muara Enim 53.901 30,2 44,1 0,133 1604 Kab. Lahat 46.736 49,8 43,6 0,217 1605 Kab. Musi Rawas 52.552 37,6 41,5 0,156 1606 Kab. Musi Banyuasin 39.974 26,9 41,2 0,111 1607 Kab. Banyuasin 80.739 42,0 43,0 0,181 1608 Kab. OKU Selatan 63.495 73,4 42,0 0,308 1609 Kab. OKU Timur 47.298 29,9 41,0 0,123 1610 Ilir 42.642 43,6 42,0 0,183 1611 Kab. Empat Lawang 33.487 61,6 43,5 0,268 1671 Palembang 40.815 11,9 40,8 0,049 1672 Prabumulih 8.602 20,7 41,6 0,086 1673 Pagar Alam 10.638 32,7 40,7 0,133 1674 Lubuk Linggau 11.764 23,4 43,0 0,101 16 SUMSEL 650.849

Laporan Provinsi 179 Lampiran 3 Menurut Kabupaten/ 2013 Kode KABUPATEN/KOTA Jumlah RT Miskin Angka (%) Keparahan (%) Indeks 1601 Komering Ulu 21.502 25,6 40,4 0,103 1602 Komering Ilir 93.311 46,9 42,3 0,199 1603 Kab. Muara Enim 46.646 25,4 42,9 0,109 1604 Kab. Lahat 41.838 43,5 42,5 0,185 1605 Kab. Musi Rawas 46.912 33,7 40,9 0,138 1606 Kab. Musi Banyuasin 45.508 30,0 41,1 0,124 1607 Kab. Banyuasin 71.417 37,9 41,1 0,156 1608 Kab. OKU Selatan 55.929 62,4 42,9 0,268 1609 Kab. OKU Timur 39.474 23,6 41,6 0,098 1610 Ilir 33.665 34,4 40,7 0,140 1611 Kab. Empat Lawang 26.449 47,1 41,5 0,196 1671 Palembang 34.695 9,9 39,6 0,039 1672 Prabumulih 8.039 19,0 41,0 0,078 1673 Pagar Alam 11.360 34,6 41,1 0,142 1674 Lubuk Linggau 6.889 13,9 39,8 0,055 16 SUMSEL 583.634 Lampiran 4 Karakteristik 2012-2014 4,2 3,7 3,8 8,6 9,1 13,1 17,0 16,8 15,6 13,9 18,7 20,8 28,7 27,4 29,2 53,1 45,5 44,6 45,4 52,4 48,8 48,8 58,2 63,0 82,0 82,4 83,4 85,2 84,6 82,5 79,0 82,2 81,8 0,0 10,0 20,0 30,0 40,0 50,0 60,0 70,0 80,0 90,0 2014 2013 2012

180 Penghitungan Indeks Indonesia 2012-2014 Lampiran 5 Jumlah RT Miskin Menurut Karakteristik 2012 (Ribu) KABUPATEN/ KOTA Jumlah RT Miskin Dimensi Kesehatan Dimensi Pendidikan Dimensi Standar Kualitas Hidup Komering Ulu Komering Ilir Kab. Muara Enim 26,2 21,6 18,2 5,8 14,0 3,6 2,3 11,8 20,5 20,0 1,2 10,5 92,0 79,0 75,6 14,2 42,5 17,1 11,9 34,4 81,6 51,5 3,6 26,5 53,9 43,5 39,4 18,2 28,5 9,5 6,3 31,3 45,4 26,8 1,1 19,3 Kab. Lahat 46,7 39,6 36,8 9,1 23,2 3,9 3,9 20,3 40,4 36,6 1,0 20,4 Kab. Musi Rawas 52,6 46,3 40,5 10,2 25,6 6,7 3,6 25,3 43,1 36,7-12,0 Kab. Musi Banyuasin 40,0 30,5 32,2 10,2 21,7 7,3 2,1 20,3 32,5 19,7 1,9 9,4 Kab. Banyuasin 80,7 63,0 78,5 20,5 40,3 13,2 9,8 38,4 68,6 46,4 5,3 11,8 Kab. OKU Selatan 63,5 57,9 56,0 11,3 21,4 6,3 2,1 21,7 60,3 59,5 3,3 10,0 Kab. OKU Timur 47,3 38,1 28,7 11,4 25,9 8,8 6,7 17,7 36,3 39,9 1,0 7,0 Ilir 42,6 37,0 40,0 7,5 19,8 8,6 3,8 14,7 36,8 22,1 5,0 10,5 Kab. Empat Lawang 33,5 27,6 30,4 10,4 13,8 2,7 1,0 13,1 30,8 29,2 0,7 9,7 Palembang 40,8 25,9 34,0 2,6 25,7 8,8 2,3 30,5 22,8 6,0 0,4 26,7 Prabumulih 8,6 5,5 6,8 0,8 3,5 1,4 1,2 5,0 7,2 3,8-5,2 Pagar Alam 10,6 9,2 9,1 1,0 5,0 1,1 0,6 4,5 8,3 5,3 0,6 5,3 Lubuk Linggau 11,8 7,4 10,6 1,9 7,0 2,5 1,2 6,4 7,9 6,6 0,1 5,6 SUMSEL 651 532 537 135 318 102 59 296 543 410 25 190

Laporan Provinsi 181 Lampiran 6 Jumlah RT Miskin Menurut Karakteristik 2013 (Ribu) KABUPATEN/ KOTA Jumlah RT Miskin Dimensi Kesehatan Dimensi Pendidikan Dimensi Standar Kualitas Hidup Komering Ulu Komering Ilir Kab. Muara Enim 21,5 7,1 7,8 3,3 9,7 3,9 2,2 6,8 16,1 15,4 0,1 7,4 93,3 76,0 85,5 17,6 42,2 20,7 10,9 37,6 82,7 51,7 4,1 22,1 46,6 37,0 33,1 15,0 28,3 9,6 4,4 25,2 37,7 23,1 0,4 13,5 Kab. Lahat 41,8 35,2 35,5 10,4 20,7 3,0 1,7 18,3 35,3 29,3 0,6 16,0 Kab. Musi Rawas 46,9 43,0 35,9 10,3 24,2 6,4 4,9 21,0 34,2 31,9 0,2 7,7 Kab. Musi Banyuasin 45,5 39,2 41,6 14,6 23,5 8,6 1,5 21,7 35,5 18,4 0,5 9,0 Kab. Banyuasin 71,4 55,5 67,8 9,4 34,5 13,1 7,8 36,9 63,9 30,1 4,9 9,2 Kab. OKU Selatan 55,9 51,7 47,3 7,4 21,6 5,1 2,5 22,4 52,7 53,2 5,9 8,4 Kab. OKU Timur 39,5 32,7 25,9 5,4 20,4 6,3 7,1 15,8 31,2 33,9 1,1 7,7 Ilir 33,7 28,7 29,8 5,6 15,0 5,9 2,6 10,4 30,7 14,1 2,8 12,5 Kab. Empat Lawang 26,4 22,8 21,8 6,4 9,0 3,4 0,4 10,2 25,8 21,5 0,4 5,3 Palembang 34,7 21,7 28,9 0,4 19,7 8,5 2,5 21,8 16,8 8,2-25,3 Prabumulih 8,0 5,9 6,3 1,9 4,7 1,3 0,5 4,3 5,6 2,5 0,1 4,5 Pagar Alam 11,4 9,0 10,1 1,2 7,2 1,0 0,6 5,0 8,3 4,6 0,2 6,6 Lubuk Linggau 6,9 4,0 6,4 0,4 4,0 1,2 0,7 3,2 4,3 2,0 0,1 4,7 SUMSEL 584 17 18 3 10 4 2 7 16 15 0 7

182 Penghitungan Indeks Indonesia 2012-2014 Lampiran 7 Peta Indikator Indikator KABUPATEN/KOTA Komering Ilir Kab. Banyuasin Kab. OKU Selatan Kab. Musi Rawas Komering Ilir Kab. Banyuasin Kab. OKU Selatan Kab. Musi Banyuasin Komering Ilir Kab. Banyuasin Kab. Muara Enim Kab. Musi Rawas Komering Ilir Kab. Banyuasin Kab. OKU Selatan Kab. Muara Enim