BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II LANDASAN TEORI. Manajemen keuangan adalah aktivitas pemilik dan manajemen perusahaan untuk

Analisis Laporan Keuangan PT. UNILEVER Indonesia, Tbk Periode Tahun

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian Laporan Keuangan

BAB II LANDASAN TEORI

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kinerja Keuangan 2.2. Laporan Keuangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

Bab 9 Teori Rasio Keuangan

TINJAUAN PUSTAKA. Likuiditas merupakan suatu indikator yang mengukur kemampuan perusahaan

BAB II LANDASAN TEORI

II. LANDASAN TEORI. dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia. Menurut Brigham dan Houston,

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. PT. Kimia Farma Tbk merupakan salah satu perusahaan di Indonesia yang

BAB IV ANALISIS DAN HASIL PEMBAHASAN. Laporan keuangan peruahaan merupakan sumber informasi bagi pihakpihak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LAPORAN KEUANGNAN DAN ANALISIS LAPORAN KEUANGAN. Febriyanto, S.E., M.M.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisis berupa rasio akan

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 11 ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB II LANDASAN TEORI. satunya Prof. Dr. Ridwan S. Sundjaja, Drs., M.S.B.A., & Dra. Inge Berlian, Ak,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

MAKALAH Untuk Memenuhi Tugas Manajemen Keuangan ANALISIS RASIO KEUANGAN : PT. HOLCIM tbk

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS 2. TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisa Rasio Keuangan

ANALISIS KEUANGAN. o o

Alat analisis laporan keuangan H A S B I A N A D A L I M U N T H E S E., M. A K

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. laporan, serta penginterpretasian atas hasilnya sehingga dapat digunakan oleh

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. Konsep Laporan Keuangan dan Akuntansi. II.1.1. Pengertian Laporan Keuangan dan Akuntansi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Pengertian, Tujuan dan Metode Analisis Laporan Keuangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab 3 Analisis Rasio Keuangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penguji dari pekerjaan bagian pembukuan, tetapi untuk selanjutnya laporan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Untuk membelanjai operasi perusahaan dari hari ke hari, misalnya untuk

BAB II LANDASAN TEORITIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

ANALISIS KINERJA KEUANGAN DENGAN COMMON SIZE DAN RASIO- RASIO KEUANGAN PADA PT SAPTA PRIMA ADIKARYA PALEMBANG

Ade Heryana ANALISA LAPORAN KEUANGAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN TEORI. A. Deskripsi Teori. 1. Return on Assets (ROA) a. Pengertian Return on Assets (ROA)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kompetensi Dasar 5.2 Menafsirkan persamaan akuntansi

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. serta kondisi keuangan perusahaan. Melalui laporan keuangan perusahaan dapat

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN. dan dapat dipercaya untuk menilai kinerja perusahaan dan hasil dari suatu

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Tbk dari tahun 2002 hingga tahun 2004 dengan menggunakan metode analisis horizontal

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Rasio keuangan merupakan alat analisis keuangan yang paling sering

Hasil akhir dari proses pencatatan keuangan adalah laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan cerminan dari prestasi manajemen pada satu periode

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Menurut Hery (2012:3) laporan keuangan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada laporan keuangan PT.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Terdapat beberapa pengertian mengenai analisis, yaitu : 1. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan ekonomi di Indonesia adalah pasar modal. Pasar modal efektif

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS. Financial distress merupakan kondisi saat keuangan perusahaan dalam keadaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Modal Kerja. dan biaya-biaya lainnya, setiap perusahaan perlu menyediakan modal

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perusahaan. Modal kerja merupakan kekayaan atau aset yang diperlukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENILAI KINERJA KEUANGAN PADA PT SENTUL CITY, Tbk. DAN ENTITAS ANAK

ANALISIS PERKEMBANGAN PT ANEKA TAMBANG DITINJAU DARI ANALISIS LAPORAN KEUANGAN BAB I PENDAHULUAN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab 2: Analisis Laporan Keuangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERTEMUAN 6 ANALISIS LAPORAN KEUANGAN ANDRI HELMI M, SE., MM.

ANALISIS KINERJA KEUANGAN PT. TOKO GUNUNG AGUNG, Tbk TAHUN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III PERHITUNGAN DAN ANALISIS

Dalam menganalisa laporan keuangan terdapat beberapa metode yang bisa dijadikan tolak ukur untuk menilai posisi keuangan perusahaan antara lain:

BAB II LANDASAN TEORI. Pengertian laporan keuangan adalah suatu laporan yang berisikan informasi seputar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Modal kerja secara tradisional diartikan sebagai dana yang tersedia untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Laporan Keuangan Sebagai Obyek Penelitian

BAB II KAJIAN PUSTAKA, RERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Rasio hutang disebut juga dengan rasio leverage. Rasio leverage

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

BAB II LANDASAN TEORI

RASIO LAPORAN KEUANGAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian dan Manfaat Laporan Keuangan Menurut Soemarso (2002:34), laporan keuangan adalah laporan yang dirancang untuk para pembuat keputusan, terutama pihak di luar perusahaan, mengenai posisi keuangan, dan hasil usaha perusahaan. Sedangkan Weston dan Copeland (2003:17), menyatakan laporan keuangan adalah informasi tentang prestasi perusahaan di masa lampau, dan dapat memberikan petunjuk untuk penetapan kebijakan di masa yang akan datang. Dengan demikian, laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan dari transaksi keuangan, yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan. Laporan keuangan juga sekaligus merupakan pertanggungjawaban pihak manajemen, kepada pihak intern maupun pihak ekstern perusahaan, yang mempunyai hubungan dengan perusahaan tersebut. Laporan keuangan harus disusun berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan yang disusun oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba/rugi, laporan perubahan ekuitas (laporan arus kas), catatan atas laporan keuangan, serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan. Akuntansi menyediakan cara untuk mengumpulkan data ekonomis, dan melaporkannya kepada bermacam-macam individu, dan pihak-pihak yang berkepentingan, seperti pemilik, dan calon pemilik

perusahaan, pihak kreditur (misalnya bank), badan-badan Pemerintah, dan lainnya. Pemahaman atas laporan keuangan suatu perusahaan akan semakin meningkat, apabila laporan keuangan disajikan dalam format yang seragam, dan menggunakan deskripsi yang sama untuk pos-pos yang sejenis. Keseragaman tersebut mungkin sulit diterapkan, dan dapat menghalangi perusahaan untuk memberikan informasi yang relevan bagi pengguna laporan keuangan, sesuai dengan kondisi masing-masing perusahaan. Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2004:10), pernyataan ini dimaksudkan untuk meningkatkan mutu laporan keuangan yang disajikan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan melalui : 1. Penerapan persyaratan dalam PSAK termasuk persyaratan pengungkapan. 2. Pemberian pedoman struktur laporan keuangan termasuk persyaratan minimum dari setiap komponen utama laporan, kebijakan akuntansi, dan catatan atas laporan keuangan. 3. Penetapan persyaratan praktis untuk masalah-masalah yang berkaitan dengan materialitas, kelangsungan usaha, pemilihan kebijakan akuntansi dalam hal tidak ada pengaturan oleh PSAK, konsistensi, dan penyajian informasi komparatif. Tujuan pernyataan ini, adalah untuk menetapkan dasar-dasar bagi penyajian laporan keuangan, untuk tujuan umum agar dapat dibandingkan baik dengan laporan keuangan perusahaan periode sebelumnya, maupun dengan laporan keuangan perusahaan lain. Pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan transaksi, dan peristiwa tertentu diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan terkait. Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2004:10), manfaat adanya laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah

besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Laporan keuangan untuk tujuan umum termasuk juga laporan keuangan yang disajikan terpisah, atau yang disajikan dalam dokumen publik lainnya, seperti laporan tahunan atau prospektus. Tujuan laporan keuangan untuk tujuan umum adalah memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja, dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan, dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban manajemen, atas pengunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Pada umumnya, jenis laporan keuangan terdiri dari: 1. Laporan laba rugi Laporan laba rugi merupakan ikhtisar pendapatan, dan beban untuk suatu jangka waktu tertentu, misalnya satu bulan atau satu tahun. Laporan laba rugi menunjukkan hasil usaha suatu perusahaan dalam jangka waktu tertentu. Informasi yang terdapat dalam laporan laba rugi dapat menjawab pertanyaan tentang hasil usaha perusahaan. Cara untuk menyajikan beban-beban usaha dalam laporan laba rugi berbeda antara perusahaan satu dengan yang lain. Cara biasa yang dipilih adalah menyusun beban-beban tersebut berdasarkan urutan besarnya, dimulai dari beban yang paling besar jumlahnya. Beban serba serbi biasanya ditempatkan pada urutan yang paling akhir, tanpa memandang besarnya jumlah beban. Bentuk laporan laba rugi seperti pada Gambar 2.1 berikut:

Gambar 2.1. Laporan Laba Rugi PT. X Tahun Berakhir 31 Desember 200A Pendapatan dari penjualan: Penjualan Dikurangi : Retur dan potongan penjualan Diskon penjualan Penjualan bersih Harga pokok penjualan () Laba kotor Beban Operasi: Beban gaji Beban iklan Beban penyusutan peralatan toko Beban penjualan rupa-rupa Total beban penjualan: Beban administrasi: Beban gaji kotor Beban sewa Beban penyusutan peralatan kantor Beban asuransi Beban perlengkapan Beban administrasi rupa-rupa Total beban administrasi Total beban operasi () Laba dari operasi Pendapatan dan beban lain-lain: Pendapatan sewa Beban bunga () () Laba bersih 2. Laporan laba ditahan Laporan laba ditahan digunakan dalam perusahaan berbentuk perseroan, laporan ini menunjukkan analisis perubahan besarnya bagian laba yang ditahan, selama jangka waktu tertentu. Sumber utama perusahaan dari laba ditahan adalah laba bersih yang dihasilkan dari kegiatan usaha perusahaan. Akun laba ditahan bertambah karena laba bersih, dan berkurang karena rugi bersih dari kegiatan

usaha. Rugi, atau pos-pos debit lainnya menghasilkan saldo debit pada akun laba ditahan, maka saldo debit tersebut disebut defisit. Kinerja finansial suatu pusat tanggung jawab diukur dalam ruang lingkup laba yaitu selisih antara pendapatan, dan beban, maka pusat ini disebut sebagai pusat laba. Dengan adanya pusat laba, kualitas keputusan dapat meningkat, karena keputusan tersebut dibuat oleh para manajer yang paling dekat dengan titik keputusan. Kecepatan dari pengambilan keputusan operasional dapat meningkat, karena tidak perlu mendapat persetujuan terlebih dahulu dari kantor pusat. Manajemen kantor pusat bebas dari pengambilan keputusan harian, sehingga dapat berkonsentrasi pada hal-hal yang lebih luas. Dengan adanya pusat laba, maka manajer tunduk pada hanya sedikit batasan dari korporat, lebih bebas untuk menggunakan imajinasi, dan inisiatifnya. Pertambahan nilai kekayaan bersih karena laba kepada pemilik dalam bentuk dividen, dilaporkan dalam laporan laba ditahan. Pembagian dividen dapat berupa kas, aktiva lain, wesel, dan dividen saham. Kebanyakan dividen menyebabkan pengurangan dalam laba ditahan. Pengecualian dilakukan untuk dividen saham dalam jumlah besar, yang melibatkan suatu pengurangan dalam agio saham, dan dividen likuidasi, yang mencerminkan pengembalian modal yang diinvestasikan para pemegang saham, dan memerlukan pengurangan dalam modal disetor. Menggunakan istilah dividen tanpa perkecualian, biasanya berarti pembagian secara tunai. Dividen dalam bentuk selain kas, seperti dividen saham atau properti, harus dinyatakan dalam bentuk khusus. Pembagian yang berasal dari sumber modal selain laba ditahan,

harus dijelaskan asalnya, misalnya dividen likuidasi atau dividen pembagian modal disetor. Diantara wewenang yang didelegasikan oleh pemegang saham kepada dewan direksi adalah kuasa untuk mengendalikan kebijakan dividen. Apakah dividen dapat atau tidak dapat dibayar, serta sifat, dan jumlah dividen adalah hal-hal yang ditentukan oleh dewan direksi. Bentuk laporan laba ditahan seperti pada Gambar 2.2 berikut: Gambar 2.2. Laporan Laba Ditahan PT. X Tahun Berakhir 31 Desember 200A Laba Ditahan, awal tahun Laba Bersih x Pembayaran Dividen (x) - Laba ditahan, akhir tahun x x 3. Neraca Neraca adalah daftar aktiva, kewajiban, dan modal perusahaan pada suatu saat tertentu, misalnya pada akhir bulan. Daftar ini juga menunjukkan tentang kekayaan yang dipunyai perusahaan serta sumber pembelanjaannya. Neraca menunjukkan posisi keuangan perusahaan pada suatu saat tertentu. Dalam neraca, juga terdapat akun laba ditahan. Laba ditahan dapat dibatasi sesuai keinginan dewan direksi, misalnya dewan direksi dapat menetapkan bahwa suatu bagian laba ditahan dibatasi untuk maksud tertentu, seperti perluasan fasilitas pabrik. Jika pembatasan pada laba ditahan adalah material, maka pembatasan tersebut biasanya diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Bagian laba ditahan yang dibatasi, dilaporkan dalam neraca secara terpisah, dari jumlah yang tidak dibatasi yang tersedia untuk dividen. Adapun bentuk neraca sebagai berikut:

Gambar 2.3. Neraca PT. X Tahun Berakhir 31 Desember 200ª Aktiva Kewajiban dan Modal Aktiva Lancar: Kewajiban Lancar: Kas x Hutang Wesel x Surat Berharga x Hutang Dagang x Piutang Wesel x Hutang Bank x Piutang Dagang x Hutang Gaji x Persediaan Barang Dagang x Hutang Bunga x Asuransi Dibayar Dimuka x Total Aktiva Lancar x Kewajiban Lancar x Investasi Jangka Panjang x Kewajiban Jangka Panjang: Hutang Obligasi x Total Kewajiban x Aktiva Tetap: Modal: Tanah x Modal Disetor x Gedung x Laba Ditahan x Peralatan x Akumulasi Penyusutan (x) Total Modal x Total Aktiva Tetap (neto) x Total Aktiva: x Total Kewajiban dan Modal x Laporan keuangan memiliki pengaruh terhadap metode penilaian persediaan yang digunakan perusahaan. Salah satu faktor yang menjadi pertimbangan dalam memilih metode penilaian persediaan adalah pengaruhnya terhadap laba rugi, dan penilaian persediaannya. Dalam pengaruhnya terhadap neraca, penggunaan metode LIFO akan membawa dampak positif pada masa inflasi, karena pada masa itu akan menghasilkan nilai persediaan yang lebih mencerminkan harga, yang berlaku pada

tanggal neraca. Sebagai akibatnya, pada tanggal neraca harga perolehan tidak mencerminkan keadaan yang sesungguhnya sehingga aktiva lancar, dan total aktiva akan dilaporkan lebih rendah dari harga perolehan yang tercatat pada tanggal neraca. Pada masa inflasi, metode FIFO akan menghasilkan laba kotor yang paling tinggi dibandingkan dengan metode lain. Bagi manajemen, hal ini merupakan sesuatu yang positif terhadap kinerja perusahaan, karena pihak luar akan mempunyai pandangan yang baik terhadap perusahaan. Selain itu, jika bonus manajemen ditentukan atas dasar laba bersih, maka bonus akan diterima manajemen semakin tinggi. Namun demikian, ada pendapat lain bahwa pemakaian metode FIFO pada masa inflasi, akan menciptakan laba semu atau laba di atas kertas belaka. Pada laporan laba rugi, kelebihan penggunaan metode FIFO adalah biasanya sesuai dengan arus biaya, sedangkan kekurangannya adalah dapat menyebabkan biaya lama dikaitkan dengan pendapatan saat ini. Kelebihan penggunaan metode LIFO adalah mengkaitkan biaya saat ini dengan pendapatan saat ini, dan mengeluarkan laba dan kerugian dari persediaan pada laba kotor, sedangkan kekurangannya adalah biasanya tidak sesuai dengan arus biaya, dan potensi likuidasi metode LIFO yang berarti bahwa biaya yang lama dari lapisan metode LIFO dapat ditarik ke harga pokok penjualan. Pada neraca, kelebihan penggunaan metode FIFO adalah saldo persediaan akhir mendekati biaya penggantian saat ini, sedangkan kekurangan penggunaan metode LIFO adalah saldo persediaan akhir terdiri dari biaya lama dari lapisan

metode LIFO, dan secara substansial dapat lebih rendah jumlahnya dari pada biaya pergantian saat ini. Hal ini diimbangi dengan sebagian oleh pengungkapan tambahan. B. Pengertian Rasio Keuangan Menurut James C, Horne dan Wachowicz JR. (2005:200), rasio keuangan adalah alat yang digunakan untuk menilai kondisi keuangan dan kinerja dari perusahaan. Rasio keuangan merupakan perangkat analisis laporan keuangan yang paling populer dan paling sering digunakan. Suatu rasio menunjukkan hubungan matematis antara suatu data keuangan dengan data keuangan lainnya. Rasio keuangan seperti halnya alat-alat analisis yang lain adalah orientasi masa depan. Oleh karena itu, penganalisis harus mampu untuk menyesuaikan faktor-faktor yang ada pada periode waktu sekarang, dengan faktor-faktor di masa depan, yang mungkin akan mempengaruhi posisi keuangan, atau hasil operasi perusahaan yang bersangkutan. Analis keuangan menggunakan berbagai rasio ini sama seperti halnya seorang dokter ahli yang menggunakan berbagai hasil uji laboratorium. Jika rasio-rasio ini digabungkan, dan dengan berjalannya waktu, data ini menawarkan pandangan yang sangat berharga mengenai kondisi perusahaan, kondisi keuangan, dan profitabilitasnya. Evaluasi kondisi keuangan perusahaan dan kinerjanya, diperlukan analisis keuangan atas berbagai aspek kesehatan keuangan perusahaan. Alat yang sering digunakan selama pemeriksaan tersebut adalah rasio keuangan atau indeks, yang menghubungkan dua angka akuntansi dan didapat dengan membagi satu angka dengan angka lainnya.

Sering terdapat pemikiran mengapa harus memikirkan rasio, dan mengapa tidak hanya melihat angka-angka langsung. Perusahaan menghitung rasio, karena dengan cara ini, perusahaan bisa mendapatkan perbandingan yang mungkin terbukti lebih berguna daripada angka-angka aslinya sendiri. Contohnya, anggaplah bahwa perusahaan memiliki angka laba bersih tahun ini sebesar $1 juta. Angka tersebut tampak cukup menguntungkan. Akan tetapi, bagaimana jika perusahaan tersebut memiliki dana sejumlah $200 juta yang diinvestasikan di total aktivanya? Jika perusahaan membagi laba bersih dengan total aktiva, perusahaan akan mendapat $1juta/$200 juta 0.005, yaitu pengembalian atas total aset perusahaan. Angka 0.005, berarti bahwa setiap dolar aktiva yang diinvestasikan dalam perusahaan menghasilkan setengah persen pengembalian. Rekening tabungan akan memberikan pengembalian yang lebih baik daripada investasi ini, dan dengan risiko yang lebih rendah. Setiap analisis mempunyai tujuan atau kegunaan yang menentukan perbedaan penekanan yang sesuai dengan tujuan tersebut. Seorang analis, misalnya seorang bankir yang sedang mempertimbangkan pemberian kredit jangka pendek untuk suatu perusahaan. Para bankir terutama akan menekankan pada posisi perusahaan jangka pendek, sehingga mereka menekankan rasio likuiditas. Sebaliknya, pemberi kredit jangka panjang akan lebih menekankan pada kemampuan perusahaan menghasilkan laba dan efisiensi operasinya. Mereka mengetahui bahwa operasi yang tidak efisien, akan mengikis nilai aktiva dan posisi sekarang yang kuat tidak akan menjamin, bahwa dana akan tersedia untuk melunasi suatu penerbitan obligasi. Sudah tentu

manajemen memerlukan seluruh aspek dari analisis keuangan. Manajemen harus mampu membayar hutang kepada kreditor jangka pendek maupun kreditor jangka panjang, termasuk kemampuan menghasilkan laba para pemegang saham. C. Manfaat dan Tujuan Rasio Keuangan Dalam menganalisis, dan menilai kondisi keuangan perusahaan serta prospek pertumbuhan labanya, ada beberapa teknik analisis yang dapat digunakan. Salah satu alternatif untuk mengetahui apakah informasi keuangan yang dihasilkan dapat bermanfaat untuk memprediksi pertumbuhan laba, termasuk kondisi keuangan di masa depan, adalah dengan melakukan analisis rasio keuangan. Dengan rasio keuangan, memungkinkan investor menilai kondisi keuangan dan hasil operasi perusahaan saat ini dan masa lalu, serta sebagai pedoman bagi investor mengenai kinerja masa lalu dan masa mendatang yang dapat dimanfaatkan dalam pengambilan keputusan investasinya. Menurut James C, Horne dan Wachowicz JR. (2005:202), manfaat dan tujuan rasio keuangan, adalah untuk: 1. Perbandingan internal. 2. Perbandingan eksternal dan sumber rasio industri. Dalam perbandingan internal, analisis rasio keuangan melibatkan dua jenis perbandingan. Pertama, analis dapat membandingkan rasio sekarang dengan rasio dahulu, dan perkiraan di masa mendatang untuk perusahaan yang sama. Rasio lancar, yaitu rasio aktiva lancar dengan kewajiban jangka pendek, untuk tahun sekarang dapat dibandingkan dengan rasio lancar akhir tahun sebelumnya. Ketika rasio

keuangan diperlebar untuk beberapa periode tahun, analis dapat mempelajari komposisi perubahan, dan menentukan apakah terdapat kenaikan atau penurunan kondisi dan kinerja perusahaan selama waktu tersebut. Kita tidak terlalu banyak memperhatikan satu rasio dalam satu periode waktu, tetapi satu rasio untuk beberapa periode. Rasio keuangan juga dapat dihitung untuk laporan proyeksi, dan dibandingkan dengan rasio sekarang serta masa sebelumnya. Dalam perbandingan eksternal dan sumber rasio industri, melibatkan perbandingan antara rasio suatu perusahaan dengan berbagai perusahaan lainnya, yang hampir sama atau dengan rata-rata industri pada suatu periode. Perbandingan semacam ini, memberikan pandangan ke dalam mengenai kondisi keuangan, dan kinerja relatif perusahaan. Cara ini juga membantu perusahaan mengidentifikasi penyimpangan signifikan apapun dari rata-rata industri manapun yang dapat digunakan. D. Jenis-Jenis Rasio Keuangan Rasio-rasio keuangan yang umumnya digunakan pada dasarnya terdiri atas dua jenis. Jenis pertama meringkas beberapa aspek dari kondisi keuangan perusahaan, untuk suatu periode dengan neraca yang telah dibuat. Rasio-rasio ini disebut rasio neraca, karena baik pembilang maupun penyebut dalam setiap rasio berasal langsung dari neraca. Jenis kedua dari rasio meringkas beberapa aspek kinerja perusahaan selama periode waktu tertentu, biasanya dalam setahun. Rasio ini disebut sebagai rasio laporan laba rugi, atau rasio laba rugi/neraca. Rasio laba rugi membandingkan

satu arus bagian dari laporan laba rugi dengan arus bagian lain dari laporan laba rugi. Rasio laba rugi membandingkan arus (laporan laba rugi) di bagian angka yang dibagi dengan bagian saham (neraca) sebagai pembaginya. Menurut Weston dan Copeland (2003:225), rasio-rasio keuangan dapat digolongkan menjadi beberapa jenis, yaitu: 1. Rasio likuiditas, yang mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya bila jatuh tempo. 2. Rasio leverage, yang mengukur hingga sejauh mana perusahaan dibiayai oleh hutang. 3. Rasio aktivitas, yang mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan sumber dayanya. 4. Rasio profitabilitas, yang mengukur efektivitas manajemen yang ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan investasi perusahaan. Untuk mempermudah penjelasan, dan pemahaman jenis-jenis rasio, maka penulis akan membuat suatu contoh. Misalnya Walker-Wilson Company, merupakan perusahaan pembuatan mesin peralatan khusus yang digunakan di bidang usaha reparasi mobil. Berikut ini akan ditampilkan neraca Walker-Wilson Company, tahun 2007 dan 2008 (dalam satuan ribuan dollar), seperti pada Gambar 2.4 berikut: Gambar 2.4. Neraca Walker-Wilson Company Tahun 2007 dan 2008 NERACA Walker-Wilson Company Aset 31 Desember 2007 31 Desember 2008 Kas $ 52 $ 50 Surat-surat berharga 175 150 Piutang dagang 250 200 Persediaan 355 300 Total aset lancar $832 $700 Peralatan dan mesin-mesin $1.610 1.800 Dikurangi penyusutan 400 500

Peralatan dan mesin-mesin, bersih 1.210 1.300 Total aset $2.042 $2.000 Kewajiban dan Modal Hutang dagang $ 87 $ 60 Hutang bank 110 100 Biaya terhutang 10 10 Pajak yang harus dibayar 135 130 Kewajiban Lancar $342 $300 Obligasi hipotik 520 500 Debentrues 200 200 Saham biasa $ 600 $ 600 Laba ditahan 380 400 Total modal 980 1.000 Total kewajiban dan modal $2.042 $2.000 Berikut ini akan ditampilkan laporan laba rugi Walker-Wilson Company, untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2008, seperti pada Gambar 2.5 berikut: Gambar 2.5. Laporan Laba Rugi Walker-Wilson Company Tahun Berakhir 31 Desember 2008 Penjualan bersih $3.000.000 Harga pokok penjualan 2.555.000 Laba kotor $ 445.000 Dikurangi beban operasi Beban penjualan $22.000 Beban umum dan administrasi 40.000 Pembayaran sewa gedung kantor 28.000 90.000 Laba operasi kotor $ 355.000 Penyusutan 100.000 Laba operasi bersih $ 255.000 Pendapatan dan beban lain, kecuali pajak 15.000 Laba sebelum bunga dan pajak $ 270.000 Dikurangi beban bunga Bunga wesel bayar $10.000 Bunga hipotik pertama 40.000

Bunga debentures 20.000 70.000 Laba sebelum pajak $ 200.000 Pajak penghasilan 80.000 Laba bersih sesudah pajak penghasilan yang tersedia bagi pemegang saham biasa $ 120.000 Laba per saham $ 0.60 Berikut ini akan dibahas masing-masing pemanfaatan rasio keuangan berdasarkan contoh laporan keuangan Walker-Wilson Company. Rasio Likuiditas Pada umumnya, perhatian pertama dari analis keuangan adalah likuditas, dengan menganalisis kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya. Total hutang Walker-Wilson Company adalah $300.000 yang harus dibayar pada tahun yang akan datang. Dapatkah kewajiban ini dipenuhi oleh perusahaan? Rasio likuditas mengkaitkan uang tunai (kas), dan aktiva lancar lainnya dengan kewajiban lancar perusahaan, dapat memberikan ukuran likuiditas yang cepat, dan mudah digunakan. Menurut Weston dan Copeland (2003:226), terdapat beberapa rasio likuditas yang umum digunakan, yaitu: 1. Rasio lancar. 2. Rasio cepat. Rasio lancar dihitung dengan membagi aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Biasanya aktiva lancar terdiri dari kas, surat berharga, piutang dagang, dan persediaan. Sedangkan kewajiban lancar terdiri dari hutang dagang, wesel bayar jangka pendek, hutang jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu satu

tahun, pajak penghasilan yang terhutang, dan beban-beban lain yang terhutang (terutama gaji dan upah). Rasio lancar merupakan ukuran yang paling umum digunakan untuk mengetahui kesanggupan memenuhi kewajiban jangka pendek. Oleh karena itu, rasio tersebut menunjukkan seberapa jauh tuntutan dari kreditor jangka pendek dipenuhi oleh aktiva yang diperkirakan menjadi uang tunai, dalam periode yang sama dengan jatuh tempo hutang. Rasio lancar yang tinggi menunjukkan adanya uang kas yang berlebihan dibandingkan dengan tingkat kebutuhan, atau adanya unsur aktiva lancar yang tidak digunakan secara efektif. Perhitungan rasio lancar untuk Walker-Wilson Company pada akhir tahun 2008, adalah sebagai berikut: Current ratio Current ratio Current Asets Current Liabilities $700.000 $300.000 Current ratio 2.3 kali Rasio lancar yang dihitung sedikit berada di bawah rata-rata industri, yaitu 2.5 kali. Akan tetapi, tidak terlalu rendah untuk dipermasalahkan. Angka tersebut menunjukkan bahwa Walker-Wilson Company berada pada lini yang umum, dari perusahaan-perusahaan lainnya untuk bidang bisnis tertentu. Dengan rasio lancar 2.3 kali, Walker-Wilson Company dapat mencairkan aktiva lancarnya hanya 43% dari nilai bukunya, dan masih tetap mampu memenuhi seluruh kewajiban lancarnya. Nilai 43% diperoleh dari perhitungan:

Current ratio 2.3 kali, berarti 1 0.43 atau 43% 2.3 Rasio cepat dihitung dengan mengurangkan persediaan dari aktiva lancar, dan sisanya dibagi dengan kewajiban lancar. Persediaan merupakan unsur aktiva lancar yang paling tidak likuid, dan unsur aktiva tersebut sering kali merupakan ukuran kerugian, jika terjadi likuidasi. Oleh karena itu, rasio cepat merupakan ukuran penting untuk mengetahui kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya, tanpa memperhitungkan penjualan persediaan. Apabila rasio lancar suatu perusahaan tinggi, tetapi rasio cepatnya rendah, maka hal itu menunjukkan perusahaan memiliki investasi persediaan yang sangat besar di perusahaan. Perhitungan rasio cepat untuk Walker-Wilson Company pada akhir tahun 2008, adalah sebagai berikut: Acid ratio Current Asets - Inventory Current Liabilities Acid ratio Acid ratio $700.000 - $300.000 $300.000 1.3 kali Rata-rata industri untuk rasio cepat adalah 1 kali, sehingga rasio untuk Walker- Wilson Company tergolong baik, dibandingkan dengan perusahaan lain dalam industri yang sama. Dengan demikian, perusahaan dapat mengetahui jika surat berharga dapat dijual pada nilai nominalnya, dan jika dapat menagih piutang, maka perusahaan dapat membayar kewajibannya tanpa menjual persediaan. Rasio Leverage

Rasio leverage yang mengukur perbandingan antara dana yang disediakan oleh pemilik perusahaan dengan dana yang berasal dari kreditor perusahaan, mengandung berbagai implikasi, yaitu para kreditor akan melihat modal sendiri perusahaan, atau dana yang disediakan pemilik untuk menentukan besarnya marjin pengaman. Jika pemilik hanya menyediakan sebagian kecil dari seluruh pembiayaan, maka resiko perusahaan ditanggung, terutama oleh para kreditor. Selain itu, dengan mencari dana yang berasal dari hutang, pemilik memperoleh manfaat mempertahankan kendali perusahaan, dengan investasi yang terbatas. Jika perusahaan memperoleh laba yang besar dari dana yang dipinjam, daripada yang harus dibayar sebagai bunga, maka hasil pengembalian (return) kepada para pemilik akan meningkat. Sebagai contoh, jika hasil pengembalian atas aktiva adalah 10%, dan hutang hanya menelan biaya 8%, maka terdapat selisih 2% yang menjadi hak para pemegang saham. Akan tetapi, leverage bisa bergeser ke dua arah, misalnya jika hasil pengembalian atas aktiva jatuh menjadi 3%, maka selisih antara angka tersebut dengan biaya hutang harus ditutup dari bagian laba yang diperoleh dari modal sendiri. Pada kasus pertama, dimana aktiva memberikan pengembalian hasil lebih daripada biaya hutang, maka leverage lebih menguntungkan. Pada kasus kedua, leverage akan merugikan. Perusahaan dengan rasio leverage yang rendah memiliki resiko rugi yang lebih kecil, jika kondisi ekonomi sedang menurun, tetapi juga memiliki hasil pengembalian yang lebih rendah jika kondisi ekonomi membaik. Sebaliknya, perusahaan dengan rasio leverage yang tinggi, menanggung resiko rugi yang besar,

tetapi juga memiliki kesempatan untuk memperoleh laba yang tinggi. Prospek hasil pengembalian yang tinggi memang diinginkan, tetapi para investor umumnya menolak untuk menerima resiko yang terlalu riskan. Keputusan untuk menggunakan leverage, harus menyeimbangkan hasil pengembalian yang lebih tinggi terhadap peningkatan resiko. Dalam prakteknya, ada 2 cara pendekatan leverage. Pendekatan yang pertama adalah memeriksa rasio-rasio neraca, dan menentukan sejauh mana yang dipinjam digunakan untuk membiayai perusahaan. Pendekatan yang lain, mengukur laba terhadap beban bunga. Kedua pendekatan tersebut sebenarnya saling melengkapi, dan para analis biasanya menilai keduanya. Menurut Weston dan Copeland (2003:228), terdapat beberapa rasio leverage yang umum digunakan, yaitu: 1. Total hutang terhadap total aktiva. 2. Laba terhadap beban bunga. Rasio total hutang terhadap total aktiva, biasanya disebut dengan rasio hutang, yang mengukur persentase total dana yang disediakan para kreditor. Yang termasuk hutang adalah kewajiban lancar, dan semua obligasi (hutang jangka panjang). Para kreditor lebih menyukai rasio hutang yang moderat. Semakin rendah rasio ini, akan ada semacam perisai, sehingga kerugian yang diderita oleh kreditor semakin kecil, jika terjadi likuidasi. Pemilik lebih menyukai rasio hutang yang tinggi, karena leverage yang tinggi, akan memperbesar laba bagi pemegang saham, atau karena

menerbitkan saham baru, berarti melepaskan sejumlah kendali perusahaan. Jika rasio hutang terlalu tinggi, maka ada bahaya kurangnya tanggung jawab pemilik. Perhitungan rasio hutang untuk Walker-Wilson Company pada akhir tahun 2008, adalah sebagai berikut: Debt ratio Debt ratio Total Liabilities Total Asets $1.000.000 $2.000.000 Debt ratio 50% Total hutang sebesar $1.000.000, diperoleh dari penambahan jumlah kewajiban lancar, obligasi hipotik, dan debentures. Rasio hutang Walker-Wilson Company adalah 50%, yang berarti bahwa para kreditor telah menyediakan setengah dari jumlah pembiayaan perusahaan. Oleh karena rasio hutang rata-rata untuk industri adalah 33%, maka Walker-Wilson Company bisa mengalami kesulitan memperoleh dana pinjaman tambahan, sebelum meningkatnya modal sendiri. Para kreditor akan menolak meminjamkan uang lebih banyak, dan mungkin perusahaan akan lebih berat bebannya, jika perusahaan mencoba meningkatkan rasio hutang dengan cara meminjam. Rasio laba terhadap beban bunga, disebut juga rasio penutupan, yang dihitung dengan membagi laba sebelum bunga dan pajak dengan beban bunga. Rasio ini mengukur sejauh mana laba perusahaan boleh menurun tanpa mempengaruhi keuangan perusahaan, karena tidak mampu membayar beban bunga tahunan. Kegagalan dalam pemenuhan kewajiban ini, berakibat dituntutnya kreditor ke

pengadilan, yang bisa mengakibatkan kepailitan. Perhatikan bahwa laba sebelum pajak digunakan sebagai pembilang. Oleh karena pajak penghasilan dihitung setelah dikurangi beban bunga, kemampuan untuk membayar bunga saat ini tidak dipengaruhi oleh pajak penghasilan. Perhitungan rasio penutupan untuk Walker-Wilson Company pada akhir tahun 2008, adalah sebagai berikut: Times interest earned Earning Before Interest and Tax Annual Interest Payment Times interest earned Times interest earned $270.000 $70.000 3.9 kali Beban bunga Walker-Wilson Company terdiri dari 3 pembayaran, yaitu beban wesel bayar, bunga hipotik pertama, dan bunga debentures, yang berjumlah $70.000. Laba sebelum bunga dan pajak perusahaan yang tersedia untuk memenuhi beban bunga adalah 3.9 kali. Karena rata-rata industri adalah 8 kali, berarti perusahaan memiliki kemampuan menutup bunga dengan marjin pengaman yang minimum, dan memperoleh penilaian yang kurang baik. Rasio tersebut memperkuat kesimpulan yang didasarkan pada rasio hutang, bahwa tampaknya perusahaan menghadapi kesulitan, jika hendak mencoba untuk meminjam tambahan dana. Rasio Aktivitas Rasio aktivitas, mengukur seberapa efektif perusahaan memanfaatkan semua sumber daya yang ada pada pengendaliannya. Semua rasio aktiva ini, melibatkan perbandingan antara tingkat penjualan dan investasi pada berbagai jenis aktiva.

Rasio-rasio aktivitas menganggap bahwa sebaiknya terdapat suatu keseimbangan yang layak antara penjualan dengan berbagai unsur aktiva, yaitu persediaan, piutang, aktiva tetap, dan aktiva lain sebagainya. Menurut Weston dan Copeland (2003:230), terdapat beberapa rasio aktivitas yang umum digunakan, yaitu: 1. Perputaran persediaan. 2. Periode penagihan rata-rata. 3. Perputaran aktiva tetap. 4. Perputaran total aktiva. Perputaran persediaan, digunakan untuk mengukur kecepatan perusahaan dalam mengevaluasi usia persediaannya, yang diukur dengan nilai penjualan dibagi dengan persediaan. Perhitungan perputaran persediaan untuk Walker-Wilson Company pada akhir tahun 2008, adalah sebagai berikut: Inventory turnover Inventory turnover Sales Inventory $3.000.000 $ 300.000 Inventory turnover 10 kali Perputaran persediaan Walker-Wilson Company 10 kali, yang berarti lebih baik daripada rata-rata industri, yaitu 9 kali. Hal ini berarti perusahaan tidak menyimpan persediaan secara berlebihan, dimana persediaan yang berlebihan sudah tentu merupakan harta yang tidak produktif, dan merupakan investasi dengan hasil pengembalian yang rendah atau nol.

Periode penagihan rata-rata, mengukur perputaran piutang, yang dihitung dalam 2 tahap, yaitu penjualan tahunan dibagi dengan 360 hari, untuk mendapatkan penjualan harian rata-rata, dan piutang dibagi dengan penjualan harian rata-rata, untuk memperoleh jumlah hari dimana penjualan terikat pada piutang. Perhitungan periode penagihan rata-rata untuk Walker-Wilson Company pada akhir tahun 2008, adalah sebagai berikut: Sales per Day Sales per Day Sales 360 $3.000.000 360 Sales per Day $8.333 Average collection period Average collection period Account Receivable Sales per Day $200.000 $ 8.333 Average collection period 24 hari Jumlah hari tersebut merupakan periode penagihan rata-rata. Oleh karena merupakan lamanya waktu rata-rata, bagi perusahaan harus menunggu menerima pembayaran setelah terjadi penjualan. Perhitungan Walker-Wilson Company menunjukkan periode penagihan rata-rata adalah 24 hari, sedikit di atas rata-rata industri 20 hari. Perputaran aktiva tetap, digunakan untuk mengukur perputaran dari alat-alat dan mesin pabrik. Perhitungan perputaran aktiva tetap untuk Walker-Wilson Company pada akhir tahun 2008, adalah sebagai berikut: Fixed asets turnover Sales

Fixed asets turnover Total Net Asets $3.000.000 $1.300.000 Fixed asets turnover 2.3 kali Perputaran aktiva tetap untuk Walker-Wilson Company sebesar 2.3 kali, dinilai kurang baik jika dibandingkan dengan rata-rata industri, yaitu 5 kali, yang menunjukkan bahwa perusahaan tidak menggunakan aktiva tetapnya pada kapasitas setinggi kapasitas yang digunakan perusahaan lain, di industri yang sama. Perputaran total aktiva, digunakan untuk mengukur perputaran dari seluruh aktiva perusahaan, dan dihitung dari penjualan dibagi dengan jumlah aktiva. Perhitungan perputaran total aktiva untuk Walker-Wilson Company pada akhir tahun 2008, adalah sebagai berikut: Total asets turnover Total asets turnover Sales Total Asets $3.000.000 $2.000.000 Total asets turnover 1.5 kali Perputaran total aktiva untuk Walker-Wilson Company sebesar 1.5 kali, berada di bawah rata-rata industri yaitu 2 kali. Perusahaan tidak menciptakan volume bisnis yang cukup untuk ukuran investasi aktiva yang dimilikinya. Penjualan sebaiknya ditingkatkan, atau beberapa aktiva yang tidak berguna dijual, atau perusahaan harus menjalankan keduanya. Rasio Profitabilitas

Profitabilitas (kemampuan laba), merupakan hasil akhir bersih dari berbagai kebijakan, dan keputusan. Rasio yang terdahulu menyajikan beberapa hal yang menarik tentang cara-cara perusahaan beroperasi, tetapi rasio profitabilitas akan memberikan jawaban akhir tentang efektivitas manajemen perusahaan. Menurut Weston dan Copeland (2003:233), terdapat beberapa rasio profitabilitas yang umum digunakan, yaitu: 1. Marjin laba atas penjualan. 2. Hasil pengembalian atas total aset. 3. Hasil pengembalian atas ekuitas. Marjin laba atas penjualan, dihitung dari laba bersih sesudah pajak dibagi dengan penjualan. Perhitungan marjin laba atas penjualan untuk Walker-Wilson Company pada akhir tahun 2008, adalah sebagai berikut: Profit margin on sales Profit margin on sales Net Profit after Tax Sales $ 120.000 $3.000.000 Profit margin on sales 4% Marjin laba untuk Walker-Wilson Company berada di bawah rata-rata industri, yaitu 5%. Hal ini menunjukkan bahwa harga penjualan relatif lebih rendah, atau biayabiaya perusahaan relatif lebih tinggi, atau keduanya. Hasil pengembalian atas total aset, digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan seluruh sumber daya, yang kadang-kadang disebut

dengan hasil pengembalian atas investasi. Perhitungan hasil pengembalian atas total aset untuk Walker-Wilson Company pada akhir tahun 2008, adalah sebagai berikut: Return on asets Return on asets Net Profit after Tax Total Asets $ 120.000 $2.000.000 Return on asets 6% Hasil pengembalian atas total aset untuk Walker-Wilson Company adalah 6%, lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata industri, yaitu 11.4%. Hasil yang rendah ini berasal dari rendahnya marjin laba terhadap penjualan (4% dibandingkan dengan rata-rata industri 5%), dan rendahnya perputaran aktiva (1.5 kali dibandingkan dengan rata-rata industri 2 kali). Hasil pengembalian atas ekuitas, yaitu rasio laba bersih sesudah pajak terhadap modal, mengukur tingkat hasil pengembalian dari investasi para pemegang saham. Perhitungan hasil pengembalian atas ekuitas untuk Walker-Wilson Company pada akhir tahun 2008, adalah sebagai berikut: Net worth Net Income Stackholders Equity Net worth $ 120.000 $1.000.000 Net worth 12% Hasil pengembalian atas ekuitas untuk Walker-Wilson Company adalah 12%, lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata industri, yaitu 15%.

E. Manfaat Rasio Keuangan Dalam Memprediksi Pertumbuhan Laba Karena tidak seorangpun yang dapat mengetahui secara pasti berapakah hasil operasi dan keuangan dari suatu perusahaan di masa depan, dan banyaknya unsur ketidakpastian di masa depan, banyak penekanan, dan evaluasi pada prestasi masa lalu, dan masa kini sebagai indikator untuk masa depan, maka salah satu pendekatan yang menarik adalah memprediksi apakah suatu perusahaan akan mengalami kegagalan atau kesuksesan. Prediksi atas laporan keuangan perusahaan merupakan informasi yang memberikan indikasi atas prospek hasil usaha, dan keadaan keuangan di masa mendatang. Selain itu prediksi akan lebih mudah dibaca oleh investor, dibandingkan dengan laporan keuangan yang biasanya hanya bisa dibaca oleh akuntan. Prediksi, atau ramalan adalah salah satu aspek sebelum perencanaan, dan berguna untuk mengurangi ketidakpastian. Prediksi sangatlah penting bagi lingkungan dunia usaha, dimana sangat banyak unsur ketidakpastian, serta banyaknya unsur yang terlibat seperti stockholder, Pemerintah, dan lainnya. Prediksi laba merupakan peramalan mengenai hasil operasi perusahaan pada suatu periode tertentu. Prediksi laba dalam hal ini, tidak menentukan nilai laba yang mungkin akan dihasilkan oleh perusahaan, tetapi lebih kepada suatu kenyataan bahwa laba perusahaan tersebut akan mengalami kenaikan atau mengalami penurunan. (http://www.yai.ac.id/upi/penelitian%5cmakalah27.doc, tanggal akses 02 April 2009)

Secara umum, jenis-jenis rasio keuangan yang dapat dimanfaatkan dalam memprediksi pertumbuhan laba yang akan datang, apakah terjadi kenaikan atau penurunan, yaitu: 1. Rasio lancar, yang dapat digunakan dalam menunjukkan kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban jangka pendek dari aktiva lancarnya. Rasio ini dihitung dengan cara membagi aktiva lancar dengan kewajiban jangka pendek. Rasio ini disebut juga dengan rasio modal kerja, yang menunjukkan jumlah aktiva lancar yang dimiliki perusahaan untuk merespon kebutuhan-kebutuhan bisnis, dan meneruskan kegiatan bisnis lainnya. Rasio yang rendah, menunjukkan resiko likuiditas yang tinggi. Manfaat rasio ini dalam memprediksi pertumbuhan laba, adalah semakin tinggi nilai rasio ini, maka laba bersih yang dihasilkan semakin sedikit, karena rasio lancar yang tinggi menunjukkan adanya kelebihan aktiva lancar. Kelebihan aktiva lancar ini menunjukkan adanya hubungan yang posisi terhadap profitabilitas perusahaan, dengan asumsi aktiva lancar yang dimiliki perusahaan tidak tertanam terlalu besar pada pos persediaan dan piutang dagang. 2. Rasio hutang, yang dapat digunakan untuk mengukur persentase total dana yang disediakan para kreditor. Manfaat rasio ini dalam memprediksi pertumbuhan laba, adalah semakin tinggi rasio ini, mencerminkan perusahaan akan mengalami kesulitan dalam memperoleh dana pinjaman tambahan, sebelum meningkatnya modal sendiri. Dengan demikian, akan memperkecil perolehan laba perusahaan. 3. Perputaran total aktiva, yang dapat digunakan untuk mengukur perputaran dari seluruh aktiva perusahaan. Manfaat rasio ini dalam memprediksi pertumbuhan

laba, adalah jika perusahaan menyimpan aktiva yang tidak produktif, maka merupakan suatu beban yang harus ditanggung perusahaan, dan menggangu pertumbuhan laba pada perusahaan. 4. Rasio laba terhadap beban bunga, yang dapat digunakan untuk mengukur sejauh mana laba perusahaan boleh menurun, tanpa mempengaruhi keuangan perusahaan, karena tidak mampu membayar beban bunga tahunan. Manfaat rasio ini dalam memprediksi pertumbuhan laba, adalah jika laba sebelum bunga, dan pajak perusahaan lebih tinggi dari beban bunga, maka perusahaan memiliki kemampuan menutup bunga, dengan marjin pengaman yang maksimal, sehingga pertumbuhan laba pada perusahaan dapat lebih optimal. 5. Rasio marjin laba atas penjualan, yang dapat digunakan untuk menunjukkan harga penjualan, dan biaya perusahaan, apakah relatif rendah atau tinggi. Manfaat rasio ini dalam memprediksi pertumbuhan laba, adalah semakin tinggi nilai rasio ini, menunjukkan harga penjualan dan biaya yang telah sesuai, sehingga perolehan laba dapat optimal. Sebaliknya, jika semakin rendah nilai rasio ini, menunjukkan harga penjualan relatif lebih rendah, atau biaya-biaya perusahaan relatif lebih tinggi, atau keduanya. 6. Rasio hasil pengembalian atas total aset, yang dapat digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan seluruh sumber daya. Manfaat rasio ini dalam memprediksi pertumbuhan laba, adalah semakin tinggi nilai rasio ini, menunjukkan pengembalian atas total aset perusahaan yang semakin besar, yang mencerminkan kinerja perusahaan yang semakin baik.

7. Rasio pengembalian atas ekuitas, yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat hasil pengembalian dari investasi para pemegang saham. Manfaat rasio ini dalam memprediksi pertumbuhan laba, adalah semakin tinggi nilai rasio ini, menunjukkan pengembalian atas ekuitas perusahaan yang semakin besar, yang mencerminkan kinerja perusahaan yang semakin baik.